Vous êtes sur la page 1sur 23

Tugas Rekasaya Sumber Daya Air

Disusun Oleh:
Mikhael Caesar Eka Putra
051.12.056

Dosen Pembimbing:

Dr. Ir. Trihono Kadri, MS

JURUSAN TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

UNIVERSITAS TRISAKTI

JAKARTA

2017
Landasan Hukum Pengelolaan Air

1. Undang-undang Nomor 07 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air 2

2. . Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas dan

Pengendalian Pencemaran Air

3. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 907 Tahun 2002 Tentang Syarat-syarat dan

Pengawasan Kualitas Air Minum (Menggantikan PerMenkes Nomor 416 Tahun 1990

Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air: Khusus Air Minum)

4. PerMen LH Nomor 01 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengkajian Teknis untuk

Menetapkan Kelas Air

5. PerMen LH Nomor 04 Tahun 2007 tentang Baku Mutu Air Limbah bagi Usaha dan/atau

Kegiatan Minyak dan Gas serta Panas Bumi

6. PerMen LH Nomor 05 Tahun 2007 tentang Baku Mutu Air Limbah bagi usaha dan/atau

Kegiatan Pengolahan Buah-buahan dan/atau Saturan

7. PerMen LH Nomor 06 Tahun 2007 tentang Baku Mutu AIr Limbah bagi Usaha

dan/Atau Kegiatan Pengolahan Hasil Perikanan

8. PerMen LH Nomor 08 Tahun 2007 tentang Baku Mutu Air Limbah bagi Usaha

dan/Atau Kegiatan Industri Petrokimia Hulu

9. PerMen LH Nomor 09 Tahun 2007 tentang Baku Mutu Air Limbah bagi Usaha

dan/Atau Kegiatan Industri Rayon

10. PerMen LH Nomor 10 Tahun 2007 tentang Baku Mutu Air Limbah bagi Usaha dan/atau

Kegiatan Industri Purified Terephthalic Acid dan Poly Ethylene Terephthalate

11. KepMen LH Nomor 122 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas KEPMEN LH no 51

Tahun 1995 ttg Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri Pupuk

12. KepMen LH Nomor 202 Tahun 2004 Tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha &

atau Kegiatan Pertambangan Bijih Emas & atau Tembaga

13. KepMen LH Nomor 28 Tahun 2003 Tentang Pedoman Teknis Pengkajian Pemanfaatan

Air Limbah Dari Industri Minyak Sawit Pada Tanah di Perkebunan Kelapa Sawit
14. KepMen LH Nomor 29 Tahun 2003 Tentang Pedoman Syarat dan Tata Cara Perizinan

Pemanfaatan Air Limbah Industri Minyak Sawit Pada Tanah di Perkebunan Kelapa

Sawit

15. KepMen LH Nomor 37 tahun 2003 Tentang Metoda Analisis Kualitas Air Permukaan

Dan Pengambilan Contoh Air Permukaan

16. KepMen LH Nomor 110 Tahun 2003 Tentang Pedoman Penetapan Daya Tampung

Beban Pencemaran Air Pada Sumber Air

17. KepMen LH Nomor 111 Tahun 2003 Tentang Pedoman Mengenai Syarat dan Tata Cara

Perizinan Serta Pedoman kajian Pembuangan Air Limbah Ke Air Atau Sumber Air.

18. KepMen LH Nomor 112 Tahun 2003 Tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan

Kegiatan Domestik

19. KepMen LH Nomor 113 Tahun 2003 Tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan

atau Kegiatan Pertambangan Batu Bara

20. KepMen LH Nomor 114 Tahun 2003 Tentang Pedoman Pengkajian Untuk Menetapkan

Kelas Air

21. KepMen LH Nomor 115 Tahun 2003 Tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air

22. KepMen LH Nomor 142 Tahun 2003 Tentang Perubahan Atas KepMen LH Nomor 111

Tahun 2003 tentang Pedoman Mengenai Syarat dan Tata Cara Perizinan Serta Pedoman

Kajian Pembuangan Air Limbah ke Air Atau Sumber Air

23. KepMen LH Nomor 03 Tahun 1998 Tentang Baku Mutu Limbah Bagi Kawasan Industri

24. KepMen LH Nomor 09 Tahun 1997 Tentang Perubahan KepMen LH

Nomor42/MENLH/10/1996 Tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Minyak

dan Gas serta Panas Bumi

25. KepMen LH Nomor 42 Tahun 1996 Tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan

Minyak dan Gas serta Panas Bumi

26. KepMen LH Nomor 35 Tahun 1995 Tentang Program Kali Bersih (Prokasih)
27. KepMen LH Nomor 51 Tahun 1995 Tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan

Industri

28. KepMen LH Nomor 52 Tahun 1995 Tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan

Hotel

29. KepMen LH Nomor 58 Tahun 1995 Tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan

Rumah Sakit

30. PerMen LH Nomor 02 Tahun 2006 Tentang Baku Mutu Air Limbah Rumah

Pemotongan Hewan

31. PerMen LH Nomor 04 Tahun 2006 Tentang Baku Mutu Air Limbah Penambangan

Timah

32. PerMen LH Nomor 09 Tahun 2006 Tentang Baku Mutu Air Limbah Penambangan

Nikel

33. PerMen LH Nomor 10 Tahun 2006 Tentang Baku Mutu Air Limbah Usaha Poly Vinyl

Chloride

Standar Kualitas Air

1. Air yang berkualitas harus memenuhi persyaratan fisika sebagai berikut:

1. Jernih atau tidak keruh

Air yang keruh disebabkan oleh adanya butiran-butiran koloid dari tanah liat. Semakin

banyak kandungan koloid maka air semakin keruh.

2. Tidak berwarna

Air untuk keperluan rumah tangga harus jernih. Air yang berwarna berarti mengandung

bahan-bahan lain yang berbahaya bagi kesehatan.

3. Rasanya tawar
Secara fisika, air bisa dirasakan oleh lidah. Air yang terasa asam, manis, pahit atau asin

menunjukan air tersebut tidak baik. Rasa asin disebabkan adanya garam-garam

tertentu yang larut dalam air, sedangkan rasa asam diakibatkan adanya asam organik

maupun asam anorganik.

4. Tidak berbau

Air yang baik memiliki ciri tidak berbau bila dicium dari jauh maupun dari dekat. Air yang

berbau busuk mengandung bahan organik yang sedang mengalami dekomposisi

(penguraian) oleh mikroorganisme air.

5.Temperaturnya normal

Suhu air sebaiknya sejuk atau tidak panas terutama agar tidak terjadi pelarutan zat kimia

yang ada pada saluran/pipa, yang dapat membahayakan kesehatan dan menghambat

pertumbuhan mikro organisme.

6 .Tidak mengandung zat padatan

Air minum mengandung zat padatan yang terapung di dalam air

2. Syarat kimiawi, antara lain:

1) pH (derajat keasaman)

Penting dalam proses penjernihan air karena keasaman air pada umumnya disebabkan gas

Oksida yang larut dalam air terutama karbondioksida. Pengaruh yang menyangkut aspek

kesehatan dari pada penyimpangan standar kualitas air minum dalam hal pH yang lebih

kecil 6,5 dan lebih besar dari 9,2 akan tetapi dapat menyebabkan beberapa senyawa kimia

berubah menjadi racun yang sangat mengganggu kesehatan.

2) Kesadahan

Kesadahan ada dua macam yaitu kesadahan sementara dan kesadahanvnonkarbonat

(permanen). Kesadahan sementara akibat keberadaan Kalsium dan Magnesium bikarbonat


yang dihilangkan dengan memanaskan air hingga mendidih atau menambahkan kapur

dalam air. Kesadahan nonkarbonat (permanen) disebabkan oleh sulfat dan karbonat,

Chlorida dan Nitrat dari Magnesium dan Kalsium disamping Besi dan Alumunium.

Konsentrasi kalsium dalam air minum yang lebih rendah dari 75 mg/l dapat menyebabkan

penyakit tulang rapuh, sedangkan konsentrasi yang lebih tinggi dari 200 mg/l dapat

menyebabkan korosifitas pada pipa-pipa air. Dalam jumlah yang lebih kecil magnesium

dibutuhkan oleh tubuh untuk pertumbuhan tulang, akan tetapi dalam jumlah yang lebih

besar 150 mg/l dapat menyebabkan rasa mual.

3) Besi

Air yang mengandung banyak besi akan berwarna kuning dan menyebabkan

rasa logam besi dalam air, serta menimbulkan korosi pada bahan yang terbuat dari metal.

Besi merupakan salah satu unsur yang merupakan hasil pelapukan batuan induk yang

banyak ditemukan diperairan umum. Batas maksimal yang terkandung didalam air adalah

1,0 mg/l

4) Aluminium

Batas maksimal yang terkandung didalam air menurut Peraturan Menteri Kesehatan No 82

/ 2001 yaitu 0,2 mg/l. Air yang mengandung banyak aluminium menyebabkan rasa yang

tidak enak apabila dikonsumsi.

5) Zat organik

Larutan zat organik yang bersifat kompleks ini dapat berupa unsur hara makanan maupun

sumber energi lainnya bagi flora dan fauna yang hidup di

Perairan
6) Sulfat

Kandungan sulfat yang berlebihan dalam air dapat mengakibatkan kerak air yang keras

pada alat merebus air (panci / ketel)selain mengakibatkan bau dan korosi pada pipa. Sering

dihubungkan dengan penanganan dan pengolahan air bekas.

7) Nitrat dan nitrit

Pencemaran air dari nitrat dan nitrit bersumber dari tanah dan tanaman. Nitrat dapat terjadi

baik dari NO2 atmosfer maupun dari pupuk-pupuk yang

digunakan dan dari oksidasi NO2 oleh bakteri dari kelompok Nitrobacter. Jumlah Nitrat

yang lebih besar dalam usus cenderung untuk berubah menjadi Nitrit yang dapat bereaksi

langsung dengan hemoglobine dalam daerah membentuk methaemoglobine yang dapat

menghalang perjalanan oksigen didalam tubuh

3. Syarat mikrobiologi, antara lain: Tidak mengandung kuman-kuman penyakit seperti

disentri, tipus, kolera, dan bakteri patogen penyebab penyakit.

Seperti kita ketahui jika standar mutu air sudah diatas standar atau sesuai dengan standar

tersebut maka yang terjadi adalah akan menentukan besar kecilnya investasi dalam

pengadaan air bersih tersebut, baik instalasi penjernihan air dan biaya operasi serta

pemeliharaannya. Sehingga semakin jelek kualitas air semakin berat beban masyarakat

untuk membayar harga jual air bersih. Dalam penyediaan air bersih yang layak untuk

dikonsumsi oleh masyarakat banyak mengutip Peraturan Menteri Kesehatan Republik

Indonesia No. 173/Men.Kes/Per/VII/1977, penyediaan air harus memenuhi kuantitas dan

kualitas, yaitu:
a. Aman dan higienis.

b. Baik dan layak minum.

c.Tersedia dalam jumlah yang cukup.

d. Harganya relatif murah atau terjangkau oleh sebagian besar masyarakat

Parameter yang ada digunakan untuk metode dalam proses perlakuan, operasi dan biaya.

Parameter air yang penting ialah parameter fisik, kimia, biologis dan radiologis yaitu

sebagai berikut:

Parameter Air Bersi secara Fisika

1.Kekeruhan

2.Warna

3.Rasa&bau

4.Endapan

5. Temperatur Parameter Air Bersih secara Kimia

KRITERIA KUALITAS AIR YANG DAPAT DIGUNAKAN SEBAGAI AIR MINUM

PARAMETER SATUAN MAKSIMUM MAKSIMUM KETERANGAN

YANG YANG

DIANJURKAN DIBOLEHKAN

Fisika

Temperatur oC Temperatur air Temperatur air

alam alam

Warna mg Pt-Co/1 5 50

Bau Tidak berbau Tidak berbau


Rasa Tidak berasa Tidak berasa

Kekeruhan mg S1O2/1 5 25

Residu terlarut mg/1 500 1500

Daya hantar listrik micromholan 400 1250

Kimia

pH 6,5 - 8,5 6,5 - 8,5 nilai antara

(range)

Kalsium (Ca) mg/1 75 200

Magnesium (Mg) mg/1 30 150

Kesadahan mg/1 350 - minimum 10

Barium (Ba) mg/1 Nihil 0,05

Besi (Fe) mg/1 0,1 1

Mangan (Mn) mg/1 0,05 0,5

Tembaga (Cu) mg/1 Nihil 1

Seng (Zn) mg/1 1 15

Krom heksavalen (Cr(VI)) mg/1 Nihil 0,05

Kadmium (Cd) mg/1 Nihil 0,01

Raksa Total (Hg) mg/1 0,0005 0,001

Timbal (pb) mg/1 0,05 0,1

Arsen (As) mg/1 Nihil 0,05

Salenium (Se) mg/1 Nihil 0,01

Sianida (CN) mg/1 Nihil 0,05


Sulfida (S) mg/1 Nihil Nihil

Florida (F) mg/1 - 1,5 minimum 0,5

Klorida (C1) mg/1 200 600

Sulfat (SO4) mg/1 200 400

Fosfor ( P ) mg/1 0,3 2

Amoniak (NH3-N) mg/1 Nihil Nihil

Nitrat ( NO3-N) mg/1 5 10

Nitrit ( NO2-N) mg/1 Nihil Nihil

Nilai Permanganat mg KMn04/1 Nihil 10

Senyawa Aktif biru mg/1 Nihil 0,5

metilen

Fenol mg/1 0,001 0,002

Miyak dan Lemak mg/1 Nihil Nihil

Karbon Kloroform Ekstrak mg/l 0,04 0,5

PBC mg/1 Nihil Nihil

Bakteriologi

Coliform total MPN/100 ml Nihil Nihil

Coliform total MPN/100 ml 5 Nihil

Coli total MPN/100 ml Nihil Nihil

Kuman patogenik/parasitik Nihil Nihil Nihil

Radicaktifitas

Aktivitas beta total pCi/1 _ 100


Strontium - 90 pCi/1 - 2

Radium - 226 pCi/1 - 1

Pestisida mg/1 Nihil Nihil

KRITERIA STANDARD KUALITAS AIR LIMBAH

PARAMETER SATUAN I II III IV

MUTU AIR BAIK SEDANG KURANG KURANG

SEKALI

Fisika

Temperatur oC 45 45 45 45

Residu terlarut mg/1 1000 3000 3000 50.000

Residu terlarut mg/1 100 200 400 500

Kimia

pH 6-9 5-9 4,5 - 9,5 4,0 - 10

Besi (Fe) mg/1 5 7 9 10

Mangan (Mn) mg/1 0,5 1 3 5

Tembaga (Cu) mg/1 0,5 2 3 5

Seng (Zn) mg/1 5 7 10 15

Krom heksavalen (Cr(VI)) mg/1 0,1 1 3 5

Kadmium (Cd) mg/1 0,01 0,1 0,5 1


Raksa Total (Hg) mg/1 0,005 0,01 0,05 0,1

Timbal (pb) mg/1 0,1 0,5 1 5

Arsen (As) mg/1 0,05 0,3 0,7 1

Salenium (Se) mg/1 0,01 0,05 0,5 1

Sianida (CN) mg/1 0,02 0,05 0,5 1

Sulfida (S) mg/1 0,01 0,05 0,1 1

Fluorida (F) mg/1 1,5 2 3 5

Klor aktif (Cl2) mg/1 1 2 3 5

Klorida (Cl) mg/1 600 1000 1500 2000

Sulfat (SO4) mg/1 400 600 800 1000

N - Kjeldahl (N) mg/1 7 - - 80

Amoniak Bebas (NH3-N) mg/1 0,5 1 2 5

Nitrat ( NO3-N) mg/1 10 20 30 50

Nitrit ( NO2-N) mg/1 1 2 3 5

Kebutuhan Oksigen (BOD) mg/1 20 100 300 500

Biologi

Kebutuhan Oksigen mg/1 40 200 500


1000
Kimiawi (COD)

PARAMTER SATUAN I II III IV

BERAT BERAT SEDANG


RINGAN
SEKALI

Senyawa aktif biru metilen mg/1 0,5 1 3 5


Fenol mg/1 0,002 0,05 0,5 1

Minyak nabati mg/1 10 30 70 100

Minyak mineral radioaktif mg/1 10 30 70 100

Pengelolaan Kualitas Air

Pengelolaan kualitas air adalah upaya pemeliharaan air sehingga tercapai kualitas air yang

diinginkan sesuai peruntukannya untuk menjamin agar kualitas air tetap dalam kondisi

alamiahnya. Pengendalian pencemaran air dilakukan untuk menjamin kualitas air agar sesuai

dengan baku mutu air melalui upaya pencegahan dan penanggulangan pencemaran air serta

pemulihan kualitas air. Rencana pendayagunaan air adalah rencana yang memuat potensi

pemanfaatan atau penggunaan air, pencadangan air berdasarkan ketersediaannya, baik kualitas

maupun kuantitasnya, dan atau fungsi ekologis.

Mutu air adalah suatu kondisi kualitas air yang diukur dan atau diuji berdasarkan parameter-

parameter tertentu dan metoda tertentu berdasarkan peraturan perundang-undangan yang

berlaku. Klasifikasi mutu air ditetapkan menjadi 4 (empat) kelas :

1. Kelas satu, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum, dan atau

peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut;

2. Kelas dua, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air,

pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau

peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut;

3. Kelas tiga, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar,

peternakan, air untuk mengairi tanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan

mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut;


4. Kelas empat, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman dan

atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan

tersebut

Pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air diselenggarakan secara terpadu

dengan pendekatan ekosistem. Hal tersebut dapat dilaksanakan oleh pihak ketiga berdasarkan

peraturan perundang-undangan. Upaya pengelolaan kualitas air dilakukan pada :1.Sumber air

yang terdapat di dalam hutan lindung;2.Mata air yang terdapat di luar hutan lindung;

dan3.Akuifer air tanah dalam. Pemerintah melakukan pengelolaan kualitas air lintas propinsi

dan/atau lintas batas negara. Pemerintah Propinsi mengkoordinasikan pengelolaan kualitas air

lintas Kab/Kota. Sedangkan Pemerintah Kab/Kota melakukan pengelolaan kualitas air di

Kab/Kota. Pemerintah dapat menentukan baku mutu air yang lebih ketat dan/atau penambahan

parameter pada air yang lintas Propinsi dan/atau lintas batas negara, serta sumber air yang

pengelolaannya di bawah kewenangan Pemerintah. Baku mutu air limbah nasional ditetapkan

dengan Keputusan Menteri dengan tetap memperhatikan saran masukan dari instansi terkait.

Baku mutu air limbah daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Propinsi. Setiap orang yang

membuang air limbah ke prasarana dan/atau sarana pengelolaan air limbah yang disediakan

oleh Pemerintah Kab/Kota dapat dikenakan retribusi yang ditetapkan dengan Perda Kab/Kota.

Setiap usaha dan/atau kegiatan wajib membuat rencana penanggulangan pencemaran air pada

keadaan darurat dan/atau keadaan yang tidak terduga lainnya. Peraturan ini merupakan

pelaksanaan ketentuan dari Pasal 14 ayat (2) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang

Pengelolaan Lingkungan Hidup.


Kelembagaan Pengelolaan Air

1. Peran Lembaga Terkait Dalam Pengelolaan SDA

Menurut undang-undang N0 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air pasal 15 dijelaskan

bahwa wewenang dan tanggung jawab menetapkan dan mengelola kawasan lindung

sumber air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota adalah pemerintah propinsi. c/q

Dinas Pengelola Sumber Daya Air (DPSDA) setempat. Kewenangan dan tanggung jawab

pengelolaan sumber daya air termasuk mengatur, menetapkan, dan memberi ijin atas

peruntukan, penyediaan, penggunaan dan pengusahaan sumber daya air pada wilayah

sungai dengan tetap dalam kerangka konservasi dan pengendalian daya rusak air Sesuai

kesepakatan global tahun 2000 dalam rangka Forum kedua Air Sedunia di Den Haag telah

di deklarasikan oleh para Menteri bahwa pengelola SDA dilaksanakan dengan pendekatan

Satuan Wilayah Sungai (SWS), pelaksanaanya sinergis antara sektor publik, dunia usaha

dan peran serta masyarakat ( Masyhudi 2005 ). Sebagaimana dirumuskan oleh Global

Water Partnership bahwa Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu ( IWRM ) merupakan

upaya mengintegrasikan pengelolaan sumberdaya air, lahan dan sumberdaya terkait

lainnya secara terkoordinasi dalam rangka memaksimalkan resultan kondisi sosial dan

ekonomi secara adil tanpa mengorbankan kelestarian ekosistem yang vital.

Dalam pengelolaan SDA pada 3 propinsi menunjukkan adanya perbedaan terutama dalam

melaksanakan tugas dan fungsinya seperti di propinsi Sulawesi Selatan Dinas Kehutanan

sebagai pengelola hutan lindung tidak terlibat langsung dalam pengelolaan SDA, tapi
BPDAS mempunyai fungsi cukup penting dalam Forum DAS seperti di Kabupaten Gowa

dalan pengelolaan DAS dan pemanfaatan sumberdaya air. Akan tetapi, forum ini masih belum

berjalan dengan efektif karena masih kurangnya koordinansi antara instansi terkait. Salah satu

penyebabnya adalah masing-masing instansi masih terkesan ego sektoral dan mementingkan

kegiatan instansinya dalam pengelolaan DAS serta sumberdaya air. Kedepan diharapkan,

peran forum DAS ini dapat berjalan efektif sehingga pengelolaan DAS secara terpadu dapat

diwujudkan. Organisasi pengelola sumberdaya air mengikutsertakan beberapa instansi baik

teknis maupun non teknis dimana masing-masing mempunyai misi dan tugas pokok dan

fungsi. Berbeda dengan di Jawa Perum Perhutani sebagai pengelola hutan lindung mempunyai

peran cukup penting dalam pengelolaan SDA. Seperti pada Tabel 1 terlihat fungsi instansi

terkait dalam pengelolaan SDA pada tiga propinsi.

Fungsi Instansi Terkait Dalam Pengelolaan SDA

Propinsi

Sulawesi

No Instansi Selatan Jawa Barat Jawa Timur Ket.

1 Bapeda Perencanaan Perencanaan Perencanaan Primary

Stakehol

der
Retribusi Retribusi Seconda

2 Dispenda Retribusi SDA SDA SDA ry

Stakehol

der

Perencanaan Perencanaan

3 Dinas PU Perencanaan, , , Key

Pengairan Perijinan Perijinan Stakehol

/ Perijinan SDA SDA SDA der

Prop

Seconda

4 Dinas Kelestarian, Reboisasi, Reboisasi, ry

Kehutana Stakehol

n Pemanf hsl, penanganan penanganan der

bencana bencana

pemberdayaan alam, alam,

masy sekitar

Pemanfaatan Pemanfaata

5 Perum - air n air Primary

Stakehol

Perhutani Rekomtek Pengawasan der


pemakaian

air Sumber air

Perijinan Perijinan

6 Dinas - SDA, SDA Key

pemeliharaa Pemeliharaa Stakehol

Pengairan n n der

Sapras Sapras

Kab irigasi irigasi

Konservasi Konservasi Seconda

7 BPDAS Konservasi Hulu Hulu ry

Stakehol

Sungai sungai der

BPSDA Pemeliharaa Pemeliharaa

8 WS Pemeliharaan n, n, Primary

sapras, Stakehol

Rekomtek Rekomtek Rekomtek der

pengambilan pengambilan pengambilan

air air air

Perum

9 Jasa - Retribusi, Retribusi, Primary


Stakehol

Tirta Pemanf Pemanf der

Pemeliha Pemelihar

sapras sapras

SDA,rekomt SDA,

ek rekomtek

Perencanaan Seconda

10 PDAM Perencanaan Retribusi, , ry

bangunan Perijinan Stakehol

sapras Pengambilan SDA der

Perijinan SDA SDA


Pengelolaan Banjir

Apakah persoalan banjir adalah masalah ketidaktahuan (crisis of knowledge) ataukah masalah

ketidakmauan (crisis of political will). Ada indikasi bahwa persoalan banjir Jakarta merupakan

permasalahan ketidakpekaan pemangku kepentingan terhadap masalah-masalah pembangunan

yang memiliki perspektif jangka panjang. Pemberitaan media mengenai Jakarta menunjukkan

bahwa persoalan pengelolaan banjir masih bias Jakarta, padahal daerah-daerah lain juga perlu

perhatian yang tidak kalah pentingnya.

Demikian hasil kesimpulan diskusi masalah Banjir yang dikoordinasikan oleh Lembaga Penelitian

dan Pengabdian kepada Masyarakat UGM bekerjasama dengan pusat studi-pusat studi yang berada

di Universitas Gadjah Mada. Hadir beberapa pembicara diantaranya Dr. Adam Pamudji Rahardjo

(Fakultas Teknik), Drs. Trijoko, MS. (Pusat Studi Kelautan dan Perikanan), Dr. Bakti Setiawan

(Fakultas Teknik), Drs. Darmakusuma, MS. (Pusat Studi Lingkungan Hidup), Dr. Susetyawan

(Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan), Ir. Ambar Kusumandari, MES. (Fakultas Kehutanan), Prof.

Dr. dr. Sutaryo (Pusat Studi Bioteknologi), Dr-Ing. Ir. Agus Maryono (Fakultas Teknik), Dr.

Sunarto (Pusat Studi Bencana).

Dari 13 hal menjadi kemungkinan penyebab banjir misalnya, hanya ada 3 faktor yang merupakan

faktor alam, selebihnya adalah akibat tindakan manusia. Faktor alam tentunya sangat menentukan

terjadinya banjir “Dari fenomena fisik (alam) yang ada, terjadinya pasang purnama (pasang

tinggi), curah hujan ekstrim di Jakarta dan Bogor selama 5 hari, dan malfungsi dari tata ruang dan

eksploitasi berlebih dari alam merupakan faktor yang menyebabkan timbulnya volume air hujan

yang mengalir ke permukaan secara luar biasa. Untuk permasalahan perubahan guna lahan di

kawasan Bopunjur, masih perlu pengkajian lebih lanjut mengenai dampaknya serta kemungkinan
intervensi teknologi pengelolaan banjir dalam menyimpulkan pengaruhnya terhadap timbulnya

banjir,― kata Dr. Sunarto.

Menurutnya, terjadinya banjir (excess water) sebenarnya ada di kawasan Bopunjur, sedangkan

Jakarta menjadi tempat genangan (Inundasi). Tutupan lahan karena hutan di Jawa (35%) yang

minim merupakan persoalan yang kompleks dan memberikan kontribusi terhadap kemampuan

penyerapan lokal dari air hujan. Hasil pencitraan dengan Landsat menunjukkan bahwa telah terjadi

perubahan guna lahan (deforestation) di Gunung Pangrango yang signifikan.

Adapun Dr. Susetyawan memaparkan tentang konsep pemindahan ibukota Jakarta ke tempat lain

yang masih perlu pembahasan yang lebih jauh dan lebih teliti. Hal ini menurutnya perlu karena

ada banyak hal yang harus diperhatikan barkaitan dengan manfaat dan problema yang akan

muncul.

Sedangkan Dr-Ing. Ir. Agus Maryono lebih membahas permasalahan masterplan pembangunan

DKI yang lebih fokus pada transportasi darat, bukan pada revitalisasi sungai sabagai alat

transpotasi dan penyerapan air. “Masterplan banjir DKI belum mampu mengakomodasi atau

justru mengantisipasi perubahan cepat dari pembangunan perkotaan. Sebagai contoh, di Jakarta

telah terjadi konversi dari daerah rawa (Rawasari, Rawamangun, Rawabadak, Rawajati) menjadi

kawasan terbangun,― tukasnya.

Agus Maryono menambahkan bahwa konsep Jabodetabek dalam perspektif pengelolaan banjir

harus dikembangkan menjadi Jatasebeker (Jakarta Tangerang Serang Bekasi Krawang) karena

berkaitan dengan pengelolaan sungai. Selain itu, adanya desentralisasi daerah (otonomi daerah)

tidak boleh menjadi kendala pengelolaan banjir lintas daerah. Penambahan tutupan hutan di

wilayah hulu DAS. Pemerintah DKI Jakarta perlu memperhatikan skala pembangunan kota di
Utara Jakarta sehingga tidak membebani ruang kota dan menyebabkan perubahan muka tanah.

Sistem pendidikan harus juga mengakomodasi muatan lokal masalah lingkungan khususnya

pengelolaan air dan banjir.

Prof. Sutaryo lebih menyoroti persolan kesehatan masyarakat yang ditimbulkan dari dampak

bencana banjir. Menurutnya, persiapan yang kurang menyebabkan kelompok rentan (miskin,

anak-anak, wanita hamil dan usia lanjut) ini menjadi potensi korban lanjutan akibat banjir,

terutama akibat munculnya penyakit. ―Kontrol penyebaran penyakit perlu dilakukan dengan

segera dan prioritas harus diberikan kepada upaya perolehan air bersih dan listrik,― kata Kepala

Pusat studi Biotek ini.

Dari berbagai hasil diskusi para pakar ini dihasilkan beberapa masukan sebagai salah satu strategi

pengelolaan banjir, beberapa rekomendasi yang dihasilkan diantaranya; Jangka pendek:

Penyuluhan penyakit menular (diare), air bersih, pembuangan limbah domestik; dukungan logistik

distribusi obat; pemantauan dan penekanan insektisida vektor; Surveilans nutrisi bagi penyediaan

susu tambahan yang baik perlu disediakan untuk menghindari timbulnya gangguan pencernaan

akibat ketersediaan air yang buruk.

Jangka menengah: Post traumatik stress disorder (PTSD) bagi masyarakat korban banjir perlu

diatasi dengan program konseling yang cukup; Pengelolaan rawa sebagai terminal air buangan

sebelum air masuk ke laut. Salah satunya adalah retarding basin dan revitalisasi situ dan rawa.

Manajemen endapan sedimen perlu dikembangkan secara komprehensif. Perlu segera ditetapkan

sistem peringatan dini dan sistem evakuasi yang dapat diimplementasikan, termasuk pengadaan

peta zonasi kerawanan banjir.


Jangka panjang: Pembangunan perkotaan di masa datang perlu untuk mengakomodasikan

persoalan kemanusiaan (humanity) dan komitmen kuat untuk mengatasi masalah banjir. Selain itu,

tetap diperlukan komitmen penegakan hukum dan pelibatan masyarakat secara aktif untuk

menjaga kelestarian sungai melalui berbagai forum komunitas.(Humas UGM)