Vous êtes sur la page 1sur 19

LAPORAN KASUS

Efusi Pleura Masif (Dekstra)

Oleh :
Nindya Abelina O. L, S.Ked
FAA 115 022

Pembimbing :
dr. Sutopo, Sp. RM
dr. Tagor Sibarani

Dibawakan dalam rangka tugas kepaniteraan klinik pada bagian


Rehabilitasi Medik dan Emergency Medicine

KEPANITERAAN KLINIK REHABILITASI MEDIK DAN EMERGENCY MEDICINE


FK UPR/RSUD dr. DORIS SYLVANUS
PALANGKARAYA
2017

1
BAB I
PENDAHULUAN

Efusi pleura adalah penimbunan cairan di dalam rongga pleura akibat transudasi atau
eksudasi yang berlebihan dari permukaan pleura. Efusi pleura bukan merupakan suatu
penyakit, akan tetapi merupakan tanda suatu penyakit. Pada keadaan normal, rongga pleura
hanya mengandung sedikit cairan sebanyak 10-20 ml yang membentuk lapisan tipis pada
pleura parietalis dan viseralis, dengan fungsi utama sebagai pelicin gesekan antara permukaan
kedua pleura pada waktu pernafasan.1
Penyakit-penyakit yang dapat menimbulkan efusi pleura adalah tuberkulosis, infeksi
paru non-tuberkulosis, keganasan, sirosis hati, trauma tembus atau tumpul, infark paru, serta
gagal jantung kongestif. Di negana-negara barat, efusi pleura terutama disebabkan oleh gagal
jantung kongestif, sirosis hati, keganasan, dan pneumonia bakteri, sementara di negara-negara
yang sedang berkembang, seperti Indonesia, lazim diakibatkan oleh infeksi tuberkulosis.
Pemeriksaan histologi pada cairan pleura yang mengalami efusi menunjukkan 50-75% kasus
merupakan pleuritis tuberkolusa.2
Indonesia masih menempati urutan ke-3 di dunia untuk jumlah kasus TB setelah India
dan Cina. Pada tahun 1998, diperkirakan kasus TB di Indonesia mencapai 591.000 kasus dan
perkiraan kejadian BTA sputum positif di Indonesia adalah 266.000. berdasarkan survei
kesehatan rumah tangga 1985 dan survei kesehatan nasional 2001, TB menempati ranking
nomor 3 sebagai penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Prevalensi nasional terakhir TB
paru diperkirakan 0,24%.2

2
BAB II
LAPORAN KASUS
Survey Primer
Ny. A, 41 tahun, perempuan.
I. Vital Sign :
- Nadi : 127x/menit, regular
- Tekanan Darah : tidak terukur
- Pernafasan : 36 x/menit
- Suhu : 36 °C
II. Airways : Bebas, tidak terdapat sumbatan
III. Breathing : Spontan, 36x/menit, pola torakoabdominal, pergerakan dada simetris kanan-
kiri
IV. Circulation: Denyut nadi 127x/menit, regular, CRT <2’’
V. Disability : GCS 8 (Eye 3, Motorik 1, Verbal 4), pupil isokor  3mm-3mm
VI. Exposure : Tampak sesak dan gelisah

Evaluasi Masalah
Berdasarkan survey primer sistem triase, kasus ini merupakan kasus yang termasuk
dalam emergancy sign karena pasien datang dalam keadaan penurunan kesadaran, sesak dan
gelisah. Pasien diberi label Merah.

Tatalaksana Awal
Tatalaksana awal pada pasien ini adalah ditempatkan di ruangan resusitasi, pemberian
oksigen NRM (non rebreating mask) 8 liter/menit posisi berbaring, diberi bantalan, dilakukan
pemasangan akses infus intravena menggunakan cairan kristaloid 8 tetes/menit, dilakukan
pemasangan kateter urin, dipasang monior dan diobservasi.

3
Survey Sekunder
I. Identitas
Nama : Ny. A
Usia : 41 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Kasongan
Tanggal Masuk RS : 22/1/17 pukul 17.50 WIB

II. Anamnesis
Anamnesis dilakukan secara alloanamnesis di ruang IGD RSUD dr.Doris Sylvanus
Palangka Raya.
a. Keluhan Utama : Sesak nafas sejak ± 10 hari sebelum masuk rumah sakit.

b. Riwayat Penyakit Sekarang


Os datang ke IGD RSUD dr.Doris Sylvanus Palangka Raya dengan keluhan utama
sesak nafas sejak ± 10 hari yang lalu. Keluarga mengaku sesak sudah lama muncul
namun kambuh-kambuhan. Pasien sempat dirawat di RS Kasongan selama 1
minggu. Dilakukan penyedotan cairan paru minggu lalu dan didapatkan cairan
berwarna kekuningan kemudian dilakukan penyedotan kedua 1 hari SMRS dan
didapatkan cairan berwarna kemerahan. Keadaan pasien semakin menurun sehingga
akhirnya dirujuk ke RSUD dr.Doris Sylvanus P.Raya namun selama diperjalanan
kondisi semakin menurun hingga pasien tidak sadarkan diri.

c. Riwayat Penyakit Dahulu


Keluarga mengaku pasien dalam pengobatan OAT namun lupa sudah berapa lama.
Riw. Sesak berulang (+)

d. Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat hipertensi pada keluarga (+) (ayah kandung os). Riwayat diabetes mellitus
disangkal.

4
III. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Fisik dilakukan pada tanggal 22/1/2017 dan didapatkan hasil sebagai
berikut :
A. Keadaan Umum
a. Kesan sakit : Tampak Sakit Berat
b. Kesadaran : GCS 8 (E3M1V4)
B. Tanda Vital
a. Frek. Nadi : 127x/menit, regular, lemah
b. Tekanan Darah : tidak terukur (60/palpasi)
c. Frek. Nafas : 36 x/menit
d. Suhu : 36 °C
C. Kepala : Normocephal
D. Mata :Konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), oedema palpebra (-/-)
E. Hidung :Bentuk normal, septum deviasi (-), sekret (-), nafas cuping hidung (+).
F. Mulut :Mukosa mulut pucat (-), kering (-).
G. Leher : KGB dan tiroid tidak teraba membesar, JVP 5+2 cmH2O
H. Thorax
a. Cor :
Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : IC teraba di ICS VI 3 jari lateral linea MCS
Auskultasi : Bunyi jantung 1 (S1) dan 2 (S2) normal, mumur (-), gallop (-)
b. Pulmo :
Inspeksi : Gerak dinding dada simetris, retraksi sela iga (+/+).
Palpasi : Vocal fremitus teraba sama pada kedua hemithorax.
Perkusi :Sonor pada lapangan paru kiri,redup pada lapangan paru kanan
(ICS 4-6)
Auskultasi : Vesikuler (+) normal pada paru kiri, vesikuler (+) melemah
pada paru kanan, wheezing (-), ronkhi basah sedang pada
lapangan paru kanan.
I. Abdomen
Inspeksi : Datar
Palpasi : Supel, lien dan hepar tidak teraba membesar, turgor kulit normal
Perkusi : Timpani
Auskultasi : Bising usus (+) normal.
5
J. Ekstermitas : Akral hangat, CRT <2”, pitting Oedem (-/-)
IV. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium
Hasil Lab RS Kasongan RSUD dr Doris Sylvanus
Hb 13,5 g/dl 11,3 g/dl

Ht 42 % 33,7%

Leukosit 34.300 mm3 33,37 x 103/uL

Trombosit 182.000 /uL 154.000/uL

Eritrosit - 3,81x106/uL

Gula darah sewaktu 103,6 mg/dl 205 mg/dl

Ureum - 102 mg/dl

Kreatinin 3,5 mg/dl 4,33 mg/dl

SGOT - -

SGPT 75,3 33 U/L

- Foto thorax

V. Diagnosis Banding
 Penurunan kesadaran e.c Efusi pleura masif dekstra
 Massa paru

VI. Diagnosis Kerja


- Penurunan kesadaran e.c Efusi pleura masif dekstra

6
VII. Penatalaksanaan
- O2 NRM 8 liter/menit
- Infus NaCl 90% 20 tpm
- Inj. Antibiotik sefalosporin generasi IV (Cefepime) 3x1 gr (IV) (ST)
- Inj. Kortikosteroid (Metilprednisolon) 3x125 mg (IV)
- Inj. Omeprazole 2x40 mg (IV)
- Pemasangan catheter
- Pemasangan monitor
- Rencana rawat ICU, raber IPD
Adv.dr.SpPD  drip norepinerin 0,1 mg/kg/menit  titrasi sesuai tekanan darah

VIII. Prognosis
Ad vitam : dubia ad malam
Ad sanationam : dubia ad malam
Ad fungsionam : dubia ad malam

7
BAB III
PEMBAHASAN

Pada kasus ini pasien datang dengan keluhan utama sesak nafas disertai penurunan
kesadaran, setelah dilakukan tatalaksana awal berupa pemberian O2 NRM 8 lpm, pemasangan
infus dan injeksi obat-obatan serta pemasangan urine kateter, dilakukan ananmnesa
(alloanamnesa) serta pemeriksaan fisik terhadap pasien. Dari anamnesa diketahui bahwa
pasien memang memiliki keluhan sesak sejak lama lama (setahun ini) dan berulang, pasien
dalam pengobatan OAT namun keluarga tidak tahu persis berapa lama pengobatan berjalan.
Pasien sempat dirawat di RS Kasongan dan dilakukan aspirasi sebanyak 2x, 1 minggu
SMRS berwarna kekuningan dan 1 hari SMRS bewarna kemerahan Pada pemeriksaan status
lokalis paru ditemukan pada perkusi terdengar redup di sela iga 4 – 6 paru kanan, sedangkan
perkusi lapang paru kiri adalah sonor. Untuk auskultasi pada paru kanan suara pokok adalah
vesikuler lemah sedangkan pada paru kiri terdengar vesikuler. Adanya bunyi redup pada
perkusi menandakan terdapat cairan pada paru, semakin banyak cairan maka bunyi yang di
timbulkan akan semakin redup bahkan pekak. Vesikuler melemah juga menandakan adanya
cairan.
Telah dilakukan pemeriksaan BTA sewaktu namun tidak ditemukan BTA. Hal ini
mempunyai dua makna, yang pertama adalah pasien tidak menderita tuberculosis dan makna
yang lain adalah tidak ditemukannya BTA bisa saja disebabkan oleh konsentrasi kuman yang
sedikit Namun untuk mendiagnosis apakah seseorang menderita tuberculosis diperlukan
beberapa pertimbangan antara lain pemeriksaan dahak, foto thorak ( walaupun pemeriksaan
ini sensitif namun tidak terlalu spesifik), dari anamnesis dan pemeriksaan fisik, serta yang
paling pasti yakni dengan pembiakan kuman.1,2
Selain itu, mengingat Indonesia merupakan Negara dengan angka kejadian TB paru
yang cukup tinggi, maka pada pasien ini di diagnosis sebagai penderita TB. Namun untuk
lebih memastikan diagnosis tersebut perlu dilakukan pemeriksaan dahak ulang dan
pembiakan kuman.1

3.1 Anatomi dan Fisiologi Pleura3


Pleura terletak dibagian terluar dari paru-paru dan mengelilingi paru. Pleura
disusun oleh jaringan ikat fibrosa yang didalamnya terdapat banyak kapiler limfa dan
kapiler darah serta serat saraf kecil. Pleura disusun juga oleh sel-sel (terutama fibroblast
8
dan makrofag). Pleura paru ini juga dilapisi oleh selapis mesotel. Pleura merupakan
membran tipis, halus, dan licin yang membungkus dinding anterior toraks dan permukaan
superior diafragma. Lapisan tipis ini mengandung kolagen dan jaringan elastis.3
Ada 2 macam pleura yaitu pleura parietalis dan pleura viseralis. Pleura parietalis
melapisi toraks dan pleura viseralis melapisi paru-paru. Kedua pleura ini bersatu pada
hilus paru. Dalam beberapa hal terdapat perbedaan antara kedua pleura ini yaitu pleura
viseralis bagian permukaan luarnya terdiri dari selapis sel mesotelial yang tipis (tebalnya
tidak lebih dari 30 µm). Diantara celah-celah sel ini terdapat beberapa sel limfosit. Di
bawah sel-sel mesotelia ini terdapat endopleura yang berisi fibrosit dan histiosit.
Seterusnya dibawah ini (dinamakan lapisan tengah) terdapat jaringan kolagen dan serat-
serat elastik. Pada lapisan terbawah terdapat jaringan intertitial subpleura yang sangat
banyak mengandung pembuluh darah kapiler dari A. Pulmonalis dan A. Brankialis serta
pembuluh getah bening.
Di antara pleura terdapat ruangan yang disebut spasium pleura, yang mengandung
sejumlah kecil cairan yang melicinkan permukaan dan memungkinkan keduanya bergeser
secara bebas pada saat ventilasi. Cairan tersebut dinamakan cairan pleura. Cairan ini
terletak antara paru dan thoraks. Tidak ada ruangan yang sesungguhnya memisahkan
pleura parietalis dengan pleura viseralis sehingga apa yang disebut sebagai rongga pleura
atau kavitas pleura hanyalah suatu ruangan potensial. Tekanan dalam rongga pleura lebih
rendah daripada tekanan atmosfer sehingga mencegah kolaps paru. Jumlah normal cairan
pleura adalah 10-20 cc (Hood Alsagaff dan H. Abdul Mukty, 2002: 786).

Gambar 1 Gambaran Anatomi Pleura (dikutip dari Poslal medicina, 2007

3.2 Definisi Efusi Pleura3


Efusi pleura adalah pengumpulan cairan di dalam rongga pleura akibat transudasi
atau eksudasi yang berlebihan dari permukaan pleura. Rongga pleura adalah rongga yang

9
terletak diantara selaput yang melapisi paru-paru dan rongga dada, diantara permukaan
viseral dan parietal. Dalam keadaan normal, rongga pleura hanya mengandung sedikit
cairan sebanyak 10-20 ml yang membentuk lapisan tipis pada pleura parietalis dan
viseralis, dengan fungsi utama sebagai pelicin gesekan antara permukaan kedua pleura
pada waktu pernafasan. Jenis cairan lainnya yang bisa terkumpul di dalam rongga pleura
adalah darah, nanah, cairan seperti susu dan cairan yang mengandung kolesterol tinggi.
Efusi pleura bukan merupakan suatu penyakit, akan tetapi merupakan tanda suatu
penyakit.
Terdapat beberapa jenis efusi berdasarkan penyebabnya, yakni :
a. Bila efusi berasal dari implantasi sel-sel limfoma pada permukaan pleura.
b. Bila efusi terjadi akibat obstruksi aliran getah bening.
c. Bila efusi terjadi akibat obstruksi duktus torasikus (chylothorak).
d. Efusi berbentuk empiema akut atau kronik.
Berdasarkan jenis cairan yang terbentuk, cairan pleura dibagi menjadi :
1. Transudat
Transudat dalam keadaan normal cairan pleura yang jumlahnya sedikit itu adalah
transudat. Biasanya hal ini terdapat pada:
a) Meningkatnya tekanan kapiler sistemik
b) Meningkatnya tekanan kapiler pulmonal
c) Menurunnya tekanan koloid osmotik dalam pleura
d) Menurunnya tekanan intra pleura

Penyakit-penyakit yang menyertai transudat adalah:


a) Gagal jantung kiri (terbanyak)
b) Sindrom nefrotik
c) Obstruksi vena cava superior
d) Asites pada sirosis hati (asites menembus suatu defek diafragma atau masuk
melalui saluran getah bening)

10
2. Eksudat
Eksudat merupakan cairan pleura yang terbentuk melalui membran kapiler yang permeable
abnormal dan berisi protein transudat.

PARAMETER TRANSUDAT EKSUDAT


Warna Jernih Jernih, keruh, berdarah
BJ < 1,016 > 1,016
Jumlah set Sedikit Banyak (> 500 sel/mm2)
Jenis set PMN < 50% PMN > 50%
Rivalta Negatif Negatif
Glukosa 60 mg/dl (= GD plasma) 60 mg/dl (bervariasi)
Protein < 2,5 g/dl >2,5 g/dl
Rasio protein TE/plasma < 0,5 > 0,5
LDH < 200 IU/dl > 200 IU/dl
Rasio LDH T-E/plasma < 0,6 > 0,6

3.3 Etiologi3
1. Berdasarkan Jenis Cairan
Efusi pleura tipe transudatif dibedakan dengan eksudatif melalui pengukuran kadar
Laktat Dehidrogenase (LDH) dan protein di dalam cairan, pleura. Efusi pleura berupa:
a. Eksudat, disebabkan oleh :
1) Pleuritis karena virus dan mikoplasma : virus coxsackie, Rickettsia, Chlamydia.
Cairan efusi biasanya eksudat dan berisi leukosit antara 100-6000/cc.
2) Pleuritis karena bakteri piogenik: permukaan pleura dapat ditempeli oleh bakteri yang
berasal dari jaringan parenkim paru dan menjalar secara hematogen. Bakteri penyebab
dapat merupakan bakteri aerob maupun anaerob (Streptococcus paeumonie,
Staphylococcus aureus, Pseudomonas, Hemophillus, E. Coli, Pseudomonas,
Bakteriodes, Fusobakterium, dan lain-lain).
3) Pleuritis karena fungi penyebabnya: Aktinomikosis, Aspergillus, Kriptococcus, dll.
Karena reaksi hipersensitivitas lambat terhadap fungi.
4) Pleuritis tuberkulosa merupakan komplikasi yang paling banyak terjadi melalui focus
subpleural yang robek atau melalui aliran getah bening, dapat juga secara hemaogen

11
dan menimbulkan efusi pleura bilateral. Timbulnya cairan efusi disebabkan oleh
rupturnya focus subpleural dari jaringan nekrosis perkijuan, sehingga
tuberkuloprotein yang ada didalamnya masuk ke rongga pleura, menimbukan reaksi
hipersensitivitas tipe lambat. Efusi yang disebabkan oleh TBC biasanya unilateral
pada hemithoraks kiri dan jarang yang masif. Pada pasien pleuritis tuberculosis
ditemukan gejala febris, penurunan berat badan, dyspneu, dan nyeri dada pleuritik.
5) Efusi pleura karena neoplasma misalnya pada tumor primer pada paru-paru, mammae,
kelenjar linife, gaster, ovarium. Efusi pleura terjadi bilateral dengan ukuran jantung
yang tidak membesar.

b. Transudat, disebabkan oleh :


1) Gangguan kardiovaskular
Penyebab terbanyak adalah decompensatio cordis. Sedangkan penyebab lainnya
adalah perikarditis konstriktiva, dan sindroma vena kava superior. Patogenesisnya adalah
akibat terjadinya peningkatan tekanan vena sistemik dan tekanan kapiler dinding dada
sehingga terjadi peningkatan filtrasi pada pleura parietalis.
2) Hipoalbuminemia
Efusi terjadi karena rendahnya tekanan osmotik protein cairan pleura dibandingkan
dengan tekanan osmotik darah.
3) Hidrothoraks hepatik
Mekanisme yang utama adalah gerakan langsung cairan pleura melalui lubang kecil
yang ada pada diafragma ke dalam rongga pleura.
4) Meig’s Syndrom
Sindrom ini ditandai oleh ascites dan efusi pleura pada penderita-penderita dengan
tumor ovarium jinak dan solid. Tumor lain yang dapat menimbulkan sindrom serupa :
tumor ovarium kistik, fibromyomatoma dari uterus, tumor ovarium ganas yang berderajat
rendah tanpa adanya metastasis.
5) Dialisis Peritoneal
Efusi dapat terjadi selama dan sesudah dialisis peritoneal.

c. Darah
Adanya darah dalam cairan rongga pleura disebut hemothoraks. Kadar Hb pada
hemothoraks selalu lebih besar 25% kadar Hb dalam darah. Darah hemothorak yang baru
diaspirasi tidak membeku beberapa menit. Hal ini mungkin karena faktor koagulasi sudah
12
terpakai sedangkan fibrinnya diambil oleh permukaan pleura. Bila darah aspirasi segera
membeku, maka biasanya darah tersebut berasal dari trauma dinding dada.

3.4 Manifestasi Klinis3


Pada anamnesis lazim ditemukan, antara lain :
- nyeri dada dan sesak
- pernafasan dangkal
- tidur miring ke sisi yang sakit.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan, antara lain :


- terlihat sesak nafas dengan pernafasan yang dangkal
- hemitoraks yang sakit lebih cembung
- ruang sela iga melebar, mendatar dan tertinggal pada pernafasan
- Fremitus suara melemah sampai menghilang
- Pada perkusi terdengar suara redup sampai pekak di daerah efusi
- tanda pendorongan jantung dan mediastinum ke arah sisi yang sehat
- Pada auskultasi, suara pernafasan melemah sampai menghilang pada daerah efusi
pleura.

3.5 Patogenesis Efusi Pleura3


Secara garis besar akumulasi cairan pleura disebabkan karena dua hal yaitu:
1. Pembentukan cairan pleura berlebih
Hal ini dapat terjadi karena peningkatan: permeabilitas kapiler (keradangan,
neoplasma), tekanan hidrostatis di pembuluh darah ke jantung / v. pulmonalis (
kegagalan jantung kiri ), tekanan negatif intrapleura (atelektasis ).
2. Penurunan kemampuan absorbsi sistem limfatik
Hal ini disebabkan karena beberapa hal antara lain: obstruksi stomata, gangguan
kontraksi saluran limfe, infiltrasi pada kelenjar getah bening, peningkatan tekanan
vena sentral tempat masuknya saluran limfe dan tekanan osmotic koloid yang
menurun dalam darah, misalnya pada hipoalbuminemi. Sistem limfatik punya
kemampuan absorbsi sampai dengan 20 kali jumlah cairan yang terbentuk.
Jumlah cairan yang abnormal dapat terkumpul jika tekanan vena
meningkat karena dekompensasi cordis atau tekanan vena cava oleh tumor
13
intrathorax. Selain itu, hypoprotonemia dapat menyebabkan efusi pleura karena
rendahnya tekanan osmotic di kapailer darah.

3.6 Diagnostik3
Diagnosis kadang-kadang dapat ditegakkan secara anamnesis dan pemeriksaan fisik saja.
Untuk diagnosis yang pasti perlu dilakukan tindakan torakosentesis dan pada beberapa
kasus dilakukan juga biopsy pleura.

1. Sinar tembus dada


Permukaan cairan yang terdapat dalam rongga pleura akan membentuk bayangan
seperti kurva, dengan permukaan daerah lateral lebih tinggi daripada bagian medial.
Dalam foto dada pada efusi pleura adalah terdorongnya mediastenum pada sisi yang
berlawanan dengan cairan. Pemeriksaan dengan ultrasonografi pada pleura dapat
menentukan adanya cairan dalam rongga pleura. Pemeriksaan CT Scan dada. Adanya
perbedaan densitas cairan dengan jaringan sekitarnya, hanya saja pemeriksaan ini
tidak banyak dilakukan karena biayanya masih mahal.

Gambar 2 Gambaran Toraks dengan Efusi Pleura


(http://www.efusi pleura/080308/thorax/weblog.htm)
2. Torakosentesis
Aspirasi cairan pleura (torakosentesis) berguna sebagai sarana untuk diagnostic
maupun terapeutik. Pelaksanaannya sebaiknya dilakukan pada penderita dengan
posisi duduk. Aspirasi dilakukan pada bagian bawah paru di sela iga IX garis aksilaris
posterioar dengan memakai jarum Abbocath nomor 14 atau 16. Pengeluaran cairan
pleura sebaiknya tidak melebihi 1.000-1.500 cc pada setiap kali aspirasi. Adalah lebih

14
baik mengerjakan aspirasi berulang-ulang daripada satu kali aspirasi sekaligus yang
dapat menimbulkan pleural shock (hipotensi) atau edema paru. Edema paru dapat
terjadi karena paru-paru menggembang terlalu cepat. Untuk diagnostic caiaran pleura
dilakukan pemeriksaan:
1) Warna cairan. Bila kuning kehijauan dan agak perulen, ini menunjukan adanya
empiema. Bila merah tengguli, ini menunjukan adanya abses karena amoeba.

2) Biokimia
Secara biokimia efusi pleura terbagi atas transudat dan eksudat. Diperiksakan juga
pada cairan pleura:
A. Kadar pH dan glukosa
B. Kadar amylase.

3) Sitologi
Pemeriksaan sitologi terhadap cairan pleura amat penting untuk diagnostic
penyakit.
a) Sel neutrofil: menunjukan adanya infeksi akut
b) Sel limfosit: menunjukan adanya infeksi kronik seperti pleuritis
tuberkulosa atau limfoma malignum.
c) Sel mesotel: bila jumlahnya meningkat adanya infark paru.biasanya juga
ditemukan banyak sel eritrosit.
d) Sel mesotel maligna: pada mesotelioma.
e) Sel-sel besar dengan banyak inti: pada arthritis rheumatoid.
f) Sel L.E: pada lupus eritematosus sistemik.

4) Bakteriologi
Jenis kuman yang sering ditemukan dalam cairan pleura adalah pneumokokus, E,
coli, Klebsiella, Pseudomonas, Enterobacter.
3. Biopsi pleura
Pemeriksaan histology menunjukan 50-75 persen diagnosis kasus-kasus pleuritis
tuberkolosa dan tumor pleura.

4. Pendekatan pada efusi yang tidak terdiagnosis

15
Dalam hal ini dianjurkan asppirasi dan anakisisnya diulang kembali sampai diagnosis
menjadi jelas.

3.7 Tatalaksana3
1. Pengobatan kausal
Pengobatan pada penyakit tuberkulosis (pleuritis tuberkulosis) dengan menggunakan
OAT dapat menyebabkan cairan efusi diserap kembali, tapi untuk menghilangkan eksudat ini
dengan cepat dapat dilakukan torakosintesis. Umumnya cairan diresolusi dengan sempurna,
tapi kadang-kadang dapat diberikan kortikosteroid secara sistemik (Prednison 1 mg/kg BB
selama 2 minggu kemudian dosis diturunkan secara perlahan).
Pleuritis TB diberi pengobatan anti TB. Dengan pengobatan ini cairan efusi dapat
diserap kembali untuk menghilangkan dengan cepat dilakukan thoraxosentesis.
Pleuritis karena bakteri piogenik diberi kemoterapi sebelum kultur dan sensitivitas
bakteri didapat, ampisilin 4 x 1 gram dan metronidazol 3 x 500 mg. Terapi lain yang lebih
penting adalah mengeluarkan cairan efusi yang terinfeksi keluar dari rongga pleura dengan
efektif.

2. Thorakosentesis
- Pungsi pleura - Aspirasi dilakukan pada bagian bawah paru sela iga garis aksila
posterior dengan memakai jarum abocath nomor 14 atau 16.
- Pungsi percobaan/diagnostik
Yaitu dengan menusuk dari luar dengan suatu spuit kecil steril 10 atau 20 ml serta
mengambil sedikit cairan pleura (jika ada) untuk dilihat secara fisik (warna cairan) dan untuk
pemeriksaan biokimia (uji Rivalta, kadar kolesterol, LDH, pH, glukosa, dan amilase),
pemeriksaan mikrobiologi umum dan terhadap M. tuberculosis serta pemeriksaan sitologi.

3. Water Sealed Drainage


Penatalaksanaan dengan menggunakan WSD sering pada empyema dan efusi maligna.
Indikasi WSD pada empyema :
a. Nanah sangat kental dan sukar diaspirasi
b. Nanah terus terbentuk setelah 2 minggu
c. Terjadinva piopneumothoraxs
4. Pleurodesis

16
Tindakan melengketkan pleura visceralis dengan pleura parietalis dengan
menggunakan zat kimia (tetrasiklin, bleomisin, thiotepa, corynebacterium, parfum, talk) atau
tindakan pembedahan. Tindakan dilakukan bila cairan sangat banyak dan selalu terakumulasi
kembali.

17
BAB IV
KESIMPULAN

Telah dilaporkan pasien Ny. A, 41 tahun datang dengan keluhan sesak disertai
penurunan kesadaran. Pasien diberikan perawatan diruang resusitasi karena tergolong dalam
emergancy sign.
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang, diagnosa pasien mengarah
ke efusi pleura masif dekstra susp TB paru namun belum didapatkan data yang akurat.
Telah diberikan penanganan kegawatdaruratan, pemberian medikamentosa dan
bantuan hidup dasar pada pasien.

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Kementerian Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar 2013. Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI;2013.
2. Halim, Hadi. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Ed. 3. Jakarta: Balai
Penerbit FK UI
3. Astowo, pudjo. 2009. Efusi Pleura, Efusi Pleura Ganas Dan Empiema. Jakarta:
Departement Pulmonolgy And Respiration Medicine, Division Critical Care And
Pulmonary Medical Faculty UI

19