Vous êtes sur la page 1sur 73

Contoh Makalah Catur Marga Yoga dan Penerapannya dalam kehidupan

sehari hari

I. PENDAHULUAN
Di dalam agama Hindu dikenal adanya berbagai jalan untuk menghubungkan diri
dengan Tuhan Yang Maha Esa. Jalan atau cara itu bebas dipilih oleh umat-Nya sesuai dengan
sifat dan pembawaannya. Dalam kitab Bhagavad Gita Bab IV Sloka (11) disebutkan :
ye yatha mam prapadyante
tams tathai ‘va bhajamy aham
mama vartma ‘nuvartante
manushyah partha sarvasah
Jalan manapun ditempuh manusia kearah-Ku, semuanya Ku-terima, dari mana-mana semua
mereka menuju jalan-Ku, oh Parta.
Di dalam agama Hindu tidak ada suatu keharusan untuk menempuh satu-satu jalan,
karena semua jalan untuk menuju Tuhan Yang Maha Esa diturunkan oleh-Nya
untuk memudahkan umat-Nya menuju kepada-Nya. Empat jalan untuk menghubungkan diri,
yang dimaksud adalah menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa. Usaha untuk
menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa akan berhasil bila didukung dengan
metode, media maupun lokasi spiritual yang kondusif. Untuk itu, di samping personalitas
pribadi orang yang menghubungkan diri kepada-Nya. Di zaman kaliyuga ini, masalah
personalitas pribadi masih menjadi masalah dalam hal mendekatkan diri kehadap-Nya.
Seperti yang kita ketahui bahwa moralitas manusia cenderung menurun karena kemajuan
zaman dan factor penyebab lainnya. Hal tersebut, sebenarnya bisa diatasi jika ada kesadaran
dari manusia untuk selalu berbuat dengan memperhatikan ajaran agama. Salah satunya adalah
dengan melaksanakan ajaran catur marga untuk menghubungkan diri kehadapan Ida Sang
Hyang Widhi Wasa.
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan beberapa masalah mengenai
Catur Marga Yoga diantaranya sebagai berikut(1).Pengertian Catur marga Yoga?, (2).
Bagian-bagian Catur Marga Yoga?, (3). Implementasi dari ajaran Catur Marga Yoga?.
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah ; (1). Untuk mengetahui Pengertian
Catur marga Yoga, (2). Untuk mengetahui Bagian-bagian Catur Marga Yoga, (3). Untuk
mengetahui Implementasi dari ajaran Catur Marga Yoga.
II. PEMBAHASAN
1. Pengertian Catur Marga Yoga
Catur marga berasal dari dua kata yaitu catur dan marga. Catur berarti empat dan
marga berarti jalan/cara atapun usaha. Jadi catur marga adalah empat jalan atau cara umat
Hindu untuk menghormati dan menuju ke jalan Tuhan Yang Maha Esa atau Ida
Sang Hyang Widhi Wasa. Catur Marga juga sering disebut dengan Catur Marga
Yoga. Sesungguhnya kata yoga, dapat juga berarti masuk atau menyatukan diri, sehingga
Catur Marga Yoga dapat pula diartikan empat jalan untuk menyatukan diri dengan Tuhan
untuk mencapai moksa. Keempat jalan ini memiliki nilai yang sama namun menjadi sangat
utama apabila didasari dengan kesungguhan hati dan Sradha yang mantap. Keempat jalan itu
adalah Bhakti Marga Yoga, Karma Marga Yoga, Jnana Marga Yoga, dan Raja Marga Yoga.
Sumber ajaran catur marga ada diajarkan dalam pustaka suci Bhagawadgita, terutama
pada trayodhyaya tentang karma yoga marga yakni sebagai satu sistem yang berisi
ajaran yang membedakan antara ajaran subha karma ( p e r b u a t a n b a i k ) d e n g a n a j a r a n
a s u b h a k a r m a ( p e r b u a t a n ya n g t i d a k b a i k ) ya n g d i b e d a k a n menjadi perbuatan
tidak berbuat (akarma) dan wikarma (perbuatan yang keliru). Karma memilikidua makna
yakni karma terkait ritual atau yajna dan karma dalam arti tingkah perbuatan. Kedua,tentang
bhakti yoga marga yakni menyembah Tuhan dalam wujud yang abstrak dan
menyembahTuhan dalam wujud yang nyata, misalnya mempergunakan nyasa atau
pratima berupa arca ataumantra. Ketiga, tentang jnana yoga marga yakni jalan
pengetahuan suci menuju Tuhan YangMaha Esa, ada dua pengetahuan yaitu jnana
(ilmu pengetahuan) dan wijnana (serba tahu dalam penetahuan itu). Keempat, Raja
Yoga Marga yakni mengajarkan tentang cara atau jalan yoga atau meditasi (konsentrasi
pikiran) untuk menuju Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang WidhiWasa.

2. Bagian-bagian Catur Marga Yoga


Di dalam ajaran kerohanian Hindu terdapat jalan untuk mencapai kesempurnaan,
yaitu moksa, dengan menghubungkan diri dan pemusatan pikiran kepada Ida Sang Hyang
Widhi Wasa yang disebut dengan Catur Marga Yoga. Catur marga yoga terdiri dari empat
bagian yaitu bhakti marga yoga, jnana marga yoga, karma marga yoga dan raja marga yoga.

a) Bhakti Marga Yoga


Kata Bhakti berarti menyalurkan atau mencurahkan cinta yang tulus dan luhur kepada
Tuhan, kesetiaan kepadaNya, perhatian yang sungguh-sungguh untuk memujanya. Kata
Marga berarti jalan atau usaha, sehingga Bhakti Marga Yoga adalah jalan pengabdian kepada
Ida Sang Hyang Widhi melalui cinta kasih yang luhur dan mulia. Untuk memupuk sradha
harus adanya rasa bhakti dan kasih sayang terhadap Tuhan, dalam ajaran Agama Hindu
dikenal 2 bentuk bhakti yaitu:
1) Aphara Bhakti, merupakan bhakti yang dilakukan melalui pemujaan atau persembahan
dengan berbagai permohonan. Dan permohonan itu wajar mengingat keterbatasan
pengetahuan kita. Namun, permohonan yang dimaksudkan itu wajar dan tidak berlebihan
2) Parabhakti, merupakan bhakti yang dilakukan melalui pemujaan atau persembahan dengan
rasa tulus iklas, menyerahkan diri sepenuhnya kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Penyerahan diri sepenuhnya kepadaNya bukanlah dalam pengertian pasif tidak mau
melakukan aktivitas, tetapi ia aktif dan dengan keyakinan bahwa bila bekerja dengan baik dan
tulus niscaya akan memperoleh pahala yang baik pula.
Dalam pustaka hindu, diuraikan beberapa jenis bentuk bhakti yang disebuta
“Bhavabhakti”, sebagai berikut:
1. Santabhava adalah sikap bhakti seperti bhakti atau hormat seorang anak terhadap ibu dan
bapaknya.
2. Sakyabhava adalah bentuk bhakti yang meyakini Hyang Widhi, manifestasiNya, Istadewata
sebagai sahabat yang sangat akrab dan selalu memberikan perlindungan dan pertolongan
pada saat yang diperlukan
3. Dasyabhava adalah bhakti atau pelayanan kepada Tuhan seperti sikap seorang hamba kepada
majikannya.
4. Vatsyabhava adalah sikap seorang penyembah atau memandan Tuhan seperti anaknya
sendiri.
5. Kantabhava adalah seorang penyembah atau bhakta seperti sikap seorang istri terhadap
suami tercinta.
6. Madhuryabhava adalah bentuk bhakti sebagai cinta yang amat mendalam dan tulus dari
seorang bhakta kepada Tuhan.
Gejala-gejala dari adanya Bhakti Marga adalah:
a. Kerinduan untuk bertemu kepada yang dipujanya
b. Keinginan untuk berkorban
c. Keingingan untuk menggambarkan
d. Melenyapkan rasa takut
e. Melahirkan rasa seni
f. Melahirkan rasa terharu
g. Melahirkan mitologi
Seseorang yang menjalani Bhakti Marga disebut Bhakta, sikapnya selalu merasa puas
dalam segala-galanya, baik dalam kelebihan dan kekurangan. Sikapnya yang tenang dan
sabar membawanya pada keseimbangan batin yang sempurna, seorang Bhakta akan selalu
mengembangkan sifat Catur Paramitha yaitu Maitri, Karuna, Mudita dan Upeksa. Selain itu,
seorang bhakta akan selalu membebaskan diri dari keangkuhan (ahamkara) dan tidak ada
ikatan sama sekali terhadap apapun karena seluruh kekuatannya dipakai untuk memusatkan
pikiran kepada Hyang Widhi.
b) Karma Marga Yoga
Karma Marga Yoga adalah jalan atau usaha untuk mencapai kesempurnaan atau
moksa dengan perbuatan dan bekerja tanpa pamrih. Dalam Bhagawadgita tentang Karma
Yoga dinyatakan sebagai berikut:
Tasmad asaktah satatam karyam karma samcara, asakto hy acaran karma param
apnoti purusah. (Bhagawadgita III. 19)
Artinya:
Oleh karena itu, laksanakanlah segala kerja sebagai kewajiban tanpa terikat pada
hasilnya, sebab dengan melakukan kegiatan kerja yang bebas dari keterikatan, orang itu
sesungguhnya akan mencapai yang utama.

Pada hakikatnya seorang karma yogi selalu mendambakan pedoman rame inggawe
sepi ing pamrih. dengan menyerahkan keinginannya akan pahala yang berlipat ganda.
Hidupnya akan berlangsung dengan tenang dan dia akan memancarkan sinar dari tubuhnya
maupun dari pikirannya. Bahkan masyarakat tempat hidupnya pun kana menjadi bahagia,
sejahtera, ia akan mencapai kesucian batin dan kebijaksanaan.
c) Jnana Marga Yoga
Jnana artinya, kebijakan filsafat(pengetahuan). Yoga berasal dari urat kata Yuj
artinya, menghubungkan diri. Jadi, Jnana Marga Yoga artinya mempersatukan jiwatman
dengan paramatman yang dicapai dengan jalan mempelajari ilmu pengetahuan dan filsafat
pembebasan diri dari ikatan-ikatan keduniawian. Tiada ikatan yang lebih kuat daripada Maya,
dan tiada kekuatan yang lebih ampuh daripada Yoga untuk membasmi ikatan-ikatan Maya
itu. Untuk melepaskan ikatan-ikatan kita harus mengarahkan segala pikiran kita dan
memaksanya kepada kebiasaan-kebiasaan suci. Akan tetapi, bila kita ingin member suatu
bentuk kebiasaan suci pada pikiran kita, akhirnya pikiran harus menerimanya. Sebaiknya bila
pikiran tidak mau menerimanya maka haruslah kita akui bahwa segala pendidikan yang kita
ingin biasakan itu tidak ada gunanya. Jadi proses pertumbuhan merupakan hal yang mutlak,
sebagai jalan tumbuhnya pikiran, perbuatan lahir, pelaksanaan swadharma, dan sikap batin
(wikrama) sangat diperlukan dimana perbuatan lahir adalah penting, karena jika tidak berbuat
maka pikiran kita tidak dapat diuji kebenarannya. Perbuatan lahir menunjukkan kualitas
sebenarnya dari pikiran kita. Ada tiga hal yang penting dalam hidup ini yaitu kebulatan
pikiran, pembatasan pada kehidupan sendiri, dan keadaan jiwa yang seimbang atau tenang
maupun pandangan yang kokoh, tentram, dan damai. Ketiga hal tersebut di atas merupakan
Dhyana yoga. Untuk tercapainya perlu dibantu dengan Abhyasa,yaitu latihan-latihan dan
vairagya yaitu keadaan tidak mengaktifkan diri. Kekuatan pikiran kita lakukan saat kita
berbuat apa saja, dan pikiran harus kita pusatkan kepada-Nya. Dalam urusan-urusan
keduniawian pemusatan ini mutlak diperlukan. Hal ini bukan hanya diperlukan untuk sukses
di dunia, tetapi juga dibutuhkan untuk kemajuan spiritual atau batin. Usaha untuk
menjernihkan kegiatan kita sehari-hari ialah kehidupan rohani. Apapun yang kita laksanakan,
berhasil atau tidaknya tergantung kepada kekuatan pemusatan pemikiran kita kepada-Nya.
Inilah kelebihan Jnana Marga (jalan ilmu pengetahuan) dibandingkan dengan marga-marga
lainnya. Dengan dikuasainya ilmu pengetahuan, manusia dapat bekerja lebih efektif dan
efisien, dibandingkan dengan mereka yang dungu dan sedikit pengetahuannya, baik itu
masalah pengetahuan duniawi ataupun pengetahuan tentang agama, karena ilmu pengetahuan
itulah yangakan menuntun manusia menuju ke jalan yang benar untuk mencapai tujuan akhir.
Maka dari itu, kejarlah ilmu pengetahuan terlebih dahulu sebanyak dan seluas mungkin.

d) Raja Marga Yoga


Raja Marga Yoga adalah suatu jalan mistik (rohani) untuk mencapai moksa, raja
marga yoga mengajarkan bagaimana mengendalikan indria-indria dan vritti mental atau
gejolak pikiran yang muncul dari pikiran melalui tapa, brata, yoga dan semadhi. Tapa dan
brata merupakan suatu latihan untuk mengendalikan emosi atau nafsu yang ada dalam diri
kita kearah yang lebih positif sesuai dengan petunjuk ajaran kitab suci. Sedangkan yoga dan
semadhi adalah latihan untuk menyatukan atma dengan Brahman dengan melakukan meditasi
atau pemusatan pikiran.
Adapun tiga jalan pelaksanaan yang ditempuh oleh para raja Yogin yaitu melakukan
Tapa, Brata, Yoga, dan Samadhi. Tapa dan Brata merupakan suatu latihan untuk
mengendalikan emosi atau nafsu dengan petunjuk ajaran kitab suci. Sedangkan Yoga dan
Samadhi adalah latihan untuk dapat menyatukan atman dengan Brahman dengan melakukan
meditasi atau pemusatan pikiran.
3. Implementasi dari ajaran Catur Marga Yoga
a. Bhakti Marga Yoga
 Pelaksanaan tri sandya dan yadnya sesa. Jalan yang utama untuk memupuk perasaan
bakti ialah rajin menyembah Tuhan dengan hati yang tulus ikhlas dengan
melaksanakanTri Sandhya yaitu sembahyang tiga kali dalam sehari yaitu pagi, siang,
dan sore hari serta melaksanakan yadnya sesa/ ngejot setelah memasak. Dalam
kehidupan sehari-hari sebagai upaya dalam mewujudkan rasa bhakti sekaligus
mendekatkan diri kehadapan-Nya hendaknya melaksanakan puja tri sandya tersebut
dengan tulus dan ikhlas.
 Pelaksanaan pada hari-hari keagamaan
Implementasi bhakti marga yoga juga dapat dilihat pada hari-hari keagamaan hindu, seperti
hari saraswati, tumpek wariga dan tumpek uye. Hari saraswati adalah hari turunnya ilmu
pengetahuan dengan memuja dewi yang dilambangkan sebegai ilmu pengetahuan yaitu Dewi
saraswati. Hari saraswati ini jatuh pada hari Saniscara UmanisWatugunung dan diperingati
setiap 210 hari. Pada hari ini semua pustaka terutama Wedadan sastra-sastra agama
dikumpulkan sebagai lambang stana pemujaan Dewi Saraswati untuk diberikan suatu
upacara. Menurut keterangan lontar Sundarigama tentang Brata Saraswati,
pemujaan Dewi Saraswati harus dilakukan pada pagi hari atau tengah hari. Dari
pagi sampai tengah hari tidak diperkenankan membaca dan menulis terutama yang
menyangkut ajaran Weda dan sastranya. Bagi yang melaksanakan Brata Saraswati dengan
penuh, tidak membaca dan menulis itu dilakukan selama 24 jam penuh. Sedangkan bagi
yang melaksanakan dengan biasa, setelah tengah hari dapat membacadan menulis.
Bahkan di malam hari dianjurkan melakukan malam sastra dan sambaing samadhi.
Sedangkan Tumpek Wariga merupakan upacara untuk menghormati keberadaan tumbuh-
tumbuhan sebagai mahluk hidup didunia atau dikenal dengan istilah “ngotonin sarwa entik-
entikan”. Sementara Tumpek Uye atau Tumpek Kandang upacara dalam
menghormati keberadaan hewan atau binatang yang hidup di dunia yang sering dikenal
dengan istilah “ngotonin sarwa ubuhan”. Keduanya jatuh tepat setiap 210 hari
dalam perhitungan hindu. Dalam konsep Tri Hita Karana penghormatan kehadapan ida
sanghyang widhi wasa atas pengadaan hewan dan tumbuhan ini dilakukan dengan
tulus dan iklas. Dengan kata lain melaksanakan upacara tumpek ini adalah
realisasi dari konsepTri Hita Karana alam kehidupan. Jika semua itu sudah kita
lakukan dengan rasa tulusdan iklas berarti kita telah melaksanakan ajaran bhakti marga
yoga.
b. Jnana Marga Yoga
 Ajaran brahmacari
Brahmacari adalah mengenai masa menuntut ilmu dengan tulus ikhlas. Tugas pokok kita
pada massa ini adalah belajar dan belajar. Belajar dalam arti luas, yakni belajar dalam
pengertian bukan hanya membaca buku. Tetapi lebih mengacu pada ketulus iklasan dalam
segala hal. Contohnya: rela dan iklas jika dimarahi guru atau orang tua. Guru dan orang tua,
jika memarahi pasti demi kebaikan anak. Maha Rsi Wararuci dalam Kitab
Sarassamuccaya, sloka 27 mengajari kita memanfaatkan masa muda ini dengan sebaik-
baiknya, yang beliau umpamakan seperti rumput ilalang yang masih muda. Bahwa masa
muda itu pikiran masih sangat tajam, hendaknya digunakan untuk menuntut dharma, dan
ilmu pengetahuan. Dengan tajamnya pikiran seorang anak juga bisa meyadnyakan
tenaga dan pikirannya itu.
 Ajaran aguron-guron
Ajaran aguron-guron merupakan suatu ajaran mengenai proses hubungan guru dan murid .
Namun istilah dan proses ini telah lama dilupakan karena sangat susah mendapatkan guru
yang mempunyai kualifikasi tertentu dan juga sangat sedikit orang menaruh
perhatian dan minat terhadap hal ini. Maka untuk memenuhi kualifikasi tertentu,
hendaknya seorang guru mencari sekolah yang mempunyai kurikulum yang
membawa kesadaran kita melambung tinggi melampaui batas-batas senang dan sedih,
bahagia dan derita, lahir danmati. Maka guru seperti itu pasti akan datang kepada
kita. Menuntun kita, menentukan arah tujuan kita, menunjukkan cara dan
metodenya, menghibur dan menyemangatinya. Jangan ragu, pasti akan ada guru yang
datang kepada kita.
 Ajaran catur guru
Berhasilnya seseorang menempuh jenjang pendidikan tertentu (pendidikan tinggi yang
berkualitas) tidak akan mungkin bila kita tidak memiliki rasa bhakti kepada
Catur Guru. Mereka yang melaksanakan ajaran Guru Bhakti sejak dini (anak -
anak), mereka pada umumnya memiliki disiplin diri dan percaya diri yang mantap pula.
Dengan disiplin diri dan percaya diri yang mantap, tidak saja akan sukses dalam bidang
akademik, tetapi juga dalam berbagai aspek kehidupan. Di sinilah kita melihat ajaran Catur
Guru Bhakti senantiasa relevan sepanjang masa, sesuai dengan sifat agama Hindu yang
Sanatana Dharma. Aktualisasi ajaran Guru Bhakti atau rasa bhakti kepada Catur Guru dapat
dikembangkan dalam situasi apapun, sebab hakekat dari ajaran ini adalah untuk pendidikan
diri, utamanya adalah pendidikan disiplin, patuh dan taat kepada sang Catur Guru dalam arti
yang seluas-luasnya.
c. Karma Marga Yoga
 Ngayah dan Matatulungan
Ngayah merupakan suatu istilah yang ada di Bali yang identik dengan gotong royong.
Ngayah ini bisa dilakukan di pura-pura dalam hal upacara keagamaan, seperti
odalan-odalan/karya. Sedangkan matulungan ini bisa dilakukan terhadap antar
manusia yang mengadakan upacara keagamaan pula, seperti upacara pawiwahan,
mecaru dan lain sebagainya. Sesuai dengan ajaran karma yoga, maka hendaknya ngayahatau
matatulungan ini dilakukan secara iklas tanpa ada ikatan apapun. Sehingga
apayang kita lakukan bisa memberikan suari manfaat.
 Mekarme sane melah B e r b u a t ya n g b a i k a t a u mekarma sane melah hendaknya
selalu kita lakukan.Dalam dalam agama hindu ada slogan mengatakan“Rame ing
gawe sepi ing pamrih”, slogan itu begitu melekat pada diri kita sebagai orang
Hindu. Banyaklah berbuat baik tanpa pernah berpikir dan berharap suatu balasan.
Niscaya dengan begitu kita akan selalu mendapat karunianya tanpa pernah
terpikirkan dan kita sadari. Untuk melaksanakan slogan itu dalam kehidupan
sehari-hari tidaklah mudah untuk memulainya. Sebagai makhluk ciptaan Brahman,
sepantasnya kita menyadari bahwa sebagian dari hidup kita adalah untuk
melayani. Berkarma baik itu adalah suatu pelayanan. Kita akan ikut berbahagia bila
bisa menyenangkan orang lain. Hal ini tentudibatasi oleh perbuatan Dharma. Slogan “Tat
Twam Asi” adalah salah satu dasar untuk ber-Karma Baik. Engkau adalah Aku, Itu adalah
Kamu juga. Suatu slogan yang sangatsederhana untuk diucapkan, tapi memiliki arti
yang sangat mendalam, baik dalam arti pada kehidupan sosial umat dan juga sebagai diri
sendiri/individu yang memiliki pertanggungjawaban karma langsung kepada Brahman.
 Ajaran Karma pahala
Karma phala merupakan hasil dari suatu perbuatan yang dilakukan. Kita percaya bahwa
perbuatan yang baik (subha karma) membawa hasil yang baik dan perbuatan yang buruk
(asubha karma) membawa hasil yang buruk. Seseorang yang berbuat baik pasti baik pula
yang akan diterimanya, demikian pula sebaliknya yang berbuat buruk, buruk pula yang akan
diterimanya. Karmaphala memberi keyakinan kepada kitauntuk mengarahkan segala tingkah
laku kita agar selalu berdasarkan etika dan cara yang baik guna mencapai cita- cita yang
luhur dan selalu menghindari jalan dan tujuan yang buruk. Karmaphala mengantarkan roh
(atma) masuk Surga atau masuk neraka. Bila dalam hidupnya selalu berkarma baik maka
pahala yang didapat adalah surga. Sebaliknya bila hidupnya selalu berkarma buruk maka
hukuman nerakalah yang terjadi. Dalam pustaka- pustaka dan ceritera-ceritera keagamaan
dijelaskan bahwa Surga artinya alam atas, alam suksma, alam kebahagiaan, alam
yang indah dan serba mengenakkan. Neraka adalah alam hukuman, tempat roh atau
atman mendapat siksaan sebagai hasil dan perbuatan buruk selama masa hidupnya.
Selesai menikmatiSurga atau neraka, roh atau atma akan mendapatkan kesempatan
mengalami penjelmaankembali sebagai karya penebusan dalam usaha menuju Moksa.

d. Raja Marga Yoga


Setiap pengikut Raja Marga Yoga akan dapat menghubungkan dirinya dengan
kekuatan rohaninya melalui Astangga Yoga. Astangga Yoga adalah delapan tahapan yoga
untuk mencapai moksa. Astangga Yoga diajarkan oleh Maha Rsi Patanjali dalam bukunya
yang disebut dengan Yoga Sutra Patanjali. Adapun bagian-bagian dari Astangga Yoga yang
merupakan implementasi dari ajaran Raja Marga adalah:

a. Yama
Yama yaitu bentuk larangan atau pengendalian diri yang harus dilakukan oleh seorang dari
segi jasmani, misalnya dilarang membunuh (ahimsa), dilarang berbohong (satya), pantang
menginginkan sesuatu yang bukan miliknya (asteya), pantang melakukan hubungan seksual
(brahmacari) dan tidak menerima pemberian dari orang lain (aparigraha).
b. Nyama
Nyama yaitu bentuk pengendalian diri lebih bersifat rohani, misalnya Sauca (tetap suci lahir
batin), Santosa (selalu puas dengan apa yang datang), Swadhyaya (mempelajari kitab-kitab
keagamaan) dan Iswara pranidhana (selalu bhakti kepada Tuhan).
c. Asana
Asana yaitu sikap duduk yang menyenangkan, terartur dan disiplin.
d. Pranayama
Pranayama yaitu mengatur napas sehingga menjadi sempurna melalui tiga jalan yaitu puraka
(menarik napas), kumbhaka (menahan napas) dan recaka (mengeluarkan napas).
e. Pratyahara
Pratyahara yaitu mengontrol dan mengendalikan indriya dari ikatan objeknya, sehingga
orang dapat melihat hal-hal suci.
f. Dhyana
Dharana yaitu pemusatan pikiran yang tenang, tidak tergoyahkan kepada suatu objek.
Dhyana dapat dilakuakan terhadap Ista Dewata.

g. Dharana
Dharana yaitu usaha-usaha untuk menyatukan pikiran dengan sasaran yang diinginkan
h. Samadhi
Samadhi yaitu penyatuan atman (sang diri sejadi dengan Brahman) bila seseorang melakukan
latihan yoga dengan terartur dan sungguh-sungguh maka ia akan mendapat etaran-getaran
suci dari wahyu Tuhan.

III. PENUTUP

1. Kesimpulan
Dalam perekonomian terdapat berbagai organisasi perusahaan seperti perusahaan
perseorangan ,perkongsian, perseroan terbatas,perusahaan milik Negara dan koperasi.
Dalam teori ekonomi berbagai bentuk perusahaan itu tidak dibeda-bedakan.Setiap
perusahaan dipimpin oleh seorang tenaga kerja yang memiliki keahlian keusahawanan
(kewirausahaan). Tenaga kerja ini akan menggunakan factor-faktor produksi lain dan
mengorganisasikannya untuk menjalankan kegiatan ekonomi.Fungsi produksi
menggambarkan berapa jumlah produksi maksimum yang mampu diproduksi oleh
produsen pada setiap kombinasi input atau faktor produksi yang ada.
Tujuan dari produksi tersebut salah satunya untuk memenuhi kebutuhan manusia dan
menghasilkan barang dan jasa. Untuk itu sebelum mencapai tujuan yang diharapkan perlu di
rencanakan dulu cara pengelolaan faktor produksi tersebut.

E.1. Pengertian Yadnya


Secara etimologi, kata Yajña berasal dari kata yajyang berarti persembahan,
pemujaan, penghormatan, dan korban suci. Kata yajberasal dari bahasa Sanskerta.
Jadi, pengertian Yajña adalah korban suci yang tulus iklhas tanpa pamrih. Berdasarkan
sasaran yang akan diberikan Yajña, maka korban suci ini dibedakan menjadi lima
jenis, yaitu:
a. Dewa Yajña
Yajña jenis ini adalah persembahan suci yang dihaturkan kepada Sang Hyang
Widhi dengan segala manisfestasi-Nya. Contoh Dewa Yajña dalam kesehariannya,
melaksanakan puja Tri Sandya, sedangkan contoh Dewa Yajña pada hari-hari tertentu adalah
melaksanakan piodalan di pura dan lain sebagainya.

b. Rsi Yajña
Rsi Yajña adalah korban suci yang tulus ikhlas kepada para Rsi. Mengapa
Yajña ini dilaksanakan, karena para Rsi sudah berjasa menuntun masyarakat dan
melakukan puja surya sewanasetiap hari. Para Rsi telah mendoakan keselamatan
dunia alam semesta beserta isinya.
c. Pitra Yajña
Korban suci jenis ini adalah bentuk rasa normat dan terima kasih kepada para
Pitara atau leluhur karena telah berjasa ketika masih hidup melindungi kita. Kewajiban setiap
orang yang telah dibesarkan oleh leluhur untuk memberikan persembahan yang terbaik secara
tulus ikhlas. Ini sangat sesuai dengan ajaran suci Veda agar umat Hindu selalu saling
memberi demi menjaga keteraturan sosial.
d. Manusa Yajña
Manusa Yajña adalah pengorbanan untuk manusia, terutama bagi mereka yang
memerlukan bantuan. Umpamanya ada musibah banjir dan tanah longsor. Banyak
pengungsi yang hidup menderita. Dalam situasi begini, umat Hindu diwajibkan untuk
melakukan Manusa Yajña dengan cara memberikan sumbangan makanan, pakaian layak
pakai, dan sebagainya.
Namun, Manusa Yajña dalam bentuk ritual keagamaan juga penting untuk
dilaksanakan. Karena sekecil apapun sebuah Yajña dilakukan, dampaknya sangat
luas dan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan. Umpamanya, kalau kita
melaksanakan upacara potong gigi, maka semuanya ikut terlibat dan kena dampak.
Untuk upacara Manusa Yajña, Agama Hindu mengajarkan agar dilakukan dari sejak dalam
kandungan seorang ibu.
e. Bhuta Yajña
Upacara Bhuta Yajña adalah korban suci untuk para bhuta, yaitu roh yang tidak
nampak oleh mata tetapi ada di sekitar kita. Para bhuta ini cenderung menjadi
kekuatan yang tidak baik, suka mengganggu orang. Contoh upacara bhuta Yajña
adalah masegeh, macaru, tawur agung, panca wali krama. Tujuan bhuta Yajña adalah
menetralisir kekuatan bhuta kala yang kurang baik menjadi kekuatan bhuta yang baik dan
mendukung kehidupan umat manusia.
E.2. Dasar Pelaksanaan yadnya
 Ajaran Bhakti
Bhakti adalah bentuk penghormatan yang tulus ikhlas dan merupakan dasar
utama pelaksanaan Yajña. Bhakti tidak memerlukan kecerdasan tinggi. Bakti hanya
memerlukan kesetiaan, ketulusan, keikhlasan, dan kesabaran. Bakti adalah ajaran Veda yang
mempunyai nilai etika dan sopan santun yang sangat tinggi. Dengan bhakti masyarakat jadi
teratur.
Umat Hindu diwajibkan bakti kepada orang tua yang melahirkan, orang yang
lebih tua, pejabat negara, guru, raja dan alam.
Bukan itu saja, rasa bakti dan terima kasih juga diberikan untuk binatang dan tumbuh-
tumbuhan sebagai unsur lingkungan hidup yang ada di sekitar kita sesuai dengan ajaran Tri
Hita Karana.
 Ajaran Tri Rnam
Tri Rnam adalah trdiri dari dua kata yaitu tri berarti tiga dan rnam berarti hutang. Jadi yang
dimaksud dengan Tri Rnam adalah, tiga jenis hutang yang harus dibayar oleh manusia.
Hutang itu adalah hutang jiwa kepada Sang Hyang Widhi disebut Dewa
Rnam, hutang kepada leluhur disebut Pitra Rnam dan hutang kepada para Guru
disebut sebagai Tri Rnam.

E.3. Kwalitas Yadnya


Kualitas Yajña Ada tiga kualitas Yajña, menurut Bhagavadaita XVII. 11, 12, dan 13
menyebutkan ada tiga Yajña itu, yakni:

1. Sattwika Yajña
Sattwika Yajña adalah Yajña yang dilaksanakan sudah memenuhi syarat-syarat yang telah
ditentukan. Syarat-syarat yang dimaksud,
2. Rajasika Yajña
Rajasika Yajña adalah kualitas Yajña yang relatif lebih rendah hanyalah untuk memamerkan
jumlah kekayaan, kesetiaan rakyat, dan kekuasaannya.
3. Tamasika Yajña
Tamasika Yajña adalah Yajña yang dilaksanakan dengan motivasi agar mendapatkan
untung.
E.4. Contoh pelaksanaan Dewa Yadnya
1. Melaksanakan Tri Sandhya
2. Melaksanakan persembahyangan dan persembahan di hari suci

E.2. Dasar Pelaksanaan yadnya


 Ajaran Bhakti
Bhakti adalah bentuk penghormatan yang tulus ikhlas dan merupakan dasar
utama pelaksanaan Yajña. Bhakti tidak memerlukan kecerdasan tinggi. Bakti hanya
memerlukan kesetiaan, ketulusan, keikhlasan, dan kesabaran. Bakti adalah ajaran Veda yang
mempunyai nilai etika dan sopan santun yang sangat tinggi. Dengan bhakti masyarakat jadi
teratur.
Umat Hindu diwajibkan bakti kepada orang tua yang melahirkan, orang yang
lebih tua, pejabat negara, guru, raja dan alam.
Bukan itu saja, rasa bakti dan terima kasih juga diberikan untuk binatang dan tumbuh-
tumbuhan sebagai unsur lingkungan hidup yang ada di sekitar kita sesuai dengan ajaran Tri
Hita Karana.
 Ajaran Tri Rnam
Tri Rnam adalah trdiri dari dua kata yaitu tri berarti tiga dan rnam berarti hutang. Jadi yang
dimaksud dengan Tri Rnam adalah, tiga jenis hutang yang harus dibayar oleh manusia.
Hutang itu adalah hutang jiwa kepada Sang Hyang Widhi disebut Dewa
Rnam, hutang kepada leluhur disebut Pitra Rnam dan hutang kepada para Guru
disebut sebagai Tri Rnam.

Yadnya berasal dari Bahasa sansekerta dari kata Yaj yang berati memuja atau
melakukan pengorbanan. Dari kata yaj timbul beberapa kata, Antara lain: yajus, yajna dan
yajamana. Kata yajna sendiri berarti korban suci, yajamana artinya orang yang melaksanakan
yajna. Jadi pengertin yajna (yadnya) adalah korban suci yang tulus ikhlas tanpa pamrih untuk
kepentingan umat manusia dan alam sekitarnya.
Yadnya adalah suatu karya suci yang dilaksanakan dengan ikhlas kerena getaran jiwa/
rohani dalam kehidupan ini berdasarkan dharma, sesuai ajaran sastra suci Hindu yang ada
(Weda). Yadnya dapat diartikan pula memuja, menghormati, berkorban, mengabdi, berbuat
baik (kebajikan) pemberian, penyerahan dengan penuh kerelaan (tulus iklas) berupa apa yang
dimiliki demi kesejaterahan serta kesempurnaan hidup bersama dan kemahamuliaan Sang
Hyang Widhi Wasa. Pelaksanaan yadnya bukan hanya sebagai tanda kehidupan beragama,
kitab Atharwa weda menjelaskan sebagai berikut :
“Satyam brhad rtam ugram, diksa tap brahma yadnyah prthiwin dharayanti,
sa no bhutasya asya patyanyurumlokam”. (Atharwa weda,XII.I)
Artinya:
Kebenaran hokum yang agung, yang kokoh dan suci, tapa, bratha, doa dan yadnya
inilah yang menegakkan bumi, semoga bumi ini sepanjang massa memberikan tempat
melegakan bagi kami.
Demikianlah kitab Atharwa Weda menjelaskan, bahwa yadnya adalah salah satu pilar
payangan tegaknya kehidupan di dunia ini. Kitab Bhagawadgita juga memberikan petunjuk
tentang yadnya kepada kita, sebagai berikut :
“ Sahayajnah Praja srshtva kalkun vacha prajapati,
Anena prasavisyadhvam esa vo stvistakhamadhuk”(Bhagawadgita, III.10)
Artinya :
Pada zaman dahulu kala prajapati (tuhan) menciptakan manusia dengan yadnya dan bersabda,
dengan ini engkau akan mengembangkan serta memelihara kehidupannya.
Tujuan Yadnya :
Tuhan menciptakan alam semesta beserta isinya untuk kelangsungan hidup manusia
maka dari itu sudah sepatutnya kita membalas dengan cara mengucapkan puji syukur kepada
Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan cara yadnya yang di lakukan dengan rasa tulus ikhas
baik itu yadnya yang bersifat kecil maupun yadnya yang bersifat besar (agung). Sehingga
dengan kita melakukan sebuah yadnya maka akan terjadi hubungan keseimbangan Antara
tuhan, manusia, dan alam (Tri Hita Karana) sesuai dengan konsep agama hindu dimana jika
kita dapat mewujudkan keseimbangan maka akan terwujud pula keharmonisan hidup yang di
dambakan oleh seluruh umat manusia di dunia ini. Seperti di dalam Bhagawadgita III.2
menyebutkan :
‘ishtan blogan, hivodeva, donsyante yajna bhavitah
Tair dattan apradayabho, yobhunkte stena eca sah”
Artinya:
Dipelihara oleh yadnya para dewa, akan memberikan kamu kesenangan yang kamu inginkan.
Ia yang menikmati pemberian ini, tanpa memberikan balasan kepadanya adalah pencuri.
Selanjutnya Sloka Bhagawadgita III.13 Menyatakan:
“yajna sisya sinah santo, nucyanta sarwa kilbisaih, bhujate tuagham papa, ye pacauty
atmakatanat”
Artinya:
Orang yang baik, maka apa yang tersisa dari yadnya mereka itu terlepas dari segala dosa,
akan tetapi mereka yang jahat yang menyediakan makanan kepentingan sendiri, mereka itu
adalah makan dosanya sendiri.
Jadi sesuai dengan petikan sloka di atas dapat ditegaskan bahwa yadnya itu merupakan
sebuah persembahan yang dilakukan secara tulus ikhlas dengan tujuan untuk melangsungkan
kehidupan yang berkesinambungan dengan cara menciptakan kesembangan dalam
hubungannya (Tri Hita Karana) untuk mewujudkan kebahagian di dunia ini. Selain itu juga
tujuan yadnya yaitu untuk menciptakan kelangsungan kehidupan yang berkesinambungan
yaitu dengan cara :
- Membayar Rna (hutang) untuk mencapai kesempurnaan hidup
Melebur dosa untuk mencapai kebebasan yang sampurna
Adapun Fungsi[u1] [u2] dan Makna di dalam sebuah upacara yadnya yaitu :
1. Untuk Mengamalkan Ajaran Weda.
Weda adalah sumber ajaran Hindu. Sebagai sumber ajaran, di dalam weda-lah seluruh praktik
ajaran hindu tersirat dan tersurat.
2. Untuk Meningkatkan Kualitas Diri
Dalam ajaran agama dan ajaran pengendalian diri, manusia perlu mengendalikan pikirannya
agar dapat dengan baik mencapai harapan hidupnya. Dari sisi peningkatan diri, yadnya pada
hakekatnya merupakan pengorbanan suci yang bertujuan mengurangi rasa egois manusia
3. Untuk penyucian
Beryadnya merupakan salah satu upaya untuk mengamalkan ajaran agama jnanam phalam.
Setiap saat bila akan melaksanakan upacara baik bersifat kecil maupun besar, sebelumnya
mesti didahului dengan melaksanakan penyucian diri dan lingkungan sekitar.
4. Untuk dijadikan sarana berhubungan dengan tuhan.
Umat yang melaksanakan yadnya juga melaksanakan yoga, yaitu pemusatan pikiran
kehadapan tuhan dan pengendalian diri secara utuh
5. Untuk mencetuskan rasa terima kasih.
Berterima kasih merupakan salah satu kewajiban kita menjadi manusia dapat menyatakan
rasa syukur baik melalui pikiran merupakan sebuah yadnya.

Nilai-Nilai yang terkandung di Dalam Sebuah Yadnya


Yadnya adalah suatu karya suci yang dilaksanakan dengan ikhlas karena getaran jiwa/
rohani dalam kehidupan ini berdasarkan dharma, sesuai ajaran sastra suci Hindu yang ada
(Weda). Yadnya dapat pula diartikan memuja, menghormati, berkorban, mengabdi, berbuat
baik (kebajikan), pemberian, dan penyerahan dengan penuh kerelaan (tulus ikhlas) berupa
apa yang dimiliki demi kesejahteraan serta kesempurnaan hidup bersama dan kemahamuliaan
Sang Hyang Widhi Wasa.
Di dalamnya terkandung nilai- nilai:

Di Dalam Yadnya Terkandung Nilai-Nilai

1. Rasa Tulus Ikhlas dan Kesucian


2. Rasa Bhakti da Memuja (menghormati) Sang Hyang Widhi Wasa, Dewa, Bhatara,Leluhur,
Negara dan Bangsa, dan Kemanusiaan
3. Di Dalam Pelaksanaan di Sesuaikan dengan Kemampuan masing-masing menurut tempat
(desa), waktu (kala), dan keadaan (patra).
4. Rasa Kebersamaan
5. Suatu ajaran dan catur weda yang merupakan sumber ilmu pengetahuan suci dan kebenaran
yang abadi.

1.Rasa Tulus Ikhlas dan Kesucian


Yadnya di dalam suatu upakara haruslah di dilandasi oleh rasa tulus ikhlas dengan
rasa yang senang. Persembahan yang tulus ikhlas dan dilandasi hati yang bersih niscaya tuhan
akan menerima persembahan yang kita haturkan kepada beliau. jika apa yang kita
persembahkan itu ingin di terima tuhan, maka kita harus memberinya dengan rela, tulus dan
suka cita tanpa ada motivasi terselubung dibalik itu dan jangan sampai kita memberikan
dengan terpaksa atau karena dipaksa oleh pihak lain, jika tidak, maka persembahan kita tidak
akan berarti apa-apa dihadapan tuhan dan tidak mendapatkan berkat bagi kita. Mungkin
dengan persembahan yang diberikan orang lain disenangkan, tapi belum tentu hal itu
menyenangkan hati tuhan. Dalam persembahan yang tulus ikhlas tuhan tidak melihat besar
kecilnya persembahan yang kita persembahkan, namun motivasi dan ketulusan hati kita. Dan
jangan pernah hitung-hitungan dengan tuhan, apalagi menahan berkat yang seharusnya kita
salurkan kepada yang berhak menerima.
2.Nilai Bakti dan taqwa terhadap Ida Sanya Hyang Widhi wasa
Yadnya adalah suatu persembahan korban suci kepada Sang hyang widhi wasa dan
seluruh manifestasi-nya yang terdiri dari Brahma selaku dewa pencipta, Wisnu selaku dewa
pemelihara dan Siwa selaku maha Pralina (pengembali ke asalnya) dengan mengadakan
persembhayangan bersama, muspe di pura serta melakukan Tri Sandhya (bersembahyang
tiga kali sehari). Korban suci tersebut dilaksanakan pada hari-hari suci, hari peringatan
(rerahinan), hari ulang tahun (pewedalan) atau hari-hari raya lainnya seperti hari raya
galungan, hari raya saraswati, hari raya nyepi dan lain-lainnya
3. Rasa Keikhlasan sesuai dengan kemampuan
Yadnya adalah korban suci secara tulus ikhlas dalam rangka memuja Hyang Widhi.
Pada dasarnya Yadnya adalah penyangga dunia dan alam semesta, karena alam dan manusia
diciptakan oleh Hyang Widhi melalui Yadnya. Pada masa srsti yaitu penciptaan alam Hyang
Hidhi dalam kondisi Nirguna Brahma ( Tuhan dalam wujud tanpa sifat ) melakukan Tapa
menjadikan diri beliau Saguna Brahma ( Tuhan dalam wujud sifat Purusha dan Pradhana ).
Dari proses awal ini jelas bahwa awal penciptaan awal dilakukan Yadnya yaitu pengorbanan
diri Hyang Widhi dari Nirguna Brahma menjadi Saguna Brahma . Selanjutnya semua alam
diciptakan secara evolusi melalui Yadnya.
Dalam Bhagawadgita Bab III, sloka 10 disebutkan :

saha-yajòàá prajàh såûþwà purowàca prajàpatih; anena prasawiûyadham eûa wo ‘stw iûþa-
kàma-dhuk

artinya :
Dahulu kala Prajapati ( Hyang Widhi ) menciptakan manusia dengan yajnya dan bersabda;
dengan ini engkau akan berkembang dan akan menjadi kamadhuk keinginanmu.
Dari satu sloka di atas jelas bahwa manusia saja diciptakan melalui yadnya maka untuk
kepentingan hidup dan berkembang serta memenuhi segala keinginannya semestinya dengan
yadnya. Manusia harus berkorban untuk mencapai tujuan dan keinginannya. Kesempurnaan
dan kebahagiaan tak mungkin akan tercapai tanpa ada pengorbanan. Contoh sederhana bila
kita memiliki secarik kain dan berniat untuk menjadikannya sepotong baju, maka kain yang
utuh tersebut harus direlakan untuk dipotong sesuai dengan pola yang selanjutnya potongan-
potongan tersebut dijahit kembali sehingga berwujud baju. Sedangkan potongan yang tidak
diperlukan tentu harus dibuang. Jika kita bersikukuh tidak rela kainnya dipotong dan dibuang
sebagian maka sangat mustahil akan memperoleh sepotong baju. Dari gambaran sederhana di
atas dapat diambil kesimpulan bahwa demi mencapai kebahagiaan dan kesempurnaan hidup
maka kita harus rela mengorbankan sebagian dari milik kita. Hyang Widhi akan merajut
potongan-potongan pengorbanan kita dan menjadikannya sesuai dengan keinginan kita. Tentu
saja pengorbanan ini harus dilandasi rasa cinta, tulus dan ikhlas. Tanpa dasar tersebut maka
suatu pengorbanan bukanlah yadnya. Pengorbanan dalam hal ini bukan saja dalam bentuk
materi. Segala aspek yang dimiliki manusia dapat dikorbankan sebagai yadnya, seperti;
korban pikiran, pengetahuan, ucapan, tindakan , sifat, dan lain-lain termasuk nyawa sendiri
dapat digunakan sebagai korban.
Dengan demikian dikatakan bahwa manusia di ciptakan berasal dari yadnya maka dari
itu kita sebagai manusia haruslah mempersembahkan yadnya agar tercipta hubungan yang
harmonis Antara Tuhan,Manusia dan Alam (Tri Hita Karana) namun didalam
pelaksanaannya kita sebagai manusia haruslah mempersembahkan sesuai dengan kemampuan
yang kita miliki karena sesungguhnya tuhan tidak pernah memaksakan ciptaannya untuk
melakukan sesuatu hal yang diluar kemampuannya.

4. Rasa kebersamaan
Dalam melaksanakan yadnya diperlukan suatu pengorbanan baik itu pengorbanan diri
sendiri maupun menyangkut orang lain. Ajaran moral dan etika dapat dipetik di dalam
melaksanakan sebuah yadnya yaitu yadnya mendidik umat manusia untuk melaksanakan
pekerjaan dengan tulus ikhlas, dan pekerjaan yang dilakukan diabdikan kepada Ida Sang
Hyang Widhi Wasa. Jadi hal ini akan mengurangi rasa mementingkan diri sendiri dan
egoism. Selain mengandung nilai etika dan moral yang tinggi, yadnya juga menuntut umat
manusia untuk memahami hakekat dirinya sendiri, merupakan makhluk sosial yang tidak bisa
hidup sendiri
Contohnya : di dalam melakukan sebuah upacara yadnya di pura atau yang disebut
dengan karya agung pastinya kita tidak bisa melakukan atau menyelesaikan sebuah upacara
yadnya tersebut dengan seorang diri apalagi sesuai dengan waktu yang telah di tentukan,
maka dari itu klian adat akan mengundang semua krame untuk hadir bergotong
royong/bekerjasama untuk menyelesaikan rangkaian dari upacara tersebut. Menghadiri
undangan dan memperlakukan sopan merupakan perwujudan nilai sosial yang hidup dan
berkembang di desa pakraman yang bersangkutan. Demikian banyak hal yang terkandung di
dalam sebuah yadnya yaitu nilai luhur dan ketika kita mampu memaknai dan melaksanakan
makna moksatham jagathita (kesejaterahaan di dunia dan diakhirat) yang kita cita-citakan
akan tercapai.
6. Suatu ajaran dan catur weda yang merupakan sumber ilmu pengetahuan suci dan
kebenaran yang abadi.
Dengan ilmu pengetahuan orang dapat hidup lebih baik, lebih nyaman dan bahagian
tetapi dengan ilmu pengetahuan pula, jutaan orang dapat juga di buat gelisah dan hidup
sengsara. Ilmu pengetahuan yang merupakan wara nugraha-nya sesungguhnya adalah netral.
Ilmu pengetahuan akan menjadi baik dan berguna bagi manusia dan kemanusian. Ilmu
pengetahuan dapat menjadi kejam dan ganas ditangan orang yang tidak bertanggung jawab.
Karena itu watak dan moral serta dan terutama adalah kerokhanian agama harus selalu
berjalan di depan dan memberi arah kepada ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan yang berlambangkan sebagai dedikasi dan bhakti umat manusia
kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah menurunkannya.
Contonya: Saraswati yadnya, dimana di dalam upakara dan rangkaian hari raya saraswati
yang kita rayakan, makna saraswati adalah sebagai berikut : Manusia di ciptakannya
mempunyai suatu kelebihan yang luar biasa bila dibandingkan dengan makhluk hidup
lainnya. Dengan pikiran dan kemampuan yang dimiliki, umat sanggup dan wajib
memanfaatkan wara nugraha pangwerung yang diturunkan-nya kepada umatnya untuk
menuingkatkan kehidupan rohani dan demi tercapainya cita-cita suci yaitu Moksa dan
Jagathita (kebahagian dan kesejaterahan lahir dan bhatin).
Tentang kewajiban untuk meningkatkan kerohanian umat, dalam Bhagawadgita
menyebutkan bahwa seseorang harus meningkatkan dirinya dengan jalan memakai
kemampuan pikirannya, jangan menurunkan derajat dirinya karena pikiran adalah teman bagi
atma yang terikat, tetapi pikiran itupun musuhnya juga.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ilmu pengetahuan merupakan teman yang
baik yang akan menghantarkan kita menuju masa depan yang lebih baik dan memberikan
hikmah dalam kehidupan sehari-hari, di timba seumur hidup dan harus diamalkan untuk
kemanusiaan.
[u1]

HAKEKAT YADNYA

Bhagavadgita III.14 menyatakan bahwa “yadnya berasal dari karma”. Ini berarti
bahwa dalam yadnya perlu adanya kerja, karena dalam yadnya menuntut adanya perbuatan.
Tuhan menciptakan alam beserta isinya diciptakan dengan yadnya maka patutlah manusia
pun melaksanakan yadnya untuk memelihara kehidupan didunia ini. Tanpa adanya yadnya
maka perputaran roda kehidupan akan berhenti. Yadnya merupakan salah satu wujud dari Tri
Kerangka Agama Hindu yaitu termasuk dalam Upacara/ Ritual. Hal ini dikarenakan
penerapan yadnya dikaitkan dengan Upacara Agama Hindu yaitu dalam bentuk Ritual.

Karena yadnya berasal dari karma dalam dalam pelaksanaan yadnya pun terkait
dengan perbuatan maka Yadnya termasuk Karma kanda/karma sanyasa/prawerti atau jalan
perbuatan. Ini berarti bahwa yadnya merupakan salah satu bentuk penerapan ajaran Agama
Hindu dengan cara melakukan perbuatan. Artinya ajaran Weda dapat diaplikasian dengan
melaksanakan yadnya yaitu dengan
melakukan persembahan/ pemujaan kehadapan Ida Hyang Widdhi Wasa.

Di dalam pelaksanaan yadnya, Agni berkedudukan sebagai perantara yg


menghubungkan antara manusia dengan Tuhan. Karena agni merupakan penghubung, maka
biasanya dalam pelaksanaan Upacara ritual tidak bisa dipisahkan dengan penggunaan api
baik dalam bentuk “Pasepan” ataupun dupa. Agni pun dikatakan sebagai pelengkap atau
penyempurna segala kekurangan yang ada pada prosesi pemujaan yang dilakukan.

Sesungguhnya yadnya tidaklah hanya dalam bentuk Ritual atau melaksanakan


upacara keagamaan saja, tetapi dapat pula dilakukan dengan melaksanakan perbuatan yang
didasari atas hati yang tulus dan ikhlas. Sehingga dengan demikian maka dapat diartikan
bahwa Yadnya merupakan segala bentuk pemujaan/persembahan dan pengorbanan yg
tulus iklas yang timbul dari hati yang suci demi maksud-maksud mulia dan luhur

Bila dilihat dari berbagai pelaksanaan yadnya, sesungguhnya didalam yadnya


terdapat beberapa unsure yang pasti ada. Unsur-unsur mutlak dalam yadnya yaitu: karya
(kerja), sreya (ketulusan), budhi (kesadaran), bhakti (Persembahan). Unsur karya yang
terdapat dalam yadnya dapat dilihat bahwa setiap yadnya yang dilakukan adalah dengan
perbuatan / kerja. Unsur Sreya (ketulusan) pada yadnya yaitu bahwa dalam setiap yadnya
selalu dilakukan dengan dasar ketulusan dan tanpa adanya paksaan dari pihak manapun.
Dalam melaksanakan yadnya, umat tidak merasa terbebani karena yadnya muncul dari
ketulusan hati. Dengan melaksanakan yadnya, manusia akan senantiasa teringat dengan
kebesarannya Tuhan dan memahami segala kekurangan yang ada dalam dirinya. Sehingga
pelaksanaan yadnya dapat membangkitkan kesadaran dalam diri setiap manusia. Kesadaran
yang dimaksud adalah terbebasnya manusia dari kebingungan, kegelapan sang jati diri
(atman) dari belenggu segala kepalsuan didunia (maya). Dengan sadarnya manusia pada jati
dirinya ia akan dapat melakukan hubungannya dengan Tuhan. Dalam pelaksanaan yadnya
pada umumnya dilakukan dengan memberikan persembahan dan melaksanakan pemujaan
yang didasari atas ketulusan hati.

Bhagavadgita III.9 menyatakan bahwa :”para dewa akan memelihara manusia dg


memberikan kebahagiaan, karena itu manusia yg mendapatkan kebahagiaan bila tidak
membalas pemberian itu dg yadnya pada hakekatnya dia adalah pencuri”. Ini berarti bahwa
antara manusia dengan para dewa harus ada hubungan yang harmonis sehingga terwujud
suatu kebahagiaan. Sebagai manusia yang diberikan kelebihan dari mahluk ciptaannya yang
lain yaitu idep (pikiran), seharusnyalah manusia bisa mengucapkan rasa syukur dan terima
kasihnya kepada Tuhan atas segala kebahagiaan yang ia rasakan melalui pelaksanaan yadnya.
Bila manusia tidak pernah bersyukur artinya bahwa manusia ini adalah seorang pencuri.
Selanjutnya Sri Kresna bersabda yaitu: “orang yang terlepas dari dosa adalah orang
yang makan sisa dari persembahan/yadnya”. Ini berarti bahwa dalam kehidupan ini manusia
harus senantiasa menikmati makanan hasil persembahannya kepada Tuhan. Bilamana
manusia memakan yang bukan hasil persembahan pada Tuhan berarti dia memakan dosa.
Agar terhindar dari dosa itu, manusia sebelum makan haruslah mempersembahkannya
terlebih dahulu pada Tuhan. Sehingga makan hasil persembahan yang dimakan adalah
anugerah dari Tuhan yang disebut dengan Prasadham” yang istilah balinya disebut dengan
”Lungsuran”. Yadnya Sesa (matur saiban) merupakan salah satu bentuk yadnya yang
dilakukan sehari-hari setelah memasak. Setelah memasak hendaknyalah kita menghaturkan
sedikit dari masakan itu pada Tuhan sehingga masakan yang dibuat dapat dikatakan sebagai
anugerah dari Tuhan.

Dalam Atharwa veda XII.1 dikatakan bahwa “yadnya merupakan salah satu pilar
penyangga tegaknya kehidupan di dunia ini”. Jadi bilamana yadnya tidak dilakukan lagi akan
menjadikan alam beserta kehidupannya tidak akan dapat berlangsung.

Catur Marga Yoga


BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Catur Marga adalah empat jalan atau cara umat Hindu untuk menghormati dan
menuju ke jalan Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sumber ajaran Catur Marga
ada diajarkan dalam pustaka suci Bhagawadgita, terutama pada trayodhyaya tentang Karma Marga
Yoga yakni sebagai satu sistem yang berisi ajaran yang membedakan antara ajaran Subha Karma
(perbuatan baik) dengan ajaran Asubha Karma (perbuatan yang tidak baik) yang dibedakan menjadi
perbuatan tidak berbuat (akarma) dan Wikarma (perbuatan yang keliru). Karma memiliki dua makna
yakni karma terkait ritual atau yajna dan karma dalam arti tingkah perbuatan. Kedua, tentang bhakti
yoga marga yakni menyembah Tuhan dalam wujud yang abstrak dan menyembah Tuhan dalam
wujud yang nyata, misalnya mempergunakan nyasa atau pratima berupa arca atau mantra. Ketiga,
tentang jnana Marga Yoga yakni jalan pengetahuan suci menuju Tuhan Yang Maha Esa, ada dua
pengetahuan yaitu jnana (ilmu pengetahuan) dan wijnana (serba tahu dalam penetahuan itu).
Keempat, Raja Marga Yoga yakni mengajarkan tentang cara atau jalan yoga atau meditasi
(konsentrasi pikiran) untuk menuju Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
1.1 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari latar belakang tersebut adalah sebagai berikut:
a. Apakah yang dimaksud dengan Catur Marga Yoga?
b. Apa saja bagian-bagian dari Catur Marga Yoga?
c. Bagaimana cara mengimplementasikan ajaran Catur Marga Yoga dalam kehidupan masyarakat
Hindu?

1.2 Tujuan Penulisan


Sejalan dengan uraian di atas, ada pun tujuan yang ingin dicapai melalui penulisan karya tulis ini,
yaitu:
a. Menjelaskan pengertian dari Catur Marga Yoga.
b. Menyebutkan dan menjelaskan bagian dari Catur Marga Yoga.
c. Menjelaskan implementasi ajaran dari Catur Marga Yoga dalam kehidupan masyarakat Hindu.
1.3 Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan makalahini adalah sebagai berikut:
1. Bagi Universitas
Dengan adanya makalah ini dapat menambah koleksi makalah yang ada di perpustakaan untuk
dijadikan bahan bacaan, bahan skripsi dan tugas-tugas yang terkait dengan makalah ini.
2. Bagi Mahasiswa
Makalah ini dapat dijadikan referensi dalam membuat tugas khususnya yang berkaitan dengan
materi Catur Marga Yoga.
3. Bagi Penulis
Dengan dibuatnya makalah ini, penulis dapat menambah wawasan mengenai pembuatan makalah
mengenai Catur Marga Yoga.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Catur Marga Yoga
Catur marga yoga berasal dari tiga kata yaitu catur artinya empat, marga artinya jalan dan yoga
berarti penyatuan, penghubungan yang berasal dari kata “Yuj” yang artinya berhubungan. Jadi Catur
Marga Yoga adalah empat jalan untuk mencapai kesempurnaan hidup lahir dan batin dengan cara
menghubungkan diri melalui pemusatan pikiran kepada Tuhan.
2.2 Bagian-Bagian Catur Marga Yoga
Adapun bagian-bagian dari Catur Marga Yoga yang terdiri dari empat bagian diantaranya:
1. Bhakti Marga Yoga
Kata bhakti artinya cinta kasih. Jadi Bhakti Marga Yoga adalah suatu proses atau cara
mempersatukan atman dengan Brahman atas dasar sujud bhakti yang tulus ikhlas, dan cinta kasih
yang mendalam kepada Sang Hyang Widhi Wasa yang bisa diaplikasikan melalui pelaksanaan Tri
Sandya, mempersembahkan sesaji sesuai dengan kemampuan umat masing-masing. Seorang yang
melaksanakan ajaran Bhakti Marga Yoga disebut dengan sebutan bhakta adalah orang yang penuh
cinta kasih secara tulus ikhlas yaitu cinta kepada Tuhan, cinta alam semesta, dan cinta terhadap
semua ciptaan Tuhan. Dalam ajaran Catur Marga Yoga, berdasarkan dari caranya memgwujudkan
ada dua tingkatan bhakti, yaitu Para bhakti dan Apara bhakti. Jika diuraikan , kata para artinya
utama. Jadi Para bhakti adalah perwujudan rasa bhakti terhadap Hyang Widhi yang utma yang biasa
dipraktekkan oleh orang-orang yang pengetahuannya tinggi dan kesuciannya sudah meningkat.
Ciri-ciri bhakta yang melaksanakan para bhakti antara lain sedikit terlibat dalam ritual tetapi banyak
mempelajari Tattwa Agama dan kuat/berdisiplin dalam melaksanakan ajaran-ajaran agama sehingga

dapat mewujudkan Trikaya Parisudha dengan baik dimana Kayika (perbuatan), Wacika (ucapan) dan
Manacika (pikiran) selalu terkendali dan berada pada jalur dharma. Bhakta yang seperti ini banyak
melakukan Drwya Yadnya (ber-dana punia), Jnana Yadnya (belajar-mengajar), dan Tapa Yadnya
(pengendalian diri). Sedangkan kata apara artinya tidak utama. Jadi Apara bhakti adalah perwujudan
rasa bhakti terhadap Hyang Widhi tidak utama yang biasanya dipraktekkan oleh orang-orang yang
belum mempunyai tingkat kesucian yang tinggi. Ciri-ciri bhakta yang melaksanakan apara bhakti
antara lain banyak terlibat dalam ritual (upacara Panca Yadnya) serta menggunakan berbagai simbol
(niyasa).
2. Karma Marga Yoga
Kata karma artinya perbuatan. Jadi Karma Marga Yoga adalah suatu proses mempersatukan atman
dengan Brahman melalui kerja atau perbuatan tanpa ikatan, tanpa pamrih, tulus dan ikhlas, penuh
dengan amal kebajikan dan pengorbanan.
Dalam Bhagavadgita tentang Karma Yoga dinyatakan sebagai berikut:
Tasmad asaktah satatam karyam karma samacara, asakto hy acaran karma param apnoti purusah.
Artinya ;
Oleh karena itu, laksanakanlah segala kerja sebagai kewajiban tanpa terikat pada hasilnya, sebab
dengan melakukan kegiatan kerja yang bebas dari keterikatan, orang itu sesungguhnya akan
mencapai yang utama.
Seorang yang melaksanakan ajaran Karma Marga Yoga disebut dengan sebutan karmin adalah orang
yang selalu bekerja tanpa pamrih, mengutamakan pengabdian dan pengorbanan seperti dalam
agama hindu ada slogan mengatakan“rame ing gawe sepi ing pamrih” yang artinya berbuat baik
tanpa pernah berpikir mengharapkan suatu balasan.

Dalam ajaran Karma Marga Yoga, berdasarkan ikatan karma yang terdiri dari dua bagian yaitu Karma
Nirwitta dan Karma Prawritha. Karma Nirwitta adalah perbuatan yang bebas dari harapan atau hasil.
Sedangkan Karma Prawritha adalah perbuatan/karma yang masih terikat oleh hasil atau imbalan.
Seorang karmin melaksanakan perbuatan yang tulus ikhlas akan menerima pahala yang berlipat
ganda. Hidupnya akan berlangsung dengan tenang dan bahagia serta mencapai kesucian lahir
bhatin.
3. Jnana Marga Yoga
Kata jnana artinya kebijaksanaan filsafat (pengetahuan). Jadi Jnana Marga Yoga adalah suatu proses
penyatuan atman dengan Brahman melalui ilmu pengetahuan suci dan filsafat pembebasan diri dari
ikatan-ikatan keduniawian. Seorang yang melaksanakan ajaran Jnana Marga Yoga disebut dengan
sebutan jnanin adalah orang yang memiliki ilmu pengetahuan suci untuk mencapai kebenaran yang
sempurna. Dengan ilmu pengetahuan suci orang akan sanggup melepaskan diri dari ikatan karma.
4. Raja Marga Yoga
Raja Marga Yoga adalah suatu proses penyatuan atma dengan Brahman melalui pengendalian diri,
pengendalian pikiran dan pengekangan diri dengan mendalami tapa,brata,yoga dan semadhi. Tapa
dan brata merupakan suatu latihan untuk mengendalikan emosi atau nafsu yang ada dalam diri kita
ke arah yang positif sesuai dengan petunjuk ajaran kitab suci. Sedangkan yoga dan samadhi adalah
latihan untuk dapat menyatukan atman dengan Brahman dengan melakukan meditasi atau
pemusatan pikiran.
Seorang yogi akan dapat menghubungkan dirinya dengan kekuatan rohani melalui Astanga Yoga
yaitu delapan tahapan yoga untuk mencapai moksa. Astanga Yoga diajarkan oleh Maha Rsi Patanjali

dalam bukunya yang disebut Yoga Sutra Patanjali. Adapun bagian-bagian dari ajaran astangga yoga
yang dimaksud adalah sebagai berikut;
a. Yama
Merupakan suatu bentuk larangan yang harus dilakukan oleh seorang dari segi jasmani. Misalnya,
dilarang membunuh (Ahimsa), dilarang berbohong (Satya), pantang mengingini sesuatu yang bukan
miliknya (Asteya), pantang melakukan hubungan seksual (Brahmacari) dan tidak menerima
pemberian dari orang lain (Aparigraha).
b. Nyama.
Merupakan pengendalian diri yang lebih bersifat rohani. Misalnya Sauca (tetap suci lahir batin),
Santosa (selalu puas dengan apa yang datang), Swadhyaya (mempelajari kitab-kitab keagamaan) dan
Iswara Pranidhana (selalu bhakti kepada Tuhan).
c. Asana
Merupakan sikap duduk yang benar, teratur dan disiplin.
d. Pranayama
Merupakan yaitu pengaturan napas, yang menghasilkan ketenangan dan kemantapaan pikiran serta
kesehatan yang baik dengan melalui tiga jalan yaitu puraka (menarik nafas), kumbhaka (menahan
nafas) dan recaka (mengeluarkan nafas).
e. Pratyahara
Merupakan yaitu mengontrol dan mengendalikan indriya dari ikatan obyeknya, sehingga orang
dapat melihat hal-hal suci.
f. Dharana
Merupakan konsentrasi pikiran pada suatu objek atau cakra dalam Istadevata.
g. Dhyana
Merupakan pemusatan pikiran yang tenang, tidak tergoyahkan kepada suatu obyek.

h. Samadhi
Merupakan penyatuan atman (sang diri sejati dengan Brahman). Bila seseorang melakukan latihan
yoga dengan teratur dan sungguh-sungguh ia akan dapat menerima getaran-getaran suci dan wahyu
Tuhan.
2.3 Implementasi Ajaran Catur Marga Yoga dalam Kehidupan Hindu
1. Bhakti Marga Yoga
a. Pelaksanaan Tri Sandya dan Yadnya Sesa.
Jalan yang utama untuk memupuk perasaan bakti ialah rajin menyembah Tuhan dengan hati yang
tulus ikhlas dengan melaksanakan Tri Sandhya yaitu sembahyang tiga kali dalam sehari, pagi, siang,
dan sore hari serta melaksanakan yandnya sesa/ngejot setelah selesai memasak. Dalam kehidupan
sehari -hari sebagai upaya dalam mewujudkan rasa bhakti sekaligus mendekatkan diri kehadapanya
hendaknya melaksanakan puja tri sandya tersebut dengan tulus dan iklas.
b. Pelaksanaan Pada Hari-Hari Keagamaan
Implementasi Bhakti Marga Yoga juga dapat dilihat pada hari-hari keagaman hindu, seperti hari
saraswati, tumpek wariga dan tumpek uye. Hari saraswati adalah hari turunnya ilmu pengetahuan
dengan memuja dewi yang dilambangkan sebagai ilmu pengetahuan yaitu Dewi saraswati. Hari
saraswati ini jatuh pada hari Saniscara Umanis Watugunung dan diperingati setiap 210 hari. Pada
hari ini semua pustaka terutama Weda dan sastra-sastra agama dikumpulkan sebagai lambang stana
pemujaan Dewi Saraswati untuk diberikan suatu upacara.
Sedangkan Tumpek Wariga merupakan upacara untuk menghormati keberadaan tumbuh-tumbuhan
sebagai mahluk hidup didunia atau dikenal dengan istilah “ngotonin sarwa entik-entikan”.
Sementara Tumpek Uye atau Tumpek Kandang upacara dalam

menghormati keberadaan hewan atau binatang yang hidup di dunia yang sering dikenal dengan
istilah “ngotonin sarwa ubuhan”.
Keduanya jatuh tepat setiap 210 hari dalam perhitungan hindu. Dalam konsep Tri Hita Karana
penghormatan kehadapan ida sang hyang widhi wasa atas pengadaan hewan dan tumbuhan ini
dilakukan dengan tulus dan iklas. Dengan kata lain melaksanakan upacara tumpek ini adalah realisasi
dari konsep Tri Hita Karana alam kehidupan. Jika semua itu sudah kita lakukan dengan rasa tulus dan
iklas berarti kita telah melaksanakan ajaran bhakti marga yoga.
2. Jnana Marga Yoga
a. Ajaran Brahmacari
Brahmacari adalah mengenai masa menuntut ilmu dengan tulus ikhlas. tugas pokok kita pada masa
ini adalah belajar dan belajar. Belajar dalam arti luas, yakni belajar dalam pengertian bukan hanya
membaca buku. Tetapi lebih mengacu pada ketulus iklasan dalam segala hal. Contohnya: rela dan
iklas jika dimarahi guru atau orang tua.
b. Ajaran Aguron-Guron
Merupakan suatu ajaran mengenai proses hubungan guru dan murid. Namun istilah dan proses ini
telah lama dilupakan karena sangat susah mendapatkan guru yang mempunyai kualifikasi tertentu
dan juga sangat sedikit orang menaruh perhatian dan minat terhadap hal ini. Maka untuk memenuhi
kualifikasi tertentu, hendaknya seorang guru mencari sekolah yang mempunyai kurikulum yang
membawa kesadaran kita melambung tinggi melampaui batas-batas senang dan sedih, bahagia dan
derita, lahir dan mati.
c. Ajaran Catur Guru
Ajaran Catur Guru Bhakti senantiasa relevan sepanjang masa, sesuai dengan sifat agama Hindu yang
Sanatana Dharma . Aktualisasi ajaran Guru Bhakti atau rasa bhakti kepada Catur Guru dapat
dikembangkan dalam situasi apapun, sebab hakekat dari ajaran ini

adalah untuk pendidikan diri, utamanya adalah pendidikan disiplin, patuh dan taat kepada sang
Catur Guru dalam arti yang seluas-luasnya.
3. Karma Marga Yoga
a. Ngayah dan Matatulungan
Ngayah merupakan suatu istilah yang ada di bali yang identik dengan gotong royong. Ngayah ini bisa
dilakukan di pura-pura dalam hal upacara keagamaan, seperti odalan-odalan/karya. Sedangkan
matatulungan ini bisa dilakukan terhadap antar manuasia yang mengadakan upacara keagamaan
pula, seperti upacara pawiwahan, mecaru dan lain sebagainya. Sesuai dengan ajaran karma yoga,
maka hendaknya ngayah atau matatulungan ini dilakukan secara ikhlas tanpa ada ikatan apapun.
Sehingga apa yang kita lakukan bisa memberikan suatu manfaat.
b. Mekarme Sane Melah
Berbuat yang baik atau mekarma sane melah hendaknya selalu kita lakukan. Dalam agama hindu ada
slogan mengatakan“rame ing gawe sepi ing pamrih” yang artinya berbuat baik tanpa pernah berpikir
mengharapkan suatu balasan. Selain slogan tersebut, dalam hidup bernasyarakat hendaknya juga
menerapkan slogan “Tat Twam Asi” adalah salah satu dasar untuk ber-Karma Baik. Engkau adalah
Aku, Itu adalah Kamu juga. Suatu slogan yang sangat sederhana untuk diucapkan, tapi memiliki arti
yang sangat mendalam, baik dalam arti pada kehidupan sosial umat dan juga sebagai diri
sendiri/individu yang memiliki pertanggungjawaban karma langsung kepada Brahman.
c. Ajaran Karmapahala
Karma phala merupakan hasil dari suatu perbuatan yang dilakukan. Kita percaya bahwa perbuatan
yang baik (subha karma) membawa hasil yang baik dan perbuatan yang buruk (asubha karma)
membawa hasil yang buruk. Jadi seseorang yang berbuat baik pasti

baik pula yang akan diterimanya, demikian pula sebaliknya yang berbuat buruk, buruk pula yang
akan diterimanya. Karma phala memberi keyakinan kepada kita untuk mengarahkan segala tingkah
laku kita agar selalu berdasarkan etika dan cara yang baik guna mencapai cita- cita yang luhur dan
selalu menghindari jalan dan tujuan yang buruk. Karma phala mengantarkan roh (atma) masuk Surga
atau masuk neraka. Bila dalam hidupnya selalu berkarma baik maka pahala yang didapat adalah
Surga, sebaliknya bila hidupnya itu selalu berkarma buruk maka hukuman nerakalah yang
diterimanya.
4. Raja Marga Yoga.
a. Ajaran Astangga Yoga
Astangga yoga merupakan delapan anggota dari raja yoga yang terdiri dari Yama, Niyama, Asana,
Pranayama, Pratyahara, Dharana, Dhyana, dan Samadhi adalah delapan anggota (anga) dari
Rajayoga iyama membentuk disiplin etika yang memurnikan hati.
b. Catur Brata Penyepian
Hari raya nyepi Sesuai dengan hakekat Hari Raya Nyepi di atas maka umat Hindu wajib melakukan
tapa, yoga, dan semadi. Brata tersebut didukung dengan Catur Brata Nyepi sebagai berikut :
 Amati Agni, tidak menyalakan api serta tidak mengobarkan hawa nafsu,
 Amati Karya, yaitu tidak melakukan kegiatan kerja jasmani, melainkan meningkatkan kegiatan
menyucikan rohani,
 Amati Lelungan, yaitu tidak berpergian melainkan mawas diri.
 Amati Lelanguan, yaitu tidak mengobarkan kesenangan melainkan melakukan pemusatan pikiran
terhadap Ida Sang Hyang Widhi.

BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Catur Marga Yoga adalah empat jalan untuk mencapai kesempurnaan hidup lahir dan batin dengan
cara menghubungkan diri melalui pemusatan pikiran kepada Tuhan. Adapun bagian beserta
implementasi dari Catur Marga Yoga yang terdiri dari :
1. Bhakti Marga Yoga adalah suatu proses untuk mempersatukan atam dengan brahman atas dasar
cinta kasih sayang yang mendalam kepada Tuhan. Salah satu implementasi dari Bhakti Marga Yoga
adalah melaksanakan Tri Sandya dan Yadnya Sesa.
2. Karma Marga Yoga adalah suatu proses mempersatukan atma dengan brahman dengan jalan
berbuat baik tanpa pamrih. Salah satu implementasi dari Karma Marga Yoga adalah ngayah dan
matulungan.
3. Jnana Marga Yoga adalah proses penyatuan atma dengan brahman melalui ilmu pengetahuan
suci. Salah satu implementasi dari Jnana Marga Yoga adalah ajaran brahmacari.
4. Raja Marga Yoga adalah suatu proses penyatuan atama dengan brahman melalui penegndalian
diri.Salah satu implementasi dari Raja hakti Marga Yoga adalah catur brata penyepian.
3.2 Saran
Kita sebagai masyarakat hindu hendaknya selalu menerapkan ajaran catur marga yoga dalam
kehidupan sehari-hari yang disesuaikan dengan kepribadian, watak, dan kesanggupan manusia. Jika
seseorang kesanggupannya terletak pada mencari ilmu pengetahuan maka ajaran jnana marga yoga
yang digunakan . Jika seseorang itu mempunyai watak yang halus dan perasa serta mempunyai
ketekunan dalam memuji Sang Hyang Widhi, maka ajaran bhakti marga yoga yang digunakan.
Demikian juga yang kesanggupannya terletak pada kerja serta pengabdian yang tulus tanpa

pamrih maka ajaran karma marga yoga yang harus dijalani. Sedangkan orang tekun dalam samadhi,
kuat dalam tapa brata serta tidak dapat dipengaruhi oleh hal yang bertentangan yang ada dalam
hidup ini, maka ajaran raja marga yoga yang digunakan. Semua ajaran catur marga yoga yang ingin
diterapkan harus didasarkan dengan tulus ikhlas, ketekunan, kesujudan, keteguhan iman, dan tanpa
pamrih

AB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ajaran agama Hindu memiliki kerangka yang kuat, karena menampilkan ajaran
Tatwa, susila dan yadnya. Tatwa mengisi kecerdasan otak, melatih memandang rahasia-
rahasia yang dimiliki Tuhan, dan rahasia dalam diri, serta rahasia-rahasia dalam alam
lingkungannya. Dengan demikian manusia atau umat Hindu wajar berpikir sedalam-
dalamnya tentang hal tersebut. Susila adalah menyuguhkan ajaran untuk melatih tingkah laku
yang berperan menumbuhkan peningkatan rasa pada setiap pemeluk. Disinilah kemantapan
dari humanisme yang kekal. Masyarakat Bali yang mayoritas adalah penganut agama Hindu,
mempunyai suatu kepercayaan yang tidak lepas dari kebudayaan Bali. Dalam ajaran Hindu
menyebutkan bahwa mewujudkan kehidupan yang selaras, serasi dan seimbang diperlukan
adanya persembahan suci yang tulus ikhlas yang dikenal dengan nama Yadnya. Disini
terdapat lima yadnya yang selanjutnya dikenal dengan istilah PancaYadnya yaitu lima
persembahan suci yang tulus ikhlas. Yadnya adalah menyuguhkan ajaran rela berkorban yang
pada hakikatnya adalah memelihara hidup, sebab semua yang hidup di dunia ini bermula dari
Yadnya dan tidak terlepas dengan Yadnya itu sendiri. Diketahui makhluk dengan isinya
diciptakan Tuhan berdasarkan Yadnya.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Bagaimana kualitas yadnya dalam agama hindu?
1.2.2 Bagaimana Rumusan serta pemaparan Panca Yadnya dalam Agama Hindu?
1.3 Tujuan
1.3.1 Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memahami makna
yang terkandung dalam yadnya itu sendiri serta dapat mengimplementasikan dalam
kehidupan beragama terutama dalam umat hindu.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kualitas Yadnya dalam Agama Hindu


Kata Yadnya berasal dari bahasa Sansekerta, akar-akar “Yaj”, yang artinya memuja,
mempersembahkan, pengorbanan, menjadikan suci.Prinsip-prinsip yang harus dipegang
dalam Yadnya yaitu keikhlasan, kesucian dan pengabdian tanpa pamrih.
Aphalakaanksibhir yadnyo
Vidhi drsto ya ijyate
Yastavyam eveti manah
Samaadaya sa saatvikah

(Bhagavad Gita, XVII.11)


Maksudnya: Yadnya yang dilakukan menurut petunjuk kitab suci (vidhi drstah), dilakukan
dengan ikhlas, yang sepenuhnya dipercaya bahwa yadnya itu sebagai suatu kewajiban suci.
Yadnya yang demikian itu tergolong Satvika Yadnya.
Kata “upacara” berasal dari bahasa Sansekerta artinya “mendekat”. Sedangkan
yadnya artinya ikhlas berkorban untuk tujuan yang benar dan suci. Jadi, upacara yadnya
adalah upaya spiritual dengan bentuk ritual dengan tujuan mendekatkan diri pada Tuhan
dengan landasan bhakti.
Bhakti pada Tuhan itu lebih lanjut didayagunakan untuk meningkatkan keluhuran
moral dan daya tahan mental untuk memelihara kesejahteraan alam serta mengabdi pada
sesama manusia dengan landasan punia. Asih dan punia itulah sebagai wujud bhakti kita
kepada Tuhan. Jika bhakti itu tanpa rnenyayangi alam Iingkungan dan mengabdi pada sesama
dengan tulus maka bhakti akan sia-sia saja. Selanjutnya upacara yadnya itu ada upakaranya.
Kata upakara dalam bahasa Sansekerta artinya melayani. Karena itu dalam Lontar Yadnya
Prakerti bentuk-bentuk upakara itu sebagai lambang pelayanan kepada Tuhan, kepada sesama
manusia dan juga pelayanan kepada alam atau bhuwana.

Dari pemahaman tersebut dapat dinyatakan bahwa suksesnya suatu upacara yadnya
apabila ada secara nyata upaya melestrikan alam lingkugan, adanya perhatian yang nyata
pada nasib sesama sehingga hubungan manusia dengan manusia semakin harmonis, dinamis
dan produktif secara spiritual dan meterial.
Hal itu terjadi sebagai wujud pelaksanaan upacara yadnya. Kalau terjadi sebaliknya
maka dapat dinyatakan upacara yadnya itu belum sukses. Kalau bhakti itu kenyataanya
membuat alam semakin merosot kuantitas dan kualitasnya dan hubungan dalam masyarakat
semakin tidak harmonis, apalagi sampai terjadi permusuhan, itu pertanda upacara yadnya
tersebut gagal mewujudkan misi sucinya. Apalagi upacara yadnya penyelenggaraanya boros,
karena dalam pustaka Ariandadayi menyatakan ada empat hal yang tidak boleh diboroskan
yaitu: tidak boleh sampai membuang-buang makanan, pemakaian uang tidak tepat guna,
tenaga tidak boleh dibuang sia-sia dan tidak mengulur-ulur waktu. Agar upacara itu sukses,
lakukanlah upacara yadnya yang satvika sebagaimana dinyatakan dalam kutipan Sloka
Bhagawad Gita XVII, 11, 12 dan 13.
2.1.1 Kualitas Yadnya
Ada tiga kualitas upacara yadnya utama itu pengertiannya dipadukan dengan satvika
yadnya menurut kitab suci Bhagawad Gita. Apalagi menurut Manawa Dharmasastra 1.86
prioritas beragama zaman Kali adalah dhana punia bukan upacara. Karena itu upacara yadnya
yang diselenggarakan agar lebih diutamakan kegiatan berdana puma terutama untuk
memajukan pendidikan. Upacara yadnya diselenggarakan disamping tujuan utamanya untuk
berbhakti pada Tuhan juga sebagai media berdaana punia.
Upacara yadnya rajasika dan tamasika, yang ditampilkan dengan serba glamour dan
gebyar serba mewah dan yang boros uang, waktu, tenaga dan membuang-buang makanan.
Upacara Yadnya demikian itu menjadi beban yang memberatkan hidup dan banyak
menimbulkan permasalahan hidup. Satvika yadnya menurut Bhagawad Gita ada beberapa
syaratnya, yaitu sradha, artinya upacara yadnya dilakukan berdasarkan keyakinan yang
mendalam bahwa upacara yadnya itu sebagai suatu yang seyogianya dilakukan sebagai
penganut Hindu yang baik. Upacara Yadnya tidak boleh dilakukan dengan ragu-ragu sekadar
untuk memenuhi syarat formal beragama Hindu saja. Lascarya, upacara yadnya harus
dilakukan dengan tulus ikhlas tidak ada sama sekali adanya rasa terpaksa atau ada sesuatu
yang dirasakan menekan. Upacara yadnya itu dilakukan sesuai dengan Vidhi Drstah atau
petunjuk sastranya.
Upacara yadnya harus juga ada Daksina, artinya honorarium sebagai simbol
penghormatan dalam wujud hanta dan penghormatan secara moral untuk rohaniawan seperti
pinandita (pemangku) atau pandita. Tanpa daksina, upacara yadnya itu akan gagal. Upacara
yadnya seyogianya diantarkan dengan melantunkan gita atau kidung suci. Kidung suci yang
dilantunkan dengan benar, baik dan tepat akan dapat menumbuhkan vibrasi spiritual pada
lingkungan. UpacaraYadnya seyogianya juga ada Arma Seva artinya ada jamuan makan
terutama untuk Atiti Yadnya yaitu tamunya upacara. Sebab, ada sastra menyatakan betapa
pun meriahnya suatu upacara yadnya kalau di sekitarnya ada orang kelaparan dan wanita
terhinakan maka upacara yadnya itu tidak mencapai tujuan muliannya. Syarat terakhir satvika
yadnya itu adalah nasmita artinya yadnya yang dilakukan itu tidak ada niat untuk pamer atau
menonjolkan egoisme. Apalagi ada niat untuk menonjolkan diri untuk meremehkan orang
lain di lingkungan sendiri. Hakikat upacara yadnya itu justru untuk mereduksi egoisme.
Karena egoisme itu akan menutup pancaran suci atman menyinari dinamika indriya. Upacara
yadnya yang menonjolkan egoisme itu ciri upacara yadnya yang gagal memberikan vibrasi
suci.
2.2 Rumusan serta pemaparan Panca Yadnya dalam Agama Hindu
Dalam Atharwa Weda XVII.3 dinyatakan bentuk Yadnya yang paling tinggi adalah
pengorbanan lahir batin. Maka dari itu semangat patriotisme yang diajarkan dalam
Bhagawadgita, Mahabharata, Ramayana sangat tepat ksatria yang ber-Yadnya di medan
perang. Maknanya sebagai pembela tanah air, menegakkan kebenaran dan keadilan.
Jadi berdasarkan uraian tersebut, Yadnya sebagai amalan agama mengandung
pengertian. 1.Merupakan sistem persembahyangan dalam kontak memuja Tuhan Yang
Maha Esa.
2.Merupakan prinsip berkorban agar umat bersedia, rela dan menyadari bahwa berkorban itu
sebagai pemeliharaan kelangsungan hidup menuju hidup bahagia.
Akibat Tuhan berbuat Yadnya itu menimbulkan rnam. Rnam berarti hutang. Kemudian
agar tercipta hukum keseimbangan, maka rnam itu harus dibayarkan dengan Yadnya.
Demikian adanya atas dasar Tri Rna
Dibayar dengan Panca Yadnya yakni:
a. Dewa Rna dibayar dengan Dewa Yadnya dan dibayar dengan Bhuta Yadnya.
b. Rsi Rna dibayarkan dengan Rsi Yadnya.
c. Pitra Rna dibayar dengan Rsi Yadnya dan Manusa Yadnya.
Memang konsep agama hindu adalah mewujudkan keseimbangan. Dengan terwujudnya
keseimbangan, berarti terwujud pula keharmonisan hidup yang didambakan oleh setiap orang
di dunia.Untuk umat Hindu yang diidam-idamkan adalah terwujudnya keseimbangan antar
manusia dengan Tuhannya, antara manusia dengan manusia, dan manusia dengan
lingkungannya. Maka dari itu, Yadnya mutlak diperlukan.
Ada dua macam Panca Yadnya, yaitu:
1. Panca Yadnya berdasarkan sarana dan bentuk pelaksanaannya.
2. Panca Yadnya berdasarkan tujuan dan objek yang dituju, Yadnya ini disebut Panca Maha
Yadnya.
Pertama:
Panca Yadnya berdasarkan sarana dan bentuk pelaksanaan dalam Bisma Parwa dijelaskan:
a. Drewaya Yadnya, adalah Yadnya yang mempergunakan harta milik sebagai sarana korban.
b. Tapa Ydnya, adalah Yadnya dengan melaksanakan tapa, yaitu tahan uji tahan derita sebagai
sarana berkorban.
c. Jnana Yadnya, adalah Yadnya dengan menyumbangkan kebijaksanaan, ilmu pengetahuan,
member pandangan-pandangan, atau buah pikiran yang berguna, sebagai sarana korban.
d. Yoga Yadnya, adalah Yadnya dengan pengamalan yoga, yaitu menghubungkan diri pada Sang
Hyang Widhi melalui jenjangan-jenjangan yoga. Bahkan sampai dengan tingkat tertingi
yakni semadhi, sebagai sarana berkorban.
e. Swadyaya Yadnya, adalah Yadnya dengan mengorbankan diri demi kepentingan dharma.
Seperti halnya para pahlawan kemerdekaan, mereka mengorbankan diri demi sebuah
kemerdekaan. Ini juga disebut Yadnya.

Kedua:
Panca Yadnya berdasarkan kitab Manawa Dharmasastra III. 70 tersurat:

“Adhyapanam brahma Yajnah,


pitryapastu tarpanam,
homo daiwo balikbaurto,
nryajna ‘tihti pujanam.”

Artinya :
Mengajar dan belajar adalah Yadnya bagi Brahmana, menghaturkan minyak, susu adalah
Yadnya untuk para Dewa, menghaturkan bali adalah Yadnya untuk para bhuta, dan
penerimaan tamu dengan ramah tamah adalah Yadnya bagi manusia. jadi, berdasarkan uraian
di atas dapat dijelaskan Panca Yadnya itu sebagai berikut:
1. Dewa Yadnya, adalah Yadnya yang ditujukan untuk para Dewa.Asal kata Dewabersal
dari bahasa Sanskrit “Div” yang artinya sinar suci, jadi pengertian Dewa adalah sinar suci
yang merupakan manifestasi dari Tuhan yang oleh umat Hindu di Bali menyebutnya Ida
Sanghyang Widhi Wasa.
2. Rsi Yadnya, adalah Yadnya yang ditujukan kepada brahmana atau para Rsi.
Rsi artinya orang suci sebagai rokhaniawan bagi masyarakat Umat Hindu di Bali.
3. Pitra Yadnya, adalah Yadnya yang ditujukan pada leluhur.
Pitra artinya arwah manusia yang sudah meninggal.
4. Bhuta Yadnya, adalah Yadnya yang ditujukan kepada para Bhuta Kala.
Bhuta artinya unsur-unsur alam.
5. Manusa Yadnya, adalah Yadnya yang ditujukan pada manusia. Manusia yang hidup di dunia
terutama yang beragama hindu selalu melaksanakan yang namanya manusa yadnya,

2.2.1 Pemaparan Panca Yadnya


1. Dewa Yadnya
Dewa Yadnya berarti persembahan suci ditujukan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa dan
para Dewa serta segala manifestasinya.
Adapun tujuan utama melaksanakan Dewa Yadnya adalah:
1. Menyampaikan rasa hormat, bakti kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan
nikmat yang dianugerahkan kepada umatNya.
2. Memohon perlindungan, berkah, kesejahteraan, panjang umur, kesaksian, kemuliaan,
bimbingan untuk menuju keselamatan umat, bangsa dan negara.
3. Mengucapkan syukur atas peningkatan sesucian lahir batin dengan didasari oleh pembersihan
akan bayu, sabda dan idep, yaitu paridhanya laksana kata-kata dan pikiran.
Kalau demikian halnya berarti perbuatan-perbuatan di bawah ini yang termasuk ke
dalam Dewa Yadnya Misalnya:
a. Melaksanakan persembahyangan kepada sang hyang Widhi.
b. Mempelajari dengan sungguh-sungguh dan mengamalkan ajaran tentang ketuhanan.
c. Berziarah ke tempat-tempat suci dan mengembangkan ajaran Dharma.
d. Membangun tempat-tempat ibadah.
e. Berdana punia bila ada upacara di Pura.
f. Menghaturkan canang dengan sarinya tatkala melakukan persembahyangan.
g. Bakti sosial (ngayah) pada suatu tempat-tempat suci dengan penih keikhlasan.
Perbuatan semacam inilah termasuk perbuatan Dewa Yadnya yang mulia bila
dilaksanakan dengan kesadaran batin dan tanpa pamrih. Bukannya besar harta benda
yang menjadi ukuran, tetapi dasar ketulus-ikhlasan itulah yang utama.
Disisi lain bila ditelusuri tentang hari-hari pelaksanaan Dewa Yadnya dapat dibedakan
dua macam, yaitu Nitya Yadnya dan Naimitika Yadnya. Kedua macam pelaksanaan Dewa
Yadnya ini dapat dijelaskan sebagai berikut.
a. Nitya Yadnya, artinya melaksanakan Dewa Yadnya seperti:
1. Menghaturkan banten canang sari setiap hari
2. Menghaturkan Yadnya sesa setiap hari sehabis masak
3. Melaksanakan Puja Tri Sandhya setiap hari
b. Naimitika Yadnya, artinya melaksanakan Dewa Yadnya berkala dalam sasih dan pertahun,
untuk ini dapat diuraikan satu persatu, yaitu:
1. Melaksanakan Dewa Yadnya berdasarkan hari, Hari Tri Wara, Panca wara, Sapta Wara
dan wuku, yaitu:
a) Melaksanakan Dewa Yadnya pada hari Kliwon adalah memuja Dewa Siwa.
b) Hari Kajeng Kliwon memuja Bhatara Durga
c) Hari Anggara Kliwon (Anggara kasih) memuja Dewa Ludra sebagai pelebur keburukan di
dunia
d) Hari Budha Kliwon, memuja Sang Hyang Ayu untuk mencapai kesucian batin
e) Hari Budha Wage (Budha Cemeng), memuja Bhatara Manik Galih untuk mencapai
ketentraman batin dan mengendalikan diri
f) Hari Saniscara Kliwon (Tumpek), memuja Sang Hyang Parama wisesa untuk mengukuhkan
keyakinan
g) Hari Budha Kliwon Sinta (Pagerwesi), memuja Sang Hyang Pramesti Guru
h) Budha Kliwon Dunggulan (Galungan), memuja Sang Hyang Pramesti Guru, para Dewa,
Pitara sebagai kemenangan dharma melawan adharma
i) Budha Kliwon Pahang (Pegat Uwakan), memuja Sang Hyang Maha Wisesa, Dewa, dan
Bhatara sebagai rentetan terakhir upacara hari raya Galungan dan Kuningan.
j) Saniscara Kliwon Wayang (Tumpek Ringgit), memuja Dewa Iswara sebagai Dewa
Kesenian
k) Saniscara Umanis Watugunung (odalan Sang Hyang Aji saraswati), memuja Dewi Ilmu
Pengetahuan.

2. Dewa Yadnya berdasarkan Purnama dan Tilem


Dijelaskan tentang beryoganya Sang Hyang Rwa Bhineda yakni Sang Hyang Candra seperti
pada hari:
a) Purnamaning Sasih Kapat, pemujaan terhadap Sang Hyang Parameswara atau Sang Hyang
Puru Sangkara beserta para Dewa, Widyadara-widyadari, dan para Rsi Gana
b) Purnamaning sasih kedasa; pemujaan terhadap Sang Hyang Surya Merta
c) Tilem Sasih Kapat; juga dilaksanakan pemujaan terhadap kebesaran Tuhan yang telah
memberkati umatNya
d) Purnamaning Tilem Kapitu; melaksanakan malam Siwa/Siwa Latri
e) Tilem Kasanga; dilaksanakan upacara menyambut tahun baru Caka, yang diawali dengan
melis ke laut atau sungai. Setelah itu dilanjutkan dengan upacara Tawur Kesanga. Sebagai
puncak acara dilaksanakan Nyepi, yakni melaksanakan: Amati Geni, Amati Karya, Amati
Lelungan, Amati Lelanguan. Upacara ditutup dengan Ngembak Geni.
f) Berdasarkan Purnama dan Tilem, setiap tahun sekali di Pura Besakih dilaksanakan upacara
Dewa Yadnya pada sisih kadasa (Purnama) bernama Bhatara Turun Kabeh. Kalau setiap
sepuluh tahun sekali dilaksanakan Panca Wali Krama, kemudian setiap seratus tahun sekali
dilaksanakan Eka Dasa Rudra

3. Upacara Dewa Yadnya yang sifatnya insiden


Dapat kita lihat dalam lontar Catur Weda, misalnya upacara: Melaspas, Memungkah,
Catur Rebah, dan Nyatur Niri. Semua Yadnya mempunyai atura sendiri. Juga dalam lontar
Bhama Kerti, dijelaskan ada upacara Matani Aluh, seperti: Matarin, Nemakuh dan Ngulapin.
Dalam lontar Sripurana, berarti dengan pertanian dilaksanakan upacara: mulai mengerjakan
sawah, Byakukung dan Mantenin Padi
Bahwa phala melaksanakan Dewa Yadnya dijelaskan dalam lontar Tatwa Kusuma Dewa,
sebagai berikut:
“Rahayu pahalaya yan mangkana, sadadyani kaya olih sadya kaduluran Whidi, haywa enam
ngutpati Dewa astiti ring Sang Hyang Widhi.”
Artinya:
“selamat phalanya bila telah demikian seluruh sanak keluarga memperoleh penghasilan
dikarunia Tuhan. Janganlah ragu-ragu ber Yadnya pada Dewa dan berbakti Pada Tuhan.”

2. Rsi Yadnya
Rsi Yadnya berarti persembahan suci kepada Brahmana atau para Rsi atas jasa beliau
dalam membina umat dan mengembangkan ajaran agama.Kalau kita terima agama itu adalah
sebagai obat maka para kaum Brahmana telah berjasa dapat memberikan obat kapada umat,
sehingga umat memiliki kesehatan mental dan spiritual.
Kalau kita terima juga agama itu laksana obor, berarti para Brahmana memberikan suluh
menghilangkan kegelapan bagi pemeluknya, berarti para Brahmana atau para Rsi telah
berjasa menjadikan dunia cemerlang karena ilmu agama disebarkan dan dikembangkan oleh
beliau kepada pemeluknya.
Demikian juga kalau diterima bahwa agama itu adalah memuliakan hidup berarti para
Maha Rsi atau kaum Brahmana telah berjasa pula karena mereka dapat menuntun umat
manusia untuk hidup lebih berkembang, menjadi manusia yang utuh. Manusia yang memiliki
keseimbangan jasmani dan rohani. Dimana dalam agama Hindu dikenal dengan Molsartham
Jagadhita.
Kalau kita menyadari diri kita ketika baru lahir mempunyai keadaan putih bersih belum
tahu apa-apa, tapi sekarang kita melihat diri dan menyadari kita tahu membaca, menulis,
berhitung, tahu pengetahuan agama, dan tahu ilmu-ilmu lain. Sesungguhnya itu terjadi atas
jasa-jasa dari para arif bijaksana yang dengan tulus ikhlas menyebarkan pengetahuan itu.
Di mana ada kaum arif bijaksana pengemban Dharma, di sana ada kemuliaan. Seperti apa
yang telah dijelaskan dalam kitab Ramayana syair bait II yang berbunyi:
“Hana rajya tulya kendran,
Kawehan sang Mahardidhika susila,
Ringayoodya subhageng rat,
Yeka kadarwanirang nrepi.”
Artinya:
“Ada kerajaan bagaikan sorga, banyak disana orang arif budi luhur di sana pada keratin
Ayodya yang sangat terkenal, itulah keratin beliau raja (Dasarata).
Berkenaan dengan hal di atas kita harus menyadari bahwa untuk dapat mengambil bagian
dalam hidup ini melaksanakan Rsi Yadnya maka kita harus mengemukakan cara-cara untuk
melaksanakannya. Langkah yang dapat dilaksanakan sebagai amalan Rsi Yadnya. Hal ini
dapat digambarkan sebagai berikut:
a) Hormat bakti kepada para Brahmana termasuk sikap pelaksanaan Rsi Yadnya
b) Memberikan tuntunan kepada calon sulinggih
c) Menobatkan seorang sulinggih
d) Memberikan punia kepada para Rsi pada hari-hari tertentu
e) Menghaturkan daksina kepada para Rsi pada hari-hari tertentu
f) Tekun mempelajari kitab-kitab suci
g) Memperingati hari Saraswati
h) Mengembangkan dan menyebarkan ajaran Weda
3. Pitra Yadnya
Pitra Yadnya merupakan persembahan suci kepada Pitra atau roh leluhur dan termasuk
kepada orang tua yang masih hidup. Disadari atau tidak beban utang dari hutang orang tua
atau leluhur cukup banyak dalam kitab Manu Smrti 11.227 menjelaskan:
“Yam matapitaram klecam seheta sambhawe.
Nrnam na tasya niskrtih
Cakya kartum warsa catairapi”.
Artinya:
Penderitaan yang diabaikan oleh Bapak dan Ibu pada waktu lahir anak (bayi) tidak dapat
dibayar walaupun dalam waktu seratus tahun.
Selain itu dalam lontar Kunti Yadnya dijelaskan:

“Kengetakna grtrani kawitanta,Tkeng


anak putunta sukulaBretya nucara, me
pwakitaPanahura hutanganta ring yayah
bibi, panebusaning sarirakret ngaranya
kasampurna dening yasa sembanta”.

Artinya:
Ingatlah jasa-jasa leluhurmu pada anak cucu serta pada seluruh sanak keluarga, patutlah
membayar segala hutangmu pada Ayah Ibu.
Berdasarkan penjelasan di atas kita gambarkan bahwa kita wajib membayar hutang itu
pada orang tua.Pembayaran hutang itu diwujudkan dalam bentuk Pitra Yadnya. Wujud-wujud
tersebut dapat berbentuk seperti di bawah ini:
a) Menghormati orang tua atau leluhur
b) Sedapat mungkin dapat menuruti nasehat orang tua
c) Menjamin orang tua setelah usia lanjut, termasuk di dalamnya menjamin makanan,
kesehatan, atau hal yang menyangkut sandang pangan dan papan
d) Mengajak orang tua bercakap-cakap sebagai cerminan cinta kasih keluarga
e) Membuang, memelihara, menjaga tempat suci keluarga, termasuk Padharma
Tujuan dilaksanakan upacara Ngaben adalah untuk mengembalikan Stula Sariraatau
badan wadag yang terdiri dari Panca Maha Bhuta dalam Buana Alit kepada Panca Maha
Bhuta yang bersumber pada Bhuana Agung.Selain itu bertujuan untuk meningkatkan
kesucian roh yang telah meninggal, yakni dari roh orang yang berstatus Preta menjadi Pitara
bahkan menjadi Dewa Hyang Pitara. Untuk proses pengembalian Panca Maha Bhuta ke
Bhuana Agung, dikenal dengan sistem pembayaran mayat, yang disebut: Sawa Wedana, Asti
Wedana dan Swasta Wedana.
1) Sawa Wedana
Sawa Wedana disebut juga Sawa Preteka.Artinya mengupacarai jenazah orang yang
baru meninggal.Sering juga dalam masyarakat disebut ngaben dadakan, sifatnya segera.
Menurut lontar Yama PurwanaTatwa dan Pubha Sasana, tata cara seperti ini dibenarkan
dan disebut dengan istilah Mependem Ring Giri, megenah di petulangan.
2) Asti Wedana
Asti Wedana adalah mengupacarai jenazah setelah menjadi tulang. Tata caranya seperti di
bawah ini:
a. Mempermaklumkan ke Pura Dalem. Yang akan di aben, tegteg dipermaklumkan ke Pura
Dalem. Dilengkapi dengan peras, penyeneng, daksina pejati, suci, ketipat dan segehan.
b. Ngulapin ke Mraja Pati, tegteg dituntun ke Mraja Pati disertai upacara peras, daksina,
pengulapanan, pengabenan, segehan dan sayut.
c. Ngangkid: tegteg diusung ke setra ke tempat terkubur orang yang akan diaben. Di atas
kuburan diselenggarakan upacara ngangkid dengan sarana: suci, peras, penyeneng, daksina,
pujung, segehan berisi jeroan mentah, tabuh tuak arak. Setelah upacara ini berakhir,kuburan
dibongkar, tulang-tulang diambil, dibersihkan, lalu disusun kembali seperti semula.
d. Pada bangbang yang telah dibongkar, menghaturkan banten: suci, peras, daksina, dan
sembelihan ayambulu hitam. Setelah itu bangbang ditumbun secara simbolis.
e. Ngeringkes: upacaranya serupa dengan banten pengeringkesan Sawa Wedana.
f. Ngeseng: upacaranya sama dengan upacara Sawa Wedana.
g. Ngayut: sama dengan upacara Ngayut Sawa Wedana.
3) Swasta Wedana
Swasta adalah upacara Pitra Yadnya yang dilaksanakan dengan tidak mengupacarai mayat
dalam bentuk tulang-belulang atau jasad.Melainkan bentuk itu dapat diganti dengan bentuk
kusa atau alang-alang.Selain itu, dapat juga diwujudkan dengan air sebagai Toya Sarira. Tata
pelaksanannya sama dengan tahap-tahap pelaksanaan Asti Wedana. Mulai dari
mempermaklumkan ke Pura Dalem sampai dengan Ngayut.Hanya ada perbedaan sedikit,
kalau dalam ngaben Swasta tidak ada langkah ngangkid tulang seperti dalam Asti Wedana.

4) Ngelungah
Dikenal lagi upacara ngaben yang disebut Ngelungah.Upacara ini dilakukan bagi jenazah
yang masih anak-anak.Ketentuannya ini adalah bagi anak-anak yang berumur di atas tiga
bulan dan belum tanggal giginya, bila meninggal maka diaben Ngelungah.Kalau bagi anak
yang belum berumur tiga bulan, bila meninggal almarhumhanya dikubur saja.Namun, anak
yang berumur diatas tiga bulan dan sudah tanggal giginya almarhum diaben seperti orang
dewasa.
Adapun tata caranya adalah:
a. Mempermaklumkan ke Pura Dalem, dengan upacara: canang meraka, daksina, ketipat,
kelanan, telor bekasem dan segehanputih kuning.
b. Memaklumkan ke Mraja Pati dengan upacara: canang, ketupat, daksina dan peras.
c. Mempermaklumkan pada sedahan Setra, dengan upacara: canang meraka dan ketipat kelanan.
d. Permaklumkan pada bangbang rare, dengan upacara: sorohan, pengambian, pengulapan,
peras daksiana, klungah nyuh yang disurat Omkara.
e. Banten pada roh bayi, seperti: bunga pudak, bangsah pinang, karaseb sari, punjang dan
banten bajang.
f. Tirta pangrampuh yang dimohon di Pura Dalem dan Mraja Pati. Semua banten itu tempatkan
di gegunduk bangbang, pemimpin upacara memohon pada bhatar/bhatari agar roh bayi cepat
kembali menjadi suci.Bila selesai memercikkan tirta, banten ditimbun dan bangbang
diratakan kembali.
5) Upacara Atma Wedana
Upacara Atma Wedana disebut juga nyekah.Upacara ini dilaksanakan setelah selesai
upacara Sawa Wedana.Tujuan upacara ini adalah untuk meningkatkan kesucian roh orang
yang meninggal.Semula preta menjadi pitara bahkan menjadi Dewa Hyang Pitara.Sejalan
dengan ini juga berarti mengembalikan atma ke paramaatma.Nama-nama untuk upacara ini
ada yang menyebut nyekah, ngerorasin, mukur, melinggih dan juga ngeluwer. Pelaksanaan
upacara ini dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

a. Ngajum
Makna upacara ini adalah memanggil Sang Hyang Atma(roh), karena dibuatkan upacara
sekah. Upacara Ngajum ini disertai seperangkat sesajen dan pelaksanaan upacaranyapagi hari
dib alai Pawedan yang dituntun oleh pemimpin upacara beserta dikerjakan oleh senta dan
prati Santana. Upacara ngajum ini termasuk upacara utpati.
b. Upacara Ngayab
Pelaksanaan upacara ini termasuk upacara Shtiti Sang Hyang Atma.Upacara ini dilakukan
setelah kembali dari beji.Dipimpin oleh sulinggih dilengkapi dengan saji, ayaban dan
seperangkat banten.Kemudian dilanjutkan persembahyangan oleh anak cucu dan prati
sentananya
c. Upacara Mapralina
pacara ini dilakukan pagi hari di depansanggah pesaksi. Sekah diturunkan dari balai
upacara, segala menjadi satu kesatuan sekah segera dibakar di atas senden.Bila semua telah
terbakar lalu disiram dengan air kumkuman.Kemudian dilumatkan dengan tebu dan cabang
dapdap.Hasil lumatan itu dimasukkan ke dalam kelapa gading dan dihanyutkan ke laut atau
sungai.
Tiga hari setelah upacara mepralina, dilanjutkan dengan upacara ngeremekin.Maksud
upacara ini adalah mempermaklumkan bahwa penyucian roh terhadap orang yang meninggal
telah selesai.Bila tahapan ini sudah selesai, maka dapat dilanjutkan dengan ngelinggihang
Dewa Hyang Pitara di Pura Kawitan sebagai pura penyungsungan leluhur.Bila dikaitkan
dengan Panca Yadnya, upacara ngelinggihang ini sudah termasuk Dewa Yadnya.Sebagai
renungan,orang yang belum mengerti tentang Pitra Yadnya ini, mereka dengan cepat
mengatakan upacara ngaben ini adalah pemborosan.Boleh saja, sebab bila direnungkan lebih
jauh lagi bukanlah
pemborosan.Tetapi upacara agama Hindu ini adalah membantu untuk memutar ekonomi
masyarakat. Sebab dalam kesempatan seperti ini orang yang kaya akan mempergunakan harta
bendanya untuk mewujudkan semangat rela berkorban. Maka dari itu ia membuat upacara
yang utama tingkatannya. Namun bagi umat yang tidak mampu, dapat membuat utamaning
nista.Nista
bukan berarti hina dan rendah, melainkan semua tingkatan mengandung arti mulia bila
didasarkan atas ketulusan ber-Yadnya.
Berdasarkan pikiran sepintas, kiranya uang yang banyak itu dialihkan dan disumbangkan
pada fakir miskin.Diketahui agama Hindu tidak mengajarkan bagaimana melalui Yadnya
ekonomi masyarakat berputar. Akibatnya orang yang bisa rajin bekerja dan menyadari etos
kerja, sebab kerja apapun yang didasari pada cinta kasih dan dikerjakan secara sungguh-
sungguh akan menunjang kehidupan kita. Bukan umat diarahkan kerja meminta-minta.Jadi,
berkaitan dengan ini dapat ditegaskan pelaksanaan ngaben ini bukanlah semata-mata
pemborosan, melainkan mengandung unsur gotong-gotong royong, pendidikan kerja dan rela
berkorban tentunya.Sesuai dengan semangat ber-Yadnya untuk melangsungkan pemeliharaan
hidup.

4. Manusa Yadnya
Manusa Yadnya adalah persembahan suci kehadapan sesama.Tujuan melaksanakan
korban suci ini adalah untuk pembersihan lahir batin.Pembersih lahir batin ini dilakukan
setiap hari, setiap saat dan berkelanjutan.Dengan demikian diharapkan pada akhirnya agar
atma dapat manunggal dengan parama atma.
Berdasarkan tujuan dan pengertian Manusa Yadnya yang telah diuraikan di atas, maka
satu putaran hidup manusia dapat dilihat berkali-kali dilaksanakan upacara Manusa Yadnya
terhadap seseorang itu.Boleh jadi pembersihan bayi sejak dalam kandungan, sampai bayi
lahir, dan menjadi dewasa, serta sampai mengakhiri hidupnya. Weda Parikrama menjelaskan,
tubuh dibersihkan dengan air, pkiran dibersihkan dengan kejujuran, roh dibersihkan dengan
ilmu dan tapa dan akal dibersihkan dengan kebijaksanaan.Berkaitan dengan hal ini berarti
kita membersihkan diri terhadap semua hal di atas. Agama Hindu dalam prakteknya yang
berkaitan dengan pembersihan roh jasmani dan roh rohani tidak bias terlepas
dari menggunakan banten sebagai wujud korban dan berkaitan dengan
Manusa Yadnya. Hal ini sangant bersifat spiritual.Pelaksanaan Manusa Yadnya dalam
kehidupan sehari-hari dapat berwujud material dan juga spiritual.Misalkan uang, nasi, air atau
hal-hal yang temasuk dalam sandang, pangan dan papan.Kemudian pemberian ilmu
pengetahuan, nasihat, petunjuk, jasa dan sejenisnya adalah yang bersifat spiritual.Sifat
pemberian seperti di atas, bila didasarkan atas ketulusan hati menurut lontar slokantara
disebut Stvikdana.Bila pemberian itu dikaitkan dengan unsure pamrih, walaupun sedikit
adanya dalam batas wajar disebut Rajasikdana.Bila suatu pemberian mempunya ikatan
pamrih keuntungan yang banyak hal ini disebut Tamasikdana.
Kembali pada pelaksanaan Manusa Yadnya dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan
dengan sarana banten, dilaksanakan dalam masa-masa transisi.Masa sekarang ini dipandang
mempunyai nilai baik untuk dibuatkan pembersihan spiritual.
Adapun waktu-waktu yang dipandang baik untuk melaksanakan upacara itu adalah ketika:
a. bayi dalam kandungan dibuatkan upacara pagedong-gedongan.
b. bayi baru lahir dibuatkan upacara mapag rare.
c. bayi tatkala kepus puser dibuatkan upacara kepua puser.
d. bayi sua belas hari dibuatkan uapacara lepas hawon
e. bayi berumur 42 hari dibuatkan upacara kambuhan
f. bayi berumur tiga bulan dibuatkan upacara nyambutin
g. bayi berumur enam bulan dibuatkan upacara oton.
h. bayi baru tumbuh gigi dibuatkan uapacara ngampugin.
i. anak giginya tanggal untuk pertama kalinya dibuatkan upacara makupak.
j. anak sudah meningkat remaja dibuatkan upacara ngraja.
k. anak menjadi dewasa dibuatkan upacara matatah.
l. bila ia ingin mendalami ilmu kerohanian maka dibuatkan upacara mawinten.
m. bila ia ingin membentuk rumah tangga maka dibuatkan upacara pawiwahan.
Dengan demikian sudah jelas bahwa satu putaran hidup menjadi manusia banyak sekali
dibuatkan upacara Manusa Yadnya. Di zaman perkembangan umat Hindu sekarang ini,
Manusa Yadnya yang diberikan pada anak akan lebih berguna bila peningkatan sumber daya
manusia itu diantisipasi dengan lebih awal. Oleh karena itulah agar anak-anak merasa lebih
mandiri dan
berdaya guna nanti ia patut diberikan jaminan hidup yang cukup, fasilitas pendidikan dan terdidik.
Untuk mengetahui makna yang terkandung dalam pelaksanaan upacara Manusa
Yadnyaakan diuraikan satu persatu secara singkat, yaitu:

a. Upacara Pagedong-gedongan
Upacara pagedong-gedongan disebut juga upacara garbhadana.Tujuan upacara ini
adalah memohon keselamatan jiwa araga si bayi yang ada dalam kandungan.Diharapkan
melalui upacara ini bayi yang lahir dalam keadaan selamat, kemudian dapat hidup, tumbuh
menjadi yang berguna bagi masyarakat.
Menurut lontar kuno Drestiupacara Garbhadanaini baik dilaksanakan setelah kandungan
berumur lima atau enam bulan kalender, karena pada saat itulah pertumbuhan janin sudah
sempurna berbentuk sosok bayi utuh berbadan laki atau perempuan.
Selain melaksanakan upacara seperti di atas, orang tua menjadi wajib melaksanakan
brata dalam kehidupan sehari-hari.Misalnya orang tua jangan berucap “Wakcapala” artinya
berkata-kata kotor. Selain itu orng tua wajib melaksanakan “Wakpurusia” artinya tidak
berkata yang dapat menyakitkan hati orng lain. Termasuk juga selalu memelihara ikatan cinta
kasih dalam membina rumah tangga.Bila brata seperti di atas tidak dilaksanakan maka
dikhawatirkan sifat buruk di atas dapat berkibat buruk bagi bayi dalam kandungan.Agar batyi
mendapat pengaruh yang baik, sebaiknya orang tua berperilaku positif, misalnya membaca
buku-buku kerohanian, wiracerita, atau cerita-cerita yang bersifat tuntunan budi luhur.
b. Upacara mapag rare
Ketika bayi baru lahir, dibuatkan uapacara mapat rare. Tutuannya mengucapakan syukur
kepada sang Hyang Dumadi, bahwa bayi dapat lahir dengan selamat. Melalui upacara ini,
diharapkan Sang Hyang Dumadi menjiwai bayi tersebut, dapat hidup dhurgayusa dhirgayu.
Berkaitan dengan bayi baru lahir perlu diketahui cara memelihara tembumi.
Tembumi dibersihkan, kemudian dimasukkan ke dalam kelapa yang dibelah dua, juga
dimasukkan duri-duri.Seperti duri terong, nawar dan sebagainya.Dan dilengkapi juga dengan
sirih lekesan, kelapa yang dibungkus ijuk, kain putih baru.Ditanam sebelah kanan pintu
masuk, kalau bayi laki-laki dan sebelah kiri kalau bayi perempuan.
Saat memendam ke bumi mengucapakan mantra:
“ong sang ibu pertiwi rumsga bayu,
ruange amerta sanjiwani,
angemertaning sarwa tumarah…[wong bayi]
mangda dirgayusa nugtugan tuwuh”

artinya:
ya Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasi ibu pertiwi laksana sumber kehidupan,
memberikan hidup kepada semua makhluk, semoga panjang umur dan selamat.
Setelah itu tembumi serta ditindih dengan pohon pandan, lalu dihaturkan banten segehan
kepada catur warna.Lengkap dengan bawang, jahe, garam serta canang satu pasang.
c. Upacara Kepus Puser
Tujuannya pembersihan tempat suci bangunan pekarangan.Puser dikeringkan dengan
rempah-rempah dan disimpan di tempat tidur si bayi, saat si bayi diasuh oleh Sang Hyang
Kumara.

d. Upacara ngelepas hawon


Setelah bayi berumur dua belas hari dibuatkan suatu upacara ngelepas hawon dengan
tujuan bayi tetap sehat selamat dan panjang umur.
e. Upacara kambuhan
Upacar ini sering pula disebut upacara mecolongani. Tujuannya adalah:

1. melakukan pembersihan jiwa raga si bayi, denagn cara mengupacarai nyama bajang.
Banyak nyama bajang ada 108, antara lain: bajang colong, bajang bukal, bajang yeh,
bajang lengis, bajang bejulit, bajang kebo, bajang ambengan, bajang papah, bajang
tukal, bajang dodot, bajang

sapi dan lain-lain. Semua jenis bajang di atas berfungsi membantu ketika bayi dalam
kandungan, sehingga menjadikan wujud yang sempurna.Maka dari itu kekuatan bajang perlu
disucikan agar si bayi mendapat kerahayuan. membersihkan ibu bapa si bayi dengan suatu
banten pahyakala, prayascita dan banten tataban. Maksudnya setelah bayi berumur 42 hari,
diharapkan orang tua bayi dapat memasuki tempat-tempat suci. Ketika dilaksanakan upacara
inilah, baru peetama kali si bayi dimohon penglukatan terhadap Bhatara Brahma, Bhatara
Wisnu, Bhatara Siwa serta Sang Hyang Guru di sanggah kemulan.
f. Upacara Nyambutin
upacara nyambutin terlaksana setelah bayi berumur tiga bulan atau 105 hari. Tujuan
upacara ini dalah:
1) memepertegas nama si bayi
2) membersihkan jiwa raga si bayi
Serangkaian upacara nyambutin bias disertai dengan upacara turun tanah. Tujuannya adalah
memohon keselamatan terhadap ibu pertiwi atas kehidupan anak berkaitan dengan tanah.

g. Upacara satu oton


Setelah anak berumur 210 hari atau enam bulan, dibuatkan upacara satu oton.Sering juga
disebut weton.Kata ini berasal dari kata ‘wetuan’, yang mana wetu berarti lahir. Kata wetu
ditambah ‘an’ menjadi wetuan(weton) artinya kelahiran. Sering juga disebut wedalan.Kata
wedalan, berasal dari kata wedal yang berarti lahir. Kata ini sama artinyadengan medal.
Tujuan upacara oton ini adalah untuk memperingati hari kelahiran seseorang atau sesuatu.
Dasar untuk menentukan hari lahir ini adalah pertemuan sapta wara dengan paca wara, dan
wuku, misalnya:
hari buda kliwon sinta, kemudian lagi enam bulannya (210 hari) jumpa lagi dengan hari yang
sama, maka disebut satu oton sebagai hari lahir seseorang. Jadi, itulah yang dipakai pedoman
dalam memperingati otonan seseorang. Bagi umat Hindu, akan sangat baik bila oton ini
dirayakan berkelanjutan bahkan sampai akhir hayat.
h. Upacara ngempugin
artinya adalah melaksanakan upacara setelah anak tumbuh gigi untuk pertama kalinya.
Tujuannya memohon keselamatan kepada Bhatara Surya, Bhatara Dewi Sri agar gigi anak
tumbuh dengan baik.
i Upacara Mekupak
upacara mekupak dilaksanakan ketika gigi anak tanggal untuk pertama kalinya atau
pada oton pertama. Pergantian gigi susu dengan gigi dewaa adalah menandakan anak sudah
berubah status dari anak menjadi remaja. Pada masa ini Sang Hyang Kumara tidak lagi
mengasuh anak itu.Saat ini anak dioasuh oleh Sang Hyang Semara dan Sang Hyang Dewi
Ratih.Setelah mekatus inilah anak sudah mempersiapkan diri untuk menuntut ilmu. Apakah
pra sekolah atau taman kanak-kanak, ataukah langsung pada sekolah dasar.
j. Upacara Menek Deha
Upacara menek daha ini sering disebut dengan ngraja.Yang artinya meningkat dewasa.
Tujuan upacara ini adalah memohon tuntunan kepada Sang Hyang Semara dan Dewi Ratih
agar seseorang yang diupacarai dapat kekuatan dan mengatasi godaan-godaan yang mungkin
terjadi ketika menghadapi panca roba, dapat diketahui masa peralihan dari anak menjadi
dewasa merupakan masa-masa yang rawan bagi anak. Ia berada dalam masa pubertas
pertama.
Mereka sudah mulai bisa menerima godaan asmara, insane yang berlainan jenis. Bila
kurang waspada anak sering salah langkah.Maka Dari itu umat Hindu, selain memberikan
pendidikan sikap yang berkaitan dengan etika juga mohon tuntunan pada Dewa, agar
umatnya menjadi selamat melewati masa panca roba tersebut, melalui upacara menek daha
ini.
k. Upacara Metatah
Bila anak sudah dewasa, Eka Dasa Indria pada dirinya berfungsi dengan energik.
Mungkin terjadi dalam masa ini indria-indria itu lebih memberikan kesempatan Sad Ripu
menggoda diri manusia.bila terjadi kemungkinan di atas, Sad Ripu dapat menyusupi perilaku
seseorang yang mana dapat menyebabkan rusaknya perilaku orang tersebut. Oleh karena itu
dibuatkan upacara matatah dengan tujuan untuk mengendalikan pengaruh Sad Ripu dalam
diri anak.
Pelaksanaan upacara metatah ini dilengkapi dengan seperangkat banten upacara saran
simbolis gigi pada rahang atas ditatah sebanyak enam buah, terdiri dari empat gigi seri, dan
dua buah taring. Pada enam buah gigi itu, ujung geriginya sebagi lambang pengaruh adharma
ditatah, agar terbentuk ujung gigi yang rata lambang dharma.Jadi diharapkan dharma tetap
mengendalikan hiodup seseorang anak yang telah ditatah itu.Inilah dalam masyarakat
dilkatakan “ngedasang daki”.Artinya membersihkan kotoran anak. Maksudnya tiada lain
kekuatan Sad Ripu agar dikendalikan oleh kekuatan dharma, sehingga perilaku anak
mencerminkan budi luhur.
l. Upacara Mawinten
Seseorang yang baik, dibuatkan upacara Mawinten.Lebih-lebih bagi orang yang
mempelajari ilmu kerohanian. Tujuan upacara ini adalah memohon tuntunan kehadapan
Bhatara Guru, Dewi Saraswati agar beliau menuntun kecerdasan pada umatnya dalam
mempelajari ajaran suci, yakni ilmu pengetahuan yang bersangkut paut dengan ilmu agama
Tattwa, Yadnya dan Susila.
m. Upacara Pawiwahan
Bila anak sudah cukup dewasa lahir dan batin, serta tahu ketrampilan sebagai pegangan
kerja, maka sudah pantas membentuk suatu rumah tangga.Pembentukan rumah tangga baru
ini diawali dengan upacara pawiwahan. Tujuannya adalah:
1. Mohon pesaksian kehadapan Sang Hyang Widhi, Bhuta Kala dan manusia sebagai Tri
saksi.
2. Mohon dibersihkan secara spiritual terhadap bibit yang terdapat pada suami dan istri.
Diharapkan atas pertemuan kedua bibit itu membuahkan hasil, yaitu anak saputra. Tidak
cukup hanya pembersihan bibit itu saja, tentu dengan disertai sikap perilaku luhur oleh orang
tua untuk mendidik, menyediakan jaminan hidup yang berkelanjutan.Jadi, modal cukup
banyak diperlukan untuk mewujudkan anak yang saputra.Menurut lontar kuno Dresti, bila
ada anak yang lahir di luar nikah (tanpa upacara pawiwahan), anaka itu disebut “Rare Dya
Dyu”.Agama Hindu tak mengharapkan hal tersebut terjadi, yang mana hal itu jauh dari
harapan anaka saputra.

5. Bhuta Yadnya
Bhuta Yadnya adalah persembahan suci yang ditujukan pada bhuta kala.Tujuannya
adalah untuk memelihara, menyucikan, dan nyupat bhuta kala agar tidak mengganggu
kehidupan manusia.Dalam ajaran agama Hindu dikenal dengan adanya ajaran tentang unsur
Panca Maha Bhuta, yang dikenal sebagai pembentuk Buana Agung dan Buana Alit.
Tingkatan kehidupan di alam ini bertingkat-tingkat, mulai yang terendah sampai yang
tertinggi.Tingkat yang terendah dimulai dari Panca Maha Bhuta, kemudian tumbuh-
tumbuhan, lalu binatang dan manusia.Demikianlah tingkatan hidup secara sekala. Kalau
secara niskala, dikenal tingkat kehidupan mulai dari peri, jin, setan, gamang, tonya,
banaspati, danawa dan sebagainya. Kehidupan ini lebih rendah daripada Dewa, sifatnya
bertentangan antara raksasa, kala, bhuta dengan Dewa itu. Bila dikaitkan dengan tujuan
Bhuta Yadnya yang berarti memelihara, menyucikan dan nyupatdapat dilihat sebagai berikut:
a. Tujuan memelihara:
Mengandung pengertian mengatur serta menjaga keharmonisan alam.Alam dengan
makhluknya mempunyai hubungan kehidupan yang erat.Bila hubungan itu terganggu, hidup
takkan lagi harmonis.
Misalnya:
Keadaan Panca Maha Bhuta sebagai pembentuk alam yang terdiri dari unsur-unsur:
pertiwi,apah teja, bayu dan akasa. Masing-masing unsur itu artinya zat padat, zat cair, zat
panas, zat udara dan zat ether.Ia adalah sebagai pembentuk alam, bila tak dijaga
keseimbangannya, kehidupan di dunia ini takkan harmonis lagi. Katakana saja pertiwi atau
tanah, bila tanah dibiarkan gundul maka kehidupan akan terganggu, akibatnya bisa
mendatangkan banjir, selain itu tanah yang gundul akan menyebabkan kekeringan yang
melanda. Terlebih bila hutan ikut dibabat, sudah bisa dibayangkan apa yang terjadi
bukan?.Oleh karena itu secara nyata manusia melaksanakan Bhuta Yadnya misalnya dengan
melaksanakan reboisasi, atau menanam pohon pada lahan yang kering.Contoh seperti ini
masih banyak kita jumpai dalam kehidupan ini.

b. Tujuan menyucikan alam:


Mengandung makna membersihakan alam dari polusi, karena tingkah laku manusia yang
tidak mamiliki pengetahuan Bhuta Yadnya, maka dari itu manusia berbuat serakah.Selain
membuat hutan seprti yang telah dicontohkan di atas, juga membuang limbah industry
sembarangan, lebih-lebih pada sumber-sumber air.Juga pemakaian zat-zat kimia secara tidak
tepat dan berlabihan, pada sector industry, pertanian maupun yang lainnya.Membuang
sampah secara sembarangan juga menyebabkan polusi pada tanah, di samping
berkembambangnya sarang penyakit, dan masih banyak tindakan manusia yang dapat
merusak keseimbangan alam, maka harus disucikan dengan Bhuta Yadnya. Kemudian untuk
mengulangi Panca Maha Bhuta agar tak menjadi manah, maka agama hindu mengajarkan
konsep Tri Mandala. Alam lingkungan diatur sebagi berikut:

a. Utama Mandala adalah untuk tertatanya lingkungan. Hubungan antara manusia


dengan Tuhannya, maka dari itu disediakan siatu tempat suci.

b. Madya Mandala adalah areal untuk tartatanya sebagai tempat tidur.


c. Nista mandala adalah areal untuk tempat jemuran, kamar kecil, dan tempat pembuangan
sampah. Telah disediakan rupa, bila keseimbangan Tri Mandala itu sudah diatur dengan
bagus menjadilah suatu tempat layak huni. Disana akan tampak keharmonisan antara
keutuhan bangunan dengan tata letak dan tata ruang.
c. Tujuan Nyupat bhuta Kala:
Nyupat mengandung makna meningkatkan status hidup atau keadaan dari Buta Kala
menjadi tingkatan yang bagus dan bermakna. Seperti keadaan batu, tanah, tumbuh-tumbuhan,
binatang, yang keadaannya semrawut statusnya ditingkatkan dengan cara misalnya: diatur
agar terlihat lebih menarik, seperti pada penataan taman misalnya. Contoh lain, anjing yang
status hidupnya rendah karena masih liar dan galak, dilatih supaya lebih berguna. Kembali
pada tujuan nyupat, maka yang bersifat niskala mempergunakan sarana-sarana seperti banten
segehan atau banten caru.Dengan banten itu diharapkan status Bhuta kala dapat dipelihara,
disucikan dan disupat tentunya agar menjadi Dewa kemudian dapat memberikan kebaikan
pada kehidupan manusia.Selain itu dapat dilihat banten Bhuta Yadnya mempunyai tingkatan
dari yang terkecil sampai yang paling besar.Disebut dengan nista, madya dan utama. Hal
tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.Upakara Nista
Upakara Bhuta Yadnya yang kecil disebut segehan, bentuk segehan sangat sederhana,
bahannya dari nasi dengan dilengkapi bawang, jahe, garam, arang dan disertai canang.Semua
ini mengandung makna simbolis tersendiri. Segehan ada beberapa jenis antara lain: segehan
kapal, segehan cacahan, dan ada juga segehan agungm, segehan agung sudah dalam jenis
yang lebih besar. Bantyen segehan tatkala dihaturkan pada Bhuta kala menggunakan api
tangkep yang dibuat dari sabut kelapa, disertai pemercikan tetabuhan yang terdiri dari arak
berem secara lengkap.
b.Tingkatan Upakara Madya
Banten atau upakara Bhuta Yadnya dalam tingkat madya sudah
mempergunakan dasr ayam dan banten tersebut dinamakan Caru. Jenis-jenis caru yakni:
1) Caru ayam brumbun
Ayam brumbun terdiri dari lima macam warna dalam satu ekor ayam. Ayam itu diolah
sedemikian rupa menjai satu dasar banten caru ayam brumbun, yang disebut juga caru
pengruwak. Penggunaannya pada piodalan di Mrajan atau Pura sebagai perombakan suatu
tmpat, pembukaan hutan, peletakan batu pertama suatu bangunan suci, permulaan
penggunaan bangunan seperti: bale banjar, rumah, pura dan lain-lain.
2) Caru Panca Sata
Dasar banten Bhuta Yadnya menggunakan lima ekor ayam yang masing-masing
mempunyai bulu yang berbeda. Seperti ayam putih, ayam biying, ayam putih siungan, ayam
hitam dan ayam brumbun. Masing-masing olahan ayam itu ditaruh sesuai dengan warna
kiblat mata angin seperti:
a. Ayam putih di timur
b. Ayam biying di selatan
c. Ayam putih siungan di barat
d. Ayam hitam di utara
e. Ayam brumbun ditengah
Penggunaan Caru Panca Sata ini dapat dilakukan pada upacara melaspas, mapedaging
dan lain-lain menurut petunjuk pemimpin upacara. Cara Panca Sata ini menjadi dasar bagi
pelaksanaan caru besar, yaitu caru: caru panca sanak, panca kelud, balik sumpah, tawur,
pesapuh-sapuh, panca wali karma, eka dasa ludra, lingia merebu dan nyegjeg gumi.

3) Caru Panca Sanak


Menggunakan dasar caru panca sata ditambah dengan asu bang
Bungkem dan bebek bulu sikep.
4) Caru Panca Kelud
Menggunakan dasar Caru Panca Sanak hanya saja ditambah lagi binatang kambing, dan
angsa.
5) Caru Balik Sumpah
Caru ini tidak digunakan secara umum, tetapi hanya pada tempat-tempat tertentu
saja.Seperti misalnya bila ada karang angker, tempat itu sering terjadi bencana, pertengkaran,
perkelahian, pembunuhan, kejahatan dan lain-lain.Tentu saja dari petunjuk para sulinggih.
c.Tingkatan Upakara Utama
upakara Bhuta Yadnya dalam tingkatan ini sudah menggunakan binatang sebagai
dasar cara dalam jumlah yang lebih besar dan juga menggunakan binatang kerbau. Adapun
yang termasuk jenis caru ini adalah:
1) Tawur
Caru tingkat tawur dipergunakan setiap tahun sekali yakni setiap datangnya tahun baru
saka.Disambut dengan diawali melaksanakan tawur kesanga. Binatang yang dipakai dalam
upacara tawur adalah sebagai dasar lima ekor ayam dan binatang lain, seperti di atas
ditambah satu ekor binatang kerbau.
2) Caru Pesauh-sapuh
Dasar caru seperti di atas, tetapi ditambah tiga ekor kerbau.
3) Panca Wali Krama
Dasar caru ditambah lima ekor kerbau.
4) Eka Dasa Rudra
Dasar caru mempergunakan bebagai jenis binatang, dari binatang peliharaan sampai dengan
binatang hutan, burung dan jaga ditambah dengan binatang laut, serta binatang korban 26
ekor.

BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Dari pemaparan materi di atas dapat di ambil simpulan bahwa kita sebagai generasi muda
serta masyarakat yang mengemban sebagai umat hindu dalam pelaksanaan upacara Agama
Hindu di Indonesia umumnya dan di Bali khususnya harus benar-benar memahami dalam
pengimplementasian suatu yadnya, agar tidak suatu yadnya itu dapat di katakana hanya
sebuah ritual semata. Kita sebagai umat harus bangkit dari suatu kebodohan ke beragamaan.
Yadnya harus di landasi dengan ketulusiklasan tanpa ketulusiklasan tersebut yadnya tidak
bisa di katakan sempurna ketika manusia atau oknum-oknumnya itu pamrih, dan umat Hindu
di harapkan selalu menjalankan ritual keagamaan guna untuk meningkatkan moral dan
spiritual, dan menjadikan upacara atau yadnya itu sebagai kebutuhan kita

3.2 Saran
Diharapakan bagi para Umat Hindu agar selalu menjalankan perintah Agama dan jangan
pernah timbul dari dalam diri sendiri sikap tidak percaya dengan Agama.
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ajaran agama Hindu memiliki kerangka yang kuat, karena menampilkan ajaran
Tatwa, susila dan yadnya. Tatwa mengisi kecerdasan otak, melatih memandang rahasia-
rahasia yang dimiliki Tuhan, dan rahasia dalam diri, serta rahasia-rahasia dalam alam
lingkungannya. Dengan demikian manusia atau umat Hindu wajar berpikir sedalam-
dalamnya tentang hal tersebut. Susila adalah menyuguhkan ajaran untuk melatih tingkah laku
yang berperan menumbuhkan peningkatan rasa pada setiap pemeluk. Disinilah kemantapan
dari humanisme yang kekal. Masyarakat Bali yang mayoritas adalah penganut agama Hindu,
mempunyai suatu kepercayaan yang tidak lepas dari kebudayaan Bali. Dalam ajaran Hindu
menyebutkan bahwa mewujudkan kehidupan yang selaras, serasi dan seimbang diperlukan
adanya persembahan suci yang tulus ikhlas yang dikenal dengan nama Yadnya. Disini
terdapat lima yadnya yang selanjutnya dikenal dengan istilah PancaYadnya yaitu lima
persembahan suci yang tulus ikhlas. Yadnya adalah menyuguhkan ajaran rela berkorban yang
pada hakikatnya adalah memelihara hidup, sebab semua yang hidup di dunia ini bermula dari
Yadnya dan tidak terlepas dengan Yadnya itu sendiri. Diketahui makhluk dengan isinya
diciptakan Tuhan berdasarkan Yadnya.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Bagaimana kualitas yadnya dalam agama hindu?
1.2.2 Bagaimana Rumusan serta pemaparan Panca Yadnya dalam Agama Hindu?
1.3 Tujuan
1.3.1 Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memahami makna
yang terkandung dalam yadnya itu sendiri serta dapat mengimplementasikan dalam
kehidupan beragama terutama dalam umat hindu.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kualitas Yadnya dalam Agama Hindu


Kata Yadnya berasal dari bahasa Sansekerta, akar-akar “Yaj”, yang artinya memuja,
mempersembahkan, pengorbanan, menjadikan suci.Prinsip-prinsip yang harus dipegang
dalam Yadnya yaitu keikhlasan, kesucian dan pengabdian tanpa pamrih.
Aphalakaanksibhir yadnyo
Vidhi drsto ya ijyate
Yastavyam eveti manah
Samaadaya sa saatvikah

(Bhagavad Gita, XVII.11)


Maksudnya: Yadnya yang dilakukan menurut petunjuk kitab suci (vidhi drstah), dilakukan
dengan ikhlas, yang sepenuhnya dipercaya bahwa yadnya itu sebagai suatu kewajiban suci.
Yadnya yang demikian itu tergolong Satvika Yadnya.
Kata “upacara” berasal dari bahasa Sansekerta artinya “mendekat”. Sedangkan
yadnya artinya ikhlas berkorban untuk tujuan yang benar dan suci. Jadi, upacara yadnya
adalah upaya spiritual dengan bentuk ritual dengan tujuan mendekatkan diri pada Tuhan
dengan landasan bhakti.
Bhakti pada Tuhan itu lebih lanjut didayagunakan untuk meningkatkan keluhuran
moral dan daya tahan mental untuk memelihara kesejahteraan alam serta mengabdi pada
sesama manusia dengan landasan punia. Asih dan punia itulah sebagai wujud bhakti kita
kepada Tuhan. Jika bhakti itu tanpa rnenyayangi alam Iingkungan dan mengabdi pada sesama
dengan tulus maka bhakti akan sia-sia saja. Selanjutnya upacara yadnya itu ada upakaranya.
Kata upakara dalam bahasa Sansekerta artinya melayani. Karena itu dalam Lontar Yadnya
Prakerti bentuk-bentuk upakara itu sebagai lambang pelayanan kepada Tuhan, kepada sesama
manusia dan juga pelayanan kepada alam atau bhuwana.

Dari pemahaman tersebut dapat dinyatakan bahwa suksesnya suatu upacara yadnya
apabila ada secara nyata upaya melestrikan alam lingkugan, adanya perhatian yang nyata
pada nasib sesama sehingga hubungan manusia dengan manusia semakin harmonis, dinamis
dan produktif secara spiritual dan meterial.
Hal itu terjadi sebagai wujud pelaksanaan upacara yadnya. Kalau terjadi sebaliknya
maka dapat dinyatakan upacara yadnya itu belum sukses. Kalau bhakti itu kenyataanya
membuat alam semakin merosot kuantitas dan kualitasnya dan hubungan dalam masyarakat
semakin tidak harmonis, apalagi sampai terjadi permusuhan, itu pertanda upacara yadnya
tersebut gagal mewujudkan misi sucinya. Apalagi upacara yadnya penyelenggaraanya boros,
karena dalam pustaka Ariandadayi menyatakan ada empat hal yang tidak boleh diboroskan
yaitu: tidak boleh sampai membuang-buang makanan, pemakaian uang tidak tepat guna,
tenaga tidak boleh dibuang sia-sia dan tidak mengulur-ulur waktu. Agar upacara itu sukses,
lakukanlah upacara yadnya yang satvika sebagaimana dinyatakan dalam kutipan Sloka
Bhagawad Gita XVII, 11, 12 dan 13.
2.1.1 Kualitas Yadnya
Ada tiga kualitas upacara yadnya utama itu pengertiannya dipadukan dengan satvika
yadnya menurut kitab suci Bhagawad Gita. Apalagi menurut Manawa Dharmasastra 1.86
prioritas beragama zaman Kali adalah dhana punia bukan upacara. Karena itu upacara yadnya
yang diselenggarakan agar lebih diutamakan kegiatan berdana puma terutama untuk
memajukan pendidikan. Upacara yadnya diselenggarakan disamping tujuan utamanya untuk
berbhakti pada Tuhan juga sebagai media berdaana punia.
Upacara yadnya rajasika dan tamasika, yang ditampilkan dengan serba glamour dan
gebyar serba mewah dan yang boros uang, waktu, tenaga dan membuang-buang makanan.
Upacara Yadnya demikian itu menjadi beban yang memberatkan hidup dan banyak
menimbulkan permasalahan hidup. Satvika yadnya menurut Bhagawad Gita ada beberapa
syaratnya, yaitu sradha, artinya upacara yadnya dilakukan berdasarkan keyakinan yang
mendalam bahwa upacara yadnya itu sebagai suatu yang seyogianya dilakukan sebagai
penganut Hindu yang baik. Upacara Yadnya tidak boleh dilakukan dengan ragu-ragu sekadar
untuk memenuhi syarat formal beragama Hindu saja. Lascarya, upacara yadnya harus
dilakukan dengan tulus ikhlas tidak ada sama sekali adanya rasa terpaksa atau ada sesuatu
yang dirasakan menekan. Upacara yadnya itu dilakukan sesuai dengan Vidhi Drstah atau
petunjuk sastranya.
Upacara yadnya harus juga ada Daksina, artinya honorarium sebagai simbol
penghormatan dalam wujud hanta dan penghormatan secara moral untuk rohaniawan seperti
pinandita (pemangku) atau pandita. Tanpa daksina, upacara yadnya itu akan gagal. Upacara
yadnya seyogianya diantarkan dengan melantunkan gita atau kidung suci. Kidung suci yang
dilantunkan dengan benar, baik dan tepat akan dapat menumbuhkan vibrasi spiritual pada
lingkungan. UpacaraYadnya seyogianya juga ada Arma Seva artinya ada jamuan makan
terutama untuk Atiti Yadnya yaitu tamunya upacara. Sebab, ada sastra menyatakan betapa
pun meriahnya suatu upacara yadnya kalau di sekitarnya ada orang kelaparan dan wanita
terhinakan maka upacara yadnya itu tidak mencapai tujuan muliannya. Syarat terakhir satvika
yadnya itu adalah nasmita artinya yadnya yang dilakukan itu tidak ada niat untuk pamer atau
menonjolkan egoisme. Apalagi ada niat untuk menonjolkan diri untuk meremehkan orang
lain di lingkungan sendiri. Hakikat upacara yadnya itu justru untuk mereduksi egoisme.
Karena egoisme itu akan menutup pancaran suci atman menyinari dinamika indriya. Upacara
yadnya yang menonjolkan egoisme itu ciri upacara yadnya yang gagal memberikan vibrasi
suci.
2.2 Rumusan serta pemaparan Panca Yadnya dalam Agama Hindu
Dalam Atharwa Weda XVII.3 dinyatakan bentuk Yadnya yang paling tinggi adalah
pengorbanan lahir batin. Maka dari itu semangat patriotisme yang diajarkan dalam
Bhagawadgita, Mahabharata, Ramayana sangat tepat ksatria yang ber-Yadnya di medan
perang. Maknanya sebagai pembela tanah air, menegakkan kebenaran dan keadilan.
Jadi berdasarkan uraian tersebut, Yadnya sebagai amalan agama mengandung
pengertian. 1.Merupakan sistem persembahyangan dalam kontak memuja Tuhan Yang
Maha Esa.
2.Merupakan prinsip berkorban agar umat bersedia, rela dan menyadari bahwa berkorban itu
sebagai pemeliharaan kelangsungan hidup menuju hidup bahagia.
Akibat Tuhan berbuat Yadnya itu menimbulkan rnam. Rnam berarti hutang. Kemudian
agar tercipta hukum keseimbangan, maka rnam itu harus dibayarkan dengan Yadnya.
Demikian adanya atas dasar Tri Rna
Dibayar dengan Panca Yadnya yakni:
a. Dewa Rna dibayar dengan Dewa Yadnya dan dibayar dengan Bhuta Yadnya.
b. Rsi Rna dibayarkan dengan Rsi Yadnya.
c. Pitra Rna dibayar dengan Rsi Yadnya dan Manusa Yadnya.
Memang konsep agama hindu adalah mewujudkan keseimbangan. Dengan terwujudnya
keseimbangan, berarti terwujud pula keharmonisan hidup yang didambakan oleh setiap orang
di dunia.Untuk umat Hindu yang diidam-idamkan adalah terwujudnya keseimbangan antar
manusia dengan Tuhannya, antara manusia dengan manusia, dan manusia dengan
lingkungannya. Maka dari itu, Yadnya mutlak diperlukan.
Ada dua macam Panca Yadnya, yaitu:
1. Panca Yadnya berdasarkan sarana dan bentuk pelaksanaannya.
2. Panca Yadnya berdasarkan tujuan dan objek yang dituju, Yadnya ini disebut Panca Maha
Yadnya.
Pertama:
Panca Yadnya berdasarkan sarana dan bentuk pelaksanaan dalam Bisma Parwa dijelaskan:
a. Drewaya Yadnya, adalah Yadnya yang mempergunakan harta milik sebagai sarana korban.
b. Tapa Ydnya, adalah Yadnya dengan melaksanakan tapa, yaitu tahan uji tahan derita sebagai
sarana berkorban.
c. Jnana Yadnya, adalah Yadnya dengan menyumbangkan kebijaksanaan, ilmu pengetahuan,
member pandangan-pandangan, atau buah pikiran yang berguna, sebagai sarana korban.
d. Yoga Yadnya, adalah Yadnya dengan pengamalan yoga, yaitu menghubungkan diri pada Sang
Hyang Widhi melalui jenjangan-jenjangan yoga. Bahkan sampai dengan tingkat tertingi
yakni semadhi, sebagai sarana berkorban.
e. Swadyaya Yadnya, adalah Yadnya dengan mengorbankan diri demi kepentingan dharma.
Seperti halnya para pahlawan kemerdekaan, mereka mengorbankan diri demi sebuah
kemerdekaan. Ini juga disebut Yadnya.

Kedua:
Panca Yadnya berdasarkan kitab Manawa Dharmasastra III. 70 tersurat:

“Adhyapanam brahma Yajnah,


pitryapastu tarpanam,
homo daiwo balikbaurto,
nryajna ‘tihti pujanam.”

Artinya :
Mengajar dan belajar adalah Yadnya bagi Brahmana, menghaturkan minyak, susu adalah
Yadnya untuk para Dewa, menghaturkan bali adalah Yadnya untuk para bhuta, dan
penerimaan tamu dengan ramah tamah adalah Yadnya bagi manusia. jadi, berdasarkan uraian
di atas dapat dijelaskan Panca Yadnya itu sebagai berikut:
1. Dewa Yadnya, adalah Yadnya yang ditujukan untuk para Dewa.Asal kata Dewabersal
dari bahasa Sanskrit “Div” yang artinya sinar suci, jadi pengertian Dewa adalah sinar suci
yang merupakan manifestasi dari Tuhan yang oleh umat Hindu di Bali menyebutnya Ida
Sanghyang Widhi Wasa.
2. Rsi Yadnya, adalah Yadnya yang ditujukan kepada brahmana atau para Rsi.
Rsi artinya orang suci sebagai rokhaniawan bagi masyarakat Umat Hindu di Bali.
3. Pitra Yadnya, adalah Yadnya yang ditujukan pada leluhur.
Pitra artinya arwah manusia yang sudah meninggal.
4. Bhuta Yadnya, adalah Yadnya yang ditujukan kepada para Bhuta Kala.
Bhuta artinya unsur-unsur alam.
5. Manusa Yadnya, adalah Yadnya yang ditujukan pada manusia. Manusia yang hidup di dunia
terutama yang beragama hindu selalu melaksanakan yang namanya manusa yadnya,

2.2.1 Pemaparan Panca Yadnya


1. Dewa Yadnya
Dewa Yadnya berarti persembahan suci ditujukan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa dan
para Dewa serta segala manifestasinya.
Adapun tujuan utama melaksanakan Dewa Yadnya adalah:
1. Menyampaikan rasa hormat, bakti kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan
nikmat yang dianugerahkan kepada umatNya.
2. Memohon perlindungan, berkah, kesejahteraan, panjang umur, kesaksian, kemuliaan,
bimbingan untuk menuju keselamatan umat, bangsa dan negara.
3. Mengucapkan syukur atas peningkatan sesucian lahir batin dengan didasari oleh pembersihan
akan bayu, sabda dan idep, yaitu paridhanya laksana kata-kata dan pikiran.
Kalau demikian halnya berarti perbuatan-perbuatan di bawah ini yang termasuk ke
dalam Dewa Yadnya Misalnya:
a. Melaksanakan persembahyangan kepada sang hyang Widhi.
b. Mempelajari dengan sungguh-sungguh dan mengamalkan ajaran tentang ketuhanan.
c. Berziarah ke tempat-tempat suci dan mengembangkan ajaran Dharma.
d. Membangun tempat-tempat ibadah.
e. Berdana punia bila ada upacara di Pura.
f. Menghaturkan canang dengan sarinya tatkala melakukan persembahyangan.
g. Bakti sosial (ngayah) pada suatu tempat-tempat suci dengan penih keikhlasan.
Perbuatan semacam inilah termasuk perbuatan Dewa Yadnya yang mulia bila
dilaksanakan dengan kesadaran batin dan tanpa pamrih. Bukannya besar harta benda
yang menjadi ukuran, tetapi dasar ketulus-ikhlasan itulah yang utama.
Disisi lain bila ditelusuri tentang hari-hari pelaksanaan Dewa Yadnya dapat dibedakan
dua macam, yaitu Nitya Yadnya dan Naimitika Yadnya. Kedua macam pelaksanaan Dewa
Yadnya ini dapat dijelaskan sebagai berikut.
a. Nitya Yadnya, artinya melaksanakan Dewa Yadnya seperti:
1. Menghaturkan banten canang sari setiap hari
2. Menghaturkan Yadnya sesa setiap hari sehabis masak
3. Melaksanakan Puja Tri Sandhya setiap hari
b. Naimitika Yadnya, artinya melaksanakan Dewa Yadnya berkala dalam sasih dan pertahun,
untuk ini dapat diuraikan satu persatu, yaitu:
1. Melaksanakan Dewa Yadnya berdasarkan hari, Hari Tri Wara, Panca wara, Sapta Wara
dan wuku, yaitu:
a) Melaksanakan Dewa Yadnya pada hari Kliwon adalah memuja Dewa Siwa.
b) Hari Kajeng Kliwon memuja Bhatara Durga
c) Hari Anggara Kliwon (Anggara kasih) memuja Dewa Ludra sebagai pelebur keburukan di
dunia
d) Hari Budha Kliwon, memuja Sang Hyang Ayu untuk mencapai kesucian batin
e) Hari Budha Wage (Budha Cemeng), memuja Bhatara Manik Galih untuk mencapai
ketentraman batin dan mengendalikan diri
f) Hari Saniscara Kliwon (Tumpek), memuja Sang Hyang Parama wisesa untuk mengukuhkan
keyakinan
g) Hari Budha Kliwon Sinta (Pagerwesi), memuja Sang Hyang Pramesti Guru
h) Budha Kliwon Dunggulan (Galungan), memuja Sang Hyang Pramesti Guru, para Dewa,
Pitara sebagai kemenangan dharma melawan adharma
i) Budha Kliwon Pahang (Pegat Uwakan), memuja Sang Hyang Maha Wisesa, Dewa, dan
Bhatara sebagai rentetan terakhir upacara hari raya Galungan dan Kuningan.
j) Saniscara Kliwon Wayang (Tumpek Ringgit), memuja Dewa Iswara sebagai Dewa
Kesenian
k) Saniscara Umanis Watugunung (odalan Sang Hyang Aji saraswati), memuja Dewi Ilmu
Pengetahuan.

2. Dewa Yadnya berdasarkan Purnama dan Tilem


Dijelaskan tentang beryoganya Sang Hyang Rwa Bhineda yakni Sang Hyang Candra seperti
pada hari:
a) Purnamaning Sasih Kapat, pemujaan terhadap Sang Hyang Parameswara atau Sang Hyang
Puru Sangkara beserta para Dewa, Widyadara-widyadari, dan para Rsi Gana
b) Purnamaning sasih kedasa; pemujaan terhadap Sang Hyang Surya Merta
c) Tilem Sasih Kapat; juga dilaksanakan pemujaan terhadap kebesaran Tuhan yang telah
memberkati umatNya
d) Purnamaning Tilem Kapitu; melaksanakan malam Siwa/Siwa Latri
e) Tilem Kasanga; dilaksanakan upacara menyambut tahun baru Caka, yang diawali dengan
melis ke laut atau sungai. Setelah itu dilanjutkan dengan upacara Tawur Kesanga. Sebagai
puncak acara dilaksanakan Nyepi, yakni melaksanakan: Amati Geni, Amati Karya, Amati
Lelungan, Amati Lelanguan. Upacara ditutup dengan Ngembak Geni.
f) Berdasarkan Purnama dan Tilem, setiap tahun sekali di Pura Besakih dilaksanakan upacara
Dewa Yadnya pada sisih kadasa (Purnama) bernama Bhatara Turun Kabeh. Kalau setiap
sepuluh tahun sekali dilaksanakan Panca Wali Krama, kemudian setiap seratus tahun sekali
dilaksanakan Eka Dasa Rudra

3. Upacara Dewa Yadnya yang sifatnya insiden


Dapat kita lihat dalam lontar Catur Weda, misalnya upacara: Melaspas, Memungkah,
Catur Rebah, dan Nyatur Niri. Semua Yadnya mempunyai atura sendiri. Juga dalam lontar
Bhama Kerti, dijelaskan ada upacara Matani Aluh, seperti: Matarin, Nemakuh dan Ngulapin.
Dalam lontar Sripurana, berarti dengan pertanian dilaksanakan upacara: mulai mengerjakan
sawah, Byakukung dan Mantenin Padi
Bahwa phala melaksanakan Dewa Yadnya dijelaskan dalam lontar Tatwa Kusuma Dewa,
sebagai berikut:
“Rahayu pahalaya yan mangkana, sadadyani kaya olih sadya kaduluran Whidi, haywa enam
ngutpati Dewa astiti ring Sang Hyang Widhi.”
Artinya:
“selamat phalanya bila telah demikian seluruh sanak keluarga memperoleh penghasilan
dikarunia Tuhan. Janganlah ragu-ragu ber Yadnya pada Dewa dan berbakti Pada Tuhan.”

2. Rsi Yadnya
Rsi Yadnya berarti persembahan suci kepada Brahmana atau para Rsi atas jasa beliau
dalam membina umat dan mengembangkan ajaran agama.Kalau kita terima agama itu adalah
sebagai obat maka para kaum Brahmana telah berjasa dapat memberikan obat kapada umat,
sehingga umat memiliki kesehatan mental dan spiritual.
Kalau kita terima juga agama itu laksana obor, berarti para Brahmana memberikan suluh
menghilangkan kegelapan bagi pemeluknya, berarti para Brahmana atau para Rsi telah
berjasa menjadikan dunia cemerlang karena ilmu agama disebarkan dan dikembangkan oleh
beliau kepada pemeluknya.
Demikian juga kalau diterima bahwa agama itu adalah memuliakan hidup berarti para
Maha Rsi atau kaum Brahmana telah berjasa pula karena mereka dapat menuntun umat
manusia untuk hidup lebih berkembang, menjadi manusia yang utuh. Manusia yang memiliki
keseimbangan jasmani dan rohani. Dimana dalam agama Hindu dikenal dengan Molsartham
Jagadhita.
Kalau kita menyadari diri kita ketika baru lahir mempunyai keadaan putih bersih belum
tahu apa-apa, tapi sekarang kita melihat diri dan menyadari kita tahu membaca, menulis,
berhitung, tahu pengetahuan agama, dan tahu ilmu-ilmu lain. Sesungguhnya itu terjadi atas
jasa-jasa dari para arif bijaksana yang dengan tulus ikhlas menyebarkan pengetahuan itu.
Di mana ada kaum arif bijaksana pengemban Dharma, di sana ada kemuliaan. Seperti apa
yang telah dijelaskan dalam kitab Ramayana syair bait II yang berbunyi:
“Hana rajya tulya kendran,
Kawehan sang Mahardidhika susila,
Ringayoodya subhageng rat,
Yeka kadarwanirang nrepi.”
Artinya:
“Ada kerajaan bagaikan sorga, banyak disana orang arif budi luhur di sana pada keratin
Ayodya yang sangat terkenal, itulah keratin beliau raja (Dasarata).
Berkenaan dengan hal di atas kita harus menyadari bahwa untuk dapat mengambil bagian
dalam hidup ini melaksanakan Rsi Yadnya maka kita harus mengemukakan cara-cara untuk
melaksanakannya. Langkah yang dapat dilaksanakan sebagai amalan Rsi Yadnya. Hal ini
dapat digambarkan sebagai berikut:
a) Hormat bakti kepada para Brahmana termasuk sikap pelaksanaan Rsi Yadnya
b) Memberikan tuntunan kepada calon sulinggih
c) Menobatkan seorang sulinggih
d) Memberikan punia kepada para Rsi pada hari-hari tertentu
e) Menghaturkan daksina kepada para Rsi pada hari-hari tertentu
f) Tekun mempelajari kitab-kitab suci
g) Memperingati hari Saraswati
h) Mengembangkan dan menyebarkan ajaran Weda
3. Pitra Yadnya
Pitra Yadnya merupakan persembahan suci kepada Pitra atau roh leluhur dan termasuk
kepada orang tua yang masih hidup. Disadari atau tidak beban utang dari hutang orang tua
atau leluhur cukup banyak dalam kitab Manu Smrti 11.227 menjelaskan:
“Yam matapitaram klecam seheta sambhawe.
Nrnam na tasya niskrtih
Cakya kartum warsa catairapi”.
Artinya:
Penderitaan yang diabaikan oleh Bapak dan Ibu pada waktu lahir anak (bayi) tidak dapat
dibayar walaupun dalam waktu seratus tahun.
Selain itu dalam lontar Kunti Yadnya dijelaskan:

“Kengetakna grtrani kawitanta,Tkeng


anak putunta sukulaBretya nucara, me
pwakitaPanahura hutanganta ring yayah
bibi, panebusaning sarirakret ngaranya
kasampurna dening yasa sembanta”.
Artinya:
Ingatlah jasa-jasa leluhurmu pada anak cucu serta pada seluruh sanak keluarga, patutlah
membayar segala hutangmu pada Ayah Ibu.
Berdasarkan penjelasan di atas kita gambarkan bahwa kita wajib membayar hutang itu
pada orang tua.Pembayaran hutang itu diwujudkan dalam bentuk Pitra Yadnya. Wujud-wujud
tersebut dapat berbentuk seperti di bawah ini:
a) Menghormati orang tua atau leluhur
b) Sedapat mungkin dapat menuruti nasehat orang tua
c) Menjamin orang tua setelah usia lanjut, termasuk di dalamnya menjamin makanan,
kesehatan, atau hal yang menyangkut sandang pangan dan papan
d) Mengajak orang tua bercakap-cakap sebagai cerminan cinta kasih keluarga
e) Membuang, memelihara, menjaga tempat suci keluarga, termasuk Padharma
Tujuan dilaksanakan upacara Ngaben adalah untuk mengembalikan Stula Sariraatau
badan wadag yang terdiri dari Panca Maha Bhuta dalam Buana Alit kepada Panca Maha
Bhuta yang bersumber pada Bhuana Agung.Selain itu bertujuan untuk meningkatkan
kesucian roh yang telah meninggal, yakni dari roh orang yang berstatus Preta menjadi Pitara
bahkan menjadi Dewa Hyang Pitara. Untuk proses pengembalian Panca Maha Bhuta ke
Bhuana Agung, dikenal dengan sistem pembayaran mayat, yang disebut: Sawa Wedana, Asti
Wedana dan Swasta Wedana.
1) Sawa Wedana
Sawa Wedana disebut juga Sawa Preteka.Artinya mengupacarai jenazah orang yang
baru meninggal.Sering juga dalam masyarakat disebut ngaben dadakan, sifatnya segera.
Menurut lontar Yama PurwanaTatwa dan Pubha Sasana, tata cara seperti ini dibenarkan
dan disebut dengan istilah Mependem Ring Giri, megenah di petulangan.
2) Asti Wedana
Asti Wedana adalah mengupacarai jenazah setelah menjadi tulang. Tata caranya seperti di
bawah ini:
a. Mempermaklumkan ke Pura Dalem. Yang akan di aben, tegteg dipermaklumkan ke Pura
Dalem. Dilengkapi dengan peras, penyeneng, daksina pejati, suci, ketipat dan segehan.
b. Ngulapin ke Mraja Pati, tegteg dituntun ke Mraja Pati disertai upacara peras, daksina,
pengulapanan, pengabenan, segehan dan sayut.
c. Ngangkid: tegteg diusung ke setra ke tempat terkubur orang yang akan diaben. Di atas
kuburan diselenggarakan upacara ngangkid dengan sarana: suci, peras, penyeneng, daksina,
pujung, segehan berisi jeroan mentah, tabuh tuak arak. Setelah upacara ini berakhir,kuburan
dibongkar, tulang-tulang diambil, dibersihkan, lalu disusun kembali seperti semula.
d. Pada bangbang yang telah dibongkar, menghaturkan banten: suci, peras, daksina, dan
sembelihan ayambulu hitam. Setelah itu bangbang ditumbun secara simbolis.
e. Ngeringkes: upacaranya serupa dengan banten pengeringkesan Sawa Wedana.
f. Ngeseng: upacaranya sama dengan upacara Sawa Wedana.
g. Ngayut: sama dengan upacara Ngayut Sawa Wedana.
3) Swasta Wedana
Swasta adalah upacara Pitra Yadnya yang dilaksanakan dengan tidak mengupacarai mayat
dalam bentuk tulang-belulang atau jasad.Melainkan bentuk itu dapat diganti dengan bentuk
kusa atau alang-alang.Selain itu, dapat juga diwujudkan dengan air sebagai Toya Sarira. Tata
pelaksanannya sama dengan tahap-tahap pelaksanaan Asti Wedana. Mulai dari
mempermaklumkan ke Pura Dalem sampai dengan Ngayut.Hanya ada perbedaan sedikit,
kalau dalam ngaben Swasta tidak ada langkah ngangkid tulang seperti dalam Asti Wedana.

4) Ngelungah
Dikenal lagi upacara ngaben yang disebut Ngelungah.Upacara ini dilakukan bagi jenazah
yang masih anak-anak.Ketentuannya ini adalah bagi anak-anak yang berumur di atas tiga
bulan dan belum tanggal giginya, bila meninggal maka diaben Ngelungah.Kalau bagi anak
yang belum berumur tiga bulan, bila meninggal almarhumhanya dikubur saja.Namun, anak
yang berumur diatas tiga bulan dan sudah tanggal giginya almarhum diaben seperti orang
dewasa.
Adapun tata caranya adalah:
a. Mempermaklumkan ke Pura Dalem, dengan upacara: canang meraka, daksina, ketipat,
kelanan, telor bekasem dan segehanputih kuning.
b. Memaklumkan ke Mraja Pati dengan upacara: canang, ketupat, daksina dan peras.
c. Mempermaklumkan pada sedahan Setra, dengan upacara: canang meraka dan ketipat kelanan.
d. Permaklumkan pada bangbang rare, dengan upacara: sorohan, pengambian, pengulapan,
peras daksiana, klungah nyuh yang disurat Omkara.
e. Banten pada roh bayi, seperti: bunga pudak, bangsah pinang, karaseb sari, punjang dan
banten bajang.
f. Tirta pangrampuh yang dimohon di Pura Dalem dan Mraja Pati. Semua banten itu tempatkan
di gegunduk bangbang, pemimpin upacara memohon pada bhatar/bhatari agar roh bayi cepat
kembali menjadi suci.Bila selesai memercikkan tirta, banten ditimbun dan bangbang
diratakan kembali.
5) Upacara Atma Wedana
Upacara Atma Wedana disebut juga nyekah.Upacara ini dilaksanakan setelah selesai
upacara Sawa Wedana.Tujuan upacara ini adalah untuk meningkatkan kesucian roh orang
yang meninggal.Semula preta menjadi pitara bahkan menjadi Dewa Hyang Pitara.Sejalan
dengan ini juga berarti mengembalikan atma ke paramaatma.Nama-nama untuk upacara ini
ada yang menyebut nyekah, ngerorasin, mukur, melinggih dan juga ngeluwer. Pelaksanaan
upacara ini dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

a. Ngajum
Makna upacara ini adalah memanggil Sang Hyang Atma(roh), karena dibuatkan upacara
sekah. Upacara Ngajum ini disertai seperangkat sesajen dan pelaksanaan upacaranyapagi hari
dib alai Pawedan yang dituntun oleh pemimpin upacara beserta dikerjakan oleh senta dan
prati Santana. Upacara ngajum ini termasuk upacara utpati.
b. Upacara Ngayab
Pelaksanaan upacara ini termasuk upacara Shtiti Sang Hyang Atma.Upacara ini dilakukan
setelah kembali dari beji.Dipimpin oleh sulinggih dilengkapi dengan saji, ayaban dan
seperangkat banten.Kemudian dilanjutkan persembahyangan oleh anak cucu dan prati
sentananya
c. Upacara Mapralina
pacara ini dilakukan pagi hari di depansanggah pesaksi. Sekah diturunkan dari balai
upacara, segala menjadi satu kesatuan sekah segera dibakar di atas senden.Bila semua telah
terbakar lalu disiram dengan air kumkuman.Kemudian dilumatkan dengan tebu dan cabang
dapdap.Hasil lumatan itu dimasukkan ke dalam kelapa gading dan dihanyutkan ke laut atau
sungai.
Tiga hari setelah upacara mepralina, dilanjutkan dengan upacara ngeremekin.Maksud
upacara ini adalah mempermaklumkan bahwa penyucian roh terhadap orang yang meninggal
telah selesai.Bila tahapan ini sudah selesai, maka dapat dilanjutkan dengan ngelinggihang
Dewa Hyang Pitara di Pura Kawitan sebagai pura penyungsungan leluhur.Bila dikaitkan
dengan Panca Yadnya, upacara ngelinggihang ini sudah termasuk Dewa Yadnya.Sebagai
renungan,orang yang belum mengerti tentang Pitra Yadnya ini, mereka dengan cepat
mengatakan upacara ngaben ini adalah pemborosan.Boleh saja, sebab bila direnungkan lebih
jauh lagi bukanlah
pemborosan.Tetapi upacara agama Hindu ini adalah membantu untuk memutar ekonomi
masyarakat. Sebab dalam kesempatan seperti ini orang yang kaya akan mempergunakan harta
bendanya untuk mewujudkan semangat rela berkorban. Maka dari itu ia membuat upacara
yang utama tingkatannya. Namun bagi umat yang tidak mampu, dapat membuat utamaning
nista.Nista
bukan berarti hina dan rendah, melainkan semua tingkatan mengandung arti mulia bila
didasarkan atas ketulusan ber-Yadnya.
Berdasarkan pikiran sepintas, kiranya uang yang banyak itu dialihkan dan disumbangkan
pada fakir miskin.Diketahui agama Hindu tidak mengajarkan bagaimana melalui Yadnya
ekonomi masyarakat berputar. Akibatnya orang yang bisa rajin bekerja dan menyadari etos
kerja, sebab kerja apapun yang didasari pada cinta kasih dan dikerjakan secara sungguh-
sungguh akan menunjang kehidupan kita. Bukan umat diarahkan kerja meminta-minta.Jadi,
berkaitan dengan ini dapat ditegaskan pelaksanaan ngaben ini bukanlah semata-mata
pemborosan, melainkan mengandung unsur gotong-gotong royong, pendidikan kerja dan rela
berkorban tentunya.Sesuai dengan semangat ber-Yadnya untuk melangsungkan pemeliharaan
hidup.

4. Manusa Yadnya
Manusa Yadnya adalah persembahan suci kehadapan sesama.Tujuan melaksanakan
korban suci ini adalah untuk pembersihan lahir batin.Pembersih lahir batin ini dilakukan
setiap hari, setiap saat dan berkelanjutan.Dengan demikian diharapkan pada akhirnya agar
atma dapat manunggal dengan parama atma.
Berdasarkan tujuan dan pengertian Manusa Yadnya yang telah diuraikan di atas, maka
satu putaran hidup manusia dapat dilihat berkali-kali dilaksanakan upacara Manusa Yadnya
terhadap seseorang itu.Boleh jadi pembersihan bayi sejak dalam kandungan, sampai bayi
lahir, dan menjadi dewasa, serta sampai mengakhiri hidupnya. Weda Parikrama menjelaskan,
tubuh dibersihkan dengan air, pkiran dibersihkan dengan kejujuran, roh dibersihkan dengan
ilmu dan tapa dan akal dibersihkan dengan kebijaksanaan.Berkaitan dengan hal ini berarti
kita membersihkan diri terhadap semua hal di atas. Agama Hindu dalam prakteknya yang
berkaitan dengan pembersihan roh jasmani dan roh rohani tidak bias terlepas
dari menggunakan banten sebagai wujud korban dan berkaitan dengan
Manusa Yadnya. Hal ini sangant bersifat spiritual.Pelaksanaan Manusa Yadnya dalam
kehidupan sehari-hari dapat berwujud material dan juga spiritual.Misalkan uang, nasi, air atau
hal-hal yang temasuk dalam sandang, pangan dan papan.Kemudian pemberian ilmu
pengetahuan, nasihat, petunjuk, jasa dan sejenisnya adalah yang bersifat spiritual.Sifat
pemberian seperti di atas, bila didasarkan atas ketulusan hati menurut lontar slokantara
disebut Stvikdana.Bila pemberian itu dikaitkan dengan unsure pamrih, walaupun sedikit
adanya dalam batas wajar disebut Rajasikdana.Bila suatu pemberian mempunya ikatan
pamrih keuntungan yang banyak hal ini disebut Tamasikdana.
Kembali pada pelaksanaan Manusa Yadnya dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan
dengan sarana banten, dilaksanakan dalam masa-masa transisi.Masa sekarang ini dipandang
mempunyai nilai baik untuk dibuatkan pembersihan spiritual.
Adapun waktu-waktu yang dipandang baik untuk melaksanakan upacara itu adalah ketika:
a. bayi dalam kandungan dibuatkan upacara pagedong-gedongan.
b. bayi baru lahir dibuatkan upacara mapag rare.
c. bayi tatkala kepus puser dibuatkan upacara kepua puser.
d. bayi sua belas hari dibuatkan uapacara lepas hawon
e. bayi berumur 42 hari dibuatkan upacara kambuhan
f. bayi berumur tiga bulan dibuatkan upacara nyambutin
g. bayi berumur enam bulan dibuatkan upacara oton.
h. bayi baru tumbuh gigi dibuatkan uapacara ngampugin.
i. anak giginya tanggal untuk pertama kalinya dibuatkan upacara makupak.
j. anak sudah meningkat remaja dibuatkan upacara ngraja.
k. anak menjadi dewasa dibuatkan upacara matatah.
l. bila ia ingin mendalami ilmu kerohanian maka dibuatkan upacara mawinten.
m. bila ia ingin membentuk rumah tangga maka dibuatkan upacara pawiwahan.
Dengan demikian sudah jelas bahwa satu putaran hidup menjadi manusia banyak sekali
dibuatkan upacara Manusa Yadnya. Di zaman perkembangan umat Hindu sekarang ini,
Manusa Yadnya yang diberikan pada anak akan lebih berguna bila peningkatan sumber daya
manusia itu diantisipasi dengan lebih awal. Oleh karena itulah agar anak-anak merasa lebih
mandiri dan
berdaya guna nanti ia patut diberikan jaminan hidup yang cukup, fasilitas pendidikan dan terdidik.
Untuk mengetahui makna yang terkandung dalam pelaksanaan upacara Manusa
Yadnyaakan diuraikan satu persatu secara singkat, yaitu:

a. Upacara Pagedong-gedongan
Upacara pagedong-gedongan disebut juga upacara garbhadana.Tujuan upacara ini
adalah memohon keselamatan jiwa araga si bayi yang ada dalam kandungan.Diharapkan
melalui upacara ini bayi yang lahir dalam keadaan selamat, kemudian dapat hidup, tumbuh
menjadi yang berguna bagi masyarakat.
Menurut lontar kuno Drestiupacara Garbhadanaini baik dilaksanakan setelah kandungan
berumur lima atau enam bulan kalender, karena pada saat itulah pertumbuhan janin sudah
sempurna berbentuk sosok bayi utuh berbadan laki atau perempuan.
Selain melaksanakan upacara seperti di atas, orang tua menjadi wajib melaksanakan
brata dalam kehidupan sehari-hari.Misalnya orang tua jangan berucap “Wakcapala” artinya
berkata-kata kotor. Selain itu orng tua wajib melaksanakan “Wakpurusia” artinya tidak
berkata yang dapat menyakitkan hati orng lain. Termasuk juga selalu memelihara ikatan cinta
kasih dalam membina rumah tangga.Bila brata seperti di atas tidak dilaksanakan maka
dikhawatirkan sifat buruk di atas dapat berkibat buruk bagi bayi dalam kandungan.Agar batyi
mendapat pengaruh yang baik, sebaiknya orang tua berperilaku positif, misalnya membaca
buku-buku kerohanian, wiracerita, atau cerita-cerita yang bersifat tuntunan budi luhur.
b. Upacara mapag rare
Ketika bayi baru lahir, dibuatkan uapacara mapat rare. Tutuannya mengucapakan syukur
kepada sang Hyang Dumadi, bahwa bayi dapat lahir dengan selamat. Melalui upacara ini,
diharapkan Sang Hyang Dumadi menjiwai bayi tersebut, dapat hidup dhurgayusa dhirgayu.
Berkaitan dengan bayi baru lahir perlu diketahui cara memelihara tembumi.
Tembumi dibersihkan, kemudian dimasukkan ke dalam kelapa yang dibelah dua, juga
dimasukkan duri-duri.Seperti duri terong, nawar dan sebagainya.Dan dilengkapi juga dengan
sirih lekesan, kelapa yang dibungkus ijuk, kain putih baru.Ditanam sebelah kanan pintu
masuk, kalau bayi laki-laki dan sebelah kiri kalau bayi perempuan.
Saat memendam ke bumi mengucapakan mantra:
“ong sang ibu pertiwi rumsga bayu,
ruange amerta sanjiwani,
angemertaning sarwa tumarah…[wong bayi]
mangda dirgayusa nugtugan tuwuh”

artinya:
ya Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasi ibu pertiwi laksana sumber kehidupan,
memberikan hidup kepada semua makhluk, semoga panjang umur dan selamat.
Setelah itu tembumi serta ditindih dengan pohon pandan, lalu dihaturkan banten segehan
kepada catur warna.Lengkap dengan bawang, jahe, garam serta canang satu pasang.
c. Upacara Kepus Puser
Tujuannya pembersihan tempat suci bangunan pekarangan.Puser dikeringkan dengan
rempah-rempah dan disimpan di tempat tidur si bayi, saat si bayi diasuh oleh Sang Hyang
Kumara.

d. Upacara ngelepas hawon


Setelah bayi berumur dua belas hari dibuatkan suatu upacara ngelepas hawon dengan
tujuan bayi tetap sehat selamat dan panjang umur.
e. Upacara kambuhan
Upacar ini sering pula disebut upacara mecolongani. Tujuannya adalah:

1. melakukan pembersihan jiwa raga si bayi, denagn cara mengupacarai nyama bajang.
Banyak nyama bajang ada 108, antara lain: bajang colong, bajang bukal, bajang yeh,
bajang lengis, bajang bejulit, bajang kebo, bajang ambengan, bajang papah, bajang
tukal, bajang dodot, bajang

sapi dan lain-lain. Semua jenis bajang di atas berfungsi membantu ketika bayi dalam
kandungan, sehingga menjadikan wujud yang sempurna.Maka dari itu kekuatan bajang perlu
disucikan agar si bayi mendapat kerahayuan. membersihkan ibu bapa si bayi dengan suatu
banten pahyakala, prayascita dan banten tataban. Maksudnya setelah bayi berumur 42 hari,
diharapkan orang tua bayi dapat memasuki tempat-tempat suci. Ketika dilaksanakan upacara
inilah, baru peetama kali si bayi dimohon penglukatan terhadap Bhatara Brahma, Bhatara
Wisnu, Bhatara Siwa serta Sang Hyang Guru di sanggah kemulan.
f. Upacara Nyambutin
upacara nyambutin terlaksana setelah bayi berumur tiga bulan atau 105 hari. Tujuan
upacara ini dalah:
1) memepertegas nama si bayi
2) membersihkan jiwa raga si bayi
Serangkaian upacara nyambutin bias disertai dengan upacara turun tanah. Tujuannya adalah
memohon keselamatan terhadap ibu pertiwi atas kehidupan anak berkaitan dengan tanah.
g. Upacara satu oton
Setelah anak berumur 210 hari atau enam bulan, dibuatkan upacara satu oton.Sering juga
disebut weton.Kata ini berasal dari kata ‘wetuan’, yang mana wetu berarti lahir. Kata wetu
ditambah ‘an’ menjadi wetuan(weton) artinya kelahiran. Sering juga disebut wedalan.Kata
wedalan, berasal dari kata wedal yang berarti lahir. Kata ini sama artinyadengan medal.
Tujuan upacara oton ini adalah untuk memperingati hari kelahiran seseorang atau sesuatu.
Dasar untuk menentukan hari lahir ini adalah pertemuan sapta wara dengan paca wara, dan
wuku, misalnya:
hari buda kliwon sinta, kemudian lagi enam bulannya (210 hari) jumpa lagi dengan hari yang
sama, maka disebut satu oton sebagai hari lahir seseorang. Jadi, itulah yang dipakai pedoman
dalam memperingati otonan seseorang. Bagi umat Hindu, akan sangat baik bila oton ini
dirayakan berkelanjutan bahkan sampai akhir hayat.
h. Upacara ngempugin
artinya adalah melaksanakan upacara setelah anak tumbuh gigi untuk pertama kalinya.
Tujuannya memohon keselamatan kepada Bhatara Surya, Bhatara Dewi Sri agar gigi anak
tumbuh dengan baik.
i Upacara Mekupak
upacara mekupak dilaksanakan ketika gigi anak tanggal untuk pertama kalinya atau
pada oton pertama. Pergantian gigi susu dengan gigi dewaa adalah menandakan anak sudah
berubah status dari anak menjadi remaja. Pada masa ini Sang Hyang Kumara tidak lagi
mengasuh anak itu.Saat ini anak dioasuh oleh Sang Hyang Semara dan Sang Hyang Dewi
Ratih.Setelah mekatus inilah anak sudah mempersiapkan diri untuk menuntut ilmu. Apakah
pra sekolah atau taman kanak-kanak, ataukah langsung pada sekolah dasar.
j. Upacara Menek Deha
Upacara menek daha ini sering disebut dengan ngraja.Yang artinya meningkat dewasa.
Tujuan upacara ini adalah memohon tuntunan kepada Sang Hyang Semara dan Dewi Ratih
agar seseorang yang diupacarai dapat kekuatan dan mengatasi godaan-godaan yang mungkin
terjadi ketika menghadapi panca roba, dapat diketahui masa peralihan dari anak menjadi
dewasa merupakan masa-masa yang rawan bagi anak. Ia berada dalam masa pubertas
pertama.
Mereka sudah mulai bisa menerima godaan asmara, insane yang berlainan jenis. Bila
kurang waspada anak sering salah langkah.Maka Dari itu umat Hindu, selain memberikan
pendidikan sikap yang berkaitan dengan etika juga mohon tuntunan pada Dewa, agar
umatnya menjadi selamat melewati masa panca roba tersebut, melalui upacara menek daha
ini.
k. Upacara Metatah
Bila anak sudah dewasa, Eka Dasa Indria pada dirinya berfungsi dengan energik.
Mungkin terjadi dalam masa ini indria-indria itu lebih memberikan kesempatan Sad Ripu
menggoda diri manusia.bila terjadi kemungkinan di atas, Sad Ripu dapat menyusupi perilaku
seseorang yang mana dapat menyebabkan rusaknya perilaku orang tersebut. Oleh karena itu
dibuatkan upacara matatah dengan tujuan untuk mengendalikan pengaruh Sad Ripu dalam
diri anak.
Pelaksanaan upacara metatah ini dilengkapi dengan seperangkat banten upacara saran
simbolis gigi pada rahang atas ditatah sebanyak enam buah, terdiri dari empat gigi seri, dan
dua buah taring. Pada enam buah gigi itu, ujung geriginya sebagi lambang pengaruh adharma
ditatah, agar terbentuk ujung gigi yang rata lambang dharma.Jadi diharapkan dharma tetap
mengendalikan hiodup seseorang anak yang telah ditatah itu.Inilah dalam masyarakat
dilkatakan “ngedasang daki”.Artinya membersihkan kotoran anak. Maksudnya tiada lain
kekuatan Sad Ripu agar dikendalikan oleh kekuatan dharma, sehingga perilaku anak
mencerminkan budi luhur.
l. Upacara Mawinten
Seseorang yang baik, dibuatkan upacara Mawinten.Lebih-lebih bagi orang yang
mempelajari ilmu kerohanian. Tujuan upacara ini adalah memohon tuntunan kehadapan
Bhatara Guru, Dewi Saraswati agar beliau menuntun kecerdasan pada umatnya dalam
mempelajari ajaran suci, yakni ilmu pengetahuan yang bersangkut paut dengan ilmu agama
Tattwa, Yadnya dan Susila.
m. Upacara Pawiwahan
Bila anak sudah cukup dewasa lahir dan batin, serta tahu ketrampilan sebagai pegangan
kerja, maka sudah pantas membentuk suatu rumah tangga.Pembentukan rumah tangga baru
ini diawali dengan upacara pawiwahan. Tujuannya adalah:
1. Mohon pesaksian kehadapan Sang Hyang Widhi, Bhuta Kala dan manusia sebagai Tri
saksi.
2. Mohon dibersihkan secara spiritual terhadap bibit yang terdapat pada suami dan istri.
Diharapkan atas pertemuan kedua bibit itu membuahkan hasil, yaitu anak saputra. Tidak
cukup hanya pembersihan bibit itu saja, tentu dengan disertai sikap perilaku luhur oleh orang
tua untuk mendidik, menyediakan jaminan hidup yang berkelanjutan.Jadi, modal cukup
banyak diperlukan untuk mewujudkan anak yang saputra.Menurut lontar kuno Dresti, bila
ada anak yang lahir di luar nikah (tanpa upacara pawiwahan), anaka itu disebut “Rare Dya
Dyu”.Agama Hindu tak mengharapkan hal tersebut terjadi, yang mana hal itu jauh dari
harapan anaka saputra.

5. Bhuta Yadnya
Bhuta Yadnya adalah persembahan suci yang ditujukan pada bhuta kala.Tujuannya
adalah untuk memelihara, menyucikan, dan nyupat bhuta kala agar tidak mengganggu
kehidupan manusia.Dalam ajaran agama Hindu dikenal dengan adanya ajaran tentang unsur
Panca Maha Bhuta, yang dikenal sebagai pembentuk Buana Agung dan Buana Alit.
Tingkatan kehidupan di alam ini bertingkat-tingkat, mulai yang terendah sampai yang
tertinggi.Tingkat yang terendah dimulai dari Panca Maha Bhuta, kemudian tumbuh-
tumbuhan, lalu binatang dan manusia.Demikianlah tingkatan hidup secara sekala. Kalau
secara niskala, dikenal tingkat kehidupan mulai dari peri, jin, setan, gamang, tonya,
banaspati, danawa dan sebagainya. Kehidupan ini lebih rendah daripada Dewa, sifatnya
bertentangan antara raksasa, kala, bhuta dengan Dewa itu. Bila dikaitkan dengan tujuan
Bhuta Yadnya yang berarti memelihara, menyucikan dan nyupatdapat dilihat sebagai berikut:
a. Tujuan memelihara:
Mengandung pengertian mengatur serta menjaga keharmonisan alam.Alam dengan
makhluknya mempunyai hubungan kehidupan yang erat.Bila hubungan itu terganggu, hidup
takkan lagi harmonis.
Misalnya:
Keadaan Panca Maha Bhuta sebagai pembentuk alam yang terdiri dari unsur-unsur:
pertiwi,apah teja, bayu dan akasa. Masing-masing unsur itu artinya zat padat, zat cair, zat
panas, zat udara dan zat ether.Ia adalah sebagai pembentuk alam, bila tak dijaga
keseimbangannya, kehidupan di dunia ini takkan harmonis lagi. Katakana saja pertiwi atau
tanah, bila tanah dibiarkan gundul maka kehidupan akan terganggu, akibatnya bisa
mendatangkan banjir, selain itu tanah yang gundul akan menyebabkan kekeringan yang
melanda. Terlebih bila hutan ikut dibabat, sudah bisa dibayangkan apa yang terjadi
bukan?.Oleh karena itu secara nyata manusia melaksanakan Bhuta Yadnya misalnya dengan
melaksanakan reboisasi, atau menanam pohon pada lahan yang kering.Contoh seperti ini
masih banyak kita jumpai dalam kehidupan ini.

b. Tujuan menyucikan alam:


Mengandung makna membersihakan alam dari polusi, karena tingkah laku manusia yang
tidak mamiliki pengetahuan Bhuta Yadnya, maka dari itu manusia berbuat serakah.Selain
membuat hutan seprti yang telah dicontohkan di atas, juga membuang limbah industry
sembarangan, lebih-lebih pada sumber-sumber air.Juga pemakaian zat-zat kimia secara tidak
tepat dan berlabihan, pada sector industry, pertanian maupun yang lainnya.Membuang
sampah secara sembarangan juga menyebabkan polusi pada tanah, di samping
berkembambangnya sarang penyakit, dan masih banyak tindakan manusia yang dapat
merusak keseimbangan alam, maka harus disucikan dengan Bhuta Yadnya. Kemudian untuk
mengulangi Panca Maha Bhuta agar tak menjadi manah, maka agama hindu mengajarkan
konsep Tri Mandala. Alam lingkungan diatur sebagi berikut:

a. Utama Mandala adalah untuk tertatanya lingkungan. Hubungan antara manusia


dengan Tuhannya, maka dari itu disediakan siatu tempat suci.

b. Madya Mandala adalah areal untuk tartatanya sebagai tempat tidur.


c. Nista mandala adalah areal untuk tempat jemuran, kamar kecil, dan tempat pembuangan
sampah. Telah disediakan rupa, bila keseimbangan Tri Mandala itu sudah diatur dengan
bagus menjadilah suatu tempat layak huni. Disana akan tampak keharmonisan antara
keutuhan bangunan dengan tata letak dan tata ruang.
c. Tujuan Nyupat bhuta Kala:
Nyupat mengandung makna meningkatkan status hidup atau keadaan dari Buta Kala
menjadi tingkatan yang bagus dan bermakna. Seperti keadaan batu, tanah, tumbuh-tumbuhan,
binatang, yang keadaannya semrawut statusnya ditingkatkan dengan cara misalnya: diatur
agar terlihat lebih menarik, seperti pada penataan taman misalnya. Contoh lain, anjing yang
status hidupnya rendah karena masih liar dan galak, dilatih supaya lebih berguna. Kembali
pada tujuan nyupat, maka yang bersifat niskala mempergunakan sarana-sarana seperti banten
segehan atau banten caru.Dengan banten itu diharapkan status Bhuta kala dapat dipelihara,
disucikan dan disupat tentunya agar menjadi Dewa kemudian dapat memberikan kebaikan
pada kehidupan manusia.Selain itu dapat dilihat banten Bhuta Yadnya mempunyai tingkatan
dari yang terkecil sampai yang paling besar.Disebut dengan nista, madya dan utama. Hal
tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.Upakara Nista
Upakara Bhuta Yadnya yang kecil disebut segehan, bentuk segehan sangat sederhana,
bahannya dari nasi dengan dilengkapi bawang, jahe, garam, arang dan disertai canang.Semua
ini mengandung makna simbolis tersendiri. Segehan ada beberapa jenis antara lain: segehan
kapal, segehan cacahan, dan ada juga segehan agungm, segehan agung sudah dalam jenis
yang lebih besar. Bantyen segehan tatkala dihaturkan pada Bhuta kala menggunakan api
tangkep yang dibuat dari sabut kelapa, disertai pemercikan tetabuhan yang terdiri dari arak
berem secara lengkap.
b.Tingkatan Upakara Madya
Banten atau upakara Bhuta Yadnya dalam tingkat madya sudah
mempergunakan dasr ayam dan banten tersebut dinamakan Caru. Jenis-jenis caru yakni:
1) Caru ayam brumbun
Ayam brumbun terdiri dari lima macam warna dalam satu ekor ayam. Ayam itu diolah
sedemikian rupa menjai satu dasar banten caru ayam brumbun, yang disebut juga caru
pengruwak. Penggunaannya pada piodalan di Mrajan atau Pura sebagai perombakan suatu
tmpat, pembukaan hutan, peletakan batu pertama suatu bangunan suci, permulaan
penggunaan bangunan seperti: bale banjar, rumah, pura dan lain-lain.
2) Caru Panca Sata
Dasar banten Bhuta Yadnya menggunakan lima ekor ayam yang masing-masing
mempunyai bulu yang berbeda. Seperti ayam putih, ayam biying, ayam putih siungan, ayam
hitam dan ayam brumbun. Masing-masing olahan ayam itu ditaruh sesuai dengan warna
kiblat mata angin seperti:
a. Ayam putih di timur
b. Ayam biying di selatan
c. Ayam putih siungan di barat
d. Ayam hitam di utara
e. Ayam brumbun ditengah
Penggunaan Caru Panca Sata ini dapat dilakukan pada upacara melaspas, mapedaging
dan lain-lain menurut petunjuk pemimpin upacara. Cara Panca Sata ini menjadi dasar bagi
pelaksanaan caru besar, yaitu caru: caru panca sanak, panca kelud, balik sumpah, tawur,
pesapuh-sapuh, panca wali karma, eka dasa ludra, lingia merebu dan nyegjeg gumi.

3) Caru Panca Sanak


Menggunakan dasar caru panca sata ditambah dengan asu bang
Bungkem dan bebek bulu sikep.
4) Caru Panca Kelud
Menggunakan dasar Caru Panca Sanak hanya saja ditambah lagi binatang kambing, dan
angsa.
5) Caru Balik Sumpah
Caru ini tidak digunakan secara umum, tetapi hanya pada tempat-tempat tertentu
saja.Seperti misalnya bila ada karang angker, tempat itu sering terjadi bencana, pertengkaran,
perkelahian, pembunuhan, kejahatan dan lain-lain.Tentu saja dari petunjuk para sulinggih.
c.Tingkatan Upakara Utama
upakara Bhuta Yadnya dalam tingkatan ini sudah menggunakan binatang sebagai
dasar cara dalam jumlah yang lebih besar dan juga menggunakan binatang kerbau. Adapun
yang termasuk jenis caru ini adalah:
1) Tawur
Caru tingkat tawur dipergunakan setiap tahun sekali yakni setiap datangnya tahun baru
saka.Disambut dengan diawali melaksanakan tawur kesanga. Binatang yang dipakai dalam
upacara tawur adalah sebagai dasar lima ekor ayam dan binatang lain, seperti di atas
ditambah satu ekor binatang kerbau.
2) Caru Pesauh-sapuh
Dasar caru seperti di atas, tetapi ditambah tiga ekor kerbau.
3) Panca Wali Krama
Dasar caru ditambah lima ekor kerbau.
4) Eka Dasa Rudra
Dasar caru mempergunakan bebagai jenis binatang, dari binatang peliharaan sampai dengan
binatang hutan, burung dan jaga ditambah dengan binatang laut, serta binatang korban 26
ekor.

BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Dari pemaparan materi di atas dapat di ambil simpulan bahwa kita sebagai generasi muda
serta masyarakat yang mengemban sebagai umat hindu dalam pelaksanaan upacara Agama
Hindu di Indonesia umumnya dan di Bali khususnya harus benar-benar memahami dalam
pengimplementasian suatu yadnya, agar tidak suatu yadnya itu dapat di katakana hanya
sebuah ritual semata. Kita sebagai umat harus bangkit dari suatu kebodohan ke beragamaan.
Yadnya harus di landasi dengan ketulusiklasan tanpa ketulusiklasan tersebut yadnya tidak
bisa di katakan sempurna ketika manusia atau oknum-oknumnya itu pamrih, dan umat Hindu
di harapkan selalu menjalankan ritual keagamaan guna untuk meningkatkan moral dan
spiritual, dan menjadikan upacara atau yadnya itu sebagai kebutuhan kita

3.2 Saran
Diharapakan bagi para Umat Hindu agar selalu menjalankan perintah Agama dan jangan
pernah timbul dari dalam diri sendiri sikap tidak percaya dengan Agama.