Vous êtes sur la page 1sur 5

A.

Trauma Tulang Toraks


Cedera iga, klavikula, scapula, sternum, dan tulang belakang bisa
terjadi bahkan oleh trauma tumpul. Fraktur tulang belakang toraks terjadi
sekitar 16%-30% dari keseluruhan cedera tulang belakang dan dapat
menyebabkan gangguan neurologi yang berat pada hampir 60% pasien.1
1. Gambaran Klinis
Diagnosis patah tulang ditentukan berdasarkan gejala dan tanda
nyeri local. Nyerinya berupa nyeri lokal dan kompresi kiri-kanan,
muka-belakang, dan nyeri pada gerak nafas. Jika terjadi patah tulang
iga multiple, biasanya dinding toraks tetap stabil. Akan tetapi, bila
beberapa iga mengalami patah tulang pada dua tempat, suatu segmen
dinding dada akan terlepas dari kesatuannya.2
2. Pemeriksaan Radiologis
Radiografi tulang belakang torakal dilakukan untuk menilai tulang
belakang torakal, namun akan lebih optimal jika ditambah dengan foto
frontal dan lateral dari dada, ataupun ditambah dengan CT Scan. Tujuh
puluh persen hingga 90% fraktur tulang belakang dapat dilihat dengan
radiografi konvensional. Yang dinilai adalah disrupsi korteks, ukuran
vertebra yang abnormal, bentuk, densitas, dan lokasi. CT dan MRI
mungkin dapat memberikan gambaran komplikasi dari fraktur dan
hanya dilakukan untuk menilai integritas dari spinal cord dan ligamen
intervertebra. CT dan MRI berguna untuk membedakan brust fracture
yang stabil dan yang tak stabil, dan perluasan fraktur kompresi
anterior.3
Fraktur iga atas, klavikula, dan sternum bagian atas biasanya
diikuti cedera pleksus brakial dan vaskular pada 3%-15% pasien.
Fraktur iga bawah biasanya juga mengenai cedera limpa, hati dan
ginjal, yang dapat dikonfirmasi dengan CT scan. Fraktur iga bisa
mengakibatkan laserasi pada pleura dan paru, yang dapat
menyebabkan hematoma, hemotoraks, ataupun pneumotoraks. Fraktur
lima iga atau lebih pada iga yang terpisah atau lebih dari tiga iga yang
berdekatan (satu iga fraktur di dua tempat atau lebih) bisa
menyebabkan gangguan gerakan paradoksal yang akan menyebabkan
gangguan mekanis lalu menyebabkan atelektasis dan infeksi paru.4
Fraktur sternum, terjadi pada 8% trauma toraks, dapat
menyebabkan kontusio jantung dan sering tidak memberikan gejala
klinis yang jelas pada awalnya. Fraktur jenis ini tidak tidak dapat
dilihat pada foto toraks PA, foto lateral lebih jelas biasanya, namun
biasanya lebih tampak lagi dengan CT Scan. Fraktur sternum yang
sering terjadi dengan hematoma retrosternal, sekitar 58%-80% angka
kejadian.4
Dislokasi ke posterior dari klavikula bisa menyebabkan cedera
pembuluh darah yang berat, nervus mediastinum atas, trakea, dan
esofagus. Walaupun dislokasi sternoklavikula dapat dilihat dengan
radiografi dada, namun ini lebih mudah dilihat dengan CT. Fraktur
skapula didiagnosis berdasarkan foto toraks inisial pada setengah
pasien. Ketika fraktur skapula tidak terlihat pada foto toraks inisial,
mungkin fraktur terjadi pada bagin retrospektif pada 725 kasus, tidak
termasuk dalam pengobatan (19%), kasus foto yang kabur akibat
superimposed structure atau artefak (9%). CT paru, khususnya
digunakan secara kombinasi dengan radiografi konvensional, pada
banyak kasus fraktur skapula. Fraktur skapula biasanya menyebabkan
sedikit komplikasi pada pasien.4
Gambar. radiografi dada posisi PA, yang diambil 10 hari setelah
trauma,menunjukkan fraktur communited skapula kanan(panah)4

Gambar. Radiografi dada menunjukkan fraktur iga dan


hematothorax kiri.8
Gambar. USG iga (A) Normal (B) Fraktur Iga5

3. Tatalaksana
Fraktur iga tunggal atau multipel dengan gerak dada yang masih
memadai dan teratur ditangani dengan pemberian analgetik atau
anestetik. Nyeri harus dihilangkan untuk menjamin pernafasan yang
baik atau mencegah pneumonia akibat gerak nafas tidak memadai dan
terganggunya batuk karena nyeri. Jika pemberian analgetik tidak
menghilangkan nyeri, harus dilakukan anestesi blok interkostal yang
meliputi segmen kaudal dan kranial iga yang patah. Pemasangan bidai
rekat tidak ada manfaatnya walaupun memberi rasa aman kepada
penderita. Bidai rekat ini mengganggu pengembangan rongga dada,
mengganggu gerakan nafas dan dapat menyebabkan dermatitis,
sedangkan dalam mengurangi nyeri tidak lebih baik daripada
analgetik. Jarang ditemukan dislokasi karena iga terbungkus perios
yang kuat dan otot. Karena tulang iga pendarahannya baik,
penyembuhan dan penyatuan tulang biasanya berlangsung cepat dan
tanpa halangan atau penyulit.2
4. Penyulit
Penyulit patah tulang iga adalah pneumonia, pneumotoraks dan
hemotoraks. Pneumonia disebabkan oleh gangguan gerak nafas dan
gangguan batuk. Bila penderita tidak dapat batuk untuk membersihkan
parunya, mudah terjadi bronkopneumonia. Penanganannya terdiri dari
pemberian anestesi sempurna, antibiotik yang memadai, ekspektoran
dan fisioterapi. Pneumotoraks dan hemotoraks terjadi karena tusukan
patahan tulang iga pada pleura parietalis dan atau pleura viseralis.
Luka pleura parietalis dapat mengakibatkan hemotoraks dan atau
pneumotoraks. Iga I atau II jarang patah karena iga ini letaknya agak
terlindung. Apalagi tulang tersebut metupakan tulang pendek, lebar
dan kuat. Patahnya kedua iga ini harus dipandang berbahaya karena
pasti penderita mengalami cedera yang hebat. Oleh karena itu, harus
dicari cedera lain yang lebih penting yang mungkin tidak nyata, seperti
cedera jantung atau aorta.2

Daftar Pustaka:
1. Thoracic Trauma Imaging. Available at http://emedicine.medscape.com/
article/357007-overview. Diakses tanggal 25 Mei 2018
2. Sjamsuhidajat,R dan Wim De Jong. Dinding Toraks dan Pleura. Dalam Buku Ajar
Ilmu Bedah. Jakarta;Penerbit Buku Kedokteran EGC.2003. h406-13
3. Mancini, Mary C et all. Blunt Chest Trauma. Available at
http://emedicine.medscape.com/article/428723-overview.Diakses tanggal 25 Mei
2018
4. Collins, Jannette and Eric J. Stern. Chest Trauma. In Chest Radiology. 2nd Edition.
Washington; Lippincott Williams & Wilkins. 2008
5. Brooks, Adam et all. Ultrasound for Bony Trauma. In Ultrasound in Emergency Care.
UK; Blackwell Publishing. 2004. p96-100