Vous êtes sur la page 1sur 69

PENDAHULUAN

Jenis perusahaan pastilah dikenalkan dari sisi kepemilikan. Dari sinilah dikenal jenis
perusahaan perseorangan, persekutuan, dan perseroan. Selanjutnya jenis perusahaan
dikenalkan pula untuk kepentingan pengajaran akuntansi dengan menggolongkan perusahaan
menjadi perusahaan jasa, perusahaan dagang perusahaan manufaktur. Lebih jauh, jenis
perusahaan yang biasa digunakan dalam memahami akuntansi adalah perusahaan-perusahaan
beasar yang umumnya berbentuk perseroan terbatas (PT). Perusahaan yang berbentuk PT
yang dipelajari adalah public sector accounting, yang barang kali dapat membingungkan
dengan kata “public” tersebut.

Ada banyak definisi tentang akuntanasi. Definisi yang dimaksud bahkan dapat dialacak
dari taksonomi akuntansi. Akuntansi bisa didefinisikan daisis akuntanasi sebagai sebuah seni,
ilmu, maupun perekayasaan. Namun tentu saja definisi akuntansi dapat dilihat dar perspektif
lain. Salah saunya adalah dengan memahami akuntansi sebagai sebuah proses. Untuk
memahami atau mengenal akuntansi sektor publik, maka sebaiknya akuntansi dilihat sebagai
sebuag proses. Sebagaimana didefinisikan, “akuntansi adalah suatu proses pengidentifikasian,
pengukuran, pencatatan dan pelaporan transaksi ekonomi (keuangan) dari suatu organisasi
atau entitas yang dijadikan sebagai informasi dalam rangka mengambil keputusan ekonomi
oleh pihak-pihak yang memerlukan”(American Accounting Association, 1966)

Organisasi jika dlihat dari tujuanya dapt digolongkan pada organisasi yang bertujuan
atau bermotif mencari laba, organisasi yang bertujuan atau bermotif selain mencari laba.
Akuntansi untuk organisasi yang bertujuan untuk mencari laba dikenal sebagai akuntanasi
(Sektor) Bisnis, dan untuk organisasiyang bertujuan selain mencari laba dikenal sebagai
akuntansi sector Publik. Dengan demikian ASP dapat didefinisikan sebagai ; “suatu proses
pengidentifikasian, pengukuran, pencatatan, dan pelaporan transaksi ekonomi (keuangan)
dari suatu organisasi atau entitas public seperti pemerintah, LSM, dan lain-lain yang
dijakdikan sebagai informasi dalam rangka mengambil keputusan ekonomi oleh pihak-pihak
yang memerlukan.

1
PEMBAHASAN

I. KERANGKA UMUM KONSEPTUAL AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK

Kerangka konseptual merupakan acuan dan juga dalam pengembangan dalam standar
akuntansi dan solusi atas berbagai hal yang belum diatur dalam standar tersebut. Kerangka
konseptual yang dibahas akan terkait dengan proses perencanaan, penganggaran, pengadaan
barang dan jasa, realisasi anggaran, pelaporan, audit serta pertanggungjawaban.

A. Definisi Kerangka Konseptual Akuntansi Sektor Publik

Kerangka konseptual akuntansi sektor publik merupakan konsep yang mendasari


penyusunan dan penyajian laporan keuangan dalam sektor publik untuk kepentingan
eksternal. Kerangka konseptual akuntansi sektor publik merumuskan konsep yang mendasari
penyusunan dan pelaksanaan siklus akuntansi sektor publik. Jika terjadi pertentangan antara
kerangka konseptual dan standar akuntansi, ketentuan standar akuntansi itu diuji menurut
unsur kerangka konseptual yang terkait. Dalam jangka panjang, konflik semacam itu
diharapkan dapat diselesaikan sejalan dengan pengembangan standar akuntansi di masa
depan.

B. Tujuan dan Peranan Konseptual Akuntansi Sektor Publik

Kerangka konseptual akuntansi sektor publik disusun dengan berbagai tujuan, yaitu
acuan bagi:

a. Tim penyusun standar akuntansi keuangan sektor publik dalam tugasnya.

b. Penyusun laporan keunagn untuk memahami praktek akuntansi menurut prinsip


akuntansi yang secara lazim dan standar akuntansi keuangan sektor publik.

c. Auditor dalam memberikan pendapat mengenai apakah laporan keuangan disusun


sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum.

d. Para pemakai laporan keuangan yang disusun sesuai standar akuntansi keuangan sektor
publik.

Kerangka konseptual ini bukan merupakan standar akuntansi keuangan sector publik.
Revisi kerangka dasar bisa dilakukan dari waktu ke waktu, selaras dengan pengalaman

2
komite penyusunan standar akuntansi keuangan sektor publik dalam penggunaan kerangka
dasar tersebut

C. Lingkup Kerangka Konseptual Akuntansi Sektor Publik

Pembahasan tentang kerangka konseptual akuntansi sektor publik ini meliputi:

Perencanaan dan penganggaran public

Realisasi anggaran public

Pengadaan barang dan jasa public

Pelaporan, audit, pertanggungjawaban sektor public

Berikut ini merupakan lingkup kerangka konseptual akuntansi sektor publik pada
organisasi sektor publik :

a. Pemerintah Pusat; Perencanaan publik: musyawaroh perencanaan pembangunan


(musrenbang) jangka panjang nasional, musrenbang jangka menegah nasional,
musrenbang penyusunan rencana kerja pemerintah.

b. Pemerintah Daerah; Perencanaan public, musyawaroh perencanaan pembangunan


(musrenbang) jangka panjang daerah, musrenbang jangka menegah daerah,
musrenbang penyusunan rencana kerja pemerintah, musrenbang provinsi, musrenbang
kabupaten, musrenbang kecamatan, musrenbang Desa.

c. Partai Politik; Perencanaan Publik, musyawarah kerja tingkat pusat, musyawarah kerja
wilayah, musyawarah kerja derah, musyawarah kerja cabang, musyawarah kerja
ranting.

d. LSM; Perencanaan Publik : rapat kerja untuk menyusun perencanaan LSM.


Penganggaran Publik : penyusunan anggaran, pembahasan anggaran, penetapan
anggaran. Realisaasi anggaran publik : pelaksanaan anggaran.

e. Yayasan/tempat peribadata

D. Implementasi Karakteristik Kualitatif Akuntansi Sektor Publik

Karakteristik kualitatif adalah ciri-ciri khusus dari sebuah mutu. Jika


diimplementasikan pada akuntansi sektor publik, karakteristik kualitatif akuntansi sektor

3
publik adalah ciri khas informasi akuntansi dalam organisasi sektor publik yang berkontribusi
pada penentuan kualitas produk setiap unsur akuntansi sektor publik.

a. Relevan

Relevan mengacu pada kemampuan informasi untuk mempengaruhi keputusan


pengelola organisasi, dengan mengubah atau menginformasi harapan mereka tentang
hasil, atau konsekuensi tindakan atau kejadian. Dalam konsep kerangka konseptual
akuntansi, informasi yang relevan dapat membantu investor, kreditor, dan pengguna
lainya untuk mengevaluasi kondoisi masa lalu, saat ini dan masa depan atau untuk
menginformasikan dan mengoreksi nilai umpan balik/feedback agar relevan.

b. Keandalan dan Reliabilitas

Keandalan mengacu pada kualitas informasi yang sesuai dengan kebutuhan para
peggunanya. Keandalan akan membedakan pengguna stu dengan pengguana yang
lainyatergantug pada keluasan pengetahuan tentang aturan yang digunakan untuk
mempersiapkan informasi. Dengan kata lain, di antara pengguna yang berbeda,
informasi dengan derajat keandalan yang berbeda akan ditemukan. Dalam konteks
kerangka konseptual, agar menjadi andal informasi harus dapat diuji, netral, dan
disajikan dengan jujur.

c. Pertimbangan Biaya dan Manfaat

Pertimbangan biaya dan memanfaat dikenal dengan keterbatasan parpasif. Informasi


akuntansi keuangan akan dicari jika manfaat yang diperoleh dari informasi tersebut
melebihi biayanya. Oleh karnanya, sebelum mempersiapkan dan mendeseminasikan
informasi keuangan, manfaat serta biaya penyiapan informasi itu harus dibandingkan.

d. Materialitas

Mateialitas dianggap sebagai ambang pengakuan. Pada dasarnnya materialitas adalah


pertimbangan yang harus diberikan atau tidak tentang informasi yang signifikan dan
berdampak besar terhadap keputusan yang diambil.

4
II. LINGKUNGAN SEKTOR PUBLIK DAN KARAKTERISTIK AKUNTANSI
SEKTOR PUBLIK
A. Lingkungan Sektor Publik
a) Otonomi Daerah

Perkembangan akuntansi sektor publik, khususnya di Indonesia semakin pesat seiring


dengan adanya era baru dalam pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal.
Otonomi daerah dewasa ini telah menjadi semacam new product dari pemerintah yang begitu
masuk di pasar langsung memperoleh tanggapan sangat tinggi. Otonomi daerah menjadi
sesuatu yang marketable dari berbagai sisi dan bidang kajian.

1. Paradigma lama ke paradigma baru. Orde baru menggunakan paradigma kekuasaan


yang “satu terpusat dan seragam” dalam tiga wujud berikut. Pertama, sentralisasi
kekuasaan pada pusat, eksekusi, dan presiden merupakan prakondisi bagi stabilitas
politik. Kedua, pembentukan budaya nasional oleh negara sebagai pengganti budaya
lokal merupakan prakondisi bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Ketiga, sentralisasi
redistribusi kekayaan nasional akan menjamin pemerataan dan keadilan sosial.
2. Pembagian kekuasaan antara pusat dan daerah. Pembagian ini dilakukan berdasarkan
prinsip negara kesatuan tetapi dengan semangat federalisme. Jenis kekuasaan yang
ditangani pusat hampir sama dengan yang ditangani oleh negara federal. Semua jenis
kekuasaan yang ditangani pusat disebutkan secara spesifik dan limitatif dalam UU
tersebut. Dalam RUU Pemda yang diajukan pemerintah, agama termasuk yang
diserahkan kepada daerah otonom.
3. Pendapatan daerah otonom. Prinsip yang diterapkan dalam UU Pemda yang baru ini
bukan lagi function follows money melainkan money foloows function. Artinya,
sejumlah jenis tugas dan kewenangan yang dipandang sangat penting ditangani daerah
otonom diserahkan kepada daerah otonom.
4. Faktor pendukung dan hambatan. Pertama, menyesuaikan 15 undang-undang yang
mengatur kewenangan. Kedua, konsistensi pemerintah untuk bertindak sesuai arah
otonomi daerah. Ketiga, penyebarluasan jiwa, arah, dan bentuk otonomi daerah yang
dikehandaki UU tersebut.
b) Good Governance

Semangat Good Governance meningkat seiring dengan meningkatnya semangat


reformasi Indonesia. Good Governance adalah suatu penyelenggaran negara yang mengarah

5
kepada tujuan yang baik melalui perumusan kebijakan yang berhubungan dengan masalah-
masalah sosial dan sistem nilai dalam operasi organisasi, yang berlaku bagi semua orang
dibawah sistem demokrasi (Soelendro,2000).

Berdasarkan pengertian menurut Ibnu Rubiyanto (2001). Good governance berorientasi


kepada dua hal, yaitu:

 Orientasi ideal negara yang diarahkan pada pencapaian tujuan nasional. Orientasi ini
mengacu pada domokratisasi pada kehidupan bernegara.

 Pemerintah yang berfungsi secara ideal, yaitu secra efektif dan efisien dalam
melakukan upaya mencapai tujuan nasional.

Terdapat tiga prinsip dalam penyelenggaraan good governance, yaitu:

1) Transparansi, keterbukaan pemerintah dalam menjalankan manajemen pemerintahan,


lingkungan, ekonomi, sosial, dan politik.

2) Partisipasi, berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang bersifat demokratis.

3) Akuntabilitas, mempertanggungjawabkan keberhasilan atau kegagalan pada yang


mendelegasikan kewenangan.

Agar good governance berjalan dengan baik, dibutuhkan komitmen dari semua pihak.
Dan untuk mencapai good governance yang efektif menurut adanya kesetaraan, interpretasi,
serta etos kerja dan moral yang tinggi yang akan digunakan sebagi nilai dasar yang harus
dipegang teguh oleh seluruh komponen yang harus langsung dengan good governance itu
sendiri.

c) Akuntabilitas

Akuntabilitas dapat diartikan sebagai pertanggungjawaban. Penggunaan istilah


akuntabilitas publik mengandung makna yang jelas bahwa hasil-hasil operasi termasuk
didalamnya keputusan-keputusan dan kebijakan yang diambil oleh suatu entitas harus dapat
dijelaskan dan dipertanggungjawabkan kepada publik dan masyarakat. Berdasarkan
Trijuwono (1999) menyatakan bahwa ada 5 tingkat akuntabilitas, yaitu:

 Policy Accountability, akuntabilitas atas pilihan-pilihan kebijakan yang dibuat.

6
 Program Accountability, akuntabilotas terhadap pencapaian tujuan dan efektifitas yang
dicapai.

 Performance Accountability, akuntabilitas atas pencapaian kegiatan yang efisien.

 Process Accountability, akuntabilitas atas penggunaan proses, prosedur atau ukuran


yang layak dalam melaksanakan tindakan.

 Probity and Legality Accountability, akuntabilitas atas legalitas dan kejujuran pengguna
dana sesuai dengan anggaran yang disetujui atau ketaatan terhadap undang-undang
yang berlaku.

i. Akuntabilitas Keuangan; Akuntabilitas merupakan konsep yang luas yang


mensyaratkan agar pemerintah memberikan laporan mengenai penguasaan atas
dana-dana publik dan penggunaannya sesuai peruntukan. Untuk memenuhi
akuntabilitas harus melaporkan empat hal, yaitu:

 Akuntabilitas untuk sumber-sumber keuangan

 Akuntabilitas untuk ketaatan kepada persyaratan legal dan kebijakan administratif

 Akuntabilitas untuk efisiensi dan kehematan dalam operas

 Akuntabilitas untuk hasil program dan efektivitasnya.

ii. Akuntabilitas Kinerja; Tujuan peraturan perundangan tentang akuntabilitas kinerja


adalah untuk memperbaiki sense of accountability dijajaran pemerintah pusat dan
daerah. Akuntabilitas kinerja merupakan perwujudan kewajiban suatu instansi untuk
mempertanggungjawabkan keberhasilan maupun kegagalan dalam melaksanakan
misi.
d) New Public Management

NPM merupakan sistem manajemen administrasi publik yang paling aktual diseluruh
dunia dan sedang direalisasikan diseluruh negara industri. Terdapat beberapa model NPM.
Pertama, model yang menekankan pentingnya efisiensi. Kedua, model yang menekankan
upaya untuk memperkecil lingkup sektor publik, menciptakan fleksibilitas, menghindari
standarisasi, mengembangkan pola pelayanan, dan lain-lain. Ketiga, pola manajemen publik
yang menekankan pada pencapaian hasil yang prima. Keempat, manajemen publim yang
berorientasi pada pelayanan publik.

7
Tujuan NPM adalah untuk mengubah administrasi publik sedemikian rupa, sehingga
kalaupun belum bisa menjadi perusahaan, ia bisa lebih bersifat seperti perusahaan.
Kemudian ada beberapa perangkat dari NPM, yaitu: Manajemen kontra, Penyerahan
tanggungjawab dibidang sumber daya, Orientasi pada hasil kerja, Controlling , Orientasi pada
warga/pelanggan, Personalia, Teknik informasi, Manajemen kualitas, E-government.

The World Bank Group mendefinisikan E-Government sebagai penggunaan teknologi


informasi oleh pemerintah yang memungkinkan pemerintah untuk menstransformasikan
hubungan dengan masyarakat, dunia bisnis, dan pihak yang berkepentingan. Tujuan yang
ingin dicapai adalah untuk menciptakan customer online dan bukan in-line.

E-government dengan men yediakan pelayanan melalui internet dapat dibagi dalam
beberapa tingkatan yaitu penyediaan informasi, interaksi satu arah, interaksi dua arah, dan
transaksi yang berarti pelayanan elektronik secara penuh.

e) Privatisasi

Privatisasi merupakan kebijakan publik yang mengarahkan bahwa tidak ada alternatif
lain selain pasar yang dapat mengendalikan ekonomi secara efisien, serta menyadari bahwa
sebagian besar kegiatan pembangunan ekonomi yang dilaksanakan selama ini seharusnya
diserahkan kepada sektor swasta.

 Konsep privatisasi dilihat dari perspektif politik ekonomi


Privatisasi dan governmentalisasi dipandang sebagai dua hal ekstrem. Jika pemerintah
memilih untuk mempunyai kesempatan yang lebih banyak dalam mempengaruhi bisnis,
perusahaan negara akan memiliki peran yang lebih banyak ke ekstrin
governmentalisasi. Secara praktik, proses privatisasi dipengaruhi oleh ketersediaan
prosedur efisiensi dan efektivitas, skala, lebih responsif terhadap customer, dan
economic equaty. Jika ketersediaan prosedur ada, maka kecenderungan untuk
privatisasi menjadi lebih besar.
 Kontroversi Privatisasi
Publik vs privat. Untuk membuat perbandingan kinerja perusahaan publik dan privat
harus memasukkan faktor-faktor perbedaan kondisi ekonomi dan politik. Praktik
komersial. Kebanyakan perusahaan yang sudah diprivatisasi tetap melakukan kegiatan
operasinya sebagaimana operasi dibawah kepemilikan publik secara penuh
 Privatisasi Dan Pelayanan Publik

8
Salah satu tujuan privatisasi adalah peningkatan mutu pelayanan publik. Indikator mutu
pelayanan dapat dilihat dari kemampuan perusahaan memenuhi keinginan dan
kebutuhan masyarakat. Selain kualitas, sesuatu yang berbeda dari berbagai macam
pelayanan merupakan alternatif lain pilihan masyarakat.
B. Karakteristik Akuntansi Sektor Publik

Akuntansi merupakan suatu aktivitas yang memiliki tujuan. Tujuan tersebut diarahkan
untuk mencapai hasil tertentu dan harus memiliki manfaat. Akuntansi digunakan maupun
untuk sektor swasta dan publik. Untuk tujuan yang berbeda. Dalam beberapa hal, akuntansi
sektor publik berbeda dengan swasta. Perbedaan karakteristik tersebut disebabkan karena
adanya perbedaan lingkungan yang mempengaruhi. Organisasi publik bergerak pada
lingkungan yang sangat kompleks dan turbulance. Komponen lingkungan yang
mempengaruhi organisasi sektor publik meliputi faktor ekonomi, politi, kultur, dan
demografi.

9
III. ANGGARAN DAN PENGANGGARAN DI SEKTOR PUBLIK

A. Pengertian Anggaran Negara

Anggaran publik berisi rencana kegiatan yang di presentasikan dalam bentuk rencana
perolehan pendapatan dan belanja dalam satuan moneter. Anggaran negara menurut John F.
Due (1975) adalah ” suatu pernyataan tentang perkiraan pengeluaran dan penerimaan yang
diharapkan akan terjadi dalam suatu periode di masa depan, serta data dari pengeluaran dan
penerimaan yang sungguh-sungguh terjadi di masa lalu” berdasarkan istilah tersebut maka:

Anggaran negara adalah gambaran dari kebijakan pemerintah yang dinyatakan dalam
ukuran uang, yang meliputi baik kebijaksanaan pengeluaran pemerintah suatu periode di
masa depan maupun kebijaksanan penerimaan untuk menutup pengeluaran tersebut. Sehingga
anggaran negara dapat digunakan untuk mengetahui tercapai atau tidaknya kebijaksanaan
yang di tetapkan pemerintah di masa lalu maupun masa depan.

1) Lingkungan anggaran: hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan anggaran.


Unsur lingkungan anggaran negara terdiri dari:
a. Kebutuhan dan kepentingan rakyat
b. Sistem pemerintahan negara dengan sistem pemerintahan kabinet presidensil yang
berkaitan dengan MPR, presiden, DPR, Kabinet/Mentri Negara, Badan Pemeriksaan
Keuangan (BPK)
c. Sistem administrasi negara
B. Pentingnya Angaran Sektor Publik

Anggaran sektor publik dibuat untuk membantu menentukan tingkat kebutuhan


masyarakat. Dalam sebuah negara demokrasi, pemerintah mewakili kepantingan rakyat, uang
yang dimiliki pemerintah adalah uang rakyat dan anggaran menunjukkan rencana pemerintah
untuk membelanjakan uang negara tersebut.

1. Anggaran kebijakan fiskal pemerintah

Kebijakan fiskal adalah usaha yang dilakukan pemerintah untuk mempengaruhi


keadaan ekonomi melalui sistem pengeluaran atau sistem perpajakn untuk mencapai tujuan
tertentu. Anggaran sektor publik harus dapat memenuhi kriteria: (1) merefleksiakn perubahan
prioritas kebutuhan dan keinginan masyarakat, (2) menentukan penerimaan dan pengeluaran
departemen-departemen pemerintah propinsi atau pemerintah daerah.

10
Anggaran sektor publik penting karena : (1) anggaran merupakan alat bagi pemerintah untuk
mengarahkan pembangunan sosial ekonomi, (2) anggaran diperlukan karena adanya keutuhan
dan keiginan masyarakat yang tak terbatas dan terus berkembang, (3) anggaran diperlukan
untuk meyakinkan bahwa pemerintah telah bertanggungjawab terhadap rakyat.

C. FUNGSI ANGGARAN SEKTOR PUBLIK


i. Sebagai pedoman bagi pemerintah dalam mengelola negara untuk suatu periode
ii. Sebagai alat pengawas bagi masyarakat terhadap kebijakan yang dipilih pemerintah
iii. Sebagai alat pengawas bagi masyarakat terhadap kemampuan pemerintah dalam
melaksanakan kebijaksanaan yang telah dipilih

Mardismo (2002) merinci secara lebih luas fungsi utama anggaran sektor publik yaitu:
(1) sebagai alat perencanaan, (2) alat pengendalian, (3)alat kebijakan fiskal, (4)alat politik,
(5) alat koordinasi dan komunikasi, (6) alat penilaian kerja, (7) alat motivasi, (8) alat
menciptakan ruang publik.

D. PRINSIP-PRINSIP ANGGRAN SEKTOR PUBLIK

Prinsip-prinsip anggaran sektor publik meliputi: (1) otorisasi sektor publik, (2)
komprehensif, (3) ketuhan anggaran, (4) nondescretionari appropriation,(5) periodik, (6)
akurat, (7) jelas, (8) diketahui publik

E. PROSES PENYUSUNAN ANGGARAN SEKTOR PUBLIK

Prosees anggaran mempunyai 4 tujuan: (1) membantu pemerintah mencapai tujuan


fiskal, (2) membantu menciptakan efesiensi dan keadilan, (3) memungkinkan bagi
pemerintah untuk memenuhi prioritas belanja, (4) meningkatkan transparansi dan
pertanggungjawaban pemerintah kepada DPR/DPRD dan masyarakat luas

F. PRINSIP POKOK DALAM SIKLUS ANGGARAN


Siklus anggaran meliputi empat tahap yaitu:
Tahap persiapan anggaran
Tahab ratifikasi
Tahap implementasi
Tahap pelaporan dan evaluasi
G. JENIS ANGGARAN SEKTOR PUBLIK

11
i. Anggaran tradisional; Ciri utama: penyusunan anggaran didasarkan atas pendekatan
inkremental, struktur dan susunan anggaran yang bersifat line-item Ciri lainya:
cenderung sentralis,bersifat spesifikasi, tahunan, mengguanakn prinsip anggaran bruto
ii. Pendekatan New Public Management (NPM): berfokus pada manajemen sektor pulik
yang berorientasi pada kinerja, bukan berorientasi kebijakan. Metode NPM menurut
Osborne dan Gebler yaitu pemerintah katalis, pemerintah milik masyarakat, pemerintan
yang kompetitif, pemerintah yang digerakkann oleh misi, pemerintah yang beorientasi
hasil, pemerintah berorientasi pada pelanggan, pemerintah wirausaha, pemerintah
antisipatif, pemerintah desentralisasi, pemerintah berorientasi
 Perubahan Pendekatan Anggaran. Seiring perkembangan NPM muncul
beberapa tekbik penganggaran sektor publik misalnya teknik anggaran kinerja,
zero based budgeting, dan planning, programming, and budgeting system.
Anggaran Kinerja : untuk mengatasi berbagai kelemahan yang terdapat dalam
anggaran tradisional. Anggaran kinerja didasarkan pada tujuan dan sasaran
kinerja. Oleh karena itu, anggaran digunakan sebagai alat untuk mencapai
tujuan.
 Penerapan anggaran kinerja di Indonesia. Pemerintah Indonesia menerapkan
pendekatan tradisional pada anggaran yang menempatkan penekanan utama
pada apa saja yang akan diterima dan dibelanjakan, bukan pada tujuan dari
pengeluaran yang berssangkuatan. Perbedaan antara kedua pendekatan ini
meringkas perbedaan antara penddekatan historis indonesia terhadap anggaran
kinerja.
 Alokasi anggaran belanja: (1) memperkirakakn pendapatan yang diterima dari
PAD dan dari pemerintah pusat, (2) mengalokasikan dana yang dibutuhkan
untuk mencukupi kegiatan yang tercakup dalam anggaran rutin, (3) menghitung
selisih antara anggaran rutin dari pendapatan serta mengalokasikannya pada
anggaran pembangunan.
 Anggaran kerja. PP 105/2000 telah mewajibkan Pemerintah Derah untuk
menyusun APBD nya dalam bentuk kinerja, dengan anggaran kinerja jumlah
anggaran yang disediakan (input) untuk satu unit kerja akan setara dengan
jumlah pelayanan yang bisa dilakukan unit tersebut kepada masyarakat (output)
 Persyaratan Perencanaan. Berdasarkan PP 108/2000 Pemerintah Daerah
diwajibkan untuk membuat dokuen perencanaan daerah yang berupa program
pembangunan daerah (Propeda) dan rencana strategi daerah (Renstrada)

12
H. ZERO BASED BUDGETING (ZBB)

Konsep Zero Base Budgeting dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan yang ada pada
sistem anggaran tradisional. Penyusunan anggaran ZBB dapat menghilangkan
incrementalism dan line-item karena anggaran diasumsikan mulai dari nol.

1. Proses Implementasi ZBB


Terdiri dari tiga tahab, yaitu:
Identifikasi unit-unit keputusan
Penentuan paket-paket keputusan: paket keputusan mutually-exclusive dan
incremental
Merangkinf dan mengevaluasi paket keputusan
2. Planning, Programming, And Budgeting Systemm (PPBS)
PPBS merupakan teknik penganggaran yang didasarkan pada teori sistem yang
berorientasi pada output dan tujuan dengan penekanan utamanya adalah alokasi sumber
daya berdasarkan analisis ekonomi. Tahab implementasi PPBS:
 Menentukan tujuan umum organisasi dan tujuan unit organisasi dengan jelas
 Mengidentifikasi program dan kegiatan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
 Mengevaluasi berbagai alternatif program dengan menghitung cost-benefit dari
masing-masing program
 Pemilihan program yang memiliki manfaat besar dengan biaya yang kecil
 Alokasi sumberdaya ke massing-masing program.

13
IV. SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN SEKTOR PUBLIK

A. Sistem Pengendalian Manajemen Sektor Publik

Setiap organisasi publik maupun swasta memiliki tujuan yang hendak dicapai. Untuk
mencapai tujuan organisasi tersebut diperlukan strategi yang dijabarkan dalam bentuk
program-program atau aktivitas. Organisasi memerlukan sistem pengendalian manajemen
untuk memberikan jaminan dilaksanakannya strategi organisasi secara efektif dan efisisen
sehingga tujuan organisasi dapat dicapai. Pengendalian manajemen meliputi beberapa
aktivitas, yaitu: (1) Perencanaan, (2) Koordinasi antar berbagai bagian dalam organisasi, (3)
Komunikasi informasi, (4) Pengambilan keputusan, (5) Memotivasi orang-orang dalam
organisasi agar berperilaku sesuai dengan tujuan organisasi agar berperilaku sesuai dengan
tujuan organisasi, (6) Pengendalian, (7) Penilaian kinerja.

Sistem pengendalian manajemen sektor publik berfokus pada bagaimana melaksanakan


strategi organisasi secara efektif dan efesien sehingga tujuan organisasi dapat dicapai. Sistem
pengendalian manajemen tersebut harus didukung dengan perangkat yang lain berupa
struktur organisasi yang sesuai dengan tipe pengendalian manajemen yang digunakan,
manajemen sumber daya manusia, dan lingkungan yang mendukung.

Struktur organisasi harus sesuai dengan desain sistem pengendalian manajemen, karena
sistem pengendalian manajemen berfokus pada unit-unit organisasi sebagaui pusat
pertanggungjawaban tersebut merupakan basis perencanaan, pengendalian, dan penilaian
kinerja. Manajemen sumber daya manusia harus dilakukan sejak proses seleksi dan
rekruitmen, training, pengembangan, dan promosi hingga pemberhentian karyawan. Faktor
lingkungan meliputi kestabilan politik, ekonomi, sosial, keamanan, dan sebagainya. Kesemua
unsur tersebut hendaknya dapat mendukung pelaksanaan strategi organisasi.

B. Tipe Pengendalian Manajemen


Tipe pengendalian manajemen dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok, yaitu:
a) Pengendalian preventif (preventif control).
Dalam tahap ini pengendalian manajemen terkait dengan perumusan strategi
perencanaan strategik yang dijabarkan dalam bentuk program-program.
b) Pengendalian operasional (operational control.

14
Dalam tahap ini pengendalian manajemen terkait dengan pengawasan pelaksanaan
program yang telah ditetapkan melalui alat berupa anggaran. Anggaran digunakan
untuk menghubungkan perencanaan dengan pengendalian.
c) Pengendalian kinerja
Pada tahap ini pengendalian manajemen berupa analisis evaluasi kinerja berdasarkan
tolok ukur kinerja yang telah ditetapkan.
C. Struktur Pengendalian Manajemen.

Sistem pengendalian manajemen harus didukung dengan struktur organisasi yang baik.
Struktur organisasi termanifestasi dalam bentuk struktur pusat pertanggungjawaban
(responsibility centers). Pusat pertanggungjawaban adalah unit organisasi yang dipimpin oleh
manajer yang bertanggungjawab terhadap aktivitas pusat pertanggungjawaban yang
dipimpinnya. Tanggung jawab manajer pusat pertanggungjawaban adalah untuk menciptakan
hubungan yang optimal antara sumber daya input yang digunakan dengan output dihasilkan,
kemudian dikaitkan dengan target kinerja. Pada dasarnya terdapat 4 jenis pusat
pertanggungjawaban, yaitu:

i. Pusat biaya (expense center) : Pusat biaya adalah pusat pertanggungjawaban yang
prestasi manajernya dinilai berdasarkan biaya yang telah dikeluarkan. Suatu unit
organisasi disebut sebagai pusat biaya apabila ukuran kinerja dinilai berdasarkan biaya
yang telah digunakan (bukan nilai output yang dihasilkan.
ii. Pusat Pendapatan (revenue center) : Pusat pendapatan adalah pusat
pertanggungjawaban yang prestasi manajernya dinilai berdasarkan pendapatan yang
dihasilkan
iii. Pusat Laba (profit center) : Pusat laba adalah pusat pertanggungjawaban yang
membandingkan input (expense) dengan output (revenue) dalam satuan moneter.
Kinerja manajer dinilai berdasarkan laba yang dihasilkan.
iv. Pusat investasi (investment center) : Pusat investasi adalah pusat pertanggungjawaban
yang prestasi manajernya dinilai berdasarkan laba yang dihasilkan dikaitkan dengan
investasi yang ditanamakan pada pusat pertanggungjawaban yang dipimpinnya.

Pengendalian manajemen berfokus pada pusat pertanggungajawaban merupakan alat


untuk melaksanakan strategi dan program-program yang telah diseleksi melalui proses
perencanaan strategik. Pusat-pusat pertanggungjawaban organisasi mempunyai peran yang
sangat penting dalam melakukan perencanaan dan pengendalian anggaran. Melalui pusat

15
pertanggungjawaban tersebut anggaran dibuat, dan jika disahkan anggaran dikomunikasikan
kepada manajer level, menengah, dan bawah untuk dilaksanakan.

D. Proses Pengendalian Manajemen Sektor Publik

Proses pengendalian manajemen pada organisasi sektor publik dapat dilakukan dengan
menggunakan saluran komunikasi formal dalam organisasi yang meliputi:

i. Rumusan strategi (strategy formulation)


Perumusan strategi merupakan proses penentuan visi, misi, tujuan, sasaran, target
(outcome), arah dan kebijakan, serta strategi organisasi. Perumusan strategi merupakan
tugas dan tanggung jawab manajemen puncak (top management). Dalam organisasi
pemerintahan, perumusan straegi dilakukan oleh dewan legislatif yang hasilnya berupa
Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang akan menjadi acuan bagi eksekutif
dalam bertindak. Proses perumusan strategi pada organisasi sektor publik banyak
dipengaruhi oileh sektor swasta. Sama halnya dengan sektor swasta, tahap paling awal
dari manajeen strategik pada sektor publik adalah perencanaan.
ii. Perencanaan startegik (strategic plannning)
Sistem pengendalian manajemen diawali dari perencanaan strategik (strategic
planning), perencanaan strategik adalah proses penentuan program-program, aktivitas,
atau proyek yang akan dilaksanakan oleh suatu organisasi dan penentuan jumlah
alokasi sumber daya yang akan dibutuhkan. Perencanaan strategik merupakan proses
menurunkan strategi dalam bentuk program-program. Proses strategik merupakan
proses yang sistematik yang memiliki prosedur dan skedul yang jelas. Organisasi yang
tidak memiliki atau tidak melakukan perencanaan strategik akan mengalami masalah
dalam penganggaran, misalnya terjadinya beban kerja anggaran (budget workload)
yang terlalu berat, alokasi sumber daya yang tidak tepat sasaran, dan dilakukannya
pilihan strategi yang salah. Orientasi dilakukannya manajemen strategik pada
organisasi publik menuntut adanya strategic vision, strategic thinking, strategic
leadership, dan strategic organization.
iii. Penganggaran
Apabila tahap perencanaan strategik telah selesai dilakukan, tahap berikutnya adalah
menentukan anggaran. Tahap penganggaran dalam proses pengendalian manajemen
sektor publik merupakan tahap yang dominan. Proses penganggaran pada organisasi
sektor publik memiliki karakteristik yang agak berbeda dengan penganggaran pada

16
sektor swasta. Perbedaan tersebut terutama adalah adanya pengaruh politik dalam
proses penganggaran.
iv. Evaluasi kinerja
Tahap akhir dari proses pengendalian manajemen adalah penilaian kinerja. Penilaian
kinerja merupakan bagian dari proses pengendalian manajemen yang dapat digunakan
sebagai alat pengendalian. Pengendalian manajemen melalui sistem penilaian kinerja
dilakukan dengan cara menciptakan mekanisme reward & punishment. Sistem
pemberian penghargaan (rewards) dan hukuman (punishment) digunakan sebagai
pendorong bagi pencapaian strategi. Pemberian imbalan (reward) dapat berupa finansial
dan nonfinansial seperti pshycologoical reward dan social reward. Imbalan atau
penghargaan yang sifatnya finansial misalnya berupa kenaikan gaji, bonus, dan
tunjangan. Imbalan yang bersifat psikologis dan sosial misalnya berupa promosi
jabatan, penambahan tanggung jawab dan kepercayaan, otonomi yang lebih besar,
penempatan kerja di lokasi yang lebih baik, dan pengakuan. Mekanisme pemberian
sanksi dan hukuman untuk kondisi tertentu diperlukan. Namun, orientasi penilaian
kinerja hendaknya lebih diarahkan pada pemberian penghargaan (reward oriented).

17
V. PELAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH (PP 71 tahun 2010)

A. PP 71 tahun 2010

Paragraf 9 PSAP Nomor 01 memuat tujuan laporan keuangan. Tujuan laporan


keuangan pada paragraf tersebut, terdiri atas tujuan umum dan tujuan spesifik. Tujuan umum
laporan keuangan menurut PP Nomor 24 Tahun 2005 adalah menyajikan informasi mengenai
posisi keuangan, realisasi anggaran, arus kas, dan kinerja keuangan suatu entitas pelaporan
yang bermanfaat bagi para pengguna dalam membuat dan mengevaluasi keputusan mengenai
alokasi sumber daya. Sementara, menurut PP Nomor 71 Tahun 2010, tujuan umum laporan
keuangan adalah menyajikan informasi mengenai posisi keuangan, realisasi anggaran, saldo
anggaran lebih, arus kas, hasil operasi dan perubahan ekuitas suatu entitas pelaporan yang
bermanfaat bagi para pengguna dalam membuat dan mengevaluasi keputusan mengenai
sumber daya. Tidak adanya kata “kinerja keuangan” pada PP Nomor 71 Tahun 2010,
disebabkan karena adanya Laporan Operasional (LO) sebagai bagian dari Laporan keuangan
pokok pemerintah yang harus disajikan oleh entitas pelaporan, sebagai nama lain dari
Laporan Kinerja Keuangan yang disebutkan dalam PP Nomor 24 Tahun 2005 yang sifatnya
opsional.

B. Tujuan laporan Keuangan

Sedangkan tujuan spesifik laporan keuangan adalah pelaporan keuangan pemerintah


adalah untuk menyajikan informasi yang berguna untuk pengambilan daya yang
dipercayakan kepadanya,dengan:

1. Menyediakan informasi mengenai posisi sumber daya ekonomi, kewajiban, dan ekuitas
pemerintah
2. Menyediakan informasi mengenai perubahan posisi sumber daya ekonomi, kewajiban
dan ekuitas pemerintah
3. Menyediakan informasi mengenai sumber, alokasi, dan penggunaan sumber daya
ekonomi
4. Menyediakan informasi mengenai ketaatan realisasi terhadap anggarannya
5. Menyediakan informasi mengenai cara entitas pelaporan mendanai aktivitasnya dan
memenuhi kebutuhan kasnya
6. Menyediakan informasi mengenai potensi pemerintah untuk membiayai
penyelenggaraan kegiatan pemerintahan

18
7. Menyediakan informasi yang berguna untuk mengevaluasi kemampuan entitas
pelaporan dalam mendanai aktivitasnya

Berdasarkan tujuan umum dan tujuan spesifik tersebut, dapat dengan segera dipahami
bahwa laporan keuangan mempunyai prospektif dan prediktif. Peran prospektif, artinya
laporan keuangan pemerintah merupakan catatan historis yang dapat digunakan untuk melihat
kondisi pemerintah saat ini dan sebelumnya serta menilai kinerja pemerintah berdasarkan
laporan keuangan. Peran prediktif, artinya laporan keuangan dapat dijadikan dasar referensi
bagi pemangku kepentingan untuk memprediksi kondisi keuangan pemerintah di masa yang
akan datang berdasarkan data historis yang tercantum dalam laporan keuangan.

19
VI. PENGUKURAN KINERJA PEMERINTAH

A. Pengukuran Kinerja Organisasi Sektor Publik

Tahap setelah operasionalisasi anggaran adalah pengukuran kinerja untuk menilai


prestasi manajer dan unit organisasi yang dipimpinnya. Pengukuran kinerja sangat penting
untuk menilai akuntabilitas organisasi dan manajer dalam pelayanan publik yang lebih baik.
Akuntabilitas disini bukan sekedar kemampuan menunjukkan uang publik dibelanjakan, akan
tetapi juga meliputi kemampuan menunjukan bahwa uang publik tersebut telah dibelanjakan
secara ekonomies, efisien, dan efektif.

Sistem Pengukuran Kinerja Sektor Publik adalah suatu sistem yang bertujuan untuk
membantu manajer publik menilai pencapaian suatu strategi melalui alat ukur finansial dan
non finansial. Sistem pengukuran kinerja dapat dijadikan alat pengendalian organisasi, karena
pengukuran kinerja diperkuat dengan menetapkan reward and punishment systems.
Pengukuran kinerja sektor publik dilakukan untuk memenuhi tiga maksud. Pertama
Pengukuran kinerja sektor publik dimaksudkan untuk membantu memperbaiki kinerja
pemerintah. Ukuran kinerja dimaksudkan untuk dapat membantu pemerintah berfokus pada
tujuan dan sasaran program unit kerja. Hal ini pada ahkirnya akan meningkatkan efisiensi dan
efektivitas organisasi sektor publik dalam pemberian Pelayanan publik. Kedua Ukuran
kinerja sektor publik digunakan untuk pengalokasian sumber daya dan pembuatan keputusan.
Ketiga Ukuran kinerja sektor publik dimaksudkan untuk mewujudkan pertanggungjawaban
publik dan memperbaiki komunikasi kelembagaan.

Kinerja sektor publik bersifat multidimensional, Sehingga tidak ada indikator tunggal
yang dapat digunakan untuk menunjukan kinerja secara komperhensif. Berbeda dengan
sektor swasta, karena sifat output yang dihasilkan sektor publik lebih banyak
bersifat ingtangible output, maka ukuran finansial saja tidak cukup untuk mengukur kinerja
sektor publik. Oleh karena itu, perlu dikembangkan ukuran kinerja non-finansial.

B. Tujuan Sistem Pengukuran Kinerja :


 Untuk mengkomunikasikan strategi dengan lebih baik (top down and bottom up).
 Untuk mengukur kinerja finansial dan non – finansial secara berimbang sehingga
dapat ditelusur perkembangan pencapaian strategi.
 Untuk mengakomodasi pemahaman kepentingan manajer level menengah dan manajer
bawah serta memotivasi dan untuk mencapai goal congruence.

20
 Sebagai alat untuk mencapai kepuasan berdasarkan pendekatan individual dan
kemampuan kolektif yang rasional.
C. Manfaat Pengukuran kinerja :
1. Memberikan pemahaman mengenai ukuran yang digunakan untuk menilai kinerja
manajemen.
2. Memberikan arah untuk mencapai target kinerja yang ditetapkan.
3. Untuk memonitor dan mengevaluasi pencapaian kinerja dan membandingkannya
dengan target kinerja serta sserta melakukan tindakan korektif untuk memperbaiki
kinerja.
4. Sebagai dasar untuk memberikan penghargaan dan hukuman secara objektif atas
pencapaian yang diukur sesuai dengan sistem pengukuran kinerja yang telah disepakati.
5. Sebagai alat komunikasi antara bawahan dan pimpinan dalam rangka memperbaiki
kinerja organisasi.
6. Membantu mengidentifikasikan apakah kepuasan pelanggan telah terpenuhi.
7. Membantu memahami proses kegiatan instansi pemerintah.
8. Memastikan bahwa pengambilan keputusan dilakukan secara objektif.
D. INFORMASI YANG DIGUNAKAN UNTUK PENGUKURAN KINERJA

Dalam melakukan pengukuran kinerja, informasi yang digunakan dikelompokkan ke


dalam dua kategori, yaitu:

i. Informasi Finansial

Penilaian laporan kinerja finansial diukur berdasarkan pada anggaran yang telah dibuat.
Penilaian tersebut dilakukan dengan menganalisis varians ( selisih atau perbedaan ) antara
kinerja aktual dengan yang dianggarkan. Analisis varians secara garis besar berfokus pada:

Varians pendapatan (revenue variance )


Varians pengeluaran ( expenditure variance )
o Varians belanja rutin ( recurrent expenditure variance )
o Varians belanja investasi/modal (capital expenditure variance)
ii. Informasi Non-Finansial

Informasi non-fianansial dapat dijadikan sebagai tolak ukur lainnya. Informasi non-
finansial dapat menambah keyakinan terhadap kualitas proses pengendalian manajemen.

21
Teknik pengukuran kinerja yang komperhensif yang banyak dikembangkan oleh berbagai
organisasi dewasa ini adalah Balance Scorecard melibatkan empat aspek, yaitu:

 Prespektif finansial ( financial prespective )


 Perspektif kepuasan pelanggan ( customer prespective )
 Perspektif efesiensi proses internal ( internal process efficiensy )
 Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan ( learning and growth perspective )

Jenis informasi non-finansial dapat dinyatakan dalam bentuk variabel kunci ( key
variable ) atau sering dinamakan sebagai key success factor, key result factor, atau pulse
point. Variabel kunci adalah variabel yang mengindikasikan faktor-faktor yang menjadi
sebab kesuksesan organisasi. Jika terjadi perubahan yang tidak diinginkan, maka variabel ini
harus segera disesuaikan. Suatu variabel kunci memiliki bberapa karakteristik, antara lain:

 Menjelaskan faktor pemicu keberhasilan dan kegagalan organisasi.


 Sangat volatile dan dapat berubah dengan cepat.
 Perubahannya tidak dapat diprediksi.
 Jika terjadi perubahan perlu diambil tindakan segera.
 Variabel tersebut dapat diukur, baik secara langsung maupun melalui ukuran antara
(surrogate).
E. PERANAN INDIKATOR KINERJA DALAM PENGUKURAN KINERJA

Untuk melakukan pengukuran kinerja, variabel kunci yang sudah teridentifikasi


tersebut kemudian dikembangkan menjadi indikator kinerja untuk unit kerja yang
bersangkutan. Untuk dapat diketahui tingkat pencapaian kinerja, Indikator kinerja tersebut
kemudian dibandingkan dengan target kinerja atau standart kinerja. Tahap terahkir adalah
evaluasi kinerja yang hasilnya berupa feedback, reward, dan punishment kepada manajer
pusat pertanggungjawaban.

Indikator kinerja digunakan sebagai indikator pelaksanaan strategi yang sudah


ditetapkan. Indikator kinerja tersebut dapat berbentuk faktor-faktor keberhasilan utama
organisasi ( critical succes factors ) atau bisa juga dikenal dengan CSF dan indikator kinerja
kunci ( key performance indicator ) atau bisa juga disebut dengan KPI.

Faktor keberhasilan utama adalah suatu area yang mengindifikasikan kesuksesan


kinerja unit kerja organisasi. Area ini merefleksikan preferensi manajerial dengan
memperhatikan variabel variabel kunci finansial dan non finansial pada kondisi waktu

22
tertentu. Critical succes factor tersebut harus secara konsisten mengikuti perubahan
yang terjadi dalam organisasi.
Indikator kinerja kunci merupakan sekumpulan indikator yang dapat dianggap sebagai
ukuran kinerja kunci baik yang bersifat financial maupun non-financial untuk
melaksanakan oporasi dan kinerja unit bisnis. Indikator ini dapat digunakan oleh
manajer untuk mendeteksi dan memonitor pencapaian kinerja.
Pengembangan Indikator kinerja Penggunaan indikator kinerja sangat penting untuk
mengetahui apakah suatu aktivitas atau program telah dilakukan secara efisien dan
efektif. Indikator untuk tiap-tiap unit organisasi berbeda-beda tergantung pada tipe
pelayanan yang dihasilkan. Penentuan Indikator kinerja perlu mempertimbangankan
komponen berikut : Biaya pelayanan ( cost of service ), Penggunaan ( utilization ),
Kualitas dan standart pelayanan ( quality and standarts ), Cakupan pelayanan
( coverage ), Kepuasan ( satisfaction )
F. MEMBUAT SISTEM PENGUKURAN KINERJA

Penyusunan anggran kinerja – mengutip performance measures, local goverment


financial management training series for slovakia, number 12, - didasarkan ataas
dibangunnya ukuran-ukuran kinerja. Sepuluh langkah dasar yang perlu diikuti pemerintah
daerah dalam membangun sistem pengukuran kinerja dituliskan secara garis besar di bawah
ini:

Langkah 1 : Memperkirakan kesiapan organisasi. Keberhasilan dalam menerapkan


sistem pengukuran kinerja tergantung pada tingkat kesiapan organisasi.

Langkah 2: Merumuskan tujuan . Tujuan pengembangan sistem pengukiran kinerja


harus dirumuskan secara jelas, apakah sasarannya untuk menyempurnakan pembuatan
keputusan, perencanaan,manajemen, penyusunan anggaran, akuntabilitas atau untuk
mencapai beberapa tujuan lainnya.

Langkah 3: Menyiapkan pertanyaan kebijakan. Waktu yang cukup dan sumberdaya


yang memadai akan diperlukan dalam menerapkan pengukuran kinerja. Karenanya, kebijakan
yang terperinci dengan baik perlu sebagai landasan dan memberi acuan bagi proses
pengukuran kinerja. Berikut ini adalah beberapa hal yang harus diperhatikan dalam
penyusunan kebijakan atas pengukuran kinerja:

23
a) Komitmen resmi pihak legislatif dan manajemen untuk mendukung proyek dengan
sumber daya keuangan dan karyawan yang memadai serta komitmennya untuk
menggunakan informasi yang dihasilkan.
b) Tingkat peran serta karyawan dan masyarakat
c) Fokus pelayanan yang menyeluruh atau selektif
d) Bentuk dsn frekuensi pelaporan
e) Koordinasi dengan sistem keuangan dan karyawan

Langkah 4: Mengembangkan rencana kerja. Mengembangkan rencana kerja tertulis


yang mencakup pengelolaan proyek, kepegawaian, rencana kerja, anggaran pelatihan, strategi
dan kinerja pemantauan.

Langkah 5: Memulai orientasi dan pelatihan. Penerimaan terhadap pengukran kinerja


tergantung pada keikutsertaan pemakainnya dan orientasi yang efektif serta pelatihan.

Langkah 6: Memilih bidang pelayanan yang akan diukur . Pemilihan yang bijaksana
aas bidang pelayanan untuk mengawali pengukuran kinerja sangatlah penting dalam
menentukan keberhasilan suatu proyek.

Langkah 7: Merumuskan misi, tujuan dan sasaran :

 Dasar untuk membuat keputusan program dengan menciptakan tuntutan kinerja yang
jelas terhadap prestasi yang dapat diukur dan dievaluasi.
 Orientasi jangka panjang untuk mengkaji ulang alokasi sumber daya bagi prioritas
program dan proyek serta pengaruhnya terhadap pemecahan masalah masalah utama
pemerintah daerah.
 Dokumentasi kebutuhan yang jelas dan mudah dimengerti serta komitmen terhadap
perbaikan yang berkesinambungan.
 Dasar untuk anggaran yang berorientasikan pada hasil.
 Fokus yang memberikan dorongan pada setiap orang untuk bekerja sama.

Langkah 8: Mengenali pengukuran. Setelah mempersiapkan ungkapan misi, tujuan


dan sasaran, langkah selanjutnya adalah mengenali ukuran kinerja yang memperhitungkan
sumber-sumber daya yang digunakan, pelayanan yang tersedia, hasil dan biaya pelayanan.

Langkah 9: Membuat sistem pengumpulan data, analisis dan pelaporan. Ketersediaan


informasi adalah elemen yang penting dari suatu pengukuran kinerja. Keputusan harus dibuat

24
mengenai informasi yang dibutuhkan untuk menentukan hasil-hasil dan masalah kineja dan
bagaimana informasi dapat menjadi sulit dan mahal.

Langkah 10: Pemantauan dan evaluasi. Integrasi sistem pengukuran kinerja


tergantung pada pemantauan yang cermat dan tidak korektif yang akan dilakukan.
Pengukuran kinerja merupakan proses yang berkelanjutan dan berkembang yang memerlukan
penelitian kinerja yang terus menerus untuk diperoleh bukti adanya akurasi, kelengkapan dan
kegunaannya.

G. VALUE FOR MONEY

Value for money merupakan konsep pengelolaan organisasi sektor publik yang
mendasarkan pada tiga elemen utama, yaitu: ekonomi, efisiensi, dan efektivitas.

Ekonomi adalah pemerolehan input dengan kualitas dan kuantitas tertentu pada harga
yang terendah. Ekonomi merupakan perbandingan input dengan input value yang
dinyatakan dalam satuan moneter.
Efisiensi adalah pencapaian output yang maksimum dengan input tertentu atau
penggunaan input yang rendah untuk mencapai output tertentu. Efisiensi merupakan
perbandingan output/input yang dikaitkan dengan standar kinerja atau target yang telah
ditetapkan.
Efektivitas adalah tingkat pencapaian hasil program dengan target yang ditetapkan.
Secara sederhana efektivitas merupakan perbandingan outcome dengan output.

Input merupakan sumber daya yang digunakan untuk pelaksanaan suatu kebijakan,
program dan aktivitas.
Outputt merupankan hasil yang di capai dari suatu program, aktivitas, dan kebuijakan.
Pada umumnya output yang diinginkan saja yang dibicarakan, sedangkan output yang
tidak diinginkan atau efek samping, misalnya peningkatan polusi yang terjadi akibat
dibuatnya jalan baru, jarang dibicarakan.

25
Sasaran antara ( throughput) Analsis value for money memerlukan data input dan
output yang memadai karena value for money mempunyai kaitan erat dengan
pengukuran output dan input.
Outcame adalah dampak yang ditimbulkan dari suatu aktivitas tertentu. Penetapan dan
pengukuran terhadap outcame seringkali lebih sulit dibandingkan penetapan dan
pengukuran terhadap input maupun output. Ada beberapa hal yang menyebabkan
mengapa outcame lebih sulit ditetapkan dan diukur:
o Outcame seringkali tidak dapat diapresiasikan dalam cara yang sederhana dan yang
memudhkan proses monitoring ( pemantauan).
o Adanya masalah politik dalam proses pemantauan outcome.
o Dalam penentuan outcome sangat perlu untuk mempertimbangkan dimensi kualitas.

Manfaat implementasi konsep Value For Money pada organisasi sektor publik antara
lain:

1. Meningkatkan efektivitas pelayanan publik, dalam arti pelayanan yang diberikan


tepat sasaran
2. Meningkatkan mutu pelayanan publik;
3. Menurunkan biaya pelayanan publik karena hilangnya inefisiensi dan terjadinya
penghematan dalam penggunaan input;
4. Alokasi belanja yang lebih berorientasi pada kepentingan publik; dan
5. Meningkatkan kesadaran akan uang publik (public cost awareness) sabagai akar
pelaksanaan Akuntabilitas Publik
H. INDIKATOR KERJA DAN PENGUKURAN VALUE FOR MONEY

Istilah “ukuran kinerja” pada dasarnya berbeda dengan istilah “indikator kinerja”.
Ukuran kinerja mengacu pada penilaian kinerja secara langsung. Sedangkan indikator kinerja
mengacu pada penilaian kinerja secara tidak langsung, yaitu hal-hal yang sifatnya hanya
merupakan indikasi-indikasi kinerja. Untuk dapat mengukur kinerja pemerintah, maka perlu
diketahui indikator-indikator kinerja sebagai dasar penilaian kinerja. Mekanisme untuk
menentukan indikator kinerja tersebut memerlukan hal-hal sebagai berikut:

1. Perencanaan dan pengendalian

Sistem perencanaan dan pengendalian meliputi proses, prosedur dan struktur yang
memberi jaminan bahwa tujuan organisasi telah dijelaskan dan dikomunikasikan ke seluruh

26
bagian organisasi dengan menggunakan rantai komando yang jelas yang didasarkan pada
spesifikasi tugas pokok dan fungsi, kewenangan serta tanggung jawab.

2. Spesifikasi teknis dan standardisasi

Kinerja suatu kegiatan, program, dan organisasi diukur dengan menggunakan


spesifikasi teknis tersebut dijadikan sebagai standart penilaian.

3. Kompetensi teknis dan profesionalisme

Untuk memberikan jaminan terpenuhinya spesifikasi teknis dan standarisasi yang


ditetapkan, maka diperlukan personel yang memiliki kompetensi dan profesional dalam
bekerja.

4. Mekanisme ekonomi dan mekanisme pasar

Mekanisme ekonomi terkait dengan pemberian penghargaan dan hukuman ( reward &
punishment ) yang bersifat finansial, sedangkan mekanisme pasar terkait dengan penggunaan
sumber daya yang menjamin terpenuhinya value for money. Ukuran kinerja digunakan
sebagai dasar untuk memberikan penghargaan dan hukuma ( alat pembinaan )

5. Mekanisme sumber daya manusia

Pemerintah perlu menggunakan beberapa mekanisme untuk memotivasi stafnya untuk


memperbaiki kinerja personal dan organisasi.

6. Pengukuran value for money

Kriteria pokok yang mendasari pelaksanaan manajemen publik dewasa ini adalah
ekonomi, efisiensi, efektivitas, transparasi dan akuntabilitas publik. Tujuan yang dikehendaki
oleh masyarakat mencakup pertanggungjawaban mengenai pelaksanaan value for money,
yaitu ekonomi ( hemat cermat ) dalam pengadaan dan alokasi sumber daya, efisien ( berdaya
guna ) dalam penggunaan sumber daya, dalam arti penggunaannya diminimalkan dan
hasilnya dimaksimalkan (maximizing benefits and minimizing cost ), serta efektif ( berhasil
guna ) dalam arti mencapai tujuan dan sasaran.

Agar dalam menilai kinerja organisasi dapat dilakukan secara obyektif, maka
diperlukan indikator kinerja. Indikator kinerja yang indeal harus terkait pada efisiensi biaya
dan kualitas pelayanan. Sementara itu kualitas terkait dengan kesesuaian dengan maksud dan

27
tujuan ( fitness for purpose), konsistensi, dan kepuasan publik ( public satistaction).
Kepuasan masyarakat dalam konteks tersebut dapat dikaitkan dengan semakin
rendahnya complaint dari masyarakat.

I. PENGEMBANGAN INDIKATOR VALUE FOR MONEY

Peranan indikator kinerja adalah untuk menyediakan informasi sebagai pertimbangan


untuk pembuatan keputusan. Hal ini tidak berarti bahwa suatu indikator akan memberikan
ukuran pencapaian program yang definitif. Indikator value for money dibagi menjadi dua
bagian, yaitu :

1. Indikator Alokasi Biaya ( ekonomi dan efisiensi ), dan


2. Indikator kualitas pelayanan ( efektivitas )

Indikator kinerja harus dapat dimanfaatkan oleh pihak internal maupun eksternal. Pihak
Internal dapat menggunakannya dalam rangka meningkatkan kuantitas dan kualitas
pelayanan serta efisiensi biaya. Dengan kata lain, indikator kinerja berperan untuk
menunjukan, memberi indikasi atau memfokuskan perhatian pada bidang yang relevan
dilakukan tindakan perbaikan.

Pihak eksternal dapat menggunakan indikator kinerja sebagai kontrol dan sekaligus
sebagai informasi dalam rangka mengukur tingkat akuntabilitas publik. Pembuatan dan
penggunaan indikator kinerja tersebut membantu setiap pelaku utama dalam proses
pengeluaran publik. Indikator kinerja akan membantu para manajer publik untuk memonitor
pencapaian program dan mengidentifikasi masalah yang penting.

Tiga pokok bahasan dalam indikator value for money

Berikut ini akan dijelaskan mengenai konsep value for money atau yang dikenal dengan
3E. Ekonomi adalah hubungan antara pasar dan masukan (cost of input). Dengan kata lain
ekonomi adalah prakti pembelian barang dan jasa input dengan tingkat kualitas tertentu pada
harga terbaik yang memungkinkan (spending less)

Efisiensi berhubungan erat dengan konsep produktivitas. Pengukuran efisien dilakukan


dengan menggunakan perbandingan antara output yang dihasilkan terhadap input yang
digunakan (cost of output). Indikator efisiensi, adalah suatu indikator yang menggambarkan
hubungan antara masukan sumber daya oleh suati unit organisasi ( misalnya : staff, upah,

28
biaya administratif ) dan keluaran yang dihasilkan indikator tersebut memberikan informasi
tentang konversi masukan menjadi keluara ( yaitu : efisiensi dari proses internal )

Efektivitas, pada dasarnya berhubungan dengan pencapaian tujuan atau target


kebijakan. Indikator efektivitas, adalah suati indikator yang menggambarkan jangkauan
akibat dan dampak (outcome) dari keluaran (output) program dalam mencapai tujuan
program.

Dari uraian diatas, maka dapat kita simpulkan bahwa ketiga pokok bahasan dalam value for
money sangat terkait dengan yang lainnya, Ekonomi membahas input, efisiensi
membahas input dan output, dan efektivitas membahas output dan outcome. Hubungan ini
dapat digambarkan sebagai contoh gambar dibawah ini.

Gambar 1.7 pengukuran value for money Sumber: Mardiasmo, 2002

J. LANGKAH-LANGKAH PENGUKURAN VALUE FOR MONEY


1. Pengukuran Ekonomi

Pengukuran efektivitas hanya memperhatikan keluaran yang didapat, sedangkan


pengukuran ekonomi hanya mempertimbangkan masukan yang dipergunakan. Ekonomi
merupakan ukuran relatif, Pertanyaan sehubungan dengan pengukuran ekonomi adalah :

a) Apakah biaya organisasi lebih besar dari yang telah dilanggarkan oleh organisasi ?
b) Apakah biaya organisasi lebih besar daripada biaya organisasi lain yang sejenis yang
dapat diperbandingkan ?
c) Apakah organisasi telah menggunakan sumber daya finansialnya secara optimal ?
2. Pengukuran Efisiensi

Pengukuran Efisiensi. Efisiensi merupakan hal penting dari tiga pokok bahasan Value
for Money. Efisiensi diukur dengan rasio antara output dengan input. Semakin
besar output dibandinginput, maka semakin tinggi tingkat efisiensi suatu organisasi.

29
EFISIENSI =

Rasio Efisiensi tidak hanya dinyatakan dalam bentuk absolute tetapi dalam bentuk
relatif. Unit A adalah lebih efisien dibanding unit B. Unit A lebih efisien dibanding unit
tahun lalu, dan seterusnya. Karena efisiensi diukur dengan membandingkan keluaran dan
masukan, maka perbaikan efisiensi dapat dilakukan dengan cara :

 Meningkatkan output pada tingkat input yang sama.


 Meningkatkan output dalam proporsi yang lebih besar daripada proporsi
peningkatan input.
 Menurunkan input pada tingkatan output yang sama.
 Menurunkan input dalam proporsi yang lebih besar daripada proporsi penurunan
output.

Penyebut atau input sekunder seringkali diukur dalam bentuk satuan mata uang.
Pembilang atau output dapat diukur baik dalam jumlah mata uang ataupun satuan fisik. (
catatan : Efisiensi seringkali juga dinyatakan dalam bentuk input/outpu, dengan interpretasi
yang sama dengan bentuk output/input , contoh biaya per unit output ) Dalam pengukuran
kinerja Value for Money, efisiensi dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

1. Efisiensi alokasi
2. Efisiensi teknis (manajerial)
3. Pengukuran Efektivitas
4. Pengukuran Outcome

30
VII. AKUNTANSI ORGANISASI NIR LABA PSK NO 45

A. Pengertian
Organisasi nirlaba memiliki perbedaan yang cukup signifikan dengan organisasi yang
berorientasi kepada laba. Dalam menjalankan kegiatannya, organisasi nirlaba tidak semata-
mata digerakkan oleh tujuan untuk mencari laba. Meski demikian not-for-profit juga harus
diartikan sebagai not-for-loss. Oleh karena itu, organisasi nirlaba selayaknya pun tidak
mengalami defisit. Adapun bila organisasi nirlaba memperoleh surplus, maka surplus tersebut
akan dikontribusikan kembali untuk pemenuhan kepentingan publik, dan bukan untuk
memperkaya pemilik organisasi nirlaba tersebut.
Dalam hal kepemilikan, kepemilikan dalam organisasi nirlaba tidak dapat dijual,
dialihkan, atau ditebus kembali sebagaimana pada organisasi bisnis. Selain itu, kedua jenis
organisasi tersebut bereda dalam hal cara organisasi memperoleh sumber daya yang
dibutuhkan untuk melakukan berbagai aktivitas operasinya. Organisasi nirlaba umumnya
memperoleh sumber daya dari sumbangan para anggota dan donatur lain, yang idealnya,
tidak mengharapkan adanya pengembalian atas donasi yang mereka berikan. Lebih lanjut,
walaupun tidak meminta adanya pengembalian, namun para donatur sebagai salah satu
stakeholder utama organisasi nirlaba tentunya mengharapkan adanya pengembalian atas
sumbangan yang mereka berikan. Para donatur ini, baik mempersyaratkan atau tidak, tentu
tetap menginginkan pelaporan serta pertanggungjawaban yang transparan atas dana yang
mereka berikan. Para donatur ingin mengetahui bagaimana dana yang mereka berikan
dikelola dengan baik dan dipergunakan untuk memberi manfaat bagi kepentingan publik.
Untuk itu, organisasi nirlaba perlu menyusun laporan keuangan. Hal ini bagi sebagian
organisasi nirlaba yang scope-nya masih kecil serta sumber daya-nya masih belum memadai,
mungkin akan menjadi hal yang menantang untuk dilakukan. Terlebih karena organisasi
nirlaba jenis ini umumnya lebih fokus pada pelaksanaan program ketimbang mengurusi
administrasi. Namun, hal tersebut tidak boleh dijadikan alasan karena organisasi nirlaba tidak
boleh hanya mengandalkan pada kepercayaan yang diberikan para donaturnya. Akuntabilitas
sangat diperlukan agar dapat dapat memberikan informasi yang relevan dan dapat diandalkan
kepada donatur, regulator, penerima manfaat dan publik secara umum.
Menurut PSAK 45, organisasi nirlaba perlu menyusun setidaknya 4 jenis laporan
keuangan sebagai berikut:
1. Laporan posisi keuangan (neraca) pada akhir periode laporan
2. Laporan aktivitas untuk suatu periode pelaporan

31
3. Laporan arus kas untuk suatu periode pelaporan
4. Catatan atas laporan keuangan
Meski PSAK 45 didedikasikan bagi organisasi nirlaba, namun standar ini juga dapat
diterapkan oleh lembaga pemerintah, dan unit-unit sejenis lainnya. Namun perlu dicatat
bahwa penerapan pada organisasi selain nirlaba tersebut hanya dapat dilakukan sepanjang
tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
B. Jenis dan Komponen Laporan Keuangan Organisasi Nirlaba
1. Laporan Posisi Keuangan / Neraca
Laporan ini bertujuan untuk menyediakan informasi mengenai aset, kewajiban, dan aset
bersih dan informasi mengenai hubungan di antara unsur-unsur tersebut pada waktu tertentu.
Informasi ini dapat membantu para penyumbang, anggota organisasi, kreditur dan pihak-
pihak lain untuk menilai:
 Kemampuan organisasi untuk memberikan jasa secara berkelanjutan, dan
 Likuiditas, fleksibilitas keuangan, kemampuan untuk memenuhi kewajibannya, serta
kebutuhan pendanaan eksternal.
Komponen dalam laporan posisi keuangan mencakup; Aset, Aset Bersih, Liabilitas
2. Laporan Aktivitas
Tujuan utama laporan aktivitas adalah menyediakan informasi mengenai pengaruh
transaksi dan peristiwa lain yang mengubah jumlah dan sifat aset bersih, hubungan antar
transaksi, dan peristiwa lain, dan bagaimana penggunaan sumber daya dalam pelaksanaan
berbagai program atau jasa. Perubahan aset bersih dalam laporan aktivitas biasanya
melibatkan 4 jenis transaksi, yaitu
 Pendapatan,
 Beban,
 Gains and losses
 Reklasifikasi aset bersih.
Seluruh perubahan aset bersih ini nantinya akan tercermin pada nilai akhir aset bersih
yang disajikan dalam laporan posisi keuangan. Adapun informasi dalam laporan ini dapat
membantu para stakeholders untuk:
a. Mengevaluasi kinerja organisasi nirlaba dalam suatu periode,
b. Menilai upaya, kemampuan, dan kesinambungan organisasi dan memberikan jasa,
dan
c. Menilai pelaksanaan tanggung jawab dan kinerja manajer.

32
Secara umum, ketentuan dalam Laporan Aktivitas adalah sebagai berikut:
 Pendapatan disajikan sebagai penambah aset bersih tidak terikat, kecuali jika
penggunaannya dibatasi oleh penyumbang.
 Beban disajikan sebagai pengurang aset bersih tidak terikat.
 Sumbangan dapat disajikan sebagai penambah aset bersih tidak terikat, terikat
permanen, atau terikat temporer, tergantung pada ada tidaknya pembatasan.
 Jika ada sumbangan terikat temporer yang pembatasannya tidak berlaku lagi dalam
periode yang sama, maka sumbangan tersebut dapat disajikan sebagai sumbangan tidak
terikat sepanjang disajikan secara konsisten dan diungkapkan sebagai kebijakan
akuntansi.
 Keuntungan dan kerugian dari investasi dan aset (atau kewajiban) lain diakui sebagai
penambah atau pengurang aset bersih tidak terikat, kecuali jika penggunaannya
dibatasi.
 Selain dari ketiga jenis aset bersih yang ada sebagaimana dijelaskan sebelumnya,
organisasi nirlaba tetap berpeluang untuk menambah klasifikasi aset bersih sekiranya
diperlukan. Klasifikasi ini bisa dilakukan menurut kelompok operasi atau non-operasi,
dapat dibelanjakan atau tidak dapat dibelanjakan, telah direalisasi atau belum
direalisasi, berulang atau tidak berulang, atau dengan cara lain yang sesuai dengan
aktivitas organisasi.
Komponen dalam laporan posisi keuangan mencakup:
- Pendapatan
- Beban
3. Laporan Arus Kas
Tujuan utama laporan arus kas adalah menyajikan informasi mengenai penerimaan dan
pengeluaran kas dalam suatu periode. Adapun klasifikasi penerimaan dan pengeluaran kas
pada laporan arus kas organisasi nirlaba, sama dengan yang ada pada organisasi bisnis, yaitu:
arus kas dari aktivitas operasi, aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan. Metode
penyusunan laporan arus kas pun bisa menggunakan metode langsung (direct method)
maupun metode tidak langsung (indirect method).
Arus kas dari aktivitas operasi umumnya berasal dari pendapatan jasa, sumbangan, dan
dari perubahan atas aset lancar dan kewajiban lancar yang berdampak pada kas. Sementara
itu, arus kas dari aktivitas investasi biasanya mencatat dampak perubahan aset tetap terhadap
kas, misal karena pembelian peralatan, penjualan tanah, dsb. Lebih lanjut, arus kas dari
aktivitas pendanaan berasal dari penerimaan kas dari penyumbang yang penggunaannya

33
dibatasi untuk jangka panjang; penerimaan kas dari sumbangan dan penghasilan investasi
yang penggunaannya dibatasi untuk perolehan, pembangunan dan pemeliharaan aset tetap,
atau peningkatan dana abadi (endowment), atau dari hasil investasi yang dibatasi
penggunaannya untuk jangka panjang.
Semetara itu, ada kalanya organisasi nirlaba melakukan transaksi yang mengakibatkan
perubahan pada komponen posisi keuangan, namun perubahan tersebut tidak mengakibatkan
kas. Misalnya, adanya pembelian kendaraan operasional dengan utang, sumbangan berupa
bangunan atau aset investasi lainnya. Transaksi sejenis ini (yang tidak mengakibatkan adanya
perubahan kas) harus diungkapkan pada catatan atas laporan keuangan.

34
VIII. LINGKUNGAN SEKTOR PUBLIK DAN KARAKTERISTIK AKUNTANS
SEKTOR PUBLIK

Seperti kita ketahui, ada tiga jenis lembaga di pemerintah daerah yang memberikan
pelayanan kepada masyarakat.

1. Public goods, yaitu pelayanan yang diberikan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah
(SKPD) yang operasionalnya seluruhnya dengan APBD, sifatnya tidak mencari
keuntungan (non profit);
2. Quasi Public Goods, yaitu perangkat daerah yang dalam operasionalnya sebagian dari
APBD dan sebagian lagi dari hasil jasa layanan yang diberikan, sifatnya tidak semata-
mata mencari keuntungan (not for profit); dan
3. Private Goods, yaitu lembaga milik pemerintah daerah yang biaya operasionalnya
seluruhnya berasal dari hasil jasa layanan (seperti BUMD, Perusahaan daerah) dan
bersifat mencari keuntungan (profit oriented).
4. Esensi dari BLUD adalah peningkatan pelayanan dan efisiensi anggaran. Hal ini dapat
dilihat dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 61 Tahun 2007 tentang Pedoman
Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah, disebutkan bahwa
BLUD adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) atau Unit Kerja pada SKPD di
lingkungan pemerintah daerah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada
masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan
mencari keuntungan, dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip
efisiensi dan produktivitas.
A. Pengertian BLUD dan PPK-BLUD
Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah atau
Unit Kerja pada Satuan Kerja Perangkat Daerah di lingkungan pemerintah daerah yang
dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang
dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan, dan dalam melakukan
kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas.

BLUD merupakan perangkat daerah, mempunyai pengertian bahwa BLUD asetnya


merupakan aset daerah yang tidak dipisahkan. Perangkat daerah yang dapat menerapkan Pola
Pengelolaan Keuangan BLUD adalah SKPD (sebagai Pengguna Anggaran) atau Unit Kerja
pada SKPD (sebagai Kuasa Pengguna Anggaran). Memberikan pelayanan kepada masyarakat

35
berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari
keuntungan, mempunyai pengertian bahwa SKPD atau Unit Kerja tersebut memberi
pelayanan langsung kepada masyarakat dan tidak semata-mata mencari keuntungan.
Kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas, mempunyai arti bahwa
BLUD dterapkan dalam rangka efisiensi anggaran dan peningkatan pelayanan pada
masyarakat. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa BLUD masuk dalam
perangkat pemerintah daerah yang bersifat quasi public goods.

Selanjutnya, dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri tersebut juga disebutkan bahwa
BLUD merupakan Pola Pengelolaan Keuangan yang diterapkan pada SKPD atau Unit Kerja
dengan diberikan fleksibilitas, yaitu berupa keleluasaan untuk menerapkan praktek-praktek
bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka
memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagai pengecualian
dari ketentuan pengelolaan keuangan daerah pada umumnya.

B. Pola Pengelolaan Keuangan BLUD


(PPK-BLUD) adalah pola pengelolaan keuangan yang memberikan fleksibilitas berupa
keleluasaan untuk menerapkan praktek-praktek bisnis yang sehat untuk meningkatkan
pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan
mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagai pengecualian dari ketentuan pengelolaan keuangan
daerah pada umumnya.
C. Persyaratan Menerapkan PPK-BLUD
Persyaratan untuk menerapkan PPK-BLUD, meliputi: (1) substantif; (2) teknis; dan (3)
administratif.
1. Persyaratan substantif dipenuhi kalau SKPD atau Unit Kerja tersebut menurut tugas dan
fungsinya memberi pelayanan langsung kepada masyarakat dalam bentuk (a)
penyediaan barang dan jasa, seperti penyediaan layanan dalam bidang kesehatan
(Rumah Sakit Daerah, Puskesmas, dan Laboratorium), pendidikan (sekolahan,
pendidikan dan pelatihan), transportasi (terminal, jasa penyeberangan, jasa
transportasi), pariwisata (pengelolaan wisata daerah), perdagangan (pasar tradisional),
kebersihan (pengelolaan sampah, limbah), penyediaan bibit/pupuk, dan lain-lainnya; (b)
pengelolaan wilayah/kawasan tertentu untuk tujuan meningkatkan perekonomian
masyarakat atau layanan umum, seperti pengelolaan kawasan ekonomi di suatu
wilayah; (c) pengelolaan dana khusus dalam rangka meningkatkan ekonomi dan/atau

36
pelayanan kepada masyarakat, seperti pengelolaan dana bergulir, pengelolaan dana
perumahan.
2. Persyaratan teknis terpenuhi, apabila SKPD atau Unit Kerja tersebut kinerja pelayanan
di bidang tugas dan fungsinya layak dikelola dan ditingkatkan pencapaiannya melalui
BLUD, serta kinerja keuangannya sehat.
3. Persyaratan administratif, apabila SKPD atau Unit kerja menyampaikan dokumen
persyaratan, yang meliputi (1) surat pernyataan kesanggupan untuk meningkatkan
kinerja pelayanan, keuangan, dan manfaat bagi masyarakat; (2) pola tata kelola; (3)
rencana strategis bisnis; (4) standar pelayanan minimal; (5) laporan keuangan pokok
atau prognosa/proyeksi laporan keuangan; dan (6) laporan audit terakhir atau
pernyataan bersedia untuk diaudit secara independen.
Dari ketiga persyaratan tersebut, persyaratan administratif yang sangat menentukan
dapat tidaknya SKPD atau Unit Kerja menerapkan PPK-BLUD. Hal ini disebabkan dari
dokumen administratif tersebut akan dinilai oleh tim penilai yang ditetapkan oleh Kepala
Daerah, yang anggotanya paling sedikit terdiri dari: (1) Sekretaris Daerah, sebagai ketua
merangkap anggota; (2) Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD), sebagai sekretaris
merangkap anggota; (3) Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, sebagai anggota;
(4) Inspektorat Daerah, sebagai anggota; (5) Tenaga ahli (kalau diperlukan) sebagai anggota.
Untuk itu, dalam memudahkan tim penilai dalam menilai dokumen administratif,
Menteri Dalam Negeri telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor: 900/2759/SJ tanggal 10
September 2008 perihal Pedoman Penilaian Penerapan PPK-BLUD. Setelah Kepala Daerah
menerima hasil penilaian dari tim penilai, Kepala Daerah memutuskan menerima atau
menolak usulan SKPD atau Unit Kerja untuk menerapkan PPK-BLUD. Kalau usulan
diterima, penetapan penerapkan PPK-BLUD dengan Keputusan Kepala Daerah (tidak dengan
Peraturan Kepala Daerah atau Peraturan Daerah).
Penetapannya dengan Status BLUD Penuh atau BLUD Bertahap, yang membedakan
dari status BLUD tersebut adalah dalam pemberian fleksibilitasnya. Untuk BLUD dengan
status penuh, diberikan seluruh fleksibilitas sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri
Dalam Negeri tersebut. Sedangkan BLUD Bertahap, diberikan fleksibilitas pada batas-batas
tertentu berkaitan dengan jumlah dana yang dapat dikelola langsung, pengelolaan barang,
pengelolaan piutang, serta perumusan standar, kebijakan, sistem, dan prosedur pengelolaan
keuangan serta tidak diberikan fleksibilitas dalam hal pengelolaan investasi, pengelolaan
utang, dan pengadaan barang dan/atau jasa.

37
D. Fleksibilitas BLUD
SKPD atau Unit Kerja yang menerapkan PPK-BLUD diberikan fleksibilitas dalam Pola
Pengelolaan Keuangannya, antara lain:

1. Pendapatan BLUD yang berasal dari jasa layanan dapat digunakan langsung untuk
membiayai kegiatannya, sehingga tidak masuk kas daerah terlebih dahulu. Hal ini
sangat terasa pada Rumah Sakit Daerah, kalau Rumah Sakit Daerah tidak menerapkan
Pola Pengelolaan Keuangan BLUD, pendapatan harus disetor ke Kas Daerah (tidak
boleh digunakan langsung).
2. Dalam pelaksanaan belanja (biaya), BLUD boleh melampaui pagu yang telah
ditetapkan (flexsible budget) sepanjang pendapatan atau belanjanya bertambah atau
berkurang. Sementara kalau SKPD biasa tidak boleh melampaui anggaran yang telah
ditetapkan dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA).
3. BLUD boleh melakukan utang/piutang, investasi, dan kerjasama. Utang atau pinjaman
dan investasi jangka panjang harus dengan persetujuan Kepala Daerah. Sementara
kalau SKPD biasa tidak boleh melakukan utang/piutang, investasi dan kerjasama, yang
diperbolehkan adalah Pemerintah Daerah.
4. Pengadaan barang dan jasa untuk pendapatan yang berasal selain dari APBD atau
APBN boleh tidak dengan Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tentang
Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah atau perubahannya. Makna
dari pemberian fleksibilitas dalam pengadaan barang dan jasa dimaksud, adalah untuk
mempercepat pelayanan yang diberikan. Namun tetap dengan prinsip efisien, efektif,
transparan, bersaing, adil/tidak diskriminatif, akuntabel dan praktek bisnis yang sehat.
5. Pengelolaan barang, BLUD boleh menghapus aset tidak tetap. Sebagai contoh, RSD
yang telah menerapkan BLUD, boleh menghapus aset-aset yang sudah tidak produktif
atau sudah tidak efisien lagi. Seperti tempat tidur pasien yang sudah reyot, dari pada
memenuhi ruangan/gudang lebih baik dijual. Hasil dari penjualan aset tersebut
merupakan pendapatan BLUD.
6. Pejabat Pengelola dan pegawai BLUD, boleh Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau Non
PNS. Pegawai Non PNS diperlukan sepanjang BLUD yang bersangkutan sangat
membutuhkan dan dalam rangka peningkatan pelayan. Kriteria pengelola dan pegawai
BLUD baik PNS maupun Non PNS harus yang betul-betul profesional, jangan sampai
pegawai yang ada di BLUD karena titipan dari para pejabat yang berpengaruh di daerah

38
tersebut. Pemimpin BLUD harus mempunyai komitmen dan berani menolak kalau
memang tidak masuk dalam kriteria yang telah ditetapkan.
7. BLUD boleh mengangkat Dewan Pengawas, sepanjang asset maupun omsetnya
memenuhi persyaratan sebagaimana yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Untuk
saat ini diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 109/PMK.05/2007 tentang
Dewan Pengawas Badan Layanan Umum.
8. Remunerasi pejabat pengelola BLUD, dewan pengawas, sekretaris dewan pengawas
dan pegawai BLUD dapat diberikan remunerasi sesuai dengan tingkat tanggungjawab
dan tuntutan profesionalisme yang diperlukan. Sehingga tidak lagi pengaturannya
seperti PNS, kalau golongan dan masa kerja sama, gaji yang diterima setiap bulan akan
sama.
9. Penetapan tarif BLUD, ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah (bukan dengan
Peraturan Kepala Daerah).
10. Dalam menyusun Laporan Keuangan, BLUD merupakan perangkat daerah yang tidak
dipisahkan. Untuk itu laporan keuangan BLUD merupakan bagian dari laporan
keuangan SKPD atau Pemerintah Daerah. BLUD akuntansinya wajib menggunakan
Standar Akuntansi Keuangan yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI),
sementara laporan Keuangan Pemerintah menggunakan Standar Akuntansi
Pemerintahan sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005
tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, maka di sini perlu adanya konsolidasian
dalam menyusun laporan keuangan BLUD.
Dengan adanya kemudahan/fleksibilitas yang diberikan sebagaimana tersebut di atas,
hendaknya menerapkan PPK-BLUD jangan hanya mengejar fleksibilitas dimaksud. Namun
harus disadari, menerapkan PPK-BLUD karena mempunyai kemauan untuk meningkatkan
kinerja keuangan, kinerja manfaat dan kinerja pelayanan. Dilain pihak, dalam
implementasinya sampai saat ini masih ada keragu-raguan dari para pejabat di daerah tentang
keberadaan dari Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 61 Tahun 2007 dimaksud, karena di
dalam hirarki perundang-undangan Peraturan Menteri tidak termasuk di dalamnya.

39
XI & X AKUNTANSI KEUANGAN DESA

BAGIAN 1 & 2

A. Definisi Pengelolaan Keuangan Desa

Dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, maka


yang menjadi perhatian kita bersama adalah bagaimana selanjutnya pemerintahan desa
mengelola keuangan dan mempertanggungjawabkannya. Menurut pasal 71 ayat (1) UU
Nomor 6 Tahun 2014 dinyatakan bahwa Keuangan Desa adalah hak dan kewajiban Desa
yang dapat dinilai dengan uang serta segala sesuatu berupa uang dan barang yang
berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban Desa. Selanjutnya pada ayat (2)nya
dinyatakan bahwa adanya hak dan kewajiban akan menimbulkan pendapatan, belanja,
pembiayaan, dan pengelolaan Keuangan Desa.

Dengan diberlakukannya Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang


Peraturan Pelaksanaan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, maka kita coba
jabarkan apa yang sebelumnya diatur pada UU Nomor 6 Tahun 2014, di antaranya : Pasal 93
ayat (1) menyatakan bahwa pengelolaan keuangan Desa meliputi : perencanaan, pelaksanaan,
penatausahaan, pelaporan, dan pertanggungjawaban. Berdasarkan pasal 105 dinyatakan
ketentuan mengenai pengelolaan keuangan Desa akan diatur dalam Peraturan Menteri (
maksudnya Menteri Dalam Negeri). Selanjutnya pasal 94 menyatakan bahwa pengelolaan
keuangan Desa dilaksanakan dalam masa 1 (satu) tahun anggaran terhitung mulai tanggal 1
Januari sampai dengan 31 Desember.

Pasal 103 menyatakan bahwa Kepala Desa menyampaikan laporan realisasi


pelaksanaan APBDesa kepada Bupati/Walikota setiap semester tahun berjalan. Laporan
semester pertama disampaikan paling lambat pada akhir bulan Juli tahun berjalan. Sedangkan
laporan semester kedua disampaikan paling lambat pada akhir Januari tahun berikutnya. Pasal
104 menyatakan bahwa selain penyampaian laporan realisasi pelaksanaan APBDesa, kepala
Desa juga menyampaikan laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan APBDesa
kepada Bupati/Walikota setiap akhir tahun anggaran. Laporan tersebut merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dari laporan penyelenggaraan Pemerintahan Desa kepada
Bupati/Walikota melalui Camat atau sebutan lain setiap akhir tahun anggaran.

40
B. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa)
APBDesa pada dasarnya adalah rencana keuangan tahunan Pemerintahan Desa.
APBDesa terdiri atas :
1. Pendapatan Desa
Meliputi semua penerimaan uang melalui rekening desa yang merupakan hak desa
dalam 1 (satu) tahun anggaran yang tidak perlu dibayar kembali oleh desa. Pendapatan
desa diklasifikasikan menurut kelompok dan jenis.
2. Belanja Desa
Meliputi semua pengeluaran dari rekening desa yang merupakan kewajiban desa dalam
1 (satu) tahun anggaran yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh desa.
Belanja desa dipergunakan dalam rangka mendanai penyelenggaraan kewenangan desa
dan diklasifikasikan menurut kelompok, kegiatan, dan jenis.
3. Pembiayaan Desa
Meliputi semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang
akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada
tahun-tahun anggaran berikutnya. Pembiayaan desa terdiri atas Penerimaan Pembiayaan
dan Pengeluaran Pembiayaan yang diklasifikasikan menurut kelompok dan jenis.
C. Pengelolaan Keuangan Desa

Sebagaimana telah dinyatakan sebelumnya, pengelolaan keuangan Desa meliputi:


perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, dan pertanggungjawaban yang dapat
dijelaskan sebagai berikut :

1. Perencanaan
a. Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa dibuat, disampaikan oleh Kepala Desa,
dan dibahas dengan Badan Permusyawaratan Desa untuk disepakati bersama paling
lambat bulan Oktober tahun berjalan.
b. Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa yang telah disepakati disampaikan
oleh Kepala Desa kepada Bupati/Walikota melalui camat atau sebutan lain paling
lambat 3 (tiga) hari sejak disepakati untuk dievaluasi.
c. Bupati/Walikota melakukan evaluasi paling lama 20 (dua puluh) hari kerja sejak
diterimanya Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa.Dalam hal
Bupati/Walikota tidak melakukan evaluasi dalam batas waktu tersebut, maka
Peraturan Desa berlaku dengan sendirinya.

41
d. Dalam hal Bupati/Walikota mendelegasikan evaluasi Rancangan Peraturan Desa
tentang APBDesa kepada Camat atau sebutan lain, maka langkah yang dilakukan
adalah :
Camat menetapkan hasil evaluasi Rancangan APBDesa paling lama 20 (dua
puluh) hari kerja sejak diterimanya Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa.
Dalam hal Camat tidak memberikan hasil evaluasi dalam batas waktu yang
ditetapkan, Peraturan Desa tersebut berlaku dengan sendirinya.
Dalam hal ada koreksi yang disampaikan atau penyesuaian yang harus dilakukan
dari hasil evaluasi tersebut, Kepala Desa melakukan penyempurnaan paling lama
7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi.
Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Kepala Desa dan Kepala Desa
tetap menetapkan Rancangan Peraturan Kepala Desa tentang APBDesa menjadi
Peraturan Desa, Camat menyampaikan usulan pembatalan Peraturan Desa kepada
Bupati/Walikota.
2. Pelaksanaan
a. Semua penerimaan dan pengeluaran desa dalam rangka pelaksanaan kewenangan
desa dilaksanakan melalui rekening kas desa.
b. Semua penerimaan dan pengeluaran desa harus didukung oleh bukti yang lengkap
dan sah.
c. Pemerintah desa dilarang melakukan pungutan sebagai penerimaan desa selain yang
ditetapkan dalam peraturan desa.
d. Bendahara dapat menyimpan uang dalam Kas Desa pada jumlah tertentu dalam
rangka memenuhi kebutuhan operasional pemerintah desa.
e. Pengeluaran desa yang mengakibatkan beban APBDesa tidak dapat dilakukan
sebelum rancangan peraturan desa tentang APBDesa ditetapkan menjadi peraturan
desa.
f. Pengeluaran desa untuk belanja pegawai yang bersifat mengikat dan operasional
perkantoran yang ditetapkan dalam peraturan kepala desa
3. Penatausahaan
Bendahara desa wajib :
a. Melakukan pencatatan setiap penerimaan dan pengeluaran serta melakukan tutup
buku setiap akhir bulan secara tertib. Penatausahaan penerimaan dan pengeluaran
dilakukan menggunakan : Buku Kas Umum, Buku Kas Pembantu Pajak, dan Buku
Bank.

42
b. Mempertanggungjawabkan uang melalui laporan pertanggungjawaban.
4. Pelaporan
Kepala desa menyampaikan laporan realisasi pelaksanaan APBDesa kepada
Bupati/Walikota yang meliputi :
a. Laporan semester pertama, berupa Laporan Realisasi Pelaksanaan
APBDesa.Semester Pertama.
b. Laporan semester akhir tahun, berupa Laporan Realisasi Pelaksanaan APBDesa
Semester Akhir.
5. Pertanggungjawaban
Kepala desa menyampaikan kepada Bupati /Walikota setiap akhir tahun anggaran
laporan yang meliputi; Laporan Pertanggungjawaban Realisasi Pelaksanaan APBDesa
Tahun Anggaran berkenaan. Merupakan bagian tidak terpisahkan dari laporan
penyelenggaraan Pemerintahan Desa. Diinformasikan kepada masyarakat secara tertulis
dan dengan media informasi yang mudah diakses oleh masyarakat. Disampaikan
kepada Bupati/Walikota melalui camat atau sebutan lain. Laporan Kekayaan Milik
Desa per 31 Desember Tahun Anggaran berkenaan Laporan Program Pemerintah dan
Pemerintah Daerah yang masuk ke desa.
6. Pembinaan dan Pengawasan
a. Pemerintah Provinsi wajib membina dan mengawasi pemberian dan penyaluran
Dana Desa, Alokasi Dana Desa, dan Bagi Hasil Pajak dan Retribusi Daerah dari
Kabupaten/Kota kepada Desa.
b. Pemerintah Kabupaten/Kota wajib membina dan mengawasi pelaksanaan
pengelolaan keuangan desa.
D. Persamaan Akuntansi dan Kode Akun

Persamaan dalam akuntansi merupakan gambaran antara elemen-elemen dalam sebuah


laporan keuangan yang saling berhubungan. Terdapat 5 (lima) elemen pokok dalam laporan
keuangan Desa, yaitu Aset, Kewajiban, Pendapatan, Belanja, dan Kekayaan Bersih. Akan
mudah melakukan pencatatan transaksi jika kita memahami persamaan akuntansi yang dapat
dijelaskan sebagai berikut :

1. Persamaan dasar akuntansi


Persamaan akuntansi dasar ini sangat sederhana dengan mengambil 3 (tiga) elemen
pokok dalam laporan keuangan, yaitu aset, kewajiban, dan kekayaan bersih, maka
didapat rumusan persamaan akuntansinya sebagai berikut :

43
Aset = Kewajiban + Kekayaan Bersih
2. Persamaan akuntansi yang diperluas
Persamaan akuntansi yang diperluas dari persamaan akuntansi dasar ini memiliki 2
(dua) rumus yaitu :

Aset + Belanja = Kewajiban + Kekayaan Bersih + Pendapatan +/- Pembiayaan Netto


atau

Aset = Kewajiban + Kekayaan Bersih + (Pendapatan – Belanja) +/- Pembiayaan Netto

E. Kode Akun

Kode akun adalah suatu penamaan/penomoran yang dipergunakan untuk


mengklasifikasikan pos atau rekening transaksi. Setiap jenis pos dalam satu sistem akuntansi
harus memiliki kode atau nomor yang dapat dibedakan sesuai dengan kelompoknya. Kode
akun mempunyai karakteristik sebagai berikut :

 Luwes, mudah disisipkan jika terdapat penambahan akun baru.


 Sederhana, sesuai dengan tujuan akun, namun mudah dimengerti
 Unik, setiap akun mempunyai kode masing-masing dan unik
 Sistematik, penempatan atau urutan akun sesuai dengan akun utama

Kode akun yang akan digunakan dalam pencatatan keuangan pemerintahan desa
sebaiknya ditetapkan seragam, sehingga laporan keuangan Desa bisa saling diperbandingkan.
Bahkan seandainya diperlukan, akan memudahkan dalam melakukan kompilasi laporan
keuangan seluruh Desa yang ada pada suatu Kabupaten/Desa.

F. Pencatatan pada Pengelolaan Keuangan Desa


1. Pencatatan Transaksi Pendapatan
Pada kelompok ini dilakukan pencatatan yang meliputi :
a. Pendapatan Asli Desa (PADesa) Pada kelompok ini dilakukan pencatatan atas
penerimaan pendapatan yang berasal dari Hasil Usaha; Hasil Aset:
Swadaya/Partisipasi/Gotong Royong ; Lain-lain pendapatan asli desa.
b. Transfer Pada kelompok ini dilakukan pencatatan atas penerimaan pendapatan yang
berasal dari Dana Desa; Bagian dari Hasil Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
Kabupaten/Kota; Alokasi Dana Desa (ADD); Bantuan Keuangan dari APBD
Provinsi; Bantuan Keuangan APBD Kabupaten/Kota.

44
c. Pendapatan Lain-lain Pada kelompok ini dilakukan pencatatan atas penerimaan
pendapatan yang berasal dariHibah dan Sumbangan dari pihak ketiga yang tidak
mengikat ; dan Lain-lain Pendapatan Desa yang Sah
2. Pencatatan Transaksi Belanja
Pada kelompok ini dilakukan pencatatan atas belanja yang dilakukan berdasarkan pada
kelompok : Penyelenggaraan Pemerintahan Desa; Pelaksanaan Pembangunan Desa;
Pembinaan Kemasyarakatan Desa; Pemberdayaan Masyarakat Desa; dan Belanja Tak
Terduga. Masing – masing kelompok ini dalam pelaksanaannya dilakukan melalui
Belanja Pegawai, Belanja Barang dan Jasa, dan Belanja Modal.
3. Pencatatan Transaksi Pembiayaan
Pada kelompok ini dilakukan pencatatan yang meliputi :
a. Penerimaan Pembiayaan Pada kelompok ini dicatat penerimaan pembiayaan yang
berasal dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA); Pencairan Dana Cadangan);
dan Hasil Penjualan Kekayaan Desa yang dipisahkan.
b. Pengeluaran Pembiayaan Pada kelompok ini dicatat pengeluaran pembiayaan yang
digunakan untuk Pembentukan Dana Cadangan, dan Penyertaan Modal Desa.
Khusus untuk Dana Cadangan, penempatannya pada rekening tersendiri dan
penganggarannya tidak melebihi tahun akhir masa jabatan Kepala Desa.
4. Pencatatan Aset, Kewajiban, dan Kekayaan Bersih Pemerintah Desa
Pada kelompok ini dilakukan pencatatan yang mempengaruhi posisi aset, kewajiban,
dan kekayaan bersih pemerintah desa pada akhir tahun anggaran yang bersangkutan
(per 31 Desember). Dilakukan pencatatan untuk transaksi yang mencerminkan hak dan
kewajiban dari pemerintah desa pada akhir tahun anggaran berupa pencatatan piutang
ataupun hutang.
G. Penulisan Bukti-Bukti Akuntansi

Proses pembuatan informasi keuangan berasal dari pencatatan bukti-bukti transaksi.


Pencatatan bukti transaksi merupakan proses yang sangat penting dan berpengaruh pada
proses penyusunan laporan keuangan. Jika terjadi kesalahan pada penulisan bukti-bukti
transaksi, maka laporan keuangan yang dihasilkan akan tidak valid dan relevan. Selain itu
tentunya akan menyesatkan pengguna informasi keuangan tersebut.

1. Jenis-Jenis Bukti Transaksi


Berdasarkan sumbernya bukti transaksi dapat dibedakan dalam 2 (dua) kelompok, yaitu
:

45
a. Bukti Transaksi Internal; Bukti transaksi internal adalah bukti yang berasal atau
dikeluarkan oleh pemerintah desa sebagai bukti telah terjadinya transaksi.
Bukti kas masuk Merupakan bukti transaksi yang mencatat bahwa pemerintah
desa menerima sejumlah uang, misalkan tanda terima uang yang dibuat karena
pemerintah desa menerima sumbangan dalam bentuk uang dari masyarakat.
Bukti kas keluar Merupakan bukti transaksi yang mencatat pengeluaran sejumlah
uang oleh pemerintah desa, misalkan bukti pengeluaran kas untuk membayar
tagihan yang disampaikan ke pemerintah desa atas pembelian yang dilakukan.
b. Bukti Transaksi Eksternal; Bukti transaksi eksternal adalah bukti yang berasal dan
dibuat oleh pihak luar akibat transaksi yang terjadi. Contoh bukti eksternal adalah
surat tagihan, kuitansi, bon/nota, faktur, cek, bilyet giro, dan rekening koran bank.
Bukti-bukti ini diperoleh pemerintah Desa karena adanya transaksi dengan pihak
ketiga yang dilakukan dengan menggunakan uang milik Desa.
Dalam akuntansi, bukti transaksi mempunyai fungsi; Sebagai catatan sah yang dapat
dipertanggungjawabkan dikemudian hari. Sebagai dasar untuk melakukan analisis
akun-akun mana saja yang berpengaruh pada kejadian transaksi tersebut.
2. Pemberian Kode pada Bukti Transaksi
Bukti transaksi perlu diberi nomor pengarsipan yang tujuannya memudahkan dalam
melakukan pencatatan dan dalam pencarian bukti transaksi setelah dilakukan
pengarsipan. Pemberian nomor pengarsipan juga akan memudahkan dalam pengecekan
terhadap pencatatan yang telah dilakukan. Bilamana memungkinkan bukti transaksi
yang berasal dari internal dapat diberikan penomoran yang tercetak sebelumnya (pre-
numbered) ataupun bisa dengan memberikan cap nomor yang akan tercetak berurutan
apabila digunakan.

46
XI. AUDIT LEMBAGA PEMERINTAHAN

A. Seluk-Beluk Pengauditan dan Peran SPKN Dalam Audit di Pemerintahan


Indonesia
1. Perbedaan Pengawasan dan Pemeriksaan Pengauditan
Secara teknis, pemeriksaan APBN/APBD hanya dapat dilakukan oleh institusi yang
memiliki wewenang dan keahlian untuk melakukan audit.

a. Audit Ekonomi dan Efisiensi


Ekonomi merupakan perbandingan input dengan input value yang dinyatakan dalam
satuan moneter. Ekonomi terkait dengan sejauh mana sektor publik dapat
meminimalisasi input resources yang digunakan. Kemudian yang selanjutnya adalah
efisiensi. Efisiensi merupakan perbandingan output atau input yang dikaitkan dengan
standar kinerja atau target yang telah ditetapkan.
b. Audit Efektivitas
Efektivitas berarti tingkat pencapaian hasil program dengan target yang ditetapkan.
Efektivitas berkenaan dengan dampak suatu output bagi pengguna jasa. Untuk
mengukur efektivitas suatu kegiatan harus didasarkan pada kriteria yang telah
ditetapkan sebelumnya.
c. Audit Investigasi
Audit investigasi adalah kegiatan pemeriksaan dengan lingkup tertentu, periodenya
tidak dibatasi, lebih spesifik pada area-area pertanggungjawaban yang diduga
mengandung inefisiensi atau indikasi penyalahgunaan wewenang, dengan hasil audit
berupa rekomendasi untuk ditindak lanjuti.

2. Pendekatan-pendekatan dalam Audit Sektor Publik


Secara garis besar, pendekatan audit ada 3, yaitu:
a. Audit transaksi. Pendekatan ini meliputi vouching atau pembuktian seluruh transaksi
yang terjadi setelah melihat dokumen dan bukti yang ada.
b. Audit neraca. Pendekatan ini meliputi verifikasi seluruh aset dan kewajiban yang
disajikan dalam neraca.
c. Audit sistem. Auditor melakukan pengujian sistem akuntansi dan pengendalian internal
untuk melihat apakah terdapat suatu dasar yang dapat diandalkan sehingga sistem dapat
digunakan.
3. Proses Audit dalam Sektor Publik

47
Sebelum melakukan audit, auditor harus memperoleh informasi umum organisasi guna
mendapatkan pemahaman yang memadai tentang lingkungan organisasi dan lainsebaginya.
Berdasarkan hasil analisis dari berbagai hal, auditor kemudian menetapkan kriteria audit dan
mengembangkan ukuran kinerja yang tepat.

Berdasarkan rencana kerja, auditoe melakukan pengauditan, mengembangkan hasil


temuan dan membandingkannya. Hasil temuan kemudian dilaporkan kepada pihak yang
membutuhkan disertai rekomendasi yang diusulkan oleh auditor. Akhirnya, rekomendasi
yang diusulkan akan ditindaklanjuti oleh pihak yang berwenang.

4. Peran dan Fungsi Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN)


Sesuai dengan peraturan BPK-RI Nomor 1 Taahun 2007 bahwa SPKN adalah patokan
untuk melakukan pemeriksaan pengelolaan dan tanggungjawab keuangan negara. SPKN
dinyatakan dalam bentuk pernyataan standar pemeriksaan yang selanjutnya disebut PSP.
SPKN berlaku untuk semua pemeriksaan yang dilaksanakan terhadap entitas, program,
kegiatan serta fungsi yang berkaitan,

Sesuai dengan UU Nomor 15 Tahun 2004 SPKN memiliki kedudukan sebagai dasar
untuk menilai kebenaran, kecermetan, kredibilitas, dan keandalan informasi. Peran SPKN
adalah memberikan patokan atau arahan pertahapan pemeriksaan pengelolaan dan tanggung
jawab keuangan. Dengan adanya standar pemeriksaan ini, diharapkan akan meningkatkan
kredibilitas yang dilaporkan melalui pengumpulan bukti secara objektif.

5. Isu dan Tantangan dalam Audit di Pemerintahan Indonesia


Audit sektor publik tidak hanya memeriksa laporan keuangan sektor publik, tetapi
menilai ketaatan aparatur pemeintahan terhadap undang-undang yang berlaku. Bila kualitas
audit sektor publik rendah, akan mengakibatkan risiko tuntutan hukum taerhadap pejabat
pemerintah. Untuk itu, dibutuhkan pemahaman yang utuh atas SPKN. Oleh karena itu, perlu
dibuat sosialisasi yang dapat membuat pihak memahami makna SPKN.

Penerapan atas SPKN kadang memungkinkan terjadi perbedaan interpretasi dalam


memahami SPKN. Oleh karena itu, diterbitkan interpretasi atas SPKN. Terhadap kondisi
yang sedang berkembang dan belum diatur dalam SPKN, sambil menunggu perbaikan atau
tambahan untuk SPKN, dapat dibuatkan buletin atas hal ini.

B. Memahami Fungsi Bpk,Bpkp Dan Inspektorat Pemerintahan Indonesia

48
UU nomor 15 tahun 2004 tettang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggug Jawab
Keuangan Negara menyatakan bahwa terdapat tiga jenis pemerksaan yang dapat dilakukan
oleh BPK, yaitu :

1. Pemeriksaan keuangan , adalah pemeriksaan atas laporan keuangan pmeinta pusat dan
daerah. Dalam hal ini pemerkasaan yang dilakukan oleh BPK dalam rangka
memberikan pernyataan opini tetang tingkat kewajaran informasi yang disampaikan
dalam laporan keuangan pemerintah.
2. Pemeriksaan kinerja, adalah emeriksaan atas peneglolaan keuangan Negara terdiri dari
atas pemeriksaan aspek ekonomi dan efisiensi serta pemerksaan aspek efektivitas.
Tujuan pemeriksaaini adalah untu mengidentifikasi hal-hal yang perlu menjadi
perhatian lembaga perwakilan. Dan bagi pemerintah pemeriksaan kinerja dilakukan
dimaksudkan untuk kegiatan yang dibiayai dengan uang Negara maupun keuangan
daerah diselenggarakan secara ekonomis dan efisien serta memenuhi sasrannya secara
efektif.
3. Pemeriksaan denagn tujuan tertentu, adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan tujuan
khusus yang tidak termasuk dalam pemeriksaan keuangan dan pemeriksaan kinerja.
Tugas pokok BPK yaitu menpersiapkan perumusan kebijakan pngawasan keuangan dan
pengawasan pembangunan, menyelenggarakan pengawasan umum atas penguasaan dan
pengurusan keuangan, dan meneyediakan pengawasan pembangunan.

Wewenang badan pemeriksaan keuangan di atur daam undang-undang sebagai berikut :

1. UUD 1945 pasal 23E yaitu untuk memeriksa pengelolan dan tanggung jawab tetnag
keungan Negara.
2. UU nomor 15 tahun 2004 tentang pemeriiksaan pengelolaan dan tanggung jawab
keuangan Negara.
Kedudukan dan nilai-nilai dasar yang menjadi acuan bagi BPK untuk bekerja yaitu :

1. Kedudukan Badan Peeriiksa Keuangan


Badan Pemerksa Keuangan (BPK) adalah badan yang meemriksa tanggung jawab
tetang keuangan Negara yang dalam pelaksanaan tugasnya bebas dan mandiri serta
tidak berdiri diatas pemerintahan. BPK merupakan lembaga tinggi Negara yang
berwenang untuk mengawasi semua kekayaan Negara yang mencakup pemerintah
pusat, pemerintah daerah, BUMN,BUMD, dan lembaga Negara lainnya. BPK
berkedudukan di Jakarta dan memiliki perwakilan di provinsi.

49
2. Tugas dan wewenang badan pemeriksaan keuangan
Memeriksa tanggung jawab tentang keuanagan Negara. Hasil pemeriksaan itu di
serahkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan
Perwakilan Rakyat daerah sesua dengan kewenangannya. BPK memeriksa semua
pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja Negara. Elaksanaan pemerksaan
dilakukan berdasarrkan keunttungan-keuntungan yang ada dalam undang-undang.
3. Keanggotaan badan pemeriksa keungan
Anggota badan pemeriksa keuanan dipilih oleh dewan perwakila rakyat dengan
memperhatikan pertimbangan dewan perwakilan daerah dan diresmikan oleh presiden.
Pimpinan badan pemeriksaan keunagn dipilih dari dan oleh anggota.
4. Visi badan pemeriksaan keuangan
Terwujudnya BPK RI sebagai lembaga pemeriksa ynag bebas dan mandiri,
professional, efektif, efisiensi, dan modern dalam sistem pengelolaan keuangan Negara
yang dalam setiap kegiatanya :
a. Memiliki penegendalian intern yang kuat
b. Memiliki aparat pemeriksa intern yang kuat
c. Hanya diperiksa oleh suatu aparat pemeriksa eksternal.
5. Misi badan pemeriksa keuangan
Mewujudkan diri menjadi auditor eksternal keuangan Negara yang bebas an mandiri,
professional,efktf, efisien dan modern sesua dengan prektik internasioanal terbaik,
berkedudukan di ibukota Negara dan ibu kota provinsi, serta mampu memberdayakan
DPR,. DPRD dan DPRD dalam meaksanakan fungsi pelaksanaannya terhadap
pemerintah pusat dan daerah untuk mewujudkan pemerintahan yang bebas dari korupsi,
kolusi, dan nepotsme (KKN).
6. NIlai-nilai dasar badan pemeriksa keuangan
a. Independensi; BPK RI adalah lmbaga Negara yang independen dibudang organisasi
legislasi dan anggaran serta bebas dari pengaruh lembaga lain.
b. Integritas; BPK RI menjunjung tinggi integritas denagn mewajibkan setiap
pemeriksa dalam melaksanakan tugasnya, menjunjung tinggi kode etik pemeriksa
fan standar perilaku professional.
c. Profesionalisme; BPK Ri melaksanaka tugas sesai denagn standar profesi onlisme
pemeriksaan kkeuangan Negara , kode etik, dan nilai-nilai kelembagaan organiisasi.
Fungsi BPK adalah sebagai berikut :

50
1. Menyiapkan rencana dan program kerja engawasan.
2. Pengawasan terhadap ppengelolaan anggaran pendapatan dan belanja daerah
penguasaan barang milik atau kekayaan Negara.
3. Pengawasan terhadap penegelolaan anggaran pendapatan da belanja daerah dan
pengurusa barang milik atau kekayaan pemerintah daerah atas permintaan daerah.
4. Pengawasan terhadap penyelenggaraan tugas pemerintah ang bersifat strategis dan atau
intas departemen, lembaga tau wilayah.
5. Pemberian asistensi penyusunan laporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah pusat
dan daerah.
6. Evaluasi atas laporan akuntanbilitas kinerja iinstansi pemerintah pusat dan emerintah
daerah.
7. Pemeriksaan terhadap badan usaha milik Negara, pertamina, cabang usaha pertamina,
kontaraktor bagi hasil, dan kontarak kerja sama, badan-badan lain yang didalamnya
terdapat keentingan pemerintah, pinjaman atau bantuan lluar negerii yang diterima oleh
pemerintah pusat, dan badan milik daerah atas permintaan derah sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
8. Evaluasi terhada elksanaanGood Corporite Gavernace dan laporan akuntabiilitas
kinerja pada badan sah milik Negara pertamina, dan badan usaha lain yang memunya
kepentingan dengan pemerintah yang sesuai dengan peraturan pperundang-undangan
yang berlaku.
9. Investasi terhadap indikasi penyimpangan yang merugikan Negara. Dan badan lain
yang didalamnya terdaat kepentingan pemerintah , pemeriksaan hambatan kelancaran
pembanguna, dan pemberian bantuan pemeriksaan kepada instansi penyidik dan
instansi pemerintah lainnnya.
10. Pelaksaan analisis dan penusuna laporan hasilpengawasan serta penegndalian mutu
pengawasan.
11. Pelaksanaa adminstrasi perwakilan BPKP badan pengawasan keangan dan
pembangunan memiliki kegiatan- kegiatan sabagai berikut:
a. Audit
BPK melakukan audit atas:
1) Anggaran endapatan dan belanja daerah (APBN )
2) Laporankeunagn dan kinerja BUMN/D badan usah lainnya
3) Pemenfaatan pinjaman dan hibah luar negeri
4) Kredit usaha tani (KUT) dan kredit ketahanan pangan (KKP)

51
5) Peningkatan pemerimaan Negara, termasuk penerimaan Negara bukan pajak
(PNBP)
6) Dana off balance Sheet BUMN maupun yayasan yang terkait
7) Dana off balance budget depertemen/LPND
8) Audit lanjut atas temuan-temuan pemeriksaan
9) Audit khusus ( audit Investigasi )
10) Audit lainnya yang menurut pemerintah bersifat perlu dan penting untuk
segera dilakukan
b. Konsultasi, asistensi dan evaluasi
BPKP bereran sebagai konsultan bagi para stakeholders menuju tata pemerintahan
yang baik (good governance), yang mencakup:
1) Akuntabilitas kinerja instansi pemerintah (AKIP)
2) Sistem akuntansi keuangan daerah (SAKD)
3) Good corporate governance (GCG) pada badan usaha mlik negaran atau badan
usaha milik daerah
c. Pemberantasan KKN
Di bidang perbantuan pemberantasan korupsi, BPKP mebantu pemerintah
memerangi praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme dengan membentuk gugus tugas
anti korupsi dengan keahlian forensik. Dalam rangka penegakan hukum dan
pemberantasan KKN, BPKP telah mengikat kerja sama dengan Kejaksaan Agung
dan Kepolisian Republik Indonesia yang dituangkan dalam bentuk Surat Keputusan
Bersama.

52
XII. AKUNTANSI YAYASAN DAN UNIVERSITAS

A. Pengertian Dan Ruang Lingkup Yayasan


Menurut UU No. 16 Tahun 2001, sebagai dasar hukum positif yayasan, pengertian
yayasan adalah badan hukum yang kekayaannya terdiri dari kekayaan yang dipisahkan dan
diperuntukkan untuk mencapai tujuan tertentu dibidang sosial, keagamaan, dan kemanusiaan.
Yayasan dapat melakukan kegiatan usaha untuk menunjang pencapaian maksud dan tujuan
dengan cara mendirikan badan usaha atau ikut serta dalam suatu badan usaha.
Dilain pihak, yayasan merupakan bagian dari perkumpulan yang berbentuk badan
hukum dengan pengertian yang dinyatakan dalam pasal 1 Butir 1 UU No 16 Tahun 2001
tentang yayasan, yaitu suatu badan hukum yang kekayaannya terdiri dari kekayaan yang
dipisahkan untuk mencapai tujuan tertentu di bidang sosial, keagamaan, dan kemanusiaan
dengan tidak mempunyai anggota.
Yayasan sebagai suatau Badan Hukum mmpu dan berhak serta berwewenang untuk
melakukan tindakan-tindakan perdata. Pada dasarnya, keberadaan badan hukum yayasan
bersifat permanen, yaitu hanya dapat dibubarkan melalui persetujuan para pendiri atau
anggotanya. Yayasan hanya dapat dibubarkan jika segala ketentuan dan persyaratan dalam
anggaran dasarnya telah dipenuhi. Hal terebut sama kedudukannya dengan perkumpuln yang
berbentuk badan hukum, dimana subjek hukum yang dapat melakukan perbuatan hukum
dan,yang menyandang hak dan kewajiban, dapat digugat maupun menggugat di pengadilan.
Hak dan kewaiban yang dimiliki oleh yayasan dan perkumpulan yang berbentuk Badan
Hukum adalah sama, yaitu sebagai berikut:
1) Hak: berhak untuk mengajukan gugatan
2) Kewajiban: wajib mendaftarkan perkumpulan atau yayasan kepada instansi yang
berwenang untuk mendapatkan status badan hukum.
B. Sifat Dan Karakteristik Yayasan
i. Tujuan Yayasan
Setiap organisasi, termasuk yayasan, memiliki tujuan yang spesifik dan unik yang dapat
bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Tujuan yang bersifat kuantitatif mencakup
pencapaian laba maksimum, penguasaan pangsa pasar, pertumbuhan organisasi, dan
produktifitas. Sementara tujuan kwalitatif dapat di sebutkan sebagai efensiensi dan
efektivitas organisasi, manajemen organisasi yang tangguh, moral karyawan yang
tinggi, reputasi organisasi, stabilitas pelyanan kepada masyarakat, dn citra perusahaan.
ii. Visi

53
Visi merupakan pandangan kedepan dimana suatu organisasi akan diarahkan. Dengan
mmpunyai visi, yayasan dapat berkarya secara konsisten dan tetap eksis, antisipatif,
inovatif, serta produktif. Visi adalah suatu gambaran yang menantang tentang keadaan
masa depan yang berisikan cita dan citra yang ingin diwujudkan suatu yayasan.
iii. Misi
Misi adalah sesuatu yang diemban atau dilaksanakan oleh suatu yayasan sebagai
penjabaran atau visi yang telah ditetapkan. Dengan pernyataan misi, seluruh unsur
yayasan dan pihak yang berkepentingan dapat mengetahui serta mengenal keberadaan
dan peran yayasannya.
iv. Sumber Pembiayaan/Kekayaan
Sumber pembiayaan yayasan berasal dari sejumlah kekayaan yang dipisahkan dalam
bentuk uang atau barang. Selain itu, yayasan juga memperoleh sumbangan atau bantuan
yang tidak mengikat seperti berupa:
 Wakaf,
 Hibah,
 Hibah Wasiat,
 Perolehan lain yang tidak bertentanagn dengan anggaran dasar yayasan atau
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
v. Pola Pertanggungjawaban
Pertanggungjawaban manajemen merupakan bagian terpenting bagi kredibilitas
manajemen di yayasan. Tidak terpenuhinya prinsip pertanggungjawaban tersebut dapat
menimbulkan implikasi yang luas.
vi. Struktur Organisasi Yayasan
Struktur organisasi yayasan merupakan turunan dari fungsi, startegi, dan tujuan
organisasi. Sementara itu, tipologi pemimpin, termasuk pilihan dan orientasi organisasi,
sangat berpengaruh terhadap pilihan struktur birokrasi pada yayasan. Kompleksitas
organisasi sangat berpengaruh pada struktur organisasi. Fungsi badan hukum yayasan
merupakan pranata hukum bagi pencapaian tujuan tertentu dibidang sosial, keagamaan,
dan kemanusiaan.
vii. Karakteristik Anggaran
Anggaran merupakan artikulasi dari hasil perumusan strategi dan perencanaan strategik
yang telah dibuat. Dalam bentuk yang paling sederhana, anggaran merupakan suatu
dokumen yangmenggambarakan kondisi keuangan yayasan yag meliputi informasi
mengenai pendapatan, belanja, dan aktivitas

54
viii. Sistem Akuntansi
Sistem akuntansi merupkan prinsip akuntansi yang menentukan kapan transaksi
keuangan harus diakui untuk tujuan pelaporan keuangan. Sistem akuntansi ini
berhubungan dengan waktu pengukuran dilakukkan dan pada umumnya, bisa dipilih
menjadi sistem akuntansi berbasis kas dan berbasis aktual.
Pada sebuah yayasan, penekanan diberikan pada penyediaan biaya data yang disajikan
dalam bentuk laporan keuangan yang menggunakan sistem akuntansi berbasis aktual yaitu
akuntansi pendapatan dan biaya.
Yayasan yang didirikan oleh pemerintah, sebelum keluarnya UU yayasan, disahkan
dengan surat keputusan dari pejabat yang berwenang dan/atau akta notaris. Kekeyaan awal
yayasan seperti ini dapat diambilkan dari kekayaan negara yang “dipisahkan” atau
“dilepaskan penguasaannya” dari pemerintah dan dari kekeyaan pribadi. Sebelumnya pernah
diperdebatkan: Apakah pada tempatnya penguasa atau pemerintah mendirikan yayasan yang
pada hakikatnya merupakan entitas hukum privat.? Peraturan perundang-undangan yang
melarang hal itu memang belum ada. Pertanyaannya lebih ditujukan pada urgensi pendiriaan
yayasan oleh pemerintah atau BUMN dan BUMD tersebut. Yayasan tersebut akan berada
dalam bingkai hukuman privat dengan segala konsekuensi yuridisnya. Kedudukan kekayaan
negara yang “dipisahkan” atau “dilepaskan penguasaannya” itu secara yuridis mirip dengan
“hibah”, sehingga segala konsekuesi penggunaan, pengelolaan, dan pengawasan atas
kekayaan tersebut akn lepas sama sekali dari pihak yang memberi atau yang menghibahkan.
Yayasan yang diberikan oleh swasta atau perorangan, menurut UU yayasan, harus
didirikan dengan akta Notaris. Kekayaannya di pisahkan dari milik para pendiri atau
pengurus yayasan yang bersangkutan. Akta notaris tersebut harus didaftarkan di kantor
kepaniteraan pengadilan negeri setempat.
Dewasa ini, banyak yayasan didirikan dengan tujuan yang berbeda dan menyimpang
dari tujuan semula, yaitu sebagai usaha yang menguntungkan seperti sebuah perusahaan yang
melakukan lalu lintas dagang. Unsur-unsur menjalankan perusahaan, seperti dokumen
perusahaan, mempunyai izin usaha, dikenai pajak, menggaji pengurus, memperhitungkan
atau menghitung untung rugi lalu mencatatnya dalam pembukuan adalah ciri-ciri suatu
kegiatan yang berbentuk hukum perusahaan. Tanda-tanda yayasan mulai menyimpang dari
tujuan semula, yang secara nyata, dituangkan dalam anggaran dasar suatu yayasan.
Dalam anggaran dasar diatur beberapa hal seperti keanggotaan yayasan yang abadi
dimana pendiri mempunyai kekuasaan mutlak dan abadi bahkan kedudukannya dapat
diwariskan. Yayasan tersebut bergerak dalam bidang pendidikan. Pendiri berasumsi bahwa

55
keuntungan yang diperoleh suaut saat akkan dikendalikan. Oleh karena itu, untuk
mengamankan kedudukannya, di dalam anggaran dasar, kedudukan pendiri di atur sebagai
abadi, dapat diwariskan, dan mempunyai hak veto.
Dengan keluarnya UU yayasan, eksistensi dan landasan yuridis Yayasan sebagai entitas
hukum privat tidak perlu dipermasahkan lagi atau tidak perlu diragukan. Yayasan pada
hakikatnya dalah kekayaan yang dipisahkan dan diberi sattus badan hukum. Sebagai subyek
hukum, organ yayasan difungsikan dengan sebutan pembina, pengawas, dan pengurus.
Analog dengan hukum PT, kedudukan dewan pembina itu sama dengan RUPS (rapat umum
pemegang saham). Pengawas sama dengan komisaris, dan pengurus sama dengan direksi.
Dengan demikian, yayasan pada hakikatnya adalah:
a) Harta kekayaan yang dipisahkan
b) Harta kekayaan tersebut diberi badan hkum
c) Keberadaanny untuk tujuan tertentu di bidang sosial, manusia dan keagamaan
Secara teoritis, yayasan dapat didirikan oleh satu orang, dua orang, atau lebih, yayasan
tidak mempunyai anggota (semacam pemegang saham dalam PT) dan eksistensinya hanya
diperuntukkan guna mencapai tujuan tertentu dalam bidang sosial, kemanusiaan, dan
keagamaan. Oleh karena itu, semua kegiatan yayasan harus diabadikan ke pencapaian tujuan
tersebut. UU yayasan menegaskan hal ini dengan melarang pembagian hasil usaha kepada
organ yayasan, dengan ancaman pidana.
Praktek peradilan selama ini terfokus pada syarat pemisahan harta kekayaan akta
notaris sebagai syarat pendirian yayasan. Syarat pemisahan harta kekayaan sangat banyak
djadikan alasan menurut pengurus yayasan, karena pada umumnya hasil usaha yayansan telah
diajdikan obyek perebutan dalam kepengurusan. Anak keturunan para pendiri sering menjadi
pihak yang berperkara, karena kelemahan organisasi yayaysan nampak dengan alasan
subjektif. Isi akte pendirian sering dijadikan alasan untuk mengalihkan harta kekayaan
yayasan, seolah-olah akta pendirian itu dapat diubah setiap saat sesuai dengan keinginan
pengurus yayasan
C. Akuntansi Universitas
Universitas merupakan salah satu bentuk perguruan tinggi selain akademik, politeknik
dan institute. Dalam aplikasi akuntansi dana dalam praktiknya dapat dilihat dari praktik
akuntansi universitas sebagai salah satu jenis organisasi nirlaba. Universitas dikelompokkan
menjadi dua yaitu:
1. Universitas yang dikelola pihak swasta ( private university ) dilaksanakan berdasarkan
standar akuntansi yang dikembangkan oleh Financial Accountin Standard Board -

56
FASB ( Dewan Standar Akuntansi Keuangan) khususnya dalam pernyataan ( FASB
Statement ) no 117 tentang laporan keuangan untuk organisasi nirlaba.
2. Universitas yang dikelola pihak pemerintah ( public University), pelaksanaan akuntansi
nya dilaksanakan berdasarkan standar akuntansi yang dikembangkan oleh Govermental
Accounting Standard Board – GASB ( Dewan Standar Akuntansi Pemerintah )
khusunya pernyataan ( GASB Statement ) no 15 tentang “ Model pelaporan keuangan
untuk universitas “
D. Struktur dana untuk universitas
Dana lancar yaitu dana ynag didirikan oleh universitas untuk mengelola kekayaan atau
sumber daya yang akan digunakan dalam rangka membiayai kegiatan operasional
sehari-hari . dana lancar ini dibagi menjadu dua bagian yaitu :
1. Dana yang penggunaan nya tidak ada batsan ( Unrestricted current funds )
2. Dana yang penggunaan ny terbatas ( Restricted current funds )
 Dana pinjamanyaitu dana yang didirikan untuk mengumpulkan dana-dana yang akan
digunakan untuk memberikan pinjaman baik kepada pegawai universitas maupun pihak
–pihak lain yang terkait dengan universitas.
 Dana anuitas dan pensiun ( Annuity and life Income Funds ) ,Dana ini seperti dana
pensiun yang dikelola oleh universitas, sedangkan dana pembangunan adalah dana yang
dikumpulkan dengan tujuan penggunaan berupa pembangunan gedung, fasilitas dan
aktiva tetap lainnya.
 Dana Abadi yaitu dana yang dikumpulkan dan kemudian dikelola oleh universitas tidak
untuk penggunaan jangka pendek. Dana ini diabadikan kemudian dikelola dalam
bentuk investasi yang hasilnya bisa di manfaat kan untuk penggunanaan jangka pendek.
 Dana Pembangunan yaitu dana yang dikumpulkan dengan tujuan penggunaan berupa
pembangunan gedung, fasilitas dan aktiva tetap lainnya.
 Akuntansi dana untuk universitas serupa dengan akuntansi unit-unit pemerintah.
Keduanya mencatat pendapatan dan belanja untuk masing-masing dana, menggunakan
anggran untuk merencanakan dan memonitor operasi, juga menggunakan sistem beban
pemesanan untik mencatat pesanan pembelian yang dilakukan, memiliki transaksi dan
transfer antar dana serta menyajikan neraca serta laporan operasi untuk periode
berjalan.
Akuntansi dana untuk universitas harus memisahkan antara terikat pembatasan yang
dimaksud berasal dari pihak eksternal universitas. Ada tiga laporan keuangan yang harus
dibuat oleh suatu universitas yaitu :

57
a) Laporan pendapatan, belanja dan beban lainnya
b) Laporan perubahan saldo dana
c) Neraca kombinasi
Dana Lancar Tidak Terikat Dana lancar tidak terikat mencatat dana yang dapat
dibelanjakan untuk menjalankan aktivitas utama dari universitas dan yang
penggunaannya tidak dibatasi untukt ujuan tertentu. Tujuannya serupadengan Dana
Umum pada entitas pemerintah. Dasar akuntansinya menggunakan dasar akrual.
Namun, sebagai ganti laba bersih (net income), selisih antara pendapatan dan belanja
dicatat sebagai perubahan bersih atas saldo dana (net change to fund balance). Rincian
anggaran disiapkan menurut fungsi objek, departemen dan kelompok belanja.Untuk
pencatatannya serupa dengan akuntansi pemerintah. Dalam akuntansi dana universitas
ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu : Pendapatan dan belanja Sehubungan
dengan pendaptan dan belanja dalam akuntansi dana untuk universitas terdapat
beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu :remisi uang kuliah dan piutang tak tertagih,
pengembalian uang kuliah, sesi perkuliahan yang berlangsung pada dua periode,
transfer dan penyisihan dana, investasi, sumbangan, depresiasi, pendapatan, belanja,
transfer
Dana Lancar Terikat Dana dalam Dana Lancar Terikat dapat digunkan untuk tujuan
operasional dari universitas sesuai batasan yang ditetapkan pihak eksternal yang
mensponsori dana tersbut. Penerimaan dana dengan pembatasan (restriction) dicatat
sebagai peningkatan dalam kas dan saldo dana, namun tidak diakui sebagai pendapatan
sampai ketentuan yang membatasi pengunaan dana itu dipenuhi dan dana dibelanjakan
sesuaidengan cara yang telah ditetapkan. Jadi dalam Dana Lancar Terikat, pendapatan
tidak diakui sampai belanja yang sesuai dengan tujuan tertentu telah dilaksanakan.
Dalam dana lancar terikat pendapatan tidak diakui sampai belanja yang sesuai dengan
tujuan tertentu telah dilakukan:
a. Pendapatan dan penambahan saldo dana lainnya
b. Balanja dan pengurangan saldo lainnya
c. Transaksi lainnya.

58
XIII. AKUNTANSI PARTAI POLITIK DAN LEMBAGA SWADAYA
MASYARAKAT

I. Akuntansi Partai Politik


A. Definisi Partai Politik

Partai Politik adalah institusi politik yanng berupa organisasi nonpemerintahan yang
didirikan untuk memperjuangkan hak dan kewajiban warga negara dalam rangka
menciptakan kesejahteraan serta kedaulatan rakyat. Perbedaan antara partai politik dari
lembaga sosial kemasyarakatan lainnya adalah bahwa Partai Politik dapat berperan dalm
penentuan kebijakan publik, dimana kebijakan tersebut bisa membawa dampak kemaslahatan
yang lebih luas bagi masyarakat dan mengakibatkan risiko pertanggungjawaban menjadi
lebih besar.

Dalam ruang gerak Partai Politik sendiri terikat dengan peraturan perundang-undangan
Republik Indonesia. Tata cara pembentukan Partai Politik termasuk syarat-syarat
pembentukkannya dapat dilihat dalam UU RI No. 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik,
dimana terdapat ketentuan umum mengenai kepengurusan Partai Politik, larangan, dan sanksi
yang harus diikuti oleh Partai Politik. Ketentuan mengenai Partai Politik yang dapat menjadi
peserta pemilu secara lebih jelas diatur dalam UU RI No. 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan
Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah.

Secara khusus pengertian Partai Politik disebutkan dalam UU RI No. 31 Tahun 2002
tentang Partai Politik, yaitu Partai Politik adalah organisasi poliitik yang dibentuk oleh
sekelompok warga negara Republik Indonesia secara sukarela atas dasar persamaan kehendak
dan cita-cita untuk memperjuangkan kepentingan anggota, masyarakat, bangsa, dan negara
melalui pemilihan umum.

B. Fungsi Partai Politik


Dalam Negara demokrasi,Partai politik menyelenggarakan beberapa fungsi:
1) Partai Politik Sebagai Komunikasi Politik:Menyalurkan aneka ragam pendapat dan
aspirasi masyarakat serta mengaturnya sedemikian rupa sehingga kesimpangsiuran
pendapat dalam masyarakat masyakat menjadi berkurang.

59
2) Partai Politik sebagai Sarana Sosialisasi politik:diartikan sebagai proses sikap dan
orientasi seorang terhadap fenomena politik dalam mengikuti kecenderungan
masyarakatnya.
3) Partai Politik Sebagai Sarana Rekrutmen Politik: Untuk mencari dan mengajak orang
yang terbakar untuk turut aktif dalam kegiatan politik,Rekruitmen anggota partai
merupakan uapaya regenerasi kepemimpinan.
4) Partai Politik Sebagai Sarana Pengatur Konflik: Persaingan dan perbedaan dalam
masyarakat merupakan hal yang wajar.Jika sampai terjadi konflik partai politik
berusaha untuk mengatasinya.
C. Karakteristik Aktivitas Partai Politik

Pada dasarnya aktivitas partai politik adalah aktivitas untuk memperoleh, mengelola
dan mengatur kekuasaan sebagai amanat dan mandat dari konstituennya dengan cara-cara
yang demokratis. Partai politik memiliki karakteristik utama yaitu faktor kekuasaan yang
dimilikinya dan perannya dalam mewakili rakyat. Keberhasilan partai politik dinilai dari
banyaknya jumlah suara yang diperoleh dalam pemilihan umum. Hal ini yang membedakan
partai politik dengan organisasi nirlaba lainnya karena memperjuangkan kepentingan baik
anggota, bangsa, dan Negara melalui kegiatannya.

D. Struktur dan Mekanisme dalam Organisasi Partai Politik

Partai politik memiliki kepengurusan yang tersebar di berbagai tingkat di daerah.


Seperti halnya organisasi nirlaba, partai politik memiliki mekanisme keorganisasian yang
memerlukan mekanisme dan manajemen seperti halnya organisasi nirlaba lainnya. Perangkat
organisasi umum yang ada dalam partai politik diantaranya :

1) Sekretariat. Sekretariat ada di tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan dan


desa.
2) Rapat-rapat yang diperlukan untuk mengambil keputusan partai.
3) Kegiatan pencairan dana, dimana sumber pendapatan partai politik adalah dari
sumbangan angggota, atau sumbangan yang sah menurut hukum.
4) Kegiatan kampanye. Perjalanan kampanye calon legislatif atau calon presiden, rapat
akbar, iklan di media massa, dsb.
5) Kegiatan pendidikan politik. Diskusi atau pelatihan untuk anggota, pengurus dan
simpatisan.

60
6) Kegiatan-kegiatan partai politik diluar kampanye banyak yang spontan dilakukan, baik
oleh calon legislatif atau calon presiden.
7) Partai membentuk yayasan-yayasan atau think-tank untuk menyebarluaskan ideologi
maupun pengaruhnya.
8) Kekayaan partai. Dapat berbentuk kendaraan, gedung, kantor, dsb.
E. Keuangan Partai Politik

Untuk mengatur pelaporan keuangan partai politik. Dengan adanya standar pelaporan
diharapkan laporan keuangan organisasi partai politik dapat lebih mudah dipahami, memiliki
relevensi, dapat diandalkan, dan memiliki daya banding yang tinggi. Dalam rangka pesta
demokasi di negara ini, tanda tanya besar perlu tidaknya suatu pertanggungjawaban keuangan
dialamatkan ke Parpol maupun peserta pemilu. Idealnya mereka harus transparan karena
sebagai suatu entitas yang menggunakan dana public yang besar tanggung jawab keuangan
merupakan hal yang tidak dapat ditawar-tawar lagi.

Mereka harus mempertangungjawabkan sumber daya keuangan yang digunakan kepada


para konstituennya dan juga sebagai bentuk kepatuhan kepada Undang-undang. Bentuk
pertanggungjawaban pengelolaan keuangan para peserta pemilu, adalah dengan
menyampaikan Laporan Dana kampanye (semua peserta pemilu) serta Laporan Keuangan
(khusus untuk Parpol), yang harus diaudit oleh akuntan Publik dan disampaikan ke KPU serta
terbuka untuk diakses publik.

F. Akuntanbilitas Keuangan Partai Politik

Pertanggungjawaban keuangan organisasi Partai Politik, sebagai suatu entitas yang


menggunakan dana publik yang besar, harus transparan sehingga pertanggungjawaban
keuangan merupakan hal yang tidak dapat ditawar lagi. Pertanggungjawaban keuangan
organisasi Partai Politik, sebagai suatu entitas yang menggunakan dana publik yang besar,
harus transparan sehingga pertanggungjawaban keuangan merupakan hal yang tidak dapat
ditawar lagi. Sebagai bentuk kepatuhan terhadap Undang-undang Partai Politik dan UU
Pemilu, seluruh sumber daya keuangan yang digunakan harus dipertanggungjawabkan
kepada para konstituennya.

Bentuk pertanggungjawaban pengelola keuangan partai politik serta pemilu adalah


penyampaian Laporan Dana Kampanye (semua peserta pemilu) serta Laporan Keuangan
(khusus untuk Partai Politik), yang harus diaudit Akuntan Publik, ke KPU serta terbuka untuk

61
diakses publik. Selain menekan potensi kecurangan dalam penggalangan dana, standardisasi
laporan keuangan partai politik juga bisa dijadikan dasar pertimbangan untuk menetapkan
pilihan secara cerdas dan rasional. Di luar kepentingan untuk menjalankan fungsi kontrol atas
Partai Politik yang ada, calon pemilih untuk Pemilu 2009 nanti bisa mencermati derajat sehat-
tidaknya Partai Politik dari Laporan Tahunan yang disampaikannya secara terbuka ke publik.
Pemilih seperti dihadapkan dengan perusahaan yang dipercaya bisa membawa aspirasinya
secara berkesinambungan.

G. Peran dan Fungsi Akuntansi dalam Lingkungan Partai Politik


a. Pihak Internal.
1) Ketua partai politik : menggunakan akuntansi untuk menyusun
perencanaan,mengevaluasi kemajuan yang dicapai dalam usaha memenuhi tujuan
dan melakukan tindakan-tindakan koreksi yang diperlukan.
2) Staf : berkepentingan dengan informasi mengenai transparansi pelaporan kegiatan
dan pelaporan keuangan partai politik.
b. Pihak Eksternal.
1) Donatur : Berkepentingan dengan informasi mengenai keseriusan dan kredibilitaas
partai politik untuk menjalankan progam-progam pencerdasan masyarakat secara
politik.
2) Supplier/Pemasok : Tertarik dengan inforamasi akuntansi yang memungkinkannya
untuk memutuskan apakah jumlah yang terhutang akan dapat dibayarkan oleh partai
politik pada saat jatuh tempo.
3) Konstituen/Basis massa : Adanya Laporan keuangan partai politik yang transparan
adn akuntabel aka mengundang simpati masyarakat dan akan dapat menepis isu
miring bahwa partai politik hanya aktif ssewaktu pemilu dan setelah pemilu kembali
melupakan rakyat.

II. Lembaga Swadata Masyarakat

Lemabaga Swadaya Masyarakat (LSM) merupakan pengembangan dari organisasi


lokal masyarakat yang memberikan ruang gerak terhadap kearifan lokal masyarakat. LSM
dapat dimanfaatkan untuk menyelenggarakan pelayanan publik yang melibatkan nilai-nilai
dan tradisi tertentu.

A. Pengertian LSM

62
Lembaga swadaya masyarakat atau organisasi non pemerintah merupakan organisasi
yang dikelola oleh swasta atau diluar pemerintahan. Atau LSM dapatjuga diartikan sebagai
organisasi swasta yang kegiatannya adalah untuk membebaskan penderitaan, memajukan
kepentingan kaum miskin, melindungi lingkungan, menyediakan pelayanan dasar bagi
masyarakat, atau menangani pengembangan masyarakat.

B. Ciri-Ciri Tipologi Organisasi LSM

Mengutip Salamo dan Anheier, hadiwinata (kompas, 17 april 2004) mendefinisikan


LSM, yang juga merupakan ciri-ciri LSM:

1. Formal, yaitu secara organisasi bersifat permanen serta mempunyai kantor dengan
seperangkat aturan dan prosedur,

2. Swasta, yaitu kelembagaan yang berada diluar atau terpisah dari pemerintahan,

3. Tidak mencari keuntungan, yaitu tidak memberikan keuntungan kepada direktur atau
pengurusnya,

4. Menjalankan organisasinya sendiri, yaitu tidak dikontrol oleh pihak luar,

5. Sukarela, yaitu menjalankan derajat kesukarelaan tertentu,

6. Nonreligius, yaitu tidak mempromosikan ajaran agama,

7. Nonpolitik, yaitu tidak ikut dalam pencalonan di pemilu.

C. Kelebihan dan Kekurangan LSm

Kelebihan LSM:

1) Kuatnya jalinan dengan grassroots,


2) Keahlian pengembangan berdasarkan bidang,
3) Kemampuan berinovasi dan beradaptasi,
4) Pendekatan berorientasi proses pengembangan,
5) Metodologi partisipsi dan peralatan,
6) Komitmen jangka panjang dan menekankan berkelanjutan,
7) Efektivitas biaya.
Kelemahan LSM:
1. Keterbatasan biaya dan keahlian pengelola organisasi,
2. Keterbatasan kapasitas kelembagaan,

63
3. Keberlanjutan diri rendah,
4. Kurangnya komunikasi antar organisasi dan/atau koordinasi,
5. Intervensi dalam skala kecil,
6. Kurangnya pemahaman konteks sosial ekonomi secara luas.
D. Fungsi dan Peran LSM

1. Motivator
2. Komunikator
3. Dinamisator
4. Fasilitator
E. Stuktur Organisasi LSM
Struktur organisasi LSM tidak terlalu formal, namun biasanya ada seorang atau aktifitas
senior yang dipimpin. Tipologi pemimpin atau tokoh termasuk pilihan dan orientasi dan
orientasi kebijakannya, akan sangat berpengaruh dalam memilih struktur organisasi.
F. Pengelolaan Keuangan LSM

Tujuan keuangan dari LSM adalah seharusnya menjadi pendukung dan penyokong
untuk kegiatannya dalam menjalankan fungsi dan peranannya sesuai misi dan nilai yang
diperjuangkan. Pengelolaan keuangan terkait dengan aspek pendanaan dan penggunaan dana.
Aspek pendanaan berkaitan dengan sumber pendanaan yang dapat diperoleh oleh organisasi
LSM. Sumber pendanaan LSM bisa berasal dari bebrapa sumber, yaitu sumbangan
masyarakat, APBD/APBN, lembaga donor lokal, lembaga donor internasional, lembaga
pembangunan internasional, pemerintah luar negeri, LSM/NGO internasional melalui kerja
sama program atau proyek, atau melalui sayap usaha atau ekonomi LSM itu sendiri.

G. Akuntabilitas Lsm: Antara Isu, Tuntutan, Dan Realita

Secara umum akuntabilitas dipahami sebagai status bertanggungjawab terhadap


tindakan dan keputusan seseorang atau lembaga. Akuntabilitas terkait dengan tindakan atau
perilaku yang didasarkan padastrandar etik, kinerja yang optimal, mekanisme control,
konsistensi terjhadap visi dan mandate organisasi, dan penghargaan terhadap prinsip
demokrasi, HAM, dan hak asasi perempuan.

H. Mengembangkan Akuntansi Untuk Lsm

Akuntansi berperan untuk menghasilkan dan menyediakan informasi yang bersifat


keuangan. Informasi akuntansi digunakan sebagai pertimbangan dalam pengambilan

64
keputusan ekonomi yang rasional. Oleh Karena itu, LSM tidak bermotif untuk mencari laba
dan berorientasi dalam pemberdayaan masyarakat, maka LSM termasuk dalam kategori
organisasi nirlaba. LSM termasuk organisasi yang memiliki keterkaitan erat dengan domain
publik, yaitu masyarakat yang menjadi objek pendampingan oleh LSM. Sehingga, akuntansi
yang diterapkan merupakan akuntansi pada domain publik.

I. Sistem Akuntansi Lsm

Sistem akuntansi membentuk sebuah siklus akuntansi. Siklus akuntansi merupakan


sistematika pencatatan transaksi keuangan, peringkasannya, dan pelaporan keuanan. Siklus
akuntansi dapat dibagi menjadi pekerja yang dilakukan selama suatu periode tersebut, yaitu
penjurnalan transasi dan pemindahbukuan kedalam buku besar, serta penyiapan laporan
keuangan pada akhir periode. Pengguna Laporan Keuangan LSM Pihak yang berkepentingan
atas informasi dalam laporan keuangan LSM, antara lain pengurus, staf/relawan, pemerintah,
penyumbang, kreditur, dan publik atau masyarakat luas, terutama donator dan objek
dampingan.

65
XIV. AKUNTANSI MASJID Dan LAZ

Zakat, infaq, dan shodaqoh (ZIS) merupakan bagian dari kedermawanan (filantropi)
dalam konteks masyarakat Muslim. Zakat merupakan kewajiban bagian dari setiap muslim
yang mampu serta menjadi unsure dari Rukun Islam, sedangkan Infaq dan Shodaqoh
merupakan wujud kecintaan hamba terhadap nikmat dari Allah SWT yang telah diberikan
kepadanya sehingga seorang hamba rela menyisihkan sebagian hartanya untuk kepentingan
agama baik dalam rangka membantu sesama maupun perjuangan dakwah Islamiyah.
Di Indonesia, pengelolaan dana ZIS telah diatur Undang-Undang Nomor 38 Tahun
1999 tentang Pengelolaan Zakat. UU ini mengatur tentang Organisasi Pengelola Zakat (OPZ)
yang boleh beroperasi di Indonesia. OPZ yang disebutkan dalam UU tersebut adalah Badan
Amil Zakat (BAZ) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ). BAZ merupakan lembaga pengumpul
dan pendayagunaan dana zakat yang dibentuk oleh pemerintah dari tingkat pusat sampai
dengan tingkat daerah sedangkan LAZ merupakan OPZ yang dibentuk atas swadaya
masyarakat.
Dalam perkembangannya LAZ lebih maju dan dinamis dibandingkan BAZ bahkan
bentuk LAZ bisa dikembangkan dalam berbagai kelompok masyarakat seperti takmir masjid,
yayasan pengelola dana ZIS, maupun Unit Pengumpul Zakat (UPZ) yang ada di setiap
perusahaan yang berusaha mengorganisir pengumpulan dana ZIS dari direksi maupun
karyawan.
Perkembangan BAZ dan LAZ di Indonesia perlu diikuti dengan proses akuntabilitas
publikyang baik dan transparan dengan mengedepankan motivasi melaksanakan amanah
umat. Pemerintah telah mengatur tentang proses pelaporan bagi BAZ dan LAZ dengan
Keputusan Menteri Agama RI Nomor 373 Tahun tentang pelaksanaan UU Nomor 38 Tahun
1999 tentang Pengelolaan Zakat Pasal 31 yang isinya:
Badan Amil Zakat (BAZ) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) memberikan laporan
tahunan pelaksanaan tugasnya kepada peerintah sesuai dengan tingkatannya selambat-
lambatnya 3 (tiga) bulan setelah akhir tahun.
Akuntansi Zakat Dan Infak/Sedekah (Zis)
Ikatan Akuntan Indonesia telah menyusun Exposure Draft (ED) PSAK 109 tentang
Akuntansi Zakat dan Infak/Sedekah sebagai bagian dari penyempurnaan transaksi
pengelolaan zakat dan infak/sedekah pada Lembaga Keuangan Syariah. Secara umum, semua
LKS baik komersial maupun nirlaba memiliki transaksi pengelolaan dana zakat dan
infak/sedekah baik dari individu di dalam entitas maupun dari luar entitas yang diamanahkan

66
kepada LKS.Secara khusus, LKS yang memiliki kompetensi untuk mengelola dana ZIS
adalah Organisasi Pengelola Zakat yang berbentuk Badan Amil Zakat (BAZ), Lembaga Amil
Zakat (LAZ), maupun Unit Pengumpul Zakat.
Pada Rancangan ED PSAK 109 yang pernah disusun oleh IAI sebagai satu tahap yang
dilalui menuju penyusunan PSAK terdapat usulan bahwa ruang lingkup pemberlakuan PSAK
tentang Zakat dan Infak/Sedekah adalah entitas pembayar zakat, entitas pengelola (amil),dan
entitas penerima zakat. Dalam terdapat masalah manakala entitas pembayar zakat diusulkan
sebagai salah satu bagian yang mengikuti PSAK ini karena hakikatnya perusahaan (entitas)
tidak wajib membayar zakat. Subyek yang memiliki kewajiban membayar zakat hanyalah
individu saja sehingga Majelis Ulama Indonesia (MUI) menolak untuk mengeluarkan fatwa
yang intinya perusahaan wajib mengeluarkan zakat seperti yang pernah diusulkan IAI.
Akhirnya ED PSAK 109 tentang Akuntansi Zakat dan Infak/Sedekah saja atau dengan kata
lain hanya untuk Organisasi Pengelola Zakat saja sedangkan entitas pembayar dan entitas
penerima diharapkan mengacu pada PSAK 101 tentang Penyajian dan Pengungkapan
Laporan Keuangan Syariah.
ED PSAK 109 dikeluarkan oleh IAI pada tanggal 26 Februari 2008 dan disosialisasikan
ke public untuk mendapatkan tanggapan dan masukan demi perbaikan PSAK tersebut. Pada
bagian ini akan diuraikan ED PSAK 109 yang kemudian disimulasikan sehingga diharapkan
akan diperoleh gambaran implementasi dan dampak pemberlakuan PSAK ini terhadap
penyajian dan pengungkapannya.
ED PSAK 109 tentang Akuntansi Zakat dan Infak/Sedekah, bahwa dana-dana yang
dikelola oleh OPZIS adalah dana zakat, infak/sedekah, dana non halal, dan dana amil
menurut ED PSAK ini keempat jenis dana tersebut perlu dilakukan pencatatan secara spesifik
dan tersendiri menurut sumber penghimpunan dan peruntukannya. Berikut gambaran ED
PSAK Zakat dan Infak/Sedekah yang dikeluarkan oleh IAI:
Ruang Lingkup
PSAK ini berlaku untuk amil yang menerima dan menyalurkan zakat dan
infak/sedekah. Amil yang menerima dan menyalurkan zakat dan infak/sedekah, yang
selanjutnya disebut “amil”, merupakan organisasi pengelola zakat yang pembentukannya
dimaksudkan untuk mengumpulkan dan menyalurkan zakat dan infak/sedekah.
PSAK ini tidak berlaku untuk entitas syariah yang menerima dan menyalurkan zakat
dan infak/sedekah, tetapi bukan kegiatan utamanya. Entitas tersebut mengacu ke PSAK 101:
Penyajian Laporan Keuangan Syariah.

67
KESIMPULAN

Akuntansi sector public yang kuat merupakan salah satu instrument penting dalam
penegakan (good governance) disektor public. Akuntansi sector public berkaitan dengan
system pemrosesan informasi keuangan dan pengkomunikasian informasi keuangan tersebut
kepada para pemangku kepentingan (stakeholders) organisasi sector public.

Pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa akuntansi sector public ialah suatu
proses pengidentifikasian, pengukuran, pencatatan dan pelaporan transaksi ekonomi
(keuangan) dari suatu organisasi atau entitas yang dijadikan sebagai informasi dalam rangka
mengambil keputusan ekonomi oleh pihak-pihak yang memerlukan. Akuntansi yang kita
pelajari disini diantaranya ada sector public, Badan layanan umum, pemerintahan, yayasan
atau universitas, partai politi, lembaga swadaya masyarakat, sampai akuntansi untuk masjid.
Didalam akuntansi sector public tentunya setiap memiliki pedoman ataupun yang telah
ditetapkan oleh lembaga yang berwenang. Pengendalian manajemen dalam sector public
sangatlah penting, karena manajemen tersebut yang bisa mengendalikan berbagai aktvitas
atau kegiatan agar dapat maximal dan sesuai dengan tujuannya.

Dari akuntansi sector public kita juga dapat memahami konsep dan praktik akuntansi di
organisasi sector public terkait karakteristik organisasi sektor public. Kita juga membahas
kerangka konseptual, laporan keuangan organisasi sekor public, manajemen sektor public.

68
REFERENSI

Halim, Abdul dan Syam Kusufi.2012. Akuntansi Sektor Publik. Jakarta : Salemba
Empat

Ulum, Ihyaul dan Hafiez Sofyani 2016. Akuntansi Sektor Publik. Aditya media.
Yogyakarta

Standar Akuntansi Pemerintah dan PP 71 tahun 2010

PSAK No 45

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI)-KASP.2015. Pedoman Asistensi Akuntansi keuangan


Desa.

69