Vous êtes sur la page 1sur 33

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Alzheimer adalah sebuah penyakit pada otak yang mengakibatkan kondisi seseorang
akan mengalami penurunan fungsi memori, cara berfikir, cara bersosialisasi, cara
berkomunikasi, hingga mempengaruhi cara penderita penyakit tersebut menjalani
kehidupan sehari-harinya. Dokter spesialis syaraf RS Borromeus, Yustiani Dikot,
mengatakan dimensia merupakan kumpulan gejala yang menimbulkan gangguan kognitif
yaitu memori, atensi, memori, bahasa/komunikasi hingga perilaku atau kepribadian.
Demensia alzheimer menurut Dr.Noveline Sagota SpS, merawat orang demensia
adalah pekerjaan yang paling sulit didunia dan dapat mengakibatkan stress bagi seseorang
yang menjadi perawatnya. Orang yang memberikan perawatan ini biasa disebut care
giver. Kita perlu mengidentifikasi secara dini stress pada seorang care giver dan kita perlu
mencegah/mengatasi kelelahan secara fisik dan jiwa (burnout) pada seorang care giver,
agar kesehatannya tetap terjaga, sehingga dapat merawat pasiennya dengan baik.
Pencegahan dan penanganan ini dilakukan dengan memberikan edukasi mengenai
pengetahuan dan pemahaman kepada care giver. Penyakit dimensia kedua terbanyak
adalah demensia vaskuler yang disebabkan gangguan darah di otak. Ini terjadi karena
hipertensi atau stroke. Dimensia lainnya terjadi karena parkinsen dan lain-lain.
Data Kemenkes menyebutkan, penyakit alzheimer paling banyak diderita oleh lansia
berumur 65 tahun ke atas. Namun, penyakit ini pun rentan menyerang individu berusia
40-an tahun. Estimasi jumlah penderita penyakit alzheimer di Indonesia pada tahun 2013
mencapai satu juta orang. Jumlah itu diperkirakan akan meningkat drastis menjadi dua
kali lipat pada tahun 2030, dan menjadi empat juta orang pada tahun 20150. Direktur
Eksekutif Alzheimer Indonesia, DY Suharya, mengatakan bahwa memang masih banyak
orang yang tidak paham soal alzheimer. Ketidak pahaman ini timbul karena kurangnya
informasi soal penyakit tersebut

1
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Apa itu penyakit alzheimer ?
2. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien alzheimer ?
3. Bagaimana gambaran kasus pada penyakit alzheimer ?

1.3 TUJUAN
1. Mengetahui tentang penyakit alzheimer
2. Memahami asuhan keperawatan pada pasien alzheimer
3. Memahami gambaran kasus pada penyakit alzheimer

2
BAB II
KONSEP DASAR

2.1 Pengertian
Alzheimer merupakan penyakit kronik, progresif, dan merupakan gangguan
degeneratif otak dan diketahui mempengaruhi memori, kognitif dan kemampuan untuk
merawat diri. (Brunner &,Suddart, 2002 ).
Alzheimer merupakan penyakit degeneratif yang ditandai dengan penurunan daya
ingat, intelektual, dan kepribadian. Tidak dapat disembuhkan, pengobatan ditujukan
untuk menghentikan progresivitas penyakit dan meningkatkan kemandirian penderita.
(Dr. Sofi Kumala Dewi, dkk, 2008)
Alzheimer adalah penyakit yang merusak dan menimbulkan kelumpuhan, yang
terutama menyerang orang berusia 65 tahun keatas (patofisiologi : konsep klinis proses-
proses penyakit, juga merupakan penyakit dengan gangguan degeneratif yang mengenai
sel-sel otak dan menyebabkan gangguan fungsi intelektual, penyakit ini timbul pada pria
dan wanita dan menurut dokumen terjadi pada orang tertentu pada usia 40 tahun.
(Perawatan Medikal Bedah : jilid 1 hal 1003)
Sehingga dengan demikian Alzheimer adalah penyakit kronik, degeneratif yang
ditandai dengan penurunan daya ingat, intelektual, kepribadian yang dapat
mengakibatkan berkurangnya kemampuan merawat diri. Penyakit ini menyerang orang
berusia 65 tahun keatas.

2.2 Etiologi
Belum ada penyebab yang pasti mengenai penyakit ini, namun terdapat beberapa faktor
presdisposisi diantaranya :
1. Faktor genetik
2. Usia
3. Infeksi virus lambat
4. Keracunan Aluminium
5. Imunologi

3
2.3 Patofisiologi
Terdapat beberapa perubahan khas biokimia dan neuropatologi yang dijumpai pada
penyakit Alzheimer, antara lain: serabut neuron yang kusut (masa kusut neuron yang
tidak berfungsi) dan plak seni atau neuritis (deposit protein beta-amiloid, bagian dari
suatu protein besar, protein prukesor amiloid (APP). Kerusakan neuron tersebut terjadi
secara primer pada korteks serebri dan mengakibatkan rusaknya ukuran otak.
Secara maskroskopik, perubahan otak pada Alzheimer melibatkan kerusakan berat
neuron korteks dan hippocampus, serta penimbunan amiloid dalam pembuluh darah
intracranial. Secara mikroskopik, terdapat perubahan morfologik (structural) dan biokimia
pada neuron – neuron. Perubahan morfologis terdiri dari 2 ciri khas lesi yang pada
akhirnya berkembang menjadi degenarasi soma dan atau akson dan atau dendrit. Satu
tanda lesi pada AD adalah kekusutan neurofibrilaris yaitu struktur intraselular yang berisi
serat kusut dan sebagian besar terdiri dari protein. Dalam SSP, protein tau sebagian besar
sebagai penghambat pembentuk structural yang terikat dan menstabilkan mikrotubulus
dan merupakan komponen penting dari sitokleton sel neuron. Pada neuron AD terjadi
fosforilasi abnormal dari protein tau, secara kimia menyebabkan perubahan pada tau
sehingga tidak dapat terikat pada mikrotubulus secara bersama – sama. Tau yang
abnormal terpuntir masuk ke filament heliks ganda yang sekelilingnya masing – masing
terluka. Dengan kolapsnya system transport internal, hubungan interseluler adalah yang
pertama kali tidak berfungsi dan akhirnya diikuti kematian sel. Pembentukan neuron yang
kusut dan berkembangnya neuron yang rusak menyebabkan Alzheimer.
Lesi khas lain adalah plak senilis, terutama terdiri dari beta amiloid (A-beta) yang
terbentuk dalam cairan jaringan di sekeliling neuron bukan dalam sel neuronal. A-beta
adalah fragmen protein prekusor amiloid (APP) yang pada keadaan normal melekat pada
membrane neuronal yang berperan dalam pertumbuhan dan pertahanan neuron. APP
terbagi menjadi fragmen – fragmen oleh protease, salah satunya A-beta, fragmen lengket
yang berkembang menjadi gumpalan yang bisa larut. Gumpalan tersebut akhirnya
bercampur dengan sel – sel glia yang akhirnya membentuk fibril – fibril plak yang
membeku, padat, matang, tidak dapat larut, dan diyakini beracun bagi neuron yang utuh.
Kemungkinan lain adalah A-beta menghasilkan radikal bebas sehingga mengganggu
hubungan intraseluler dan menurunkan respon pembuluh darah sehingga mengakibatkan
makin rentannya neuron terhadap stressor. Selain karena lesi, perubahan biokimia dalam
SSP juga berpengaruh pada AD. Secara neurokimia kelainan pada otak

4
PATHWAY

5
2.4 Manifestasi Klinis
Manifestasi/ gejala klinis yang muncul pada pasien dengan penyakit Alzheimer
diantaranya :
1. Kehilangan daya ingat/memori
2. Kesulitan melakukan aktivitas rutin yang biasa
3. Kesulitan berbahasa.
4. Kesulitan tidur
5. Disorientasi waktu dan tempat
6. Penurunan kemampuan dalam memutuskan sesuatu
7. Emosi labil
8. Apatis
9. Tonus otot / kekakuan otot
10. Ketidakmampuan mendeteksi bahaya

2.5 Komplikasi
Komplikasi yang mungkin muncul pada pasien dengan penyakit Alzheimer diantaranya :
1. Infeksi
2. Malnutrisi
3. Kehilangan kemampuan untuk merawat diri.
2.6 Penatalaksanaan
Pengobatan penyakit Alzheimer masih sangat terbatas oleh karena penyebab dan
patofisiologis masih belum jelas. Pengobatan simptomatik dan suportif seakan hanya
memberikan rasa puas pada penderita dan keluarga.
Pengobatan simptomatik:
1) Inhibitor kolinesterase
 Tujuan: Untuk mencegah penurunan kadar asetilkolin dapat digunakan
anti kolinesterase yang bekerja secara sentral
 Contoh: fisostigmin, THA (tetrahydroaminoacridine), donepezil
(Aricept), galantamin (Razadyne), & rivastigmin
 Pemberian obat ini dikatakan dapat memperbaiki memori dan apraksia selama
pemberian berlangsung
 ESO: memperburuk penampilan intelektual pada orang normal dan penderita
Alzheimer, mual & muntah, bradikardi, ↑ HCl, dan ↓ nafsu makan.

6
2) Thiamin
Pada penderita alzheimer didapatkan penurunan thiamin pyrophosphatase dependent
enzym yaitu 2 ketoglutarate (75%) dan transketolase (45%), hal ini disebabkan
kerusakan neuronal pada nukleus basalis.
Contoh: thiamin hydrochloride
Dosis 3 gr/hari selama 3 bulan peroral
Tujuan: perbaikan bermakna terhadap fungsi kognisi dibandingkan placebo
selama periode yang sama.
3) Nootropik
Nootropik merupakan obat psikotropik
Tujuan: memperbaiki fungsi kognisi dan proses belajar. Tetapi pemberian
4000 mg pada penderita alzheimer tidak menunjukkan perbaikan
klinis yang bermakna.
4) Klonidin
Gangguan fungsi intelektual pada penderita alzheimer dapat disebabkan kerusakan
noradrenergik kortikal.
 Contoh: klonidin (catapres) yang merupakan noradrenergik alfa 2 reseptor agonis
 Dosis : maksimal 1,2 mg peroral selama 4 minggu
 Tujuan: kurang memuaskan untuk memperbaiki fungsi kognitif
5) Haloperiodol
Pada penderita alzheimer, sering kali terjadi :
 Gangguan psikosis (delusi, halusinasi) dan tingkah laku
Pemberian oral Haloperiodol 1-5 mg/hari selama 4 minggu akan memperbaiki
gejala tersebut
 Bila penderita Alzheimer menderita depresi berikan tricyclic anti depresant
(amitryptiline 25-100 mg/hari)
6) Acetyl L-Carnitine (ALC)
Merupakan suatu substrat endogen yang disintesa didalam mitokondria dengan
bantuan enzyme ALC transferase.
 Tujuan: meningkatkan aktivitas asetil kolinesterase, kolin
asetiltransferase.
 Dosis: 1-2 gr/hari/peroral selama 1 tahun dalam pengobatan
 Efek:memperbaiki atau menghambat progresifitas kerusakan fungsi kognitif
(Yulfran, 2000)
7
2.7 Pemeriksaan Diagnostik
Untuk kepastian diagnosisnya, maka diperlukan tes diagnostik sebagai berikut:
a. Neuropatologi
Diagnosa definitif tidak dapat ditegakkan tanpa adanya konfirmasi neuropatologi.
Secara umum didapatkan :
 atropi yang bilateral, simetris lebih menonjol pada lobus temporoparietal, anterior
frontal, sedangkan korteks oksipital, korteks motorik primer, sistem somatosensorik
tetap utuh
 berat otaknya berkisar 1000 gr (850-1250gr).
Kelainan-kelainan neuropatologi pada penyakit alzheimer terdiri dari :
1) Neurofibrillary tangles (NFT)
Merupakan sitoplasma neuronal yang terbuat dari filamen-filamen abnormal
yang berisi protein neurofilamen, ubiquine, epitoque. Densitas NFT berkolerasi
dengan beratnya demensia.
2) Senile plaque (SP)
Merupakan struktur kompleks yang terjadi akibat degenerasi nerve ending
yang berisi filamen-filamen abnormal, serat amiloid ektraseluler, astrosit,
mikroglia. Amiloid prekusor protein yang terdapat pada SP sangat berhubungan
dengan kromosom 21. Senile plaque ini terutama terdapat pada neokorteks,
amygdala, hipokampus, korteks piriformis, dan sedikit didapatkan pada korteks
motorik primer, korteks somatosensorik, korteks visual, dan auditorik. Senile
plaque ini juga terdapat pada jaringan perifer. densitas Senile plaque berhubungan
dengan penurunan kolinergik. Kedua gambaran histopatologi (NFT dan senile
plaque) merupakan gambaran karakteristik untuk penderita penyakit alzheimer.
3) Degenerasi Neuron
Pada pemeriksaan mikroskopik perubahan dan kematian neuron pada penyakit
Alzheimer sangat selektif. Kematian neuron pada neokorteks terutama didapatkan
pada neuron pyramidal lobus temporal dan frontalis. Juga ditemukan pada
hipokampus, amigdala, nukleus batang otak termasuk lokus serulues, raphe nukleus
dan substanasia nigra. Kematian sel neuron kolinergik terutama pada nucleus basalis
dari meynert, dan sel noradrenergik seruleus serta sel serotogenik pada nukleus
raphe dorsalis, nukleus tegmentum dorsalis. Telah ditemukan faktor pertumbuhan
saraf pada neuron kolinergik yang berdegenerasi pada lesi merupakan harapan
dalam pengobatan penyakit Alzheimer.
8
4) Perubahan vakuoler
Merupakan suatu neuronal sitoplasma yang berbentuk oval dan dapat
menggeser nukleus. Jumlah vakuoler ini berhubungan secara bermakna dengan
jumlah NFT dan SP , perubahan ini sering didapatkan pada korteks temporomedial,
amygdala dan insula. Tidak pernah ditemukan pada korteks frontalis, parietal,
oksipital, hipokampus, serebelum dan batang otak
5) Lewy body
Merupakan bagian sitoplasma intraneuronal yang banyak terdapat pada
enterhinal, gyrus cingulate, korteks insula, dan amygdala. Sejumlah kecil pada
korteks frontalis, temporal, parietalis, oksipital. Lewy body kortikal ini sama dengan
immunoreaktivitas yang terjadi pada lewy body batang otak pada gambaran
histopatologi penyakit parkinson. Hansen et al menyatakan lewy body merupakan
variant dari penyakit alzheimer.
b. Pemeriksaan Neuropsikologik
 Fungsi pemeriksaan neuropsikologik ini untuk menentukan ada atau tidak adanya
gangguan fungsi kognitif umum dan mengetahui secara rinci pola defisit yang
terjadi.
 Test psikologis ini juga bertujuan untuk menilai fungsi yang ditampilkan oleh
beberapa bagian otak yang berbeda-beda seperti gangguan memori, kehilangan
ekspresi, kalkulasi, perhatian dan pengertian berbahasa
Evaluasi neuropsikologis yang sistematik mempunyai fungsi diagnostik yang penting
karena :
1) Adanya defisit kognisi: berhubungan dgn demensia awal yang dapat diketahui bila
terjadi perubahan ringan yang terjadi akibat penuaan yang normal.
2) Pemeriksaan neuropsikologik secara komprehensif : untuk membedakan kelainan
kognitif pada global demensia dengan deficit selektif yang diakibatkan oleh
disfungsi fokal, faktor metabolik, dan gangguan psikiatri
3) Mengidentifikasi gambaran kelainan neuropsikologik yang diakibatkan oleh
demensia karena berbagai penyebab.

9
c. CT Scan dan MRI
Merupakan metode non invasif yang beresolusi tinggi untuk melihat kwantifikasi
perubahan volume jaringan otak pada penderita Alzheimer antemortem.
CT Scan :
 Menyingkirkan kemungkinan adanya penyebab demensia lainnya selain alzheimer
seperti multiinfark dan tumor serebri. Atropi kortikal menyeluruh dan pembesaran
ventrikel keduanya merupakan gambaran marker dominan yang sangat spesifik
pada penyakit ini
 Penipisan substansia alba serebri dan pembesaran ventrikel berkorelasi dengan
beratnya gejala klinik dan hasil pemeriksaan status mini mental
MRI :
 Peningkatan intensitas pada daerah kortikal dan periventrikuler (Capping anterior
horn pada ventrikel lateral). Capping ini merupakan predileksi untuk demensia
awal. Selain didapatkan kelainan di kortikal, gambaran atropi juga terlihat pada
daerah subkortikal seperti adanya atropi hipokampus, amigdala, serta pembesaran
sisterna basalis dan fissura sylvii.
 MRI lebih sensitif untuk membedakan demensia dari penyakit alzheimer dengan
penyebab lain, dengan memperhatikan ukuran (atropi) dari hipokampus.
EEG
 Berguna untuk mengidentifikasi aktifitas bangkitan yang suklinis. Sedang pada
penyakit alzheimer didapatka perubahan gelombang lambat pada lobus frontalis
yang non spesifik
PET (Positron Emission Tomography)
Pada penderita alzheimer, hasil PET ditemukan :
 penurunan aliran darah
 metabolisme O2
 glukosa didaerah serebral
SPECT (Single Photon Emission Computed Tomography)
 Kelainan ini berkolerasi dengan tingkat kerusakan fungsional dan defisit kogitif.
Kedua pemeriksaan ini (SPECT dan PET) tidak digunakan secara rutin.

10
Laboratorium darah
Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang spesifik pada penderita alzheimer.
Pemeriksaan laboratorium ini hanya untuk menyingkirkan penyebab penyakit
demensia lainnya seperti pemeriksaan darah rutin, B12, Calsium, Posfor, fungsi
renal dan hepar, tiroid, asam folat, serologi sifilis, skrining antibody yang dilakukan
secara selektif. (Yulfran, 2009)

2.8 Fokus Assesment


Fokus assessment pada penderita alzheimer berupa riwayat keperawatan dan
pemeriksaan fisik klien. Riwayat keperawatan meliputi status kesehatan masa lalu klien
yang beresiko terhadap alzheimer, berupa penyakit-penyakit yang pernah diderita klien
yang bisa menyebabkan alzheimer.
Pemeriksaan fisik klien meliputi : ketidakmampuan melakukan tindakan yang berarti,
kerusakan fungsi tubuh, tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri

2.9 Asuhan Keperawatan


A. Pengkajian
Adapun pengkajian yang dilakukan pada pasien dengan penyakit Alzheimer
diantaranya :
1) Identitas klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, agama, suku bangsa, status
perkawinan, golongan darah, dan hubungan pasien dengan penanggung jawab.
2) Riwayat kesehatan
- Riwayat penyakit dahulu yaitu penyakit apa saja yang pernah diderita pasien, baik
penyakit yang dapat menjadi faktor pendukung terjadinya penyakit Alzheimer,
maupun yang tidak.
- Riwayat penyakit sekarang yaitu penyakit yang diderita pasien saat ini, dalam
kasus ini penyakit Alzheimer
- Riwayat penyakit keluarga yaitu penyakit yang pernah diderita anggota keluarga
yang lain, baik yang dapat menjadi faktor pendukung terjadinya penyakit
Alzheimer maupun yang tidak.

11
3) Pengkajian PsikoSosial Spiritual
Adanya perubahan hubungan dan peran karena pasien menglami kesulitan untuk
berkomunikasi akibat gangguan bicara. Pola persepsi dan konsep diri didapatkan
pasien merasa tidak berdaya, tidak ada harapan mudah marah, dan tidak kooperatif.
Perubahan yang terpenting pada pasien dengan penyakit Alzheimer adalah
penurunan kognitif dan memori (ingatan).
4) Aktifitas istirahat
- Gejala: Merasa lelah
- Tanda: Siang/malam gelisah, tidak berdaya, gangguan pola tidur
Letargi: penurunan minat atau perhatian pada aktivitas yang biasa, hobi,
ketidakmampuan untuk menyebutkan kembali apa yang dibaca/ mengikuti acara
program televisi.
Gangguan keterampilan motorik, ketidakmampuan untuk melakukan hal yang
telah biasa yang dilakukannya, gerakan yang sangat bermanfaat.
5) Sirkulasi
- Gejala: Riwayat penyakit vaskuler serebral/sistemik. hipertensi, episode emboli
(merupakan factor predisposisi).
6) Integritas ego
- Gejala : Curiga atau takut terhadap situasi/orang khayalan, kesalahan persepsi
terhadap lingkungan, kesalahan identifikasi terhadap objek dan orang,
penimbunan objek : meyakini bahwa objek yang salah penempatannya telah
dicuri. kehilangan multiple, perubahan citra tubuh dan harga diri yang dirasakan.
- Tanda : Menyembunyikan ketidakmampuan ( banyak alasan tidak mampu untuk
melakukan kewajiban, mungkin juga tangan membuka buku namun tanpa
membacanya) , duduk dan menonton yang lain, aktivitas pertama mungkin
menumpuk benda tidak bergerak dan emosi stabil, gerakan berulang ( melipat
membuka lipatan melipat kembali kain ), menyembunyikan barang, atau
berjalan-jalan.
7) Eliminasi
- Gejala: Dorongan berkemih
- Tanda: Inkontinensia urine/feaces, cenderung konstipasi/ imfaksi dengan diare.

12
8) Makanan/cairan
- Gejala: Riwayat episode hipoglikemia (merupakan factor predisposisi) perubahan
dalam pengecapan, nafsu makan, kehilangan berat badan, mengingkari terhadap
rasa lapar/ kebutuhan untuk makan.
- Tanda: Kehilangan kemampuan untuk mengunyah, menghindari/menolak makan
(mungkin mencoba untuk menyembunyikan keterampilan). dan tampak semakin
kurus (tahap lanjut).
9) Hiygene
- Gejala : Perlu bantuan /tergantung orang lain
- Tanda : tidak mampu mempertahankan penampilan, kebiasaan personal yang
kurang, kebiasaan pembersihan buruk, lupa untuk pergi kekamar mandi, lupa
langkah-langkah untuk buang air, tidak dapat menemukan kamar mandi dan
kurang berminat pada atau lupa pada waktu makan: tergantung pada orang lain
untuk memasak makanan dan menyiapkannya dimeja, makan, menggunakan alat
makan.
10) Neurosensori
- Gejala : Pengingkaran terhadap gejala yang ada terutama perubahan kognitif,
dan atau gambaran yang kabur, keluhan hipokondria tentang kelelahan, pusing
atau kadang-kadang sakit kepala. adanya keluhan dalam kemampuan kognitif,
mengambil keputusan, mengingat yang berlalu, penurunan tingkah laku (
diobservasi oleh orang terdekat). Kehilangan sensasi propriosepsi ( posisi tubuh
atau bagian tubuh dalam ruang tertentu ). dan adanya riwayat penyakit serebral
vaskuler/sistemik, emboli atau hipoksia yang berlangsung secara periodik (
sebagai faktor predisposisi ) serta aktifitas kejang ( merupakan akibat sekunder
pada kerusakan otak ).
- Tanda : Kerusakan komunikasi : afasia dan disfasia; kesulitan dalam
menemukan kata- kata yang benar ( terutama kata benda ); bertanya berulang-
ulang atau percakapan dengan substansi kata yang tidak memiliki arti;
terpenggal-penggal, atau bicaranya tidak terdengar. Kehilangan kemampuan
untuk membaca dan menulis bertahap (kehilangan keterampilan motorik halus).

13
11) Kenyamanan
- Gejala : Adanya riwayat trauma kepala yang serius ( mungkin menjadi faktor
predisposisi atau faktor akselerasinya), trauma kecelakaan ( jatuh, luka bakar
dan sebagainya).
- Tanda : Ekimosis, laserasi dan rasa bermusuhan/menyerang orang lain

12) Interaksi sosial


- Gejala : Merasa kehilangan kekuatan. faktor psikososial sebelumnya; pengaruh
personal dan individu yang muncul mengubah pola tingkah laku yang muncul.
- Tanda : Kehilangan kontrol sosial,perilaku tidak tepat.

13) Pemeriksaan Fisik


- Keadaan umum:
Klien dengan penyakit Alzheimer umumnya mengalami penurunan kesadaran
sesuai dengan degenerasi neuron kolinergik dan proses senilisme. Adanya
perubahan pada tanda-tanda vital, meliputi bradikardi, hipotensi, dan penurunan
frekuensi pernafasan.

- B1 (Breathing)
Gangguan fungsi pernafasan :
Berkaitan dengan hipoventilasi inaktifitas, aspirasi makanan atau saliva dan
berkurangnya fungsi pembersihan saluran nafas.
a. Inspeksi: di dapatkan klien batuk atau penurunan kemampuan untuk batuk
efektif, peningkatan produksi sputum, sesak nafas, dan penggunaan otot Bantu
nafas.
b. Palpasi : Traktil premitus seimbang kanan dan kiri
c. Perkusi : adanya suara resonan pada seluruh lapangan paru
d. Auskultasi : bunyi nafas tambahan seperti nafas berbunyi, stridor, ronkhi, pada
klien dengan peningkatan produksi sekret dan kemampuan batuk yang
menurun yang sering didapatkan pada klien dengan inaktivitas.

14
- B2 (Blood)
Hipotensi postural : berkaitan dengan efek samping pemberian obat dan juga
gangguan pada pengaturan tekanan darah oleh sistem persarafan otonom.
- B3 (Brain)
Pengkajian B3 merupakan pemeriksaan fokus dan lebih lengkap dibandingkan
dengan pengkajian pada sistem lainnya.
Inspeksi umum, didapatkan berbagai manifestasi akibat perubahan tingkah laku.
- B4 (Bladder)
Pada tahap lanjut, beberapa pasien sering mengalami inkontinensia urin biasanya
dengan penurunan status kognitif dari pasien Alzeimer. Penurunan refleks
kandung kemih yang bersifat progresif dan pasien mungkin mengalami
inkontinensia urin, ketidakmampuan mengkomunikasikan kebutuhan, dan
ketidakmampuan untuk menggunakan urinal karena kerusakan kontrol motorik
dan postural.
- B5 (Bowel)
Pemenuhan nutrisi berkurang berhubungan dengan intake nutrisi yang kurang
karena kelemahan fisik umum dan perubahan status kognitif. Penurunan aktivitas
umum klien sering mengalami konstipasi.
- B6 (Bone)
Adanya gangguan keseimbangan dan koordinasi dalam melakukan pergerakan
karena perubahan pada gaya berjalan dan kaku pada seluruh gerakan memberikan
resiko pada trauma fisik jika melakukan aktivitas.

- Pengkajian Tingkat Kesadaran:


Tingkat kesadaran klien biasanya apatis dan juga bergantung pada perubahan
status kognitif klien.
- Pengkajian fungsi serebral:
Status mental : biasanya status mental klien mengalami perubahan yang
berhubungan dengan penurunan status kognitif, penurunan persepsi, dan
penurunan memori, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

15
- Pengkajian Saraf kranial
Pengkajian saraf ini meliputi pengkajian saraf kranial I-XII :
a. Saraf I. Biasanya pada klien penyakit alzherimer tidak ada kelaianan
fungsi penciuman
b. Saraf II. Tes ketajaman penglihatan mengalami perubahan, yaitu sesuai
dengan keadaan usia lanjut biasanya klien dengan alzheimer mengalami
keturunan ketajaman penglihatan
c. Saraf III, IV dan VI. Biasanya tidak ditemukan adanya kelainan pada
saraf ini
d. Saraf V. Wajah simetris dan tidak ada kelainan pada saraf ini.
e. Saraf VII. Persepsi pengecapan dalam batas normal
f. Saraf VIII. Adanya tuli konduktif dan tuli persepsi berhubungan proses
senilis serta penurunan aliran darah regional
g. Saraf IX dan X. Kesulitan dalam menelan makanan yang berhubungan
dengan perubahan status kognitif
h. Saraf XI. Tidak atrofi otot strenokleidomastoideus dan trapezius.
i. Saraf XII. Lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada
vasikulasi dan indera pengecapan normal

- Pengkajian sistem Motorik


Inspeksi umum pada tahap lanjut klien akan mengalami perubahan dan
penurunan pada fungsi motorik secara umum.
Tonus Otot. Didapatkan meningkat.
Keseimbangan dan Koordinasi. Didapatkan mengalami gangguan karena adanya
perubahan status kognitif dan ketidakkooperatifan klien dengan metode
pemeriksaan.
- Pengkajian Refleks
Pada tahap lanjut penyakit alzheimer sering mengalami kehilangan refleks
postural, apabila klien mencoba untuk berdiri dengan kepala cenderung ke depan
dan berjalan dengan gaya berjalan seperti didorong. Kesulitan dalam
berputar dan hilangnya keseimbangan (salah satunya ke depan atau ke belakang)
dapat menyebabkan klien sering jatuh.

16
- Pengkajian Sistem sensorik
Sesuai barlanjutnya usia, klien dengan penyakit alzheimer mengalami penurunan
terhadap sensasi sensorik secara progresif. Penurunan sensori yang ada
merupakan hasil dari neuropati perifer yang dihubungkan dengan disfungsi
kognitif dan persepsi klien secara umum.

B. Diagnosa
Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul pada pasien dengan diagnosa medis
Alzheimer diantaranya :
1. Resiko Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan
asupan nutrisi tidak adekuat, perubahan proses pikir
2. Kurang perawatan diri (makan, minum, berpakaian, Hygine) yang berhubungan dalam
perubahan proses berfikir
3. Kerusakan komunikasi verbal yang berhubungan dengan perubahan proses fikir
4. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler, penurunan
tonus atau kekuatan otot.
5. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan resepsi, transmisi,
dan/atau integrasi.
6. Perubahan proses pikir berhubungan dengan degenerasi neuron irreversible
7. Hambatan interaksi sosial berhubungan dengan perubahan emosi (cepat marah,
mudah tersinggung, kurang percaya diri)
8. Risiko trauma berhubungan dengan kelamahan, ketidakmampuan untuk mengenali/
mengidentifikasi bahaya dalam lingkungan

17
C. Perencanaan
Sasaran pasien dapat meliputi perbaikan mencapai kemandirian aktifitas kehidupan
mencapai eliminasi fekal yang adekuat, mencapai dan mempertahankan kepuasan
status nutrisi, pencapaian komunikasi dan pengembangan mekanisme koping.
1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yag berhubungan dengan
asupan nutrisi tidak adekuat, perubahan proses piker
Tujuan : dalam waktu 2 x 24 jam kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi
Kriteria : mengerti tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh, memperlihatkan
kenaikan berat badan sesuai dengan hasil pemeriksaan laboratorium.

INTERVENSI RASIONAL

1. Evaluasi kemampuan makan klien 1. Klien mengalami kesulitan dalam


2. Observasi BB jika memungkinkan mempertahankan BB mereka. Mulut mereka
3. Menejemen mencapai kemampuan kering akibat obat-obatan dan mengalami
menelan kesulitan mengunyah dan menelan. Klien
Makanaan setengah padat dengan sedikit berresiko terjadi aspirasi akibat penurunan
air memudahkan untuk menelan refleks batuk
Klien dianjurkan untuk menelan secara 2. Tanda kehilangan BB (7-10%) dan
berurutan kekurangan intake nutrisi menunjang
Klien diajarkan untuk meletakna makanan terjadinnya masalah katabolisme, kandungan
diatas lidah menutup bibir dan gigi serta glikogen dalam otot dan kepekaan terhadap
menelan pemasangan ventilator
Klien dianjurkan untuk mengunyah 3. Meningkatkan kemampuan klien dalam
pertama kali pada satu sisi mulut dan menelan dan dapat membantu pemenuhan
kemudian kesisi yang lain. nutrisi klien via oral. Tujuan lain adalah
Masase otot wajah dan leher sebelum mencegah terjadinya kelelahan, memudahkan
makan dapat membantu masuknya makanan dan mencegah gangguan
Berikan makanan kecil dan lunak pada lambung.

18
2. Kurang Perawatan diri (makan, minum, berpakaian, Hygine) yang
berhubungan dalam perubahan proses berpikir
Tujuan : dalam waktu 2 x 24 jam terdapat perilaku peningkatan dalam pemenuhan
perawatan diri
Kriteria : klien dapat menunjukan perubahan gaya hidup untuk kebutuhan merawat
diri dan mengidentifikasi personal/keluarga yang dapat membantu

INTERVENSI RASIONAL

1. Kaji kemampuan dan tingkat penurunan 1. Membantu dalam mengantisipasi dan


dalam melakukan ADL merencanakan pertemuan kebutuhan
2. Ajarkan dan dukung klien dalam individual
melakukan aktivitas 2. Dukungan kepada klien selama aktivitas
3. Rencanakan tindakan untuk defisit motorik sehari-hari dapat meningkatkan perawatan
seperti tempatakan makanan dan peralatan diri
didekat klien agar mampu mengambil dengan 3. Klien akan mampu melakukan aktivitas
sendirinya sendiri untuk memenuhi perawatan dirinya
4. Modifikasi lingkungan 4. Modifikasi lingkungan untuk
5. Kolaborasi dalam pemberian supositoria mengkonpensasi ketidakmampuan fungsi
dan pencahar 5. Pertolongan utama fungsi usus / defekasi

3. Kerusakan komunikasi verbal yang berhubungan dengan perubahan proses


fikir
Tujuan : dalam waktu 2 x 24 jam terjadi peningkatan dalam perilaku
berkomunikasi yang efektif sesuai dengan kondisi dan keadaan klien
Kriteria : membuat teknik/ metode komunikasi yang dapat dimengerti sesuai
kebutuhan dan meningkatkan kemampuan komunikasi

19
INTERVENSI RASIONAL
h
d
1. Kaji kemampuan klien untuk 1. Gangguan bicara ada pada banyak klien
b
berkomunikasi yang mengalami penyakit Alzeimer. Biicara
n
2. Menentukan cara-cara komunikasi seperti mereka yang lemah, monoton, halus
n
mempertahankan kontak mata, menjawab menuntut kesadaran berupaya untuk bicara
pertanyaan dengan jawaban ya atau tidak, dengan lambat, dengan penekanan perhatian
menggunakan kertas, bolpoint/pensil, pada apa yang mereka katakan
gambar/ papan tulis, bahasa isyarat ], 2. Mempertahankan kontak mata akan
memperjelas arti dari komunikasi yang membuat klien tertarik selama komunikasi.
diberikan jika klien dapat menggerakkan kepala
3. Buat rekaman pembicaraan kilen mengendipkan mata, atau senang denga
4. Kolaborasi dengan ahli wicara bahasa isyarat2 sederhana , lebih baik dengan
pertanyaan ya atau tidak. Kekampuan
menulis, kadang2 melelahkan klien, selain itu
dapat mengakibatkan frustasi dalam upaya
memenuhi kebutuhan komunikasi. keluarga
dapat bekerja sama dalam memenuhi
kebutuhan klien.
3. Rekamlah pembicaraan klien dalam pita
kaset selama periodik, hal ini dibutuhkan
dalam memantau perkembangan klien.
Amplifier kecil membantu apabila klien
mengalami kesulitan mendengar
4. Ahli terapi wicara bahasa dapat membantu
dalam membentuk peningkatan latihan
percakapan dan memabantu petugas
kesehatan untuk mengembangkan metode
komuniakasi untuk memenuhi kebutuhan
klien

20
BAB III
LAPORAN KASUS

Pada bab ini dibahas mengenai pengkajian pasien yang dirawat (identitas pasien, riwayat
keperawatan, observasi dan pemeriksaan fisik, data analisis), diagnosis keperawatan, asuhan
keperawatan (prioritas masalah, tujuan dan hasil yang diharapkan, perencanaan),
implementasi, dan evaluasi.

3.1 Pengkajian
Pengkajian yang dilakukan meliputi pengkajian identitas pasien, riwayat keperawatan
pemeriksaan fisik dan diagnostik test yang mendukung pengumpulan data
1) Identitas pasien
a. Nama : Ny. U
b. Tempat dan tanggal lahir : Bandung, 1941
c. Usia : 82 Tahun
d. Pendidikan terakhir : SD
e. Agama : Islam
f. Suku, Bangsa : Jawa, Indonesia
g. Status perkawinan : Janda
h. Tinggi badan / Berat badan : 142 cm / 34 kg
i. Penampilan secara umum : Sehat dan bersih
j. Ciri-ciri fisik : Berambut pendek beruban, kulit sawo matang
k. Alamat : Panti Werdha Budi Pertiwi
l. Orangyang dapat dihubungi : Tidak ada
m. Hubungan dengan klien :-
n. Perawat yang bertugas : Freestly Janry Sanger
o. Tanggal perawatan : 04-15 February 2013
 klien 90+ thn (sehat)
(Klien tidak tidak ingat keluarga klien, klien dibawa oleh tukang bejak ke panti dan
tidak membawa Kartu Identitas)

21
 Riwayat Lingkungan Hidup Klien
Klien menyatakan berasal dari cicalengka (informasi didapatkan dari pertugas panti
werdha) dan sudah lupa mengenai lingkuangan tempat hidupnya dulu
 Sistem Pendukung Yang Digunakan Klien
Sistem pendukung yang digunakan klien hanyalah pegawai dan teman-teman panti
werdha yang selalu membantunya dalam kegiatan sehari-hari.
 Deskripsi Kekhususan atau Kebiasaan Ritual
Sholat 5 waktu dan mengikuti pengajian di panti setiap hari Jumat bersama dengan
teman-teman panti wedha dibantu oleh petugas panti werdha.
 ADL (Activity Daily Living)
Pasien masih bisa melakukan tindakan dengan mandiri misalnya: mandi, kontinen,
kekamar kecil, berpakaian dan mobilisasi. Sedangkan makan kadang-kadang klien
harus di bantu orang lain.

3.2 Riwayat Keperawatan


 Riwayat keperawatan klien meliputi status kesehatan klien saat ini dan status kesehatan
masa lalu.
 Status Kesehatan Klien Saat Ini
Klien tidak mampu mengungkapkan status kesehatannya secara verbal, dari segi fisik
mengalami kyphosis dan saat ini klien mengalami kepikunan atau demensia.
 Status Kesehatan Masa Lalu Klien
Saat ditanyakan, klien menyatakan sudah lupa atau tidak tahu.

3.3 Observasi dan Pemeriksaan Fisik


Hasil observasi dan pemeriksaan yang dilakukan pada Ny. U adalah:
a. Keadaan umum : Baik
b. Tingkat kesadaran : Compos Mentis
c. Skala koma Glasgow : 15 (E=6, M=4, V=5)
d. Tanda-tanda vital : T: 37ºc, P: 80 x/m, R: 17x/m, BP: 120/80 mmHg
e. TB dan BB : 142 cm dan 34 kg
f. Kulit : Sawo matang, turgor, hiperpigmentasi
g. Kepala : Simetris, tidak ada nyeri tekan, tidak ada benjolan,
tidak ada memar dan tidak ada lesi
h. Rambut dan kuku : rambut berminyak dan beruban, kuku bersih
22
i. Mata : Simetris, ada katarak dan konjunktiva normal.
j. Telinga : Simetris, tak tampak kotoran
k. Hidung : Simetris, tampak bersih
l. Mulut dan gigi : Jumlah gigi 2 buah, ada karies.
m. Leher : Tak ada pembesaran kelenjar tyroid dan kelenjar
getah bening, dan tidak ada peningkatan tekanan
vena jugularis, simetris.
n. Sistem Kardiovaskuler : BP= 120/80 mmHg, P= 79 x/m, tidak nyeri tekan.
o. Sistem Pernafasan : Pernafasan normal, R= 18 x/m, bronkovesikular,
dan resonance.
p. Sistem Gastrointestinal : Tampak tumpukan lemak yang berlipat-lipat, tak ada
nyeri tekan, lambung= tympani, hati= dulness
q. Anus dan genitalia : Ada sedikit kotoran dan sedikit bau
r. Sistem Perkemihan : Tidak nyeri saat berkemih, frekuensi berkemih
5-7x/hari
s. Sistem Muskuloskeletal : Bentuk tulang belakang khiposis.
t. Sistem Endokrin : Tidak ada pembengkakan kelenjar tyroid dan kelenjar
getah bening.
u. Sistem Imun : Menurun seiring dengan pertambahan usia.

3.4 Riwayat Psikososial


Klien tidak dapat menceritakan dengan jelas riwayat psikososialnya. Dari informasi yang
didapatkan oma Utik hanya di bawa oleh seorang wanita yang menemukannya di jalan
dan membawanya ke panti werdha, pada saat itu keadaan oma Utik sudah mengalami
demensia.
Keterangan :
Klien terlihat bingung saat dilakukan pengkajian, dan jawaban yang diberikan klien tidak
cocok dengan pertanyaan yang diberikan karena klien sudah pikun (demensia).

23
3.5 Data Analisis
Data analisis yang didapatkan setelah dilakukan pengkajian pada Ny. U seperti yang
tertulis pada tabel dibawah ini.

No Tanggal Data Problem Etiology


1 11-02-2013 Ds : “siapa freestly (dalam bahasa Perubahan Perubahan
sunda) ?” proses pikir fisiologis
Do : : Klien tidak mampu mengingat
nama perawat dengan terus
menanyakan nama perawat tiap kali
bertemu, klien mampu menjawab
pertanyaan pada saat pengkajian dan
2 11-02-2013 Menjawab secara berubah-ubah setiap Hambatan Perubahan
harinya, tidak mampu menjawab komunikasi persepsi
pertanyaan yang diberikan verbal
Ds : “-”
Do : Klien tidak bisa mendengar, klien
tidak tahu hari dan tanggal saat ini,
susah mengingat orang, hanya
mengetahui bahasa sunda dan kurang
tahu bahasa indonesia

24
3.6 Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang didapatkan setelah dilakukan pengkajian adalah
1. Perubahan proses pikir s/d perubahan fisiologis (degenerasi neuron ireversibel)
2. Hambatan komunikasi verbal s/d perubahan persepsi.

 Intervensi
Tujuan/
No Tanggal Diagnosa Intervensi Rasional
Kriteria

1 11 Perubahan Klien mampu - Lakukan - Untuk


February proses pikir mengingat pendekatan membina
2013 b.d perubahan nama perawat kepada klien hubungan
fisiologis dengan secara verbal terapeutik antara
kriteria tidak dan tindakan klien dan
Ds : “siapa
menanyakan perawat
freestly (dalam
nama perawat
bahasa sunda) - Menghargai
setelah - Panggil
?” klien sesuai
tindakan klien dengan
dengan keadaan
keperawatan. namanya.
yang ada.
Do : Klien
- Menghormati
tidak mampu
klien sebagai
mengingat
- Tatap pasangan bicara.
nama perawat
dengan terus wajah klien - Mengasah

menanyakan ketika daya ingat klien


nama perawat berbicara tanpa
tiap kali memaksakan
bertemu, klien klien.
- Tuliskan
mampu
nama perawat
menjawab
di sebuah
pertanyaan
kertas dan di
pada saat
tempelkan
pengkajian dan
pada salah satu
menjawab

25
secara tempat yang -Melatih
berubah-ubah mudah dilihat kemampuan
setiap harinya, klien. klien untuk
tidak mampu mengingat
- Sebutkan
menjawab
nama perawat
pertanyaan
tiap bertemu
yang diberikan
dan
menanyakan
kembali ketika
akan berpisah

2 11 Hambatan Klien dapat - Kaji - Untuk


February komunikasi berkomunikasi kemampuan melihat tingkat
2013 verbal dengan baik klien untuk pengetahuan,
setelah berkomunikasi. dan bahasa yang
b.d perubahan
tindakan sering
persepsi.
keperawatan digunakan klien
saat
Ds : “-” berkomunikasi

Do : Klien -

tidak bisa Memperlancar

mendengar, komunikasi agar

klien tidak - Gunakan tidak kaku.

tahu hari dan komunikasi

tanggal saat non-verbal.

ini, susah
mengingat - Membuat
orang, hanya klien lebih
mengetahui mengerti dalam

26
bahasa sunda berkomunikasi
dan kurang selain membaca.
- Gunakan
tahu bahasa
bahasa tubuh
indonesia
untuk
- Klien dapat
menyampaikan
memahami
sesuatu.
dengan baik
maksud dari
kata-kata yang
ditanyakan

- Gunakan
bahasa
Indonesia yang
baik dan baku
(mudah
dimengerti)

27
 Catatan perkembangan

No. Diagnosa Implementasi Evaluasi

1. Perubahan 11-13 February 13 February


proses pikir s/d 20123 2013
perubahan
At 11.00 At 13.50
fisiologis
- Melakukan S : “siapa yang
pendekatan pada namanya
nenek utik. freestly”.

O : klien belum
mampu
- Memanggil
menyebutkan
nama klien pada
nama perawat
saat berbincang.
tanpa
mengingatkan

- Menatap nya lagi.

wajah klien saat


berbicara.
A : masalah
belum teratasi.

- Menuliskan
nama perawat di
P : Lanjutkan
kertas dan
intervensi
menempelkannya
di meja samping
tempat tidur
klien.

- Menyebutkan
nama perawat
dan menanyakan
kembali ketika

28
akan berpisah.

2 Hambatan 11-13 Februay 13 February


komunikasi 2013 2013
verbal
At 11.00 At 12.00
s/d perubahan
- Mengkaji S : “__”.
persepsi
kemampuan
berkomuniakasi
klien. O : klien masih
belum dapat
berkomunikasi
- Menggunakan dengan baik,
komunikasi non klien tidak
verbal dengan dapat menjawab
menuliskan di pertanyaan-
buku hal-hal pertanyaan
yang ingin yang mudah
diperbincangkan dijawab.
agar dapat dibaca
klien.
A: Masalah
- Menggunakan
belum teratasi.
bahasa tubuh
seperti
pergerakan bibir, P: Lanjutkan
dan tangan. intervensi

- Menggunakan
bahasa Indonesia
yang baik dan
baku

29
BAB IV
PEMBAHASAN

 Opini Kelompok
Diagnosa yang kami angkat adalah Hambatan komunikasi verbal berhubungan
dengan perubahan persepsi.
Secara patologis, klien dengan penyakit azheimer mengalami kehilangan banyak neuron
hipokampus dan korteks tanpa disertai kehilangan parenkim otak. Selain itu juga terdapat
kesusutan neurofibrilar yang difus dan plak senilis.
Klien terlihat bingung saat dilakukan pengkajian, dan jawaban yang diberikan klien
tidak cocok dengan pertanyaan yang diberikan karena klien sudah pikun (demensia).
Pada pengkajian ditemukan data bahwa pasien menjawab pertanyaan secara berubah-ubah
setiap harinya serta tidak mampu menjawab pertanyaan yang diberikan kepada klien
sehingga hal tersebut yang mencetuskan masalah hambatan komunikasi verbal .
Menurut pathway, terjadinya hambatan komunikasi verbal adalah sebagai berikut:
Adanya faktor genetik, inveksi virus lambat , imunologi, dan keracunan aluminium
yang dapat menyebabkan kesusutan neuro fibrilar sehingga otak mengalami atropi
yang menyebabkan degenerasi neuron dan terjadilah alzheimer. Penyakit alzheimer
tersebut menyebabkan perubahan intelektual seperti kehilangan kemampuan
menyelesaikan masalah, perubahan mengawasi keadaan kompleks & berpikir abstrak
dan emosi labil, pelupa serta apatis. Hal-hal tersebutlah yang menyebabkan hambatan
komunikasi verbal.
Pada masalah hambatan komunikasi verbal intervensi yang disusun perawat adalah
sebagai berikut :
1. Kaji kemampuan klien untuk berkomunikasi
2. Menentukan cara-cara komunikasi seperti mempertahankan kontak mata,
menjawab pertanyaan dengan jawaban ya atau tidak, menggunakan kertas,
bolpoint/pensil, gambar/ papan tulis, bahasa isyarat , memperjelas arti dari
komunikasi yang diberikan
3. Kolaborasi dengan ahli wicara bahasa
Semua intervensi diatas bertujuan agar dalam waktu 2 x 24 jam terjadi peningkatan dalam
perilaku berkomunikasi yang efektif sesuai dengan kondisi dan keadaan klien dengan

30
kriteria hasil klien dapat berkomunikasi sesuai kebutuhan dan meningkatakan kemampuan
komunikasi.
Setelah intervensi tersusun, perawat harus mengimplementasikan tindakan sesuai
dengan intervensi. Setelah implementasi selesai, lakukan evaluasi untuk mengetahui
perkembangan yang terjadi pada klien seperti perkembangan kemampuan berkomunikasi.
Jika saat evaluasi belum ada perkembangan, maka intervensi dilanjutkan.

31
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Penyakit Alzheimer adalah penyakit yang merusak dan menimbulkan kelumpuhan
terjadi terutama menyerang orang yang berusia diatas 65 tahun tapi tidak menutup
kemungkinan dapat juga menyerang anak-anak, bahkan bayi. Pasien dengan penyakit
Alzheimer mengalami banyak kehilangan neuron-neuron hipokarpus dan korteks tanpa
disertai kehilangan parenkim otak, juga terdapat kekusutan neuro fibrilar. Penyebap pasti
penyakit ini belum diketahui, namun terdapat beberapa faktor predisposisi seperti proses
infeksi virus lambat, autoimun, genetik dan trauma.
Asuhan keperawatan pada pasien dengan penyakit Alzheimer dilakukan dengan
tujuan membantu mengembalikan fungsi kognitif, motorik dan fungsi-fungsi bagian
tubuh lain yang mengalami gangguan akibat kelainan neurotransmiternya. Selain itu
perhatian terhadap kebutuhan nutrisi juga tetap dibutuhkan untuk mencegah
berkembangnya penyakit lain akibat intake nutrisi yang tidak adekuat.
B. Saran
Bagi perawat dan keluarga, diharapkan memperhatikan setiap perubahan yang terjadi
pada penderita Alzheimer ini, karena setiap perubahan baik itu dari segi kognitif dan
motorik mempengaruhi aktivitas sehari-hari pasien. Karenanya dibutuhkan perhatian
lebih bagi penderita Alzheimer ini.

32
DAFTAR PUSTAKA

Nugroho, W.2009. Keperawatan Gerontik & Geriatric. Edisi 3. EGC. Jakarta.

Asosiasi Alzheimer Indonesia.2003 Konsesus Nasional. Pengenalan dan Penatalaksanaan


Demensia Alzheimer danDemensialainya.Edisi 1 Jakarta.

Stanley,Mickey. Buku Ajar Keperawatan Gerontik.Edisi2. EGC: Jakarta.

Nugroho,Wahjudi. 2004. Keperawatan Gerontik.Edisi2.Buku Kedokteran. EGC.Jakarta

Boedhi-Darmojo, (2009), Geriatri Ilmu Kesehatan Usia Lanjut. Edisi 4. Jakarta : FKUI.

Kushariyadi.2010. Askep pada Klien Lanjut Usia. Salemba medika : Jakarta.

Ariani,Tutu April.2012.Sistem Neurobehavior.Salemba medika: Jakarta

Geraint Fuller, Neurological Eamination Made Easy. EGC: Jakarta

http://ejournal.umm.ac.id/index.php/keperawatan/article/viewArticle/389. diakses tanggal 1


November 2017

mafiadoc.com_makalah-asuhan-keperawatan-pada-wordpresscom_59ccb2bb1723ddab3.
Diakses tanggal 1 November 2017

33