Vous êtes sur la page 1sur 28

MAKALAH PRESENTASI KASUS

ABSES HATI PIOGENIK

PIOPNEUMOTHORAX

DISUSUN OLEH:

dr. RINA KARINA

PROGRAM DOKTER INTERNSHIP RSUD KOTA


TANGERANG

PERIODE MEI 2017-MEI 2018

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Rina Karina
BORANG PORTOFOLIO V

Nama Peserta : dr. Rina Karina

Nama Wahana : RSUD Kota Tangerang

Topik : Abses Hepar

Tanggal (kasus) : 19 November 2017


Nama Pasien : Ny. R, 46 th RM : 001326xx
Tanggal Presentasi : 5 Desember 2017 Nama Pendamping :
Tempat Presentasi : Ruang Komite Medik dr. Tintin Supriatin
Obyektif Presentasi :
 Keilmuan  Keterampilan  Penyegaran  Tinjauan Pustaka
 Diagnostik  Manajemen  Masalah  Istimewa
 Neonatus  Bayi  Anak  Remaja  Dewasa  Lansia  Bumil
 Deskripsi
 Tujuan
Bahan Bahasan  Tinjauan  Riset  Kasus  Audit
Pustaka
Cara Membahas  Diskusi  Presentasi  Email  Pos
: dan Diskusi

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Rina Karina
Data Pasien No. Registrasi :
Nama : Ny. R, 46 th 001326xx
Data Utama untuk Bahan Diskusi :
1. Diagnosis/Gambaran Klinis
Diagnosis
- Abses Hepar Piogenik
- Hiponatremia simptomatik
- Anemia ringan
- Piopneumothorax dextra ec susp. TB
- Subkorneal Pustulosa
Nyeri pada seluruh lapang perut sejak 1 minggu lalu disertai sesak napas. Sesak napas
dirasakan sepanjang hari dan terus-menerus, tidak berhubungan dengan aktivitas.
Keluhan juga disertai batuk kering, demam namun tidak tinggi, nafsu makan
menurun, mual dan muntah >3x /hari. Pasien mengalami penurunan berat badan
sebanyak 10 kg dalam 1 bulan. Pasien merasakan lemas seluruh tubuh sejak 1 minggu
lalu. Muncul bintil berair di leher, pinggang dan perut sejak 3 hari lalu. Bintil awalnya
berwarna jernih kemudian berubah menjadi kekuningan disertai kemerahan.
2. Riwayat Pengobatan
Pasien pernah dirawat inap di RSUD Kota Tangerang dengan keluhan sesak napas 1
bulan lalu. Pasien didiagnosa dengan efusi pleura namun saat disedot cairan tidak
keluar.
3. Riwayat Kesehatan/penyakit
Riwayat DM, TB paru dan Hepatitis disangkal. Riwayat Hipertensi dan jantung
diakui, pasien minum obat kendaron 1x200 mg, KSR 1x1, Ramipril 1x2,5 mg, dan
spironolakton 1x25 mg.
4. Riwayat Keluarga
Dikeluarga tidak ada yang mengalami hal serupa.
5. Riwayat Pekerjaan dan Lingkungan
Pasien seorang buruh cuci dan tinggal di lingkungan rumah padat penduduk.

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Rina Karina
Daftar Pustaka
Sudoyo AW, Bambang S, Idrus A, Marcellus SK, Siti S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.
Jakarta: FK Universitas Indonesia; 2006.
Crawford, James M. Hati dan saluran empedu. Dalam : Kumar. Cotran. Robbins. Robbins
buku ajar patologi vol.2 edisi 7. Jakarta : EGC. 2007. Hal 684.
Fauci. et all. Infectious disease. In : Harrison’s principles of internal medicine 17th edition.
USA. 2008. Chapter 202.

Hasil Pembelajaran :
1. Diagnosis Abses Hepar
2. Etiologi abses hepar
3. Komplikasi abses hepar
4. Tatalaksana pada pasien dengan abses hepar
5. Informasi dan edukasi mengenai penyakit pasien dan perubahan gaya hidup
1. Subjektif Nyeri pada seluruh lapang perut sejak 1 minggu lalu disertai sesak
napas. Sesak napas dirasakan sepanjang hari dan terus-menerus, tidak
berhubungan dengan aktivitas. Keluhan juga disertai batuk kering,
demam namun tidak tinggi, nafsu makan menurun, mual dan muntah
>3x /hari. Pasien mengalami penurunan berat badan sebanyak 10 kg
dalam 1 bulan. Pasien merasakan lemas seluruh tubuh sejak 1 minggu
lalu. Muncul bintil berair di leher, pinggang dan perut sejak 3 hari
lalu. Bintil awalnya berwarna jernih kemudian berubah menjadi
kekuningan disertai kemerahan. Pasien pernah dirawat inap di RSUD
Kota Tangerang dengan keluhan sesak napas 1 bulan lalu. Pasien
didiagnosa dengan efusi pleura namun saat disedot cairan tidak
keluar. Riwayat Hipertensi dan jantung diakui, pasien minum obat
kendaron 1x200 mg, KSR 1x1, Ramipril 1x2,5 mg, dan spironolakton
1x25 mg.
2. Objektif  KU tampak sakit sedang
 Kesadaran : Compos Mentis
 TD 120/80mmHg
 HR 84x/menit
 RR 24x/menit

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Rina Karina
 T 37,1’c
 Mata : konjungtiva anemis +/+ sklera ikterik -/-
 Leher : JVP 5 +0 cm
 Jantung : S1S2 reguler, murmur(-) gallop (-)
 Paru : vesikuler (menurun/+), rhonki -/- wheezing -/-
 Abdomen : distended, BU (+) normal, nyeri tekan seluruh
lapang abdomen (+), hepatomegali (+)
 Ekstremitas : akral hangat, tidak ditemukan oedem tungkai
 Laboratorium :
Tanggal 19/11/2017
Hb 8,5 g/dL
HT 24 %
Leukosit 17.600/uL
Trombosit 900.000/uL
Eritrosit 3,8 jt
LED 130
MCV 78
MCH 28
MCHC 35
Hitung jenis :
Basofil 0
Eosinophil 1
Neutrophil segmen 83
Limfosit 9
Monosit 7
Na 102 mmol/L
K 5,5 mmol/L
Cl 77 mmol/L
Ureum 22 mg/dl
Creatinin 0,7 mg/dl
SGOT 33
SGPT 52

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Rina Karina
GDS 87 mg/dl
pH 7.497
pCO2 29.3
pO2 77
HCO3 23
O2 saturasi 96.6
BE -0.6
ctCO2 24

Tanggal 20/11/2017
Na 104 mmol/L
K 4,8 mmol/L
Cl 81 mmol/L

Tanggal 21/11/2017
Na 111 mmol/L
K 4,1 mmol/L
Cl 84 mmol/L

Tanggal 22/11/2017
Na 108 mmol/L
K 4,3 mmol/L
Cl 83 mmol/L
antiHIV non reaktif
HbA1C 6,7
GDP 71

Tanggal 23/11/2017
Hb 6,7 g/dL
HT 20 %
Leukosit 25.700/uL
Trombosit 717.000/uL

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Rina Karina
Eritrosit 2,45 jt
Hitung jenis :
Basofil 0
Eosinophil 0
Neutrofil batang 2
Neutrophil segmen 87
Limfosit 7
Monosit 4
Na 127 mmol/L
K 3,1 mmol/L
Cl 90 mmol/L

Tanggal 24/11/2017
Na 120 mmol/L
K 2,2 mmol/L
Cl 82 mmol/L

Tanggal 25/11/2017
Hb 10,3 g/dL
HT 31 %
Leukosit 29.400/uL
Trombosit 626.000/uL
Eritrosit 3,77 jt
Hitung jenis :
Basofil 0
Eosinophil 1
Neutrophil segmen 91
Limfosit 4
Monosit 4
Na 127 mmol/L
K 3,0 mmol/L
Cl 95 mmol/L

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Rina Karina
Bilirubin total 1,38
Bilirubin direk 1,3
Bilirubin indirek 0.08
SGOT 19
SGPT 14

Tanggal 27/11/2017
Hb 11,1 g/dL
HT 33 %
Leukosit 23.000/uL
Trombosit 625.000/uL
Eritrosit 4,01 jt
Hitung jenis :
Basofil 0
Eosinophil 1
Neutrophil segmen 87
Limfosit 7
Monosit 5
Na 120 mmol/L
K 2,6 mmol/L
Cl 84 mmol/L

Tanggal 29/11/2017
Hb 10,3 g/dL
HT 31 %
Leukosit 18.900/uL
Trombosit 644.000/uL
Eritrosit 3,69 jt
Hitung jenis :
Basofil 0
Eosinophil 2
Neutrophil segmen 87

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Rina Karina
Limfosit 6
Monosit 5
Protein total 4,2
Albumin 2,8
Globulin 1.40
Bilirubin total 0.81
Bilirubin direk 0.7
Bilirubin indirek 0.11
SGOT 41
SGPT 16

30/11/2017
Sitologi cairan: tidak ditemukan sel tumor ganas

 MSCT Thorax Contrast

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Rina Karina
BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG
PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Rina Karina
BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG
PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Rina Karina
Kesan :
∞ Hepatomegali yang meluas ke peri-pararenal space,
dinding posterior subcutaneous cavum abdomen posterior
kanan, dan menempel dengan hemidiafragma kanan, tidak
tampak adanya destruksi/erosi ossa costae/vertebrae
disekitarnya
∞ Massive complex pleural effusion kanan, dengan struktur
bronchus yang tervisualisasi masih terkesan regular
disertai pendesakan mediastinal.
∞ Tak tampak adanya pericardial effusion.
∞ Subcentimeter mediastinal lymph node pada right lower
paratrachea

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Rina Karina
 Rontgen thorax
Tanggal 19/11/2017

Kesan : Efusi Pleura Masif Dextra

Tanggal 21/11/2017

Kesan : Efusi Pleura Dextra perbaikan

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Rina Karina
Tanggal 27/11/2017

Kesan : Efusi Pleura Dextra perbaikan


 EKG

Kesan :
Sinus ritme, HR 101, gelombang P normal, interval PR
normal, kompleks QRS normal, abnormalitas segmen ST dan
gelombang T tidak ada.

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Rina Karina
 Follow up tanggal 20/11/2017
S: sesak napas (+) batuk (+) Demam (-) muaal (+) muntah (+)
O: CM
TD 110/70mmHg
HR 76x/menit
RR 24x/menit
T 36’c
Mata : konjungtiva anemis +/+ sklera ikterik -/-
Leher : JVP 5 +0 cm
Jantung : S1S2 reguler, murmur(-) gallop (-)
Paru : vesikuler (menurun/+), rhonki -/- wheezing -/-
Abdomen : distended, BU (+) normal, nyeri tekan seluruh
lapang abdomen (+), hepatomegali (+)
Ekstremitas : akral hangat, tidak ditemukan oedem tungkai
A: Hiponatremia Simptomatik
Herpes zoster + infeksi sekunder
Mild Anemia
Efusi pleura dextra dd/ Atelektasis paru
Pneumonia
P : - IVFD NaCl 3% 20 tetes/menit
- nebu combivent 6x
- Ceftriakson 1x2 gr
- TSA 3x1
- Topikal mupirocin 3x/hari untuk pustule
- Cloderma untuk bagian eritema
- Zegaze 1x/hari
Monitoring : Natrium per hari, bila Na>130 stop NaCl 3 dan
ganti dengan NaCl 0,9% 20 tetes/menit
 Follow up tanggal 21/11/2017
S: sesak napas (+) batuk (+)
O: CM
TD 110/70mmHg

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Rina Karina
HR 80x/menit
RR 24x/menit
T 36’c
Mata : konjungtiva anemis +/+ sklera ikterik -/-
Leher : JVP 5 +0 cm
Jantung : S1S2 reguler, murmur(-) gallop (-)
Paru : vesikuler (menurun/+), rhonki -/- wheezing -/-
Abdomen : distended, BU (+) normal, nyeri tekan seluruh
lapang abdomen (+), hepatomegali (+)
Ekstremitas : akral hangat, tidak ditemukan oedem tungkai
A: Hiponatremia Simptomatik
Herpes zoster + infeksi sekunder
Mild Anemia
Piopneumothorax dextra ec susp. TB
P : - IVFD NaCl 3% 20 tetes/menit
- nebu combivent 6x
- Ceftriakson 1x2 gr
- Gentamicin 1x160 mg iv
- Metronidazole 3x500 mg iv
- RHZE 450/300/1000/1000
- TSA 3x1
- Topikal mupirocin 3x/hari untuk pustule
- Cloderma untuk bagian eritema
- Zegaze 1x/hari
- Cek GDP, GD2PP, HbA1C dan anti HIV
Monitoring : Natrium per hari, bila Na>130 stop NaCl 3 dan
ganti dengan NaCl 0,9% 20 tetes/menit
- Dilakukan pemasangan WSD, cairan keluar 1500 cc.
 Follow up tanggal 22/11/2017
S: sesak napas menurun (+) batuk (+)
O: CM
TD 120/70mmHg

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Rina Karina
HR 84x/menit
RR 24x/menit
T 36’c
Mata : konjungtiva anemis +/+ sklera ikterik -/-
Leher : JVP 5 +0 cm
Jantung : S1S2 reguler, murmur(-) gallop (-)
Paru : vesikuler (+/+), rhonki -/- wheezing -/-
Terpasang WSD cairan berwarna kekuningan, produksi 2700
cc
Abdomen : distended, BU (+) normal, nyeri tekan seluruh
lapang abdomen (+), hepatomegali (+)
Ekstremitas : akral hangat, tidak ditemukan oedem tungkai
A: Hiponatremia Simptomatik
Subkorneal pustulosa
Mild Anemia
Piopneumothorax dextra ec susp. TB
P : - IVFD NaCl 3% 20 tetes/menit
- nebu combivent 6x
- Ceftriakson 1x2 gr
- Gentamicin 1x160 mg iv
- Metronidazole 3x500 mg iv
- RHZE 450/300/1000/1000
- TSA 3x1
- Topikal mupirocin 3x/hari untuk pustule
- Cloderma untuk bagian eritema
- Zegaze 1x/hari
 Follow up tanggal 23/11/2017
S: sesak napas menurun (+) batuk (+)
O: CM
TD 90/70mmHg
HR 82x/menit
RR 22x/menit

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Rina Karina
T 36’c
Mata : konjungtiva anemis +/+ sklera ikterik -/-
Jantung : S1S2 reguler, murmur(-) gallop (-)
Paru : vesikuler (+/+), rhonki -/- wheezing -/-
Terpasang WSD cairan berwarna kekuningan, produksi 200
cc
Abdomen : distended, BU (+) normal, nyeri tekan seluruh
lapang abdomen (+), hepatomegali (+)
A: Abses hepar dextra
Hiponatremia perbaikan
Subkorneal pustulosa
Mild Anemia
Piopneumothorax dextra ec susp. TB
P : - IVFD NaCl 0,9% 20 tetes/menit
- Terapi lain lanjut
- Kultur dan sensitivitas cairan pleura
 Follow up tanggal 24/11/2017
S: bicara kacau
O: CM
TD 120/70mmHg
HR 84x/menit
RR 22x/menit
T 36’c
Jantung : S1S2 reguler, murmur(-) gallop (-)
Paru : vesikuler (+/+), rhonki -/- wheezing -/-
Terpasang WSD cairan berwarna kekuningan, produksi 200
cc
Abdomen : distended, BU (+) normal, nyeri tekan seluruh
lapang abdomen (+), hepatomegali (+)
A: Abses hepar dextra
Hiponatremia
Subkorneal pustulosa

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Rina Karina
Mild Anemia
Piopneumothorax dextra ec susp. TB
P : - IVFD NaCl 3% 12 tetes/menit
- Transfusi PRC 2 bag
- Drip KCl 25 meq dalam 8 jam
- Meropenem 3x1 gr
- Ceftriaxon stop
- Terapi lain lanjut
 Follow up tanggal 25/11/2017
S: sesak napas menurun (+) batuk (+) mual (+) muntah (+)
O: CM
TD 110/70mmHg
HR 64x/menit
RR 20x/menit
T 36’c
Mata : konjungtiva anemis +/+ sklera ikterik -/-
Jantung : S1S2 reguler, murmur(-) gallop (-)
Paru : vesikuler (+/+), rhonki -/- wheezing -/-
Terpasang WSD cairan berwarna kekuningan
Abdomen : distended, BU (+) normal, nyeri tekan seluruh
lapang abdomen (+), hepatomegali (+)
A: Abses hepar dextra
Hiponatremia perbaikan
Subkorneal pustulosa
Mild Anemia
Piopneumothorax dextra ec susp. TB
P : - IVFD NaCl 0,9% 20 tetes/menit
- KCl stop, ganti KSR 3x1 tab
- Cek SGOT, SGPT, bilirubin total, direk dan indirek
- Terapi lain lanjut

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Rina Karina
 Follow up tanggal 27/11/2017
S: perut kembung (+) mual (+) muntah (+)
O: CM
TD 120/80mmHg
HR 84x/menit
RR 22x/menit
T 36,4’c
Jantung : S1S2 reguler, murmur(-) gallop (-)
Paru : vesikuler (+/+), rhonki -/- wheezing -/-
Terpasang WSD cairan berwarna kekuningan, produksi 50 cc
Abdomen : distended, BU (+) normal, nyeri tekan seluruh
lapang abdomen (+), hepatomegali (+)
A: Abses hepar dextra
Hiponatremia perbaikan
Subkorneal pustulosa
Mild Anemia
Piopneumothorax dextra ec susp. TB
P : - IVFD NaCl 3% 12 tetes/menit
- Hepatin 3x1 tab
- Sucralfat 3xC1
- Terapi lain lanjut
 Follow up tanggal 28/11/2017
S: sesak menurun
O: CM
TD 100/80mmHg
HR 100x/menit
RR 22x/menit
T 37’c
Jantung : S1S2 reguler, murmur(-) gallop (-)
Paru : vesikuler (+/+), rhonki -/- wheezing -/-
Terpasang WSD cairan berwarna kekuningan, produksi 50 cc
Abdomen : distended, BU (+) normal, nyeri tekan seluruh

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Rina Karina
lapang abdomen (+), hepatomegali (+)
A: Abses hepar dextra
Hiponatremia perbaikan
Subkorneal pustulosa
Mild Anemia
Piopneumothorax dextra ec susp. TB
P : - Terapi lanjut
- Cek H2TL, SGOT/PT, Bil.total, direk,indirek
 Follow up tanggal 29/11/2017
S: sesak menurun, batuk menurun
O: CM
TD 120/80mmHg
HR 80x/menit
RR 22x/menit
T 36,4’c
Jantung : S1S2 reguler, murmur(-) gallop (-)
Paru : vesikuler (+/+), rhonki -/- wheezing -/-
Abdomen : distended, BU (+) normal, nyeri tekan seluruh
lapang abdomen (+), hepatomegali (+)
A: Abses hepar dextra
Hiponatremia perbaikan
Subkorneal pustulosa
Mild Anemia
Piopneumothorax dextra ec susp. TB
P : - aff WSD
Pasien rawat jalan
3. Assessment  Abses hati adalah bentuk infeksi pada hati yang disebabkan
karena infeksi bakteri, parasit, jamur maupun nekrosis steril
yang bersumber dari sistem gastrointestinal yang ditandai
dengan adanya proses supurasi dengan pembentukan pus di
dalam parenkim hati. Pada umumnya abses hati dibagi dua
yaitu abses hati amebik (AHA) dan abses hati pyogenik

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Rina Karina
(AHP). AHA terutama disebabkan oleh E. Histolytica.
Etiologi Abses hati piogenik adalah enterobacteriaceae,
microaerophilic streptococci, anaerobic streptococci,
klebsiella pneumonia, bacteroides, fusobacterium, S. aureus,
S. milleri, candida albicans, aspergillus, actinomyces,
eikenella corrodens, yersinia enterolitica, S. typhi, brucella
militensis, dan fungal.
 Abses hati piogenik dapat terjadi melalui infeksi yang berasal
dari :
1. vena porta yaitu infeksi pelvis atau gastrointestinal, bisa
menyebabkan pielflebitis porta atau emboli septik.
2. saluran empedu merupakan sumber infeksi yang tersering.
Kolangitis septik dapat menyebabkan penyumbatan saluran
empedu seperti juga batu empedu, kanker, striktura saluran
empedu ataupun anomali saluran empedu kongenital.
3. infeksi langsung seperti luka penetrasi, fokus septik
berdekatan seperti abses perinefrik, kecelakaan lau lintas.
4. septisemia atau bakterimia akibat infeksi di tempat lain.
5. kriptogenik tanpa faktor predisposisi yang jelas, terutama
pada organ lanjut usia
 Penegakkan diagnosis abses hepar piogenik berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan fisik disertai pemeriksaan
penunjang yang mendukung.
 Sindrom klinis klasik abses hati piogenik berupa nyeri
spontan perut kanan atas, ditandai jalan membungkuk ke
depan dengan dua tangan ditaruh diatasnya. Selain itu,
demam tinggi (keluhan utama) disertai keadaan syok.
Setelah era pemakaian antibiotik yang adekuat, gejala dan
manifestasi abses hati piogenik adalah malaise, demam tidak
terlalu tinggi dan nyeri tumpul pada abdomen yang
menghebat dengan adanya pergerakan.

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Rina Karina
 Apabila abses hati piogenik letaknya dekat diafragma, akan
timbul iritasi diafragma sehingga terjadi nyeri bahu kanan,
batuk, ataupun atelektasis (terutama akibat AHA). Gejala
lain, mual, muntah, anoreksia, berat badan turun yang
unintentional, badan lemah, ikterus, berak seperti kapur, dan
urin berwarna gelap.
 Gejala klinis Abses hepar piogenik sesuai dengan yang
dialami pada pasien yaitu nyeri abdomen, mual, muntah,
berat badan yang turun, serta sesak napas dan batuk kering.
 Pada pemeriksaan fisik didapatkan subfebris hingga demam
tinggi, pada palpasi terdapat hepatomegaly serta perkusi
nyeri tekan hepar, yang diperberat dengan adanya
pergerakan abdomen, splenomegaly didapatkan apabila
abses hepar piogenik telah menjadi kronik, selain itu bisa
didapatkan asites, icterus serta tanda-tanda hipertensi portal.
 Hal ini sesuai dengan pemeriksaan fisik yang didapatkan
pada pasien yaitu demam dan terdapat hepatomegaly.
 Pada laboratorium didapatkan leukositosis dengan
pergeseran ke kiri, anemia; laju endap darah, alkali fosfatase,
transaminase dan serum bilirubin meningkat; konsentrasi
albumin serum menurun dan waktu protrombin yang
memanjang.
 Anemia pada pasien terjadi karena adanya penyakit kronis
yaitu abses hepar. Penyebab utama dari anemia akibat
penyakit kronis adalah ketidakmampuan tubuh
meningkatkan produksi eritrosit. Patogenesis dari anemia
akibat penyakit kronis adalah :
1. Destruksi eritrosit yang disebabkan oleh aktivasi faktor
pejamu seperti makrofag yang memfagosit yang eritrosit
secara prematur.

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Rina Karina
2. Resistensi dan inadekuasi eritropoetin. Penurunan
produksi eritropoetin disebabkan oleh efek inhibisi
sitokin inflamasi seperti TNF alfa dan interleukin 1.
 Pada pasien juga terjadi hiponatremia, hal ini dapat
diakibatkan oleh penggunaan obat diuretic pada pasien yaitu
spironolakton serta obat ACE inhibitor yaitu ramipril yang
menyebabkan ekskresi natrium di ginjal meningkat. Selain
itu, diperberat dengan asupan makan yang rendah serta
peningkatan pengeluaran asupan makan akibat muntah yang
dialami pasien.
 Tes serologi digunakan untuk menyingkirkan diagnosis
banding. Kultur darah memperlihatkan bacterial penyebab
menjadi standar emas penegakan diagnosis secara
mikrobiologik. Pemeriksaan foto thoraks dan foto polos
abdomen: diafragma kanan meninggi, efusi pleura,
atelektasis basiler, empiema atau abses paru. Pada foto
thoraks PA: sudut kardiofrenikus tertutup; foto thoraks
lateral: sudut kostofrenikus anterior tertutup. Di bawah
diafragma terlihat air fluid level. Abses lobus kiri akan
mendesak kurvatura minor. Secara angiografik, abses
merupakan daerah avaskular. Abdominal CT-Scan atau
MRI, USG abdominal, sdan Biopsi Hati memiliki
sensitivitas yang tinggi.
 Sesuai dengan hasil laboratorium pada kasus didapatkan
anemia, leukositosis dengan pergeseran ke kiri yang ditandai
dengan adanya peningkatan neutrophil segmen. Pada
pemeriksaan foto toraks juga didaptkan gambaran efusi
pleural dan pada pemeriksaan MSCT dengan kontras
didapatkan gambaran abses hepar. Standar baku emas pada
abses hepar yaitu kultur hasil aspirasi, pada pasien
direncanakan untuk dilakukan kultur cairan pleura.

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Rina Karina
 Dapat terjadi penyulit pada abses piogenik berupa pecahnya
abses ke organ sekitarnya atau ke dalam rongga tubuh,
seperti perut, rongga dada atau pericard. Dapat pula terjadi
septisemia atau syok. Komplikasi ke rongga paru sangat
sering terjadi, sehingga menyebabkan efusi pleura, empiema
dan fistel bronkohepatik. Komplikasi ke intrabdominal juga
biasa didapatkan seperti asbes subfrenik dan ruptur ke
cavum peritoneum, perut, colon, vena cava dan ginjal. Abses
besar bisa menekan vena cava inferior dan vena hepatica
sehingga mengakibatkan sindrom Budd-Chiari. Ruptur ke
perikardium dan otak melalui pembuluh darah jarang terjadi.
 Pada pasien terjadi komplikasi yaitu efusi pleura, akibat dari
menyebarnya abses hati ke rongga paru sehingga
menimbulkan gejala sesak napas.
 Penatalaksanaan dengan antibiotik, pada terapi awal
digunakan penisilin. Selanjutnya dikombinasikan dengan
antara ampisilin, aminoglikosida, atau sefalosporin generasi
III dan klindamisin atau metronidazol. Jika dalam waktu 48-
72 jam, belum ada perbaikan klinis dan laboratoris, maka
antibiotik diganti dengan antibiotik sesuai hasil kultur
sensitivitas aspirat abses hati. Pengobatan secara perenteral
dapat dirubah menjadi oral setelah 10-14 hari, dan kemudian
dilanjutkan kembali hingga 6 minggu kemudian.
Pengelolaan dengan dekompresi saluran biliaris dilakukan
jika terjadi obstruksi sistem bilaris yaitu dengan rute
transhepatik atau dengan melakukan endoskopi.
 Prognosis abses piogenik sangat ditentukan diagnosis dini,
lokasi yang akurat dengan ultrasonografi, perbaikan dalam
mikrobiologi seperti kultur anaerob, pemberian antibiotik
perioperatif dan aspirasi perkutan atau drainase secara
bedah. Faktor utama yang menentukan mortalitas antara lain
umur, jumlah abses, adanya komplikasi serta bakterimia

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Rina Karina
polimikrobial dan gangguan fungsi hati seperti ikterus atau
hipoalbuminemia. Komplikasi yang berakhir mortalitas
terjadi pada keadaan sepsis abses subfrenik atau subhepatik,
ruptur abses ke rongga peritonium, ke pleura atau ke paru,
kegagalan hati, hemobilia, dan perdarahan dalam abses hati.
Prognosis buruk apabila: terjadi umur di atas 70 tahun, abses
multipel, infeksi polimikroba, adanya hubungan dengan
keganasan atau penyakit immunosupresif, terjadinya sepsis,
keterlambatan diagnosis dan pengobatan, tidak dilakukan
drainase terhadap abses, adanya ikterus, hipoalbuminemia,
efusi pleural atau adanya penyakit lain.
 Piopneumotoraks adalah suatu keadaan dimana terdapat
udara dan cairan disertai dengan nanah di dalam rongga
pleura yang mengakibatkan kolapsnya jaringan paru.
Piopneumotoraks diakibatkan oleh infeksi, yang berasal dari
mikroorganisme yang membentuk gas atau dari robekan
septik jaringan paru atau esofagus ke arah rongga pleura.
Kebanyakan adalah dari robekan abses subpleura dan sering
membuat fistula bronkopleura. Jenis kuman yang sering
terdapat adalah Stafilokokus aureus, Klebsiela,
mikobakterium tuberkulosis dan lain-lain. Etiologi
piopneumotoraks biasanya berasal dari paru seperti
pneumonia, abses paru, adanya fistula bronkopleura,
bronkiektasis, tuberkulosis paru, aktinomikosis paru, dan
dari luar paru seperti trauma toraks, pembedahan toraks,
torakosentesis pada efusi pleura, abses sub phrenik dan abses
hati amuba.
 Patofisologi dari empiema itu sendiri yaitu akibat invasi
kuman piogenik ke pleura. Hal ini menyebabkan timbuk
keradangan akut yang diikuti dengan pembentukan eksudat
seros. Dengan bertambahnya sel-sel PMN, baik yang hidup
ataupun yang mati dan peningkatan kadar protein didalam

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Rina Karina
cairan pleura, maka cairan pleura menjadi keruh dan kental.
Endapan fibrin akan membentuk kantung-kantung yang
akhirnya akan melokalisasi nanah tersebut.
 Jika sesak nafas makin lama makin bertambah maka harus
segera diambil tindakan. Tindakannya ialah pemasangan
WSD (Water Seal Drainage). Apabila penderita sesak sekali
sebelum WSD dapat dipasang, pasien harus segera
ditusukkan jarum ke dalam rongga pleura.
 Subcorneal pustular dermatosa adalah kelainan kulit kronik
berulang, ditandai dengan pembentukan pustula steril
subkorneal yang mengandung neutrofi dengan penyebab
yang tidak diketahui. Pustula-pustula tersebut terutama
mengenai batang tubuh, aksila, leher, lipatan payudara, dan
lipatan inguinal. Lesi primer timbul dalam beberapa jam
sebagai pustula yang lunak dengan diameter beberapa
milimeter, pada permukaan kulit yang normal atau sedikit
eritem. Pustula dapat diskret ataupun membentuk kelompok
dan pola anular, sirsinar, ataupun serpiginosa. Gatal dan
iritasi merupakan gambaran yang bervariasi tapi tidak
menonjol.
4. Plan  Pengobatan :
- NaCl 3% 20 tetes/menit
- Transfusi PRC 2 bag
- Nebu combivent 4x
- Ceftriaxone 1x2 gr iv
- Gentamicin 1x160 mg iv
- Metronidazole 3x500 mg iv
- Meropenem 3x1 gr
- RHZE 450/300/1000/1000
- TSA 3x1 caps
- KSR 3x1 tab
- Hepatin 3x 1 tab

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Rina Karina
- Sucralfat 3xC1
- Topikal mupirocin 3x/hari untuk pustule
- Cloderma untuk bagian eritema
- Zegaze 1x/hari

 Tindakan :
Pemasangan WSD

 Pemeriksaan penunjang :
Kultur dan resistensi cairan pleura

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Rina Karina