Vous êtes sur la page 1sur 27

LAPORAN KASUS

MIOMA UTERI

Disusun oleh
Rizki Nur Fitria
122011101096

Pembimbing
dr. Endang Ma’ruf Randi, Sp.OG

Disusun untuk melaksanakan tugas kepaniteraan klinik Madya


Lab/SMF Ilmu Obstetri dan Ginekologi FK Universitas Jember-RSD. dr.
Soebandi Jember

LAB/SMF ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


RSD dr. SOEBANDI JEMBER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JEMBER
2016

1
BAB I
PENDAHULUAN

Mioma uteri, dikenal juga dengan sebutan fibromioma, fibroid ataupun leiomioma
dan merupakan neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus dan jaringan ikat
yang menumpangnya.1
Sering ditemukan pada wanita usia reproduksi (20–25%), kejadiannya lebih tinggi
pada usia diatas 35 tahun, yaitu mendekati angka 40%. Tingginya kejadian mioma
uteri antara usia 35-50 tahun, menunjukkan adanya hubungan mioma uteri dengan
estrogen. Mioma uteri belum pernah dilaporkan terjadi sebelum menarche dan
menopause angka kejadian sekitar 10%. Di Indonesia angka kejadian mioma uteri
ditemukan 2,39-11,87% dari semua penderita ginekologi yang dirawat. Di USA
wanita kulit hitam 3-9 kali lebih tinggi menderita mioma uteri dibandingkan
wanita berkulit putih. Sedangkan di Afrika, wanita kulit hitam sedikit sekali
menderita mioma uteri.1,2

2
BAB II

LAPORAN KASUS

2.1 Identitas Pasien


 Nama : Ny. H
 Umur : 46 tahun
 Agama : Islam
 Suku : Jawa
 Pendidikan : SMP
 Pekerjaan : Ibu rumah tangga
 Alamat : Arjasa, Jember
 Tanggal MRS : 15-04-2016
 No RM : 107976

2.2 Anamnesis
 Keluhan utama: benjolan di perut bawah
 Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien mengeluhkan terdapat benjolan di perut bagian bawah. Pasien
merasakan ada benjolan sejak kurang lebih 1 tahun yang lalu. Benjolan
pada awalnya kecil, namun perlahan-lahan benjolan membesar. Benjolan
dirasakan nyeri saat dipegang. Pasien juga mengeluhkan sejak 4 bulan
terakhir perdarahan menstruasi jadi lebih banyak dari biasanya.
Sebelumnya dalam sehari pasien berganti pembalut hanya 2-3x/hari,
namun 4 bulan terakhir pasien dapat berganti pembalut hingga 6-7x/hari.
Pasien juga sering mengeluhkan nyeri perut saat menstruasi. Pasien dapat
BAB dan BAK lancar.
 Riwayat Penyakit Dahulu:
Sebelumnya pasien tidak pernah mengalami keluhan serupa. Riwayat
penyakit sistemik (hipertensi, diabetes mellitus, asma) disangkal
 Riwayat Penyakit Keluarga:
Didalam keluarga tidak ada yang mengalami keluhan serupa maupun
riwayat adanya tumor rahim, tumor/kanker payudara, hipertensi, diabetes
mellitus.

3
 Riwayat Pengobatan: disangkal
 Riwayat Menarche : usia 13 tahun
 Riwayat Menstruasi : teratur / 7 hari / dismenorhea (+)
 Riwayat Marital : 1x / 18 tahun
 Riwayat Obstetri : 1. Perempuan / 22tahun / Dukun
2. Perempuan / 20 tahun / Dukun
 Riwayat KB : Pil KB
 HPHT : 2 April 2016

2.3 Pemeriksaan Fisik


2.3.1 Pemeriksaan Umum
 Keadaan Umum : lemah
 Kesadaran : compos mentis, GCS 4-5-6
 Vital Sign : TD : 110/70 mmHg
Nadi : 86 x/menit
RR : 20 x/menit
Suhu : 36,7 oC
 Tinggi badan : 157 cm
 Berat badan : 64 kg
 IMT : 25,9
2.3.2 Pemeriksaan Khusus
a. Kepala
- Bentuk : bulat lonjong, simetris
- Rambut : hitam, lurus
- Mata : konjungtiva anemis : +/+
sklera ikterus : -/-
edema palpebra : -/-
refleks cahaya : +/+
- Hidung : sekret (-), pernapasan cuping hidung (-)
- Telinga : sekret (-), perdarahan (-)
- Mulut : sianosis (-)
b. Leher
- KGB : tidak ada pembesaran
- Tiroid : tidak membesar
- JVP : tidak meningkat

4
c. Thorax
1. Cor :
- Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
- Palpasi : ictus cordis tidak teraba
- Perkusi : redup di ICS IV PSL D s/d ICS V MCL S
- Auskultasi : S1S2 tunggal, reguler, suara tambahan (-)
2. Pulmo :
Aspectus Ventralis Aspectus Dorsalis
Ins Bentuk dada normal Bentuk dada normal
Simetris Simetris
Retraksi (-) Retraksi (-)
Gerak nafas tertinggal (-) Gerak nafas tertinggal (-)
Per Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
Fremitus raba Fremitus raba

N N N N
N N N N
N N N N
N N N N
N N N N

5
Pal Sonor-Redup Sonor-Redup

S S S S

S S S S

S S S S

S S R R S S R R

S R S R

d. Ekstremitas
- Superior : akral hangat +/+, edema-/-
- Inferior : akral hangat -/+, edema +/-

2.3.3 Status Ginekologi


 Payudara : papila mamae menonjol, hiperpigmentasi papila
mamae -/-, edema -, nipple disharge –
 Abdomen:
- Inspeksi : cembung, bekas operasi (-), bekas sectio caesario
(-)
- Auskultasi : bising usus (+)
- Palpasi: : Teraba massa (+) setinggi pusat, ukuran ± 16 cm
x 14 cm, konsistensi padat kenyal, terfiksir, permukaan rata, batas
jelas, nyeri tekan (+)
- Perkusi : timpani-redup.
 Genitalia:
- Vulva/vagina : rambut pubis ada, laserasi (-), tidak ada
benjolan/pembengkakan kelenjar bartolini, fluor albus (-), fluksus
(+), himen tidak utuh.
- Inspekulo : tidak tampak massa pada introitus vagina, porsio licin,
flour albus (-), fluxus (+)

6
 Vaginal Touche
- Perabaan vagina : dinding vagina licin, permukaan dinding rata,
tidak ada masa, cavum douglas tidak menonjol.
- Perabaan serviks : ostium uteri eksternum lebar, konsistensi
kenyal, terdiri atas bibir depan dan belakang, nyeri goyang portio
(-)
 Pemeriksaan Bimanual
- Perabaan cavum uteri : letak anteversio, bentuk lonjong, uterus
membesar, konsistensi padat kenyal, permukaan rata
- Perabaaan adnexa : massa (-), nyeri (-)

3.4 Resume
Wanita usia 46 tahun, mengeluh terdapat benjolan pada perut bawah sejak
kurang lebih 1 tahun yang lalu. Benjolan awalnya kecil lalu semakin membesar.
Pasien juga mengeluh saat menstruasi darah yang keluar lebih banyak daripada
biasanya dan saat ini setiap menstruasi mengganti pembalut 6-7x/hari. Pasien juga
mengeluh nyeri perut saat haid, dapat BAB dan BAK lancar.
Pada pemeriksaan fisik, didapatkan tanda-tanda vital TD 110/70, Nadi 86
x/m, RR 20x/ m, suhu 36,7 C. Pada pemeriksaan abdomen didapatkan
massa (+) setinggi pusat ukuran 16 cm x 14 cm, konsistensi padat kenyal, terfiksir,
permukaan rata, batas jelas, nyeri tekan (+). Pemeriksaan Bimanual permukaan
uterus membesar. Perabaaan adnexa : tidak teraba massa pada adneksa dekstra dan
sinistra, nyeri(-).

3.5 Assessment
Susp. Mioma uteri + Anemia

3.6 Diagnosis banding


 Adenomiosis
 Miosarkoma
 Simple hiperplasia

3.7 Planning

7
 Diagnostik:
- Laboratorium DL, Kimia klinik, Golongan Darah
- USG
- Biopsi (histopatologi)
- Kuretase
 Terapi:
- Apabila Hb ≤ 10 gr/dl, Transfusi PRC hingga Hb ≥ 10
g/dL
- Inj. Asam traneksamat 3 x 500 mg intravena
- Inj. Antrain 3 x 1 ampul intravena
- Pro Histerektomi
 Monitoring:
- Observasi perdarahan
- Observasi TTV tiap 6 jam
- Cek Hb tiap hari

3.8 Prognosis
Dubia ad bonam

8
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA MIOMA UTERI

3.1 Definisi
Mioma uteri dikenal juga dengan sebutan fibromioma, fibroid ataupun leiomioma
merupakan neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus dan jaringan ikat yang
menumpanginya. Mioma uteri adalah tumor jinak otot polos uterus yang dilipat
oleh pseudo kapsul, yang berasal dari sel otot polos yang imatur. Dengan nama
lain leiomioma, fibroid dan fibromioma.1

3.2 Faktor Risiko


 Usia penderita
Wanita kebanyakan didiagnosa dengan mioma uteri dalam usia 40-an;
tetapi masih tidak diketahui pasti apakah mioma uteri yang terjadi adalah
disebabkan peningkatan formasi atau peningkatan pembesaran secara
sekunder terhadap perubahan hormon pada waktu usia begini. Faktor lain
yang bisa mengganggu insidensi kasus mioma uteri adalah karena dokter
merekomendasi dan pasien menerima rekomendasi tersebut untuk
menjalani histerektomi hanya setelah mereka sudah melepas usia
melahirkan anak.16
Berdasarkan otopsi, Novak menemukan 27% wanita berumur 25 tahun
mempunyai sarang mioma.Mioma belum pernah dilaporkan terjadi
sebelum menarke dan setelah menopause hanya 10% mioma yang masih
bertumbuh.15
 Hormon endogen (Endogenous Hormonal)
Mioma uteri sangat sedikit ditemukan pada spesimen yang diambil dari
hasil histerektomi wanita yang telah menopause, diterangkan bahwa
hormon esterogen endogen pada wanita-wanita menopause pada kadar
yang rendah atau sedikit.16 Awal menarke (usia di bawah 10 tahun)
dijumpai peningkatan resiko (RR 1,24) dan menarke lewat (usia setelah 16
tahun) menurunkan resiko (RR 0,68) untuk menderita mioma uteri.

9
 Riwayat keluarga
Wanita dengan garis keturunan tingkat pertama dengan penderita mioma
uteri mempunyai peningkatan 2,5 kali kemungkinan risiko untuk
menderita mioma uteri dibanding dengan wanita tanpa garis keturunan
penderita mioma uteri. Penderita mioma yang mempunyai riwayat
keluarga penderita mioma uteri mempunyai 2 kali lipat kekuatan ekspresi
dari VEGF-α (a myoma-related growth factor) dibandingkan dengan
penderita mioma yang tidak mempunyai riwayat keluarga penderita
mioma uteri.16
 Etnik
Dari studi yang dijalankan melibatkan laporan sendiri oleh pasien
mengenai mioma uteri, rekam medis, dan pemeriksaan sonografi
menunjukkan golongan etnik Afrika-Amerika mempunyai kemungkinan
risiko menderita mioma uteri setinggi 2,9 kali berbanding wanita etnik
Caucasia, dan risiko ini tidak mempunyai kaitan dengan faktor risiko yang
lain. Didapati juga wanita golongan Afrika-Amerika menderita mioma
uteri dalam usia yang lebih muda dan mempunyai mioma yang banyak dan
lebih besar serta menunjukkan gejala klinis. Namun masih belum
diketahui jelas apakah perbedaan ini adalah karena masalah genetik atau
perbedaan pada kadar sirkulasi estrogen, metabolisme estrogen, diet, atau
peran faktor lingkungan. Pada penelitian terbaru menunjukkan yang
Val/Val genotype untuk enzim essensial kepada metabolisme
estrogen,catechol-O-methyltransferase (COMT) ditemui sebanyak 47%
pada wanita Afrika-Amerika berbanding hanya 19% pada wanita kulit
putih. Wanita dengan genotype ini lebih rentan untuk menderita mioma
uteri. Ini menjelaskan mengapa prevalensi yang tinggi untuk menderita
mioma uteri dikalangan wanita Afrika-Amerika lebih tinggi.16
 Berat badan
Satu studi prospektif dijalankan dan dijumpai kemungkinan risiko
menderita mioma uteri adalah setinggi 21% untuk setiap kenaikan 10 kg
berat badan dan dengan peningkatan indeks massa tubuh. Temuan yang

10
sama juga turut dilaporkan menyebabkan peningkatan konversi androgen
adrenal kepada estrone dan menurunkan hormon sex-binding globulin.
Hasilnya menyebabkan peningkatan estrogen secara biologikal yang bisa
menerangkan mengapa terjadi peningkatan prevalensi mioma uteri dan
pertumbuhannya.16
 Diet
Ada studi yang mengaitkan dengan peningkatan terjadinya mioma uteri
dengan makanan seperti daging sapi atau daging merah atau ham bisa
meningkatkan insidensi mioma uteri dan sayuran hijau bisa
menurunkannya. Studi ini sangat sukar untuk diintepretasikan karena studi
ini tidak menghitung nilai kalori dan pengambilan lemak tetapi sekadar
informasi saja dan juga tidak diketahui dengan pasti apakah vitamin, serat
atau phytoestrogen berhubung dengan mioma uteri.16
 Kehamilan dan paritas
Peningkatan paritas menurunkan insidensi terjadinya mioma uteri. Mioma
uteri menunjukkan karakteristik yang sama dengan miometrium yang
normal ketika kehamilan termasuk peningkatan produksi extracellular
matrix dan peningkatan ekspresi reseptor untuk peptida dan hormon
steroid. Miometrium postpartum kembali kepada berat asal, aliran darah
dan saiz asal melalui proses apoptosis dan diferensiasi. Proses remodeling
ini berkemungkinan bertanggungjawab dalam penurunan saiz mioma uteri.
Teori yang lain pula mengatakan pembuluh darah di uterus kembali
kepada keadaan atau saiz asal pada postpartum dan ini menyebabkan
mioma uteri kekurangan suplai darah dan kurangnya nutrisi untuk terus
membesar. Didapati juga kehamilan ketika usia midreproductive (25-29
tahun) memberikan perlindungan terhadap pembesaran mioma.16
 Kebiasaan merokok
Merokok dapat mengurangi insidensi mioma uteri. Banyak faktor yang
bisa menurunkan bioavalibiltas hormon estrogen pada jaringan seperti:
penurunan konversi androgen kepada estrone dengan penghambatan enzim
aromatase oleh nikotin.16

11
3.3 Epidemiologi
Berdasarkan otopsi, Novak menemukan 27% wanita berumur 25 tahun
mempunyai sarang mioma, pada wanita berkulit hitam ditemukan lebih banyak.
Mioma uteri belum pernah dilaporkan terjadi sebelum menarche. Setelah
menopause hanya sekitar 10% mioma yang masih tumbuh. Di Indonesia mioma
uteri ditemukan 2,39–11,7% pada semua penderita ginekologi yang dirawat.15
Tumor ini paling sering ditemukan pada usia 35–45 tahun (25%) dan jarang pada
usia 20 tahun dan usia menopause. Wanita yang lebih sering melahirkan akan
lebih sedikit kemungkinan untuk berkembangnya mioma ini dibandingkan dengan
wanita yang tidak pernah hamil atau yang hanya satu kali hamil.15
3.4. Klasifikasi Mioma Uteri
Sarang mioma di uterus dapat berasal dari serviks uteri (1-3%) dan selebihnya
adalah dari korpus uteri. Menurut tempatnya di uterus dan menurut arah
pertumbuhannya, maka mioma uteri dibagi 4 jenis antara lain:
 Mioma submukosa
 Mioma intramural
 Mioma subserosa
 Mioma intraligamenter

Gambar 5. Mioma menurut arah pertumbuhannya

Jenis mioma uteri yang paling sering adalah jenis intramural (54%), subserosa
(48%), submukosa (6,1%) dan jenis intraligamenter (4,4%).3

12
 Mioma submukosa
Berada di bawah endometrium dan menonjol ke dalam rongga uterus.
Jenis ini dijumpai 6,1% dari seluruh kasus mioma. Jenis ini sering
memberikan keluhan gangguan perdarahan. Mioma jenis lain meskipun
besar mungkin belum memberikan keluhan perdarahan, tetapi mioma
submukosa, walaupun kecil sering memberikan keluhan gangguan
perdarahan. Mioma submukosa umumnya dapat diketahui dari tindakan
kuretase, dengan adanya benjolan waktu kuret, dikenal sebagai currete
bump dan dengan pemeriksaan histeroskopi dapat diketahui posisi tangkai
tumor.
Tumor jenis ini sering mengalami infeksi, terutama pada mioma
submukosa pedinkulata. Mioma submukosa pedinkulata adalah jenis
mioma submukosa yang mempunyai tangkai. Tumor ini dapat keluar dari
rongga rahim ke vagina, dikenal dengan nama mioma geburt atau mioma
yang dilahirkan, yang mudah mengalami infeksi, ulserasi dan infark. Pada
beberapa kasus, penderita akan mengalami anemia dan sepsis karena
proses di atas.
 Mioma intramural
Terdapat di dinding uterus di antara serabut miometrium. Karena
pertumbuhan tumor, jaringan otot sekitarnya akan terdesak dan terbentuk
simpai yang mengelilingi tumor. Bila di dalam dinding rahim dijumpai
banyak mioma, maka uterus akan mempunyai bentuk yang berbenjol-
benjol dengan konsistensi yang padat. Mioma yang terletak pada dinding
depan uterus, dalam pertumbuhannya akan menekan dan mendorong
kandung kemih ke atas, sehingga dapat menimbulkan keluhan miksi.
 Mioma subserosa
Apabila mioma tumbuh keluar dinding uterus sehingga menonjol pada
permukaan uterus diliputi oleh serosa. Mioma subserosa dapat tumbuh di
antara kedua lapisan ligamentum latum menjadi mioma intraligamenter.
 Mioma intraligamenter

13
Mioma subserosa yang tumbuh menempel pada jaringan lain, misalnya ke
ligamentum atau omentum kemudian membebaskan diri dari uterus
sehingga disebut wondering parasitis fibroid. Jarang sekali ditemukan satu
macam mioma saja dalam satu uterus. Mioma pada servik dapat menonjol
ke dalam satu saluran servik sehingga ostium uteri eksternum berbentuk
bulan sabit.
Apabila mioma dibelah maka tampak bahwa mioma terdiri dari bekas otot
polos dan jaringan ikat yang tersusun seperti kumparan (whorie like
pattern) dengan pseudokapsul yang terdiri dari jaringan ikat longgar yang
terdesak karena pertumbuhan.

Gambaran makroskopik mioma uteri:


 Berkapsul
 Berbatas tegas

14
Gambar 6. Representasi gambar uterus normal dan struktur vaskulernya
A. Pelebaran pembuluh darah pada endometrium dan miometrium pada uterus normal
B. Pelebaran pembuluh darah obstruksi fisik pada pembuluh darah uterus miomatosus

Gambaran mikroskopik
Pada pembelahan jaringan mioma tampak lebih putih dari jaringan sekitarnya.
Pada pemeriksaan secara mikroskopik dijumpai se-sel otot polos panjang, yang
membentuk bangunan yang khas sebagai kumparan (whorle like pattern). Inti sel
juga panjang dan bercampur dengan jaringan ikat. Pada pemotongan tranversal,
sel berbentuk polihedral dengan sitoplasma yang banyak mengelilinginya. Pada
pemotongan longitudinal inti sel memanjang, dan ditemukan adanya “mast cells”
diantara serabut miometrium sering diinterprestasi sebagai sel tumor atau sel
raksasa ( giant cells ).1,5,6

15
Perubahan sekunder:

Atrofi sesudah menopause ataupun sesudah kehamilan berakhir mioma
uteri menjadi kecil.

Degenerasi hialin, perubahan ini sering terjadi terutama pada penderita
usia lanjut. Tumor kehilangan struktur aslinya menjadi homogen. Dapat
meliputi sebagian besar atau hanya sebagian kecil dari padanya seolah-
olah memisahkan satu kelompok serabut otot dari kelompok lainnya.

Degenerasi kistik, dapat meliputi daerah kecil maupun luas, sebagian dari
mioma menjadi cair, sehingga terbentuk ruangan-ruangan yang tidak
teratur berisi seperti agar-agar, dapat juga terjadi pembengkakan yang luas
dan bendungan limfe sehingga menyerupai limfangioma. Dengan
konsistansi yang lunak tumor ini sukar dibedakan dari kista ovarium atau
suatu kehamilan.

Degenerasi membatu (calcireous degeneration), terutama terjadi pada
wanita berusia lanjut oleh karena adanya gangguan dalam sirkulasi.
Dengan adanya pengendapan garam kapur pada sarang mioma maka
mioma menjadi keras dan memberikan bayangan pada foto rontgen.

Degenerasi merah (carneous degeneration), perubahan ini biasanya terjadi
pada kehamilan dan nifas. Patogenesis diperkirakan karena suatu nekrosis
subakut akibat gangguan vaskularisasi. Pada pembelahan dapat terlihat

16
sarang mioma seperti daging mentah berwarna merah disebabkan oleh
pigmen hemosiderin dan hemofusin. Degenerasi merah tampak khas
apabila terjadi pada kehamilan muda yang disertai emesis dan haus, sedikit
demam dan kesakitan, tumor dan uterus membesar dan nyeri pada
perabaan.Penampilan klinik seperti ini menyerupai tumor ovarium
terpuntir atau mioma bertangkai.

Degenerasi lemak, keadaan ini jarang dijumpai, tetapi dapat terjadi pada
degenerasi hialin yang lanjut, dikenal dengan sebutan fibrolipoma.15

3.5 Patogenesis
Etiologi yang pasti terjadinya mioma uteri saat ini belum diketahui. Mioma uteri
banyak ditemukan pada usia reproduktif dan angka kejadiannya rendah pada usia
menopause, dan belum pernah dilaporkan terjadi sebelum menarche. Diduga
penyebab timbulnya mioma uteri paling banyak oleh stimulasi hormon estrogen.1
Pukka menemukan bahwa reseptor estrogen pada mioma uteri lebih banyak
didapatkan dibandingkan dengan miometrium normal. Meyer dan De Snoo
mengemukakan patogenesis mioma uteri dengan teori cell nest dan genitoblast.15
Apakah estrogen secara langsung memicu pertumbuhan mioma uteri, atau
memakai mediator masih menimbulkan silang pendapat. Dimana telah ditemukan
banyak sekali mediator didalam mioma uteri, seperti estrogen growth factor,
insulin growth factor–1 (IGF–1), connexsin – 43 – Gap junction protein dan
marker proliferasi. Awal mulanya pembentukan tumor adalah terjadinya mutasi
somatik dari sel-sel miometrium. Mutasi ini mencakupi rentetan perubahan pada
kromosom, baik secara parsial maupun secara keseluruhan. Aberasi kromosom
ditemukan pada 23-50% dari mioma uteri yang diperiksa, dan yang terbanyak
(36,6%) ditemukan pada kromosom 7 (del (7) (q 21)/ q 21 q 32). Keberhasilan
pengobatan medikamentosa mioma uteri sangat tergantung apakah telah terjadi
perubahan pada kromosom atau tidak.2,4

3.6 Tanda dan Gejala Klinik

17
Hampir separuh kasus mioma uteri ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan
ginekologik karena tumor ini tidak mengganggu. Gejala yang dikeluhkan sangat
tergantung pada tempat sarang mioma ini berada (serviks, intramural, submukus,
subserous) besarnya tumor, perubahan dan komplikasi yang terjadi.
Gejala tersebut dapat digolongkan sebagai berikut :
 Perdarahan abdominal. Gangguan perdarahan yang terjadi umumnya
adalah hipermenore, menoragia, dan dapat juga terjadi metrorargia.
Faktor–faktor penyebab perdarahan :
o Pengaruh ovarium sehingga terjadilah hyperplasia endometrium
sampai adenokarsinoma endometrium
o Permukaan endometrium yang lebih luas daripada biasanya
o Atrofi endometrium diatas mioma submukosa
o Endometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena adanya sarang–
sarang mioma diantara serabut miometrium, sehingga tidak dapat
menjepit pembuluh darah yang melaluinya dengan baik.
 Rasa nyeri. Rasa nyeri bukanlah gejala yang khas tetapi dapat timbul
karena gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma, yang disertai
nekrosis setempat dan peradangan. Pada pengeluaran mioma submukosum
yang akan dilahirkan, pula pertumbuhannya yang menyempitkan kanalis
servikalis dapat menyebabkan juga dismenore.
 Gejala dan tanda penekanan. Gangguan ini tergantung dari besar dan
tempat mioma uteri. Penekanan pada kandung kemih menyebabkan
poliuri, pada uretra menyebabkan retensio urine, pada ureter menyebabkan
hidroureter dan hidronefrosis, pada rectum menyebabkan obstipasi dan
tenesmia, pada pembuluh darah dan pembuluh limfe di panggul dapat
menyebabkan edema tungkai dan nyeri panggul.
 Infertilitas dan abortus, dapat terjadi apabila sarang mioma menutup atau
menekan pars interstitial tuba, sedangkan mioma submukosum juga
memudahkan terjadinya abortus oleh karena distorsi rongga uterus

Mioma uteri dan kehamilan


Mioma uteri dapat mempengaruhi kehamilan, misalnya menyebabkan infertilitas;
resiko terjadinya abortus bertambah karena distorsi ronga uterus; khususnya pada

18
mioma submukosum; letak janin; menghalangi kemajuan persalinan karena
letaknya pada serviks uteri; menyebabkan inersia maupun atonia uteri, sehingga
menyebabkan perdarahan pasca persalinan karena adanya gangguan mekanik
dalam fungsi miometrium; menyebabkan plasenta sukar lepas dari dasarnya; dan
mengganggu proses involusi dalam nifas.
Kehamilan sendiri dapat menimbulkan perubahan pada mioma uteri, antara lain :
 Tumor membesar terutama pada bulan–bulan pertama karena pengaruh
estrogen yang kadarnya meningkat
 Dapat terjadi degenerasi merah waku hamil maupun masa nifas
 Meskipun jarang, mioma uteri bertangkai dapat juga mengalami torsi
dengan gejala dan tanda abdomen akut.

3.7 Diagnosis Mioma Uteri


3.7.1 Pemeriksaan fisik
Mioma uteri mudah ditemukan melalui pemeriksaan bimanual rutin uterus.
Diagnosis mioma uteri menjadi jelas bila dijumpai gangguan kontur uterus oleh
satu atau lebih massa yang lebih licin, tetapi sering sulit untuk memastikan bahwa
massa seperti ini adalah bagian dari uterus.

3.7.2 Temuan laboratorium


Anemia merupakan akibat paling sering dari mioma. Hal ini disebabkan
perdarahan uterus yang banyak dan habisnya cadangan zat besi. Kadang-kadang
mioma menghasilkan eritropoeitin yang pada beberapa kasus menyebabkan
polisitemia. Adanya hubungan antara polisitemia dengan penyakit ginjal diduga
akibat penekanan mioma terhadap ureter yang menyebabkan peninggian tekanan
balik ureter dan kemudian menginduksi pembentukan eritropoetin ginjal.

3.7.3 Pemeriksaan penunjang


a. Ultrasonografi
Ultrasonografi transabdominal dan transvaginal bermanfaat dalam menetapkan
adanya mioma uteri. Ultrasonografi transvaginal terutama bermanfaat pada uterus

19
yang kecil. Uterus atau massa yang paling besar baik diobservasi melalui
ultrasonografi transabdominal. Mioma uteri secara khas menghasilkan gambaran
ultrasonografi yang mendemonstrasikan irregularitas kontur maupun pembesaran
uterus. Adanya kalsifikasi ditandai oleh fokus-fokus hiperekoik dengan bayangan
akustik. Degenerasi kistik ditandai adanya daerah yang hipoekoik.13
b. Hiteroskopi
Dengan pemeriksaan ini dapat dilihat adanya mioma uteri submukosa, jika
tumornya kecil serta bertangkai. Tumor tersebut sekaligus dapat diangkat.
c. MRI (Magnetic Resonance Imaging)
Sangat akurat dalam menggambarkan jumlah, ukuran, dan lokasi mioma tetapi
jarang diperlukan. Pada MRI, mioma tampak sebagai massa gelap berbatas tegas
dan dapat dibedakan dari miometrium normal. MRI dapat mendeteksi lesi sekecil
3 mm yang dapat dilokalisasi dengan jelas, termasuk mioma submukosa. MRI
dapat menjadi alternatif ultrasonografi pada kasus-kasus yang tidak dapat
disimpulkan.

3.8 Komplikasi Mioma Uteri


 Degenerasi ganas
Mioma uteri yang menjadi leiomiosarkoma ditemuken hanya 0,32–0.6 %
dari seluruh mioma serta merupakan 50–75% dari semua sarkoma uterus.
Keganasan umumnya baru ditemukan pada pemeriksaan histologi uterus
yang telah diangkat. Kecurigaan akan keganasan uterus apabila mioma
uteri cepat membesar dan apabila terjadi pembesaran sarang mioma dalam
menopause.2,5 Novak dan Woodruff melaporkan insiden leiomiosarkoma
adalah dibawah 0.5%.
 Torsi (putaran tangkai)
Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul gangguan
sirkulasi akut sehingga mengalami nekrosis. Keadaan ini dapat terjadi
pada semua bentuk mioma tetapi yang paling sering adalah jenis mioma
submukosa pendinkulata.

20
3.9 Diagnosis Banding Mioma Uteri
Diagnosis banding yang perlu dipikirkan adalah tumor abdomen dibagian bawah
atau panggul ialah mioma subserosum dan kehamilan. Mioma submukosum harus
dibedakan dengan inversion uteri. Mioma intramural harus dibedakan dengan
adenomiosis, koriokarsinoma, karsinoma korporis uteri, atau suatu sarcoma uteri.

3.10 Penatalaksanaan Mioma Uteri


a. Konservatif Penderita dengan mioma yang kecil dan tanpa gejala tidak
memerlukan pengobatan, tetapi harus diawasi perkembangan tumornya. Jika
mioma lebih besar dari kehamilan 10 – 12 minggu, tumor yang berkembang cepat,
terjadi torsi pada tangkai, perlu diambil tindakan operasi.1,7
b. Terapi medikamentosa
Terapi medikamentosa yang dapat memperkecil volume atau menghentikan
pertumbuhan mioma uteri secara menetap belum tersedia pada saat ini. Terapi
medikamentosa masih merupakan terapi tambahan atau terapi pengganti
sementara dari terapi operatif.3,8
Adapun preparat yang selalu digunakan untuk terapi medikamentosa adalah
analog GnRH, progesteron, Danazol, Gestrinon, Tamoksifen, Goserelin, anti
prostaglandin, agen-agen lain (Gossipol, Amantadine).
 Analog GnRH
Penelitian multisenter yang dilakukan pada 114 pasien dengan mioma uteri
yang diberikan analog GnRH leuprorelin asetat selama 6 bulan, ditemukan
pengurangan volume uterus rata-rata 67%, pada 90 wanita didapatkan
pengecilan volume uterus sebesar 20%, dan pada 35 wanita ditemukan
pengurangan volume mioma sebanyak 80%. Efek maksimal dari analog
GnRH baru terlihat setelah 3 bulan dimana cara kerjanya menekan
produksi estrogen dengan sangat kuat, sehingga kadarnya dalam darah
menyerupai kadar estrogen wanita usia menopause. Setiap mioma uteri
memberikan hasil yang berbeda-beda terhadap pemberian analog
GnRH.2,9

21
Mioma submukosa dan mioma intramural merupakan mioma uteri yang
paling responsif terhadap pemberian analog GnRH. Sedangkan mioma
subserosa tidak responsif dengan pemberian analog GnRH ini.
Keuntungan pemberian pengobatan medikamentosa dengan analog GnRH
adalah:
o
Mengurangi volume uterus dan volume mioma uteri
o
Mengurangi anemia akibat pendarahan
o
Mengurangi pendarahan pada saat operasi
o
Tidak diperlukan insisi yang luas pada uterus saat pengangkatan
mioma
o
Mempermudah tindakan histerektomi vaginal
o
Mempermudah pengangkatan mioma submukosa dengan
histeroskopi.2

 Progesteron
Peneliti Lipschutz tahun 1939, melaporkan perkembangan mioma uteri
dapat dihambat atau dihilangkan dengan pemberian progesteron. Dimana
progesteron yang diproduksi oleh tubuh dapat berinteraksi secara sinergis
dengan estrogen, tetapi mempunyai aksi antagonis.3,10,11
Tahun 1946 Goodman melaporkan terapi injeksi progesteron 10 mg dalam
3 kali seminggu atau 10 mg sehari selama 2–6 minggu, terjadi regresi dari
mioma uteri, setelah pemberian terapi. Segaloff tahun 1949, mengevaluasi
6 pasien dengan perawatan 30 sampai 189 hari, dimana 3 pasian diberi 20
mg progesteron intramuskuler tiap hari, dan 3 pasian lagi diberi 200 mg
tablet. Pengobatan ini tidak mempengaruhi ukuran mioma uteri.
Goldhiezer, melaporkan adanya perubahan degeneratif mioma uteri pada
pemberian progesteron dosis besar. Dengan pemberian medrogestone 25
mg pr hari selama 21 hari. Pada pemberian 2 mg norethindrone tiap hari
selama 30 hari tidak mempengaruhi perubahan ukuran volume mioma
uteri. Perkiraan ukuran mioma uteri sebelum dan sesudah terapi tidak

22
dilakukan dan efektifitasnya dimulai berdasarkan temuan histologis. Terapi
progesteron mungkin akan berhasil dalam pengobatan mioma uteri, hal ini
belum terbukti saat ini.2,3,11
 Danazol
Danazol merupakan progestogen sintetik yang berasal dari testoteron, dan
pertama kali digunakan untuk pengobatan endometrosis. Prof. Maheux
tahun 1983 pada pertemuan tahunan perkumpulan fertilitas Amerika,
mempresentasikan hasil studinya di Universitas Yale, 8 pasien mioma uteri
diterapi 800 mg danazol setiap hari, selama 6 bulan. Dosis substansial
didapatkan hanya menyebabkan pengurangan volume uterus sebesar 20–
25 %, dimana diperoleh fakta bahwa damazol memiliki substansi
androgenic.3
Tamaya, dan rekan-rekan tahun 1979, melaporkan reseptor androgen pada
mioma terjadi peningkatan aktivitas 5 ∝ - reduktase dibandingkan dengan
miometrium dan endometrium normal. Yamamoto tahun 1984, dimana
mioma uteri, memiliki suatu aktifitas aromatase yang tinggi dan dapat
membentuk estrogen dari androgen.3,12
 Tamoksifen
Tamoksifen merupakan turunan trifeniletilen mempunyai khasiat
estrogenik maupun antiestrogenik. Dan dikenal sebagai “selective estrogen
receptor modulator” (SERM) dan banyak digunakan untuk pengobatan
kanker payudara stadium lanjut. Karena khasiat sebagai estrogenik
maupun antiestrogenik. Beberapa peneliti melaporkan, pemberian
tamoksifen 20 mg tablet perhari untuk 6 wanita premenopause dengan
mioma uteri selama 3 bulan dimana, volume mioma tidak berubah. Kerja
tamoksifen pada mioma uteri, dimana konsentrasi reseptor estradiol total
secara signifikan lebih rendah. Hal ini terjadi karena peningkatan kadar
progesteron bila diberikan secara berkelanjutan.3
 Goserelin
Goserelin merupakan GnRH agonis, dimana ikatan reseptornya terhadap
jaringan sangat kuat, sehingga kadarnya dalam darah berada cukup lama.

23
Dan pada pemberian goserelin dapat mengurangi setengah ukuran mioma
uteri dan dapat menghilangkan gejala menorargia dan nyeri pelvis. Pada
wanita premenopause dengan mioma uteri, pengobatan jangka panjang
dapat menjadi alternatif tindakan histerektomi terutama pada saat
menjelang menopause. Pemberian goserelin 400 mikrogram 3 kali sehari
semprot hidung sama efektifnya dengan pemberian 500 mikrogram sehari
sekali dengan cara injeksi subkutan.
Untuk pengobatan mioma uteri, dimana kadar estradiol kurang signifikan
disupresi selama pemberian goserelin dan pasien sedikit mengeluh efek
samping berupa keringat dingin. Pemberian dosis yang sesuai, agar dapat
menstimulasi estrogen tanpa tumbuh mioma kembali atau berulangnya
peredaran abnormal sulit diterima. Peneliti mengevaluasi efek pengobatan
dengan formulasi depot bulanan goserelin dikombinasi dengan HRT
(estrogen konjugasi 0.3 mg) dan medroksiprogesteron asetat 5 mg pada
pasien mioma uteri, parameter yang diteliti adalah volume mioma uteri,
keluhan pasien, corak perdarahan, kandungan mineral tulang dan fraksi
kolesterol.
Dapat disimpulkan dari hasil penelitian, dimana pemberian goserelin
dikombinasi dengan HRT dilaporkan mioma uteri berkurang, dengan
keluhan berupa keringat dingin dan pola perdarahan spotting, bila
pengobatan dihentikan. Dimana kandungan mineral tulang berkurang bila
pemberian pengobatan selama 6 bulan pertama. Tiga bulan setelah
pengobatan perlu dilakukan observasi, dan konsentrasi HDL kolesterol
meningkat selama pengobatan, sedangkan plasma trigliserida konsentrasi
menetap selama pemberian terapi.10
 Antiprostaglandin
Penghambat pembentukan prostaglandin dapat mengurangi perdarahan
yang berlebihan pada wanita dengan menoragia, dan hal ini beralasan
untuk diterima atau mungkin efektif untuk menoragia yang diinduksi oleh
mioma uteri.

24
Ylikorhala dan rekan-rekan, melaporkan pemberian naproxen 500–1000
mg setiap hari untuk terapi selama 5 hari tidak memiliki efek pada
menoragia yang diinduksi mioma, meskipun hal ini mengurangi
perdarahan menstruasi 35,7 % wanita dengan menoragia idiopatik. Studi
ini didasarkan hanya penilaian secara simptomatik, sedangkan ukuran
mioma tidak diukur.3

c. Terapi operatif
Miomektomi adalah pengambilan sarang mioma saja tanpa pengangkatan uterus.
Tindakan ini dapat dikerjakan misalnya pada mioma submukosum pada myom
geburt dengan cara ekstirpasi lewat vagina. Pengambilan sarang mioma
subserosum dapat mudah dilaksanakan apabila tumor bertangkai. Apabila
miomektomi ini dikerjakan karena keinginan memperoleh anak, maka
kemungkinan akan terjadi kehamilan adalah 30–50%.
Perlu disadari bahwa 25–35% dari penderita tersebut akan masih diperlukan
histerektomi. Histerektomi adalah pengangkatan uterus, yang umumnya
merupakan tindakan terpilih. Histerektomi dapat dilakukan perabdominal maupun
pervaginam. Histerektomi total umumnya dilakukan dengan alasan mencegah
akan timbulnya karsinoma services uteri. Histerektomi supra vaginal hanya
dilakukan apabila terdapat kesukaran teknis dalam pengangkatan uterus
keseluruhan.15

DAFTAR PUSTAKA

1. Thomas EJ. The aetiology and phatogenesis of fibroids. In : Shaw RW. eds.
Advences in reproduktive endocrinology uterine fibroids. England – New
Jersey : The Phartenon Publishing Group, 1992 ; 1 – 8
2. Baziad A. Pengobatan medikamentosa mioma uteri dengan analog GnRH.
Dalam : Endokrinologi ginekologi edisi kedua. Jakarta : Media Aesculapius
FKUI, 2003:; 151 - 156

25
3. Sivecney G.Mc, Shaw RW. Attempts at medical treatment of uterine fibroids.
In : R.W. Shaw, eds. Advences in reproductive endocrinology uterine fibroids.
England – New Jersey : The Phartenon Publishing Group, 1992 ; 95 – 101
4. Friedman AJ, Rein MS, Murugan R, Pandian, Barbieri RL.Fasting serum
growth hormone and insulin_like growth factor – I and –II concentrations in
women with leiomyomata uteri treated with leuprolide acetate or placebo.
Fertility and Sterility, 1990 ; 53 : 250 – 253
5. Crow J. Uterine febroids : Histological features. In : Shaw RW, eds. Advances
in reproductive endocrinology uterine febroids. England – New Jersey : The
Parthenon Publishing Group, 1992; 21 – 33
6. Schwartz MS. Epidermiology of uterine leiomyomata. In : Chesmy M,
Heather, Whary eds. Clinical Obstetric and Ginecology. Philadelphia :
Lippincott Williams and Willkins, 2001 ; 316 – 318
7. Bradley J, Voorhis V. Management options for uterine fibroids, In : Marie
Chesmy,Heather Whary eds. Clinical obstetric and Gynecology.
Philadelphia : Lippincott Williams and Wilkins, 2001 ; 314 – 315
8. Chaves, Stewart, Medical treatment of uterine fibroids. In : Marie Chesmy,
Heather Whary eds. Clinical Obstetric and Gynecologi. Philadelphia :
Lippincott Williams and Wilkins, 2001 ; 374 – 379
9. Schweppe KW. GnRH analogues in the treatment uterine fibroids:results of
clinical studies. In: Shaw RW, eds. Advences in reproductive endocrinology
uterine fibroids. England – New Jersey : The Phartenon Publishing Group,
1992 ; 103-105
10. Lumsden MA. The role of oestrogen and growth factors in the control of the
growth of uterine leiomyomata. In : R.W. Shaw, eds. Advances in
reproductive endokrinology uterine fibroids. England-New Jersey: The
Parthenon Publishing Group, 1992; 9 – 20
11. Baziad A. Pengaruh hormon seks terhadap genitalia dan ekstragenitalia.
Dalam : Endokrinologi genikologi edisi kedua. Jakarta : Media Aesculapius
FKUI, 2003 ; 131 – 132

26
12. Friedman AJ, Harrison D, Atlas CNM, Barbieri R, Benacerraf B, Gleason R,
Schiff I. A randomized, placebo – controlled, double - blind study evaluating
the efficacy of leuprolide acetate depot in the treatment of uterine
leiomyomata. Fertility and Sterility, 1989 ; 51 : 251 – 256
13. Perl V, Marquez J, Schally AV et al. Treatment of leiomyomata uteri with D –
Trp 6 – luteinizing hormone – releasing hormone. Fertility and Sterility, 1987 ;
48 : 383 – 389
14. Prawirohardjo S, Hanifa W. Ilmu Kebidanan, edisi IV. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawiroharjo, 2010; 10:130-136
15. Prawirohardjo S, Hanifa W. Ilmu kandungan, edisi II. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawiroharjo, 2008; 13:338-345
16. Parker WH. Etiology, symptomatology, and diagnosis of uterine myomas.
Fertility and Sterility.Vol. 87, No. 4, April 2007. p725-33.

27