Vous êtes sur la page 1sur 72

1

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Indonesia merupakan negara di kawasan Asia yang mengalami kegagalan

dalam pencapaian target penurunan Angka Kematian Ibu (AKI). Data terakhir

dari SDKI 2012, terjadi peningkatan AKI sebesar 359 per 100.000 kelahiran

hidup, mengalami peningkatan dari data tahun sebelumnya. Bandingkan

dengan Kamboja yang sudah mencapai 208 per 100.000 kelahiran hidup,

Myanmar sebesar 130 per 100.000 kelahiran hidup, Bahkan kini Indonesia

sudah tertinggal dengan Timur Leste dalam pencapaian AKI, dimana AKI

Timor Leste mencapai 300 per 100.000 kelahiran hidup (World Health

Organization (WHO). 2013. Maternal Mortality Database in World).


Ada beberapa faktor yang menyebabkan tingginya AKI di Indonesia

yaitu faktor penanganan komplikasi yang belum adekwat dipengaruhi oleh

sarana, tenaga, obat dan managerial. Faktor terlambat merujuk dan sampai

ketempat rujukan dipengaruhi oleh : pendidikan, ekonomi, budaya gender, dan

geografis. Selain itu kematian ibu mencerminkan status gizi kesehatan ibu

hamil keadaan social ekonomi kondisi kesehatan lingkungan serta fasilitas dan

tingkat pelayanan kesehatan prenatal dan obstetric (Dinas kesehatan kabupaten

karawang, 2014).
Masalah penting dalam bidang obstetri dan ginekologi adalah masalah

perdarahan. Perdarahan, yang biasanya tidak bisa diperkirakan dan terjadi

secara mendadak, bertanggung jawab atas 28 persen kematian ibu. Sebagian

1
besar kasus perdarahan dalam masa nifas terjadi karena retensio plasenta dan

atonia uteri. Menurut KemenKes tahun 2010 tiga faktor utama penyebab

kematian ibu melahirkan adalah perdarahan (28%), aklampsia (24%) dan

Infeksi (11%). Perdarahan post partum pada 24 jam pertama menyebabkan

kematian sebesar 45%, 68-73% dalam satu minggu setelah bayi lahir dan 82-

88% dalam dua minggu setelah bayi lahir (Prawirohardjo, 2010).


Ada beberapa faktor yang menyebabkan tingginya AKI di Indonesia

yaitu faktor penanganan komplikasi yang belum adekwat dipengaruhi oleh

sarana, tenaga, obat dan managerial. Faktor terlambat merujuk dan sampai

ketempat rujukan dipengaruhi oleh : pendidikan, ekonomi, budaya gender, dan

geografis. Selain itu kematian ibu mencerminkan status gizi kesehatan ibu

hamil keadaan social ekonomi kondisi kesehatan lingkungan serta fasilitas dan

tingkat pelayanan kesehatan prenatal dan obstetric (Dinas kesehatan kabupaten

karawang, 2014).
Di Indonesia, sebagian besar persalinan terjadi tidak di rumah sakit,

sehingga sering pasien yang bersalin di luar kemudian mengalami perdarahan

postpartum dan terlambat sampai ke rumah sakit, saat datang keadaan

umum/hemodinamiknya sudah memburuk, akibatnya mortalitas tinggi. (Yayan

Akhyar, 2012).

Negara-negara berkembang seperti Indonesia, perdarahan postpartum

tetap merupakan penyebab kematian maternal terbanyak dimana mana.

Sementara dinegara Industri (negara maju) perdarahan post partum biasanya

terdapat 3 peringkat teratas penyebab kematian maternal, bersaing dengan

embolisme dan hipertensi. Menurut data WHO tahun 2010, perdarahan

2
merupakan salah satu penyebab langsung kematian ibu dan menempati

presentasi tertinggi sebesar 28%, paling sedikit seperempat dari seluruh

kematian ibu disebabkan oleh pendarahan, proposinya berkisar antara kurang

dari 10% sampai hampir 60% walaupun seorang perempuan bertahan hidup

setelah mengalami pendarahan post partum, namun ia akan mengalami

kekurangan darah yang berat (anemia berat) dan akan mengalami masalah

kesehatan yang berkepanjangan (Lina, 2011).

Dalam studi penelitian Massachusetts General Hospital, HarvSchool, dan

Columbia University College tahun 2008, yaitu para Dokter dan ahli bedah

yang menggunakan database terbesar di amerika serikat untuk menentukan

faktor risiko dalam kejadian perdarahan post partum. Analisis mereka

dilakukan pada 876.641 pasien obstetri, bahwa perdarahan post partum terjadi

pada 25.654 kasus (29,26%), mencapaiperdarahan post partum terjadi pada

25.654 kasus (29,26%), mencapai tingkat 3 per 100 kelahiran. Perubahan yang

dilakukan dalam praktik obstetri di Amerika dalam menurunkan kejadian

pendarahan postpartum adalah meningkatkan kelahiran dengan operasi sesar,

yaitu sebagai besar dilakukan kehamilan ganda dan faktor ibu usia lanjut,

sehingga dapat berkontribusi untuk menurunkan tren mematikan ini (Setiati,

2010).

Banyak faktor yang mempunyai arti penting baik sendiri maupun secara

gabungan dalam menimbulkan perdarahan postpartum. Paritas tinggi

merupakan salah satu faktor yang menyebabkan perdarahan post partum

dimana wanita dengan paritas tinggi menghadapi risiko perdarahan yang

3
semakin meningkat. Ibu-ibu dengan kehamilan lebih dari satu kali atau yang

termasuk multipara mempunyai risiko lebih tinggi terhadap terjadinya

perdarahan post partum dibandingkan dengan ibu-ibu yang termasuk golongan

primipara. Faktor lain yang juga diduga mempengaruhi perdarahan post partum

primer yaitu umur ibu, pendidikan ibu, jarak antar kelahiran, riwayat persalinan

buruk sebelumnya dan status anemia (Prawirohardjo, 2010).

Hasil penelitian Herianto (2008) di Ruamh Sakit Sardijito Yogyakarta

selama kurun waktu 5 tahun terdapat 55 kasus perdarahan postpartum dari

3640 persalinan pervaginam, hasil penelitian ini membuktikan bahwa paritas

lebih dari 3 bermakna sebagai faktor risiko yang mempengaruhi perdarahan

post partum primer.

Berdasarkan hasil survey Dermografi dan kesehatan Indonesia (SDKI)

pada tahun 2012, Angka Kematian Ibu (AKI) Di Indonesia tercatat

359/100.000 orang kelahiran hidup. Penyebab AKI adalah perdarahan 31,79%

hipertensi dalam kehamilan 24,62%, infeksi 5,54%, partus lama 4,74% abortus

1,09%, dan lain-lain 32,22% (laporan rutin direktorat bina kesehatan ibu dan

Anak, 2012).

Kebijakan pemerintah dalam upaya menurunkan AKI dilakukan dengan

mengadakan pendekatan antar ibu dengan pelayanan kesehatan atau dengan

tenaga kesehatan yang kompeten. Menurut departemen kesehatan RI, kematian

ibu akibat perdarahan post partum dapat dicegah melalui deteksi dini adanya

faktor resiko. Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya perdarahan post

4
partum adalah usia, paritas, antenatal care, kadar hemoglobin, dan lain-lain

(Risma, 2007).

Provinsi Jawa Barat pada tahun 2013, AKI tercatat 781 kasus. AKI di

Kabupaten Karawang pada tahun 2013 tercatat 64/60.019 kelahiran hidup yang

tersebar di 36 puskesmas. Penyebab kematian tesebut adalah PEB 20 Kasus

(31,26%), perdarahan 18 kasus (28,12%), infeksi 5 kasus (7,82%) partus lama

2 kasus (3, 12%), dan lain-lain 19 kasus (29,68%) (Dinas kesehatan Kabupaten

Karawang Laporan Tahunan Seksi Kesga, 2013).

Berdasarkan data register diruang bersalin RSUD Kabupaten Karawang

tahun 2014 terdapat ibu bersalin sebanyak 2059 orang dari 221 orang (14,41%)

dantaranya mengalami pendarahan post partum. Dari 221 orang (14,1%) yang

mengalami perdarahan, masing-masing ibu bersalin dengan atonia uteri 16

orang (7,23%), dengan rotensio plasenta 20 orang (9,04%), dengan rupture

dengan perineum 44 orang (19,9%), dengan solusio plasenta 4 orang (1,80%),

dengan sisa plasenta 21 orang (9,50%), dengan plasenta previa 113 (51.1%)

sedangkan data tahun 2015, terdapat 3914 orang ibu besalin dan 115 orang

(2,94%) diantaranya mengalami pendarahan (Buku Laporan Ruangan VK

RSUD Kabupaten Karawang tahun 2015).

Berdasaran uaian diatas, penulis tertarik untuk melaksanakan penelitian

dengan judul “Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Perdarahan

Post Partum di RSUD Kabupaten Karawang Tahun 2015.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan data register diruang bersalin RSUD Kabupaten Karawang

dari bulan Januari-Desember tahun 2015, terdapat 3914 orang ibu besalin dan

5
115 orang (2,94%) diantaranya mengalami perdarahan post partum, maka

rumusan masalah dari penelitian ini adalah faktor-faktor apakah yang

berhubungan dengan kejadian perdarahan post partum di RSUD Kabupaten

Karawang Tahun 2015.

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Penelitian secara umum bertujuan untuk diketahuinya faktor-faktor

yang berhubungan dengan kejadian Perdarahan Post Partum di RSUD

Kabupaten Karawang Tahun 2015.


2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya distribusi frekuensi kejadian perdarahan postpartum RSUD

Kabupaten Karawang Tahun 2015.


b. Diketahuinya distribusi frekuensi kejadian perdarahan post partum

berdasarkan umur, paritas, jarak persalinan dan anemi di RSUD

Kabupaten Karawang Tahun 2015.


c. Diketahuinya hubungan kejadian perdarahan postpartum berdasarkan

usia ibu,paritas ibu,jarak persalinan dan anemi di RSUD Kabupaten

Karawang Tahun 2015.

D. Manfaat Penelitian
1. Tempat Penelitian (RSUD Kabupaten Karawang).
Diharapakan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan

masukan dan ditetapkan adanya protap penanganan perdarahan post partum

dan tindakan berikunya.


2. Institusi Pendidikan
Penelitian ini dapat digunakan sebagai sarana kepustakaan, dijadikan

bahan masukan atau informasi bagi mahasiswa dan juga referensi dalam

upaya penelitian lebih lanjut tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan

kejadian perdarahan post partum.


3. Peneliti

6
Dari hasil penelitian ini dapat meningkatkan wawasan, ilmu

pengetahuan dan pengalaman belajar yang berharga tentang metode

penelitian dan khususnya tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan

kejadian perdarahan post partum.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Perdarahan Post Partum (Haemoragik Post Partum)

Istilah perdarahan postpartum dalam arti luas mencakup semua

perdarahan yang terjadi setelah kelahiran bayi, sebelum, selama dan sesudah

keluarnya plasenta. Perdarahan post partum adalah kehilangan darah lebih dari

500 ml selama 24 jam pertama. Pada kelahiran normal akan terjadi kehilangan

darah sebanyak ± 200 ml. wanita hamil mengalami peningkatan jumlah darah

dan cairan sehingga kehilangan 500 ml darah pada wanita sehat setelah

melahirkan tidak mengakibatkan efek yang serius, Tetapi kehilangan darah

dengan jumlah yang lebih kecil dapat menimbulkan akibat yang berbahaya

pada wanita yang anemia (Oxorn & Forte, 2010).

7
Perdarahan post partum dapat menyebabkan masalah kegawatdaruratan

yang serius di bidang kesehatan, bidan sebagai salah satu tenaga professional

yang diandalkan oleh masyarakat diharapkan dapat mengenali sedini mungkin

tanda-tanda perdarahan pasca persalinan ini dan melakukan konsultasi dan

rujukan segera dengan cepat dan tepat ke fasilitas yang lebih lengkap untuk

mendapatkan pelayanan kesehatan yang maksimal sehingga tidak berdampak

lebih buruk terhadap ibu bersalin (Yulianingsih, 2009).

1. Definisi Perdarahan Post Partum (Haemoragik Post Partum)

Perdarahan post partum adalah hilangnya darah lebih dari 500 ml

selama 24 jam pertama (Oxorn & Forte, 2010). Sedangkan Perdarahan post

partum menurut Manuaba (2010), adalah perdarahan yang terjadi dalam 24

jam setelah persalinan berlangsung.

Perdarahan post partum adalah perdarahan yang lebih dari 500-600 ml

yang terjadi dalam 24 jam setelah persalinan berlangsung (Yulianti, 2010).

Perdarahan post partum adalah perdarahan yang terjadi lebih dari 500-

600 ml dalam masa 24 jam setelah anak lahir, termasuk perdarahan karena

retensio plasenta yang terjadi pada kala IV (Rustam, 2002).

Perdarahan post partum adalah perdarahan yang melebihi 500 ml.

(Saifudin, 2006).

8
Perdarahan post partum adalah perdarahan setelah anak lahir melebihi

500 ml, dapat primer dalam 24 jam dan sekunder setelah 24 jam (Hanifa,

2005).

Perdarahan post patum dibagi menjadi dua yaitu, perdarahan post

partum primer (early post partum hemorrhage) dan perdarahan post partum

skunder (late post partum hemorrhage).

Perdarahan post partum primer adalah perdarahan yang terjadi dalam

24 jam pertama setelah proses persalinan adapun penyebab utamanya adalah

atonia uteri, retensio plasenta, sisa plasenta dan robekan jalan lahir.

Perdarahan post partum skunder adalah perdarahan yang terjadi

setelah 24 jam pertama dan biasanya di sebabkan oleh robekan jalan lahir

dan sisa plasenta (Nugroho, 2010).

2. Gejala Klinis

Gejala klinis umum yang biasa terjadi pada perdarahan post partum

adalah kehilangan darah dalam jumlah yang banyak (lebih dari 500 ml),

nadi lemah , pucat, ektremitas dingin, lochea berwarna merah, haus, pusing,

gelisah, mual, tekanan darah rendah dan dapat terjadi syok hipovolemik

(Maryunani, 2009).

Kriteria diagnosis pemeriksaan fisik : pucat dapat disertai tanda tanda

syok, tekanan darah rendah, denyut nadi cepat, kecil ektremitas dingin serta

tampak darah keluar melalui vagina terus menerus. Pemeriksaan obstetric

mungkin kontraksi uterus lembek uterus membesar bila ada atonia uteri,bila

9
kontraksi uterus baik perdarahan mungkin karena luka jalan lahir,

Pemeriksaan ginekologi dilakukan dalam keadaan baik atau telah diperbaiki,

dapat diketahui kontraksi uterus, luka jalan lahir dan retensi sisa placenta

(Nugroho, 2011).

Penilaian Klinik untuk menetukan penyebab perdarahan post partum

Lihat pada tabel 2.1

Tabel 2.1
Penilaian Klinik Untuk Menetukan Penyebab Perdarahan Post Partum

Gejala dan Tanda Penyulit Diagnosa


 Uterus tidak berkontraksi dan  Syok Atonia uteri
lembek.  Bekuan darah pada
 Perdarahan segera setelah anak servik atau posisi
lahir terlentang akan
menghambat aliran
darah keluar

 Darah segar mengalir segera  Pucat Robekan jalan


setelah bayi lahir  Lemah lahir
 Uterus berkontraksi dan keras  Menggigil
 Plasenta lengkap

 Plasenta belum lahir setelah 30  Tali pusat akibattraksi Retensio


menit yang berlebihan plasenta
 Perdarahan segera  Inversio uteri akibat
 Uterus berkontraksi dan keras tarikan
 Perdarahan lanjutan

 Plasenta atau sebagian selaput  Uterus berkontraksi Retensi sisa


tidak lengkap tetapi tinggi fundus plasenta
 Perdarahan segera uteri tidak berkurang

10
 Uterus tidak teraba  Neurogenik syok Inversio uteri
 Lumen vagina terisi masa  Pucat dan limbung
 Tampak tali pusat ( bila plasenta
belum lahir)
 Sub Involusi uterus  Anemia Endometritis
 Nyeri tekan perut bawah dan  Demam atau sisa
pada uterus perdarahan fragment
sekunder plasenta
(terinfeksi
atau tidak)
(Nugroho, 2011).

3. Klasifikasi

a. Perdarahan post partum primer / dini (early post partum hemarrhage)

b. Perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama. Penyebab utamanya

adalah atonia uteri, retension plasenta, sisa plasenta dan robekan jalan

lahir. Banyak terjadi pada 2 jam pertama.

c. Perdarahan post partum sekunder/lambat (late post partum hemorrhage)

d. Perdarahan yang terjadi setelah 24 jam pertama. Penyebab utama

e. nya adalah robekan jalan lahir dan sisa plasenta atau membrane.

4. Etiologi

a. Atonia Uteri

Atonia uteri adalah kegagalan serabut-serabut otot miometrium

uterus untuk berkontraksi dan memendek serta merupakan penyebab

utama terjadinya perdarahan pasca persalinan akibat dari uterus gagal

berkontraksi dengan baik setelah persalinan. Tindakan pengobatan

11
perdarahan post partum pada atoni uteri adalah tergantung pada

banyaknya perdarahan (Nugroho, 2010).

Atonia uteri adalah suatu keadaan dimana lemahnya kontraksi

rahim yang menyebabkan uterus tidak dapat menghentikan perdarahan

yang terjadi dari tempat implantasi plasenta setelah bayi dan plasenta

lahir. Dalam persalinan pembuluh darah didalam uterus melebar untuk

meningkatkan sirkulasi ke uterus. Atonia sub involusi uterus

menyebabkan kontraksi uterus menurun sehingga pembuluh darah yang

melebar tersebut tidak menutup sempurna perdarahan terjadi terus

menerus (Maryunani,2009).

Atonia uteri adalah keadaan dimana uterus tidak berkontraksi dan

perut terasa lembek. Perdarahan akan terjadi bila uterus atonik dan tidak

mampu berkontraksi dengan baik. Faktor predisposisi terjadinya atonia

uteri adalah umur yang terlalu muda / tua, jarak persalinan pendek

kurang dari 2 tahun. Prioritas sering di jumpai pada multipara dan grande

mutipara. Ibu yang sudah bekali-kali melahirkan anak. Keadaan

uterusnya akan mengalami perubahan dalam hal keelastisitasan. Semakin

elastis dan besar ukuran uterus tersebut maka kontraksi tersebut akan

semakin lambat sehingga perdarahan pun terjadi. Faktor predisposisi

terjadinya atonia uteri yang lain adalah partus lama yaitu persalinan yang

berlangsung lebih dari 24 jam untuk primigravida dan atau 18 jam bagi

multigravida, partus terlantar merupakan kelanjutan dari partus lama

dimana ibu yang sudah mengalami partus lama dan tidak mendapatkan

12
penanganan lebih lanjut sehingga terjadilah partus terlantar, distensi

uterus berlebih yang dapat terjadi pada kehamilan kembar, kehamilan

dengan hidramnion, dan janin yang besar. Sama halnya dengan

multiparitas, ukuran uterus pada kehamilan ini akan lebih besar dan bisa

menyebabkan lemahnya kontraksi. Kelainan pada uterus seperti mioma

uteri, uterus couveloair pada solusio plasenta. Persalinan yang dilakukan

dengan tindakan: pertolongan kala uri sebelum waktunya, pertolongan

persalinan oleh dukun, persalinan dengan tindakan paksa, persalinan

dengan narkosa. Keadaan umum ibu yang lemah karena anemia. Ibu

yang mengalami anemia akan mengalami kekurangan O2 yang

mengakibatkan sirkulasi darah yang mengalir ke tubuh berkurang

sehingga tenaga ibu pun berkurang dan selanjutnya kontraksi uterus pun

menjadi lemah. Keadaan inilah yang menyebabkan terjadinya perdarahan

(Manuaba, 2007).

Penatalaksanaan Atonia Uteri

Penatalaksanaan perdarahan post partum akibat atonia uteri

menurut Khaidir (2008), adalah :


1) Penatalaksanaan umum
a) Ketahui secara pasti kondisi ibu bersalin sejak awal
b) Pimpin persalinan dengan mengacu pada persalinan bersih dan

aman
c) Selalu siapkan keperluan tindakan gawat darurat
d) Segera lakukan penilaian klinik dan upaya pertolongan apabila

dihadapkan dengan masalah dan komplikasi


1) Atasi syok jika terjadi syok

13
2) Pastikan kontraksi berlangsung baik ( keluarkan bekuan darah,

lakukan pijatan uterus, beri uterotonika 10 IV dilanjutkan infus 20

ml dalam 500 cc NS/RL dengan tetesan 40 tetes/menit ).


3) Pastikan plasenta telah lahir lengkap dan eksplorasi kemungkinan

robekan jalan lahir


4) Bila perdarahan tidak berlangsung, lakukan uji bekuan darah.
5) Pasang kateter tetap dan pantau cairan keluar masuk
6) Lakukan observasi ketat pada 2 jam pertama paska persalinan dan

lanjutkan pemantauan terjadwal hingga 4 jam berikutnya.


2) Penatalaksanaan Khusus Atonia uteri
1) Kenali dan tegakan kerja atonia uteri.
2) Sambil melakukan pemasangan infus dan pemberian uterotonika,

lakukan pengurutan uterus.


3) Pastikan plasenta lahir lengkap dan tidak ada laserasi jalan lahir.
4) Lakukan tindakan spesifik yang diperlukan: Kompresi bimanual

eksternal yaitu menekan uterus melalui dinding abdomen dengan

jalan saling mendekatkan kedua belah telapak tangan yang

melingkupi uteus. Bila perdarahan berkurang kompresi diteruskan,

pertahankan hingga uterus dapat kembali berkontraksi atau dibawa

ke fasilitas kesehatan rujukan. Kompresi bimanual internal yaitu

uterus ditekan diantara telapak tangan pada dinding abdomen dan

tinju tangan dalam vagina untuk menjempit pembuluh darah didalam

miometrium. Kompresi aorta abdominalis yaitu raba arteri femoralis

dengan ujung jari tangan kiri, pertahankan posisi tersebut genggam

tangan kanan kemudian tekankan pada daerah umbilikus, tegak lurus

dengan sumbu badan, hingga mencapai kolumna vertebralis,

penekanan yang tepat akan menghetikan atau mengurangi, denyut

arteri femoralis.

14
b. Retensio Plasenta

Retensio plasenta adalah suatu keadaan dimana plasenta belum

lahir dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir atau keadaan dimana

tertahannya plasenta hingga atau lebih dari 30 menit setelah bayi lahir.

Dengan tertahannya plasenta dalam rahim akan mempengaruhi kontraksi

uterus sehingga uterus akan mengeluarkan banyak darah (Nugroho,

2010).

Bila plasenta belum terlepas dari dinding rahim karena melekat dan

tumbuh lebih dalam lagi serta adanya plasenta yang sudah terlepas dari

dinding rahim, namun belum keluar karena atonia uteri atau adanya

konstriksi pada bagian bawah rahim akibat kesalahan penanganan kala 3

yang akan menghalangi plasenta keluar akan menimbulkan perdarahan

post partum. Retensio plasenta adalah terlambatnya kelahiran plasenta

selama setengah jam setelah persalinan bayi. Pada beberapa kasus dapat

terjadi retensio plasenta terulang (habitual retention). Apabila terjadi

retensio plasenta, maka harus dilakukan pengeluaran plasenta secara

manual oleh tenaga kesehatan yang professional karena apabila

dilakukan bukan oleh tenaga profesional akan dapat menimbukan bahaya

salah satunya akan timbul perdarahan post partum, dan terjadi degenerasi

sel korio karsinoma (Yulianingsih, 2009).

Bila plasenta tetap tertinggal dalam uterus setengah jam setelah

anak lahir disebut sebagai retensio plasenta. Plasenta yang sukar

15
dilepaskan dengan pertolongan aktif kala tiga bisa disebabkan oleh

adhesi yang kuat antara plasenta dan uterus. Disebut sebagai plasenta

akreta bila implantasi menembus desidua basalis dan Nitabuch layer,

disebut sebagai plasenta inkreta bila plasenta sampai menembus

miometrium dan disebut plasenta perkreta bila vili korialis sampai

menembus perimetrium.

Terjadinya plasenta akreta adalah plasenta previa, bekas seksio

sesarea, pernah kuret berulang, dan multiparitas. Bila sebagian kecil dari

plasenta masih tertinggal di uterus disebut rest placenta dan dapat

menimbulkan perdarahan post partum primer dan (lebih sering) sekunder.

Proses kala III didahului dengan tahap pelepasan/separasi plasenta akan

ditandai oleh perdarahan pervaginam (cara pelepasan Duncan) atau

plasenta sudah sebagian lepas tetapi tidak keluar pervaginam (cara

pelepasan Schultze), sampai akhirnya tahap ekspulsi, plasenta lahir. Pada

retensio plasenta selama plasenta belum terlepas, maka tidak akan

menimbulkan perdarahan. Sebagian plasenta yang sudah lepas dapat

menimbulkan perdarahan yang cukup banyak (perdarahan kala III) dan

harus diantisipasi dengan segeran melakukan placenta manual, meskipun

kala uri belum lewat setengah jam (Rukiah &Yulianti, 2010).

Faktor-faktor predisposisi terjadinya retensio plasenta adalah

paritas ibu, pada multipara akan terjadi kemunduran dan cacat pada

endometrium yang mengakibatkan terjadinya fibrosis pada bekas

implantasi plasenta pada persalinan sebelumnya, sehingga vaskularisasi

16
menjadi berkurang. Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan janin,

plasenta akan mengadakan perluasan implantasi dan vili khorialis akan

menembus dinding uterus lebih dalam lagi sehingga akan terjadi plasenta

adhesiva sampai perkreta. Angka kejadian tertinggi retensio plasenta

pada multipara dan pada paritas 4-5. Umur ibu yang makin tua maka

akan terjadi kemunduran yang progresif dari endometrium sehingga

untuk mencukupi kebutuhan nutrisi janin diperlukan pertumbuhan

plasenta yang lebih luas (Nikilah, 2008).

c. Sisa Plasenta

Sisa plasenta bisa diduga bila kala uri berlangsung tidak lancar,

atau setelah melakukan plasenta manual atau menemukan adanya

kotiledon yang tidak lengkap pada saat melakukan pemeriksaan plasenta

dan masih ada perdarahan dari ostium uteri eksternum pada saat ontraksi

rahim sudah baik dan robekan jalan lahir sudah terjahit. Untuk itu, harus

dilakukan eksplorasi ke dalam rahim dengan cara manual/digital atau

kuret dan pemberian uterotonika (Rukiah &Yulianti, 2010).

Sewaktu sebagian dari plasenta (satu atau lebih dari lobus)

tertinggal maka uterus tidak dapat berkontraksi secara efektif dan

keadaan ini dapat menimbulkan perdarahan. Penemuan secara dini,

hanya dimungkinkan dengan melakukan pemeriksaan kelengkapan

plasenta setelah dilahirkan. Pada kasus sisa plasenta dengan perdarahan

pasca persalinan lanjut, sebagian besar pasien akan kembali ketempat

17
bersalin dengan keluhan perdarahan setelah beberapa hari pulang

kerumah dan ditemukan subinvolusi uterus (Rukiah &Yulianti, 2010).

d. Laserasi Jalan lahir

Perdarahan yang cukup banyak dapat terjadi dari robekan yang

dialami selama proses melahirkan baik yang normal ataupun dengan

tindakan. Jalan lahir harus diinspeksi sesudah tiap kelahiran selesai

sehingga sumber perdarahan bisa dikendalikan. Tempat-tempat

perdarahan tersebut mencakup: lokasi episiotomi, vulva, vagina dan

serviks serta uterus yang rupture. Robekan jalan lahir merupakan

penyebab kedua tersering dari perdarahan post partum. Robekan dapat

terjadi bersamaan dengan atonia uteri. Perdarahan post partum dengan

uterus yang berkontraksi baik biasanya disebabkan oleh robekan servik

atau vagina (Wiknjosastro, 2005).


Persalinan sering mengakibatkan robekan servik sehingga servik

seorang multipara berbeda dari yang belum pernah melahirkan

pervaginam. Robekan servik yang luas menimbulkan perdarahan dan

dapat menjalar ke segmen bawah uterus. Apabila terjadi perdarahan yang

tidak berhenti, meskipun plasenta sudah lahir lengkap dan uterus sudah

berkontraksi dengan baik, perlu dipikirkan perlukaan jalan lahir,

khususnya robekan serviks uteri (Wiknjosastro, 2005).


Perlukaan vagina yang tidak berhubungan dengan luka perineum

tidak sering dijumpai. Mungkin ditemukan setelah persalinan biasa,

tetapi lebih sering terjadi akibat ekstraksi dengan cunam, terlebih apabila

18
kepal janin harus diputar. Robekan terdapat pada dinding lateral dan baru

terlihat pada pemeriksaan speculum (Wiknjosastro, 2005).


Robekan perineum terjadi pada hampir semua persalinan pertama

dna tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Robekan perineum

umumnya terjadi digaris tengah dan bisa menjadi luasapabila kepala

janin lahir terlalu cepat, sudut arkus pubis lebih kecil dari pada biasa.

Kepala janin melewati pintu panggul bawah dengan ukuran yang lebih

besar dan pada sirkum fensia sub oksiput bregmatika (Wiknjosastro,

2005).
Laserasi pada traktus genetalia sebaiknya dicurigai, ketika terjadi

perdarahan yang berlangsung lama yang menyertai kontraksi uterus yang

kuat (Wiknjosastro, 2005).


Faktor-faktor predisposisi terjadinya laserasi jalan lahir pada

perdarahan post partum yaitu :


1) Anak besar
2) Persalinan dengan tindakan (operative delivery) seperti ekstraksi

vakum, embriotomi dan ekstraksi cunam.


3) Persalinan pervaginam dengan riwayat bekas seksio sesaria dan

operasi lain pada uterus


4) Persalinan yang belum berdilasi maksimal.
Selain itu faktor-faktor lain yang menyebabkan kehilangan darah

secara berlebihan, bila terjadi laserasi yaitu :


1) Interval yang lama antara dilakukannya episiotomi dan kelahiran anak.
2) Perbaikan episiotomi setelah bayi dilahirkan tanpa semestinya yaitu

ditunggu terlalu lama.


3) Pembuluh darah yang putus pada ujung episiotomi tidak berhasil

dijahit.
4) Pemeriksaan inspeksi tidak dilakukan pada serviks dan vagina bagian

atas.
5) Kemungkinan terdapatnya beberapa tempat cidera tidak terpikirkan

19
6) Ketergantungan pada obat-obat oksitosik, yang disertai penundaan

terlalu lama mengeksplorasi uterus (Mochtar, 2005).

Segera setelah persalinan yakinkan bahwa uterus telah berkontraksi

dengan baik dan harus diperiksa perineum, vagina bagian bawah dan

serviks apakah ada cedera, perdarahan, laserasi dan luka yang berdarah

serta mengevaluasi kondisi dari episiotomi jika memang ada. Robekan

jalan lahir merupakan penyebab kedua dari perdarahan pasca persalinan.

Robekan dapat terjadi bersamaan dengan atonia uteri. Perdarahan pasca

persalinan dengan uterus yang berkontraksi baik biasanya disebabkan

oleh robekan serviks atau vagina. Robekan jalan lahir selalu memberikan

perdarahan dalam jumlah yang bervariasi banyaknya. Perdarahan yang

berasal dari jalan lahir selalu harus dievaluasi, yaitu sumber dan jumlah

perdarahan sehingga dapat diatasi. Sumber perdarahan dapat berasal dari

perineum, vagina, serviks, dan robekan uterus (rupture uteri). Perdarahan

karena robekan jalan lahir banyak dijumpai pada pertolongan persalinan

dengan bayi besar, persalinan dengan tindakan (vakum ekstrasi, forcep)

persalinan oleh tenaga non kesehatan (karena tanpa dijahit) (Nugroho,

2010).

e. Inversio Uteri

Perdarahan post partum akibat inversio uteri adalah keadaan

dimana fundus uteri terbalik sebagian atau terbalik seluruhnya masuk ke

dalam kavum uteri uterus dikatakan mengalami inversio jika bagian

dalam menjadi diluar saat melahirkan plasenta. Reposisi sebaiknya

20
segera dilakukan dengan berjalannya waktu, lingkaran kontraksi sekitar

uterus yang terinversi akan mengecil dan uterus akan mengecil dan

uterus akan terisi darah (Wiknjosastro, 2005).


Pembagian dari inversio uteri :
1) Inversio uteri ringan : fundus uteri terbalik menonjol ke dalam kavum

uteri namun belum dari ruang rongga rahim


2) Inversio uteri sedang : terbalik dan sudah masuk ke dalam vagina
3) Inversio uteri berat : uterus dan vagina semuanya terbalik dan

sebagian sudah keluar vagina (Manuaba, 2007).


Penyebab inversio uteri menurut Manuaba (2007), adalah :
1) Spontan: grande multipara, atoni uteri, kelemahan alat kandungan,

tekanan intra abdominal yang tinggi (mengejan dan batuk).


2) Tindakan : cara Crade yang berlebihan, tarikan tali pusat, manual

plasenta yang dipaksakan, perlekatan plasenta pada dinding rahim.

Faktor-faktor yang memudahkan terjadinya inversio uteri menurut

Manuaba (2007), adalah :


1) Uterus yang lembek, lemah, tipis dindingnya
2) Tarikan tali pusat yang berlebihan
3) Pemeriksaan dalam : Bila masih inkomplit maka pada derah simpisis

uterus teraba fundus uteri cekung ke dalam


4) Bila komplit, di atas simpisis uterus teraba kosong dan dalam vagina

teraba tumor lunak.

f. Perdarahan Karena Gangguan Pembekuan Darah

Hal ini dicurigai apabila penyebab yang lain dapat disingkirkan

apalagi disertai ada riwayat pernah mengalami hal yang sama pada

persalinan sebelumnya.Akan ada tendensi mudah terjadi perdarahan

setiap dilakukan penjahitan dan perdarahan akan merembes atau timbul

hematoma pada bekas jahitan, suntikan, perdarahan dari gusi, rongga

hidung, dan lain-lain (Manuaba, 2007).

21
Pada pemeriksaan penunjang ditemukan hasil pemeriksaan faal

hemostasis yang abnormal. Waktu perdarahan dan waktu pembekuan

memanjang, trombositopenia, terjadi hipofibrinogenemia, dan terdeteksi

adanya FDP (fibrin degradation product) serta perpanjangan tes

protrombin dan PPT (partial tromboplastin time). Predisposisi untuk

terjadinya hal ini adalah solusio plasenta, kematian janin dalam

kandungan, eklampsia, emboli cairan ketuban, dan sepsis. Terapi yang

dilakukan adalah dengan transfusi darah dan produknya seperti plasma

beku segar, trombosit, fibrinogen dan heparinisasi atau pemberian EACA

(epsilon amino caproic acid) (Manuaba, 2007).

Afibrinogemi atau hipofibrinogemi dapat terjadi setelah

abrupsio/solusio plasenta, retensio uteri, janin mati yang lama di dalam

rahim dan pada emboli cairan ketuban. Salah satu teori etiologik

memperkirakan bahwa bahan tromboplastik yang timbul dari degenerasi

dan otolisis desidua serta plasenta dapat memasuki sirkulasi maternal dan

menimbulkan koagulasi intravaskuler serta penurunan fibrinogen yang

beredar. Kegagalan tersebut yaitu kegagalan pada mekanisme

pembekuan, menyebabkan perdarahan yang tidak dapat dihentikan

dengan yang biasanya dipakai untuk mengendalikan perdarahan.

Kelainan bekuan periportal adalah faktor yang beresiko tinggi pada

perdarahan masa nifas tetapi umumnya sangat jarang terjadi. Pasien

dengan masalah pembekuan dapat menimbulkan perdarahan postpartum,

22
karena ketidakmam-puannya untuk membentuk bekuan darah yang stabil

di tempat pelekatan plasenta (Manuaba, 2007).

5. Komplikasi

a. Syok hipovolemik

b. Mudah terjadi komplikasi infeksi terutama akibat perdarahan yang berasal

dari trauma jalan lahir.

c. Terjadi atropi dan nekrosis dari master of gland, kelenjar hipofisis dengan

berbagai tingkatannya.

d. Amenorea, gagal memberikan laktasi karena payudara atropi, hilangnya

bulu sebagai tanda seksual sekunder pada pubis, ketiak, gangguan kelenjar

lainnya seperti hipotiroidisme, insufisiensi kelenjar adrenal.

e. atogenesisnya tidak diketahui dengan pasti, tetapi terjadi gangguan dalam

sekresi hormon tropik pada kelenjar sehingga mengalami gangguan.

f. Gangguan klinik sesuai dengan fungsi hormonalnya (Manuaba, 2007).

6. Penanganan Umum

a. Ketahui dengan pasti kondisi pasien sejak awal (saat masuk)

b. Pimpin persalinan dengan mengacu pada persalinan bersih dan aman

(termasuk upaya pencegahan perdarahan pasca persalinan)

c. Lakukan observasi melekat pada 2 jam pertama pasca persalinan (di ruang

persalinan) dan lanjutkan pemantauan terjadwal hingga 4 jam berikutnya (di

ruang rawat gabung).

23
d. Selalu siapkan keperluan tindakan gawat darurat

e. Segera lakukan penlilaian klinik dan upaya pertolongan apabila dihadapkan

dengan masalah dan komplikasi

f. Atasi syok

g. Pastikan kontraksi berlangsung baik (keluarkan bekuan darah, lakukam

pijatan uterus, berikan uterotonika 10 IU IM dilanjutkan infus 20 IU dalam

500cc NS/RL dengan 40 tetesan permenit.

h. Pastikan plasenta telah lahir dan lengkap, eksplorasi kemungkinan robekan

jalan lahir.

i. Bila perdarahan terus berlangsung, lakukan uji beku darah.

j. Pasang kateter tetap dan lakukan pemantauan input-output cairan

k. Cari penyebab perdarahan dan lakukan penangan spesifik.

7. Penanganan Berdasarkan Penyebab

Tergantung pada banyaknya perdarahan dan derajat atonia uteri, dibagi

dalam 3 tahap:

Tahap1: Perdarahan yang tidak terlalu banyak dapat diatasi dengan pemberian

uterotonika, massase fundus.

Tahap 2: Bila perdarahan belum berhenti dan bertambah banyak, selanjutnya

berikan infuse dan transfusi darah dan dapat dilakukan :

a. Kompresi bimanual

b. Kompresi aorta

24
c. Tamponade utero-vagina, walaupun secara fisiologis tidak tepat,

hasilnya masih memuaskan.

d. Jepitan arteri uterine

Tahap 3: Bila semua upaya di atas tidak menolong juga, maka usaha terakhir

adalah menghilangkan sumber perdarahan, dapat ditempuh dengan 2

cara yaitu dengan meligasi arteri hipogastrika atau histerektomi.

8. Pencegahan

Pencegahan perdarahan postpartum, mencegah atau sekurang kurangnya

bersiap siaga pada kasus kasus yang disangka akan terjadi perdarahan adalah

penting, tindakan pencegahan tidak saja dilakukan sewaktu bersalin namun

sudah dimulai sejak ibu hamil dengan melakukan antenatal care yang baik. Ibu

ibu yang mempunyai predisposisi atau riwayat perdarahan postpartum sangat

dianjurkan untuk bersalin di rumah sakit (Sofian, 2012).

Di Rumah sakit diperiksa keadaan fisik, keadaan umum, kadar Hb,

golongan darah dan bila mungkn tersedia golongan darah sambil mengawasi

persalinan,dipersiapkan untuk infuse dan obat obatan pengatur rahim

(uterotonika) Setelah ketuban pecah kepala janin mulai membuka vulva infuse

dipasang dan sewaktu bayi lahir diberikan 1 ampul metergin atau kombinasi

25
dengan 5 satuan sintosinon ( sintometrin intravena) hasilnya biasanya

memuaskan (Sofian,2011).

Penanganan perdarahan postpartum harus dilakukan dalam 2 komponen

yaitu: resusitasi dan penanganan perdarahan obstetric serta kemungkinan syok

hipovolemik, identifikasi dan penanganan penyebab terjadinya perdarahan

postpartum (Nugroho,2011).

Pencegahan perdarahan post partum yang harus dilakukan oleh petugas

adalah:

a. Persiapan sebelum hamil untuk memperbaiki keadaan umum dan mengatasi

setiap penyakit kronis, anemia, dan lain-lain sehingga pada saat hamil dan

persalinan pasien tersebut ada dalam keadaan optimal.


b. Mengenal faktor predisposisi perdarahan post partum seperti multiparitas,

anak besar, hamil kembar, hidroamnion, bekas seksio, ada riwayat

perdarahan post partum sebelumnya dan kehamilan predisposisi tinggi

lainnya yang resikonya akan muncul saat persalinan.


c. Persalinan harus selesai dalam waktu 24 jam.
d. Kehamilan risiko tinggi agar melahirkan di fasilitas rumah sakit rujukan.
e. Kehamilan risiko rendah agar melahirkan di tenaga kesehatan terlatih dan

menghindari persalinan di dukun.


f. Menguasai langkah-langkah pertolongan pertama menghadapi perdarahan

post partum dan mengadakan rujukan sebagaimana mestinya.

Cara yang terbaik untuk mencegah terjadinya perdarahan post partum

adalah memimpin kala II dan kala III persalinan sesuai dengan prosedur.

Apabila persalinan diawasi oleh seorang dokter spesialis obstetrik dan

ginekologi ada yang menganjurkan untuk memberikan suntikan ergometrin

26
secara IV setelah anak lahir, dengan tujuan untuk mengurangi jumlah

perdarahan yang terjadi.

B. Faktor – Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Perdarahan Post

Partum

1. Umur

Umur adalah lamanya hidup dalam tahun yang dihitung sejak

dilahirkan. Usia ibu sangat dipengaruhi oleh kondisi tubuh ibu yang

mungkin sudah resti. Ibu yang terlalu muda atau terlalu tua

berkecenderungan meningkatkan frekuensi komplikasi selama kehamilan,

persalinan dan nifas. Diantaranya pada masa nifas yaitu perdarahan post

partum (Manuaba, 2010).

Menurut wiknjosastro tahun 2006 umur < 20 tahun > 35 tahun

beresiko untuk terjadinya perdarahan post partum dengan angka kejadian

perdarahan postpartum tertnggi pada usia <20 tahun dan > 35 tahun hal ini

disbabkan karena belum matangnya system reproduksi untuk hamil

sehingga dapat merugikan kesehatan ibu maupun perkembamgan dan

pertumbuhan janin.

Umur paling aman bagi seorang wanita untuk hamil dan melahirkan

adalah umur antara 20 –35 tahun, karena mereka berada dalam masa

reproduksi sehat. Kematian maternal pada ibu yang hamil dan melahirkan

pada umur < 20 tahun dan umur > 35 tahun akan meningkat secara

bermakna, karena mereka terpapar pada komplikasi baik medis maupun

27
obstetrik yang dapat membahayakan jiwa ibu, sehingga mengapa umur

berpengaruh sebagai penyebab perdarahan post partum (Manuaba, 2009).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2012) umur merupakan

lamanya waktu hidup atau ada sejak dilahirkan /diadakan, sehingga bagi

wanita umur mempunyai pengaruh yang erat dengan reproduksi kewanitaan.

Hal ini berkaitan dengan fungsi fisik dari organ tubuh ibu didalam

menerima kehadiran dan mendukung perkembangan janin. Umur reproduksi

yang ideal bagi wanita untuk hamil dan melahirkan adalah 20-35 tahun,

keadaan ini disebabkan karena pada umur kurang dari 20 tahun rahim dan

panggul ibu belum berkembang dengan baik dan belum cukup dewasa untuk

menjadi ibu, sedangkan pada umur 35 tahun keatas elastisitas otot-otot

panggul dan sekitarnya serta alat-alat reproduksi pada umumnya telah

mengalami kemunduran sehingga dapat mempersulit persalinan dan

selanjutnya dapat menyebabkan kematian pada ibu.

Menurut Syaifuddin (2009), mengatakan bahwa kehamilan dan

kelahiran terbaik, artinya resiko paling rendah untuk ibu dan anak adalah

antara 20-35 tahun

Menurut hasil penelitian (Indrawati, 2008) di RSUD Sukadana

Kabupaten Lampung Timur bahwa 6 orang (19,35%) ibu yang berumur <20

tahun mempengaruhi terjadinya perdarahan pada ibu postpartum, 2 orang

(6,46%) ibu yang berumur 20-35 tahun tidak mempengaruhi terjadinya

perdarahan pada ibu post partum. 10 orang (32,25%) ibu yang berumur >35

tahun mempengaruhi terjadinya perdarahan pada ibu post partum, maka

28
mayoritas ibu yang mengalami perdarahan post partum sebanyak 10 orang

(32,25%) terjadi pada umur > 35 tahun, yang mengalami perdarahan

postpartum adalah ibu ibu yang berusia > 35 tahun, hal ini disebabkan

fungsi alat reproduksi sudah mulai menurun untuk kehamilan dan

melahirkan sedangkan usia dibawah 20 tahun juga beresiko mengalami

perdarahan disebabkan karena fungsi alat reproduksi masih belum matang

untuk kehamilan dan melahirkan. Selain itu menurut penelitian Pardosi

(2005) di RSUD Majene Kabupaten Majene, bahwa pada tingkat

kepercayaan 95% ibu berumur di bawah 20 tahun atau di atas 30 tahun

memiliki resiko mengalami perdarahan post partum 3,3 kali lebih besar

dibandingkan ibu yang berumur 20 sampai 29 tahun.

Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Syafnely (2010), di SRUD

Rokan Hulu dapat diketahui bahwa mayoritas umur ibu bersalin yang

mengalami perdarahan post partum adalah pada umur > 35 tahun yaitu

sebesar 13 orang (72.2%) dan minoritas terjadinya perdarahan post partum

adalah pada umur < 20 tahun yaitu sebesar 8 orang (33.3%). Dari analisis

statistik dengan uji Chi-Squere iperoleh hubungan antara umur dengan

perdarahan post partum dengan nilai p-value = 0,045< α (0.05).

2. Paritas

Paritas adalah menunjukan jumlah kehamilan terdahulu yang telah

mencapai batas viabilitas dan telah dilahirkan. Paritas dengan grande

multipara ( > 5 kali ) merupakan faktor yang menyebabkan terjadinya

29
perdarahan post partum, karena semakin sering wanita hamil dan

melahirkan maka akan semakin rentan terjadinya perdarahan post partum

(Manuaba, 2010).

Paritas adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang dapat

hidup (viable) (Wiknjosastro, 2006).

Paritas adalah jumlah kehamilan yang menghasilkan janin yang

mampu hidup di luar rahim (28 minggu) (Saifuddin, 2009).

Adapun klasifikasi paritas adalah sebagai berikut, Primipara yaitu

wanita yang telah melahirkan seorang anak, yang cukup besar untuk hidup

di dunia luar (Varney, 2006). Multipara yaitu wanita yang telah melahirkan

seorang anak lebih dari satu kali (Prawirohardjo, 2009). Kemudian

Grandemultipara yaitu perempuan yang telah melahirkan 5 orang anak atau

lebih dan biasanya mengalami penyulit dalam kehamilan dan persalinan

(Manuaba, 2009). Sedangkan menurut Varney (2006) Grandemultipara

adalah wanita yang telah melahirkan 5 orang anak atau lebih.

Menurut hasil penelitian Putri (2012), di dengan judul Faktor-Faktor

yang Mempengaruhi Status Anemia pada Ibu Hamil di Kecamatan Ciampea

Bogor Jawa Barat menyatakan bahwa multipara cenderung mengalami

perdarahan post partum lebih tinggi yaitu sebesar 25,00% (13 responden)

dibandingkan dengan primipara sebesar 12,20% (5 responden) hasil

penelitian ini menunjukan bahwa ada hubungan antara paritas responden

dengan kejadian perdarahan postpartum. Responden multipara mempunyai

30
peluang sebanyak 2,04 kali lebih tinggi untuk terjadi perdarahan post

partum dibandingkan dengan responden primipara.

Sedangkan menurut hasil penelitian (Sakinah, 2012) RSUD

Panembahan Senopati Bantul DIY diperoleh data bahwa responden yang

paritas primipara mengalami perdarahan post partum adalah sebanyak 8

orang (23,52%) sedangkan responden yang multipara mengalami

perdarahan post partum berjumlah 16 orang ( 47,05%), secara presentase

dapat dilihat bahwa kejadian perdarahan post partum pada ibu bersalin

lebih sering terjadi pada responden dengan paritas multipara bila

dibandingkan dengan responden paritas primipara.

Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Syafnely (2010), di SRUD

Rokan Hulu, dapat diketahui bahwa mayoritas paritas ibu bersalin yang

mengalami perdarahan post partum primipara adalah paritas >4 yaitu

sebesar 17 orang (81%) dan minoritas terjadinya perdarahan post partum

primer adalah pada paritas 1 yaitu sebesar 11 orang (22%). Dari analisis

statistik dengan uji Chi-Squere diperoleh nilai P-value = 0,000. Hubungan

variabel dependen dan independen dikatakan signifikan apabila nilai p-value

< 0,05. Dari nilai tersebut dapat diketahui bahwa nilai P-value < 0,05 dan =

26,42 > X Tabel = 5,99. Ini berarti bahwa terdapat hubungan antara paritas

dengan perdarahan postpartum primer.

3. Jarak Persalinan

31
Jarak kehamilan adalah jarak antara waktu sejak ibu hamil sampai

terjadi kelahiran berikutnya. Jarak kehamilan yang terlalu dekat dapat

menyebabkan anemia hal ini dikarenakan kondisi ibu masih belum pulih dan

pemenuhan kebutuhan zat-zat gizi belum optimal, namun sudah harus

memenuhi kebutuhan nutrisi janin yang dikandungnya. Kehamilan dan

persalinan dengan jarak yang berdekatan dapat memicu terjadinya

perdarahan post partum. Jarak kehamilan yang terlalu dekat < 2 tahun tidak

memberikan kesempatan bagi tubuh ibu hamil untuk memulihkan

kesehatannya seperti keadaan sebelum hamil sehingga dapat mengakibatkan

perdarahan postpartum (Manuaba, 2010).

Menurut hasil penelitian (Putri, 2012) di RSUD Hasan Sadikin

Bandung menyatakan bahwa jarak persalinan yang beresiko cenderung

mengalami perdarahan postpartum lebih tinggi yaitu sebesar 26,9% (12

responden) dibandingkan dengan jarak persalinan yang tidak beresiko yaitu

sebesar 12,77% (8 responden) hasil penelitian ini menunjukan bahwa ada

hubungan antara jarak persalianan responden dengan kejadian perdarahan

postpartum. Responden yang beresiko mempunyai peluang sebesar 2,04 kali

lipat lebih tinggi untuk terjadi perdarahan postpartum dibandingakan dengan

responden yag tidak berisiko.

Sedangkan menurut penelitian (Yuniarti, 2010) menyatakan bahwa

proporsi kasus dengan jarak antara kelahiran kurang dari 2 tahun sebesar

41% dengan OR jarak antara kelahiran 2,82. Hal ini berarti ibu yang

32
memiliki jarak antara kelahiran kurang dari 2 tahun beresiko 2,82 kali

mengalami perdarahan post partum.

4. Anemia

Anemi adalah kondisi ibu dengan kadar Hb dalam darahnya kurang

dari 11 gram %. Anemi dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar

Hb dibawah 11 gram % pada trimester I dan III atau kadar Hb kurang dari

10 grm % pada trimester II. nilai batas tersebut pada perbedaannya dengan

wanita tidak hamil terjadi karena haemodilusi terutam pada trimester II

(Saepuddin, 2012).

Anemia adalah suatu keadaan di mana kadar hemoglobin dalam darah

di bawah normal. Hal ini bisa disebabkan oleh kurangnya zat gizi untuk

pembentukan darah, seperti kekurangan zat besi, asam folat ataupun vitamin

B12. Anemia yang paling sering terjadi terutama pada ibu hamil adalah

anemia karena kekurangan zat besi (Fe), sehingga lebih dikenal dengan

istilah Anemia Gizi Besi (AGB). Anemia defisiensi besi merupakan salah

satu gangguan yang paling sering terjadi selama kehamilan (Sulistyoningsih,

2011).

Anemia pada kehamilan adalah anemia karena kekurangan zat besi,

jenis anemia yang pengobatannya relatif mudah, bahkan murah. Anemia

pada kehamilan merupakan masalah Nasional karena mencerminkan nilai

kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat, dan pengaruhnya sangat besar

terhadap kualitas sumber daya manusia (Sulistyoningsih, 2011).

33
Menurut WHO kejadian anemia hamil berkisar antara 20% sampai

12 dengan 89% dengan menetapkan Hb 11 gr % sebagai dasarnya. Hb 9-10

gr % disebut anemia ringan. Hb 7-8 gr % disebut anemia sedang. Hb < 7 gr

% disebut anemia berat (Manuaba, 2010).

Menurut Depkes RI (2000), dalam buku Waryana (2010), anemia

adalah suatu keadaan dimana haemoglobin dalam darah kurang dari 11 gr%.

Berdasarkan beberapa pendapat diatas, apa yang dimaksud anemia dalam

kehamilan adalah suatu keadaan kekurangan zat besi dengan kadar Hb

kurang dari 11 gr %.

Pemeriksaan hemoglobin secara rutin selama kehamilan merupakan

kegiatan yang umumnya dilakukan untuk mendeteksi anemia. Klasifikasi

menurut Depkes RI (2000), Tidak anemia : ≥11 gr%, Anemia: < 11 gr%

Klasifikasi menurut WHO, Normal: ≤ 11 gr%, Anemia ringan: 9-10 gr

%, Anemia sedang: 7-8 gr%, Anemia berat: < 7 gr%. Klasifikasi menurut

Manuaba (2010), tidak anemia: Hb 11 gr %, Anemia ringan: Hb 9-10 gr%,

Anemia sedang: Hb 7-8 gr%, Anemia berat: Hb < 7 gr%.

Darah akan bertambah banyak dalam kehamilan yang lazim disebut

hidremia atau hypervolemia. Akan tetapi bertambahnya sel darah kurang

dibandingkan dengan bertambahnya plasma sehingga terjadi pengenceran

darah. Pada saat hamil bila terjadi anemi tidak tertangani hingga akhir

kehamilan maka akan berpengaruh saat postpartum. Pada ibu dengan

anemia saat postpartum akan mengalami atonia uteri. Hal ini disebabkan

karena oxygen yang dikirim ke uterus kurang, jumlah oxygen dalam darah

34
yang kurang menyebabkan otot-otot uterus tidak berkontraksi dengan baik

sehingga timbul atonia uteri yang mengakibatkan perdarahan banyak.

Anemia dalam kehamilan memberikan pengaruh yang kurang baik bagi ibu

baik dalam kehamilan, persalina maupun nifas. Berbagai penyulit dapat

timbul akibat anemia yang diantaranya pada saat nifas yaitu terjadi

subinvolusi uteri menimbulkan perdarahan postpartum (Manuaba, 2010).

Kekurangan kadar haemoglobin dalam darah mengakibatkan

kurangnya oksigen yang di bawa / ditransfer ke sel tubuh maupun sel otak

dan uterus. Jumlah oksigen dalam darah yang kurang menyebabkan otot-

otot uterus tidak dapat berkontraksi dengan adekuat sehingga timbul atonia

uteri yang mengakibatkan perdarahan pos partum (Sarwono, 2008).

Menurut hasil penelitian (Sukarsih, 2013), RSUD Dr. H. Abdul

Moeloek Provinsi Lampung menyatakan bahwa analisis hubungan antara

anemia dengan perdarahan postpartum diperoleh data bahwa reponden

dengan anemia mengalami perdarahan postpartum adalah sebanyak 94

orang (97,9%), lebih banyak dibandingkan dari reponden dengan tidak

anemi dan mengalami perdarahan postpartum adalah sebanyak 15 orang

(6,9%) diperoleh nilai P-value 0,001 (P< 0,5) maka dapat disimpulkan ada

hubungan yang bermakna antara anemia dengan perdarahan

postpartum.Sedangkan menurut penelitian (Herianto, 2008) menyatakan

bahwa anemia bermakna sebagai faktor resiko yang mempengaruhi

perdarahan post partum primer.Ibu yang mengalami anemi beresiko 2,8 kali

35
mengalami perdarahan post partum di banding ibuyang tidak mengalami

anemia (OR=2,76:95% CI 1,25;6,12).

Berdasarkan hasil analisis univariat dari penelitian yang dilakukan

Fika Nurul, (2012) di RSUD Panembahan Senopati Bantul DIY ada

hubungan antara anemia dengan kejadian perdarahan post partum primer di

RSUD Panembahan Senopati Bantul DIY yaitu diperoleh hasil pada ibu

yang mengalami perdarahan post partum primer yang mengalami anemia 39

(76,5%) dan tidak anemia 12 (23,5). Hal ini menggambarkan bahwa

sebagian besar ibu yang mengalami perdarahan adalah ibu dengan riwayat

anemia (kadar Hb <11 gr%). Hasil perhitungan statistik menggunakan uji

Chi Square pada tabel 3 terhadap variabel Anemia diperoleh χ2 hitung =

30,757 Harga χ2 tabel pada karakter kesalahan 5%=3.841. Hal ini

menunjukkan bahwa χ2 hitung > χ2 tabel (30,757>3,841) dan nilai p value

adalah 0,000 <0,05 yang berarti ada hubungan yang signifikan antara

anemia dengan kejadian perdarahan postpartum primerdi RSUD

Panembahan Senopati Bantul tahun 2012. Ibu dengan anemia beresiko

11,818 kali untuk mengalami perdarahan postpartum jika dibandingkan

dengan ibu yang tidak anemia. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa

semakin rendah kadar Hb, semakin besar risiko untuk mengalami

perdarahan postpartum.

5. Atonia Uteri

36
Atonia uteri adalah kegagalan serabut-serabut otot miometrium uterus

untuk berkontraksi dan memendek serta merupakan penyebab utama

terjadinya perdarahan pasca persalinan akibat dari uterus gagal berkontraksi

dengan baik setelah persalinan. Tindakan pengobatan perdarahan post

partum pada atoni uteri adalah tergantung pada banyaknya perdarahan

(Nugroho, 2010).

Berdasarkan Studi Pendahuluan yang dilakukan di RSUD

Panembahan Senopati Bantul terdapat 2468 ibu bersalin pada tahun 2012

dengan kasus perdarahan post partum sebanyak 88 ibu bersalin dimana 28

kasus dengan atonia uteri.

Berdasarkan hasil penelitian Darmin di RSUD Majene Kabupaten

Majene tahun 2013 dari 80 responden yang mengalami perdarahan post

partum 37.5 % karena atonia uteri. Hasil analisis chi squarenilai ρ value

0.037 lebih kecil dari α (0.05) yang artinya ada hubungan antara atonia uteri

dengan perdarahan post partum.

Berdasarkan hasil analisis univariate dari penelitian yang dilakukan

Ayu Wuryanti (2011) di RSUD Wonogiri dari 34 responden yang mengalami

perdarahan post partum 95,7 % disebabkan kareana adanya atonia uteri.

Hasil analisis chi squarenilai ρ value 0.0003 lebih kecil dari α (0.05) yang

artinya ada hubungan antara atonia uteri dengan perdarahan post partum.

6. Retensio Plasenta

37
Retensio plasenta adalah suatu keadaan dimana plasenta belum lahir

dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir atau keadaan dimana tertahannya

plasenta hingga atau lebih dari 30 menit setelah bayi lahir. Dengan

tertahannya plasenta dalam rahim akan mempengaruhi kontraksi uterus

sehingga uterus akan mengeluarkan banyak darah (Nugroho, 2010).

Berdasarkan Studi Pendahuluan yang dilakukan di RSUD

Panembahan Senopati Bantul terdapat 2468 ibu bersalin pada tahun 2012

dengan kasus perdarahan post partum sebanyak 88 ibu bersalin dimana 28

kasus dengan atonia uteri.

Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Nanda Putri (2010), di RS Al

Ihsan dari 66 responden yang mengalami perdarahan post partum 37.5 %

karena atonia uteri. Hasil analisis chi square nilai ρ value 0.005 lebih kecil

dari α (0.05) daan OR 2,1 dengan demikian disimpulkan ada hubungan

antara retensio plaenta dengan perdarahan post partum.

7. Sisa Plasenta

Sisa plasenta bisa diduga bila kala uri berlangsung tidak lancar, atau

setelah melakukan plasenta manual atau menemukan adanya kotiledon yang

tidak lengkap pada saat melakukan pemeriksaan plasenta dan masih ada

perdarahan dari ostium uteri eksternum pada saat ontraksi rahim sudah baik

dan robekan jalan lahir sudah terjahit. Untuk itu, harus dilakukan eksplorasi

ke dalam rahim dengan cara manual/digital atau kuret dan pemberian

uterotonika. Sewaktu sebagian dari plasenta (satu atau lebih dari lobus)

38
tertinggal maka uterus tidak dapat berkontraksi secara efektif dan keadaan

ini dapat menimbulkan perdarahan. Penemuan secara dini, hanya

dimungkinkan dengan melakukan pemeriksaan kelengkapan plasenta setelah

dilahirkan. Pada kasus sisa plasenta dengan perdarahan pasca persalinan

lanjut, sebagian besar pasien akan kembali ketempat bersalin dengan

keluhan perdarahan setelah beberapa hari pulang kerumah dan ditemukan

subinvolusi uterus (Rukiah &Yulianti, 2010).

Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Syafnely (2010), di SRUD

Rokan Hulu, dapat diketahui bahwa dari analisis statistik dengan uji Chi-

Squere diperoleh nilai P-value = 0,004 dan nilai tersebut dapat diketahui

bahwa nilai P-value < 0,05. Ini berarti bahwa terdapat hubungan antara sisa

plasenta dengan perdarahan postpartum primer.

8. Laserasi Jalan lahir

Perdarahan yang cukup banyak dapat terjadi dari robekan yang

dialami selama proses melahirkan baik yang normal ataupun dengan

tindakan. Jalan lahir harus diinspeksi sesudah tiap kelahiran selesai sehingga

sumber perdarahan bisa dikendalikan. Tempat-tempat perdarahan tersebut

mencakup: lokasi episiotomi, vulva, vagina dan serviks serta uterus yang

rupture. Robekan jalan lahir merupakan penyebab kedua tersering dari

perdarahan post partum. Robekan dapat terjadi bersamaan dengan atonia

uteri. Perdarahan post partum dengan uterus yang berkontraksi baik

biasanya disebabkan oleh robekan servik atau vagina (Wiknjosastro, 2005).

39
Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Abdul (2014), di Puskesmas

Gorontalo kecamatan Gorontalo dari 19 (70,4%) ibu hamil yang bersalin

dengan laserasi jalan lahir mengalami perdarahan post partum. Hasil analisis

chi square nilai ρ value 0.000 lebih kecil dari α (0.05) daan OR 2,1 dengan

demikian disimpulkan ada hubungan antara laserasi jalan lahir dengan

perdarahan post partum.


Berdasarkan hasil analisis univariat dari penelitian yang dilakukan

Fika Nurul, (2012) di RSUD Panembahan Senopati Bantul DIY ada

hubungan antara laserasi derajat 4 dengan kejadian perdarahan post partum

primer di RSUD Panembahan Senopati Bantul DIY yaitu diperoleh hasil

pada ibu yang mengalami perdarahan post partum yang mengalami laserasi

derajat 4 yaitu 45 (86,5%). Hasil perhitungan statistik menggunakan uji Chi

Square pada tabel 3 terhadap variabel Anemia diperoleh χ2 hitung = 30,856.

Harga χ2 tabel pada karakter kesalahan 5%=3.841. Hal ini menunjukkan

bahwa χ2 hitung > χ2 tabel (30,757 >3,841) dan nilai p value adalah 0,000

<0,05 yang berarti ada hubungan yang signifikan antara anemia dengan

kejadian perdarahan

9. Inversio Uteri

Perdarahan post partum akibat inversio uteri adalah keadaan dimana

fundus uteri terbalik sebagian atau terbalik seluruhnya masuk ke dalam

kavum uteri uterus dikatakan mengalami inversio jika bagian dalam menjadi

diluar saat melahirkan plasenta. Reposisi sebaiknya segera dilakukan

dengan berjalannya waktu, lingkaran kontraksi sekitar uterus yang terinversi

40
akan mengecil dan uterus akan mengecil dan uterus akan terisi darah

(Wiknjosastro, 2005). Faktor-faktor yang memudahkan terjadinya inversio

uteri menurut Manuaba (2007), adalah Uterus yang lembek, lemah, tipis

dindingnya, Tarikan tali pusat yang berlebihan.


Berdasarkan hasil penelitian Darmin di RSUD Majene Kabupaten

Majene tahun 2013 dari 80 responden yang mengalami perdarahan post

partum 12 % karena inversio uteri. Hasil analisis chi squarenilai ρ value

0.027 lebih kecil dari α (0.05) yang artinya ada hubungan antara inversio

uteri dengan perdarahan post partum.

10. Perdarahan Karena Gangguan Pembekuan Darah

Hal ini dicurigai apabila penyebab yang lain dapat disingkirkan

apalagi disertai ada riwayat pernah mengalami hal yang sama pada

persalinan sebelumnya.Akan ada tendensi mudah terjadi perdarahan setiap

dilakukan penjahitan dan perdarahan akan merembes atau timbul hematoma

pada bekas jahitan, suntikan, perdarahan dari gusi, rongga hidung, dan lain-

lain (Manuaba, 2007).

Berdasarkan hasil analisis univariat dari penelitian yang dilakukan

Ayu Wuryanti (2011) di RSUD Wonogiri dari 34 responden yang mengalami

perdarahan post partum 83,7 % disebabkan kareana adanya gangguan

pembekuan darah. Hasil analisis chi squarenilai ρ value 0.0003 lebih kecil

dari α (0.05) yang artinya ada hubungan antara gangguan pembekuan darah

dengan perdarahan post partum.

41
C. Kerangka Teori

Kerangka teori dikembangkan menurut teori yang dikemukakan oleh

(Manuaba2010, Mariyunani 2009,Yulianingsih 2009). Untuk lebih jelasnya

kerangka teori penulis sajikan dalam bentuk bagan yang tertuang dalam bagan

2.1

1. Atonia Uteri
2. Retensio Placenta
3. Sisa Placenta
4. Ruptur uteri
5. Laserasi jalan lahir
6. Gangguan Pembekuan darah

Perdarahan Post
Partum

1. Umur Ibu
2. Jarak antara persalinan
3. Paritas
4. Anemia

Sumber : (Manuaba 2010, Nugroho 2010, Mariyunani 2009, Yulianingsih

2009 ).

Gambar 2.1
Kerangka Teori

42
BAB III

KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL DAN

HIPOTESA

A. Kerangka Konsep

Kerangka merupakan abstraksi yang terbentuk oleh generialisasi dari

hal-hal ang khusus. Oleh karena konsep merupakan abstraksi, maka konsep

tidak dapat langsung diamati dan diukur. Konsep hanya dapat diamati melalui

konstruk atau yang lebih dikenal dengan nama variable. Jadi variable adalah

simbil atau lambing yang menunjukan nilai atau bilangan dari konsep.

Variable adalah sesuatu yang menunjukan nilai atau bilangan dan konsep.

Variable adalah sesuatu yang bervariasi (Notoadmodjo, 2010).

Berdasarkan kerangka yang ada maka dibuat suatu kerangka konsep

yang menggambarkan faktor-faktor risiko dalam penelitian yang berhubungan

dengan kejadian perdarahan paska persalinan. Mengingat keterbatasan waktu,

dana dan kemampuan. Maka ada penelitian in hanya difokuskan pada faktor

ibu, adapun faktor ibu yang akan diteliti ada hubungannya dengan kejadian

43
perdarahan post partum adalah umur, paritas, jarak antara persalinan dan

anemia.

Variable Bebas Variable Terikat


(Variabel Independen) (Variabel Dependen)

 Umur ibu
 Paritas Perdarahan Post
 Jarak Antar Persalinan Partum
Gambar 3.1
 Anemia
Kerangka Konsep

B. Definisi Operasional
Table 3.1
Fakor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Perdarahan Post Partum
di RSUD Kabupaten Karawang Tahun 2015

N Definisi Alat Skala


Variabel CaraUkur Hasil Ukur
o Operasional Ukur ukur

Dependen

44
1 Perdarah Perdarahan yang Studi Medical 1.Ya, jika ibu post Ordinal

. an Post lebih dari 500 ml dokumentasi record partum

Partum yang terjadi dalam mengalami

24 jam setelah perdarahan


2.Tidak, jika ibu
persalinan
post partum tidak
berlangsung
mengalami
(Yulianti, 2010).
perdarahan

Independen
1 Umur Lamanya hidup Studi Medical 1. Tidak berisiko, Ordinal

dalam tahun yang dokumentasi record jika 20 th – 35 th

dihitung sejak 2. Berisiko, jika

dilahirkan <20 th dan >35 th

(Manuaba,2010)
2 Paritas Jumlah kehamilan Studi Medical 1.Tidak berisiko, Ordinal

terdahulu yang dokumentasi record jika multipara

telah mencapai (2-4 anak)

batas viabilitas dan 2.Berisiko, jika

telah dilahirkan. primipara

(Manuaba,2010) (1 anak) dan

grandemultipara

(≥ 5 anak)
3 Jarak Jarak antara waktu Studi Medical 1.Tidak berisiko, Ordinal

persalinan sejak ibu hamil dokumentasi record jika ≥ 2 tahun

sampai terjadi 2.Berisiko, jika

45
kelahiran < 2 tahun

berikutnya

(Manuaba,2010)
4 Anemia Kondisi ibu dengan Studi Medical 1. Tidak Anemia, Ordinal

kadar Hb dalam dokumentasi record jika kadar Hb ibu

darahnya kurang ≥11gr %.

dari 11 gr %. 2. Anemia, jika

(Saepuddin,2012) kadar Hb ibu

<11 gr%

C. Hipotesa
Seperti terlihat pada kerangka konsep penelitian maka rumusan hipotesis

penelitian ini adalah:


1. Ada hubungan antara umur dengan kejadian perdarahan post partum
2. Ada hubungan antara paritas dengan kejadian perdarahan post partum
3. Ada hubungan antara jarak persalinan dengan kejadian perdarahan

post partum
4. Ada hubungan antara anemia dengan kejadian perdarahan post partum

46
BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Desain penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan case control,

yaitu suatu penelitian analitik tentang bagaimana faktor risiko dipelajari

dengan menggunakan pendekatan “retrospective” (Sastroasmoro, 2011). Case

Control dapat dipergunakan untuk mencari hubungan seberapa jauh faktor

risiko mempengaruhi terjadinya penyakit, dalam hal ini yaitu hubungan antara

umur ibu dengan kejadian perdarahan post partum, paritas dengan kejadian

perdarahan post partum, jarak persalinan dengan kejadian perdarahan post

partum dan anemia dengan kejadian perdarahan post partum di RSUD

Kabupaten Karawang Tahun 2015

B. Waktu dan Tempat

47
1. Waktu Penelitian
Penelitian ini mulai dilakukan pada tanggal 14 Desember 2016 sampai

dengan tanggal 27 Januari 2017.

2. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di RSUD Kabupaten Karawang Tahun 2015.

C. Populasi dan Sampel


1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti

(Notoatmodjo, 2012).
Populasi adalah keseluruhan unit analisis yang karakteristiknya akan

diduga (Sabri, 2008). Populasi pada penelitian ini adalah semua ibu yang

melahirkan di RSUD Karawang tahun 2015, yaitu sebanyak 3914 orang.

2. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh

populasi (Setiawan dan Saryono, 2010). Pada penelitian ini sampel yang

diteliti yaitu semua ibu yang melahirkan yang mengalami perdarahan post

partum yaitu sebanyak 115 orang sebagai case dan ibu bersalin yang tidak

mengalami perdarahan post partum yaitu sebanyak 115 orang sebagai

control di RSUD Kabupaten Karawang Tahun 2015, total sampel yaitu

berjumlah 230 orang.

D. Kriteria Inklusi
Kriteria Inklusi pada penelitian ini adalah:
1. Semua ibu hamil yang melahirkan di RSUD Kabupaten Karawang pada

tahun 2015 yang megalami perdarahan post partum dan yang tidak

megalami perdarahan post partum.


2. Data catatan medik yang mencantumkan variabel yang dibutuhkan.
E. Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah:

48
Ibu yang melahirkan di RSUD Kabupaten Karawang pada tahun 2015 yang

catatan rekam medik tidak lengkap.

F. Etika Penelitian

Pada penelitian ini tidak dilakukan intervensi pada sampel penelitian

karena data yang digunakan pada penelitian ini berasal dari rekam medik.

Sebelum dilakukan penelitian, peneliti memberikan surat permohonan untuk

melakukan penelitian yang ditujukan kepada direktur RSUD Kabupaten

Karawang.

Sampel pada penelitian ini akan diberi jaminan atas data-data yang

diberikan agar identitas subyek pada sampel penelitian ini dapat dirahasiakan

dan tidak akan dipublikasikan tanpa seijin subyek penelitian.

G. Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan adalah dari data skunder yaitu dengan

menggunakan laporan dari ruangan bersalin dan medical record di RSUD

Karawang tahun 2015.

H. Pengolahan Data
Pengolahan data pada penelitian ini dengan tahapan sebagai berikut:
2. Purposive Sampling
Purposive Sampling adalah tehnik pengambilan sampel yang

dilakukan secara sengaja.

49
3. Editing
Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang

diperoleh atau yang dikumpulkan


4. Coding
Merupakan kegiatan pemberian kode numerik (angka) terhadap data

yang terdiri atas beberapa katagori


5. Entry data
Kegiatan memasukan data yang telah dikumpulkan kedalam master

tabel, kemudian membuat distribusi frekuensi sederhana atau dengan

membuat tabel kontigensi.

I. Teknik Analisa Data

Setelah data terkumpul maka selanjutnya dilakukan pengolahan data dan

kemudian dilanjutkan dengan analisis data.

1. Analisis Univariat

Analisa ini dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi dan

proporsi dari variabel-variabel yang diamati. Hasilnya diringkas dalam

bentuk tabel distribusi frekuensi kemudian dihitung proporsi dan

presentasinya. Data diolah menggunakan analisis univariat dengan

menghasilkan distribusi frekuensi dan presentase dari tiap variabel dengan

menggunakan rumus berikut :

F
x100%
N

Keterangan :

F = Frekuensi sesuai hasil pengelompokan

N = Jumlah sampel

2. Analisis Bivariat

50
Seiring dengan kemajuan perkembangan komputer, maka uji statistik

dapat dilakukan dengan mudah dan cepat dengan program statistik SPSS.

Setiap kita melakukan uji statistik melalui program komputer, maka

ditampilkan nilai P (P value). Dengan nilai P ini kita dapat menggunakan

untuk keputusan uji statistik dengan cara membandingkan nilai P dengan

nilai α (alpha). Ketentun yang dilakukan adalah sebagai berikut:

a. Bila nilai P ≤ nilai α, keputusannya adalah Ho ditolak atau ada hubungan

antara variabel independen terhadap variabel dependen


b. Bila nilai P > nilai α, keputusannya adalah Ho gagal ditolak atau tidak

ada hubungan antara variabel independen terhadap variabel dependen

(Sabri, 2008).

Analisa bivariat yaitu menjelaskan hubungan antara variabel dengan

menggunakan tabel silang, serta untuk melakukan identifikasi variabel yang

bermakna menggunakan uji statistik Chi-Square dengan kemaknaan 95%

artinya apabila nilai P-Value < 0,05 berarti secara signifikan ada hubungan

antara variabel independen dan variabel dependen apabila P-Value > 0,05

berarti tidak ada hubungan antara variabel independen dengan variabel

dependen (Dahlan, M. S. 2004). Perhitungan chi square menggunakan

rumus:

Keterangan : 

² : Chi Square

O : Frekuensi yang diamati (Observed)

51
E : Frekuensi yang diharapkan (Expected)

BAB V

HASIL PENELITIAN

A. Analisis Univariat
1. Variabel Dependen

Istilah perdarahan post partum dalam arti luas mencakup semua

perdarahan yang terjadi setelah kelahiran bayi, sebelum, selama dan sesudah

keluarnya plasenta. Perdarahan post partum dapat menyebabkan masalah

52
kegawatdaruratan yang serius di bidang kesehatan, bidan sebagai salah satu

tenaga professional yang diandalkan oleh masyarakat diharapkan dapat

mengenali sedini mungkin tanda-tanda perdarahan pasca persalinan ini dan

melakukan konsultasi dan rujukan segera dengan cepat dan tepat ke fasilitas

yang lebih lengkap untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang maksimal

sehingga tidak berdampak lebih buruk terhadap ibu bersalin (Yulianingsih,

2009).

Perdarahan post partum adalah perdarahan yang lebih dari 500-600 ml

yang terjadi dalam 24 jam setelah persalinan berlangsung (Yulianti, 2010).

Dalam analisa yang penulis lakukan terhadap ibu bersalin di RSUD

Kabupaten Karawang Tahun 2015 yang mengalami perdarahan adalah

sebanyak 115 orang (2,94%) dan yang tidak 3799 orang (97,06%) dari total

persalinan sebanyak 3914.

Sampel yang diteliti yaitu semua ibu yang melahirkan yang

mengalami perdarahan post partum yaitu sebanyak 115 orang sebagai case

dan ibu bersalin yang tidak mengalami perdarahan post partum yaitu

sebanyak 115 orang sebagai control. Penulis juga akan berusaha menyajikan

hasil penelitian mengenai karakteristik masing-masing variabel yang akan

digambarkan dalam bentuk tabel tunggal dan diagram.

Jumlah ibu bersalin yang tidak mengalami perdarahan post partum

dan yang mengalami perdarahan post partum di RDUD Kabupaten

Karawang Tahun 2015 dapat dilihat pada tabel 5.1

Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi ibu Bersalin Yang Tidak Perdarahan

53
Post Partum dan Yang Perdarahan Post Partum
di RDUD Kabupaten Karawang
Tahun 2015

Ibu Bersalin Frekuensi Persentase (%)


Tidak HPP 3799 97,06
HPP 115 2,94
Total 3914 100
Sumber: Data Skunder RSUD Karawang

Dari tabel 5.1 didapatkan bahwa ibu bersalin yang tidak mengalami

perdarahan post partum sebanyak 3799 orang (97,06%) sedangkan yang

mengalami perdarahan post partum sebanyak 115 orang (2,94%).

2. Variabel Independen
a. Distribusi Frekuensi Umur Terhadap Perdarahan Post Partum
Jumlah ibu bersalin yang tidak mengalami perdarahan post partum

dan yang mengalami perdarahan post partum di RDUD Kabupaten

Karawang Tahun 2015 berdasarkan umur dapat dilihat pada tabel 5.2

Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Umur ibu Bersalin Yang Tidak
Perdarahan Post Partum dan Yang Perdarahan
Post Partum di RDUD Kabupaten Karawang
Tahun 2015

Umur Frekuensi Persentase (%)


20-35 Tahun 120 52,2
>35 Tahun 110 47,8
Total 230 100

Dari tabel 5.2 didapatkan bahwa ibu bersalin yang tidak mengalami

perdarahan post partum dan yang mengalami perdarahan post partum pada

umur 20-35 tahun tahun yaitu sebanyak 120 orang (52,2%) lebih tinggi

54
dibandingkan dengan yang berumur >35 tahun yaitu sebanyak 110 orang

(47,8%).

b. Distribusi Frekuensi Paritas Terhadap Perdarahan Post Partum


Jumlah ibu bersalin yang tidak mengalami perdarahan post partum

dan yang mengalami perdarahan post partum di RDUD Kabupaten

Karawang Tahun 2015 berdasarkan paritas dapat dilihat pada tabel 5.3
Tabel 5.3
Distribusi Frekuensi Paritas ibu Bersalin Yang Tidak Perdarahan Post
Partum dan Yang Perdarahan Post Partum di RDUD Kabupaten
Karawang Tahun 2015

Paritas Frekuensi Persentase (%)


2-4 Anak 106 46,1
1 dan ≥ 5 Anak 124 53,9
Total 230 100

Dari tabel 5.3 didapatkan bahwa ibu bersalin yang tidak mengalami

perdarahan post partum dan yang mengalami perdarahan post partum pada

paritas 1 dan ≥ 5 anak yaitu sebanyak 124 orang (53,9%) lebih tinggi

dibandingkan dengan yang paritas 2-4 anak yaitu sebanyak 106 orang

(46,1%).

c. Distribusi Frekuensi Jarak Antara Persalinan Terhadap Perdarahan


Post Partum
Jumlah ibu bersalin yang tidak mengalami perdarahan post partum

dan yang mengalami perdarahan post partum di RDUD Kabupaten

Karawang Tahun 2015 berdasarkan Jarak Antara Persalinan dapat dilihat

pada tabel 5.4.


Tabel 5.4

55
Distribusi Frekuensi Jarak Antara Persalinan ibu Bersalin Tidak
Perdarahan Post Partum dan Yang Perdarahan
Post Partum di RDUD Kabupaten
Karawang Tahun 2015

Jarak Antara
Frekuensi Persentase (%)
Persalinan
≥ 2 Tahun 132 57,4
< 2 Tahun 98 42,6
Total 230 100

Dari tabel 5.4 didapatkan bahwa ibu bersalin yang tidak mengalami

perdarahan post partum dan yang mengalami perdarahan post partum pada

jarak antara persalinan ≥ 2 tahun yaitu sebanyak 132 orang (57,4%) lebih

tinggi dibandingkan dengan yang jarak antara persalinan < 2 tahun yaitu

sebanyak 98 orang (42,6%).

d. Distribusi Frekuensi Anemia Terhadap Perdarahan Post Partum


Jumlah ibu bersalin yang tidak mengalami perdarahan post partum

dan yang mengalami perdarahan post partum di RDUD Kabupaten

Karawang Tahun 2015 berdasarkan Anemia dapat dilihat pada tabel 5.5.
Tabel 5.5
Distribusi Frekuensi Anemia ibu Bersalin Yang Tidak Perdarahan Post
Partum dan Yang Perdarahan Post Partum di RDUD Kabupaten
Karawang Tahun 2015

Anemia Frekuensi Persentase (%)


Tidak Anemia 124 53,9
Anemia 106 46,1
Total 230 100

Dari tabel 5.5 didapatkan bahwa ibu bersalin yang tidak mengalami

perdarahan post partum dan yang mengalami perdarahan post partum pada

56
yang tidak anemia yaitu sebanyak 124 orang (53,9%) lebih tinggi

dibandingkan dengan yang Anemia yaitu sebanyak 106 orang (46,1%).

B. Analisis Bivariat
Setelah diketahui karakteristik masing-masing variabel dapat diteruskan

analisis yang lebih lanjut yaitu analisis bivariat. Analisis bivariat merupakan

analisis hubungan antara dua variabel untuk mengetahui apakah ada hubungan

antara variabel independen dengan variabel dependen. Hasil perhitungan

analisis data dapat dilihat pada tabel dibawah:


1. Umur
Hubungan antara umur ibu bersalin dengan perdarahan post partum
dapat dilihat pada tabel 5.6

Tabel 5.6
Hubungan Antara Umur Ibu Bersalin Dengan Perdarahan Post Partum
Di RSUD Kabupaten Karawang Tahun 2015

Umur Ibu Bersalin Total P Value OR

Tdk HPP HPP


∑ %
% ∑
∑ %
20-35 thn 83 72,2 37 32,2 120 52,2
>35 thn 32 27,8 78 67,8 110 47,8 0,000 37,933

Total 115 100 115 100 230 100

Pada tabel 5.8 terlihat bahwa proporsi umur ibu bersalin >35 tahun

cenderung mempunyai pengaruh terhadap perdarahan post partum yaitu

sebanyak 67,8% (78 orang) dibandingkan dengan umur ibu bersalin 20-35

tahun yaitu sebanyak 32,2% (37 orang). Hasil uji statistik Chi-Square

didapatkan P-value 0,000 (p-value < 0,05) maka dapat disimpulkan ada

hubungan antara umur ibu bersalin dengan kejadian perdarahan post partum

57
di RSUD Kabupaten Karawang tahun 2015. Sedangkan nilai OR= 37,933

yang berarti umur ibu bersalin >35 tahun mempunyai peluang terjadinya

perdarahan post partum sebesar 37,933 kali lebih besar dibandingkan

dengan umur ibu bersalin 20-35 tahun.

2. Paritas
Hubungan antara paritas ibu bersalin dengan perdarahan post partum
dapat dilihat pada tabel 5.7

Tabel 5.7
Hubungan Antara Paritas Ibu Bersalin Dengan Perdarahan Post
Partum Di RSUD Kabupaten Karawang Tahun 2015

Paritas Ibu Bersalin Total P Value OR

Tdk HPP HPP


∑ %
% ∑
∑ %
2- 4 anak 62 53,9 44 38,3 106 46,1
1 & ≥5 anak 53 46,1 71 61,7 124 53,9 0,024 5,694

Total 115 100 115 100 230 100

Pada tabel 5.7 terlihat bahwa proporsi paritas ibu bersalin 1 dan ≥5

anak cenderung mempunyai pengaruh terhadap perdarahan post partum

yaitu sebanyak 61,7% (71 orang) dibandingkan dengan paritas ibu bersalin

2-4 anak yaitu sebanyak 38,3% (44 orang). Hasil uji statistik Chi-Square

didapatkan P-value 0,024 (p-value < 0,05) maka dapat disimpulkan ada

hubungan antara paritas ibu bersalin dengan kejadian perdarahan post

partum di RSUD Kabupaten Karawang tahun 2015. Sedangkan nilai OR=

5,694 yang berarti paritas ibu bersalin 1 dan ≥5 anak mempunyai peluang

58
terjadinya perdarahan post partum sebesar 5,694 kali lebih besar

dibandingkan dengan paritas ibu bersalin 2-4 anak.

3. Jarak Antara Persalinan


Hubungan antara umur ibu bersalin dengan perdarahan post partum

dapat dilihat pada tabel 5.8

Tabel 5.8
Hubungan Antara Jarak Antara Persalinan Ibu Bersalin Dengan
Perdarahan Post Partum Di RSUD Kabupaten Karawang
Tahun 2015

Jarak Ibu Bersalin Total P Value OR


Antara
Persalinan Tdk HPP HPP
∑ %
%
∑ ∑ %
> 2 thn 82 71,3 50 43,5 132 57,4
< 2 thn 33 28,7 65 56,5 98 42,6 0,000 18,478

Total 115 100 115 100 230 100

Pada tabel 5.8 terlihat bahwa proporsi jarak antara persalinan ibu

bersalin <2 tahun cenderung mempunyai pengaruh terhadap perdarahan post

partum yaitu sebanyak 56,5% (65 orang) dibandingkan dengan jarak antara

persalinan ibu bersalin >2 tahun yaitu sebanyak 43,5% (50 orang). Hasil uji

statistik Chi-Square didapatkan P-value 0,000 (p-value < 0,05) maka dapat

disimpulkan ada hubungan antara jarak persalinan ibu bersalin dengan

kejadian perdarahan post partum di RSUD Kabupaten Karawang tahun

2015. Sedangkan nilai OR= 18,478 yang berarti jarak antara persalinan ibu

bersalin <2 tahun mempunyai peluang terjadinya perdarahan post partum

59
sebesar 18,478 kali lebih besar dibandingkan dengan jarak antara persalinan

ibu bersalin >2 tahun.

4. Anemia
Hubungan antara anemia ibu bersalin dengan perdarahan post partum
dapat dilihat pada tabel 5.9

Tabel 5.9
Hubungan Antara Anemia Ibu Bersalin Dengan Perdarahan Post
Partum Di RSUD Kabupaten Karawang Tahun 2015

Anemia Ibu Bersalin Total P Value OR

Tdk HPP HPP


∑ %
∑ % ∑ %

Tdk Anemia 84 73,0 40 34,8 124 53,9


Anemia 31 27,0 75 65,2 106 46,1 0,000 34,787

Total 115 100 115 100 230 100

Pada tabel 5.9 terlihat bahwa proporsi anemia pada ibu bersalin

cenderung mempunyai pengaruh terhadap perdarahan post partum yaitu

sebanyak 65,2% (75 orang) dibandingkan dengan ibu bersalin yang tidak

anemia yaitu sebanyak 34,8% (40 orang). Hasil uji statistik Chi-Square

didapatkan P-value 0,000 (p-value < 0,05) maka dapat disimpulkan ada

hubungan antara anemia pada ibu bersalin dengan kejadian perdarahan post

partum di RSUD Kabupaten Karawang tahun 2015. Sedangkan nilai OR=

34,787 yang berarti anemia pada ibu bersalin mempunyai peluang terjadinya

perdarahan post partum sebesar 34,787 kali lebih besar dibandingkan

dengan ibu bersalin yang tidak anemia.

60
BAB VI
PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil analisis secara univariat dan bivariat yang sudah

dilakukan, maka akan dibahas mengenai hasil penelitian dan bagaimana dengan

teori pada saat ini.


A. Analisa Univariat

Perdarahan post partum adalah perdarahan yang lebih dari 500 ml yang

terjadi dalam 24 jam setelah persalinan berlangsung (Yulianti, 2010). Hasil

analisis yang penulis lakukan terhadap ibu bersalin di RSUD Kabupaten

Karawang Tahun 2015 yang mengalami perdarahan adalah sebanyak 115 orang

(2,94%) dan yang tidak mengalami perdarahan 3799 orang (97,06%) dari total

persalinan sebanyak 3914.

Hasil penelitian Herianto (2008) di Rumah Sakit Sardijito Yogyakarta

selama kurun waktu 5 tahun terdapat 55 kasus perdarahan post partum dari

3640 persalinan pervaginam.

B. Analisa Bivariat
1. Hubungan Antara Umur Ibu Bersalin Dengan Perdarahan Post Partum

Hasil analisis bivariat bahwa proporsi umur ibu bersalin >35 tahun

cenderung mempunyai pengaruh terhadap perdarahan post partum yaitu

61
sebanyak 67,8% (78 orang) dibandingkan dengan umur ibu bersalin 20-35

tahun yaitu sebanyak 32,2% (37 orang). Hasil uji statistik Chi-Square

didapatkan P-value 0,000 (p-value < 0,05) maka dapat disimpulkan ada

hubungan antara umur ibu bersalin dengan kejadian perdarahan post partum

di RSUD Kabupaten Karawang tahun 2015. Sedangkan nilai OR= 37,933

yang berarti umur ibu bersalin >35 tahun mempunyai peluang terjadinya

perdarahan post partum sebesar 37,933 kali lebih besar dibandingkan

dengan umur ibu bersalin 20-35 tahun.

Menurut wiknjosastro tahun 2006 umur < 20 tahun > 35 tahun

beresiko untuk terjadinya perdarahan post partum dengan angka kejadian

perdarahan postpartum tertnggi pada usia <20 tahun dan > 35 tahun hal ini

disbabkan karena belum matangnya system reproduksi untuk hamil

sehingga dapat merugikan kesehatan ibu maupun perkembamgan dan

pertumbuhan janin.

Umur paling aman bagi seorang wanita untuk hamil dan melahirkan

adalah umur antara 20 –35 tahun, karena mereka berada dalam masa

reproduksi sehat. Kematian maternal pada ibu yang hamil dan melahirkan

pada umur < 20 tahun dan umur > 35 tahun akan meningkat secara

bermakna, karena mereka terpapar pada komplikasi baik medis maupun

obstetrik yang dapat membahayakan jiwa ibu, sehingga mengapa umur

berpengaruh sebagai penyebab perdarahan post partum (Manuaba, 2009).

Menurut hasil penelitian (Indrawati,2008) di RSUD Sukadana

Kabupaten Lampung Timur bahwa 6 orang (19,35%) ibu yang berumur <

62
20 tahun mempengaruhi terjadinya perdarahan pada ibu postpartum, 2 orang

(6,46%) ibu yang berumur 20-35 tahun tidak mempengaruhi terjadinya

perdarahan pada ibu post partum. 10 orang (32,25%) ibu yang berumur >35

tahun mempengaruhi terjadinya perdarahan pada ibu post partum, maka

mayoritas ibu yang mengalami perdarahan post partum sebanyak 10 orang

(32,25%) terjadi pada umur > 35 tahun, yang mengalami perdarahan

postpartum adalah ibu ibu yang berusia > 35 tahun, hal ini disebabkan

fungsi alat reproduksi sudah mulai menurun untuk kehamilan dan

melahirkan sedangkan usia dibawah 20 tahun juga beresiko mengalami

perdarahan disebabkan karena fungsi alat reproduksi masih belum matang

untuk kehamilan dan melahirkan. Selain itu menurut penelitian Pardosi

(2005) di RSUD Majene Kabupaten Majene, bahwa pada tingkat

kepercayaan 95% ibu berumur di bawah 20 tahun atau di atas 30 tahun

memiliki resiko mengalami perdarahan post partum 3,3 kali lebih besar

dibandingkan ibu yang berumur 20 sampai 29 tahun.

Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Syafnely (2010), di SRUD

Rokan Hulu dapat diketahui bahwa mayoritas umur ibu bersalin yang

mengalami perdarahan post partum adalah pada umur > 35 tahun yaitu

sebesar 13 orang (72.2%) dan minoritas terjadinya perdarahan post partum

adalah pada umur < 20 tahun yaitu sebesar 8 orang (33.3%). Dari analisis

statistik dengan uji Chi-Squere iperoleh hubungan antara umur dengan

perdarahan post partum dengan nilai p-value = 0,045< α (0.05). Dalam hal

63
ini ada kesesuaian antara teori dengan penelitian yang dilakukan bahwa

umur ibu bersalin berpengaruh terhadap kejadian perdarahan post partum.

2. Hubungan Antara Paritas Ibu Bersalin Dengan Perdarahan Post

Partum

Hasil analisis bivariat bahwa proporsi paritas ibu bersalin 1 dan ≥5

anak cenderung mempunyai pengaruh terhadap perdarahan post partum

yaitu sebanyak 61,7% (71 orang) dibandingkan dengan paritas ibu bersalin

2-4 anak yaitu sebanyak 38,3% (44 orang). Hasil uji statistik Chi-Square

didapatkan P-value 0,024 (p-value < 0,05) maka dapat disimpulkan ada

hubungan antara paritas ibu bersalin dengan kejadian perdarahan post

partum di RSUD Kabupaten Karawang tahun 2015. Sedangkan nilai OR=

5,694 yang berarti paritas ibu bersalin 1 dan ≥5 anak mempunyai peluang

terjadinya perdarahan post partum sebesar 5,694 kali lebih besar

dibandingkan dengan paritas ibu bersalin 2-4 anak.

Paritas adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang dapat

hidup (viable) (Wiknjosastro, 2006). Paritas adalah jumlah kehamilan yang

menghasilkan janin yang mampu hidup di luar rahim (28 minggu)

(Saifuddin, 2009).

Menurut hasil penelitian Putri (2012), di dengan judul Faktor-Faktor

yang Mempengaruhi Status Anemia pada Ibu Hamil di Kecamatan Ciampea

Bogor Jawa Barat menyatakan bahwa multipara cenderung mengalami

perdarahan post partum lebih tinggi yaitu sebesar 25,00% (13 responden)

dibandingkan dengan primipara sebesar 12,20% (5 responden) hasil

64
penelitian ini menunjukan bahwa ada hubungan antara paritas responden

dengan kejadian perdarahan postpartum. Responden multipara mempunyai

peluang sebanyak 2,04 kali lebih tinggi untuk terjadi perdarahan post

partum dibandingkan dengan responden primipara.

Sedangkan menurut hasil penelitian (Sakinah, 2012) RSUD

Panembahan Senopati Bantul DIY diperoleh data bahwa responden yang

paritas primipara mengalami perdarahan postpartum adalah sebanyak 8

orang (23,52%) sedangkan responden yang multipara mengalami

perdarahan post partum berjumlah 16 orang ( 47,05%), secara presentase

dapat dilihat bahwa kejadian perdarahan post partum pada ibu bersalin

lebih sering terjadi pada responden dengan paritas multipara bila

dibandingkan dengan responden paritas primipara.

Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Syafnely (2010), di SRUD

Rokan Hulu, dapat diketahui bahwa mayoritas paritas ibu bersalin yang

mengalami perdarahan post partum primipara adalah paritas >4 yaitu

sebesar 17 orang (81%) dan minoritas terjadinya perdarahan post partum

primer adalah pada paritas 1 yaitu sebesar 11 orang (22%). Dari analisis

statistik dengan uji Chi-Squere diperoleh nilai P-value = 0,000. Hubungan

variabel dependen dan independen dikatakan signifikan apabila nilai p-value

< 0,05. Dari nilai tersebut dapat diketahui bahwa nilai P-value < 0,05 dan =

26,42 > X Tabel = 5,99. Dalam hal ini ada kesesuaian antara teori dengan

penelitian yang dilakukan bahwa paritas ibu bersalin berpengaruh terhadap

kejadian perdarahan post partum.

65
3. Hubungan Antara Jarak Persalinan Ibu Bersalin Dengan Perdarahan

Post Partum

Hasil analisis bivariat bahwa proporsi jarak antara persalinan ibu

bersalin <2 tahun cenderung mempunyai pengaruh terhadap perdarahan post

partum yaitu sebanyak 56,5% (65 orang) dibandingkan dengan jarak antara

persalinan ibu bersalin >2 tahun yaitu sebanyak 43,5% (50 orang). Hasil uji

statistik Chi-Square didapatkan P-value 0,000 (p-value < 0,05) maka dapat

disimpulkan ada hubungan antara jarak persalinan ibu bersalin dengan

kejadian perdarahan post partum di RSUD Kabupaten Karawang tahun

2015. Sedangkan nilai OR= 18,478 yang berarti jarak antara persalinan ibu

bersalin <2 tahun mempunyai peluang terjadinya perdarahan post partum

sebesar 18,478 kali lebih besar dibandingkan dengan jarak antara persalinan

ibu bersalin >2 tahun.

Jarak kehamilan adalah jarak antara waktu sejak ibu hamil sampai

terjadi kelahiran berikutnya. Jarak kehamilan yang terlalu dekat dapat

menyebabkan anemia hal ini dikarenakan kondisi ibu masih belum pulih dan

pemenuhan kebutuhan zat-zat gizi belum optimal, namun sudah harus

memenuhi kebutuhan nutrisi janin yang dikandungnya. Kehamilan dan

persalinan dengan jarak yang berdekatan dapat memicu terjadinya

perdarahan post partum. Jarak kehamilan yang terlalu dekat < 2 tahun tidak

memberikan kesempatan bagi tubuh ibu hamil untuk memulihkan

66
kesehatannya seperti keadaan sebelum hamil sehingga dapat mengakibatkan

perdarahan postpartum (Manuaba, 2010).

Menurut hasil penelitian (Putri, 2012) RSUD Hasan Sadikin Bandung

menyatakan bahwa jarak persalinan yang beresiko cenderung mengalami

perdarahan postpartum lebih tinggi yaitu sebesar 26,9% (12 responden)

dibandingkan dengan jarak persalinan yang tidak beresiko yaitu sebesar

12,77% (8 responden) hasil penelitian ini menunjukan bahwa ada hubungan

antara jarak persalianan responden dengan kejadian perdarahan postpartum.

Responden yang beresiko mempunyai peluang sebesar 2,04 kali lipat lebih

tinggi untuk terjadi perdarahan postpartum dibandingakan dengan

responden yag tidak berisiko.

Sedangkan menurut penelitian (Yuniarti, 2010) menyatakan bahwa

proporsi kasus dengan jarak antara kelahiran kurang dari 2 tahun sebesar

41% dengan OR jarak antara kelahiran 2,82. Hal ini berarti ibu yang

memiliki jarak antara kelahiran kurang dari 2 tahun beresiko 2,82 kali

mengalami perdarahan post partum. Dalam hal ini ada kesesuaian antara

teori dengan penelitian yang dilakukan bahwa jarak antara persalinan ibu

bersalin berpengaruh terhadap kejadian perdarahan post partum.

4. Hubungan Antara Anemia Ibu Bersalin Dengan Perdarahan Post

Partum

Hasil analisis bivariat bahwa proporsi anemia pada ibu bersalin

cenderung mempunyai pengaruh terhadap perdarahan post partum yaitu

67
sebanyak 65,2% (75 orang) dibandingkan dengan ibu bersalin yang tidak

anemia yaitu sebanyak 34,8% (40 orang). Hasil uji statistik Chi-Square

didapatkan P-value 0,000 (p-value < 0,05) maka dapat disimpulkan ada

hubungan antara anemia pada ibu bersalin dengan kejadian perdarahan post

partum di RSUD Kabupaten Karawang tahun 2015. Sedangkan nilai OR=

34,787 yang berarti anemia pada ibu bersalin mempunyai peluang terjadinya

perdarahan post partum sebesar 34,787 kali lebih besar dibandingkan

dengan ibu bersalin yang tidak anemia.

Anemi adalah kondisi ibu dengan kadar Hb dalam darahnya kurang

dari 11 gram %. Anemi dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar

Hb dibawah 11 gram % pada trimester I dan III atau kadar Hb kurang dari

10 grm % pada trimester II. nilai batas tersebut pada perbedaannya dengan

wanita tidak hamil terjadi karena haemodilusi terutam pada trimester II

(Saepuddin, 2012).

Menurut Depkes RI (2000), dalam buku Waryana (2010), anemia

adalah suatu keadaan dimana haemoglobin dalam darah kurang dari 11 gr%.

Berdasarkan beberapa pendapat diatas, apa yang dimaksud anemia dalam

kehamilan adalah suatu keadaan kekurangan zat besi dengan kadar Hb

kurang dari 11 gr %.

Darah akan bertambah banyak dalam kehamilan yang lazim disebut

hidremia atau hypervolemia. Akan tetapi bertambahnya sel darah kurang

dibandingkan dengan bertambahnya plasma sehingga terjadi pengenceran

darah. Pada saat hamil bila terjadi anemi tidak tertangani hingga akhir

68
kehamilan maka akan berpengaruh saat postpartum. Pada ibu dengan

anemia saat postpartum akan mengalami atonia uteri. Hal ini disebabkan

karena oxygen yang dikirim ke uterus kurang, jumlah oxygen dalam darah

yang kurang menyebabkan otot-otot uterus tidak berkontraksi dengan baik

sehingga timbul atonia uteri yang mengakibatkan perdarahan banyak.

Anemia dalam kehamilan memberikan pengaruh yang kurang baik bagi ibu

baik dalam kehamilan, persalina maupun nifas. Berbagai penyulit dapat

timbul akibat anemia yang diantaranya pada saat nifas yaitu terjadi

subinvolusi uteri menimbulkan perdarahan postpartum (Manuaba,2010).

Kekurangan kadar haemoglobin dalam darah mengakibatkan

kurangnya oksigen yang di bawa / ditransfer ke sel tubuh maupun sel otak

dan uterus. Jumlah oksigen dalam darah yang kurang menyebabkan otot-

otot uterus tidak dapat berkontraksi dengan adekuat sehingga timbul atonia

uteri yang mengakibatkan perdarahan pos partum (Sarwono, 2008).

Menurut hasil penelitian (Sukarsih, 2013), RSUD Dr. H. Abdul

Moeloek Provinsi Lampung menyatakan bahwa analisis hubungan antara

anemia dengan perdarahan postpartum diperoleh data bahwa reponden

dengan anemia mengalami perdarahan postpartum adalah sebanyak 94

orang (97,9%), lebih banyak dibandingkan dari reponden dengan tidak

anemi dan mengalami perdarahan postpartum adalah sebanyak 15 orang

(6,9%) diperoleh nilai P-value 0,001 (P< 0,5) maka dapat disimpulkan ada

hubungan yang bermakna antara anemia dengan perdarahan

postpartum.Sedangkan menurut penelitian (Herianto, 2008) menyatakan

69
bahwa anemia bermakna sebagai faktor resiko yang mempengaruhi

perdarahan post partum primer.Ibu yang mengalami anemi beresiko 2,8 kali

mengalami perdarahan post partum di banding ibuyang tidak mengalami

anemia (OR=2,76:95% CI 1,25;6,12).

Berdasarkan hasil analisis univariate dari penelitian yang dilakukan

Fika Nurul, (2012) di RSUD Panembahan Senopati Bantul DIY ada

hubungan antara anemia dengan kejadian perdarahan post partum primer di

RSUD Panembahan Senopati Bantul DIY yaitu diperoleh hasil pada ibu

yang mengalami perdarahan post partum primer yang mengalami anemia 39

(76,5%) dan tidak anemia 12 (23,5). Hal ini menggambarkan bahwa

sebagian besar ibu yang mengalami perdarahan adalah ibu dengan riwayat

anemia (kadar Hb <11 gr%). Hasil perhitungan statistik menggunakan uji

Chi Square pada tabel 3 terhadap variabel Anemia diperoleh χ2 hitung =

30,757 Harga χ2 tabel pada karakter kesalahan 5%=3.841. Hal ini

menunjukkan bahwa χ2 hitung > χ2 tabel (30,757>3,841) dan nilai p value

adalah 0,000 <0,05 yang berarti ada hubungan yang signifikan antara

anemia dengan kejadian perdarahan postpartum primer di RSUD

Panembahan Senopati Bantul tahun 2012. Ibu dengan anemia beresiko

11,818 kali untuk mengalami perdarahan postpartum jika dibandingkan

dengan ibu yang tidak anemia. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa

semakin rendah kadar Hb, semakin besar risiko untuk mengalami

perdarahan postpartum. Dalam hal ini ada kesesuaian antara teori dengan

70
penelitian yang dilakukan bahwa anemia ibu bersalin berpengaruh terhadap

kejadian perdarahan post partum.

BAB VII
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa

Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Perdarahan Post Partum di

RSUD Kabupaten Karawang Tahun 2015 adalah sebagai berikut:

1. Data yang didapat di RSUD Kabupaten Karawang Tahun 2015 yang

mengalami perdarahan post partum sebanyak 115 orang (2,94%) dan yang

tidak mengalami perdarahan post partum 3799 orang (97,06%) dari total

persalinan sebanyak 3914. Sedangkan yang diteliti adalah 115 orang yang

perdarahan post partum sebagai case dan yang tidak perdarahan post partum

yaitu 115 orang sebagai kontrol.


2. Ada hubungan yang bermakna antara umur, paritas, jarak antara persalinan

dan anemia terhadap kejadian Perdarahan Post Partum Di RSUD Kabupaten

Karawang Tahun 2015

B. Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah penulis simpulkan maka dalam hal

ini penulis akan memberikan saran-saran sebagai berikut:


1. Tempat Penelitian (RSUD Kabupaten Karawang).

71
Meningkatkan profesionalisme dalam melakukan tindakan untuk

mengatasi perdarahan post partum sehingga dapat mencegah terjadinya

kematian pada ibu bersalin akibat perdarahan post partum.


2. Institusi Pendidikan
Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan mahasiswa dalam

mengatasi perdarahan post partum sebelum dilakukan rujukan


3. Peneliti
Berperan aktif dalam upaya menurunkan angka kejadian perdarahan

post partum dengan memberikan penyuluhan kesehatan kepada ibu hamil

tentang faktor –faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya perdarahan post

partum dan bagaimana menghindarinya.

72