Vous êtes sur la page 1sur 67

BAB I

PENDAHULUAN

Akuntansi keuangan sektor publik sangat erat kaitannya dengan akuntansi sebagai
penyedia informasi keuangan untuk pihak eksternal organisasi. Di sektor publik, kebutuhan
informasi akuntansi semakin tinggi seiring meningkatnya transaparansi dan akuntabilitas
lembaga publik.
Pengembangan strandar akuntansi keuangan sektor publik merupakan suatu yang krusial,
karena kualitas standar akuntansi akan berdampak langsung terhadap kualitas laporan
keuangan.
Terlebih lagi dengan perkembangan teknologi dan informasi saat ini membuat standar
akuntansi keuangan juga harus menyesuaikan sehingga akan didapatkan hasil yang sesuai
dengan apa yang diharapkan. Serta juga dengan era reformasi maka lembaga-lembaga public
diharuskan harus memperlihatkan laporan-laporan yang terutama laporan tersebut
menggunakan uang masyarakat.

1
BAB II
PEMBAHASAN

1. Kerangka Umum (Konseptual) Akuntansi Sektor Publik


Tujuan dan Peranan Kerangka Konseptual ASP
Kerangka dasar merupakan konsep yang mendasari penyusunan dan penyajian laporan
keuangan dalam sektor publik untuk kepentingan eksternal.
Tujuan kerangka dasar:
a) Tim penyusun standar akuntansi keuangan sektor publik dalam pelaksanaan tugasnya,
b) Penyusunan laporan keuangan,
c) Auditor (BPK),
d) Para pemakai laporan keuangan sektor publik
Penggunaan kerangka dasar sebagai acuan oleh komite penyusun standar akuntansi
keuangan sektor publik dalam pengembangan standar akuntansi keuangan sektor publik di
masa depan dan dalam peninjauan kembali terhadap standar akuntansi keuangan sektor
publik yang berlaku.
Kerangka dasar membahas:
a) Tujuan laporan keuangan sektor publik
b) Karakteristik kualitatif
c) Definisi, pengakuan, dan pengukuran unsur-unsur yang membentuk laporan keuangan
d) Konsep ekuitas serta pemeliharaan ekuitas
Laporan keuangan sektor publik dihasilkan dari proses pelaporan keuangan dalam organisasi
sektor publik.
Menurut IPSAS, laporan keuangan minimum organisasi sektor publik yang harus
dihasilkan meliputi laporan posisi keuangan, laporan kinerja keuangan, laporan aktiva/ekuitas
neto, laporan arus kas, perhitungan anggaran dan catatan atas laporan keuangan.
Tujuan umum pelaporan keuangan sektor publik:
a. Menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan dan mendemostrasikan
akuntabilitas entitas,
b. Info mengenai sumber-sumber, alokasi, dan penggunaan sumber daya finansial,
c. Info mengenai bagaimana entitas mendanai aktivitasnya dan memenuhi persyaratan
kasnya,
d. Info yang berguna dalam mengevaluasi kemampuan entitas untuk mendanai aktivitasnya
dan kewajiban,
2
e. Info tentang kondisi keuangan dan perubahan didalamnya,
f. Info yang berguna dalam mengevaluasi kinerja entitas atas hal biaya jasa, efisiensi, dan
pencapaian tujuan.
Elemen-elemen dalam laporan keuangan sektor publik:
a) Aktiva,
b) Kewajiban,
c) Aktiva/ekuitas neto,
d) Pendapatan,
e) Biaya-biaya,
f) Arus kas
Empat karakteristik kualitatif pokok:
1) Dapat dipahami
Pemakai diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai tentang aktivitas ekonomi,
bisnis, dan akuntansi, serta mempunyai kemauan untuk belajar tetnang informasi yang
disampaikan.
2) Relevan
Dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pemakai laporan.
3) Keandalan
Bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material, dan dapat diandalkan
pemakainya.
4) Dapat dibandingkan
Pemakai harus dapat membandingkan laporan keuangan entitas antar periode untuk
mengidentifikasi tren posisi dan kinerja keuangan.
Karakteristik lainnya:
1) Materialitas
Dapat diinterprestasikan sebagai ambang batas hasil penerapan informasi sesuai dengan
salah satu karakteristik kualitatif pokok.
2) Penyajian jujur
Informasi harus menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa lainnya yang
seharusnya disajikan atau yang wajar dapat diharapkan untuk disajikan.
3) Subtansi mengungguli bentuk
Substansi transaksi atau peristiwa lain tidak selalu konsisten dengan apa yang tampak
dari bentuk hukum.
4) Netralitas
3
Informasi harus dapat diarahkan pada kebutuhan umum pemakai.
5) Pertimbangan sehat
Penyusun laporan keuangan adakalanya menghadapi ketidakpastian peristiwa dan
keadaan tertentu.
6) Kelengkapan
Informasi dalam laporan keuangan harus lengkap dalam batasan materialitas dan biaya.
Definisi pos-pos dalam pengukuran posisi keuangan:
a) Aktiva
Sumber yang dikendalikan oleh suatu entitas sebagai hasil dari peristiwa masa lalu. Dari
sumber-sumber tersebut, manfaat ekonomi masa depan atau jasa potensial yang mengalir
masuk ke entitas, diharapkan ada.
b) Kewajiban
Hutang masa kini daru suatu entitas yang timbul dari peristiwa masa lalu. Dengan
demikian, penyelesaian hutang itu merupakan arus keluar sumber-sumber yang dimiliki
suatu entitas dengan manfaat masa depan atau jasa potensial.
c) Ekuitas
Hak residual aktiva pemerintah pusat/daerah setelah dikurangi semua kewajiban.
Pengukuran kinerja
Pendapatan bersih (surplus) seringkali digunakan sebagai ukuran kinerja. Definisi
unsur yang berkaitan dengan pengukuran kinerja:
a) Pendapatan (income)
Arus kas masuk selama periode pelaporan dengan tujuan peningkatan aktiva/ekuitas neto,
dan ini berarti peningkatan kontribusi dari pemilik.
b) Biaya (expense)
Pengurangan manfaat ekonomis masa depan selama periode pelaporan dalam bentuk arus
kas keluar atau konsumsi aktiva atau kewajiban yang mengurangi distribusi ke pemilik.
Penyesuaian pemeliharaan modal
Revaluasi (restatement) aktiva dan kewajiban menimbulkan kenaikan atau penurunan
ekuitas. Pengakuan ini dapat dilakukan dengan menyatakan pos tersebut baik dalam laporan
kata- kata maupun dalam jumlah uang dan mencantumkan ke dalam laporan posisi keuangan
atau kinerja keuangan. Persyaratan pengakuan pos yang memenuhi definisi suatu unsur kalau
:
a) Ada kemungkinan bahwa manfaat ekonomi yang berkaitan dgn pos tersebut akan mengalir
dari ke dalam perusahaan
4
b) Pos tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dgn andal
Probabilitas manfaat ekonomi masa depan
Konsep probabilitas digunakan dalam pengertian derajat ketidakpastian bahwa
manfaat ekonomi masa depan yang berkaitan dgn pos tersebut akan mengalir dari atau
kedalam entitas.
Kendala pengukuran
Kriteria pengakuan suatu pos yang kedua adalah ada tidaknya biaya atau nilai yang
dapat diukur dgn tingkat keandalan tertentu.
Suatu pos dapat memenuhi syarat untuk di akui di masa depan sebagai akibat dari peristiwa
atau keadaan yang terjadi kemudian.
Pengakuan aktiva
Aktiva diakui dalam laporan posisi keuangan jika kemungkinan besar msanfaat
ekonominya di masa depan atau jasa potensialnya akan diperoleh entitas dan aktiva tersebut
mempunyai nilai dan dapat diukur dgn andal. Aktiva tidak diakui , bila pengeluaran terjadi
dan manfaat ekonominya tidak mungkin mengalir ke dalam entitasnya setelah periode
akuntasi berjalan.
Pengakuan kewajiban
Kewajiban diakui dalam laporan posisi keuangan jika kemungkinan besar
pengeluaran sumber daya yang mengandung manfaat ekonomi akan dilakukan untuk
menyelesaikan kewajiban sekarang dan jumlah yang harus diselesaikan dapat diukur dgn
andal.
Pengakuan pendapatan
Pendapatan diakui kalau kenaikan manfaat ekonomi di masa depan yang terkait dgn
peningkatan aktiva atau penurunan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur dengan andal
Pengakuan biaya
Biaya diakui kalau penurunan manfaat ekonomi masa depan telah terjadi dapat diukur
dgn andal. Biaya diakui atas dasar hubungan langsung antara biaya yang timbul dan pos
pendapatan tertentu yang diperoleh.
Manfaat ekonomi diharapkan timbul selama periode akuntansi dan hubungan dgn pendapatan
hanya dapat ditentukan secara luas atau tak langsung
Biaya diakui dalam laporan kinerja keuangan atas prosedur alokasi yang rasional dan
sistematis.
Pengukuran unsur laporan keuangan

5
Pengukuran adalah proses penetapan jumlah uang untuk mengakui dan memasukan
setiap unsur laporan keuangan sektor publik dalam posisi keuangan dan laporan kinerja
keuangan. Proses ini menyangkut pemilihan dasar pengukuran tertentu.
Sistem akuntansi berbasis kas hanya mengakui arus kas masuk dan kas
keluar.Rekening keuangan akhir akan dirangkum dalam buku kas.Dalam kasus ini,laporan
keuangan tisak bisa dihasilkan karena ketiadaan data tentang aktiva dan kewajiban.Data yang
ada hanyalah perimbangan kas.Penjualan hanya dicatat saat kas diterima,sehingga tidak ada
pos piutang.Pembelian dicatat saat kas dibayarkan,sehingga tidak ada hutang.
Laporan arus kas banyak dipakai dalam akuntansi bisnis,namun hanya sebagai
tambahan laporan pendapatan dan laporan posisi keuangan.Laporan ini lama kelamaan
digantikan oleh laporan aliran cadangan, yang sebaliknya justru tidak pernah nampak.
Akuntansi arus kas bukanlah pengganti akuntansi akrual.Akuntansi arus kas dipraktikkan
diberbagai sector public dan organisasi nonprofif, misalnya rekening penerimaan dan
pembayaran yang sederhana dari suatu kegiatan derma kecil,dan yang terpenting terutama
dalam jumlah uang yang digunakan adalah rekening kas pemerintah yang opaling berdaulat.
Keuntungan utama basis kas yaitu mudah dipahami dan juga ditafsirkan,Akibat
kesederhanaannya tidak membutuhkan biaya yabg banyak dan keahlian akuntansi yang
tinggi.Banyak manajer meragukan hasil basis akrual yang lebih luas.Kepemilikan tidak bisa
dipisahkan dari kemampuan pengendalian,sehingga kesempatan manajer untuk memanipulasi
laporan akuntansi menjadi berkurang.Demikian juga laporan kinerja eksekutif yang diberikan
ke legislative.
Jenis informasi yang tidak diberikan dalam laporan arus kas adalah modal dan
pendapatan.Tidak terdapatnya aktiva dan kewajiban didalam catatan perusahaan
itumengakbatkan tidak adanya catatan modal.Apabila pendapatan adalah peningkatan modal,
maka pendapatan tidak dapat diperhitungkan.Kelebihan penerimaan atas pembayaran tak
dapat disebut pendapatan,karena penerimaaaan modal termasuk penerimaan.Kelebihan
pembayaran atas penerimaan juga tak dapat dinyatakan sebagai rugi,karena terpisah dari
pembayaran yang mungkin memasukan akuisisi aktiva.
Pemisahan pendapatn dan aktiva tak hanya menunjukan gambaran pendapatan yang
dapat dipakai sebagai ukuran kinerja.Salah satu contoh adalah penyusutan modal melalui
penjualan aktiva modal.Penjualan tanah dan bangunan perusahaan sector public Nampak
sangat menguntungkan dalam jangka pendek.Jumlah penerimaaan dalam rekening tahun
pembayaran akan Nampak lebih baik.Namun yang terjadi adalah nilai awal modal yang telah
menyusut dan berkurang nilai aktiva perusahaan secara keseluruhan yang mampu
6
mendatangkan pendapatan.Jadi laporan arus kas diperlukan untuk memberikan gambaran
yang lengkap tentang apa yang terjaadi dan akan terjadi.Kesimpulannya,akuntansi berbasis
kas mampu menyediakan informasi pentin dan objektif.Di sisi lain.informasi pendapatn dan
modal serta biaya operasional perusahaan selama periode tertentu tidak dapat dimunculkan.
Definisi konsep akuntansi akrual sebagaimana tercantum pada SSAP 2 adalah sebagai
berikut:
“Penerimaan dan biaya bertambah(diakui karena diperoleh atau dimasukan tidak sebagai
uang yang diterima atau dibayarkan) sesuai satu sama lain dapat dipertahankan atau dianggap
benar, dan berkaitan dengan rekening laba dan rugi selama periode bersangkutan”.
Kepastian penerimaan secara hokum sangat ditentukan dengan faktur yang telah
deterbitkan, demikian juga kepastian munculnya biaya ditentukan dengan penerimaan
jasa/barang.Menurut metode biaya historis, modal diperhitungkan sebagai modal awal
investasi.Oleh sebab itu, tanah tidak terdepresiasi akan diungkapkan sebesar nilai asset
dikurangi biaya depresiasi.
Penerapan basis akrual akan mempengaruhi system akuntansi yang digunakn, seperti
penambahan pos-pos akrual dan berbagai formulir pembukuan.Terkait dengan itu,penerapan
basis akrual mengutamakan laporan yang dihasilkan untuk kepentingan kreditor dan
debitor.Sehingga system akuntansi yang bangun dapat dipilah yang berorientasi hutang atau
yangberorientasi piutang.
Ragam laporan dalam konsep akrual tidak dibuat seragam.Tiap organisasi sector
public mempunyai daftar laporab yang memungkinkan jumlahnua berbeda satu dengan yang
lain.Perbedaan yang terjadi lebih disebabkan karena perbedaan proses kerja antar
organisasi.Namun,persamaan juga terjadi dalam proses pelaporan posisi keuangan dan
pelaporan operasional diberbagai organisasi.Hail ini disebabkan alur penerimaan dan
pembyaran yang konsisten antar organisasi.
Penerapan basis akrual dalam manajemen pemerintah daerah bisa dilakukan secara
berbeda dinandingkan lembaga public lainnya.Diberbagai negara pemerintah daerah sudah
menerapkan akuntansi berbasis akrual secara penuh,karena penerapannya dianggap mudah
dan sederhana.Namun di Indonesia tarik menarik perundangan dan kepentingan telah
menyebabkan pergeseran akuntansi anggaran dan akuntansi cadangan ke akuntansi berbasis
akrual menjadi lamban.
2. Lingkungan Sektor Publik
2.1 Otonomi Daerah

7
a. Paradigma Lama ke Paradigma Baru

Rezim orde baru menggunakan paradigma kekuasaan yang “satu terpusat dan seragam
“ dalam 3 wujud sebagai berikut:

1. Sentralisasi kekuasaan pada pusat, eksekutif dan Presiden merupakan prakondisi bagi
stabilitas politik.
2. Pembentukan budaya nasional oleh Negara sebagai pengganti budaya lokal, merupakan
prakondisi bagi persatuan dan kesatuan bangsa.
3. Sentralisasi redistribusi kekayaan nasional akan menjamin pemerataan dan keadlian
sosial.

Sebagai ganti dari paradigma lama diajukan suatu paradigma baru yang merupakan kebalikan
dari paradigma lama, yaitu:

1. Pemisahan kekuasaan antara legislatif, eksekutif, dan yudikatif.


2. Desentralisasi sumber pendapatan dan penggunaan pendaoatan nasional kepada daerah
otonom lebih mampu menjamin pemerataan dan keadilan sosial.

Pembagian Kekuasaan Antara Pusat dan Daerah

Pembagian kekuasaan antara pusat dan daerah dilakukan berdasarkan prinsip


negara kesatuan tetapi dengan semangat federalisme. Kewenangan yang
diserahkan kepada Daerah Otonom Propinsi dalam rangka Desember
desenntralisai mencakup:

1. Kewenangan yang bersifat lintas Kabupaten dan Kota.


2. Kewenangan pemerintah lainnya, yaitu perencanaan dan pengendalian
pembangunan regional secara makro.
3. Kewenangan kelautan yang meliputi eksplorasi, eksploitasi, konservasi dan
pengelolaan kekayaan laut, pengaturan kepentingan administratif, pengaturan
tata ruang, penegakan hukum, bantuan penegakan keamanan dan kedulatan
negara.
4. Kewenangan yang tidak atau belum dapat ditangani daerah kabupaten dan
daerah kota dan diserahkan kepada propinsi dengan pernyataan dari daerah
otonom kabupaten atau kota.

b. Pendapatan Daerah Otonom

8
Pada masa lalu prinsip yang digunaan menjamin kemampuandaerah otonom
membiayai otonominya yaitu function followsuntuk menjamin sumber keuangan
bagi daerah otonom, pemerintah harus menjamin pertimbangan keuangan pusat
dengan daerah, pertimbangan tersebut melipti:

1. Pertimbangan keuangan yang ditempuh dengan cara penetapan persentase


tertentu bagi daerah otonom dari jenis penerimaan pusat.
2. Pertimbangan keuangan ditempuh dengan cara pembagian kewenangan
mencari sumber pendapatan antara pusat dan daerah otonom.

UU PKPD membedakan dana perimbangan menjdai 3 kategori, yaitu: 1)


bagian/persentase tertentu yang diterima daerah otonom dari sejumlah pajak pusat
dan penerimaan pusat, 2) alokasi umum sebesar 25% dari APBN yang diberikan
kepada daerah otonom berdasarkan sejumlah indikator, 3) alokasi khusus yang
penggunaannya sudah ditentukan oleh pusat dalam APBN.

2.2 Good Governance

Semangat good governance meingkat seiring dengan meningkatnya semangat


reformasi di Indonesia. Meningkatnya good governance di Indonesia dipicu oleh
keterpurukan perekonomian nasional yang elanda Indonesia dan beberapa negara
tetangga. Good Governance menurut Ismail Mohammad (1999) yaitu
akuntabilitas, transparansi, keterbukaan dan penegakan hukm. Good governance
merupakan suatu penyelenggaraan negara yang mengarah kepada tujuan yang
baik melalui perumusan kebijakan yang berhubungan dengan masalah-masalah
sosial dan sistem nilai dalam operasi organisasi, yang berlkau bagi semua orang di
bawah sistem demokrasi (Soelendro,2000).
Terdapat 3 prinsip dasar dalam setiap penyelenggaraan good governance , yaitu:
a. Transparansi.
Transparansi berarti keterbukaan. Transparansi pemerintah dalam
menjalankan manajemen pemerintahan, manajemen lingkungan, manajemen
ekonomi, sosial dan politik.
b. Partisipasi
Berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, pengakuan HAM, kebebasan
daam mengemukakan pendapat.
c. Akuntabilitas

9
Mempertanggungjawabkan keberhasilan atau kegagalan kepada yang
mendelegasikan kewenangan dan mereka puas terhadap kinerja pelaksanaan
kegiatannya.
Berdasarkan definisi good governance yang diajukan oeh UNDP, diajukan 9 unsur
sebagai karakteristik good governane yang saling memperkuat dan tidak dapat
berdiri sendiri. 9 karakter tersbut yaitu:
1. Participation. Setiap warga negara mempunyai suara dalam pembuatan
keputusan, baik secara langsung maupun melalui intermediasi institusi
lelegitimasi yang mewakili kepentingannya.
2. Rule of law. Kerangka hukum harus adil dan dilaksanakan tanpa pandang bulu,
terutama hukum untuk hak asasi manusia.
3. Transparancy. Dibangun atas dasar kebebasan arus informasi.
4. Responsiveness. Lembaga-lembaga dan proses-proses harus untuk melayani
setiap stakeholder.
5. Consensus orientation. Good governance menjadi perantara kepentingan yang
berbeda untuk memperoleh pilihan terbaik bagi kepentingan lebih luas.
6. Equity. Semua warga negara mempunyai kesempatan untuk meningkatkan atau
menjaga kesejahteraan mereka.
7. Effectiveness and efficiency. Proses-proses dan lembaga-lembaga menghasilkan
sesuai dengan apa yang telah digariskan dengan menggunakan sumber-sumber
yang tersedia.
8. Accountaility. Para pembuat keputusan dalam pemerintah. Sektor swasta dan
masyarakat bertanggungjawab kepada publik dan lembaga stakeholder.
9. Strategic vision.para pemimpin dan publik harus mempunyai perspektif good
governance dan pengembangan manusia yang luas dan jauh ke depan sejalan
dengan apa yang diperlukan untuk pembangunan.

2.2.1 Praktik Good Governance di Indonesia

Terdapat beberapa momentum yang harus dicermati dalam pengembangan praktik


good governance di Indonesiayaitu Inpres No.7/1999 tentang Laporan Akuntansi
Instansi Pemerintah. Inpres ini merupakan upaya pemerintah dalam meningkatkan
good public governance yaitu good governance di lingkungan birokrasi. Dengan
Inpres ini diharapan responsibility, transparancy, fairness dan accountability
instansi pemerintah dalam melakukan tugas dan fungsinya dapat ditingkatkan.

10
Inpres mewajibkan instansi pemerintah untuk akuntabel terhadap pengelolaan
sumber daya dengan cara melaporkan secara berkala kepada presiden menyangkut
laporan kinerjanya.

Good governance di Indonesia dilaksanakan secara bertahap. Bebrapa pelaksanaan


good governance yang telah dipublikasikan oleh Masyarakat Transparansi
Indonesia:

1. Konsultasi antara eksekutif dan legislatif


2. Komunikasi antara elite politik dan masyarakat yang semakin egaliter
3. Pembebasan tahanan politik dan narapidana politik
4. Transparansi hasil audit BUMN
5. Dibentuknya komisi hukum nasional (KHN)
6. Rencana pembenahan lembaga peradilan
7. Percepatan langkah-langkah ke arah otonomi daerah.
2.3 AKUNTABILITAS
Akutabilitas (accountability) secara harfiah diartikan sebagai
pertanggungjawaban. Suatu entitas yang accountable merupakan entitas yang
mampu menyajikan informasi secara terbuka mengenai keputusan –keputusan
yang telah diambil selama beroperasinya entitas tersebut. Dari sudut fungsional,
J.D Stewart dalam tlisannya “The Role of Information in Public Axxountability”
menyatakan bahwa auntabilitas memiliki 5 tingkat yang berbeda, yaitu:
1. Policy Accountability, akuntabilitas atas pilihan-pilihan kebijakan yang dibuat.
2. Program Accountability, akuntabilitas atas pencapaian tujuan/hasil dan
efekifitas yang dicapai.
3. Performance Axxountability, akuntabilitas terhadap pencapian kegiatan yang
efisien.
4. Process Accountability, akuntabilitas atas pengguaan proses, prosedur dalam
melaksanakan tindakan-tindakan yang ditetapkan.
5. Probity and Legality Accountability, akuntabilitas atas legalitas dan kejujuran
penggunaan dana sesuai dengan anggaran yang disetujui terhadap undang-
undang.

Dari sudut pandang akuntansi, menurut Committee on Concepts of Accounting


Applicable to yhe Public Sectordari American Accounting Association, dalam

11
memenuhi akuntabilitas maka harus melaporkan 4 hal, yaitu: akuntabilitas untuk
sumber-sumber keuangan; akuntabilitas untuk ketaatan dan kepatuhan kepada
persyaratan legal dan kebijakan administrasi; akuntabilitas untuk efisiensi dan
kehematan dalam operasi; akuntabilitas untuk hasil program dan efektivitasnya.
Akuntabilitas memiliki 2 tipe yaitu akuntabilitas internal dan akuntabilitas
eksternal. Akuntabilitas internal merupakan akuntabilitas yang berlaku untuk
setiap tingkatan dalam organisasi internal penyelenggaraan negara. Sedangkan
untuk akuntabilitas eksternal terdapat pada setiap lembaganegara sebagai suatu
organisasi untuk mempertanggungjawabkan semua amanat yang telah diterima
dan dilaksanakan.

2.4 NEW PUBLIC MANAGEMENT


New Public Management (NPM) merupakan sistem manajemen administrasi
publik yang paling aktual di seluruh dunia dan sedang direalisasi hampir di
seluruh negara industri. Administrasi dan badan penanggungjawab melaksanakan
tugas yang diserahkan oleh negara atas dasar perumusan order secara kuantitatif
fan kualitatif, lalu disepakati anggaran biaya untuk pelaksanaan order tersebut.
Menurut tipologi yang diekmbangkan oleh Ewan Ferlie dan kawan-kawan (1995),
berikut model dari NPM:
1. Model yang menekankan pentingnya efisiensi.
2. Model yang menekankan upaya untuk memperkecilkan lingkup sektor publik.
3. Pola manajemen publik yang menekankan pada pencapaian hasil yang prima.
4. Manajemen publik yang berorientasi pada pelayanan publik.

New Public Management bertujuan untuk mengubah administrasi publik


sedemiian rupa, jika belumbisa menjadi suatu perusahaan maka setidaknya dpata
lebih bersifta seperti perusahaan. Perangkat-perangkat New Public Management
yaitu:

1. Manajemen kontrak
2. Penyerahan tanggng jawab di bidang sumber daya
3. Orientasi pada hasil kerja
4. Controlling
5. Orientasi pada warga/pelanggan
6. Personalia

12
7. Teknik informasi
8. Manajemen khusus.
2.5 E-GOVERNMENTS
E-Governments merupakan menciptakan interaksi yang ramah, nyaman,
transparan dan murah antara pemerintah dan masyarakat, pemerintah dan
perushaan bisnis, dan hubungan antar pemerintah. E-Governments mampu
memperluas partisipasi publik dimana masyarakat dimungkinkan untuk terlibat
aktif falam pengambilan keputusan/kebijakan oleh pemerintah. Terdapat 6 strategi
yang berkaitan erat, yaitu:
1. Mengembangkan sistem pelayanan yang andal dan terpercaya.
2. Menata sistem manajemen dan proses kerja pemerintah dan pemerintah daerah
otonom secara holistik.
3. Memanfaatkan teknologi informasi secara optimal.
4. Meningkatkan peran serta dunia usaha dan mengembangkan industri
telekomunikasi dan teknologi informasi.
5. Mengembangkan kapasitas SDM baik pada pemerintah maupun pemerintah
daerah otonom.
6. Melaksanakan pengembangan secara sistematik melalui tahapan-tahapan yang
relaistik dan terukur.

Pengembangan e-governmer=ts harus dilaksanakan secara harmonis dengan


mengoptimalkan hubungan antara inisiatif masing-masing dan penguatan tenaga
kerja untuk menjamin keterpaduannya dalam suatu jaringan sistem manajemen
dan proses kerja.

2.6 PRIVATISASI
Privatisasi merupakan kebijakan publik yang mengarahkan bahwz tidak ada
alternatif lain selain pasar ang dapat mengendalikan ekonomi secara efisien, serta
menyadari bahwa sebagian besar kegiatan pembangunan ekonomi yang
dilakakukan seharusnya diserahkan kepada sekor swasta. Avedis Donabedian
melihat beberapa atribut sebagai faktor yang memberikan kontribusi untuk
mencapai kualitas, dan yang lainnya karakteristik dari kualitatif. Avedis
Donabedian mengidentifikasikan 3 dimensi kuliats yaitu:
1. Dimensi Teknis
2. Dimensi Non-Teknis

13
3. Fasilitas.

Terdapat model rasional untuk kualitas pelayanan publik yang memberikan


manfaat untuk formasi kebijakan implementasi dengan manfaat:

1. Menghubungkan antara bagian yang berbeda dari proses penyususnan


kebijakan.
2. Memudahkan untuk melihat aktivitas utama.
3. Langkah rasional menyediakan senjata terhadap pesaing khusus dan
fragmentasi.

Adapun keistimewaan dari model ini, yaitu:

1. Menunjukkan antara hubungan antara nilai, tujuan strategi proses


implementasi termasuk pengembangan standar kualitas.
2. Menyediakan basis untuk memetakkan sistem kualitas yang berbeda-beda
menjadi proses yang menyeluruh.
3. Memperjelas apakah setiap sistem kualitas atau pendekatan tidak sebaik
idealnya.
4. Menunjukkan sifat terus menerus dari proses sebagai siklus pembelajaran.
5. Menunjukkan bagaimana besarnya jarak masyarakat dengan kepentingan cara
bekerja yang seharusnya.

3. Anggaran dan Penganggaran di Sektor Publik


A. Konsep Anggaran Sektor Publik
Anggaran merupakan pernyataan mengenai estimasi kinerja yang hendak
dicapaiselama periode waktu tertentu yang dinyatakan dalam ukuran finansial, sedangkan
penganggaran adalah proses atau metoda untuk mempersiapkan suatu anggaran. Dalam
organisasi sektor publik, penganggaran merupakan suatu proses politik. Pada sektor swasta,
anggaran merupakan bagian dari rahasia perusahaan yang tertutup untuk publik,sebaliknya
pada sektor publik anggaran justru harus diinformasikan kepada publik untuk dikritik,
didiskusikan, dan diberi masukan.Penganggaran sektor publik terkait dengan proses
penentuan jumlah alokasi danauntuk tiap-tiap program dan aktivitas dalam satuan moneter.
Proses penganggaranorganisasi sektor publik dimulai ketika perumusan strategi dan
perencanaan strategictelah selesai dilakukan. Anggaran merupakan managerial plan for action

14
untuk memfasilitasi tercapainya tujuan organisasi.Aspek-aspek yang harus tercakup dalam
anggaran sektor publik meliputi :
- Aspek perencanaan
- Aspek pengendalian
- Aspek akuntabilitas publik
Penganggaran sektor publik harus diawasi mulai tahap perencanaan, pelaksanaan,serta
pelaporan dan akan lebih efektif jika diawasi oleh lembaga pengawas khusus (oversight
body).
B. Pengertian Anggaran Sektor Publik
Anggaran publik merupakan suatu rencana kegiatan dalam bentuk perolehan
pendapatandan belanja dalam satuan moneter.Secara singkat dapat dinyatakan bahwa
anggaran publik merupakan suatu rencana finansial yang menyatakan : Berapa biaya atas
rencana-rencana yang dibuat (pengeluaran/belanja) dan Berapa banyak dan bagaimana
caranya memperoleh uang untuk mendanairencana tersebut (pendapatan).
Lingkungan Anggaran
Lingkungan anggaran adalah hal-hal yang perlu dierhatikandalam penyusunan
anggaran. Di sini perlu dilihat lingkungan anggaran sebagai suatu sistem, yang terdiri dari
unsur-unsur yang berbeda, tetapi merupakan satu kesatuan yang saling bergantung dan saling
berkaitan sehingga tidak ada satu unsur yang akan mempengaruhi nulai seluruhnya.
C. Pentingnya Anggaran Sektor Publik
Anggaran sektor publik dibuat untuk membantu menentukan tingkat
kebutuhanmasyarakat, seperti listrik, air bersih, kualitas kesehatan, pendidikan, dan
sebagainyaagar terjamin secara layak. Anggaran merupakan blue print keberadaan sebuah
negaradan merupakan arahan di masa yang akan datang.
Anggaran dan Kebijakan Fiskal Pemerintah
Kebijakan fiskal adalah usaha yang dilakukan pemerintah untuk mempengaruhi
keadaan ekonomi melalui sistem pengeluaran atau sistem perpajakan untuk mencapai tujuan
tertentu. Alat utama kebijakan fiskal adalah anggaran.
Angaran sektor publik harus dapat memenuhi kriteria berikut :
1. Merefleksikan perubahan prioritas kebutuhan dan keinginan masyarakat
2. Menentukan penerimaan dan pengeluaran departemen-departemen pemerintah, pemerintah
propinsi atau pemerintah daerah
Anggaran sektor publik penting karena beberapa alasan, yaitu:

15
a. Anggaran merupakan alat bagi pemerintah untuk mengarahkan pembangunansosial-
ekonomi, menjamin kesinambungan, dan meningkatkan kualititas hidupmasyarakat.
b. Anggaran diperlukan karena adanya kebutuhan dan keinginan masyarakat yangtak
terbatas dan terus berkembang, sedangkan sumber daya yang ada terbatas.Anggaran
diperlukan karena adanya masalah keterbatasan sumber daya ( Scarcity of resources),
pilihan (choice), dantrade offs.
c. Anggaran diperlukan untuk meyakinkan bahwa pemerintah telah bertanggung jawab
terhadap rakyat. Dalam hal ini anggaran publik merupakan instrument pelaksanaan
akuntabilitas publik oleh lembaga-lembaga publik yang ada.
D. Fungsi Anggaran Sektor Publik
Anggaran sektor publik mempunyai beberapa fungsi utama, yaitu:
(1) Sebagai alat perencanaan,
(2) alat pengendalian,
(3) alat kebijakan fiskal,
(4) alat politik,
(5) alat koordinasi dan komunikasi,
(6) alat penilaian kinerja,
(7) alat motivasi,
(8) alat menciptakan ruang publik.
Anggaran Sebagai Alat Perencanaan (Planning Tool)
Anggaran sektor publik dibuat untuk merencakan tindakan apa yang akan dilakukan
oleh pemerintah, berupa biaya yang dibutuhkan, dan berapa hasil yang diperoleh dari belanja
pemerintah tersebut.Anggaran sebagai alat perencanaan digunakan untuk:
a. merumuskan tujuan serta sasaran kebijakan agar sesuai dengan visi dan misi yang
ditetapkan,
b. merencanakan berbagai program dan kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi
sertamerencanakan alternatif sumber pembiayaannya,
c. mengalokasikan dana pada berbagai program dan kegiatan yang telah disusun,
d. menentukan indikator kinerja dan tingkat pencapian strategi.
Anggaran Sebagai Alat Pengendalian (Control Tool)
Sebagai alat pengendalian, anggaran memberikan rencana detail atas pendapatan dan
pengeluaran pemerintah agar pembelanjaan dapat dipertanggungjawabkan kepada
publik.Anggaran sebagai instrumen pengendalian digunakan untuk menghindari adanya
overspending, underspending dan salah sasaran (misappropriation) dalam pengalokasian
16
anggaran dalam bidang lain yang bukan merupakan prioritas.Pengendalian anggaran public
dapat dilakukan dengan 4 cara, yaitu:
a. Membandingkan kinerja aktual dengan kinerja yang dianggarkan;
b. Menghitung selisih anggaran (favourable dan unfavourable variances
c. Menemukan penyebab yang dapat dikendalikan (controllable) dan tak dapatdikendalikan
(uncontrollable) atas suatu varians;
d. Merevisi standar biaya atau target anggaran untuk tahun berikutnya.
Anggaran Sebagai Alat Kebijakan Fiskal (Fiscal Tool)
Anggaran sebagai alat kebijakan fiskal pemerintah digunakan untuk
menstabilkanekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Anggaran dapat digunakan
untuk mendorong, memfasilitasi, dan mengkoordinasikan kegiatan ekonomi
masyarakatsehingga dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi.
Anggaran Sebagai Alat Politik (Political Tool)
Pada sektor publik, anggaran merupakan dokumen politik sebagai bentuk
komitmeneksekutif dan kesepakatan legislative atas penggunaan dana publik untuk
kepentingantertentu. Oleh karena itu pembuatan anggaran publik membutuhkan political
skill,coalition building, keahlian bernegosiasi, dan pemahaman tentang prinsip
manajemenkeuangan publik oleh para manajer publik.
Anggaran Sebagai Alat Koordinasi dan Komunikasi (Coordination and Communication Tool)
Anggaran publik merupakan alat koordinasi antar bagian dalam pemerintahan.
Anggaran publik yang disusun dengan baik mampu mendeteksi inkonsistensi suatu unir kerja
dan juga berfungsi sebagai alat komunikasi antar unit kerja dalam lingkungan eksekutif.
Anggaran Sebagai Alat Penilaian Kinerja (Performance Measurement Tool)
Anggaran merupakan wujud komitmen dari budget holder (eksekutif ) kepada
pemberi wewenang (legislatif) Kinerja eksekutif akan dinilai berdasarkan pencapaian
targetanggaran dan efisiensi pelaksanaan anggaran. Kinerja manajer publik dinilai
berdasarkan berapa yang berhasil ia capai dikaitkan dengan anggaran yang telah ditetapkan.
Anggaran Sebagai Alat Motivasi (Motivation Tool)
Agar dapat memotivasi pegawai, anggaran hendaknya bersifal challenging but
attainableatau demanding but achieveable. Maksudnya adalah target anggaran hendaknya
janganterlalu tinggi hingga tidak dapat dipegnuhi, namun juga jangan terlalu rendah
hinggaterlalu mudah dicapai.
Anggaran Sebagai Alat untuk Menciptakan Ruang Publik (Public Share)

17
Masyarakat, LSM, Perguruan Tinggi dan berbagai organisasi kemasyarakatan
harusterlibat dalam proses penganggaran publik. Kelompok masyarakat yang terorganisir
akanmencoba mempengaruhi anggaran pemerintah, kelompok lain yang kurang terorganisir
akan mempercayakan aspirasinya melaluiproses politik yang ada.
E. Prinsip-prinsip Anggaran Sektor Publik
Prinsip-prinsip anggaran sektor publik meliputi:
a. Otorisasi oleh legislatif Anggaran publik harus mendapat otorisasi dari legislatif terlebih
dulu sebelumeksekutif dapat membelanjakan anggaran tersebut.
b. Komprehensif Anggaran harus menunjukkan semua penerimaan dan pengeluaran
pemerintah. Oleh karena itu, adanya dana non-budgetair pada dasarnya adalah menyalahi
prinsipanggaran yang bersifat komprehensif.c.
c. Keutuhan anggaran Semua penerimaan dan belanja pemerintah harus terhimpun dalam
dana umum (general fund)
d. Nondicretionary Apropriation. Jumlah yang disetujui oleh dewan legislatif harus
termanfaatkan secara ekonomis,efisien, dan efektif.
e. Periodik Anggaran merupakan suatu proses yang periodik, dapat bersifat tahunan
maupun multi-tahunan
f. Akurat Estimasi anggaran hendaknya tidak memasukkan cadangan yang tersembunyi
(hidden reserve) yang dapat dijadikan sebagai pemborosan dan inefisiensi anggaran
sertadapat mengakibatkan munculnya underestimate pendapatan dan overestimate
pengeluaran.
g. Jelasanggaran hendaknya sederhana, dapat dipahami masyarakat, dan tidak
membingungkan
h. Diketahui publik anggaran harus diinformasikan kepada masyarakat luas.
F. Proses Penyusunan Anggaran Sektor Publik
Proses penyusunan anggaran mempunyai 4 tujuan yaitu :
1. Membantu pemerintah mencapai tujuan fiskal dan meningkatkan koordinasiantarbagian
dalam lingkungan pemerintahan.
2. Membantu menciptakan efisiensi dan keadilan dalam menyediakan barang dan jasa
publik melalui proses pemrioritasan.
3. Memungkinkan bagi pemerintah untuk memenuhi prioritas belanja.
4. Meningkatkan transparansi dan pertanggungjawaban pemerintah kepada DPR/DPRDdan
masyarakat luas.
Faktor dominan yang terdapat dalam proses penganggaran adalah :
18
1. Tujuan dan target yang hendak dicapai
2. Ketersediaan sumber daya (faktor-faktor produksi yang dimiliki pemerintah)
3. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan dan target.
4. Faktor-faktor lain yang memengaruhi anggaran, seperti: munculnya peraturan
pemerintah yang baru, fluktuasi pasar, perubahan sosial dan politik, bencana alam,dan
sebagainya.
Pengelolaan keuangan publik melibatkan beberapa aspek, yaitu aspek
penganggaran,aspek akuntansi, aspek pengendalian, dan aspek auditing. Aspek penganggaran
mengantisipasi pendapatan dan belanja, sedangkan aspek akuntansi terkait dengan proses
mencatat, mengolah, dan melaporkan segala aktivitas penerimaan dan pengeluaran atas dana
pada saat anggaran dilaksanakan.
G. Prinsip-prinsip Pokok dalam Anggaran Sektor Publik
Richard Musgrave seperti yang dikutip Coe (1989) mengidentifikasikan tiga
pertimbangan mengapa pemerintah perlu ³terlibat´ dalam ³bisnis´ pengadaan barang dan jasa
bagi masyarakat.
Ketiga pertimbangan tersebut meliputi stabilitas ekonomi,redistribusi pendapatan, dan alokasi
sumber daya. Lemahnya perencanaan anggaran memungkinkan munculnya underfinancing
atau overfinancing yang akan mempengaruhi tingkat efisiensi dan efektivitas anggaran.
Siklus anggaran meliputi empat tahap yang terdiri atas:
1. Tahap persiapan anggaran (preparation);
2. Tahap ratifikasi (approval/ratification)
3. Tahap implementasi (implementation)
4. Tahap pelaporan dan evaluasi (reporting and evaluation)
5. Tahap Persiapan Anggaran (Budget Preparation)
Tahap Persiapan Anggaran (Budget Preparation)
Pada tahap persiapan anggaran dilakukan taksiran pengeluaran atas dasar taksiran
pendapatan yang tersedia. Yang perlu diperhatikan adalah sebelum menyetujui taksiran
pengeluaran, terlebih dahulu harus dilakukan penaksiran pendapatan secara lebih akurat.
Dalam persoalan estimasi, yang perlu mendapat perhatian adalah terdapatnyafaktor
“uncertainty” (tingkat ketidakpastian)yang cukup tinggi. Oleh sebab itu, manajer keuangan
public harus memahami betul dalam menentukan besarnya suatu mata anggaran.
Besarnya mata anggaran pada suatu anggaran yang menggunakan “line-item budgeting´ akan
berbeda pada “input-output budgeting”, “program budgeting” atau “zero based budgeting”.
Tahap Ratifikasi Anggaran (budget ratification)
19
Tahap berikutnya adalah budget ratification. Tahap ini merupakan tahap yang
melibatkan proses politik yang cukup rumit dan cukup berat. Pimpinan eksekutif dituntut
tidak hanya memiliki “managerial skill” namun juga harus mempunyai “ political skill”
salesmanship´dan ‘coalition building’ yang memadai. Integritas dan kesiapan mentalyang
tinggi dari eksekutif sangat penting dalam tahap ini.
Tahap Pelaksanaan Anggran(Budget Implementation)
Sistem informasi akuntansi dan sistem pengendalian manajemen sangat diperlukan
untuk mendukung pelaksanaan anggaran. Manajer keuangan public dalam hal ini
bertanggung jawab untuk menciptakan sistem akuntansi yang memadai dan handal untuk
perencanaandan pengendalian anggran yang telah disepakati, dan bahkan dapat diandalkan
untuk tahap penyusuanan anggaran periode berikutnya.
Tahap Pelaporan dan Evaluasi Anggaran (budget reporting & evalution)
Tahap terakhir dari siklus anggaran adalah pelaporan dan evaluasi anggaran. Tahap
persiapan, ratifikasi, dan implementasi anggaran terkait dengan aspek operasionalanggaran,
sedangkan tahap pelaporan dan evaluasi terkait dengan aspek akuntanbilitas. Jika tahap
implementasi telah didukung dengan sistem akuntansi dan sistem pengendalian manajemen
yang baik, maka diharapkan tahap budget reporting and evaluation tidak akan menemui
banyak maakan menemui banyak masalah.
H. Jenis-jeinis Anggaran Sektor Publik
PERKEMBANGAN ANGGARAN SEKTOR PUBLIK
Sistem anggaran sektor publik dalam perkembangannya telah menjadi
instrumenkebijakan multifungsi yang digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan
organisasi. Hal tersebut terutama tercermin pada komposisi dan besarnya anggaran yang
secaralangsung merefleksikan arah dan tujuan pelayanan masyarakat yang
diharapkan.Anggaran sebagai alat perencanaan kegiatan publik yang dinyatakan dalam
satuanmoneter sekaligus dapat digunakan sebagai alat pengendalian.Sistem perencanaan
anggaran publik berkembang sesuai dinamika perkembanganmanajemen sektor publik dan
tuntutan yang muncul di masyarakat. Pada dasarnyaterdapat beberapa jenis pendekatan dalam
perencanaan dan penyusunan anggaran sektor publik. Secara garis besar ada dua pendekatan
utama yang memiliki perbedaan mendasar.
Anggaran Tradisional
Anggaran tradisional merupakan pendekatan yang banyak digunakan di negara
berkembang dewasa ini. Terdapat dua cirri utama dalam pendekatan ini yaitu: a) Cara

20
penyusunan anggaran didasarkan atas pendekatan incrementalism (b) Struktur dan susunan
anggaran yang bersifat line-item.
Ciri lain yang melekat pada pendekatan anggaran tradisional tersebut adalah:
c) Cenderung sentralistis
d) Bersifat spesifikasi
e) Tahunan
f) Mengggunakan prinsip anggaran bruto
Incrementalism
Penekanan dan tujuan utama pendekatan tradisional adalah pada pengawasan dan
pertanggungjawaban yang terpusat. Anggaran tradisional bersifat incrementalism yaitu hanya
menambah/mengurangi jumlah rupiah pada item anggaran yang ada sebelumnya dengan
menggunakan data tahun sebelumnya sebagai dasar menyesuaikan besarnya penambahan
atau pengurangan tanpa dilakukan kajian yang mendalam. Masalah utama anggaran
tradisional adalah berkaitan dengan tidak adanya perhatian terhadap konsep value for money.
Line-item
Ciri lain anggaran tradisional adalah struktur anggaran bersifat line-item yang didasarkan atas
dasar sifat (nature) dari penerimaan dan pengeluaran. Metode line-item budget tidak
memungkinkan untuk menghilangkan item-item penerimaan atau pengeluaran yang telah ada
dalam struktur anggaran, walaupun sebenarnya secara riilitem tertentu sudah tidak relevan
lagi untuk digunakan dalam periode sekarang. Penyusunan anggaran dengan menggunakan
struktur line-item dilandasi alasan adanya orientasi sistem anggaran yang dimaksudkan untuk
mengontrol pengeluaran.
Kelemahan Anggaran Tradisional
Beberapa kelemahan anggaran tradisional antara lain:
1. Hubungan yang tidak memadai (terputus) antara anggaran tahunan denganrencana
pembangunan jangka panjang.
2. Pendekatan incremental menyebabkan sejumlah besar pengeluaran tidak pernahditeliti
secara menyeluruh efektivitasnya.
3. Lebih berorientasi pada input daripada output. Hal tersebut menyebabkananggaran
tradisional tidak dapat dijadikan sebagai alat untuk membuat kebijakandan pilihan
sumberdaya, atau memonitor kinerja.
4. Sekat-sekat antar departemen yang kaku membuat tujuan nasional secarakeseluruhan
sulit dicapai.
5. Proses anggaran terpisah untuk pengeluaran rutin dan pengeluaran modal/investasi.
21
6. Anggaran tradisional bersifat tahunan
7. Sentralisasi penyiapan anggaran, ditambah dengan informasi yang tidak memadai
menyebabkan lemahnya perencanaan anggaran. Sebagai akibatnya adalah munculnya
budget padding atau budgetary slack.
8. Persetujuan anggaran yang terlambat, sehingga gagal memberikan mekanisme
pengendalian untuk pengeluaran yang sesuai, seperti seringnya dilakukan revisi anggaran
dan manipulasi anggaran.
9. Aliran informasi (sistem informasi financial yang tdak memadai yang menjadi dasar
mekanisme pengendalian rutin, mengidentifikasi masalah dan tindakan.
ANGGARAN PUBLIK DENGAN PENDEKATAN NPM
Era New Publik Management
New Public Management berfokus pada manajemen sector public yang berorientasi
padakinerja, bukan berorientasi kebijakan. Penggunaan paradigma New Publik Management
tersebut menimbulkan beberapa konsekuensi bagi pemerintah diantaranya adalah
tuntutanuntuk melakukan efisiensi, pemangkasan biaya, dan kompetensi tender. Salah satu
model pemerintah di era New Publik Management adalah model pemerintahyang diajukan
oleh Osbone dan Gaebler (1992) yang tertuang dalam pandangannya yangdikenal dengan
konsep “reinventing government”. Perspektif baru pemerintah menurutOborne dan Gaebler
tersebut adalah :
1. Pemerintah katalis Pemerintah sebagai pemberi arahan dan berfokus pada pemberian
pengarahan bukan produksi pelayanan public.
2. Pemerintah milik masyarakat Pemerintah memberikan wewenang kepada masyarakat,
memberdayakan masyarakat daripada melayani.
3. Pemerintah yang kompetitif Menyuntikan semangat kompetisi dalam pemberian
pelayanan public. Kompetisi adalah satu-satunya cara untuk menghemat biaya sekaligus
meningkatkan kualitas pelayanan.
4. Pemerintah yang digerakan oleh misi
5. Mengubah organisasi yang digerakan oleh peraturan menjadi organisasi yang digerakan
oleh misi. Pemerintah digerakan oleh misi bukan peraturan. Pemerintah yang berorientasi
hasil Pemerintah yang berorientasi hasil berusaha mengubah bentuk penghargaan
daninsentif, yaitu membiayai hasil dan bukan masukan.
6. Pemerintah berorientasi pada pelanggan : memenuhi kebutuhan pelanggan, bukan
birokrasi. Pemerintah tradisional seringkali salah dalam mengidentifikasikan
pelanggannya. Penerimaan pajak memang dari masyarakat dan dunia usaha, tetapi
22
pemanfaatannyaharus disetujui oleh DPR/DPRD. Pemerintah wirausaha : mampu
menciptakan pendapatan dan tidak sekedar membelanjakan.Pemerintah daerah wirausaha
dapat mengembangkan beberapa pusat pendapatan,
7. Pemerintah antisipatif : berupaya mencegah daripada mengobati.Pemerintah tradisional
yang birokratis memusatkan diri pada produksi pelayanan publik untuk memecahkan
masalah publik. Pemerintah birokratis cenderung bersifat reaktif: seperti suatu satuan
pemadam kebakaran, apabila tidak ada kebakaran maka tidak akan ada upaya
pemecahan. Pemerintah wirausaha bersifat proaktif.
8. Pemerintah desentralisasi : dari hierarki menuju partisipatif dan tim kerja.Lima puluh
tahun yang lalu, pemerintahan yang sentralis dan hierarkis sangat diperlukankarena
pengambilan keputusan harus dari pusat.
9. Pemerintah berorientasi pada (mekanisme) pasar: mengadakan perubahanmekanisme
pasar (sistem insentif) dan bukan dengan mekanisme administratif (sistem prosedur dan
pemaksaan) Ada dua cara alokasi sumberdaya, yaitu mekanisme pasar dan mekanisme
administratif. Pemerintah tradisional menggunakan mekanisme administratif, sedangkan
pemerintah wirausaha menggunakan mekanisme pasar.
PERUBAHAN PENDEKATAN ANGGARAN
Dengan munculnya era New Public Management telah mendorong usaha untuk
mengembangkan pendekatan yang lebih sistematis dalam perencanaan anggaran sector
publik. Seiring dengan perkembangan tersebut, muncul beberapa teknik pengnggaransector
publik, misalnya teknik anggaran kinerja ( performance budgeting ), zero based budgeting
(ZBB), dan planning, programming, and budgeting system (PPBS).
Pendekatan baru nin memiliki karakteristik:
1. Komprehensif/komparatif
2. Terintegrasi dan lintas departemen
3. Proses pengambilan keputusan yang rasional
4. Berjangka panjang
5. Spesifikasi tujuan dan perangkingan prioritas
6. Analisis total cost dan benefit (termasuk opportunitycost)
7. Berorientasi input, output, dan outcome, bukan sekedar input
8. Adanya pengawasan kinerja
ANGGARAN KINERJA
Pendekatan kinerja disusun untuk mengatasi berbagai kelemahan yang terdapatdalam
anggaran tradisional, khususnya yang disebabkan oleh ketiadaan tolok ukur yang bisa
23
digunakan untuk mengukur kinerja dalam pencapaian tujuan dan sasaran pelayanan publik.
Anggaran dengan pendekatan kinerja sangat menekankan pada konsep value for money dan
pengawasan kinerja output. Pendekatan ini juga mengutamakan mekanisme penentuan dan
pembuatan prioritas tujuan serta pendekatan yang sistematik dan rasional dalam proses
pengambilan keputusan. Pendekatan ini cenderung menolak pandangan anggaran tradisional
yang menganggap bahwa tanpa adanya arahan dan campur tangan, pemerintah akan
menyalah gunakan kedudukan mereka dan cenderung boros.
ZERO BASED BUDGETING (ZBB)
Konsep ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan yang ada pada system
anggarantradisional. Penyusunan anggaran dengan menggunakan konsep ini dapat
menghilangkan incrementalism dan line-item karena anggaran diasumsikan mulai dari nol
(zero-base).
Proses Implementasi ZBB Terdiri dari 3 tahap, yaitu:
1. Identifikasi unit-unit keputusan Struktur organisasi pada dasarnya terdiri dari pusat-pusat
pertanggungjawaban. Setiap pusat pertanggungjawaban merupakan unit pembuat
keputusan yang salahsatu fungsinya adalah untuk menyiapkan anggaran. ZBB
merupakan systemanggaran yang berbasis pusat pertanggungjawaban sebagai dasar
perencanan dan pengendalian anggaran.
2. Penentuan paket-paket keputusan Tahap selanjutnya adalah menyiapkan dokumen yang
berisi tujuan unit keputusandan tindakan yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan
tersebut. Dokumeninilah yang disebut paket keputusan. Paket keputusan merupakan
gambaran komprehensif mengenai bagian dari aktivitas organisasi atau fungsi yang dapat
dievaluasi secara individual.
Ada 3 jenis paket keputusan :
1. Paket keputusan mutually-exclusive
Merupakan paket keputusan yang memiliki fungsi yang sama.
2. Paket keputusan incremental
Merefleksikan level usaha berbeda dalam melakukan kegiatan tertentu.
3. Meranking dan mengevaluasi paket keputusan
Tahap berikutnya adalah meranking semua paket berdasarkan manfaatnyaterhadap
organisasi. Tahap ini merupakan jemnbatan menuju proses alokasisumber daya di antara
berbagai kegiatan yang beberapa diantaranya sudah adadan yang lainnya baru sama sekali.
Keunggulan ZBB :

24
1. Jika ZBB dilaksanakan dengan baik maka dapat menghasilkan alokasi sumber daya
secara lebih efisien
2. ZBB berfokus pada value for money
3. Memudahkan untuk mengidentifikasi terjadinya inefisiensi dan ketidakefektifan biaya
4. Meningkatkan pengetahuan dan motivasi staf dan manajer
5. Meningktkan partisipasi manajemen level bawah dalam proses penyusunananggaran.
6. Merupakan cara yang sistematik untuk menggeser status quo dan mendorongorganisasi
untuk selalu menguji alternatif aktivitas dan pola perilaku biaya sertatingkat pengeluaran.
Kelemahan ZBB :
1. Prosesnya memakan waktu, terlalu teoritis dan tidak praktis, membutuhkan biayayang
besar, serta menghasilkan kertas kerja yang menumpuk karena pembuatan paket
keputusan.
2. ZBB cenderung menekankan manfaat jangka pendek
3. Implementasi ZBB membutuhakan teknologi yang maju
4. Masalah besar yang dihadapi ZBB adalah proses meranking dan mereview paket
keputusan. Mereview ribuan paket keputusan merupakan pekerjaan yangmelelahkan dan
membosankan, sehingga dapat mempengaruhi keputusan.
5. Untuk melakukan perankingan paket keputusan dibutuhkan staf yang memilikikeahlian
yang mungkin tidak dimiliki organisasi. Selain itu dalam perankinganmuncul
pertimbangan subjektif/ mungkin terdapat tekanan politik sehingga tidak objektif lagi.
6. Memungkinkan munculnya kesan yang keliru bahwa semua paket keputusanharus dalam
anggaran
7. Implementasi ZBB menimbulkan masalah keperilakuan dalam organisasi
PLANNING, PROGAMMING, AND BUDGETING SYSTEM (PPBS)
PPBS merupakan teknik penganggaran yang didasarkan pada teori system yang
berorientasi pada output dan tujuan dengan penekanan utamanya adalah alokasi sumberdaya
berdasarkan analisis ekonomi. PPBS adalah salah satu model penganggaran yang ditujukan
untuk membantu menajemen pemerintah dalam membuat keputusan alokasi sumber daya
secara lebih baik. Hal tersebut disebabkan sumber daya yang dimiliki pemerintah terbatas
jumlahnya, sementara tuntutan masyarakat tidak terbatas.
Proses Implementasi PPBS
Langkah implementasinya meliputi:
1. Menentukan tujuan umum organisasi dan tujuan unit organisasi dengan jelas.
2. Mengidentifikasikan program dan kegiatan untuk mencapai tujuan yang telahditetapkan.
25
3. Mengevaluasi berbagai alternatif program dengan menghitung cost-benefit dari masing-
masing program.
4. Pemilihan program yang memiliki manfaat besar dengan biaya yang kecil.
5. Alokasi sumber daya ke masing-masing program yang disetujui
Karakteristik PPBS :
1. Berfokus pada tujuan dan aktivitas (program) untuk mencapai tujuan.
2. Secara eksplisit menjelaskan implikasi terhadap tahun anggaran yang akan dating karena
PPBS berorientasi pada masa depan.
3. Mempertimbangkan semua biaya yang terjadi.
4. Dilakukan analisis secara sistematik atas berbagai program, yang meliputi : identifikasi
tujuan, identifikasi secara sistematik, alternatif program untuk mencapai tujuan, estimasi
biaya total dari masing-masing alternatif program, dan estimasi manfat yang ingin
diperoleh dari masing-masing alternatif program
Kelebihan PPBS :
1. Memudahkan dalam pendelegasian tanggung jawab dari manajemen puncak
kemanajemen menengah.
2. Dalam jangka panjang dapat mengurangi beban kerja
3. Memperbaiki kualitas pelayanan melalui pendekatan sadar biaya dalam perencanaan
program.
4. Lintas departemen sehingga dapat meningkatkan komunikasi, koordinasi, dankerja sama
antar departemen.
5. Menghilangkan program yang overlapping atau bertentangan dengan pencapaiantujuan
organisasi
6. PPBS menggunakan teori marginal utility, sehingga mendorong alokasi sumber daya
secara optimal.
Kelemahan PPBS
1. PPBS membutuhkan system informasi yang canggih, ketersediaan data, adanyasystem
pengukuran, dan staf yang memiliki kapabilitas tinggi
2. Implementasi PPBS membutuhkan biaya yang besar karena ppbs memvbutuhkan
teknologi yang canggih
3. PPBS bagus secara teori, namun sulit untuk diimplementasikan
4. PPBS mengabailan realitas politik dsan organisasi sebagai kumpulan manusia yang
kompleks
Masalah utama penggunaan ZBB dan PPBS.
26
1. Bounded rationality, keterbatasan dalam menganalisis semua alternatif untuk melakukan
aktivitas.
2. K urangnya data untuk membandingkan semua alternatif, terutama untuk mengukur
output.
3. Masalah ketidakpastian sumber daya, pola kebutuhan di masa depan, perubahan politik,
dan ekonomi.
4. Pelaksanaan teknik tersebut menimbulkan beban pekerjaan yang sangat berat5.
5. Kesulitan dalam menentukan tujuan dan perankingan program terutama ketikaterdapat
pertentangan kepentingan.
6. Seringkali tidak memungkinkan untuk melakukan perubahan program secaracepat dan
tepat.
7. Terdapat hambatan birokrasi dan perlawanan politik yang besar untuk berubah.

3. System Pengendalian Manajemen Sektor Publik


Pengendalian manajemen merupakan keharusan dalam suatu organisasi yang mempraktekkan
desentralisasi. Salah satu pandangan bahwa system pengendalian manajemen harus sesuai
dengan strategi perusahaan. Menurut Robert N. Anthony dan John Dearden dalam
Management Control System (Homewood: Illinois, Richard D. Darwin, Inc., 1984) dalam
Ayuningtyas (2006):
“System pengendalian manajemen adalah struktur dan proses sistematis yang terorganisir
yang digunakan oleh manajemen untuk memastikan bahwa pelaksanaan kegiatan operasi
organisasi sesuai dengan strategi dan kebijakan organisasi”
Pengendalian manajemen menurut Halim, dkk (2005) adalah sebagai berikut:
“Pengendalian manajemen adalah proses di mana manajer mempengaruhi anggotanya
untuk melaksanakan strategi organisasi”
Pengendalian mengukur pelaksanaan kerja atau prestasi dengan membandingkan terhadap
rencana dan tujuan. Pengendalian manajemen mencakup system pengendalian manajemen
yang terdiri atas tatanan organisasi, wewenang, tanggung jawab, dan informasi untuk
memungkinkan pelaksanaan pengendalian dan untuk memproses sekumpulan tindakan yang
memastikan bahwa organisasi bekerja untuk mencapai tujuan. System pengendalian
manajemen mempunyai elemen-elemen seperti:
a. Detector atau sensor yakni suatu alat untuk mengidentifikasikan apa yang sedang
terjadi dalam suatu proses yang sedang dikendalian
b. Assessor atau pembanding yakni suatu alat untuk menentukan ketepatan
27
c. Efektor yakni alat yang digunakan untuk mengubah sesuatu yang diperoleh dari
assessor
d. Jaringan komunikasi yakni alat yang mengirim informasi antara detector dan assessor
dan antara assessor dan efektor
Pengendalian manajemen merupakan beberapa bentuk kegiatan perencanaan dan
pengendalian kegiatan yang terjadi pada suatu organisasi. Pengendalian manajemen
dilakukan dari atas hingga bawah dengan proses meliputi 3 aktivitas, yaitu:
a. Komunikasi, agar bawahan bertindak secara efektif
b. Motivasi, agar bawahan tepat dalam menyelesaikan tugas
c. Evaluasi, agar mengetahui apakah bawahan bekerja secara efektif dan efisien
System pengendalian manajemen sector public berfokus pada bagaimana melaksanakan
strategi organisasi secara efektif dan efisien sehingga tujuan organisasi dapat dicapai. System
pengendalian manajemen tersebut harus didukung dengan perangkat yang lain berupa
struktur organisasi yang sesuai dengan tipe pengendalian manajemen yang digunakan.
Adapun aktifitas pengendalian manajemen menurut Mandiasmo (2009) meliputi:
a. Perencanaan
b. Koordinasi antar berbagai bagian dalam organisasi
c. Komunikasi informasi
d. Pengambilan keputusan
e. Memotivasi orang-orang dalam organisasi
f. Pengendalian
g. Penilaian kinerja
Mahmudi (2007) membagi system pengendalian manajemen menjadi dua bagian, yaitu
proses pengendalian manajemen dan struktur pengendalian manajemen. Proses pengendalian
manajemen terdiri atas beberapa tahap, yaitu:
a. Perumusan strategi
b. Perencanaan strategi
c. Pembuatan program
d. Penganggaran
e. Implementasi
f. Pelaporan kinerja
g. Evaluasi kinerja
h. Umpan balik
Tahapan tersebut dapat tergambar dalam siklus sebagai berikut:
28
Perumusan
Strategi
Umpan Perencanaan
Balik Strategi

Evaluasi Penyusunan
Kinerja Program dan
Kegiatan

Pelaporan
Penganggaran
Kinerja

Implementasi

Gambar 8.1.Proses Pengendalian Manajemen Organisasi Sektor Publik


Sumber: Mahmudi, 2007, hlm. 59.
Proses pengendalian manajemen tidak bisa dilaksanakan tanpa ada dukungan dari struktur
pengendalian manajemen. Struktur pengendalian manajemen merupakan jaringan yang
dimiliki organisasi untuk sarana melaksanakan proses pengendalian manajemen (Mahmudi,
2007). Struktur pngendalian manajemen terdiri atas tiga elemen, yaitu:
a. Pusat Pertanggungjawaban
b. Kompensasi
c. Jejaring Informasi
4. Pelaporan Keuangan Pemerintah (PP 71 tahun 2010)
Penerapan sistem akuntansi berbasis akrual dalam organisasi pemerintahan tidak
hanya menjadi tuntutan masyarakat Indonesia di era reformasi. Akan tetapi, juga
merupakan tuntutan dari masyarakat internasional, terutama dari lembaga internsaional
yang memiliki kredibilitas seperti IMF, world bannk, dan OECD. Meskipun demikian,
bukan berarti penerapan akuntansi berbasis akrual dalam organisasi sektor piblik
(pemerintah) sudah merupakan kesepakatan umum dan tidak ada tantangan dalam
pelaksanannnya.
Akuntansi akrual pada organisasi swasta ditunjukkan untuk mendukung tujuan
organisasi untuk mencari laba dengan menandingkan informasi pendapatan dan beban
secara akurat. Sementara organisasi sektor publik tidak untuk mencari laba.

29
Gambaran dan telah krisis atas SAP berbasis akrual yang ditetapkan dengan PP
Nomor 71 tahun 2010. Gambaran secara menyeluruh atas PP nomor 71 tahun 2010
dimaksudkan untuk membantu para pengguna SAP memahami SAP berbasis akrual yang
di maksud oleh PP tersebut, serta telah krisis ditunjukkan agar apabila terdapat kelemahan
atas SAP berbasis akrual dapat segera diperbaiki sehingga tidak sampai membinggungkan
bagi penggunanya.
PP NOMOR 71 TAHUN 2010 : AKUNTANSI PEMERINTAH BERBASIS AKRUAL
Basis akrual adalah basis akuntansi yang mengakui transaksi dan peristiwa lainnya
pada saat transaksi dan peristiwa tersebut terjadi. Ahyani (2007 ; 35 ) mengungkapkan
bahwa penerapan basis akrual memberikan hasil yang lebih baik dan memberikan
keuntungan sebagai berikut :
1. Memberikan ketelitian dalam penyajian laporan keuangan pemerintah daerah
2. Lebih akurat dalam melaporkan nilai aset, kewajiban, maupun pembiayaan
pemerintah
3. Memungkinkan diberikan cut off
4. Meningkatkan transaprasi
UU Nomer 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara mengamanatkan untuk
menyelenggarakan pengakuan pendapatan dan belanja menggunakan basis akrual
selambat lambatnya lima tahun setelah UU ditetapkan.
Basis Akuntansi Di Indonesia : Perspektif Sejarah dan Hukum
Penerapan sistem akuntansi pemerintah dari suatu negara sangat bergantung
kepada peraturan perundang undangan yang berlaku pada negara yang bersangkutan. Dwi
Rama ( 2007 ) menuliskan bhawa menurut PBB ciri ciri dari sistem akuntansi pemerintah
antara lain :
1. Dirancang sesuai konstitusi dan peraturan perundnag undangan yang berlaku
pada suatu negara
2. Menyediakan informasi yang akuratabel dan auditabel
3. Menyediakan informasi keuangan yang diperlukan untuk penyusunan neraca
atau evaluasi pelaksanaan secara fisik dan keuangan.
Praktik akuntansi pemerintah pertama kalinya diterapkan di indonesia adalah pada
masa reformasi yang menghasilakan dua undnag undang yang menjadi tonggak
ditetapkannya otonomi daerah, yaitu UU nomor 22 tahun 1999 tentang pemerintah daerah
dan UU Nomer 25 Tahun 1999 tentang pertimbangan keuangan pemerintah pusat dan
daerah. Dimana kedua undnag undang tersebut mengahsilkan PP Nomor 105 tahun 2000
30
tentang pengolahan dan pertanggungjawaban keuangan daerah dan aturan penjabarannya
yaitu kepmendagri nomor 29 tahun 2002 tentang pedoman pengurusan,
pertanggungjawaban dan pengawasan keuangandaerah serta tata cara penyusunan APBD,
pelaksanaan tata usaha keuangan daerah serta penyususnan perhitungan APBD. Aturan
perundnag undangan biasanya menjadi acuan praktik akuntansi pada masa awal reformasi.
Basis akuntansi yang digunakan pada masa tersebut adalah basis kas modifikasian. Pada
tahun 2003 terbitlah UU Nomer 17 Tahun 2003 tentang keuangan negara yang
memberikan arah terhadap pengembanagan sistem pengolahan keuangan negara.
Secara teoritis dan melihta pengalaman di berbagai negara langkah untuk
memperbolehkan penerapan SAP Berbasis Kas menunjukann Akrual tersebut dianggap
tepat, keran untuk dapat menerapkan basis akrual dengan tidak dapat dilakukan secara
radial tetapi dilakukan secara gradual.
Due Process PP Nomor 71 Tahun 2010
Due process adlaah proses baku penyusunan, diamana due process meliputi
tahapan sebagai berikut :
1. Identifikasi topik untuk dikembangkan menjadi standar
2. Pembentukan kelompok kerja
3. Riset terbatas oleh kelompok kerja
4. Penulisan Draf SAP oleh kelompok kerja
5. Pembahasna Draf oleh komite kerja
6. Pengambilan keputusan Draf untuk dipublikasikan
7. Peluncuran Draf SAP
8. Dengar pendapat publik terbatas dan dengar pendapat publik
9. Pembahsan tanggapan dan masukan terhadap Draf SAP
10. Finansial Standar
Langkah yang dilakukan dalam penyusunan SAP berbasis akrual sebagai berikut :
a. SAP berbasis akrual dikembangkan dari SAP PP Nomor 24 Tahun 2005 dengan
mengacu pada IPSAS dan memperhatikan peraturan perundang undagan yang berlaku
b. SAP Berbasis Akrual dalah SAP PP nomor 24 Tahun 2005 yang telah dikembangkan
sesual basis akrual.
c. Laporan operasioanl
d. Kerangka konseptual dalam SAP PP Nomor 24 Tahun 2005 dimodifikasi dan
diperbarui sehingga menjadi kerangka konseptual dari PSAP berbasis Akrual
SAP Berbasis Akrual Versi PP Nomor 71 Tahun 2010
31
SAP berbasis akrual adalah SAP yang mengakui pendapatan, beban, aset, utang
dan ekuitas dalam pelaporan finansial berbasis akrual seta mengakui pendapatan belanja,
dan pembiayaan dalam pelaporan pelaksanaan anggaran berdasarkan basis yang
diterapkan dalam APBN / APBD.
Pengertian SAP berbasis akrual di atas memunculkan beberapa kritik dan
pertanyaan sebagai berikut:
a. SAP yang terdapat dalam PP Nomor 71 Tahun 2010 dinamai dengan “SAP berbasis
Akrual”
b. Apabila dicermati lebih detail lagi. SAP menyatakan dengan tegas bahwa basis akrual
diterapkan pada pelaporan finansial, sementara pelaporan pelaksana anggaran
menggunakan basis akuntansi sesuai dengan basisi yang ditetapkan dalam
APBN/APBD.
c. Kosekuensi dari diterapkannya SAP tersebut dapat dilihat dari dua sudut pandang,
yaitu sudut pandang hukum dan sudut pandang praktik akuntansi.
d. Akuntansi pemerintahan tidak hanya berdasarkan prinsip-prinsip akuntansi berterima
umum (PABU) atau GAAP, tetapi juga harus selaras dan sesuai dengan undang-
undang yang terkait, jadi, sistem akuntansi pemerintah harus dilaksanakan sesuai
dengan GAAP dan aturan perundang-undangan.
LAPORAN PERASIONAL VERSUS LAPORAN REALISASI ANGGARAN
Perbedaan mendasar antara SAP berbasis kas menuju akrual dengan SAP berbasis
akrual adalah adanya penambahan PSAP baru, yaitu PSAP Nomor 12 tentang penyajian
Laporan Operasional. Dengan adanya laporan operasional, maka laporan realisasi anggaran
tidak lagi memiliki keterkaitan dengan Neraca. Perbedaan akuntansi yang digunakan
disebabkan karena tujuan penyusunan kedua laporan tersebut juga berbeda. Laporsan
operasional menyajikan ikhtisar sumber daya ekonomi yang menambah ekuitas dan
penggunaannya yang dikelola oleh pemerintah pusat/daerah untuk kegiatan penyelenggaraan
pemerintah dalam satu periode pelaporan.
Sedangkan laporan realisasi anggaran bertujuan memberikan informasi realisasi dan
anggaran entitas pelaporan. Perbandingan antara anggaran dan realisasinya menunjukkan
tingkat ketercapain target-target yang telah disepakati antara legislatif dan eksekutif sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.
Perbedaan tujuan kedua laporan tersebut juga berdampak pada berbedanya manfaat
dan informasi yang disediakan oelh kedua laporan tersebut. Laporan operasional
menyediakan informasi yang mencerminkan seluruh kegiatan operasional keuangan entitas
32
pelaporan yang berguna bagi penggunanya untuk mengevaluasi pendapatan LO dan beban
untuk menjelaskan suatu unit atau seluruh entitas pemerintah.
1. Pelaporan Laporan Operasional
Masing-masing dari keempat informasi tersebut mencerminkan peranan dari
laporan operasional, yaitu informasi (a) mencerminkan peran dalam perhitungan
biaya pelayanan, informasi (b) mencerminkan peran untuk menilai kinerja
pemerintah, informsi (c) berperan dalam mengestimasi pendapatan yang akan
diterima, informasi (d) berperan untuk menentukan besarnya perubahan ekuitas yang
dimiliki oleh pemerintah.
2. Struktur laporan operasional
a. Pendapatan-LO dari kegiatan operasional, yakni hak pemerintah yang diakui
sebagai penambahan ekuitas dalam periode tahun anggaran ]yang bersangkutan
dan tidak perlu dibayar kembali
b. Beban dari kegiatan operasional, yaitu penurunan manfaat ekonomi jasa dalam
periode pelaporan yang dapat menurunkan ekuitas berupa pengeluaran/konsumsi
aset atau timbulnya kewajiban.
c. Surpus dari kegiatan non-operasional, yaitu selisih para pendapatan dan beban
non-operasional yang sifatnya tidak rutin termasuk dari surplus dari penjualan aset
nonlancar dan penyelesaian kewajiban jangka penjang
d. Pos luar biasa, yaitu pendapatan atau beban merupakan operasi biasa yang tidak
diharapkan sering terjadi, diluar kendali atau pengaruh entitasyang bersangkutan.
e. Surplus-LO, yaitu selisih lebih/kurang antara pendapatan dan beban selama
periode pelaporan
3. Konsepsi akrual dan keterkaitan antarlaporan
Konsep akrual pada Laporan Operasional terlihat pada transaksi pendapatan
LO dan beban dalam bentuk barang/jasa. Transaksi pendapatan dan beban yang
terkait dengan transaksi selain kas dapat segera dicatat pada pendapatan LO dan
beban pada saat terjadinya transaksi. Sedangkan, pembiayaan tidak diperhitungkan
dalam perhitungan surplus LO karena transaksi pembiayaan tidak terkait dengan
operasi pada periode pelaporan.
4. Akuntansi Pendapatan LO versus Pendapatan LPA
Karena berbasis akrual, maka pendapatan-LO diakui pada saat timbulnya
hak asas pendapatan, dan pendapatan realisasi, yaitu adanya aliran kas masuk
sumber daya ekonomi. Pendapatan LO yang diperoleh berdasarkan peraturan
33
perundang-undangan dan yang diperoleh sebagai imbalan atas suatu pelayanan
yang telah selesai diberikan diakui pada saat timbulnya hak untuk menagih
pendapatan atau imbalan. Sedangkan, pendapatan LO yang diakui pada saat
direalisasi adalah hak yang telah diterima oleh pemerintah tanpa terlebih dahulu
adanya penagihan. Sedangkan, pendapatan LRA diakui pada saat diterima pada
rekening kas umum negara/ daerah. Jadi, selama tidak ada aliran kas yang masuk
ke dalam rekening kas umum negara/daerah maka tidak akan ada pendapat yang
diakui
5. Akuntansi Belanja versus beban
Beban dalah penurunan manfaat ekonomi atau potensi jasa dalam periode
pelaporan yang menurunkan ekuitas, yang dapat berupa pengeluaran atau konsumsi
aset atau timbulnya kewajiban. Sedagkan, belanja adalah semua pengeluaran dari
rekening kas umum negara/daerah yang mengurangi saldo anggran lebih fslsm
periode tahun anggran yang bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayaran
kembali ole pemerintahan.
Beban Belanja
Perbedaan
pengakuan Pada saat timbulnya kewajiban Pada saat kas keluar
Pada saat terjadinya konsumsi
aset
Terjadinya penurunan manfaat
ekonomi atau potensi jasa
pengelompokan Menurut klarifikasi ekonomi Menurut klarifikasi (jenis
belanja) organisasi, dan
fungsi

6. Akuntansi Surplus/Defisit-LRA versus Surplus/Defisit-LO


Surplus/Defisit-LO adalah selisih antaran pendapatan LO dan beban selama
satu periode pelaporan, setelah diperhitungkan Surplus/Defisit dari kegiatan non-
operasional dan pos luar biasa. Surplus/Defisit-LRA adalah selisih lebih/kurang
antara pendapatan LRA dan belanja selama satu periode pelaporan. Surplus/Defisit-
LRA akan mempengaruhi SiLPA/SikPA yang nantinya akan dipindahkan ke
Laporan Perubahan SAL sebagai penambah atau pengurang SAL.

34
7. Akuntansi pembiyaan versus kegiatan non-operasional dan ps luar biasa
Pembiyaan adalah sama atau dapat dikategorikan sebagai kegiatan non-
operasional dan po luar biasa. Pembiyaan adalah setiap penerimaan yang
perludibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada
tahun anggaran bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya, yang dalam
penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk menutup defisit atau
memanfaatkan surplus anggaran.
8. Transaksi dalam mata uang asing
Transaksi yang menggunakan mata uang asing dikonveksi terlebih dahulu
dan dinyatakan dalam mata uang rupiah. Perlakuan akuntansi untuk transaksi mata
uang asing dapat dibagi menjadi dua, yaitu, transaksi yang tersedia dana dalam mata
uang asing dan tidak tersedia dana dalam mata uang asing.
9. Transaksi dalam bentuk barang dan jasa
Transaksi pendapatan LO dan beban dalam bentuk barang/jasa yang harus
dilaporkan berdasarkan nilai wajahnya pada tunggal transaksi dam diungkap dalam
CaLK sehingga dapat memberikan semua informasi yang relevan mengenai bentuk
dari pendapatan dan beban. Transaksi pendapata dan beban yang terkait dengan
transaksi selain kas dapat segera dicatat pada pendapatan LO dan beban pada saat
terjadinya transaksi.
AGENDA MASA MENDATANG
Ada 3 permasalaa utama yang harus segera dijawab dan dicarikan solusinya yaitu:
1. Masalah legitimasi hukum atas PP Nomor 71 tahun 2010
2. Masalah praktik akuntansi menurut SAP berbasis akrual terkait teknik
pencatatan dn pelaprorannya
3. Masalah strategi penerapan SAP berbasis akrual sehingga dapat diterima dan
dilaksanakan oleh semua entitas pemerintahan sesuai batas waktu yang
ditentukan oleh aturan perundang-undangan

5. Pengukuran Kinerja Pemerintah (Impres No 7 tahun 1999 Tentang SAKIP dan LAKIP)
Pengukuran Kinerja dan Fungsi Pengendalian Manajemen Organisasi Sektor Publik
Sistem pengukuran kinerja sektor publik adalah suatu sistem yang bertujuan untuk
membantu manajer publik menilai capaian suatu strategi melalui tolak ukur kinerja yang
ditetapkan.

35
Mahmudi (2007: 14) mengidentifikasi tujuan dilakukannya pengukuran kinerja pada
organisasi sektor publik yaitu:
a. Mengetahui tingkat ketercapaian tujuan organisasi.
b. Menyediakan sarana pemeblajaran bagi pegawai.
c. Memperbaiki kinerja untuk periode berikutnya.
d. Memberikan pertimbangan yang sistematik dalam pembuatan
keputusan pemberian reward dan punishment.
e. Menciptakan akuntabilitas publik.
Manfaat disusunnya pengukuran kinerja bagi organisasi pemerintah adalah
(Mardiasmo, 2009: 122):
a. Memberikan pemahaman mengenai ukuran yang digunakan untuk
menilai kinerja manajemen.
b. Memberikan arah untuk mencapai target kinerja yang telah ditetapkan.
c. Untuk memonitor dan mengevaluasi pencapaian kinerja dan
membandingkannya dengan target kinerja serta melakukan tindakan
korektif untuk memperbaiki kinerjanya.
d. Sebagai alat komunikasi antara bawahan dan pimpinan dalam rangka
memperbaiki kinerja organisasi.
Berdasarkan tujuan dan manfaat,pengukuran kinerja sektor publik dilakukan untuk
memenuhi tiga maksud sebagai berikut (Mardiasmo, 2009: 121):
a. Pengukuran kinerja sektor publik dimaksudkan untuk membantu
memperbaiki kinerja pemerintah.
b. Ukuran kinerja sektor publik digunakan untuk pengalokasian sumber
daya dan pembuatan keputusan.
c. Ukuran kinerja sektor publik dimaksudkan untuk mewujudkan
akuntabilitas publik dan memperbaiki komunikasi kelembagaan.
Kesesuaian Desain Pengukuran Kinerja dengan Desain Sistem Pengendalian Manajemen
Sudrajat (2007) menyebutkan faktor yang menjadi pertimbangan dalam menyusun
sistem pengendalian manajemen yaitu:
a. Desain sistem pengendalian tergantung pada karakteristik lingkungan
yang dihadapi.
b. Paradigma, merupakan peta yang menggambarkan kondisi lingkungan
yang dihadapi oleh suatu organisasi.
c. Sistem terdiri atas dua bagian yaitu proses dan struktur.
36
d. Keahlian manajerial
Konsep Value For Money pada Pengukuran Kinerja
Konsep value for money merupakan konsep untuk mengukur ekonomi, efektivitas,
dan efisiensi kinerja program, kegiatan dan organisasi.
1. Pengukuran Ekonomi
Ekonomi merupakan hubungan antara pasar dan masukan. Dengan kata
lain,ekonomi merupakan praktik pembelian barang dan jasa input dengan tingkat
kualitas tertentu pada harga terbaik yang dimungkinkan (Mardias0, 2009).
Mahmudi (2007) mengartikan ekonomi sebagai perbandingan antara input
sekunder dengan input primer.
2. Pengukuran Efisiensi
Perbaikan terhadap efisiensi dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara
lain (Mardiasmo, 2009: 134):
a. Meningkatkan output pada tingkat input yang sama
b. Meningkatkan output dalm proporsi yang lebih besar daripada proporsi
peningkatan input
c. Menurunkan input pada tingkat output yang sama
d. Menurunkan input pada tingkat proporsi yang lebih besar daripada
proporsi peningkatan output.
3. Pengukuran Efektivitas
Efetivitas adalah ukuran berhasil tidaknya suatu organisasi mencapai
tujuannya. Efektivitas hanya melihat apakah suatu program telah mencapai
kegiatan yang telah ditetapkan. Efektivitas menggambarkan jangkauan akibat dan
dampak dari keluaran program dalam mencapai tujuan program.
Konsep Dasar: Input, Output dan Outcome
1,. Indikator Input
Input merupakan semua jenis sumber daya masukan yang digunakan dalam
suatu proses tertentu untuk menghasilkan output. Input dibagi menjadi dua yaitu
input primer dan sekunder. Input primer berupa kas, sedangkan input sekunder
berupa bahan baku, personal, infrastruktur dan masukan lainnya yang digunakan
untuk menghasilka output tertentu. Pengukuran input merupakan pengukuran
sumber daya yang dikonsumsi oleh suatu proses dalam rangka menghasilkan
output.
2. Indikator Outpur
37
Output merupakan hasil langsung dari suatu proses. Pengukuran output
merupakan pengukuran keluaran yang dihasilkan dari proses. Sudrajat (2007: 197)
menyatakan bahwa pengukuran output harus memiliki karakteristik sebagi berikut:
a. Ditujukan ke bidang kinerja sesungguhnya yaitu berupa output yang
benar menunjukkan kinerja yang diharapkan
b. Tepat sasaran, dalam artian tidak hanya mencerminkan estimasi kasar.
3. Indikator Outcome
Outcome merupakan dampak suatu program atau kegiatan terhadap
masyarakat. Outcome lebih tinggi nialinya dari pada output, karena output hanya
mengukur hasil tanpa mengukur dampaknya terhadap masyarakat, sedangakn
outcome mengukur kualitas output dan dampak yang dihasilkan.
Konsep Best Value
Karakteristik utama dari konsep best value adalah penetapan serangkaian
indikator kinerja untuk mengukur kinerja unit kerja pemberi layanan yang
merupakan unit kerja best value. Indikator kerja ditetapkan untuk menilai kinerja
dan kesehatan organisasi secara keseluruhan.
Implementasi Pengukuran Kinerja di Pemerintah
Perencanaan kinerja terdiri atas empat tahap yaitu:
a. Penentuan visi, misi dan tujuan serta strategi.
b. Penerjemahan visi, misi dan tujuan serta strategi ke dalam sasaran
strategis, inisiatif strategis, indikator kinerja dan target kinerja.
c. Penyusunan program
d. Penyusunan aggaran
Sementara itu, pengukuran kinerja value for money dibangun atas tiga komponen
utama yaitu:
a. Komponen visi, misi, sasaran dan target
b. Komponen input, proses, output dan outcome
c. Komponen pengukuran ekonomi, efisiensi dan efektivitas.

6. Akuntansi Organisasi Nir Laba (non profit oriented) PSAK No 45


Standardisasi akuntansi dan pelaporan pertanggungjawaban keuangan partai politik,akan
memberikan informasi kepada publik bagaimana partai tersebut mengolah dana,
kecakapannya mengelola dana, dan tertib pembelanjaannya. Pencatatan yang transparan akan

38
memberikan gambaran kepada publik tentang kualitas dan komitmen partai dalam upaya
bersama mencegah terjadinya taktik politik uang (money politic).
Kebanyakan organisasi nirlaba menggunakan beberapa parameter tunggal sebagai ukuran
keberhasilannya, seperti jumlah dana sumbangan yang diperoleh, pertumbuhan jumlah
anggota, jumlah pengunjung, jumlah orang yang dilayani, dan biaya overhead yang mampu
diminimalisasikannya (Bastian,2007). Untuk itu perlakuan akuntansinya dan pelaporan
keuangannya mengacu pada PSAK Nomor 45 tentang Standar Akuntansi untuk Entitas
Nirlaba. Laporan keuangan yang dihasilkan oleh PSAK Nomor 45 antara lain sebagai berikut.
1. Laporan posisi keuangan
2. Lapoan Aktivitas
3. Laporan Perubahan dalam Aset Neto/Ekuitas
4. Laporan Arus Kas
5. Catatan atas Laporan Keuangan
Selama ini ada tiga pendapat terkait penerapan PSAK Nomor 45 sebagai standar akuntasni
keuangan partai politik (Hafild, 2008).
1. PSAK Nomor 45 masih bisa dipakai sebagai standar akuntansi keuangan partai
politik, karena karakter partai politik mirip dengan organisasi nirlaba.
2. Standar akuntansi keuangan khusus partai politik tidak perlu dibuat tetapi dapat
melakukan modifikasi PSAK Nomor 45.
3. Standar laporan keuangan khusus untuk partai politik perlu dibuat.
Karakteristik organisasi nirlaba tidak sama dengan karakteristik partai politik, sehingga
standar laporan keuangannya pun tidak sama bisa sama. Laporan yang dihasilkan PSAK No.
45 menyajikan laporan kepada pengurus organisasi, donator, kelompok dampingan, dan
public yang mengenai kinerja organisasi yang berkenaan dengan jumlah dana yang diterima
dan jenis kegiatan yang dilakukannya.

7. Akuntansi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD)


Badan usaha milik negara yang dikelola oleh pemerintah daerah disebut badan usaha
milik daerah (BUMD).Perusahaan daerah adalah perusahaan yang didirikan oleh pemerintah
daerah yang modalnya sebagian besar / seluruhnya adalah milik pemerintah daerah.Tujuan
pendirian perusahaan daerah untuk pengembangan dan pembangunan potensi ekonomi di
daerah yang bersangkutan. Contoh perusahaan daerah antara lain: perusahaan air minum
(PDAM) dan Bank Pembangunan Daerah (BPD). Badan Usaha Milik Daerah ( BUMD )
memiliki kedudukan sangat panting dan strategis dalam menunjang pelaksanaan otonomi.
39
Oleh karena itu, BUMD perlu dioptimalkan pengelolaannya agar benar-benar menjadi
kekuatan ekonomi yang handal sehingga dapat berperan aktif, baik dalam menjalankan fungsi
dan tugasnya maupun sebagai kekuatan perekonomian daerah.Laba dari BUMD diharapkan
memberikan kontribusi yang besar terhadap Pendapatan Asli Daerah. Otonomi daerah
memberikan konsekuensi yang cukup besar bagi peran Badan Usaha Milik Daerah ( BUMD )
dalam menopang Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Dasar hukum pembentukan BUMD adalah berdasarkan UU No 5 tahun 1962 tetang
perusahaan daerah. UU ini kemudian diperkuat oleh UU No 5 tahun 1974 tentang pokok-
pokok pemerintahan daerah (Nota Keuangan RAPBN, 1997/1998).
Tujuan Pendirian BUMD:
a. Memberikan sumbangsih pada perekonomian nasional dan penerimaan kas Negara
b. Mengejar dan mencari keuntungan
c. Pemenuhan hajat hidup orang banyak
d. Perintis kegiatan-kegiatan usaha
e. Memberikan bantuan dan perlindungan pada usaha kecil dan lemah
f. Melaksanakan pembangunan daerah melalui pelayanan jasa kepada masyarakat
g. Penyelenggara kemanfaatan umum, dan peningkatan penghasilan pemerintah daerah
BUMD dalam Pembangunan Ekonomi Daerah
Eksistensi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebagai lembaga bisnis yang dimiliki
dan dikelola oleh pemerintah daerah memiliki peran strategis dalam pembangunan ekonomi
daerah.Keberadaan BUMD diyakini dapat memberikan multiplier effect yang sangat besar
bagi perekonomian masyarakat. Dengan adanya pendirian BUMD, hal itu akan membuka
lapangan kerja baru, menggerakkan sektor-sektor ekonomi produktif, serta menjadi stimulan
bagi pertumbuhan ekonomi di daerah.
Budi Ernawan, Kasubdit BUMD, Direktorat Pendapatan dan Investasi Daerah, Dirjen
Keuangan Daerah, Kementerian Dalam Negeri mengungkapkan BUMD akan mendorong
munculnya usaha-usaha baru sebagai usaha pendukung. Budi menjelaskan jika BUMD dapat
menjadi pendorong down effect ekonomi secara menyeluruh, maka secara langsung akan
menambah penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui sektor pajak dan restribusi.
“BUMD lebih dari sekadar penyumbang bagi PAD, namun menjadi salah satu penggerak
ekonomi daerah.

Permasalahan dan Kendala BUMD dalam Pembinaan dan Pengembangannya

40
Relatif masih kecilnya penerimaan Bagian laba perusahaan daerah sebagai salah satu
sumber PAD daerah, kecuali pada daerah tertentu seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa
Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur dan Sumatera Utara, adalah bahwa kebanyakan
usahanya relatif berskala menengah dan kecil, di samping banyak pula diantaranya yang
belum diselenggarakan berdasarkan asas ekonomi perusahaan, namun relatif lebih banyak
didasarkan atas pertimbangan pelayanan publik.
Tambahan pula menurut UU No. 5 Tahun 1962 yang mendasarinya, terdapat rincian
yang menetapkan bahwa penggunaan laba bersih perusahaan, setelah terlebih dulu dikurangi
penyusutan, ditetapkan sebagai berikut (Kunarjo, 1993):
1. Perusahaan Daerah yang memiliki modal seluruhnya terdiri dari kekayaan daerah yang
dipisahkan adalah:
a. untuk dana pembangunan daerah 30%
b. untuk anggaran belanja daerah 25%
c. untuk cadangan umum, sosial dan pendidikan, jasa produksi, sumbangan dana
pensiun dan sokongan sejumlah 45%.
2. Perusahaan daerah yang sebagian modalnya terdiri dari kekayaan daerah yang dipisahkan
setelah dikeluarkan zakat yang dipandang perlu adalah
a. untuk dana pembangunan daerah 8%
b. untuk anggaran belanja daerah 7%
c. selebihnya (85%) untuk pemegang saham dan untuk cadangan umum.

Dengan demikian Bagian laba perusahaan daerah yang jumlahnya relatif kecil
diberbagai daerah menjadi semakin kecil lagi dengan penetapan bagian daerah dalam
penggunaan keuntungan bersihnya yang diperuntukkan bagi penerimaan daerah yang relatif
kecil pula. Bahkan adakalanya pula pada daerah tertentu dan tahun-tahun anggaran tertentu
praktis Bagian laba perusahaan daerah itu “tidak terealisir” karena daerah sendiri terpaksa
menambah permodalan (atau investasi) pada BUMD yang bersangkutan yang jumlahnya
sama atau bahkan melebihi Bagian laba perusahaan daerah yang seharusnya disetorkan dalam
mendukung APBD daerah yang bersangkutan.
Dari Dari laporan hasil studi Biro Analisa Keungan Daerah Depkeu tentang Analisis
Kinerja Kinerja BUMN Non PDAM (1997) dikemukakan bahwa berbagai permasalahan
yang dihadapi BUMD dalam perjalanan hidupnya dapat disimpulkan sebagai berikut:
a. lemahnya kemampuan manajemen perusahaan
b. lemahnya kemampuan modal usaha
41
c. kondisi mesin dan peralatan yang sudah tua atau ketinggalan dibandingkan usaha lain
yang sejenis
d. lemahnya kemampuan pelayanan dan pemasaran sehingga sulit bersaing
e. kurang adanya koordinasi antar BUMD khususnya dalam kaitannya dengan industri hulu
maupun hilir
f. kurangnya perhatian dan kemampuan atas pemeliharaan aset yang dimiliki, sehingga
rendahnya produktivitas, serta mutu dan ketepatan hasil produksi
g. besarnya beban administrasi, akibat relatif besarnya jumlah pegawai dengan kualitas yang
rendah
h. masih dipertahankannya BUMD yang merugi, dengan alasan menghindarkan PHK dan
“kewajiban” pemberian pelayanan umum bagi masyarakat.
Selain dari pada itu, dari berbagai pengamatan dan keluhan yang seringkali
disampaikan oleh pihak internal maupun eksternal dari perusahaan daerah sendiri adalah
adanya berbagai kendala lain dalam pembinaan dan pengembangan usaha BUMD tersebut.
Diantaranya dirasakan adanya campur tangan pemerintah daerah yang cukup besar atas
jalannya organisasi BUMD serta adanya keterbatasan kewenangan tertentu dalam
operasionalisasi perusahaan. Selanjutnya seringkali pula dalam penempatan direksi tidak
terlepas dari pertimbangan KKN atau kedekatan para calonnya dengan pimpinan daerah.
Dalam hubungan ini banyak pula penempatan direksi dan bahkan tenaga kerja yang kurang
didasarkan pada pertimbangan profesionalisme, keahlian dan keterampilaan, bahkan
adakalanya penempatan di perusahaan daerah itu sebagai “tempat buangan” bagi pejabat
tertentu yang tergeser kedudukannya.

8. Akuntansi Kecamatan dan Desa


Pengelolaan Keuangan Desa
1. Definisi Pengelolaan Keuangan Desa
Dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa,
maka yang menjadi perhatian kita bersama adalah bagaimana selanjutnya
pemerintahan desa mengelola keuangan dan mempertanggungjawabkannya.
Menurut pasal 71 ayat (1) UU Nomor 6 Tahun 2014 dinyatakan bahwa
Keuangan Desa adalah hak dan kewajiban Desa yang dapat dinilai dengan uang
serta segala sesuatu berupa uang dan barang yang berhubungan
denganpelaksanaan hak dan kewajiban Desa. Selanjutnya pada ayat (2)nya

42
dinyatakan bahwa adanya hak dan kewajiban akan menimbulkan pendapatan,
belanja, pembiayaan, dan pengelolaan Keuangan Desa.
Dengan diberlakukannya Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang
Peraturan Pelaksanaan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, maka
kita coba jabarkan apa yang sebelumnya diatur pada UU Nomor 6 Tahun 2014, di
antaranya :
 Pasal 93 ayat (1) menyatakan bahwa pengelolaan keuangan Desa meliputi :
perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, dan
pertanggungjawaban. Berdasarkan pasal 105 dinyatakan ketentuan
mengenaipengelolaan keuangan Desa akan diatur dalam Peraturan Menteri (
maksudnya Menteri Dalam Negeri).
 Selanjutnya pasal 94 menyatakan bahwa pengelolaan keuangan Desa
dilaksanakan dalam masa 1 (satu) tahun anggaran terhitung mulai tanggal 1
Januari sampai dengan 31 Desember.
 Pasal 103 menyatakan bahwa Kepala Desa menyampaikan laporan realisasi
pelaksanaan APBDesa kepada Bupati/Walikota setiap semester tahun berjalan.
Laporan semester pertama disampaikan paling lambat pada akhir bulan Juli
tahun berjalan. Sedangkan laporan semester kedua disampaikan paling lambat
pada akhir Januari tahun berikutnya.
 Pasal 104 menyatakan bahwa selain penyampaian laporan realisasi
pelaksanaan APBDesa, kepala Desa juga menyampaikan laporan
pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan APBDesa kepada Bupati/Walikota
setiap akhir tahun anggaran. Laporan tersebut merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari laporan penyelenggaraan Pemerintahan Desa kepada
Bupati/Walikota melalui Camat atau sebutan lain setiap akhir tahun anggaran.
2. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa)
APBDesa pada dasarnya adalah rencana keuangan tahunan Pemerintahan
Desa. APBDesa terdiri atas :
a. Pendapatan Desa
Meliputi semua penerimaan uang melalui rekening desa yang merupakan hak
desa dalam 1 (satu) tahun anggaran yang tidak perlu dibayar kembali oleh
desa. Pendapatan desa diklasifikasikan menurut kelompok dan jenis.
b. Belanja Desa

43
Meliputi semua pengeluaran dari rekening desa yang merupakan kewajiban
desa dalam 1 (satu) tahun anggaran yang tidak akan diperoleh pembayarannya
kembali oleh desa. Belanja desa dipergunakan dalam rangka mendanai
penyelenggaraan kewenangan desa dan diklasifikasikan menurut kelompok,
kegiatan, dan jenis.
c. Pembiayaan Desa
Meliputi semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran
yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan
maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. Pembiayaan desa terdiri atas
Penerimaan Pembiayaan dan Pengeluaran Pembiayaan yang diklasifikasikan
menurut kelompok dan jenis.
3. Pengelolaan Keuangan Desa
Sebagaimana telah dinyatakan sebelumnya, pengelolaan keuangan Desa meliputi:
perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, dan pertanggungjawaban
yang dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Perencanaan
1) Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa dibuat, disampaikan oleh
Kepala Desa, dan dibahas dengan Badan Permusyawaratan Desa untuk
disepakati bersama paling lambat bulan Oktober tahun berjalan.
2) Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa yang telah disepakati
disampaikan oleh Kepala Desa kepada Bupati/Walikota melalui camat
atau sebutan lain paling lambat 3 (tiga) hari sejak disepakati untuk
dievaluasi.
3) Bupati/Walikota melakukan evaluasi paling lama 20 (dua puluh) hari kerja
sejak diterimanya Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa.Dalam hal
Bupati/Walikota tidak melakukan evaluasi dalam batas waktu tersebut,
maka Peraturan Desa berlaku dengan sendirinya.
4) Dalam hal ada koreksi yang disampaikan atau penyesuaian yang harus
dilakukan dari hasil evaluasi tersebut, maka Kepala Desa harus melakukan
penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak diterimanya hasil
evaluasi.
5) Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Kepala Desa dan Kepala
Desa tetap menetapkan Rancangan Peraturan Kepala Desa tentang
APBDesa menjadi Peraturan Desa, Bupati/Walikota membatalkan
44
Peraturan Desa dengan Keputusan Bupati/Walikota. Dengan dilakukannya
pembatalan Peraturan Desa tersebut sekaligus menyatakan berlakunya
pagu APBDesa tahun anggaran sebelumnya. Dalam hal terjadi
pembatalan, Kepala Desa hanya dapat melakukan pengeluaran terhadap
operasional penyelenggaraan Pemerintah Desa.
6) Kepala Desa memberhentikan pelaksanaan Peraturan Desa paling lama 7
(tujuh) hari kerja setelah pembatalan dan selanjutnya bersama BPD
mencabut peraturan desa dimaksud.
7) Dalam hal Bupati/Walikota mendelegasikan evaluasi Rancangan
Peraturan Desa tentang APBDesa kepada Camat atau sebutan lain, maka
langkah yang dilakukan adalah :
a) Camat menetapkan hasil evaluasi Rancangan APBDesa paling lama
20 (dua puluh) hari kerja sejak diterimanya Rancangan Peraturan Desa
tentang APBDesa.
b) Dalam hal Camat tidak memberikan hasil evaluasi dalam batas waktu
yang ditetapkan, Peraturan Desa tersebut berlaku dengan sendirinya.
c) Dalam hal ada koreksi yang disampaikan atau penyesuaian yang harus
dilakukan dari hasil evaluasi tersebut, Kepala Desa melakukan
penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak
diterimanya hasil evaluasi.
d) Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Kepala Desa dan
Kepala Desa tetap menetapkan Rancangan Peraturan Kepala Desa
tentang APBDesa menjadi Peraturan Desa, Camat menyampaikan
usulan pembatalan Peraturan Desa kepada Bupati/Walikota.
b. Pelaksanaan
1) Semua penerimaan dan pengeluaran desa dalam rangka pelaksanaan
kewenangan desa dilaksanakan melalui rekening kas desa.
2) Semua penerimaan dan pengeluaran desa harus didukung oleh bukti yang
lengkap dan sah.
3) Pemerintah desa dilarang melakukan pungutan sebagai penerimaan desa
selain yang ditetapkan dalam peraturan desa.
4) Bendahara dapat menyimpan uang dalam Kas Desa pada jumlah tertentu
dalam rangka memenuhi kebutuhan operasional pemerintah desa.

45
5) Pengeluaran desa yang mengakibatkan beban APBDesa tidak dapat
dilakukan sebelum rancangan peraturan desa tentang APBDesa ditetapkan
menjadi peraturan desa.
6) Pengeluaran desa untuk belanja pegawai yang bersifat mengikat dan
operasional perkantoran yang ditetapkan dalam peraturan kepala desa tetap
dapat dikeluarkan walaupun rancangan peraturan desa tentang APBDesa
belum ditetapkan.
7) Pelaksana Kegiatan mengajukan pendanaan untuk melaksanakan kegiatan
harus disertai dengan dokumen diantaranya Rencana Anggara Biaya
(RAB). Sebelum digunakan, RAB tersebut diverifikasi oleh Sekretaris
Desa dan disahkan oleh Kepala Desa.
8) Pelaksana Kegiatan bertanggungjawab terhadap tindakan yang
menyebabkan pengeluaran atas beban anggaran belanja kegiatan dengan
mempergunakan Buku Pembantu Kas Kegiatan sebagai
pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan desa.
c. Penatausahaan
Bendahara desa wajib :
1) Melakukan pencatatan setiap penerimaan dan pengeluaran serta
melakukan tutup buku setiap akhir bulan secara tertib. Penatausahaan
penerimaan dan pengeluaran dilakukan menggunakan : Buku Kas Umum,
Buku Kas Pembantu Pajak, dan Buku Bank.
2) Mempertanggungjawabkan uang melalui laporan pertanggungjawaban.

d. Pelaporan
Kepala desa menyampaikan laporan realisasi pelaksanaan APBDesa kepada
Bupati/Walikota yang meliputi :
1) Laporan semester pertama, berupa Laporan Realisasi Pelaksanaan
APBDesa.Semester Pertama.
2) Laporan semester akhir tahun, berupa Laporan Realisasi Pelaksanaan
APBDesa Semester Akhir.
e. Pertanggungjawaban
Kepala desa menyampaikan kepada Bupati /Walikota setiap akhir tahun
anggaran laporan yang meliputi :

46
1) Laporan Pertanggungjawaban Realisasi Pelaksanaan APBDesa Tahun
Anggaran berkenaan.
a) Merupakan bagian tidak terpisahkan dari laporan penyelenggaraan
Pemerintahan Desa.
b) Diinformasikan kepada masyarakat secara tertulis dan dengan media
informasi yang mudah diakses oleh masyarakat.
c) Disampaikan kepada Bupati/Walikota melalui camat atau sebutan lain.
2) Laporan Kekayaan Milik Desa per 31 Desember Tahun Anggaran
berkenaan
3) Laporan Program Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang masuk ke desa.
f. Pembinaan dan Pengawasan
1) Pemerintah Provinsi wajib membina dan mengawasi pemberian dan
penyaluran Dana Desa, Alokasi Dana Desa, dan Bagi Hasil Pajak dan
Retribusi Daerah dari Kabupaten/Kota kepada Desa.
2) Pemerintah Kabupaten/Kota wajib membina dan mengawasi pelaksanaan
pengelolaan keuangan desa.
9. Audit Lembaga Pemerintahan
SELUK – BELUK PENGAUDITAN DAN PERAN SPKN DALAM AUDIT DI
PEMERINTAHAN INDONESIA
A. Perbedaan Pengawasan Dan Pemeriksaan (Pengauditan)
Secara konseptual, pelaksanaan pemeriksaan APBN/APBD sangat berbeda dari aspek
pengawasan. Peeriksaan adalah sebuah istilah teknis professional. Karena secara
professional, pemeriksaan APBN/APBD hana dapat dilakukan oleh institusi yang
memiliki wewenang dan keahlian untuk melakukan audit. Cara yang dilakukan oleh
pihak lain sehubungan dengan pelaksanaan fungsi pengawasan. Audit kinerja
merupakan perluasan dari audit keuangan, dalam tujuan dan prosedurnya. Proses dan
teknik pengauditan, antara audit keuangan dan kinerja tidak ada perbedaan yang
mendasar. Perbedaan terletak pada objek yang diaudit, focus audit, dan kriteria atau
standar yang digunakan sebagai dasar untuk melakukan audit. Perbandingan antara
audit keuangan dan kinerja :
Audit keuangan Audit kinerja
Objek audit : laporan keuangan Objek audit organisasi, program,
aktivitas,kegiatan atau fungsi

47
Menguji kewajaran laporan keuangan Menguji tingkat ekonomi, efisiensi dan
dari salah saji yang material dan efektifitas dalam penggunaan sumber
kesesuainya dengan prinsip akuntansi daya untuk mencapai tujuan
berterima umum
Lebih bersifat kuantitatif keuangan Lebih bersifat kualitatif
Tidak terlalu analitis Sangat analitis
Tidak menggunakan indicator kinerja, Membutuhkan indicator kinerja, standar,
standar, dan target kinerja dan target kinerja untuk mengukur kinerja
Biasanya tidak mempertimbangkan Biasanya mempertimbangkan cost benefit
analisis biaya manfaat analysis
Waktu pelaksanaan audit tertentu Audit bisa dilakukan sewaktu-waktu
Audit dilakukan untuk peristiwa Mempertimbangkan kinerja masa lalu,
keuangan masa lalu sekarang dan masa mendatang
Tidak dimaksudkan untuk membantu Dimaksudkan untuk memperbaiki alokasi
melakukan alokasi sumber daya secara sumber daya secara optimal dan
optimal memperbaiki kinerja
Tidak terdapat rekomendasi audit dan Terdapat rekomendasi audit dan follow
follow up audit up audit
B. Jenis – Jenis Sector Public
1. Audit ekonomi dan efisiensi
Audit ekonomi dan efisiensi bertujuan untuk menentukan bahwa suatu entitas
telah memperoleh, melindungi, menggunakan sumber dayanya secara ekonomis
dan efisiensi. Dan untuk menentukan dan menidentifikasi penyebab terjadinya
praktik yang tidak ekonomis atau tidak efisiensi, termasuk ketidakmampuan
organisasi dalam mengelola system informasi, prosedur administrasi dan struktur
organisasi.
2. Audit efektifitas
Audit efektifitas bertujuan untuk menentukan tingkat pencapaian hasil atau
manfaat yang diinginkan, kesesuaian hasil dengan tujuan yang ditetapkan
sebelumnya dan menentukan apakah entitas yang diaudit telah
mempertimbangkan alternative yangmemberikan hasil yang sama dengan biaya
yang paling rendah.
3. Audit investigasi

48
Audit investigasi adalah kegiatan pemeriksaan dengan lingkup tertentu,
periodenya tidak dibatasi, lebih spesifik pada area pertanggungjawaban yang
diduga mengandung inefisiensi atau penyalahgunaan wewenang dengan hasil
audit berupa rekomendasi untuk ditindaklanjuti bergantung pada derajat
penyimpangan wewenang yang ditentukan. Audit investiasi dapat digunakan
untuk memerangi praktik. Program audit untuk audit investigasi ditetapkan
terlebih dahulu atau dilakukan karena audit investagi memiliki tujuan tertentu dan
spesifik.
C. Pendekatan Dalam Audit Sector Public
Tergantung pendekatan yang digunakan dalam pekerjaan audit dan tidak ada satu
pendekatan yang menjadi pendekatan paling tepat. Pendekatan audit ada tiga yaitu :
1. Audit transaksi
Pendekatan meliputi vouching atau pembuktian seluruh transaksi yang terjadi
setelah melihat dokumen atau bukti yang ada.
2. Audit neraca
Pendekatan meliputi verifikasi seluruh asset dan kewajiban yang disajikan dalam
neraca.
3. Audit system
Auditor melakukan pengujian system akuntansi dan pengendalian internal untuk
melihat apakah terdapat suatu dasar yang dapat diandalkan sehingga system dapat
digunakan.
D. Proses Audit Dalam Sector Public
Perkembangan dari auditing di sector public adalah audit kinerja atau value for money
audit. Audit kinerja merupakan perluasan dari audit keuangan dan audit kepatuhan.
Sebelum melakukan audit, auditor memperoleh informasi umum organisasi
mendapatkan pemahaman tentang lingkungan organisasi yang diaudit, struktur
organisasi, misi organisasi, proses kerja serta system informasi dan pelaporan.
Proses audit keuangan secara umum dapat dikelompokkan ke dalam tiga tahap yaitu :
1. Perencanaan auditor
2. Pekerjaan lapangan (pelaksanaan audit)
3. Pelaporan
Tahap pengauditan dalam audit kinerja terdiri atas tiga elemen, yaitu telaah hasil
program, telaah ekonomi dan efisiensi dan telaah kepatuhan. Tahap dalam audit
kinerja disusun untuk membantu auditor dalam mencapai tujuan audit kinerja. Tahap
49
pelaporan merupakan tahapan yang harus dilaksanakan karena adanya tuntutan yang
tinggi dari masyarakat atas pengelolaan sumber daya public.
E. Peran Dan Fungsi Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN)
Sesuai dengan peraturan BPK-RI nomor 1 tahun 2007 bahwa SPKN adalah patokan
untuk melakukan pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan Negara.
SPKN dinyatakan dalam bentuk PSP. SPKN berlaku untuk semua pemeriksaan yang
dilaksanakan terhadap entitas, program, kegiatan serta fungsi yang berkaitan dengan
pelaksanaan pengelolaan dan tanggungjawab keuangan Negara sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
SPKN berlaku bagi :
1. Badan pemeriksa keuangan
2. Akuntan public atau pihak lainnya yang melakukan pemeriksaan atas pengelolaan
dan tanggung jawab keuangan Negara, untuk atas nama badan pemeriksaan
keuangan.
Sesuai dengan UU nomor 15 tahun 2004 standar pemeriksaan (SPKN) memiliki
kedudukan sebagai dasar untuk menilai kebenaran, kecermatan, kredibilitas dan
keandalan informasi mengenai pengelolaan tanggung jawab keuangan Negara. Peran
SPKN adalah memberikan patokan atau arahan per tahapan pemeriksaan pengelolaan
dan tanggung jawab keuangan Negara bagi pemeriksa.
F. Isu Dan Tantangan Dalam Audit Di Pemerintahan Indonesia
Audit sector public tidak hanya memeriksa serta menilai kewajaran laporan keuangan
sector public, tetapi menilai ketaatan aparatur pemerintahan terhdap UU dan peraturan
yang berlaku. Audit sector public juga memeriksa dan menilai tingkat ekonomis,
efisiensi, serta efektifitas dari semua entitas, program, kegiatan, serta fungsi yang
dilakukan pemerintahan. Bila kualitas audit sector public rendah, maka akan
mengakibatkan risiko tuntutan hokum terhadap pejabat pemerintah dan akan muncul
kecurangan, korupsi, kolusi serta berbagai ketidakberesan. Media yang dapat
dilakukan untuk memulai suatu pemahaman terhdap SPKN adalah melalui sosialisasi.
Kadang sosialisasi tidak berjalan efektif karena sekadar penyampaian. Suatu
sosialisasi yang dapat membuat pihak memahami makna SPKN sehingga memahami
apa yang dilaksanakan. Sosialisasi diperuntukkan bagi :
1. Auditor BPK, yang bertujuan agar SPKN dapat diaplikasikan dalam pemeriksaan
sehingga outputnya sesuai SPKN.

50
2. Auditee (pemerintah dan lembaga Negara) brtujuan untuk membantu auditeeagar
dapat membantu dalam memahami hasil pemeriksaan auditor BPK.
3. Akademisi/profesi/pemerhati, bertujuan untuk mendapatkan masukan dalam
pengembangan baik bersifat koreksi maupun pengembangan dengan kondisi
terkini.
Penerapan atas SPKN terjadi perbedaan interpretasi dalam memahami SPKN. Semua
perbedaan maka pendapat atau interpretasi pihak penyusunanlah yang harus
diunggulkan. Karena diterbitkan interpretasi atas SPKN. Terhadap kondisi yang
sedang berkembang dan belum diatur dalam SPKN, menunggu perbaikan atau
tambahan untuk SPKN, dapat dibuatkan bulletin atas hal ini.
MEMAHAMI FUNGSI BPK, BPKP, DAN INSPEKTORAT DI PEMERINTAHAN
INDONESIA
Pada dasarnya Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) bertugas melakukan pengawasan
terhadappengelolaan keuangan Negara. Dengan adanya pengawasan tersebut
diharapkan tidak terjadi penyimpangan ataupun guna menghindari adanya praktik
yang mengakibatkan terjadinya kerugian Negara. Berdasarkan landasan hokum,
kewenangan BPK diatur dalam UUD 1945 pasa 23E, yaitu untuk memeriksa
pengelolaan dan tanggung jawab tentang keuangan Negara. Selain dalam UU Nomor
15 tahun 2004 tentang pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan
Negara, ditegaskan tugas dan wewenang BPK untuk memeriksa tanggung jawab
pemerintah tentang keuangan Negara, memeriksa semua pelaksanaan APBN dan
berwenang untuk meminta keterangan berkenan dengan tugas yang diembannya.
Peran BPK untuk senantiasa melaporkan hasil auditnya kepada lembaga yang
kompeten untuk pemberantasan korupsi. Laporan BPK akan menjadialat bukti dalam
pengadilan. Bukti peran BPK berpengaruh terhadap proses penindakan kasus-kasus
korupsi yaitu proses hokum akan terhambat jika hasil audit BPK tidak kunjung
selesai.
Kedudukan BPK hingga nilai-nilai dasar yang menjadi acuan bagi BPK untuk
bekerja.
1. Kedudukan Badan Peeriiksa Keuangan
Badan Pemerksa Keuangan (BPK) adalah badan yang meemriksa tanggung jawab
tetang keuangan Negara yang dalam pelaksanaan tugasnya bebas dan mandiri serta
tidak berdiri diatas pemerintahan. BPK merupakan lembaga tinggi Negara yang
berwenang untuk mengawasi semua kekayaan Negara yang mencakup pemerintah
51
pusat, pemerintah daerah, BUMN,BUMD, dan lembaga Negara lainnya. BPK
berkedudukan di Jakarta dan memiliki perwakilan di provinsi.
2. Tugas dan wewenang badan pemeriksaan keuanagan
Memeriksa tanggung jawab tentang keuanagan Negara. Hasil pemeriksaan itu di
serahkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan
Perwakilan Rakyat daerah sesua dengan kewenangannya. BPK memeriksa semua
pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja Negara. Elaksanaan pemerksaan
dilakukan berdasarrkan keunttungan-keuntungan yang ada dalam undang-undang.
3. Keanggotaan badan pemeriksa keungan
Anggota badan pemeriksa keuanan dipilih oleh dewan perwakila rakyat dengan
memperhatikan pertimbangan dewan perwakilan daerah dan diresmikan oleh
presiden. Pimpinan badan pemeriksaan keunagn dipilih dari dan oleh anggota.
4. Visi badan pemeriksaan keuanagn
Terwujudnya BPK RI sebagai lembaga pemeriksa ynag bebas dan mandiri,
professional, efektif, efisiensi, dan modern dalam sistem pengelolaan keuangan
Negara yang dalam setiap kegiatanya :
a. Memiliki penegendalian intern yang kuat
b. Memiliki aparat pemeriksa intern yang kuat
c. Hanya diperiksa oleh suatu aparat pemeriksa eksternal.
5. Misi badan pemeriksa keuangan
Mewujudkan diri menjadi auditor eksternal keuangan Negara yang bebas an mandiri,
professional,efktf, efisien dan modern sesua dengan prektik internasioanal terbaik,
berkedudukan di ibukota Negara dan ibu kota provinsi, serta mampu memberdayakan
DPR,. DPRD dan DPRD dalam meaksanakan fungsi pelaksanaannya terhadap
pemerintah pusat dan daerah untuk mewujudkan pemerintahan yang bebas dari
korupsi, kolusi, dan nepotsme (KKN).
6. NIlai-0nilai dasar badan pemeriksa keuangan
a. Independensi
BPK RI adalah lmbaga Negara yang independen dibudang organisasi legislasi
dan anggaran serta bebas dari pengaruh lembaga lain.
b. Integritas
BPK RI menjunjung tinggi integritas denagn mewajibkan setiap pemeriksa dalam
melaksanakan tugasnya, menjunjung tinggi kode etik pemeriksa fan standar
perilaku professional.
52
c. Profesionalisme
BPK Ri melaksanaka tugas sesai denagn standar profesi onlisme pemeriksaan
kkeuangan Negara , kode etik, dan nilai-nilai kelembagaan organiisasi.
Tugas pelaksanaan dan fungsi BPK dan pembangunan ditetapkan berdasarkan keputusan
presiden nomor 103 tahun 2001 tentang kedudukan, tugas, fungsi, kewenangan, ususnan
organisasi dan tata kerja LPND telah diubah dengan keputusan presiden nomor 3 tahun
2002 dan terakhir dengan PP nomor 64 tahun 2005 tentang perubahan keenam atas
keputusan presiden nomor 103 tahun 2001. Berdasarka peraturan tersebut, tugas BPKP
adalah untuk melaksanakan pengawasan keuangan dan pembangunan didaerah sesuai
peraturan perundang-undang yang berlaku.
Fungsi BPKP adalah sebgai berikut :
1. Menyiapkan rencana dan program kerja pengawasan
2. Pengawasan terhadap ppengelolaan anggaran pendapatan dan belanja daerah
penguasaan barang milik atau kekayaan negara
3. Pengawasan terhadap penegelolaan anggaran pendapatan da belanja daerah dan
pengurusa barang milik atau kekayaan pemerintah daerah atas permintaan daerah
4. Pengawasan terhadap penyelenggaraan tugas pemerintah ang bersifat strategis dan
atau intas departemen, lembaga tau wilayah.
5. Pemberian asistensi penyusunan laporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah
pusat dan daerah
6. Evaluasi atas laporan akuntanbilitas kinerja iinstansi pemerintah pusat dan emerintah
daerah
7. Pemeriksaan terhadap badan usaha milik Negara, pertamina, cabang usaha
pertamina, kontaraktor bagi hasil, dan kontarak kerja sama, badan-badan lain yang
didalamnya terdapat keentingan pemerintah, pinjaman atau bantuan lluar negerii
yang diterima oleh pemerintah pusat, dan badan milik daerah atas permintaan derah
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
8. Evaluasi terhada elksanaanGood Corporite Gavernace dan laporan akuntabiilitas
kinerja pada badan sah milik Negara pertamina, dan badan usaha lain yang
memunya kepentingan dengan pemerintah yang sesuai dengan peraturan
pperundang-undangan yang berlaku.
9. Investasi terhadap indikasi penyimpangan yang merugikan Negara. Dan badan lain
yang didalamnya terdaat kepentingan pemerintah , pemeriksaan hambatan

53
kelancaran pembanguna, dan pemberian bantuan pemeriksaan kepada instansi
penyidik dan instansi pemerintah lainnnya.
10. Pelaksaan analisis dan penusuna laporan hasilpengawasan serta penegndalian mutu
pengawasan.
11. Pelaksanaa adminstrasi perwakilan BPKP badan pengawasan keangan dan
pembangunan memiliki kegiatan- kegiatan sabagai berikut:
a. Audit, BPK melakukan audit atas:
1. Anggaran endapatan dan belanja daerah (APBN )
2. Laporankeunagn dan kinerja BUMN/D badan usah lainnya
3. Pemenfaatan pinjaman dan hibah luar negeri
4. Kredit usaha tani KUT da kredit ketahanan pangan KKP
5. Peningkatan pemerimaan Negara, termasuk penerimaan Negara bukan
pajak PNBP
6. Dana off balance Sheet BUMN maupun yayasan yang terkait
7. Dana off blance budget depertemen LPND
8. Audit lanjut atas temuan-temuan pemeriksaan
9. Audit khusus ( audit Investigasi )
10. Audit lainnya yang menurut pemerintah bersifat perlu dan penting untuk
segera dilakukan
b. Konsultasi, asistensi dan evaluasi
BPKP bereran sebagai konsultan bagi para stakeholders menuju tata
pemerintahan yang baik ( good gavernace ), yang mencakup :
1.Akuntabilitas kinerja instansi pemerintah AKIP
2.Sistem akuntansi keuangan daerah SAKD
3.Good corporate gavernace GGG pada badan usaha mlik negaran atau badan
usaha milik daerah
c. Pemberantasan KKN
Di bidang perbantuan pemberantasan korupsi,BPKP membantu pemerintah
memerangi praktik korupsi, kolusi dan nepotisme dengan membentuk gugus
tugas antikorupsi dengan keahlian audit forensic. Dalam rangka penegakan
hokum dan pemberantasan KKN, BPKP telah mengikat kerja sama dengan
kerjaksaan agung dan kepolisian republic Indonesia dalam bentuk surat
keputusan bersama.
d. Pendidikan dna pelatihan pengawasan
54
1. Di bidang pendidikan atau pelatihan pengawasan, BPKP menjadi instansi
Pembina untuk mengembangkan jabatan fungsional auditor (JFA) di
lingkungan instansi pemerintah.
2. Setiap auditor pemerintah harus memiliki sertifikat sebagi jabatan
fungsional auditor.
3. Pusat pendidikan dan pelatihan pengawasan (pusdiklatwas) BPKP berperan
menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan serifikasi kepada seluruh
auditor pemerintah.
Sementara itu departemen keuangan hanya memiliki satu aparat pengawasan
fungsional, yaitu inspector jenderal. Inspektorat jenderal adalah unsur pengawasan
yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada menteri. Susunan organisasi
inspektorat jenderal departemen keuangan disempurnakan menjadi :
1. Secretariat inspektoratjenderal
2. Inspektur kepegawaian
3. Inspektur keuangan
4. Inspektur perlengkapan
5. Inspektur anggaran
6. Inspektur pajak
7. Inspektur bea dan cukai
8. Inspektur umum
Berdasarkan peraturan menteri keuangan nomor 100/PMK.01/2008 tentang
organisasi dan tata departemen keuangan, inspektorat jenderal mempunyai tugas
yaitu melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas di lingkungan
departemen sesuai dengan kebijakanyang diterpakan oleh menteri dan berdasarkan
peraturan perundang-undangan. Dalam melaksanakan tugas, inspektorat jenderal
menyelanggarakan fungsi, sebagi berikut :
1. Penyiapan perumusan kebijakan departemen di bidang pengawsan
2. Pelaksanaan pengawasan kinerja, keungan, untuk tujuan tertentu dan partispasi
dalam pemberantasan tindak pidana korupsi dan kejahatan keuangan atas
petunjuk menteri.
3. Penyusunan laporan hasil pengawsan
4. Pelaksanaan urusan administrasi dan dukungan teknis inspektorat jenderal.
Fungsi tersebut dirumuskan sesuai peran inspektorat jenderal sebagai pengawas
internal pemerintah. Inspektorat jenderal membantu pemerintah dalam hal
55
pengawsan kinerja, keuangan, untuk tujuann tertentu dan berpartisipasi dalam
pemberantasan tindak pidana korupsi dan kejahatan keuangan lainnya.

10. Akuntansi Yayasan dan Universitas


Akuntansi Universitas
American Accounting Association dalam Halim dan Kusufi (2012) mendefinisikan
akuntansi dari sudut pandang proses adalah suatu proses pengidentifikasian, pengujuran,
pencatatan, dan pelaporan transaksi ekonomi (keuangan) dari suatu organisasi atau entitas
yang dijadikan sebagai informasi dalam rangka pengambilan keputusan ekonomi oleh pihak-
piak yang memerlukan.
Universitas merupakan salah satu institusi pendidikan yang berbentuk perguruan tinggi
selain akademik, politeknik, dan institut. Dalam aplikasi akuntansi dananya dapat dilihat dari
praktik akuntansi unversitas sebagai salah satu jenis organisasi nirlaba. Jenis universitas di
kelompokkan menjadi dua, yaitu :
1. Universitas yang dikelola pihak swata (private university), pelaksana akuntansinya
berdasrkan standar akuntansi yang diatur oleh Financial Accountig Standard Board- FASB
(Dewan Standar Akuntansi Keuangan) dalam Statement of Financial Accounting Cocepts
nomor 4 (SFAC 4) tentang tujuan laporan keuangan untuk organisasi nirlaba.
2. Universitas yang di kelola oleh pihak pemerintah (public university), pelaksana
akuntansinya berdasarkan standar akuntansi yang di atur oleh Govvermental Accountig
Standard Board- GASB (Dewan Standar Akuntansi Pemerintah)
a. Siklus Akuntansi Universitas
Siklus ini dapat di kelompokkan menjadi tiga tahap (Bastian, 2007), yaitu :
1) Tahap Pencatatan
a) kegiatan identifikasi dan pengukuran bukti transaksi dan bukti
pencatatan
b) Kegiatan pencatatan bukti transaksi ke dalam buku harian atau jurnal
c) Memindahbukukan atau posting dari jurnal berdasakan kelompok atau jenisnya
berdasarkan buku besar.
2) Tahap Pngikhtisaran
a) Penyusunan neraca saldo berdasarkan akun buku besar
b) Pembuatan ayat jurnal penyesuaian
c) Penyusunan kertas kerja
d) Pembuatan ayat jurnal penutup
56
e) Pembuatan neraca saldo setelah penutupan
f) Pembuatan ayat jurnal penutup
3) Tahap Pelaporan
a) Laporan surplus defisit
b) Laporan arus kas
c) Neraca
d) Catatan atas laporan keuangan
b. Struktur Dana di Universitas
Struktur dana untuk universitas yang dikelola terdiri dari (Alfy 2011) :
1) Dana lancar (current funds), yaitu dana yang didirikan oleh universitas untuk
mengelola kekayaan atau sumber daya yang akan digunakan dalam rangka
membiayayi oiperasional sehari-hari.
Dana ini di bedakan menjadi dua, yaitu :
a. Dana yang penggunaannya tidak terbatas ( unrestriced current fund)
b. Dana yang penggunaannya terbatas (restriced current fund)
2) Dana pinjaman (loan funds), dana yang didirikan untuk mengumpulkan dana-dana yang
akan digunkan untuk memberikn pinjaman baik kepada pegawai universitas
maupun pihak yang terkai dengan universitas.
3) Dana abadi (endowmen funds) dana yang dikumpulkan dan kemudian dikelola
universitas tidakuntukjangka pendek.
4) Dana anuitas dan pensiun (annuity and lifr income funds) adalah semacam dana
pensiun yang dikelola oleh universitas
5) Dana pembangunan (plant funds) dana yang dikumpulkan untuk tujuan pembangunan
berupa pembangunan gedung, fasilitas, dan aset tetap.
Badan Layanan Umum
a. Pengertian
Pengertian Badan Layanan Umum (BLU) menurut Peraturan Pemerintah nomor 23
tahun 2005 Pasal 1 adalah instansi di lingkungan Pemerintah yang dibentuk untuk
memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa
yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan
kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas.
b. Tujuan dan Asas
BLU bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka
memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa denga
57
memberikan flelsibilitas dalam pengellaan keuangan berdasarkan prinsip ekonomi
dan produktivitas serta penerapan praktik bisnis yang sehat.
Asas BLU adalah sebagai berikut:

1) BLU beroperasi sebagai unit kerja kementerian negara/lembaga/pemerintah


daerah untuk tujuan pemberian layanan umum yang pengelolaannya
berdasarkan kewenangan yang didelegasikan oleh instansi induk yang
bersangkutan;
2) BLU merupakan bagian perangkat pencapaian tujuan kementerian
negara/lembaga/pemerintah daerah dan karenanya status hukum BLU tidak
terpisah dari kementerian negara/lembaga/pemerintah daerah sebagai instansi
induk.
3) Menteri/pimpinan lembaga/gubernur/bupati/walikota bertanggung jawab atas
pelaksanaan kebijakan penyelenggaraan pelayanan umum yang
didelegasikannya kepada BLU dari segi manfaat layanan yang dihasilkan.
4) Pejabat yang ditunjuk mengelola BLU bertanggung jawab atas pelaksanaan
kegiatan pemberian layanan umum yang didelegasikan kepadanya oleh
Menteri/pimpinan lembaga/gubernur/bupati/walikota.
5) BLU menyelenggarakan kegiatannya tanpa mengutamakan pencarian
keuntungan.
6) Rencana kerja dan anggaran serta laporan keuangan dan kinerja dan BLU
disusun dan disajikan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Rencana kerja
dan anggaran serta laporan keuangan dan kinerja kementerian
negara/lembaga/SKPD/pemerintah daerah.
7) BLU mengelola penyelenggaraan layanan umum sejalan dengan praktik bisnis
yang sehat

Implikasi Penerapan BLU Terhadap Aplikasi Akuntansi


1) Pengelolaan Piutang
Dalam pengelolaan keuangan, BLU dapat memberikan piutang terkait dengan
kegiatannya, yang dikelola secara tertib, efisien, ekonomis, transparan, dan bertanggung
jawab serta dapat memberikan nilai tambah, sesuai dengan praktek bisnis yang sehat dan
ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
58
2) Pengelolaan Utang
Dalam kegiatan operasional dengan pihak lain, BLU dapat memiliki utang yang dikelola
secara tertib, efisien, ekonomis, transparan, dan bertanggung jawab, sesuai dengan praktek
bisnis yang sehat. Pembayaran utang BLU pada prinsipnya menjadi tanggung jawab BLU.
3) Pengelolaan Investasi
BLU tidak dapat melakukan investasi jangka panjang, kecuali atas persetujuan Menteri
Keuangan. Investasi jangka panjang yang dimaksud antara lain adalah penyertaan modal,
pemilikan obligasi untuk masa jangka panjang, atau investasi langsung (pendirian
perusahaan). Jika BLU mendirikan/membeli badan usaha yang berbadan hukum, kepemilikan
badan usaha tersebut ada pada Menteri Keuangan. Keuntungan yang diperoleh dari investasi
jangka panjang merupakan pendapatan BLU.
4) Pengelolaan aset BLU
BLU tidak dapat mengalihkan dan/atau menghapus aset tetap, kecuali atas persetujuan
pejabat yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Penerimaan hasil penjualan barang inventaris/aset tetap merupakan pendapatan BLU;
Penggunaan aset tetap untuk kegiatan yang tidak terkait langsung dengan tugas pokok dan
fungsi BLU harus mendapat persetujuan pejabat Pengelola Barang (Menteri Keuangan)
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
Tanah dan bangunan disertifikatkan atas nama kementerian/lembaga terkait;
Tanah dan bangunan yang tidak digunakan untuk penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi
BLU, dapat dialihgunakan oleh menteri/pimpinan lembaga terkait dengan persetujuan
Menteri Keuangan.

11. Akuntansi Partai Politik dan Lembaga Swadaya Masyarakat


A. Partai Politik Sebagai Sebuah Entitas: Pengertian, Karakteristik, Dan Lingkungannya
Menurut UU RI Nomor 2 Tahun 2008, Partai Politik adalah organisasi yang bersifat nasional
dan dbentuk oleh sekelompok warga negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan
kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota,
masyarakat, bangsa, dan negara, serta memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik
Indonesia berdasarkan pancasila dan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Tujuan Partai politk
Tujuan umum partai politik (Bastian, 2007; Hafild, 2008):
1. Mewujudkan cita-cita nasional bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam
pembukaan UUD Negara Indonesia tahun 1945.
59
2. Mengembangkan kehidupan demokrasi berdasarkan pancasila dengan menjunjung tinggi
kedaulatan rakyat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
3. Mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Tujuan khusus partai politik adalah memperjuangkan cita-cita para anggotanya dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang diwujudkan secara konstitusional.
Fungsi dan peran partai politik
1. Partai politik berfungsi untuk mengembangkan kesadaran atas hak dan kewajiban politik
rakyat.
2. Partai politik berfungsi menyalurkan kepentingan masyarakta dalam pembuatan
kebijakan negara.
3. Partai politik berfungsi untuk membina dan mempersiapkan anggota masyarakat untuk
mengisi jabatan-jabatan politik sesuai dengan mekanisme demokrasi.
4. Partai politik sebagai sarana pengatur konflik dengan mengatasi persaingan dan
perbedaan pendapat dalam masyarakat.
Karakteristik aktivitas partai politik
Aktivitas politik adalah aktivitas untuk memperoleh, mengelola, dan mengatur kekuasaan
sebagai amanat dan mandate dari konstituennya dengan cara yang demokratis. Karakteristik
utama partai plitik yaitu faktor kekuasaan yang dimilikinya dan perannya dalam mewakili
rakyat. Tujuan akhir dari partai plitik adalah mendapatakan mandate dari knsotituennya untuk
memgang kekuasaan lewat cara-cara demokratis, yaitu lewat pemilihan umum. Partai politik
dapat menempatkan anggota maupun kadernya di parlemen (legislative) atau di pemerintahan
(eksekutif), dan melaksanakan kekuasaan yang dipegangnya sesuai dengan ideologi serta
program yang dibuat.
Struktur dan mekanisme dalam organisasi partai politik
Pada umumnya, partai politik membentuk kepengurusan tingkat pusat yang disebut dengan
Dewan Pengurus Pusat (DPP) yang berkedudukan di ibukota negara Republik Indonesia.
Tingkat provinsi disebut dengan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) yang berkedudukan di
ibukota provinsi, dan Dewan Pengurus Cabang (DPC) yang berkedudukan di kabupaten atau
kota. Sedangkan pengurus tingkat kecamatan disebut pengurus ranting, dan tingkat desa atau
kelurahan disebut anak ranting. Entitas pelaporan dapat diperlakukan pada DPP, kecuali
untuk laporan dana kampanye harus dilakukan pada tingkat DPP, DPW, dan DPC secara
terpisah, karena sesuai dengan pemagian pada Pemilu Legislatif yaitu pemilihan anggota
DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD kabupaten/kota. Yang menyusun laporan keuangan adalah
DPP, DPW, dan DPC.
60
Keuangan partai politik
Sumber pendanaan partai politik berasal dari:
1. Iuran anggota
2. Sumbangan dari pihak lain yang sah menurut hokum
3. Bantuan keuangan dari anggaran negara atau daerah
aktivitas pencarian dana yang dilarang, antara lain:
1. Menerima sumbangan dari pihak asing dalam bentuk apapun, yang bertentangan dengan
hokum dan aturan perundang-undangan
2. Menerima sumbangan, berupa barang maupun uang, dari pihak maupun tanpa
mencantumkan identitas yang jelas
3. Menerima sumbangan dari perseorangan dan/atau perusahaan/badan usaha melebihi
batas yang ditetapkan
4. Meminta atau menerima dana dari BUMN, BUMD, dan BUMDes atau dengan sebutan
lainnya
5. Memperoleh hasil dari aktivitas bisnis
Akuntabilitas Keuangan Partai Politik
Secara filosofis, pembentukan partai politik merupakan perwujudan kedaulatan rakyat, bukan
perwujudan kekuatan ekonomi. Oleh karena itu, perlu pembatasan sumber keuangan partai
politik untuk mencegah penyalagunaan uang demi kepentingan politik (money politics).
Keterbukaan partai politik dalam hal keuangan merupakan informasi penting bagi warga
negara untuk menilai dan memutuskan dukungannya terhadap partai politik.
Peran Dan Fungsi Akuntansi Dalam Lingkungan Partai Politik
Pihak Internal Pihak eksternal
1. Ketua partai politik 1. Donator
2. Staff 2. Supplier/pemasok/kreditur
3. Anggota 3. Konstituen/basis massa
4. Badan pemeriksa keuangan (BPK)
5. Pemerintah (Pusat dan Daerah)

Tinjauan Terhadap Psak Nomor 45 Dan Kebutuhan Standar Akuntansi Untuk Partai Politik
Perlakuan akuntansi dan pelaporan keuangannya mengacu pada PSAK Nomor 45 tentang
standar akuntansi untk entitas nirlaba. Laporan keuangan yang dihasilkan oleh PSAK nomor
45 antara lain:

61
1. Laporan posisi keuangan
2. Laporan aktivitas
3. Laporan perubahan dalam asset neto/ekuitas
4. Laporan arus kas
5. Catatan atas laporan keuangan
Perbedaan karakteristik antara organisasi nirlaba dan partai politik (Hafild, 2008)
Organsasi nirlaba Partai politik
Undang-undang yayasan Undang-undang partai politik dan undang-
undang pemilu
Tidak ada batasan penyumbang Ada batasan penyumbang
Tidak ada batasan maksimal jumlah Ada batasan maksimum jumlah sumbangan
sumbangan
Tidak ada kewajiban melaporkan daftara Daftar penyumbang wajib dilaporkan
penyumbang (terutama individu)
Hasil kegiatan berupa jasa layanan untuk Hasil kegiatan berupa kekuasaan politik
kepentingan umum
Akuntabilitas berupa kegiatatan sesuai Akuntabilitas berupa bersih dari politik
dnegan tujuan organisasi dan manajemen uang, kepatuhan pada hokum dan posisi
yang baik politik sesuai dengan janji pada rakyat
Kinerjanya dinilai dari rasio biaya terhadap Kinjera dinilai dari rasio biaya dan jumlah
kualitas jasa dan jasa/produk sosial suar yang didapatkan dalam pemilu
Kecuali untuk ormas, pada umunya Merupakan organisasi public sehingga
organisasi nirlaba nukan organisasi publik kebutuhan publtik untuk menilai kinerja
partai politik lebih besar disbanding
organisasi nirlaba lainnya

B. AKUNTANSI UNTUK ORGANISASI NON-PEMERINTAH: STUDI LSM DI


INDONESIA
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)/organisasi non-pemerintah (non-government
organization - NGO) merupakan organisasi swasta yang kegiatannya untuk membebaskan
penderitaan, memajukan kepentingan kaum miskin, melindungi lingkuangan, menyediakan
pelayanan dasar bagi masyarakat, atau menangani pengembangan masyarakat.
Pengelolaan Keuangan LSM

62
Siklus pengelolaan keuangan pada organisasi LSM

Nilai, visi dan misi

Rencana strategis:
Tujuan dan strategi
Sasaran strategis,
Penyusunan program indicator kinerja, target

Umpan Penyusunan anggaran


balik dan
tindakan implementasi Pengukuran kinerja
koreksi
Pengawasan
Pencapaian hasil dan
penggunaan dana
pelaporan

SISTEM AKUNTANSI LSM


Perlakuan akuntansi mengacu pada PSAK nomor 45 tentang standar akuntansi untuk entitas
nirlaba. LSM menyelenggarakan pembukuan terpadu berdasarkan peraturan tata buku yang
berlaku. Pembukuan keuangan LSM diperiksa oleh peninjau organisasi dan pemberi dana.
Kewenangan penerimaan, penyimpanan dan penggunaan dana, serta pembukuan keuangan
LSM diselenggarakan oleh pelaku organisasi LSM ditentukan oleh badan penyandang dana.
Rencana anggaran LSM setelah disepakati oleh personel LSM, diusulkan kepada lembaga
donor untuk disetuju menjadi program atau proyek LSM. Tujuan dari pelaporan keuangan
LSM adalah menyediakan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan, disamping
untuk menunjukkan akuntabilitas oraganisasi.
Siklus akuntansi organisasi nirlaba

jurnal Buku Neraca Laporan


Bukti-bukti
besar lajur keuangan
transaksi

Buku
tambahan

Tahap pencatatan Tahap pengikhtisaran Tahap pelaporan

LAPORAN KEUANGAN LSM

63
Pengguna laporan keuangan LSM antara lain pengurus, staf/relawan, pemerintah,
penyumbang, kreditur, dan public atau masyarakat luas, terutama donator dan objek
dampingan.
Kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan
Tujuan laporan keuangan LSM adalah memberikan informasi keuangan untuk:
1. Akuntabilitas
Mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber daya serta pelaksanaan kebijakan yang
dipercayakan kepada partai politik dama rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan
melalui laporan keuangan LSM.
2. Manajerial
Menyediakan laporan keuangan yang berguna untuk perencanaan dan pengelolaan
keuangan LSM.
Laporan Posisi Keuangan
a. Penyajian Aset dan Kewajiban
1. Laporan posisi keuangan menyediakan informasi yang relevan mengenai sifat,
likuiditas, fleksibilitas keuangan, dan hubungan antara asset dan kewajiban.
2. Kas atau asset lain yang dibatasi penggunaanya oleh penyumbang harus disajikan
terpisah dari kas atau asset lain yang tidak terikat penggunaanya.
b. Pengakuan dan pengukuran asset dan kewajiban
1. Asset diakui dalam laporan posisi keuangan kalau besar kemungkinan bahwa
manfaat ekonomisnya di masa depan diperoleh oleh partai politik.
2. Kewajiban diakui kalau besar kemungkinan bahwa pengeluran sumber daya
mengandung manfaat ekonomis untuk menyelesaikan kewajiban sekarang.
3. Jumlah yang harus diperlakukan sebagi pendapatan sumbangan.
4. Asset diakui pada saat diterima atau saat hak kepemilikan berpindah. Sedangkan
kewajiban diakui pada saat dana pinjaman diterima.
5. Pengukuran pos-pos dalam laporan posisi keuangan menggunakan nilai historis.
c. Klasifikasi asset bersih terikat atau tidak terikat
1. Laporan posisi keuangan menyajikan jumlah masing-masing kelompok asset bersih
berdasarkan ada atau tidaknya pembatasan oleh penyumbang.
2. Informasi mengenai sifat dan jumlah pembatasan permanen atau temporer
diungkapkan dengan cara menyajikan jumlah tersebut dalam laporan keuangan.
Laporan Aktivitas
Tujuan utama laporan aktivitas adalah menyediakan informasi mengenai:
64
1. Pengaruh transaksi dan peristiwa lain yang mengubah jumlah dan sifat asset bersih
2. Hubungan antar-transaksi dan peristiwa lain.
3. Bagaimana pengguna sumber daya dalam pelaksanaan berbagai program atau kegiatan
Perubahan kelompok asset bersih adalah:
1. Laporan aktivitas menyajikan perubahan asset bersih terikat permanen, terikat temporer,
dan tidak terikat dalam suatu periode.
2. Pendapatan dan keuntungan yang menambah asset bersih, serta beban dan kerugian yang
merngurangi asset bersih dikelompokkan berdasarkan klasifikasi pendapatan, beban,
keuntungan dan kerugian.

12. Akuntansi Masjid dan LAZ


Manajemen Keuangan Organisasi Peribadatan
Dalam konteks organisasi peribadatan, manajemen keuangan organisasi peribadatan adalah
usaha yang dilakukan pengelola tempat peribadatan dalam menggunakan dana umat sesuai
dengan ketentuan dalam ajaran agama dan kepentingan umat beragama, serta bagaimana
memperoleh dana dari umat dengan cara yang dibenarakan oleh agama. Dalam manajemen
keuangan terdapat dua fungsi yaitu fungsi mendapatkan dana dan fungsi menggunakan dana.
Kedudukan akuntansi dalam manajemn keuangan organisasi masjid

Manajemen keuangan organisasi masjid

Tata usaha keuangan organisasi masjid

Tata usaha umum atau Tata usaha keuangan organisasi masjdi


administrasi organisasi masjid

Akuntansi organisasi masjid

Implementasi Akuntansi pada organisasi Tempat Ibadah


65
Perlakuan akuntansi dan pelaporan keuangan pada organisasi masjid mengacu pada PSAK
Nomor 45 tentang standar akuntansi untuk entitas nirlaba. Praktik pembukuanatau akuntansi
yang ada masih menggunakan system tata buku tunggal (single entry) dan berbasis kas.
Ritonga (2010) menyebutkan single entry memiliki kelemahan yaitu informasi yang
dihasilakn tidak komprehensif dan tidak integral. Sementara itu, basis kas memiliki
kelemahan:
1. Inforamsi yang lebih kompleks tidak dapat dihasilkan
2. Hanya terfokus pada aliran kas dan mengabaikan aliran sumber daya lain
3. Pertanggungjawaban kepada umat jadi terbatas hanya pada penggunaan kas dan tidak
pada sumber daya lain.
Pada umumnya, siklus akuntansi organisasi nirlaba termasuk organisasi masjid,
dikelompokkan dalam tiga tahap yaitu:
1. Tahap pencatatan, terdiri dari kegiatan pengidentifikasian dan pengurkuran dalam
bentuk transaksi dan buku pencatatan, kegiatan pencatatan bukti transaksi ke dalam
buku jurnal, dan memindahkan dari jurnal berdasrakan kelompok atau jenisnya ke
dalam akun buku besar.
2. Tapah pengikhtisaran, terdiri dari penyusunan neraca saldo berdasarakan akun buku
besar, pembuat ayat jurnal penyesuaian, penyusunan kertas kerja, pembuata ayat
jurnal penutup, membuat neraca saldo setelah penutupan, membuat ayat jurnal
pembalik.
3. Tahap pelaporan, yang terdiri dari laporan suplus-defisit, laporan arus kas, neraca, dan
catatan atas laporan keuangan.

66
BAB III
KESIMPULAN

Akuntansi merupakan seni pencatatan,pengolongan, dan peringkasan transaksi dan kejadian


yang bersifat keuangan dengan cara yang berdaya guna dan dalam bentuk satuan uang, dan
penginterprestasian hasil proses tersebut. Sedangkan akuntansi sektor publik merupakan
sebuah kegiatan jasa dalam rangka penyediaan informasi kuantitatif terutama yang bersifat
keuangan dari entitas pemerintah guna pengambilan keputusan ekonomi yang nalar dari
pihak-pihak yang berkepntingan atas berbagai alternatif arah tindakan. Ciri-ciri akuntansi
sektor publik yaitu keinginan mengejar laba tidak inklusif di dalam usaha dan kegiatan
lembaga pemerintahan; lembaga pemerintahan tidak memiliki secara pribado sebagaimana
halnya perusahaan;sistem akuntansi pemerintahan suatu negara sangat dipengaruhi oleh
sistem pemerintahan; fungsi akuntansi pemerintahan adalah untuk mencatat, menggolongkan,
meringkas dan melaporkan. Tujuan dari akuntansi sektor publik yaitu memberikan informasi
yang diperlukan untuk mengelola secara tepat, efisien dan ekonomis; memberikan informasi
yang memungkinkan bagi manajer untuk melaporkan pelaksanaan tanggung jawab mengelola
secara tepat dan efisien.

67