Vous êtes sur la page 1sur 54

Tugas Rekasaya Sumber Daya Air

Disusun Oleh:
Mikhael Caesar Eka Putra
051.12.056

Dosen Pembimbing:

Dr. Ir. Trihono Kadri, MS

JURUSAN TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

UNIVERSITAS TRISAKTI

JAKARTA

2017
Air merupakan kebutuhan dasar yang sangat penting bagi kehidupan

manusia dan makhluk hidup lainnya. Tidak semua daerah memiliki sumber air yang

baik. Wilayah pesisir pantai dan pulau-pulau kecil di muara sungai atau di tengah

lautan lepas merupakan daerah yang sangat miskin dengan air bersih sehingga

timbul masalah pemenuhan kebutuhan air bersih terutama pada musim kemarau

panjang. Untuk mengatasi masalah pemenuhan kebutuhan air bersih tersebut

diperlukan penerapan teknologi pengolahan air yang sesuai dengan kondisi sumber

air baku, kondisi sosial budaya, ekonomi, dan SDM masyarakat setempat.

Persyaratan Kualitas Air Bersih

Persyaratan kualitas menggambarkan mutu dari air baku air bersih. Sesuai

dengan ketentuan badan dunia (WHO) maupun badan setempat (Departemen

Kesehatan) serta ketentuan atau peraturan lain yang berlaku seperti APHA

(American Public Health Association atau Asosiasi Kesehatan Masyarakat AS),

layak tidaknya air untuk kehidupan manusia ditentukan berdasarkan persyaratan

kualitas secara fisik, secara kimia dan secara biologis

Persyaratan Fisik

Secara fisik air bersih harus jernih, tidak berbau dan tidak berasa. Selain itu

juga suhu air bersih sebaiknya sama dengan suhu udara atau kurang lebih 25oC,

dan apabila terjadi perbedaan maka batas yang diperbolehkan adalah 25oC ± 30oC.

Batas maksimum kekeruhan air yaitu 25 NTU dan warna air 50 TCU.
A. Kekeruhan

Kekeruhan adalah efek optik yang terjadi jika sinar membentuk material

tersuspensi di dalam air. Kekeruhan air dapat ditimbulkan oleh adanya

bahan - bahan organik dan anorganik seperti lumpur dan buangan, dari

permukaan tertentu yang menyebabkan air sungai menjadi keruh.

Kekeruhan walaupun hanya sedikit dapat menyebabkan warna yang lebih

tua dari warna sesungguhnya. Air yang mengandung kekeruhan tinggi akan

mengalami kesulitan bila diproses untuk sumber air bersih. Kesulitannya

antara lain dalam proses penyaringan. Hal lain yang tidak kalah pentingnya

adalah bahwa air dengan kekeruhan tinggi akan sulit untuk didisinfeksi,

yaitu proses pembunuhan terhadap kandungan mikroba yang tidak

diharapkan. Tingkat kekeruhan dipengaruhi oleh pH air, kekeruhan pada air

minum umumnya telah diupayakan sedemikian rupa sehingga air menjadi

jernih.

B. Bau

Bau pada air dapat disebabkan karena benda asing yang masuk ke dalam

air seperti bangkai binatang, bahan buangan, ataupun disebabkan karena

proses penguraian senyawa organik oleh bakteri. Pada peristiwa penguraian

senyawa organik yang dilakukan oleh bakteri tersebut dihasilkan gas – gas

berbau menyengat dan bahkan ada yang beracun. Pada peristiwa penguraian

zat organik berakibat meningkatkan penggunaan oksigen terlarut di air

(BOD = Biological Oxighen Demand) oleh bakteri dan mengurangi


kuantitas oksigen terlarut (DO = Disvolved Oxigen) di dalam air. Bau pada

air minum dapat dideteksi dengan menggunakan hidung. Tujuan deteksi bau

pada air minum yaitu untuk mengetahui ada bau atau tidaknya bau yang

berasal dari air minum yang disebabkan oleh pencemar. Apabila air minum

memiliki bau maka dapat dikategorikan sebagai air minum yang tidak

memenuhi syarat dan kurang layak untuk di manfatkan sebagai air minum

C. Rasa

Rasa yang terdapat di dalam air baku dapat dihasilkan oleh kehadiran

organisme seperti mikroalgae dan bakteri, adanya limbah padat dan limbah

cair seperti hasil buangan dari rumah tangga dan kemungkinan adanya sisa

– sisa bahan yang digunakan untuk disinfeksi misalnya klor. Timbulnya rasa

pada air minum biasanya berkaitan erat dengan bau pada air tersebut. Pada

air minum, rasa diupayakan agar menjadi netral dan dapat diterima oleh

pengguna air. Rasa pada air minum dapat dideteksi dengan menggunakan

indera penyerap. Dimana tujuan dari deteksi rasa pada air minum adalah

untuk mengetahui kelainan rasa air dari standar normal yang dimiliki oleh

air, yaitu netral.

Persyaratan kimiawi

Air bersih tidak boleh mengandung bahan-bahan kimia dalam jumlah yang

melampaui batas. Beberapa persyaratan kimia antara lain adalah: pH yang

diperbolehkan berkisar antara 6,5 – 9,0, total solid, zat organik, CO2 agresif,
kesadahan, kalsium (Ca), besi (Fe), mangan (Mn), tembaga (Cu), seng (Zn),

chloride (Cl), nitrit, flourida (F), serta logam berat.

Persyaratan Bakteriologis

A. Bakteri

Bakteri merupakan kelompok mikroorganisme yang penting pada

penanganan air. Bakteri adalah jasad renik yang sederhana, tidak berwarna,

satu sel. Bakteri berkembangbiak dengan cara membelah diri, setiap 15 –

30 menit pada lingkungan yang ideal. Bakteri dapat bertahan hidup dan

berkembangbiak dengan cara memanfaatkan makanan terlarut dalam air.

Bakteri tersebut berperan dalam dekomposisi unsur organik dan akan

menstabilkan buangan organik. Bakteri yang mendapatkan perhatian di

dalam air minum terutama adalah bakteri Escherichia coli yaitu koliform

yang dijadikan indikator dalam penentuan kualitas air minum.

B. Virus

Virus adalah berupa makhluk yang bukan organisme sempurna, antara

benda hidup dan tidak hidup, berukuran sangat kecil antara 20 – 100 nm

atau sebesar 1/50 kali ukuran bakteri. Perhatian utama virus pada air minum

adalah terhadap kesehatan masyarakat, karena walaupun hanya 1 virus

mampu menginfeksi dan menyebabkan penyakit. Virus berada dalam air

bersama tinja yang terinfeksi, sehingga menjadi sumber infeksi


Prinsip Dasar Penjernihan air dan penerapannya sebagai teknologi tepat guna

Prinsip dasar penjernihan air di meliputi beberapa aspek yang harus sesui dengan

kondisi sebagai berikut:

1. Bersifat tepat guna dan sesuai dengan kondisi, lingkungan fisik, maupun social

budaya masyarakat setempat.

2. Pengoperasiannya mudah dan sederhana

3. Bahan-bahan yang digunakan mudah dan sederhana

4. Bahan-bahan yang digunakan berharga murah

5. Bahan-bahan yang digunakan tersedia di lokasi dan mudah diperoleh

6. Efektif, memiliki daya pembersih yang besar untuk memurnikan air

Berikut beberapa prinsip pengolahan air meliputi :

Teknologi Membran

Teknik pemisahan dengan membran umumnya berdasarkan ukuran partikel dan

berat molekul. Teknologi membran memiliki beberapa keunggulan dibandingkan

dengan proses lain yaitu, pemisahan dapat dilakukan secara kontinu, konsumsi

energi umumnya relatif lebih rendah, proses membran dapat digabungkan dengan

proses pemisahan lainnya (hybrid processing), pemisahan dapat dilakukan dalam

kondisi yang mudah diciptakan. Berikut jenis-jenis proses pemisahan dengan

membran

A Mikrofiltrasi (MF)

Mikrofiltrasi merupakan pemisahan partikel berukuran mikron atau semimikron.

Membran mikrofiltrasi berukuran 0.1-1.0 mikron. Bentuknya lazim berupa


cartridge gunanya untuk menghilangkan partikel dari air yang berukuran 0.04-100

mikron, asalkan kandungan total padatan terlarut tidak melebihi 100 ppm. Filtrasi

cartridge merupakan filtrasi mutlak, artinya partikel padat akan tertahan, terkadang

cartridge yang berbentuk silinder itu dapat dibersihkan. Cartridge tersebut

diletakkan dalam wadah tertentu (housing). Bahan cartridge beragam diantaranya

berasal dari katun, wool, rayon, selulosa, fiberglass, polipropilena, akrilik, nilon,

asbes, ester-ester selulosa, serta polimer hidrokarbon terfluorinasi. Gambar 1

menunjukkan proses filtrasi pada membran mikrofiltrasi.

Gambar 1 Proses Filtrasi pada Membran Mikrofiltrasi

Keuntungan mikrofiltrasi diantaranya mampu menghilangkan semua partikel dan

mikroorganisme yang lebih besar dari ukuran pori, dan perawatan yang dibutuhkan

minimal. Sementara kerugiannya tidak mampu menghilangkan senyawa anorganik

terlarut, senyawa kimia, pirogen, dan semua koloid. Selain itu mikrofiltrasi tidak

dapat diregenerasi. Mikrofiltrasi tidak berbeda secara fundamental dengan reverse

osmosis, ultrafiltrasi ataupun nanofiltrasi kecuali dalam hal ukuran partikel yang

dihilangkannya.

B Ultrafiltrasi (UF)
Membran ultrafiltrasi adalah teknik pemisahan dengan menggunakan membran

untuk menghilangkan zat terlarut dengan bobot molekul (BM) tinggi, aneka koloid,
mikroba sampai padatan tersuspensi dari air lautan. Membran semipermeabel

dipakai untuk memisahkan makromolekul dari larutan. Proses pemisahan

menggunakan membran ultrafiltrasi biasanya digunakan di bidang industri dan

penelitian untuk penjernihan air karena ukuran yang dapat diolah adalah air pekat

yang mengandung makromolekul yang memiliki berat atom sekitar 103-106 Da (1

Da = 0,000714 gram). Pengolahan menggunakan ultrafiltrasi pada umumnya

menggunakan membran berukuran 0.001 mikron – 0.01 mikron. Dalam teknologi

pemurnian air, membran ultrafiltrasi dengan BM membran 1000-20000 lazim untuk

penghilangan pirogen, sedangkan BM membran 80000-100000 untuk penghilangan

koloid. Pirogen dengan BM 10000-20000 terkadang dapat dipisahkan dengan

membran 80000 karena adanya membran dinamis. Tekanan sistem ultrafiltrasi

biasanya rendah 10-100 psi (70-700 kPa) maka dapat menggunakan pompa

sentrifugal biasa. Membran UF sehubungan dengan pemurnian air dipergunakan

untuk menghilangkan koloid (penyebab fouling), mikroba, pirogen, dan partikel

modul higienis.

Membran ultrafiltrasi dibuat dengan mencetak membran selulosa asetat (SA)

sebagai lembaran tipis. Membran selulosa asetat mempunyai sifat pemisahan

namun sayangnya dapat dirusak oleh bakteri dan zat kimia serta rentan terhadap

pH. Adapula membran dari polimer polisulfon, akrilik, polikarbonat, PVC,

poliamida, poliviniliden fluorida, kopolimer AN-VC, poliasetal, poliakrilat,

kompleks polielektrolit, dan PVA ikat silang. Selain itu, membran dapat dibuat dari

keramik, aluminium oksida, zirkonium oksida, dsb.


Membran ultrafiltrasi berfungsi sebagai saringan molekul. Ultrafiltrasi memisahkan

molekul terlarut berdasarkan ukuran dengan melewatkan larutan tersebut pada

filter. Ultrafiltrasi merupakan membran permeabel kasar, tipis, dan selektif yang

mampu menahan makromolekul seperti koloid, mikroorganisme, dan pirogen.

Molekul yang lebih kecil seperti pelarut dan kontaminan terionisasi dapat melewati

membran UF sebagai filtrat. Keuntungan ultrafiltrasi secara efektif mampu

menghilangkan sebagian besar partikel, pirogen, mikroorganisme, dan koloid

dengan ukuran tertentu. Selain itu, mampu menghasilkan air kualitas tinggi dengan

hanya sedikit energi. Berikut proses filtrasi pada proses ultrafiltrasi.

Gambar 2 Proses Filtrasi pada Membran Ultrafiltrasi

C Nanofiltrasi (NF)
Nanofiltrasi adalah proses pemisahan jika ultrafiltrasi dan mikrofiltrasi tidak dapat

mengolah air seperti yang diharapkan. Nanofiltrasi dapat menghasilkan proses

pemisahan yang sangat terjangkau secara ekonomis namun belum dapat mengolah

mineral terlarut, warna dan salinasi air sehingga air hasil olahan (permeate) masih

mungkin mengandung ion monovalen dan larutan dengan pencemar yang memiliki

berat molekul rendah seperti alkohol. Pengolahan menggunakan nanofiltrasi

umumnya menggunakan membran berukuran 0.0001–0.001 mikron.

Proses nanofiltrasi merejeksi kesadahan, menghilangkan bakteri dan virus,

menghilangkan warna yang disebabkan oleh senyawa organik tanpa menghasilkan


zat kimia berbahaya seperti hidrokarbon terklorinasi. Nanofiltrasi cocok bagi air

dengan total padatan terlarut yang rendah, dilunakkan dan dihilangkan senyawa

organiknya. Formulasi dasarnya mirip reverse osmosis tetapi mekanisme

operasionalnya mirip ultrafiltrasi. Jadi, nanofiltrasi merupakan gabungan antara

reverse osmosis dan ultrafiltrasi.

D Reverse Osmosis (RO)


Reverse osmosis adalah proses pengolahan yang membutuhkan tekanan relatif

tinggi, walaupun pada beberapa kasus dapat digunakan dalam tekanan rendah,

hemat energi, menghasilkan air olahan yang dapat menyaring zat dengan molekul

terkecil sekalipun yang tidak dapat diolah oleh proses mikrofiltrasi, ultrafiltrasi dan

nanofiltrasi. Reverse osmosis didasarkan pada prinsip osmosis. Dalam osmosis,

membran semipermeabel memisahkan dua larutan dengan jumlah kandungan zat

terlarut yang berbeda, dengan kata lain kedua larutan tersebut memiliki konsentrasi

yang berbeda. Membran semipermeabel melewatkan air dan senyawa lain berbobot

molekul rendah dan menahan senyawa dengan bobot molekul tinggi seperti

senyawa-senyawa organik dan kompleks logam. Adanya tekanan menyebabkan air

melewati membran dari larutan konsentrasi rendah (encer) ke larutan dengan

konsentrasi yang lebih tinggi (pekat) seperti terlihat pada Gambar 3, tekanan

tersebut dinamakan tekanan osmosis.


Gambar 3 Peristiwa Osmosis
Air memiliki kecenderungan untuk bergerak dari konsentrasi rendah ke tinggi
sampai diperoleh konsentrasi yang sama, hal ini diilustrasikan pada Gambar 4.

Gambar 4 Hasil Akhir Peristiwa Osmosis


Dalam reverse osmosis (RO), tekanan diberikan pada larutan yang lebih pekat,
besarnya tekanan tergantung perbedaan konsentrasi antara kedua larutan, tekanan
tersebut harus dapat melampaui tekanan osmosis (Gambar 5).
Gambar 5 Peristiwa Reverse Osmosis
Air yang telah ditreatment dengan RO mampu menghasilkan 10-35 galon per hari.

Jumlah tersebut tergantung pada beberapa faktor, diantaranya tipe dan kondisi

membran, kondisi operasi (seperti laju alir dan tekanan) dan kualitas air baku

(seperti konsentrasi kontaminan, suhu, dan pH). Hasil pengukuran RO dapat

dinyatakan sebagai % Recovery dan % Rejeksi. Persen recovery menunjukkan

bagian air yang melewati RO dan keluar sebagai air bersih (air yang telah

ditreatment), sedangkan persen rejeksi menunjukkan bagian air yang melewati RO

dan keluar sebagai air buangan (wastewater).

% Recovery = (Volume air setelah treatment/Volume total air baku) x 100

Sistem RO dalam rumah tangga didesain dengan menghasilkan % Recovery 20-

30%, hal ini berarti 100 galon/hari air baku dapat menghasilkan 20-30 galon/hari

air yang telah ditreatment dan 80 galon/hari air buangan (wastewater). Apabila laju

alir wastewater lambat, kemungkinan % Recovery tinggi, demikian pula

sebaliknya. Persen rejeksi menyatakan persentase kontaminan yang tidak melewati

membran. Persen rejeksi dapat menunjukkan kualitas air yang dihasilkan, misalnya
air baku mengandung nitrat 40 mg/l dengan % Rejeksi 85%, hal ini berarti terdapat

0.85 x 40 = 34 mg/l nitrat dalam wastewater dan meninggalkan hanya 6 mg/l nitrat

dalam air hasil treatment.

Komponen unit RO (Gambar 6) terdiri atas strainer, pompa booster, filter cartridge,

dan membran RO. Strainer berfungsi untuk menghilangkan padatan terlarut

berukuran besar dari air baku, hal ini bertujuan untuk melindungi pompa booster.

Pompa booster berfungsi untuk meningkatkan tekanan dari air baku, tekanannya

berkisar antara 150-800 psi. filter Cartridge digunakan untuk menghilangkan

partikel-partikel dari air baku yang dapat mengotori unit RO, ukuran pori filter

berkisar antara 1-5 mikron. Material membran yang umum digunakan adalah

poliamida aromatik, selulosa asetat (SA), polieteramida, polieteramina,

polieterurea, polifelilena oksida, polifenilena bibenzimidazol. Membran PA

digunakan pada tipe bentuk spiral membentuk komposit film tipis atau poliamida

thin-film composit (TFC). TFC lebih mahal, serta memiliki kekuatan dan

durabilitas (daya tahan) yang lebih baik dibandingkan SA. Selain itu, TFC memiliki

% Rejeksi yang tinggi terhadap TDS, tahan terhadap serangan mikroba, dan toleran

terhadap pH tinggi. TFC dapat digunakan pada kisaran pH 2-11 dengan toleransi

suhu 160°F dibandingkan dengan membran material tunggal (single-material

membrane). Sementara itu, SA lebih murah dan toleran terhadap klorin, biasanya

digunakan sebagai desinfektan dalam air minum. Membran SA memiliki kisaran

pH 2.5-7 dengan toleransi suhu yang lebih rendah 85°F, membran tersebut bersifat

biodegradabel Setiap membran terdiri atas membran film tipis yang terikat pada

lapisan material-material pori yang mendukung dan menguatkan membran.


Membran tipe lain adalah polisulfon sulfonat (SPS), SPS toleran terhadap klorin

dan pH tinggi, lebih mahal dibandingkan SA tetapi kurang efektif jika dibandingkan

dengan TFC. SPS dapat digunakan ketika air baku licin dan memiliki pH tinggi.

Tipe membran RO bergantung pada karakteristik air baku.

Sebelum mesuk unit RO, air baku melewati pretreatment, diantaranya:

• Pengaturan pH: Apabila pH air baku berada di luar kisaran pH membran

• Pemisahan minyak dan lemak: Digunakan untuk air baku yang mengandung

minyakataulemak.

• Desinfektan: Air baku sebaiknya ditambahkan desinfektan untuk mencegah

bakteri dari kerusakan dan pengotoran membran. UV biasanya digunakan untuk

menghilangkanklrorin

• Pengaturan suhu: Apabila suhu air baku lebih besar dibandingkan suhu membran,

heat exchanger atau alat lain dapat digunakan untuk mendinginkan air baku dan

mencegahkerusakanmembran.

Gambar 6 Komponen Unit RO


Sistem RO sangat baik digunakan untuk air yang memiliki kontaminan anorganik

terlarut, terutama air yang mengandung nitrat yang berasal dari limbah pertanian.

Beberapa kontaminan yang dapat dihilangkan oleh filter membran RO terdapat

pada Tabel 1.

Tabel 1 Jenis kontaminan yang dapat dihilangkan dengan unit RO

Ion dan LogamArsen, Aluminium, Barium, Kadmium, Kalsium, Klorida,

Kromium, Tembaga, Fluorida, Besi, Timbal, Magnesium, Mangan, Merkuri, Nitrat,

Kalium, Radium, Selenium, Perak, Natrium, Sulfat, Besi.Partikel-partikelAsbestos,

Protozoa, CryptosporidiumPestisidaEndrin, Heptaklor, Lindan, Pentaklorofenol

Beberapa kontaminan yang tidak dapat dihilangkan dengan filter RO yaitu, gas

terlarut seperti hidrogen sulfida, beberapa pestisida tertentu, pelarut, dan senyawa

organik volatil (VOCs). Efisiensi membran RO dalam menghilangkan kontaminan

tergantung konsentrasi kontaminan, sifat-sifat kimia kontaminan, tipe dan kondisi

membran, serta kondisi operasi. Setiap metode memiliki keterbatasan dalam

menghilangkan kontaminan, tidak ada metode yang dapat menghilangkan semua

kontaminan, dibutuhkan kombinasi antara dua metode treatment air sehingga

diperoleh air yang bersih bebas segala kontaminan. Biasanya unit RO

dikombinasikan dengan karbon aktif.

Berdasarkan uraian diatas, sistem RO memiliki keuntungan diantaranya mampu

menghilangkan senyawa-senyawa anorganik maupun senyawa-senyawa organik

yang terdapat dalam air, mampu menghilangkan parasit dan mikroorganisme

seperti virus, mampu menghasilkan air lebih murni dibandingkan dengan sistem
destilasi dengan harga yang lebih murah. Selain itu, sistem RO tidak membutuhkan

aliran listrik hanya membutuhkan tekanan tinggi untuk dapat beroperasi.

Sistem RO juga memiliki beberapa kerugian diantaranya output air yang dihasilkan

setelah treatment lebih sedikit, tidak mampu menghilangkan beberapa pestisida

tertentu, pelarut, dan senyawa-senyawa organik volatil (VOCs) sehingga harus

dilengkapi dengan filter post karbon untuk menghilangkan kontaminan tersebut,

pada saat tidak diberikan tekanan, sistem RO tidak dapat beroperasi, RO

memerlukan perawatan yang intensif untuk membran prefilter dan postfilter serta

tanki penyimpanan harus dikontrol secara periodik Selain itu, pada sistem RO

kerusakan membran sulit dideteksi.

Pertukaran Ion

Ion merupakan atom atau molekul yang bermuatan, dapat bermuatan positif

maupun negatif. Secara umum metode pertukaran ion terdiri atas softening dan

deionisasi. Softening utamanya digunakan sebagai metode pretreatment untuk

mereduksi air sadah sebelum memasuki proses reverse osmosis (RO).

A Softening

Air tanah melarutkan bebatuan dan melepaskan mineral-mineral salah satunya ion

kalsium dan magnesium. Keberadaan kalsium dan magnesium ini dapat

menyebabkan air bersifat sadah atau lebih dikenal dengan istilah hardwater.

Mineral-mineral tersebut dapat menurunkan kualitas air, terlihat dari sifat fisiknya

yang nampak keruh dan berbau. Kalsium dan magnesium terdapat dalam bentuk

CaCO3 dan MgCO3, kedua garam tersebut dapat dihilangkan dengan pemanasan

namun membutuhkan energi yang besar. Agen pembersih yang biasa digunakan
untuk mencuci pakaian pun tidak mampu menghilangkan kotoran dan kuman

apabila menggunakan air sadah, bahkan membuat pakaian menjadi kusam. Selain

itu, mineral-mineral tersebut dapat meninggalkan kerak putih pada kamar mandi.

Kesadahan air atau water hardness dapat dihilangkan dengan metode pertukaran

ion.. Water hardness dapat dinyatakan dalam grain per gallon (gpg) dan part per

million (ppm) atau miligram per liter (mg/L). 1 gpg sama dengan 17 ppm(mg/L).

Tabel 2 menunjukkan tingkat kesadahan air.

Tabel 2 Klasifikasi kesadahan air (sebagai CaCO3)

Tingkat Kesadahan ppm atau mg/L grain/galon (gpg)

Tidak sadah 0-17 0-1

Sedikit sadah 17-60 1-3.5

Cukup sadah 60-120 3.5-7

Sadah 120-180 7-10.5

Sangat sadah >180 >10.5

Pertukaran ion mampu menghilangkan ion Ca dan Mg penyebab kesadahan air dan

menggantinya dengan ion yang tidak menyebabkan kesadahan seperti ion Na. Na

dapat diperoleh dari garam NaCl. Untuk mengatasi kesadahan (hardness) dapat

digunakan suatu softener yang mengandung resin pertukaran mikropori, biasanya

berupa polistirena sulfonat yang sangat jenuh dengan Na, menutupi seluruh

permukaan resin. Resin menukar dua ion Na+ untuk setiap ion Ca2+ atau Mg2+

yang akan dihilangkan. Air akan melewati resin ini, ion Ca dan Mg yang berasal
dari air sadah menyerang resin dan menggantikan posisi ion Na dalam resin

sehingga resin melepaskan ion Na ke dalam air. Proses tersebut merupakan proses

softening air sadah seperti terlihat pada Gambar 7.

Setelah proses softening dalam jumlah besar, resin menjadi jenuh dengan ion Ca

dan Mg sehingga resin harus diregenerasi (Gambar 7). Resin yang telah jenuh

ditambahkan larutan pencuci yang mengandung ion Na (brine solution) sehingga

ion Na akan menggantikan kembali posisi ion Ca dan Mg dalam resin, ion Ca dan

Mg keluar sebagai wastewater. Secara garis besar dalam proses softening maupun

regenerasi terjadi reaksi sebagai berikut:

Proses softening: Na-Resin + Ca2+/Mg2+  Ca-Resin/Mg-Resin + Na+

Proses regenerasi: NaCl + Ca-Resin/Mg-Resin  Na-Resin + Ca2=/Mg2+


Gambar 7 Proses Softening dan Regenerasi (Recharge)

Frekuensi untuk regenerasi resin tergantung tingkat kesadahan air, jumlah air yang

digunakan, ukuran softener, serta kapasitas resin. Waktu regenerasi sekitar 60-120

menit. Pada proses softening, Na yang ditambahkan ke dalam setiap galon air sadah

8 ppm. Setelah treatment, air dengan kesadahan 10 gpg akan memiliki kandungan

Na sebesar 80 ppm. Hal ini berarti untuk setiap liter air (0.26 galon) yang masuk

mengandung 80 mg Na.

Water softener diklasifikasikan ke dalam lima kategori, yaitu:

Manual: Operator menutup dan membuka kran untuk mengontrol frekuensi, tingkat

danwakturegenerasi.
Semi-automatic: Operator hanya mengawali siklus regeneasi, tombol ditekan saat

softener perlu untuk diregenerasi, kemudian unit akan mengontrol dan melengkapi

prosesregenerasi.

Automatic: Softener dilengkapi pengatur waktu yang secara otomatis akan

mengawali siklus

regenerasi dan setiap tahapan dalam proses tersebut. Operator hanya perlu mengatur

waktu dan menambahkan garam sesuai kebutuhan. Regenerasi umumnya dilakukan

saat penggunaan air sedikit, yaitu sekitar jam 4 pagi atau tengah malam. Tipe

softenerinipalingpolulardigunakan.

Demand Initiated Regeneration (DIR): Semua operasi diawali secara otomatis

tergantung respon

penggunaan air dan permintaan akan proses softening. Sistem DIR secara umum

mempunyai dua tanki softening dan satu tanki larutan pencuci (brine solution). Pada

saat sedang berlangsung proses softening pada satu tanki, akan berlangsung proses

regenerasipadatankilainnya.

Off-site regeneration: Penggunaan tanki softening secara fisik diganti dengan tanki

regenerasi.

Setelah proses softening kemudian diregenerasi di lokasi pusat.

Semua tipe softener harus diinstal secara tepat dan dimonitor untuk pengoperasian

yang sesuai. Softener tipe automatic dan DIR membutuhkan lebih banyak garam.

Jumlah garam yang ditambahkan tergantung jumlah individu setiap rumah,

penggunaan air sehari-hari, kapasitas softener, dan tingkat kesadahan. Sementara


ukuran softener tergantung tingkat kesadahan, penggunaan air sehari-hari, dan laju

alir air.

Selama proses softening natrium dilepaskan dari resin ke air yang akan digunakan

sehingga kandungan natrium dalam air tinggi, penggunaan garam natrium dapat

diganti dengan KCl untuk alasan kesehatan maupun kelestarian lingkungan. KCl

memang lebih mahal namun aman bagi tubuh dibandingkan dengan NaCl. KCl

relatif mahal karena KCl terikat lebih kuat pada resin sehingga mereduksi efisiensi

proses softening dan KCl yang dibutuhkan lebih banyak.

Perawatan untuk softener tergantung tipe softener yang digunakan. Tanki larutan

pencuci harus selalu diperiksa dan dibersihkan secara teratur. Frekuensi

pembersihan bergantung pada tipe dan kemurnian garam yang digunakan dalam

proses softening serta karakteristik air yang akan ditreatment. Proses backwash

resin sangat penting untuk efisiensi regenerasi. Apabila proses backwash dilakukan

semi-otomatis, backwash sebaiknya tetap dilanjutkan sampai diperoleh air yang

benar-benar bersih. Apabila proses backwash dilakukan secara otomatis, atur waktu

backwash cukup lama sehingga diperoleh air bersih. Kandungan besi > 5 ppm,

mangan atau hidrogen sulfida yang cukup tinggi dalam air akan mereduksi

efektivitas softener, apabila ini terjadi resin harus dibersihkan terlebih dahulu atau

bahkan diganti.

Keuntungan purifikasi air dengan metode pertukaran ion melalui proses softening

diantaranya dapat menghilangkan ion Ca2+ dan Mg2+ sehingga air lebih bersih dan

lembut untuk pakaian, membuat mesin cuci dan alat rumah tangga lainnya tahan
lama, deterjen ataupun sabun yang digunakan pun lebih sedikit. Adapun kerugian

metode ini diantaranya air hasil softening tidak direkomendasikan untuk menyiram

tanaman dan kebun karena kandungan natriumnya, dapat mereduksi efektivitas

sistem septik dan selokan, beresiko terhadap kesehatan akibat pemasukan natrium

yang tinggi ke dalam tubuh.

Masalah kesadahan air untuk keperluan mencuci dapat direduksi dengan

menggunakan deterjen yang telah ditambahkan formula kimia softening. Beberapa

senyawa kimia yang ditambahkan untuk mereduksi efek negatif dari air sadah

meliputi Sal soda dan Calgon. Sal soda dikombinasikan dengan kalsium dan

magnesium membentuk partikel padat, merupakan zat aditif pengendap, tidak

bersih secara sempurna karena partikel padat kemungkinan melekat pada serat

pakaian. Calgon dikombinasikan dengan kalsium dan magnesium membentuk

senyawa dalam larutan, merupakan zat aditif bukan pengendap namun berakibat

negatif pada lingkungan karena kandungan fosfat yang sangat tinggi.

B Deionisasi

Deionisasi merupakan suatu metode dimana aliran air akan melewati 2 material

pertukaran ion dalam hal ini resin sehingga dapat menghilangkan semua kandungan

garam. Deionisasi menukar baik ion H+ (kation) maupun ion OH- (anion). Resin

penukar kation terbuat dari stirena dan divinil benzena yang mengandung gugus

asam sulfonat yang akan menukarkan setiap ion H+ untuk berbagai kation seperti

Na+ Ca2+ dan Al3+. Demikian halnya dengan resin penukar anion, terbuat dari

stirena dan mengandung gugus ammonium kuarterner yang akan menukar setiap
ion OH- dengan berbagai anion seperti Cl-. Ion hidrogen dari unit penukar kation

dan ion hidroksil dari unit penukar anion akan membentuk air murni.

Aliran air pertama melewati resin penukar kation hanya menghilangkan ion Ca2+

dan Mg2+ sebagaimana proses softening normal. Deionisasi juga dapat

menghilangkan ion-ion logam positif lain selama proses dan menggantinya dengan

ion H+. Ion logam mampu menempatkan dirinya pada resin pertukaran kation.

Pertukaran ion H+ dan ion positif lainnya harus ekuivalen secara kimia untuk

menjaga keseimbangan muatan listrik. Ion Na+ menggantikan 1 ion H+ dari resin,

ion Ca2+ menggantikan 2 ion H+ dari resin, ion Fe3+ menggantikan 3 ion H+ dari

resin. Hasil akhir setelah melewati penukar kation diperoleh ion H+ dengan

konsentrasi relatif tinggi sehingga larutan bersifat asam. Dalam hal ini proses

deionisasi terjadi secara parsial. Selanjutnya air akan mengalir melalui penukar

anion, pertukaran terjadi antara ion OH- dengan ion negatif lain seperti Cl-. Dari

semua proses tersebut, sistem akan menghasilkan air bebas ion seperti pada Gambar

9
Gambar 9 Proses Deionisasi
Ada beberapa tipe untuk proses deionisasi yaitu, untuk unit multiple dan unit single.

Unit multiple mempunyai sepasang tangki untuk penukar kation dan penukar anion.

Sementara unit single hanya memiliki satu tangki, penukar anion dan kation

dicampurkan dalam satu tempat. Material penukar ion (resin penukar ion) tersebut

harus diregenerasi sehingga dapat digunakan kembali untuk proses purifikasi air.

Deionisasi dapat menjadi komponen penting dalam sistem purifikasi air secara total

ketika dikombinasikan dengan metode lain seperti RO dan adsorpsi karbon.

Deionisasi mampu menghilangkan kontaminan berupa ion-ion secara efektif tetapi

tidak mampu menghilangkan senyawa-senyawa organik maupun mikroorganisme.

Mikroorganisme dapat menyerang resin karena resin dapat menyediakan media

untuk pertumbuhan bakteri dan generasi pirogen. Secara garis besar, keuntungan

deionisasi menghilangkan senyawa anorganik secara efektif, mampu diregenerasi,

modal awal relatif murah. Namun terdapat beberapa kerugian dari deionisasi yaitu,

tidak dapat menghilangkan partikel-partikel kecil, pirogen atau bakteri dan biaya

operasionalnya relatif mahal.


Adsorpsi Karbon

Adsorpsi (penyerapan) adalah suatu proses pemisahan dimana komponen dari suatu

fase fluida/cairan berpindah ke permukaan zat padat yang menjerap (adsorban).

Biasanya partikel-partikel kecil zat penjerap dilepaskan pada adsorpsi kimia,

terbentuk ikatan kuat antara penjerap dan zat yang dijerap sehingga tidak mungkin

terjadi proses yang bolak-balik (Tinsley 1979). Pada adsorpsi digunakan istilah

adsorbat dan adsorban, dimana adsorbat adalah substansi yang terjerap atau

substansi yang akan dipisahkan dari pelarutnya, sedangkan adsorban adalah

merupakan suatu media penjerap yang dalam hal ini biasanya berbentuk padatan

(Webar 1972). Pada proses ini adsorbat menempel dipermukaan adsorban

membentuk suatu lapisan tipis (film). Dalam proses purifikasi air adsorban yang

digunakan biasanya berupa karbon sehingga dikenal istilah proses adsorpsi karbon.

Produksi karbon aktif dunia diperkirakan 300000-400000 ton. Sekitar 80% karbon

aktif diaplikasikan pada fase cair. karbon aktif dapat berasal dari arang hasil

pembakaran, batu bara, lignit, produk-produk kayu, batok kelapa, dan lainnya.

Karbon tersebut kemudian diaktivasi dengan memberikan uap pada suhu tinggi

(2300°F) tanpa pemberian oksigen. Pada beberapa kasus, karbon juga diproses

dengan asam pencuci atau dilapisi oleh suatu senyawa yang dapat menambah

kemampuan karbon dalam menghilangkan kontaminan tertentu. Karbon yang telah

diaktivasi memiliki ukuran partikel yang kecil dan luas permukaan yang besar

sehingga memungkinkan kontaminan lebih banyak terjerap ke dalam karbon. PAC

(Powdered Activated Carbon) diperoleh dengan menghaluskan karbon sehingga


diperoleh karbon berupa serbuk yang sangat halus. Luas permukaan karbon aktif

berkisar 500-1400 m2/g (Hassler 1974).

Karbon aktif mempunyai ukuran pori yang sangat banyak. Pori-pori ini dapat

menangkap partikel-partikel yang sangat halus maupun molekul organik yang besar

seperti rasa, warna, maupun bau dan menjebaknya disana. Karbon aktif memiliki

jaringan pori yang sangat luas dan berubah-ubah bentuknya untuk menerima

molekul kontaminan baik besar maupun kecil. Pori karbon aktif diklasifikasikan

berdasarkan ukuran dan diameter pori. Variasi pori meliputi mikropori (2 nm),

mesopori (2-50 nm), dan makropori (>50 nm).

Adsorpsi karbon aktif merupakan proses adsorpsi dimana kontaminan ditarik atau

dijerap oleh permukaan partikel karbon (Gambar 10). Efisiensi proses adsorpsi

dipengaruhi oleh karakteristik karbon (ukuran partikel, ukuran pori, luas

permukaan, densitas, kekerasan) dan karakteristik kontaminan (konsentrasi,

kelarutan kontaminan, penarikan kontaminan ke permukaan karbon. Adsorpsi

karbon merupakan metode yang sering digunakan dalam treatment air karena

kemampuannya dalam menghilangkan rasa dan bau termasuk klorin. Karbon aktif

dapat menghilangkan banyak senyawa kimia dan gas, bahkan senyawa

mikroorganisme. Karbon aktif sangat baik digunakan untuk menghilangkan

kontaminan kelas 1 yang merupakan senyawa organik penyebab rasa dan bau

menurut Enviroment Protect Agency(EPA).

Gambar 10 Proses Adsorpsi Karbon Aktif


Pada proses adsorpsi, kontaminan mematahkan ikatannya dengan molekul air untuk
berikatan kimia dengan media filter. Kontaminan yang dapat dihilangkan dengan
karbon aktif terdapat pada Tabel 3.
Tabel 3 Jenis kontaminan yang dapat dihilangkan dengan karbon aktif

Kontaminan Jenis Kontaminan

Ion dan Logam Klorin, Radon

Senyawa Kimia Benzena, Karbon Tetraklorida, Dikloro Benzena, Toluena,

Organik Trikloroetilena, Trihalometana (THMs)

Pestisida 1,2,4-Triklorobenzena, 2,4-D, Atrazine

Kontaminan tidak semua dapat diatasi dengan satu metode karena semua metode

memiliki keterbatasan, dan terkadang harus dikombinasikan untuk mentreatment

air sehingga diperoleh air bersih. Setiap tipe karbon memiliki kemampuan yang

berbeda dalam menghilangkan kontaminan, tidak ada satupun karbon yang dapat

menghilangkan semua kontaminan secara maksimal. Adsorpsi karbon aktif tidak

dapat menghilangkan virus, bakteri, kalsium dan magnesium, fluorida, nitrat dan

senyawa lainnya. Efektivitas penghilangan kontaminan yang spesifik tergantung

pada sumber atau tipe karbon dan metode aktivasi. Contohnya, karbon yang paling

efektif untuk menghilangkan Timbal berbeda tipe dan metode aktivasinya dengan

karbon yang digunakan untuk menghilangkan klorin. Berikut adalah faktor-faktor

yang dapat mempengaruhi kapasitas adsorpsi.

Tabel 4 Faktor-faktor yang mempengaruhi kapasitas adsorpsi

>
Faktor yang
Efek
mempengaruhi

Luas permukaan sebanding dengan kapasitas adsorpsi


Luas Permukaan
(luas permukaan ditentukan oleh derajat aktivasi)

Ukuran pori sangat penting untuk proses distribusi karena

Ukuran Pori menyediakan sisi adsorpsi dan jalan untuk transport

adsorbat

Senyawa dengan kelarutan rendah dalam pelarut dijerap

Kelarutan lebih mudah dibandingkan dengan senyawa dengan

kelarutan tinggi

Senyawa organik rantai bercabang lebih mudah dijerap


Struktur Molekul
dibandingkan dengan rantai lurus

Partikel yang lebih kecil memiliki tingkat adsorpsi yang


Ukuran Partikel
lebih besar

Senyawa nonpolar lebih mudah dijerap dibandingkan


Polaritas
dengan senyawa polar

Senyawa hidrokarbon tak jenuh (ikatan ganda atau

Sifat Hidrokarbon rangkap tiga) akan dijerap lebih mudah dibandingkan

hidrokarbon jenuh (ikatan tunggal)


Suhu yang rendah dapat meningkatkan kapasitas adsorpsi
Suhu
kecuali untuk l;arutan yang kental

Nilai pH Kapasitas adsorpsi meningkat pada kondisi pH rendah

Konsentrasi Kapasitas adsorpsi sebanding dengan konsentrasi

Adsorbat adsorbat

Waktu kontak yang cukup dibutuhkan untuk mencapai


Waktu Kontak
kesetimbangan adsorpsi

Waktu kontak antara air dan karbon ditentukan oleh laju alir dan proses adsorpsi

kontaminan. Semakin lama waktu kontak semakin besar pula jumlah kontaminan

yang teradsorpsi. Jumlah karbon dalam filter juga mempengaruhi proses

penghilangan kontaminan, contohnya karbon dalam jumlah sedikit secara umum

hanya mampu menghilangkan rasa dan senyawa penyebab bau, sementara untuk

menghilangkan THMs diperlukan jumlah karbon yang lebih banyak. Jumlah karbon

juga mempengaruhi kecepatan penjenuhan media.

Pada saat semua sisi aktif karbon terisi oleh kontaminan, media menjadi jenuh dan

telah mencapai kapasitasnya. Pada saat seperti itu kontaminan tidak dapat lagi

dijerap atau mungkin beberapa kontaminan terlepas kembali ke dalam air. Apabila

ini terjadi, kemungkinan kontaminan dalam air setelah treatment lebih tinggi

dibandingkan dengan sebelum treatment, untuk mencegahnya kita harus

mengetahui kapasitas media yang digunakan. Media yang telah jenuh dapat

diregenerasi kembali artinya setelah proses aktivasi karbon mencapai batas

maksimum dan semua sisi aktif terisi, regenerasi dapat dilakukan dengan mencuci
dan memanaskan kembali karbon aktif pada suhu 820-930° C. Persen recovery dari

proses regenerasi berkisar 90-95%.

Rangkaian unit sistem adsorpsi karbon aktif terdiri atas tipe point of use(POU)

dan point of entry (POE). POE mentreatment semua air yang masuk ke rumah. Tipe

ini direkomendasikan untuk mentreatment senyawa-senyawa berbahaya dalam air

seperti radon dan VOCs. VOCs mudah menguap tetapi tetap menempel pada

shower, mesin cuci, maupun dishwasher sehingga kemungkinan tetap kontak

dengan kulit. POE dapat mereduksi kontaminan saat masuk dalam berbagai situasi.

POE harus memperhatikan waktu kontak, tipe dan jumlah karbon yang digunakan

untuk membuang air buangan (wastewater).

POU mentreatment air pada saat akan digunakan, biasanya sistem ini hanya

digunakan untuk minum dan keperluan memasak. Pada tipe ini air yang akan

digunakan saja yang ditreatment, air yang bukan untuk konsumsi tidak ditreatment

dan dikeluarkan melalui suatu kran. Filter karbon pada tipe ini tidak dihubungkan

dengan sumber air/air baku, harganya lebih murah dan susunan alatnya sederhana,

namun air yang ditreatment jumlahnya terbatas karena waktu kontak terbatas dan

jumlah karbon pun sedikit.

Berdasarkan uraian diatas, keuntungan adsorpsi karbon adalah menghilangkan

senyawa organik volatil (VOCs) terlarut dan klorin secara efektif dan memiliki

kapasitas adsorpsi yang tinggi (long life) untuk menghilangkan lebih banyak

kontaminan, sementara kerugiannya karbon aktif relatif mahal, aktivasi karbon

dapat mengembangbiakan mikroorganisme, hal ini dapat menjadi keuntungan pula

sejak mikroba mampu mendegradasi senyawa organik terlarut. Solusinya adalah air
harus didesinfeksi sebelum melalui media karbon, post desinfeksi juga sebaiknya

digunakan karena reaksi dengan karbon aktif dapat menghilangkan zat

pengoksidasi yang digunakan pada saat awal proses desinfeksi. Perlu diketahui,

kondisi yang paling baik untuk pertumbuhan bakteri yaitu saat filter jenuh dengan

kontaminan organik karena dapat menyediakan sumber makanan untuk bakteri, dan

pada saat filter tidak digunakan lagi dalam jangka waktu lama. Kondisi seperti itu

dapat membuat air tidak jernih, untuk mengatasinya karbon aktif harus dilengkapi

dengan logam perak yang dapat mencegah pertumbuhan bakteri. Namun,

efektivitas prosedur ini tidak valid karena perak juga dapat mengkontaminasi air.

Hal terbaik adalah kita harus sering mengganti karbon aktif lebih sering lagi

daripada yang dianjurkan dalam petunjuk pemakaian. Kerugian lain, karbon aktif

menghasilkan emisi tinggi berupa sulfur oksida (SO2), emisi tersebut dapat

diperoleh dari proses pemanasan pembuatan karbon aktif dari batu bara.

Destilasi

Destilasi merupakan metode tertua untuk treatment air, metode ini efektif untuk

mereduksi berbagai kontaminan. Destilasi dapat menghilangkan lebih banyak

kontaminan dalam air, senyawa yang dapat dihilangkan meliputi natrium, senyawa

penyebab kesadahan seperti kalsium dan magnesium, senyawa padatan terlarut lain

seperti besi, mangan, fluorida, dan nitrat. Destilasi dapat menonaktifkan

mikroorganisme seperti bakteri, virus, dan protozoa. Selain itu, destilasi juga dapat

menghilangkan berbagai senyawa organik dan logam berat seperti timbal, klorin,

kloramin, dan radionukleotida. Kendala yang dihadapi, destilasi dapat

menghilangkan kandungan oksigen sehingga apabila terdapat logam-logam kelumit


akan menyebabkan air berasa. Alat destilasi pun memiliki keterbatasan yaitu, tidak

mampu menghilangkan secara sempurna kontaminan berupa pestisida, pelarut

volatil, serta senyawa organik volatil (VOCs) seperti benzena dan toluene.

Destilasi bekerja dengan prinsip penguapan dan kondensasi. Elemen pemanas

listrik (1000-1500 watt) memanaskan air yang belum ditreatment sehingga

dihasilkan uap. Uap akan memasuki bagian pendingin dan dikondensasikan

menjadi air destilat dalam kondensor, kemudian dialirkan ke kontainer

penyimpanan. Beberapa alat destilasi menggunakan udara untuk mendinginkan

uap, bahkan ada pula yang menggunakan aliran air untuk mendinginkan uap. Air

yang terkumpul dalam kontainer telah bebas dari kontaminan, lebih dari 99.5%

kontaminan dapat dihilangkan dengan destilasi. Sementara air yang berada dalam

chamber pemanasan yang masih mengandung kontaminan dengan konsentrasi

tinggi dikeluarkan melalui suatu saluran dalam chamber (drain). Kontaminan

seperti senyawa anorganik dan senyawa organik nonvolatil tidak diuapkan tetapi

meninggalkan unit chamber melalui saluran belakang. Gambar 11 merupakan tipe

alat destilasi.
Gambar 11 Tipe alat destilasi

Pemanasan dapat menonaktifkan bakteri, virus, dan protozoa. Senyawa organik

volatil (VOCs) diketahui dapat teruapkan seperti air bahkan lebih cepat, hal ini

dapat mengganggu proses penghilangan kontaminan, untuk menghilangkan

kontaminan-kontaminan tersebut, metode destilasi sebaiknya dikombinasikan

dengan metode lain. Alat destilasi dapat dilengkapi dengan lubang gas (gas vent),

lubang ini dapat melewatkan VOCs keluar dari unit destilasi sebelum memasuki

kondensor. Opsi lain dapat menggunakan destilasi kolom bertingkat (fraksional).

Dalam destilasi tipe ini, VOCs dikondensasikan terpisah dari kondensasi air. Opsi

ketiga menggunakan filter karbon aktif untuk menghilangkan VOCs dari air

kondensat sebelum air memasuki tanki penyimpanan. Alternatif lain, karbon aktif

ditempatkan di air baku sehingga VOCs telah dihilangkan sebelum memasuki unit

destilasi.
Pada umumnya, VOCs dalam air akan menguap lebih dulu dibandingkan dengan

air baku selama proses destilasi. Jika tidak dihilangkan, VOCs akan terkondensasi

kembali ke cairan bersama dengan air destilat. Berdasarkan hal tersebut, untuk alat

destilasi yang tidak disertai gas vent sebaiknya dilakukan pretreatment dengan

karbon aktif untuk menghilangkan VOCs atau menggunakan destilasi bertingkat.

Biaya operasional untuk destilasi harus diperhatikan, yang paling signifikan adalah

biaya operasional listrik yang dibutuhkan untuk memanaskan air hingga terbentuk

uap. Biaya operasional secara langsung dipengaruhi oleh jumlah air destilat yang

digunakan sehari-hari. Biaya operasional ini paling mahal dibandingkan dengan

metode treatment air lainnya. Biaya untuk mendestilasi 1 galon air ditentukan oleh

besarnya daya listrik dalam setiap unit. Contohnya, 1 unit alat destilasi

membutuhkan daya 1100 watt untuk mendestilasi 1 galon air dalam waktu 3 jam

dengan biaya $0.10/kWh, maka dapat diperkirakan biaya operasional yang

dibutuhkan yaitu,

Biaya listrik = 1100watt/1000 watt per kWatt x 3 jam x $0.10/kWh = $0.33/gallon

Model alat destilasi didesain untuk kemudahan pembersihan dan direkomendasikan

pula untuk sistem aliran otomatis. Secara umum, alat destilasi terbuat dari stainless

steel, aluminium, dan material plastik. Material-material ini tidak memiliki

kecenderungan untuk menyerap kontaminan dari air dan mudah untuk dibersihkan.

Alat destilasi sebaiknya disimpan dalam kondisi sanitary untuk mencegah

kontaminan datang kembali. Kontainer juga sebaiknya terbuat dari gelas atau

stainless steel.
Ada 2 tipe dasar alat destilasi: Batch distiller, dilakukan secara manual, air dituang

langsung ke chamber pemanas. Unit mulai dinyalakan dan air dipanaskan sampai

mendidih. Pada saat air dalam chamber pemanas semua menguap, unit akan

dimatikan. Air destilat disimpan dalam kontainer untuk kebutuhan rumah tangga.

Unit batch distiller mampu menghasilkan 3-10 galon per hari. Batch distiller seperti

terlihat pada Gambar 9.

Gambar 9 Alat Destilasi Tipe Batch Distiller

Apabila terdapat 2 campuran dengan volatilitas yang berbeda, dengan A lebih

volatil dibandingkan dengan B, campuran A dan B dimasukan ke batch destiller

dan dipanaskan sampai mendidih sehingga diperoleh campuran dalam fase uap.

Komposisi A dan B dalam fase cair akan berbeda dengan fase uap. Dalam fase uap,

A lebih dominan dibandingkan dengan B karena A lebih mudah menguap. Uap akan

masuk ke bagian pendingin dan dikondensasi kembali menjadi air destilat seperti

terlihatpadagambar9.

Continuous flow distiller, dilakukan secara otomatis, dihubungkan dengan sumber

air baku. Tingkat air atau banyaknya air dalam chamber pemanas diatur oleh kran

yang dihubungkan langsung ke sumber air. Air destilat akan dipindahkan ke

kontainer penyimpanan dan secara otomatis proses destilasi akan berlangsung

kembali memproduksi air destilat lebih banyak lagi. Air dalam chamber pemanas
sisa proses destilasi yang masih mengandung kontaminan dibuang melalui suatu

saluran. Peralatan tambahan yang terdapat dalam continuous flow

distiller diantaranya kontainer penyimpanan suplemen, pompa transfer, dan kran

khusus instalasi.

Air yang dipanaskan dalam alat destilasi menyebabkan mineral-mineral dan

padatan lain terakumulasi dalam chamber pemanas. Apabila chamber tidak

dibersihkan secara rutin, alat destilasi akan berkurang efisiensinya karena

membutuhkan lebih banyak listrik untuk proses destilasi air. Biasanya digunakan

asam organik untuk membersihkan chamber pemanas. Asam mineral kuat seperti

asam hidroklorida, asam sulfat, atau asam nitrat sebaiknya tidak digunakan karena

akan merusak stainless steel dan peralatan yang berlapis aluminium. Air sadah

dapat menyebabkan kerak putih pada chamber pemanas, pembersihan chamber

pemanas dapat menggunakan larutan cuka. Larutan cuka 50% juga mengandung

asam organik lemah yang dapat digunakan sebagai agen pembersih. Tangki

pemanas diisi dengan larutan cuka:air (1:1) kemudian dipanaskan selama 1 jam.

Larutan dibiarkan berada dalam tangki pemanas. Lamanya waktu yang dibutuhkan

tergantung jumlah kerak yang terbentuk dalam chamber pemanas. Apabila

terbentuk banyak kerak akan diperlukan waktu yang lebih lama untuk proses

pembersihan chamber. Alat destilasi biasanya dilengkapi sistem aliran otomatis

yang dapat mengatur waktu proses pembersihan. Aliran manual juga dapat

dilakukan sekali dalam 1 minggu. Air yang sangat sadah sebaiknya dilakukan

pretreatment terlebih dahulu dengan menggunakan softener untuk mereduksi

frekuensi pembersihan dan untuk menjaga efisiensi operasi.


Untuk air baku yang mengandung senyawa organik volatil (VOCs) dapat digunakan

filter karbon aktif dan perawatannya mengganti filter karbon aktif tersebut setiap 3

bulan atau setiap 150-200 galon air destilat yang dihasilkan. Perawatan lain yaitu,

menjaga kebersihan gas vent untuk membuang VOCs, mengganti elemen pemanas

karena apabila pemanas tidak dapat bekerja misalnya karena terdapat banyak

gelembung udara udara kontaminan dapat masuk ke alat destilasi, atau bisa juga

mengganti kondensor. Tangki atau kontainer penyimpanan air destilasi sebaiknya

juga didesinfeksi dan dibilas dengan air bersih secara teratur. Ketahanan alat

destilasi bergantung pada beberapa faktor diantaranya persediaan air baku,

frekuensi alat beroperasi, serta perawatan alat destilasi secara layak. Alat destilasi

dengan kualitas yang baik mampu bertahan sekitar 10-15 tahun.

Berdasarkan uraian diatas, keuntungan alat destilasi dapat menghilangkan 99.5%

kontaminan yang meliputi bakteri, berbagai jenis logam, mineral, dan padatan

terlarut lainnya. Sementara itu kerugian dari penggunaan alat destilasi biaya

operasionalnya paling mahal dibandingkan sistem treatment air lainnya.

1. Pengolahan air limbah

Pengolahan air limbah menjadi permasalahan yang serius akhir-akhir ini. Semakin

berkembangnya sebuah kota, maka akan semakin banyak limbah yang dihasilkan.

Disinilah peran pengolahan air limbah diperlukan. Bila tidak ada pusat pengolahan

dan pengolahan air limbah, maka air limbah akan menjadi ancaman bagi penduduk

kota tersebut. Banyak penyakit dan kelainan kesehatan yang cukup serius bahkan

mengancam jiwa yang dapat timbul akibat limbah ini.


Pengolahan air limbah

Pengolahan air limbah bertujuan untuk memurnikan air limbah, yaitu air yang

sudah tercemar dengan zat-zat sisa dari produksi sebuah pabrik maupun kegiatan

rumah tangga, seperti mencuci dan mandi. Air hasil pengolahan dapat digunakan

untuk 2 keperluan. Biasanya untuk pabrik besar, Pusat pengolahan air

limbah dibuat agar limbah yang dihasilkan menjadi lebih aman untuk dibuang dan

tidak merusak lingkungan maupun membahayakan makhluk hidup disekitar,

termasuk kita, manusia.

Air limbah yang sudah diproses melalui sistem Pengolahan air limbah akan dapat

diuraikan oleh mikroorganisme di alam. Jadi, Pengolahan air limbah ini selaras

dengan proses pemurnian air secara alami. Hal ini menjadi kewajiban setiap pabrik

dan perusahaan saat ini. Seperti yang kita tahu, kualitas air di banyak kota industri

di Indonesia dapat dikatakan sangat buruk. Sistem Pengolahan air

limbah dapat mengatasi masalah itu. Yang menjadi masalah adalah dana yang

dikeluarkan oleh perusahaan untuk membangun sistem pengolahan air

limbah mereka sendiri sangat besar. Belum lagi biaya perawatan dan pengoperasian

yang perlu dikeluarkan setiap bulannya. Oleh karena itu, dibutuhkan kecermatan

dalam memilih teknologi dan proses yang paling efektif, Sehingga pengolahan air

limbah dapat berfungsi dengan lebih optimal. Hal ini tidak hanya akan menghemat

dana yang dikeluarkan, tetapi, hasil yang didapat juga jauh lebih baik.
Teknologi pengolahan air limbah yang dipilih harus sesuai dengan limbah yang

dihasilkan oleh pabrik. Karena itu, pemilihan teknologi ini memerlukan penelitian

dan pengumpulan data secara mendalam agara benar-benar tepat sasaran.

Proses pengolahan air limbah pada banyak perusahaan terdiri dari 5 tahapan, antara

lain:

1. Tahap pengolahan air limbah dalam bentuk fisik.

Artinya, semua zat padat dihilangkan pada tahap ini, sehingga tersisa zat cair saja.

2. Tahap pengolahan fisik lanjutan.

Kali ini, dilakukan pemurnian air yang lebih dalam lagi, agar semua zat pada yang

tercampur didalam air limbah benar-benar hilang.

3. Tahap ketiga adalah pengolahan air limbah tahap lanjutan.

Tahap ini diperlukan untuk menghilangkan zat-zat yang tidak dapat dihilangkan

pada 2 tahap pertama.

4. Tahap keempat adalah tahap pemurnian.

Biasanya, pengolahan air limbah tahap ini sudah mulai memasuki tahap ionisasi

dan penyerapan karbon. Sehingga, air benar-benar aman untuk dibuang dan

diuraikan di alam.
5. Tahap terakhir adalah tahap pengolahan sisa-sisa 4 proses pengolahan

sebelumnya.

Sisa-sia 4 Proses pengolahan air limbah yang pertama biasanya berbentuk seperti

lumpur. Lumpur ini akan diolah dan dihilangkan, seperti dengan dikeringkan,

dibakar dan lainnya. Setelah itu, lumpur sisa-sia pengolahan aman untuk dibuang

ke alam.

Namun, ada juga sistem pengolahan air limbah yang bertujuan untuk memurnikan

air agar air dapat dikonsumsi kembali oleh manusia. Akan tetapi, proses ini sangat

beresiko, karena belum tentu semua zat berbahaya dapat dihilangkan. Meskipun

jumlahnya kecil, bila dikonsumsi terus menerus, maka akan dapat terakumulasi dan

menimbulkan penyakit.

Sistem pengolahan air limbah jenis ini biasanya dilakukan pada daerah-daerah yang

benar-benar kekurangan air. Namun, di Indonesia proses pemurnian air limbah

untuk kebutuhan air minum tidak dilakukan.

Akibat dari air limbah bagi kehidupan masyarakat

Air limbah yang dihasilkan oleh beberapa industri memberi dampak yang sangat

buruk bagi masyarakat.

Beberapa dampak yang dapat dirasakan oleh masyarakat secara langsung, antara

lain:
 Pencemaran udara

 Pencemaran air

 Penyakit kulit

 Terkonaminasinya air

 Rusaknya Lingkungan hidup

Meskipun demikian, pengolahan air limbah kadang dilupakan oleh perusahaan

karena membutuhkan biaya yang sangat tinggi dalam pengolahannya. Seharusnya

pengolahan air limbah mutlak diperlukan di berbagai kota besar di Indonesia,

seperti Jakarta. Saat ini, Jakarta bahkan terancam akan kehilangan sumber air bersih

dari air tanah mereka, karena terlalu banyak pusat pembuangan limbah yang dekat

dengan sumber air bersih ini. Contohnya, septic tank, limbah deterjen dan lainnya.

Bahkan, saat diteliti, air di Jakarta saat ini sudah tercemar dengan bakteri Coli

karena adanya masalah ini dan tercemar oleh beberapa logam berat lainnya akibat

ketidak adaan pengolahan air limbah didalam perusahaan.

Pengolahan air limbah akan sangat membantu untuk mengatasi masalah air limbah

di beberapa kota. Hal ini juga perlu dilakukan untuk mencegah pencemaran yang

dapat membahayakan kesehatan dan kebersihan lingkungan. Namun, harus

diperhatikan agar pengolahan air limbah tidak lagi diperlukan oleh perusahaan,

jikalau proses dan metode yang digunakan dalam memproduksi adalah metode

yang ramah lingkungan.


Mungkin saat ini belum banyak ditemukan teknologi dan metode yang benar-benar

bebas dari limbah, jadi sistem pengolahan limbah masih dibutuhkan. Oleh karena

dibutuhkan kesadaran dari seluruh pelaku industri untuk lebih memperhatikan air

limbah yang akan dihasilkan oleh perusahaan mereka. Dan kita tidak akan ada lagi

sistem pengolahan air limbah yang tidak sesuai dengan karakter limbah industrinya.

Alam kita pun akan menjadi lebih bersih dan manusia tidak perlu khawatir akan

terkena berbagai macam penyakit akibat limbah dan polusi yang ditimbulkan oleh

pabrik. Selain itu, peran serta masyarakat dalam menjaga lingkungan juga

dibutuhkan.

Beberapa pengolongan pengolahan air limbah, antara lain:

1. STP Pengolahan air limbah

STP ( Sewage treatment plan ) adalah limbah yang dihasilkan oleh Rumah tangga,

kantin maupun rumah sakit, biasanya limbah yang dihasilkan adalah Deterjen,

Minyak, dan sisa makanan. sistem Pengolahan air limbah ini biasanya disebut

sebagai STP.

2. WWTP pengolahan air limbah

WWTP ( Waste Water treatment Plan ) adalah Instalasi pengolahan air limbah

(IPAL) yang dibuat untuk mengolah air limbah dari proses produkti, seperti limbah

tekstil, Limbah Percetakan dan Limbah lainnya.


Macam-macam teknologi yang digunakan untuk pengolahan air limbah, antara lain

1. Clarifier pengolahan air limbah

Clarifier merupakan proses pengolahan air limbah sederhana, dengan menggunakan

chemical yang biasa disebut Koagulan maupun Floakulan untuk mengendapkan

kotoran yang tersuspensi / Koloid, mengumpulkan dan mengendapkan kotoran

tersebut. sehingga dihasilkan air yang bersih secara fisik.

2. Ultrafiltrasi pengolahan air limbah

Ultrafiltrasi merupakan proses pengolahan air limbah yang merupakan pengganti

dari Clarifier, dengan hanya membutuhkan tempat yang tidak terlalu besar,

Ultrafiltrasi banyak digunakan untuk menggantikan fungsi dari clarifier.

3. Bioteknologi Pengolahan air limbah

Proses pengolahan limbah dengan menggunakan bioteknologi menjadi fokus utama

para pemerhati kesehatan, karena didalam proses ini, limbah diurai dengan tanpa

menggunakan zat kimia tambahan yang dapat berbahaya bagi kesehatan. Hanya

menggunakan bakteri untuk mengurai limbah hasil industri. sehingga menghasilkan

air buangan yang benar-benar aman bagi lingkungan dan kesehatan. Bioteknologi

berkembang pesar di Negara Belanda.

Pengolahan Air Limbah


A. Jenis Pengolahan Air Limbah

Dibedakan menjadi tiga jenis yaitu : pengolahan secara fisik, kimiawi dan biologi.

Pengolahan secara fisik :

Pengolahan secara fisik tidak dapat di terapkan untuk berbagai pengolahan limbah.

Dalam pengolahan limbah secara fisik, polutan akan di pisahkan dengan cara di

endapkan. Hasil yang dicapai sangant terbatas dan memerlukan waktu yang cukup

lama.

Pengolahan secara kimiawi :

Pengolahan limbah secara kimiawi dilakukan dengan menambahkan bahan-bahan

kimia kedalam air limbah. Dalam hal ini yang sangat penting adalah menentukan

jenis bahan-bahan kimia yang diperlukan.

Dalam pengolahan limbah secara kimiawi, waktu dan area yang di perlukan jauh

lebih kecil dibandingkan pengolahan limbah secara fisik dan biologi. Air limbah

yang mengandung zat-zat kimia termasuk logam berat, sangat tepat bila pengolahan

limbah dilakukan secara kimiawi.

Pengolahan secara biologi :

Pengolahan limbah secara biologi terutama memanfaatkan kerja mikroorganisme.

Dalam pengolahan limbah secara biologi, polutan yang degradabel yang segera

dapat dihilangkan. Polutan yang degradabel merupakan makanan bagi bakteri,


sehingga dalam waktu singkat bakteri akan berkembangbiak dan menghabiskan

makanan yang ada didalam air limbah.

Proses penghancuran polutan secara biologi dapat dipercepat dengan memacu

pertumbuhan bakteri.

Bakteri akan tumbuh dan berkembang dengan pesat, apabila kondisi yang sesuai

bagi kehidupan bakteri terpenuhi. Kondisi yang sesuai antara lain adalah pH air

limbah sekitar 7, dan suhu air limbah sekitar 350 C.

Pengolahan limbah secara biologi sangat baik, tetapi memerlukan waktu yang lama

dan area yang luas.

B. Sumber Air Limbah

Limbah Industri

Potensi industri telah memberikan sumbangan bagi perekonomian Indonesia

melalui barang produk dan jasa yang dihasilkan, namun di sisi lain pertumbuhan

industri telah menimbulkan masalah lingkungan yang cukup serius. Buangan air

limbah industri mengakibatkan timbulnya pencemaran air sungai yang dapat

merugikan masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai, seperti

berkurangnya hasil produksi pertanian, menurunnya hasil tambak, maupun

berkurangnya pemanfaatan air sungai oleh penduduk.

Seiring dengan makin tingginya kepedulian akan kelestarian sungai dan

kepentingan menjaga keberlanjutan lingkungan dan dunia usaha maka muncul


upaya industri untuk melakukan pengelolaan air limbah industrinya melalui

perencanaan proses produksi yang effisien sehingga mampu meminimalkan limbah

buangan industri dan upaya pengendalian pencemaran air limbah industrinya

melalui penerapan installasi pengolahan air limbah. Bagi Industri yang terbiasa

dengan memaksimalkan profit dan mengabaikan usaha pengelolaan limbah

agaknya bertentangan dengan akal sehat mereka, karena mereka beranggapan

bahwa menerapkan instalasi pengolahan air limbah berarti harus mengeluarkan

biaya pembangunan dan biaya operasional yang mahal.

Di pihak lain timbul ketidakpercayaan masyarakat bahwa industri akan dan mampu

melakukan pengelolaan limbah dengan sukarela mengingat banyaknya perusahaan

industry yang dibangun di sepanjang aliran sungai, dan membuang air limbahnya

tanpa pengolahan. Sikap perusahaan yang hanya berorientasi “Profit motive” dan

lemahnya penegakan peraturan terhadap pelanggaran pencemaran ini berakibat

timbulnya beberapa kasus pencemaran oleh industry dan tuntutan-tuntutan

masyarakat sekitar industry hingga perusahaan harus mengganti kerugian kepada

masyarakat yang terkena dampak.

Latar belakang yang menyebabkan terjadinya permasalahan pencemaran tersebut

dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

Upaya pengelolaan lingkungan yang ditujukan untuk mencegah dan atau

memperkecil dampak negatif yang dapat timbul dari kegiatan produksi dan jasa di

berbagai sektor industri belum berjalan secara terencana.

Biaya pengolahan dan pembuangan limbah semakin mahal dan dana pembangunan,
pemeliharaan fasilitas bangunan air limbah yang terbatas, menyebabkan perusahaan

enggan menginvestasikan dananya untuk pencegahan kerusakan lingkungan, dan

anggapan bahwa biaya untuk membuat unit IPAL merupakan beban biaya yang

besar yang dapat mengurangi keuntungan perusahaan.

Tingkat pencemaran baik kualitas maupun kuantitas semakin meningkat, akibat

perkembangan penduduk dan ekonomi, termasuk industri di sepanjang sungai yang

tidak melakukan pengelolaan air limbah industrinya secara optimal.

Perilaku sosial masyarakat dalam hubungan dengan industri memandang bahwa

sumber pencemaran di sungai adalah berasal dari buangan industri, akibatnya isu

lingkungan sering dijadikan sumber konflik untuk melakukan tuntutan kepada

industri berupa perbaikan lingkungan, pengendalian pencemaran, pengadaan sarana

dan prasarana yang rusak akibat kegiatan industri.

Adanya Peraturan Pemerintah tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian

pencemaran air nomor: 82 Tahun 2001, meliputi standar lingkungan, ambang batas

pencemaran yang diperbolehkan, izin pembuangan limbah cair, penetapan sanksi

administrasi maupun pidana belum dapat menggugah industri untuk melakukan

pengelolaan air limbah.

C. SIFAT AIR LIMBAH

Limbah cair memiliki 2 karakteristik yaitu karakteristik fisik dan kimia.

Adapun karakter fisiknya dari limbah cair antara lain :


Padatan : pada limbah cair terdapat padatan organic dan nonorganik yang

mengendap dan tersuspensi sehingga bisa mengendap dan menyebabkan

pendangkalan.

Kekeruhan : kekeruhan menunjukkan sifat optis di dalam air karena terganggunya

cahaya matahari saat masuk ke dalam air akibat adanya koloid dan suspensi

Bau : bau dikarenakan karena adanya mikroorganisme yang menguraikan bahan

organic.

Suhu : limbah cair memiliki suhu yang berbeda dibandingkan dengan air biasa,

biasanya suhunya lebih tinggi karena adanya proses pembusukan

Sedangkan karakter kimia dari limbah cair yaitu :

Keasaman : keasaman limbah cair dipengaruhi oleh adanya bahan buangan yang

bersifat asam atau basa. Agar limbah tidak berbahaya, maka limbah diupayakan

untuk memiliki pH netral.

Logam berat beracun : Cadmium dari industri tekstil, merkuri dari pabrik cat, raksa

dari industri perhiasan dan jenis logam berat yang lainnya.

Nitrogen : umumnya terdapat sebagai bahan organic dan diubah menjadi ammonia

oleh bakteri sehingga menghasilkan bau busuk dan bisa menyebabkan permukaan

air menjadi pekat sehingga tidak bisa ditembus cahaya matahari.

Fenol : salah satu bahan organic yang berasal dari industri tekstil, kertas, minyak

dan batubara sehingga menyebabkan keracunan.

BOD : kebutuhan oksigen yang dibutuhkan untuk menguraikan senyawa organic

yang ada di dalam air.


COD : kebutuhan oksigen yang diperlukan mikroba untuk menghancurkan bahan

organik

D. LANGKAH-LANGKAH PENGOLAHAN AIR LIMBAH

Langkah-langkah Pengolahan Air Limbah

Pembuangan air limbah baik yang bersumber dari kegiatan domestik (rumah

tangga) maupun industri ke badan air dapat menyebabkan pencemaran lingkungan

apabila kualitas air limbah tidak memenuhi baku mutu limbah. Sebagai contoh,

mari kita lihat Kota Jakarta. Jakarta merupakan sebuah ibukota yang amat padat

sehingga letak septic tank, cubluk (balong), dan pembuangan sampah berdekatan

dengan sumber air tanah. Terdapat sebuah penelitian yang mengemukakan bahwa

285 sampel dari 636 titik sampel sumber air tanah telah tercemar oleh bakteri coli.

Secara kimiawi, 75% dari sumber tersebut tidak memenuhi baku mutu air minum

yang parameternya dinilai dari unsur nitrat, nitrit, besi, dan mangan.

Trickling filter. Sebuah trickling filter bed yang menggunakan plastic media.

Bagaimana dengan air limbah industri? Dalam kegiatan industri, air limbah akan

mengandung zat-zat/kontaminan yang dihasilkan dari sisa bahan baku, sisa pelarut

atau bahan aditif, produk terbuang atau gagal, pencucian dan pembilasan peralatan,

blowdown beberapa peralatan seperti kettle boiler dan sistem air pendingin, serta

sanitary wastes. Agar dapat memenuhi baku mutu, industri harus menerapkan

prinsip pengendalin limbah secara cermat dan terpadu baik di dalam proses
produksi (in-pipe pollution prevention) dan setelah proses produksi (end-pipe

pollution prevention).

Pengendalian dalam proses produksi bertujuan untuk meminimalkan volume

limbah yang ditimbulkan, juga konsentrasi dan toksisitas kontaminannya.

Sedangkan pengendalian setelah proses produksi dimaksudkan untuk menurunkan

kadar bahan peencemar sehingga pada akhirnya air tersebut memenuhi baku mutu

yang sudah ditetapkan.

Namun walaupun begitu, masalah air limbah tidak sesederhana yang dibayangkan

karena pengolahan air limbah memerlukan biaya investasi yang besar dan biaya

operasi yang tidak sedikit. Untuk itu, pengolahan air limbah harus dilakukan dengan

cermat, dimulai dari perencanaan yang teliti, pelaksanaan pembangunan fasilitas

instalasi pengolahan air limbah (IPAL) atau unit pengolahan limbah (UPL) yang

benar, serta pengoperasian yang cermat.

Dalam pengolahan air limbah itu sendiri, terdapat beberapa parameter kualitas yang

digunakan. Parameter kualitas air limbah dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu

parameter organik, karakteristik fisik, dan kontaminan spesifik. Parameter organik

merupakan ukuran jumlah zat organik yang terdapat dalam limbah.

Parameter ini terdiri dari total organic carbon (TOC), chemical oxygen demand

(COD), biochemical oxygen demand (BOD), minyak dan lemak (O&G), dan total

petrolum hydrocarbons (TPH). Karakteristik fisik dalam air limbah dapat dilihat

dari parameter total suspended solids (TSS), pH, temperatur, warna, bau, dan
potensial reduksi. Sedangkan kontaminan spesifik dalam air limbah dapat berupa

senyawa organik atau inorganik.

2. Pengolahan air bersih

Ruang lingkup pekerjaan Tirta Mandiri

Pengolahan air bersih atau pretreatment (pengolahan awal) merupakan hal utama

yang harus diperhatikan dalam menghasilkan air bersih maupun air minum. Tirta

Mandiri merancang sistem pengolahan air bersih terpadu yang ekonomis dan tepat

guna. Media yang dipakai untuk pengolahan air bersih disesuaikan dengan

kebutuhan para pelanggan kami, dari Media lokal sampai media impor yang dipakai

untuk menghasilkan air dengan kualitas terbaik.

Sebelum merancang sistem pengolahan air bersih untuk pelanggan kami.

sebelumnya kami mempersilahkan pelanggan kami untuk berkonsultasi dengan tim

analisa kami, agar sistem yang kami buat memberikan hasil yang maksimal yang

sesuai dengan keinginan pelanggan kami.

beberapa media yang kami gunakan dalam sistem pengolahan air bersih bahkan

sudah mendapatkan sertifikasi HALAL dari Majelis Ulama Indonesia seperti

karbon aktive, resin, filter dan beberapa filter maupun sparepart pendukung lainnya.

Tirta Mandiri dapat menyediakan pengolahan air bersih dari kapasitas 1000liter per

jam sampai yang terakhir kami kerjakan adalah 120.000 liter per jam.
kami menyediakan berbagai teknologi ataupun sistem dalam membuat mesin

pengolahan air bersih yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi air baku

pelanggan.

Beberapa teknologi yang kami pakai untuk pengolahan air bersih antara lain:

1. Filter pasir silika

2. Filter kadar besi dan mangan dalam air

3. Filter Kekeruhan ( Turbidity )

4. Filter Karbon aktif ( filter Bau, Warna dan logam berat )

5. Filter kadar kapur atau softener

6. Filter Ultrafiltrasi

7. Clarifier

8. Mikron filter

9. Filter air kotor

Pengolahan air bersih – FRP tank

Penjelasan singkat mengenai Pengolahan air bersih


Pengolahan air bersih / Water Treatment Plant adalah sebuah system yang

digunakan untuk mengolah air dari kualitas yang tidak bagus agar mendapatkan

kualitas air hasil yang di inginkan/ditentukan untuk digunakan lebih lanjut sesuai

dengan hasil yang diinginkan.

Pengolahan air bersih dijaman sekarang ini semakin dibutuhkan oleh banyak

perusahaan maupun rumah tangga, semakin minimnya cadangan air bersih,

mendorong banyak institusi untuk mengalakkan perencanaan pembagunan instalasi

pengolahan air bersih di berbagai daerah. video Pengembangan Sistem dan

Teknologi Pengolahan Air Bersih LIPI

pada prinsipnya, pengolahan air bersih adalah bagaimana mengubah mutu air yang

tidak sesuai dengan keinginan kita menjadi mutu air yang sesuai dengan keinginan

kita.

Ada beberapa tipe air yang memiliki cara pengolahan yang berbeda-beda, yaitu:

1. Air tanah yang Besi dan Mangannya tinggi – Dapat dilakukan pengolahan

air dengan menggunakan media manganese.

2. Air tanah yang kapurnya tinggi – Kadar kapur dapat dihilangkan dengan

menggunakan pertukaran ion kation atau resin kation.

3. Air tanah yang berbau, berwarna dan berasa – Dapat dihilangkan atau

dikurangi dengan menggunakan media karbon aktif.

4. Air yang kekeruhannya tinggi – untuk pengolahan air yang kekeruhannya

tinggi dapat digunakan media pasir silika dan sedimen cartrige.


5. Air gambut – Pengolahan air gambut menjadi air bersih dapat dilakukan

dengan menggunakan resin organik.

6. Air payau – air payau dapat dirubah menjadi air tawar dengan menggunakan

teknologi RO.

7. Air laut – Air laut dapat dirubah menjadi air tawar dengan menggunakan

teknologi RO.

8. Air limbah – Menggunakan sistem clarifier, ultrafiltrasi untuk menjadi air

bersih.

9. Air Sungai – Menggunakan clarifier, Ultrafiltrasi atau Reverse osmosis

untuk menjadi air bersih atau air minum.

Berbagai jenis media filter:

1. Sand Silica, berfungsi untuk menyaring kotoran yang lebih besar dari

50mikron

2. Active Carbon, berfungsi untuk menyerap bau, warna, logam berat,

amoniak dan memberikan rasa pada air minum

3. Manganese Greensand, berfungi untuk menghilangkan mangan dan besi

dalam air

4. Resin Anion, berfungsi untuk menghilangkan kadar anion dalam air,

5. Resin Kation, berfungsi untuk menhilangkan kadar kation dalam air.

6. Anthracite, berfungsi untuk mengurangi kadar kekeruhan dalam air.