Vous êtes sur la page 1sur 34

TUGAS SISTEM PERKEMIHAN

MAKALAH
ASUHAN KEPERAWATANPIELONEFRITIS

Disusun oleh :
(Kelompok 3)

1. Mei Nur Fatimah (10215003)


2. Kastina Sholehah (10215007)
3. Karunia Wati Susanti (10215015)
4. Shinta Putri Gitayu (10215026)
5. Abdul Khafid Muzaki (10215033)
6. Siti Fatimah (10215050)

PROGRAM STUDI S1-KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA KEDIRI
2017/2018

i
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, Puja dan Puji Syukur tercurahkan kepada Allah SWT karena
atas limpahan nikmat dan karunia-Nya. Shalawat serta salam semoga tercurahkan
kepada Nabi Muhammad SAW, sehingga atas izin dan kuasaNya kami dapat
menyelesaikan tugas makalah dengan judul ”Asuhan KeperawatanPielonefritis” ini
dengan baik dan tepat pada waktunya.

Penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata
kuliah sistem perkemihan program studi ilmu keperawatan. Penyusunan makalah
terlaksana dengan baik berkat dukungan dari banyak pihak. Untuk itu, pada
kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada pihak yang bersangkutan.

Kesalahan bukan untuk dibiarkan tetapi kesalahan untuk diperbaiki.


Walaupun demikian, dalam makalah ini kami menyadari masih belum sempurna.
Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik demi kesempurnaan tugas
makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat bagi kami dan dapat dijadikan
acuan bagi pembaca terutama bagi ilmu keperawatan.

Kediri, 15 November 2017

Penyusun

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................. ii

Daftar Isi ......................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ......................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan........................ ................................................... 2
D. Manfaat Penulisan ......................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A. DefinisiPielonefritis ...................................................................... 4
B. KlasifikasiPielonefritis .................................................................. 4
C. EtiologiPielonefritis ...................................................................... 5
D. PatofisiologiPielonefritis ............................................................... 8
E. Pathway Pielonefritis .................................................................... 9
F. Manifestasi Pielonefritis ............................................................... 12
G. Pemeriksaan PenunjangPielonefritis ............................................. 12
H. PenatalaksanaanPielonefritis ......................................................... 13
I. Komplikasi Pielonefritis ............................................................... 14
J. Asuhan KeperawatanPielonefritis ................................................. 15
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan .................................................................................... 30
B. Saran ............................................................................................... 30
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 31

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pielonefritis merupakan infeksi bakteri pada piala ginjal (pelvis renalis),
tubulus, dan jaringan interstinal dari salah satu atau kedua gunjal (Brunner
&Suddarth, 2002: 1436).
ISK (infeksi saluran kemih) merupakan masalah yang sering terjadi pada
anak-anak.Hampir dua pertiga pasien dengan demam ISK mengalami
pielonefritis akut. Pembentukan jaringan parut di ginjal setelah pielonefritis akut
dapat disertai dengan sequelae jangka panjang, seperti hipertensi, gangguan
fungsi ginjal, toksemia dalam kehamilan, dan penyakit ginjal kronik stadium
akhir. Kemungkinan terjadinya pembentukan jaringan ikat setelah pielonefritis
akut berkisar antara 26,5% hingga 57% (Hidayat, 2008).
Banyak data memperlihatkan bahwa kerusakan jaringan ginjal yang sifatnya
menetap lebih disebabkan karena proses inflamasi yang terjadi, dibandingkan
dengan bakteri penyebab pielonefritis itu sendiri. Karena itu, pencegahan
pembentukan jaringan ikat setelah pielonefritis akut bukan hanya bergantung
pada diagnosa dan terapi yang cepat, namun juga bergantung pada pencegahan
respons inflamasi yang merusak jaringan ginjal.
Berdasarkan hasil penelitian pielonefritis lebih sering terjadi pada anak
perempuan dibandingkan dengan anak laki-laki.Karena bentuk uretranya yang
lebih pendek dan letaknya berdekatan dengan anus.Studi epidemiologi
menunjukkan adanya bakteriuria yang bermakna pada 1% sampai 4% gadis
pelajar. 5%-10% pada perempuan usia subur, dan sekitar 10% perempuan yang
usianya telah melebihi 60 tahun (Widagdo, 2012).
ISK merupakan penyakit infeksi yang sering di jumpai di Amerika dan
membuat sekitar 7 juta orang berkunjung ke dokter dan 1 juta orang di rawat inap
serta menghabiskan dana 1 milyar, sedangkan di Amerika utara terdapat 14.000
laki-laki dan 53.000 wanita terkena ISK. Pada beberapa kasus membutuhkan
pengobatan jangka pendek dengan antibiotic narrow spectrum,tapi dilain
kasusmembutuhkan pengobatan jangka panjang denganmenggunakan antibiotika
broad spectrum (Nguyen dalam Brounwald et al, 2004).

1
Berdasarkan data dari Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) tahun
2011,Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan salah satu penyakit infeksi yang
sering ditemukan, pada tahun 2010 ISK masuk dalam 10 besar Penyakit Tidak
Menular (PTM) penyebab rawat inap di Indonesia. Tercatat 2,49% pasien dirawat
karena ISK, sedangkan menurut Syamsuhidajat (2004), Infeksi Saluran Kemih
merupakan infeksi sistem nomor dua paling sering setelah infeksi saluran nafas.
Berdasarkan hal di atas, penulis mengambil judul asuhan keperawatan
pielonefritis yang diharapkan pembaca dapat mengetahui mengenai pielonefritis
dan asuhan keperawatannya.

B. Rumusan Masalah
Dari uraian diatas dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut:
1) Apa definisi daripielonefritis?
2) Apa klasifikasi daripielonefritis?
3) Apa etiologi daripielonefritis?
4) Bagaimana patofisiologi daripielonefritis?
5) Bagaimana pathways pielonefritis?
6) Bagaimana manifestasi klinis daripielonefritis ?
7) Bagaimana pemeriksaan diagnostik daripielonefritis?
8) Bagaimana penatalaksanaan daripielonefritis?
9) Bagaimana komplikasi dari pielonefritis?
10) Bagaimana asuhan keperawatan daripielonefritis?

C. Tujuan Penulisan
1) Tujuan Khusus
Untuk memenuhi tugas Sistem Perkemihan dan semoga kami sebagai
penyusun dapat mengambil manfaat serta dapat memperluas wawasan pada
pasien dengan diagnosa medis Pielonefritis pada khususnya.
2) Tujuan Umum
 Untuk menambah pengetahuan tentang penyakit Pielonefritis.
 Untuk mempermudah dalam pembuatan asuhan keperawatan pada
pasienPielonefritis.

D. Manfaat Penulisan
1) Bagi Penyusun

2
 Dapat belajar dalam penyusunan keperawatan Pielonefritis.
 Dapat menambah ilmu dalam pembentukan makalahdibidang kesehatan.
2) Bagi Pendidikan
Sebagai sumbangsih dalam makalah asuhan keperawatan dibidang
kesehatanurologi.
3) Bagi Pembaca
Sebagai sedikit pengetahuan tentang asuhan keperawatanbidangkesehatan
urologi.

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Pielonefritis
Pielonefritis merupakan infeksi bakteri yang menyerang ginjal, yang
sifatnya akut maupun kronis. Pielonefritis akut biasanya akan berlangsung selama
1 sampai 2 minggu. Bila pengobatan pada pielonefritis akut tidak sukses madka
dapat menimbulkan gejala lanjut yang disebut dengan pielonefritis
kronis.Pielonefritis merupakan infeksi bakteri pada piala ginjal (pelvis renalis),
tubulus, dan jaringan interstinal dari salah satu atau kedua gunjal (Brunner
&Suddarth, 2002: 1436).
Pielonefritis merupakan suatu infeksi dalam ginjal yang dapat
timbulsecara hematogen atau retrograd aliran ureterik (J. C. E. Underwood,
2002:668).

Ginjal merupakan bagian utama dari sistem saluran kemih yang terdiriatas
organ-organ tubuh yang berfungsi memproduksi maupun menyalurkanair kemih
(urine) ke luar tubuh.

B. Klasifikasi Pielonefritis
1) Pielonefritis akut
Pielonefritis akut, yang juga dikenal sebagai nefritis tubulointerstitial
infeksiosa akuta, merupakan keadaan inflamasi mendadak oleh bakteri yang

4
pada awalnya mengenai daerah interstitial dan pelvis renis atau yang lebih
jarang lagi, mengenai tubulus renal(Kowalak, Jennifer P., 2011).
Kondisi ini merupakan salah satu penyakit renal yang paling sering
ditemukan dan dapat mengenai satu atau kedua ginjal.Dengan pengobatan
dan perawatan lanjut (follow-up) yang kontinu, prognosisnya cukup baik
dan kerusakan permanen yang luas jarang terjadi (Kowalak, Jennifer P.,
2011).
Pielonefritis akut dapat mempengaruhi sementara fungsi ginjal, tetapi
jarang berkembang sampai gagal ginjal (Baradero, Mary et al, 2008).

2) Pielonefritis kronis
Pielonefritis kronik (PN) adalah cedera ginjal progresif yang menunjukkan
pembentukan jaringan parut parenkimal pada pemeriksaan IVP, disebabkan
oleh infeksi berulang atau infeksi yang menetap pada ginjal (Price, Sylvia
Anderson; Wilson, Lorraine M., 2005).
Pielonefritis kronis merupakan keadaan inflamasi yang persisten pada ginjal
dan dapat menyebabkan pembentukan parut dalam ginjal sehingga terjadi
gagal ginjal kronis.Etiologinya bisa bakteri, metastase kanker, atau
urogenus.Penyakit ini paling sering ditemukan pada pasien yang mengalami
obstruksi urinarius atau refluks vesikoureter (Kowalak, Jennifer P., 2011).
Pielonefritis kronik dapat merusak jaringan ginjal secara permanen karena
inflamasi yang berulang dan terbentuknya jaringan parut yang meluas
(Baradero, Mary et al, 2008).

C. Etiologi Pielofritis
1) Bakteri
a. Escherichis colli
Escherichia coli (bakteri yang dalam keadaan normal ditemukan diusus
besar) merupakanpenyebab infeksi yang sering ditemukan
pada pielonefritis akut tanpa komplikasi.
b. Basilus proteus dan Pseudomonas auroginosa.
Pseudomonas juga merupakan patogen pada manusia dan
merupakan penyebab infeksi pada saluran kemih.
c. Klebsiella enterobacter

5
Klebsiella enterobacter merupakan salah satu patogen menular
yangumumnya menyebabkan infeksi pernapasan, tetapi juga
dapatmenyebabkan infeksi saluran kemih.
d. Species proteus
Proteus yang pada kondisi normal ditemukan di saluran cerna,menjadi
patogenik ketika berada di dalam saluran kemih.
e. Enterococus
Mengacu pada suatu spesies streptococus yang mendiami salurancerna
dan bersifat patogen di dalam saluran kemih.
f. Lactobacillus
Adalah flora normal di rongga mulut, saluran cerna, dan
vagina,dipertimbangkan sebagai kontaminan saluran
kemih.Apabiladitemukan lebih dari satu jenis bakteri, maka spesimen
tersebut harusdipertimbangkan terkontaminasi.Hampir semua
gambaran klinisdisebabkan oleh endotoksemia.Tidak semua bakteri
bersifat patogen disaluran perkemihan, tetapi semua bakteri tersebut
ditemukan dalamsampel biakan urine.Namun, bakteri-bakteri tersebut
tetap merupakankontaminan.
2) Obstruksi urinari track. Misal batu ginjal atau pembesaran prostat.
3) Refluks, yang mana merupakan arus balik air kemih dari kandung kemih
kembali ke dalam ureter.
4) Kehamilan.
Kehamilan dapat mempengaruhi aliran darah dan aliran plasmaefektif ke
ginjal dan saluran kencing.Kecepatan filtrasi glomerulus danfungsi
tubuler meningkat 30-50%.Dibawah keadaan yang normal peningkatan
kegiatan penyaringan darah bagi ibu dan janin yang tumbuhtidak membuat
ginjal dan uretra bekerja ekstra.Keduanya menjadidilatasi karena peristaltik
uretra menurun.Sebagai akibat, gerakan urin kekandung kemih lebih
lambat.Stasis urin ini meningkatkan kemungkinan pielonefritis.
Estrogen dapat meningkatkan resiko terjadinya infeksi yang terjadi pada
kadung kemih yang akan naik ke ginjal. Bendungan dan atoni ureter dalam
kehamilan mungkin disebabkan oleh progesteron, obstipasi atautekanan
uterus yang membesar pada ureter.

6
Pada saluran kemih yang sehat, naiknya infeksi ini biasanya biasdicegah
oleh aliran air kemih yang akan membersihkan organisme dan
oleh penutupan ureter di tempat masuknya ke kandung kemih.
Berbagai penyumbatan fisik pada aliran air kemih (misalnya batu ginjal
atau pembesaran prostat) atau arus balik air kemih dari kandung kemih ke
dalamureter, akan meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi ginjal.
5) Kencing Manis.
6) Keadaan-keadaan menurunnya imunitas untuk melawan infeksi.
Pada saluran kemih yang sehat, naiknya infeksi ini biasanya bisa dicegah
oleh aliran air kemih yang akan membersihkan organisme dan oleh
penutupan ureter di tempat masuknya ke kandung kemih. Berbagai
penyumbatan fisik pada aliran air kemih (misalnya batu ginjal atau
pembesaran prostat) atau arus balik air kemih dari kandung kemih ke dalam
ureter, akan meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi ginjal.
(Price, Sylvia Anderson; Wilson, Lorraine M., 2005)

D. Patofisiologi Pielonefritis
Pielonefritis merupakan penyakit saluran kemih bawah yang pada
mulanya berawal dari infeksi saluran kemih bawah. Pielonefritis disebabkan oleh
infasi bakteri pada saluran kemih seperti bakteri : E.coli yang secara normal
terdapat pada saluran pencernaan, dan secara tidak sengaja dapat menginfeksi
atau terbawa ke saluran kemih karena pola kebersihan yang salah. Disamping
E.coli bakteri lain yang dapat menyebabkan pielonefritis adalah klabsiella,
streptococcus. Factor lain sebagai predisposisi Pielonefritis seperti : kehamilan,
kondisi imun yang menurun, obstruksi saluran kemih, VUR, diabetes.
Pielonefritis terjadi berawal dari invasi bakteri ke dalam saluran kemih
bagian bawah, kondisi tubuh dengan imun yang rendah, obstruksi saluran kemih,
VUR dapat menghambat eleminasi bakteri kedalam urine sehingga bakteri dapat
berkembang biak dan menginfeksi mukosa saluran kemih, di samping itu pada
penderita diabetes dengan kadar gula yang tinggi mengakibatkan glukosa yang
lolos dalam filtrasi hanya dapat direabsorbsi sebesar nilai maksimal reabsorbsi
glukosa yaitu 220, sisa glukosa yang tidak dapat direabsorbsi lagi akan terbawa
dan terkandung dalam urine, hal tersebut mengakibatkan bakteri dapat

7
berkembang biak secara cepat dalam saluran kemih dan menginfeksi saluran
kemih.
Kehamilan, pada saat kehamilan hormone estrogen meningkat sehingga
akan mengakibatkan vasodilatasi pada pembuluh darah, vasodilatasi
mengakibatkan peningkatan permeabilitas kapiler yang akhirnya akan
mengakibatkan kebocoran protein plasma ke dalam interstitial dan menarik cairan
plasma ikut bersamanya, hal tersebut akan mengakibatkan tingginya tekanan
onkotik plasma pada filtrasi glomelurus yang akan mengakibatkan cairan
berpindah dari kapsula bowment ke kapiler glomelurus melawan gaya filtrasi,
disamping itu pada kehamilan terjadi penekanan pada vesika dan saluran kemih
yang akan menghambat aliran urine dan mengakibatkan penurunan eleminasi
bakteri bersama urine. Dari mekanisme diatas, akan terjadi infeksi pada saluran
kemih bawah dan apabila tubuh tidak mampu mengatasi fluktuasi bakteri dalam
saluran kemih, maka bakteri tersebut akan naik ke saluran kemih bagian atas
yang mengakibatkan peradangan-infeksi diparemkin ginjal ( Pielonefritis ).
Pada pielonefritis terjadi reaksi radang dan pengikatan antara antigen dan
antibody, pengikatan tersebut mengakibatkan tubuh akan melepaskan mediator-
mediator kimia yang dapat menimbulkan gejala inflamasi. Mediator EP (
endogen pirogen ) dapat mengakibatkan peningkatan suhu tubuh karena EP
merangsang prostaglandin untuk meningkatkan thermostat tubuh di hipotalamus
dengan gejala ini dapat diangkat diagnose keperawatan hipertermi.
Kalekrein juga dapat menimbulkan rasa nyeri pada pinggang akibat
peradangan atau kerusakan jaringan parenkim ginjal karena saat radang
mediataor ini dilepas untuk merangsang pusat sensori nyeri, dengan demikian
dapat diangkat diagnose keperawatan nyeriakut.
Disamping itu akibat kelainan pada medulla ginjal yang mengakibatkan
gangguan dalam pemekatan urine ditambah lagi peningkatan GFR akibat
mekanisme radang pada ginjal mengakibatkan timbulnya poliuri sehingga dapat
diangkat diagnose keperawatan gangguan eleminasi urine.
Kehilangan cairan yang berlebih baik ekstrasel maupun intrasel akibat
gangguan dalam proses reabsorbsi mengakibatkan sel-sel tubuh mengalami
dehidrasi sehingga dapat diangkat diagnose keperawatan kekurangan cairan
tubuh (Tambayong, 2000).

8
E. PATHWAY PIELONEFRITIS
Obstruksi Diabetes
Penurunan Bakteri : E.coli, Kehamilan kandung
Imunitas Klebsielle, kemih, VUR
Streptococus Urine
Kadar esterogen mengandung
Penekanan pada glukosa
Tubuh rentan tinggi
Memasuki vesika dan
terinfeksi
saluran kemih saluran kemih
bakteri Bakteri di
bawah Vasodilatasi
saluran kemih
pembuluhdara
Hambatan dalam
h
pengeluaran urine
Bakteri berkembang Peningkatan Dengan mudah
biak dan permeabilitas kapiler berkembangbiak
mengeluarkan zat
Penurunan
endotoksik
Perpindahan protein kecepatan
Menimbulkan
plasma ke interstitiel eleminasi
Peradangan – infeksi peradangan
urine
saluran kemih
Konsentrasi protein plasma
dalam filtrasi glomelurus Penumpukan
tinggi cairan pada pelvis

Peningkatan tekanan Peningkatan


onkotik plasma tekanan
hidrostatik

Penarikan cairan dari


kapsula bowmen ke
kapiler glomelurus

Penurunan GFR

Menurunkan produk
urine

Menurunkan eleminasi bakteri di


saluran kemih

Menimbulkan peradangan

9
ISK bawah

Penyebaran bakteri memasuki sal. Kemih atas di bagian


medulla-kortek

Infeksi tubulus dan penyebaran ke


interstitiel

PIELONEFRITIS

Akut Kronis

Ginjal mengalami
Terjadi reaksi inflamasi perubahan
degeneratif
Pelepasan mediator inflamasi

Menjadi kecil dan


atropic
Pelepasan endogen pirogen Kalekrein Histamin

Destruksi nefron
Pengaktifan Merangsang pusat Vasodilatasi
meluas
prostaglandin sensori nyeri pembuluh darah

Gagal ginjal
Perangsangan pusat Nyeri akibat Peningkatan aliran
thermostat di peradangan darahpembuluh renal
hipotalamus parenkim ginjal
Peningkatan vol.
Peningkatan Nyeri menyebar ke darah aa.afferent
tersmostat tubuh pinggang
Peningkatan suplai
darah filtrasi
Peningkatan suhu Nyeri pinggang
tubuh
MK : Nyeri Akut Peningkatan GFR

MK : Hipertermi

Defisiensi
Pemekatan urine Laju filtrasi > reabsorsi
menurun kecepatan
reabsorsi
10
Penurunan Penurunan reabsorsi
transport cairan ke K+ dan ion lainnya
Terbentuk urine Elektrolit dan air
sel
encer hanya sedikit
dapat diserap
Dehidrasi Penurunan
Peningkatan vol. sel2 tubuh kontraktilitas otot
urine polos dan penurunan
Cairan dlm peristaltik
lumen banyak
Peningkatan
frekuensi berkemih Nutrisi dari
dan banyak makanan hanya
sebagaian yang
MK : diserap tubuh
Pengeluaran
Poliuria cairan berlebih Kekurangan
Volume
Cairan MK :
Ketidakseimbangan
MK : Gangguan Pola
Nutrisi Kurang dari
Eleminasi Urine
Kebutuhan Tubuh

11
F. Manifestasi Klinis Pielonefritis
Tanda dan gejala yang khas meliputi :
a) Nyeri panggul dan nyeri tekan pada sudut kostovertebra.
b) Leukositosis.
c) Urinalisis menunjukkan adanya sel darah merah dan bakteriuria Keluhan
urgency dan frequency, rasa terbakar pada saat berkemih, dysuria, nokturia,
dan hematuria (yang biasanya mikroskopik tetapi dapat pula makroskopik).
d) Urin yang tampak keruh dan memiliki bau mirip ammonia atau berbau amis.
e) Suhu tubuh 38,9o C atau lebih tinggi, demam menggigil, mual serta muntah,
anoreksia, dan perasaan mudah letih di seluruh tubuh (general fatigue).
Semua gejala ini secara khas terjadi dengan cepat dalam beberapa jam atau hari.
Meskipun gejala tersebut mungkin hilang dalam beberapa hari, bahkan tanpa
pengobatan, infeksi residu bakteri kemungkinan tetap terjadi dan membuat
gejalakambuh kembali dikemudian hari(Kowalak, Jennifer P., 2011).

G. Pemeriksaan Penunjang Pielonefritis


Penegakan diagnosis memerlukan pemeriksaan urinalisis dan kulturmeliputi :
1) Urinalisis
a. Leukosuria atau piuria: merupakan salah satu petunjuk penting adanya
ISK. Leukosuria positif bila terdapat lebih dari 5 leukosit/lapang
pandang besar (LPB) sediment air kemih
b. Hematuria: hematuria positif bila terdapat 5-10 eritrosit/LPB sediment
air kemih. Hematuria disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik
berupa kerusakan glomerulus ataupun urolitiasis.
2) Bakteriologis
a. Mikroskopis : satu bakteri lapangan pandang minyak emersi. 102 -103
organisme koliform / mL urin plus piuria
b. Biakan bakteri
c. Tes kimiawi : tes reduksi griess nitrate berupa perubahan warna pada uji
carik
3) Kultur urine untuk mengidentifikasi adanya organisme spesifik
4) Hitung koloni: hitung koloni sekitar 100.000 koloni per milliliter urin dari
urin tampung aliran tengah atau dari specimen dalam kateter dianggap
sebagai criteria utama adanya infeksi.

12
5) Metode tes
a. Tes dipstick multistrip untuk WBC (tes esterase lekosit) dan nitrit (tes
Griess untuk pengurangan nitrat).
b. Tes esterase lekosit positif: maka pasien mengalami piuria.
c. Tes pengurangan nitrat, Griess positif jika terdapat bakteri yang
mengurangi nitrat urin normal menjadi nitrit.
d. Penyakit Menular Seksual (PMS):Uretritia akut akibat organisme
menular secara seksual (misal, klamidia trakomatis, neisseria
gonorrhoeae, herpes simplek).
6) Tes- tes tambahan :
a. Urogram intravena (IVU).
b. Pielografi (IVP), msistografi, dan ultrasonografi juga dapat dilakukan
untuk menentukan apakah infeksi akibat dari abnormalitas traktus
urinarius, adanya batu, massa renal atau abses, hodronerosis atau
hiperplasie prostate.
c. Urogram IV atau evaluasi ultrasonic, sistoskopi dan prosedur
urodinamik dapat dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab
kambuhnya infeksi yang resisten
d. Pemeriksaan CT scan juga dapat membantu mengevaluasi pielonefritis
akut. CT scan ginjal, ureter, dan kandung kemih dapat mengungkapkan
batu, tumor, atau kista di dalam ginjal dan traktus urinarius. Urografi
ekskretori dapat memperlihatkan ginjal yang asimetris (Kowalak,
Jennifer P., 2011).

H. Penatalaksanan Pielonefritis
Infeksi ginjal akut setelah diobati beberapa minggu biasanya akansembuh
tuntas. Namun residu infeksi bakteri dapat menyebabkan penyakitkambuh
kembali terutama pada penderita yang kekebalan tubuhnya lemahseperti
penderita diabetes atau adanya sumbatan/hambatan aliran urinmisalnya oleh batu,
tumor dan sebagainya. Penatalaksanaan medis menurutBarbara K. Timby dan
Nancy E. Smith tahun 2007:
a) Mengurangi demam dan nyeri dan menentukan obat-obat
antimicrobialseperti trimethroprim-sulfamethoxazole (TMF-SMZ, Septra),

13
gentamycindengan atau tanpa ampicilin, cephelosporin, atau ciprofloksasin
(cipro)selama 14 hari
b) Merilekskan otot halus pada ureter dan kandung kemih, meningkatkan
rasanyaman, dan meningkatkan kapasitas kandung kemih menggunakan
obatfarmakologi tambahan antispasmodic dan anticholinergic
sepertioxybutinin(Ditropan) dan propantheline (Pro-Banthine)
Pada kasus kronis, pengobatan difokuskan pada pencegahan kerusakanginjal
secara progresif. Penatalaksanaan keperawatan menurut Barbara K. Timby dan
Nancy E.Smith tahun 2007:
a) Mengkaji riwayat medis, obat-obatan, dan alergi.
b) Monitor Vital Sign
c) Melakukan pemeriksaan fisik
d) Mengobservasi dan mendokumentasi karakteristik urine klien.
e) Mengumpulkan spesimen urin segar untuk urinalisis.
f) Memantau input dan output cairan.
g) Mengevaluasi hasil tes laboratorium (BUN, creatinin, serum electrolytes)
h) Memberikan dorongan semangat pada klien untuk mengikuti
prosedur pengobatan. Karena pada kasus kronis, pengobatan bertambah
lama danmemakan banyak biaya yang dapat membuat pasien berkecil hati.

I. Komplikasi Pielonefritis
Komplikasi dari pielonefritis akut dapat meliputi :
Ada tiga komplikasi penting dapat ditemukan pada pielonefritis akut (Patologi
Umum & Sistematik J. C. E. Underwood, 2002):
1) Nekrosis papila ginjal. Sebagai hasil dari proses radang, pasokan darah pada
area medula akan terganggu dan akan diikuti nekrosis papila guinjal,
terutama pada penderita diabetes melitus atau pada tempat terjadinya
obstruksi.
2) Fionefrosis. Terjadi apabila ditemukan obstruksi total pada ureter yang dekat
sekali dengan ginjal. Cairan yang terlindung dalam pelvis dan sistem kaliks
mengalami supurasi, sehingga ginjal mengalami peregangan akibat adanya
pus.
3) Abses perinefrik. Pada waktu infeksi mencapai kapsula ginjal, dan meluas ke
dalam jaringan perirenal, terjadi abses perinefrik.

14
J. Asuhan Keperawatan Pielofritis
1. Pengkajian

a) Identitas klien : nama, umur, jenis kelamin (wanita lebih beresiko lebih tinggi
dari pada pria), pendidikan, pekerjaan, suku/ bangsa, agama, status, alamat,
tanggal masuk RS, tanggal pengkajian, diagnosa medik, nomor Rekam
Medik.

b) Riwayat Kesehatan
1) Keluhan utama :Klien biasanya mengatakan nyeri pada punggung bagian
bawah .
2) Riwayat penyakit sekarang :Biasanya klien datang ke rumah sakit atau ke
ptugas kesehatan karena nyeri pada punggung bagian bawah dan nyeri
pada saat kencing, demam, menggigil.
3) Riwayat penyakit dahulu :Apakah klien pernah menglami penyakit ini
sebelumnya, apakah klien menderita penyakit DM.
4) Riwayat penyakit keluarga :Biasanya keluarga tidak pernah mengalami
penyakit seperti ini, karena ISK bukan penyakit keturunan.

c) Pemeriksaan Fisik
a. Pemeriksaan Head To Toe
1) Keadaan umum : klien nampak pucat, keasadaran composmentis.
2) Tanda vital :
 TD : > 120/70
 Nadi : > 100x/menit
 Suhu : > 37,5 oC
 RR : > 20x/menit
3) Kepala : mesosepal, rambuthitam, tipis, bersih
4) Mata : anemis (-), sclera ikterik (-), pupil terhadapcahaya (+)
5) Hidung :cupinghidung (-), secret (-), epistaksis (-), tidakterpasan
NGT
6) Telinga : serumen (-), bentuksimetris
7) Leher : tidakadakelainan
8) Dada : bentuk normal, pengembangan dada simetris, (-)
retraksidinding dada

15
9) Jantung :
 Inspeksi : tidak ada pembesaran
 Palpasi : tidak teraba adanya pembesaran
 Perkusi : bunyi jantung pekak
 Auskultasi : BJ1 dan BJ2 tunggal
10) Paru-paru :
 Inspeksi : pengembangan paru kanan kiri simetris
 Palpasi : biasanya tidak ada nyeri tekan
 Perkusi : sonor seluruh lapang pandang
 Auskultasi : pernafasan vesikuler
11) Abdomen :
 Inspeksi : biasanya abdomen tampak rata tidak ada
pembesaran
 Palpasi : biasanya tidak ada pengerasan abdomen
 Perkusi : timpani
 Auskultasi : bising usus normal 12x/menit
12) Genetalia : Nampakkotor, nyeritekan, adanyainfeksipada SK
13) Ekstremitas : tonus otot 4 4
44

b. Fungsional Gordon
1) Persepsi dan pemeliharaan kesehatan :pasien mengatakan kesehatan
merupakan hal yang penting, jika ada keluarga yang sakit maka akan
segera dibawa ke pelayanan kesehatan terdekat.
2) Pola nutrisi dan metabolic: nutrisi tidak ada gangguan tetapi
metabolic adanya gangguan pada fungsi urogenital.
3) Pola eliminasi : adanya disuria dan poliuria.
4) Pola aktivitas dan latihan : aktivitas sedikit terganggu karena nyeri
pada punggung dan frekuensi BAK yang sering.
5) Pola istirahat tidur : tidur tidak seperti biasanya, sering terbangun
malam karena kencing (nokturia), dan nyeri pada punggung.
6) Pola persepsi sensori dan kognitif : tidak ada gangguan pada pola
persepsi sensori dan kognitif, penglihatan masih jelas.

16
7) Pola hubungan dengan orang lain : interaksi dengan orang lain masih
cukup baik dalam menjalani keseharian dalam berkomunikasi.
8) Pola reproduksi / seksual: terjadi perubahan seksualitas karena adanya
penyakit yang di derita.
9) Pola persepsi diri dan konsep diri :terjadi perubahan pada rasa gairah
seksual dalam hubungan.
10) Pola mekanisme koping : klien apabila merasakan tidak nyaman
selalu memegangi punggungnya.
11) Pola nilai kepercayaan / keyakinan : individu ingin penyakitnya
sembuh dan percaya bahwa petugas kesehatan akan memberikan yang
terbaik dalam perawatan.

d) Pemeriksaan Penunjang
1) Urinalisis : penampilan : kabur/keruh, bau : ammonia, berat jenis :
<1,005, protein: > 8mg/dL atau >80mg/24jam, SDM : >2 per lapang daya
rendah, serpihan.
2) USG dan Radiologi : USG dan rontgen bisa membantu menemukan
adanya batu ginjal, kelainan struktural atau penyebab penyumbatan air
kemih lainnya
3) Creatinin : dewasa, serum : 0,5-1,5 mg/dL; 45-132,5 mmol/L (unitSI)
4) Pemeriksaan IVP : Pielogram intravena (IVP) mengidentifikasi perubahan
atau abnormalitas struktur saluran perkemihan. Bahan radiopaque
disuntikan, dan sinar x dilakukan pada waktu tertentu. IVP berguna untuk
mengetahui lokasi batu dan tumor dan mendiagnosa penyakit ginjal.

2. Analisis Data

No Data Etiologi Masalah Keperawatan


1. DS : Phielonefritis Kekurangan Volume
 Pasien mengatakan Cairan
sering haus. Reaksi inflamasi
 Pasien mengeluh
lemah. Pelepasan mediator
 Pasien mengatakan inflamasi

17
sering BAK.
Histamin
DO :
 Pasien tampak Peningkatan aliran
merasakan haus darah
siang maupun
malam. Peningkatan
 Kulit pasien terlihat Vol.darah
kering.
 Tugor kulit tidak Peningkatan suplai
elastis. darah filtrasi

 Konjungtiva
anemis. Peningkatan GFR

 Mukosa bibir
tampak kering. Defisiensi reabsorbsi

 S : 38, 5
Penurunan transport
cairan ke sel

Dehidrasi sel-sel
tubuh

2. DS : Phielonefritis Ketidakseimbangan
 Pasien mengeluh Nutrisi Kurang Dari
kram abdomen. Reaksi inflamasi Kebutuhan Tubuh
 Pasien melaporkan
adanya perubahan Pelepasan mediator
sensasi rasa. inflamasi

DO : Histamin
 Pasien terlihat pucat.
 Pasien terlihat lemas. Vasodilatasi

 Bising usus pembuluh darah

hipoaktif.

18
 Konjungtiva dan Peningkatan aliran
membran mukosa darah pembuluh
tampak pucat. renal
 ABCD
A : LILA : 26cm Peningkatan
(normal : 28,5cm) Vol.darah

B : Ureum 35 Peningkatan suplai


(normal <30), darah filtrasi
Creatin 2,5 mg/dL
(normal <1,5), Hb : Peningkatan GFR
10 (normal 12-
16gr/dL) Defisiensi reabsorsi

C : Wajah pasien Penurunan reabsorsi


K+ dan ion lainnya
pucat, S : 38,9⁰C

Penurunan
D : Pasien makan kontraktilitas otot
makanan yang polos dan penurunan
rendah protein, peristaltik
rendah garam,
makanan yang Nutrisi dari makanan
sedikit kandungan sebagian tidak dapat
kalsium dan kalium. diserap oleh tubuh

19
3. DS : Penumpukan bakteri Nyeri Akut
Klien mengatakan nyeri pada kandung kemih
pada daerah punggung
bagian bawah. Vesikoureter ke
ginjal
DO :
 Wajah meringis Bakteri sampai di
 Klien terlihat pelvis dan medulla
memegangi
punggungnya Pielonefritis
 Berusaha menahan
sakit Pelepasan mediator
inflamasi
 P: nyeri pada saat
beraktivitas
Q: nyeri seperti Peradangan
terkena benda parenkim ginjal

tumpul atau ditusuk-


tusuk Merangsang pusat
sensori nyeri
R: punggung bagian
bawah
Nyeri menyebar ke
S:7-8 pinggang
T: hilang timbul
dalam beberapa Nyeri akut
menit sampai
beberapa jam
 Leukosit meningkat
: 13000mm³
(Normal : 5000-
10000mm³)

20
4. DS : Pielonefritis Gangguan Pola Eliminasi
Pasien mengatakan Urin : Poliuria
sering kencing. Pelepasan mediator
inflamasi
DO :
 Urin encer. Pelepasan histamin
 Pasien terlihat
sering BAK. Vasodilasi pembuluh
 Frekuensi urine darah
banyak : 2l/hari
(normal : 1,2L- Peningkatan aliran
1,5L/hari) darah pembuluh

 Bau menyengat. renal

Peningkatan suplai
darah filtrasi

Peningkatan GFR

Pemekatan urine
menurun

Terbentuk urine
encer

Poliuria

21
5. DS : Pielonefritis Hipertermi
Pasien mengatakan
badannya demam. Reaksi inflamasi

DO : Pelepasan mediator
 Kulit klien terasa inflamasi
hangat
 Kulit tampak merah Pelepasan endogen
 Takikardi, takipnea pirogen

 TTV :
TD : 160/100mmhg Pengaktifan

(Normalnya 110- prostaglandin

125/60-70 mmHg)
Suhu : 38,5 oC Perangsangan pusat
thermostat di
(normal : 36,5 – 37,5 hipotalamus
0
C)
RR : 22x/menit Peningkatan suhu

(normal : 14-20x/ tubuh

menit)
Nadi : 106x/menit
(normal : 60-
100x/menit)

3. Diagnosa Keperawatan

1) Kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan penurunan transport


ke sel, dehidrasi.
2) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan penurunan kontraktilitas otot polos dan penurunan peristaltic.
3) Nyeri akut berhubungan dengan reaksi inflamasi dari infeksi ginjal.
4) Gangguan pola eliminasi urine (Poliuria) berhubungan dengan fungsi
pemekatan urin yang menurun.
5) Hipertermi berhubungan dengan respon imunologi terhadap infeksi.

22
4. Intervensi Keperawatan

Tujuan dan
No Dx Intervensi Rasional
Kriteria Hasil
1. Kekurangan  Tujuan : Setelah 1) Pantau pola 1) Untuk
volume cairan dilakukan berkemih. mengetahui
tubuh tindakan perubahan pola
berhubungan keperawatan 2 x 2) Ukur dan catat berkemih.
dengan 24 jam volume produksi urine
penurunan cairan terpenuhi setiap kali 2) Mengtahui

transport ke sel, dengan baik berkemih. adanya

dehidrasi. perubahan
 Kriteria hasil :
3) Pantau membran warna dan untuk
 Klien tidak mukosa yang mengetahui
merasakan kering dan turgor input dan
haus lagi baik kulit yang output.

siang maupun kurang baik.

malam 3) Turgor kulit


4) Pantau rasa haus yang kurang
 Memiliki
yang berlebih. baik
keseimbangn
memperkuat
asupan dan
5) Kolaborasi tanda dehidrasi
haluaran yang
dengan .
seimbang
pemberian terapi 4) Rasa haus yang
dalam 24 jam.
cairan sesuai berlebih
indikasi. memperkuat
tanda-tanda
dehidrasi.

5) Membantu
mempercepat
proses
penyembuhan
pasien.

23
2. Ketidakseimbang  Tujuan : Setelah 1) Kaji status 1) Pengkajian
an nutrisi kurang dilakukan nutrisi klien. penting
dari kebutuhan tindakan dilakukan untuk
tubuh keperawatan 2) Jaga kebersihan mengetahui
b.dpenurunan 2x24 jam pasien mulut, anjurkan status nurisi
kontraktilitas otot merasa nafsu untuk selalu klien sehingga
polos dan makan bertambah melakukan oral dapat
penurunan dan intake nutrisi hygine. menentukan
peristaltic. bertambah. intervensi yang
3) Berikan permen diberikan.
 Kriteria Hasil :
karet, penyegar
 Intake nutrisi
mulut di antara 2) Mulut yang
tercukupi.
makan. bersih dapat
 Asupan dan
meningkatkan
makanan
4) Delegatif nafsu makan.
tercukupi.
pemberian nutrisi
 Klien
yang sesuai 3) Membantu
mengalami
dengan menyegarkan
peningkatan
kebutuhan klien. rasa mulut yang
berat badan.
sering tidak
5) Beri informasi nyaman.
yang tepat
terhadap klien 4) Untuk
tentang membantu
kebutuhan nutrisi memenuhikebut
yang tepat dan uhan nutrisi
sesuai. yang
dibutuhkan
6) Anjurkan klien klien.
untuk
mengkonsumsi 5) Informasi yang
makanan tinggi diberikan dapat
zat besi seperti memotivasi

24
sayuran hijau. klien untuk
memenuhi
7) Anjurkan klien intake nurisi.
makan sedikit
demi sedikit tapi 6) Zat besi dapat
sering. membantu
tubuh sebagai
8) Timbang berat zat penambah
badan klien jika darah sehingga
memungkinkan mencegah
dengan teratur. terjadinya
anemia atau
kekurangan
darah.

7) Makan sedikit
demi sedikit
dapat
meningkatkan
intake nutrisi.

8) Dengan
menimbang
berat badan
dapat memantau
peningkatan dan
penurunan
status gizi.

3. Nyeri akut  Tujuan : Setelah 1) Observasi TTV. 1) Untuk


berhubungan dilakukan mengetahui
dengan reaksi tindakan 2) Kaji intensitas, keadaan umum
inflamasi dari keperawatan lokasi, dan factor klien.

25
infeksi ginjal. selama 1x24 jam yang
nyeri klien memperberat 2) Rasa sakit yang
berkurang dan atau hebat
hilang. meringankan menandakan
nyeri. adanya infeksi.
 Kriteria hasil :
3) Berikan waktu 3) Klien dapat
 Klien
istirahat yang istirahat dengan
mengetahui
cukup dan tenang dan
penyebab
tingkat aktivitas dapat
terjadinya
yang dapat di merilekskan
nyeri.
toleran. otot – ototnya.
 Klien
mengetahui
4) Anjurkan minum 4) Untuk
cara untuk
banyak 2-3 liter membantu klien
menghilangkan
jika tidak ada dalam
nyeri.
kontra indikasi. berkemih.
 Klien mampu
melakukan
5) Catat lokasi, 5) Membantu
cara untuk
lamanya mengevaluasi
menghilangkan
intensitas skala tempat obstruksi
nyeri dengan
(1-10) dan penyebab
relaksasi dan
penyebaran nyeri.
distraksi.
nyeri.
 Klien terlihat
6) Meningkatkan
rileks.
6) Berikan tindakan relaksasi,
 Klien
nyaman, menurunkan
mengatakan
lingkungan tegangan otot.
nyeri
istirahat.
berkurang.
7) Temuan-
 Skala nyeri 0-3
7) Kolaborasi: temuan ini dapat
Konsul dokter memeberi tanda
bila sebelumnya kerusakan

26
kuning gading- jaringan lanjut
urine kuning, dan perlu
jingga gelap, pemeriksaan
berkabut atau luas.
keruh. Pola
berkemih
berubah, sring
berkemih dengan
jumlah sedikit,
perasaan ingin
kencing, menetes
setelah
berkemih. Nyeri
menetap atau
bertambah sakit.

4. Gangguan pola  Tujuan : Setelah 1) Ukur dan catat 1) Untuk


eliminasi urine dilakukan tindakan urine setiap kali mengetahui
(Poliuria) keperawatanselam berkemih. adanya
berhubungan a 1x24 jam perubahan
dengan fungsi diharapkan pola 2) Anjurkan untuk warna dan untuk
pemekatan urin eliminasi urine berkemih setiap mengetahui

yang menurun. klien kembali 2 – 3 jam. input/output.

normal.
3) Palpasi kandung 2) Untuk
kemih tiap 4 jam. mencegah
 Kriteria Hasil :
terjadinyapenu
 Klien 4) Bantu klien mpukan urine
mengetahui mendapatkan dalam vesika
penyebab posisi berkemih urinaria.
gangguan pola yang nyaman.
eliminasi urin. 3) Untuk
 Klien 5) Observasi mengetahui
mengetahui perubahan status adanya distensi

27
cara untuk mental:, perilaku kandung kemih.
mengatasi atau tingkat
gangguan pola kesadaran. 4) Supaya klien
eliminasi urin. tidak sukar
 Klien mampu 6) Kolaborasi: berkemih.
melakukan Awasi-
cara mengatasi pemeriksaan 5) Akumulasi sisa

gangguan pola laboratorium; uremik dan

eliminasi urin. elektrolit, BUN, ketidakseimban

 BAK normal, kreatinin gan elektrolit

3-6x/hari (Pengawasan dapat menjadi

dengan terhadap toksik pada

frekuensi 1,2L- disfungsi ginjal, susunan saraf

1,5L/hari. Lakukan pusat.

 Urin tidak tindakan untuk

terlalu encer. memelihara asam 6) Asam urin


urin:tingkatkan menghalangi
 Tidak ada
masukan sari tumbuhnya
distensi
buah berri dan kuman.
kandung
berikan obat-obat Peningkatan
kemih.
untuk masukan sari
meningkatkan buah dapt
asam urin). berpengaruh
dalm
pengobatan
infeksi saluran
kemih.

5. Hipertermi  Tujuan : Setelah 1) Pantau 1) Tanda vital


berhubungan dilakukan suhu tubuh klien. dapat
dengan respon tindakan menandakan
imunologi keperawatan 2) Pantau suhu adanya
terhadap infeksi. selama lingkungan. perubahan di
selama 1x24 jam dalam tubuh.

28
diharapkan suhu 3) Berikan kompres
tubuh menurun. mandi hangat, 2) Suhu ruangan
hindari dan jumlah
 Kriteria hasil : penggunaan selimut harus
 Klien alcohol. diubah untuk
mengetahui mempertahankan
penyebab suhu 4) Kolaborasi: suhu mendekati
tubuh Berikan normal.
meningkat. antipiretik
 Klien misalnya aspirin, 3) Dapat
mengetahui asetaminofen membantu

cara mengatasi (Tylenol). mengurangi

hipertermi. demam. Catatan


: penggunaan air
 Klien mampu
es / alcohol
melakukan
mungkin
cara mengatasi
menyebabkan
hipertermi.
kedinginan,
 Klien tampak
peningkatan
rileks.
suhu secara
 TTV normal
actual. Selain
TD : normal
itu alcohol dapat
110-125/60-
mengeringkan
70 mmHg
kulit.
Suhu : 36,5 –
37,5 oC
4) Digunakan
RR : 14-
untuk
20x/menit
mengurangi
Nadi: 60-
demam dengan
100x/menit
aksi sentralnya
pada
hipotalamus.

29
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pielonefritis merupakan infeksi bakteri yang menyerang ginjal yang
sifatnya akut maupun kronis. Penyebab pielonefritis ini adalah berbagai.
uropatogen adalah agen bakteri yang meliputi Escherichia coli, klebsilla, proteus,
dan staphylococcus aureus.
Infeksi saluran kemih terutama pada kondisi statis kemih akibat batu
saluran kemih, refluks vesikoureter dan penurunan imunitas pada proses penuaan.
Dari kasus diatas dapat dilakuakan pengkajian. Gejala pada klien dengan
pielonefritis biasanya timbul secara tiba-tiba berupa demam, menggigil, nyeri di
punggung bagian bawah.

B. Saran
1) Teori
Diharapkan makalah ini sebagai sumber ilmu untuk mempelajari tentang
asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan sistem perkemihan
(Pielonefritis)
2) Praktisi
Diharapkan makalah ini menambah wawasan untuk menerapkan intervensi di
kehidupan sehari-hari.

30
DAFTAR PUSTAKA

Baradero, Mary et al. 2008. Klien Gangguan Ginjal : Seri Asuhan Keperawatan. Jakarta
: EGC.

Barbara Kuhn Timby., &Smith, Nancy E. 2007.Introductory Medical-Surgical Nursing.


Lippincott William and Wilkin.

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, alih bahasa:
Waluyo Agung., Yasmin Asih., Juli., Kuncara., I.made karyasa. Jakarta : EGC.

Doenges, M.E.,Moorhouse dan M.F.,Geissler A.C.,2000.Rencana Asuhan Keperawatan,


Edisi 3. Jakarta: EGC.

Hidayat, A. Aziz Alimul. 2008.Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: Salemba


Medika.

J.C.E.Underwood. 2002. Patologi Umum dan Sistemik. Sarjadi : Editor. Jakarta: EGC.

Kowalak, Jennifer P. 2011. Buku Ajar Patofisiologi.Jakarta : EGC.

Nguyen H.T. 2004. Bacterial Infections of the Genitourinary Tract In : Tanagho E.A.,
McAninch J.W. Editors: Smith’s General Urology. 16th ed. Singapore:
McGraw-Hill Companies. p. 203-18.

Price, A. Wilson. 2005. Patofisiologi Konsep Proses-Proses Penyakit, Edisi 4. Jakarta :


EGC.

Syamsuhidayat, R., Jong, W.D. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi II. Jakarta : EGC.

Tambayong, jan. 2000.Patofisiologi Untuk Keperawatan.Jakarta : EGC.

Widagdo. 2012. Masalah Dan Tatalaksana Penyakit Anak Dengan Demam. Sagung Seto
: Jakarta.

Wilkinson, Judith M. 2006.Buku Saku Diagnosa Keperawatan.Edisi 7. Jakarta : EGC.

31