Vous êtes sur la page 1sur 24

LAPORAN KASUS

ABSES PARU

Pembimbing:

Dr. Hj. Suginem Mudjiantoro, Sp. Rad (K)

Disusun oleh:

Nurul Dwi Hudatullah

2013730080

KEPANITERAAN KLINI STASE RADIOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

RS ISLAM JAKARTA PONDOK KOPI

2018
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, dengan rahmat dan keridhoan-Nya penulis dapat
menyelesaikan laporan kasus yang berjudul “Abses Paru”. Tugas ini penulis ajukan untuk
meningkatkan pengetahuan dan memenuhi tugas Kepaniteraan Klinik Ilmu Radiologi di Rumah
Sakit Islam Jakarta Pondok Kopi. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang
terdapat dalam penyusunan laporan kasus ini, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik
dan saran yang membangun dari berbagai pihak. Laporan kasus ini bukanlah hasil usaha penulis
seorang, melainkan atas bimbingan, dukungan, dan bantuan dari berbagai pihak.Oleh karena itu,
penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Allah azzawajalla yang telah membimbing penulis dan memudahkan setiap langkah penulis
sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus ini
2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atas jasa beliau yang telah menjadi tauladan bagi
setiap muslim sepanjang zaman.
3. Dr. Suginem Mudjiantoro, Sp. Rad (K) selaku konsulen Radiologi di Rumah Sakit Islam
Jakarta Pondok Kopi.
Semoga semua pihak yang penulis sebutkan di atas mendapatkan pahala dari Allah azza wa jalla
dan semoga laporan kasus ini dapat memberikan manfaat baik bagi penulis maupun yang
membacanya.

Jakarta, April 2018

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
Abses Paru merupakan infeksi dekstruktif berupa lesi nekrotik pada jaringan paru
yang terlokalisir sehingga membentuk kavitas yang berisi nanah (pus) dalam parenkim paru
pada satu lobus atau lebih. Abses paru harus dibedakan dengan kavitas pada pasien
tuberculosis paru. Abses paru lebih sering terjadi pada laki-laki dibanding perempuan dan
umumnya terjadi pada umur tua karena terdapat peningkatan insidens penyakit periodontal
dan peningkatan prevalensi aspirasi. Kemajuan ilmu kedokteran saat ini menyebabkan
kejadian abses paru menurun/jarang ditemukan karena adanya perbaikan risiko terjadinya
abses paru seperti teknik operasi dan anastesi yang lebih baik dan penggunaan antibiotic
yang lebih dini, kecuali pada kondisi-kondisi yang memudahkan untuk terjadinya aspirasi
dan pada populasi dengan immunocompromised.
Penyebab penyakit abses paru dapat bermacam-macam. Berikut ini urutan
penyebab abses paru di Indonesia adalah :
- Infeksi yang timbul melalui saluran napas (aspirasi)
- Sebagai penyulit dari beberapa tipe pneumonia tertentu
- Perluasan abses subdiafragmatika
- Berasal dari luka traumatic paru
- Infark paru yang terinfeksi
Prevalensi tertinggi berasal dari infeksi saluran pernapasan, mikroorganisme penyebab
umumnya berupa campuran dari bermacam-macam kuman yang berasal dari flora mulut,
hidung, tenggorokan, termasuk kuman aerob dan anaerob seperti Streptokok, Basil
fusiform, Spirokaeta, Proteus, dan lain-lain.1
Maka laporan kasus ini akan membahas bagiamana abses paru itu secara
keseluruhan mulai dari segala hal teoritis sampai kepada kasus yang memang benar terjadi
pada pasien. Selain itu, dengan laporan kasus ini maka penting juga untuk menjadi bahan
pembelajaran kita semua dalam menanggulangi dan menurunkan angka kejadian abses paru
dengan cara mendiagnosis cepat dan meberikan terapi yang tepat pada pasien dengan
penyakit abses paru.
BAB II

LAPORAN KASUS

A. Identitas Pasien
 Nama : An.R
 Jenis Kelamin : Laki-laki
 Umur : 20 tahun
 Alamat : Cakung Barat
 Pekerjaan : Mahasiswa
 Agama : Islam
 No. Foto : 48**
B. Anamnesis
 Keluhan Utama
Batuk
 Keluhan Tambahan
-
 Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke Poli Penyakit Dalam RSIJ Pondok Kopi dengan keluhan batuk
sejak 2 minggu SMRS, batuk berdahak banyak berwarna hijau dan berbau amis. Pasien
juga merasakan demam, demam terasa naik turun. Pasien juga merasakan sesak di
daerah paru kiri. Pasien juga merasakan lemas dan mengeluh mual tetapi tidak muntah.
Nafsu makan menurun, pasien mengaku tidak mengetahui dengan yakin bahwa terjadi
penurunan berat badan, kepala terasa pusing serta mengeluh tidak ada keluhan dalam
buang air besar dan kecil.

 Riwayat Penyakit Dahulu


Sebelumnya pasien tidak pernah mengalami kejadian serupa seperti sekarang. Tidak ada
riwayat kencing batu.
 Diabetes Melitus : disangkal
 Hipertensi: disangkal
 Alergi makan,obat dan udara: disangkal
 Riwayat Penyakit Keluarga
 Diabetes Melitus : disangkal
 Hipertensi: disangkal
 Alergi makan,obat dan udara: disangkal

 Riwayat Pengobatan
Pasien pernah melakukan pengobatan di puskesmas namun tidak ada perbaikan, mengaku
diberikan obat batuk, demam, dan antibiotik.
 Riwayat Alergi
Pasien tidak mempunyai riwayat alergi obat, alergi debu dan alergi dingin.
 Riwayat Psikososial
Pasien seorang pegawai swasta yang setiap hari berangkat kerja menggunakan motor dan
bekerja di dalam ruangan yang ber-AC. Pasien merokok. Pasien tidak meminum alkohol.
Olahraga 2x/minggu.

C. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : tampak sakit sedang

Kesadaran : compos mentis

Tanda-tanda vital : Tekanan darah : 110/70 mmHg

Nadi : 80 x/menit, regular, kuat angkat

Respirasi : 18 x/menit

Suhu : 37,8 oC

Keadaan Gizi

BB : 55 Kg, TB : 160Cm

IMT = BB/TB²

= 55/1,60 ²

= 55/2,56=21,48

Kesan : normoweight
Status Generalis

 Kepala : Normocephal
 Mata : Konjunctiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
 Hidung : Simetris, septum deviasi (-/-), hiperemis (-/-),
sekret (-/-) , tumor (-/-), konka edema (-/-), nyeri pangkal hidung (-/-)

 Mulut : Mukosa bibir dan mulut lembab, sianosis (-)


Faring hiperemis (-), tonsil T1-T1

 Gigi : pasien kurang menjaga kebersihan gigi saat malam hari tidak pernah
menggosok gigi. Gigi banyak yang berlubang, yaitu pada molar 1,2 atas kanan, dan
premolar 2 bawah kiri
 Telinga : Normotia, sekret (-/-), perdarahan (-/-), serumen (-/-)
 Leher : Pembesaran KGB servical (-/-)
 Thorax
Jantung : Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak

Palpasi : Ictus cordis teraba

Perkusi : Batas jantung kanan IC III linea parasternalis dextra, batas


jantung kiri IC VI linea midclavicula sinistra

Auskultasi : BJ I & BJ II regular, murmur (-), gallop (-)

 Paru : Inspeksi : bentuk dan gerak simetris

Palpasi : Vocal fremitus menghilang pada paru kiri

Perkusi : Redup pada basal paru kiri

Auskultasi : Vesicular (-/-), Ronki basah (-/+), wheezing (-/-)

 Abdomen : Inspeksi : Datar (+), distensi (-), massa (-), asites (-)
Auskultasi : Bising usus (+) normal

Palpasi : Supel (+), nyeri tekan (-)

Perkusi : Timpani diseluruh lapang abdomen

 Ekstremtitas

Superior : Akral hangat (+/+), CRT < 2 detik, sianosis (-/-)


Inferior : Akral hangat (+/+), CRT < 2 detik. Sianosis (-/-)

D. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Radiologi

Tampak : cavitas berdinding tebal dengan air fluid level didalamnya pada parakardial
sinistra
Kesan : Gambaran Abses Paru Sinistra

E. Diagnosis Kerja
Abses Paru Sinistra

F. Rencana Penatalaksanaan
 Pengaturan gaya Istirahat yang cukup
 Menghindari paparan debu berlebih, menggunakan masker menghindari pajanan infeksi
sekunder lain
 Menggunakan antibiotik sesuai lini pertama golongan Penisilin seperti Klindamicin
4x300 mg p.o/hari kontrol 1 minggu pertama
 Pemberian obat analgetik dan antipiretik seperti Paracetamol 3x500 mg p.o/hari jika
demam dan nyeri
 Tindakan operasi dengan indikasi
BAB III
PEMBAHASAN

DEFINISI

Abses paru adalah infeksi dekstruktif berupa lesi nekrotik pada jaringan paru yang
terlokalisir sehingga membentuk kavitas yang berisi nanah (pus) dalam parenkim paru
pada satu lobus atau lebih. Defenisi lain menyebutkan bahwa abses paru adalah infeksi
paru dengan karakteristik akumulasi pus yang terlokalisasi disertai dekstruksi jaringan
sekeliling.

EPIDEMIOLOGI

Penelitian terdahulu menemukan adanya infeksi pada pasien abses paru. Dari hasil
kultur sputum didapatkan adanya infeksi staphylococcus (46,%), klebsiella (26,6%), D.
pneumonia (16,6%) dan E.coli (10%).
Berdasarkan jenis kelamin, abses paru lebih sering terjadi pada laki-laki karena
sering mengkonsumsi alkohol dan merokok. Abses paru mungkin terjadi lebih sering
pada pasien usia lanjut karena terjadinya penurunan fungsi paru. Namun, serangkaian
kasus dari pusat perkotaan dengan prevalensi tinggi alkoholisme melaporkan rata-rata
penderita abses baru berusia 41 tahun.

ETIOLOGI

Abses paru dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme yaitu:


 Kelompok bakteri anaerob, biasanya diakibatkan oleh pneumonia aspirasi
 Bacteriodes melaninogenus
 Bacteriodes fragilis
 Peptostreptococcus species
 Bacillus intermedius
 Fusobacterium nucleatum
 Microaerophilic streptococcus
Bakteri anaerobic meliputi 89% penyebab abses paru dan 85%-100% dari specimen
yang didapat melalui aspirasi transtrakeal.
 Kelompok bakteri aerob:
 Gram positif: sekunder oleh sebab selain aspirasi
 Staphylococcus aureus
 Streptococcus microaerophilic
 Streptococcus pyogenes
 Streptococcus pneumonia
 Gram negatif: biasanya merupakan sebab nosokomial
 Klebsiella pneumoniae
 Pseudomonas aeruginosa
 Escherichia coli
 Haemophilus influenza
 Actinomyces species
 Nocardia species
 Gram negatif bacilli
 Kelompok:
 Jamur: mucoraceae, aspergilus species
 Parasit, amuba
 mikobakterium

Penyebab abses paru dapat bermacam-macam. Berikut ini urutan penyebab abses paru:
1) Infeksi yang timbul melalui saluran nafas (aspirasi)
2) Sebagai penyulit dari beberapa tipe pneumonia tertentu
3) Perluasan abses subdiafragmatika
4) Berasal dari luka traumatic paru
5) Infark paru yang terinfeksi1

Beberapa faktor predisposisi:


1) Ada sumber infeksi di saluran pernafasan
2) Daya tahan saluran pernafasan yang terganggu
3) Obstruksi mekanik saluran pernafasan karena aspirasi bekuan darah, pus, bagian gigi
yang menyumbatn makanan dan tumor bronkus. Lokalisasi abses tergantung pada
posisi saat terjadi aspirasi. Dalam keadaan posisi tegak, bahan aspirasi akan mengalir
menuju ke lobus medius atau segmen posterior lobus inferior paru kanan, tetapi
dalam keadaan berbaring aspirat akan menuju ke segmen apical lobus superior atau
segmen superior lobus inferior paru kanan, hanya kadang-kadang saja aspirat dapat
mengalir ke paru kiri.

Abses paru baru akan timbul bila mikroorganisme yang masuk ke paru bersama-sama
dengan material yang terhirup. Material yang terhirup akan menyumbat saluran
pernafasan dengan akibat timbul atelektasis yang disertai dengan infeksi. Bila yang
masuk kuman saja, maka akan timbul pneumonia.1

PATOFISIOLOGI

Bermacam-macam faktor yang berinteraksi dalam terjadinya abses paru seperti


daya tahan tubuh dan tipe dari mikroorganisme patogen yang menjadi penyebab.
Terjadinya abses paru biasanya melalui dua cara yaitu aspirasi dan hematogen. Yang
paling sering diujumpai adalah kelompok abses paru bronkogenik yang termasuk akibat
aspirasi, stasis sekresi, benda asing, tumor dan striktur bronkil. Keadaan ini menyebabkan
obstruksi bronkus dan terbawanya organism virulen yang akan menyebakan terjadinya
infeksi pada daerah distal obstruksi tersebut. Abses jenis ini banyak terjadi pada pasien
bronchitis kronik karena banyaknya mukus pada saluran napas bawah yang merupakan
media yang sangat baik bagi organisme yang teraspirasi. Pada perokok usia lanjut
keganasan bronkogenik bisa merupakan dasar untuk terjadinya abses paru. Secara
hematogen yang paling sering terjadi adalah akibat septikemi atau sebagai fenomena
septic emboli sekunder dari fokus infeksi dari bagian lain tubunya seperti trikuspid valve
endokarditis.2
Penyebaran hematogen ini umumnya akan berbentuk abses multiple dan biasanya
disebabkan oleh staphylococcus. Penanganan abses multiple dan kecil-kecil adalah lebih
sulit dari abses single walaupun ukurannya besar. Secara umum diameter abses paru
bervariasi dari beberapa mm sampai dengan 5 cm atau lebih. Disebut abses primer bila
infeksi diakibatkan aspirasi atau pneumonia yang menyebabkan terjadi pada orang
normal, sedangkan abses sekunder bila infeksi terjadi pada orang yang sebelumnya sudah
mempunyai kondisi seperti obstruksi, bronkiektasis, dan gangguan imunitas. Selain itu
abses paru dapat terjadi akibat necrotizing pneumonia yang menyebabakan terjadinya
nekrosis dan pencairan pada daerah yang mengalami konsolidasi, dengan organisme
penyebabnya paling sering ialah Staphylococcus aureus, Klebsiella pneumonia dan grup
pseudomonas, abses yang terjadi biasanya multiple dan berukuran kecil (<2cm). Bulla
atau kista yang sudah ada bisa berkembang menjadi abses paru. Kista bronkogenik yang
berisi cairan dan elemen sekresi epitel merupakan media kultur untuk tumbuhnya
mikroorganisme. Bila kista tersebut mengalami infeksi oleh mikroorganisme yang
virulens maka akan terjadi abses paru. Abses hepar bacterial atau amubik bisa mengalami
rupture dan menembus diafragma yang akan menyebabkan abses paru pada lobus bawah
paru kanan dan rongga pleura. Abses paru biasanya unilateral pada satu paru, yang terjadi
pada pasien dengan keadaan umum yang jelek atau pasien yang mengalami penyakit
menahun seperti malnutrisi, sirosis hati, gangguan immunologis yang menyebabkan daya
tahan tubuh menurun, atau penggunaan sitostatika. Abses akibat aspirasi paling sering
terjadi pada segmen posterior lobus atas dan segmen apiikal lobus bawah, dan sering
terjadi pada paru kanan, karena bronkus utama kanan lebih lurus dibanding kiri. Abses
mengalami rupture ke dalam bronkus, dengan isinya diekspektroasikan keluar dengan
meninggalkan cavitas yang berisi air dan udara. Kadang-kadang abses rupture ke rongga
pleura sehingga terjadi empiema yang bisa diikuti dengan terjadinya fistula
bronkopleura.2

Faktor Predisposisi terjadinya abses paru :


Kondisi-kondisi yang memudahkan terjadinya aspirasi :
- Gangguan kesadaran : alkoholisme, epilepsy/kejang sebab lain, gangguan
serebrovaskular, anestesi umum, penyalahgunaan obat intravena, koma, trauma, sepsis
- Gangguan esophagus dan sealuran cerna lainnya : gangguan motilitas
- Fistula trakeoesopageal Sebab-sebab latrogenik
Penyakit-penyakit periodeontal
- Kebersihan mulut yang buruk
- Pencabutan gigi
- Pneumonia kaut
- Immunosupresi
- Bronkiektasis
- Kanker paru

Infeksi saluran napas atas atau bawah yang belum teratasi. Pasien HIV yang
terkena abses paru pada umumnya mempunyai status immunokompromised yang sangat
jelek (kadar CD4<50/mm3), dan kebanyakan didahului oleh infeksi terutama infeksi
paru.2

GEJALA KLINIS

Pada infeksi oleh mikroorganisme anaerob, gejalanya menunjukkan infeksi subakut


yang lambat perjalanannya, mulai dari beberapa minggu sampai beberapa bulan. Penyakit
paru dengan supurasi akan memberikan gejala berupa jari tabuh.6
 Akut maupun Kronik2
o Prodmoral
 Demam
 Sesak napas
 Malaise
 Anoreksia
 BB
 Batuk (+)
 Sputum kental berbau busuk
o Batuk darah
o Nyeri dada
o Sianosis
Onset penyakit bisa berjalan lambat atau mendadak/ akut. Disebut abses akut bila
terjadinya dari 4-6 minggu. Umumnya pasien mempunyai riwayat perjalanan penyakit 1-
3 minggu dengan gejala awal badan terasa lemah, tidak nafsu makan, penurunan berat
badan, batuk, demam intermitten bisa disertai menggigil dengan suhu tubuh mencapai
39,4oC atau lebih. Walaupun tidak ada demam tidak menyingkirkan adanya abses paru.
Setelah beberapa hari dahak bisa menjadi purulent dan bisa mengandung darah.

Kadang-kadang kita belum mencurigai adanya abses paru sampai dengan abses
tersebut menembus bronkus dan mengeluarkan banyak sputum dalam beberapa jam
sampai dengan beberapa hari yang bisa mengandung jaringan paru yang mengalami
ganggren. Sputum yang berbau amis dan berwarna anchovy menunjukkan penyebabnya
bakteri anaerob dan disebut dengan putrid abscesses, tetapi tidak didapatkannya sputum
dengan ciri diatas tidak menyingkirkan kemungkinan infeksi anaerob. Bila terdapat nyeri
dada menunjukkan keterlibatan pleura. Batuk darah bisa dijumpai, biasanya ringan tetapi
ada yang massif.

Pada beberapa kasus penyakit berjalan dengan sangat akut dengan mengeluarkan
sputum yang berjumlah banyak dengan lokasi abses biasanya di segmen apical lobus atas.
Seringkali ditemukan adanya faktor predisposisi seperti disebutkan diatas. Sedangkan
abses paru sekunder seperti yang disebabkan oleh septic emboli paru dengan infark, abses
sudah bisa timbul hanya dala waktu 2-3 hari.

Pemeriksaan fisik yang ditemukan adalah suhu badan 40o, pada paru ditemukan
seperti nyeri tekan local, pada daerah terbatas perkusi terdengar redup dengan suara nafas
bronkial. Bila abses luas dan letaknya dekat dengan dinding dadad kadang-kadang
terdengar suara amforik. Suara nafas bronkial atau amforik terjadi bila kavitasnya besar
dank arena bronkus masih tetap dalam keadaan terbuka disertai oleh adanya konsolidasi
sekitar abses dan drainase abses yang baik, biasanya juga akan terdengar ronkhi.

Bila abses paru letaknya dekat pleura dan pecah akan terjadi piotoraks (empyema
torakis) sehingga pada pemeriksaan fisik ditemukan pergerakan dinding dada tertinggal
pada tempat lesi, fokal fremitus menghilang. Perkusi redup/ pekak, bunyi nafas
menghilang dan terdapat tenda-tanda pendorongan mediastinum terutama pendorongan
jantung kea rah kontra lateral tempat lesi. Pada abses paru dijumpai jari tabuh, yang
proses terjadinya berlangsung cepat.

DIAGNOSIS

Untuk membuat diagnosis perlu dicari faktor predisposisi yang biasanya dapat
ditelusuru. Letak proses dan macam kelainan fisik mudah diketahui dengan pemeriksaan
fisik, disokong oleh pemeriksaan radiologi, gambaran dahak makroskopis dan
mikroskopis.2
Faktor-faktor predisposisi tersebut antara lain:
1. Ada sumber infeksi di saluran pernafasan. Bisa berupa infeksi mulut, tumor laring yang
terinfeksi, bronkitis, bronkiektasis dan kanker paru yang terinfeksi.
2. Daya tahan saluran pernafasan yang terganggu. Pada paralise laring, aspirasi cairan
lambung karena tidak sadar, akalasia, kanker esofagus, gangguan ekspektorasi dan
gangguan pergerakan silia.
3. Obstruksi mekanik saluran pernafasan karena aspirasi bekuan darah, pus, bagian gigi
yang menyumbat, makanan dan tumor bronkus.lokalisasi abses tergantung pada posisi pada
saat terjadi aspirasi. Dalam keadaan posisi tegak, bahan aspirasi akan mengalir menuju
lobus medius atau segmen posterior lobvus inferior paru kanan, tetapi dalam keadaan
berbaring aspirat akan menuju ke segmen apikal lobus superior atau segmen superior lobus
inferior paru kanan, hanya kadang-kadang saja aspirat dapat mengalir ke paru kiri.
Gejala penyakit timbul satu sampai tiga hari setelah aspirasi, berupa malaise dengan
demam tinggi disertai mengigil, bahkan “rigor”, kemudian disusul dengan batuk dan nyeri
pleuritik atau rasa nyeri yang dirasakan di dalam dada, dan gejala akn terus meningkat
sampai menimbulkan sesak nafas dan sianosis. Bila tidak diobati, amak gejala akan terus
meningkat sampai kurang lebvih hari ke sepuluh. Penderita mendadak batuk dengan
mengeluarkan pus bercampur darah dalam jumlah banyak, munkin berbau bususk jika
terinfeksi oleh kuman anaerob.
Gejala yang khas ini tidak selalu ada. Gejala yang kurang khas dapat bervariasi, dari
ringan sampai sedang, seperti flu saja yang timbul perlahan-lahan.
Dari pemeriksaan fisik fitemukan tanda-tanda konsolidasi seperti redup pada perkusi, suara
bronkhial dengan ronkhi basah atau krepitasi ditempat abses, mungkin ditambah dengan
tanda-tanda efusi pleura. Jari tabuh dapat timbul dalam beberapa minggu terutama bila
drainase tidak baik.
Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium
Hitung leukosit umumnya tinggi berkisar 10.000-30.000/mm3 dengan hitung jenis
bergeser ke kiri dan sel polimorfonuklear yang banyak terutama netrofil yang imatur. Bila
abses berlangsung lama sering ditemukan adanya anemia. Pemeriksaan dahak dapat
membantu dalam menemukan mikroorganisme penyebab abses, namun dahak tersebut
hendaknya diperoleh dari aspirasi transtrakheal, transtorakal atau bilasan atau sikatan
bronkus, karena dahak yang dibatukkan akan terkontaminasi dengan organisme anaerobik
normal pada rongga mulut dan saluran nafas atas. Prosedur invasif ini tidak biasa
dilakukan, kecuali bila respons antibiotik tidak adekuat. Pemeriksaan yang dapat dilakukan
dari dahak adalah pewarnaan langsung dengan teknik gram, biakan mikroorganisme aerob,
anaerob, jamur, Nokardia, basil mikobacterium tuberkulosi dan mikobacterium lain. Dahak
bisa mengandung Spirochaeta, fusiform bacilli atau sejumlah besar bakteri baik yang
patogen maupun flora manusia seperti Streptococus viridans. Klostridium dapat ditemukan
dari aspirasi transtracheal. Kultur darah dapat membantu menemukan etiologi, sedangkan
pemeriksaan serologi dapat dilakukan untuk jamur dan parasit.2

2. Bronkoskopi
Bronkoskopi dengan biopsi sikatan yang terlindung dan bilasan bronkus merupakan
cara diagnositik yang paling baik dengan akurasi diagnostik bakteriologi melebihi 80%.
Cara ini hendaknya dilakukan pada pasien AIDS sebelum dimulai pengobatan karena
banyaknya kuman yang terlibat dan sulit diprediksi secara klinis. Selain itu 10-25%
penyebab abese paru pada orang dewasa adalah karsinoma bronkogenik, dan 60%
diantaranya dapat didiagnosa dengan bronkoskopi.2

3. Aspirasi jarum per kutan


Cara ini mempunyai akurasi tinggi untuk diagnosis bakteriologis, dengan
spesifisitas melebihi aspirasi transtarkeal.2

4. Radiologis
Foto dada PA dan lateral sangat membantu untuk melihat lokasi lesi dan bentuk
abses paru. Pada hari-hari pertama penyakit, foto dada hanya menunjukkan gambaran opak
dari satu atau lebih segemen, atau hanya berupa gambaran densitas homogen yang
berbentuk bulat. Kemudian kana ditemukan gambaran radiolused dalam bayangan infiltrat
yang padat. Selanjutnya bila abses tersebut mengalami ruptur sehingga mengalami drainase
abses yang tidak sempurna ke dalam bronkus, maka akan tampak kavitas ireguler dengan
batas cairan dan permukaan udara (air fluid level) didalamnya. Gambaran spesifik ini
tampak dengan mudah bila kita melakuakn foto dada PA dengan posisi berdiri. Khas pada
abses paruanaerobik, kavitasnya single (soliter) yang biasanya ditemukan pada infeksi paru
primer, sedangkan abses paru sekunder (aerobik, nosokomial atau hematogen) lesinya bisa
multipel.2
CT scan bisa menunjukkan tempat lesi yang menyebabkan obstruksi endobronkial, dan
gambaran abses tampak seperti massa bulat dalam paru dengan kavitas sentral. CT scan
juga bisa manunjukkan lokasi abses berada dalam parenkim paru yang membedakannya
dari empiema.2
Pada foto PA dan lateral abses paru biasanya ditemukan satu kavitas, tetapi dapat juga
multikavitas berdinding tebal, dapat pula ditemukan permukaan udara dan cairan
didalamnya.8
Posisi Posterior-Anterior (PA) :
Terdapat area berbatas tegas transparan di lobus kiri atas (panah putih).

Kavitas diisi oleh cairan dan udara (air-fluid level) (panah hitam).

Posisi Lateral : Kavitas terlihat di lobus kiri atas dengan udara dan cairan didalamnya
(panah putih).

Gambaran CT scan contrast-enhanced axial menunjukkan lesi kavitas yang besar di


lobus bawah kiri dengan dinding yang relatif tebal (black arrow). Kavitas memiliki batas dalam
yang halus dan air-fluid level (white arrow). Terdapat reaksi inflamasi pada sekitar paru-paru
(yellow arrow). Terlihat adanya sudut lancip dengan dinding posterior dada.

DIAGNOSIS BANDING

1. Karsinoma bronkogenik yang mengalami kavitasi, biasanya dinding kavitas tebal dan
tidak rata. Diagnosis pasti dengan pemeriksaan sitologi/patologi.
2. Tuberkulosis paru atau infeksi jamur
Gejala klinisnya hampir sama atau lebih menahun daripada abses paru. Pada
tuberkulosis ditemukan BTA dan pada infeksi jamur ditemukan jamur.
3. Bula yang terinfeksi, tampak air fluid level. Disekitar bula tidak ada atau hanya sedikit
konsolidasi.
4. Kista paru yang terinfeksi. Dindingnya tipis dan tidak ada reaksi disekitarnya.
5. Hematom paru. Ada riwayat trauma. Batuk hanya sedikit.
6. Pneumokoniosis yang mengalami kavitasi. Pekerjaan penderita jelas didaerah berdebu
dan didapatkan simple pneumocoinosis pada penderita.
7. Hiatus hernia. Tidak ada gejala paru. Nyeri retrosternal dan heart burn bertambah berat
pada waktu membungkuk. Diagnosis pasti dengan pemeriksaan barium foto.
8. Sekuester paru. Letak di basal kiri belakang. Diagnosis pasti dengan bronkografi atau
aortografi retrogard.2
PENATALAKSANAAN

Terapi antibiotik
Penanganan dari abses paru mencakup terapi antibiotik jangka panjang. Karena
tersedianya antibiotik spektrum luas yang efektif, abses primer atau nonspesifik dapat
ditangani pada fase awal dari pneumonitis suppuratif. Penisilin selama ini menjadi pilihan
utama, tetapi penelitian terakhir menunjukkan klindamisin lebih superior. Alternatif lain
dapat dengan tetrasiklin, metronidazole. Pemberian secara intravena dapat dilakukan pada
orang dewasa hingga tercapai respon klinis untuk selanjutnya diganti dengan oral.
Pemilihan antibiotik terbaik ialah sesuai dengan hasil kultur mikrobiologi.
Durasi yang tepat dari pemberian antibiotik tergantung pada respon klinis dan
laboratorium. pasien harus diobati setidaknya hingga demam, sputum, dan cairan abses
teratasi, dan kavitas abses teratasi atau tidak berubah selama 2-3 minggu. Pemberian
antibiotik minimum 2-3 minggu direkomendasikan. Setelah terapi antibiotik inisial, respon
klinis dan radiologi meningkat gradual. Demam mungkin menghilang dalam waktu 4-7
hari. Tetapi normalisasi dari radiografi mungkin membutuhkan waktu hingga 2 bulan.

Organisme anerobik
Pilihan utama – Klindamisin (600mg/hari dibagi dalam 4x/hari iv selama 8 hari)
Alternatif – Penicilin G (dosis tinggi 12-18 juta unit perhari iv) kombinasi dengan
metronidazole (2g/hari iv dibagi dalam 4 dosis)
Terapi oral – Klindamisin (300mg/hari 4x/hari), metronidazole (400mg/hari 3x/hari),
amoksisilin (4x500mg)
Organisme gram negatif
Pilihan utama – Sefalosporin, aminoglikosida, kuinolon
Alternatif – Penisilin dan sefaleksin
Terapi oral – Trimetoprim/sulfametoksazole
Organisme pseudomonas
Pilihan utama – aminoglikosida, kuinolon, sefalosporin
Organisme gram positif
Pilihan utama – oksasiklin, klindamisin, sefaleksin, nafsilin, dan amoksisilin
Alternatif – sefuroksim dan klindamisin
Terapi oral – klindamisin
Organisme Nokardia
Pilihan utama – trimetoprim/sulfometoksazole dan tetrasiklin

Jika pengobatan dilakukan pada fase akut, dilanjutkan selama 4-6 minggu, sekitar
85-95% pasien respon terhadap terapi medikal saja. Keberhasilan terapi medikal tergantung
dari gejala dan ukuran dari kavitas sebelum terapi dimulai. Terapi antibiotik jarang berhasil
apabila terapi dimulai setelah gejala timbul lebih dari 12 minggu atau lesi awal berukuran
lebih dari 4 cm. 3
Bronskoskopi juga mempunyai peranan penting dalam penanganan abses paru
seperti pada kasus yang dicurigai karsinoma bronkus atau lesi obstruksi, pengeluaran benda
asing dan untuk melebarkan striktur. Di samping itu, dengan bronkoskopi dapat dilakukan
aspirasi dan pengosongan abses yang tidak mengalami drainase yang adekuat, serta dapat
diberikannya larutan antibiotik melewati bronkus langsung ke lokasi abses.2. Drainase
bronkoskopi mungkin paling berguna pada abses tanpa air-fluid level, yang menunjukkan
kemungkinan hubungan yang persisten dengan bronkus.5
Drainase perkutaneus pada abses yang mengalami komplikasi (contohnya yang
terkait demam dan tanda sepsis) berguna pada pasien yang tidak respon terhadap terapi
medikal yang adekuat. Indikasi lain dari drainase adalah sepsis yang berlanjut meskipun
terapi antimikroba telah adekuat, pembesaran abses yang progresif denga resiko rupture,
gagal untuk lepas dari ventilasi mekanik, kontaminasi dari paru yang berlawanan, dan tidak
dapat menjalani prosedur operasi.3
Operasi reseksi dari segmen paru yang nekrosis sangat membantu jika respon
terhadap antibiotik buruk, untuk abses yang besar, atau penilaian ventilasi-perfusi
menunjukkan fungsi paru yang tersisa pada daerah yang nekrotik terbatas. Paru yang infark
atau infeksi yang progresif sangat cepat mungkin memaksa dilakukannya reseksi pada
jaringan yang terkena. Operasi juga diindikasikan jika terjadi obstruksi jalan napas
menghalangi drainase. Presentasi demikian dapat terjadi pada tumor atau benda asing.5
KOMPLIKASI

Komplikasi lokal meliputi penyebaran infeksi melalui aspirasi lewat bronkus atau
penyebaran langsung melalui jaringan sekitarnya. Abses paru yang drainasenya kurang
baik, bisa mengalami rupture ke segmen lain dengan kecendrungan penyebaran infeksi
staphylococcus, sedang yang rupture ke rongga pleura menjadi piotoraks (empiema).
Komplikasi sering lainnya berupa abses otak, hemoptisis massif, rupture pleura viseralis
sehingga terjadi piopneumotoraks dan fistula bronkopleura.2
Abses paru yang resisten (kronik), yaitu yang resisten dengan pengobatan selama 6
minggu, akan menyebabkan kerusakan paru yang permanen dan mungkin akan menyisakan
suatu bronkiektasis, kor pulmonal dan amiloidosis. Abses paru kronik bisa menyebabkan
anemia, malnutrisi, kakeksia, gangguan cairan dan elektrolit serta gagal jantung terutama
pada manula.2

PROGNOSIS

Prognosis abses paru simple terutama tergantung dari keadaan umum pasien, letak
abses serta luasnya kerusakan paru yang terjadi, dan respons pengobatan yang kita
berikan.2
Angka mortalitas pasien abses paru anaerob pada era antibiotik kurang dari 10%,
dan kira-kira 10-15% memerlukan operasi. Di zaman era antibiotic sekarang angka
penyembuhan mencapai 90-95%. Bila pengobatan diberikan dalam jangka waktu cukup
lama angka kekambuhannya rendah.2
Factor-faktor yang membuat prognosis menjadi buruk adalah kavitas yang besar
(lebih dari 6cm), penyakit dasar yang berat, status immunocompromised, umur yang sangat
tua, empiema, nekrosis paru yang progesif, lesi obstruktif, abses yang disebabkan bakteri
aerobic (termasuk Staphylococcus aereus dan basil gram negatif) dan abses paru yang
belum mendapat pengobatan dalam jangka waktu yang lama. Angka mortalitas pada
pasien-pasien ini bisa mencapai 75% dan bila sembuh maka angka kekambuhannya tinggi.2
BAB IV

KESIMPULAN

 Dari anamnesis didapatkan pasien batuk sejak 2 minggu SMRS. Batuk berdahak banyak
dengan berwarna hijau, Keluhan disertai nyeri dada sebelah kiri, demam dirasakan naik
turun, penurunan nafsu makan, dan badan terasa lemas. Pasien kurang menjaga
kebersihan mulut dan banyak gigi yang berlubang. Thorax : vocal fremitus menghilang
paru kiri, redup di basal paru kiri, ronkhi basah di basal paru kiri. Dengan pemeriksaan
laboratorium ditemukan leukosit 17.000/ µl dan pemeriksaan dahak tidak ditemukan basil
tahan asam.

 Berdasarkan pemeriksaan radiologi ditemukan cavitas berdinding tebal dengan air fluid
level didalamnya pada parakardial kiri. Kesan : gambaran Abses Paru sinistra

 Penanganan pada pasien ini adalah istirahat yang cukup, menghindari paparan debu
berlebih, menggunakan masker menghindari pajanan infeksi sekunder lain, menggunakan
antibiotik sesuai lini pertama golongan Penisilin seperti Klindamicin 4x300 mg p.o/hari
kontrol 1 minggu pertama, pemberian obat analgetik dan antipiretik seperti Paracetamol
3x500 mg p.o/hari jika demam dan nyeri, melakukan indakan operasi dengan indikasi.
DAFTAR PUSTAKA

1. Alsagaff, H. Dr, Prof,. 1995. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya: Airlangga
University Press. Hal. 135-136.
2. Halim, H. Penyakit-penyakit Pleura. Dalam: Sudoyo, A. W,. dkk. 2007. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam, Jilid II Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit
Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. hal. 1056.
3. Bhimji, Shabir. 2010. Lung Abscess, Surgical Perspective. Emedicine. Diunduh dari
http://emedicine.medscape.com/article/428135-overview#showall. Diakses pada 21 April
2018.
4. Rasyid, Ahmad. Abses Paru. 2006. Sudoyo,A.W., dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.
Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Penyakit Dalam FK UI. 1052-1056.
5. Fishman, J.A. Aspiration, Empyema, Lung Abscesses, and Anaerobic Infections. 2008.
Dalam: Fishman,A.P., dkk. Fishman’s Pulmonary Disease and Disorders 4th Ed. Philadelpia:
McGraw-Hill. 1441-1460.
6. Djojodibroto, R. D. Dr, SpP, FCCP,. 2009. Respirologi, Respiratory Medicine. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran, EGC. Hal. 143-144.
7. Bahar, A. 2001. Abses Paru. Dalam: Simadibrata, M,. dkk. Pedoman Diagnosis dan Terapi di
Bidang Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit
Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal. 203-204.
8. Rasad, S. 2005. Radiologi Diagnostik, edisi kedua. Jakarta: Departemen Radiologi, RS Dr.
Cipto Mangunkusumo, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal.101.