Vous êtes sur la page 1sur 23

TUGAS MAKALAH

SISTEM PERKEMIHAN
STRIKTUR URETRA

Disusun Oleh :
1.OKTAVIA EKA (10215013)
2.IIT RETNANING (10215023)
3.RIZKY IRMAWATI (10215035)
4.FATIN AFIZAH (10215034)
5.RINDA D (10215044)
6.M. ANJAS ADI (10215053)

PROGRAM STUDI S1-KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
INSTITUT ILMU KESEHATAN
BHAKTI WIYATA KEDIRI
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, karena atas izin dan
kuasanya kami dapat menyelesaikan tugas makalah Sistem Perkemihan dengan
judul “striktur uretra”. Kami sadar bahwa dalam penulisan ini tidak sedikit
masalah yang dihadapi, namun berkat kerja keras serta bantuan dari pihak, semua
masalah tadi bisa teratasi dengan baik. Oleh karena itu, kami banyak terimakasih
kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Penulis sadar bahwa ini jauh dari kesempurnaan, sehingga kritik dan saran
yang membangun demi perbaikan sangat penulis harapkan. Akhir kata, semoga
dapat bermanfaat bagi pembaca, baik mahasiswa maupun masyarakat sebagai
tambahan wawasan pengetahuan.

Penulis

Kelompok 6
DAFTAR ISI

Halaman Judul.................................................................................................. i
Kata Pengantar.................................................................................................. ii
Daftar Isi ........................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang......................................................................................
B. Rumusan masalah.................................................................................
C. Tujuan penulisan..................................................................................
D. Manfaat penulisan................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Penyakit...................................................................................
B. Manifestasi Klinis ................................................................................
C. Etiologi................... ..............................................................................
D. Patofisiologi ..........................................................................................
E. Pemeriksaan Penunjang ........................................................................
F. Penatalaksanaan ...................................................................................
G. Komplikasi ...........................................................................................
H. WOC .....................................................................................................
I. Asuhan Keperawatan
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan ...........................................................................................
B. Saran .....................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Uretra merupakan saluran urin dari vesika urinaria ke meatus
uretra, untuk dikeluarkan ke luar tubuh. Uretra pada pria memiliki fungsi
ganda, yaitu sebagai saluran urin dan saluran untuk semen dari organ
reproduksi. Panjang uretra pria kira-kira 23cm & melengkung dari
kandung kemih ke luar tubuh, melewati prostate dan penis. Sedangkan
uretra pada wanita lurus dan pendek,berjalan secara langsung dari leher
kandung kemih ke luar tubuh (Taufik abidin, 2009).
Striktur uretra lebih sering terjadi pada pria dari pada wanita
terutama karena perbedaan panjangnya uretra. Penyebab lainnya ialah
tekanan dari luar uretra seperti tumor pada hipertrofi prostat benigna, atau
pun juga bisa diakibatkan oleh kelainan congenital, namun jarang terjadi.
Resiko striktur uretra meningkat pada orang yang memiliki riwayat
penyakit menular seksual,episode uretritis berulang, atau hipertrofi prostat
benigna (Taufik abidin,2009).
Striktur uretra dapat dari berbagai sebab, dan dapat tanpa gejala
atau muncul dengan ketidak nyamanan yang berat sebagai efek sekunder
dari retensi urin. Striktur urtra dapat disebabkan oleh setiap peradangan
kronik atau cedera. Radang karena gonnorhea merupankan penyebab
penting, tetapi radang lain yang kebanyakan disebabkan penyakit kelamin
lain, juga merupakan penyebab uretritis dan periuretritis (Taufik abidin,
2009).
Pengobatan dari striktur uretra tujuannnya mencegah tumbuhnya
jaringan abnormal dan memacu tumbuhnya jaringan normal. Terapi
pengobatan terhadap striktur uretra tergantung pada lokasi struktur,
panjang/ pendeknya striktur, dan kedaruratannya. Striktur uretra sapat
diobati dengan melakukan dilatasi uretra secara periodik (Taufik
abidin,2009).
Kejadian striktur uretra telah didokumentasikan sejak 600 tahun
sebelum masehi. Menurut pendapat para ahli, pada abad ke-19 sekitar 15-
20% pria dewasapernah mengalami striktur. Pada abad ke-21 ini
diperkirakan di Inggris 16.000 pria dirawat di rumah sakit karena striktur
uretra dan lebih dari 12.000 dari mereka memerlukan operasi dengan biaya
10 juta euro. Estimasi prevalensi di inggris sendiri adalah 10/100.000 pada
masa dewasa awal dan meningkat 20/100.000 pada umur 55 sedangkan
pada umur 65 tahun menjadi 40/100.000. Angka ini meningkat terus untuk
pasien tua sampai 100/100.000. Hal yang sama juga dilaporkan di Amerika
Serikat.
Sebuah studi di Nigeria melaporkan pola striktur uretra. Dalam
studi ini menyebutkan delapan puluh empat pasien (83 laki-laki dan 1
perempuan) dengan striktur uretra dilihat dalam sebuah periode dengan
usia rata-rata 43,1 tahun. Trauma bertanggung jawab untuk 60 (72,3%)
kasus, dengan kecelakaan lalu lintas sebanyak 29 orang (34,9%), dengan
trauma iatrogenik sebesar 17 (20,5%) dari semua kasus striktur uretra.
Pemasangan kateter uretra bertanggung jawab pada 13 pasien (76,5%) dari
kasus iatrogenik. Uretritis purulen bertanggung jawab untuk 22 (26,5%)
kasus. Lima puluh (60,2%) kasus terletak di uretra anterior sedangkan dua
puluh tiga (39,8%) berada di posterior. Lima puluh tujuh pasien dilakukan
urethroplasty dengan kekambuhan 14% dan 8 pasien mengalami dilatasi
uretra dengan kekambuhan 50% pada 1 tahun.

B. Rumusan Masalah
1. Apa Definisi dari Striktur Uretra ?
2. Apa Klasifikasi dari Striktur Uretra ?
3. Apa Manifistasi Klinis dari Striktur Uretra ?
4. Apa Etiologi dari Striktur Uretra ?
5. Bagaimana Patofisiologi dari Striktur Uretra ?
6. Bagaimana WOC dariStriktur Uretra ?
7. Apa Pemeriksaan Penunjang dari Striktur Uretra ?
8. Bagaimana Penatalaksanaan dari Striktur Uretra ?
9. Apa Komplikasi dari Striktur Uretra ?
10. Bagaimana Asuhan Keperawatan dari Striktur Uretra ?
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Tujuan umum penulisan makalah ini adalah sebagai pemenuhan tugas
Perkemihan yang berjudul “Striktur Uretra” meliputi pengkajian,
analisa data, diagnosa keperawatan, dan intervensi.
2. Tujuan Khusus
a) Untuk mengetaui konsep teori dari Striktur Uretra.
b) Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan dari Striktur
Uretra.

D. Manfaat Penulisan
1. Manfaat Umum :
Untuk menyelesaikan tugas Sistem Perkemihan

2. Manfaat Khusus :
a) Untuk memahami bagaimana tanda gejala dari Striktur Uretra
serta penangannya.
b) Untuk memahami bagaimana asuhan keperawatan dari Striktur
Uretra.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
Striktur uretra adalah suatu kondisi penyempitan lumen uretra.
Striktur uretra menyebabkan gangguan dalam berkemih, mulai dari
aliran berkemih yang kecil sampai tidak dapat mengeluarkan urine keluar
dari tubuh (Muttaqin.A, 2011).
Striktur uretra adalah penyempitan atau penyumbatan dari lumen uretra
sebagai akibat dari pembentukan jaringan fibrotic (jaringan parut pada
uretra dan / atau pada daerah peri uretra) (Nursalam, 2008).
B. Etiologi
Striktur uretra dapat terjadi secara :
1. Kongenital
Striktur uretra dapat terjadi secara terpisah ataupun bersamaan dengan
anomali saluran kemih yang lain.
2. Di dapat adanya:
a) Cedera uretral ( akibat insersi peralatan bedah selama operasi
transuretral kateter indwelling, atau prosedur sitoskopi).
b) Cedera akibat peregangan
c) Cedera akibat kecelakaan
d) Uretritis gonorheal yang tidak ditangani
e) Infeksi
f) Spasme otot
g) Tekanan dari luar misalnya oertumbuhan tumor

C. Patofisiologi
Lesi pada epitel uretra atau putusnya kontinuitas, baik oleh proses
infeksi maupun akibat trauma, akan menimbulkan terjadinya reaksi
peradangan dan fibroblastic. Iritasi dan urine pada uretra akan
mengundang reaksi fibroblastic yang berkelanjutan dan proses fibrosis
makin menghebat sehingga terjadilah penyempitan bahkan penyumbatan
dari lumen uretra serta aliran urine mengalami hambatan dengan segala
akibatnya. Ekstravasasi urine pada uretra yang mengalami lesi akan
mengundang terjadinya peradangan periuretra yang dapat berkembang
menjadi abses periuretra dan terbentuk fistula uretrokutan (lokalisasi
pada penis, perineum dan / atau skrotum) (Nursalam, 2008).

D. Manifestasi Klinis
Keluhan kesulitan dalam berkemih, harus mengejan, pancaran
mengecil, pancaran bercabang dan menetes sampai retensi urine.
Pembengkakan dan getah / nanah di daerah perineum, skrotum dan
terkadang timbul bercak darah di celana dalam. Bila terjadi infeksi
sistemik penderita febris, warna urine bisa keruh (Nursalam, 2008).
Gejala dan tanda striktur biasanya mulai dengan hambatan arus
kemih dan kemudian timbul sindrom lengkap obstruksi leher kandung
kemih seperti digambarkan pada hipertrofia prostat. Striktur akibat
radang uretra sering agak luas dan mungkin multiple
(Smeltzer.C,2002).
Manifestasi klinis yang lain :
1. Kekuatan pancaran dan dengan jumlah urin sedikit
2. Gejala infeksi
3. Retensi urin
4. Adanya aliran balik dan pencetus sistitis, prostatitis,pielonefritis
5. Frekuensi
6. Urgensi
7. Disuria
8. Kadang-kadang disertai dengan infiltrat, abses dan fistel
(C. Smeltzer, Suzanne, 2002)

E. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratoriun
Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk pelengkap pelaksanaan
pembedahan. Selain itu, beberapa dilakukan untuk mengetahui
adanya tanda –tanda infeksi melalui pemeriksaan urinalisis dan
kultur urine
2. Uroflowmetri
Uroflowmetri adalah pemeriksaan untuk menentukan kecepatan
pancaran urine. Volume urine yang dikeluarkan pada waktu miksi
dibagi dengan lamanya proses miksi. Kecepatan pancaran urine
normal pada pria adalah 20 ml/detik dan pada wanita 25 ml/detik.
Bila kecepatan pancaran kurang dari harga normal menandakan
adanya obstruksi.
3. Radiologi
Diagnosis pasti dibuat dengan uretrografi sehingga dapat melihat
letak penyempitan dan besarnya penyempitan uretra. Untuk
mengetahui lebih lengkap mengenai panjang striktur adalah dengan
sistouretrografi yaitu memasukkan bahan kontras secara antegrad
dari buli-buli dan secara retrograd dari uretra. Dengan pemeriksaan
ini, panjang striktur dapat diketahui sehingga penting untuk
perencanaan terapi atau operasi (Muttaqin.A, 2011).
4. Urinalis : warna kuning, coklat gelap, merah gelap/terang,
penampilan keruh, PH : 7 atau lebih besar, bakteria.
5. Kltur urin : adanya ulkus staphylokokus aureus,. Proteus,
klebsiellla, pseudomonas, E. Colli
6. BUN kreatin : meningkat
7. Uretrografi : adanya penyempitan atau pembuntuan uretra. Untuk
mengetahui panjangnyapenyempitan uretra, di buat foto iolar
(sisto) uretrografi.
8. Uretroskopi : untuk mengetahui pembuntuan lumen uretra
(Basuki B. Purnama, 2000).

F. Komplikasi Striktur Uretra


1. Infeksi
2. Sepsis
3. Abses pada lokasi striktur
4. Batu kandung kemih
5. Sulit ejakulasi
6. Fistula uretrokutaneus
7. Gagl hinjal
(Taufik Abidin, 2002).

G. Penatalaksanaan Medis
1. Bila panjang striktur uretra lebih dari 2cm atau terdapat fistula
uretrokutan atau seditif, dapat dilakukan uretroplasty.
Uretroplasty atau rekontruksi uretra terbuka, ada dua jenis
uretroplasti yaitu uretroplasti anastomis (daerah yang
menyempitdibedah lalu uretradiperbaiki dengan mencangkok
jaringan atau flap dari jaringan disekitarnya) & uretroplasti
substitusi (mencangkok jaringan striktur uretra yang dibedah
dengan jaringan mukosa bibir/ buccal mukosa graft, jaringan
mukosa kelamin atau jaringan preputium/ vascularized preputial or
genital skin flap).
2. Bila striktur uretra kurang dari 2 cm dan tidak ada fistelmaka dapat
dilakukan bedah endoskopi dengan Lat Sachse.
3. Untuk striktur uretra anterior dapat dilakukan otis uretromi
Uretrotomi (Endoscopict internal urethrotomy or incision) teknik
bedah dengan derajat invasif yang minim, dimana dilakukan
tindakan insisi pada jaringan radang untuk membuka striktur.
Tindakan ini dikerjakan dengan menggunakan kamera fiberoptik
dengan pengaruh dibawah anastesi.
4. Pada wanita dilakukan dilatasi, balon kateter (plastik atau metal)
dimasukkan kedalam uretra untuk membuka daerah yang
menyempit, jika cara tersebut gagal bisa dilakukan otis uretrotomi
(Kapita Selekta Kedokteran, 2001).
Di dapat :
Terbentuk jaringan parut di uretra
Konginetal, infeksi, spasme otot, tekanan dari luar, cidera uretra, cidera akibat peregangan, cidera

Penyempitan lumen akibat kecelakaan,uretritis

H. WOC STRIKTUR URETRA

PRE OP POS OP

Uretroplasty
Terjadinya
Peradangan

Px tampak meringis px Terdapat luka pos op


mengeluh nyeri pada
luka pos op Masuknya mikroorganisme sekunder

Nyeri Akut Resiko infeksi defisit pengetahuan orang tua Aseantas

Fibroblastic
Fibrosis Penyempitan lumen uretra
terjadi di
jaringan parut
Kekuatan pancaran dan jumlah
urine berkurang
Total
tersumbat

Perubahan pola eliminasi


Obstruksi saluran kemih yang
bermuara ke vesika urinaria
Peningkatan tekanan Infeksi urin hidroureter
vesika urinaria

Hidronefrosis Disfungsi saluran


Gg. Rasa Penebalan dinding VU kemih
nyaman :
nyeri Pyelonefritis
Penurunan kontraksi
Perubahan otot VU
pola GGK
perkemihan
Kesulitan berkemih

Resiko Retensi urine


infeksi

Luka insisi

sistomi Gg. Rasa nyaman nyeri


I. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a) Anamnesa
1. Identitas Klien
a. Nama
b. Alamat
c. Umur
d. Jenis Kelamin
e. Berat Badan
f. Agama
g. Pekerjaan

Riwayat Kesehatan

b. Keluhan Utama
Klien merasakan pancaran urine melemah, sering
kencing, dan sedikit urine yang keluar.
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Pada klien striktur uretra keluhan-keluhan yang ada
adalah nokturia, urgensi, disuria, pancaran melemah,
rasa tidak lampias/ puas sehabis miksi, hesistensi,
intermitency, dan waktu miksi memanjang dan
akirnya menjadi retensio urine.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Adanya penyakit yang berhubungan dengan saluran
perkemihan, misalnya ISK (Infeksi Saluran Kencing )
yang berulang. Penyakit kronis yang pernah di derita.
Operasi yang pernah di jalani kecelakaan yang pernah
dialami adanya riwayat penyakit DM dan hipertensi.
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Adanya riwayat keturunan dari salah satu anggota
keluarga yang menderita penyakit striktur urethra Anggota
keluarga yang menderita DM, asma, atau hipertensi.
5. Riwayat Alergi
Kaji apakah klien dan keluarga memiliki riwayat alergi.
6. Riwayat Penggunaan Obat
7. Kaji obat apa yang sudah dikonsumsi selama ini, obat apa
yang sudah diminum sebelum MRS.

2.Pemeriksaan Fisik

a) B1 (breathing)
Kaji bentuk hidung, pergerakan cuping hidung pada
waktu bernafas, kesimetrisan gerakan dada pada saat
bernafas, auskultasi bunyi nafas dan gangguan
pernafasan yang timbul. Apakah bersih atau ada ronchi,
serta frekuensi nafas.
b) B2 (blood)
Adanya peningkatan TD (efek pembesaran ginjal) dan
peningkatan suhu tubuh.
c) B3 (brain)
Kaji fungsi serebral, fungsi saraf cranial, fungsi sensori serta
fungsi refleks.
d) B4 (bladder)
Penurunan aliran urin, ketidakmampuan untuk
mengosongkan kandung kemih dengan lengkap, dorongan
dan frekwensi berkemih meningkat.
e) B5 (bowel)
Kaji apakah ada nyeri tekan abdomen, apakah ada kram
abdomen, apakah ada mual dan muntah, anoreksia, dan
penurunan berat badan.
f) B6 (bone)
Kaji derajat Range of Motion dari pergerakan sendi mulai dari
kepala sampai anggota gerak bawah, ketidaknyamanan atau
nyeri yang dilaporkan klien waktu bergerak, dan toleransi klien
waktu bergerak. Kaji keadaan kulitnya, rambut dan kuku,
pemeriksaan kulit meliputi : tekstur, kelembaban, turgor, warna
dan fungsi perabaan.
3. Analisa data
DATA KEMUNGKINAN MASALAH
PENYEBAB KEPERAWATAN
DS : Gangguan eliminasi
-Klien menyatakan
urin b.d penyempitan
kurang minum
-Klien menyatakan lumen uretra
sakit saat miksi
DO :
-Warna urine klien
jernih dan kekuning-
kuningan
DS : Gangguan rasa nyaman
-Klien menyatakan
nyeri b.d obstruksi
kurang minum
-Klien menyatakan saluran kemih
sakit saat miksi
DO :
-Warna urine klien
jernih dan kekuning-
kuningan

DS: Asientas berhubungan


-Klien menyatakan
dengan defesit
tidak tahu tentang
penyakitnya pengetahuan
DO:
-

4. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan eliminasi urin b.d penyempitan lumen uretra
b. Gangguan rasa nyaman nyeri b.d obstruksi saluran kemih
c. Resiko infeksi b.d retensi urin

5. Intervensi Keperawatan

No. Diagnosa Tujuan & kriteria Intervensi Rasional


keperawatan hasil
1. Gangguan Tujuan : 1. Mengajarkan 1. Membantu
eliminasi urin - Diharapkan setelah blader training merangsang
b.d dilakukan intervensi, pada keluarga keinginan untuk
penyempitan gangguan eliminasi pasien.. buang air kecil.
lumen uretra urin teratasi. 2. Memasang 2. Membantu klien
Kriteria hasil : kateter bila ada untuk
1. Anak mengatakan indikasi. mengeluarkan
dapat buang air kecil 3. Memberikan urin.
secara mandiri. obat sesuai 3. Membantu
program terapi. mempelancar
sirkulasi dan
merangsang
syaraf.
2. Gangguan rasa Tujuan : 1. Kaji skala, 1. Mengidentifikasi
nyaman - Diharapkan setelah karakteristik nyeri akibat
(nyeri) b.d dilakukan intervensi, dan lokasi nyeri gangguan lain.
obstruksi rasa tidak nyaman yang dialami 2. Mendeskripsikan
saluran kemih. berkurang bahkan klien sesuai tingkat nyeri.
hilang. dengan PQRST. 3. Mengurangi
Kriteria hasil : 2. Catat petunjuk sensasi nyeri.
1. Saluran kemih nonverbal 4. Menjadi acuan
kembali membaik seperti gelisah, dalam
2. Klien merasa menolak untuk perkembangan
nyaman, nyeri klien bergerak, terapi yang sudah
berkurang bahkan berhati-hati saat diberikan.
hilang. beraktifitas dan
3. Skala nyeri 0-3. meringis.
3. Ajarkan pasien
untuk memulai
posisi yang
nyaman atau
tekhnik
relaksasi
misalnya duduk
dengan kaki
agak dibuka dan
nafas dalam.
4. Observasi dan
catat
pembesaran
skrotum (bila
perlu ukur tiap
hari), cek
adanyakeluhan
nyeri.
3. Resiko infeksi Tujuan : 1. Cuci tangan 1. Mengurangi
b.d retensi urin - Diharapkan resiko sebelum dan kontaminasi
terjadinya infeksi sesudah silang.
tidak terjadi. melakukan 2. Mengurangi
Kriteria hasil : aktivitas jumlah lokasi
1. Berkurangnya tanda- walupun yang dapat
tanda peradangan menggunakan menjadi tempat
seperti kemeraha- sarung tangan masuk organisme.
merahan, steril. 3. Mencegah
gatal,panas, 2. Batasi masuknya bakteri,
perubahan fungsi. penggunaan alat mengurangi risiko
atau prosedur infeksi
invasive jika nosokomial.
memungkinkan. 4. Mencegah
3. Gunakan teknik penyebaran
steril pada infeksi/kontaminsi
waktu silang.
penggatian
balutan/penghis
apan/berikan
lokasi
perawatan,
misalnya Jalur
invasive.
4. Gunakan sarung
tangan/pakaian
pada waktu
merawat luka
yang
terbuka/antisipa
sidari kontak
langsung
dengan sekresi
ataupun ekskrsi.
4. Gangguan Symptom severity Kaji secara verbal
eliminasi urine
· Urinary elimination dan nonverbal
b/d retensi Kriteriahasil : respon klien
urine · Pengosongan bladder terhadap
· Secara sempurna tubuhnya
· Warna urin dbn · Kaji ulang
· Bau urin dbn frekuensi
· Urin terbebas dari mengkritik
partikel dirinya
· Balance cairan selama · Bimbing
24 jam pasien untuk
· Urin dapat keluar tanpa mencari
kesakitan penyebab
perubahan
tubuhnya
· Dorong klien
mengungkapk
an
perasaannya
(identifikasik
ebiasaan
positif dari
kehidupan
klien untuk
meningkatkan
harga diri
klien)
· Identifikasi
arti
pengurangan
melalui
pemakaian alat
bantu (dengan
menggunakan
kateter akan
mengurangi
dampak
mengompol,
tubuh bau
pesing)
· Jelaskan
tentang
pengobatan,
perawatan,
kemajuan dan
prognosis
penyakit
(tawarkan
bantuan dari
profesional
lain
sprtpsikolog,
ahli konseling
seksual
· Fasilitasi
kontak dengan
individu lain
dalam
kelompok
kecil yang
memiliki
kasus serupa
4. Asientas Tujuan : Bina hubungan 1. Hubungan saling
berhubungan 1. Klien dapat menjalin saling percaya : percaya
dengan defesit dan mempertahankan 1. Beri salam setiap merupakan dasar
pengetahuan hubungan saling interaksi dari terjadinya
percaya. 2.Perkenalkan komunikasi
2. Klien dapat nama, nama teraupetik
mengenal ansietasnya panggilan perawat sehingga akan
3. Klien dapat dan tujuan perawat memfasilitasi
menggunakan teknik. berkenalan dalam
Kritera Hasil : 3. Tanyakan dan pengungkapan
Klien menunjukkan panggil nama perasaan, emosi,
tanda-tanda percaya kesukaan anak dan harapan orang
terhadap perawat 4. Tunjukkan sikap tua klien.. Dengan
Wajah cerah, jujur dan menepati mengenal
tersenyum janji ansietasnya,
Mau berkenalan setiap berinteraksi 2. Anak dan

Ada kontak mata dengan anak keluarga klien

Bersedia 5.Tanyakan akan lebih

menceritakan perasaan anak. kooperatif

perasaannya 6. Buat kontrak terhadap tindakan


Klien mengungkapkan interaksi yang jelas keperawatan.
perasaan ansietas, 7. Dengarkan Menyamakan
penyebab ansietas, dan dengan penuh persepsi bahwa
perilaku akibat ansietas perhatian ekspresi ansietas terjadi
Klien mampu perasaan anak pada anaknya.
mendemonstrasikan 8. Penuhi
cara mengatasi ansietas kebutuhan dasar
anak
9. Jadilah
pendengar yang
hangat dan
responsif
10. Beri waktu
yang cukup pada
klien untuk
berespons
11. Beri dukungan
pada anak dan
keluarga klien
untuk
mengekspresikan
perasaannya
12. Identifikasi
situasi yang
membuat klien
ansietas
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Uretra merupaka saluran urin dari vesika urinariake meatus
uretra, untuk dikeluarkan ke luar tubuh. Striktur uretra lebih sering
terjadi pada pria daripada wanita terutama karena perbedaaan
panjangnya uretra. Striktur uretra dapat terjadi karena beberapa
sebab dan dapat tanpa gejala atau muncul dengan ketidaknyamanan
yang berat sebagai efek sekunder dari retensi urin. Striktur uretra
dapat terjadi karena akibat peradangan kronik atau cedera.
Pengobatan dari striktur uretra tujuannya mencegah tumbuhnya
jaringan abnormal dan memacu tumbuhnya jaringan normal. Terapi
pengobatan terhadap striktur uretra tergantung pada lokasi striktur,
panjang atau pendeknya striktur dan kedaruratannya.

B. Saran
Semoga makalah ini dapat dijadikan salah satu referensi
untuk dapat memperoleh informasi mengenai asuhan keperawatan
pada pasien dengan striktur uretra. Selain itu saran dan kritik yang
membangun kami nantikan untuk perbaikan makalah kami.
DAFTAR PUSTAKA

Anonoim, Askep pada klien dengan striktur uretra, 2009.


http;//nursingbegin.com/askep-pada-klien-dengan-striktur-uretra/

Carpenito,lynda juall. 2001. diagnosa Keperawatan, Penerbit Buku Kedokteran ;


EGC, Jakarta

Jong, Wim de, R. Sjamsuhidayat. 2004, Striktur Uretra. Dalam; Saluran Kemih
Dan Alat Kelamin Lelaki, Buku Ajar Ilmu Bedah hal,752, EGC, Jakarta

Long C, Barbara, 1996, Perawatan Medikal Bedah, Volume 3, Bandung, Yayasan


IAPK pajajaran.

Sabiston, David C, 1994, Uretra Dalam; Sistem Urogenital, Buku Ajar Bedah
Bagian 2, hal 463. EGC, Jakarta.

Susanne, C Smelzer, 2002. Keperawatan Medikal Bedah (Brunner & Suddart).


Edisi VIII, Volume 2, Jakarta, EGC.

Tucker, S,M, et all . 1998, Standar Perawatan Pasien ; Proses Keperawatan,


diagnosis dan evaluasi , Edisi V, Penerbit Buku Kedokteran; EGC. Jakarta