Vous êtes sur la page 1sur 38

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)


Pengertian kesehatan sebenarnya telah diatur dalam UU No.9 Tahun 1960
tentang pasal-pasal kesehatan. Kesehatan dalam tubuh adalah keadaan yang meliputi
kesehatan badan, rohani (mental) dan sosial dan bukan hanya keadaan bebas dari
penyakit cacat dan kelemahan (Natoadmodjo, 2012). Dalam UU No.23 Tahun 1992
Pasal 45 tentang Kesehatan Sekolah ditegaskan bahwa kesehatan sekolah
diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat peserta didik dalam
lingkungan hidup sehat sehingga pesrta didik dapat belejar, tumbuh dan kembang
secara harmonis dan optimal sehingga dapat menjadikan sumber daya yang
berkualitas (Kemenkes RI, 2011).
Usaha kesehatan sekolah (UKS) merupakan wahana untuk meningkatkan
kemampuan untuk hidup sehat, yang pada gilirannya menghasilkan derajat kesehatan
yang optimal (Depdiknas, 2009). UKS adalah segala usaha yang dilakukan untuk
meningkatkan kesehatan peserta didik pada setiap jalur, jenis dan jenjang pendidikan
mulai dari TK/RA sampai SMA/SMK/MA (Dinkes, 2010). UKS adalah upaya
membina dan mengembangkan kebiasaaan hidup sehat yang dilakukan secara terpadu
melalui program pendidikan dan pelayanan kesehatan. UKS adalah bagian dari usaha
kesehatan pokok yang menjadi beban tugas puskesmas yang ditujukan kepada
sekolah-sekolah (Mubarak & Chayatin ), 2009.
UKS merupakan usaha yang dapat dijadikan jalur untuk membantu peserta
didik selama di sekolah secara sadar, berencana, terarah dan bertanggung jawab dalam
lingkup kesehatan.
Menurut John Biddulph dan John Stace (1999: 381-382), pentingnya UKS
adalah sebagai berikut:
1. Jumlah anak-anak usia sekolah dasar dan sekolah menengah merupakan
seperempat populasi masyarakat. Anak sekolah merupakan suatu kelompok
yang besar.
2. Sekolah merupakan tempat yang baik untuk mengajar kesehatan. Anak-anak
berkumpul di satu tempat. Mereka berharap dapat belajar sesuatu yang baru di
sekolah. Guru sudah dilatih untuk mengajar anak. Salah satu hal penting yang
harus dipelajari anak sekolah adalah masalah kesehatan.

3. Sekolah merupakan bagian dari masyarakat. Bermula dari sekolah hal-hal


yang menyangkut kesehatan akan menyebar ke masyarakat. Anak akan membawa
pulang apa yang sudah dipelajari di sekolah dan akan memberitahukannya kepada
keluarga di rumah.
4. Perbaikan kesehatan anak semasa sekolah akan menolong sisa hidup mereka.
Misalnya, anak dengan infeksi telinga dapat menjadi tuli jika tidak diobati
dengan tepat. Ketulian ini akan menghalangi dia untuk belajar dengan baik di
sekolah. Setelah ia selesai dan keluar dari sekolah, ketuliannya ini akan
menghalangi ia mendapatkan pekerjaan. Jika infeksi telinga diobati dengan
benar di sekolah semua masalah dapat dicegah.
5. Melalui pemeriksaan anak-anak sekolah ternyata didapatkan banyak anak
sekolah yang memerlukan pengobatan.
6. Jika anak sehat, ia akan belajar dengan baik di sekolah. Jika sakit, ia tidak
dapat belajar dengan baik di sekolah. Setelah anak lulus sekolah, ia akan sulit
mendapat pekerjaan yang baik.
7. Di sekolah anak berhubungan dengan banyak orang. Ini berarti mempunyai
banyak kemungkinan tertular penyakit infeksi.
B. Tujuan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)
Secara umum tujuan UKS yaitu meningkatkan kemampuan hidup sehat dan
derajat kesehatan peserta didik serta meningkatkan lingkungan yang sehat sehingga
tercapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal dalam upaya membentuk
manusia indonesia yang berkualitas sedangkan tujuan khususnya adalah untuk
memupuk kebiasaan hidup sehat dan mempertinggi derajat kesehatan anak sekolah
yang memiliki pengetahuan dan sehat fisik mental maupun sosial (Mubarak &
Chayatin, 2009).
C. Sasaran Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)
Sasaran pelayanan UKS adalah seluruh peserta didik dari berbagai tingkat
pendidikan sekolah mulai dari taman kanak-kanak, pendidikan dasar, pendidikan
menengah, pendidikan agama, pendidikan kejuruan, dan pendidikan khusus/ sekolah
luar biasa (Notoatmodjo, 2012).
UKS untuk sekolah dasar diprioritaskan pada kelas I, III, dan kelas VI
alasannya karena: kelas I merupakan fase penyesuaian dalam lingkungan sekolah
yang baru dan lepas dari pengawasasan orang tua, kemungkinan kontak dengan
berbagai penyebab penyakit lebih besar karena ketidaktahuan dan ketidakmengertian
tentang kesehatan. Disamping itu kelas I adalah saat yang baik untuk diberikan
imunisasi ulangan dan kelas I ini dilakukan penjaringan untuk mendeteksi
kemungkinan adanya kelainan yang mungkin timbul sehinga mempermudah
pengawasan untuk jenjang berikutnya. Kemudian dilaksanakan di kelas III untuk
mengevaluasi hasil pelaksanaan UKS dikelas I dahulu dan langkah-langkah
selanjutnya yang akan dilakukan didalam program pembinaan UKS serta untuk kelas
VI itu sendiri dilakukan dalam rangka mempersiapkan kesehatan peserta didik ke
jenjang pendidikan selanjutnya, sehingga memerlukan pemeliharaan dan pemeriksaan
kesehatan yang cukup (Effendi, 1998).
Sasaran pembinaan dan pengembangan UKS terdiri dari sasaran primer,
sekunder dan tersier. Sasaran primer yaitu peserta didik, sasaran sekunder yaitu guru,
pamong belajar/ tutor orang tua, pengelola pendidikan dan pengelola kesehatan, serta
tim pelaksana UKS disetiap jenjang, dan sasaran tertier yaitu lembaga pendidikan
mulai dari tingkat prasekolah sampai pada sekolah lanjutan tingkat atas, termasuk
satuan pendidikan luar sekolah dan perguruan agama serta pondok pesantren beserta
lingkungannya (Kemenkes Ri, 2011).
D. Pengelolaan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)
Dalam pelaksanaan program usaha kesehatan sekolah, prinsip pengelolaan
yang digunakan diantaranya mengikutsertakan peran serta aktif masyarakat sekolah,
kegiatan yang terintegrasi, melaksanakan rujukan serta kerjasama. Kerjasama tim di
tingkat Puskesmas sangat diperlukan untuk mendukung pelaksanaan program usaha
kesehatan sekolah, kerjasama ini terdiri dari beberapa program yang terlibat
didalamnya diantaranya dokter, perawat komunitas, petugas gigi, ahli gizi, petugas
sanitasi, petugas posyandu dan tenaga kesehatan lainnya yang dikoordinir oleh Kepala
Puskesmas (Zein, 2008).
Dukungan yang diberikan dalam pengelolaan program usaha kesehatan
sekolah oleh tenaga kesehatan Puskesmas mencakup melakukan pengembangan
program baik yang dilakukan secara rutin maupun program tambahan, ikut
berpartisipasi langsung dalam setiap pelaksanaan kegiatan usaha kesehatan sekolah
disetiap sekolah serta kegiatan pada waktu tertentu seperti perlombaan sekolah sehat,
HUT kemerdekaan, Hardiknas, Hari Kesehatan Nasional dan lain-lain (Sujudi, 2004).
E. Tugas Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)
Menurut Abdul Latief dkk (1985: 59), UKS bertugas untuk mencapai tujuan
untuk mencapai potensi maksimal yang ada pada anak didik dengan jalan di antaranya
adalah sebagai berikut:
1. Mengikutsertakan secara aktif guru dan orang tua murid dalam usaha
memberikan pendidikan kesehatan, menanamkan kebiasaan hidup sehat,
mengawasi kesehatan anak didik dan memberikan pengobatan sederhana yang
diperlukan
2. Menemukan kelainan pada tingkat permulaan dan mengusahakan
pengobatannya
3. Imunisasi ulangan
4. Pengobatan dan pencegahan terhadap penyakit gigi
5. Usaha ke arah perbaikan gizi
6. Mengusahakan kehidupan lingkungan sekolah yang sehat

Menurut Notoatmodjo (2007: 12), tugas UKS perlu ditingkatkan karena


kesehatan itu relatif dan mempunyai bentangan yang luas, oleh sebab itu upaya
kesehatan promotif mengandung makna bahwa kesehatan seseorang dan
kelompok harus ditingkatkan secara optimal.
Menurut Azrul Azwar (1983: 14), tugas UKS adalah untuk merubah
perilaku perorangan dan masyarakat dalam bidang kesehatan. Tujuan ini
adalah tujuan yang amat mendasar, karena sebenarnya banyak masalah
kesehatan yang ditemukan antara lain perilaku perorangan dan masyarakat
yang belum sesuai dengan prinsip-prinsip kesehatan.
F. Pelaksanaan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)
Kemdikbud (2012) menyatakan organisasi tim pembinaan dan pelaksana UKS
dilaksanakan secara terpadu dan terkoordinasi berdasarkan keputusan bersama menteri
yang terdiri atas: tim pembina UKS pusat, tim pembina UKS provinsi, tim pembina
UKS kabupaten/ kota, tim pembina UKS kecamatan dan tim pelaksana UKS di sekolah
dan perguruan agama.
Fungsi dari tim pembina UKS pusat adalah sebagai pembantu menteri dalam
melaksanakan pembinaan serta pengembangan UKS dan tugas tim pembina UKS pusat
adalah merumuskan kebijakan, pedoman umum dan standarisasi pengembangan UKS
yang bersifat nasional, mensosialisasikan kebijakan pembinaan dan pengembangan
UKS, menjalin hubungan kerja dan kementrian dengan lintas sektor, pihak swasta dan
LSM baik di dalam maupun luar negeri sesuai dengan ketentuan yang berlaku,
melaksanakan monitoring dan evaluasi program pembinaan dan pengembangan UKS
secara nasional, melaporkan pelaksanaan tugas kepada Menteri Pendidikan, dan
Kebudayaan, Menteri Kesehatan, Menteri Agama, dan Menteri Dalam Negeri,
melaksanakan ketatausahaan tim pembina UKS pusat (Kemdikbud, 2012).
Fungsi tim pembina UKS provinsi adalah untuk melaksanakan pembinaan dan
pengembangan UKS di tingkat provinsi serta berfungsi sebagai pembina dan
koordinator program UKS seluruh kabupaten/ kota yang ada di wilayahnya sedangkan
tugas tim pembina UKS provinsi adalah menyusun petunjuk teknis pelaksanaan UKS,
mensosialisasikan kebijakan pembinaan dan pengembangan UKS, melaksanakan
program pembinaan dan pengembangan UKS di provinsi, menjalin hubungan baik dan
kemitraan dengan lintas sektor, pihak swasta dan LSM baik dalam negeri maupun luar
negeri sesuai ketentuan yang berlaku, melaksanakan monitoring dan evaluasi program
pembinaan dan pengembangan UKS, membuat laporan berkala kepada tim pembina
UKS pusat, melaksanakan ketatausahaan tim pembina UKS provinsi (Kemdikbud,
2012).
Fungsi tim pembina UKS kabupaten/ kota sebagai pembina, koordinator dan
pelaksana program UKS di daerahnya berdasarkan kebijakan yang ditetapkan oleh
pusat, provinsi dan kabupaten/ kota dan tugasnya adalah menyusun petunjuk teknis
UKS, mensosialisasikan kebijakan pembinaan dan pengembangan UKS, menjalin
hubungan baik dan kemitraan dengan lintas sektor, pihak swasta dan LSM baik
didalam maupun luar negeri sesuai ketentuan yang berlaku, melaksanakan pemantauan
dan evaluasi pelaksanaan program pembinaan dan pengembangan UKS, membuat
laporan berkala kepada tim pembina UKS provinsi, melaksanakan ketatausahaan tim
pembina UKS kabupaten/ kota (Dinkes, 2010).
Fungsi tim pembina UKS kecamatan adalah sebagai pembina, penanggung
jawab dan pelaksanaan program UKS di daerah kerjanya berdasarkan kebijakan yang
ditetapkan tim pembina UKS kabupaten/ kota. Kedudukan petugas puskesmas di
tingkat kecamatan sebagai Tim pembina UKS kecamatan dan tugasnya adalah untuk
membina dan melaksanakan UKS, mensosialisasikan kebijakan pembinaan dan
pengembangan UKS, melaksanakan program pembinaan dan pengembangan UKS,
pemantauan dan evaluasi pelaksanaan pembinaan dan pengembangan UKS,
mengkoordinasikan pelaksanaan program UKS di wilayahnya sesuai dengan pedoman
dan petunjuk tim pembina UKS, membuat laporan pelaksanaan program pembinaan
dan pengembangan UKS kepada tim pembina UKS kabupaten/ kota, dan
melaksanakan ketatausahaan tim pembina UKS kecamatan (Dinkes, 2010).
Tim pelaksana UKS di sekolah dan perguruan agama berfungsi sebagai
penanggung jawab dan pelaksana program UKS di sekolah dan perguruan agama
berdasarkan prioritas kebutuhan dan kebijakan yang ditetapkan oleh tim pembina UKS
kabupaten/ kota dan tanggung jawabnya adalah melaksanakan tiga program pokok
UKS yang terdidi dari pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan, dan pembinaan
lingkungan sekolah sehat yang telah ditetapkan oleh tim pembina UKS, menjalin
kerjasama dengan orang tua/ komite sekolah, instansi lain dan masyarakat dalam
pelaksanaan kegitan UKS, menyusun program melaksanakan penilaian/ evaluasi dan
menyampaikan laporan kepada tim pembina UKS kecamatan dan melaksanakan
ketatausahaan tim pelaksana UKS di sekolah (kemdikbud, 2012).
G. Program Pembinaan Peserta Didik
Program pembinaan peserta didik dilaksanakan untuk meningkatkan
kemampuan hidup sehat dan meningkatkan derajat kesehatan peserta didik yang
dilakukan sebagai upaya menanamkan prinsip hidup sehat sedini mungkin. Cara yang
paling tepat untuk mengajarkan anak sekolah dalam meningkatkan kebiasaan
berprilaku hidup sehat dan bersih melalui Trias UKS (Dinkes, 2010).
1. Pendidikan Kesehatan (Health Education In School)
Pendidikan kesehatan adalah usaha untuk menyiapkan peserta didik agar
dapat tumbuh kembang sesuai, selaras, seimbang dan sehat fisik, mental, sosial
maupun lingkungan melalui kegiatan bimbingan, pelajaran/ latihan yang
diperlukan bagi perananya saat ini maupun dimasa mendatang (Efendi, 1998).
Pendidikan kesehatan bagi peserta didik diperoleh melalui kegiatan kurikuler
yang dilaksanakan untuk semua mata pelajaran (khususnya pengetahuan alam,
agama, penjaskes) dan dapat juga dilaksanakan melalui muatan lokal. Pada SD
pelaksanaan diberikan melalui peningkatan pengetahuan, penanaman nilai dan
sikap positif terhadap prinsip hidup sehat dan peningkatan keterampilan dalam
melaksanakan hal yang berkaitan dengan pemeliharaan, pertolongan dan
perawatan kesehatan. Materi yang diberikan dalam pendidikan kesehatan adalah
menjaga kebersihan diri, mengenal pentingnya imunisasi, mengenal makanan
sehat, mengenal bahaya penyakit diare, influenza dan demam berdarah, menjaga
kebersihan lingkungan, membiasakan membuang sampah pada tempatnya,
mengenal cara menjaga kebersihan alat reproduksi, mengenal bahaya merokok
bagi kesehatan, mengenal bahaya minuman keras, mengenal bahaya narkoba,
mengenal cara menolak ajakan menggunakan narkoba, mengenal cara menolak
pelecehan seksual (Dinkes, 2010).
Pelaksanaan pendidikan juga didapat dari kegiatan ekstrakurikuler dengan
tujuan untuk menambah dan menanamkan perilaku sehat, memperluas
pengetahuan, keterampilan siswa yang bermanfaat bagi kehidupan peserta didik.
Kegiatan ekstrakurikuler dalam pendidikan kesehatan diantaranya kegiatan yang
melibatkan peserta didik dan guru misalnya: kerja bakti sosial, lomba yang
berhubungan dengan kesehatan, kader kesehatan sekolah (dokter kecil) dan MPR,
permainan, diskusi, permainan peran dan simulasi, bimbingan hidup sehat,
kegiatan penyuluhan kesehatan, latihan keterampilan dan partisipasi pelayanan
kesehatan (Kemdikbud, 2012).
Program pelaksanaan pendidikan kesehatan mempunyai tujuan agar peserta
memiliki pengetahuan tentang ilmu kesehatan, termasuk cara hidup sehat dan
teratur, memiliki nilai dan sikap positif terhadap prinsip hidup sehat, memiliki
keterampilan dalam melaksanakan hal yang berkaitan dengan pemeliharaan,
pertolongan, dan perawatan kesehatan, memiliki kebiasaan hidup sehari-hari yang
sesuai dengan syarat kesehatan, memiliki kemampuan dan kecakapan (life skills)
untuk berprilaku hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari, memiliki pertumbuhan
termasuk bertambahnya tinggi badan dan berat badan secara harmonis
(proporsional), mengerti dan dapat menerapkan prinsip-prinsip pengutamaan
pencegahan penyakit dalam kaitannya dengan kesehatan dan keselamatan dalam
kehidupan sehari-hari, memiliki daya tangkal terhadap pengaruh buruk dari luar
(narkoba, arus informasi dan gaya hidup yang tidak sehat), dan memiliki tingkat
kesegaran jasmani yang memadai dan derajat kesehatan yang optimal serta
mempunyai daya tahan tubuh yang baik terhadap penyakit (Dinkes, 2010).
Tujuan pendidikan kesehatan bagi para peserta didik dapat tercapai secara
optimal, apabila dalam pelaksanaan hendaknya memperhatikan hal sesuai dengan
tingkat kemampuan dan perbedaan individual. Peserta didik hendaknya terlibat
dalam peran aktif sesuai dengan situasi dan kondisi setempat, selalu mengacu
pada pendidikan kesehatan. Metode yang digunakan dalam proses blajar
mengajar meliputi: kerja kelompok, diskusi/ ceramah, belajar perorangan,
pemberian tugas, tanya jawab dan simulasi (peragaan) (Notoatmodjo, 2012).
2. Pelayanan Kesehatan (School Health Service)
Pelayanan kesehatan di sekolah adalah upaya peningkatan (promotif),
pencegahan (preventif), pengobatan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif) yang
dilakukan secara serasi dan terpadu terhadap peserta didik yang pada khususnya
dan warga sekolah pada umumnya dibawah koordinasi pembina UKS dengan
bimbingan teknis dan pengawasan puskesmas setempat (Dinkes, 2010).
Kegiatan peningkatan (promotif) dilaksanakan melalui kegiatan penyuluhan
kesehatan dan latihan keterampilan yang dilaksanakan secara ekstrakurikuler.
Kegiatan promotif yang biasanya dilakukan yaitu: latihan keterampilan teknis
dalam rangka pemeliharaan kesehatan dan pembentukan peran serta aktif peserta
didik dalam pelayanan kesehatan yang terdiri dari dokter kecil, kader kesehatan
remaja, palang merah remaja dan saka bhakti husada/ pramuka, pembinaan sarana
keteladanan yang ada di lingkungan sekolah, yaitu pembinaan warung sekolah
sehat dan lingkungan sekolah yang terpelihara serta bebas dari faktor pembawa
penyakit, dan pembinaan keteladanan berperilaku hidup bersih dan sehat
kecacingan (PHBS) (Kemdikbud, 2012).
Kegiatan pencegahan (preventif) dilaksanakan melalui kegiatan
peningkatan daya tahan tubuh, kegiatan pemutusan mata rantai penularan
penyakit dan kegiatan penghentian proses penyakit pada tahap dini sebalum
timbul penyakit, yaitu pemeliharaan kesehatan yang bersifat umum maupun yang
bersifat khusus untuk penyakit-penyakit tertentu misalnya demam berdarah dan
muntaber, penjaringan (screening) kesehatan bagi anak yang baru masuk sekolah,
pemeriksaan berkala kesehatan setiap 6 bulan, mengikuti (memonitor/ memantau)
pertumbuhan peserta didik, imunisasi peserta didik dari kelas I sampai kelas VI di
sekolah dasar dan madrasah, usaha pencegahan penularan penyakit dengan jalan
memberantas sumber infeksi dan pengawasan kebersihan lingkungan sekolah dan
perguruan agama, serta konseling kesehatan remaja di sekolah dan perguruan
agama oleh kader kesehatan sekolah, guru BP, dan guru agama dan puskesmas
oleh dokter puskesmas atau tenaga kesehatan lain (Dinkes, 2010).
Kegiatan penyembuhan dan pemulihan (kuratif dan rehabilitatif) dilakukan
melalui kegiatan mencegah komplikasi dan kecacatan akibat proses penyakit atau
untuk meningkatkan kemampuan peserta didik yang cedera atau cacat agar dapat
berfungsi optimal, yaitu: diagnosis dini, pengobatan ringan, pertolongan pertama
pada kecelakaan dan pertolongan pertama pada penyakit serta rujukan medik
(Kemdikbud, 2012).
Tujuan pelayanan kesehatan adalah meningkatkan derajat kesehatan peserta
didik dan seluruh warga masyarakat sekolah secara optimal dan secara khususnya
tujuan dari pelayanan kesehatan adalah meningkatkan kemampuan dan
keterampilan melakukan tindakan hidup sehat dalam rangka membentuk perilaku
hidup sehat, meningkatkan daya tahan tubuh peserta didik terhadap penyakit dan
mencegah terjadinya penyakit, kelainan dan cacat serta menghentikan proses
penyakit dan pencegahan komplikasi akibat penyakit/ kelainan pengembalian
fungsi dan peningkatan kemampuan peserta didik yang cedera/ cacat agar dapat
berfungsi optimal (Natoatmodjo, 2012).
Kemdikbud (2012) menyatakan sada beberapa pelayanan kesehatan
diantaranya pelayanan kesehatan di sekolah dan pelayanan kesehatan di
puskesmas. Pelayanan kesehatan di sekolah didelegasikan kepada guru, setelah
ditatar/ dibimbing petugas puskesmas (kegiatan promotif dan preventif) dan
sebagian pelayanan kesehatan hanya boleh dilakukan oleh petugas puskesmas dan
dilaksanakan sesuai waktu yang telah direncanakan. Pelayanan kesehatan di
puskesmas adalah bagi peserta didik yang dirujuk dari sekolah (khusus untuk
kasus yang tidak dapat diatasi oleh sekolah) dengan memiliki buku/ kartu rujukan
sesuai tingkat pelayanan. Tugas dan fungsi puskesmas adalah melaksanakan
pembinaan kesehatan dalam rangka usaha kesehatan sekolah yaitu memberikan
pencegahan terhadap suatu penyakit dengan imunisasi dan lainnya, memberikan
bimbingan teknis medik kepada kepala sekolah dan guru dalam melaksanakan
UKS, memberikan penyuluhan tentang kesehatan dan UKS khususnya kepada
kepala sekolah, guru dan pihak lain, memberikan pelatihan/ penataan kepada guru
UKS dan kader UKS, melakukan penjaringan, pemeriksaan berkala serta rujukan,
memberikan pembinaan dan pelaksanaan konseling dan menginformasikan
kepada kepala sekolah tentang derajat kesehatan dan tingkat kesegaran jasmani
peserta didik dan cara peningkatannya.
3. Pembinaan Lingkungan Sekolah Sehat
Lingkungan merupakan faktor penunjang dari tumbuh kembang peserta
didik, dikarenakan dari faktor inilah peserta didik dapat menerapkan kebiasaan
dan tingkah lakunya dalam lingkungan. Sekolah merupakan tempat yang tepat
untuk memberikan pengalaman dan pengetahuan dalam pelaksanaan pembinaan
lingkungan sekolah sehat. Lingkungan sekolah sehat merupakan salah satu unsur
penting dalam membina kesehatan sekolah karena lingkungan kehidupan yang
sehat sangat diperlukan untuk meningkatkan kesehatan murid, guru dan pegawai
sekolah serta peningkatan daya serap murid dalam proses belajar mengajar
(Oktaferani, 2013). Pembinaan lingkungan sekolah sehat perlu dilaksanakan
karena lingkungan mempengaruhi kesehatan fisik, mental dan sosial, lingkungan
sekolah yang sehat merupakan kondisi yang mendukung keberhasilan proses
blajar mengajar secara keseluruhan serta tidak terlepas dengan tumbuh kembang
peserta didik (Kemdikbud, 2012).
Effendi (1998) menyatakan program lingkungan sekolah sehat terbagi
atas:lingkungan fisik, pisikis dan lingkungan sosial. Lingkungan fisik sekolah
meliputi penyediaan air yang bersih, pemeliharaan penampungan air bersih,
pengadaan dan pemeliharaan tempat pembuangan sampah, pengadaan dan
pemeliharaan air limbah, pemeliharaan WC/ jamban, pemeliharaan kamar mandi,
pemeliharaan kebersihan dan keterampilan ruang kelas, ruang perpustakaan,
ruang laboratorium, dan ruang ibadah, pemeliharaan kebun sekolah (termasuk
penghijauan sekolah), pengadaaan dan pemeliharaan kantin sekolah, dan
pengadaan serta pemeliharaan pagar sekolah (Dinkes, 2010).
Lingkungan Psikis, yaitu kegiatan memberikan perhatian terhadap
perkembangan peserta didik, memberikan perhatian khusus terhadap anak-anak
didik yang bermasalah, dan membina hubungan kejiwaan antara guru dengan
peserta didik (Efendy, 1998). Menurut Notoatmodjo (2012) lingkungan
psikososial di sekolah meliputi sikap, perasaan, dan nilai dari petugas sekolah.
Iklim psikososial yang positif serta budaya yang baik dapat meningkatkan
pencapaian pendidikan dan moral dari petugas sekolah. Keamanan psikologis,
hubungan interpersonal yang positif, penghargaan atas keberhasilan seseorang
serta lingkungan belajar yang mendukung merupakan seluruh bagian dari
lingkungan psikososial sekolah berwawasan promosi kesehatan (SBPK) harus
menjamin lingkungan psikososial yang positif dengan cara penerapan kebijakan
sekolah yang suportif, merangsang aktivitas kelompok yang mempromosikan
kebersamaan, persahabatan, saling pengertian dan rasa memiliki, penyediaan
kesempatan bagi siswa untuk belajar di lingkungan yang kompetitif dengan
dukungan yang memadai dalam mengahadapi tantangan, pengembangan suasana
yang kondusif bagi siswa untuk mengutarakan perasaannya, rasa saling menjaga
(caring), saling percaya dan menjaga kerahasiaan, kerja sama dan belajar aktif
(active learning) di ruang kelas, pendekatan yang memusatkan perhatian pada
siswa (student centered) dan pendekatan berdasarkan keterampilan dalam proses
belajar mengajar, menciptakan situasi beajar yang baik didalam maupun diluar
kelas, memecahkan masalah serta mengambil keputusan, dan komunikasi yang
baik antar siswa dan guru.
Lingkungan mental dan sosial adalah program melalui usaha pemantapan
sekolah sebagai lingkungan pendidikan dengan meningkatkan pelaksanaan
konsep ketahanan sekolah (7K), sehingga terciptanya suasana dan hubungan
kekeluargaan yang akrab dan erat antara sesama warga sekolah. selain
peningkatan pelaksanaan konsep 7K program pembinaan dilakukan dalam bentuk
kegiatan konseling kesehatan, bakti sosial masyarakat sekolah terhadap
lingkungan, perkemahan, pembelajaran, teater, musik, olahraga, kepramukaan,
PMR, dokter kecil, dan kader kesehatan remaja, karnaval, bazaar, lomba (Dinkes,
2010). Menurut Effendy (1998) lingkungan sosial adalah kegiatan membina
hubungan harmonis antara guru dengan guru, guru dengan peserta didik, pesrta
didik dengan peserta didik lainnya dan membina hubungan harmonis antara guru,
murid, karyawan sekolah serta masyarakat sekolah.
Pembinaan lingkungan sekolah sehat kepada peserta didik dilaksanakan
agar dapat menerapkan pentingnya UKS diantaranya dengan melaksanakan
kegiatan kerja bakti kebersihan sekolah secara rutin dan terencana, kerja bakti
dengan lingkungan masyarakat sekitar sekolah, membuang sampah pada
tempatnya dan pengadaan tempat sampah didepan kelas, dipilah antara sampah
organik dan kompos, tidak mencoret-coret dinding dan bangku, menyiram
jamban sampai bersih sesudah dipakai, mengolah sampah organik menjadi
kompos, membuat pemelihara kapling, kebun sekolah, dan mengikuti kegiatan
dinamika kelompok (wisata, olahraga, dan kesenian) (Dinkes, 2010).
H. Pemberdayaan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)
Pemeliharaan Kesehatan Sekolah (School Health Service) Pemeliharaan
kesehatan sekolah untuk tingkat sekolah dasar, dimaksudkan untuk memelihara,
meningkatkan dan menemukan secara dini gangguan kesehatan yang mungkin
terjadi terhadap peserta didik maupun gurunya. Pemeliharaan kesehatan di sekolah
dilakukan oleh petugas puskesmas yang merupakan tim yang dibentuk dibawah
seorang koordinator usaha kesehatan sekolah yang terdiri dari dokter, perawat, juru
imunisasi dan sebagainya.
Untuk koordinasi pada tingkat kecamatan dibentuk tim pembina usaha
kesehatan sekolah dengan kegiatan yang dilakukan meliputi pemeriksaan
kesehatan, pemeriksaan perkembangan kecerdasan, pemberian imunisasi,
penemuan kasus-kasus dini yang mungkin terjadi, pengobatan sederhana,
pertolongan pertama serta rujukan bila menemukan kasus yang tidak dapat
ditanggulangi di sekolah.
Salah satu pelayanan masyarakat yang dilaksanakan di sekolah diwujudkan
dalam bentuk pemberdayaan usaha kesehatan sekolah. Inti kegiatan operasional
dikemukakan oleh tim pembina UKS pusat (1999 : 2) yang mencangkup tiga
program meliputi (1) penyuluhan (2) pencegahan (3) pengobatan/perawata.
Pemberdayaan selalu dikaitkan dengan manajemen. Ketika pemberdayaan
dikonotasikan sebagai manajemen maka secara umum segiovani (198. : 5)
memberikan pengertian anatara lain “ the process of working with and through
others to effidiently accompls organizational goals” pemberdayaan yang baik
adalah penyelesaian pekerjaan dengan mencapai tujuan-tujuan organisasi secara
efisiensi. Dalam pengertian besar manajemen usaha kesehatan sekolah dijelaskan
Kurniasri Darliana (1990 : 17-25) sebagai berikut:
1. Perencanaan : rencana ini tijunjukan pada upaya pencegahan,pemberantasan
dan pembasmian penyakit menular. Kemudian diarahkan juga kepada
pendidikan kesehatan gizi,pengobatan,perawatan serta lingkungan sekolah dan
tempat tinggal
2. Pengorganisasian : pemberdayaan usaha kesehatan sekolah merupakan tugas
dan tanggung jawab bagian UKS puskesmas komposisi struktur tersebut
tergantung kebutuhan dan kemampuan puskesmas.
3. Personalia : penentuan personalia dilihat dari aspek keterampilan, kemampuan
dan pengetahuan baik medis ( asuransi kesehatan,dana sehat dll).
4. Pengarahan : pelayanan pengarahan dilakukan secara langsung dan
terintergrasi dalam program, sehingga masyarakat, pihak sekolah dan siswa
ikut bertanggung jawab atas keberhasilan manajemen kesehatan. Hal yang
paling strategis mewujudkan pengarahan adalah prosedur kerja yang harus
ditaati dengan seksama
5. Pengawasan : tolak ukur menentukan pengawasan pemberdayaan manajeman
kesehatan yang baik antara lain : (a) mempunyai standart untuk pedoman
pertandingan hasil pelaksana rencana (b) mengadakan pengawasan kegiatan (c)
melakukan perbandingan hasil dan standart (d) melakukan tindakan oerbaikan

Untuk lagkah awal, implementasi manajemen dituangkan ke dalam


program kerja yang disusun oleh kepala sekolah dan dibantu oleh guru, prngurus
BP3 serta pihak puskesmas lainya. Hal-hal yang amat paling penting dituangkan
meliputi : (1) visi dan misi (2) substansi (3) fasilitas (4) pendanaan dan (5)
mekanisme kerjasama
I. Penguasaan Pola Hidup Sehat
Penerapan konsep hidup sehat yang efektif merupakan muara dari sebuah
usaha kesehatan sekolah. Sesuai dengan paparan teori sebelumnya bahwa realisasi
yang disimpulkan untuk mengetahui apakah siswa mengaplikasikan konsep tersebut
dalam kehidupan sehari-hari yaitu : (1) pemahaman tentang hidup sehat, dan (2)
merealisasikan konsep hidup sehat di sekolah dan rumah. Perilaku hidup sehat adalah
memperaktekan kebiasaan hidup sehat secar pribadi, keluarga dan masyarakat, hidup
sehat merupakan dambaan setiap manusia normal. Belum ada satupun di dunia ini
terlihat manusia normal yang mendambakan sakit sepanjang hayatnya, hidup sehat
tidak dating begitu saja akan tetapi memerlukan suatu proses panjang dan
membutuhkan pengertian-pengertian. Hal ini dimaklumi karena hidup sehat bukan
saja terlihat pada badan yang sehat melaikan juga jiwa yang tidak terkontaminasi
virus-virus yang menyebapkan diri, keluarga dan masyarakat keluar dari garis normal.
Pada bagian ini dikemukakan Suharto (1999 : 36) pengertian hidup sehat
dikalangan siswa yaitu praktek kebiaasaan hidup bersih dan sehat yang dilaksanakan
dalam kehidupan sehari-hari selama siswa berada di dalam kelas maupun berada di
luar kelas (di lingkungan sekolah) Tim Pembina UKS pusat (1994 : 82-85)
memberikan pengertian tentang pengalaman siswa terhadap hidup sehat yaitu : (1)
meningkatnya pengetahuan (2) meningkatnya kemampuan (3) meningkatnya
kesadaran (4) melaksanakan dalam kehidupan sehari-hari (5) membawa teman
lingkungan menciptakan kondisi hidup sehat.
Sebagai buah pemberdayaan Usaha Kesehatan Sekolah yang efektif adalah
terjadinya pengamalan kosep hidup sehat di kalangan siswa. Tidak mudah
memberikan ukuran tentang realisasi konsep hidup sehat yang sesuai dengan harapan.
Secara mendalam, upaya merealisasikan KOnsep Hidup Sehat di lingkungan sekolah,
Djauzak Ahmad (1994 : 20-21) mengambar suatu kondisi antara lain :
1. Kebersihan
a. Halaman, lapangan olah raga harus selau bersih dan terawatt baik
b. Ada toilet/WC dan selalu bersih,cukup air
c. Sekolah selalu bersih terawatt dan berfungsi
d. Ruang kepala sekolah,guru,kelas,ruang ibadah,perpustakaan selalu bersih
dan teratur bersih
2. Keindahan
a. Taman ditata dan terawatt
b. Pot bunga,gambar dinding di tata dengan rapih
3. Kesehatan
a. Pembungan sampah dilakukan secara teratur pada tempat yang telah
disediakan
b. Alat P3K tersedia dan berfungsi
c. Air bersih, sumur dirawat dengan bersih, memenuhi syarat kesehatan
d. Kanti/warung sekolah bersih,memenuhi syarat kesehatan
e. Tersedia apotik hidup yang terawatt/kebun sekolah
J. Kriteria Siswa Hidup Sehat
Sebenarnya pada bagian awal telah disinggung juga tentang kesehatan siswa.
Memang banyak kriteria yang menyatakan sisw tersebut sehat, pada bagian Tim
Pembina UKS Pusat (1985 : 43) membatasi kriteria siswa sehat adalah tidak sakit.
Indikasi ini terlihat pada fisik dan mental. Siswa yang sehat fisik tidak terlihat
gangguan pada organ tubuh, sedangkan siswa yang sehat mental terlihat pada
cerminan pikiran yang cemerlang. Djauzak Ahmad (1994 : 21) menjelaskan dengan
sederhana bahwa kriteria siswa yang sehat tersebut adalah pengamalan hidup bersih,
sehat dan mampu mencegah pengaruh merokok dan obat-obatan terlarang serta tinggi
dan berat badannya ideal.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa siswa yang sehat adalah siswa
yang memiliki kesehatan jasmani dan rohani. Dengan kondisi demikian, siswa akan
berpeluang melakukan yang terbaik dalam kegiatan paengajaran.
K. Masalah Kesehatan yang dapat dikurangi melalui Usaha Kesehatan Sekolah
(UKS)
Delawati 2007 (dalam Masita, 2009) menyatakan bahwa ada masalah
kesehatan yang dapat dicegah dengan pelaksanaan UKS yaitu: sanitasi dan air bersih,
kekerasan dan kecelakaan, masalah kesehatan reproduksi remaja, kecacingan dan
kebersihan diri maupun lingkungan, masalah gizi dan anemia, imunisasi, merokok,
alkohol dan penyalahgunaan narkoba, kesehatan gigi, penyakit infeksi (malaria,
gangguan saluran nafas, HIV/AIDS dan IMS lainnya serta gangguan kesehatan mental.
L. Hasil yang diharapkan dari Program UKS
Effendi (1998) menyatakan hasil yang dapat diharapkan dari terlaksananya
program UKS untuk peserta didik adalah: 1) siswa memiliki pengetahuan, sikap dan
keterampilan untuk melaksanakan hidup sehat dan mampu memecahkan masalah
kesehatan sederhana dengan turut berpartisipasi aktif dalam UKS, RT dan lingkungan
masyarakat, 2) siswa sehat fisik, mental maupun sosial dan siap untuk menjalani
kehidupan keluarga yang sehat sejahtera dan mandiri, 3) siswa memiliki daya hayat
dan daya tangkal terhadap pengaruh buruk pergaulan bebas, penyalahgunaan napza,
kenakalan remaja dan tauran, 4) siswa memiliki kemampuan untuk mengambil
keputusan yang benar untuk menghadapi permasalahan dan tantangan kehidupan, 5)
siswa mempunyai kemampuan dan keterampilan pemeliharaan dan membina
keberhasilan, kelestarian lingkungan fisik di rumah dan sekolah, 6) siswa mempunyai
status kesehatan dan kesegaran jasmani yang baik, 7) siswa bebas dari penyakit
menular dan penyakit seksual, dan 8) siswa bebas dari kebiasaan merokok, minum
alkohol dan menggunakan napza. Dari segi lingkungan sekolah adalah semua ruangan
dan kamar mandi/ WC dan perkarangan sekolah bersih, tidak ada sampah, serta
tersedianya sumber air bersih bagi siswa.
M. Peran Petugas Kesehatan
Untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat dan derajat kesehatan peserta
didik sedini mungkin serta menciptakan lingkungan yang sehat, dibutuhkan peran
petugas kesehatan dalam memberikan pendidikan kesehatan dan upaya kesehatan dasar
dalam pelaksanan program usaha kesehatan sekolah (Supari, 2008). Petugas kesehatan
puskesmas memiliki peran masing-masing dalam pelaksanaan program usaha
kesehatan sekolah ini. Tenaga dokter/dokter umum disamping bertanggung jawab
dalam pelaksanaan program juga ikut terlibat dalam pelaksanaan program seperti
penyuluhan dan pelatihan guru usaha kesehatan sekolah, pelatihan dokter kecil serta
skrening kesehatan (Murid, 2009). Perawat komunitas melaksanakan perannya dengan
melaksanakan skrening kesehatan, memberikan pelayanan dasar untuk luka dan
keluhan minor dengan memberikan pengobatan sederhana, memantau status imunisasi
siswa dan keluarganya dan juga aktif dalam mengidentifikasi anak-anak yang
mempunyai masalah kesehatan. Perawat perlu memahami peraturan yang ada dan
menyangkut anak-anak usia sekolah, seperti memberikan libur pada siswa karena
adanya penyakit menular, kutu, kudis atau parasit lain. Disamping itu perawat juga
berperan sebagai konsultan terutama untuk para guru, perawat dapat memberikan
informasi tentang pentingnya memberikan pengajaran di sekolah.
Usaha kesehatan gigi dan mulut dilaksanakan oleh dokter gigi dan perawat
gigi melalui program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) yang bertujuan untuk
menghilangkan atau mengurangi gangguan kesehatan gigi dan mulut serta
mempertinggi kesadaran kelompok masyarakat tentang pentingnya pemeliharaan
kesehatan gigi dan mulut. Kegiatan yang dilakukan berupa penyuluhan dan
pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut serta perawatannya secara rutin untuk anak
sekolah (Nugrahani, 2008).
Petugas kesehatan lain yang juga terlibat dalam program usaha kesehatan
sekolah ini adalah ahli gizi, berperan memberikan pendidikan tentang gizi dan
makanan. Penyuluhan tentang gizi dan makan ini merupakan cara yang sangat efektif
untuk mencegah foodborne illnes, karena anak tidak hanya belajar tentang keamanan
makanan mereka sendiri, tetapi juga menyampaikan kebutuhan mereka akan higiene
makanan kapada orang tua dengan anggota keluarga lainnya. Peran lain dari petugas
ahli gizi adalah Pemberian Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMTAS), penimbangan
berat badan serta memberikan pengetahuan kepada guru usaha kesehatan sekolah
tentang keamanan makanan dan pengolahan makan yang sehat (Motarjemi, 2004).
Tenaga sanitasi dan petugas kesehatan lainnya memiliki peran dan tanggungjawab
masing-masing sesuai dengan bidang dan keahliannya (Depkes, 2004).
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Usaha kesehatan sekolah (UKS) upaya pelayanan kesehatan yang


terdapat di sekolah, guna menolong murid dan juga warga sekolah yang sakit
di kawasan lingkungan sekolah. UKS memiliki 3 program pokok (Trias UKS),
yaitu:
1. Pendidikan Kesehatan.
2. Pelayanan Kesehatan.
3. Pembinaan Lingkungan Sekolah Sehat.
Tujuan UKS secara umum adalah mempertinggi nilai kesehatan,
mencegah dan mengobati penyakit serta rehabilitasi anak-anak sekolah dan
lingkungannya sehingga didapatkan anak-anak yang sehat jasmani, rohani, dan
sosialnya. Sedangkan tujuan UKS secara khusus ialah mencapai keadaan sehat
anak-anak sekolah, keluarganya dan lingkungannya sehingga dapat
memberikan kesempatan tumbuh dan berkembang secara harmonis serta
belajar secara efisien dan optimal. Usia anak adalah periode yang sangat
menentukan kualitas seorang manusia dewasa nantinya.
Permasalahan perilaku kesehatan pada anak usia TK dan SD biasanya
berkaitan dengan kebersihan perorangan dan lingkungan seperti gosok gigi
yang baik dan benar, kebiasaan cuci tangan pakai sabun, kebersihan diri.
Ketiga program utama UKS telah mencerminkan upaya dari pihak sekolah
untuk menjaga bahkan meningkatkan kesehatan peserta didik. Sekolah
merupakan salah satu tempat yang strategis dalam kehidupan anak, maka
sekolah dapat difungsikan secara tepat sebagai salah satu institusi yang dapat
membantu atau berperan dalam upaya optimalisasi tumbuh kembang anak usia
sekolah. Paling tidak UKS dapat berperan sebagai institusi yang dapat
melakukan kerjasama dalam upaya promotif dan preventif pada kelainan gizi
(Graeff, Elder, Booth; 1996). Dengan melakukan kerjasama yang erat dengan
institusi yang berwenang dan mampu menangani masalah gizi dan kesehatan
masyarakat, maka upaya tersebut perlu dilakukan secara efisien dan efektif
(Gillespie; McLachlan; Shrimpton; 2003).
B. Saran

Saat ini fungsi UKS si sekolah, terutama sekolah dasar belumlah maksimal.
Diharapkan dengan adanya pengetahuan tentang UKS, pihak sekolah dapat
memaksimalkan fungsi UKS agar mampu menciptakan pribadi siswa yang
sehat sehingga siswa dapat mengoptimalkan proses belajar mereka.
DAFTAR PUSTAKA

https://www.scribd.com/doc/263944631/UKS
https://tiahafizah.wordpress.com/2013/10/13/makalah-kesehatan-masyarakat-
usaha-kesehatan-sekolah/
eprints.uny.ac.id/9131/2/BAB%201%20-%2010604227109.pdf