Vous êtes sur la page 1sur 17

ASKEP TUR SYNDROM

I. Definisi TUR Syndrom


Sindroma TUR adalah suatu keadaan klinik yang ditandai dengan kumpulan
gejala akibat gangguan neurologik, kardiovaskuler, dan elektrolit yang disebabkan
oleh diserapnya cairan irigasi melalui vena-vena prostat atau cabangnya pada
kapsul prostat yang terjadi selama operasi. Hiponatremia, hipovolemia, dan
kadang hiperamonemia mungkin terjadi (Eaton, 2003).
Reseksi transurethral dari prostat (TURP) syndrome adalah komplikasi
sistemik reseksi transurethral dari prostat atau tumor kandung kemih, disebabkan
oleh penyerapan yang berlebihan cairan irigasi elektrolit. Sindrom ini dapat
berpotensi menimbulkan gangguan neurologis, edema paru, gangguan
kardiovaskular, dan kematian . Salin normal tidak dapat digunakan sebagai solusi
irigasi dengan reseksi monopolar konvensional. Solusi Glycine hampir secara
universal digunakan sebagai solusi irigasi dalam prosedur endoskopi urologi
tradisional terapi . Insiden komplikasi ini adalah antara 0,78% dan 1,4%. Dokter
bedah harus diberitahu segera, intervensi berhenti secepat mungkin dan
pengobatan harus dimulai tanpa penundaan.
TUR syndrom adalah suatu komplikasi yang paling sering dan paling
menakutkan dalam pembedahan urologi endoskopik. Di tangan para ahli yang
berpengalamanpun, Sindroma TUR dapat terjadi pada 2% kasus dengan mortalitas
yang masih tinggi. Sampai sekarang Sindrom TUR merupakan suatu komplikasi
yang sangat menakutkan baik untuk para urolog yang melakukan operasi maupun
para anestesiolog yang seharusnya melakukan diagnosa sindrom ini dan
melakukan intervensi untuk mencegah kematian.

II. Etiologi
TUR Syndrome disebabkan oleh absorbsi masif dari cairan irigasi. Absorbsi
masif tergantung oleh: Proses TURP yang lama. Absorbsi meningkat jika reseksi
dilakukan lebih dari 90menit Tekanan intravaskuler meningkat karena tinggi
bagian irigasi lebih dari 60 cm di atas lokasi pembedahan. Banyak sinus prostat
yang terbuka. Semakin besar prostat yang direseksi, semakin banyak sinus prostat
yang terbukaJenis cairan irigan yang digunakan.
Diperkirakan 2% dari pasien yang dilakukan TURP mengalami Sindrom
TUR dari berbagai tingkat. Suatu penelitian yang dilakukan di Filipina
menunjukkan angka kekerapan sebesar 6%. Penelitian yang lain menunjukkan
frekuensi Sindoma TUR sampai 10%.
Penelitian Marrero menunjukkan frekuensi Sindrom TUR meningkat bila:
1. Prostat yang ukurannya lebih dari 45 gr.
2. Operasi yang berlangsung lebih dari 90 menit
3. Cairan irigasi 30 liter atau lebih
4. ketinggian cairan irigasi lebih dari 60 cm
Karena itu TURP hanya boleh dilakukan jika ahli bedah yakin bahwa operasi pasti
dapat diselesaikan tidak lebih dari 90 menit.
Sebaliknya risiko Sindrom TUR akan menurun bila:
1. Dipakai cairan irigasi yang tidak menimbulkan hemolisis (isotonik).
2. Tekanan cairan irigasi yang masuk (in flow) dijaga serendah mungkin.

III. Patofisiologi
Sejumlah besar cairan dapt diserap selama operasi terutama bila sinus vena
terbuka secara dini atau bila operasi berlangsung lama. Rata-rata diperkirakan
terjadi penyerapan 20 cc cairan permenit atau kira-kira 1000-1200 cc pada 1 jm
pertama operasi, sepertiga bagian diantaranya diserap langsung ke dalam sistem
vena. Dan hal ini akan menimbulkan hiponatremia dilusional.
Faktor utama yang menyebabkan timbulnya sindroma TURP adalah
circulatory overload, keracunan air, dan hiponatremia.
1. Circulatory overload
Penyerapan cairan irigasi praktis terjadi pada semua operasi TURP dan hal
ini terjadi melalui jaringan vena pada prostat. Menurut penelitian, dalam 1 jam
pertama dari operasi terjadi penyerapan sekitar 1 liter cairan irigasi yang setara
dengan penurunan akut kadar Na sebesar 5-8 mmol/liter. Penyerapan air di atas 1
liter menimbulkan risiko timbulnya gejala sindrom TUR. Penyerapan air rata-rata
selama TUR adalah 20 ml/menit. Dengan adanya circulatory overload, volume
darah meningkat, tekanan darah sistolik dan diastolik menurun dan dapat terjadi
payah jantung. Cairan yang diserap akan menyebabkan pengenceran kadar protein
serum, menurunnya tekanan osmotik darah. Pada saat yang sama, terjadi
peningkatan volumedarah dan cairan di dorong dari pembuluh darah ke dalam
jaringan interstitial dan menyebabkan udema paru dan cerebri. Di samping
absorbsi cairan irigasi ke dalam peredaran darah sejumlah besar cairan dapat
terkumpul di jaringan interstitial periprostat dan rongga peritoneal. Setiap 100 cc
cairan yang masuk ke dalam cairan interstitial akan membawa 10-15 ml eq Na.
Lamanya pembedahan berhubungan dengan jumlah cairan yang diserap.
Morbiditas dan mortalitas terbukti tinggi bila pembedahan berlangsung lebih dari
90 menit.
Penyerapan cairan intravaskuler berhubungan dengan besarnya prostat
sedang penyerapan cairan interstitial tergantung dengan integritas kapsul prostat.
Circulatory overload sering terjadi bila prostat lebih dari 45 gram. Faktor penting
yang berhubungan dengan kecepatan penyerapan cairan adalah tekanan
hidrostatik dalam jaringan prostat. Tekanan ini berhubungan dengan tingginya
tekanan cairan irigasi dan tekanan dalam kandung kencing selama pembedahan.
Tinggi dari cairan irigasi adalah 60 cm yang dapat memberikan kecepatan 300 cc
cairan permenit dengan visualisasi yang baik.
2. Keracunan air
Beberapa pasien dengan sindrom TUR menunjukkan gejala dari keracunan
air karena meningkatnya kadar air dalam otak. Penderita menjadi somnolen,
inkoheren dan gelisah. Dapat terjadi kejang-kejang dan koma, dan posisi
desereberate. Dapat terjadi klonus dan refleks babinsky yang postif. Terjadi papil
udem dan midriasis. Gejala keracunan air terjadi bila kadar Na 15-20 meq/liter di
bawah kadar normal.
3. Hiponatremia
Na sangat penting untuk fungsi sel jantung dan otak. Beberapa mekanisme
terjadinya hiponatremia pada pasien TUR adalah:
a. Pengenceran Na karena penyerapan cairan irigasi yang besar.
b. Kehilangan Na dari daerah reseksi prostat ke dalam cairan irigasi.
c. Kehilangan Na ke dalam kantong-kantong cairan irigasi di daerah periprostat
dan rongga peritoneal.
Gejala hiponatremia adalah gelisah, bingung, inkoheren, koma, dan
kejang-kejang. Bila kadar Na di bawah 120 meq/liter, terjadi hipotensi dan
penurunan kontraktilitas otot jantung. BIla kadar Na di bawah 115 meq/liter,
terjadi bradikardi dan kompleks QRS yang melebar, gelombang ektopik
ventrikuler dan gelombang T yang terbalik. Di bawah 100 meq/liter terjadi
kejang-kejang, koma, gagal napas, takikardi ventrikel, fibrilasi ventrikel, dan
cardiac arrest.
4. Koagulopati
Pada Sindroma TUR dapat terjadi Disseminated Intravasculer
Coagulation(DIC) yang terjadi akibat lepasnya partikel prostat yang mengandung
tromboplastin dalam jumlah besar ke dalam peredaran darah dan menyebabkan
fibrinolisis sekunder.DIC ini dapat diketahui dari turunnya kadar trombosit dan
meningkatnya Fibrin Degradation Product (FDP) serta kadar fibrinogen yang
rendah.
5. Bakteriemia dan Sepsis
Pada 30% penderita yang dilakukan TURP sudah terjadi infeksi sebelum
operasi. Bila sinus vena prostat terbuka sebelum operasi dan dilakukan irigasi
dengan tekanan tinggi maka kuman bisa masuk ke dalam peredaran darah dan
terjadi bakteremia. Pada 6% pasien bakteremia ini menyebabkan sepsis.

IV. Manifestasi Klinis


Sindrom TUR dapat terjadi kapan pun dalam fase intra operatif dan dapat
terjadi beberapa menit setelah pembedahan berlangsung sampai beberapa jam
setelah selesai pembedahan. Penderita dengan anestesi regional menunjukkan
keluhan-keluhan sebagai beriku:
a. Pusing
b. Sakit kepala
c. Mual
d. Rasa tertekan di dada dan tenggorokan
e. Napas pendek
f. Gelisah
g. Bingung
h. Nyeri perut
i. Tekanan sistolik dan diastolik meningkat, nadi menurun.
j. Nyeri kepala dan takipnea
k. Dapat berlanjut menjadi respiratory distress, hypoxia, pulmonary oedema,
nausea,vomiting, confusion dan coma
l. Tanda dan gejala dideteksi lebih dini pada pasien sadar
m. Pada pasien tidak sadar (dianestesi),tanda yang muncul hanya: takikardi
dan hipertensi.
Bila penderita tidak segera di terapi maka penderita menjadi sianotik, hipotensif
dan dapat terjadi cardiac arrest. Beberapa pasien dapat menunjukkan gejala
neurologis. Mula-mula mengalami letargi dan kemudian tidak sadar, pupil
mengalami dilatasi. Dapat terjadi kejang tonik klonik dan dapat berakhir dengan
koma. Bila pasien mengalami anestesi umum, maka diagnosa dari sindrom TURP
menjadi sulit dan sering terlambat. Salah satu tanda adalah kenaikan dan
penurunan tekanan darah yang tidak dapat diterangkan sebabnya. Perubahan ECG
dapat berupa irama nodal, perubahan segmen ST, munculnya gelombang U, dan
komplek QRS yang melebar.
Hipotermi sering terjadi pada pasien yang mengalami TURP. Irigasi kandung
kencing merupakan penyebab penting kehilangannya panas tubuh dan hal ini
ditambah dengan suhu kamar operasi yang rendah. Hipotermi sering terjadi pada
penderita lanjut usia karena gangguan saraf otonomik.

V. Penatalaksanaan
a. Menilai Air way, Breating and circulation. Pertimbangkan pemasangan
intubasi jika terjadi odema paru, menilai arteri dan vena central dan
evaluasi hemodinamic dan terapi cairan.
b. Jika dideteksi saat intra operatif terjadi syndrome TUR maka
tindakan operasi harus di hentikan
c. Jika pasien gelisah atau berontak berikan benzodiazepan atau barbiturat
d. Kirim sample darah untuk mengetahui electrolit, ABG, dan kougulasi
e. Pada kasus syndrome TUR biasanya Na < 120 mEq/L
f. Jika Na < 120 mEq/L berikan terapi hipertonic salin, cairan salin 3% tidak
lebih dari 100 ml/jam diberikan kontinyu sampai sodium serum > 120
mEq/L. Sodium serum tidak akan meningkat lebih dari 12 mEq/L dalam
24 jam.
g. Jika Na > 120 mEq/L berikan furosemid dan Cairan infus dihentikan.
h. Selanjutnya observasi perubahan sistemic dan frequensi darah yang keluar

VI. Pemeriksaan Diagnostik


a. Urinalisa : warna kuning, coklat gelap, merah gelap atau terang (berdarah);
penampilan keruh; Ph 7 atau lebih besar (menunjukkan infeksi)
b. Kultur urine : dapat menunjukkan Staphylococcus aureus, Proteus, Klebsiella,
Pseudomonas atau E. Coli
c. ECG : Perubahan ECG dapat berupa irama nodal, perubahan segmen ST,
munculnya gelombang U, dan komplek QRS yang melebar.
d. Pemeriksaan serum elektrolit: Bila kadar Na di bawah 120 meq/liter, terjadi
hipotensi dan penurunan kontraktilitas otot jantung. BIla kadar Na di bawah
115 meq/liter, terjadi bradikardi dan kompleks QRS yang melebar, gelombang
ektopik ventrikuler dan gelombang T yang terbalik. Di bawah 100 meq/liter
terjadi kejang-kejang, koma, gagal napas, takikardi ventrikel, fibrilasi
ventrikel, dan cardiac arrest.
e. ABG menunjukan asidosis respiratory karena gangguan pertukaran gas pada
alveoly yang disebabkan oleh alveoly terisi oleh cairan. Biasanya
PaO2 menurun dan PaCO2 normal atau meningkat.

VII. Jenis Cairan Irigasi


Untuk operasi TUR dapat dipakai beberapa macam cairan irigasi. Salin
tidak dapat dipakai karena cairan ini merupakan penghantar listrik dan akan
mengganggu proses pemotongan dan kauterisasi. Di samping itu arus listrik dapat
dihantarkan ke alat resektoskop dan dapat mengenai ahli bedah. Belakangan ini
telah ditemukan mesin resektoskop yang lebih moderen yang dapat menggunakan
salin sebagai cairan irigasinya tapi alat tersebut masih sangat mahal. Salin
merupakan cairan irigasi yang ideal karena sifatnya yang isotonik sehingga tidak
mengganggu bila terserap.
Cairan lain yang dapat dipakai adalah air steril, glysin 1,2%, 1,5%, atau
2,2%. Cairan lain yang dapat dipakai adalah sorbitol atau manitol 3%. Di negara
maju air steril sudah jarang dipakai karena jika diserap dalam jumlah besar dapat
menyebabkan hiponatremia, hemolisis intra vaskuler dan hiperkalemia. Karena itu
sorbitol, manitol, atau glisin lebih banyak dipakai. Sorbitol/manitol atau glisin
dapat mencegah hemolisis intravaskuler tetapi tidak dapat mencegah hiponatremia
dilusional karena bisa terjadi penyerapan cairan dalam jumlah besar tanpa
penambahan natrium. Cairan yang banyak dipakai di luar negeri adalah glisin.
Tetapi penyerapan glisin dalam jumlah besar dapat menyebabkan beberapa akibat
dan sebenarnya cairan sorbitol dan manitol lebih baik dibandingkan dengan glisin.
Tetapi harganya lebih mahal. Cairan non ionik yang dapat dipakai adalah larutan
glukose 2,5%-4%. Untuk negara yang sedang berkembang, Collins dan kawan-
kawannya menganjurkan pemakaian dektrose 5% yang lebih ekonomik
dibandingkan dengan cairan glisin dan lebih jarang menimbulkan hemolisis serta
lebih aman dibandingkan air steril. Tetapi larutan dextrose tidak disukai karena
dapat menyebabkan hipoglikemi tissue charring pada tempat reseksi dan
menimbulkan rasa lengket pada sarung tangan ahli bedah dan peralatan. Di
Amerika Serikat, cairan irigasi yang paling banyak dipakai adalah Cytal yang
merupakan campuran antara sorbitol 2,7% dan manitol 0,54%.

VIII. Pencegahan Sindrome TUR


Identifikasi gejala-gejala awal sindrom TUR diperlukan untuk mencegah
manifestasi berat dan fatal pada pasien-pasien dengan pembedahan urologi
endoskopik. Bila diketahui adanya hiponatremi yang terjadi sebelum operasi
terutama pada pasien-pasien yang mendapat diuretik dan diet rendah garam harus
segera dikoreksi. Karena itu pemeriksaan natrium sebelum operasi TUR perlu
dilakukan. Pemberian antibiotik profilaktik mungkin mempunyai peran penting
dalam pencegahan bakteremia dan septicemia. Untuk penderita-penderita dengan
penyakit jantung, perlu dilakukan monitoring CVP atau kateterisasi arteri
pulmonalis.

Tinggi cairan irigasi yang ideal adalah 60 cm dari pasien. Lamanya operasi
TURP tidak boleh lebih dari 1 jam. Bila diperlukan waktu lebih dari 1 jam, maka
TURP sebaiknya dilakukan bertahap. Pemeriksaan natrium serum sebaiknya
dilakukan tiap 30 menit dan perlu dilakukan koreksi sesuai dengan hasil serum
natrium. Perlu dilakukan pemberian furosemid profilaksis untuk mencegah
overload cairan. Bila perlu dilakukan transfusi darah, sebaiknya dilakukan dengan
PRC bukan dengan whole blood. Perlu dilakukan pencegahan hipotermi misalnya
dengan menghangatkan cairan irigasi sampai 37˚C.

ASUHAN KEPERAWATAN

I. Pengkajian
A. Primeri Survey
1. Air Way
Pada pasien dengan syndrome TUR pada jalan nafas biasanya tidak ada gangguan.
2. Breathing
pada pengkajian breathing pada pasien dengan syndrome TUR biasanya
mengalami retraksi otot bantu pernapasan, pernapsan pendek dan dangkal serta
hipoksia.
3. Circulation
Pada pasien yang mengalami syndrome TUR akan mengalami tekanan darah
meningkat, bradikardi, sianosis, konjungtiva anemis dan aritmia jantung.
4. Disability
Beberapa pasien dengan sindrom TUR menunjukkan gejala dari keracunan air
karena meningkatnya kadar air dalam otak. Penderita menjadi somnolen,
inkoheren dan gelisah. Dapat terjadi kejang-kejang dan koma
Tindakan awal pada syndrome TURP
a. Menilai Air way, Breating and circulation. Pertimbangkan pemasangan
intubasi jika terjadi odema paru, menilai arteri dan vena central dan evaluasi
hemodinamic dan terapi cairan.
b. Jika dideteksi saat intra operatif terjadi syndrome TUR maka
tindakan operasi harus di hentikan
c. Jika pasien gelisah atau berontak berikan benzodiazepan atau barbiturate
d. Kirim sample darah untuk mengetahui electrolit, ABG, dan kougulasi
e. Pada kasus syndrome TUR biasanya Na < 120 mEq/L
f. Jika Na < 120 mEq/L berikan terapi hipertonic salin, cairan salin 3% tidak
lebih dari 100 ml/jam diberikan kontinyu sampai sodium serum > 120 mEq/L.
Sodium serum tidak akan meningkat lebih dari 12 mEq/L dalam 24 jam.
g. Jika Na > 120 mEq/L berikan furosemid dan cairan infus dihentikan.
h. Selanjutnya observasi perubahan sistemic dan frekuensi darah yang keluar

B. Sekundery Survey
1. Identitas Klien
Nama, jenis kelamin laki-laki >60 thn, +80% laki-laki usia 80 thn, suku bangsa /
latar belakang kebudayaan, agama, status sipil, pendidikan, pekerjaan dan alamat .
(Purnomo, 2003)
2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan utama
Pada sindrome TUR biasanya pasien mengeluh sesak napas dan kesadaran
menurun
b. Riwayat Kesehatan sekarang
Sindrome TUR biasanya terjadi pada pasien BPH dengan post operasi
TURP kemudian mengeluh sesak nafas, kesadaran menurun dan gangguan
keseimbangan cairan tubuh serta gangguan cardiopulmunal.
c. Riwayat Kesehatan Dahulu
Pernah mengalami BPH kemudian dilakukan operasi TURP
d. Riwayat Kesehatan keluaarga
Pada keluarga biasanya ada anggota keluarga yang pernah mengidap BPH.
3. Data Dasar Pengkajian Pasien
a. Sirkulasi
Tanda : peninggian tekanan darah
b. Eliminasi
Gejala : penurunan kekuatan/dorongan aliran urine:tetesan, keragu-raguan
pada berkemih awal, ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung
kemih dengan lengkap: dorongan dan frekuensi berkemih, nokturia,
dysuria, hematuria, duduk untuk berkemih, ISK berulang, riwayat batu
(statis urinaria), konstipasi (protrusi prostat kedalam rektum)
Tanda : masa padat dibawah abdomen bawah (distensi kandung kemih),
nyeri tekan kandung kemih. Hernia inguinalis, hemoroid (mengakibatkan
peningkatan tekanan abdominal yang memerlukan pengosongan kandung
kemih mengatasi tahanan).
c. Makanan/cairan
Gejala : anoreksia, mual, muntah. Penurunan berat badan
d. Nyeri/keamanan
Gejala : nyeri suprapubis, panggul atau punggung, tajam, kuat (pada
prostatitis akut). Nyeri punggung bawah
e. Keamanan
Gejala : demam
f. Seksualitas
Gejala : masalah tentang efek kondisi/terapi pada kemampuan seksual.
Takut inkontinensia/menetes selama hubungan intim. Penurunan kekuatan
kontraksi ejakulasi
Tanda : pembesaran, nyeri tekan prostat
g. Penyuluhan/pembelajran
Gejala : riwayat keluarga kanker, hipertensi, penyakit ginjal. Penggunaan
antihipertensif atau antidepresan, antibiotic urinaria atau agen antibiotic,
obat yang dijual bebas untuk flu/alergi obat mengandung simpatomimetik.
4. Pemeriksaan Fisik
a. B1 breath: distress napas, odem paru, hipoksia, sianosis
b. B2 blood: hipertensi, aritmia.
c. B3 brain: penurunan kesadaran, TIK↑, konfusi sampai koma.
d. B4 bladder: gagal ginjal akut.
e. B5 bowel: mual, muntah.
f. B6 bone: kelemahan pada otot dan tulang

II. Diagnosa Keperawatan


1. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan odem paru.
2. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan adanya
penyerapan cairan irigasi yang berlebihan.
3. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan
peningkatan tekanan intracranial.

III. Intervensi Keperawatan


1. Kerusakan pertukaran gas b.d odem paru.
Tujuan :
Masalah kerusakan pertukaran gas teratasi selama masa perawatan.
Kriteria Hasil :
1) Menunjukan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan yang adekuat
2) SpO2 98-100%.
3) Analisa gas darah:
- PaO2 80 – 100 mmHg.
- PaCO2 35 – 45 mmHg
- pH 7,35 – 7,45.
4) Tidak ada tanda distress napas:
RR= 12 – 20 x/mnt, flaring nostril (-), tracheal tug (-), intrekking (-).
Intervensi :
a) Observasi frekuensi, kedalaman pernafasan. Catat pengguanaan otot
bantu napas, napas cuping hidung.
Rasional: berguna dalam evaluasi derajat distress pernapasan.
b) Posisi semi fowler atau slide head up 30-45°, bantu pasien untuk
memilih posisi yang mudah untuk bernafas. Dorong nafas dalam
perlahan sesuai kebutuhan/ toleransi individu.
Rasional: pengiriman oksigen dapat diperbaikai dengan posisi duduk
tinggi dan latihan napas untuk menurunkan kolaps jalan napas.
c) Observasi secara rutin warna kulit dan warna membran mukosa.
Rasioanal: sianosis perifer (terlihat pada kuku) atau sentral (terlihat
pada daun telinga dan bibir ) mengindikasikan beratnya hipoksemia.
d) Auskultasi bunyi napas, catat area penurunan aliran udara atau bunyi
tambahan.
Rasional: bunyi napas mungkin redup karena penurunan aliran udara .
krekels basah mengindikasikan terdapat cairan pada instertisial.
e) Palpasi fremitus
Rasional: penurunan getaran fibrasi diduga ada penggumpalan cairan
atau udara terjebak.
f) Awasi tingkat kesadaran status mental
Rasional: Gelisah dan ansietas adalah manifestasi klinis pada
hipoksia.
g) Bantu pernafasan dengan oksigen (nasal kanul atau masker, atau
intubasi dan ventilasi jika diperlukan)
Rasional: dapat memperbaikai/ mencegah memburuknya hipoksia.
Pemasangan instubasi merupakan upaya untuk penyelamatan hidup
karena kegagalan napas secara spontan.
h) Kolaborasi pemberian furosemid
Rasional: furosemid merupakan diuritik untuk membantu
mengeluarkan cairan di dalam paru-paru.

2. Kelebihan volume cairan b.d adanya penyerapan cairan irigasi yang


berlebihan
Tujuan :
Kelebihan volume cairan teratasi selama masa perawatan.
Kriteria Hasil :
- Odem paru (-), odema cerebral (-).
- Ansietas (-).
Hasil lab elektrolit:
- Na+ 135 – 145 mEq/L.
- K+ 3,5 – 5,0 mEq/L.
- Tanda vital: TD = 120/90 mmHg, nadi = 60 – 100 x/mnt.

Intervensi :
a) Pantau TTV
Rasioanal: peningkatan tekanan darah mengindikasikan bertambahnya
ciran di dalam pembuluh darah karena absorbsi cairan irigasi pada
vena-vena prostat, aritmia mengindikasikan ketidak stabilan Na serum
b) Pantau tanda dan gejala hiponatremi.
Rasional: Gejala hiponatremia adalah gelisah, bingung, inkoheren,
koma, dan kejang-kejang. Bila kadar Na di bawah 120 meq/liter,
terjadi hipotensi dan penurunan kontraktilitas otot jantung.
c) Batasi pemberian intake cairan ke dalam tubuh
Rasional: pembatasan cairan bermaksud menurunkan over load cairan
dalam tubuh.
d) Kolaborasi pemberian terapi diuretic.
Rasional: diuritik diberikan dengan maksud menarik over load cairan
didalam tubuh untuk dieksresikan melelui urin
e) Atasi hiponatremi dengan cairan hipertonik (NaCl 3% = 0.513
mmol/ml) sampai gejala hilang.
Rasional: cairan hipertonik membantu memperbaikai kurangnya
kadar Na serum

3. Perubahan perfusi jaringan serebral b.d peningkatan tekanan intracranial.


Tujuan :
Masalah perubahan perfusi jaringan serebral teratasi selama masa
perawatan.
Kriteria Hasil :
- Tidak ada tanda peningkatan TIK.
- Nyeri kepala, muntah proyektil, kaku kuduk, papil edema.
Intervensi :
a) Monitor dan catat status neurologis dengan menggunakan metode
GCS.
Rasional: Refleks membuka mata menentukan pemulihan tingkat
kesadaran. Respon motorik menentukan kemampuan berespon
terhadap stimulus eksternal dan indikasi keadaan kesadaran yang baik.
Reaksi pupil digerakan oleh saraf kranial oculus motorius dan untuk
menentukan refleks batang otak. Pergerakan mata membantu
menentukan area dan tanda awal peningkatan tekanan intracranial
adalah terganggunya abduksi mata.
b) Monitor tanda-tanda vital tiap 30 menit.
Rasional: Peningkatan sistolik dan penurunan diastolik serta
penurunan tingkat kesadaran dan tanda-tanda peningkatan tekanan
intrakranial. Adanya pernapasan yang irreguler indikasi terhadap
adanya peningkatan metabolisme sebagai reaksi terhadap infeksi.
c) Pertahankan posisi kepala yang sejajar dan tidak menekan.
Rasional: Perubahan kepala pada satu sisi dapat menimbulkan
penekanan pada vena jugularis dan menghambat aliran darah otak,
untuk itu dapat meningkatkan tekanan intrakranial.
d) Hindari batuk yang berlebihan, muntah, mengedan, pertahankan
pengukuran urin dan hindari konstipasi yang berkepanjangan.
Rasional: Dapat mencetuskan respon otomatik penngkatan
intrakranial.
e) Observasi kejang dan lindungi pasien dari cedera akibat kejang.
Rasional: Kejang terjadi akibat iritasi otak, hipoksia, dan kejang dapat
meningkatkan tekanan intrakrania.
f) Berikan oksigen sesuai dengan kondisi pasien.
Rasional: Dapat menurunkan hipoksia otak.
g) Kolaborasi dalam meberikan obat-obatan yang diindikasikan dengan
tepat dan benar
Rasional: Membantu menurunkan tekanan intrakranial secara biologi /
kimia seperti osmotik diuritik untuk menarik air dari sel-sel otak
sehingga dapat menurunkan udem otak, steroid (dexametason) untuk
menurunkan inflamasi, menurunkan edema jaringan. Obat anti kejang
untuk menurunkan kejang, analgetik untuk menurunkan rasa nyeri
efek negatif dari peningkatan tekanan intrakranial. Antipiretik untuk
menurunkan panas yang dapat meningkatkan pemakaian oksigen otak.

IV. Implementasi Keperawatan


Implementasi merupakan pelaksanaan dari rencana tindakan
keperawatan yang telah disusun / ditemukan, yang bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan pasien secara optimal dapat terlaksana dengan baik dilakukan oleh
pasien itu sendiri ataupun perawat secara mandiri dan juga dapat bekerjasama
dengan anggota tim kesehatan lainnya seperti ahli gizi dan fisioterapis.
Perawat memilih intervensi keperawatan yang akan diberikan kepada pasien.
(Patricia A. Potter 2005)

V. Evaluasi Keperawatan
1. Menunjukan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan yang adekuat
SpO2 98-100%.
Analisa gas darah:
- PaO2 80 – 100 mmHg.
- PaCO2 35 – 45 mmHg.
- pH 7,35 – 7,45.
Tidak ada tanda distress napas:
- RR= 12 – 20 x/mnt, flaring nostril (-), tracheal tug (-), intrekking (-).
2. Odem paru (-), odema cerebral (-).
Ansietas (-).
Hasil lab elektrolit:
- Na+ 135 – 145 mEq/L.
- K+ 3,5 – 5,0 mEq/L.
Tanda vital: TD = 120/90 mmHg, nadi = 60 – 100 x/mnt.
3. Tidak ada tanda peningkatan TIK.Nyeri kepala, muntah proyektil, kaku kuduk,
papil edema.
Daftar Pustaka

Brunner & Suddarth, 2001. keperawatan medical bedah edisi 8 vol


3. EGC.Jakarta.
Dongoes E.M.1999.Rencana asuhan keperawatan.edisi3.EGC.Jakarta.
Gravenstein D, Transurethral Resection of the Prostate (TURP) Syndrome: A
Review of the Pathophysiology and Management. Anest Analg. 1997; 84:
438-446.
Jensen V, The TURP syndrome (Continuing Medical Education). Can J Anaesth.
1991; 38:1; Page 90-97.
Micheal,Claybon.2012.TURP
Syndrome. http://anes.med.umich.edu/vault/1000944-turp.pdf