Vous êtes sur la page 1sur 28

WALK THROUGH SURVEY DI PERUSAHAAN

PT. INDOFOOD CBP SUKSES MAKMUR CIBITUNG TBK


TANGGAL 23 NOVEMBER 2017

KELOMPOK 1

HYGIENE INDUSTRI

Giovani Gilbiyanto Petricia

Pieter Johny tiono Liana Herdita

Derry Setiawan Jennifer Annastasia

Stevany Minsanita

PELATIHAN HIPERKES DAN KESELAMATAN KERJA

KEMENTERIAN TENAGA KERJA RI.

PERIODE 20 - 25 NOVEMBER 2017

JAKARTA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Dewasa ini, pembangunan nasional berkembang seiring dengan berjalannya


perkembangan industri yang ditandai dengan moderenisasi pada mekanisme produksi. Yakni,
terjadi peningkatan penggunaan mesin-mesin, pesawat-pesawat, dan teknologi tinggi lainnya,
serta bahan berbahaya. Namun, kemudahan dalam proses produksi dapat pula meningkatkan
jumlah dan jenis bahaya di tempat kerja. Selain itu, tercipta lingkungan kerja yang kurang
memenuhi syarat, proses dan sifat pekerjaan yang berbahaya. Masalah tersebut akan sangat
mempengaruhi dan mendorong peningkatan jumlah maupun tingkat kecelakaan kerja.
Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam sebuah perusahaan menjadi
sebuah keharusan guna meminimalisir kejadian kecelakaan kerja. Pada hakikatnya, faktor K3
berpengaruh terhadap efisiensi produksi dari suatu perusahaan industri sehingga dapat
mempengaruhi tingkat pencapaian produktivitasnya. Karena pada dasarnya tujuan K3 adalah
melindungi para tenaga kerja atas hak keselamatannya dalam melakukan pekerjaan dan untuk
menciptakan tenaga kerja yang sehat dan produktif. Kebijakan terkait penerapan Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) melibatkan unsur manajemen, tenaga
kerja, dan kondisi lingkungan kerja yang terintegrasi dalam rangka mencegah, mengurangi
kecelakaan dan penyakit akibat kerja, serta terciptanya lingkungan kerja yang aman, efisien,
dan produktif. Salah satu caranya adalah menciptakan perusahaan yang higiene agar
lingkungan kerja menjadi aman, nyaman, dan sehat.
Higiene perusahaan adalah suatu upaya pemeliharaan lingkungan kerja (fisik, kimia,
radiasi dan sebagainya) dan lingkungan perusahaan.Upaya ini terutama dilakukan dalam hal
pengamatan, pengumpulan data, merencanakan, dan melaksanakan pengawasan terhadap
segala kemungkinan gangguan kesehatan tenaga kerja dan masyarakat di sekitar perusahaan.
Dengan demikian, sasaran kegiatan perusahaan adalah lingkungan kerja dan lingkungan
perusahaan. Penyehatan lingkungan kerja dan perusahaan merupakan upaya pencegahan
timbulnya penyakit akibat kerja dan pencemaran lingkungan proses produksi perusahaan.
Sedangkan menurut Sumakmur, higiene perusahaan adalah spesialisasi dalam ilmu higiene
beserta praktiknya dengan mengadakan penilaian kepada faktor-faktor penyebab penyakit
kualitatif dan kuantitatif dalam lingkungan kerja dan perusahaan melalui pengukuran yang

1
hasilnya dipergunakan untuk dasar tindakan korektif kepada lingkungan tersebut, serta apabila
diperlukan berupa tindakan pencegahan agar pekerja dan masyarakat sekitar perusahaan
terhindar dari bahaya akibat kerja, serta diharapkan dapat mencapai derajat kesehatan yang
setinggi-tingginya.
Setiap perusahaan diharapkan mampu menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan
dan Kesehatan dan Kerja (SMK3) dalam perusahaannya masing-masing, di mana sistem
tersebut menjadi suatu siklus yang tidak terputus dan berkesinambungan. SMK3 dimulai
dengan penerapan K3, evaluasi dan peninjauan ulang hingga pada akhirnya peningkatan
berkelanjutan. Salah satu tahapan yang paling penting dari siklus tersebut adalah penentuan
hazard (potensi bahaya) yang terdapat pada perusahaan dan dapat menjadi faktor risiko bagi
tenaga kerja, baik itu dari faktor fisik, kimia maupun biologi.
Melihat pentingnya penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan dan
Kerja (SMK3) dan higiene perusahaan sebagai bentuk upaya pencegahan timbulnya penyakit
akibat kerja dan pencemaran lingkungan akibat proses produksi perusahaan, maka pada hari
Kamis, 23 November 2017 telah dilakukan kunjungan ke sebuah perusahaan yang terletak di
daerah Cibitung, yaitu PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. Kunjungan perusahaan bagi
tim penyusun ini lebih difokuskan untuk:
1. Mengetahui pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja di PT.
Indofood CBP Sukses Makmur Tbk
2. Mengidentifikasi potensi bahaya faktor fisik, kima, dan biologis di PT. Indofood CBP
Sukses Makmur Tbk
3. Mengetahui pengelolaan limbah industri di PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk
Selanjutnya, dilakukan analisis masalah terhadap data-data yang diperoleh di lapangan dan
kemudian dilakukan upaya alternatif pemecahan masalah yang ada di PT. Indofood CBP
Sukses Makmur Tbk. Diharapkan alternatif pemecahan masalah yang ditawarkan dalam proses
tersebut dapat diterapkan kepada seluruh karyawan yang terlibat sehingga dapat mengurangi
potensi adanya kecelakaan dan penyakit akibat kerja guna memaksimalkan kinerja para
karyawan.

1.2 DASAR HUKUM

1. UU No. 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja


2. UU No. 3 Tahun 1969 tentang persetujuan konvensi organisasi perburuhan
international No. 120 mengenai higine dalam perniagaan dan kantor-kantor

2
3. Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No. Kep. 187/MEN/1999 tentang Bahan Kimia
Berbahaya.
4. Permenakertrans No. 13/MEN/X/2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan
Faktor Kimia di Tempat Kerja.
5. Peraturan Menteri Perburuhan No. 7 Tahun 1964 tentang syarat kesehatan dan
kebersihan serta penerangan dalam tempat kerja.
6. Undang-Undang No.13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan pada pasal 86 dimana
dikatakan bahwa pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas
keselamatan dan kesehatan kerja.
7. UUD 1945 pasal 27 ayat 2 tentang tiap-tiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan
penghidupan yang layak bagi kemanusiaan
8. UU No. 13 Tahun 2003 pasal 86 tentang hak setiap buruh atau pekerja untuk
memperoleh perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja.
9. UU No. 13 Tahun 2003 pasal 87 tentang setiap perusahaan wajib menerapkan sistem
manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang terintegrasi dengan sistem
manajemen perusahaan.
10. PP No. 50 Tahun 2012 tentang penerapan SMK3

1.3 PROFIL PERUSAHAAN


1. Nama Perusahaan: PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk.
2. Alamat: Jl. Kampung jarakosta No. 1 Rt/Rw 005/002 Sukadanau Cikarang barat Bekasi
Jawa Barat 17520, Indonesia Phone : 62-21-8901166.
3. Sejarah dan Perkembangan: PT. ISM berdiri dengan nama PT. Sanmaru Food
Manufacturing CO. Ltd., yang secara yuridis berdiri pada tanggal 27 April 1970. Pabrik
pertama yang berdiri berkedudukan di Jakarta, sedangkan PT. Sanmaru Food
Manufacturing Co. Ltd., Cabang Semarang berdiri pada tanggal 31 Oktober 1987 yang
diresmikan oleh Menteri Perindustrian Ir. Hartarto dan Menaker Soedomo. Pada tanggal
01 Maret 1994 PT. Sanmaru Food Manufacturing Co. Ltd., bersama dengan perusahaan-
perusahaan lainnya bergabung menjadi satu perusahaan dengan nama PT. ISM. Visi dari
PT. ISM yaitu “ Menjadi Penyedia Utama Makanan Consumen Produk Bermerek
Terkemuka Bagi Jutaan Konsumen Indonesia dan Juga di Berbagai Penjuru Dunia”.
Sedangkan misi PT. ISM yaitu “ Mengembangkan Jaringan Distribusi Diseluruh
Indonesia, Menghasilkan Produk yang Memberikan Nilai Tambah Bagi Para
Konsumennya, Menjalankan Praktek Bisnis yang Sehat Tanpa Harus Mengabaikan

3
Kebutuhan Konsumen dan Lingkungan”. PT. ISM merupakan salah satu cabang dari
group Indofood Divisi Noodle. Cabang-cabang lainnya berada di Medan, Pekan Baru,
Palembang,Lampung,Jakarta, Tangerang, Cibitung, Bandung, Surabaya, Pontianak,
Banjar Masin, Makasar dan Manado. Selain di dalam negeri Divisi Noodle juga memiliki
pabrik di Filipina, Cina, Nigeria, Saudi Arabia, Siria dan Malaysia. PT. ISM terletak di
Jl. Kampung jarakosta No. 1 Rt/Rw 005/002 Sukadanau Cikarang barat Bekasi Jawa
Barat
Karyawan di PT. ISM berjumlah + 2817 orang (dapat berubah by month berdasarkan turn
over karyawan). Waktu kerja pada umumnya adalah 6 hari seminggu dengan jumlah jam
kerja 8 (delapan) jam sehari dan dilakukan dalam dinas normal ataupun bergilir (shift).
Bagi pekerja kantor atau pabrik atau bagian yang bekerja atas dasar 5 hari kerja seminggu
maka tiap harinya bekerja selama 8 jam.
4. Jumlah Karyawan: Total karyawan di PT. ISM adalah 2817 orang.
5. Jam Kerja Karyawan:
 Factory:
- Shift I : 08.00 – 16.00
- Shift II : 16.00 - 24.00
- Shift III: 24.00 – 08.00
 Office : 08.00 - 16.30
6. Jaminan Asuransi Kesehatan: BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan serta
pelayanan kesehatan mandiri.
7. SMK3L di PT. ISM: P2K3 yang berada dibawah departemen personalia karena
perusahaan merasa sudah cukup dengan pembentukan P2K3. Sudah dibentuk SHE
(savety healt environment).

4
1.4 ALUR PRODUKSI

RAW MATERIAL
WHEAT FLOUR MINERAL SALT WATER

ALKALI BLENDING

MIXING WHEAT FLOUR AND ALKALI

PRESSING, SLITTING, WAVING

STEAMING

CUTTING & FOLDING

FRYING OR DRYING

COOLING

PACKING

FINISH GOOD
1.5 LANDASAN TEORI
A. Hygiene Industri
Hygiene adalah suatu ilmu kesehatan yang mengajarkan tata cara untuk
mempertahankan kesehatan jasmani, rohani, dan sosial untuk mencapai tingkat
kesejahteraan yang lebih tinggi, serta sebagai suatu usaha pencegahan penyakit yang
menitikberatkan pada usaha kesehatan perseorangan atau manusia beserta
lingkungannya.

5
B. Faktor Yang Mempengaruhi Kesehatan Kerja
Beberapa faktor mempengaruhi kesehatan kerja daripada tenaga kerja antara lain faktor
fisik, faktor biologis, faktor kimia, sanitasi industri, dan pengolahan limbah.
Faktor Fisik
1) Bising:
Kebisingan diartikan sebagai suara yang tidak dikehendaki, misalnya yang
merintangi terdengarnya suara-suara, musik dan sebagainya atau yang
menyebabkan rasa sakit atau yang menghalangi gaya hidup.
 Jenis kebisingan:
- Kebisingan terus-menerus: dihasilkan oleh mesin-mesin yang berputar;
- Kebisingan terputus-putus: seperti suara pesawat terbang di udara;
- Kebisingan menghentak: seperti suara dentuman meriam, bom meledak.
 Akibat kebisingan:

Tipe Uraian
Perubahan ambang batas sementara
Kehilangan
akibat kebisingan, perubahan ambang
pendengaran
Akibat batas permanen akibat kebisingan
lahiriah Rasa tidak nyaman atau stress meningkat,
Akibat fisiologis tekanan darah meningkat, sakit kepala,
bunyi dering
Gangguan
Kejengkelan, kebingungan
emosional
Gangguan tidur atau istirahat, hilang
Gangguan
Akibat konsentrasi waktu bekerja, membaca dan
gaya hidup
psikologis sebagainya.
Merintangi kemampuan mendengarkan
Gangguan
TV, radio, percakapan, telpon dan
pendengaran
sebagainya.

Kebisingan yang dapat diterima oleh tanaga kerja tanpa mengakibatkan


penyakit atau gangguan kesehatan dalam pekerjaan sehari-hari untuk waktu
tidak melebihi 8 jam sehari atau 40 jam seminggu, yaitu 85 dB (A)
(Permenakertrans No. 13/MEN/X/2011). Agar kebisingan tidak mengganggu
kesehatan atau membahayakan, perlu diambil tindakan seperti penggunaan
peredam pada sumber bising, penyekatan, pemindahan, pemeliharaan,
penanaman pohon, pembuatan bukit buatan ataupun pengaturan tata letak

6
ruang dan penggunaan alat pelindung diri sehingga kebisingan tidak
mengganggu kesehatan atau membahayakan.

2) Getaran:
Yang dimaksud dengan getaran adalah gerakan yang teratur dari benda atau media
dengan arah bolak-balik dari kedudukan keseimbangan. Getaran terjadi saat mesin
atau alat dijalankan dengan motor sehingga pengaruhnya bersifat mekanis.
 Jenis getaran:
- Getaran seluruh tubuh, mempunyai frekuensi 1-80 Hz;
- Vibrasi segmental, dapat memapari tubuh pekerja seperti lengan dan tangan.
Getaran ini mempunyai frekuensi 5 – 1500 Hz.

3) Iklim dan Suhu:


Seorang tenaga kerja akan mampu bekerja secara efisien dan produktif bila
lingkungan tempat kerjanya nyaman. Suhu nyaman bagi orang Indonesia adalah
24°C-26°C. Bila iklim kerja panas dapat menimbulkan ketidaknyamanan dalam
bekerja dan gangguan kesehatan.

4) Pencahayaan:
 Sifat-sifat pencahayaan yang baik:
- Pembagian iluminasi pada lapangan penglihatan;
- Pencegahan kesilauan;
- Arah sinar;
- Warna;
- Panas penerangan terhadap keadaan lingkungan.
 Pengaruh pencahayaan yang kurang terhadap penglihatan:
- Iritasi, mata berair dan mata merah
- Penglihatan rangkap
- Sakit kepala
- Ketajaman penglihatan menurun, begitu juga sensitifitas terhadap kontras
warna juga kecepatan pandangan
- Akomodasi dan konvergensi menurun

7
 Intensitas cahaya di ruang kerja adalah sebagai berikut.
Tingkat
Jenis
pencahayaan Keterangan
Kegiatan
minimal (Lux)
Ruang penyimpanan dan ruang
Pekerjaan
peralatan/instalasi yang
kasar & tidak 100
memerlukan pekerjaan yang
terus-menerus
kontinyu
Pekerjaan
Pekerjaan dengan mesin dan
kasar dan 200
perakitan kasar
terus-menerus
Pekerjaan kantor/administrasi,
Pekerjaan rutin 300 ruang kontrol dan pekerjaan mesin
dan perakitan atau penyusun
Pembuatan gambar atau bekerja
Pekerjaan agak dengan mesin kantor pekerja
500
halus pemeriksaan atau pekerjaan dengan
mesin
Pemilihan warna, pemrosesan,
Pekerjaan
1000 tekstil, pekerjaan mesin halus dan
halus
perakitan halus
1500
Mengukir dengan tangan, pekerjaan
Pekerjaan amat (tidak
mesin dan perakitan yang sangat
halus menimbulkan
halus
bayangan)
3000
Pekerjaan (tidak Pemeriksaan pekerjaan, perakitan
detail menimbulkan sangat halus
bayangan)

 Beberapa hal yang dapat menurunkan intensitas penerangan:


- Adanya debu atau kotoran pada bola lampu;
- Bola lampu yang sudah lama;
- Kotornya kaca jendela, untuk penerangan alami;
- Perubahan letak barang-barang.

Faktor Biologis
Dasar hukum faktor biologis yang mempengaruhi lingkungan kerja adalah Kepres No.
22/1993 tentang penyakit yang timbul karena hubungan kerja (point) penyakit infeksi
yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau parasit yang didapat dalam suatu pekerjaan
yang memiliki resiko kontaminan khusus.

8
Biological hazard adalah semua bentuk kehidupan atau mahkluk hidup dan produknya
yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan. Faktor biologis dapat
dikategorikan menjadi:
1. Mikroorganisme dan toksinnya (virus, bakteri, fungi, dan produknya);
2. Arthopoda (crustacea, arachmid, insect);
3. Alergen dan toksin tumbuhan tingkat tinggi (dermatitis kontak, rhinitis, asma);
4. Protein alergen dari tumbuhan tingkat rendah (lichen, liverwort, fern) dan hewan
invertebrata (protozoa, ascaris).
 Faktor biologis dapat masuk ke dalam tubuh dengan cara:
1. Inhalasi/ pernafasan (udara terhirup)
2. Ingesti/ saluran pencernaan
3. Kontak dengan kulit
4. Kontak dengan mata, hidung, mulut.
 Faktor biologi dan juga bahaya-bahaya lainnya di tempat kerja dapat dihindari
dengan pencegahan antara lain dengan:
1. Administrasi kontrol seperti administrasi kesehatan awal karyawan baru,
pemeriksaaan kesehatan secara berkala bagi karyawan lama;
2. Dilarang makan dan minum di area produksi;
3. Menjaga kebersihan kebersihan perseorangan/individu;
4. Penggunaan masker yang baik untuk pekerja yang berisiko tertular lewat debu
yang mengandung organisme patogen dengan cara menutupi hidung dan mulut
dengan tujuan untuk menghindari debu respirabel (< 10 mikrometer);
5. Menggunakan sarung tangan yang menutupi sampai siku saat menuangkan
bahan baku;
6. Desinfeksi secara teratur terhadap lantai, dinding dan peralatan produksi.
7. Membersihkan semua debu yang ada di sistem pendingin paling tidak satu kali
setiap bulan;
8. Membuat sistem pembersihan yang memungkinkan terbunuhnya
mikroorganisme yang patogen pada sistem pendingin;
9. Menggunakan alas kaki dan baju khusus dalam area produksi untuk
menghindari kontaminasi mikroorganisme dari luar;
10. Sebelum dan sesudah bekerja dalam area produksi diharuskan mencuci tangan
di air mengalir dan sabun;

9
11. Pengontrolan suhu dan kelembaban udara dengan menggunakan pendingin
ruangan untuk menekan pertumbuhan dari mikroorganisme;
12. Melakukan pengolahan terhadap limbah produksi.

Dengan mengenal bahaya dari faktor biologi dan bagaimana mengotrol dan mencegah
penularannya diharapkan efek yang merugikan dapat dihindari. Salah satunya kantin
atau tempat makan para pekerja berada di ruangan tertutup sehingga lalat tidak dapat
keluar masuk dan hinggap pada makanan pekerja.

Faktor Kimia
Faktor kimia merupakan salah satu sumber bahaya potensial bagi pekerja. Bahan kimia
yang didefinisikan sebagai unsur kimia, senyawa, dan campurannya yang bersifat alami
maupun buatan (sintetis) selalu terdapat di setiap proses industri. Paparan terhadap zat-
zat kimia tertentu di tempat kerja dapat mengakibatkan gangguan kesehatan, baik dalam
jangka waktu pendek maupun panjang. Untuk memahami faktor kimia di tempat kerja,
seorang ahli K3 harus memiliki pengetahuan tentang efek toksik dan sifat dari suatu zat
kimia. Identifikasi zat kimia berbahaya dapat dilakukan dengan melihat pelabelan
bahan kimia dan Material Safety Data Sheet (MSDS).

1) Klasifikasi (berdasarkan bentuknya):


 Partikulat, yaitu setiap sistem titik-titik cairan atau debu yang mendispersi di
udara yang mempunyai ukuran demikian lembutnya sehingga kecepatan
jatuhnya mempunyai stabilitas cukup sebagai suspensi di udara. Bentuk ini
memiliki ukuran 0.02-500µm. Yang termasuk dalam bentuk partikulat
diantaranya adalah sebagai berikut.
- Debu: merupakan suspensi partikel benda padat di udara. Butiran debu ini
dihasilkan oleh pekerjaan mekanisasi, seperti pekerjaan yang berkaitan
dengan gerinda, pemboran, pemecahan, dan penghancuran material padat.
Ukuran debu dapat bervariasi mulai dari yang dapat terlihat dengan mata
telanjang (50µm) sampai dengan yang tidak terlihat. Partikel debu yang
berukuran kurang dari 10µm dapat membahayakan kesehatan karena dapat
terhirup dan masuk ke dalam paru-paru, dan yang berukuran 0.5 – 4 µm
dapat terdeposit pada alveolus paru, seperti debu kapas, silica, dan asbes.

10
- Fume: adalah partikel-partikel benda padat hasil kondensasi bahan-bahan
dari bentuk uap, biasanya terjadi setelah penguapan dari logam cair. Uap
dari logam cair terkondensasi menjadi partikel-partikel padat di dalam
ruangan logam cair tersebut, misalnya pada pekerjaan penyolderan,
pengelasan, atau peleburan logam. Contoh: metal fume pada peleburan
logam seperti ZnO dan PbO.
- Kabut (fog): adalah sebaran partikel-partikel cair di udara sebagai hasil
proses kondensasi dari bentuk uap atau gas melalui proses electroplanting
dan penyemprotan di mana cairan tersebar, terpercik atau menjadi busa
partikel buih yang sangat kecil. Contoh: kabut minyak yang dihasilkan
selama operasi memotong dan gerinda.
- Asap (smoke): adalah partikel-partikel karbon yang mempunyai ukuran
kurang dari 0.5µm dan bercampur dengan senyawa hidrolarbon sebagai
hasil pembakaran tidak sempurna dari bahan bakar, seperti hasil
pembakaran batubara.
- Smog: adalah bentuk suspense antara smoke dan fog bersama di udara. Smog
terdapat pada pekerjaan pembuihan.

 Non Partikulat
- Gas adalah molekul dalam udara yang menempati ruang yang tertutup dan
dapat diubah menjadi cairan atau keadaan padat dengan pengaruh dari
gabungan kenaikan tekanan dan pengurangan suhu. Gas dapat berdifusi
dengan cara menjalar atau menyebar. Contoh : bahan seperti oksigen,
nitrogen, atau karbon dioksida dalam bentuk gas pada suhu dan tekanan
normal, dapat diubah bentuknya hanya dengan kombinasi penurunan suhu
dan penambahan tekanan.
- Uap adalah bentuk gas dari suatu bahan yang dalam keadaan normal
berbentuk padat atau cairan pada suhu dan tekanan ruang. Uap dapat dirubah
kembali menjadi padat atau cair dengan menambah tekanan atau
menurunkan suhu. Bahan-bahan yang memiliki titik didih yang rendah lebih
mudah menguap dari pada yang memiliki titik didih yang tinggi. Contoh
bentuk uap adalah uap air, uap minyak, uap merkuri, uap toluen.

2) Pengaruh Fisiologis dan Patologis Bahan Kimia:

11
 Bahan kimia iritatif adalah bahan kimia yang dapat menyebabkan iritasi atau
menimbulkan bahaya apabila tubuh kontak dengan bahan kimia. Bagian tubuh
yang terkena biasanya kulit, mata, dan saluran pernapasan.
- Iritasi melalui kulit  apabila terjadi kontak antara bahan kimia tertentu
dengan kulit, bahan itu akan merusak lapisan yang berfungsi sebagai
pelindung. Keadaan ini disebut dermatitis (peradangan kulit).
- Iritasi melalui mata  kontak yang terjadi antara bahan-bahan kimia dengan
mata bisa menyebabkan rusaknya mulai yang ringan sampai kerusakan
permanen.
- Iritasi saluran pernapasan oleh karena bahan-bahan kimia berupa bercak-
bercak cair, gas atau uap akan menimbulkan rasa terbakar apabila terkena
pada daerah saluran pernapasan bagian atas (hidung dan kerongkongan).
 Bahan kimia bersifat asfiksian merupakan bahan kimia yang dapat
menyebabkan asfiksia, yaitu keadaan sesak napas dihubungkan dengan
gangguan proses oksigensi dalam jaringan tubuh, sehingga menimbulkan
sensasi tercekik dan dapat menyebabkan kematian. Terdapat dua jenis asfiksia,
yakni:
- Simple asphyxiation (sesak napas yang sederhana) karena ini berhubungan
dengan kadar oksigen di udara yang digantikan dan didominasi oleh gas
seperti nitrogen, karbon dioksida, ethane, hydrogen atau helium yang kadar
tertentu mempengaruhi kelangsungan hidup.
- Chemical asphyxiation (sesak napas karena bahan-bahan kimia). Pada
situasi ini, bahan-bahan kimia langsung dapat mempengaruhi dan
mengganggu kemampuan tubuh untuk mengangkut dan menggunakan zat
asam, sebagai contoh adalah karbon monoksida, nitrogen, propan, argon,
dan metana.

 Bahan kimia bersifat zat pembius dapat mehilangkan kesadaran dan mati rasa.
Paparan terhadap konsentrasi yang relatif tinggi dari bahan kimia tertentu
seperti ethyl dan prophyl alcohol (aliphatic alcohol), dan methylethyl keton
(aliphatic keton), acetylene hydrocarbon ethyl dan isoprophyl ether, dapat
menekan susunan syaraf pusat.

12
 Bahan kimia beracun/toksin merupakan bahan kimia yang dalam kosentrasi
relatif sedikit dapat mempengaruhi kesehatan manusia atau bahkan
menyebabkan kematian. Manusia memiliki sistem yang komplek. Keracunan
sistemik dihubungkan dengan reaksi dari salah satu sistem atau lebih dari tubuh
terhadap bahan-bahan kimia yang mana reaksi ini merugikan dan dapat
menyebar keseluruh tubuh. Contoh bahan kimia toksin antara lain pestisida,
benzene, dan sianida.
 Bahan kimia karsinogenik. Paparan bakan-bahan kimia tertentu bisa
menyebabkan pertumbuhan sel-sel yang tidak terkendali, menimbulkan tumor
(benjolan-benjolan) yang bersifat karsinogen. Tumor tersebut mungkin baru
muncul setelah beberapa tahun bevariasi antara 4 tahun sampai 40 tahun. Bahan
kimia seperti arsenic, asbestos, kromium, nikel dapat menyebabkan kanker
paru-paru.
 Bahan kimia fibrotic merupakan bahan kimia yang bila masuk ke dalam tubuh
dapat menyebabkan terbentuknya jaringan fibrotik, seperti pneumoconiosis.
Pneumoconiosis adalah suatu keadaan yang disebabkan oleh mengendapnya
partikel-partikel debu halus daerah pertukaran gas dalam paru-paru dan adanya
reaksi dari jaringan paru dan membentuk jaringan fibrotik. Contoh bahan-
bahan yang menyebabkan pneumoconiosis adalah crystalline silica, asbestos,
talc, batubara dan beryllium.

3) Pengukuran:Untuk mengetahui kondisi real tentang kadar kontaminan kimiawi di


tempat kerja, maka perlu dilakukan pengukuran/pengujian terhadap faktor kimia
yang memapari tempat tersebut dengan cara pengambilan sample yang selanjutnya
akan dianalisa. Dalam melakukan pengukuran pada lingkungan kerja diperlukan
pengambilan sample yang dapat dilakukan secara terus menerus dalam kurun waktu
tertentu yang pada prinsipnya harus representatif dalam 8 jam kerja. Metode yang
digunakan antara lain Standar Nasional Indonesia (SNI), NIOSH, AIHA, dan lain-
lain. Beberapa instrument analisis yang digunakan dalam pengujian faktor kimia
adalah AAS untuk analisis kadar logam, GC untuk kadar hidrokarbon,
spectrophotometer UV/Vis untuk analisis gas organic, dan X-Ray deffractometer.
Nilai Ambang Batas (NAB), diatur berdasarkan surat edaran Permenakertrans

13
No.13/MEN/X/2011 tentang NAB faktor kimia dan faktor fisikadi tempat
kerja.Kategori nilai ambang batas:
 NAB rata-rata selama jam kerja
 NAB pemaparan singkat
 NAB tertinggi
4) Pengendalian: Pengendalian potensi bahaya kimia dapat dilakukan dengan berbagai
cara seperti:
 Pemberian label dan simbol pada wadah untuk bahan yang berisikan tentang:
nama bahan kimia, resiko yang ditimbulkan, jalan masuknya ke tubuh, efek
paparan, cara penggunaan yang aman dan pertolongan pertama keracunan.
 Memiliki MSDS, yaitu semua informasi mengenai suatu bahan kimia yang
dibuat oleh suatu perusahaan, berisikan antara lain kandungan/komposisi, sifat
fisik dan kmia, cara pengankutan dan penyimpanan, informasi APD sesuai
NAB, efek terhadap kesehatan, gejala keracunan, pertolongan pertama
keracunana, alamat dan nomer telepon pabrik pembuat atau distributor.
 Memiliki petugas K3 kimia dan ahli K3 kimia yang mempunyai kewajiban ,
melakukan identifikasi bahaya melaksanakan prosedur kerja aman,
penganggulangan keadaan darurat dan mengembankan pengetahuan K3 di
bidang kimia.
 Prinsip pengendalian bahan kimia di lungkungan kerja dilakukan dengan
tahapan sebaai berikut:
- Pengendalian secara teknis
a. Substitusi
b. Isolasi
c. Ventilasi (alamiah dan buatan)
- Pengendalian administrasi
a. Pemilihan bahan produksi potensi bahaya serendah mungkin
b. Labelling. Telah dijelaskan sebelumnya.
c. Penyimpanan bahan sesuai dengan kelompok sifat dan besar potensi
bahaya
d. Penanganan limbah dan sampah kimia secara khusus dan benar.
Dasar hukum yang mengatur pengendalian bahan kimia berbahaya adalah
keputusan menteri tenaga kerja RI, No.Kep.187/MEN/1999.

14
Sanitasi Industri
Prinsip dasar sanitasi terdiri dari:
 Sanitasi adalah serangkaian proses yang dilakukan untuk menjaga kebersihan;
 Sanitasi ini merupakan hal penting yang harus dimiliki oleh industri dalam
menerapkan Good Manufacturing Practices (GMP);
 Sanitasi dilakukan sebagai usaha mencegah penyakit pada tenaga kerja dan
lingkungan sekitar perusahaan;
 Manfaat yang diperoleh bagi konsumen bila industri pangan adalah, konsumen
terhindar dari penyakit atau kecelakaan karena keracunan makanan;
 Manfaat yang diperoleh bagi produsen adalah produsen dapat meningkatkan mutu
dan umur simpan produk, mengurangi komplain dari konsumen;
 Mengurangi biaya recall.
 Praktik sanitasi meliputi pembersihan, pengelolaan limbah, dan higiene pekerja
yang terlibat.

Sanitasi industri meliputi:


1) Water supply: Suplai air dibagi menjadi dua berdasarkan penggunaannya, yaitu:
 Domestik  untuk karyawan, makan, minum, dll
 Proses produksi

2) Pembuangan kotoran dan sampah: Sampah dibagi menjadi dua, yaitu:


 Domestik  berasal dari karyawan, bukan dari proses produksi
 Sampah industri  padat, cair

Sampah ini memerlukan manajemen khusus dalam pengelolaannya.Sampah dapat


diolah kembali untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat ataupun sudah tidak
bisa dimanfaatkan lagi dan dikembalikan ke alam sebagai bahan yang tidak
berbahaya dan mudah terurai.
3) Sanitasi makanan: Sanitasi makanan memegang peranan penting dalam proses
produksi. Sanitasi makanan berhubungan langsung kepada tenaga kerja ataupun
proses produksi dalam industri pangan. Sanitasi makanan merupakan usaha
pencegahan penyakit, dapat menjadi pertimbangan ekonomi dalam penyediaan

15
makanan dan merupakan pencegahan penyakit yang efektif. Hal–hal yang
diperhatikan dalam sanitasi makanan adalah:
 Kebersihan makanan  penyediaan bahan makanan, pengolahan makanan,
pengangkutan bahan makanan dan penyajian makanan
 Kebersihan peralatan
 Kebersihan fasilitas
 Kantin dan ruang makan
 Keracunan makanan
4) Pencegahan dan pembasmian vektor dan roden: Vektor adalah binatang yang
berperan dalam pemindahan penyakit dari sumbernya ke manusia. Contoh-contoh
vektor seperti tikus, lalat, nyamuk, kecoa, kutu dan lain-lain. Masing-masing vektor
membawa penyakit tertentu dan dapat mengenai tenaga kerja, sehingga dapat
menurunkan produktivitas. Pengendalian vektor dapat dilakukan oleh pihak
perusahaan sendiri ataupun memakai jasa pengendalian vektor profesional.
5) Penyediaan fasilitas kebersihan: Fasilitas kebersihan merupakan hal yang mutlak
harus tersedia dalam industri. Memgang peranan penting dalam proses produksi.
Fasilitas kebersihan menjamin tenaga kerja untuk menjalankan fungsi-fungsi
biologis seperti buang air kecil, buang air besar, makan, tempat ganti pakaian, dan
lain-lain. Hal – hal yang termasuk fasilitas kebersihan, yaitu:
 WC (kakus)  memenuhi syarat-syarat wc sehat, jumlah wc sebanding dengan
jumlah pekerja.
 Tempat cuci.
 Tempat mandi  membersihkan badan sebelum pulang.
 Tempat baju kerja (locker)  tempat ganti pakaian sebelum dan sesudah kerja.
 Ruang makan dan kantin  memenuhi syarat – syarat rumah makan sehat atau
kantin sehat.

Pengolahan Limbah
Limbah industri merupakan buangan yang keberadaannya di tempat tertentu tidak
dikehendaki lingkungannya karena tidak mempunyai nilai ekonomi. Limbah industri
tersebut dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis yaitu yang memiliki nilai ekonomis
berupa limbah yang dengan melakukan proses lanjut akan memberi nilai tambah, serta
limbah yang tidak mempunyai nilai ekonomis berupa limbah yang diolah dalam bentuk

16
proses apapun tidak dapat memberikan nilai tambah tetapi hanya dapat mempermudah
sistem pembuangan.

Limbah padat dan cair yang dihasilkan akibat proses produksi sebaiknya ditempatkan
pada bak sampah tersendiri yang telah dipilah-pilah berdasarkan jenisnya serta apakah
termasuk limbah B3 atau bukan. Untuk limbah yang bukan termasuk B3 perlu dipilah
lagi apakah bisa didaur ulang atau bisa langsung dibakar atau dikubur. Yang termasuk
kedalam limbah B3 adalah limbah industri yang mengandung bahan pencemar yang
bersifat racun dan berbahaya, dimana limah B3 tersebut merupakan bahan dalam
jumlah sedikit tetapi mempunyai potensi mencemari dan merusak lingkungan hidup
dan sumber daya.Limbah cair yang dihasilkan industri harus diolah terlebih dahulu
sesuai dengan spesifikasinya.Kontainer tempat menampung limbah yang termasuk
kategori B3 tidak boleh bocor, sampah tidak boleh tercecer pada waktu pengumpulan
dan penyimpanan sementara sebelum dibawa ke tempat pembuangan akhir B3. Secara
umum, pengolahan limbah industri dapat dilakukan melalui 3 proses, yaitu:
1) Proses pengolahan secara fisika:
 Sedimentasi,yaitu suatu proses pemisahan bahan padat dari cairan secara
gravitasi.
 Flotasi, yaitu memisahkan partikel dengan densitasnya, menggunakan aliran
udara yang dimasukkan kedalam sistim.
 Separasi minyak-air, yaitu dengan memisahkan bagian terbesar minyak dari
aliran limbah dengan menggunakan prinsip dasar perbedaan spesifitas gravities
anatara air dan minyak yang dibuang.
2) Proses pengolahan secara kimiawi:
 Koagulasi-presipitasi, yaitu pencampuran bahan kimia secara merata menjadi
gumpalan-gumpalan yang cukup besar.
 Netralisasi, yaitu proses untuk menurunkan sifat asam atau basa dalam air.
3) Proses pengolahan secara biologi:
 Aerobic suspended growth process, yaitu memasukkan air limbah kedalam
reaktor concrete steel earthen tank dengan aliran konsentrasi yang sangat tinggi.
 Aerobic attached growth process, yaitu proses mikroorganisme dimasukkan
kedalam beberapa media.

17
 Aerobic lagoons (kolam stabilisasi), yaitu kolam tanah yang luas dan dangkal
untuk mengolah air limbah dengan menggunakan proses alami dengan
melibatkan ganggang dan bakteri.
 Anaerobic lagoons, yaitu air limbah mentah bercampur dengan massa microbial
aktif dalam lapisan sludge.
Pengolah limbah gas secara teknis dilakukan dengan menambahkan alat bantu yang
dapat mengurangi pencemaran udara. Pencemaran udara sebenarnya dapat berasal dari
limbah berupa gas atau materi partikulat yang terbawah bersama gas tersebut. Berikut
akan dijelaskan beberapa cara menangani pencemaran udara oleh limbah gas dan materi
partikulat yang terbawah bersamanya.
1) Mengontrol Emisi Gas Buang:
 Gas-gas buang seperti sulfur oksida, nitrogen oksida, karbon monoksida, dan
hidrokarbon dapat dikontrol pengeluarannya melalui beberapa metode. Gas
sulfur oksida dapat dihilangkan dari udara hasil pembakaran bahan bakar
dengan cara desulfurisasi menggunakan filter basah (wet scrubber);

 Mekanisme kerja filter basah ini akan dibahas lebih lanjut pada pembahasan
berikutnya, yaitu mengenai metode menghilangkan materi partikulat, karena
filter basah juga digunakan untuk menghilangkan materi partikulat;
 Gas nitrogen oksida dapat dikurangi dari hasil pembakaran kendaraan bermotor
dengan cara menurunkan suhu pembakaran. Produksi gas karbon monoksida
dan hidrokarbon dari hasil pembakaran kendaraan bermotor dapat dikurangi
dengan cara memasang alat pengubah katalitik (catalytic converter) untuk
menyempurnakan pembakaran;
 Selain cara-cara yang disebutkan diatas, emisi gas buang jugadapat dikurangi
kegiatan pembakaran bahan bakar atau mulai menggunakan sumber bahan
bakar alternatif yang lebih sedikit menghasilkan gas buang yang merupakan
polutan.
2) Menghilangkan Materi Partikulat Dari Udara Pembuangan:
 Filter Udara:
Filter udara dimaksudkan untuk yang ikut keluar pada cerobong atau stack, agar
tidak ikut terlepas ke lingkungan sehingga hanya udara bersih yang saja yang
keluar dari cerobong. Filter udara yang dipasang ini harus secara tetap diamati

18
(dikontrol), kalau sudah jenuh (sudah penuh dengan abu/ debu) harus segera
diganti dengan yang baru.Jenis filter udara yang digunakan tergantung pada
sifat gas buangan yang keluar dari proses industri, apakah berdebu banyak,
apakah bersifat asam, atau bersifat alkalis dan lain sebagainya
 Pengendap Siklon:
Pengendap Siklon atau Cyclone Separators adalah pengedap debu / abu yang
ikut dalam gas buangan atau udara dalam ruang pabrik yang berdebu. Prinsip
kerja pengendap siklon adalah pemanfaatan gaya sentrifugal dari udara / gas
buangan yang sengaja dihembuskan melalui tepi dinding tabung siklon
sehingga partikel yang relatif “berat” akan jatuh ke bawah.Ukuran partikel /
debu / abu yang bisa diendapkan oleh siklon adalah antara 5 µ - 40 µ. Makin
besar ukuran debu makin cepat partikel tersebut diendapkan.
 Filter Basah:
Nama lain dari filter basah adalah Scrubbers atau Wet Collectors. Prinsip kerja
filter basah adalah membersihkan udara yang kotor dengan cara
menyemprotkan air dari bagian atas alt, sedangkan udara yang kotor dari bagian
bawah alat. Pada saat udara yang berdebu kontak dengan air, maka debu akan
ikut semprotkan air turun ke bawah.Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik
dapat juga prinsip kerja pengendap siklon dan filter basah digabungkan menjadi
satu. Penggabungan kedua macam prinsip kerja tersebut menghasilkan suatu
alat penangkap debu yang dinamakan:
 Pegendap Sistem Gravitasi:
Alat pengendap ini hanya digunakan untuk membersihkan udara kotor yang
ukuran partikelnya relatif cukup besar, sekitar 50 µ atau lebih. Cara kerja alat
ini sederhana sekali, yaitu dengan mengalirkan udara yang kotor ke dalam alat
yang dibuat sedemikian rupa sehingga pada waktu terjadi perubahan kecepatan
secara tiba-tiba (speed drop), zarah akan jatuh terkumpul di bawah akibat gaya
beratnya sendiri (gravitasi). Kecepatan pengendapan tergantung pada dimensi
alatnya.
 Pengendap Elektrostatik:
Alat pengendap elektrostatik digunakan untuk membersihkan udara yang kotor dalam
jumlah (volume) yang relatif besar dan pengotor udaranya adalah aerosol atau uap air. Alat
ini dapat membersihkan udara secara cepat dan udara yang keluar dari alat ini sudah relatif

19
bersih.Alat pengendap elektrostatik ini menggunakan arus searah (DC) yang mempunyai
tegangan antara 25-100 kv. Alat pengendap ini berupa tabung silinder di mana dindingnya
diberi muatan positif, sedangkan di tengah ada sebuah kawat yang merupakan pusat
silinder, sejajar dinding tabung, diberi muatan negatif. Adanya perbedaan tegangan yang
cukup besar akan menimbulkan corona discharga di daerah sekitar pusat silinder. Hal ini
menyebabkan udara kotor seolah-olah mengalami ionisasi. Kotoran udara menjadi ion
negatif sedangkan udara bersih menjadi ion positif dan masing-masing akan menuju ke
elektroda yang sesuai. Kotoran yang menjadi ion negatif akan ditarik oleh dinding tabung
sedangkan udara bersih akan berada di tengah-tengah silinder dan kemudian terhembus
keluar.

20
BAB II
PELAKSANAAN
2.1 TANGGAL DAN WAKTU PELAKSANAAN
Dilakukan pengamatan pada hari kamis 23 november 2017 pukul 09.00-13.00 WIB oleh
kelompik I hygiene industri.
2.2 LOKASI PENGAMATAN
Lokasi pengamatan adalah di PT ISM bertempat di Jl. Kampung jarakosta No. 1 Rt/Rw
005/002 Sukadanau Cikarang barat Bekasi Jawa Barat 17520, Indonesia Phone : 62-21-
8901166.

21
BAB III
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

Pengamatan dilakukan di PT. Indofood CBP Sukses Makmur. Tbk Noodle division Cibitung
sebagai berikut:

3.1. FAKTOR FISIK

1) Bising
Berdasarkan hasil pengamatan secara tidak langsung, dan wawancara dengan dokter
perusahaan. Jenis kebisingan dari mesin – mesin produksi berupa kebisingan yang
kontinu. Didapatkan hasil bahwa Nilai ambang batas yang diperkenankan yang ada di
tempat kerja kurang dari intensitas kebisingan atau nilai ambang batas yang
diperkenankan dengan waktu pemamparan 7 jam kerja sehari. Berdasarkan informasi
yang didapat dari narasumber bahwa pihak perusahaan sudah melakukan pengukuran
untuk intensitas kebisingan di lingkungan kerja sesuai dengan Permenakertrans No.
13/MEN/X/2011 tentang Nilai Ambang Batas faktor fisika di tempat kerja.

2) Pencahayaan
Berdasarkan hasil pengamatan secara langsung, penerangan di tempat kerja di PT.
Indofood CBP Sukses Makmur. Tbk menggunakan sumber pencahayaan alami dan
buatan karena cahaya matahari dapat masuk dan para pekerja yang bekerja dalam
ruangan dibantu oleh beberapa lampu neon. Menurut informasi yang diperoleh dari
narasumber bahwa belum dilakukan pengukuran terhadap intensitas pencahayaan di
tempat kerja yang mengacu kepada Peraturan Menteri Perburuhan No. 7 Tahun 1964
tentang Syarat Kesehatan, Kebersihan, serta Penerangan dalam Tempat Kerja. Menurut
pengamatan yang kami lakukan di tempat kerja secara langsung, para pekerja tidak
tampak mengalami gangguan dalam hal pencahayaan/penerangan di tempat kerja
mereka.

3) Getaran
Beberapa alat yang digunakan untuk menunjang kegiatan perusahaan, baik dalam
proses penyimpanan maupun pengangkutan di PT. Indofood CBP Sukses Makmur. Tbk
berpotensi menimbulkan getaran di dalam penggunaannya oleh para pekerja. Salah

22
satunya adalah pada forklift. Alat-alat ini berpotensi menimbulkan getaran pada pekerja
yang mengoperasikannya. Namun tidak dapat dilakukan pengamatan secara langsung,
tetapi para pekerja terlihat tidak mengalami masalah dengan getaran yang ditimbulkan
oleh alat-alat tersebut.

4) Iklim Kerja
Berdasarkan hasil pengamatan secara langsung, hanya sedikit pekerja yang terpapar
oleh sinar matahari secara langsung. Pada proses mixing, suhu ruangan mencapai 36o
C, Pada proses steaming sampai cooling suhu ruangan mencapai 39o C, namun hanya
sedikit tenaga kerja yang terdapat di ruangan tersebut untuk pengecekan dan cleaning
saja. Pada ruangan proses steaming sampai cooling, terdapat ventilasi dibawah atap
yang berfungsi untuk sirkulasi udara. Dari pengamatan yang dilakukan tempat produksi
para pekerja terlihat tidak mengalami masalah yang berkaitan dengan iklim kerja di
tempat mereka bekerja.
3.2. FAKTOR KIMIA

a) Debu

Sumber debu terutama terdapat pada proses mixing bahan baku, pada ruangan
produksi sumber debu langsung berasal dari ventilasi dibawah atap yang
memungkinkan debu dari luar masuk. Namun tidak dilakukan pengamatan secara
langsung terhadap debu Pada proses mixing telah disediakan APD untuk tenaga kerja
berupa masker khusus.

 Bahan Berbahaya dan Beracun


Dari hasil pengamatan, tidak ditemukan bahan berbahaya dan beracun pada proses
produksi.

 Bahan-bahan Kimia
Dalam proses produksinya bahan-bahan kimia di PT. INDOFOOD CBP SUKSES
MAKMUR. TBK tidak begitu menonjol, karena saat proses produksi mie (noodle)
hanya menggunakan alkali pada proses mixing, tanpa memproduksi bumbu

23
3.3. FAKTOR BIOLOGI

Ketika melakukan pengamatan di PT. Indofood CBP Sukses Makmur. Tbk, faktor
biologi mungkin ditemukan pada proses produksi sampai packing. Pada proses produksi,
kondisi lingkungan saat pembuatan mie cukup terbuka memungkinkan terjadinya kontaminasi.
Kontaminasi lain pada proses packing ditemukan pada tingkah laku tenaga kerja yang kurang
memperhatikan kebersihan misalnya menggaruk kepala sebelum menyentuh produk.
Upaya pengendalian faktor biologi yang sudah dilakukan antara lain tidak ada pekerja
yang makan/ minum di area produksi, pekerja menggunakan baju dan alas kaki khusus di area
produksi, dan sudah tersedia tempat untuk cuci tangan bagi pekerja dilengkapi dengan instruksi
mencuci tangan dan pihak perusahaan telah melakukan monitoring terhadap faktor biologi..

3.4. KEBERSIHAN

Dilihat dari pengamatan selama berada di lingkungan kerja PT. Indofood Cbp Sukses
Makmur Tbk, secara umum dapat dikatakan sanitasi yang berada di tempat tersebut baik.
Kebersihan di dalam perusahaan seperti dinding, lantai, dan atap baik. Daerah kerja tampak
bersih. Tidak tampak bahwa terdapat tempat sampah di setiap ruangan. Selain tempat cuci
tangan dan toilet, juga tersedia loker. Untuk loker sudah disediakan bagi pekerja untuk
menyimpan pakaian dan APD.
Pengamatan juga dilakukan di gudang penyimpanan bahan baku/ kardus, terlihat untuk
gudang penyimpanan bahan baku dan produk di PT. Indofood Cbp Sukses Makmur Tbk baik.
Berdasarkan informasi dari narasumber, penyediaan kebutuhan air untuk proses
produksi, PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk menggunakan air PAM .Sedangkan untuk
minum air didapat dari air galon yang bersegel bermerk Club.
Untuk masalah sanitasi makanan bagi para pekerja di PT. Indofood Cbp Sukses
Makmur Tbk, hal ini berkaitan dengan tempat makan atau kantin dan proses penyajian
makanannya. Dalam kunjungan ini, menurut informasi yang didapat bahwa di perusahaan
menyediakan adanya kantin.
Dari hasil pengamatan juga tampak adanya tempat pembuangan sampah yang dipisah
menjadi tempat sampah organik dan anorganik.

24
3.5. PETUGAS HIGIENE INDUSTRI

Berdasarkan hasil pengamatan secara langsung, terdapat peraturan yang mengharuskan


bagi seluruh tenaga kerja untuk melakukan cuci tangan per 2 jam sekali, penggunaan sarung
tangan, masker dan penutup kepala. Selain itu, tenaga kebersihan (cleaning sevice) disini
menurut narasumber hanya berlaku tiap shift dan tidak tampak ketika pengamatan sedang
dilakukan.

3.6. PENGOLAHAN LIMBAH

Limbah yang dihasilkan dalam proses produksi di PT. Indofood CBP Sukses
Makmur. Tbk ada 3 macam yaitu limbah padat, limbah cair, dan emisi udara.

1. Limbah Padat
Limbah padat yang dihasilkan dari proses produksi adalah kardus, mie yang tidak
sesuai standar, plastik, sampah padat. Limbah-limbah tersebut akan dilakukan
pemantauan setiap hari. Limbah padat yang memiliki nilai ekonomis, dikelola oleh
pihak luar, sementara limbah padat yang tidak memiliki nilai ekonomis dan tidak
termasuk dalam B3 dikelola oleh dinas kebersihan setempat.

2. Limbah Cair
Limbah cair dihasilkan berupa limbah rumah tangga, dan limbah produksi.
Pemantauan dilakukan setiap hari. PT. Indofood CBP Sukses Makmur. Tbk
mempunyai Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) menggunakan
mikroorganisme tertentu untuk menetralkan limbah.

3. Limbah Gas
Limbah gas di PT. Indofood Cbp Sukses Makmur Tbk. Dibuang melalui cerobong
asap, dan dilakukan pemantauan ambang batas gas setiap semester 1 kali.

25
BAB IV
Kesimpulan dan Saran

4.1 Kesimpulan

PT. Indofood CBP Sukses Makmur. Tbk merupakan perusahaan yang bergerak penuh
dalam bidang pangan terutama industry mie dengan sistem semi otomatis yaitu tenaga mesin
dan tenaga manusia. Sebagian mesin telah dicantumkan SOP. Secara umum, penatalaksanaan
sistem K3 di perusahaan tersebut dari penilaian higiene industri sudah berjalan dengan cukup
baik. Tingkat sanitasi dan higiene yang tinggi hendaknya diterapkan pada setiap industri
pangan.
Berdasarkan pengamatan dalam bidang higiene industri yang telah dilakukan ke PT.
Indofood CBP Sukses Makmur. Tbk didapatkan adanya faktor risiko baik dibidang fisika,
kimia, dan biologi. Namun, faktor risiko di lingkungan kerja terebut sudah dilakukan tindak
lanjut dari pihak manajemen dan terbukti dari berjalannya SMK3 di perusahaan tersebut.
Faktor tenaga kerja dianggap masih perlu dilakukan perbaikan dilihat dari tingkah laku tenaga
kerja yang kurang sadar terhadap kebersihan pada produk.

4.2 SARAN

1) Memberi penyuluhan berkala tentang Sistem Kesehatan dan Keselamatan Kerja terutama
terkait lima faktor yang dibahas diatas kepada tenaga kerja mengenai pemaparan faktor
tersebut dan dampak kesehatan yang dapat ditimbulkan.
2) Menyediakan lebih banyak media dan sarana untuk mempromosikan Kesehatan dan
Keselamatan Kerja.
3) Melakukan penyuluhan kepada para tenaga kerja mengenai Self-Hygiene dan menjaga
kebersihan produk.
4) Meningkatkan pengawasan dan evaluasi pada seluruh sistem produksi.
5) Mengelolah limbah industri secara aman agar tidak membahayakan pekerja dan tidak
mencemari lingkungan.

26
BAB VI
PENUTUP

Demikian laporan kunjungan perusahaan mengenai higiene industri di PT. Indofood


CBP Sukses Makmur. Tbk ini kami buat. Kami menyadari bahwa laporan ini masih banyak
kekurangan, baik dalam teknis penulisan maupun materi, mengingat kemampuan yang kami
miliki. Semoga apa yang tertuang di dalam laporan ini dapat bermanfaat bagi para pembacanya
pada umumnya dan PT. Indofood CBP Sukses Makmur.Tbk itu sendiri agar dapat lebih
meningkatkan lagi penerapan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3)
dan higiene industri di lingkungan kerjanya sehingga dapat menjamin kesehatan dan
keselamatan para pekerjanya dan meningkatkan produktivitas perusahaan.

27