Vous êtes sur la page 1sur 8

1

PENDAHULUAN

Kehidupan harmoni, damai, nirkekerasan adalah dambaan semua orang di muka bumi, tak
terkecuali kita yang hidup di Indonesia. Namun kondisi ideal tersebut tak selamanya dapat kita nikmati
bersama. Konflik, pertikaian, bahkan perang masih kerap meletus di berbagai belahan dunia. Di Indonesia,
meski tidak sampai terjadi perang, konflik dan pertikaian bahkan hingga memakan korban masih kerap
terjadi. Ini artinya kita masih dalam suasana tidak damai secara permanen.
Kita masih berada dalam kondisi damai negatif (negative peace), tidak ada perang, tetapi belum
beranjak pada kondisi damai positif (positive peace) dimana potensi adanya konflik dan juga perang tidak
ada lagi. Artinya kita masih harus bekerja keras untuk mencapai situasi dan kondisi damai yang
sesungguhnya. Salah satu upaya yang dilakukan oleh jajaran Polres Klungkung adalah mengelola
kekuatan kearifan lokal sebagai penguat daya cegah dan daya tangkal masyarakat terhadap pengaruh
eksternal yang mengancam integrasi bangsa.
Berbicara tentang “kearifan lokal” serta-merta alur berpikir kita mengarah kepada akar-rumput
(grass-root), dimana setiap komunitas masyarakat lokal pastilah memiliki norma dan adat budaya yang
mengikat mereka, yang lebih dikenal dengan kekuatan adat atau hukum adat.
Peran adat dalam banyak peristiwa mampu menjadi solusi kebuntuan suatu perkara sosial dimana
hukum positif dinilai kurang maksimal menawarkan jalan keluar yang memuaskan kumpulan banyak orang.
Kekuatan yang terkandung dalam norma-norma adat ini pun seringkali bisa menjadi entry-point untuk
melakukan sebuah pendekatan yang sinergis dalam menyukseskan sebuah gerakan perbaikan dalam
sebuah komunitas atau masyarakat tertentu. Pemahaman dan penghargaan terhadap norma-norma adat
akan membantu sebuah proses yang sedang dijalankan oleh suatu organisasi. Itu adalah satu sisi dari
“mata uang” kekuatan adat.
Sisi lainnya menyodorkan sebuah “gambar buram” saat kekuatan adat “dimanfaatkan” untuk
kepentingan parsial yang meminggirkan kepentingan masyarakat luas. Konflik-konflik horisontal berlatar-
belakang adat cukup mudah ditemui di berbagai penjuru negeri kita. Kepentingan adat yang menjadi latar
belakang konflik sebagian besar bias (ambigu) saat berbenturan dengan kepentingan masyarakat luas.
Kondisi inilah yang kami sebut, bahwa kearifan lokal sebagai benteng terbuka. Di satu sisi kearifan lokal
mampu memperkuat daya cegah dan daya tangkal komunitas, mampu memperkuat integrasi bangsa.
Namun di sisi yang lain, kearifan lokal juga rawan menjadi “pintu terbuka” masuknya upaya-upaya
pelemahan komunitas yang pada akhirnya bisa memicu disintegrasi bangsa.

2
Jika setiap komunitas dan masyarakat di negeri ini mampu mengoptimalkan serta memberdayakan
kearifan lokal yang dimilikinya, sudah pasti akan muncul “ketahanan” masyarakat yang sangat hebat dalam
memerangi perilaku negatif anggotanya yang disebabkan oleh berbagai faktor pemicu yang bersumber dari
masalah-masalah sosial, politik, hukum, adat budaya dan keamanan. Begitu juga sebaliknya, jika kearifan
lokal ini dipahami secara sempit maka akan muncul masalah-masalah yang berpotensi memicu konflik
horizontal dan vertikal, yang pada perkembangannya akan mengganggu keutuhan bangsa.
Keragaman bangsa Indonesia dengan lebih dari 491 etnis, 567 bahasa dan dialek, aneka agama
dan berbagai kelompok merupakan ciri khas dan modal sosial bangsa yang perlu dijaga dan dikelola
secara baik agar tidak menjadi sumber dan pemicu konflik, kekerasan dan pertikaian. Bhineka Tunggal Ika
sebagai semboyan Negara yang menjadi SIMBOL dari semangat kebangsaan yang menyatukan ribuan
kekhasan lokalitas yang berbeda-beda di tanah air tercinta.
*****

3
BENTENG KUAT BERNAMA KEARIFAN LOKAL

Seperti yang telah diuraikan pada awal paparan, bahwa kearifan lokal (baca: peran adat) memiliki
“dua wajah” yang memiliki kekuatan seimbang. Jika kita mampu mengelolanya dengan baik, maka kearifan
lokal akan menyodorkan kebaikan untuk kepentingan banyak orang. Sebaliknya, jika gagal mengelola
dengan baik, maka kearifan lokal bisa berubah peran menjadi sumber pemicu konflik horisontal. Paparan
ini mengandung misi pendidikan perdamaian, yang tak berhenti pada tataran konsep maupun ide.
Melainkan bagaimana gagasan dan konsep tentang perdamaian itu disebarkan, ditanamkan, dan
ditumbuhkan di tengah-tengah masyarakat. Sebab segala sesuatu memang harus dirawat. Sebagaimana
tanaman yang ada di kebun kita tak akan tumbuh dan besar manakala kita biarkan tanpa perawatan dan
kepedulian. Begitu juga dengan nilai, sikap dan perilaku dalam masyarakat, kesemuanya itu tak akan
tumbuh jika tidak disebarkan melalui dialog, melalui interaksi intens, serta melalui pendidikan perdamaian.
Pendidikan model ini bukanlah pekerjaan filosofis, melainkan sebuah praktik di kehidupan nyata (applied
science).
Upaya-upaya melakukan sebuah praktik di keseharian masyarakat untuk merawat dan mengelola
perdamaian dan harmoni yang baik, diwujudkan melalui program-program seperti Pecalang Kamtibmas,
Polisi Menyama Braya, Sambang Pagi, Gowes Kamtibmas, No-Bar, Living In dan program
Memerangi Narkoba dengan Benteng Kearifan Lokal yang telah dijalankan jajaran Polres Klungkung.
Salah satu contoh kasus dimana kearifan lokal menjalankan perannya menjadi benteng kuat
masyarakat adalah pada upaya Memerangi Narkoba dengan Benteng Kearifan Lokal, masyarakat Bali
memiliki kearifan lokal yang sangat kuat, yakni hukum adat yang hingga kini terbukti masih sangat
berpengaruh pada tata kehidupan semeton Bali. Kita layak menaruh keyakinan tinggi, bahwa peran
masyarakat adat sangat besar dalam mempersempit ruang gerak peredaran gelap narkotika di wilayah
Klungkung. Dengan adanya perarem atau awig-awig yang menolak narkotika dan penyalahgunaannya di
setiap adat, maka program pemerintah memerangi narkotika akan mendapatkan tambahan kekuatan
hukum yang sangat besar dan menentukan.
Jika seluruh desa adat di wilayah Klungkung nantinya memiliki kesamaan visi dan misi untuk
memerangi narkotika, maka hal itu akan bisa dijadikan tonggak penting kebangkitan kearifan lokal yang
akan menyebar ke seluruh penjuru wilayah Bali. Perarem dan awig-awig desa adat merupakan produk
hukum yang tumbuh dari bawah, secara sosiologis memiliki legitimasi yang kuat dalam menata kehidupan
masyarakat adat.

4
Sejak jaman dulu perarem serta awig-awig berfungsi sebagai alat kontrol sosial dimana produk
hukum adat tersebut mampu mengontrol perilaku krama desa dan menciptakan kesesuaian perilaku
masyarakat, baik secara preventif maupun represif.
Dengan kekuatan hukum sebesar itu, sangatlah logis dan realistis jika kita meyakini upaya untuk
mempersempitkan bahkan memberantas peredaran gelap narkotika di wilayah Klungkung akan berhasil
dengan mengedepankan kearifan lokal yakni dengan memasukkan pasal-pasal anti narkotika ke dalam
perarem dan awig-awig desa adat yang menolak segala bentuk peredaran gelap narkotika.
Perang melawan narkoba dengan benteng kearifan lokal inilah yang kita harapkan mampu
menggandeng daerah-daerah lainnya untuk aktif melindungi wilayah dan masyarakatnya dari
penyalahgunaan narkoba. Perjuangan kita saat ini adalah untuk masa depan anak-anak kita, masa depan
budaya kita, masa depan daerah kita, juga masa depan negara dan bangsa kita. Inilah “perang candu” di
era digital. Inilah perang kita bersama, demi keselamatan penduduk Bali, demi keselamatan penduduk
Indonesia, serta demi keselamatan ummat manusia di muka bumi ini.

PINTU TERBUKA BERNAMA KEARIFAN LOKAL

Membaca laporan “Data Kasus Adat yang Potensial Menimbulkan Konflik Horisontal dan
Vertikal di Kabupaten Klungkung dari tahun 2004 – 2016”, kita akan memperoleh gambaran konkrit
dimana kearifan lokal (kekuatan adat) menjalankan peran antagonisnya sebagai pintu terbuka yang
menjadi awal kemunculan sebuah masalah di komunitas adat yang berpotensi memunculkan konflik
horisontal dan vertikal.
Salah satu contoh kasus yang menarik terjadi pada Februari 2015 di Desa Pekraman Pancingan,
Kusamba, Kecamatan Dawan Klungkung. Latar belakangnya adalah adanya keinginan Desa Pekraman
Pancingan untuk menghapus Banjar Manggis sebagai bagian dari Desa Pekraman Pancingan. Langkah ini
diikuti dengan pelarangan bagi warga Banjar Manggis untuk melaksanakan penguburan dan kegiatan
persembahyangan di Pura Dalem.
Imbasnya terjadi konflik horisontal antara warga Banjar Manggis dengan warga Desa Pekraman
Pancingan. Mediasi dilakukan oleh MMDP serta Muspida melibatkan Prajuru Adat Banjar Pancingan dan
Banjar Manggis, namun masih belum ada penyelesaian di antara kedua belah pihak. Pada kondisi ini
jajaran Polres Klungkung melakukan upaya-upaya Sambang Warga kepada dua belah pihak yang

5
berkonflik, melakukan patroli rutin mengantisipasi kerawanan yang mungkin muncul setiap saat, serta
melakukan pendekatan kepada tokoh-tokoh agama dan masyarakat dari kedua pihak yang bersengketa.
Banyak isu beredar di seputar permasalahan adat ini, mulai dari isu pemekaran desa untuk
mengantisipasi UU Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa, serta beberapa isu lainnya, yang sudah pasti
membuat resah masyarakat kedua belah pihak.
Pemda serta aparat keamanan selalu bersikap hati-hati dalam setiap permasalahan adat seperti
ini, disini segenap aparat harus bekerja ekstra keras menjalankan langkah-langkah yang dinamis dalam
rangka pencegahan dan mengupayakan resolusi konflik secara baik dan tegas, karena kondisi riil sebuah
konflik sangat kompleks dan rentan bagi semua pihak. Aparat kepolisian menjadi garda terdepan dalam
proses menetralisir konflik yang sedang berkembang.
Eskalasi akan terjadi ketika derajat konflik meningkat, ketegangan meluas dan memobilisasi
massa. Kondisi ini kemudian diikuti dengan terjadinya krisis pada seluruh pihak yang berkepentingan untuk
menyelesaikan konflik. Bisa pula akan berlanjut dalam bentuk jatuhnya korban akibat kekerasan terbatas
ataupun akibat kekerasan massal.
Eskalasi yang terus meningkat akan memberikan pengaruh terhadap terjadinya pembangunan
konflik. Begitu juga sebaliknya jika eskalasi telah dapat dideteksi dan dikendalikan, misalnya dengan
musyawarah atau pertemuan untuk menyelesaikan konflik sehingga krisis mulai teratasi, ketegangan dan
mobilisasi dapat dikendalikan. Kondisi tersebut adalah proses de-eskalasi konflik yang akan mendorong
terjadinya pembangunan perdamaian. Akan tetapi menurunnya tingkat eskalasi tidak serta-merta akan
menjadikan konflik selesai. Masih ada beberapa komponen lainnya yang dapat mendorong terjadinya
konflik susulan. Sehingga dapat dibayangkan betapa banyak energi, sumber daya, dan waktu yang harus
dikorbankan untuk merancang sebuah solusi terbaik dari satu konflik saja. Hal ini adalah “gambar buram”
jika kita tidak berhasil mengelola secara baik kekuatan kearifan lokal yang ada dalam masyarakat.
Kunci utama dalam mencegah dan menangani konflik terletak pada kecermatan dalam
mendeteksi eskalasi konflik, kemudian melakukan upaya untuk melakukan de-eskalasi konflik. Selanjutnya
dibutuhkan ketajaman analisis dari faktor penyebab konflik yang dilanjutkan dengan kemampuan untuk
memperkuat aktor fungsional, meredam provokator, dan mengontrol kelompok-kelompok rentan.
Hal berikutnya adalah kemampuan dalam menjalin koordinasi yang efektif dengan seluruh
elemen pemangku kepentingan (stakeholder) supaya konflik dapat dihentikan. Pada akhirnya adalah
bagaimana berdasarkan regulasi yang ada para pemimpin mampu melakukan manuver, inisiatif dan

6
melakukan suatu keputusan untuk menghentikan konflik dan mencegah konflik menyebar, jika tercapai
de-eskalasi konflik maka harus dijaga dengan baik sehingga tidak muncul konflik yang berulang.

PENUTUP

Menjaga, merawat serta menumbuhkan harmoni dan perdamaian sesungguhnya lebih indah
daripada memulihkan, mengobati dan menciptakan ulang harmoni dan perdamaian yang menuntut begitu
banyak pengorbanan. Kearifan lokal (kekuatan adat) yang memiliki dua wajah protagonis dan antagonis
menyodorkan pilihan bagi kita dalam menyikapi keberadaannya.
Saat kita memilih untuk merawat dan menjaganya untuk kepentingan banyak orang, maka yang
akan kita jalankan adalah sebuah proses kerja praktik menyebarkan, mengajarkan, serta menumbuhkan
harmoni dan perdamaian. Dimana proses di dalamnya akan didominasi oleh keindahan multidimensi,
penuh harmoni.
Saat kita memilih untuk mengabaikan dan memanipulasinya untuk kepentingan sebagian orang,
maka yang akan kita temukan adalah kegaduhan yang rumit, kompleks, serta menguras banyak sumber
daya, energi dan pikiran untuk menemukan sebuah jalan keluar yang bernama perdamaian.
Dialog adalah “an act of shaking hand”, tindakan berjabat-tangan. Jabat tangan adalah tindakan
fisik yang tampak sederhana, tetapi melalui analisis “thick description” ala Clifford Geertz, bisa memiliki
makna tebal dan mendalam. Saat dua orang terlibat dalam konflik, lalu berjabat-tangan, itu pertanda
bahwa konflik telah diakhiri, atau sekurang-kurangnya mulai mereda pelan-pelan. Dialog adalah tindakan
jabat tangan semacam itu.
*****

Klungkung, 15 Maret 2017

FX Arendra Wahyudi, SIK


Kapolres Klungkung

7
Referensi Paparan:
Revolusi Mental: “Makna dan Realisasi,” Seri Pertama, Himpunan Psikologi Indonesia, 2016.
“Perang Melawan Narkoba dengan Benteng Kearifan Lokal,” Polres Klungkung, 2016
Program Living In: “Membangun Daya Cegah dan Daya Tangkal Masyarakat Nusa Lembongan dan
Nusa Ceningan,” Polres Klungkung, 2016.
“Data Kasus Adat yang Potensial Menimbulkan Konflik Horisontal dan Vertikal di Kabupaten
Klungkung Tahun 2004 – 2016”, SatIntelKam Polres Klungkung, Juli 2016.