Vous êtes sur la page 1sur 14

MAKALAH

AKUNTANSI MANAJEMEN

Tentang

PENENTUAN HARGA TRANSFER


Dosen Pengampu : Alfiana.,SE.,MM.

Disusun oleh :

Tivani Asmarani Jailani (161611018150019)


Agustinus D. Makun (161611018150 )

PROGRAM STUDI MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSISTAS WIDYAGAMA MALANG

2018
A. Definisi Harga Transfer

Definisi Harga Transfer adalah harga produk atau jasa yang ditransfer kepada
suatu pusat pertanggung jawaban di dalam suatu perusahaan yang menggunakan Produk /
Jasa dari pusat pertanggung jawaban lainnya dalam suatu perusahaan.

Tujuan Harga Transfer :

Penentuan harga transfer antar pusat sangat penting jika :

1. Transaksi transfer barang atau jasa antar laba cukup signifikan.


2. Biaya barang atau jasa yang ditransfer merupakan komponen penting produk
akhir.
3. Portabilitas merupakan pertimabngan penting di dalam penilaian prestasi divisi.

Sistem Harga Transfer bertujuan :

1. Untuk memberikan informasi relevan pada setiap pusat laba dalam menentukan
harga transfer.
2. Untuk memotivasi manajer pusat laba pengirim, pusat laba penerima, dan kantor
pusat dalam membuat keputusan yang tepat.
3. Untuk menyajikan laporan laba setiap divisi yang secara layak mengukur prestasi
divisi.

Sasaran Penentuan Harga Transfer

Harga transfer merupakan mekanisme untuk mendistribusikan pendapatan jika


pusat laba atau lebih bertanggung jawab atas pengembangan, pembuatan, dan pemasaran
saseuatu sihingga masing-masing harus berbagi pendapatan yang dihasilkan ketika
produk tersebut terjual.
Harga Transfer harus dirancang sedemikian rupa supaya mencapai beberapa sasaran
sebagai berikut :

1. Memberikan informasi yang relevan kepada masing-masing unit usaha untuk


menentukan penyesuaian yang optimum antara biaya dan pendapatan perusahaan
2. Menghasilkan keputusan yang bertujuan sama maksudnya, sistem harus dirancang
agar keputusan yang meningkatkan laba unti usaha akan meningkatkan laba
perusahaan.
3. Membentu pengukuran kinerja ekonomi dari tiap unit usaha.
4. Sistem harus mudah dimengerti dan dikelola.

Prinsip Dasar

Prinsip dasarnya adalah bahwa harga transfer harus sama dengan harga yang
dipatok seandainya produk tersebut terjual kepada konsumen luar atau dibeli dari
pemasok luar. Ketika suatu pusat laba pada sebuah perusahaan membeli produk, dan
menjualnya kepada satu sama lain, maka dua keputusan yang harus diambil untuk setiap
produk adalah :

1. Apakah perusahaan harus memproduksi sendiri produk tersebut atau membelinya


dari pemasok luar ? Hal ini merupakan Sourcing Decision.
2. Jika diproduksi sendiri, pada tingkat harga berpakah produk tersebut ditransfer
diantara pusat-pusat laba ? Hal ini merupakan Transfer Price Decsion.

Idealnya, harga transfer harus mengestimasikan harga normal pasar di luar,


dengan penyesuaian untuk biaya yang tidak terjadi di dalam perusahaan. Bahkan ketika
sourcing decision mengalami hambatan, harga pasar merupakan harga transfer yang lebih
baik.
Situasi Ideal

Harga transfer yang berdasarkan harga pasar akan menghasilkan kesamaan tujuan,
dan tidak membutuhkan administrasi pusat jika kondisi-kondisi ini terpenuhi :

1. Orang-orang kompeten. Idealnya para manajer harus memperhatiakan kinerja


jangka panjang dari pusat-pusat tanggung jawab mereka, sama seperti dalam
jangka pendeknya. Staf yang terlibat dalam negosiasi dan arbitase suatu harga
transfer juga harus kompeten.
2. Atmosfer yang baik. Para menejer harus menjadikan portabilitas yang diukur
dari laporan laba rugi sebagai tujuan yang penting dan suatu pertimbangan yang
segnifikan dalam penilaian kinerja mereka. Meraka juaga harus dapat memerima
bahwa harga transfer tersebut akurat.
3. Suatu harga pasar. Harga transfer yang ideal harus berdasarkan harga pasar
normal dan weajar dari produk identik yang ditransfer-maksudnya, harga pasar
yang mencerminkan kondisi yang sama (kuantitas, waktu pengiriman, dan
kualitas) dengan produk yang diberi harga transfer. Harga transfer tersebut dapat
diturunkan untuk mencerminkan penghematan dari penjualan di dalam
perusahaan.
4. Kebebasan memperoleh sumber daya. Alternatif dalam memperoleh sumber
daya haruslah ada, dan para manajer harus diberi wewenang untuk memilih yang
paling baik untuk mereka.
5. Informasi penuh. Para manajer harus mengetahui semua alternatif yang ada,
biaya dan pendapatan yang relevan dari masing-masing alternatif tersebut.
6. Negosiasi. Harus ada mekanisme kerja yang berjalan lancar dalan melakukan
negosiasi atas “kontrak” diantara unit-unit usaha.
Markup laba.

Dalam mengitung markup laba, juga terdapat dua keputusan :

1) Apa basis markup laba tersebut ?,

Basis yang paling mudah digunakan adalah presentase biaya. Basis yang
secara konsep lebih baik adalah presentase investasi, tetapi menghitung
investasi untuk diaplikasikan kepada setiap produk yang dihasilkan dapat
menyebabkan permasalahan teknis.

2) Tingkat laba yang diperoleh.

Problem yang kedua penyisihan laba adalah besarnya jumlah laba.


Presepsi manajemen senior atas kinerja keuangan dari suatu pusat laba akan
dipengaruhi oleh laba yang ditunjukannya. Konsekuensi, kemungkinan
penyisihan laba harus dapat memperkirakan tingkat pengembalian (rate of
retrun) yang akan dihasilkan seandainya unit usaha tersebut merupakan
perusahaan independent yang menjual produknya kepada konsumen luar.

Solusi konseptual adalah dengan membuat penyisihan laba yang


berdasarkan investasi yang dibutuhkan untuk memenuhi volume yang diminta
oleh pusat laba pembelian. Nilai investasi tersebut dihitung pada level
“standar”, dengan asset dan persedian pada tingkat biaya penggantian
(replacement cost).
B. KARAKTERISTIK HARGA TRANSFER

1. Harga Transfer timbul jika divisi terkait diukur kinerjanya berdasarkan laba
2. Harga Transfer merupakan unsur yang signifikan dalam membentuk biaya penuh
produk yang dibeli mengandung unsur laba
3. Harga Transfer selalu mengandung unsur laba
4. Harga Transfer sebagai alat untuk mempertegas diverifikasi san integrasi divisi yang
dibentuk.

Perhitungan Laba Harga Transfer Berdasarkan Penggunaan Aktiva Penuh

Faktor – faktor yang harus dipertimbangkan dalam perhitungan Laba Harga Transfer
Berdasarkan Penggunaan Aktiva Penuh :

1. Jenis Aktiva yang diperhitungkan sebagai dasar.


a. Aktiva dikelompokan berdasarkan tingkat likuiditasnya (aktiva lancar dan aktiva
tetap)
b. Aktiva yang diperhitungkan adalah aktiva yang hanya digunakan oleh divisi yang
harga transfernya akan dihitung.
2. Cara Penilaian Aktiva yang digunakan sebagai dasar,
a. Nilai bersih yang dapat direalisasi dari aktiva lancar pada awal tahun berlakunya
harga transfer.
b. Nilai bersih yang dapat direalisasi dari aktiva lancar rata-rata dalam tahun
berlakunya harga transfer.

Kelemahan Penentuan Transfer Pricing Dengan Pendekatan Biaya Penuh

1. Sulit untuk mencapai persetujuan antara divisi penjual dan pembeli mengenai
biaya yang digunakan sebagai dasar penentuan harga transfer (berhubungan
dengan efisiensi)
2. Sulit untuk menentukan laba yang wajar bagi divisi penjual jika sebagian besar
produk yang dihasilkan dijual keluar perusahaan.
C. PENDEKATAN PENENTUAN HARGA TRANSFER BERDASARKAN BIAYA
PENUH
1. Full Costing
Harga Transfer = Biaya Penuh + Laba
a. Biaya Penuh :
a. Biaya Produksi (bahan baku, tenaga kerja, FOH)
b. Biaya non Produksi (biaya administrasi dan umum, pemasaran)
b. Laba = Y % X Aktiva Penuh
a. Aktiva Penuh : Aktiva Lancar + Aktiva Tidak Lancar
a. Biaya Penuh :
a. Biaya Variabel (biaya produksi dan non produksi variabel)
b. Biaya Tetap (biaya produksi dan non produksi tetap)

2. Variabel Costing
3. Activity Based Costing

D. KEBIJAKAN PENETAPAN HARGA TRANSFER


Dalam penyusunan sebuah kebijakan penetapan harga transfer, kedua pandangan dari
divisi penjual dan divisi pembeli harus dipertimbangkan. Pendekatan biaya peluang
(opportunity cost approach) mencapai tujuan tersebut dengan mengidentifikasi harga
minimum yang ingin diterima divisi penjual dan harga maksimum yang ingin dibayar
divisi pembeli. Harga – harga minimum dan maksimum tersebut sesuai dengan biaya
peluang transfer internal. Berikut harga – harga yang ditetapkan disetiap divisi.

1. Harga transfer minimum


Harga transfer yang akan membuat keadaan divisi penjual tidak menjadi lebih buruk
jika barang dijual pada divisi internal daripada dijual pada pihak luar.
2. Harga transfer maksimum
Harga transfer yang akan membuat keadaan divisi pembeli tidak menjadi lebih buruk,
jika suatu input dibeli dari divisi internal daripada jika barang yang sama dibeli secara
eksternal.

E. METODE HARGA TRANSFER

Adapun Metode Penentuan Harga Transfer dapat kita golongkan menjadi :

1. Penentuan Harga Transfer atas Dasar Biaya (Cost-Based Transfer Pricing)

Perusahaan menggunakan metode penetapan harga transfer atas dasar


biaya yang ditimbulkan oleh divisi penjual dalam memproduksi barang atau jasa,
penetapan harga transfer metode ini relatif mudah diterapkan namun memiliki
beberapa kekurangan. Pertama, penggunaan biaya sebagai harga transfer dapat
mengarah pada keputusan yang buruk, jika seandainya unit penjual tidak dapat
memproduksi dengan optimal sehingga menghasilkan biaya yang lebih tinggi
daripada harga pasar, maka dapat terjadi kecenderungan pembelian barang dari
luar. Kedua, jika biaya digunakan sebagai harga transfer, divisi penjual tidak akan
pernah menghasilkan laba dari setiap transaksi internal. Ketiga, penentuan harga
transfer yang berdasarkan biaya berarti tidak ada insentif bagi orang yang
bertanggung jawab mengendalikan biaya.

c. Harga Transfer Kos Penuh (Full Cost Transfer Pricing)


Rumus :
BBL + TKL + Overhead Variable + Overhead Tetap
d. Harga Transfer Kos Penuh Ditambah Markup (Full Cost Plus Markup)
Rumus :
BBL + TKL + Overhead Variable + Overhead Tetap + Markup (dapat
dinegosiasikan)
e. Harga Transfer Kos Variable Ditambah Ongkos Tetap (Variable Cost
Plus Fixed Fee)
BBL + TKL + Overhead Variabel + Ongkos Tetap
2. Harga Transfer atas Dasar Harga Pasar (Market Based Transfer Pricing)

Harga transfer berdasarkan harga pasar dipandang sebagai penentuan


harga transfer yang paling independen. Barang-barang yang diproduksi unit
penjual dihargai sama dengan harga yang berlaku di pasar, pada sisi divisi penjual
ada kemungkinan untuk memperoleh profit, pada sisi pembeli harga yang
dibayarkan adalah harga yang sewajarnya.

Namun yang menjadi kelemahan utama dari sistem ini adalah jika harga
suatu produk ternyata tidak tersedia di pasar. Tidak semua barang-barang yang
diperjual-belikan antar divisi tersedia di pasar, misalnya pada suatu industri yang
terdeferensiasi dan terintegrasi seperti industri kertas, jika divisi penjual harus
mengirim kertas yang setengah jadi ke divisi lain, pasar tidak menyediakan harga
kertas mentah atau setengah jadi.

Harga Transfer Atas Dasar Harga Pasar

Harga Pasar digunakan jika barang dan jasa yang ditransfer antar divisi
memiliki harga pasar. Merupakan dasar yang lebih baik untuk mengukur kinerja.
Harga pasar merupakan biaya kesenpatan (opportunty cost) bagi divisi penjual
dan divisi pembeli.

Harga Transfer bagi divisi penjual merupakan penghasilan yang akan


dikorbankan didalam transfer kepada pembeli. Harga Transfer bagi divisi pembeli
merupakan biaya yang seharusnya dikeluarkan jika produk tersebut dibeli dari
pihak luar.

Kelemahan Penentuan Harga Transfer atas dasar Harga Pasar :

1. Tidak semua produk memiliki harga pasar


2. Divisi penjualan mempunyai pasar yang sudah pasti
3. Harga Pasar tidak selalu sama dengan yang tercantum didalam daftar
harga
4. Sulit menentukan harga pasar jika harga pasar berfluktuasi
Metode Harga Pasar Minus

Harga Pasar Persentase


Dikurangi 100%
Potongan Volume 1,0 %
Biaya Penjualan 12,0 %
Komisi Penjualan 2,0 %
Biaya Penagihan 0,5 %
Biaya Pergudangan 5,5 %
Jumlah Pengurangan 21,0 %
Harga Transfer dalam % Harga Pasar 79 %

3. Harga Transfer Negosiasi (Negotiated Transfer Price)

Dalam ketiadaan harga, beberapa perusahaan memperkenankan divisi-


divisi dalam perusahaan yang berkepentingan dengan transfer pricing untuk
menegosiasikan harga transfer yang diinginkan. Harga transfer negoisasi memiliki
beberapa kelebihan. Pertama, pendekatan ini melindungi otonomi divisi dan
konsisten dengan semangat desentralisasi. Kedua, manajer divisi cenderung
memiliki informasi yang lebih baik tentang biaya dan laba potensial atas transfer
dibanding pihak-pihak lain dalam perusahaan.

Harga transfer negosiasian mencerminkan prespektif kontrolabilitas yang


interen dalam pusat-pusat pertanggungjawaban karena setiap divisi yang
berkepentingan tersebut pada akhirnya yang akan bertanggung jawab atas harga
transfer yang dinegosiasikan. Namun transfer pricing ini tidak begitu mudah
untuk ditentukan karena posisinya pada situasi sulit yang bisa
menimbulkan conflict of interest diantara kedua belah pihak yang terlibat, yaitu
divisi penjual dan divisi pembeli. Artinya, tidak akan ada satu metode transfer
price yang terbaik, yang akan diterima mutlak oleh kedua belah pihak.
Contoh Soal

PT. ABC diasumsikan mempunyai dua divisi yaitu divisi penjual dan divisi
pembeli, data-data berikut akan menggambarkan lebih lanjut mengenai aktivitas dari dua
divisi :

Divisi Penjual Divisi Pembeli


Harga jual Rp. 2.600 Rp. 2.100
Biaya variable 800 400
Permintaan dari luar utk produk 1.000 unit 2.000 unit
Kapasitas produksi divisi penjual 3.000 unit

Divisi penjual akan menghasilkan 3.000 unit dengan harga jual Rp. 1.200 dimana
1.000 unit untuk memenuhi kebutuhan internal perusahaan dan sisanya untuk memenuhi
kebutuhan eksternal perusahaan. Selanjutnya akan dihitung jumlah marjin kontribusi
untuk masing-masing divisi.

Produk dijual ke luar oleh divisi penjual

Pendapatan penjualan (2.000 unit@Rp.1.200/unit) Rp.1.200.000


Biaya Variabel (2.000 unit@Rp.400/unit) (800.000)
Marjin kontribusi Rp. 1.600.000

Produk dijual ke dalam oleh divisi penjual

Pendapatan penjualan (1.000 unit@Rp.1.200/unit) Rp.1.200.000

Biaya Variabel (1.000 unit@Rp.400/unit) (400.000)

Marjin kontribusi Rp. 800.000

Dari penjelasan diatas dapat terlihat bahwa dengan harga jual Rp.1.200 yang
diberikan oleh divisi penjual,total marjin kontribusi yang diperoleh oleh perusahaan
sebesar Rp.3.000.000. Apabila terjadi peningkatan permintaan atas produk yang
dihasilkan oleh divisi penjual, sedangkan permintaan dari divisi pembeli tetap. Andaikata
harga yang ditawarkan oleh divisi penjual Rp.2.000 sama dengan harga pasar, maka bias
dikatakan divis pembeli tidak akan sanggup dengan pembelian. Hal ini dapat dibuktikan
dengan perhitungan sebagai berikut :

Marjin Kontribusi divisi pembeli pada harga transfer Rp. 2.000

Pendapatan penjualan (1.000 unit@Rp.2.600/unit) Rp.2.600.000

Biaya Variabel (1.000 unit@Rp.800/unit) (800.000)

Harga Transfer (1.000 unit@Rp.2.000/unit) (2.000.000)

Marjin kontribusi Rp. 200.000

Dalam kondisi seperti divisi penjual akan menjual seluruh produknya kepada
pembeli diluar perusahaan. Tindakan ini tentunya akan memberikan hasil yang terbaik
bagi perusahaan karena marjin kontribusi yang dihasilkan jauh lebih besar dibandingkan
dengan menjual ke divisi pembeli dengan harga tetap. Dari kasus diatas dapat dilihat
bahwa transfer pricing akan sangat berpengaruh terhadap kinerja perusahaan apabila
kinerja tersebut diukur dengan marjin kontribusi yang dihasilkan.
F. KESIMPULAN

Dalam sebuah perusahaan sangatlah penting kita mengenal apa yang disebut
dengan harga transfer, langkah ini adalah merupakan langkah transaksi transfer barang
atau jasa antar laba cukup signifikan. Biaya barang atau jasa yang ditransfer merupakan
komponen penting produk akhir, portabilitas merupakan pertimbangan penting di dalam
penilaian prestasi divisi yang bertujuan untuk memberikan informasi relevan pada setiap
pusat laba dalam menentukan harga transfer, memotivasi manajer pusat laba pengirim,
pusat laba penerima, dan kantor pusat dalam membuat keputusan yang tepat, menyajikan
laporan laba setiap divisi yang secara layak mengukur prestasi divisi.
Daftar Pustaka

http://lyratriangel.blogspot.com/2016/04/penetapan-harga-transfer.html

http://fransiscasn.blogspot.com/2012/04/harga-transfer-bab-6.html

buku akuntansi manajerial/Don R. Hansen, Maryanne M. Mowen – Jakarta: Salemba Empat,


2011

http://shantykie.blogspot.com/2011/09/transfer-pricing.html