Vous êtes sur la page 1sur 16

MAKALAH

TOKOH-TOKOH ASWAJA DAN PANDANGANNYA TENTANG


AKIDAH, FIQIH, DAN TASAWUF

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Aswaja


Dosen : Mutiara Fahriani,

Disusun Oleh
Kelompok :4
Nama : 1. Habibulloh
2. Irwan Setiabudi
3. Dina Setiawan
4. Syifa Sopiatul Amanah
Tingkat/Semester : II D/IV
Fakultas/Jurusan : Tarbiyah/PAI

INSTITUT AGAMA ISLAM CIPASUNG (IAIC)


SINGAPARNA – TASIKMALAYA
2016/2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latarbelakang
Permasalahan-permasalahan keagamaan sebenarnya sudah ada sejak zaman
Rasulullah Saw., masih hidup. Namun, waktu itu, setiap kali persoalan muncul, para
sahabat dapat segera memecahkannya dengan jalan Rasulullah Muhammad Saw.
Apabila ada ayat-ayat yang kurang bisa dipahami, Sahabat akan menanyakannya
langsung kepada Rasul, dan segera mendapatkan jawabannya. Apabila terjadi
perbedaan pendapat, Rasulullah Saw. akan menengahi dan selesailah masalah.

Namun begitu, setelah wafatnya Baginda Rasulullah Muhammad Saw.,


seiring dengan berjalannya waktu, berbagai permasalahan keagamaan terus
bermunculan. Al-Qur’an dan Hadist yang menjadi pondasi utama umat Islam dalam
berakidah dan beribadah ditafsirkan secara berbeda-beda, sehingga niscaya
menimbulkan pemahaman yang berbeda.

B. Rumusan Masalah

1. Tokoh aswaja dibidang Akidah


2. Tokoh aswaja dibidang Fiqih
3. Tokoh aswaja dibidang Tasawuf

2
Tokoh-Tokoh Aswaja dan Pandangannya tentang
Akidah, Fiqih, dan Tasawuf
A. Tokoh Aswaja dibidang Akidah beserta pandangannya

Sesungguhnya persengketaan akidah pada mulanya diakibatkan oleh


pertentangan masalah imamah. Dari persoalan tersebut, kemudian merambah ke
wilayah agama, terutama seputar hukum seorang muslim yang berdosa besar dan
bagaimana statusnya ketika ia meninggal; mukmin ataukah sudah kafir. 1 Dari situ,
pembicaraan tentang akidah kemudian meluas ke persoalan-persoalan Tuhan dan
manusia baik menyangkut perbuatan dan kekuasaan Tuhan, juga sifat keadilan
Tuhan, sampai pada persoalan apakah Al-Qur'an termasuk makhluk atau bukan.

Sampai kemudian lahirlah paham-paham akidah, seperti Qadariyah,


Jabbariyah, Mu’tazilah, Asy'ariyah dan Maturidiyah. Dua kelompok terakhir itulah
yang mengambil sikap moderat yang kemudian dikenal dengan pahamnya
Ahlusunnah wal Jamaah.

Disebut Asy‘ariyah karena madzhab tersebut didirikan oleh Imam Abu al-
Hasan al-Asy'ari, dan Maturidiyah karena pendirinya adalah Imam Abu Manshur
al-Maturidi.

1. Abu Al-Hasan Al-Asy’ari

Ahlusunnah wa Jama’ah sering juga disebut dengan ahlussunnah, atau


sunni, atau kadang-adang disebut 'Asy'ari atau Asy'ariyah, dikaitkan kepada guru
besar yang pertama, Abu al-Hasan 'Ali al-Asy'ari. Nama lengkap beliau adalah Abu
Hasan Ali bin Ismail, bin Abi Basyar, Ishaq bin Salim, bin Isma'il, bin Abdillah,
bin Musa, bin Bilal, bin Abi Burdah, bin Abi Musa al-Asy'ari.2

Abu Hasan 'Ali, lahir di Bashrah (Irak) tahun 260 H, 55 tahun sesudah
meningalnya Imam Syafi'i. Pada mulanya, Abu Hasan merupakan murid dari ayah
tirinya sendiri, bernama Syeikh Abu 'Ali Muhammad bin Abdul Wahab Al-Jabai
yang merupakan ulama besar Mu'tazilah. Pada waktu Abu Hasan berusia remaja,
Mu'tazilah memang menjadi paham penguasa, dan ulama-ulama Mu'tazilah banyak
sekali bisa dijumpai, baik di Bashrah, Kuffah, maupun Baghdad.

Imam Abu Hasan al-Asy'ari kemudian mendapatkan hidayah bahwa dalam


paham Mu'tazilah terdapat banyak kesalahan besar yang bertentangan dengan
i'tiqad dan kepercayaan Nabi Muhammad Saw., dan sahabat-sahabat beliau, selain

1
Tim PWNU Jawa Timur, Aswaja An-Nahdhiyyah, Cet.II (Khalista: Surabaya, 2007). hal. 11.
2
Sirajuddin Abbas, I'tiqad Ahlussunnah Wal Jama'ah hal. 30-31.

3
juga banyak yang bertentangan dengan al-Qur'an dan Hadis. Maka, beliau
kemudian memutuskan keluar dan tampil sebagai penentang untuk melawan
pendapat-pendapat kaum Mu'tazilah.3

Abu Hasan Al-Asy’ari banyak berjuang menegakkan akidah Ahlusunnah


wal Jamaah dengan menggunakan tulisan maupun lisan, menandingi kaum
Mu’tazilah. Beliau telah merumuskan dan menulis kitab-kitab akidah sehingga
namanya terkenal sebagai seorang ulama Tauhid. Di antara kitab-kitab terkenal
karangan beliau adalah, Ibanah fi Ushuluddiyanah yang tediri dari 3 jilid besar,
Maqallatul Islamiyiin, Al Mujaz, dan masih banyak lagi.

Akidah Asy'ariyah merupakan jalan tengah (tawasuth) di antara kelompok-


kelompok keagamaan yang berkembang pada masa masa itu (abad 3 H).4 Kita
paham, paling tidak ada dua kelompok yang saling bertolak belakang, yakni
Jabariyah dan Qadariyah yang keduanya dikembangkan oleh Mu'tazilah.

Sikap tawasuth ditunjukkan oleh Asy'ariyah dengan konsep al-kasb (upaya).


Menurut Asy'ari, perbuatan manusia diciptakan oleh Allah, namun manusia
memiliki peranan dalam perbuatannya. Kasb memiliki makna kebersamaan
kekuasaan manusia dengan perbuatan Tuhan. Kasb juga memiliki makna keaktifan
dan bahwa manusia bertanggung jawab atas perbuatannya.

Berbeda dengan Jabbariyah yang menganggap bahwa manusia tidak


memiliki daya dan upaya sama sekali, konsep Kasb Asy'ariyah menempatkan
manusia sebagai manusia yang selalu berusaha secara kreatif dalam kehidupannya,
namun tidak melupakan bahwa Tuhanlah yang menentukan semuanya.5 Paham
akidah seseorang tentu saja sangat memengaruhi pola kehidupannya sehari-hari,
bukan saja pada masalah kepercayaan (keimanan), tetapi menyangkut urusan
ekonomi, budaya dan persoalan-persoalan lainnya.

Konsep akidah Asy’ari banyak diterima bukan hanya disebabkan lebih


mudah dicerna akal sehat, tetapi karena ia mendasarkan konsep akidahnya dengan
mengutamakan dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadist di atas akal dan pikiran. Asya’ari
tidak menolak peran akal, sebab memahami al-Qur’an dan Hadist tanpa akal adalah
mustahil. Tetapi kemampuan akal terbatas, dan penggunaan akal dalam
menerjemahkan wahyu tidak bisa semena-mena. Adakalanya hal-hal yang
berkaitan dengan masalah-masalah akidah (seperti Kehendak Allah, Keadilan

3
Ibid, hal. 31
4
TIM PWNU Jawa Timur, Op.Cit. hal. 12
5
Ibid, hal. 31

4
Allah, dll) tidak bisa dijangkau oleh akal. Pada saat yang demikian itulah akal mesti
tunduk kepada wahyu.

Pada perkembangannya, Paham Asy’ariyah terus menyebar dan meluas.


Kian lama kian banyak bermunculan ulama-ulama yang mengikuti, memperkuat,
dan mengembangkan paham Asy’ariyah. Salah satunya adalah Imam Abu Mansur
Al-Maturidi.

2. Abu Manshur Al-Maturidzi

Nama lengkapnya Muhammad bin Muhammad bin Mahmud. Beliau lahir


di Samarqand, tepatnya di sebuah desa bernama Maturid.6

Paham akidah Maturidiyah dan Asy'ariyah memiliki keselarasan. Makanya,


kedua imam besar inilah yang kemudian dianggap sebagai pembangun Madzhab
Ahlusuunnah wal Jama’ah. Kalau ada yang berbeda antara keduanya, itu hanya
pada madzhab fiqh yang mereka ikuti. Asy'ariyah menggunakan madzhab Imam
Syafi'i dan Imam Malik, sementara Maturidiyah menggunakan madzhab Imam
Hanafi.

Di antara pemikiran Abu Manshur Al-Maturidi dalam masalah akidah


adalah upaya mendamaikan antara dalil aqli dan naqli (akal dan wahyu). Paham
Maturidiyah berpendapat bahwa, apabila kita berhenti berbuat pada saat tidak
terdapat nash (naql) maka itu merupakan suatu kesalahan, sama juga salah apabila
kita larut tidak terkendali dalam menggunakan rasio ('aql).7

Jadi, antara 'aql dan naql memiliki peranan yang sama pentingnya.
Menafikan peran akal dalam memahami dalil naql merupakan suatu kemustahilan.

Sekilas, pandangan tersebut sama dengan konsep 'Asy'ariyah, tetapi


sebenarnya terdapat perbedaan, yakni pada posisi akal terhadap wahyu. Dalam
buku Aswaja An-Nahdhiyyah.8 dijelaskan bahwa menurut Maturidiyah, wahyu
harus diterima penuh. Tapi jika terjadi perbedaan antara wahyu dan akal maka akal
harus berperan menatakwilkannya. Terhadap dalam ayat-ayat tajsim (Allah
bertubuh) atau tasybih (Allah serupa makhluk), misalnya, harus ditafsirkan dengan
arti majazi (kiasan). Contoh seperti lafal “Yadullah” yang arti aslinya "Tangan
Allah" ditakwil menjadi "kekuasaan Allah".

6
Sirajuddin Abbas, Op.Cit, hal. 33-34
7
PWNU Jawa Timur, Op.Cit. hal. 15
8
Ibid, hal. 16

5
B. Syariah/Fiqih

Sumber hukum Islam (Fiqh) yang utama adalah Al-Qur’an dan hadist.
Sementara kita tahu bahwa ayat-ayat al-Qur’an tidak bertambah dan tidak
berkurang. Sedangkan permasalahan-permasalahan baru terus muncul seiring
perkembangan zaman. Maka, dibutuhkan upaya penggalian hukum, atau yang lebih
sering disebut dengan istilah ijtihad.

Ijtihad sendiri sebenarnya sudah ada sejak zaman Rasulullah Saw., ketika
Sahabat menjumpai suatu persoalan yang harus segera diputuskan sementara
mereka tidak sedang bersama Rasulullah. Pada masa Khulafarurrashidin, khalifah
kerap mengumpulkan para Sahabat untuk membahas suatu masalah dan
menentukan hukumnya, lalu lahirlah ijma’ atau kesepakatan.

Di antara tokoh yang mampu berijtihad sejak generasi sahabat, tabi'in, dan
tabi'ut tabi'in, terdapat banyak tokoh yang ijtihadnya kuat (disebut mujtahid
mustaqil). Bukan hanya mampu berijtihad sendiri tetapi juga mampu menciptakan
pola pemahaman (manhaj) tersendiri terhadap sumber pokok hukum Islam, yakni
al-Qur'an dan Hadis. Hal tersebut dibuktikan dengan metode ijtihad yang mereka
rumuskan sendiri, menggunakan kaidah-kaidah ushul fiqh, qawa'idul ahkam,
qawa'idul fiqhiyyah dan sebagainya. Proses dan prosedur ijtihad yang mereka
hasilkan dilakukan sendiri tersbut mendandakan bahwa secara keilmuan dan
pemahaman keagamaan serta ilmu penunjang dalam berijtihad lainnya telah mereka
miliki dan kuasai.9

Perbedaan pendapat (ikhtilaf) dalam masalah fiqih memang tidak bisa


dicegah, tetapi bukan berarti setiap orang bebas untuk berijtihad (menjadi
mujtahid). Bagi orang awam, mengikuti para imam madzhab adalah wajib,
demikian pendapat ulama Nahdhiyyin.

Madzhab sendiri berarti jalan yang ditempuh untuk mencapai tujuan dalam masalah
keagamaan. Pada hakikatnya, semua orang pasti bermadzhab. Kalau tidak
bermadzhab pada madzhab-madzhab lama, mereka bermadzhab kepada madzhab
yang baru. Taqlid (mengikuti) pada imam madzhab bukanlah suatu kemunduran,
tetapi justru sebagai sarana melestarikan dan mengembangkan ajaran Islam.
Dengan bermadzhab, pewarisan dan pengamalan ajaran Islam menjadi terpelihara,
ajaran Islam terjamin kemurniannya.

Para imam madzhab adalah orang-orang yang sudah terkenal kealimannya


dan sangat menguasai ilmu-ilmu al-Qur'an dan hadist. Jadi, apabila dikatakan
bahwa bermadzhab bukanlah jalan yang diajarkan oleh Rasulullah, sesungguhnya

9
Ibid, hal. 20

6
hal tersebut tidak berdasar. Sebab para Imam madzhab adalah orang-orang yang
ketaatannya pada al-Qur'an dan sunnah sudah teruji. Bermadzhab berarti mengikuti
apa yang sudah menjadi pegangan imam madzhab.

Dalam ranah fiqh, NU bermadzhab kepada madzhab empat yang masyhur,


yakni, Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali. Pertanyaan yang krap muncul adalah,
kenapa NU hanya memilih empat madzhab untuk dijadikan pijakan dalam berfiqh?

Dalam buku Aswaja an-Nahdliyah, sebagaimana dikutip K.H Busyairi Harist,10


adalah karena: Pertama, kualitas pribadi dan keilmuan mereka sudah masyhur. Jika
disebut nama mereka hampir dipastikan mayoritas umat Islam di dunia mengenal
dan tidak perlu lagi menjelaskan secara detail tentang keilmuan mereka. Kedua,
keempat Imam madzhab tersebut merupakan Imam Mujtahid Mutlak Mustaqil,
yaitu imam mujtahid yang mampu secara mendiri menciptakan manhaj al-fiqr
(metode berpikir), pola, proses dan prosedur istimbath dengan seluruh perangkat
yang dibutuhkan. Ketiga, Imam madzhab itu mempunyai murid-murid yang secara
konsisten mengajar dan mengembangkan madzhabnya yang didukung oleh buku
induk yang masih terjalin keasliannya hingga saat ini. Keempat, jika ditelusuri
ternyata para Imam madzhab tersebut mempunyai mata rantai dan jaringan
intelektual di antara mereka.

1. Abu Hanifah An-Nu’man Ibn Tsabit

Nama lengkapnya adalah Imam Nu’man bin Tsabit. Beliau sering disebut
Imam Abu Hanifah, sementara madzhabnya dikenal dengan Madzhab Hanafi.
Imam Abu Hanifah adalah golongan Tabiin yang lahir pada tahun 80 H dan wafat
tahun 150 H.

Abu Hanifah mendapat gelar Al-Imam al-A'ham (Imam Agung), dan


menjadi tokoh panutan di Iraq. Beliau juga dikenal sebagai penganut aliran ahlu
ra'yi dan bahkan menjadi menjadi tokoh sentralnya. Di katakan Ahl ra’yi bukan
berarti Abu Hanifah hanya mengandalkan akalnya. Tetapi dalam memandang Nash,
beliau lebih memandang apa yang ada di balik nash (al-Qur’an dan Hadis), bukan
secara tekstual. Di antara manhaj istinbath-nya yang terkenal adalah konsep al-
Ihtihsan.

Meskipun Abu Hanifah sangat terkenal sebagai Imam madzhab fiqh tetapi
tidak ada satu kitab pun yang beliau tulis sampai kepada kita. Fiqh Abu Hanifah

10
Drs. K.H. Busyairi Harits, M.Ag., Islam NU: Pengawal Tradisi Sunni Indonesia, (Khalista:
Surabaya, 2010) hal. 7-8.

7
yang menjadi rujukan utama madzhab Hanafi ditulis oleh dua orang murid
utamanya: Imam Abu Yusuf Ibrahi dan Imam Muhammad bin Hasan As-Syaibani.

2. Maliki Ibn Annas

Malik bin Annas dilahirkan tahun 93 H dan wafat tahun 179 H di Madinah.
Kelak, ia dikenal sebagai Imam Malik, pendiri madzhab Maliki.

Imam Malik adalah seorang ahli hadist yang masyhur dengan kitab
monumentalnya berjudul ‘Al-Muwatha' di nilai sebagai kita hadits hukum yang
paling shahih. Bahkan, Khalifah Harun Ar-Rasyid pernah bermaksud menggantung
kitab al-Muwatha' di Ka'bah dan menyuruh seluruh umat Islam untuk mengikuti
isinya. Tapi, Imam Malik menjawab: ”Jangan engkau lakukan itu, karena para
shahabat Rasulullah SAW saja berselisih pendapat dalam masalah furu’(cabang),
apalagi (kini) mereka telah berpencar ke berbagai negeri.” Imam Malik menyadari
bahwa dalam masalah fiqh perbedaan adalah suatu keniscayaan.

Imam Malik memiliki metode tersendiri dalam meng-istimbath-kan hukum,


dan metodenya tersebut masih berpengaruh sampai sekarang. Di antara langkah
penting yang ditawarkan oleh Madzhab Maliki dalam berijtihad adalah pengunaan
al-maslahah al-mursalah. Teori al-Maslahah al-Mursalah diilhami oleh satu paham
bahwa syari’ah Islam bertujuan mendatangkan manfaat, kesejahteraan dan
kedamaian bagi kepentingan masyarakat dan mencegah kemudharatan.

3. Muhammad Ibn Idris asy-Syafi’i

Pendiri Madzhab Syafi'i ini memiliki nama lengkap Muhammad bin Idris
asy-Syafi'i. Imam Syafi'i dilahirkan di Ghozza tahun 150 H dan wafat tahun 204 H
di Mesir. Beliau adalah juga murid dari Imam Malik di Madinah dan Imam
Muhammad bin Hasan di Baghdad yang merupakan murid senior dari Imam Abu
Hanifah. Pada masa wafatnya Imam malik (179 H), Imam Syafi’i telah dipercaya
sebagai seorang fuqaha yang masyhur di Hijaz dan jazirah arab lainnya.

Karya monumental dari Imam Syafi'i berjudul Ar-Risalah, sebuah kitab


ushul fiqh yang pertama sampai kepada kita. Kitab itu pula yang membuat beliau
dikenal sebagai Bapak Ushul Fiqh.

Sementara itu fatwa-fatwa fiqh Imam Syafi'i dikelompokkan menjadi dua


macam, yang kemudian dikenal sebagai al-Qoul Qodim dan al-Qoul Jadid. Al-Qoul
Qodim (pendapat lama) merangkum pendapat-pendapat Imam Syafi'i sewaktu
beliau berada di Baghdad, sementara al-Qoul Jadid (pendapat baru) merangkum
pendapat-pendapat beliau setelah berada di Mesir. Semua pendapat-pendapat
tersebut, terangkum dalam kitab al-Umm.

8
4. Ahmad Ibn Hanbal

Nama lengkapnya Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, sering
disebut dengan Imam Hambali. Beliau dilahirkan di Baghdad, pada tanggal 20
Rabiul Awwal tahun 164 H. Ketika masih bayi, Imam Ibn Hambal dibawa ke
Baghdad tempat ayahnya meninggal dalam usianya yang sangat dini, 30 tahun.
Imam Ibn Hambal merupakan murid Imam Syafi'i selama di Baghdad. Sampai
Imam Syafi'i wafat beliau masih selalu mendoakannya. Imam Ahman bin Hambal
mewariskan sebuah kitab hadits yang terkait dengan hukum Islam berjudul Musnad
Ahmad.

C. Bertasawuf

Dalam bidang tasawuf Aswaja memiliki prinsip untuk dijadikan pedoman


bagi kaumnya. Sebagaimana dalam masalah akidah dan fiqih, dimana Aswaja
mengambil posisi yang moderat, tasawuf Aswaja juga demikian adanya.

Manusia diciptakan Allah semata-mata untuk beribadah, tetapi bukan


berarti meninggalkan urusan dunia sepenuhnya. Akhirat memang wajib diutamakan
ketimbang kepentingan dunia, namun kehidupan dunia juga tidak boleh
disepelekan. Dalam emenuhi urusan dunia dan akhirat mesti seimbang dan
proporsional. Dasar utama tasawuf Aswaja tidak lain adalah Al-Qur’an dan Sunnah.
Oleh karena itu, jika ada orang yang mengaku telah mencapai derajat Makrifat
namun meninggalkan al-Qur’an dan sunnah, maka ia bukan termasuk golongan
Aswaja. Meski Aswaja mengakui tingkatan-tingkatan kehidupan rohani para sufi,
tetapi Aswaja menentang jalan rohani yang bertentangan dengan al-Qur’an dan as-
Sunnah.

Imam Malik pernah mengatakan, “Orang yang bertasawuf tanpa


mempelajari fikih telah merusak imannya, sedangkan orang yang memahami fikih
tanpa menjalankan tasawuf telah merusak dirinya sendiri. Hanya orang yang
memadukan keduanyalah yang akan menemukan kebenaran.”11

Jalan sufi yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad dan para
pewarisnya adalah jalan yang tetap memegang teguh perintah-perintah syari’at.
Karena itu, kaum Aswaja An-Nahdliyah tidak dapat menerima jalan sufi yang
melepaskan diri dari kewajiban-kewajiban syari’at, seperti praktik tasawuf al-Hallaj

11
Syekh Muhammad Hisyam Kabbani, Tasawuf dan Ihsan: Antivirus Kebatilan dan Kedzaliman,
(Serambi: Jakarta, 2007). hal. 63

9
(al-hulul) dengan pernyataannya “ana al-haqq” atau tasawuf Ibnu ‘Arabi (ittihad;
manunggaling kawula gusti).12

Kaum Aswaja An-Nahdliyah hanya menerima ajaran-ajaran tasawuf yang


moderat, yakni tasawuf yang tidak meninggalkan syari’at dan aqidah sebagaimana
sudah dicontohkan al-Ghazali, Junaid al-Baghdadi, juga Syekh Abdul Qadir al-
Jailani.

1. Abdl Qadir al-Jailani

Beliau lahir pada 470 H. (1077-1078) di al-Jil (disebut juga Jailan dan
Kilan), kini termasuk wilayah Iran. Ibunya, Ummul Khair Fatimah bint al-Syekh
Abdullah Sumi merupakan keturunan Rasulullah Saw., melalui cucu terkasihnya
Husain. Suatu ketika Ibunya berkata, "Anakku, Abdul Qadir, lahir di bulan
Ramadhan pada siang hari bulan Ramadhan, bayiku itu tak pernah mau diberi
makan.13 Ketika berusia 18 tahun, beliau pergi meninggalkan kota kelahirannya
menuju Baghdad. "Kudatangi ibuku dan memohon kepadanya, 'izinkan aku
menempuh jalan kebenaran, biarkan aku pergi mencari ilmu bersama para bijak dan
orang-orang yang dekat kepada Allah.'"14Pada waktu itu, Baghdad dikenal sebagai
pusat ilmu pengetahuan.

Di Baghdad beliau belajar kepada beberapa orang ulama, antara lain Ibnu
Aqil, Abul Khatthat, Abul Husein al Farra' dan juga Abu Sa'ad al Muharrimiseim.
Beliau menimba ilmu pada ulama-ulama tersebut hingga mampu menguasai ilmu-
ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama.

Selanjutnya, pada tahun 521 H/1127 M, Syekh Abdul Qadir al-Jailani


mengajar dan menyampaikan fatwa-fatwa agama kepada masyarakat. Tidak butuh
waktu lama beliau segera dikenal masyarakat luas. Selama 25 tahun, beliau
menghabiskan waktunya sebagai pengembara di Padang Pasir Iraq dan akhirnya
dikenal oleh dunia sebagai tokoh sufi yang masyhur.

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dikenal sebagai pendiri Tarekat Qodiriyah,


sebuah istilah yang tidak lain berasal dari namanya. Tarekat ini terus berkembang
dan banyak diminati oleh kaum muslimin. Meski Irak dan Syiria disebut sebagai
pusat dari pergerakan Tarekat tersebut, namun pengikutnya berasal dari belahan
negara muslim lainnya, seperti Yaman, Turki, Mesir, India, hingga sebagian Afrika
dan Asia, termasuk Indonesia.

12
Ibid., hal. 27
13
Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Kisah Hidup Sultan Para Wali dan Rampai PEsan yang
Menghidupkan Hati, Cet. IV. (Penerbit Zaman: Jakarta, 2012). hal. 16
14
Ibid, hal. 17.

10
2. Abu al-Qosim Al-Junaidi Al-Baghdadi

Nama lengkap beliau adalah Abu al-Qosim al-Junaid bin Muhammad bin
al-Junaid al-Khazzaz al-Qowariri al-Nahawandi al-Baghdadi. Beliau dilahirkan di
kota Baghdad tanpa diketahui secara pasti tahun kelahirannya. Ayahnya seorang
pedagang barang pecah belah, sementar Ibunya merupakan saudara kandung Sari
bin al-Mughallis al-Saqathi (w.235 H/867M), seorang tokoh sufi terkemuka yang
kelak menjadi gurunya.

Al-Junaid dikenal cerdas, dan pada usia dua puluh tahun bela telah mampu
mengeluarkan fatwa. Semua kalangan menerima madzhab yang dibangunnya, dan
beliau disepakati sebagai penyandang gelar “Syekh al-Thaiifah al-Shufiyyah wa
Sayyiduha” (Tuan Guru dan Pemimpin kaum sufi).

Abdul Wahhab al-Sya’rani, sebagaimana dikutip Dr. K.H Saefuddin


Chalim,15 mengungkapkan paling tidak ada empat faktor yang mengantarkan al-
Junaid menjadi satu-satunya figur yang berhak menyandang gelar tersebut sehingga
diakui sebagai acuan dan standar dalam tasawuf Ahlussnah wal Jama’ah.

Pertama, konsistensi terhadap al-Kitab dan Sunnah. Penguasaan al-Junaid


terhadap al-Qur’an dan Sunnah membawa pengaruh positif terhadapnya dalam
membangun madzhabnya di atas fondasi Islam yang kuat dan shahih. Beribadah
tanpa adanya pengetahuan yang memadai dianggap bisa membawa seseorang ke
dalam kesesatan. Oleh karenanya, al-Junaid begitu mengedepankan ilmu agama
sebagai pegangan kaum sufi dalam menempuh jalan suluk.

Kedua, konsistensi terhadap syari’ah. Para ulama mengakui bahwa belum


pernah ditemukan di antara isyarat-isyarat al-Junaid dalam bidang tasawuf yang
bertentangan dengan syari’ah. Syariah adalah rel yang jika seorang sufi keluar dari
jalurnya maka pintu kebaikan akan tertutup baginya.

Ketiga, kebersihan dalam akidah. Al-Junaid membangun madzhabnya di


atas fondasi akidah yang bersih, yaitu akidah Ahlussunah wal Jama’ah.

Keempat, ajaran tasawuf yang moderat. Ajaran tasawuf yang moderat merupakan
ciri-ciri tasawuf Ahlussunah wal Jama’ah. Al-Junaid memandang bahwa orang
yang baik bukanlah orang yang berkonsentrasi melakukan ibadah saja, sementara
ia tidak ikut berperan aktif dalam memberikan kemanfaatan kepada manusia.
Pandangan tasawuf yang demikian mematahkan tasawuf ekstrem yang

15
Dr. K.H Saifuddin Chalim, M.A Membumikan Aswaja, Pegangan para Guru NU, (Khalista:
Surabaya, 2012). hal 137-142.

11
beranggapan bahwa jika seseorang sudah sampai pada derajat makrifat atau wali,
maka pengamalan terhadap ajaran-ajaran agama tidak diperlukan lagi baginya.

3. Muhammad Ibn Muhammad al-Ghazali

Al-Ghazali memiliki nama lengkap Abu Hamid Muhammad bin


Muhammad bin Muhammad al-Ghazali Al-Thusi. Beliau dilahirkan di kota Thus
(daerah Khurasan) tahun 450 H/1058M. Beliau dikenal dengan al-Ghazali karena
berasal dari desa Ghazalah, atau ada yang menganggap bahwa sebutan al-Ghazali
melekat karena ayahnya bekerja sebagai pemintal tenun wol.

Masa kecil dan masa muda al-Ghazali dipenuhi dengan belajar ilmu agama,
dari satu tempat ke tempat lain dan dari satu guru ke guru lain. Ia pernah belajar
kepada Ahmad bin Muhammad al-Radzikani al-Thusi, Imam Abu Nashr al-
Isma’ili, Syekh Yusuf al-Nassaj, Imam Abu al-Ma’ali Abdul Malik bin Abdllah al-
Juwaini yang

12
merupakan ulama terkemuka Madzhab Syafi’i.

Kecemerlangan Al-Ghazali mengantarkannya menduduki guru besar di


Universitas Nizhamiyah Baghdad (Tahun 848/1091M). Di sanalah, waktu itu, Al-
Ghazali dikelilingi dengan berbagai kesenangan duniawi, tetapi hal tersebut tidak
membuatnya bahagia. Lalu beliau memutuskan untuk pindah ke Damaskus di Syiria
dan tinggal di kota itu. Di sana beliau lebih banyak beri i’tikaf dan berzikir,
menjalani riyadhah dan mujahadah. Setelah dua tahun, al-Ghazali kemudian
meninggalkan Damaskus menuju Baitul Maqdis di Palestina.

Imam al-Ghazali sebagai pelopor sufi mengembangkan tasawuf kepada


dasar aslinya seperti yang diamalkan oleh para sahabat Rasulullah Saw. Ia telah
menulis puluhan kitab, dan yang paling terkenal adalah Ihya Ulumiddin
(Menghidupkan kembali ajaran Islam). Melalui kitab tersebut al-Ghazali
memberikan pegangan dan pedoman perkembangan tasawuf Islam, dan menjadi
rujukan bagi mereka dalam mengembangkan paham positifisme yang sesusi dengan
akidah dan syariah.16

Iman,Islam, dan ihsan mesti sejalan bersamaan. Beriman tanpa menjalankan


ibadah sesuai syariat membuat keimanan seseorang diragukan. Sementara ihsan
adalah amal shalih, yang diwujudkan dalam akhlakul karimah dan kedekatan hamba
terhadap Tuhan.

Dengan tasawuf al-Ghazali, Syekh Abdul Qadir al-Jailani, dan Junaid al-
Baghdadi, kaum Aswaja An-Nahdliyah diharapkan menjadi umat yang selalu
dinamis dan dapat menyandingkan antara tawaran-tawaran kenikmatan bertemu
dengan Tuhan dan sekaligus dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang
dihadapi oleh umat. Hal semacam ini pernah ditunjukkan oleh para penyebar Islam
di Indonesia, Walisongo. Secara individu, para wali itu memiliki kedekatan
hubungan dengan Allah dan pada saat yang sama mereka selalu membenahi akhlaq
masyarakat dengan penuh kebijaksanaan. Dan akhirnya ajaran Islam dapat diterima
oleh seluruh lapisan masyarakat dengan penuh kaikhlasan dan ketertundukan.17

D. Siyasah Abu al-Hasan Ali Ibn Muhaammad al-Mawardi

Sejak awal berdirinya, NU banyak terlibat dalam masalah politik, baik


politik praktis maupun kultural. Kita tidak bisa melupakan era-era awal

16
H. Soelaeman Fadeli, dan Muhammad Subhan, S.Sos., Antologi NU: Sejarah, Istilah, Amaliah,
Uswah, (Khalista: Surabaya, 2007). hal. 152.
17
PWNU Jawa Timur, Op.Cit. hal. 30

13
kemerdekaan, banyak tokoh NU yang menduduki jabatan di pemerintahan. Bahkan,
pada tahun 1952, lewat Muktamar NU ke-19, NU memutuskan untuk menjadi partai
politik yang kemudian bubar saat Orde Baru berkuasa (tahun 1973).

Di lingkungan NU juga dikenal istilah Politik Kebangsaan, Politik


Kerakyatan dan Politik Kekuasaan. Berikut ini 9 Pedoman Politik Warga NU
dimaksud:

1. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama mengandung arti keterlibatan warga


negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara secara menyeluruh
sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945.
2. Politik bagi Nahdlatul Ulama adalah politik yang berwawasan
kebangsaan dan menuju integrasi bangsa dengan langkah-langkah yang
senantiasa menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan untuk mencapai
cita-cita bersama, yaitu terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur
lahir batin, dan dilakukan sebagai amal ibadah menuju kebahagiaan di
dunia dan di akhirat.
3. Politik bagi Nahdlatul Ulama adalah pengembangan nilai-nilai
kemerdekaan yang hakiki dan demokratis, mendidik kedewasaan bangsa
untuk menyadari hak, kewajiban dan tanggung jawab untuk mencapai
kemaslahatan bersama.
4. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama haruslah dilakukan dengan moral, etika
dan budaya yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, berperikemanusiaan
yang adil dan beradab, menjunjung tinggi persatuan Indonesia,
berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan, dan berkeadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia.
5. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama haruslah dilakukan dengan kejujuran
nurani dan moral agama, konstitusional, adil, sesuai dengan peraturan
dan norma-norma yang disepakati, serta dapat mengembangkan
mekanisme musyawarah dalam memecahkan masalah bersama.
6. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama dilakukan untuk memperkokoh
konsensus-konsensus nasional, dan dilaksanakan sesuai dengan
akhlakul karimah sebagai pengamalan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.
7. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama, dengan dalih apapun, tidak boleh
dilakukan dengan mengorbankan kepentingan bersama dan memecah
belah persatuan.
8. Perbedaan pandangan di antara aspiran-aspiran politik warga NU harus
tetap berjalan dalam suasana persaudaraan, tawadhu’ dan saling
menghargai satu sama lain, sehingga di dalam berpolitik itu tetap dijaga
persatuan dan kesatuan di lingkungan Nahdlatul Ulama.

14
9. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama menuntut adanya komunikasi
kemasyarakatan timbal batik dalam pembangunan nasional untuk
menciptakan iklim yang memungkinkan perkembangan organisasi
kemasyarakatan yang lebih mandiri dan mampu melaksanakan
fungsinya sebagai sarana masyarakat untuk berserikat, menyalurkan
aspirasi serta berpartisipasi dalam pembangunan.18

Warga dan kiai NU yang ingin terjun ke dunia politik diperbolehkan asal
mengerti ilmu politik dan piawai menjalankan strategi siyasah dengan tidak
membawa label organisasi. Potensi politik kader NU juga hendaklah dikelola
dengan profesional agar memberikan kontribusi bagi NU dan tidak sekadar
"menjual" organisasi. Inilah pentingnya pemaknaan politik bagi kalangan Nadhiyin
agar NU tidak menjadi korban ketika pesta demokrasi.19

Menghindarkan dari urusan politik dan menyerahkan sepenuhnya kepada


orang yang tidak kompeten justru membahayakan. Selain menghayati Khittah NU,
paling tidak warga NU penting mengetahui rujukan siyasah kaum Aswaja. Salah
satu ahli fiqh siyasah yang juga bermadzhab Syafi'i, yakni Abu Hasan al-Mawardi
(w 450H).

Nama lengkapnya adalah Abu Hasan Ali bin Muhammad bin Habib al-
Mawardi al-Bashri. Al-Mawardi dilahirkan di Bashrah pada tahun 364 H. atau 975
M. Panggilan al-Mawardi diberikan kepadanya karena kecerdasan dan
kepandaiannya dalam berorasi, berdebat, berargumen dan memiliki ketajaman
analisis terhadap setiap masalah yang dihadapinya. Sementara julukan al-Bashri
dinisbatkan pada tempat kelahirannya.

Al-Mawardi kecil hingga remaja belajar fiqh Syafi’iyah di Bashrah sebelum


kemudian merantau ke Baghdad dan mendatangi para ulama untuk
menyempurnakan keilmuannya dalam bidang fiqh. Imam Al-Mawardi dikenal
sebagai duta diplomasi pemerintah bani Buwaih dan di sisi lain sebagai duta
diplomasi khalifah Abbasiyah, terutama khalifah Qoim Baimillah.

Selain itu, di antara pemikiran Al-Mawardi yang cukup terkenal adalah,


pemetaan—bukan pemisahan—antara perkara dunia dan agama dalam bukunya
Adabud Dunya wad Din (perkara Dunia dan Perkara Akhirat). Menurutnya, perkara
dunia adalah perkara kenegaraan (politik), sedangkan perkara agama adalah syariat
Tuhan. Pemisahan ranah politik dan agama menjadi penting dalam rangka

18
H. Soeleiman Fadeli dan Mohammad Subhan, S..Sos, Op.Cip. Hal. 99-100.
19
Khamami Zada dan A Fawaid Sjadzili (Ed), Nahdlatul Ulama: Dinamila Ideologi dan Politik
Kenegaraan, (Penebit Kompas: Jakarta. 2010). hal.29

15
mengantisipasi percampuran keduanya. Dengan begitu, politisasi agama dapat
dihindarkan.20

BAB III
Penutupan

A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas bahwasannya golongan aswaja berpatokan pada Al-
Qur’an dan Hadits juga pada Ijtihad para ulama besar.
Aswaja adalah suatu golongan yang menganut syariat islam yang berdasarkan pada al-
quran dan hadis. Ajaran Aswaja berasal dari Nabi Muhammad saw melalui perantara para
sahabatnya tanpa mengalami perubahan. Aswaja sangat penting untuk kita pelajari karena
Aswaja merupakan suatu pedoman hidup yang baik.

20
Ibid, hal.109

16