Vous êtes sur la page 1sur 39

MARKAS BESAR TENTARA NASIONAL INDONESIA

AKADEMI TNI

BAHAN AJAR
Tentang

WAWASAN NUSANTARA

Untuk

TARUNA AKADEMI TNI DAN AKADEMI KEPOLISIAN


(DIKSAR INTEGRASI KEMITRAAN)

Nomor: 02-03-A1-A 004

DISAHKAN DENGAN KEPUTUSAN DANJEN AKADEMI TNI


NOMOR KEP/ 66 / IV / 2015
DILARANG MEMPERBANYAK / MENGUTIP TANPA IZIN DANJEN AKADEMI TNI
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
Hal
1. Umum ……………………………………………………………………………… 1
2. Maksud dan Tujuan ………………………………………………………………. 2
3. Ruang Lingkup ……………………………………………………………………. 2
4. Pengertian-pengertian ……………………………………………………………. 2

BAB II TINJAUAN WAWASAN NUSANTARA


5. Umum ……………………………………………………………………………… 3
6. Tinjauan Teori …………………………………………………………………….. 3
7. Tinjauan Sejarah …………………………………………………………………. 12
8. Tinjauan Budaya ………………………………………………………………….. 15
9. Tinjauan Wilayah …………………………………………………………………. 17
10. Evaluasi ……………………………………………………………………………. 20

BAB III KONSEPSI WAWASAN NUSANTARA


11. Umum ……………………………………………………………………………… 21
12. Dimensi Pemikiran ……………………………………………………………... 21
13. Wawasan Nusantara sebagai Landasan Visional Bangsa …………............... 22
14. Hakekat Wawasan Nusantara …………………………………………………... 24
15. Asas Wawasan Nusnatara ………………………………………………………. 24
16. Arah Pandang ………………………………………………………..................... 25
17. Kedudukan, Fungsi dan Tujuan ………………………………………………... 25
18. Hubungan dengan Kepentingan Nasional …………………………………..... 26
19. Evaluasi ……………………………………………………………………………. 26

BAB IV WAWASAN NUSANTARA DALAM KEHIDUPAN NASIONAL


20. Umum …………………………….………………………………………………... 27
21. Aktualisasi Wawasan Nusantara ………………………………………………... 27
22. Sosialisasi Wawasan Nusantara ………………………………………………... 29
23. Implikasi Wawasan Nusantara ………………………………………………….. 32
24. Evaluasi ……………………………………………………………………………. 36

BAB V EVALUASI AKHIR PELAJARAN


25. Evaluasi Akhir …………………………………………………………………… 36

BAB VI PENUTUP

26. Penutup ……………………………………………………………………………. 37


WAWASAN NUSANTARA

BAB I

PENDAHULUAN

1. Umum.

a. Bangsa, menurut Ernest Renan, adalah jiwa yang mengandung kehendak


bersatu (Le Desir d'etre Ensamble). Sementara itu, menurut Bung Hatta (BPUPKI,
1945), bangsa adalah himpunan masyarakat yang memiliki keinsyafan sebagai
suatu persekutuan yang tersusun menjadi satu, karena percaya atas persamaan
nasib dan tujuan. Keinsyafan dimaksud semakin kuat karena faktor jasa atau
perjuangan bersama, kesengsaraan bersama, juga sebagai akibat kesamaan
sejarah yang tertanam dalam hati dan otak. Sedangkan Bung Karno (BPUPKI
1945) memperluas pengertian "bangsa" sebagai himpunan masyarakat yang
bersama-sama tinggal di dalam satu wilayah yang merupakan satu kesatuan
Geopolitik. Dari ketiga tokoh di atas diperoleh pemahaman bahwa bangsa secara
esensial ditentukan oleh empat kriteria penentu yaitu, pertama, kehendak secara
sadar (keinsyafan) untuk bersatu;. kedua, memiliki tujuan hidup yang sama; ketiga,
memiliki latar belakang sejarah yang sama; dan keempat, adalah wilayah yang
menjadi satu kesatuan ruang hidup. Keempat kriteria di atas memperjelas makna
bahwa bangsa tidak terbentuk oleh kesamaan budaya adat istiadat, agama, daerah
asal, atau berbagai kesamaan ciri lahiriah semata.

b. Bangsa memiliki kehidupan dinamis, terus berkembang dan bergerak maju


untuk mengejar tujuan serta cita-cita hidupnya. Bangsa senantiasa bercita-cita untuk
hidup sepanjang masa, dan mencapai kehidupan yang semakin sejahtera. Oleh
karena itu setiap bangsa di dunia akan selalu memiliki visi atau pandangan jauh ke
depan yang akan menjadi pedoman di dalam setiap langkah guna mencapai tujuan
serta mewujudkan cita-cita hidupnya. Namun demikian, setiap bangsa memiliki ciri
masing-masing secara khas dalam menetapkan visinya, atau cara memandang
dirinya sebagai satu bangsa.

c. Sadar akan kenyataan di atas, dan didasari oleh kehendak bersama untuk
hidup sebagai satu bangsa, serta tinggal dalam satu wilayah negara, yaitu Negara
Kesatuan Republik Indonesia, dengan Pancasila sebagai dasar negara dan
falsafah bangsa, perlu dirumuskan pedoman dasar yang akan menjadi wawasan
atau acuan dalam menciptakan kehidupan bersama yang harmonis dari sega!a
perbedaan yang ada. Pedoman tersebut, sekaligus menjadi wawasan atau cara
pandang (outlook) yang berlingkup nasional, dimaksudkan untuk membimbing
langkah setiap individu dan segenap komponen bangsa Indonesia, demi terjaga
dan terpeliharanya persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah negara,
sekaligus memposisikan diri di tengah suasana lingkungan yang senantiasa
berubah. Kesemuanya itu demi upaya mencapai tujuan nasional dan terwujudnya
cita-cita nasional Indonesia, sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan UUD
1945.
2

2. Maksud dan Tujuan

a. Maksud. Naskah Sekolah Sementara (NSS) Wawasan Nusantara ini


disusun dengan maksud dijadikan sebagai Bahan Ajar (Hanjar) untuk Serdik/
Taruna pada Pendidikan Dasar Integrasi Kemitraan Taruna Akademi TNI dan
Taruna Akademi Kepolisian.

b. Tujuan. Agar Serdik/ Taruna mengetahui tentang Wawasan Nusantara


sebagai bekal kelak dalam penugasan di Satuannya sebagai Prajurit TNI dan
Bhayangkara Polri.

3. Ruang lingkup. Naskah bahan pelajaran ini disusun dengan tata urut sebagai
berikut :
a. Pendahuluan.
b. Tinjauan Wawasan Nusantara.
c. Konsepsi Wawasan Nusantara.
d. Wawasan Nusantara dalam Kehidupan Nasional.
e. Evaluasi.
f. Penutup.

4. Pengertian-pengertian

a. Wawasan diartikan sebagai pandangan atau cara pandang (outlook)


yang mengandung paham tentang sesuatu secara jelas, utuh dan menyeluruh,
serta dipengaruhi faktor-faktor subjektif.

b. Wawasan Nasional mengandung pengertian terkait dengan bangsa


(nation) sebagai subjek, dengan demikian akan memperjelas keterkaitan dan
pengaruh baik faktor-faktor objektif (kondisi dan konstelasi negara kepulauan,
berbagai ragam perbedaaan ciri budaya penduduk, sejarah bangsa) maupun
faktor-faktor subjektif yaitu tujuan dan cita-cita nasional, filosofi bangsa dan
kepentingan nasional.

c. Wawasan Nusantara yang merupakan Wawasan Nasional yang


bersumber pada Pancasila dan berdasarkan UUD 1945, yaitu Carapandang dan
sikap bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungannya dengan
mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah dalam
menyelenggarakan kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara untuk
mencapai tujuan nasional.
3

BAB II

TINJAUAN WAWASAN NUSANTARA

5. Umum. Kebijakan penyelenggaraan pemerintahan akan tergantung pada


paham kekuasaan yang dianutnya sehingga kebijakan pengaturan dan
penyelenggaraan mengenai penduduk dan wilayah atau geopolitik suatu negara sebagai
potensi pendukung terselenggaranya kekuasaan, akan berbeda. Demikian pula paham
kekuasaan dan geopolitik Negara Kesatuan Republik Indonesia akan berbeda dengan
negara-negara lain di dunia. Secara internal, Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
masyarakatnya bercorak pluralistik, memungkinkan terjadinya perbedaan pandangan
terhadap kenegaraan tubuh bangsanya sendiri. Namun perbedaan tersebut tetap berada
pada koridor sebagai gambaran keanekaragaman, tidak berbeda pada hal-hal yang
prinsip tentang falsafah, tentang hakekat mendirikan negara. Untuk tetap menjamin
tidak terjadinya perbedaan yang prinsip, maka perlu adanya suatu cara pandang yang
sama di antara bangsa Indonesia terhadap dirinya dalam keterhubungannya dengan
negara (bangsa yang menegara).

Cara pandang yang sama terhadap dirinya yang serba terhubung dengan bangsa
dan negara merupakan visi bangsa (National Outlook) atau yang lebih dikenal sebagai
Wawasan Nasional. Wawasan Nasional suatu bangsa/negara dibentuk dan dijiwai oleh
geopolitik yang dianutnya. Selanjutnya Geopolitik diartikan sebagai suatu ilmu
penyelenggaraan negara yang kebijaksanaannya dikaitkan dengan masalah-masalah
geografi atau bumi di mana rakyat/bangsa tersebut berada yang dipengaruhi serta
diwarnai pula oleh : falsafah yang dianut, sosial budaya yang berkembang dan sejarah
yang dialami oleh rakyat/bangsa yang bersangkutan.

6. Tinjauan Teori Untuk membahas perkembangan teori Wawasan Nasional, kita


harus mempelajari/menggali teori atau pendapat para ahli/pemikir dari Barat, yang antara
lain :
a. Frederich Ratzel (1844-1904). Pada akhir abad ke 19, untuk pertama
kalinya Frederich Ratzel dalam bukunya Antropo Geography merumuskan
tentang ilmu Bumi politik sebagai hasil penelitiannya secara ilmiah dan universal
(tidak khusus suatu negara). Pokok-pokok ajarannya adalah sebagai berikut :

1) Pertumbuhan negara dapat dianalogikan dengan pertumbuhan


organisme yang memerlukan ruang hidup, melalui proses lahir, tumbuh,
berkembang, mempertahankan hidup, tetapi dapat juga menyusut dan mati.

2) Negara identik dengan suatu ruang ditempati oleh kelompok politik


dalam arti kekuatan. Makin luas potensi ruang tersebut, makin
memungkinkan kelompok politik itu tumbuh (Teori Ruang, Konsep Ruang).
4

3) Suatu bangsa dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya tidak


terlepas dari hukum alam. Hanya bangsa yang unggul saja yang dapat
bertahan hidup terus dan langgeng.

4) Semakin tinggi budaya suatu bangsa, semakin besar kebutuhan,


dukungan akan sumber daya alam yang diperlukan. Apabila wilayah/ruang
hidup tidak memenuhi/mendukung maka bangsa tersebut akan mencari
pemenuhan kebutuhan kekayaan alamnya di luar wilayahnya (ekspansi).
Hal ini membenarkan/melegitimasikan hukum ekspansi, yaitu :

a) Bahwa perkembangan atau dinamika budaya/kebudayaan


dalam bentuk-bentuk gagasan, kegiatan (ekonomi, perdagangan,
perindustri-an/produksi) harus diimbangi dengan pemekaran wilayah.

b) Batas-batas suatu negara pada hakikatnya bersifat sementara.


Apabila ruang hidup negara sudah tidak dapat memenuhi keperluan,
maka dapat diperluas dengan mengubah batas-batas negara baik
secara damai maupun melalui jalan kekerasan atau perang.

c) Ilmu Bumi Politik berdasarkan ajaran Ratzel tersebut


menimbulkan dua aliran, disatu pihak menitik beratkan pada kekuatan
di darat, dan kekuatan di laut. Ratzel melihat adanya persaingan
antara kedua aliran itu, sehingga ia mulai mengemukakan pemikiran
baru, yaitu dengan meletakkan dasar-dasar supra struktur Geopolitik,
yang meliputi : bahwa kekuatan total/menyeluruh suatu negara harus
mampu mewadahi pertumbuhan-nya dihadapkan pada kondisi dan
kedudukan geografi sekitarnya. Dengan demikian esensi pengertian
politik adalah penggunaan kekuatan fisik dalam rangka mewujudkan
keinginan atau aspirasi nasional suatu bangsa. Hal ini sering
menjurus ke arah politik adu kekuatan atau adu kekuasaan dengan
tujuan dominasi. Pemikiran Ratzel menyatakan bahwa ada kaitan
antara struktur politik atau kekuatan politik dengan geografi disatu
pihak, dengan tuntutan perkembangan atau pertumbuhan negara
yang dianalogkan dengan organisme (kehidupan politik) di lain pihak.

b. Rudolph Kjellen (1864-1922). Kjellen dalam bukunya Staten Som


Lifsfrom terbit tahun 1916 melanjutkan ajaran Ratzel tentang teori organisme.
Kjellen menegaskan, bahwa negara adalah suatu organisme yang dianggap
sebagai "prinsip dasar". Esensi ajaran Kjellen adalah sebagai berikut :

1) Negara sebagai satuan biologis, suatu organisme hidup, yang juga


memiliki intelektual untuk mencapai tujuan negara hanya dimungkinkan
dengan jalan memperoleh ruang yang cukup luas agar memungkinkan
pengembangan secara bebas kemampuan dan kekuatan rakyatnya.
5

2) Negara merupakan suatu sistem politik/pemerintahan yang meliputi


bidang-bidang yaitu : Geopolitik, Ekonomi politik, Demo politik, Sosial
politik dan Krato-politik (politik memerintah).

3) Negara tidak harus bergantung pada sumber pembekalan luar, tetapi


harus mampu berswasembada serta memanfaatkan kemajuan kebudayaan
dan teknologi untuk meningkatkan kekuatan nasionalnya yaitu :
a) Kedalam untuk mencapai persatuan dan kesatuan yang
harmonis.
b) Keluar untuk memperoleh batas-batas negara yang lebih baik.
c) Kekuasaan imperium kontinental dapat mengontrol kekuatan di
laut.

c. Nicholas J. Spykman (1893-1943). Spykman berpendapat bahwa


barang siapa ingin menguasai dunia maka dia harus menguasai daerah jantung
dunia. Penguasaan daerah jantung itu ada akses dengan daerah pantai. Ini berarti
negara-negara pantai sepanjang pulau dunia Eurasia harus dikuasai, mulai dari
negara Skandinavia, Eropa Barat, Pantai Laut Tengah, Asia Barat, Asia Selatan,
Asia Tenggara sampai dengan Asia Timur. Seluruh negara pantai Eurasia ini kalau
digabungkan bentuknya seperti bulan sabit. Teori Spykman ini sering disebut
"Teori bulan sabit". Teori ini dipraktekkan dengan baik oleh bangsa Inggris.
Oleh karena itu tidak heran apabila sejarah membuktikan bahwa Inggris berusaha
keras mendominasi Eropa Barat, bahkan sampai sekarang tetap menduduki
Gilbraltar yang merupakan bagian dari Spanyol. Terusan Suez, Mesir, Negara-
negara teluk, Iran, Iraq, India, Pakistan, Bangladesh, Singapura, Malaysia, Makao
dan Hongkong pernah dijajah oleh Inggris. Bahkan Belanda pernah berbuat
kesalahan besar, karena daerah strategis pulau Singapura ditukar dengan propinsi
Bengkulu.

d. Sir Halford Mackinder (1861-1947). Menurut dia, barang siapa


(negara atau bangsa) ingin menguasai dunia, maka dipersyaratkan untuk
menguasai "daerah jantung dunia". Yang dia maksud daerah jantung adalah
Eropa Timur (negara Uni Soviet Eropa, dan eks negara Pakta Warsawa). Teori
ini dinamakan Teori Daerah Jantung, yang menganggap daerah tersebut sangat
strategis untuk bisa menguasai pulau Eurasia (Eropa-Asia) yang pada awal
abad XX seolah-olah merupakan pusat kegiatan dunia. Penganut teori ini
bukan Inggris darimana Mackinder berasal, melainkan negara Jerman Nazi yang
memotivasi daerah jantung pada Perang Dunia II. Begitu juga Uni Soviet yang
membentuk Pakta Warsawa.

e. Karl Haushofer (1869-1946). Jenderal Haushofer yang pernah


menjabat atase Pertahanan Jerman di Jepang, pernah meramal bahwa Jepang
pada suatu saat akan menjadi negara jaya di dunia. Sebagai seorang yang
wawasannya luas Haushofer percaya negara jaya (adijaya) itu harus menguasai
6

benua-benua dunia. Dia berpendapat bahwa pada hakekatnya dunia ini dapat
dibagi dalam empat kawasan benua (Pan Region), yang masing-masing patut
diserahkan kepada negara jaya di dalamnya. Oleh karena itu mazhab ini sering
disebut "mashab Panregionalisme".

Pan Region I yaitu benua Asia dan Australia di kurangi Asia Selatan atau
sering disebut Asia Timur Raya diserahkan saja kepada jagonya yaitu dari
negara kekaisaran Jepang. Aliran Pan regional ini telah diterapkan dengan
baik oleh Jepang yang berusah untuk menduduki seluruh Asia Timur, Asia
Tenggara, pulau-pulau Melanesia dan Micronesia, bahkan mencoba untuk
merebut benua Australia, Jepang hampir berhasil kalau tidak diserang balas
oleh Jenderal Mac Arthur.

Pan Region II yaitu daerah kekaisaran Rusia di daerah Asia Tengah dan
Timur Tengah dan Asia Selatan. Daerah ini serahkan saja kepada jagonya
yaitu kekaisaran Rusia maupun Uni Soviet komunis, yang berusaha keras untuk
mencengkramkan daerah Asia Tengah bahkan mencoba untuk menerobos ke
Asia Selatan dan Timur Tengah.

Pan Region III menurut Haushofer adalah seluruh benua Eropa ditambah
seluruh benua Afrika kepada siapa lagi patut diserahkan kalau bukan kepada
kekaisaran Jernan Raya, maka tidak mengherankan, apabila Jerman Nazi di
bawah Hitler mempraktekkan teori ini dengan cara mencaplok seluruh Eropa dan
mulai menguasai Afrika Utara dalam Perang Dunia II, melalui Blitzkrieg (Perang
kilat) Jerman Nazi mencoba merebut daerah minyak Balkan, Afrika Utara dan
seluruh Eropa Timur. Namun sejarah terulang kembali karena Jerman Nazi
tertahan di Rusia dan dipukul oleh sekutu dari arah laut di Eropa Barat dan
Selatan.

Pan Region IV yaitu benua Amerika, menurut Haushofer kepada siapa lagi
benua ini harus diserahkan kalau bukan kepada Amerika Serikat. Oleh
karenanya timbul doktrin "Monroe" dimana : America for the American, yang
prakteknya Amerika Serikat mendominasi negara lainnya. Terusan Panama
sampai sekarang sudah dilepas oleh Amerika Serikat, sering terjadi invasi atau
turut campur Amerika Serikat dalam urusan dalam negeri Negara Amerika Latin,
contohnya soal Panama, Cuba, Columbia, Canada dan lain-lain.

f. Sir Walter Raleigh (1554-1618). Raleigh yang hidup di abad romantis


yaitu masa kapal perang layar, percaya negara Inggris akan jaya di dunia dalam
menyaingi negara koloni lainnya, apabila memiliki armada perang yang sangat
kuat. Releigh berharap armada perang Inggris tidak akan ada yang bisa
mengalahkan di setiap samudera dunia. Oleh karena itu menurut Releigh motto
Inggris adalah "England rules the Wave" dan "England Rules the seven ocean".
Motto ini telah ditegakkan Raleigh selama karirnya sebagai Laksamana Inggris,
sehingga bisa mendirikan negara kolonialisme di seluruh dunia seperti Amerika,
7

Afrika, Asia, Australia dan sebagainya. Koloni yang tersebar di seluruh dunia itu
telah mengangkat bahasa Inggris jadi bahasa International dan kepentingan
ekonomi serta perdagangan maju.

g. Alfred Thayer Mahan (1840-1914). Mahan yang hidup di awal abad


XX sebagai seorang kepala Akademi Angkatan Laut Amerika Serikat,
berwawasan luas dan modern berkat penga!amanya selama di Angkatan Laut
dalam bukunya yang berjudul "Influence Of The Sea Power" Upon History 1660-
1783 menjelaskan agar Amerika Serikat bisa menjadi negara adidaya maka
harus mengembangkan industri Maritim modern; yang akan menghasilkan
armada dagang untuk melancarkan perdagangan Amerika Serikat ke seluruh
dunia, dan sekaligus membangun armada perang untuk melindunginya, menurut
Mahan berbeda dengan Walter Raleigh, Amerika Serikat tidak perlu menguasai
seluruh samudera di dunia tapi cukup menguasai jalur-jalur laut vital (Sea Lines
Of Communication) atau SLOC. SLOC terbentang antara Eropa Barat sampai
Amerika Serikat, Afrika-Amerika Serikat, Amerika Serikat-Asia Timur, Amerika
Serikat-Australia lewat Asia Tenggara dan jalur energi Amerika Serikat-Timur
Tengah, serta Jalur Samudera Atlantic-Terusan Panama Samudera Pasifik.
Oleh karena itu menurut Mahan, Armada Perang Amerika Serikat untuk
membela kepentingan nasional perlu dibagi berdasarkan SLOC vital tersebut,
yaitu armada I, II, III, IV, V, VI dan VII. Sejarah dunia telah membuktikan betapa
tajam pemikiran Mahan yang telah mengantar Amerika Serikat menjadi negara
adidaya dunia.

h. William Mitchell (1925) dan Giulio Douhet (1869-1930). Mereka


berpendapat bahwa kekuatan udara harus dipisahkan dari kekuatan darat
menjadi angkatan udara tersendiri, matra udara itu sifatnya sangat handal dapat
menjangkau jarak yang jauh dan kecepatan sangat tinggi. Oleh karena itu
manajemen kekuatan udara harus dipisahkan dari kekuatan darat. Berkat
perjuangan Mitchell angkatan udara Amerika Serikat, dipisahkan dari angkatan
darat pada tahun 1947, kemudian banyak diikuti oleh angkatan perang negara
lainnya. (Douhet dengan buku The Command of the Air, Essay in the Art of Airial
Wan`are, Mitchell dengan buku Winged Defense).

i. Kenichi Ohmae. Kenichi Ohmae dengan dua bukunya yang terkenal


Borderless World (1991) and The End of Nation State (1995), mengatakan bahwa
dalam perkembangan masyarakat global, batas-batas wilayah negara dalam
geografi dan politik relatif masih tetap, namun kehidupan dalam satu negara tidak
mungkin dapat membatasi kekuatan global yang berupa informasi, investasi,
industri dan konsumen yang makin individual. Kenichi Ohmae juga memberikan
pesan bahwa untuk dapat menghadapi kekuatan global suatu negara harus
mengurangi peranan pemerintah pusat dan lebih memberikan peranan kepada
pemerintah daerah dan masyarakat.
8

Dari nilai-nilai global seperti dijelaskan di atas, dapat dikenali hakekat teori
geopolitik dimana negara sebagai organisme dapat memperluas diri tetap dianut
dengan bukti, berupa makin berkembangnya ajaran/paham yang menganggap
sudah tidak diperlukannya lagi batas negara dengan segala aturannya yang
menghambat lalu lintas semua aspek kehidupan international terutama dibidang
perekonomian, demi tercapainya kemakmuran yang setinggi-tingginya bagi
manusia tanpa membedakan asal negaranya. Yang kesemua itu hanyalah
merupakan strategi dan taktik negara-negara maju tanpa kekerasan senjata dapat
memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya dengan segala macam cara,
tidak peduli harus merupakan dan menyengsarakan sebagian besar rakyat negara-
negara berkembang. Karena yang utama bagi negara maju ternyata tetap saja,
yakni : Kepentingan nasionalnya masing-masing dengan berkedok pada segala
macam alasan yang berbau globalisasi.

j. Wawasan Nasional Indonesia dalam Konsep Pemahaman Teori


Kekuasaan dan Geopolitik. Wawasan Nasional Indonesia merupakan cara
pandang, memuat konsep-konsep yang melatar belakangi perikehidupan bangsa
Indonesia. Terdapat enam konsep yang dapat digolongkan sebagai satu bangun
Wawasan Nasional Indonesia, yaitu Persatuan dan Kesatuan, Bhinneka Tunggal
Ika, Kebangsaan, Negara Kebangsaan, Negara Kepulauan dan Geopolitik.
Konsep-konsep tersebut diangkat dari masa kehidupan sejarah bangsa di
wilayah Nusantara abad VlI sampai abad XX, sebagai berikut :

1) Persatuan dan Kesatuan. Persatuan ialah gabungan (Ikatan,


kumpulan, dan sebagainya) dari beberapa bagian yang sudah bersatu,
sedangkan kesatuan ialah keesaan, sifat tunggal, atau keseutuhan (W.J.S.
Poerwadarminta, 1987). Dengan sebutan persatuan bangsa berarti
gabungan suku-suku bangsa yang sudah bersatu. Dalam hal ini, masing-
masing suku hangsa merupakan kelompok masyarakat yang memiliki ciri-ciri
tertentu yang bersatu. Penggabungan dalam persatuan bangsa. masing-
masing suku bangsa tetap memiliki cin-ciri dan istiadat semula. Dalam
persatuan bangsa, satu suku bangsa menjadi lebih besar dari sekedar satu
suku bangsa yang bersangkutan karena dapat mengatasnamakan bangsa
secara keseluruhan. Misalnya, suku Bugis dapat menyebutkan dirinya
bangsa Indonesia, yang memiliki ciri-ciri jauh lebih luas dan kompleks
daripada suku Bugis itu sendiri.

Sebutan kesatuan bangsa atau kesatuan wilayah mempunyai dua


makna yaitu : Pertama, menunjukkan sikap kebersamaan dari bangsa itu
sendiri. Kedua, menyatakan wujud yang hanya satu dan utuh, yaitu satu
bangsa yang utuh atau satu wilayah yang utuh. Sebagai contoh, kesatuan
bangsa Indonesia berarti satu bangsa Indonesia dalam satu jiwa bangsa
seperti yang diputuskan dalam Kongres Pemuda pada tahun 1928 dalam
keadaan utuh dan tidak boleh kurang, baik sebagai subyek maupun obyek
9

dalam penyelenggaraan kehidupan nasional. Sedangkan, kesatuan


wilayah Indonesia berarti satu wilayah Indonesia dari Sabang sampai
Merauke yang terdiri dari daratan, perairan dan dirgantara di atasnya seperti
yang dinyatakan dalam Deklarasi Juanda 1957, dalam keadaan utuh dan
tidak boleh kurang atau retak. Dengan demikian, persatuan dan kesatuan
bangsa serta kesatuan wilayah sebagai konsep, merupakan suatu kondisi
dan cara terbaik untuk mencapai tujuan bersama.

2) Bhinneka Tunggal Ika. Bhineka Tunggal Ika ialah semboyan pada


lambang Negara Republik Indonesia yang keberadaannya berdasarkan
pada PP No. 66 tahun 1951, mengandung arti beraneka tetapi satu
(Ensiklopedia Umum/1977). Semboyan tersebut menggambarkan gagasan
dasar yaitu menghubungkan daerah-daarah dan suku-suku bangsa di
seluruh Nusantara menjadi Kesatuan-Raya (ST. Munadjat D., 1982). Bila
dirujuk kepada asalnya yaitu kitab Sutasoma yang ditulis oleh Empu
Tantular abad ke XIV, ternyata semboyan tersebut merupakan siloka yang
menekankan tentang pentingnya kerukunan antar umat dari agama yang
berbeda pada waktu itu, yaitu Syiwa dan Budha. Dengan demikian,
konsep Bhinneka Tunggal Ika yang lengkapnya berbunyi Bhinneka Tunggal
Ika Tanhana Dharmma Mangrva merupakan kondisi dan tujuan kehidupan
yang ideal dalam lingkungan masyarakat yang serba majemuk atau multi
etnik.

Dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara, berbagai


perbedaan yang ada seperti dalam suku, agama, ras dan antar golongan
(SARA) merupakan realita yang harus didayagunakan untuk memajukan
negara dan bangsa. Persinggungan unsur-unsur SARA diharapkan dapat
meningkatkan mutu kehidupan masing-masing unsur yang bermanfaat bagi
masing-masing pihak, baik secara individu maupun kelompok. Selain hal
itu masing-masing pihak memiliki keunggulan dalam hal tertentu daripada
pihak lain, sehingga dengan berinteraksi akan terjadi hubungan yang saling
menguntungkan.

3) Kebangsaan. Konsep kebangsaan modern, baru diperkenalkan


pada abad XIX di Eropa. Menurut Ernest Renan, bangsa ialah keinginan
untuk bersama. Bagi Otto Bauer, bangsa ialah suatu masyarakat tertib
yang muncul dari kesamaan karakter, atau karena kesamaan nasib (M.Hatta
dkk,1980). Dalam pengertian modern, terbentuknya suatu bangsa tidak
dibatasi oleh ras atau agama tertentu, tidak juga oleh bentuk-bentuk
geografis seperti aliran sungai, laut atau gunung. Jadi, kebangsaan
yang mencakup keinginan untuk bersatu dalam mencapai tujuan dan
atau didukung dengan persamaan sejarah, yaitu konsep kebangsaan
yang diikrarkan pada Konggres Pemuda pada tahun 1928, tergolong
maju dan modern. Meskipun demikian, konsep kebangsaan dapat
10

tergelincir menjadi "Chauvinisme" yaitu kebangsaan yang sempit. Hal


ini telah diantisipasi secara dini yaitu paling tidak pada sidang BPUPKI
tanggal 1 Juni 1945 tatkala Bung Karno mengatakan, "...memang prinsip
kebangsaan ini ada bahayanya...! Bahayanya ialah mungkin orang
meruncingkan nasionalisme menjadi chauvinisme, sehingga berpaham
Indonesia Uber Alles. Kita cinta tanah air yang satu, merasa
berbangsa yang satu, mempunyai bahasa yang satu, tetapi tanah air kita
Indonesia hanya satu bagian kecil saja daripada dunia.

Sebagai konsep, kebangsaan merupakan mekanisme kehidupan


kelompok terdiri atas unsur-unsur yang beragam, dengan ciri-ciri
persaudaraan, kesetaraan, kesetiakawanan, kebersamaan, dan
kesediaan berkorban bagi kepentingan bersama. Konsep kebangsaan
harus terus ditumbuhkan pada masyarakat bangsa dan dikembangkan
secara berstruktur yaitu berturut-turut pada tingkat kesadarannya,
kemudian menjadikannya suatu paham dan mengaktualisasikannya
dalam semangat kebangsaan (Edi Sudradjat, 1996). Konsep
kebangsaan tidak dapat diterima sebagai suatu yang sudah jadi yaitu
sekedar warisan dari generasi terdahulu, tetapi harus dipupuk terus agar
hidup subur, karena generasi-generasi berikutnya sudah tidak memiliki
ingatan kebersamaan sejarah dengan generasi sebelumnya. Setiap
generasi harus mengevaluasi perkembangannya agar diketahui bila
telah terjadi penyimpangan dari ciri-ciri konsep kebangsaan yang
disepakati atau terjadi penyimpangan dari tujuan samula yaitu untuk apa
bangsa Indonesia dahulu dibentuk.

4) Negara Kebangsaan. Dalam pidatonya untuk sidang BPUPKI


tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno menjelaskan pandangannya tentang
negara kebangsaan, antara lain, "Orang dan tempat tidak dapat
dipisahkan..! Tidak dapat dipisahkan rakyat dari bumi yang ada di
bawah kakinya. Ernest Renan dan Otto Bouwer hanya sekedar melihat
orangnya.” Tampak disini bahwa bangsa dan tanah air harus
merupakan satu kesatuan, kemudian negara yang dibentuk atas dasar
itu disebutnya Negara Kebangsaan. Jadi, negara yang terbentuk
mengikuti konsep kebangsaan, yang bukan merupakan kelanjutan dari
bentuk-bentuk kekuasaan sebelumnya. Menurut Neal R. Peirce
(International Herald Tribune, April 4, 1997), "Globalisasi ekonomi,
kebangkitan daerah-daerah, atau persaingan antar etnis dan suku
bangsa yang sedang dan terus menggejala akhir-akhir ini, dipercaya
oleh sebagian orang sebagai pertanda akan berakhirnya negara-negara
kebangsaan. Pertemuan para pakar dari 32 negara di Salzburg pada
bukan Maret 1997, tidak sepenuhnya menyetujui pendapat tersebut.
Mereka, pada umumnya masih tetap memerlukan negara-negara
kebangsaan antara lain untuk memberi identitas kepada penduduk,
11

menarik pajak, menyediakan jaring pengaman sosial, melindungi


lingkungan, dan menjamin keamanan dalam negeri. Bagi bangsa
Indonesia, bukan saja masih diperlukan mempertahankan negara
kebangsaan namun juga harus tetap mempertahankan persatuan dan
kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah Indonesia dalam satu negara
agar tetap menjadi negara besar sehingga selalu diperhitunkan dalam
kehidupan antar bangsa.

5) Negara Kepulauan. Konsep Negara Kepulauan semula


dikembangkan oleh Indonesia untuk menghindarkan keberadaan laut
pedalaman atau perairan antar pulau wilayah Indonesia yang berstatus
sebagai laut bebas. Pengembangan konsep tersebut mengacu kepada
yurisprudensi keputusan Mahkamah Internasional tahun 1951 tentang
sengketa wilayah perikanan historis antara Inggris dan Norwegia, di laut
pedalaman Norwegia (Adi Sumardiman, 1995). Keputusan Mahkamah
Internasional pada saat itu mererima cara penarikan garis dasar yang
lurus, antara titik-titik pulau terluar, tidak menurut garis lengkung
mengikuti garis pantai, seperti biasanya. Dengan cara demikian, kawasan
Kepulauan Indonesia terpisah dari laut bebas dan menjadikan wilayah
nasional Indonesia suatu kawasan laut luas yang ditaburi pulau-pulau.

Menurut konsep negara kepulauan, kedaulatan wilayah Indonesia


berlaku di daratan, perairan kepulauan, perairan teritorial, dan ruang
diatasnya (Adi Sumardiman, 1995). Walaupun demikian, Konvensi Hukum
Laut PBB/1982 menetapkan hak-hak negara lain di wilayah Negara
Kepulauan, yang harus dipenuhi. Hak-hak yang dimaksudkan itu antara lain
hak lintas damai dan lintas transit, hak lintas alur laut kepulauan,
penerbangan melintas, serta pencarian dan penyelamatan. Masalah lain
yang hingga saat ini dihadapi negara kepulauan, seperti Indonesia, terutama
ialah belum semua negara besar meratifikasi Konvensi Hukum Laut
PBB/1982 yang menyetujui berlakunya Konsep Negara Kepulauan.
Padahal bagi Indonesia, berlakunya Konsep Negara Kepulauan selain
perairan wilayah nasional Indonesia terbebas dari laut bebas atau perairan
yang berstatus internasional, juga menambah luas wilayah negara Indonesia
dalam bentuk laut wilayah, dengan tetap mengindahkan kewajiban
internasional. Apalagi dengan berubahnya ketentuan tentang lebar laut
wilayah yang semula 3 mil dari garis dasar menjadi 12 mil, tambahan luas
laut wilayah yang berarti juga kandungan sumber kekayaan alam berlipat
ganda.

6) Geopolitik. Konsep geopolitik semakin banyak mendapat perhatian


dalam kaitannya dengan upaya pengembangan kemampuan untuk
mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah
nasional. Konsep Geopolitik bagi Indonesia menjadi aktual bila
12

dihubungkan dengan kesadaran akan posisi geografis wilayah Indonesia,


kepentingan atas integritas nasional dalam kondisi geografi yang terpecah
belah, pengambilan peran dalam kawasan regional, dan antisipasi ancaman
kekuatan asing yang melibatkan negara adidaya di kawasan regional (Dino
Patti D. 1996). ABRI (TNI) mengangkat konsep Geopolitik ke dalam konsep
Pertahanan dan Keamanan Nasional (Hankamnas) antara lain, "...
memanfaatkan konstelasi geografi Indonesia, dimana diperlukan keserasian
antara Wawasan Bahari, Wawasan Dirgantara, dan Wawasan Benua
sebagai pengejawantahan segala dorongan-dorongan (motives) dan
rangsangan-rangsangan (drives) dalam usaha mencapai aspirasi-aspirasi
serta tujuan-tujuan negara Indonesia....." (Doktrin Hankamnas dan Doktrin
Perjuangan ABRI "CADEK', 1967). Konsep tersebut dinamakan Wawasan
Nusantara yaitu Wawasan Konsepsional dari Wawasan Hankamnas dan
berkaitan dengan konsep Negara Kepulauan.

Konsep Negara Kepulauan, memberi inspirasi dan dorongan untuk


menyatakan seluruh wilayah nasional Indonesia yang terdiri dari daratan,
perairan, dan ruang udara di atasnya, sedangkan konsep penyerasian
wawasan-wawasan berdasarkan kematraan dalam Wawasan Nusantara
menurut Wawasan Hankamnas, merupakan konsep pemanfaatan Negara
Kepulauan tersebut. Keterkaitannya tampak lebih jelas pada penjelasan
Mochtar Kusumaatmadja (1977) sebagai berikut : `jadi, untuk
menyimpulkan bahwa konsepsi Negara Kepulauan adalah konsepsi
kewilayahan, yang apabila sudah diundangkan menjadi kenyataan lalu
menjadi Negara Kepulauan; dalam hal Indonesia, itu namanya Negara
Nusantara."

7. Tinjauan Sejarah.

a. Sebelum Bangsa Indonesia Menegara. Kekuasaan Sriwijaya


mewariskan salah satu unsur pemersatu bangsa yaitu bahasa dan kebudayaan
Melayu. Pada puncak kejayaannya, pengaruhnya meliputi sebagian besar wilayah
Indonesia yang sekarang ini dan bahkan juga meliputi beberapa daratan Asia.
Kerajaan (Kedatuan) ini pernah menjadi sebuah pusat untuk mempelajari ajaran
Budha (Donald Wilhelm, 1980). Sekitar enam abad Sriwijaya menguasai Selat
Malaka dan Selat Sunda yang merupakan pintu utama yang menghubungkan
Kepulauan Nusantara dengan Lautan Hindia (Encyclopedia Americana-Volume-15
1994). Kondisi tersebut memungkinkan meluasnya penggunaan bahasa Melayu di
Wilayah Nusantara dan terjadi parsentuhan budaya Melayu di wilayah Nusantara
dengan berbagai budaya lokal di berbagai kawasan kepulauan Nusantara.
Persentuhan budaya tersebut berlangsung dalam waktu yang lama, sehingga
munculah ciri-ciri kehidupan khas pada masyarakat di wilayah Nusantara yaitu
suatu identitas Nusantara.
13

Surutnya kekuasaan Sriwijaya tidak menghilangkan identitas nusantara


karena muncul Kerajaan Majapahit. Majapahit berhasil mempersatukan sebagian
besar wilayah kepulauan ini. Kerajaan ini merupakan suatu perpaduan antara
tradisi-tradisi Budha dan Hindu. Meskipun berlangsung hanya sekitar tiga abad,
pengaruhnya cukup besar berkat langkah-langkah agresif yang diambil oleh pusat
kekuasaan Majapahit. Hal ini tercermin dalam Sumpah Palapa Mahapatih Gajah
Mada, yang berbunyi : ".... Jika telah berhasil menundukkan Nusantara, saya baru
akan istirahat. Jika Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali,
Sunda, Palembang, Tumasik, telah tunduk; saya baru akan istirahat" (Ensiklopedia
Nasional Indonesia). Dampak kebijaksanaan tersebut, interaksi antara masyarakat
bangsa di wilayah Nusantara semakin intensif dalam semua aspek kehidupan
sehingga proses akulturasi yang telah terjadi sebelumnya, menjadi semakin
mengentalkan wujud identitas kenusantaraannya.

Setelah Majapahit runtuh, muncul kekuasaan penjajah dari Eropa terutama


Belanda. Berlangsungnya penjajahan selama tiga abad yang sangat menyakitkan
itu ternyata ada sumbangannya bagi terbentuknya persatuan dan kesatuan
masyarakat bangsa di wilayah Nusantara. Untuk kepentingan kekuasaannya,
penjajah menyatukan seluruh Nusantara ke dalam satu adminstrasi pemerintahan
kolonial. Kondisi ini memungkinkan terjadinya interaksi antar tokoh masyarakat atau
antar pemuda dari berbagai daerah, yang lambat laun menumbuhkan kesadaran
akan nasib yang sama dan kesadaran untuk menciptakan kehidupan yang lebih
baik. Akhirnya, terjadilah kesepakatan untuk melakukan perlawanan bersama.
Disamping itu pemakaian bahasa Melayu di kawasan Hindia Belanda semakin
intensif semenjak pemerintah Belanda pada pertengahan abad XIX, menetapkan
bahasa Melayu menjadi bahasa pengantar di sekolah-sekolah Melayu. Kemudin
atas desakan anggota-anggota Volksraad bangsa Indonesia (pribumi), pada tanggal
25 Juni 1918, Ratu Kerajaan Belanda menyetujui penggunaan bahasa Melayu
disamping bahasa Belanda di Lembaga Dewan Rakyat (J.S. Badudu, 1992).

Politik pecah belah (devide et impera) yang digunakan penjajah berhasil


mempertahankan kekuasaannya, tetapi politik etik (Etische Politiek) sebaliknya
menyuburkan perlawanan terhadap kekuasaannya. Pelaksanaan politik etik
berupa peningkatan kesejahteraan di tanah jajahan dengan membuka peluang
mengikuti pendidikan bagi pemuda-pemudi pribumi menyebabkan lebih banyak
orang pribumi terpelajar. Dengan mengirimkan lebih banyak pemuda -pemudi
pribumi untuk belajar di negeri Belanda; mereka selain memperoleh keahlian
profesional juga pikiran-pikiran Barat yaitu kebebasan, individualisme,
liberalisme, dan marxisme (Donald Wilhelm, 1981). Dari mereka itulah lahir
pelopor-pelopor pergerakan yang menyemaikan pemikiran pada kalangan
masyarakat luas tentang kebangsaan dan kemerdekaan. Konsep kebangsaan
dan kemerdekaan tersebut diaktualisasikan ke dalam berbagai gerakan di
seluruh Nusantara dan juga di negeri Belanda. Meskipun demikian, gerakan -
gerakan kebangsaan yang terorganisasi barulah mulai terbentuk pada awal
abad XX (Donald Wilhelm, 1981). Sebagai contoh (A.K. Pringgodigdo, 1977),
Budi Utomo (1908), Sarekat Islam (1911), Jong Java (1915), Jong Sumatra
Bond (1917), Jong Minahasa (1918), Jong Ambon, Jong Celebes,
Perkumpulan Madura, Perkumpulan Timor, dan Perhimpunan Indonesia di
14

Belanda (1908). Selain itu, terdapat pula perkumpulan campuran pribumi dan
non pribumi yang sama-sama menginginkan kemerdekaan, antara lain
Insulinde (1907), lndische Partij (1911), lndische Sociaal Democratische
Vereeniging (1914), lndische Sociaal Democratische Partij (1917).

Berbagai pergerakan kebangsaan tersebut, akhirnya membulatkan


tekadnya untuk bersatu dalam mewujudkan cita-cita Indonesia merdeka. Hal
itu didirikan pada tanggal 28 Oktober 1928, dengan mengatakan bertumpah
darah yang satu (tanah Indonesia) dan berbangsa yang satu (bangsa
Indonesia) serta menjunjung bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia.
Pada saat itu lahirlah bangsa yang baru yang terdiri dari berbagai suku bangsa
dan beranekaragam suku dan agama, budaya dan ras serta berasal dari
daerah-daerah yang tersebar pada ribuan pulau di seluruh wilayah Nusantara,
yang menamakan dirinya bangsa Indonesia. Bagi bangsa Indonesia, Sumpah
Pemuda menjadi pendorong dan pemberi semangat untuk bersatu dan
memperbaiki nasib dengan jalan merebut kemerdekaan dari penjajah. Akhirnya,
kemerdekaan dapat diwujudkan setelah perjuangan selama 17 tahun yaitu sejak
1928 sampai pada tanggal 17 Agustus 1945.

b. Setelah Bangsa Indonesia Menegara. Berdirinya Negara Kesatuan


Republik Indonesia (NKRI), belum menjamin terwujudnya persatuan dan
kesatuan secara nyata di bumi Nusantara. NKRI menghadapi berbagai
rongrongan integritas bangsa dan negara. Diantara rongrongan terbesar adalah
gerakan yang bermotifkan ideologi seperti pemberontakan DI/TII Jawa Barat,
1947; PKI Madiun, 1948, Sulawesi Selatan, 1948, Aceh, 1952. Pada tahun
1958-1961 gerakan bersenjata yang bermotifkan separatis kedaerahan antara
lain yaitu seperti RMS, PRRI, dan Permesta. Beberapa gerakan tersebut
mendapat dukungan asing berupa alat perang yang dipasok melalui jalur laut
Internasional atau laut bebas di wilayah NKRI yaitu pada laut pedalaman. Jalur
laut pedalaman tersebut juga dimanfaatkan oleh kekuatan laut Belanda untuk
memprovokasi NKRI yang sedang berupaya mengembalikan Irian Barat yang
masih dikuasai oleh Belanda. Hingga saat itu status laut pedalaman tersebut
merupakan masalah yang sangat pelik bagi NKRI, dalam upaya mempertahankan
wilayah nasional. Dalam keadaan yang sangat kritis tersebut, timbul gagasan
cemerlang yaitu memberlakukan prinsip negara kepulauan bagi wilayah NKRI.
Pada tanggal 13 Desember 1957 dikeluarkan pernyataan yang dikenal dengan
sebutan Deklarasi Djuanda. Dengan memberlakukan prinsip negara kepulauan
maka di laut pedalaman vang semula berlaku rezim laut bebas, setelah deklarasi
Djuanda rezim tersebut tidak berlaku lagi karena menjadi laut yang berada di
kedaulatan NKRI. Sehubungan dengan perkembangan tersebut, kesatuan
wilayah yang utuh menyeluruh telah terwujud dan menjadi landasan yang kokoh
dalam memantapkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.
15

Peristiwa G-30S PKI (30 September 1965) membawa NKRI ke tepi jurang
kehancuran, sehingga banyak perhatian yang harus diberikan untuk
mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah pada
waktu itu. Di tengah-tengah upaya pemulihan ketertiban dan keamanan
nasional, Seminar Hankam (1967) berhasil merumuskan suatu Wawasan
pertahanan keamanan nasional dalam upaya mengintegrasikan semua komponen
kekuatan nasional. Di antara rumusan yang dihasilkan, terdapat konsep yang
mengalir dari pandangan geopolitik yaitu memanfaatkan konstelasi geografi
Indonesia dalam mencapai aspirasi bangsa dan tujuan negara Indonesia, dengan
menyerasikan Wawasan Bahari, Wawasan Dirgantara, dan Wawasan Benua (yang
semula berdiri secara sendiri-sendiri). Konsep tersebut dinamakan Wawasan
Nusantara. Rumusan Wawasan Nasional Indonesia tersebut diberi nama
Wawasan Nusantara (1972), dan sejak 1973 dicantumkan dalam ketetapan MPR
tentang GBHN sebagai landasan dalam penyelenggaraan pembangunan nasional.

8. Tinjauan Budaya.

a. Kebhinekaan Budaya Indonesia. Masyarakat Indonesia terbentuk


dengan ciri kebudayaan yang sangat beragam oleh pengaruh ruang hidup,
berupa kepulauan dengan ciri alamiah tiap-tiap pulau yang berbeda-beda.
Bahkan perbedaan ciri alamiah antara pulau yang satu dengan lainnya sangat
besar sehingga membawa pengaruh pada perbedaan karakter masyarakatnya.
Disamping perbedaan-perbedaan berkaitan dengan ruang hidup, masyarakat
Indonesia dapat pula dibedakan berdasarkan ras dan etnik. Secara universal,
kebudayaan masyarakat yang heterogen tersebut mempunyai unsur-unsur yang
sama yaitu :

1) Sistem religi dan upacara keagamaan.


2) Sistem masyarakat dan organisasi kemasyarakatan.
3) Sistem pengetahuan.
4) Bahasa.
5) Keserasian (budaya dalam arti sempit).
6) Sistem pencaharian.
7) Sistem teknologi dan peralatan.

Kebudayaan merupakan warisan yang mengandung sifat mengharuskan /


mengikat bagi masyarakat yang bersangkutan. Artinya, setiap generasi yang
lahir dari suatu masyarakat dengan serta merta mewarisi norma-norma budaya
dari generasi sebelumnya (nenek moyang), yang sekaligus mengikat dirinya
dengan segala peraturan atau keharusan yang mesti dijalani dan yang tidak boleh
dilanggar (ditabukan). Wawasan budaya diterima secara emosional, dan bersifat
mengikat ke dalam (cohesivenees) secara kuat. Oleh karena itu dapat
dipahami bahwa ikatan budaya yang emosional itu menjadi sangat sensitif
sifatnya. Ketersinggungan budaya, walaupun secara rasional dianggap tidak
16

berarti (sepele), dapat meluapkan emosi masyarakat, bahkan dengan mudah


dapat memicu terjadinya konflik antar golongan masyarakat secara meluas dan
tidak rasional. Di samping itu warisan budaya juga membentuk ikatan kuat pada
setiap individu atau masyarakat dengan daerah asal budaya. Dengan demikian
budaya dapat membentuk sentimen-sentimen kelompok, suku dengan daerah
asalnya (parochial).

Berdasarkan ciri dan sifat kebudayaan serta kondisi dari konstelasi


geografi negara Republik Indonesia, tergambar secara jelas betapa sangat
heterogen serta uniknya masyarakat Indonesia yang terdiri dari ratusan suku
bangsa dengan masing-masing adat istiadatnya, bahasa daerahnya, agama
dan kepercayaannya. Oleh karena itu, dalam perspektif budaya, tata
kehidupan nasional yang berhubungan dengan interaksi antar golongan
masyarakat mengandung potensi konflik yang sangat besar, terlebih dengan
kesadaran nasional masyarakat yang relatif masih rendah.

b. Potensi Konflik dan Toleransi. Di Indonesia, konflik antar suku atau


antar golongan masyarakat dapat terjadi dimana saja, di seluruh wilayah negara.
Pada umumnya terjadi di antara dua suku yang berdekatan wilayah, atau para
pemukim baru, dengan penduduk asli setempat. Potensi konflik dimaksud
terpendam baik di kalangan masyarakat pedesaan, tetapi juga tersimpan di
kalangan masyarakat perkotaan. Bahkan dengan mencermati struktur perkotaan di
Indonesia yang pada umumnya merupakan daerah urban spontan dari berbagai
suku bangsa dengan segala permasaiahan sosialnya, potensi konflik antar suku
atau antar golongan memperoleh peluang untuk timbul ke permukaan.

c. Sumber Konflik. Terdapat lima macam sumber konflik antara suku


bangsa atau golongan di negara-negara sedang berkembang, seperti Indonesia,
yaitu :

1) Persaingan atau perebutan untuk memperoleh lapangan mata


pencaharian hidup yang sama.
2) Sebagian warga dari satu suku bangsa berusaha memaksakan
unsur-unsur kebudayaan terhadap warga dari suku-suku bangsa yang lain.
3) Warga yang berbeda suku bangsa dan agama.
4) Satu suku bangsa berusaha mendominasi suatu suku bangsa lain
secara politis.
5) Potensi konflik terpendam ada dalam hubungan antara suku-suku
bangsa yang telah bermusuhan secara adat.

d. Potensi Untuk Bersatu (Toleransi). Dalam perspektif budaya,


kehendak bersatu membentuk persatuan bangsa merupakan proses sosial
yang didorong oleh kesadaran segenap kelompok masyarakat untuk bersama-
sama membentuk satu tatanan kehidupan baru sebagai satu masyarakat yang
17

besar, dan tetap mengakui dan menerima eksistensi budaya masyarakat asal
dengan segala perbedaan ciri dan sifatnya. Sebagai suatu proses sosial,
kehendak mewujudkan persatuan bangsa dalam satu kesatuan wilayah Negara
Republik Indonesia mengandung unsur dinamik. Artinya, nilai persatuan dan
kesatuan bangsa Indonesia tidak akan terwujud secara lengkap dan sempurna
hanya dengan sekali usaha bersama berupa ikrar bersama (Sumpah Pemuda,
28 Oktober 1928) atau secara politik (Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus
1945). Proses sosial untuk menjaga dan memelihara nilai persatuan dan
kesatuan bangsa Indonesia harus terus menerus dilakukan sejalan dengan
dinamika lingkungan yang terus berkembang. Besarnya potensi konflik antar
golongan masyarakat dalam dimensi SARA yang setiap saat membuka peluang
terjadinya disintegrasi bangsa semakin mendorong perlunya dilakukan proses
sosial yang akomodatif. Proses sosial tersebut mengharuskan setiap kelompok
masyarakat budaya untuk saling membuka diri, memahami eksistensi budaya
lain dengan kekhasan masing-masing, serta mau menerima dan memberi (take
and give). Keteguhan setiap warga atau kelompok masyarakat atau suku
bangsa di dalam menjaga ikrar / kasepakatan bersama akan sangat
menentukan kelangsungan hidup negara dan bangsa Indonesia dalam
mencapai tatanan masyarakat yang harmonis.

Akhirnya dipahami bahwa negara besar seperti Indonesia, dengan


keanekaragaman budayanya, memberikan persoalan besar dalam hal penataan
dan pengendaliannya. Proses sosial dalam keseluruhan upaya menjaga
persatuan nasional sangat membutuhkan usaha keras yang konsekuen dan
terus menerus, serta didasari oleh persamaan persepsi atau kesatuan cara
pandang dan sikap diantara segenap masyarakat tentang eksistensi budaya
yang sangat beragam. Keanekaragaman budaya yang tercermin ke dalam
berbagai ciri dan karakter setiap suku bangsa atau golongan masyarakat,
seharusnya dapat dipahami dan diterima sebagai suatu fakta, dan menjadi
realitas kehidupan masyarakat.

9. Tinjauan Wilayah.

a. Pemahaman Tentang Wilayah. Tidak semua negara memiliki tiga


dimensi ruang hidup, dan hal ini yang membedakan pemanfaatan ruang hidup
sesuai dengan kondisi geografisnya masing-masing. Kondisi semacam ini, telah
ikut mempengaruhi pemikiran manusia dalam mempertahankan hidup bersama,
yang tercermin dalam berbagai wawasan. Untuk menjaga kemungkinan terjadinya
perbedaan prinsip dalam berpikir, diciptakan satu wawasan yang diharapkan dapat
menjamin keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa yang lebih berlingkup
nasional. Oleh karena itu dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara, geografi dengan keanekaragaman yang ada di dalamnya, merupakan
suatu realita yang mutlak diperhitungkan, baik dalam fungsi maupun pengaruhnya
terhadap sikap dan tata laku negara yang bersangkutan. Demikian pula sebaliknya,
18

diperlukan suatu perhitungan dari dampak sikap dan tata laku negara terhadap
geografis sebagai tata hubungan antara manusia dengan ruang hidupnya.

Kondisi obyektif geografi Nusantara digambarkan sebagai untaian ribuan


pulau-pulau besar dan kecil (nusa), yaitu sebanyak 17.508 (Dishidros TNI AL),
tersebar dan terbentang di sepanjang khatulistiwa, serta terletak pada posisi silang
dunia yang sangat strategis (antara), baik di antara dua samudera dan dua benua
dengan segala konsekuensinya dari pengaruh lintasan politik, ekonomi, budaya
serta keamanan international. Dengan demikian kata Nusa dan Antara yang
dirangkai ke dalam satu pengertian Nusantara akan terus digunakan untuk
memaknai keseluruhan dan keutuhan wilayah Indonesia, yang merupakan
kesatuan wilayah laut yang ditaburi oleh pulau-pulau

b. Wilayah Indonesia s.d 1982. Wilayah Indonesia pada saat


diproklamasikan mengacu pada "Territoriale Zee En Maritieme Kringen
Ordonantie" tahun 1939, lebar laut wilayah Indonesia adalah 3 mil dari garis air
rendah dari masing-masing pantai pulau Indonesia. Penetapan lebar wilayah laut
3 mil tersebut tidak menjamin kesatuan wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia, karena dengan 3 mil antar wilayah belum berkesinambungan satu sama
lain. Atas pertimbangan hal-hal tersebut maka Pemerintah RI pada tanggal 13
Desember 1957, menyatakan : "..... berdasarkan pertimbangan-pertimbangan
maka pemerintah menyatakan bahwa segala perairan disekitar, diantara dan yang
menghubungkan pulau-pulau yang termasuk negara Indonesia dengan tidak
memandang luas atau lebarnya adalah bagian-bagian yang wajar daripada wilayah
daratan negara Indonesia dan dengan demikian bagian daripada perairan
pedalaman atau nasional yang berada dibawah kedaulatan mutlak negara
Indonesia. Lalu lintas yang damai di perairan pedalaman ini bagi kapal-kapal asing
dijamin selama dan sekedar tidak bertentangan dengan ataupun mengganggu
kedaulatan dan keselamatan negara Indonesia. Penentuan batas laut teritorial
(yang lebarnya 12 mil) diukur dari garis yang menghubungkan titik-titik ujung yang
terluar pada pulau-pulau negara Indonesia, ..." maklumat tersebut kemudian
dikenal sebagai Deklarasi Djuanda.

Deklarasi ini menyatakan bahwa bentuk geografi Indonesia merupakan


negara kepulauan yang terdiri atas ribuan pulau besar dan kecil dengan sifat dan
corak tersendiri. Demi keutuhan teritorial dan untuk melindungi kekayaan negara
yang terkandung di dalamnya maka pulau-pulau serta laut yang ada diantaranya
haruslah dianggap sebagai satu kesatuan yang utuh, dan laut merupakan
penghubung antar pulau-pulau di Nusantara. Untuk mengukuhkan asas
negara kepulauan ini ditetapkan Undang-Undang No. 4/PRP Tahun 1960
tentang Perairan lndonesia.

Maka sejak itu berubahlah luas wilayah Indonesia dari 2 juta km 2 menjadi
5 juta km 2, dan lebih kurang 65% wilayahnya terdiri dari laut. Oleh karena itu
tidaklah mustahil bila negara lndonesia juga dikenal sebagai negara kepulauan
(negara Maritim). Sedangkan lebih kurang 35% adalah daratan yang terdiri dari
17.508 buah pulau, yang antara lain berupa 5 (lima) buah pulau besar, yakni
Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi dan Irian Jaya serta 11.808 pulau-pulau
19

kecil belum diberi (ada) namanya, dengan luas daratan dari seluruh pulau -pulau
tadi ± 2.028.087 km, dengan panjang pantai ± 81.000 km dan topografi
daratannya merupakan pegunungan dengan gunung-gunung berapi, baik yang
masih aktif maupun yang tidak aktif lagi.

Seluruh wilayah kepulauan lndonesia berada pada batas astronomis


sebagai berikut : Utara : 06 ° 08' LU, Selatan : 11 ° 15' LS, Barat : 94°45' BB :
°
Timur : 141 05' BT. Adapun jarak Utara-Selatan 1.888 km, Barat-Timur 5.110
km.

c. Wilayah Indonesia Setelah UNCLOS 1982. Melalui Sidang PBB di


Montego Bay tentang Hukum Laut Internasional tahun 1982; maka pokok-pokok
asas negara kepulauan diakui dan dicantumkan dalam UNCLOS 82 (United
Nation Convention on the LaW of the Sea atau Konvensi Perserikatan Bangsa-
bangsa tentang Hukum Laut). Indonesia meratifikasi UNCLOS 82, melalui UU
No. 17 Th. 1985 pada tanggal 31 Desember yang telah diratifikasi oleh 60
negara sehingga berlaku hukum positif sejak 16 November 1994.

UNCLOS 82 berpengaruh terhadap upaya pemanfaatan laut bagi


kepentingan kesejahteraan seperti bertambah luasnya Zone Ekonomi Eksklusif
(ZEE) dan Landas Kontinen Indonesia. Satu segi UNCLOS 82 memberikan
keuntungan bagi pembangunan nasional, yaitu bertambah luasnya perairan yuridiksi
nasional berikut kekayaan alam yang terkandung di laut dan dasar lautnya, serta
terbukanya peluang untuk memanfaatkan laut sebagai medium transportasi. Namun
dari segi lain potensi kerawanannya bertambah besar pula. Disamping itu
berdasarkan UNCLOS 82, Indonesia tetap harus menghormati hak-hak negara lain
di wilayah Negara Kepulauan, seperti hak lintas damai dan lintas transit, hak lintas
alur kepulauan, hak penerbangan melintas, serta pencarian dan penyelamatan
(SAR).

d. Wilayah Dirgantara. Penguasaan terhadap ruang dirgantara tidak semulus


wilayah lautan, karena berdasarkan pada perjanjian tahun 1967, yang menetapkan
bahwa ruang antariksa merupakan wilayah bangsa, yang berarti dapat dimanfaatkan
oleh setiap bangsa. Pemanfaatan ruang antariksa yang berada di atas wilayah suatu
negara didasarkan pada prinsip siapa yang datang duluan (first come first serve)
dan terbuka bagi setiap negara. Indonesia yang berada disepanjang khatulistiwa,
memiliki bentangan ruang antariksa yang sangat luas dan panjang. Ruang antariksa
ini sangat bermanfaat untuk penempatan satelit-satelit geostationer, dan dengan
sendirinya sangat merugikan kepentingan Negara Kesatuan Republik Indonesia,
karena keterbatasan kemampuan bangsa Indonesia.

Kondisi dan konstelasi geografi Indonesia pada hakekatnya mengandung


beraneka ragam kekayaan alam baik baik yang berada didalam maupun diatas
permukaan bumi serta potensi diudara dan ruang angkasa, dengan jumlah
20

penduduk yang besar, terdiri dari berbagai suku yang memiliki budaya dan
tradisi, serta pola kehidupan yang beraneka ragam. Secara kontekstual,
geografi Indonesia mengandung keunggulan, disamping juga kelemahan dan
kerawanan. Oleh karena itu kondisi dan konstelasi geografi ini perlu dicermati
secara utuh menyeluruh dalam merumuskan kebijaksanaan politik. Setiap
perumus kebijaksanaan nasional harus memiliki wawasan kewilayahan atau
ruang hidup bangsa yang diatur dalam politik ketatanegaraan. Oleh karena itu,
Wawasan Nasional Indonesia akan senantiasa memperhatikan dan
mempertimbangkan kondisi dan konstelasi geografis Indonesia, disamping
mengharuskan untuk tetap memelihara keutuhan dan kekompakan wilayah
dengan tetap menghargai dan menjaga ciri, karakter dan kemampuan
(keunggulan dan kelemahan) masing-masing daerah, serta harus mampu
memanfaatkan nilai lebih dari geografi Indonesia tersebut.

Dari penjelasan diatas dapat diperoleh pemahaman tentang negara/state


Indonesia berdasarkan aspek kewilayahan dilihat pada aspek geografi, men ganut
paham Negara Kepulauan. Dengan demikian diartikan bahwa wilayah negara
merupakan satu kesatuan yang utuh, laut pedalaman yang berada diantara pulau-
pulau menjadi wilayah yang dikuasai penuh, dan keseluruhannya itu disebut Tanah Air
Indonesia atau Nusantara.

10. Evaluasi.

a. Jelaskan pengertian wawasan nusantara.

b. Sebutkan 5 sumber konflik di Indonesia.

c. Jelaskan tentang wilayah NKRI menurut UNCLOS 1982.

d. Jelaskan pokok-pokok ajaran Ratzel.

e. Jelaskan pemikiran Alfred T. Mahan tentang teori Wawasan Nusantara.


21

BAB III

KONSEPSI WAWASAN NUSANTARA

11. Umum. Wawasan Nasional suatu bangsa ditentukan oleh berbagai faktor
seperti kesejarahan, kondisi dan konstelasi geografis, serta kondisi sosial budayanya.
Sementara itu bangsa-bangsa yang memiliki kesamaan dalam faktor-faktor tersebut,
belum tentu pula sama Wawasan Nasionalnya karena ada faktor subyektif yang
berperan. Oleh karena itu, Wawasan Nasional Indonesia bersifat khas.

12. Dimensi Pemikiran.

a. Dimensi Kewilayahan. Ditinjau dari konfigurasi geografi wilayah nasional


Indonesia merupakan bentangan terpanjang di dunia. Wilayah nasional Indonesia
menempati posisi silang antara dua benua yaitu benua Asia dan Australia, serta
berada diantara dua samudera yaitu samudera Hindia dan Samudera Pasifik.
Topografi daratan wilayah Indonesia merupakan pegunungan dengan gunung-
gunung berapi. Pulau-pulau Indonesia memiliki garis pantai terpanjang hampir dua
kali panjang bumi, iklim tropis dengan pergantian musim yaitu musim penghujan
dan kemarau serta kondisi dan konstelasi geografi Indonesia yang demikian,
mengandung kekayaan alam yang beraneka ragam, baik yang berada di dalam
maupun di atas permukaan bumi, termasuk di udara dan ruang angkasa.
Mengandung potensi dengan berbagai flora dan fauna, serta jumlah penduduk
yang besar. Terdiri dari berbagai suku dan agama, budaya dan tradisi serta pola
kehidupan yang beraneka ragam dengan berbagai macam kepentingan atau
aspirasi yang menyertainya.

b. Dimensi Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara. Dalam


pendayagunaan segenap potensi nasional yang menjamin hidup dan
kelangsungan hidup perlu dibangun keselarasan pemikiran yang di sesuaikan
dengan kondisi dan konstelasi geografi sebagai suatu realita. Dalam rangka
mencapai cita-citanya berbagai kepentingan yang ada dan berkembang dalam
kehidupan masyarakat, bangsa dan negara perlu diwadahi dan diproses, baik
dalam lingkup nasional maupun Internasional. Pemikiran ini akan membentuk
cara pandang bangsa Indonesia dalam memanfaatkan kondisi dan konstelasi
geografi sebagai suatu pandangan geopolitik Indonesia, yang merupakan wujud
dorongan dan rangsangan dalam upaya merealisasikan aspirasi bangsa.
Pandangan geopolitik ini dirumuskan sebagai suatu konsepsi Wawasan Nusantara,
dan sekaligus merupakan landasan bagi geostrategi Indonesia dalam pemanfaatan
dan penyelenggaraan segenap aspek kehidupan nasional dengan geografi sebagai
faktor utamanya.
22

13. Wawasan Nusantara sebagai Landasan Visional Bangsa. Bangsa Indonesia,


hanya dapat dipertahankan keberadaannya sepanjang adanya cita-cita bersama. Oleh
karena itu, memelihara aktualitas cita-cita Bangsa merupakan syarat utama bagi
keberlangsungan keberadaan Bangsa Indonesia.

Wawasan Nusantara diharapkan menjadi latar belakang pemikiran utama setiap


proses pengambilan keputusan strategik. Dengan demikian, Wawasan Nusantara akan
menjadi dirigen dalam orkestra pembangunan bangsa dan negara Indonesia, yang
mampu menghimpun dan menyelaraskan semua potensi bangsa untuk mencapai cita-cita
bersama. Sebagai landasan visional, konsepsi dasar Wawasan Nusantara meliputi
penjabaran cita-cita dan tujuan nasional, serta konsepsi tentang negara, bangsa dan
wilayah.

a. Cita-cita Nasional. Interpretasi terhadap cita-cita nasional adalah


sebagai berikut :

1) Indonesia yang merdeka adalah Indonesia yang bebas dari segala


bentuk penjajahan, baik antar manusia maupun antar bangsa, baik sebagai
obyek maupun sebagai subyek.

2) Indonesia yang bersatu adalah Indonesia yang memiliki kesatuan


wilayah yang utuh sebagai ruang hidup seluruh bangsa, terjalin dan
berkembangnya interkoneksitas yang harmonis dan sinergis antar setiap
komponen bangsa dalam semua aspek kehidupan berbangsa dan
bernegara, serta memiliki kadar solidaritas sosial yang tinggi antar berbagai
komponen bangsa.

3) Indonesia yang berdaulat adalah Indonesia yang memiliki


pemerintahan yang mampu melindungi segenap bangsa Indonesia dan
seluruh tumpah darah Indonesia.

4) Indonesia yang berkeadilan adalah Indonesia yang mampu menjamin


terselenggaranya hak-hak setiap warganya dan mencegah terjadinya
kesenjangan dalam setiap aspek kehidupan bangsa.

5) Indonesia yang berkemakmuran adalah Indonesia yang mampu


menyediakan dan memenuhi keutuhan-kebutuhan dasar yang memenuhi
standar yang layak bagi kemanusiaan untuk seluruh warganya.

b. Tujuan Nasional. Tujuan nasional pada hakekatnya merupakan misi


negara. Misi tersebut, dijabarkan ke dalam tiga aspek, yaitu misi di bidang
keamanan, misi kesejahteraan dan misi pembentukan lingkungan, sebagai berikut :

1) Misi Keamanan. Misi melindungi segenap bangsa Indonesia dan


seluruh tumpah darah Indonesia, ditafsirkan tidak hanya dalam bentuk
pembangunan kekuatan untuk melindungi bangsa dan wilayah Indonesia,
23

dari ancaman yang berasal dari luar saja, tetapi juga meliputi perlindungan
hak-hak setiap warga negara, komunitas dan wilayah dari kemungkinan
eksploitasi yang dilakukan oleh semua pihak, termasuk oleh pemerintah
sendiri.

2) Misi kesejahteraan. Diinterpretasikan sebagai upaya untuk


meningkatkan kesejahteraan rakyat dan martabat bangsa, dengan
memberikan ruang yang cukup bagi setiap daerah / komponen bangsa
mengembangkan dirinya sesuai dengan aspirasi dan budaya masing-
masing, dalam kerangka pembangunan bangsa secara keseluruhan.

3) Misi pembentukan lingkungan. Diinterpretasikan dengan


menetapkan bahwa lingkungan yang dimaksud bukan hanya meliputi
lingkungan eksternal di luar wilayah Indonesia tetapi juga meliputi
lingkungan internal.

c. Konsepsi Bangsa, Negara dan Wilayah.

1) Konsepsi Bangsa. Hal terpenting dalam perumusan konsepsi


tentang kebangsaan ini adalah sejauh mana suku-suku atau kelompok etnik
harus memberikan pengorbanannya dalam rangka pencapaian cita-cita
bangsa. Dengan demikian pada dasarnya Nasionalisme Indonesia
merupakan gambaran sebesar apa pengorbanan yang diberikan oleh suku-
suku dan kelompok etnik dalam rangka kehidupan berbangsa dan
bernegara.

Kecenderungan yang terjadi saat ini berkaitan dengan kehidupan


berbangsa adalah :

a) Pergeseran pada tingkat global antara lain melipuii pergeseran


nasionalisme sebagai ideologi menjadi nasionalisme sebagai
identitas, dan nasionalisme politik/negara menjadi nasionalisme
kultural.
b) Di dalam negeri, semangat/kebangkitan kultural dari
komponen-komponen bangsa.

Oleh sebab itu, konsep nasionalisme Indonesia pada dasarnya harus


berbasis pada identitas dan budaya bangsa yang terdiri dari berbagai suku
bangsa dan kelompok etnik, namun dengan tetap mengacu kepada prinsip
Bhinneka Tunggal Ika. Nasionalisme Indonesia adalah refleksi penyaluran
komitmen dan loyalitas individual warga bangsa dari tingkat lokal /
primordial ke tingkat bangsa/negara tanpa harus mengorbankan
identitasnya.
24

2) Konsepsi Negara. Fungsi utama negara adalah menyediakan


ruang atau lingkungan kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya
segenap komponen bangsa sesuai dengan aspirasi dan kultur masing-
masing.

Perubahan lingkungan strategis baik di tingkat global maupun


nasional menuntut adanya pergeseran paradigma bernegara. Negara
diinginkan tidak hanya berfungsi sebagai regulator saja, namun juga
sebagai fasilitator. Hal ini menunjukkan adanya kecenderungan untuk
meningkatkan partisipasi rakyat dalam kehidupan bernegara.

3) Konsepsi Wilayah. Konsepsi wilayah Indonesia mengacu


kepada Konsep Negara Kepulauan, yaitu merupakan kesatuan wilayah
laut yang ditaburi pulau-pulau. Menurut konsepsi ini, kedaulatan wilayah
Indonesia berlaku di daratan, perairan, kepulauan, perairan territorial
dan ruang di atasnya. Konsekuensinya perairan dalam wilayah
nasional Indonesia terbebas dari status laut bebas atau berstatus
internasional, juga menambah luas wilayah negara Indonesia berupa
laut wilayah dengan tetap mengindahkan kewajiban-kewajiban
internasional dan "laut atau perairan” dalam wilayah nasional berfungsi
sebagai pemersatu keseluruhan wilayah tanah air Indonesia. Eksploitasi
sumber daya kelautan yang demikian besarnya bagi kesejahteraan
seluruh rakyat secara adil dan merata, dapat menjadi faktor perekat
persatuan bangsa.

14. Hakekat Wawasan Nusantara. Hakekat Wawasan Nusantara adalah rasa dan
semangat kebangsaan/nasional (nasionalisme) yang tinggi dalam semua aspek
kehidupan, yang berarti berbuat, mempersembahkan dan mendharmabaktikan yang
terbaik bagi bangsa dan negara Indonesia. Dalam kaitan ini, perlu dimilikinya sikap segera
mengakhiri/meninggalkan kesetiaan/loyalitas terhadap golongan, suku bangsa dan
perorangan, bahkan partai, begitu kesetiaan/loyalitas terhadap bangsa dan negara
Indonesia diperlukan.

15. Asas Wawasan Nusantara. Azas Wawasan Nusantara ialah ketentuan-


ketentuan atau kaidah-kaidah dasar yang harus dipatuhi, ditaati, dipelihara dan diciptakan
agar terwujud dan dihayatinya carapandang yang utuh menyeluruh dalam lingkup dan
demi kepentingan nasional dengan mengutamakan persatuan bangsa dan kesatuan
wilayah Indonesia, dengan tetap menghargai dan menghormati kebhinekaan dalam setiap
aspek kehidupan nasional. Harus disadari bahwa kalau azas Wawasan Nusantara
tersebut diabaikan apalagi ditinggalkan, dapat dipastikan cerai berainya bangsa dan
negara Indonesia. Adapun asas Wawasan Nusantara terdiri dari :

a. Kepentingan bersama, yang berarti persamaan sikap dan kehendak dan


seluruh rakyat Indonesia dalam menghadapi berbagai bentuk ancaman dengan
segala manifestasinya (seperti penjajahan dan pengurasan kekayaan gaya baru)
25

yang dapat merendahkan harkat dan martabat bangsa, bahkan menghancurkan


persatuan bangsa dan kesatuan wilayah Indonesia.

b. Keadilan, yang berarti perasaan dan sikap dalam memberikan dan


memperoleh hak dan kewajiban yang pantas dan proporsional bagi semua
komponen bangsa pada segenap aspek kehidupan baik dalam hubungan pusat
daerah, antar daerah, intern daerah maupun antar anggota masyarakat. Hal ini
dapat tercapai bila ada kejujuran dan keterbukaan dari semua komponen bangsa
dan pengelola negara.

c. Kesetiaan terhadap kesepakatan/ikrar bersama, yang berarti perasaan


dan sikap memegang teguh nilai-nilai Budi Utomo, Sumpah Pemuda dan
Proklamasi Kemerdekaan yang kesemuanya bermuara pada berdirinya NKRI dan
hal tersebut mencerminkan adanya solidaritas, setia kawan, rasa senasib dan
sepenanggungan dan kerjasama yang harmonis dalam mengisi kemerdekaan dari
semua komponen bangsa.

16. Arah Pandang. Dengan latar belakang budaya, sejarah, kondisi dan konstelasi
geografi serta memperhatikan perkembangan lingkungan strategis, maka arah pandang
Wawasan Nusantara meliputi arah pandang ke dalam dan ke luar.

a. Arah Pandang ke dalam. Arah pandang ke dalam bertujuan menjamin


terwujudnya persatuan dan kesatuan bangsa, dan kesatuan wilayah negara
Indonesia. Arah pandang kedalam mengandung arti bahwa pemberdayaan setiap
potensi nasional dan komponen bangsa dengan ciri khas masing-masing yang
berbeda, diarahkan untuk mewujudkan kemandirian daerah dan kesejahteraan
masyarakatnya akan tetapi senantiasa berupaya tetap dalam lingkup
kesejahteraan seluruh bangsa serta membina dan memelihara integritas nasional.
Untuk itu segenap komponen bangsa hendaknya peka dan berusaha untuk
mencegah dan mengatasi sedini mungkin faktor-faktor penyebab timbulnya
disintegrasi bangsa.

b. Arah Pandang ke luar. Arah pandang ke luar ditujukan demi terjaminnya


kepentingan nasional dalam dunia yang serba berubah dan ikut serta
melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan
keadilan sosial serta mengembangkan suatu kerjasama dan saling menghormati.
Arah pandang ke luar mengandung arti bahwa bangsa Indonesia harus berusaha
untuk mengamankan kepentingan nasional dalam semua aspek kehidupan, serta
menumbuhkan daya saing di arena global.

17. Kedudukan, Fungsi dan Tujuan.

a. Kedudukan. Sebagai landasan nasional, Wawasan Nusantara dijiwai


oleh nilai-nilai yang terkandung dalam substansi Pembukaan UUD 1945. Dalam
pola penyelenggaraan kehidupan nasional, yaitu kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara, Wawasan Nusantara sebagai landasan visional akan
menjadi salah satu paradigma nasional sebagai rujukan.
26

b. Fungsi. Wawasan Nusantara berfungsi sebagai penggerak (drive) dan


motive (pendorong) serta rambu-rambu sebagai arah dan pedoman segala
kebijaksanaan dan keputusan oleh para penyelenggara di tingkat pusat dan
daerah, maupun pedoman sikap perilaku setiap warga masyarakat / rakyat
Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

c. Tujuan. Wawasan Nusantara bertujuan menumbuhkembangkan rasa dan


sikap nasional yang tinggi, rasa senasib dan sepenanggungan, sebangsa setanah
air, satu tekad bersama dengan mengutamakan kepentingan nasional tanpa
mengorbankan kepentingan perorangan, kelompok golongan suku bangsa atau
daerah. Rasa dan sikap nasional yang tinggi di segala bidang kehidupan demi
terwujudnya cita-cita nasional merupakan perwujudan dari makin meningkatnya
rasa, paham dan semangat kebangsaan, sehingga dapat menumbuhkan kemauan,
tekad dan keiklasan untuk melakukan bela bangsa dan negara dalam semua aspek
kehidupan, dengan memberikan dan mendharmabaktikan yang terbaik demi
kejayaan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia.

18. Hubungan dengan Kepentingan Nasional. Setiap bangsa sudah pasti memiliki
kepentingan masing-masing. Kepentingan bangsa menegara yang lebih tepat disebut
sebagai Kepentingan Nasional senantiasa berkait erat dengan cita-cita dan tujuan
nasional bangsa yang bersangkutan. Dalam mewujudkan cita-cita nasional dan
melaksanakan tujuan nasional tersebut, maka hakikat Kepentingan Nasional Indonesia
adalah kepentingan keamanan dan kepentingan kesejahteraan. Dua hal yang
merupakan satu kesatuan yang sama penting dan tidak dapat dipisahkan satu dengan
yang lainnya.

Menjamin kepentingan nasional, baik kepentingan keamanan maupun kepentingan


kesejahteraan, berarti berupava sepenuh hati dan sekuat tenaga mempertahankan
persatuan dan kesatuan bangsa dan kesatuan wilayah negara Republik Indonesia.
Dalam suasana persatuan dan kesatuan bangsa dan kesatuan wilayah negara yang
tetap utuh dan terjaga, segenap upaya bangsa Indonesia untuk mencapai tujuan
nasional dan mewujudkan cita-cita nasional dapat terlaksana dengan lancar. Upaya
memelihara atau mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa, dan kesatuan
wilayah negara sangat membutuhkan rasa dan semangat nasional yang tinggi pada
setiap warga negara atau segenap komponen bangsa Indonesia, yang sanggup dan rela
berkorban demi kecintaannya kepada tanah air dan bangsanya. Dengan demikian,
jelaslah bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Wawasan Nusantara yang diamalkan
secara tepat akan menjadi prasyarat terjaminnya Kepentingan Nasional yang sekaligus
akan menciptakan iklim kondusif bagi tercapainya tujuan nasional dalam rangka
mewujudkan cita-cita nasional.

19. Evaluasi.

a. Jelaskan Hakikat Wawasan Nusantara.


b. Jelaskan dimensi kewilayahan dalam konsepsi Wawasan Nusantara.
c. Jelaskan asas-asas Wawasan Nusantara.
27

d. Jelaskan yang dimaksud Wawasan Nusantara sebagai landasan Visional


bangsa.
e. Jelaskan arah pandang ke dalam menurut Wawasan Nusantara.
f. Jelaskan tujuan Wawasan Nusantara.

BAB IV

WAWASAN NUSANTARA DALAM KEHIDUPAN NASIONAL

20. Umum. Konsepsi suatu bangsa tentang wawasan nasional sangat dipengaruhi
oleh berbagai faktor diantaranya, kesejahteraan, kondisi dan konstelasi geografis serta
sosil budaya yang dimilikinya. Pada beberapa faktor ini, jika terdapat kesamaan-
kesamaan diantara bangsa-bangsa tidak menjamin kesamaan wawasan nasionalnya
karena ada faktor subyektif yang memiliki peran penting. Oleh sebab itu, wawasan
nasional Indonesia memiliki kekhususan dan ciri khas yang berbeda dari negara lain.

21. Aktualisasi Wawasan Nusantara. Sejalan dengan dinamika perkembangan


lingkungan strategis, baik global, nasional maupun lokal (daerah), maka aktualisasi
Wawasan Nusantara dalam kehidupan nasional perlu dilakukan dengan langkah-langkah
yang sesuai.

a. Dalam Kehidupan Politik. Aktualisasi Wawasan Nusantara dalam


kehidupan politik diarahkan untuk :

1) Menumbuhkembangkan rasa dan semangat kebangsaan yang


selanjutnya dapat dijadikan landasan bagi pengembangan jiwa nasionalisme
dan pembentukan jati diri bangsa.

2) Mewujudkan kehidupan bangsa yang demokratis dan berkeadilan,


yang mampu menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas
kepentingan golongan dan pribadi.

3) Mewujudkan penghormatan terhadap HAM,

4) Menyelenggarakan politik luar negeri yang bebas aktif guna menjamin


kepentingan nasional.

5) Memantapkan Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara.


28

b. Dalam Kehidupan Ekonomi. Aktualisasi Wawasan Nusantara dalam


kehidupan ekonomi diarahkan untuk :

1) Menumbuhkan kehidupan perekonomian daerah yang saling


berinteraksi secara sinergis antara satu daerah dengan daerah lainnya
dalam kerangka sistem perekonomian nasional yang mampu meningkatkan
kesejahteraan dan kemakmuran seluruh rakyat serta daya saing bangsa.

2) Memanfaatkan laut sebagai sumber daya untuk meningkatkan


kesejahteraan seluruh rakyat secara adil dan merata.

3) Menumbuhkembangkan kebanggaan atas hasil produk bangsa


sendiri.

4) Menjaga kelestarian sumber daya alam yang dimiliki dengan tidak


merusak lingkungan hidup demi kehidupan generasi yang akan datang.

c. Dalam Kehidupan Sosial Budaya. Aktualisasi Wawasan Nusantara dalam


kehidupan sosial budaya diarahkan untuk :

1) Mengembangkan budaya daerah/etnis, yang saling berinteraksi


secara sinergis dengan budaya daerah/etnis lainnya atas dasar saling
menghormati dan saling menghargai kekhasan masing-masing, sehingga
terwujud kehidupan bangsa yang rukun dan bersatu.

2) Terwujudnya kebudayaan nasional yang merupakan perpaduan


harmonis alamiah dari kebudayaan-kebudayaan daerah / etnis, yang
dapat dikembangkan sebagai jati diri bangsa.

3) Terwujudnya Sistem Hukum Nasional yang mampu meng-


akomodasikan dan mengakar kepada nilai-nilai dan norma-norma hukum
adat yang berlaku dan berkembang di masyarakat lndonesia dan
diabdikan untuk kepentingan bangsa dan negara.

4) Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi demi


meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang diabdikan bagi
peningkatan harkat dan martabat bangsa.

d. Dalam Kehidupan Pertahanan Keamanan. Aktualisasi Wawasan


Nusantara dalam kehidupan pertahanan keamanan diarahkan untuk :

1) Menumbuhkembangkan kesadaran cinta tanah air dan bangsa


pada diri setiap warga negara, yang selanjutnya akan menumbuhkan jiwa
dan semangat bela negara.
29

2) Membangun sistem pertahanan negara yang bertumpu pada


keterpaduan upaya seluruh rakyat serta pengerahan segenap potensi
nasional secara semesta dengan, semangat tidak kenal menyerah.

Pokok-pokok aktualisasi Wawasan Nusantara tersebut di atas, harus tercermin


atau menjiwai dan mewarnai segenap peraturan perundang-undangan yang berlaku
pada setiap strata di seluruh wilayah negara Indoensia, baik yang berlingkup nasional
maupun daerah. Dengan demikian, Wawasan Nusantara akan dapat mewarnai dan
nampak dalam segenap pranata sosial yang berlaku di masyarakat dalam nuansa
kebhinnekaan, sehingga dapat menggerakkan kehidupan sosial yang dinamis, rukun,
bersatu, akrab, peduli, toleran, menghormati dan taat hukum.

Sebagai wujud dari aktualisasi Wawasan Nusantara adalah dalam bentuk ketetapan
MPR adalah TAP MPR No. V Tahun 2001, yaitu tentang Pemantapan Persatuan dan
Kesatuan Nasional. Bangsa Indonesia menyadari bahwa persatuan dan kesatuan yang
tetap menghormati dan menghargai kebhinnekaan, sangatlah diperlukan demi tegak dan
utuhnya bangsa dan negara Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus
1945. Untuk itu, bangsa Indonesia menyadari bahwa segala sumber dan penyebab
timbulnya perpecahan yang akan mengakibatkan runtuh/hancurnya bangsa dan negara
Indonesia haruslah dicegah dan diatasi.

22. Sosialisasi Wawasan Nusantara.

a. Membangun kerangka sikap batin dan sikap pikir. Intisari yang


terkandung dalam konsepsi Wawasan Nusantara adalah pemahaman tentang
Nusantara dan Kenusantaraan. Nusantara adalah makna fisik geografis wilayah
Negara Republik Indonesia dalam wujudnya sebagai kepulauan, yang
mengandung berbagai ragam ciri alamiah, tidak sebatas menyangkut sumber daya
alam, melainkan juga penduduk dengan segala adat istiadatnya. Disamping itu,
pemahaman terhadap posisi geografis wilayah negara Republik Indonesia yang
berada di tengah lintasan berhabagai kepentingan dunia, termasuk pengaruh
peradaban yang tidak mungkin dielakkan. Sedangkan Kenusantaraan,
mengandung makna bahwa setiap individu, warga bangsa Indonesia, akan
memandang segala keragaman yang ada bukanlah berada diluar dirinya. Setiap
individu justru akan merasakan bahwa dirinya menjadi bagian tak terpisahkan dari
segala keragaman itu.

Makna Nusantara dan Kenusantaraan itu sendiri akan melahirkan tantangan


besar menyangkut dua hal pokok, yaitu tuntutan atau keharusan untuk
menyesuaikan diri dengan segala bentuk perbedaan, seperti bahasa, adat istiadat,
agama atau pola hidup lainnya dan tuntutan untuk menyesuaikan diri dengan tata
kehidupan dunia, dalam rangka mensejajarkan martabat diri dengan bangsa-
bangsa lain.
30

Intisari yang terkandung dalam Wawasan Nusantara akan menciptakan suatu


hubungan moril atau kejiwaan yang erat antara setiap pribadi dengan segala
keragaman yang ada disekitarnya. Hubungan ini yang akan menumbuhkan tiga
kerangka sikap batin, dan sikap pikir (cara berpikir) yang meliputi : pertama,
memahami dan menghormati setiap perbedaan sebagai suatu realitas yang ada,
dan akan selalu ada di dalam kehidupan bermasyarakat. Kedua, menerima semua
perbedaan yang berada dalam lingkup nusantara sebagai satu keutuhan, terpadu,
saling melengkapi dan saling menghidupi. Ketiga, mempunyai rasa kecintaan
kepada tanah air dan bangsa Indonesia dengan segala isinya yang serba beragam.
Sejalan dengan hal tersebut, akan tumbuh semangat dan tanggung jawab
mempertahankan dan membela keutuhan bangsa dan negara Republik Indonesia.

b. Pelaksanaan Sosialisasi. Upaya sosialisasi atau memasyarakatkan


materi Wawasan Nusantara pada hakekatnya adalah meletakkan tiga kerangka
sikap bathin ke dalam setiap pribadi, sehingga terbentuk keselarasan pola pikir,
pola sikap dan pola tindak diantara sesama warga negara Republik Indonesia.
Dengan keselarasan pola pikir, diharapkan setiap pribadi akan terbentuk atau
memiliki kerangka berpikir yang didasari oleh gambaran yang utuh tentang makna
Nusantara dan Kenusantaraan. Dengan kesadaran pola sikap. diharapkan pada
setiap pribadi akan terbentuk suatu keselarasan tentang bagaimana menyikapi
berbagai persoalan diri dan orang lain dalam perikehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara, yang didasari oleh pengertian, pemahaman dan
penghayatan terhadap makna Nusantara dan Kenusantaraan. Adapun keselarasan
pola tindak adalah cara berperilaku hidup sehari-hari dari setiap pribadi yang
berkenaan dengan kepentingan diri dan orang lain, sebagai wujud pengamalan
makna Nusantara dan Kenusantaraan.

Dalam pelaksanaan pemasyarakatan (sosialisasi) Wawasan Nusantara,


beberapa hal perlu diperhatikan, yaitu :

1) Menyangkut subyek dan obyek sosialisasi. Subyek, dimaksudkan


adalah pihak-pihak yang dianggap sangat berkepentingan dan bertanggung
jawab atas upaya sosialisasi Wawasan Nusantara. Hal tersebut tidak
terlepas dari peran setiap unsur pimpinan, baik formal, yaitu para pejabat di
tingkat negara sampai ke tingkat daerah, para pendidik di setiap jenjang
pendidikan, maupun para pemimpin informal, yakni para tokoh masyarakat
yang berkaitan dengan kehidupan keagamaan, adat istiadat, dan goiongan
profesi lainnya. Sedangkan obyek dimaksudkan adalah segenap
masyarakat Indonesia, baik secara pribadi ataupun dalam hubungan
kelompok yang memiliki kepentingan, juga hak dan tanggung jawab untuk
bersama-sama menciptakan iklim kehidupan yang harmonis menuju
kerukunan hidup sebagai satu bangsa di dalam satu wilayah negara,
Indonesia.
31

2) Menyangkut sifat dan metode penyampaian. Dikenal dengan


penyampaian langsung dan tidak langsung. Penyampaian langsung, bersifat
teoritis, berupa bahan ajaran yang dapat disampaikan kepada obyek secara
langsung untuk dimengerti, dipahami, dan dihayati. Metode yang lazim
digunakan adalah ceramah, diskusi, dialog intensif, atau dapat juga melalui
korespondensi. Adapun sarana yang digunakan berupa buku-buku referensi
tentang Wawasan Nusantara, dan dapat didukung dengan buku-buku ajaran
atau bacaan lain, seperti ilmu bumi, sejarah kebangsaaan Indonesia,
budaya daerah dan sebagainya.
Penyampaian tidak langsung lebih bersifat aplikatif. Artinya nilai-nilai
bahan ajaran Wawasan Nusantara, yang telah diterima dan dimengerii,
dipahami dan dihayati, kemudian diaplikasikan atau diterapkan ke dalam
segenap produk ketatanegaraan, baik yang berupa ketentuan perundang-
undangan atau kebijaksanaan pengaturan pada tingkat negara sampai
dengan tingkat daerah, yang akan menjadi pedoman dan rambu-rambu
pengatur segala ihwal kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Di samping itu, penyampaian tidak langsung juga teraplikasikan dalam bentuk
keteladanan dari setiap subyek sosialisasi.

3) Menyangkut lingkup pemasyarakatan. Tanggung jawab kelembagaan,


formal maupun non formal. Lingkup formal, peran lembaga-lembaga
pendidikan sangat besar. Sosialisasi lingkup ini dilaksanakan melalui
pendidikan secara berjenjang sejak tingkat dasar hingga perguruan tinggi,
juga dapat melalui berbagai Kursus atau penataran-penataran yang sifatnya
sebatas pengenalan. Sedangkan pada lingkup non formal, pada dasarnya
sosialisasi bersifat aplikatif` yang diterapkan dalam mekanisme kerukunan
dan paguyuban antar individu atau warga dalam lingkungan keluarga,
lingkungan pemukiman, lingkungan pekerjaan dan lingkungan non formal
lainnya. Akan tetapi pada lingkup non formal ini, sosialisasi tidak jarang
dilakukan dalam bentuk ceramah, dakwah, atau tatap muka oleh para tokoh
masyarakat dengan para pengikut/umatnya.

4) Menyangkut kurun waktu pemasyarakatan. Pemasyarakatan


Wawasan Nusantara harus dilakukan secara terus mererus sepanjang
masa/zaman, sehingsa tercapai kesinambungan pemahaman Wawasan
Nusantara oleh generasi muda bangsa Indonesia berikutnya.
Menyadari bahwa bangsa Indonesia baru terbentuk pada tanggal 28
Oktober 1928, dan lahirnya bangsa Indonesia yang menegara baru
pada tanggal 17 Agustus 1945. dengan demikian maka rasa dan
semangat kebangsaan/nasional harus terus di tumbuh kembangkan
secara berstruktur dan berlanjut, dan terus menerus dipupuk agar
hidup subur.
32

Pada akhimya, sosialisasi atau upaya memasyarakatkan Wawasan Nusantara


merupakan kunci semakin bertumbuh-kembangnya nasionalisme dan cinta tanah air
di segenap warga bangsa Indonesia dan akan semakin memperkokoh persatuan
dan kesatuan bangsa Indonesia. Sosialisasi materi dan nilai-nilai Wawasan
Nusantara itu sendiri sangat bergantung kepada kadar pemahaman dan
penghayatan, disamping motivasi dan semangat, khususnya di kalangan para
pemimpin atau tokoh masyarakat dalam tanggung jawab jiwa nasionalnya.

23. Implikasi Wawasan Nusantara.

a. Implikasi terhadap daerah perbatasan (Frontier). Berdasarkan


posisi geografisnya negara Indonesia memiliki daerah perbatasan, dengan
negara lain baik di darat maupun di laut. Sementara itu, penduduk Indonesia
yang berjumlah ± 200 juta jiwa, tinggal secara tersebar di seluruh wilayah
negara. Sebagian kecil penduduk Indonesia tinggal di daerah terpencil dan di
antaranya berada di daerah perbatasan negara. Daerah-daerah terpencil
khususnya di daerah perbatasan, kurang tersedia sarana dan prasarana.
Kalaupun tersedia, jumlah dan kondisinya sangat kurang memadai, disamping itu
kondisi alam di daerah-daerah tersebut pada umumnya sulit dilintasi atau
dijangkau (misalnya pegunungan, hutan lebat atau lautan). Dengan kata lain,
sistem sirkulasi di daerah-daerah tersebut kurang memadai. Faktor-faktor tersebut
memberi dampak sulitnya pengawasan dan pengendalian segala aktivitas
penduduknya oleh pusat pemerintahan. Akibat lebih lanjut adalah rasa
keterpencilan atau keterasingan sebagian besar masyarakat. Perasaan semacam
ini terjadi di sepanjang perbatasan Kalimantan dan Serawak dan Sabah, atau juga
antara pulau Miangas (propinsi Sulut) dengan Philipina. Di sepanjang perbatasan
tersebut masyarakat Dayak (Kalimantan) lebih mudah berinteraksi dengan anggota
masyarakat diseberang perbatasan, yang kemudian terjalin rasa kedekatan dengan
mereka, lebih kuat daripada hubungannya dengan masyarakat lain di wilayah RI.
Apabila hal seperti itu tidak diperhatikan secara cermat serta ditangani secara
tepat, jalinan rasa kedekatan dengan masyarakat negara tetangga tersebut akan
menjadi semakin kuat. Tidak mustahil bila masyarakat Indonesia di sepanjang
perbatasan akan berpaling secara psikologis, sosiologis dan bahkan secara politis
kepada negara tetangga. Bila hal ini terjadi, maka seakan-akan batas negara
(boundary) bergeser ke dalam wilayah RI, dan terjadilah batas imajiner yang
berupa batas pengaruh asing (negara tetangga) terhadap wilayah RI. Batas
imaginer tersebut dinamakan Frontier.

Frontier bersifat dinamis, dalam arti dapat bergeser-geser bergantung


kepada kadar pengaruh pemerintah terhadap masyarakat yang bersangkutan.
Pengaruh efektif pemerintah pusat dapat dikatakan tidak lagi mencakup seluruh
wilayah kedaulatan RI, melainkan dikurangi dengan luas wilayah sampai dengan
batas frontier yang sudah dipengaruhi oleh kekuatan asing dari seberang
perbatasan (boundary). Pengaruh asing tersebut bisa berawal dari pengaruh
33

budaya atau ekonomi. Tetapi yang pasti bila pengaruh tersebut tidak dapat
ditangani secara efektif akan berkembang menjadi permasalahan politik yang
berujung pada kehendak pemisahan diri sebatas frontier. Dengan demikian
adanya frontier dapat berdampak hampir mirip dengan hilangnya sejengkal
tanah yang berada di bawah kedaulatan negara.
Memahami kondisi dan konstelasi geografi Indonesia tersebut, maka
kesadaran akan kemungkinan terjadi frontier harus selalu dihidupkan. Oleh
karena itu, Wawasan Nusantara harus dapat memberikan pengaruh positif,
terutama para penyelenggara negara dalam upaya menghilangkan atau
mencegah timbulnva frontier-frontier tersebut.

b. Implikasi di bidang Politik dan Hankam. Implikasi di bidang politik


meliputi permasalahan laut pedalaman dengan hak dunia internasional serta
permasalahan kedirgantaraan terutama penguasaan Geo Stationery Orbit
(GSO).
1) Penguasaan laut pedalaman Nusantara kaitannya dengan Hukum
Laut Internasional (HLI) telah mengatur secara internasional hubungan
hak, kewenangan, dan kewajiban negara atau laut. Deklarasi Djuanda
tahun 1957 merupakan aspirasi bangsa Indonesia dalam upaya
memperoleh hak dan kewenangan atas laut dalam wilayah yurisdiksi
nasional yang sekaligus berimplikasi terhadap hak dan kewajibannya
terhadap dunia internasional. Kewajiban ini menyebabkan bangsa
Indonesia harus dapat mewujudkan kedaulatan atas wilayah yurisdiksi
nasional yang sebagian besar secara fisik berupa perairan atau laut.
Dengan demikian HLI, sebagaimana di sepakati dalam UNCLOS tahun
1982, secara legal merupakan dukungan terhadap Wawasan
Nusantara, khususnya berkenaan dengan hak dan kewenangan atas
wilayah yurisdiksi nasional NKRI.
Rezim negara kepulauan dengan tegas telah memberikan arti
kesatuan wilayah bagi NKRI dan terhadap keberadaan perairan
Indonesia yang menjadi bagian tak terpisahkan dari NKRI, kewajiban
RI adalah memenuhi ketentuan-ketentuan tentang pemanfaatan
pendayagunaan perairan Indonesia. Seluruh perairan Indonesia dan
ruang diatasnya serta kekayaan alam yang terkandung di dalam dan di
bawah lautan dapat diolah untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. Hak
dan kewenangan terhadap laut ini mencakup antara lain atas : laut
wilayah; zone tambahan, ZEE, landas kontinen dan sumber daya alam
yang dikandungnya. Di sisi lain ada tuntutan terhadap kewajiban
bangsa Indonesia berkenaan dengan lintas damai, lintas transit,
penyediaan alur laut kepulauan Indonesia (ALKI) yang memungkinkan
timbulnya gangguan terhadap keamanan dalam berbagai aspek
kehidupan di dalam negeri. Selain itu masalah navigasi, SAR atau
keselamatan jiwa di laut, keamanan laut dari berbagai pelanggaran dan
34

kejahatan, serta pencemaran/perusakan lingkungan. Pemanfaatan


sumber daya kelautan bagi umat manusia di seluruh dunia juga diatur
dengan baik dan juga menjadi tanggung jawab bangsa Indonesia.
Peraturan dan perundang-undangan dalam rangka menjamin berbagai
kepentingan keamanan dan penegakkan hukum di laut sesuai HLI
harus segera dibuat dan didukung dengan kemampuan negara untuk
pengendalian laut Nusantara.
Dalam hubungan ini pembangunan potensi maritim merupakan
program nasional yang harus mendapatkan prioritas dalam rangka
perwujudan pengendalian perairan Indonesia. Kekuatan laut nasional
mencakup armada niaga. armada perikanan, armada angkatan laut,
industri maritim, eksplorasi dan eksploitasi kelautan dan seluruh
kemampuan pendukungnya. Pembangunan kekuatan laut
membutuhkan investasi yang sangat besar nilainya, memiliki
kandungan resiko tinggi, bersifat padat teknologi, serta dengan titik
impas yang berjangka lama. Oleh karena itu, pemberdayaan segenap
potensi nasional sangat diperlukan. Pembangunan kekuatan laut akan
membawa Indonesia menuju budaya kelautan, dan menjadi bangsa
bahari yang akan mengantar bangkitnya kejayaan bangsa seperti
dimasa lalu. Dengan memanfaatkan posisi silang yang amat strategis,
terutama dengan kemampuan pengendalian laut, bangsa Indonesia
akan menjadi bangsa yang besar, yang mampu menjamin keamanan
dan kesejahteraan seluruh rakyatnya.
2) Perjuangan Dalam Pemanfaatan Ruang Dirgantara Nasional.
Ruang dirgantara dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu ruang udara
dan ruang antariksa. Ruang udara yang berada di atas suatu wilayah
negara dikatagorikan sebagai ruang udara nasional atau wilayah
kedaulatan negara yang bersangkutan yang pemanfaatannya
dikendalikan oleh negara tersebut. Adapun ruang antariksa
pemanfaatannya dikendalikan secara internasional karena tidak boleh
dijadikan subyek kedaulatan suatu negara, termasuk negara yang
berada di bawahnya.
Konvensi Chicago tahun 1944, dan konvensi Paris tahun 1919,
mengukuhkan prinsip kedaulatan bagi negara-negara yang berada di
bawah ruang udara masing-masing. Kenyataan menunjukkan bahwa
ruang udara merupakan sumber kekayaan alam vang memiliki nilai
baik secara ekonomi (kesejahteraan) maupun keamanan.
Pemanfaatan ruang udara secara optimal dapat dicapai antara lain
dengan saling menjamin hak antara negara satu dengan negara lainnya,
yaitu hak terbang melintasi ruang udara dan mendarat di suatu tempat
dalam wilayah negara tertentu secara timbal balik. Bagi Indonesia yang
terletak pada jalan silang dunia, ruang udaranya menjadi penghubung
kepentingan negara-negara dari berbagai kawasan karena dengan
melintasi ruang udara Indonesia berarti negara tersebut memilih jalur
terpendek, dengan kata lain telah memperoleh manfaat ekonomi.
Dengan kemampuan untuk menjamin tingginya daya tarik penggunaan
35

ruang udara nasional seperti tersedianya industri angkutan udara yan g


handal, jalur-jalur udara yang aman, serta bandar udara yang
mendukung, maka pemanfaatan ruang udara nasional akan dapat
dioptimalkan oleh negara yang terkait.
Perjanjian ruang antariksa (Space Treaty 1967) antara Inggris,
Amerika serikat, dan Uni Soviet, yang ditandatangani di London,
Moscow dan Washington pada tanggal 27 Januari 1967; menetapkan
bahwa ruang antariksa merupakan wilayah bangsa-bangsa yang berarti
dimanfaatkan oleh setiap bangsa. Pemanfaatan ruang antariksa yang
berada di atas wilayah suatu negara didasarkan pada prinsip siapa
cepat dia dapat (first come first serve) dan terbuka bagi setiap negara.
Indonesia yang memiliki bentangan ruang antariksa sangat luas dan
panjang, apalagi terletak di daerah katulistiwa yang sangat
menguntungkan dalam penggunaan ruang antariksa, aturan tersebut di
atas sangat merugikan Indonesia. Perjuangan bangsa Indonesia dalam
pengukuhan ruang dirgantara menghadapi ketidakpastian sebagai
dampak konflik kepentingan yaitu antara paham tentang ruang
dirgantara milik semua bangsa dan paham ruang dirgantara milik negara
kolong (yang ada dibawahnya). Dalam hal ini Indonesia menuntut
berlakunya kedaulatan negara kolong terhadap ruang dirgantara. Paling
sedikit tujuan yang ingin dicapai ialah ruang udara Indonesia sebagai
wilayah udara nasional dan ruang antariksa Indonesia sebagai wilayah
kepentingan yang diperlakukan serupa dengan ZEE atau landas kontinen,
yang meliputi pemanfaatan wilayah Geo Stationery Orbit (GSO), Medium
Earth Orbit (MEO), Low Earth Orbit (LEO). Mengenai batas ruang udara
nasional sampai ketinggian 110 km dari permukaan bumi merupakan
kedaulatan yang mutlak sehingga segala aturan untuk penguasaan dan
pengendaliannya ditentukan oleh Indonesia selama tidak bertentangan
dengan ketentuan internasional.
Ruang dirgantara dapat dimanfaatkan untuk kepentingan bersama
dengan negara-negara lain. Hal ini dapat diwujudkan melalui hubungan
antara negara atau antar pengelola berbagai aspek kehidupan yang
cenderung didasari oleh kepentingan kerjasama yang saling
menguntungkan, baik secara bilateral, plurilateral (regional) maupun
multilateral. Demikian juga halnya dalam pemanfaatan ruang dirgantara;
model hubungan tersebut juga dapat dikembangkan dengan
memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a) Pemanfaatan ruang dirgantara selalu harus dikaitkan dengan
kepentingan mempertahankan kedaulatan dan keamanan negara.
b) Pengembangan industri angkutan udara sipil beserta
infrastrukturnya yang berdaya saing alobal.
c) Pengemhangan kekuatar aenecak kedaulatan dan penjamin
keamanan di ruang udara nasional.
36

24. Evaluasi:
a. Jelaskan aktualisasi wawasan nusantara dalam kehidupan politik.
b. Jelaskan aktualisasi wawasan nusantara dalam kehidupan pertahanan Negara.
c. Sebutkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam sosialisasi wawasan nusantara.
d. Jelaskan implikasi wawasan nusantara berkaitan dengan daerah perbatasan.
37

BAB V

EVALU ASI AKHIR PEL AJ AR AN

25. Evaluasi.

a. Jelaskan pokok-pokok ajaran Kjellen.


b. Jelaskan yang dimaksud dengan Pan-regionalism menurut Haushofer.
c. Jelaskan asas-asas Wawasan Nusantara.
d. Jelaskan Tujuan Wawasan Nusantara.
e. Jelaskan Arah pandang dalam Wawasan Nusantara.
f. Sebutkan 6 konsep yang membangun konsep wawasan nasional Indonesia.
g. Jelaskan yang dimaksud dengan konsep negara kepulauan menurut
konsepsi wawasan nasional Indonesia.
h. Jelaskan pengertian wawasan nusantara.
i. Jelaskan yang dimaksud dengan potensi bersatu menurut tinjauan budaya
dalam wawasan nusantara.
j. Jelaskan interpretasi cita-cita nasional Indonesia.
k. Jelaskan hakikat wawasan nusantara.

B AB VI

PENUTUP

26. Penutup. Demikian Naskah Sekolah Sementara (NSS) Wawasan


Nusantara ini disusun sebagai pedoman bagi Gadik dan Serdik/ Taruna dalam
proses belajar mengajar pada Pendidikan Dasar Integratsi Kemitraan Taruna Akademi
TNI dan Taruna Akademi Kepolisian.