Vous êtes sur la page 1sur 8

ANDINI KARLINA CH – 04011281419120 – BETA PDU UNSRI 2014 – SKENARIO A BLOK 27

1. Sejak 6 hari yang lalu, Tn. Badu menderita demam tinggi, terus menerus. Demam dsertai
sakit kepala, nyeri otot, terutama otot betis, mual, mata merah, dan penglihatan silau. BAB
dan BAK biasa.
a. Bagaimana mekanisme nyeri otot terutama otot betis?
Jawab:
Pada otot rangka terjadi nekrosis, vakuolisasi dan kehilangan striata. Nyeri
otot yang terjadi pada leptospira disebabkan oleh invasi langsung leptospira. Nyeri
otot diduga terjadi karena adanya kerusakan otot sehingga kreatinin fosfokinase
(CPK) pada sebagian besar kasus meningkat

2. Sejak 2 hari yang lalu mata dan seluruh badan berwarna kuning. BAB biasa, BAK
berkurang berwarna the tua, demam masih ada.
a. Mengapa keluhan mata dan seluruh badan berwarna kuning, BAK berkurang
berwarna teh tua baru muncul sejak 2 hari yang lalu?
Jawab:
Masa inkubasi 2-26 hari, dengan manifestasi klinis dibagi menjadi 2 fase
penyakit yang khas yaitu fase leptospiremia dan fase imun.
Fase Leptopsiremia
Fase ini ditandai dengan adanya leptospira di dalam darah dan cairan
srebrospinal, berlangsung secara tiba-tiba dengan gejala awal sakit kepala biasanya
di bagian frontal, rasa sakit yang hebat terutama pada paha, betis dan pinggang
disertai dengan nyeri tekan. Mialgia dapat diikuti dengan hiperestesia kulit, demam
tinggi yang disertai mengigil, juga didapati mual muntah disertai mencret, bahkan
dapat terjadi penurunan kesadaran. Pada hari keempat dapat disertai dengan
konjungtiva suffusion dan fotofobia. Pada kulit dapat dijumpai rash berbentuk
macular, makulopapular atau urtikaria. Kadang dapat dijumpai hepatosplenomegali
dan limfadenopati. Fase ini berlangsung selama 4-7 hari.
Fase Imun
Fase ini ditandai dengan peningkatan titer antibody, dapat timbul demam
yang mencapai suhu 40oC disertai menggigil dan kelemahan umum. Terdapat rasa
sakit menyeluruh diotot-otot leher terutama diotot bagian betis. Terdapat
perdarahan berupa epistaksis, gejala kerusakan pada ginjal dan hati, uremia dan
ikterik. Perdarahan paling jelas terlihat pada fase ikterik, pupura, petechiae,
epistaksis, perdarahan gusi merupakan manifetasi perdarahan yang paling sering.
Conjunctiva injection dan conjunctiva suffusion dengan ikterus merupakan tanda
patognomosis untuk leptospirosis. Pada sekitar 50% pasien dapat terjadi meningitis.
Pada fase ini leptospira dapat dijumpai dalam urin. Gambaran perjalanan penyakit
leptospirosis dapat dilihat pada gambar dibawah ini

3. Tn. Badu, 40 tahun, pekerjaan petani sawah, dibawa ke IGD karena penurunan kesadaran
sejak 8 jam yang lalu. Sejak 8 jam yang lalu Tn. Badu tidak BAK , dan selalu mengantuk.
Demam masih ada, dan badan kuning masih ada.
Keterangan : saat ini musim hujan.
a. Apa penyebab penurunan kesadaran berdasarkan kasus?
Jawab:
Karena eritrosit yang matur membentuk knop sehingga menyebabkan
terjadinya sekuestrasi. Sekuestrasi paling sering terjadi di otak sehingga
menyebabkan kesadaran menurun.

4. Pemeriksaan fisik :
Keadaan Umum : V
Tampak sakit berat, kesadaran somnolen, TD 110/70, Nadi 100x/menit, pernafasan
20X/menit, suhu tubuh 39C.
a. Bagaimana interpretasi dari pemeriksaan fisik?
Jawab:
Pemeriksaan Nilai normal Interpretasi
Tampak sakit berat Tampak sehat Abnormal
Kesadaran Compos Mentis Abnormal
Somnolen
Tekanan darah ≤120/80 mmHg Normal
110/70
Nadi 100x/menit 60-100x/menit normal
Pernapasan 12-20x/menit normal
20x/menit
Suhu tubuh 390C 36,5-37,50C Meningkat
(demam)

5. Keadaan Spesifik : V
Mata : konjungtiva palpebral pucat, tampak konjungtiva ijection, ikterik, fotopobia,.
Abdomen : Hepar teraba 2 jari dibawah arcus costae.
Ekstremitas : nyeri tekan musculus gastrocnemius dextra et sinistra.
a. Bagaimana mekanisme abnormal dari keadaan spesifik? 789
Jawab:

6. Aspek Klinis
a. Algoritama penegakan diagnosis 891
Jawab:
b. Patogenesis 789
Jawab:
Transmisi infeksi leptospira ke manusia dapat melalui berbagai cara, yang
tersering adalah melalui kontak dengan air atau tanah yang tercemar bakteri
leptospira. Bakteri masuk ke tubuh manusia melalui kulit yang lecet atau luka dan
mukosa, bahkan dalam literatur disebutkan bahwa penularan penyakit ini dapat
melalui kontak dengan kulit sehat (intak) terutama bila kontak lama dengan air.
Selain melalui kulit atau mukosa, infeksi leptospira bisa juga masuk melalui
konjungtiva. Bakteri leptospira yang berhasil masuk ke dalam tubuh tidak
menimbulkan lesi pada tempat masuk bakteri. Hialuronidase dan atau gerak yang
menggangsir (burrowing motility) telah diajukan sebagai mekanisme masuknya
leptospira ke dalam tubuh.
Selanjutnya bakteri leptospira virulen akan mengalami multiplikasi di darah
dan jaringan. Sementara leptospira yang tidak virulen gagal bermultiplikasi dan
dimusnahkan oleh sistem kekebalan tubuh setelah 1 atau 2 hari infeksi. Leptospira
virulen mempunyai kemampuan motilitas yang tinggi, lesi primer adalah kerusakan
dinding endotel pembuluh darah dan menimbulkan vaskulitis serta merusak organ.
Vaskulitis yang timbul dapat disertai dengan kebocoran dan ekstravasasi sel.
Patogenitas leptospira yang penting adalah perlekatannya pada permukaan
sel dan toksisitas selular. Lipopolysaccharide (LPS) pada bakteri leptospira
mempunyai aktivitas endotoksin yang berbeda dengan endotoksin bakteri gram
negatif, dan aktivitas lainnya yaitu stimulasi perlekatan netrofil pada sel endotel
dan trombosit, sehingga terjadi agregasi trombosit disertai trombositopenia. Bakteri
leptospira mempunyai fosfolipase yaitu suatu hemolisis yang mengakibatkan
lisisnya eritrosit dan membran sel lain yang mengandung fosfolipid.
Organ utama yang terinfeksi kuman leptospira adalah ginjal dan hati. Di
dalam ginjal bakteri leptospira bermigrasi ke interstisium tubulus ginjal dan lumen
tubulus. Pada leptospirosis berat, vaskulitis akan menghambat sirkulasi mikro dan
meningkatkan permeabilitas kapiler, sehingga menyebabkan kebocoran cairan dan
hipovolemia. Hipovolemia akibat dehidrasi dan perubahan permeabilitas kapiler
salah satu penyebab gagal ginjal. Pada gagal ginjal tampak pembesaran ginjal
disertai edema dan perdarahan subkapsular, serta nekrosis tubulus renal. Sementara
perubahan yang terjadi pada hati bisa tidak tampak secara nyata. Secara
mikroskopik tampak perubahan patologi berupa nekrosis sentrolobuler disertai
hipertrofi dan hiperplasia sel Kupffer.
c. Komplikasi 468
Jawab:
Terdapat beberapa komplikasi dari leptospirosis, diantaranya adalah gagal
ginjal akut (95% dari kasus), gagal hepar akut (72% dari kasus), gangguan respirasi
akut (38% dari kasus), gangguan kardiovaskuler akut (33% dari kasus), dan
pankreatitis akut (25% dari kasus).
1. Gagal ginjal akut
Gagal ginjal akut yang ditandai dengan oliguria atau poliuria dapat timbul 4-
10 hari setelah gejala leptospirosis terlihat. Terjadinya gagal ginjal akut pada
penderita leptospirosis melalui 3 mekanisme:
a. Invasi/ nefrotoksik langsung dari leptospira
Invasi leptospira menyebabkan kerusakan tubulus dan glomerulus
sebagai efek langsung dari migrasi leptospira yang menyebar hematogen
menuju kapiler peritubuler kemudian menuju jaringan interstitium, tubulus,
dan lumen tubulus. Kerusakan jaringan tidak jelas apakah hanya efek migrasi
atau efek endotoksin leptospira.
b. Reaksi imunologi
Reaksi imunologi berlangsung cepat, adanya kompleks imun dalam
sirkulasi dan endapan komplemen dan adanya electron dence bodies dalam
glomerulus, membuktikan adanya proses immune-complex
glomerulonephritis dan terjadi tubulo interstitial nefritis.
c. Reaksi non spesifik terhadap infeksi seperti infeksi yang lain→ iskemia
ginjal
Hipovolemia dan hipotensi sebagai akibat adanya:
- Intake cairan yang kurang
- Meningkatnya evaporasi oleh karena demam
- Pelepasan kinin, histamin, serotonin, prostaglandin, semua ini akan
menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler sehingga terjadi
kebocoran albumin dan cairan intravaskuler.
- Pelepasan sitokin akibat kerusakan endotel menyebabkan
permeabilitas sel dan vaskuler meningkat.
- Hipovolemia dan hemokonsentrasi akan merangsang RAA dan
menyebabkan vasokonstriksi.
- Hiperfibrinogenemia akibat kerusakan endotel kapiler (DIC)
menyebabkan viskositas darah meningkat.
Iskemia ginjal, glomerulonefritis, tubulo interstitial nefritis, dan invasi kuman
menyebabkan terjadinya nekrosis → gagal ginjal akut.
2. Gagal hepar akut
Di hepar terjadi nekrosis sentrilobuler fokal dengan proliferasi sel Kupfer
disertai kolestasis. Terjadinya ikterik pada leptospirosis disebabkan oleh beberapa
hal, antara lain karena kerusakan sel hati, gangguan fungsi ginjal yang akan
menurunkan ekskresi bilirubin sehingga meningkatkan kadar bilirubin darah,
terjadinya perdarahan pada jaringan dan hemolisis intravaskuler akan
meningkatkan kadar bilirubin, proliferasi sel Kupfer sehingga terjadi kolestatik
intra hepatik.
3. Gangguan respirasi dan perdarahan paru
Adanya keterlibatan paru biasanya ditandai dengan gejala yang bervariasi,
diantaranya: batuk, dispnea, dan hemoptisis sampai dengan Adult Respiratory
Distress Syndrome ( ARDS ) dan Severe Pulmonary Haemorrhage Syndrome
( SPHS ). Paru dapat mengalami perdarahan dimana patogenesisnya belum
diketahui secara pasti. Perdarahan paru terjadi diduga karena masuknya endotoksin
secara langsung sehingga menyebabkan kerusakan kapiler dan terjadi perdarahan.
Perdarahan terjadi pada pleura, alveoli, trakeobronkial, kelainan berupa kongesti
septum paru, perdarahn alveoli multifokal, dan infiltrasi sel mononuklear.
Pada pemeriksaan histologi ditemukan adanya kongesti pada septum paru,
oedem dan perdarahan alveoli multifokal, esudat fibrin. Perdarahan paru dapat
menimbulkan kematian pada penderita leptospirosis.
4. Gangguan kardiovaskuler
Komplikasi kardiovaskuler pada leptospirosis dapat berupa gangguan sistem
konduksi, miokarditis, perikarditis, endokarditis, dan arteritis koroner. Manifestasi
dari gangguan kardiovaskuler ini sangat bervariasi dari tanpa keluhan sampai
bentuk yang berat berupa gagal jantung kongestif yang fatal. Selama fase
septikemia, terjadi migrasi bakteri, endotoksin, produk enzim atau antigen karena
lisisnya bakteri, akan meningkatkan permeabilitas endotel dan memberikan
manifestasi awal penyakit vaskuler.
5. Pankreatitis akut
Sebenarnya pankreatitis akut adalah komplikasi yang jarang ditemui pada
pasien leptospirosis berat. Pankreatitis terjadi karena adanya nekrosis dari sel-sel
pankreas akibat infeksi bakteri leptospira (acute necrotizing pancreatitis). Selain
itu, terjadinya pankreatitis akut pada leptospirosis bisa disebabkan karena
komplikasi dari gagalnya organ-organ tubuh yang lain (multiple organ failure),
syok septik, dan anemia berat (severe anemia).

d. SKDI 2468
Jawab: 4A

Sumber:
Anonim, 2005, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III, FK UI. Jakarta. Hal 1845-1848.
Hauser, Kasper et al, 2005, Harrison’s Principles of Internal Medicine 16 editions, Mc
Graw Hill. New York. Page 988-990.
Kayser, et al, 2005, Medical Microbiology, thieme. Page 328-330.
Sandra, Gompf, 2008, Leptospirosis, last up date August, 11, 2008. Download from
www.emedicine.com/leptospirosis.html.
Human Leptospirosis : Guidance for Diagnosis, Surveillans and Control. WHO and
International Leptospirosis Society 2003.