Vous êtes sur la page 1sur 11

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………………………………………………………. 1


BAB I. PENDAHULUAN ....................................................................................................................... 2
I.1 Latar Belakang ........................................................................................................................... 2
I.2 Tujuan penulisan ....................................................................................................................... 2
I.3 Rumusan Masalah ..................................................................................................................... 2
BAB II. ISI ............................................................................................................................................ 3
2.1 Pencemaran Udara................................................................................................................... 3
2.1.1 Penyebab Pencemaran Udara ............................................................................................ 3
2.1.2. Sumber Pencemar Udara .................................................................................................. 4
2.2 Komponen Pencemar Udara .................................................................................................... 4
2.2.1. Karbon Monoksida (CO).................................................................................................. 4
2.2.2. Nitrogen Dioksida (NOx) ……………………………………………………… 4

2.2.3. Sulfur Oksida (SOx) ……………………………………………………………. 4

2.2.4. Ozon (O3) ……………………………………………………………………… 4

2.2.5. Hidrokarbon (HC) ............................................................................................................ 5


2.2.6. Khlorin (Cl2) …………………………………………………………………… 5

2.2.7. Partikulat Debu (TSP) ………………………………………………………………... 5

2.2.8. Timah …………………………………………………………………………………. 5

2.3. Dampak Zat Pencemaran Udara ............................................................................................. 5


2.3.1. Dampak kesehatan ......................................................................................................... 5
2.3.2 Dampak terhadap tanaman ............................................................................................. 6
2.3.3 Hujan asam ..................................................................................................................... 6
2.3.4 Efek Rumah Kaca …………………………………………………………………………………………………….. 6

2.3.5 Kerusakan lapisan ozon .................................................................................................. 6


2.4 Teknik Analisis Zat Pencemaran Udara .................................................................................... 7
2.4.1 Metode Sampling ......................................................................................................... 7
2.4.2 Metode Analisa .............................................................................................................. 8
2.4.3 Baku Mutu Udara ........................................................................................................... 8
BAB III. PENUTUP ............................................................................................................................. 10
3.1 kesimpulan ............................................................................................................................. 10
3.2 Saran ..................................................................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………………………………………………………..10

1
BAB I. PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Udara merupakan faktor yang penting dalam kehidupan. Namun pada era modern
ini, sejalan dengan perkembangan pembangunan fisik kota dan pusat-pusat industri, serta
berkembangnya transportasi, kualitas udara pun mengalami perubahan yang disebabkan
oleh terjadinya pencemaran udara. Sumber pencemaran udara yang utama adalah
kendaraan bermotor dan industry. Aktivitas transportasi khususnya kendaraan bermotor
merupakan sumber utama pencemaran udara di daerah perkotaan. Kendaraan bermotor
menghasilkan 85% dari seluruh pencemaran udara yang terjadi. Kendaraan bermotor
merupakan sumber pencemar bergerak yang menghasilkan berbagai polutan seperti
Karbon Monoksida (CO), Hidro Karbon (HC), Oksida Nitrogen (NOx), Oksida Sulfur
(SOx), Timbal (Pb) dan partikulat (Wardhana, 2004).
Akibat aktifitas manusia udara seringkali menurun kualitasnya. Perubahan kualitas
ini dapat berupa perubahan sifat-sifat fisis maupun sifat-sifat kimiawi. Perubahan kimiawi,
dapat berupa pengurangan maupun penambahan salah satu komponen kimia yang
terkandung dalam udara, yang lazim dikenal sebagai pencemaran udara. Kualitas udara
yang dipergunakan untuk kehidupan tergantung dari lingkungannya. Kemungkinan disuatu
tempat dijumpai debu yang bertebaran dimana-mana dan berbahaya bagi kesehatan.
Demikian juga suatu kota yang terpolusi oleh asap kendaraan bermotor atau angkutan
yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan.

I.2 Tujuan penulisan


Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Mengetahui apa itu pencemaran udara
2. Mengetahui apa saja jenis pencemaran udara
3. Mengetahui apa yang menjadi sumber pencemaran udara
4. Mengetahui apa dampak pencemaran udara

I.3 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian diatas, rumusan masalah yang harus dibahas dalam makalah ini
adalah:
1. Apa itu pencemaran udara ?
2. Apa saja jenis pencemaran udara ?
3. Apa yang menjadi sumber pencemaran udara ?
4. Apa dampak pencemaran udara ?

2
BAB II. ISI

2.1 Pencemaran Udara


Udara merupakan campuran beberapa macam gas yang perbandingannya tidak
tetap, tergantung pada keadaan suhu udara, tekanan udara dan lingkungan sekitarnya.
Dalam udara terdapat oksigen (O2) untuk bernafas, karbondioksida untuk proses
fotosintesis oleh khlorofil daun dan ozon (O3) untuk menahan sinar ultra violet. Gas-gas
lain yang terdapat dalam udara antara lain gas-gas mulia, nitrogen oksida, methana,
belerang dioksida, amonia, hidrokarbon dan gas rumah kaca yang sekarang ini menjadi
perhatian besar dunia. Apabila susunan udara mengalami perubahan dari susunan keadaan
normal dan kemudian mengganggu kehidupan manusia, hewan dan binatang serta
tumbuhan, maka berarti udara telah tercemar (Sugiarti,2009). Udara dibedakan menjadi
udara emisi dan udara ambien. Udara emisi yaitu udara yang dikeluarkan oleh sumber
emisi seperti knalpot kendaraan bermotor dan cerobong gas buang industri. Sedangkan
udara ambien adalah udara bebas di permukaan bumi yang sehari-hari dihirup oleh
makhluk hidup (PP No.41 Tahun 1999).
Pencemaran udara atau sering kita dengar dengan istilah polusi udara atau dapat
diartikan sebagai adanya bahan-bahan atau zat-zat asing di dalam udara yang
menyebabkan perubahan susunan atau komposisi udara dari keadaan normalnya.
Pencemaran udara disebabkan oleh berbagai macam zat kimia, baik berdampak langsung
maupun tidak langsung yang semakin lama akan semakin mengganggu kehidupan
manusia, hewan dan tumbuhan. Zat polutan yang mencemari udara berupa gas dan asap.
Gas dan asap tersebut berasal dari hasil proses pembakaran bahan bakar yang tidak
sempurna, yang dihasilkan oleh mesin-mesin pabrik, pembangkit listrik dan kendaraan
bermotor. Selain itu, gas dan asap tersebut merupakan hasil oksidasi dari berbagai unsur
penyusun bahan bakar, yaitu: CO2 (karbondioksida), CO (karbonmonoksida), SOx
(belerang oksida) dan NOx (nitrogen oksida) (Prawiro,1988).
Pencemaran udara pada suatu tingkat tertentu dapat merupakan campuran dari satu
atau lebih bahan pencemar, baik berupa padatan, cairan atau gas yang masuk terdispersi
ke udara dan kemudian menyebar ke lingkungan sekitarnya. Kecepatan penyebaran ini
sudah barang tentu akan tergantung pada keadaan geografi dan meteorologi setempat
(Arya, 1995) . Udara yang benar-benar bersih sesuai harapan kesehatan kita terutama di
kota-kota besar yang banyak industrinya dan padat lalu lintasnya sangat jauh dari harapan
dan tidak akan pernah udara di kota menjadi bersih sebelum konversi bahan bakar fosil
menjadi bahan bakar ramah lingkungan . Udara di kota sudah tercemar sehingga dapat
merusak lingkungan terutama kesehatan manusia yang akibatnya daya dukung
lingkungan juga berkurang sehingga kualitas hidup manusia semakin berkurang, yang
diperparah dengan seiring meningkatnya pencemaran tanah dan air di sekitar kita.

2.1.1 Penyebab Pencemaran Udara


1) Faktor internal (secara alamiah), misalnya:
• debu beterbangan oleh tiupan angin
• abu atau debu dan gas-gas volkanik dari letusan gunung berapi
• proses pembusukan sampah

3
2) Faktor eksternal (karena ulah manusia), misalnya:
• pembakaran bahan bakar fosil
• debu atau serbuk dari kegiatan industri
• pemakaian zat-zat kimia yang disemprotkan ke udara
2.1.2. Sumber Pencemar Udara
• transportasi
• industri
• pembuangan sampah
• pembakaran stasioner, dan lain-lain

2.2 Komponen Pencemar Udara

2.2.1. Karbon Monoksida (CO)


Asap kendaraan merupakan sumber utama bagi karbon monoksida di berbagai
perkotaan. Data mengungkapkan bahwa 60% pencemaran udara di Jakarta disebabkan
karena benda bergerak atau transportasi umum yang berbahan bakar solar terutama
berasal dari Metromini. Formasi CO merupakan fungsi dari rasio kebutuhan udara dan
bahan bakar dalam proses pembakaran di dalam ruang bakar mesin diesel. Percampuran
yang baik antara udara dan bahan bakar terutama yang terjadi pada mesin-mesin yang
menggunakan Turbocharge merupakan salah satu strategi untuk meminimalkan emisi CO.
Karbon monoksida yang meningkat di berbagai perkotaan dapat mengakibatkan turunnya
berat janin dan meningkatkan jumlah kematian bayi serta kerusakan otak. Karena itu
strategi penurunan kadar karbon monoksida akan tergantung pada pengendalian emisi
seperti pengggunaan bahan katalis yang mengubah bahan karbon monoksida menjadi
karbon dioksida dan penggunaan bahan bakar terbarukan yang rendah polusi bagi
kendaraan bermotor.
2.2.2. Nitrogen Dioksida (NOx)

Nitrogen okside (NOX) adalah kelompok gas yang terdapat di atmosfer yang terdiri
dari gas nitrik (NO) dan nitrogen diokside (NO2).NO2 bersifat racun terutama terhadap
paru. Kadar NO2 yang lebih tinggi dari 100 ppm dapat mematikan sebagian besar
binatang percobaan dan 90% dari kematian tersebut disebabkan oleh gejala
pembengkakan paru (edema pulmonari). Kadar NO2 sebesar 800 ppm akan
mengakibatkan 100% kematian pada binatang-binatang yang diuji dalam waktu 29 menit
atau kurang. Percobaan dengan pemakaian NO2 dengan kadar 5 ppm selama 10 menit
terhadap manusia mengakibatkan kesulitan dalam bernafas.
2.2.3. Sulfur Oksida (SOx)

Pencemaran oleh sulfur oksida terutama disebabkan oleh dua komponen sulfur
bentuk gas yang tidak berwarna, yaitu sulfur dioksida (SO2) dan Sulfur trioksida (SO3),
yang keduanya disebut sulfur oksida (SOx). Pengaruh utama polutan SOx terhadap
manusia adalah iritasi sistem pernafasan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa iritasi
tenggorokan terjadi pada kadar SO2 sebesar 5 ppm atau lebih, bahkan pada beberapa
individu yang sensitif iritasi terjadi pada kadar 1-2 ppm. SO2 dianggap pencemar yang
berbahaya bagi kesehatan terutama terhadap orang tua dan penderita yang mengalami
penyakit khronis pada sistem pernafasan kadiovaskular.
2.2.4. Ozon (O3)

4
Ozon merupakan salah satu zat pengoksidasi yang sangat kuat setelah fluor,
oksigen dan oksigen fluorida (OF2). Meskipun di alam terdapat dalam jumlah kecil tetapi
lapisan ozon sangat berguna untuk melindungi bumi dari radiasi ultraviolet (UV-B). Ozon
terbentuk di udara pada ketinggian 30km dimana radiasi UV matahari dengan panjang
gelombang 242 nm secara perlahan memecah molekul oksigen (O2) menjadi atom
oksigen, tergantung dari jumlah molekul O2 atom-atom oksigen secara cepat membentuk
ozon. Ozon menyerap radiasi sinar matahari dengan kuat di daerah panjang gelombang
240-320 nm.

2.2.5. Hidrokarbon (HC)


Hidrokarbon di udara akan bereaksi dengan bahan-bahan lain dan akan membentuk
ikatan baru yang disebut plycyclic aromatic hidrocarbon (PAH) yang banyak dijumpai di
daerah industri dan padat lalu lintas. Bila PAH ini masuk dalam paru-paru akan
menimbulkan luka dan merangsang terbentuknya sel-sel kanker.
2.2.6. Khlorin (Cl2)

Gas Khlorin ( Cl2) adalah gas berwarna hijau dengan bau sangat menyengat. Berat
jenis gas khlorin 2,47 kali berat udara dan 20 kali berat gas hidrogen khlorida yang
toksik. Gas khlorin sangat terkenal sebagai gas beracun yang digunakan pada perang
dunia ke-1.Selain bau yang menyengat gas khlorin dapat menyebabkan iritasi pada mata
saluran pernafasan. Apabila gas khlorin masuk dalam jaringan paru-paru dan bereaksi
dengan ion hidrogen akan dapat membentuk asam khlorida yang bersifat sangat korosif
dan menyebabkan iritasi dan peradangan. Gas khlorin juga dapat mengalami proses
oksidasi dan membebaskan oksigen seperti pada proses yang terjadi di bawah ini.
2.2.7. Partikulat Debu (TSP)

Pada umumnya ukuran partikulat debu sekitar 5 mikron merupakan partikulat


udara yang dapat langsung masuk ke dalam paru-paru dan mengendap di alveoli.
Keadaan ini bukan berarti bahwa ukuran partikulat yang lebih besar dari 5 mikron tidak
berbahaya, karena partikulat yang lebih besar dapat mengganggu saluran pernafasan
bagian atas dan menyebabkan iritasi.
2.2.8. Timah

Logam berwarna kelabu keperakan yang amat beracun dalam setiap bentuknya ini
merupakan ancaman yang amat berbahaya bagi anak di bawah usia 6 tahun, yang
biasanya mereka telan dalam bentuk serpihan cat pada dinding rumah. Logam berat ini
merusak kecerdasan, menghambat pertumbuhan, mengurangi kemampuan untuk
mendengar dan memahami bahasa, dan menghilangkan konsentrasi. Zat-zat ini mulai dari
asbes dan logam berat (seperti kadmium, arsenik, mangan, nikel dan zink).

2.3. Dampak Zat Pencemaran Udara

2.3.1. Dampak kesehatan


Substansi pencemar yang terdapat di udara dapat masuk ke dalam tubuh melalui
sistem pernafasan. Jauhnya penetrasi zat pencemar ke dalam tubuh bergantung kepada
jenis pencemar. Partikulat berukuran besar dapat tertahan di saluran pernapasan bagian
atas, sedangkan partikulat berukuran kecil dan gas dapat mencapai paru-paru. Dari paru-
paru, zat pencemar diserap oleh sistem peredaran darah Dampak kesehatan yang paling

5
umum dijumpai adalah ISPA(infeksi saluran pernapasan akut), termasuk di antaranya,
asma, bronkitis, dan gangguan pernapasan lainnya.

2.3.2 Dampak terhadap tanaman


Tanaman yang tumbuh di daerah dengan tingkat pencemaran udara tinggi dapat
terganggu pertumbuhannya dan rawan penyakit, antara lain klorosis, nekrosis,bintik hitam.
Partikulat yang terdeposisi di permukaan tanaman dapat menghambat proses
fotosintesis,Merusak estetikA, Mengganggu kenyamanan,Merusak gedung, kantor, dan
perumahan.

2.3.3 Hujan asam


PH normal air hujan adalah 5,6 karena adanya CO2 di atmosfer. Pencemar udara
seperti SO2 dan NO2 bereaksi dengan air hujan membentuk asam dan menurunkan pH air
hujan. Dampak dari hujan asam ini antara lain yaitu mempengaruhi kualitas air
permukaan, merusak tanaman, dan melarutkan logam-logam berat yang terdapat dalam
tanah sehingga mempengaruhi kualitas air tanah dan air permukaan.
2.3.4 Efek rumah kaca
Efek rumah kaca disebabkan oleh keberadaan CO2, CFC, metana, ozon, dan N2O
di lapisan udara kita, sebenarnya zat-zat ini ada di lapisan udara menguntungkan, yaitu
untuk menghalagi pemantulan panas dari bumi ke luar angkasa, karena panas terhalangi
maka udara di bumi siangnya tidak terlalu panas dan malam nya tidak terlalu dingin,
menguntungkan jika keberadaannya di udara dengan jumlah sedikit, tapi fakta nya hari ini
jumlah CO2,CFC,N2O di udara sangat banyak dikarenakan gaya hidup manusia di dunia
serba canggih daan serba menggunakan bahan bakar minyak, karena jumlahnya yang
begitu banyak maka jumlah energi matahari yang masuk ke bumi hanya sedikit yang di
pantulkan kembali ke luar angkasa akibatnya suhu bumi naik, kalu kita analogikan jumlah
sinar matahari yang masuk 100 maka yang di pantulkan cuma 30, 70 nya lagi tetap berada
di bumi. suhu bumi yang naik ini lah yang di sebut dengan fenomen global warming
(pemanasan global) Dampak dari pemanasan global adalah:

 Pencairan es di kutub
 Naiknya permukaan air laut
 Perubahan iklim regional dan global
 Perubahan siklus hidup flora dan fauna
 Tenggelamnya kota-kota di tepi laut

2.3.5 Kerusakan lapisan ozon


Lapisan ozon yang berada di stratosfer (ketinggian 20-35 km) merupakan
pelindung alami bumi yang berfungsi memfilter radiasi ultra violet B dari matahari.
Pembentukan dan penguraian molekul-molekul ozon (O3) terjadi secara alami di stratosfer.
Emisi CFC yang mencapai stratosfer dan bersifat sangat stabil menyebabkan laju
penguraian molekul-molekul ozon lebih cepat dari pembentukannya, sehingga terbentuk
lubang-lubang pada lapisan ozon.Kerusakan lapisan ozon menyebabkan sinar UV-B
matahri tidak terfilter dan dapat mengakibatkan kanker kulit serta penyakit pada tanaman.

6
2.4 Teknik Analisis Zat Pencemaran Udara

2.4.1 Metode Sampling


Metode yang lebih murah adalah pengukuran secara manual /konvensional
dengan teknik pengambilan sampel dan analisis menggunakan metode yang standar, yang
telah diketahui tingkat presisi dan akurasi. Beberapa hal yang men-dasar mengenai
karateristik zat pencemar, teknik sampling, metode analisis dan kalibrasinya. Semua itu
sangat diperlukan bagi operator yang akan melakukan pen-gukuran kualitas udara ,
khususnya udara ambien. Inti dari pengukuran udara adalah untuk mengetahui konsentrasi
zat pencemar yang ada di dalam udara tersebut. Perlu diketahui bahwa konsentrasi zat
pencemar di udara ambien sangat dipengaruhi oleh (Lodge,1989) :
a. Sumber emisi ( alamiah dan anthropogenik)
b. Faktor meteorologi (temperatur, tekanan, kelembaban, intensitas matahari, curah
hujan, mixing height , arah dan kecepatan angin )
c. Faktor topografik
Karena intensitas sumber emisi dan faktor meteorologis ( khususnya arah dan
kecepatan angin) selalu berubah, maka dengan demikian konsentrasi zat pencemar di
udara ambien juga selalu berubah (tidak konstan). Perubahan konsen-trasi zat pencemar di
udara ambien terjadi karena perubahan waktu (temporal) dan juga terjadi karena
perubahan tempat (spatial ).
Berdasarkan proses pembentukannnya, zat pencemar di udara ambien dapat
dibedakan di zat pencemar primer dan zat pencemar sekunder. Zat pence-mar primer dapat
didefinisikan sebagai zat pencemar yang terbentuk di sumber emisinya (SOx, NOx),
sedangkan zat pencemar sekunder merupakan zat pencemar yang terbentuk di atmosfer,
yang merupakan produk dari reaksi kimia beberapa zat pencemar (seperti senyawa oksidan
dan ozon). Sedangkan berdasarkan fasanya, zat pencemar di udara dibedakan atas zat
pencemar berupa aerosol, atau partikulat (debu) dan zat pencemar berupa gas-gas mulia,
nitrogen oksida, hidrogen, methana, belerang dioksida, amonia ,ozon, dan lain-lain.
Apabila susunan udara mengalami perubahan dari susunan keadaan normal seperti tersebut
diatas dan kemudian mengganggu kehidupan manusia, he-wan dan binatang, maka udara
telah tercemar.
Dalam pengukuran kualitas udara dengan menggunakan metode dan peralatan yang
manual dan metode konvensional, maka tahap pertama adalah dilakukan sampling yang
dilanjutkan dengan analisa di laboratorium. Untuk pengumpulan de-bu biasanya
digunakan teknik filtrasi dimana debu di tahan pada permukaan filter dengan porositas
tertentu, sedangkan untuk mengumpulkan gas dari udara ambien diperlukan suatu teknik
pengumpulan tertentu . Teknik pengumpulan gas yang umum digunakan untuk
menangkap gas pencemar di udara ambien adalah teknik absorpsi, adsorpsi, pendinginan
dan pengumpulan pada kantong udara (bag sampler atau tube sampler). Pengertian
sampling disini adalah pengambilan suatu contoh udara pada tempat-tempat terten-tu,
dimana diharapkan konsentrasi zat pencemar yang didapat dari hasil penguku-ran dapat
mewakili konsentrasi contoh secara keseluruhan. Dalam melakukan sampling udara ini,
ada beberapa faktor yang menen-tukan hasil analisisnya, diantaranya :
 Arah angin
 Kecepatan angin (m/s)
 Waktu dan lama pengambilan contoh (jam)
 Tekanan udara (mmHg)
7
 Temperatur udara (oC)
 Kelembapan udara (%)
 Pola terdifusinya zat pencemar
Dalam melakukan sampling kualitas udara ketujuh hal diatas haruslah di-catat saat
pelaporan kualitas udara sebagai faktor yang mempengaruhi kualitas udara. Termasuk
juga, dekat atau jauhnya industri dari lokasi sampling, jarak dan ramainya kendraan
bermotor serta aktivitas penduduk.

2.4.2 Metode Analisa


a. Metode Analisa Zat Pencemar NOx
Metode Griess-Saltman-Spectrofotometri, NO2 di udara direaksikan dengan
pereaksi Griess Saltman (absorbent) membentuk senyawa yang berwarna ungu. Intensitas
warna yang terjadi diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 520 nm.
Absorber untuk penangkapan NO2 adalah absorber dengan desain khusus dan porositas
frittednya berukuran 60 μm. Untuk pengukuran NO, sample gas harus dilewatkan ke
dalam oxidator terlebih dahulu ( seperti KMnO4, Cr2O3) . Metode chemiluminescence
dilakukan dengan cara gas NO diudara direaksikan dengan gas ozon membentuk nitrogen
di-oksida tereksitasi. NO2 yang tereksitasi akan kembali pada posisi ground state dengan
melepaskan energi berupa cahaya pada panjang gelombang 600 - 875 nm. Intensitas
cahaya yang diemisikan diukur dengan photomulltifier , Intensitas yang dihasilkan
sebanding dengan konsentrasi NO di udara. Sedangkan gas NO2 sebelum direaksikan
dengan gas ozon terlebih dahulu direduksi dengan katalitik konventor
b. Metode Analisa Zat Pencemar (SOx)
Metode yang digunakan untuk pengujian kadar SO2 di udara memakai metode
pararosaniline-spectrofotometri. SO2 di udara diserap/diabsoprsi oleh larutan kalium tetra
kloromercurate (absorbent) dengan laju flowrate 1 liter/menit. SO2 bereaksi dengan kalium
tetra kloromercurate membentuk komplek diklorosulfitomercurate . Dengan penambahan
pararosaniline dan formaldehide akan membentuk senyawa pararosaniline metil sulfonat
yang berwarna ungu kemerahan. Intensitas warna diukur dengan spectrofotometer pada
panjang gelombang 560 nm. Prinsip dasar pengukuran gas SO2 dengan sinar ultra violet
adalah ber-dasarkan kemampuan molekul SO2 berinteraksi dengan cahaya pada pan-jang
gelombang 190 –230 nm, menyebabkan elektron terluar dari molekul gas SO2 akan
tereksitasi pada tingkat energi yang lebih tinggi (excited state). Elektron pada posisi
tereksitasi akan kembali ke posisi ground state dengan melepaskan energi dalam bentuk
panjang gelombang tertentu . Dengan mengukur intensitas cahaya tersebut maka dapat
ditentukan kon-sentrasi gas SO2. Metode ini praktis mudah dioperasikan, stabil dan akurat,
metode ini metode yang dipakai untuk alat pemantauan kualitas udara scara automatik dan
kontinyu. Perlu diketahui bahwa ketelitian dan keaku-ratan metode ini, sangat dipengarhui
oleh sistem kalibrasi alat tersebut . Pada gambar,- 4.5, diperlihatkan skema alat SO2
analyzer.

2.4.3 Baku Mutu Udara


Baku mutu udara merupakan ukuran ketentuan kualitas udara terhadap suatu zat
yang diperbolehkan terkandung dalam udara. Baku mutu udara terbagi menjadi dua yaitu :
 Baku Mutu Primer
Untuk melindungi pada batas keamanan yang mencukupi (adequate margin
safety) kesehatan masyarakat dimana secara umum ditetapkan untuk
8
melindungi sebagian masyarakat (15-20%) yang rentan terhadap pencemaran
udara.
 Baku Mutu Sekunder
Untuk melindungi kesejahteraan masyarakat (material, tumbuhan, hewan, dll)
dari setiap efek negatif pencemaran udara yang telah diketahui atau yang dapat
diantisipasi
Kualitas Udara adalah pencerminan dari konsentrasi parameter kualitas udara yang
ada di dalam udara.
 Semakin besar konsentrasi parameter kualitas udara, maka kualitas udara
semakin Jelek
 Semakin kecil konsentrasi parameter kualitas udara, maka kualitas udara
semakin baik
Kualitas udara terbagi menjadi dua, yaitu kualitas udara emisi dan kualitas udara ambien.
 Kualitas Udara Emisi
Merupakan kualitas udara yang diukur secara langsung dari sumber emisi
(cerobong pabrik, knalpot kendaraan bermotor). Emisi udara merupakan sisa-sisa dari
hasil pembakaran bahan bakar. Kualitas emisi udara terbagi menjadi dua yaitu kualitas
udara emisi diam dan kualitas udara emisi ambien. Kualitas udara emisi diam, apabila
emisi bersumber dari emisi sumber diam (cerobong pabrik). Kualitas udara emisi bergerak,
apabila emisi bersumber dari emisi sumber bergerak (knalpot kendaraan bermotor).

 Kualitas Udara Ambien


Merupakan kualitas udara yang diukur di udara bebas (permukiman).

Berdasarkan baku mutu kualitas udara ambien ditentukan baku mutu emisi,
berdasarkan antisipasi bahwa dengan emisi cemaran dibawah baku mutu dan adanya
proses transportasi, konversi dan penghilangan cemaran maka kualitas udara ambien tidak
akan melampaui baku mutunya. Berikut contoh baku mutu emisi untuk pembangkit daya
uap dengan bahan bakar batu bara :

9
BAB III. PENUTUP

3.1 kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa :
1. Pencemaran udarah adalah masuknya, atau tercampurnya unsur-unsur berbahaya
kedalam atmosfir yang dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan,
gangguan pada kesehatam manusia secara umum menurunkan kualitas lingkungan
2. Jenis-jenis pencemaran udara menurut bentuk : gas, pertikel. Menurut tempat : ruangan
(indoor), udara bebas (outdoor). Gangguan kesehatan : Iritansia, asfiksia, anetesia,
toksis. Menurut asal : primer, sekunder
3. Sumber pencemaran udara yaitu: kegiatan manusia, sumber alami, kebocoran
tangki klor, dan lain-lain
4. Pencemran udara dapat membahayakan kesehatan manusia, kesehatan tanaman, dapat
menyebabkan hujan asam, efek ruma kaca, kerusakan lapisan ozon, dan sebagainya.

3.2 Saran
Untuk mencegah terjadinya pencemaran udara yang lebih lanjut hendaknya kita
semua ikut menjaga kebersihan udara dan meminimalkan pencemaran udara, misalnya
tidak memakai kendaraan bermotor yang mengeluarkan banyak asap, tidak membuang
gas yang berbahaya secara sembarangan terutama bagi kegiatan industri, dan lain
sebagainya agar kebersihan udara tetap terjaga.

10
DAFTAR PUSTAKA
Arya W.W,. 1995. Dampak Pencemaran Lingkungan, Andi., Yogyakarta
Lodge, J. P., 1989. “ Methods of Air Sampling and Analysis “ Third Edition, Lewis
Publisher Inc., Michigan
Prawiro, H. 1988. “Ekologi Pencemaran Lingkungan”. Satya Wacana., Semarang.
Sugiarti. 2009. “Gas Pencemar Udara dan Pengaruhnya Bagi Kesehatan Manusia Air”.
Jurnal Chemica. Vol. 10., Nomor 1.
Wardhana, W.A. 2004. “Dampak Pencemaran Lingkungan” cetakan keempat. Andi .,
Yogyakarta

11