Vous êtes sur la page 1sur 9

Tugas Kapita Selekta

Disusun Oleh:
Mikhael Caesar Eka Putra
051.12.056

JURUSAN TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

UNIVERSITAS TRISAKTI

JAKARTA

2017
PENDAHULUAN

Istilah industri secara ekonomi dapat diartikan sebagai kegiatan mengolah bahan mentah
menjadi barang jadi atau barang setengah jadi. Kegiatan pengolahan disini dapat dilakukan
secara manual, dengan mesin, maupun secara elektronik. Istilah dapat pula diartikan
sebagai himpunan perusahaan-perusahaan sejenis, dimana kata industri dirangkai dengan
kata industrinya. Misalnya, industri obat-obatan, industri garmen, industri perkayuan, dan
sebagainya.

Kalau berbicara masalah industri atau industrialisasi, berarti ada penyerapan teknologi
sehingga meningkatkan nilai tambah (value added). Dengan sentuhan teknologi berarti ada
perbaikan cara berproduksi, sehingga meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Dengan
adanya peningkatan produktivitas dan efisiensi maka keuntungan meningkat, karena
rentabilitas meningkat berarti ada investasi baru dan penyerapan tenaga kerja. Apabila hal
ini berlangsung baik maka GDP atau GNP meningkat, yang berarti terjadi pertumbuhan
ekonomi sesuai dengan yang diharapkan.
Negara Indonesia sebagai salah satu negara sedang berkembang yang perekonomiannya
masih agraris, tentunya perlu ditransformasi menuju kearah industrialisasi, untuk
mendukung sektor pertanian. Karena sektor industri diyakini sebagai sektor yang mampu
memimpin sektor-sektor lain menuju kearah perekonomian yang modern. Dengan demikian
Indonesia diharapkan mampu memodernisasi perekonomiannya, dan akan menjadi salah
satu negara industri baru di bidang agro industri. Hal ini penting, karena banyak negara
sedang berkembang yang kurang menyadari bahwa memajukan sektor industri harus
seiring dengan sektor-sektor lainnya, dan utamanya sektor pertanian. Dengan sektor
pertanian yang sangat maju sangat diperlukan oleh sektor industri, baik sebagai penyedia
bahan baku industri, maupun sebagai pasar hasil produk industri. Dengan demikian
diharapkan kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah dapat mewujudkan mekanisme saling
mendukung antara sektor industri dengan sektor-sektor lainnya, terutama sektor pertanian.
Untuk itu pada Bab VII akan dibahas beberapa hal yang berkaitan dengan sektor industri
yang meliputi: sejarah perkembangan sektor industri di Indonesia; masalah
keterbelakangan industri di Indonesia; kebijkan industrialisasi; dan peranan sektor industri
dalam pembangunan.

Pada tahun 1920-an industri-industri modern di Indonesia hampir semua dimiliki oleh orang
asing, walaupun jumlahnya sedikit. Industri kecil yang pada masa itu berupa industri-industri
rumah tangga seperti penggilingan padi, pembuatan gula merah (tebu dan nira), rokok
kretek, kerajinan tekstil, dan sebagainya yang tidak terorganisasi dengan baik.

Perusahaan besar yang modern hanya ada dua buah, yaitu pabrik rokok British America
Tobaco (BAT) dan perakitan kendaraan bermotor General Motor Car Aseembly. Depresi
ekonomi yang melanda Indonesia sekitar tahun 1930-an telah meruntuhkan perekonomian,
yang melanda Indonesia, yang mengakibatkan menurunnya penerimaan ekspor dari 1.448
gulden menjadi 505 gulden (1929), sehingga mengakibatkan pengangguran. Melihat situasi
tersebut pemerintah Hindia Belanda mengubah sistem dan pola kebijakan ekonomi dari
sektor perkebukanan ke sektor industri, dengan memberikan kemudahan-kemudahan
dalam pemberian ijin dan fasilitas pendirian industri baru.
Berdasarkan Sensus Industri Pertama (1939), industri yang ada ketika itu memperkerjakan
173 ribu orang yang bergerak di bidang pengolahan makanan, dan barang-barang logam,
semuanya milik asing. Meskipun sumber dan struktur investasi tidak terkoordinasi dengan
baik, tetapi investasi di Indonesia pada tahun 1937 lebih kurang US $ 2.264 juta, dimana
lebih dari setengahnya dimiliki oleh sektor swasta. Dari jumlah tersebut Belanda memiliki
andil 63 %, Cina 11%, dan Amerika 7%.

Pada masa perang dunia II kondisi industrialisasi cukup baik. Namun setelah pendudukan
Jepang keadaannya menjadi terbalik. Hal ini karena ada larangan impor bahan mentah, dan
diangkutnya barang-barang modal/kapital ke Jepang dan pemaksaan tenaga
kerja (romusha) sehingga investasi asing praktis nihil. Setelah Indonesia merdeka mulai
mengembangkan sektor industri dan menawarkan investasi walaupun masih dalam coba-
coba. Pada 1951 pemerintah meluncurkan RUP (rencana urgensi perekonomian). Program
utamanya menumbuhkan dan mendorong industri-industri kecil pribumi., dan
memberlakukan pembatasan-pembatasan untuk industri besar atau modern yang dimiliki
oleh orang Eropa dan Cina.
Kebijakan ini menyebabkan investasi asing berkurang, namun telah memacu tumbuh
suburnya sektor bisnis di kalangan pribumi. Menyadari situasi demikian, pemerintah
membuat kebijakan yang menitik beratkan pengembangan industri-industri yang dijalankan
dan dimiliki pemerintah. Sesudah tahun 1957 sektor industri mengalami stagnasi, dan
perekonomian mengalami masa redup. Sepanjang tahun 1960-an sektor industri praktis
tidak berkembang. Selain karena masalah politik, juga karena kelangkaan modal, tenaga
ahli, dan terampil. Pada masa itu kondisi perekonomian benar-benar dalam keadaan sulit
akibat inflasi yang parah dan berkepanjangan menurunnya PDB, kecilnya sektor industri
(kurang dari 10%), dan tingginya angka pengangguran. Sektor industri pada saat itu
didominasi industri-industri berat seperti Pabrik Baja Cilegon dan Pabrik Super Fosfat di
Cilacap.

Keadaan demikian diwariskan pemerintah Orde Lama ke pemerintahan Orde Baru yang
kemudian mengubah pola kebijkan ekonomi yang demikian kompleks dengan menatanya
kembali. Kebijakan tersebut, antara lain mengundang investor asing untuk menanamkan
modalnya di Indonesia. Dengan pemeberlakuan undang-undang dalam bidang Penanaman
Modal Asing (PMA tahun 1967 dan PMDN tahun 1968) mampu membanglitkan gairah
sektor industri. Mulai tahun 1978 sumbangan sektor industri dalam pembentukan PDB
kembali menembus angka 10%. Dan peranan sektor industri ini terus meningkat Sepanjang
PJP I hingga terjadinya badai krisis ekonomi di Indonesia tahun 1997 yang lalu.

Pada tahun 1999 hampir semua jenis industri di Indonesia mengalami kemunduran bahkan
ada yang terpaksa ditutup, oleh karena pailit. Hal ini termasuk juga perusahaan-perusahaan
bidang perkebunan juga mengalami penury, perkebunan, kecuali perkebunan kelapa sawit,
teh dan tembakau yang mengalami peningkatan. Luas tanaman dan produksi karet pada
tahun 1999 menurun sebesar 1,13% dan 8,03%.
PEMBAHASAN

 Bentuk-bentuk Perselisihan Hubungan Industrial


Berdasarkan pengertian perselisihan tersebut diatas,maka dikenal 4 bentuk
perselisihan yaitu:

1. Perselisihan Hak, yaitu perselisihan yang timbul karena tidak,dipenuhinya


hak,akibat adanya perbedaan pelaksanaan atau penafsiran terhadap ketentuan
peraturan perundang-undangan,perjanjian kerja,peraturan perusahaan atau
perjanjian kerja,peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama.

2. Perselisihan Kepentingan, yaitu perselisihan yang timbul dalam hubungan kerja


karena tidak adanya kesesuaian pendapat mengenai pembuatan dan atau
perubahan syarat-syarat kerja yang ditetapkan dalam perjanjian kerja atau
peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama.

3. Perselisihan Pemutusan Hubungan Kerja, yaitu perselisihan yang timbul karena


tidak adanya kesesuain pendapat mengenai pengakhiran hubungan kerja yang
dilakukan oleh salah satu pihak.

4. Perselisihan Antar Serikat Pekerja/Serikat Buruh, yaitu perselisihan antara


serikat pekerja/serikat buruh dengan serikat pekerja/serikat buruh lain dalam
satu perusahaan,karena tidak adanya persesuain paham mengenai
keanggotaan,pelaksanaan hak dan kewajiban keserikat-pekerjaan.

 Beberapa Subjek Perselisihan Hubungan Industrial


Para pihak yang berperkara dalam perselisihan hubungan industrial adalah :
- Pengusaha / gabungan pengusaha
- Pekerja / buruh perorangan
- Serikat pekerja / serikat buruh
- Perusahaan, termasuk usaha-usaha sosial dan usaha lain yang memiliki
pengurus dan mempekerjakan orang lain dengan memberikan upah

 Prinsip Penyelesaian Perselisihan


Penyelesaian perselisihan hubungan industrial menganut prinsip-prinsip dalam
penyelesaiannya, antara lain :

 Musyawarah Untuk Mufakat, sebelum menempuh proses penyelesaian lebih


lanjut, para pihak yang berselisih harus melakukan musyawarah untuk mufakat.

 Bebas Memilih Lembaga Penyelesaian Perselisihan, para pihak untuk


menyelesaikan perselisihan hubungan industrial yang mereka hadapi
berdasarkan kesepakatan bebas memilih penyelesaian melalui lembaga
Arbitrase, Konsiliasi ataupun Mediasi, untuk menyelesaikan perselisihan yang
mereka hadapi sebelum melakukan gugatan melalui Pengadilan Hubungan
Industrial.

 Cepat, Adil, dan Murah, undang-undang telah memberikan batasan waktu yang
jelas terhadap setiap tahapan dalam penyelesaian perselisihan hubungan
industrial. Misalnya, proses bipartitit (30 hari); arbitrase, konsoliasi atau mediasi
(30 hari). Waktu penyelesaian pada Pengadilan Hubungan Industrial adalah 50
hari kerja dimana untuk perselisihan kepentingan dan antar serikat
pekerja/serikat buruh putusan Pengadilan Hubungan Industrial adalah final.
Prinsip adil, tercermin dari penyelesaian yang dilakukan melalui musyawarah
dan serta bila dilihat dari segi putusan Pengadilan Perselisihan Hubungan
Industrial dan Mahkamah Agung yang diputus oleh Hakim Majelis terdiri dari
Hakim Karir dan Hakim Ad Hoc diharapkan dalam mengambil keputusan
mencerminkan rasa keadilan. Prinsip murah, bahwa beracara di Pengadilan
Hubungan Industrial pihak yang berperkara tidak dikenakan biaya perkara
hingga pada pelaksanaan eksekusi yang nilai gugatannya dibawah Rp
150.000.000, tidak adanya upaya banding kepada Pengadilan Tinggi serta
pembatasan perselisihan hubungan industrial yang dapat dilakukan Kasasi ke
Mahkamah Agung.

 MASALAH KETERBELAKANGAN INDUSTRIALISASI DI INDONESIA


Dari segi jumlah penduduk, Indonesia termasuk negara yang sedang berkembang terbesar
setelah India dan Cina. Namun diluar dari segi industrialisasi Indonesia dapat dikatakan
baru mulai merangkak. Salah satu indikator dari tingkat industrialisasi adalah sumbangan
sektor industri dalam GDP (Gross National Product) yang masih relatif kecil. Dari ukuran ini
sektor industri di Indonesia sangat ketinggalan bila dibandingkan dengan negara-negara
utama di Asia. Dua ukuran lain adalah besarnya nilai tambah besarnya nilai tambah yang
dihasilkan sektor industri dan nilai tambah per kapita.
Dari segi ukuran mutlak sektor industri di Indosesia masih sangat kecil, bahkan kalah
dengan negara-negara kecil, seperti Singapura, Hongkong, dan Taiwan. Secara perkapita
nilai tambah sektor industri di Indonesia termasuk yang paling rendah di Asia. Indikator lain
tingkat industrialisasi adalah produksi listrik perkapita dan prosentase produksi listrik yang
digunakan oleh sektor industri. Di Indonesia produksi listrik perkapita sangat rendah, dan
tingkat yang rendah ini hanya sebagian kecil yang digunakan oleh konsumen industri.

Keadaan sektor industri selama tahun 1950-an dan 1960-an pada umumnya tidak
menggembirakan, oleh karena iklim politik pada waktu itu yang tidak menentu. Kebijakan
perindustrian selama awal tahun 1960-an mencerminkan filsafat proteksionisme dan
etatisme yang ekstrim, yang mengakibatkan kemacetan dalam berproduksi. Sehingga
sektor industri praktis tidak berkembang (stagnasi). Selain itu terjadinya kemacetan produksi
juga disebabakan kerena kelangkaan modal dan tenaga kerja ahli yang memadai.

Perkembangan sektor industri mengalami kemajuan yang cukup mengesankan pada masa
PJP I, hal ini dapat dilihat dari jumlah unit usaha, tenaga kerja yang dapat diserap, nilai
keluaran yang dihasilkan, sumbangan devisa dan kontribusi pembentukan PDB, serta
tingkat pertumhunannya yang cukup menakjubkan, sampai terjadinya krisis ekonomi di
Indonesia pada tahun 1998.
PENUTUP

Jadi penting nya penyelesaian masalah dalam bidan industry sangat penting karena dapat
pengearuh dalam kelancaran kelangsungan pekerjaan di sector tersebut. Dalam upaya
penyelesain masalah tersebu dapat di lakukan dengan cara-cara yang tadi telah di
sampaikan. Hal itu di tempuh agar supaya adanya kepekatan dan tidak adanya pihak yang
di rugikan dalam penyelesaian masalah tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

http://studypolitic.org/blog/2017/08/14/masalah-industrialisasi/

http://ekonomi.metrotvnews.com/mikro/yKX8O9aK-menperin-7-masalah-hambat-
pembangunan-industri-di-indonesia

http://digilib.unila.ac.id/3048/12/BAB%20II.pdf

http://referensi.elsam.or.id/2014/11/uu-nomor-2-tahun-2004-tentang-penyelesaian-
perselisihan-hubungan-industrial/