Vous êtes sur la page 1sur 39

ANALISIS JURNAL

“Probiotics And Vitamin C For The Prevention Of Respiratory Tract


Infections In Children Attending Preschool: A Randomised Controlled
Pilot Study”

OLEH:
KELOMPOK 6

PUTU CITRA ANJASMARA DEWI (1302106002)


MADE AYU WEDASWARI WIDYA (1302106080)
PUTU MAYA PRIHATNAWATI (1302106040)
DEWA AYU LYDIA CITRA DEWI (1302106089)
NI KADEK AMARA DEWI (1302106008)
NI MADE KARISMA WIJAYANTI (1302106032)
WAYAN SRI UTAMI DEWI (1502116069)
I GUSTI AYU ANGGA SUKMANITI (1302106081)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2018
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Lanjut usia (lansia) dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur
kehidupan manusia. Lanjut usia adalah bagian dari proses tumbuh kembang.
Manusia tidak secara tiba-tiba menjadi tua, tetapi berkembang dari bayi, anak-
anak, dewasa dan akhirnya menjadi tua (Lilik, 2011). UU No.13/Tahun 1998
tentang Kesejahteraan Lansia menyatakan bahwa lansia adalah seorang yang telah
mencapai usia lebih dari 60 tahun ke atas. Lanjut usia (lansia) adalah seseorang
yang telah mencapai masa usia 60 tahun keatas dengan kemampuan fisik dan
kognitifnya yang semakin menurun. World Health Organization (WHO)
menggolongkan lansia menjadi 4 yaitu usia pertengahan (middle age) adalah 45-
59 tahun, lanjut usia (elderly) adalah 60-74 tahun, lanjut usia tua (old) adalah 75-
90 tahun dan usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun (Nugroho, 2008).

Proporsi lansia terbesar saat ini berada di negara berkembang berbeda dengan
tahun-tahun sebelumnya yang menunjukkan bahwa negara maju merupakan
negara dengan proporsi lansia terbesar. Proporsi lansia di negara berkembang
tahun 2013 berjumlah 554 juta jiwa, sedangkan di negara maju berjumlah 287 juta
jiwa (Kemenkes RI, 2014). Proporsi penduduk lansia di Indonesia pada tahun
2012 sebesar 7,6% dan terus meningkat pada tahun 2013 mencapai 8,9% (BPS,
2010; Kemenkes RI, 2014). Proporsi penduduk lansia dari total populasi
diprediksi akan terus meningkat hingga tahun 2050 mencapai 21,4% (Kemenkes
RI, 2014). Peningkatan jumlah populasi lansia akan menimbulkan masalah-
masalah kesehatan pada usia lanjut. Lansia pada umumnya akan mengalami
gangguan visual, penurunan pendengaran, masalah kulit, hipertensi, osteoartritis,
osteoporosis, katarak senilis, diabetes mellitus tipe dua, penyakit jantung dan
gangguan mental (Potter & Perry, 2005). Peningkatan jumlah lansia juga akan
diiringi dengan peningkatan masalah kesehatan yang sering dikeluhkan oleh
lansia.

Salah satunya yaitu penyakit gagal jantung kongestif, penyakit gagal jantung
kongestif adalah kumpulan gejala klinis yang diakibatkan kelainan fungsional
ataupun strutural jantung yang menyebabkan ketidakmampuan pengisian
ventrikel serta ejeksi darah ke seluruh tubuh (Yancy et al, 2013).
Ketidakmampuan jantung dalma memompa darah ke seluruh tubuh ditadai
dengan tungkai bengkak, saat beraktifitas dan tidur tanpa bantal terjadi sesak
nafas, pernah atau belum didiagnosis menderita gagal jantug oleh dokter tetapi
mengalami gejala atau riwayat tersebut maka didefinisikan sebagai penyakit gagal
jantung (Riskesdas, 2013). Di negara industri dan negara berkembang, prevalensi
penyakit gagal jantung meningkat sesuai dengan meningkatnya usia harapan
hidup dan sebagai penyakit utama penyebab kematian (Bararah & Jauhar, 2013).
Sekitar 23 juta seluruh penduduk dunia mengalami gagal jantung dan
diperkirakan prevalensi akan terus meningkat hingga 46% pada tahun 20130
(Mozaffarian et al, 2015). Di indonesia kematian akibat penyakit gagal jantung
berdasarkan Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) tahun 2011 menempati
peringkat ke 3 setelah stroke hemoragik dan stroke non hemoragik. Dari 10 besar
kematian penyakit tidak menular di rawat inap rumah sakit seluruh Indonesia
menjadikan penyakit gagal jantung sebagai prioritas pertama program
pengendalian di Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementrian
Kesehatan (Pusdatin Kemenkes, 2012).

Penyakit gagal jantung kongestif dapat menurunkan kualitas hidup seseorang


serta mempengaruhi bidang ekonomi dan kesehatan (Ramani et al, 2010). Gagal
jantung secara signifikan menurunan kualitas hidup terkait kesehatan terutama di
bidang fungsi fisik dan vitalitas. Dukungan keluarga dalam pengobatan gagal
jantung dilakukan agar penderita merasa aman, nyaman dalam melakukan
aktivitas fisik, serta meningkatkan harapan hidupnya (Bararah & Jauhar, 2013).
Dukungan ini bisa berupa kehadiran yang mempengaruhi tingkah laku penerima
dukungan dan emmberi respon emosional. Menurut Friedman (2010), dukungan
keluarga bisa di berikan dalam beberapa bentuk dukungan informasional,
penilaian, instrumental dan emosional. Salah satu yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan kefektifan peran keluarga yaitu dengan pelatihan dukungan
keluarga. Oleh arena itu, kelompok tertarik untuk menganalisis jurnal “Pengaruh
pelatihan dan dukungan keluarga terhadap kualitas dan biaya readmissions rumah
sakit pada pasien gagal jantung kongestif di Iran”.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Adapun rumusan masalah dari analisis jurnal ini adalah “Bagaimana implikasi
intervensi pelatihan dan dukungan keluarga terhadap kualitas dan biaya
readmissions rumah sakit pada pasien gagal jantung kongestif di Iran ?”

1.3 TUJUAN

1.3.1 Tujuan Umum

Tujuan dari analisis jurnal ini adalah untuk mengetahui implikasi program
intervensi pelatihan dan dukungan keluarga terhadap kualitas dan biaya
readmissions rumah sakit pada pasien gagal jantung kongestif di Iran.

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Mengetahui pengaruh program intervensi pelatihan dan dukungan


keluarga terhadap kualitas dan biaya readmissions rumah sakit pada pasien
gagal jantung kongestif.
b. Mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman program
intervensi pelatihan dan dukungan keluarga terhadap kualitas dan biaya
readmissions rumah sakit pada pasien gagal jantung kongestif.
c. Mengetahui implikasi keperawatan program program intervensi pelatihan
dan dukungan keluarga terhadap kualitas dan biaya readmissions rumah
sakit pada pasien gagal jantung kongestif.

1.4 MANFAAT

1.4.1 Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis dari analisis jurnal ini antara lain sebagai berikut:

a. Hasil analisis jurnal ini diharapkan dapat digunakan sebagai


pengembangan teori dan ilmu pengetahuan khususnya ilmu
keperawatan mengenai program intervensi pelatihan dan dukungan
keluarga terhadap kualitas dan biaya readmissions rumah sakit pada
pasien gagal jantung kongestif.
b. Hasil analisis jurnal ini diharapkan dapat memberikan kerangka
pemikiran kepada mahasiswa selanjutnya untuk mengembangkan atau
mencari program-program kesehatan lain untuk meningkatkan
perawatan penyakit jantung kongestif.

1.4.2 Manfaat Praktis

Hasil analisis jurnal ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan kepada
perawat, instusi pelayanan kesehatan dan pihak-pihak lain yang terkait agar dapat
dimanfaatkan sebagai suatu teknik dalam meningkatkan pelatihan dan dukungan
keluarga terhadap kualitas hidup pada pasien gagal jantung kongestif.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Infeksi Saluran Napas Akut (ISPA)


2.1.1 Definisi ISPA
Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah infeksi saluran pernafasan akut
yang menyerang tenggorokan, hidung dan paru-paru yang berlangsung kurang
lebih 14 hari, ISPA mengenai struktur saluran di atas laring, tetapi
kebanyakan penyakit ini mengenai bagian saluran atas dan bawah secara
stimulan atau berurutan (Muttaqin, 2008).

ISPA adalah infeksi yang disebabkan mikroorganisme distruktur saluran nafas


atas yang tidak berfungsi untuk pertukaran gas, termasuk rongga hidung,
faring, dan laring, yang dikenal dengan ISPA antara lain pilek, faringitis
(radang tenggorokan), laringitis, dan influenza tanpa komplikasi (Elizabeth J.
Cormin, 2009). ISPA adalah infeksi saluran pernafasan yang berlangsung
sampai 14 hari yang dapat ditularkan melalui air ludah, darah, bersin maupun
udara pernafasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat
(Depkes RI, 2012).

Jadi, dapat disimpulkan bahwa ISPA adalah suatu tanda dan gejala akut akibat
infeksi yang terjadi disetiap bagian saluran pernafasan atau struktur yang
berhubungan dengan pernafasan yang berlangsung tidak lebih dari 14 hari.

2.1.2 Epidemologi
ISPA merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak-anak. Daya tahan
tubuh anak berbeda dengan orang dewasa karena sistem pertahanan tubuhnya
belum kuat. Apabila di dalam satu rumah seluruh anggota keluarga terkena
pilek, anak-anak akan lebih mudah tertular. Dengan kondisi tubuh anak yang
masih lemah, proses penyebaran penyakit pun menjadi lebih cepat. Dalam
setahun seorang anak rata-rata bisa mengalami 3 - 6 kali penyakit ISPA
(Suhandayani, 2007).
Di Indonesia, ISPA menempati urutan pertama penyebeb kematian pada
kelompok bayi dan balita. Berdasarkan data Survei Kesehatan Nasional 2001
menunjukkan bahwa proporsi ISPA sebagai penyebab kematian bayi adalah
27,6% sedangkan proporsi ISPA sebagai penyebab kematian anak balita
22,8%. Hasil survei Program P2 ISPA di 12 propinsi di Indonesia (Sumatera
Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan
Selatan, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi
Selatan, Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat) pada tahun 1993
diketahui bahwa jumlah angka kesakitan tertinggi karena ISPA, yaitu 2,9 per
1000 balita. Selama kurun waktu 2000- 2002, jumlah kasus ISPA terlihat
berflutuasi. Pada tahun 2000 terdapat 479.283 kasus (30,1%), tahun 2001
menjadi 620.147 kasus (22,6%) dan pada tahun 2002 menjadi 532.742 kasus
(22,1%) (Suhandayani, 2007).

2.1.3 Patofisologi

Terjadinya infeksi antara bakteri dan flora normal di saluran nafas. Infeksi
oleh bakteri, virus dan jamur dapat merubah pola kolonisasi bakteri. Timbul
mekanisme pertahanan pada jalan nafas seperti filtrasi udara inspirasi di
rongga hidung, refleksi batuk, refleksi epiglotis, pembersihan mukosilier dan
fagositosis. Karena menurunnya daya tahan tubuh penderita maka bakteri
pathogen dapat melewati mekanisme sistem pertahanan tersebut akibatnya
terjadi invasi di daerah - daerah saluran pernafasan atas maupun bawah
(Corwin, 2008).

2.1.4 Etiologi
Etiologi ISPA terdiri lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan riketsia. Bakteri
penyebab ISPA seperti : Diplococcus pneumonia, Pneumococcus,
Streptococcus hemolyticus, Streptococcus aureus, Hemophilus influenza,
Bacillus Friedlander. Virus seperti : Respiratory syncytial virus, virus
influenza, adenovirus, cytomegalovirus. Jamur seperti : Mycoplasma
pneumoces dermatitides, Coccidioides immitis, Aspergillus, Candida
albicans. Bakteri tersebut di udara bebas akan masuk dan menempel pada
saluran pernafasan bagian atas yaitu tenggorokan dan hidung. Biasanya
bakteri tersebut menyerang anak-anak yang kekebalan tubuhnya lemah.

Selain itu, penyebab ISPA menurut Wong (2008) antara lain :


1. Agen Infeksius
Saluran pernapasan merupakan subjek dari berbagai organism infeksius,
namun sebagian besar infeksi disebabkan oleh virus, terutama virus
sinsitial pernapasan (RSV). Agen lain yang terlibat dalam invasi primer
atau sekunder antara lain adalah streptokokus hemolitik-β grup A,
stafilokokus, haemophilus influenza, Chlamydiatrachomatis, mycoplasma
dan pneumokokus.
2. Usia
Bayi di bawah 3 bulan memiliki kecepatan infeksi lebih rendah yang
kemungkinan disebabkan oleh fungsi protektif dari antibodi maternal.
Kecepatan infeksi meningkat pada usia 3 sampai 6 bulan, waktu antara
hilangnya antibody maternal dan munculnya antibody bayi sendiri.
Kecepatan infeksi virus terus meningkat selama toddler dan usia
prasekolah. Pada saat anak mencapai usia 5 tahun, infeksi pernapasan
akibat virus cenderung jarang terjadi, namun insidensi mycoplasma
pnemuniae dan streptokokus β grup A mengalami peningkatan. Jumlah
jaringan limfoid meningkat selama masa kanak-kanak pertengahan dan
pajanan berulang terhadap organisme menyebabkan peningkatan imunitas
sejalan dengan bertambah besarnya anak.
3. Ukuran Tubuh
Perbedaan anatomik mempengaruhi respons terhadap infeksi saluran
pernapasan. Diameter jalan napas lebih kecil pada anak-anak yang masih
kecil dan merupakan subjek yang masuk akal untuk mengalami
penyempitan karena edema membrane mukosa serta peningkatan produksi
secret. Selain itu, jarak antarstruktur dalam traktus lebih pendek pada anak
kecil, oleh karena itu organism berpindah lebih cepat ke saluran
pernapasan bawah dan menyebabkan perluasan saluran yang terserang.
Tuba eustasius yang relative pendek dan terbuka pada bayi dan anak-anak
memungkinkan mudahnya kuman pathogen masuk ke telinga tengah.
4. Resistensi
Kemampuan untuk menahan masuknya organisme bergantung pada
beberapa faktor. Defisiensi system imun menyebabkan anak beresiko
mengalami proses infeksi. Kondisi lain yang menurunkan ketahanan
adalah malnutrisi, anemia, keletihan dan menggigil. Kondisi-kondisi yang
mempengaruhi saluran pernapasan akan melemahkan pertahanan anak dan
mencetuskan infeksi antara lain alergi (Rinitis alergika), asma, anomaly
jantung yang menyebabkan kongesti paru dan fibrosis kistik.
5. Perubahan Musim
Patogen saluran pernapasan paling banyak terjadi secara epidemi pada
musim dingin dan panas, namun infeksi mitoplasma terjadi lebih sering
pada musim semi dan awal musim dingin. Musim panas dan musim dingin
merupakan musim yang biasanya terjadi infeksi.

2.1.5 Manifestasi Klinis


Tanda-tanda penyakit ISPA menurut Wong (2008) antara lain :
1. Demam
Paling banyak terjadi pada usia 6 bulan sampai 3 tahun suhu dapat
mencapai 39,5oC sampai 40,5oC sekalipun pada infeksi normal. Demam
sering muncul sebagai tanda awal infeksi.
2. Meningismus
Tanda meningeal tanpa adanya infeksi pada meningens, biasanya
terjadi selama periodik bayi mengalami panas, gejalanya adalah nyeri
kepala, kaku dan nyeri pada punggung serta kuduk, terdapatnya
tanda kernig dan brudzinski.
3. Anoreksia
Anoreksia menjadi tanda awal adanya penyakit. Menurun atau
meningkatnya selama demam dari suatu penyakit.
4. Muntah
Dapat mendahului tanda-tanda lain selama beberapa jam biasanya hanya
sebentar namun dapat tetap selama sakit.

Gejala yang ditimbulkan akibat penyakit ISPA menurut Wong (2008) antara
lain :
a. Diare
Biasanya ringan, namun dapat menjadi berat. Sering disertai infeksi
pernapasan akibat virus. Dan sering menyebabkan dehidrasi.
b. Nyeri Abdomen
Spasme otot akibat muntah dapat menjadi salah satu faktor terutama pada
anak yang tegang dan gugup.
c. Hidung Tersumbat
Hidung anak kecil mudah tersumbat oleh pembengkakan mukosa dan
eksudasi. Dapat mempengaruhi pernapasan dan pemberian makan pada
bayi. Dapat menimbulkan otitis media dan sinusitis
d. Rabas Hidung
Encer dan berair (rinorea) atau kental dan purulen bergantung pada jenis
atau tahap infeksi. Berkaitan dengan rasa gatal dan dapat mengiritasi bibir
atas dan kulit sekitar hidung.
e. Batuk
Dapat terlihat hanya selama fase akut. Dapat tetap ada selama beberapa
bulan setelah penyakit.
f. Bunyi Napas
Serak, mendengkur, stridor, mengi, ronkhi kasar dan batuk.
g. Sakit Tenggorokan
Sering dikeluhkan oleh anak-anak yang lebih besar, sedangakn anak-anak
yang masih kecil mungkin tidak mengeluh bahkan ketika sudah sangat
terinfeksi. Anak sering menolak untuk minum atau makan secara oral.

Selain itu, tanda dan gejala bahaya pada anak golongan umur 2 bulan sampai 5
tahun adalah: tidak bisa minum, kejang, kesadaran menurun, stridor dan gizi
buruk, sedangkan tanda bahaya pada anak golongan umur kurang dari 2 bulan
adalah: kurang bisa minum (kemampuan minumnya menurun ampai kurang
dari setengah volume yang biasa diminumnya), kejang, kesadaran menurun,
stridor, Wheezing, demam dan dingin

2.1.6 Faktor Risiko


Faktor risiko timbulnya ISPA menurut Dharmage (2009) antara lain :
a) Faktor Demografi
Faktor demografi terdiri dari 3 aspek yaitu :
1. Jenis kelamin
Bila dibandingkan antara orang laki-laki dan perempuan, laki-lakilah
yang banyak terserang penyakit ISPA karena mayoritas orang laki-laki
merupakan perokok dan sering berkendaraan, sehingga mereka sering
terkena polusi udara.
2. Usia
Anak balita dan ibu rumah tangga yang lebih banyak terserang penyakit
ISPA. Hal ini disebabkan karena banyaknmya ibu rumah tangga yang
memasak sambil menggendong anaknya.
3. Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam
kesehatan, karena lemahnya manajemen kasus oleh petugas kesehatan
serta pengetahuan yang kurang di masyarakat akan gejala dan upaya
penanggulangannya, sehingga banyak kasus ISPA yang datang kesarana
pelayanan kesehatan sudah dalam keadaan berat karena kurang mengerti
bagaimana cara serta pencegahan agar tidak mudah terserang penyakit
ISPA.
b) Faktor Biologis
Faktor biologis terdiri dari 2 aspek yaitu
1) Status gizi
Menjaga status gizi yang baik, sebenarnya bisa juga mencegah atau
terhindar dari penyakit terutama penyakit ISPA. Misal dengan
mengkonsumsi makanan 4 sehat 5 sempurna dan memperbanyak minum
air putih, olah raga yang teratur serta istirahat yang cukup. Karena
dengan tubuh yang sehat maka kekebalan tubuh akan semakin menigkat,
sehingga dapat mencegah virus ( bakteri) yang akan masuk kedalam
tubuh.
2) Faktor rumah
Syarat-syarat rumah yang sehat menurut Suhandayani (2007) antara lain :
1. Bahan bangunan
a. Lantai: Ubin atau semen adalah baik. Syarat yang penting disini
adalah tdak berdebu pada musim kemarau dan tidak basah pada
musim hujan. Untuk memperoleh lantai tanah yang padat (tidak
berdebu) dapat ditempuh dengan menyiram air kemudian
dipadatkan dengan benda-benda yang berat, dan dilakukan berkali-
kali. Lantai yang basah dan berdebu merupakan sarang penyakit
gangguan pernapasan.
b. Dinding: Tembok adalah baik, namun disamping mahal tembok
sebenarnya kurang cocok untuk daerah tropis, lebih-lebih bila
ventilasinya tidak cukup. Dinding rumah di daerah tropis khususnya
di pedesaan lebih baik dinding atau papan. Sebab meskipun jendela
tidak cukup, maka lubang-lubang pada dinding atau papan tersebut
dapat merupakan ventilasi, dan dapat menambah penerangan
alamiah.
c. Atap Genteng: Atap genteng adalah umum dipakai baik di daerah
perkotaan maupun pedesaan. Disamping atap genteng cocok untuk
daerah tropis, juga dapat terjangkau oleh masyarakat dan bahkan
masyarakat dapat membuatnya sendiri. Namun demikian, banyak
masyarakat pedesaan yang tidak mampu untuk itu, maka atap daun
rumbai atau daun kelapa pun dapat dipertahankan. Atap seng
ataupun asbes tidak cocok untuk rumah pedesaan, di samping mahal
juga menimbulkan suhu panas didalam rumah.
d. Lain-lain (tiang, kaso dan reng)
Kayu untuk tiang, bambu untuk kaso dan reng adalah umum di
pedesaan. Menurut pengalaman bahan-bahan ini tahan lama. Tapi
perlu diperhatikan bahwa lubang-lubang bambu merupakan sarang
tikus yang baik. Untuk menghindari ini cara memotongnya barus
menurut ruas-ruas bambu tersebut, maka lubang pada ujung-ujung
bambu yang digunakan untuk kaso tersebut ditutup dengan kayu.
2. Ventilasi
Ventilasi rumah mempunyai banyak fungsi. Fungsi pertama adalah
untuk menjaga agar aliran udara di dalam rumah tersebut tetap segar.
Hal ini berarti keseimbangan O2 yang diperlukan oleh penghuni
rumah tersebut tetap terjaga. Kurangnya ventilasi akan menyebabkan
O2 (oksigen) didalam rumah yang berarti kadar CO2 (karbondioksida)
yang bersifat racun bagi penghuninya menjadi meningkat. Tidak
cukupnya ventilasi akan menyebabkan kelembaban udara didalam
ruangan naik karena terjadinya proses penguapan dari kulit dan
penyerapan. Kelembaban ini akan merupakan media yang baik untuk
bakteri-bakteri, patogen (bakteri-bakteri penyebab penyakit).

3. Cahaya
Rumah yang sehat memerlukan cahaya yang cukup, tidak kurang dan
tidak terlalu banyak. Kurangnya cahaya yang masuk kedalam ruangan
rumah, terutama cahaya matahari di samping kurang nyaman, juga
merupakan media atau tempat yang baik untuk hidup dan
berkembangnya bibit-bibit penyakit. Sebaliknya terlalu banyak cahaya
didalam rumah akan menyebabkan silau, dam akhirnya dapat
merusakan mata.
3) Faktor Polusi
Adapun penyebab dari faktor polusi terdiri dari 2 aspek yaitu :
a. Cerobong asap
Cerobong asap sering kita jumpai diperusahaan atau pabrik-pabrik
industri yang dibuat menjulang tinggi ke atas (vertikal). Cerobong
tersebut dibuat agar asap bisa keluar ke atas terbawa oleh angin.
Cerobong asap sebaiknya dibuat horizontal tidak lagi vertikal, sebab
gas (asap) yang dibuang melalui cerobong horizontal dan dialirkan ke
bak air akan mudah larut. Setelah larut debu halus dan asap mudah
dipisahkan, sementara air yang asam bisa dinetralkan oleh media
Treated Natural Zeolid (TNZ) yang sekaligus bisa menyerap racun
dan logam berat. Langkah tersebut dilakukan supaya tidak akan ada
lagi pencemaran udara, apalagi hujan asam. Cerobong asap juga bisa
berasal dari polusi rumah tangga, polusi rumah tangga dapat
dihasilkan oleh bahan bakar untuk memasak, bahan bakar untuk
memasak yang paling banyak menyebabkan asap adalah bahan bakar
kayu atau sejenisnya seperti arang
b. Kebiasaan merokok
Satu batang rokok dibakar maka akan mengelurkan sekitar 4.000
bahan kimia seperti nikotin, gas karbon monoksida, nitrogen oksida,
hidrogen cianida, ammonia, acrolein, acetilen, benzol dehide,
urethane, methanol, conmarin, 4-ethyl cathecol, ortcresorperyline dan
lainnya, sehingga di bahan kimia tersebut akan beresiko terserang
ISPA.
c. Faktor timbulnya penyakit
Lingkungan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
derajat kesehatan masyarakat, sehat atau tidaknya lingkungan
kesehatan, individu, keluarga dan masyarakat sangat tergantung pada
perilaku manusia itu sendiri. Disamping itu, derajat kesehatan juga
dipengaruhi oleh lingkungan, misalnya membuat ventilasi rumah yang
cukup untuk mengurangi polusi asap maupun polusi udara, keturunan,
misalnya dimana ada orang yang terkena penyakit ISPA di situ juga
pasti ada salah satu keluarga yang terkena penyakit ISPA karena
penyakit ISPA bisa juga disebabkan karena keturunan, dan dengan
pelayanan sehari-hari yang baik maka penyakit ISPA akan berkurang
dan kesehatannya sedikit demi sedikit akan membaik, dan pengaruh
mempengaruhi satu dengan yang lainnya.

2.1.7 Klasifikasi

Klasifikasi penyakit ISPA menurut Muttaqin (2008), dibedakan untuk golongan

umur di bawah 2 bulan dan untuk golongan umur 2 bulan-5 tahun antara lain :

a. Golongan Umur Kurang 2 Bulan


1. Pneumonia Berat
Bila disertai salah satu tanda tarikan kuat di dinding pada bagian bawah

atau napas cepat. Batas napas cepat untuk golongan umur kurang 2 bulan

yaitu 6x per menit atau lebih.

2. Bukan Pneumonia (batuk pilek biasa)


Bila tidak ditemukan tanda tarikan kuat dinding dada bagian bawah atau

napas cepat. Tanda bahaya untuk golongan umur kurang 2 bulan, yaitu

- Kurang bisa minum (kemampuan minumnya menurun sampai kurang


dari ½ volume yang biasa diminum)
- Kejang
- Kesadaran menurun
- Stridor
- Wheezing
- Demam / dingin
b. Golongan Umur 2 Bulan-5 Tahun
1. Pneumonia Berat
Bila disertai napas sesak yaitu adanya tarikan di dinding dada bagian
bawah ke dalam pada waktu anak menarik nafas (pada saat diperiksa anak
harus dalam keadaan tenang, tidak menangis atau meronta).

2. Pneumonia Sedang
Bila disertai napas cepat. Batas napas cepat ialah:

a. Untuk usia 2 bulan-12 bulan = 50 kali per menit atau lebih


b. Untuk usia 1-4 tahun = 40 kali per menit atau lebih.
3. Bukan Pneumonia
Bila tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah dan tidak ada
napas cepat. Tanda bahaya untuk golongan umur 2 bulan-5 tahun yaitu :

a) Tidak bisa minum

b) Kejang

c) Kesadaran menurun

d) Stridor

e) Gizi buruk

Klasifikasi ISPA menurut Depkes RI (2012) adalah :

1) ISPA ringan

Seseorang yang menderita ISPA ringan apabila ditemukan gejala batuk,


pilek dan sesak

2) ISPA sedang

ISPA sedang apabila timbul gejala sesak nafas, suhu tubuh lebih dari 390C
dan bila bernafas mengeluarkan suara seperti mengorok.

3) ISPA berat
Gejala meliputi: kesadaran menurun, nadi cepat atau tidak teraba, nafsu
makan menurun, bibir dan ujung nadi membiru (sianosis) dan gelisah.

2.1.8 Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan artinya memperoleh informasi tentang penyakit anak dengan


mengajukan beberapa pertanyaan kepada ibunya, melihat dan mendengarkan
anak. Hal ini penting agar selama pemeriksaan anak tidak menangis (bila
menangis akan meningkatkan frekuensi napas), untuk ini diusahakan agar
anak tetap dipangku oleh ibunya. Menghitung napas dapat dilakukan tanpa
membuka baju anak. Bila baju anak tebal, mungkin perlu membuka sedikit
untuk melihat gerakan dada. Untuk melihat tarikan dada bagian bawah, baju
anak harus dibuka sedikit. Tanpa pemeriksaan auskultasi dengan steteskop
penyakit pneumonia dapat didiagnosa dan diklassifikasi.

2.1.9 Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan Penunjang Beberapa klasifikasi dari ISPA membutuhkan
pemeriksaan penunjang seperti rinosinusitis, akan terlihat corakan bronkhial
pada penderita baru dan penebalan mukosa bagi yang sudah kronis pada
pemeriksaan radiologis, serta adanya peningkatan leukosit (> 20.000/mm3 ).
Pemeriksaan feses tidak mengandung bakteri patogen, parasit, lemak, dan
makanan yang belum dicerna (Short, Gray, Dodge, 2010).

2.1.10 Pencegahan
Menurut Depkes RI (2012) pencegahan ISPA antara lain:
a Menjaga kesehatan gizi agar tetap baik
Dengan menjaga kesehatan gizi yang baik maka itu akan mencegah kita
atau terhindar dari penyakit yang terutama antara lain penyakit ISPA.
Misalnya dengan mengkonsumsi makanan empat sehat lima sempurna,
banyak minum air putih, olah raga dengan teratur, serta istirahat yang
cukup, kesemuanya itu akan menjaga badan kita tetap sehat. Karena
dengan tubuh yang sehat maka kekebalan tubuh kita akan semakin
meningkat, sehingga dapat mencegah virus / bakteri penyakit yang akan
masuk ke tubuh kita. Dalam memperbaiki status gizi pada anak diperlukan
juga MP-ASI. MP-ASI adalah makanan atau minuman yang mengandung
zat gizi, diberikan kepada bayi atau anak usia 6-24 bulan guna memenuhi
kebutuhan gizi selain dari ASI (Depkes, 2006). MP-ASI merupakan
makanan peralihan dari ASI ke makanan keluarga. Menurut WHO
Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang dianggap baik adalah apabila
memenuhi beberapa kriteria hal berikut :
1. Waktu pemberian yang tepat, artinya MP-ASI mulai diperkenalkan
pada bayi ketika usianya lebih dari 6 bulan dan kebutuhan bayi akan
energy dan zat-zat melebihi dari apa yang didapatkannya melalui ASI.
2. Memadai, maksudnya adalah MP-ASI yang diberikan memberikan
energy, protein dan zat gizi mikro yang cukup untuk memenuhi
kebutuhan zat gizi anak.
3. Aman, makanan yang diberikan bebas dari kontaminasi
mikroorganisme baik pada saat disiapkan, disimpan maupun saat
diberikan pada anak.
Cara mempersiapkan makanan untuk bayi berumur 6 bulan ke atas:
1. Pisang/papaya
Pilih buah yang masak, dicuci, dikupas, dikerik halus dengan sendok

teh.

2. Tomat
Pilih tomat yang masak, dicuci, direndam dalam air mendidih, dibuang

kulitnya, disaring, diencerkan dengan air matang yang sama banyaknya

dan diberi sedikit gula.

3. Jeruk
Pilih jeruk yang manis lalu cuci, belah menjadi 2 potong kemudian

diperas dan disaring. Bila perlu tambahkan sedikit gula pasir.


4. Biskuit
Rendam biskuit dengan sedikit air matang.

5. Bubur Susu
Campurkan tepung beras 1-2 sdm dan gula pasir 1-2 sdm menjadi satu ,

tambahkan susu/santan 5 sdm yang sudah dicairkan dengan air 200 cc

sedikit-sedikit aduk sampai rata , kemudian masak di atas api kecil

sambil diaduk-aduk sampai matang.

6. Nasi Tim Campur


Buat bubur dari beras dan lauk hewani/nabati. Tambahkan sayur

cincang, garam, dan sedikit santan. Masak sampai matang.

b Imunisasi
Pemberian immunisasi sangat diperlukan baik pada anak-anak maupun
orang dewasa. Immunisasi dilakukan untuk menjaga kekebalan tubuh kita
supaya tidak mudah terserang berbagai macam penyakit yang disebabkan
oleh virus atau bakteri.
c Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan
Membuat ventilasi udara serta pencahayaan udara yang baik akan
mengurangi polusi asap dapur atau asap rokok yang ada di dalam rumah,
sehingga dapat mencegah seseorang menghirup asap tersebut yang bisa
menyebabkan terkena penyakit ISPA. Ventilasi yang baik dapat
memelihara kondisi sirkulasi udara (atmosfer) agar tetap segar dan sehat
bagi manusia. Bagi keluarga yang merokok diharapkan nanti sebelum
memasuki rumah rokok dimatikan di luar rumah, jikalau ingin menemui
anak dianjurkan untuk melakukan oral hygiene atau berkumur terlebih
dahulu.
d Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA

Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) ini disebabkan oleh virus/ bakteri
yang ditularkan oleh seseorang yang telah terjangkit penyakit ini melalui
udara yang tercemar dan masuk ke dalam tubuh. Bibit penyakit ini
biasanya berupa virus atau bakteri di udara yang umumnya berbentuk
aerosol (anatu suspensi yang melayang di udara). Adapun bentuk aerosol
yakni Droplet, Nuclei (sisa dari sekresi saluran pernafasan yang
dikeluarkan dari tubuh secara droplet dan melayang di udara), yang kedua
duet (campuran antara bibit penyakit).

Selain itu, cara pencegahan ISPA menurut level of prevention :


1. Pencegahan tingkat pertama (Primary Prevention)
Ditunjukan pada orang orang sehat dengan usaha peningkatan derajat kesehatan (
health promotion ) dan pencegahan khusus ( spesific protection ) terhadap
penyakit tertentu yaitu :
a) Penyuluhan, dilakukan oleh tenaga kesehatan dimana kegiatan ini dilakukan
dapat mengubah sikap dan perilaku masyarakat terhadap hal – hal yang dapat
meningkatkan faktor resiko penyakit ISPA. Kegiatan Penyuluhan ini dapat
berupa penyuluhan penyakit ISPA, penyuluhan asi esklusif, penyuluhan
imunisasi, penyuluhan gizi seimbang pada ibu dan anak, penyuluhan
kesehatan lingkungan, dan penyuluhan bahaya rokok.
b) Imunisasi yang meruppakan strategi spesifik untuk dapat mengurangi angka
kesakitan ISPA
c) Usaha dibidang gizi mengurangi malnutrisi
d) Program KIA menangani kesehatan ibu dan bayi berat badan lahir rendah
e) Program penyehatan lingkungan pemukiman (PLT) yang menangani masalah
polusi didalam maupun diluar rumah
2. Pencegahan tingkat kedua (Secondary Prevention)
Dalam penanggulangan ISPA dilakukan dengan upaya pengobatan dan diagnosis
sedini mungkin. Dalam pelaksanaan program P2 ISPA, seorang balita keadaan
penyakitnya termasuk dalam klasifikasi bukan pneumonia apabila ditandai
dengan batuk, serak, pilek, panas atau demam ( suhu tubuh lebih dari 370C) maka
dianjurkan untuk segera diberi pengobatan. Upaya pengobatan yang dilakukan
terhadap klasifikasi ISPA atau bukan pneumonia adalah tanda pemberian obat
antibiotik dan diberikan perawatan di rumah. Adapun beberapa hal yang perlu
dilakukan ibu untuk mengatasi anaknya yang menderita ISPA adalah :
a. Mengatasi demam
Untuk balita, demam diatasi dengan memberikan paracetamol atau dengan
kompres dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada air (tidak perlu air
es)
b. Meningkatkan pemberian ASI
Meningkatkan pemberian ASI pada anak sangat bermanfaat, ASI dapat
meningkatkan kekebalan tubuh anak sehingga mampu mengurangi risiko
ISPA. Teknik menyusui yang benar adalah cara memberikan ASI kepada
bayi dengan perlekatan dan posisi ibu dan bayi dengan benar (Saleha, 2009).
3. Pencegahan tingkat ketiga (Tertiary Prevention)
Tingkat pencegahan ini ditujukan kepada balita yang bukan pneumonia agar tidak
menjadi lebih parah (pneumonia) dan mengakibatkan kecacatan (pneumonia
berat) dan berakhir dengan kematian. Upaya yang dapat dilakukan pada
pencegahan penyakit bukan pneumonia pada bayi dan balita yaitu perhatikan
apabbila timbul gejala pneumonia seperti nafas menjadi sesak, anak tidak mampu
minum dan sakit menjadi bertambah parah, agar tidak bertambah parah bawalah
anak kembali pada petugas kesehatan dan pemberian perawatan yang spesifik di
rumah dengan memperhatikan asupan gizi dan lebih sering memberikan ASI.
2.1.11 Cara Penularan ISPA

Penularan penyakit ISPA dapat terjadi melalui udara yang telah tercemar dan
bibit penyakit yang masuk kedalam tubuh melalui pernafasan. Penyakit ISPA
ini termasuk golongan Air Borne Disease yaitu penularan melalui udara yang
terjadi tanpa kontak dengan penderita maupun dengan benda terkontaminasi.
Sebagian besar penularan melalui udara, namun dapat pula menular melalui
kontak secara langsung. Adanya bibit penyakit di udara umumnya berbentuk
aerosol yakni suatu suspensi yang melayang di udara, dapatseluruhnya berupa
bibit penyakit atau hanya ebagian daripadanya. Adapun bentuk aerosol dari
penyebab penyakit tersebut ada dua, yakni droplet nuclei dan dust. Droplet
nucleiadalah partikel yang sangat kecil sebagai sisa droplet yang mengering.
Pembentukannya dapat melalui berbagai cara, antara lain dengan melalui
evaporasi droplet yang dibatukkan atau yang dibersinkan ke udara. Droplet
nuclei juga dapat terbentuk dari aerolisasi materi-materi penyebab infeksi di
dalam laboratorium. Karena ukurannya yang sangat kecil, bentuk ini dapat
tetap berada di udara untuk waktu yang cukup lama dan dapat diisap pada
waktu bernafas dan masuk ke alat pernafasan (Erlien, 2008).
2.1.12 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan untuk mengatasi penyakit ISPA antara
lain (Erlien, 2008):
a. Non farmakologi
1) Pilek
Jika anak pilek, lubang hidung harus dibersihkan dari ingus agar anak
dapat bernapas dengan lancar. Hati-hati dalam membersihkan hidung,
jangan sampai hidung terluka.
2) Demam
Jika anak demam, dapat dilakukan dengan cara :
a. Kompres
- Ambil secarik kain bersih (misal sapu tangan)
- Sediakan air dingin yang bersih.
- Celupkan kain dalam air sampai basah, lalu peras agar tidak terlalu
basah.
- Tempelkan kain pada dahi dan kepala anak, tapi jangan sampai
menutupi mata dan muka anak.
- Demikian seterusnya sampai demam berkurang.
b. Cukup minum, karena demam menyebabkan anak kekurangan
cairan tubuh.
c. Menggunakan pakaian tipis tidak ketat dan selimut tipis.
d. Istirahat yang cukup untuk menurunkan kebutuhan metabolik tubuh.
3) Kebutuhan gizi
Jika anak masih disusui hendaknya disusui secukupnya. Jika anak
sudah mendapat makanan padat hendaknya diberi makanan yang
cukup bergizi, yaitu: protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral.
b. Farmakologi
1) Demam
- Anak umur > 6 bulan, 3 x sehari 1/16 tablet paracetamol dari 500 mg (atau 3
x ¼ sendok the sirup paracetamol)
- Anak umur 6 bulan – 1 tahun, 3 x sehari 1/8 tablet paracetamol dari 500 mg
(atau 3 x ½ sendok the sirup paracetamol)
- Anak umur 1 tahun – 3 tahun, 3 x sehari ¼ tablet paracetamol dari 500 mg
(atau 3 x 1 sendok the sirup paracetamol)
- Anak umur 3 tahun – 5 tahun, 3 x sehari ½ tablet paracetamol dari 500 mg
(atau 3 x 2 sendok the sirup paracetamol)
2) Batuk
Pereda batuk yang mengandung dekstrometorfan dapat diberikan untuk
batuk kering. Beberapa preparat mengandung alcohol sampai 22 %,
preparat ini tidak boleh diberikan secara kontinu d an harus dijauhkan dari
jangkauan anak-anak.
3) Dekongestan, antihistamin dan supresan batuk dapat mengurangi beberapa
gejala yang mengganggu.
4) Mengkonsumsi vitamin c dapat menurunkan tingkat keparahan atau
kemungkinan infeksi beberapa virus tertentu (Elizabeth J.Cormin, 2009)
BAB 3
RINGKASAN JURNAL

Judul Jurnal: “Probiotics And Vitamin C For The Prevention Of Respiratory Tract
Infections In Children Attending Preschool: A Randomised Controlled Pilot Study”

Ringkasan:

Infeksi saluran pernafasan pada anak-anak merupakan beban perawatan kesehatan


yang melibatkan tidak hanya biaya perawatan medis tetapi juga yang terjadi karena
kesibukan orang tua saat bekerja. Anak-anak prasekolah tiga kali lebih mungkin
untuk menderita infeksi dibandingkan tinggal di rumah karena tingkat transmisi yang
tinggi dalam fasilitas tersebut. Infeksi saluran pernapasan dapat terjadi di saluran
pernapasan atas atau bawah yang mempengaruhi sinus, tenggorokan, saluran udara
atau paru-paru. Strategi alternatif untuk pencegahan infeksi pernapasan pada anak-
anak yang prasekolah sangat di perlukan. Bukti menunjukkan bahwa suplementasi
dengan probiotik dapat mencegah infeksi saluran pernafasan atas (ISPA). Probiotik
didefinisikan sebagai mikroorganisme hidup yang bila diberikan dalam jumlah yang
cukup memberi manfaat kesehatan pada inang. Beberapa penelitian yang
menggunakan probiotik saja untuk anak-anak yang prasekolah telah menunjukkan
penurunan yang signifikan dalam insidensi dan durasi URTIs7-11. Meta-analisis hasil
dari suplementasi dengan vitamin C juga menunjukkan efek menguntungkan pada
durasi gejala flu biasa pada anak-anak. Vitamin C juga telah ditunjukkan untuk
menghambat respon sitokin pro-inflamasi dalam monosit dan limfosit yang
diekstraksi dari orang dewasa yang sehat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
menyelidiki dampak dari konsorsium probiotik dalam kombinasi dengan vitamin C
pada kedua kejadian dan durasi infeksi pernapasan dan menilai perubahan imunologi
dan metabolik yang terkait pada anak-anak.

Sebanyak 69 anak yang sehat (3-6 tahun) prasekolah di Slovakia direkrut ke dalam
penelitian. Informed consent tertulis diperoleh dari orang tua atau wali hukum
sebelum berpartisipasi dalam penelitian. Desain studi dan intervensi Sebuah studi
terkontrol plasebo, double-blinded dilakukan secara acak. Studi intervensi dilakukan
selama 6 bulan, anak-anak menerima setiap hari baik satu tablet kunyah yang
mengandung konsorsium probiotik yang terdiri dari dua strain Lactobacillus
acidophilus CUL21 (NCIMB 30156) dan CUL60 (NCIMB 30157), Bifidobacterium
bifidum CUL20 (NCIMB 30153) dan Bifidobacterium animalis subsp lactis CUL34
(NCIMB 30172) dan 50mg vitamin C pada dasar xylitol atau tablet plasebo yang
terlihat identik yang mengandung xylitol (Cultech Ltd) Port Talbot, UK). Kepatuhan
dinilai dengan memantau jumlah tablet yang dikembalikan. Anak-anak diperiksa oleh
dokter pediatrik termasuk riwayat alergi. Berat badan dan tinggi badan diukur
menggunakan penimbangan dan pengukuran digital dengan perhitungan indeks massa
tubuh otomatis (kg / m2). Orang tua atau wali memasukkan tanda dan gejala pada
diary mingguan yang memantau suhu, pilek, sakit tenggorokan, batuk, dada mengi,
sakit telinga, diare, muntah, sakit perut, absen dari prasekolah, resep antibiotik,
kunjungan dokter, rawat inap dan obat apa pun yang diambil selama periode
intervensi. Pada awal dan akhir studi, mereka menyelesaikan diet yang dirancang dan
kuesioner pola aktivitas fisik yang terdiri dari 3 pertanyaan tentang pola makan dan
minum, 12 pertanyaan tentang asupan berbagai makanan dan 3 pertanyaan yang
berkaitan dengan aktivitas fisik. Kuesioner dinilai menggunakan sistem penilaian,
dan skor ringkasan pada awal dan setelah selesainya penelitian dibandingkan. Selama
periode intervensi, anak-anak diperiksa oleh dokter anak pada janji yang dijadwalkan
2, 4 dan 6 bulan atau selama kunjungan yang tidak terjadwal yang dihasilkan dari
URTI, LRTI atau penyakit lainnya. Anak-anak yang menerima kombinasi Lab4 /
vitamin C memiliki lebih sedikit hari absen dari sekolah dan kunjungan tak terjadwal
ke dokter anak, menunjukkan bahwa suplementasi gabungan dapat mengurangi
keparahan infeksi. Lebih sedikit anak yang menerima suplemen diobati dengan
antibiotik oral yang serupa dengan yang terlihat pada penelitian probiotik lainnya dan
ada pengurangan signifikan dalam jumlah hari yang digunakan obat batuk yang
menyoroti potensi manfaat sosio-ekonomi yang terkait dengan suplemen kombinasi.
BAB 4
PEMBAHASAN

4. 1 Critical Appraisal

NO PROSES PERTIMBANGAN DALAM MENGKRITISI ARTIKEL


PENELITIAN

1 JUDUL  Judul artikel jelas dan akurat yaitu“Probiotics and vitamin C


for the prevention of respiratory tract infections in children
attending preschool: a randomised controlled pilot study ”dan
judul mencerminkan isi artikel mengenai pengaruh probiotik
dan vitamin c terhadap pencegahan infeksi pada anak-anak.
2 PENULIS  Penulis artikel ini adalah Garaiova1, J Muchová, Z Nagyová,
D Wang, JV Li, Z Országhová, DR Michael, SF Plummer1
and Z Ďuračková
 Spesifikasi dari pernulis sudah sesuai dengan artikel yang
dibahas
3 WAKTU  Penulis tidak mencantumkan waktu yang di mulai penelitian
hanya mencatumkan waktu selama intervensi yaitu 6 bulan.
 Penelitian dipublikasikan pada 10 September 2014
4 JURNAL  Bukan merupakan jurnal keperawatan, jurnal di terbitkan oleh
European Journal of Clinical Nutrition (2015)
5 ABSTRAK  Abstrak jurnal sudah menampilkan latar belakang, tujuan,
metodologi, hasil, dankesimpulan. Jurnal ini sudah
menampilkan tujuan khusus yang ingin dicapai penulis. Selain
itu penulis tidak menampilkan hipotesa, serta rekomendasi
yang nantinya penting untuk penulis lain apabila ingin
mengembangkan penelitian ini.
 Fokus dari jurnal ini cukup jelas, dimana penulis
inginmenguji pengaruh probiotik dan vitamin c untuk
mencegah infeksi saluran pernapasan pada anak pra sekolah
6 IDENTIFIKASI  Permasalahan dalam jurnal ini adalah untuk mengevaluasi dan
MASALAH menguji pengaruh prebiotik dan vitamin c untuk menurunkan
kejadian infeksi saluran pernafasan atas maupun bawah. anak-
anak menerima setiap hari baik satu tablet kunyah yang
mengandung konsorsium probiotik yang terdiri dari dua strain
Lactobacillus acidophilus CUL21 (NCIMB 30156) dan
CUL60 (NCIMB 30157), Bifido bacterium bifidum CUL20
(NCIMB 30153) dan Bifido bacterium animalissubsplactis
CUL34 (NCIMB 30172) dan 50 mg vitamin C padadasar
xylitol atau tablet plasebo yang terlihat identik yang
mengandung xylitol (Cultech Ltd) Port Talbot, UK).
Kepatuhan adalah dinilai dengan memantau jumlah tablet
yang dikembalikan.
7 FORMULASI  Penulis mencantumkan rasional tentang alasan mengapa hasil
PERTANYAAN studi ini layak untuk diterapkan, seperti mencantumkan
ATAU penelitian terdahulu yang dapat dijadikan perbandingan dalam
HIPOTESA penelitian ini.
 Jurnal ini sudah mencantukan tujuan penelitian yang ingin
dicapai dari penelitian ini. Jurnal tidak mencantumkan
hipotesis.
8 KAJIAN  Dalam jurnal ini penulis mencerminkan pemahamannya
PUSTAKA terhadap subjek yang diteliti yaitu terkait
 Penulis menggunakan sumber pustaka yang cukup relevan
yaitu sebagian besar sumber terbit dalam jangka waktu 10
tahun terakhir (2004-2015). Walaupun terdapat beberapa
sumber yang digunakan lebih dari 10 tahun namun sumber
tersebut dalam jurnal tersebut masih terkait dengan topic
bahasan dan digunakan sebagai data pelengkap dari sumber
lain yang terbit 10 tahun terakhir.
 Penulis tidak hanya menampilkan kumpulan kutipan langsung
dari penelitian terdahulu namun juga mengkolaborasikannya
dengan penelitian yang dilakukan penulis. Penulis mengkritisi
perbedaan penelitiaanya dan penelitian terdahulu dari system
dan hasil yang diperoleh.

9  METODOLOGI
RANCANGAN  Dalam jurnal ini tidak dijelaskan lebih lanjut mengenai jenis
rancangan penelitian yang digunakan.

ALAT UKUR  Kuesioner di nilai menggunakan system penilaian, dan skor


ringkasan pada awal dan setelah selesainya penelitian
dibandingkan. Selama periode intervensi, anak-anak diperiksa
oleh dokter anak pada janji yang dijadwalkan 2, 4 dan 6 bulan
atau selama kunjungan yang tidak terjadwal yang dihasilkan
dari URTI, LRTI atau penyakit lainnya
SAMPEL  Cara peneliti memilih sampel anak praskolah sebanyak 69 ana
ksehat (3-6 tahun) Informed consent tertulis diperolehdari
orang tua atau wali hokum sebelum berpartisipasi dalam
penelitian
 Penulis mencantumkan cara pemilihan sampel yaitu secara
acak, namun penulis tidak menjelaskan secara lebih lengkap
terkait proses pemilihan sampel.Studi intervensi dilakukan
selama 6 bulan.
ETIK  Dalam jurnal, dijelaskan bahwayang dijadikan responden
adalahanakprasekolah(3-6 tahun) dan orang tua atau wali
hukum sudah menandatangani informed consent.
 Dalam jurnal sudah disetujui oleh Komite Etika Departemen
Perawatan Kesehatan dan Farmasi Manusia, Trnava, Slovakia
(16/09/2010)danterdaftar dengan Percobaan Terkini Saat Ini
(ISRCTN28722693).
RELIABILITAS  Dalam penelitian ini menggunakan instrument berupa alat
& VALIDITAS ukur kuisioner penulis tidak menampilkan secara rinci terkait
uji kelayakan alat ukur.
10 PILOT STUDY  Desain studi dan intervensi sebuah studi terkontrol plasebo,
double-blinded dilakukan secara acak.
11  PENELITIAN UTAMA
HASIL  Dalam jurnal ini, hasil penelitian ditampilkan dalam bentuk
persentase dalam tabel.
 Rasional ditampilkan, karena di result telah dijelaskan lebih
dalam mengenai data terkait penelitian.
DISKUSI/  Diskusi hasil penelitian dapat dipahami, karena di diskusi
REKOMENDASI penulis sudah mencantumkan hasil penelitiannya, tidak hanya
hasil penelitian sendiri tapi juga hasil penelitian dari pendapat
peneliti yang lainnya.
 Penulis tidak menampilkan rekomendasi yang spesifik dalam
penelitiannya.Penulis hanya merekomendasikan agar
melakukan penelitian dalam populasi yang lebih besar.
 Dalam jurnal penulis tidak mencantumkan keterbatasan
penelitian yang ditemui.
 Dalam jurnal penulis tidak menampilkan saran bagi peneliti
selanjutnya
 Dalam jurnal peneliti menjelaskan pada diskusi terkait dengan
manfaat kombinasi probiotik dan vitamin c untuk menurunkan
kejadian infeksi saluran pernafasan atas maupun bawah pada
anak prasekolah
KESIMPULAN  Suplementasi dengan konsorsium probiotik yang terdiri dari
L. acidophilus CUL21 dan CUL60, Bifidobacterium bifidum
CUL20, Bifidobacterium animalis subsp. lactis CUL34 dan
vitamin C dapat menyediakan strategi untuk mengurangi
kejadian URTI di usia 3-6 tahun anak-anak prasekolah. Hasil
ini menggembirakan dan perlu dikonfirmasi dalam populasi
penelitian yang lebih besar.

4. 2 Analisis SWOT
1. Strength (S)
a. Probiotik dan vitamin C dikenal mampu untuk meningkatkan system imun
dan kombinasi keduanya mampu meningkatkan respon imun terhadap
berbagai jenis infeksi termasuk infeksi yang dapat menyerang saluran
pernapasan (Johnson, 2012)
b. Hasil penelitian menemukan bahwa anak pra sekolah yang mendapatkan
suplemen kombinasi probiotik Lab4 (Lactobacillus acidophilus,
Bifidobacterium bifidum, Bifidobacterium animalis susb. Lactis) dan
vitamin C selama 6 bulan, menunjukkan penurunan insiden Infeksi Saluran
Napas Atas (ISPA) secara signifikan (Garaiova, 2015)
c. Anak yang mendapatkan kombinasi prebiotic Lab4/vitamin C mengalami
absen lebih sedikit dari kegiatan pra sekolah yang dijalani dan angka
kunjungan tak terjadwal yang lebih rendah karena suplemen tambahan
mampu mengurangi risiko kejadian infeksi pada anak pra sekolah
(Garaiova, 2015)
d. Penelitian Hosjak (2010) menemukan bahwa Lactobacillus casei,
Lactobacillus rhamnosus dengan atau tanpa kombinasi dengan
Bifidobacterium animalis sp dikombinasikan dengan vitamin C dosis rendah
dapat mengurangi gejala flu yang dialami.
2. Weakness (W).
a. Berdasarkan hasil analisis dan hasil penelitian West (2011), pemberian
probiotik dan vitamin C memberikan peningkatan kepada system imun basal
lebih tinggi pada subjek berjenis kelamin laki-laki, namun belum ditemukan
penelitian lebih lanjut mengenai efektifitas pemberian kepada jenis kelamin
perempuan secara mengkhusus.
3. Opportunity (O)
a. Anak-anak yang mengikuti kegiatan pra sekolah seperti playgroup, tiga kali
lipat lebih berisiko mengalami infeksi saluran nafas atas dibandingkan anak-
anak yang selalu di rumah sepanjang hari yang diakibatkan oleh tingginya
kontak dengan fasilitas yang memiliki bakteri atau virus, sehingga strategi
alternatif untuk pencegahan ISPA pada anak pra sekolah sangat diperlukan.
b. Pemberian kombinasi Lab4/Vitamin C untuk meningkatkan imunitas anak
usia pra sekolah merupakan salah satu tugas mandiri perawat yang termasuk
ke dalam NIC : Infection Protection dengan tindakan yaitu memberikan
agen yang dapat meningkatkan imunitas klien, sehingga sangat mungkin
diterapkans secara mandiri oleh perawat (Doctherman & Bulecheck, 2008)

4. Treath (T)
a. Penggunakan tablet kunyah yang mengandung Lactobacillus acidophilus,
Bifidobacterium bifidum, Bifidobacterium animalis susb. Lactis yang
dikombinasikan dengan 50mg vitamin C masih sangat jarang di lakukan
serta produksinya masih belum diketahui, sehingga penerapan pemberian
probiotik dan vit C ini akan menjadi sulit untuk dilakukan di Indonesia
khususnya.
4.2 Implikasi Keperawatan

Pada jurnal penelitian Probiotics and vitamin C for the prevention of respiratory
tract infections in children attending preschool: a randomised controlled pilot
study dilakukan pemberian tablet kunyah yang mengandung konsorsium probiotik
Lab4 yang terdiri dari dua strain Lactobacillus acidophilus CUL21 (NCIMB
30156) dan CUL60 (NCIMB 30157), Bifidobacterium bifidum CUL20 (NCIMB
30153) dan Bifidobacterium animalis subsp. lactis CUL34 (NCIMB 30172) pada
total 1,25 × 1010 colonyforming unit (Lactobacillus sp. 1 × 1010 dan
Bifidobacterium sp. 0,25 × 1010) dan 50 mg vitamin C pada dasar xylitol atau
plasebo yang terlihat identik tablet yang mengandung xylitol (Cultech Ltd, Port
Talbot, UK) setiap harinya kepada anak-anak selama 6 bulan. Hasil penelitian
menunjukkan suplementasi dengan konsorsium probiotik yang terdiri dari L.
acidophilus CUL21 dan CUL60, Bifidobacterium bifidum CUL20, Bifidobacterium
animalis subsp. lactis CUL34 dan vitamin C dapat menyediakan strategi untuk
mengurangi kejadian infeksi saluran pernafasan di usia 3-6 tahun. Pemberian Probiotik
dan Vitamin C akan membantu meningkatkan daya tahan tubuh anak sehingga
lebih rendah risiko nya terinfeksi virus yang menyebabkan infeksi saluran nafas.

Menurut riskesdas (2014) kejadian infeksi saluran nafas pada anak memiliki
pravelensi yang tinggi. Infeksi saluran nafas disebabkan oleh lingkungan yang
tidak bersih serta daya tahan tubuh anak yang rendah (Nasution Shahrullah,
Brohet, Wibisana, .. & Endryarmi, 2016). Di Indonesia upaya pencegahan infeksi
saluran nafas adalah dengan mengetahui penyakit ISPA, mengatur pola makan
anak menciptakan lingkungan yang nyaman, dan menghindar faktor pencetus
(Andarmoyo, 2012). Selain itu status imunisasi dasar yang lengkap juga
merupakan salah satu pencegahan infeksi saluran pernafasan pada anak
(Damanik, Siregar, & Aritonang, 2014).

Di Indonesia pemberian probiotik dan Vitamin C sebagai upaya pencegahan


infeksi saluran nafas pada anak belum diterapkan. Pencegahan infeksi saluran
nafas pada anak di Indonesia khususnya Bali masih terfokus pada pengoptimalan
status gizi anak, kebersihan lingkungan, status imunisasi serta menghindari
faktor-faktor pencetus. Penerapan pemberian vitamin C dan prebiotic pada anak
memiliki kemungkinan yang besar untuk diterapkan mengingat kejadian infeksi
saluran nafas pada anak masih tinggi selain itu saat ini masyarakat mulai memiliki
perhatian lebih terhadap kesehatan terutama kesehatan anak. Dengan pemberian
vitamin C dan prebiotic pada anak akan berdampak sangat baik, dimana dengan
pemberian vitamin C dan prebiotic menjadikan anak memiliki daya tahan tubuh
yang lebih baik sehingga akan lebih sulit terinfeksi virus. Dampak positif juga
akan dirasakan oleh para orang tua, anak yang rentan terpapar virus infeksi
saluran nafas akan lebih terlindungi dengan pemberian vitamin C dan prebiotic.
Selain itu, dengan pemberian vitamin C dan prebiotic juga akan berdampak pada
turunnya pravelensi kejadian infeksi saluran nafas pada anak. Namun
diperlukannya pengkajian lebih lanjut kembali mengenai jenis prebiotic yang
sesuai diberikan kepada anak serta dosis vitamin C yang tepat untuk diberikan
pada anak. Sehingga intervensi ini efektif dan efisien dapat dilaksanakan
BAB 5
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Infeksi saluran pernafasan pada anak-anak merupakan penyakit penyakit pada


anak yang berkaitan dengan kesibukan dan membutuhkan perawatan medis yang
tinggi. Anak-anak prasekolah tiga kali lebih mungkin untuk menderita infeksi
dibandingkan tinggal di rumah karena tingkat transmisi yang tinggi di sekolah.

Penelitian menunjukan kombinasi prebiotik dan Vitamin C dinyatakan mampu


mengurangi angka kejadian ISPA pada anak. Hasil penelitian menunjukan
pemberian probiotik dapat mencegah infeksi saluran pernafasan atas (ISPA).
Sementara vitamin C menunjukan efek dalam mengurangi durasi flu pada anak.
Karena vitamin C menghambat respon sitokin pro-inflamasi dalam monosit dan
limfosit yang mampu meningkatkan daya tahan tubuh.

5.2 Saran

a. Penelitian ini disarankan untuk digunakan sebagai salah satu refrensi dalam
keperawatan keluarga terhadap pencegahan ISPA pada anak
b. Penelitian ini juga disarankan untuk dilakukan kepada perawat, instusi
pelayanan kesehatan dan pihak-pihak lain yang terkait agar dapat
dimanfaatkan sebagai salah satu bentuk perawatan non farmakologi dalam
pencegahan ISPA pada anak
c. Penelitian dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan penelitian selanjutnya
dalam pembandingkan penggunaan vitamin C dan prebiotik dengan terapi
farmakologi pada anak dengan ISPA.
DAFTAR PUSTAKA

Andarmoyo, S. (2012). Keperawatan Keluarga Konsep Teori, Proses dan Praktik


Keperawatan.Graha Ilmu. Jakatra

Bomar, P. J. (2004). Promoting Health in Families: Applying Familu Research and


Theory to Nursing Practice. Philadelphia: W. B. Sounders Company.

Corwin. (2008). Buku Saku Patofisiologi Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC.

Damanik, P., Siregar, M. A., & Aritonang, E. Y. (2014). Hubungan Status Gizi,
Pemberian ASI Eksklusif, Status Imunisasi Dasar dengan Kejadian Infeksi
Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Anak Usia 12-24 Bulan di Wilayah
Kerja Puskesmas Glugur Darat Kota Medan. Gizi, Kesehatan Reproduksi dan
Epidemiologi, 1(4).

Depkes RI. (2012). Buletin Jendela Epidemiologi Pneumonia Balita. Jakarta: Depkes
RI.

Dharmage. (2009). Risk Factor of Acute Lower Tract Infection in Children Under
Five Years of Age. Medical Public Health.

Doctherman J. M., Bulecheck G. N. 2008. Nursing Intervention Classification (NIC)


Fifth Edition. USA : Mosby.

Elizabeth J,C. (2009). Buku Saku Patofisiologi Corwin. Jakarta: Aditya Media.

Erlien. (2008). Penyakit Saluran Pernapasan. Jakarta: Sunda Kelapa Pustaka.

Garaiova, I., Muchová, J., Nagyová, Z., Wang, D., Li, J. V., Országhová, Z., &
Ďuračková, Z. (2015). Probiotics and vitamin C for the prevention of
respiratory tract infections in children attending preschool: a randomised
controlled pilot study. European journal of clinical nutrition, 69(3), 373.
Garaiova, Muchova J, Nagyova Z, Wang D, Li JV, et al. 2015. Probiotics and
vitamin C for the prevention of respiratory tract infections in children attending
preschool: a randomized controlled pilot study. Eroupean Journal of Clinical
Nutrition. 69: 373-379.
Hojsak I, Snovak N, Abdović S, Szajewska H, Misak Z, Kolacek S. 2010.
Lactobacillus GG in the prevention of gastrointestinal and respiratory tract
infections in children who attend day care centers: a randomized, double-blind,
placebo-controlled trial. Clin Nutr. 29: 312–316.
Johnson CL, Versalovic J. 2012. The human microbiome and its potential importance
to pediatrics. Pediatrics. 129: 950–960.
Muttaqin. (2008). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Pernafasan. Jakarta: Penerbit Salemba Medika.

Nasution, K., Sjahrullah, M. A. R., Brohet, K. E., Wibisana, K. A., Yassien, M. R.,
Ishak, L. M., ... & Endyarni, B. (2016). Infeksi saluran napas akut pada balita
di daerah urban Jakarta. Sari pediatri, 11(4), 223-8.

Riskesdas. (2015). Profil Kesehatan RI Tahun 2015. Kementrian Kesehatan Republik


Indonesia

Short, J. R., Gray, O. . & Dodge, J. (2010). Ikhtisar Penyakit Anak Jilid 2. 148– 152.
Jakarta: Binarupa Aksara.

Suhandayani. (2007). Infeksi Saluran Pernafasan Akut dan Penanggulangannya.


Medan: Universitas Sumatera Utara.
West NP, Pyne DB, Cripps AW, Hopkins WG, Eskesen DC, Jairath A et al. 2011.
Lactobacillus fermentum (PCC) supplementation and gastrointestinal and
respiratory-tract illness symptoms: a randomised control trial in athletes. Nutr
J. 10: 30.

Wong, D. (2008). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC.