Vous êtes sur la page 1sur 8

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Setelah melaksanakan puasa ramadhan selama sebulan penuh, Islam mewajibkan atas
tiap-tiap muslim untuk membayar zakat yaitu bagi siapa saja baik laki-laki maupun
perempuan baik besar maupun kecil.
Zakat yang dilakukan umat Islam pada setiap hari raya idul fitri ini di sebut zakat fitrah.
Adapun maksud dari zakat fitrah ini adalah untuk membesihkan diri dan menghapus dari
dosa-dosa yang telah dilakukan, serta sebagai penyempurna puasa. Di lihat dari segi sosial
zakat fitrah memberikan peran sendiri, dimana zakat itu diberikan atau di bagikan untuk
orang-orang yang membutuhkan dari orang-orang yang mampu. Dan dari sini terlihat
kepedulian dalam agama Islam. Akan tetapi, dalam kenyataannya banyak muslim baik laki-
laki maupun perempuan yang belum mengetahui tentang bagaimana cara membayar zakat
fitah dan bagaimana caranya.

B. Rumusan Masalah
a. Bagaimana cara membayar zakat fitrah?
b. Siapa sajakah mustahiquzzakat?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Zakat menurut bahasa berarti membersihkan dan berkembang.[1] Sedangkan menurut
agama Islam zakat berarti kadar harta yang tertentu yang diberikan kepada orang-orang yang
berhak menerimanya dengan beberapa syarat.[2] Adapun pengertian zakat fitrah adalah zakat
yang wajib dikeluarkan oleh setiap orang muslim pada hari raya idul fitri yang berupa
makanan pokok.[3]
Di sebut dengan zakat fitrah sebab diwajibkan setelah berbuka puasa. Zakat tersebut
difardukan sebagaimana difardukan puasa ramadhan. Menurut Imam Waqi’ dalam
kitab Fathul Mu’in beliau mengatakan bahwa zakat fitrah terhadap puasa ramadhan adalah
bagaikan sujud sahwi terhadap solat. Artinya dia bisa menambal kekurangan puasa
sebagaimana kekurangan solat. Perkataan ini dikuatkan oleh hadis sahih yang mengatakan
bahwa zakat fitrah dapat membersihkan orang yang berpuasa dari lelehan (perbuatan sia-sia)
dan perkataan keji.[4]
Sebagaimana hadis Nabi SAW:
‫ زكاة‬,‫فرض رسول هللا صلى هللا عليه وسلّم‬ ّ : ‫و عن ابن عباس رضيا هلل قال‬
‫ فمن ادا ها قبل‬,‫الفطر طهرة للصائم من اللغو والرفث وطعمة للمساكين‬
( ‫الصالة فهي زكاة مقبولة ومن ادا ها بعد الصالة فهي صدقة من الصدقات‬
) ‫رواه ابو داود وابن م ّجه وصححه الحاكم‬
Artinya :
“Dari Ibnu Abbas dia berkata telah diwajibkan oleh Rasulullah zakat fitrah sebagai
pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan perkataan keji serta
memberi makanan bagi orang-orang miskin. Barang siapa yang menunaikan sebelum solat
hari raya, maka zakat itu diterima dan barang siapa yang membayarnya sesudah solat, maka
zakat itu sebagai sodaqah biasa” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majjah).[5]

B. Dasar Hukum Disyaratkannya Zakat Fitrah


Dalil quran dan hadis yang menguatkan disyaratkannya zakat fitrah adalah :
$pkÍ5 NÍkŽÏj.t“è?ur öNèdã•ÎdgsÜè? Zps%y‰|¹ öNÏlÎ;ºuqøBr& ô`ÏB õ‹è{
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan
mensucikan mereka” (QS. Al-Taubah : 103).[6]
Adapun hadis Nabi SAW sebagai dasar hukum zakat fitrah yaitu:
‫ زكاة الفطر من‬: ‫فرض رسول هللا صلى هللا عليه وسلّم‬
ّ ‫عن ابن عمر قال‬
‫الحر او عبد ذكر‬
ّ ‫رمضان على الناس صاعا من تمر او صاعا من شعير على‬
‫ وكان يعطون‬: ‫او أنثى من المسلمين (رواه البخاري و مسلم) و في البخاري‬
‫قبل الفطر بيوم او يومين‬
Artinya :
“Dari Ibnu Umar Ra ia berkata, Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah (terbuka) bulan
Ramadan sebanyak 1 sa’ (3,1 liter) kurma atau gandum atas tiap-tiap orang muslim merdeka
atau hamba, laki-laki atau perempuan (Muttafaqun ‘alaih)”. Dalam hadits Bukhari
disebutkan : Mereka membayar fitrah itu sehari atau dua hari sebelum hari raya” [7]

C. Syarat-syarat Wajib Zakat Fitrah


1) Islam
2) Lahir sebelum terbenam matahari pada hari penghabisan bulan ramadhan
3) Mempunyai kelebihan harta dari keperluan makanan untuk dirinya sendiri dan untuk orang
yang wajib dinafkahi baik manusia maupun hewan pada malam hari raya dan siang
harinya.[8]

D. Waktu Pembayaran Zakat Fitrah


Sebagaimana telah diketahui bahwa waktu wajib membayar zakat ialah sewaktu
terbenam matahari pada malam hari raya. Walaupun begitu, tidak ada halangan bila dibayar
sebelumnya, asal bulan puasa. Adapun waktu dan hukum membayar zakat pada waktu itu
adalah:
a. Waktu yang diperbolehkan, yaitu awal ramadhan sampai terbenam matahari penghabisan
ramadhan
b. Waktu wajib, yaitu mulai terbenam matahari penghabisan ramadhan
c. Waktu sunah, yaitu dibayar sesudah shalat sbuh sebelum pergi shalat hari raya.[9]

E. Cara Membayar Zakat


Cara membayar zakat fitrah yaitu dengan menyerahkan zakat kita kepada ‘amil zakat
dan lebih afdhalnya diberikan oleh diri sendiri bersamaan mengucapkan/melafalkan niat kita
zakat fitrah dan untuk siapa kita zakat fitrah, sehingga ‘amil mengetahui zakat itu
diperuntukan siapa.
Niat zakat fitrah sebagai berikut : [10]
(nama yang dizakati) ......... / ‫ ان اخرج زكاة الفطر عن نفسى‬/ ‫نويت ان اوتي‬
F. Orang-Orang yang Berhak Menerima Zakat (Mustahiquzzakah)
1) Fakir yaitu orang yang tidak mempunyai harta dan usaha, atau mempunyai harta atau usaha
yang kurang dari seperdua kecukupannya, dan tidak ada orang yang berkewajiban memberi
belanjanya.
2) Miskin yaitu orang yang mempunyai harta atau usaha sebanyak seperdua kecukupannya atau
lebih, tetapi tidak sampai mencukupi.
3) ‘Amil yaitu semua orang yang bekerja mengurus zakat, sedangkan dia tidak mendapat upah
selain dari zakat itu.
4) Muallaf, ada empat macam :
a. Orang yang baru masuk Islam, sedangkan imannya belum teguh.
b. Orang Islam yang berpengaruh dalam kaumnya, dan kita berpengharapan kalau dia diberi
zakat, maka orang lain dari kaumnya akan masuk Islam.
c. Orang Islam yang berpengaruh terhadap kafir, kalau dia diberi zakat, kita akan terpelihara
dari kejahatan kafir yang dibawah pengaruhnya.
5) Hamba yaitu yang dijanjikan oleh tuannya bahwa dia boleh menebus dirinya. Hamba itu
diberi zakat sekedar untuk menebus dirinya.
6) Berutang, ada tiga macam :
a. Orang yang berhutang karena mendamaikan dua orang yang sedang berselisih.
b. Orang yang berhutang untuk kepentingan dirinya sendiri pada keperluan yang mubah atau
tidak mubah, tetapi dia sudah taubat.
c. Orang yang berhutang karena menjamin utang orang lain, sedangkan dia dan orang yang
dijaminnya itu tidak dapat membayar hutangnya. Tetapi yang pertama (a) diberi, sekalipun
dia kaya.
7) Sabilillah, ada beberapa pendapat :
a. Ulama Fikih, yang dimaksud sabbilillah ialah bala tentara yaitu bala tentara yang membantu
perang dengan kehendaknya sendiri dan dia tidak digaji.
b. Ibnu ‘Asir, yang dimaksud sabilillah adalah semua amal kebaikan yang dimaksudkan
mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bukan hanya peperangan.
c. Ulama Muhammad Rasyid Ridha, yang dimaksud sabilillah adalah beberapa kemaslahatan
muslimin umumnya yang menambah kekuatan agama Islam dan negaranya, bukan untuk
perseorangan.
8) Musafir yaitu orang yang mengadakan perjalanan jauh dari negeri zakat atau melalui negeri
zakat. Dalam perjalanannya itu diberi zakat untuk sekedar ongkos sampai pada tempat yang
dimaksudnya. Atau pada hartanya dengan syarat bahwa ia memang membutuhkan bantuan
perjalanannya itupun bukan maksiat, tetapi dengan tujuan yang sah, misalnya karena
baerniaga ataupun sebagainya.[11]

G. Hikmah Zakat
1) Menolong orang yang lemah dan susah
2) Membersihkan diri dari sifat kikir dan akhlak tercela
3) Sebagai ucapan syukur atas nikmat dari Allah
4) Menjaga kejahatan-kejahatan yang tumbuh dari si miskin
5) Mendekatkan hubungan kasih sayang dan cinta mencintai antara si miskin dan si kaya.[12]

BAB III
KESIMPULAN
Dari uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa zakat fitrah adalah zakat yang
wajib dikeluarkan oleh setiap orang muslim pada hari raya idul fitri yang berupa makanan
pokok. Adapun pembayaran zakat fitrah yaitu harus sesuai dengan batas waktu yang
ditentukan, maka zakat fitrah tidak sah, dan hanya dianggap sebagai shodaqoh biasa.
Sedangkan mustahiquzzakat (orang-orang yang berhak menerima zakat), yaitu hanya
delapan asnaf (golongan) yang telah disebutkan dalam al-quran surat at-Taubat ayat 60, yakni
: Fakir, Miskin, ‘Amil, Muallaf, Hamba, Orang yang Berutang, Sabilillah dan Musafir. Selain
8 asnaf diatas, maka tidak berhak mendapatkan zakat.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Aziz, Zainuddin. 2002. Fakhul Mu’in. Surabaya : Haromen Jaya


Ibn Ali As-Syafi’i, Imam Khafidz. Bulughul Maram. Darul Kutub Al-Islamiyah
Handayani, Putot Tunggal. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya : Giki Utama
Rasyid, Sulaiman, Fiqih Islam. Bandung : Sinar Baru Algesindo

[1] Syaikh Zainuddin Abdul Aziz, Fakhul Mu’in, (Surabaya : Haromen Jaya, 2002), hal.
48
[2] Sulaiman Rasyid, Fiqih Islam, (Bandung : Sinar Baru Algesindo,), hal. 192
[3] Putot Tunggal Handayani, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Surabaya : Giri
Utama), hal. 478
[4] Op.Cit., Syaikh Zainuddin Abdul Aziz, hal. 50
[5] Imam Khafidz bin Ali As-Syafi’i, Bulughul Maram, (Darul Kutub Al-Islamiyah),
hal. 112
[6] Op.Cit., Sulaiman Rasyid, hal. 192BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Setelah melaksanakan puasa ramadhan selama sebulan penuh, Islam mewajibkan atas
tiap-tiap muslim untuk membayar zakat yaitu bagi siapa saja baik laki-laki maupun
perempuan baik besar maupun kecil.
Zakat yang dilakukan umat Islam pada setiap hari raya idul fitri ini di sebut zakat fitrah.
Adapun maksud dari zakat fitrah ini adalah untuk membesihkan diri dan menghapus dari
dosa-dosa yang telah dilakukan, serta sebagai penyempurna puasa. Di lihat dari segi sosial
zakat fitrah memberikan peran sendiri, dimana zakat itu diberikan atau di bagikan untuk
orang-orang yang membutuhkan dari orang-orang yang mampu. Dan dari sini terlihat
kepedulian dalam agama Islam. Akan tetapi, dalam kenyataannya banyak muslim baik laki-
laki maupun perempuan yang belum mengetahui tentang bagaimana cara membayar zakat
fitah dan bagaimana caranya.
B. Rumusan Masalah
a. Bagaimana cara membayar zakat fitrah?
b. Siapa sajakah mustahiquzzakat?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Zakat menurut bahasa berarti membersihkan dan berkembang.[1] Sedangkan menurut
agama Islam zakat berarti kadar harta yang tertentu yang diberikan kepada orang-orang yang
berhak menerimanya dengan beberapa syarat.[2] Adapun pengertian zakat fitrah adalah zakat
yang wajib dikeluarkan oleh setiap orang muslim pada hari raya idul fitri yang berupa
makanan pokok.[3]
Di sebut dengan zakat fitrah sebab diwajibkan setelah berbuka puasa. Zakat tersebut
difardukan sebagaimana difardukan puasa ramadhan. Menurut Imam Waqi’ dalam
kitab Fathul Mu’in beliau mengatakan bahwa zakat fitrah terhadap puasa ramadhan adalah
bagaikan sujud sahwi terhadap solat. Artinya dia bisa menambal kekurangan puasa
sebagaimana kekurangan solat. Perkataan ini dikuatkan oleh hadis sahih yang mengatakan
bahwa zakat fitrah dapat membersihkan orang yang berpuasa dari lelehan (perbuatan sia-sia)
dan perkataan keji.[4]
Sebagaimana hadis Nabi SAW:
‫ زكاة‬,‫فرض رسول هللا صلى هللا عليه وسلّم‬ ّ : ‫و عن ابن عباس رضيا هلل قال‬
‫ فمن ادا ها قبل‬,‫الفطر طهرة للصائم من اللغو والرفث وطعمة للمساكين‬
( ‫الصالة فهي زكاة مقبولة ومن ادا ها بعد الصالة فهي صدقة من الصدقات‬
) ‫رواه ابو داود وابن م ّجه وصححه الحاكم‬
Artinya :
“Dari Ibnu Abbas dia berkata telah diwajibkan oleh Rasulullah zakat fitrah sebagai
pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan perkataan keji serta
memberi makanan bagi orang-orang miskin. Barang siapa yang menunaikan sebelum solat
hari raya, maka zakat itu diterima dan barang siapa yang membayarnya sesudah solat, maka
zakat itu sebagai sodaqah biasa” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majjah).[5]

B. Dasar Hukum Disyaratkannya Zakat Fitrah


Dalil quran dan hadis yang menguatkan disyaratkannya zakat fitrah adalah :
$pkÍ5 NÍkŽÏj.t“è?ur öNèdã•ÎdgsÜè? Zps%y‰|¹ öNÏlÎ;ºuqøBr& ô`ÏB õ‹è{
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan
mensucikan mereka” (QS. Al-Taubah : 103).[6]
Adapun hadis Nabi SAW sebagai dasar hukum zakat fitrah yaitu:
‫ زكاة الفطر من‬: ‫فرض رسول هللا صلى هللا عليه وسلّم‬
ّ ‫عن ابن عمر قال‬
‫الحر او عبد ذكر‬
ّ ‫رمضان على الناس صاعا من تمر او صاعا من شعير على‬
‫ وكان يعطون‬: ‫او أنثى من المسلمين (رواه البخاري و مسلم) و في البخاري‬
‫قبل الفطر بيوم او يومين‬
Artinya :
“Dari Ibnu Umar Ra ia berkata, Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah (terbuka) bulan
Ramadan sebanyak 1 sa’ (3,1 liter) kurma atau gandum atas tiap-tiap orang muslim merdeka
atau hamba, laki-laki atau perempuan (Muttafaqun ‘alaih)”. Dalam hadits Bukhari
disebutkan : Mereka membayar fitrah itu sehari atau dua hari sebelum hari raya” [7]

C. Syarat-syarat Wajib Zakat Fitrah


1) Islam
2) Lahir sebelum terbenam matahari pada hari penghabisan bulan ramadhan
3) Mempunyai kelebihan harta dari keperluan makanan untuk dirinya sendiri dan untuk orang
yang wajib dinafkahi baik manusia maupun hewan pada malam hari raya dan siang
harinya.[8]

D. Waktu Pembayaran Zakat Fitrah


Sebagaimana telah diketahui bahwa waktu wajib membayar zakat ialah sewaktu
terbenam matahari pada malam hari raya. Walaupun begitu, tidak ada halangan bila dibayar
sebelumnya, asal bulan puasa. Adapun waktu dan hukum membayar zakat pada waktu itu
adalah:
a. Waktu yang diperbolehkan, yaitu awal ramadhan sampai terbenam matahari penghabisan
ramadhan
b. Waktu wajib, yaitu mulai terbenam matahari penghabisan ramadhan
c. Waktu sunah, yaitu dibayar sesudah shalat sbuh sebelum pergi shalat hari raya.[9]

E. Cara Membayar Zakat


Cara membayar zakat fitrah yaitu dengan menyerahkan zakat kita kepada ‘amil zakat
dan lebih afdhalnya diberikan oleh diri sendiri bersamaan mengucapkan/melafalkan niat kita
zakat fitrah dan untuk siapa kita zakat fitrah, sehingga ‘amil mengetahui zakat itu
diperuntukan siapa.
Niat zakat fitrah sebagai berikut : [10]
(nama yang dizakati) ......... / ‫ ان اخرج زكاة الفطر عن نفسى‬/ ‫نويت ان اوتي‬
F. Orang-Orang yang Berhak Menerima Zakat (Mustahiquzzakah)
1) Fakir yaitu orang yang tidak mempunyai harta dan usaha, atau mempunyai harta atau usaha
yang kurang dari seperdua kecukupannya, dan tidak ada orang yang berkewajiban memberi
belanjanya.
2) Miskin yaitu orang yang mempunyai harta atau usaha sebanyak seperdua kecukupannya atau
lebih, tetapi tidak sampai mencukupi.
3) ‘Amil yaitu semua orang yang bekerja mengurus zakat, sedangkan dia tidak mendapat upah
selain dari zakat itu.
4) Muallaf, ada empat macam :
a. Orang yang baru masuk Islam, sedangkan imannya belum teguh.
b. Orang Islam yang berpengaruh dalam kaumnya, dan kita berpengharapan kalau dia diberi
zakat, maka orang lain dari kaumnya akan masuk Islam.
c. Orang Islam yang berpengaruh terhadap kafir, kalau dia diberi zakat, kita akan terpelihara
dari kejahatan kafir yang dibawah pengaruhnya.
5) Hamba yaitu yang dijanjikan oleh tuannya bahwa dia boleh menebus dirinya. Hamba itu
diberi zakat sekedar untuk menebus dirinya.
6) Berutang, ada tiga macam :
a. Orang yang berhutang karena mendamaikan dua orang yang sedang berselisih.
b. Orang yang berhutang untuk kepentingan dirinya sendiri pada keperluan yang mubah atau
tidak mubah, tetapi dia sudah taubat.
c. Orang yang berhutang karena menjamin utang orang lain, sedangkan dia dan orang yang
dijaminnya itu tidak dapat membayar hutangnya. Tetapi yang pertama (a) diberi, sekalipun
dia kaya.
7) Sabilillah, ada beberapa pendapat :
a. Ulama Fikih, yang dimaksud sabbilillah ialah bala tentara yaitu bala tentara yang membantu
perang dengan kehendaknya sendiri dan dia tidak digaji.
b. Ibnu ‘Asir, yang dimaksud sabilillah adalah semua amal kebaikan yang dimaksudkan
mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bukan hanya peperangan.
c. Ulama Muhammad Rasyid Ridha, yang dimaksud sabilillah adalah beberapa kemaslahatan
muslimin umumnya yang menambah kekuatan agama Islam dan negaranya, bukan untuk
perseorangan.
8) Musafir yaitu orang yang mengadakan perjalanan jauh dari negeri zakat atau melalui negeri
zakat. Dalam perjalanannya itu diberi zakat untuk sekedar ongkos sampai pada tempat yang
dimaksudnya. Atau pada hartanya dengan syarat bahwa ia memang membutuhkan bantuan
perjalanannya itupun bukan maksiat, tetapi dengan tujuan yang sah, misalnya karena
baerniaga ataupun sebagainya.[11]

G. Hikmah Zakat
1) Menolong orang yang lemah dan susah
2) Membersihkan diri dari sifat kikir dan akhlak tercela
3) Sebagai ucapan syukur atas nikmat dari Allah
4) Menjaga kejahatan-kejahatan yang tumbuh dari si miskin
5) Mendekatkan hubungan kasih sayang dan cinta mencintai antara si miskin dan si kaya.[12]

BAB III
KESIMPULAN
Dari uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa zakat fitrah adalah zakat yang
wajib dikeluarkan oleh setiap orang muslim pada hari raya idul fitri yang berupa makanan
pokok. Adapun pembayaran zakat fitrah yaitu harus sesuai dengan batas waktu yang
ditentukan, maka zakat fitrah tidak sah, dan hanya dianggap sebagai shodaqoh biasa.
Sedangkan mustahiquzzakat (orang-orang yang berhak menerima zakat), yaitu hanya
delapan asnaf (golongan) yang telah disebutkan dalam al-quran surat at-Taubat ayat 60, yakni
: Fakir, Miskin, ‘Amil, Muallaf, Hamba, Orang yang Berutang, Sabilillah dan Musafir. Selain
8 asnaf diatas, maka tidak berhak mendapatkan zakat.
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Aziz, Zainuddin. 2002. Fakhul Mu’in. Surabaya : Haromen Jaya


Ibn Ali As-Syafi’i, Imam Khafidz. Bulughul Maram. Darul Kutub Al-Islamiyah
Handayani, Putot Tunggal. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya : Giki Utama
Rasyid, Sulaiman, Fiqih Islam. Bandung : Sinar Baru Algesindo

[1] Syaikh Zainuddin Abdul Aziz, Fakhul Mu’in, (Surabaya : Haromen Jaya, 2002), hal.
48
[2] Sulaiman Rasyid, Fiqih Islam, (Bandung : Sinar Baru Algesindo,), hal. 192
[3] Putot Tunggal Handayani, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Surabaya : Giri
Utama), hal. 478
[4] Op.Cit., Syaikh Zainuddin Abdul Aziz, hal. 50
[5] Imam Khafidz bin Ali As-Syafi’i, Bulughul Maram, (Darul Kutub Al-Islamiyah),
hal. 112
[6] Op.Cit., Sulaiman Rasyid, hal. 192
[7] Ibid, hal. 207
[8] Ibid, hal. 208
[9] Ibid, hal. 209-210
[10] Wawancara guru Fiqih
[11] Op. Cit., Sulaiman Rasyid, hal. 213-214
[12] Ibid., hal. 217-218
[7] Ibid, hal. 207
[8] Ibid, hal. 208
[9] Ibid, hal. 209-210
[10] Wawancara guru Fiqih
[11] Op. Cit., Sulaiman Rasyid, hal. 213-214
[12] Ibid., hal. 217-218