Vous êtes sur la page 1sur 5

A.

Kasus
1. Identitas
a. Nama : Ny. EA
b. Jenis kelamin : Perempuan
c. Usia : 35 tahun
d. Pekerjaan : ibu rumah tangga
2. Anamnesis
a. Keluhan utama: payudara kanan bengkak dan kemerahan sejak 2 minggu
terakhir
b. Riwayat penyakit sekarang
1 tahun sebelum masuk rumah sakit pasien mengeluhkan payudara terasa
kencang dan merah. Pasien ke dokter dan dikatakan menderita mastitis. Pasien
memiliki riwayat menyusui hanya pada payudara kiri
4 bulan sebelum masuk rumah sakit, payudara kanan pasien masih meradang
dan bertambah bengkak. Pasien didiagnosis sebagai abses mammae dan
dilakukan insisi drainase di RSUD
Sejak 2 minggu terakhir, payudara kembali meradang dan muncul
pembengkakan di sebelah daerah insisi sebelumnya.

c. Riwayat penyakit
Riwayat penyakit hipertensi, diabetes mellitus dan alergi disangkal. Riwayat
penyakit yang sama pada keluarga juga disangkal.
3. Pemeriksaan fisik
a. Vital sign: TD: 110/80 HR: 78 RR: 18 T: 37 celcius
b. Status lokalis: payudara kanan tampak kemerahan dan terdapat bekas
operasi pada arah jam 1. Pada sebelah lokasi insisi terdapat pembengkakan
local yang nyeri dan kemerahan. Dicurigai berisi pus.
c. Pulmo
i. Inspeksi : simetris kanan dan kiri
ii. Palpasi : pengembangan dada simetris
iii. Perkusi : sonor
iv. Auskultasi : vesikuler +/+
d. Cor
i. Inspeksi : ictus cordis tak tampak
ii. Palpasi : ictus cordis tidak teraba
iii. Perkusi : cardiomegali (-)
iv. Auskultasi : S1 dan S2 reguler
e. Abdomen
i. Inspeksi: tidak tampak kelainan kulit
ii. Auskultasi: bising usus (+)
iii. Palpasi: nyeri tekan (-) hepatomegali (-), splenomegali (-)
iv. Perkusi: timpani pada lapang perut
4. Pemeriksaan penunjang
Komponen Hasil

Angka leukosit 9,39

Neutrofil 60%

Limfosit 31.9%

Monosit 6,6%

Eosinofil 1%

Basofil 0,5%

Angka eritrosit 4,9

Hemoglobin 14,2

Haematrokit 42,7

Angka trombosit 371

5. Diagnosis
Abses mammae

6. Tatalaksana
Pro Insisi Drainase
Ceftriaxone 1g/12 jam
Metronidazole 500mg/8jam

B. Anatomi dan Histologi


Payudara terdiri dari kelenjar mammaria dan jaringan penyokong fibrosa yang tertanam dalam
jaringan adiposa. Kelenjar mammaria berada pada jaringan subkutan dan berada diatas
muskulus pectoralis mayor dan minor. Pada puncak payudara terdapat papilla mammae yang
dikelilingi area kulit sirkular yang berpigmentasi disebut areola.
Jumlah jaringan adipose yang mengelilingi jaringan kelenjar menentukan ukuran payudara.
Bagian dasar dari payudara melintang dari batas lateral sternum hingga linea axilaris anterior
dan secara vertical dari costa kedua sampai keenam. Dua pertiga dari dasar payudara ddibentuk
oleh fascia pectoralis dan sepertiga lainnya dari fascia seratus anterior. Antara payudara dan
fascia pectoralis terdapat jaringan subkutan longgar atau ruangan potensial yang disebut
spatium retromammaria. Ruangan ini mengandung sedikit jaringan adipose sehingga jaringan
payudara dapat bergerak bebas terhadap fascia pectoralis. Sebagian kecil dari jaringan kelenjar
mammae dapat memanjang hingga fossa axillaris yang disebut processus axillaris
Kelenjar mammae melekat kuat dengan dermis diatasnya terutama melalui ligament
suspensorium. Jaringan ikat fibrosa ini membantu untuk menyokong lobus dan lobules dari
kelenjar mammae.
Selama pubertas, payudara mengalami perkembangan dan pembesaran, terutama melalui
deposisi lemak. Bagian areola dan papilla mammae juga membesar. Perkembangan duktus
laktiferus membentuk 15-20 lobulus glandula mamme yang membentuk parenkim kelenjar
mamme. Lobules tersebut akan drainase menuju duktus laktiferus. Setiap duktus memiliki
sinus laktiferus yang merupakan bagian duktus yang terdilatasi di dalam areola. Susu akan
berakumulasi didalam sinus dan saat ada kompresi pada areola, susu akan tersekresi dari sinus.
Areola mengandung banyak kelenjar sebasea yang akan membesar selama kehamilan dan
mengeluarkan cairan minyak untuk lubrikasi protektif untuk areola dan papilla selama
menyusui. Ujung dari papilla mamme terdapat muara dari duktus laktiferus. Papilla mammae
terdiri atas jaringan otot polos yang akan menekean duktus laktiferus selama laktasi.
Vaskularisasi payudara berasal dari ramus mamaria medial cabang a. thoracica interna, a.
thoracica lateral dan a. thoracoacromial cabang dari a. axillaris dan a. intercostais posterior
cabang dari aorta thoracica. Drainase vena dari payudara menuju vena axillaris tetapi ada juga
yang menuju vena thoracica interna. Drainase limfatik dari papilla mammae, erola dan lobules
kelenjar menuju subareolar limfatik plexus lalu menuju lnn. Pectoralis lalu lnn. Axillaris.
Bagian medial payudara menuju lnn. Parasternal atau ke limfonodi payudara kontralateral.
Innervasi dari payudara berasal dari ramus cutaneous anterior dan lateral n. intercostal keempat
hingga keenam.

C. Patofisiologi
Disaat duktus laktiferus mengalami epidermalisasi, produksi keratin dapat menyebabkan
penyumbatan pada duktus yang dapat menyebabkan formasi abses. Hal ini menjelaskan
mengapa dapat terjadi rekurensi pada pasien dengan tindakan insisi dan drainase. Karena tehnik
tersebut tidak menghilangkan patofisiologi penyumbatan pada duktus laktiferus.
Mastitis postpartum merupakan selulitis terlokalisasi yang disebabkan oleh invasi bakteri
melalui papilla mammae yang teriritasi. Hal ini biasanya muncul pada minggu kedua post
partum dan diperberat dengan stasis kelenjar payudara. Biasanya terdapat riwayat cracked
nipple atau abrasi kulit. S. aureus merupakan organisme utama penyebab namun juga bisa
terjadi oleh S. epidermidis dan Streptococci. Drainase susu dari bagian yang meradang harus
dianjurkan melalui menyusui atau menggunakan pompa bayi.
Infeksi nonlaktasi dapat dibagi menjad central(periareolar) dan peripheral. Infeksi periareolar
terdiri atas inflamasi aktif disekitar duktus laktiferus yang tidak terdilatasi, disebut periduktal
mastitis. Peripheral mastitis lebih jarang terjadi dan berhubungan dengan keadaan diabetes,
rheumatoid artritis, penggunaan steroid dan trauma.
D. Klinis
Pasien dengan infeksi payudara dapat mengeluhkan kemerahan, panas, bengkak dan nyeri pada
payudara yang meradang. Gejala juga dapat disertai dengan demam. Riwayat pasien meliputi
kesulitan laktasi untuk keluar, pembengkakan payudara dan iritasi papilla mammae.

E. Pemeriksaan penunjang
Pada pasien dengan abses mammae, pemeriksaan lab untuk leukosit dengan hitung diferensial
dapat membantu diagnosis. Kultur bakteri dari cairan drainase, untuk menentukan jenis dan
sensitivitas antibiotik.
Penggunaan USG untuk memandu drainase menggunakan jarum halus dapat dilakukan pada
abses dengan ukuran dibawah 3 cm namun hal ini memiliki tingkat rekurensi yang tinggi.
F. Penanganan
Pada umumnya, mastitis ditangani dengan terapi antibiotic selama 10-14 hari, kompres hangat
dan pengosongan payudara dengan menyusi atau pompa susu setiap 2 jam atau saat terasa
penuh.
Terapi antibiotic dengan pengosongan payudara terbutki lebih superior dibandingkan dengan
pengosongan payudara saja dalam pengurangan gejala, menurunnya tingkat rekurensi dan
mengurangi risiko berkembangnya abses. Pada ibu menyusi dapat digunakan antibiotic anti
beta-laktamase penisilin. Pilihan lain antara lain dicloxacilin 500mg 4 kali sehari atau
cephalexin 500mg 4 kali sehari selama 10-14 hari. Pada keadaan mastitis, menyusi untuk bayi
tidak berbahaya. Pada mastitis nonpuerperal gunakan clindamycin 600 mg setiap 8 jam IV atau
300 mg setiap 6 jam peroral. Atau amoxicillin clavulanat 500 mg setiap 8 jam.
Pada abses payudara, insisi dan drainase merupakan pelayanan yang standar diberikan.
Meskipun memiliki tingkat rekurensi yang rendah, tindakan tersebut lebih invasive dari
aspirasi dengan jarum dan memiliki tingkat scarring yang tinggi dan kosmetik outcome yang
buruk. Aspirasi jarum halus dapat dilakukan sebagai first line therapy pada abses yang kurang
dari 5cm. meskipun kesembuhan dapat muncul dengan terapi antibiotic dan aspirasi serial,
reseksi bedah dilakukan pada duktus laktiferus yang terinfeksi dan terobstruksi dan
memberikan tingkat rekurensi yang rendah.
G. Prognosis
Pada mastitis resolusi dapat muncul dalam 2-3 minggu. Pada abses mammae, tingkat
rekurensi tinggi sekitar 39-50% meskipun ditangani dengan insisi dan drainase. Tingkat
rekurensi paling tinggi jika hanya dilakukan aspirasi dengan jarum.

Referensi
• Brunicardi, F., Andersen, D., Billiar, T., Dunn, D. and Hunter, J. .2015. Schwartz's
principles of surgery. 10th ed. New York: McGraw-Hill Education.
• Sjamsuhidajat, R. .2010. Buku ajar ilmu bedah. 3rd ed. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran ECG.