Vous êtes sur la page 1sur 34

LAPORAN PENDAHULUAN MENARIK DIRI

LAPORAN PENDAHULUAN

MENARIK DIRI

APORAN PENDAHULUAN MENARIK DIRI


A. Masalah Utama :
Isolasi sosial : menarik diri.
B. Proses Terjadinya Masalah
1. Pengertian
Menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain,
menghindari hubungan dari orang lain (Rawlins, 1993).Terjadinya perilaku menarik diri
dipengaruhi oleh faktor predisposisi dan faktor presipitasi. Faktor perkembangan dan sosial
budaya merupakan faktor predispoisi terjadinya perilaku menarik diri. Kegagalan
perkembangan dapat mengakibatkan individu tidak percaya diri, tidak percaya orang lain,
ragu, takut salah, pesimis, putus asa terhadap hubungan dengan orang lain, menghindar dari
orang lain, tidak mampu merumuskan keinginan, dan merasa tertekan. Keadaan
menimbulkan perilaku tidak ingin berkomunikasi dengan orang lain, menghindar dari orang
lain, lebih menyukai berdiam diri sendiri, kegiatan sehari-hari hampir terabaikan.
Tanda dan Gejala:
§ Apatis, ekspresi sedih, afek tumpul.
§ Menghindar dari orang lain (menyendiri).
§ Komunikasi kurang/tidak ada. Klien tidak tampak bercakap-cakap dengan klien
lain/perawat.
§ Tidak ada kontak mata, klien sering menunduk.
§ Berdiam diri di kamar/klien kurang mobilitas.
§ Menolak berhubungan dengan orang lain, klien memutuskan percakapan atau pergi jika
diajak bercakap-cakap.
§ Tidak melakukan kegiatan sehari-hari.
§ Posisi janin saat tidur.
(Budi Anna Keliat, 1998)
2. Penyebab dari Menarik Diri
Salah satu penyebab dari menarik diri adalah harga diri rendah. Harga diri adalah penilaian
individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan
ideal diri. Dimana gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap
diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan.
Gejala Klinis :
§ Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan tindakan terhadap penyakit
(rambut botak karena terapi).
§ Rasa bersalah terhadap diri sendiri (mengkritik/menyalahkan diri sendiri).
§ Gangguan hubungan sosial (menarik diri).
§ Percaya diri kurang (sukar mengambil keputusan).
§ Mencederai diri (akibat dari harga diri yang rendah disertai harapan yang suram, mungkin
klien akan mengakiri kehidupannya.
( Budi Anna Keliat, 1999)
3. Akibat dari Menarik Diri
Klien dengan perilaku menarik diri dapat berakibat adanya terjadinya resiko perubahan
sensori persepsi (halusinasi). Halusinasi ini merupakan salah satu orientasi realitas yang
maladaptive, dimana halusinasi adalah persepsi klien terhadap lingkungan tanpa stimulus
yang nyata, artinya klien menginterprestasikan sesuatu yang nyata tanpa stimulus/rangsangan
eksternal.
Gejala Klinis :
§ Bicara, senyum dan tertawa sendiri.
§ Menarik diri dan menghindar dari orang lain.
§ Tidak dapat membedakan tidak nyata dan nyata.
§ Tidak dapat memusatkan perhatian.
§ Curiga, bermusuhan, merusak (diri sendiri, orang lain dan lingkungannya), takut.
§ Ekspresi muka tegang, mudah tersinggung.
(Budi Anna Keliat, 1999)
C. Pohon Masalah
Resiko perubahan persepsi sensori: halusinasi

Core problem

Gangguan konsep diri: harga diri rendah


( Budi Anna Keliat, 1999)
D. Masalah Keperawatan dan data yang perlu dikaji
1. Masalah keperawatan:
a. Resiko perubahan persepsi sensori: halusinasi…
b. Isolasi sosial: menarik diri
c. Gangguan konsep diri: harga diri rendah
2. Data yang perlu dikaji
a. Resiko perubahan persepsi sensori : halusinasi
Data Subjektif:
▪ Klien mengatakan mendengar bunyi yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata
▪ Klien mengatakan melihat gambaran tanpa ada stimulus yang nyata
▪ Klien mengatakan mencium bau tanpa stimulus
▪ Klien merasa makan sesuatu
▪ Klien merasa ada sesuatu pada kulitnya
▪ Klien takut pada suara/bunyi/gambar yang dilihat dan didengar
▪ Klien ingin memukul/melempar barang-barang
Data Objektif:
▪ Klien berbicara dan tertawa sendiri
▪ Klien bersikap seperti mendengar/melihat sesuatu
▪ Klien berhebti bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu
▪ Disorientasi
b. Isolasi Sosial : menarik diri
Data Subyektif:
Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh, mengkritik diri
sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri.
Data Obyektif:
Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan, ingin
mencederai diri/ingin mengakhiri hidup.
c. Gangguan konsep diri : harga diri rendah
Data subyektif:
▪ Klien mengatakan: saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh,
mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri.
Data obyektif:
▪ Klien tampak lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan,
ingin mencederai diri / ingin mengakhiri hidup.
E. Diagnosa Keperawatan
1. Isolasi sosial: menarik diri
2. Gangguan konsep diri : harga diri rendah
F. Rencana Tindakan Keperawatan
Diagnosa 1: menarik diri
Tujuan Umum :
Klien dapat berinteraksi dengan orang lain sehingga tidak terjadi halusinasi
Tujuan Khusus :
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan :
1.1 Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik
dengan cara :
a. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal
b. Perkenalkan diri dengan sopan
c. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai
d. Jelaskan tujuan pertemuan
e. Jujur dan menepati janji
f. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
g. Berikan perhatian kepada klien dan perhatian kebutuhan dasar klien
2. Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri
Tindakan:
2.1 Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-tandanya.
2.2 Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan penyebab menarik
diri atau mau bergaul
2.3 Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik diri, tanda-tanda serta penyebab
yang muncul
2.4 Berikan pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya
3. Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian
tidak berhubungan dengan orang lain.
Tindakan :
3.1 Identifikasi bersama klien cara tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi (
tidur, marah, menyibukkan diri dll)
3.2 Kaji pengetahuan klien tentang manfaat dan keuntungan berhubungan dengan orang
lain
a. Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang keuntungan
berhubungan dengan prang lain
b. Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain
c. Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang
keuntungan berhubungan dengan orang lain
3.3 Kaji pengetahuan klien tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain
a. beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan dengan orang lain
b. diskusikan bersama klien tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain
c. beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang
kerugian tidak berhubungan dengan orang lain
4. Klien dapat melaksanakan hubungan sosial
Tindakan:
4.1 Kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain
4.2 Dorong dan bantu kien untuk berhubungan dengan orang lain melalui tahap :
▪ K–P
▪ K – P – P lain
▪ K – P – P lain – K lain
▪ K – Kel/Klp/Masy
4.3 Beri reinforcement positif terhadap keberhasilan yang telah dicapai.
4.4 Bantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan
4.5 Diskusikan jadwal harian yang dilakukan bersama klien dalam mengisi waktu
4.6 Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan ruangan
4.7 Beri reinforcement positif atas kegiatan klien dalam kegiatan ruangan
5. Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan orang lain
Tindakan:
5.1 Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya bila berhubungan dengan orang lain
5.2 Diskusikan dengan klien tentang perasaan masnfaat berhubungan dengan orang lain.
5.3 Beri reinforcement positif atas kemampuan klien mengungkapkan perasaan manfaat
berhubungan dengan oranglain
6. Klien dapat memberdayakan sistem pendukung atau keluarga
Tindakan:
6.1 Bina hubungan saling percaya dengan keluarga :
▪ Salam, perkenalan diri
▪ Jelaskan tujuan
▪ Buat kontrak
▪ Eksplorasi perasaan klien
6.2 Diskusikan dengan anggota keluarga tentang :
▪ Perilaku menarik diri
▪ Penyebab perilaku menarik diri
▪ Akibat yang terjadi jika perilaku menarik diri tidak ditanggapi
▪ Cara keluarga menghadapi klien menarik diri
6.3 Dorong anggota keluarga untukmemberikan dukungan kepada klien untuk
berkomunikasi dengan orang lain.
6.4 Anjurkan anggota keluarga secara rutin dan bergantian menjenguk klien minimal satu
kali seminggu
6.5 Beri reinforcement positif positif atas hal-hal yang telah dicapai oleh keluarga
Diagnosa 2 : harga diri rendah
Tujuan Umum :
Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal
Tujuan khusus :
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan :
1.1 Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik
dengan cara :
a. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal
b. Perkenalkan diri dengan sopan
c. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai
d. Jelaskan tujuan pertemuan
e. Jujur dan menepati janji
f. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
g. Berikan perhatian kepada klien dan perhatian kebutuhan dasar klien
2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
Tindakan:
2.1 Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien
2.2 Setiap bertemu klien hindarkan dari memberi penilaian negatif
2.3 Utamakan memberikan pujian yang realistik
3. Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan
Tindakan:
3.1. Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit.
3.2. Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaannya.
4. Klien dapat (menetapkan) merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang
dimiliki
Tindakan:
4.1. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai
kemampuan
▪ Kegiatan mandiri
▪ Kegiatan dengan bantuan sebagian
▪ Kegiatan yang membutuhkan bantuan total
4.2. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien.
4.3. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan
5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya
Tindakan:
5.1. Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan
5.2. Beri pujian atas keberhasilan klien.
5.3. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah
6. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada
Tindakan:
6.1 Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri
rendah.
6.2 Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat.
6.3 Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah
DAFTAR PUSTAKA
1. Azis R, dkk. Pedoman asuhan keperawatan jiwa. Semarang : RSJD Dr. Amino
Gondoutomo. 2003
2. Boyd MA, Hihart MA. Psychiatric nursing : contemporary practice. Philadelphia :
Lipincott-Raven Publisher. 1998
3. Budi Anna Keliat. Asuhan Klien Gangguan Hubungan Sosial: Menarik Diri. Jakarta :
FIK UI. 1999
4. Keliat BA. Proses kesehatan jiwa. Edisi 1. Jakarta : EGC. 1999
5. Stuart GW, Sundeen SJ. Buku saku keperawatan jiwa. Edisi 3. Jakarta : EGC. 1998
6. Tim Direktorat Keswa. Standar asuhan keperawatan kesehatan jiwa. Edisi 1. Bandung :
RSJP Bandung. 2000

A. Kasus (Masalah Utama)

Gangguan Interaksi sosial: Menarik diri

B. Pengertian.

Perilaku menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain,
menghindari hubungan dengan orang lain ( Rawlins,1993 ).

C. Proses Terjadinya Masalah

1. Penyebab :

a. Perkembangan : Sentuhan, perhatian, kehangatan dari keluarga yang mengakibatkan


individu menyendiri, kemampuan berhubungan dengan orang lain tidak adekuat yang
berakhir dengan menarik diri.

b. Komunikasi dalam keluarga : Klien sering mengalami kecemasan dalam berhubungan


dengan anggota keluarga, sering menjadi kambing hitam, sikap keluarga tidak konsisten
(kadang boleh, kadang tidak). Situasi ini membuat klien enggan berkomunikasi dengan orang
lain.

c. Sosial Budaya : Di kota besar, masing – masing individu sibuk memperjaungkan hidup
sehingga tidak waktu bersosialisasi. Situasi ini mendukung perilaku menarik diri.

Pada mulanya klien merasa dirinya tidak berharga lagi sehingga merasa tidak aman dalam
berhubungan dengan orang lain. Biasanya klien berasal dari lingkungan yang penuh
permasalahan, ketegangan, kecemasan dimana tidak mungkin mengembangkan kehangatan
emosional dalam hubungan yang positif dengan orang lain yang menimbulkan rasa aman.

Dunia merupakan alam yang tidak menyenangkan, sebagai usaha untuk melindungi diri, klien
menjadi pasif dan kepribadiannya semakin kaku (rigid). Klien semakin tidak dapat
melibatkan diri dalam situasi yang baru. Ia berusaha mendapatkan rasa aman tetapi hidup itu
sendiri begitu menyakitkan dan menyulitkan sehingga rasa aman itu tidak tercapai. Hal ini
menyebabkan ia mengembangkan rasionalisasi dan mengaburkan realitas daripada mencari
penyebab kesulitan serta menyesuaikan diri dengan kenyataan.

Konflik antara kesuksesan dan perjuangan untuk meraih kesuksesan itu sendiri terus berjalan
dan penarikan diri dari realitas diikuti penarikan diri dari keterlibatan secara emosional
dengan lingkungannya yang menimbulkan kesulitan. Semakin klien menjauhi kenyataan
semakin kesulitan yang timbul dalam mengembangkan hubungan dengan orang lain. Menarik
diri juga disebabkan oleh perceraian, putus hubungan, peran keluarga yang tidak jelas, orang
tua pecandu alkohol dan penganiayaan anak. Resiko menarik diri adalah terjadinya resiko
perubahan sensori persepsi (halusinasi).

Menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain,
menghindari hubungan dengan orang lain (Rawlins,1993). Terjadinya perilaku menarik diri
dipengaruhi oleh faktor predisposisi dan stressor presipitasi. Faktor perkembangan dan sosial
budaya merupakan faktor predispoisi terjadinya perilaku menarik diri. Kegagalan
perkembangan dapat mengakibatkan individu tidak percaya diri, tidak percaya orang lain,
ragu, takut salah , pesimis, putus asa terhadap hubungan dengan orang lain, menghindar dari
orang lain, tidak mampu merumuskan keinginan, dan merasa tertekan. Keadaan
menimbulkan perilaku tidak ingin berkomunikasi dengan orang lain, menghindar dari orang
lain, lebih menyukai berdiam diri sendiri, kegiatan sehari-hari hampir terabaikan.

Gejala Klinis :

§ Apatis, ekspresi sedih, afek tumpul.

§ Menghindar dari orang lain (menyendiri).

§ Komunikasi kurang/tidak ada. Klien tidak tampak bercakap-cakap dengan klien


lain/perawat.

§ Tidak ada kontak mata, klien sering menunduk.

§ Berdiam diri di kamar/klien kurang mobilitas.

§ Menolak berhubungan dengan orang lain, klien memutuskan percakapan atau pergi jika
diajak bercakap-cakap.

§ Tidak melakukan kegiatan sehari-hari.

§ Posisi janin saat tidur. (Budi Anna Keliat, 1998)

2. Tanda – tanda menarik diri dilihat dari beberapa aspek :


a. Aspek fisik :

Ø Makan dan minum kurang

Ø Tidur kurang atau terganggu

Ø Penampilan diri kurang

Ø Keberanian kurang

b. Aspek emosi :

Ø Bicara tidak jelas, merengek, menangis seperti anak kecil

Ø Merasa malu, bersalah

Ø Mudah panik dan tiba-tiba marah

c. Aspek sosial

Ø Duduk menyendiri

Ø Selalu tunduk

Ø Tampak melamun

Ø Tidak peduli lingkungan

Ø Menghindar dari orang lain

Ø Tergantung dari orang lain

d. Aspek intelektual

Ø Putus asa

Ø Merasa sendiri, tidak ada sokongan

Ø Kurang percaya diri

Klien dengan perilaku menarik diri dapat berakibat adanya terjadinya resiko perubahan
sensori persepsi (halusinasi). Halusinasi ini merupakan salah satu orientasi realitas yang
maladaptive, dimana halusinasi adalah persepsi klien terhadap lingkungan tanpa stimulus
yang nyata, artinya klien menginterprestasikan sesuatu yang nyata tanpa stimulus/rangsangan
eksternal.

Gejala Klinis :

§ Bicara, senyum dan tertawa sendiri.


§ Menarik diri dan menghindar dari orang lain.

§ Tidak dapat membedakan tidak nyata dan nyata.

§ Tidak dapat memusatkan perhatian.

§ Curiga, bermusuhan, merusak (diri sendiri, orang lain dan lingkungannya), takut.

§ Ekspresi muka tegang, mudah tersinggung. (Budi Anna Keliat, 1999)

D. Pohon masalah

Resiko perubahan persepsi sensori: halusinasi .....


Gangguan konsep diri: harga diri rendah

E. Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji

1. Masalah Keperawatan.

a. Resiko perubahanm persepsi sensori: halusinasi……..

b. Isolasi sosial : menarik diri

c. Gangguan konseps diri: harga diri rendah

2. Data yang perlu di kaji.

a. Resiko perubahanm persepsi sensori: halusinasi……..

1) Data Subjektif

a) Klien mengatakan mendengar bunyi yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata

b) Klien mengatakan melihat gambaran tanpa ada stimulus yang nyata

c) Klien mengatakan mencium bau tanpa stimulus

d) Klien merasa makan sesuatu

e) Klien merasa ada sesuatu pada kulitnya

f) Klien takut pada suara/bunyi/gambar yang dilihat dan didengar

g) Klien ingin memukul/melempar barang-barang

2) Data Objektif

a) Klien berbicar dan tertawa sendiri

b) Klien bersikap seperti mendengar/melihat sesuatu

c) Klien berhenti bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu

d) Disorientasi

b. Isolasi sosial : menarik diri


1) Data obyektif:

Apatis, ekpresi sedih, afek tumpul, menyendiri, berdiam diri dikamar, banyak diam, kontak
mata kurang (menunduk), menolak berhubungan dengan orang lain, perawatan diri kurang,
posisi menekur.

2) Data subyektif:

Sukar didapat jika klien menolak komunikasi, kadang hanya dijawab dengan singkat, ya atau
tidak.

c. Gangguan konseps diri: harga diri rendah

1) Data obyektif:

Klien tampak lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan, ingin
mencederai diri.

2) Data subyektif:

Klien mengatakan : saya tidak bisa, tidak mampu, bodoh / tidak tahu apa – apa, mengkritik
diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri.

F. Diagnosa Keperawatan

1. Resiko perubahan persepsi sensori: halusinasi …. berhubungan dengan menarik diri.

2. Isolasi sosial: menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.

G. RENCANA TINDAKAN.

Diagnosa 1 : Resiko perubahan persepsi sensori: halusinasi …. berhubungan dengan menarik


diri.

Tujuan Umum :

Klien dapat berinteraksi dengan orang lain sehingga tidak terjadi halusinasi

Tujuan Khusus :

Klien dapat membina hubungan saling percaya

Rasional : Hubungan saling percaya merupakan landasan utama untuk hubungan selanjutnya.
Tindakan:

1). Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik
dengan cara :

a. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal.

b. Perkenalkan diri dengan sopan.

Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai.

Jelaskan tujuan pertemuan.

Jujur dan menepati janji.

Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya.

Berikan perhatian kepada klien dan perhatian kebutuhan dasar klien.

Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri

Rasional :

Memberi kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya dapat membantu mengurangi stres


dan penyebab perasaaan menarik diri.

Tindakan :

1). Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-tandanya.

2). Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan penyebab menarik
diri atau mau bergaul.

3). Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik diri, tanda-tanda serta penyebab
yang muncul.

4). Berikan pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya

3. Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian tidak
berhubungan dengan orang lain.

Rasional :

§ Untuk mengetahui keuntungan dari bergaul dengan orang lain.

§ Untuk mengetahui akibat yang dirasakan setelah menarik diri.

Tindakan :

3.1 Kaji pengetahuan klien tentang manfaat dan keuntungan berhubungan dengan orang
lain.
3.1.1 Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang keuntungan
berhubungan dengan orang lain.

3.1.2 Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain.

3.1.3 Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang


keuntungan berhubungan dengan orang lain.

3.2 Kaji pengetahuan klien tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain.

3.2.1 Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan dengan orang lain.

3.2.2 Biskusikan bersama klien tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.

3.2.3 Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang


kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.

Klien dapat melaksanakan hubungan sosial.

Rasional :

§ Mengeksplorasi perasaan klien terhadap perilaku menarik diri yang biasa dilakukan.

§ Untuk mengetahui perilaku menarik diri yang dilakukan dan dengan bantuan perawat bisa
membedakan perilaku konstruktif dan destruktif.

Tindakan :

4.1 Kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain.

4.2 Dorong dan bantu kien untuk berhubungan dengan orang lain melalui tahap :

§ K–P

§ K – P – P lain

§ K – P – P lain – K lain

§ K – Kel/Klp/Masyarakat

4.3 Beri reinforcement positif terhadap keberhasilan yang telah dicapai.

4.4 Bantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan.

4.5 Diskusikan jadwal harian yang dilakukan bersama klien dalam mengisi waktu.

4.6 Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan ruangan.

4.7 Beri reinforcement positif atas kegiatan klien dalam kegiatan ruangan.

Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan orang lain.


Rasional : Dapat membantu klien dalam menemukan cara yang dapat

menyelesaikan masalah.

Tindakan :

5.1 Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya bila berhubungan dengan orang lain.

5.2 Diskusikan dengan klien tentang perasaan masnfaat berhubungan dengan orang lain.

5.3 Beri reinforcement positif atas kemampuan klien mengungkapkan perasaan manfaat
berhubungan dengan orang lain.

6. Klien dapat memberdayakan sistem pendukung atau keluarga.

Rasional : memberikan penanganan bantuan terapi melalui pengumpulan data yang

lengkap dan akurat kondisi fisik dan non fisik klien serta keadaan perilaku dan sikap
keluarganya.

Tindakan :

6.1 Bina hubungan saling percaya dengan keluarga :

§ Salam, perkenalan diri.

§ Jelaskan tujuan.

§ Buat kontrak.

§ Eksplorasi perasaan klien.

6.2 Diskusikan dengan anggota keluarga tentang :

§ Perilaku menarik diri.

§ Penyebab perilaku menarik diri.

§ Akibat yang terjadi jika perilaku menarik diri tidak ditanggapi.

§ Cara keluarga menghadapi klien menarik diri.

6.3 Dorong anggota keluarga untuk memberikan dukungan kepada klien untuk
berkomunikasi dengan orang lain.

6.4 Anjurkan anggota keluarga secara rutin dan bergantian menjenguk klien minimal satu
kali seminggu.

6.5 Beri reinforcement positif positif atas hal-hal yang telah dicapai oleh keluarga.
Diagnosa 2 : Isolasi sosial: menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.

Tujuan umum :

Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal.

Tujuan khusus :

1. Klien dapat membina hubungan saling percaya

Rasional : Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk kelancaran hubungan interaksi
selanjutnya

Tindakan :

Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi


terapeutik :

a. sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal

b. Perkenalkan diri dengan sopan

c. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien

d. Jelaskan tujuan pertemuan

e. Jujur dan menepati janji

f. Tunjukan sikap empati dan menerima klien apa adanya

g. Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien.

Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.

Rasional :

§ Diskusikan tingkat kemampuan klien seperti menilai realitas, kontrol diri atau integritas
ego diperlakukan sebagai dasar asuhan keperawatannya.

§ Reinforcement positif akan meningkatkan harga diri klien.

§ Pujian yang realistik tidak menyebabkan klien melakukan kegiatan hanya karena ingin
mendapatkan pujian.

Tindakan:

2.1. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien.

2.1. Setiap bertemu klien hindarkan dari memberi penilaian negatif.


2.1. Utamakan memberikan pujian yang realistik.

3. Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan.

Rasional :

§ Keterbukaan dan pengertian tentang kemampuan yang dimiliki adalah prasyarat untuk
berubah.

§ Pengertian tentang kemampuan yang dimiliki diri memotivasi untuk tetap


mempertahankan penggunaannya.

Tindakan:

3.1. Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit.

3.2. Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaannya.

4. Klien dapat (menetapkan) merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang


dimiliki.

Rasional :

§ Membentuk individu yang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

§ Klien perlu bertindak secara realistis dalam kehidupannya.

§ Contoh peran yang dilihat klien akan memotivasi klien untuk melaksanakan kegiatan.

Tindakan:

4.1. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai
kemampuan.

§ Kegiatan mandiri.

§ Kegiatan dengan bantuan sebagian.

§ Kegiatan yang membutuhkan bantuan total.

4.2. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien.

4.3. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan.

5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya.

Rasional :

§ Memberikan kesempatan kepada klien mandiri dapat meningkatkan motivasi dan harga diri
klien.

§ Reinforcement positif dapat meningkatkan harga diri klien.


§ Memberikan kesempatan kepada klien ntk tetap melakukan kegiatan yang bisa dilakukan.

Tindakan:

5.1. Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan.

5.2. Beri pujian atas keberhasilan klien.

5.3. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah.

6. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada.

Rasional:

§ Mendorong keluarga untuk mampu merawat klien mandiri di rumah.

§ Support sistem keluarga akan sangat berpengaruh dalam mempercepat proses


penyembuhan klien.

§ Meningkatkan peran serta keluarga dalam merawat klien di rumah.

Tindakan:

1. Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri
rendah.

2. Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat.

3. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.

DAFTAR PUSTAKA

Azis R, dkk. Pedoman asuhan keperawatan jiwa. Semarang : RSJD Dr. Amino Gondoutomo.
2003

Boyd MA, Hihart MA. Psychiatric nursing : contemporary practice. Philadelphia : Lipincott-
Raven Publisher. 1998

Keliat BA. Proses kesehatan jiwa. Edisi 1. Jakarta : EGC. 1999


Stuart GW, Sundeen SJ. Buku saku keperawatan jiwa. Edisi 3. Jakarta : EGC. 1998

Stuart, G.W and Sundeen. Principle and practice of psychiatric nursing. 5thed.

St Louis Mosby Year Book.1995

Stuart. G.W and Laraia. Principle and practice of psychiatric nursing.7thed. St Louis Mosby
Year Book. 2001

Townsed, Mary C. Buku Saku Diagnosa Keperawatan pada Keperawatan Psikiatri:pedoman


untuk pembuatan rencana keperawatan. Edisi ketiga. Alih Bahasa: Novi Helera C.D. Jakarta.
EGC. Jakarta1998.

Tim Direktorat Keswa. Standar asuhan keperawatan kesehatan jiwa. Edisi 1. Bandung : RSJP
Bandung. 2000

TINJAUAN TEORITIS

A. KONSEP DASAR

1. Defenisi

Alam perasaan (Mood) adalah keadaan emosial yang berkepanjangan yang mempengaruhi
seluruh kepribadian dan fungsi kehidupan seorang. Alam perasaan ini meliputi perlakuan dan
penyerapan emosi seseorang dan mempunyai arti yang sama dengan afek, suasana perasaan
dan emosi.

Pada aspek lain kepribadian, emosi dan alam perasaan menunjukkan bagaimana seseorang
beradaptasi dengan lingkungan (Stuart dan Sundeen, 1985:255). Gangguan alam perasaan
adalah kelompok gangguan dimana terjadi gangguan emosi yang disertai gejala mania atau
depresi (Stuart & Sundeen, 1998: 255).

Depresi adalah gangguan alam perasaan yang ditandai oleh kesedihan harga diri rendah rasa
bersalah, putus asa dan perasaan kosong (Budi Anna Keliar, 1991 ; 18).
Isolasi sosial menarik diri merupakan kondisi kesendirian yang dialami oleh individu dan
diterima sebagai ketentuan oleh orang lain dan sebagai suatu keadaan yang negatif atau
mengacau. Hal ini diartikan suatu keadaan dimana seorang individu berpartisipasi dalam
suatu kuantitas yang tidak cukup atau kualitas interaksi sosial yang tidak efektif (Towrisend,
1998).

Prilaku menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain,
menghindari hubungan dengan orang lain (Rowlins, 1993).

2. Proses Terjadinya Masalah

Respon Neurobiologi Maladaptif

Ø lsolasi dan menarik diri dari hubungan sosial

Ø Harga diri rendah

Ø Ketidak sesuaian sosial

Ø Tidak tertarik dengan aktivitas rekreasi


Ø Kerancuan identitas gender

3. Rentang Respon Emosional

Rentang Respon emosi individu dapat berfluktuasi dari respon emosi yang adaptif sampai
maladaptif seperti pada gambar:

Respon Adaptif Respon


Maladaptif

Respon Emosional Reaksi Supresi Reaksi Mani


ak
kehilan kehilan Depr
gan gan esi
yang yang
wajar meman
jang

Respon Emosi Adaptif Meliputi:

1) Respon Emosional adalah respon emosi dipengaruhi dengan melibatkan dunia


ekstemal dan internal, ini berarti individu terbuka dan sadar akan perasaan tertentu.

2) Reaksi kehilangan yang wajar adalah reaksi yang wajar yang dialami oleh setiap
individu jika menghadapi kehilangan.

Individu menghadapi realita dari kehilangan dan tenggelam didalam proses kehilangan.
Reaksi yang sering tampak adalah bersedih, berhenti kegiatan sehari-hari, berfokus pada sisi
diri sendiri, dan berlangsung tidak lama.

Respon Emosi yang Maladaptif meliputi

1) Supresi emosi adalah keadaan dimana individu menyangkal perasaannya, menjauhkan


diri dari perasaannya atau menekan semua aspek perasaan, terhadap lingkungan. Pasien
tampak menyangkal perasaan tertentu atau pasien tidak terpengaruh oleh perasaan tersebut.

2) Reaksi kehilangen yang memanjang adalah penyangkalan yang menetap dan


memanjang. Tetapi tidak tampak reaksi emosi terhadap kehilangan. Penundaan dan
penolakan proses berduka dapat terjadi beberapa tahun.

3) Depresi adalah respon emosi yang maladaptif yang ditandai dengan perasaan sedih
dan berduka yang berlebihan dan berkepanjangan dan dapat digunakan untuk menunjukkan
berbagai fenomena : tanda, penyebab gejala, keadaan emosi, reaksi, penyakit atau kondisi
klinik secara menyeluruh.

4) Mania adalah keadaan yang ditandai oleh peningkatan perluasan alam perasaan atau
keadaan alam perasaan yang mudah tersinggung dan terangsang. Hipomania digunakan untuk
menggambarkan sindrom klinik serupa tetapi tidak separah mania atau episode mania.

4. Klasifikasi

Depresi mayor, episode tunggal/berulang

Adalah suatu kelainan alam perasaan yang melibatkan hilangnya minat/ kesenangan dalam
aktivitas yang biasa dan pada waktu yang lampau. Ini adalah tanda kelainan dalam fungsi
sosial dan pekerjaan selama sedikitnya 2 minggu (Mary C. Townsnd, 1998 p:179)

1) Dengan gambaran psikotik

Kerusakan menguji realita seperti kehadiran halusinasi/delusi

2) Tipe melankolik

Gejala-gejala kelebihan. Adanya kehilangan minat dalam semua aktivitas. Depresi


membentuk secara teratur pada pagi hari.

3) Pola musiman

Telah ada minimal 3 tahun pola awitan kelainan depresi selama periode tahun antara awal
Oktober dan akhir November dan berakhir pada pertengahan Februari dan pertengahan April.

Kelainan Bipolar

Karakteristik : Perpindahan suasana hati dari depresi dalam sampai eforia hebat (mania)
dengan periode menghalangi alam perasaan normal.

1) Kelainan bipolar campuran

Melibatkan gambaran simbiotik penuh dari episode maniak dan depresi mayor
tercampur/berubah dengan cepat setiap beberapa hari. Gambaran psikotik bisa ada/tidak.

2) Kelainan bipolar maniak

Alam perasaan yang menonjol meningkat, meluas/peka. Aktivitas motorik berlebihan/hiruk


pikuk. Ciri-ciri psikotik bisa ada/tidak.

3) Kelainan bipolar depresi

Gejala-gejalanya merupakan karakteristik dari beberapa mayor. Kriteria diagnosa harus


mencakup suatu riwayat dari sedikitnya satu episode manik. Ciri-ciri psikotik ada/tidak.
4) Siklokimia

Suatu kelainan alam perasaan kronis sedikitnya selama 2 tahun, melibatkan sejumlah periode
depresi dan hipomania tapi tidak cukup hebat/lama untuk memenuhi kriteria kelainan bipolar.
Ciri-ciri psikotik tidak ada.

Kelainan bipolar/depresi tidak kecuali dijelaskan (TKD)

Menggambarkan individu-individu memanifestasikan gejala depresi mayor/kelainan bipolar


atau yang memperlihatkan tambahan karakteristik gejala kelainan lain.

Faktor Predisposisi (Mary C. Town Send, 1998)

1) Teori Biologis

a) Genetik

Mempengaruhi transmisi gangguan efektif melalui riwayat keluarga/keturunan.

b) Biokimia

Ketidakseimbangan elekronik tampak menaikkan peranan dalam penyakit depresif. Suatu


kesalahan hasil metabolisme dalam perubahan Na+ da K+ dalam neuron (Gibbons, 1960)

2) Teori Psikososial

a) Psikoanalisa

Teori yang melibatkan suatu ketidak puasan hubungan awal ibu-bayi. Kebutuhan bayi tidak
terpenuhi/kondisi kehilangan respon berduka belum terpecahkan dan kemarahan ditujukan
pada diri sendiri. Ego tetap lemah dan super ego meluas dan menjadi menghukum (Klein,
1934).

b) Kognitif

Depresi terjadi sebagai hasil kelainan kognitif dimana persepsi merupakan ketidak adekuatan
dan ketidak berhargaan pandangan untuk masa depan merupakan suatu kepesimisan
keputusan (Beck et al, 1979).

c) Teori pembelajaran (Seligman, 1973)

Penyebab depresi dipengaruhi oleh keyakinan individu bahwa ada kurang kontrol atau situasi
kehidupannya. Keyakinan ini timbul dari kegagalan dimana individu merasa tidak berdaya
untuk berhasil dalam usaha-usaha keras karenanya berhenti mencoba.

d) Teori kehilangan objek

Penyebab depresif terjadi karena pribadi tersebut berpisah dari (ditolak orang terdekat selama
6 bulan pertama kehidupan. Proses ikatan diputuskan dan anak menarik diri dari orang lain
dan lingkungan.
5. Faktor Predisposisi

Faktor Predisposisi yang dapat menyebabkan gangguan alam perasaan adalah :

a. Faktor Genetik, mengemukakan transmisi gangguan alam perasaan diteruskan melalui


garis keturunan dan riwayat keluarga.

b. Teori Agresi berbalik pada diri sendiri, mengemukan bahwa depresi diakibatkan oleh
perasaan marah yang dialihkan pada diri sendiri.

c. Teori kehilangan menunjukkan adanya perpisahan yang bersifat traumatis dengan orang
yang sangat dicintai.

d. Teori Kepribadian menggambarkan bagaimana konsep diri yang negatif dan harga diri
yang rendah mempengaruhi kepercayaan dan penilaian terhadap stressor.

e. Teori Kognitif mengemukan bahwa depresi adalah masalah kognitif yang di dominasi
oleh penilaian negatif terhadap diri sendiri, lingkungan dan masa depan.

f. Model ketidakberdayaan yang dipelajari mengemukakan bahwa bukan trauma yang


menghasilkan depresi, tetapi keyakinan individu akan ketidak mampuannya mengontrol
kehidupannya. Oleh karena itu individu tidak berupaya mengembangkan respon yang adaptif,

g. Model perilaku berasal dari pengalaman belajar dimasa lalu, depresi dianggap terjadi
karena kurangnya reinforcement positif Selama berinteraksi dengan lingkungan.

h. Model biologi menggambarkan perubahan kimiawi didalam tubuh yang terjadi pada
keadaan depresi, termasuk defisiensi dari katekolamin, tidak berfungsinya endokrin,
hipersekresi kortisol.

6. Faktor Presipitasi

Ada lima stressor yang dapat menyebabkan gangguan alam perasaan :

a. Kehilangan kasih sayang secara nyata atau bayangan, termasuk kehilangan cinta,
seseorang, fungsi tubuh, status atau harga diri.

b. Kejadian penting dalam kehidupan seringkali dilaporkan sebagai keadaan yang


mendahului episode depresi dan mempunyai dampak pada masalah saat ini dan kemampuan
individu untuk menyelesaikan masalah.

c. Banyaknya peran dan konflik peran dilaporkan mempengaruhi berkembangnya depresi,


terutama pada wanita.

d. Sumber koping termasuk status sosial ekonomi, keluarga, hubungan interpersonal dan
organisasi kemasyarakatan. Kurangnya sumber pendukung sosial menambah penyebab stress
individu.
e. Perubahan fisiologis yang disebabkan oleh obat-obatan atau berbagai penyakit fisik
seperti infeksi, neoplasma dan ketidakseimbangan metabolisme dapat menimbulkan
gangguan alam perasaan. Khususnya obat-obatan dan hipertensi dan penggunaan zat aditif.
Kebanyakan penyakit kronik yang melemahkan sering disertai depresi.

7. Dampak Masalah

Depresi dapat terjadi tergantung bagaimana seseorang memandang dan mengantikan


kejadian atau masalah yang didukung oleh pola mekanisme koping individu tersebut.
Dampak masalah yang terjadi dapat ditimbulkan sebagai akibat dari berbagai faktor penyebab
yang dialami dikhat dari berbagai segi antara lain

a. Segi Biologis

Secara biologis individu akan menampakan masalah menurunnya daya tahan tubuh serta
cenderung untuk mendapatkan penyakit (segi fisik) karena kurangnya keinginan untuk
kebutuhan fisiologis seperti makan, minum atau tidak memperhatikan kesehatan diri.

Individu cenderung untuk bersikap acuh terhadap lingkungan baik internal maupun eksternal,
menurunnya gairah seksual yang membawa dampak terjadinya impoten pada pria, dan
gangguan amenorhoe dan dismenorhoe pada wanita karena sirkulasi biologis dalam tubuh
mengalami gangguan.

b. Segi Psikologis

Adanya perasaan cemas yang luar biasa, perasaan putus asa tidak berdaya serta rasa berdosa
dan menyalahkan diri sendiri yang terus lama kelamaan akan membawa akibat terjadinya
gangguan jiwa yang menetap.

c. Segi Sosial

Dampak masalah yang timbul dari segi sosial adalah terjadinya gangguan berhubungan
dengan orang lain, cenderung terjadinya menarik diri atau mengasingkan diri dari lingkungan
dan sikap bermusuhan dengan orang lain.

7. Mekanisme Koping yang digunakan

Mekanisme koping dapat diartikan sebagai sesuatu usaha yang digunakan individu dalam
mengatasi situasi yang menekan.

Reaksi berduka yang berkepanjangan menunjukkan penggunaan mekanisme pertahahan


denial dan supresi untuk menghidari tekanan yang hebat dengan berduka. Depresi adalah
perasaan berduka yang belum terselesaikan, menggunakan mekanisme represi, supresi, denial
dan disosiasi.
a. Denial

Pada tahap awal stress, individu menolak dan menyangkal masalah untuk mengurangi
kecemasan serta untuk melindungi diri dari situasi yang tidak menyenangkan.

b. Supresi

Individu menekan berbagai perasaan yang dirasakan, perasaan bersalah, marah serta hal-hal
yang menyakitkan secara sadar.

B. PENGKAJIAN

Beberapa hal yang perlu dikaji pada klien yang mengalami depresi

1. Riwayat Kesehatan

a. Riwayat Kesehatan Sekarang.

Biasanya klien memperlihatkan tingkah laku panik, putus asa, ketidakberdayaan, marah,
mudah tersinggung, isolasi sosial, menarik diri dan acuh terhadap lingkungan.

b. Riwayat Kesehatan Dahulu

Biasanya klien pernah mengalami kejadian yang menyebabkan trauma, ancaman atau
kehancuran. Juga kejadian yang menyebabkan perubahan perilaku dan psikologis seperti
menyebabkan kehilangan sesuatu yang berharga atau seseorang yang dicintai.

c. Riwayat Kesehatan Keluarga

Dapat ditentukan oleh latar belakang genetik yang diturunkan oleh ayah dan ibu atau
keduanya dimana mereka mempunyai pengalaman emosi yarg labil. Hingga individu tersebut
mudah jatuh keadaan depresi.

2. Pemeriksaan Fisik / Biologis

a. Activity Daily Living

1) Nutrisi

Pada umumnya selera menurun (anoreksin), berat badan menurun distress epigastric.

2) Tidur

Klien mengalami gangguan tidur, atau pola tidur yang meningkat.

3) Kurangnya minat terhadap rekreasi, hobi


4) Aktivitas Fisik

Bisa terjadi retardasi psikornotor, agitasi psikomotor hiperaktif.

5) Penurunan aktivitas Seksual

6) Kegiatan sehari-hari seperti menarik diri, kurangnya minat terhadap aktivitas dan kurang
memperhatikan penampilan diri.

b. Kebiasaan

Kebiasaan yang dilakukan seperti mengkonsumsi alkohol meningkat, pengunaan obat-obatan


meningkat dan frekuensi merokok meningkat.

c. Review Sistem

1 ) General

2) Bisa terjadi lemak, gangguan tidur, malaise, apatis, agitasi.

3) Kulit

4) Jantung

5) Respirasi seperti adanya hiperventilasi pernapasan

6) Reproduksi

Terjadinya penurunan libido, impoten, disminore atau amenore ketegangan premenstruasi.

7) Muskulo skeletal

Kemungkinan terjadi peregangan otot dan penurunan aktivitas motorlk.

8) Neurologi

Pada umumnya klien mengalami sakit kepala, dizzines (pusing).

3. Data Psikologis

a. Status Psikologis

Klien mudah tersinggung dan marah, emosi yang labil dan kurang terkontrol, merasa putus
asa dan tidak berdaya, merasa segala sesuatu itu salah, merasa berdosa dan bersalah, merasa
cemas yang belebihan, merasa rendah hati, apatis, merasa kesepian dan berduka.

b. Pola Komunikasi
Klien menggunakan komunikasi secara verbal dan secara nonverbal seperti dengan sorotan
mata, mimik wajah dan gerakan tangan serta dalam keadaan stress meningkat pembicaraan
klien mudah teralih dan sulit berkosentrasi.

c. Pola Interaksi

Klien sulit berinteraksi dengan lingkungan, cenderung menarik diri dan memisahkan diri dari
lingkungan. Kadang klien memperlihatkan rasa tidak senang dan marah pada orang lain.

d. Pola pertahanan

Untuk mengatasi masalah biasanya klien mengalihkan perhatian dengan cara marah-marah
pada orang lain atau sebaliknya berdiam diri dan menyendiri.

e. Konsep diri

1) Gambaran diri

Klien yang depresi cenderung mengalami gangguan gambaran diri, klien merasa terjadi
perubahan pada bentuk dan penampilannya.

2) Ideal diri

Biasanya klien kurang manipu menetapkan ideal dirinya karena dipengaruhi rasa bersalah
dan kegagalan pemecahan masalah.

3) Harga diri

Klien memiliki harga diri yang rendah, merasa putus asa, tidak berdaya dan tidak berguna.

4) Peran Diri

Klien menyadari perannya, namun dalam keadaan depresi klien tidak mampu melaksanakan
perannya.

5) Identitas diri

Klien mengaiami gangguan dalam menilai dan mengenal identitas dirinya.

f. Proses Pikir

Biasanya klien mengalami beberapa perubahan dalam proses pikir antara lain : Kekacauan
atau gangguan dalam berpikir perubahan sensor, tidak mampu membuat suatu rencana dan
untuk menahan keadaan tidak mampu berkonsentrasi, tidak bisa memandang masalah secara
realistis.

g. Isi Pembicaraan

Biasanya cenderung mengarah pada permasalahannya, keluh kesah dan ketidak berdayaan.

h. Status Mental
Klien merasa tidak adekuat tidak mampu memandang kejadian secara realistis, tidak mampu
memfokuskan perhatian dan mengidentifikasikan masalah.

4. Data Sosial Ekonomi

Keadaan depresi dapat dialami oleh semua tingkat ekonomi.

Berdasarkan data-data tersebut diatas dapat ditegakkan beberapa kemungkinan diagnosa


keperawatan :

a. Perubahan sensori-persepsi : halusinasi pendengaran berhubungan dengan menarik diri


(Towsend, Mary C, 1998).

b. Kerusakan interaksi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah (Stuart
dan Sundeen, 1995).

c. Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan koping individu tidak
efektif (Towsend, Mary C, 1998).

C. PERENCANAAN

Berikut ini akan diuraikan rencana tindakan keperawatan yang dilakukan sesuai
masing-masing diagnosa keperawatan.

1. Perubahan sensori-persepsi : halusinasi pendengaran berhubungan dengan menarik diri.

Tujuan Umum : Klien mampu mengendalikan halusinasi.

Tujuan Khusus : a. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.

b. Klien dapat mengungkapkan perasaan.

c. Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara bertahap.

d. Klien dapat dukungan keluarga.

e. Klien dapat pengobatan sesuai dengan program terapi.

Rencana Tindakan :

a. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.

Rasional : Suasana dan hubungan saling percaya memfasilitasi ekspresi pikiran dan
perasaan secara terbuka, memungkinkan untuk mengekspresikan perasaannya serta
menciptakan lingkungan yang mendukung klien untuk timbul rasa percaya terhadap perawat.

1) Bina hubungan saling percaya dengan perawat dengan cara:

a) Sapa klien dengan ramah


b) Perkenalkan diri dengan sopan

c) Pertahankan kontak mata

d) Tunjukan sikap empati dan penuh perhatian

2) Jelaskan tujuan interaksi

3) Ciptakan suasana hangat dan bersahabat

4) Terima klien apa adanya

5) Perhatikan kebutuhan dasar klien

b. Klien dapat mengungkapkan perasaan

Rasional : Diharapkan klien mempu mengungkapkan perasaannya secara terbuka, merasa


dirinya diperhatikan dan dia tidak seorang diri, terjadi hubungan yang lebih baik dan klien
menyadari perasaan orang lain terhadap orang lain.

1) Kaji pengetahuan klien tentang prilaku menarik diri dan tanda-tandanya.

2) Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya tentang penyebab dan


akibat klien tidak mau bergaul.

3) Diskusikan dengan klien tentang prilaku menarik diri, tanda-tanda serta penyebab yang
mungkin.

4) Beri reinforcement positif terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya.

c. Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara bertahap

Rasional : Sosialisasi secara bertahap diharapkan merupakan suatu pengajaran positif bagi
Klien dan pelajaran untuk mau berinteraksi dengan orang lain.

1) Diskusikan keuntungan berhubungan dan kerugian menarik diri.

2) Motivasi klien untuk berhubungan dengan orang lain secara bertahap: klien - perawat,
klien - perawat-perawat lain, Klien - perawat perawat lain - klien lain.

3) Beri Reinforcement positif terhadap kebehasilan klien.

4) Libatkan klien dalam terapi aktivitas kelompok : Sosialisasi.

5) Bantu klien melaksanakan aktivitas sehari-hari dengan interaksi.

d. Klien dapat dukungan keluarga.

Rasional : Keluarga merupakan support sistem yang paling adekuat untuk mempercepat
kesembuhan klien untuk mau bergaul dengan orang lain.

1) Bina hubungan saling percaya dengan keluarga dengan cara:


a). Perkenalkan diri.

b). Tujuan membuat kontrak.

2) Diskusikan dengan keluarga tentang : perilaku menarik diri, akibat serta cara
menghadapi klien.

3) Motivasi keluarga untuk berkomunikasi dengan klien supaya berhubungan dengan


orang lain.

4) Anjurkan keluarga berkunjung 1 kali 1 minggu.

5) Beri reinforcement positif pada keluarga.

e. Klien dapat pengobatan sesuai program terapi seperti chlorpomazin, haloperidol,


amitriptilin, trihexypenidil.

Rasional : Chlorpomazin bekerja pada susunan saraf pusat yang menimbulkan efek
psikotropik, sedasi, digunakan dalam penanganan psikosis. Haloperidol berkhasiat yang
hampir sama dengan chlorpomazin. Trihexypenidil merupakan penyerta pemberian obat anti
psikotik yang berkhasiat merelaksasi otot polos anti spasmodik. Amitripfilin adalah obat anti
kecemasan (depresi) diharapkan dapat memberikan perasaan lega terhadap efek kecemasan
dan mempermudah kerjasama klien dengan terapi.

1) Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 6 (enam) benar (benar obat,
klien, dosis, cara, waktu dan dokumentasi).

2) Diskusikan dengan klien tujuan minum obat.

3) Anjurkan klien membicarakan efek samping obat yang dirasakan.

2. Kerusakan interaksi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.

Tujuan Umum : Klien mampu berinteraksi dengan orang lain.

Tujuan Khusus : a. Klien dapat membina, hubungan saling percaya dengan perawat.

b. Klien dapat mengenal perasaan yang menyebabkan harga diri rendah yang berakibat
menarik diri.

c. Klien dapat berhubungan sosial dengan orang lain secara bertahap

d. Keluarga dapat membantu klien untuk berprilaku adaptif.

Rencana Tindakan :

a. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat

Rasional : Dapat menimbulkan rasa percaya klien terhadap perawat dan terciptanya
hubungan yang dekat sehingga klien lebih terbuka, dalam mengungkapkan masalahnya, serta
sikap penerimaan dari orang lain akan meningkatkan harga diri klien yang dapat
memfasilitasi rasa percaya pada orang lain.

1) Bina hubungan saling percaya dengan cara

a) Sapa klien dengan ramah

b) Perkenalkan diri dengan sopan

c) Pertahankan kontak mata.

d) Tunjukan sikap empati dan penuh perhatian

2) Jelaskan tujuan interaksi

3) Ciptakan suasana hangat dan bersahabat.

4) Terima klien apa adanya.

5) Perhatikan kebutuhan dasar klien.

6) Perlihatkan cara menerima dengan cara kontak, sering tapi singkat.

b. Klien dapat mengenal perasaan yang menyebabkan harga diri rendah yang berakibat
menarik diri.

Rasional : Diharapkan klien dapat mengenal bahwa dirinya tetap dapat disukai orang lain
walau ia tidak sempurna sehingga mendorong klien mau berinteraksi dengan orang lain. Saat
harga diri klien meningkat klien akan merasa kurang butuh memanipulasi orang lain untuk
kepuasannya sendiri.

1) Kaji pengetahuan klien tentang perasaan harga diri rendah.

2) Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaan penyebab klien rendah diri.

3) Diskusikan dengan klien tentang harga diri rendah serta penyebab dan akibat yang
mungkin timbul.

4) Beri reinforcement positif pada kemampuan klien mengungkapkan perasaan.

5) Bantu klien mengidentifikasi aspek-aspek positif dirinya mengenai prestasinya

c. Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara bertahap.

Rasional : Hubungan sosial memfasilitasi berkurang atau hilangnya perasaan rendah diri
sehingga klien mulai memahami dan menyadari pentingnya terlibat dalam perubahan prilaku
rendah diri yang menyebabkan menarik diri.
1) Diskusikan tentang keuntungan dan kerugian dalam pritaku menarik diri akibat rendah
diri.

2) Motivasi klien untuk berhubungan dengan orang lain secara bertahap.

3) Beri reinforement positif atas keberhasilan klien.

d. Keluarga dapat membantu klien untuk berprilaku adaptif

Rasional : Keluarga merupakan support sistem yang ada kuat sehingga ketelibatan keluarga
dapat mempercepat proses perubahan prilaku menjadi adaptif.

1) Bina hubungan saling percaya dengan cara

a) Perkenalkan diri

b) Jelaskan tujuan kontrak

2) Diskusikan dengan keluarga tentang : perilaku menarik diri, akibat serta cara
menghadapi klien.

3) Motivasi keluarga untuk berkomunikasi dengan klien supaya berhubungan dengan orang
lain.

4) Anjurkan keluarga berkunjung 1 kali 1 minggu.

5) Beri reinforcement positif pada keluarga.

3. Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan koping individu tidak
efekif.

Tujuan Umum : Klien mampu meningkatkan harganya.

Tujuan Khusus : a. Klien dapat mengidentifikasikan koping yang biasa dilakukan.

b. Klien mampu mengidentifikasikan kekuatan yang dimiliki.

c. Klien mampu mengidentifikasikan akibat perilaku yang biasa dilakukan.

d. Klien mampu memecahkan masalah secara konstruktif

Rencana Tindakan:

a. Klien dapat mengidentifikasikan koping yang biasa dilakukan.

Rasional : Mendapatkan informasi koping yang konstruktif dan yang tidak konstruktif yang
biasa dilakukan klien sehingga memudahkan dalam melakukan interaksi selanjutnya untuk
mengarahkan klien pada koping yang efektif.
1) Kaji untuk menghubungkan fakta-fakta, mendengarkan dengan cermat dan ekspresi
wajah, gerak tubuh, kontak mata, posisi tubuh.

2) Tentukan kapan klien mulai mengunakan koping tersebut, korelasinya dengan


peristiwa-peristiwa dan perubahan hidup.

b. Klien mampu mengidentifikasikan koping yang biasa dilakukan.

Rasional : Kekuatan dan kemampuan yang dimiliki oleh klien dapat dimanfaatkan oleh
perawat dalam memotivasi klien untuk menggunakan koping yang efektif.

1) Diskusikan dengan klien cara yang biasa digunakan untuk memecahkan masalah secara
konstruktif.

2) Motivasi klien untuk melakukan evaluasi diri dan perilakunya tersebut.

3) Beri pujian pada klien atas kemampuan mengatasi masalah secara konstruktif.

c. Klien mampu mengidentifikasi akibat perilaku yang biasa dilakukan.

Rasional : Dengan dapat menyadari akibat koping yang tidak efektif yang selama ini
dilakukan diharapkan klien dapat merubah koping yang digunakan ke arah yang konstruktif.

d. Diskusikan bersama klien cara memecahkan masalah yang konstruktif

Rasional : Kemampuan memecahkan masalah secara konstruktif merupakan suatu


pelaksanaan koping individu yang efeklif.

1) Bantu klien mengidentifikasi masalah-masalah yang tidak dapat diatasi secara


langsung.

2) Bicarakan alternatif-alternatif pemecahan masalah yang mungkin.

D. IMPLEMENTASI

Setelah rencana keperawatan tersusun, selanjutnya diterapkan dalam tindakan nyata untuk
mencapai hasil yang diharapkan. Secara umum untuk membantu pemecahan masalah klien,
perawat melakukan komunikasi terapeutik. Kebersihan asuhan keperawatan terhadap klien
menarik diri tergantung strategi perawat dalam komunikasi. Hal yang harus diperhatikan oleh
perawat adalah selalu menjunjung tinggi harkat dan martabat klien sebagai manusia.
E. EVALUASI

Merupakan langkah akhir dari proses keperawatan, dimana perawat menilai keberhasilan
rencana atau tindakan keperawatan yang dilakukan.

Perawat juga melakukan umpan balik untuk pengkajian ulang bila belum tercapai dan proses
keperawatan dapat dimodifikasi kembali.