Vous êtes sur la page 1sur 26

PENGERTIAN PENGANGGARAN MODAL

Penganggaran modal (Capital Budgeting) terkait dengan proses pengambilan


keputusan investasi jangka panjang, yang mempunyai dampak strategis bagi kelangsungan
hidup perusahaan. Penilaian kelayakan suatu investasi jangka panjang didasarkan pada arus
kas yang relevan dengan investasi yang dilakukan, baik arus kas keluar maupun arus kas
masuk. Mengingat investasi jangka panjang membutuhkan dana yang besar , sementara
pengembaliannya bertahap melalui beberapa tahun, maka dalam menilai investasi jangka
panjang perlu diterapkan konsep nilai waktu uang.

KERANGKA STRATEGIK KEPUTUSAN PENGANGGARAN MODAL

Keputusan penganggaran modal harus dihubungkan dengan perencanaan strategi


perusahaan secara keseluruhan. Strategi mencakup perencanaan masa depan perusahaan.
Penganggaran modal secara implicit memerlukan suatu komitmen ke dalam masa depan
perusahaan. Penganggaran modal harus diintregasikan dengan perencanaan strategi
perusahaan. Hal ini penting karena investasi yang terlalu besar atau terlalu kecil akan
mempunyai dampak jangka panjang bagi masa depan perusahaan. Apabila perusahaan telah
melakukan investasi pada aktiva tetap yang terlalu besar, hal ini akan menimulkan beban
yang berat dan tidak semestinya bagi perusahaan. Sebaliknya, jika investasi terlalu kecil,
maka perusahaan tidak memiliki kapasitas yang cukup sehingga dapat mengakibatkan
perusahaan kehilangan kesempatan untuk menguasai mangsa pasar yang ada.

Semua bagian di perusahaan , seperti produksi, pemasaran, keuangan dan sumber


daya manusia sangat dipengaruhi oleh keputusan penganggaran modal, oleh karena itu
semua pimpinan dari berbagai bagian tersebut harus mengetahui, bagaimana keputusan
penganggaran modal dibuat dan berpartisipasi secara aktif dalam proses pengambialn
keputusan tersebut.
Jenis-Jenis Investasi
Menurut Senduk (2004:24) bahwa produk-produk investasi yang tersedia di pasaran
antara lain:
a. Tabungan di bank
Dengan menyimpan uang di tabungan, maka akan mendapatkan suku bunga tertentu
yang besarnya mengikuti kebijakan bank bersangkutan. Produk tabungan biasanya
memperbolehkan kita mengambil uang kapanpun yang kita inginkan.
b. Deposito di bank
Produk deposito hampir sama dengan produk tabungan. Bedanya, dalam deposito
tidak dapat mengambil uang kapanpun yang diinginkan, kecuali apabila uang tersebut
sudah menginap di bank selama jangka waktu tertentu (tersedia pilihan antara satu,
tiga, enam, dua belas, sampai dua puluh empat bulan, tetapi ada juga yang harian).
Suku bunga deposito biasanya lebih tinggi daripada suku bunga tabungan. Selama
deposito kita belum jatuh tempo, uang tersebut tidak akan terpengaruh pada naik
turunnya suku bunga di bank.
c. Saham
Saham adalah kepemilikan atas sebuah perusahaan tersebut. Dengan membeli saham,
berarti membeli sebagian perusahaan tersebut. Apabila perusahaan tersebut
mengalami keuntungan, maka pemegang saham biasanya akan mendapatkan sebagian
keuntungan yang disebut deviden. Saham juga bisa dijual kepada pihak lain, baik
dengan harga yang lebih tinggi yang selisih harganya disebut capital gain maupun
lebih rendah daripada kita membelinya yang selisih harganya disebut capital loss. Jadi,
keuntungan yang bisa didapat dari saham ada dua yaitu deviden dan capital gain.
d. Properti
Investasi dalam properti berarti investasi dalam bentuk tanah atau rumah.
Keuntungan yang bisa didapat dari properti ada dua yaitu :
1. Menyewakan properti tersebut ke pihak lain sehingga mendapatkan uang sewa.
2. Menjual properti tersebut dengan harga yang lebih tinggi.
e. Barang-barang koleksi
Contoh barang-barang koleksi adalah perangko, lukisan, barang antik, dan lain-lain.
Keuntungan yang didapat dari berinvestasi pada barang-barang koleksi adalah dengan
menjual koleksi tersebut kepada pihak lain.
f. Emas
Emas adalah barang berharga yang paling diterima di seluruh dunia setelah mata uang
asing dari negara-negara G-7 (sebutan bagi tujuh negara yang memiliki perekonomian
yang kuat, yaitu Amerika, Jepang, Jerman, Inggris, Italia, Kanada, dan Perancis).
Harga emas akan mengikuti kenaikan nilai mata uang dari negara-negara G-7.
Semakin tinggi kenaikan nilai mata uang asing tersebut, semakin tinggi pula harga
emas. Selain itu harga emas biasanya juga berbanding searah dengan inflasi. Semakin
tinggi inflasi, biasanya akan semakin tinggi pula kenaikan harga emas. Seringkali
kenaikan harga emas melampaui kenaikan inflasi itu sendiri.
g. Mata Uang Asing
Segala macam mata uang asing biasanya dapat dijadikan alat investasi.
Investasi dalam mata uang asing lebih beresiko dibandingkan dengan investasi dalam
saham, karena nilai mata uang asing di Indonesia menganut sistem mengambang
bebas (free float) yaitu benar-benar tergantung pada permintaan dan penawaran di
pasaran. Di Indonesia mengambang bebas membuat nilai mata uang rupiah sangat
fluktuatif.
h. Obligasi
Obligasi atau sertifikat obligasi adalah surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah
maupun perusahaan, baik untuk menambah modal perusahaan atau membiayai suatu
proyek pemerintah. Karena sifatnya yang hampir sama dengan deposito, maka agar
lebih menarik investor suku bunga obligasi biasanya sedikit lebih tinggi dibanding
suku bunga deposito. Selain itu seperti saham kepemilikan obligasi dapat juga dijual
kepada pihak lain baik dengan harga yang lebih tinggi maupun lebih rendah daripada
ketika membelinya.
Terdapat pengelompokkan jenis-jenis investasi, yaitu:
1. Deposito berjangka
Simpanan dalam mata uang Rupiah, dengan tingkat suku bunga relatif lebih tinggi
dibandingkan jenis simpanan lainnya. Tersedia dalam jangka waktu 1,3, 6, 12, dan 24
bulan.
2. Sertifikat Bank Indonesia (SBI)
Sertifikat Bank Indonesia (SBI) merupakan bagian dari upaya BI untuk meredam dan
menstabilkan likuiditas yang ada di pasar.
3. Saham
Surat bukti pemilikan bagian modal perseroan terbatas yang memberikan berbagai
hak menurut ketentuan anggaran dasar (shares, stock ).
4. Obligasi
Surat utang yang berjangka waktu lebih dari satu tahun dan bersuku bunga tertentu,
yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk menarik dana dari masyarakat, guna
pembiayaan perusahaan atau oleh pemerintah untuk keperluan anggaran belanjanya
(debenture bond).
5. Sekuritas Pasar Uang
Sekuritas pasar uang merupakan surat-surat berharga jangka pendek yang
diperjualbelikan di pasar uang.
6. Sertifikat Hutang Obligasi
Merupakan bukti kepemilikan piutang kepada pihak lain. Sertifikat ini dapat
diperjualbelikan pada tingkat diskonto tertentu. Sertifikat hutang obligasi ini
merupakan bentuk investasi jangka panjang.
7. Tanah/bangunan
Investasi ini tergolong investasi dalam bentuk property, investasi ini biasanya untuk
jangka waktu panjang karena mengharapkan adanya kenaikan dari nilai
tanah/bangunan yang telah dibelinya.
8. Reksa dana
Wadah investasi yang berisi dana dari sejumlah investor dimana uang didalamnya
diinvestasikan ke dalam berbagai produk investasi oleh sebuah Perusahaan
Manajemen Investasi (Mutual Fund).

7. Keunggulan dan Kekurangan Setiap Investasi


a. Produk Perbankan Tabungan
Digunakan untuk menyimpan dana nasabah. Dapat memberikan banyak kemudahan,
antara lain:
· Likuiditas yang tinggi, dapat diambil kapan saja: counter bank dan ATM
· Kemudahan bertransaksi: pengiriman uang, pembayaran (telepon, kartu kredit,
dan lain-lain), penukaran uang, dan lain-lain.
· Dijamin pemerintah, sampai tahun 2006.
Kekurangan :
· Suku bunga yang diberikan sangat rendah, di bawah tingkat inflasi.
· Bunga kena pajak 20% untuk yang di atas Rp 7,5 juta.
b. Rekening koran (cheque/giro)
Dipergunakan secara luas oleh perusahaan dan perorangan, untuk melakukan
transaksi keuangan.
Kemudahan, antara lain:
· Likuiditas tinggi, dapat diambil kapan saja: counter bank pencairan cek.
· Kemudahan bertransaksi: pembayaran ke pihak lain tanpa menggunakan uang tunai
dan tanpa harus datang ke bank.
· Dijamin oleh pemerintah.
Kekurangan :
· Tidak ada bunga, hanya terdapat jasa giro yang sangat rendah
· Bunga kena pajak 20%.
c. Deposito berjangka
Dipergunakan untuk menabung/menyimpan uang dalam jangka waktu tertentu.
Kemudahan, antara lain:
· Suku bunga yang lebih tinggi, sekitar 6%.
· Likuiditas tinggi, dapat diambil kapan saja, meskipun ada jangka waktu
tertentu.
· Dapat dijaminkan: untuk mendapatkan hutang dari bank yang sama.
· Dijamin oleh pemerintah, rate (%) x (# of Days/365) x Nominal x 0.80, 12% x
(31/365) x IDR 1,000,000 x 0.80.
Kekurangan :
· Terkena penalti, bila diambil sebelum jatuh tempo
· Bunga kena pajak 20%, di atas Rp 7,5 juta.
Kesimpulan:
Dikarenakan sifatnya dan bunga yang diberikan dari suatu produk perbankan
berada di bawah rate inflasi, maka produk perbankan tidak sesuai untuk dipakai
sebagai alat investasi.
Kelebihan :
· Akses yang cepat/likuiditas yang tinggi
· Kemudahan bertransaksi
· Jaminan pemerintah
Secara umum, bank idealnya digunakan sebagai tempat melakukan transaksi.
Produk perbankan sangat ideal dipergunakan untuk penempatan dana darurat
(emergency fund).
d. Produk investasi Reksa Dana/Unit Trust
Keunggulan :
· Diversifikasi
· Pilihan investasi yang beragam
· Transparansi
· Peraturan yang ketat
· Biaya yang rendah (subs, redeem, management fee)
· Keuntungan pajak (untuk di Indonesia saat ini)
· Minimum investasi yang rendah.

8. Resiko Investasi
Menurut Jack Clark Francis (Francis, Jack C., Op.Cit., Hal. 12), resiko didefinisikan
sebagai kesempatan/kemungkinan timbulnya kerugian (risk is the chance/probability of
loss).
Elton dan Gruber (Elton, Edwin J. & Gruber, Martin J., Op.Cit., Hal.
46) mendefinisikan resiko sebagai potensi variasi dari hasil yang diharapkan di masa yang
akan dating.
Sedangkan menurut Donald E. Fischer & Ronald J. Jordan (Fischer, Donald E. &
Jordan, Ronald J., Security Analysis & Portfolio Management, 6th edition, New Jersey:
Prentice Hall, 1995, Hal. 65), resiko artinya ketidakpastian dalam kemungkinan distribusi
return.
Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa resiko investasi
merupakan suatu kemungkinan yang terdiri dari berbagai faktor yang dapat menyebabkan
tidak kembalinya dana yang diinvestasikan pada suatu instrumen investasi tertentu atau
dengan kata lain, merupakan faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kerugian
dalam suatu investasi.
Semua jenis investasi selalu punya resiko, tidak ada investasi yang bebas resiko,
resiko selalu melekat pada tiap investasi besar atau kecil dan juga dapat dikatakan bahwa
hasil yang tinggi resikonya juga tinggi sehingga diperlukan pemahaman atas resiko yang
berkaitan dengan alternatif sarana investasi yang dapat terdiri dari resiko likuiditas,
ketidakpastian hasil, kehilangan hasil, penurunan nilai investasi sampai resiko hilangnya
modal investasi tersebut.
Jenis-jenis resiko yang umumnya dihadapi perusahaan dalam investasi yaitu:
1. Business Risk (Resiko Bisnis)
Adalah bervariasinya penjualan perusahaan dan kemampuan untuk menjual produk
tersebut. Hal tersebut dihubungkan dengan laporan keuangan dan dikaitkan dengan
perubahan selera konsumen dan perubahan kondisi makroekonomi.
2. Financial Risk (Resiko Finansial)
Dikaitkan dengan pendapatan dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi resiko bisnis
dan struktur finansial perusahaan dan dihubungkan dengan financial leverage
perusahaan.
3. Inflation Risk/Purchasing Power Risk (Resiko Inflasi/Penurunan Daya beli)
Dikaitkan dengan kemungkinan tingkat pengembalian investasi tidak dapat
mengimbangi peningkatan biaya hidup.
4. Interest Rate Risk (Resiko Suku Bunga)
Dikaitkan dengan perusahaan akibat kerugian nilai portofolio akibat perubahan suku
bunga.
5. Social Risk (Resiko Sosial)
Dikaitkan dengan kondisi sosial yang terjadi dalam masyarakat yang akan
mempengaruhi kebijakan pada suatu perusahaan.
6. Foreign Exchange Risk (Resiko Nilai Tukar)
Dikaitkan dengan kemungkinan terjadinya kerugian akibat perubahan secara relatif
nilai mata uang dunia. Resiko nilai tukar akan mengurangi return dari investasi.
7. Political Risk (Resiko Situasi Politik)
Dikaitkan dengan kemungkinan pemerintah luar negeri ikut campur dalam kegiatan
perusahaan maupun kondisi dalam negeri yang tidak kondusif bagi dunia usaha.

Jenis-jenis resiko di atas merupakan resiko yang tergabung baik dalam resiko tidak
sistematis (unsystematic risk) dan resiko sistematis (systematic risk). Resiko yang tidak
sistematis dapat dihilangkan melalui diversifikasi sedangkan resiko yang sistematis
diakibatkan oleh faktor pasar yang mempengaruhi semua perusahaan dan tidak dapat
dihilangkan melalui diversifikasi seperti suku bunga, perang, inflasi, kebijakan pemerintah,
perubahan politik nasional maupun internasional. Oleh karena itu, investor (atau perusahaan)
lebih memperhatikan resiko yang tidak dapat didiversifikasi yang mencerminkan kontribusi
aktiva terhadap resiko portofolio.
Perhitungan kedua jenis resiko tersebut dapat dirumuskan dalam persamaan sebagai
berikut: Total Risk = Systematic Risk + Unsystematic Risk

MACAM-MACAM KEPUTUSAN PENGANGGARAN MODAL


Ditinjau dari aspek penghematan biaya dan peningkatan pendapatan ususlan
investasi dapat dikelompokkan sebagai berikut :

1. Penggantian (Replacement)
Yaitu usulan investasi untuk mengganti asset yang sudah aus agar efisiensi produksi tetap
dapat dipertahankan, misalnya mesin lama diganti dengan mesin baru yang lebih efisien.
2. Perluasan (Expansion)
Yaitu usulan investasi yang dimaksudkan untuk menambah kapasitas produksi dari lini
produk yang telah ada, misalnya menambah jumlah mesin baru yang tipenya sama dengan
mesin yang telah dipakai.
3. Pertumbuhan (Growth)
Yaitu usulan investasi untuk mengembangkan lini produk yang baru berbeda dengan lini
produk yang sudah ada, misalnya mula-mula perusahaan bergerak dalam bidang produksi
sepatu kemudian melakukan invesatsi baru dibidang restoran.

Sementara itu ditinjau dari tingkat ketergantungannya, usulan proyek investasi dapat
dikelompokkan menjadi empat yaitu:

1. Independent project, yaitu dua atau lebih proyek yang tidak ada keterkaitan antara
proyek yang satu dengan proyek lainnya, mislanya investasi pada pabrik mobil dan
investasi pada pabrik minuman kemasan. Apabila kedua proyek tersebut layak dan dana
yang tersedia cukup, maka kedua proyek tersebut dapat dilaksanakan.
2. Mutually exclusive project, yaitu dua atau lebih usulan investasi yang mepunyai
manfaat yang sama dan jika semuanya layak, maka tidak semuanya dapat dilaksakan
tetapi harus dipilih salah satu diantaranya yang terbaik.
3. Complement project, yaitu dua atau lebih usulan investasi yang bersifat saling
melengkapi, misalnya investasi pada gedung pertokoan dan investasi pada tempat
parker.
4. Subtitues project, yaitu dua usulan investasi yang bersifat saling menggantikan,
mislanya produksi sabun bubuk akan mengurangi permintaan sabun batangan.

Pentingnya Penganggaran Modal


 Dana yang dikeluarkan akan terikat untuk jangkawaktu panjang.
 Investasi dalam aktiva tetap menyangkut harapan terhadap hasil penjualan di waktu
yang akan datang
 Pengeluaran dana untuk keperluan tersebut biasanya meliputi jumlah yang besar.
 Kesalahan dalam pengambilan keputusan pengeluaran modal tersebut akan berakibat
panjang dan sulit dipersulit.
 Penganggaran modal yang efektif akan menaikkan ketepatan waktu dan kualitas dari
penambahan aktiva.
 Pengeluaran modal sangatlah penting.

Tahap – tahap Penganggaran Modal

 Biaya proyek harus ditentukan


 Manajemen harus memperkirakan aliran kas yg diharapkan dari proyek, termasuk nilai
akhir aktiva
 Risiko dari aliran kas proyek harus diestimasi. (memakai distribusi probabilitas aliran
kas)
 Dengan mengetahui risiko dari proyek, manajemen harus menentukan biaya modal
(costofcapital) yang tepat untuk mendiskon aliran kas proyek
 Dengan menggunakan nilai waktu uang, aliran kas masuk yang diharapkan digunakan
untuk memperkirakan nilai aktiva.
 Terakhir, nilai sekarang dari aliran kas yg diharapkan dibandingkan dengan biayanya.
F. Manfaat Penganggaran Modal

1. Untuk mengetahui kebutuhan dana yang lebih terperinci, karena dana yang terikat
jangka waktunya lebih dari satu tahun.
2. Agar tidak terjadi over invesment atau underinvesment
3. Dapat lebih terperinci, teliti karena dana semakin banyak dan dalam jumlah yang
sangat besar.
4. Mencegah terjadinya kesalahan dalam decision making.

G. Kriteria keputusan penganggaran modal :

1) Payback period adalah jumlah tahun yang dibutuhkan untuk menutupi pengeluaran
awal. atau suatu kriteria penganggaran modal yang digambarkan sebagai jumlah tahun
yang diperlukan untuk mengembalikan investasi kas awal.

Keuntungan :
a. Menggunakan arus kas bebas, bukan accounting profit
b. Mudah dihitung dan dipahami
c. Dapat digunakan sebagai alat penyaring kasar
d. Sering digunakan sebagai alat penyaring kasar untuk menghilangkan proyek
dengan tingkat pengembalian yang tidak nyata hingga tahun–tahun akhir.
e. Menekankan pada pengembalian yang lebih awal yang lebih pasti dan
memberikan kebutuhan likuiditas bagi perusahaan.

Kerugian :

a. Tidak memperhitungkan Aksioma 2


b. Semua arus kas yang terjadi setelah periode pembayaran kembali diabaikan.
c. mengabaikan nilai waktu uang
d. pemilihan periode pengembalian maksimum bersifat arbitrer

Untuk menanggulangi kelemahan 1 muncullah Discounted payback period. Namun


masih mempunyai kelemahan, yaitu accept-reject kriteria bersifat arbiter.
Periode pengembalian diskonto adalah variasi dari kriteria keputusan masa
pengembalian yang digambarkan sebagai jumlah tahun yang diperklukan untuk
mengembalikan pengeluaran kas.

Perbandingan NPV dengan IRR

1. Pada umumnya pengambilan kepu-tusan investasi berdasarkan NPV dan IRR akan
memberikan hasil yang sama, artinya “apabila suatu usulan investasi dinilai layak
berdasarkan NPV, maka usulan investasi tersebut juga dinilai layak berdasarkan
IRR”.

Namun demikian, menurut kalangan akademisi, NPV dianggap lebih unggul


dibandingkan IRR, karena NPV dapat mengatasi fenomena multiple IRR dan
conflict ranking projects, sedangkan IRR tidak dapat mengatasi fenomena
tersebut. Meskipun demikian, NPV juga memiliki kelemahan, yaitu NPV tidak
memiliki safety margin (sedangkan IRR memiliki safety margin) dan NPV kalah
populer dibandingkan dengan IRR (para investor pada umumnya lebih tertarik
menggunakan IRR, karena IRR dapat segera dibandingkan dengan cost of capital).

2. NPV dan IRR sama-sama termasuk kelompok discounted cash flow, penganut nilai
waktu dan proceeds selama total usia proyek. Berdasarkan kesamaan demikian, NPV
IRR akan memberikan keputusan yang sama dalam menilai usul investasi. Andaikan
berbasis NPV usul investasi layak diterima maka demikian pula IRR.
NPV danIRR akan memberikan keputusan yang sama., tetapi sebenarnya terkandung
sebuah pengecualian di dalamnya. Pengecualian yang dimaksudkan berkaitan saat
menilai salah satu dari dua atau lebih usul investasi bersifat mutually exclusive.
Untuk kondisi seperti begitu NPV, IRR dapat bertolak belakang memberikan
jawaban secara khusus sering terjadi pada susunan peringkat usul investasi.
Hal tersebut, dikarenakan perbedaan asumsi yang melekat terkait tingkat reinvestasi
dana bebas. IRR berasumsi dana bebas diinvestasikan kembali dengan tingkat rate of
returnnya selama periode sisa usia. Sebaliknya NPV berpegang konsisten besarnya
tingkat reinvestasi adalah tetap sebesar tingkat diskonto yang ditetapkan sebelumnya.
Namun NPV pada umumnya dipandang unggul ketimbang IRR. Hal ini disebabkan
NPV konsisten, yaitu mempertimbangkan perbedaan skala investasi dari pernyataan
secara absolut dalam rupiah tidak seperti IRR yang memiliki pernyataan berbentuk
persentase sehingga skala investasi terabaikan.

3. Kenapa IRR didapat dari mencari discount rate yg membuat NPV = 0? Karena itu
menggambarkan ekspektasi investor akan tingkat pengembalian investasinya.

Jika IRR tinggi, artinya ruang utk ekspektasi thd tingkat pengembalian investasinya
cukup lebar. Jika IRR rendah, maka rentang tsb sempit.

4. Kelompok yang proNPV mengatakan bahwa “Cash is King”. NPV adalah indicator
yang sebenarnya dalam merefleksikan tujuan dari bisnis yaitu menghasilkan uang
sebanyak-banyak.. Selain itu disebutkan IRR punya kelemahan yaitu tidak bisa
memberikan nilai IRR yang sebenarnya apabila cashflow nya multi-signs dan tidak
menggambarkan konsep Time Value of Money.

Kelompok yang pro IRR mengatakan bahwa bahwa NPV tidak menggambarkan
optimasi dan efisiensi penggunaan sumber daya dana investasi dalam kaitannya
dengan rate dari pengembaliannya (rate of return).

Contohnya nilai NPV Proyek A sebesar Rp 100 juta dan Proyek B sebesar Rp 10
juta. Secara naluri mungkin kita akan memilih Proyek A karena nilainya 10x lebih
besar. Tapi kalau Proyek A membutuhkan investasi sebesar Rp 75 juta sedangkan
Proyek B hanya sebesar Rp 1 juta, Proyek B dapat dikatakan mempunyai nilai resiko
yang lebih kecil (exposure dana perusahaan dalam kegiatan investasi yang lebih
kecil) dan tingkat pengembalian yang lebih besar (IRR besar).

Terminology NPV & IRR, sebenarnya merupakan indicator kelaikan project, yg


dapat diproyeksi pada tahap feasibility studi. Secara umum, dapat disebutkan
indikator2 dasar, yaitu:

a. Net Present Worth/Value, adalah perbedaan antara nilai sekarang dari


penerimaan total dan nilai sekarang dari pengeluaran sepanjang umur proyek
pada discount rate yang diberikan. Pendekatannya adalah pada konsep cash flow
(cash in/cash out), project dikatakan laik apabila NPV>0.
b. Rate of Return (ROR) atau Return on Investment (ROI), adalah discount rate
yang memberikan harga NPV = 0. ROR merupakan perolehan per tahun dari
investasi suatu proyek. ROR sendiri ada dua macam, yaitu:

 Eksternal ROR, yaitu return yang diperoleh apabila investasi dilakukan di luar
organisasi. Contoh: suatu perusahaan menyimpan dananya di Bank atau
membeli saham perusahaan lain.
 Internal ROR (atau IRR), yaitu return yang diperoleh apabila investasi
dilakukan di dalam perusahaan sendiri. Contoh, suatu perusahaan melakukan
pengeboran untuk menambah kapasitas produksi, atau melakukan fracturing
untuk meningkatkan produksi sumur.

5. Terdapat dua instrumen evaluasi investasi yang umum digunakan untuk menilai
apakah suatu investasi akan dilakukan atau tidak. Instrumen tersebut adalah Net
Present Value (NPV) dan yang kedua adalah Internal Rate of Return (IRR). Dalam
melakukan investasi tentunya harus dilakukan perbandingan antara investasi yang
satu dengan yang lainnya misalnya uangnya diinvestasikan di bank saja, karena
bunganya lebih menarik. Investasi terbaik akan didapat apabila NPV dan IRR sama-
sama bernilai tinggi. Pada kasus tertentu sering dinyatakan bahwa IRR dengan nilai
yang tinggi akan lebih menguntungkan daripada investasi dengan nilai IRR yang
lebih rendah, walaupun tidak demikian, karena pada kondisi tertentu IRR bisa
menyesatkan.

Pada NPV, semua future cash flow dikonversikan menjadi suatu nilai ekuivalen pada
waktu tahun ke nol dengan menggunakan teknik diskounting. NPV merupakan
penjumlahan dari masing-masing present value dari net income yang diproyeksikan
tiap tahun. Setiap future income didiskon, artinya dibagi dengan bilangan yang
merepresentasikan oppurtunity cost dari memiliki modal mulai tahun ke nol hingga
tahun dimana income diterima atau dibelanjakan. Oppurtunity cost dapat berupa
berapa banyak uang yang dapat diterima apabila diinvestasikan di tempat lain atau
berapa banyak bunga yang akan dibayar apabila kita meminjam uang.
Rumus:
NPV = I0 + I1/(1+r) + I2/(1+r)^2 + I3/(1+r)^3 + .+ In/(1+r)^n
dimana:
I0 adalah investasi tahun ke-0
In merupakan net income tahun ke-1, 2, 3, .n
r merupakan discount rate
NPV > 0, proyek diterima
NPV < 0, proyek ditolak
Dari rumusan di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan:
– makin tinggi income, makin tinggi NPV
– makin lebih awal datangnya income, makin tinggi NPV
– makin tinggi discount rate, makin rendah NPV

Untuk membandingkan dua proyek yang mana akan dipilih dapat dilakukan
dengan membandingkan kedua nilai NPV proyek, dimana NPV proyek yang lebih
besar yang akan diambil.

IRR atau Internal Rate of Return, merupakan instrument evaluasi yang


digunakan untuk memutuskan apakah suatu pemilik modal ingin melakukan
investasi atau tidak.

IRR > tingkat keuntungan yang diisyaratkan, proyek diterima

IRR < tingkat keuntungan yang disyaratkan, proyek ditolak

IRR lebih merupakan suatu indikator efisiensi dari suatu investasi,


berlawanan dengan NPV, yang mengindikasikan value atau suatu besaran uang. IRR
merupakan effective compounded return rate annual yang dapat dihasilkan dari suatu
investasi atau yield dari suatu investasi. Suatu proyek/investasi dapat dilakukan
apabila rate of returnnya lebih besar daripada return yang diterima apabila kita
melakukan investasi di tempat lain (bank, bonds, dll). Jadi IRR harus dibandingkan
dengan alternatif investasi yang lain.

IRR memiliki kelemahan dimana IRR umumnya digunakan untuk


pengambilan keputusan untuk single project bukan mutually exclussive project
(proyek yang saling menghilangkan). Untuk mutually exclusive project, kriteria
NPV lebih dominan digunakan dimana proyek dengan NPV lebih besar akan dipilih
walaupun memiliki IRR yang lebih kecil. Dari grafik, suatu proyek mungkin akan
memiliki beberapa discount rate yang membuat nilai NPV = 0 (ada net income
negatif di sela-sela tahun net income positif), sehingga nilai IRR bisa lebih dari satu
atau kita dihadapkan pada beberapa pilihan nilai IRR. Dari segi reinvestasi, IRR juga
memiliki kelemahan sehingga digunakan MIRR (Modified Rate of Return).

Walaupun secara akademik NPV lebih dominan dipilih, survey


mengindikasikan bahwa kalangan eksekutif lebih menyukai IRR daripada NPV. Hal
ini dikarenakan para manager ataupun pemilik modal lebih gampang
membandingkan investasi/proyek yang berbeda besaran dalam bentuk % rate of
return (IRR) dibandingkan dengan besaran uang (NPV).

Seperti IRR yang memiliki beberapa kelemahan, NPV pun mengandung


kekurangan. Pertama, berbeda dengan IRR, NPV tidak dinyatakan secara relatif.
Karenanya, NPV sebesar Rp600 juta belum dapat dikatakan bagus atau tidak. Bagus
jika investasi awal Rp2 miliar, tetapi jelek jika dana yang diperlukan untuk
menghasilkan NPV ini Rp10 miliar. Dalam soal ini, IRR lebih unggul dan lebih
mudah dipahami karena sudah dinyatakan secara relatif. Tidak aneh jika IRR sangat
favorit dan investor lebih suka berbicara rasio daripada nilai rupiah.

Kedua, NPV gagal untuk mengevaluasi dua atau lebih proyek mutually
exclusive yang mempunyai umur berbeda. Misalkan kita mempunyai dua proyek
yang memerlukan investasi awal sama besar, katakan Rp1 miliar. Proyek A mampu
menghasilkan arus kas Rp400 juta selama 5 tahun, sementara proyek B sebesar
Rp280 juta selama 10 tahun. Berdasarkan kriteria NPV, proyek B yang akan dipilih
karena mempunyai NPV yang lebih besar yaitu Rp582 juta berbanding Rp442 juta
pada tingkat diskonto 12%. Bahwa kedua proyek akan selesai dalam waktu yang
berbeda yaitu 5 tahun dan 10 tahun tidak diperhitungkan dalam NPV.

Yang bijak akan menyamakan umur kedua proyek itu terlebih dahulu
sebelum membandingkan NPV-nya. Ini tentunya dengan asumsi setiap proyek dapat
direplikasi. Dalam contoh di atas, proyek A diulangi sehingga menjadi berumur 10
tahun seperti proyek B. Pendekatan replikasi ini tentunya mempunyai keterbatasan.
Untuk tiga proyek dengan umur 7 tahun, 9 tahun, dan 13 tahun, kita harus
mereplikasinya hingga 819 tahun untuk dapat dibandingkan. Tidak mungkin, bukan?
Sebagai alternatif terhadap pendekatan ini, kita menghitung nilai tahunan ekuivalen
atau equivalent annual value (EAV) yaitu arus kas tahunan yang ekuivalen dengan
NPV proyek itu.

Ketiga, NPV, IRR, dan kriteria tradisional lainnya mengasumsikan satu


angka tunggal untuk arus kas pada periode-periode mendatang. Akan lebih tepat jika
kita menyiapkan analisis skenario seperti tiga skenario berbeda untuk kondisi
pesimistis, paling mungkin, dan optimis untuk masa depan yang penuh
ketidakpastian.

6. Metode net present value (net present value method) adalah metode yang
mendasarkan pada nilai sekarang dari pengembalian masa depan yang didiskontokan
pada tarif biaya modal. Metode NPV ini mengatasi kelemahan dalam metode
payback.

Metode internal rate of return (rate of return method) adalah metode yang didasarkan
pada tingkat suku bunga yang menyeimbangkan nilai sekarang dari pengembalian
masa depan dengan total biaya investasi.

Perbedaan metode NPV dan IRR

1. Fokus NPV adalah berapa tambahan nilai proyek pada nilai perusahaan dengan
asumsi semua arus kas dapat direalisir. Fokus IRR memberikan indikasi tingkat
hasil pengembalian proyek jika sesuai dengan yang diharapkan.
2. Jika kedua metode digunakan untuk menilai satu proyek maka kedua metode ini
selalu memberikan kesimpulan yang sama karena NPV positif dari suatu proyek
akan memberikan IRR yang lebih besar dari biaya modal.
3. Jika proyek yang dinilai bersifat eksklusif (mutually exclusive) kedua metode
NPV dan IRR dapat menghasilkan penilaian (kesimpulan) yang berbeda. Konflik
antara kedua metode NPV dan IRR terjadi karena profil NPV dari proyek
berbeda, misalnya biaya investasi berbeda dan umum proyek lebih panjang dari
yang lain.

Metode NPV lebih baik secara teoritis jika dibandingkan dengan metode IRR,
tetapi Metode NPV lebih baik secara toeritis jika dibandingkan dengan metode IRR
jika dalam kenyataan lebih banyak perusahaan menggunakan metode IRR
dibandingkan dengan metode NPV. Hal ini disebabkan bahwa metode IRR
dikembangkan lebih dahulu dari metode NPV dan metode IRR sudah lama
digunakan.

7. Dua kriteria utama investasi dalam aset riil adalah net present value (NPV) dan
internal rate of return (IRR). Logika dasar yang perlu dipahami tentang NPV dan
IRR adalah keduanya memerlukan tiga input utama yaitu arus kas, timing, dan risiko.

Arus kas sendiri terdiri atas kas keluar yang biasanya hanya terjadi sekali saja pada
awal dan kas masuk yang dapat dihasilkan pada periode-periode berikutnya. Adapun
timing adalah berapa lama proyek investasi mampu mendatangkan kas masuk dan
besarnya kas ini untuk setiap periode. Terakhir, risiko mencerminkan ketidakpastian
atau kemungkinan timbulnya kerugian atau hasil yang tidak diharapkan. Semakin
besar risiko, semakin besar batas return yang diminta investor. Sebuah proyek yang
memberikan IRR 18% akan diterima jika return patokan adalah 15%. Tetapi jika
dinilai berisiko tinggi, proyek yang sama ini akan ditolak karena investor sangat
mungkin menaikkan return minimal menjadi 20%. Dengan NPV, semakin besar
risiko sebuah proyek, semakin besar tingkat diskonto yang akan digunakan yang
berimplikasi semakin rendahnya NPV yang akan diperoleh. Dengan kata lain, proyek
yang diterima pada tingkat diskonto tertentu, karena mempunyai NPV positif,
mungkin saja ditolak karena NPV menjadi negatif jika tingkat diskonto dinaikkan
untuk kompensasi tambahan risiko yang ada.

Kesimpulan umum di atas akan berlaku sepanjang pola arus kas bersifat
konvensional yaitu kas keluar terjadi pada awal yang diikuti dengan kas masuk
selama beberapa periode. Hasil menjadi berbeda jika arus kas bersifat
nonkonvensional seperti proyek pertambangan yang kadang memerlukan kas keluar
dalam jumlah besar di akhir proyek untuk reklamasi. Dalam kondisi ini, tingkat
diskonto tinggi dapat membuat NPV semakin tinggi atau malah membuat proyek
menjadi diterima. Melihat IRR-nya lebih membingungkan lagi karena proyek dengan
arus kas nonkonvensional bisa memberikan kita multipel IRR, misalkan 12% dan
20%. Jika return patokan adalah 15%, apakah proyek ini akan diterima? Sulit untuk
menjawabnya.

Hampir semua buku keuangan satu suara soal ini bahwa kriteria NPV yang sebaiknya
digunakan dan proyek A yang harus dipilih. NPV atau tambahan kekayaan sebesar
Rp6 miliar jauh lebih menarik daripada IRR 30% tetapi hanya dari Rp5 miliar.
Bagaimana jika skala proyek A dan B relatif sama, misalnya masing-masing
memerlukan dana Rp10 miliar, tetapi NPV dan IRR memberikan peringkat yang
berbeda?

Jawabannya tetap kriteria NPV yang dianjurkan untuk digunakan. Kriteria ini diakui
lebih unggul daripada IRR karena adanya tiga kelemahan yang melekat dalam IRR.

a. Pertama, NPV selalu memberikan satu angka sementara IRR bisa


menghasilkan banyak angka.
b. Kedua, tingkat return reinvestasi yang digunakan dalam NPV adalah tingkat
diskontonya, sedangkan IRR mengasumsikan IRR itu sendiri.
c. Ketiga, Copeland et al dalam bukunya Financial Theory and Corporate Policy
(2005) menyatakan kalau kriteria IRR melanggar prinsip penambahan nilai
(value additivity).

Misalkan kita mempunyai tiga proyek investasi yang menguntungkan yaitu


1, 2, dan 3. Diketahui proyek 1 dan 2 bersifat mutually exclusive, dan proyek 3
bersifat independen. Jika prinsip penambahan nilai berlaku, kita mestinya dapat
memilih antara proyek 1 dan 2 yang lebih baik tanpa harus dipengaruhi proyek 3
yang independen. Maksudnya adalah, jika proyek 1 lebih baik daripada proyek 2,
proyek 1+3 mestinya akan lebih baik juga daripada proyek 2+3. Kriteria NPV
mematuhi prinsip ini tetapi tidak demikian dengan IRR yang memilih proyek 1 tetapi
berubah menjadi proyek 2+3 ketika pilihan proyek 3 juga disodorkan.
8. Untuk mengatasi masalah ini, maka yang harus dilakukan adalah memberikan
ranking terhadap proyek-proyek yang tersedia, kemudian mengambil keputusan
berdasarkan anggaran investasi yang tersedia.

Capital rationing dilakukan pada umumnya dengan menggunakan IRR atau


NPV. Misalnya, jika limit yang ditetapkan sebanyak 1,000,ooo, berdasarkan kriteria
IRR maka proyek yang dipilih adalah proyek A, B dan D atau B dan C. Namun, jika
dilihat dari kriteria NPV, maka yang terpilih adalah proyek A dan C.

Untuk menentukan kriteria mana yang ingin Anda gunakan, maka ini
tergantung preferensi, karena masing-masing punya keunggulan dan kelemahan
tersendiri. NPV menunjukkan kekayaan yang dihasilkan atau bertambah dari suatu
investasi, sementara IRR menunjukkan tingkat returnnya. Jadi, tergantung mana
preferensi dari investor.

Namun, yang jelas NPV lebih superior dan disukai karena menunjukkan
present value arus kas yang akan diterima. Sementara, IRR sendiri hanya
menunjukkan tingkat return dalam investasi itu sendiri, yang artinya menggunakan
asumsi jika arus kas yang dihasilkan direinvestasikan lagi pada rate yang sama
dengan IRR tersebut. Padahal, kenyataannya tidak semudah itu.

Metode Net Present Value (NPV)

Adalah proceeds atau cash flows yang didiskontokan atas dasar biaya modal (cost of capital)
atau rate of return. Yang diinginkan.Dalam metode ini pertama-tama dihitung adalah nilai
sekarang (present value) Dari proceeds yang diharapkan atas dasar “discount rate” tertentu.
Kemudian jumlah “present value” (PV) dari keseluruhan proceeds selama usianya dikurangi
dengan PV dari jumlah investasinya (initial investment). Selisih antra PV dari pengeluaran
modal (capital outlay atau initial investment) dinamakan nilai sekarang netto. (Net Present
Value)

Metode Internal Rate of Return (Yield Method)

Adalah tingkat bunga yang kan menjadikan jumlah nilai sekarang dari proceeds yang
diharapkan akan diterima (PV of future prodeeds) sama dengan jumlah nilai sekarang dari
pengeluaran modal (PV of capital outlays) Pada dasarnya “internal rate of return” harus
dicari dengan cara “Trial and error” dengan serba coba-coba.

Pertama-tama menghitung PV dari proceeds dari suatu investasi dengan menggunakan


tingkat bunga yang dipilih menurut sekehendak kita. Kemudian hasil perhitungan itu
dibandingkan dengan PV dari outlaynya. Kalau PV dari proceeds lebih besar dari pada PV
dari investasi atau outlaynya, kita harus menggunakan tingkat bunga yang lebih tinggi lagi.
Metode ini untuk membuat peringkat usulan investasi dengan menggunakan tingkat
pengembalian atas investasi yang dihitung dengan mencari tingkat diskonto yang
menyamakan nilai sekarang dari arus kas masuk proyek yang diharapkan terhadap nilai
sekarang biaya proyek atau sama dengan tingkat diskonto yang membuat NPV sama dengan
nol. Penerimaan atau penolakan usulan investasi ini adalah dengan membandingkan IRR
dengan tingkat bunga yang disyaratkan (required rate of return). Apabila IRR lebih besar
dari pada tingkat bunga yang disyaratkan maka proyek tersebut diterima, apabila lebih kecil
diterima. Kelemahan secara mendasar menurut teori memang hamper tidak ada, namun
dalam praktek penghitungan untuk menentukan IRR tersebut masih memerlukan
penghitungan NPV

Apabila terdapat satu proyek yang independen maka NPV dan IRR akan selalu memberikan
rekomendasi yang sama untuk menerima atau menolak usulan proyek tersebut, namun
apabila ada proyek-proyek yang mutually exclusive, NPV dan IRR tidak selalu memberikan
rekomendasi yang sama. Hal ni disebabkan oleh dua kondisi:

1. Ukuran proyek berbeda, salah satu lebih besar daripada yang lain
2. Perbedaan waktu. Waktu dari aliran kas dari dua proyek berbeda. Satu proyek aliran
kasnya terjadi pada tahun-tahun awal sementara proyek yang lain aliran kasnya
terjadi pada tahun-tahun akhir

Intinya adalah untuk proyek-proyek yang mutually exclusive, maka pilihan yang tepat yaitu
proyek dengan NPV tertinggi

Modified internal rate of return (MIRR)

Pertama-tama, apa definisi MIRR? Tingkat Pengembalian Internal yang Dimodifikasi


(MIRR) adalah suatu variasi dari perhitungan IRR tradisional yang menghitung IRR dengan
tingkat reinvestasi eksplisit dan asumsi tingkat keuangan. Akun MIRR untuk reinvestasi dari
setiap arus kas interim positif dengan menggunakan tingkat reinvestasi, dan itu juga
memperhitungkan arus kas negatif dengan menggunakan tingkat keuangan (juga dikenal
sebagai tingkat aman).

Alasan mengapa kedua tingkat ini digunakan adalah karena memungkinkan untuk setiap
arus kas positif yang dilepas oleh investasi selama periode holding untuk diinvestasikan
kembali pada “tingkat reinvestasi”. Hal ini juga memungkinkan setiap arus kas negatif untuk
didiskontokan kembali ke waktu sekarang di “tingkat keuangan” untuk menentukan berapa
banyak yang harus disisihkan hari ini untuk mendanai arus kas keluar masa depan.

Dengan menggunakan pendekatan ini, MIRR mendidihkan serangkaian arus kas ke hanya
dua angka: 1) jumlah investasi awal tunggal pada saat ini dan 2) total akumulasi jumlah
modal pada akhir periode holding. Kemudian, satu tingkat pengembalian dapat dihitung
hanya dengan menggunakan dua angka ini, yang menghasilkan apa yang dikenal sebagai
MIRR.

Contoh

Mari kita ambil contoh tingkat pengembalian internal yang dimodifikasi untuk melihat
bagaimana ini berfungsi. Misalkan kita memiliki rangkaian arus kas berikut:
Kami menginvestasikan $ 100.000 hari ini dan sebagai
imbalannya kami menerima $ 18.000 per tahun selama 5 tahun,
ditambah pada akhir tahun 5 kami menjual aset dan
mendapatkan $ 100.000. Jika kami menggunakan perhitungan
IRR tradisional, kami mendapatkan IRR 18%.

Seperti yang Anda ingat, salah satu masalah dengan


perhitungan IRR tradisional adalah bahwa ia tidak
memperhitungkan reinvestasi arus kas interim. Jadi,
bagaimana kita dapat menggunakan Tingkat Pengembalian
Internal yang Dimodifikasi untuk menghilangkan masalah ini?

Pertama, mari secara eksplisit menentukan tingkat reinvestasi untuk semua arus kas interim
sebesar $ 18.000. Untuk memperhitungkan imbal hasil yang dapat kami peroleh dari arus
kas interim ini, mari kita asumsikan kita dapat menginvestasikan kembali mereka pada
tingkat 10%. Perhatikan bahwa angka ini lebih rendah daripada IRR yang dihitung di atas.
Ini bisa karena berbagai alasan. Misalnya, mungkin saja kami tidak dapat menemukan
investasi lain yang menghasilkan lebih dari 10%.

Seperti yang ditunjukkan di atas, kami hanya mengambil setiap arus kas interim kami
sebesar $ 18.000 dan kemudian menggabungkannya ke depan sebesar 10% hingga akhir
tahun 5. Ketika kami menambahkan semua arus kas kami pada akhir tahun 5 kami
mendapatkan total $ 209,892. Dengan melakukan ini, kami telah mengubah set arus kas awal
kami menjadi masalah nilai waktu uang yang berbeda, yang memperhitungkan imbal hasil
yang kami peroleh dari arus kas interim yang diinvestasikan kembali di tempat lain.
Sekarang kita dapat mengambil arus kas baru dan memecahkan IRR, yang dalam hal ini
sebenarnya adalah MIRR karena didasarkan pada rangkaian arus kas yang dimodifikasi.
Seperti yang Anda lihat, MIRR saat menggunakan tingkat
reinvestasi 10% adalah 15,98%. Ini kurang dari 18% IRR yang
awalnya kami hitung di atas. Secara intuitif, ini lebih rendah
daripada IRR asli kami karena kami menginvestasikan kembali
arus kas interim dengan tarif lebih rendah dari 18%. Juga
perhatikan lagi bahwa perhitungan MIRR di sini hanyalah
perhitungan IRR. Satu-satunya perbedaan adalah sekarang
kami telah mentransformasikan set arus kas awal kami ke
dalam set arus kas baru yang dimodifikasi. Itu artinya saat ini
kami menghitung IRR, itu IRR yang dimodifikasi.

Contoh MIRR Dengan Arus Kas Negatif

Menggunakan tingkat reinvestasi pada arus kas interim positif seperti yang kami lakukan di
atas adalah bagaimana MIRR biasa digunakan, tetapi kadang-kadang ada lebih dari satu arus
kas negatif selama periode holding. Pertimbangkan rangkaian arus kas berikut:

Kami memiliki investasi awal senilai $ 100.000 yang sama,


tetapi sekarang kami juga harus keluar dari kantong $ 50.000
di tahun 2 untuk pengeluaran modal. Namun, setelah
peningkatan ini direalisasikan, arus kas kami meningkat dari $
18.000 menjadi $ 25.000 dan sekarang kami juga dapat
menjual properti pada akhir tahun 5 dengan harga yang lebih
tinggi. Ini menghasilkan IRR yang lebih tinggi sebesar
19,33%, tetapi apa hubungannya dengan MIRR kami?

Pertama-tama, mari kita tangani arus kas interim positif dengan menggabungkannya hingga
akhir tahun ke-5.
Ini adalah proses yang sama yang kami ikuti dalam contoh MIRR pertama kami, tetapi
sekarang kami mengabaikan arus kas keluar negatif di tahun 2. Ini membuat kami memiliki
investasi awal sebesar $ 100.000, arus kas keluar sebesar $ 50.000 di tahun 2, dan arus kas
senilai $ 309,104 pada akhir tahun 5. Selanjutnya, mari kita diskon - 50.000 dolar kita
kembali ke masa sekarang dengan tingkat keuangan kita atau tingkat aman.

Ini hanya memberitahu kita bahwa jika kita ingin memiliki $ 50.000 yang tersedia untuk
dibelanjakan dalam 2 tahun, maka kita perlu menyisihkan $ 45.351 hari ini dalam sebuah
akun yang mendapatkan 5% setiap tahun. Jadi, sekarang kami mengubah rangkaian arus kas
asli kami menjadi kumpulan arus kas baru yang dimodifikasi yang hanya memiliki dua
angka: investasi awal sebesar $ 145.351 dan jumlah modal akumulasi $ 309,104 pada akhir
periode penahanan.
Sekarang kita dapat menghitung IRR pada rangkaian
arus kas yang dimodifikasi di atas untuk mendapatkan
Rasio Pengembalian Internal Modified sebesar 16,29%.
Tingkat pengembalian internal yang dimodifikasi ini
sekarang menyumbang dana yang perlu disisihkan hari
ini pada tingkat yang aman untuk mendanai pengeluaran
modal masa depan. Ini juga bertanggung jawab untuk
menginvestasikan kembali semua arus kas interim
dengan tingkat reinvestasi kami yang diharapkan.

Bagaimana MIRR Memecahkan Masalah Beberapa IRR

Anda mungkin ingat bahwa salah satu masalah dengan perhitungan IRR tradisional adalah
bahwa ada banyak solusi untuk IRR karena ada perubahan tanda dalam satu set arus kas.
Mari kita lihat contoh rangkaian arus kas:

Ketika Anda menjalankan perhitungan IRR pada set arus


kas di atas Anda memang mendapatkan beberapa solusi.
Untuk set arus kas di atas kita mendapatkan 3 solusi IRR
yang berbeda: 0%, 100%, dan 200%. Jadi, mana yang
benar? Jawabannya adalah semuanya benar! Kenapa ini?
Jawaban singkatnya adalah bahwa rumus IRR bukan
persamaan linear tetapi sebaliknya merupakan polinomial
yang dapat menghasilkan banyak solusi. Ini juga alasan
mengapa fungsi IRR di Excel meminta “tebakan” sebagai
masukan. Ini digunakan untuk membantu Excel
menentukan solusi mana yang benar jika ada beberapa
solusi.

Kabar baiknya adalah bahwa MIRR menghilangkan masalah yang terkenal ini dengan IRR.
Untuk melihat caranya, mari jalankan MIRR pada rangkaian arus kas di atas menggunakan
prosedur yang sama yang kami ikuti di atas. Kami akan melewati langkah sementara untuk
mendiskon arus kas negatif pada tingkat yang aman dan menggabungkan aliran kas positif
sementara pada tingkat reinvestasi. Namun, proses ini persis sama seperti yang kami ikuti di
atas dan ini membuat kami dengan rangkaian arus kas yang dimodifikasi berikut:

Dan sekarang ketika kami menghitung IRR pada


rangkaian arus kas yang dimodifikasi ini, kami
mendapatkan 6,50%. Menggunakan tingkat
pengembalian internal yang dimodifikasi
menghilangkan masalah IRR ganda karena kami secara
eksplisit mendefinisikan tingkat aman dan tingkat
reinvestasi kami. Ini mendidihkan set arus kas ke hanya
dua angka, menghasilkan satu figur MIRR tunggal.