Vous êtes sur la page 1sur 18

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

4.1 Deskripsi Objek Penelitian

4.1.1 Sejarah Bank Syariah Mandiri

Nilai-nilai perusahaan yang menjunjung tinggi kemanusiaan dan integritas

telah tertanam kuat pada segenap insan Bank Syariah Mandiri (BSM) sejak awal

pendiriannya.

Kehadiran BSM sejak tahun 1999, sesungguhnya merupakan hikmah

sekaligus berkah pasca krisis ekonomi dan moneter 1997-1998. Sebagaimana

diketahui, krisis ekonomi dan moneter sejak Juli 1997, yang disusul dengan krisis

multi-dimensi termasuk di panggung politik nasional, telah menimbulkan

beragam dampak negatif yang sangat hebat terhadap seluruh sendi kehidupan

masyarakat, tidak terkecuali dunia usaha. Dalam kondisi tersebut, industri

perbankan nasional yang didominasi oleh bank-bank konvensional mengalami

krisis luar biasa. Pemerintah akhirnya mengambil tindakan dengan

merestrukturisasi dan merekapitalisasi sebagian bank-bank di Indonesia.

Salah satu bank konvensional, PT Bank Susila Bakti (BSB) yang dimiliki oleh

Yayasan Kesejahteraan Pegawai (YKP) PT Bank Dagang Negara dan PT

Mahkota Prestasi juga terkena dampak krisis. BSB berusaha keluar dari situasi

tersebut dengan melakukan upaya merger dengan beberapa bank lain serta

mengundang investor asing.

1
Pada saat bersamaan, pemerintah melakukan penggabungan (merger) empat

bank (Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya, Bank Exim, dan Bapindo) menjadi

satu bank baru bernama PT Bank Mandiri (Persero) pada tanggal 31 Juli 1999.

Kebijakan penggabungan tersebut juga menempatkan dan menetapkan PT Bank

Mandiri (Persero) Tbk. sebagai pemilik mayoritas baru BSB.

Sebagai tindak lanjut dari keputusan merger, Bank Mandiri melakukan

konsolidasi serta membentuk Tim Pengembangan Perbankan Syariah.

Pembentukan tim ini bertujuan untuk mengembangkan layanan perbankan syariah

di kelompok perusahaan Bank Mandiri, sebagai respon atas diberlakukannya UU

No. 10 tahun 1998, yang memberi peluang bank umum untuk melayani transaksi

syariah (dual banking system).

Tim Pengembangan Perbankan Syariah memandang bahwa pemberlakuan UU

tersebut merupakan momentum yang tepat untuk melakukan konversi PT Bank

Susila Bakti dari bank konvensional menjadi bank syariah. Oleh karenanya, Tim

Pengembangan Perbankan Syariah segera mempersiapkan sistem dan

infrastrukturnya, sehingga kegiatan usaha BSB berubah dari bank konvensional

menjadi bank yang beroperasi berdasarkan prinsip syariah dengan nama PT Bank

Syariah Mandiri sebagaimana tercantum dalam Akta Notaris: Sutjipto, SH, No. 23

tanggal 8 September 1999.

Perubahan kegiatan usaha BSB menjadi bank umum syariah dikukuhkan oleh

Gubernur Bank Indonesia melalui SK Gubernur BI No. 1/24/ KEP.BI/1999, 25

Oktober 1999. Selanjutnya, melalui Surat Keputusan Deputi Gubernur Senior

Bank Indonesia No. 1/1/KEP.DGS/ 1999, BI menyetujui perubahan nama menjadi

2
PT Bank Syariah Mandiri. Menyusul pengukuhan dan pengakuan legal tersebut,

PT Bank Syariah Mandiri secara resmi mulai beroperasi sejak Senin tanggal 25

Rajab 1420 H atau tanggal 1 November 1999.

PT Bank Syariah Mandiri hadir, tampil dan tumbuh sebagai bank yang mampu

memadukan idealisme usaha dengan nilai-nilai rohani, yang melandasi kegiatan

operasionalnya. Harmoni antara idealisme usaha dan nilai-nilai rohani inilah yang

menjadi salah satu keunggulan Bank Syariah Mandiri dalam kiprahnya di

perbankan Indonesia. BSM hadir untuk bersama membangun Indonesia menuju

Indonesia yang lebih baik.

4.2 Analisis dan Pembahasan Data

4.2.1 Tingkat Pengembalian (Return) Pembiayaan Murabahah

Pada penelitian ini, pembiayaan murabahah yang digunakan terdiri dari dua

jenis pembiayaan murabahah sesuai dengan peruntukkannya yaitu pembiayaan

Murabahah Investasi (MI) dan pembiayaan Murabahah Konsumtif (MK). Periode

perhitungan yang digunakan dimulai sejak Januari 2011 hingga Agustus 2012.

Perhitungan return dari masing-masing pembiayaan murabahah menggunakan

Margin Murabahah (MR) per unit sebagai acuan. Return Murabahah per tahun

dihitung dengan mencari rata-rata dari return yang dihasilkan tiap bulannya.

Return tiap bulan diperoleh melalui selisih MR periode tertentu (t) dengan MR

periode sebelumnya (t-1). Kemudian hasil dari selisih MR tersebut dibagi dengan

MR periode sebelumnya. Hasil perhitungan total return dan rata-rata return

pembiayaan MI dan MK dapat dilihat pada tabel 4.1 di bawah ini.

3
Tabel 4.1
Tingkat Return dan Rata-rata Return
Pembiayaan Murabahah Investasi (MI) dan Pembiayaan Murabahah
Konsumtif (MK) Periode Januari 2011 – Agustus 2012

Murabahah Investasi Murabahah Konsumtif


Tahun
Total Return Rata-rata Return Total Return Rata-rata Return
2011 4,05349 0,36850 0,79222 0,07202
2012 0,01950 0,00244 0,27932 0,03491
Sumber: Data diolah

Berdasarkan table 4.1 dapat dilihat bahwa total return Murabahah Investasi

(MI) tahun 2011 sebesar 4,05349 dengan rata-rata return 0,36850. Sedangkan

total return yang dihasilkan oleh Murabahah Konsumtif (MK) adalah 0,79222

dengan rata-rata return 0,07202. Pada tahun tersebut, return kedua pembiayaan

murabahah tergolong baik karena masing-masing return bernilai positif. Namun,

return yang dihasilkan oleh Murabahah Investasi (MI) tergolong lebih baik jika

dibandingkan dengan Murabahah Konsumtif (MK).

Berikutnya tahun 2012, total return pembiayaan Murabahah Investasi (MI)

sebesar 0,01950 dengan rata-rata return 0,00244. Terlihat peningkatan pada total

return Murabahah Konsumtif (MK) sebesar 0,27932 dengan rata-rata return

0,03491. Kedua return pembiayaan murabahah tahun 2012 ini pun tergolong baik

karena msing-masing return masih bernilai positif. Namun, sebaliknya pada tahun

2012 return yang dihasilkan oleh Murabahah Konsumtif (MK) tergolong lebih

baik dibandingkan dengan Murabahah Investasi (MI).

Dengan demikian, tingkat return yang dihasilkan kedua pembiayaan

murabahah selama periode Januari 2011 hingga Agustus 2012 terlihat tidak

4
mengalami nilai terendah hingga negatif, hal ini tentunya menguntungkan pihak

bank sebab nasabah akan senantiasa mananamkan investasi pembiayaannya

sehingga aset yang dimiliki bank tersebut akan terus mengalami peningkatan.

Pengukuran kinerja dengan hanya membandingkan return yang dihasilkan oleh

kedua pembiayaan murabahah akan memberikan penilaian yang tidak seimbang

karena didalamnya tidak disertai dengan unsur risiko. Sebab kinerja yang baik

apabila instrumen pembiayaan murabahah tersebut mampu memberikan return

yang tinggi dengan risiko yang rendah.

4.2.2 Tingkat Risiko (Risk) Pembiayaan Murabahah

Tingkat risiko pembiayaan murabahah dihitung dan dinyatakan dalam

Standar Deviasi (σ). Semakin rendah standar deviasi yang dihasilkan maka risiko

yang ditanggung nasabah dalam berinvestasi semakin sedikit. Sebaliknya,

semakin tinggi standar deviasi yang dihasilkan maka risiko yang ditanggung

nasabah dalam berinvestasi menjadi semakin besar. Standar deviasi dihitung

dengan mengakarkan nilai varians dari satu populasi. Tabel berikut ini akan

menyajikan data nilai varians dan standar deviasi dari masing-masing pembiayaan

murabahah.

5
Tabel 4.2
Varians dan Standar Deviasi
Pembiayaan Murabahah Investasi (MI) dan Pembiayaan Murabahah
Konsumtif (MK) Periode Januari 2011 – Agustus 2012

Murabahah Investasi Murabahah Konsumtif


Tahun
Varians Standar Deviasi Varians Standar Deviasi
2011 0,19727 0,44415 0,12945 0,35978
2012 0,00310 0,05564 0,00091 0,03015
Sumber: Data diolah

Pada tabel 4.2 di atas, dijabarkan nilai varians dan standar deviasi dari

masing-masing pembiayaan murabahah selama periode Januari 2011 hingga

Agustus 2012. Penilaian kinerja pembiayaan murabahah dapat dikatakan

outperformed apabila memberikan return yang tinggi dengan risiko yang minimal.

Sedangkan underperformed memberikan return yang tinggi tetapi tidak diimbangi

dengan risiko yang tinggi pula, justru mendapatkan return yang sangat rendah.

Pada tahun 2011, nilai varians yang diperoleh oleh Murabahah Investasi (MI)

adalah 0,19727 dengan simpangan baku atau standar deviasi sebesar 0,44415

sedangkan varians yang diperoleh oleh Murabahah Konsumtif (MK) adalah

0,12945 dengan standar deviasi sebesar 0,35978. Sehingga dapat disimpulkan

bahwa pada tahun 2011, risiko yang ditanggung nasabah dengan berinvestasi pada

pembiayaan Murabahah Investasi (MI) lebih tinggi apabila dibandingkan dengan

risiko yang ditanggung dengan berinvestasi pada pembiayaan Murabahah

Konsumtif (MK), artinya lebih outperformed Murabahah Investasi (MI) karena

walapun risiko yang didapatkan lebih tinggi namun tetap diimbangi dengan return

6
yang tinggi pula, semakin tinggi return yang didapat maka semakin tinggi pula

risiko yang diperoleh.

Selanjutnya pada tahun 2012, jika dibandingkan dengan nilai varians

Murabahah Investasi (MI) adalah 0,00310 dengan standar deviasi sebesar

0,05564. Pembiayaan Murabahah Konsumtif (MK) memiliki nilai varians yang

lebih rendah yaitu 0,00091 dengan standar deviasi sebesar 0,03015. Dengan

demikian, pembiayaan Murabahah Konsumtif (MK) memiliki risiko yang sangat

kecil, tetapi mendapatkan return yang meningkat. Hal ini dapat dikatakan bahwa

kinerja pembiayaan Murabahah Konsumtif (MK) outperformed karena instrumen

investasinya dapat memberikan return yang tinggi dengan risiko yang minimal.

4.2.3 Tingkat Pengembalian (Return) Pasar

Tingkat return yang dihasilkan oleh pasar diukur dengan menggunakan

Indeks Harga yang berlaku di pasar modal, untuk pembiayaan syariah digunakan

Jakarta Islamic Index (JII) sebagai indikator. Perhitungan return pasar sama

dengan return pembiayaan murabahah. Return pasar dihitung dengan cara

mencari selisih indeks harga hari ini (t) dengan indeks harga hari sebelumnya (t-1)

kemudian dibagi dengan indeks harga hari sebelumnya (t-1). Pada tabel berikut ini

akan disajikan hasil perhitungan return JII.

7
Tabel 4.3
Tingkat Return dan Rata-rata Return Pasar
JII Pembiayaan MI dan MK Periode Januari 2011 – Agustus 2012

Jakarta Islamic Index (JII)


Tahun
Total Return Rata-rata Return
2011 0,12931 0,01176
2012 0,07525 0,00941
Sumber: Data diolah

Berdasarkan tabel 4.3 dapat dilihat bagaimana tingkat return pasar yaitu

Jakarta Islamic Index (JII) pembiayaan syariah yang diperoleh. Sebelumnya pada

tahun 2010 total return JII mengalami penurunan, begitu pula total return JII di

tahun 2011 yaitu 0,12931 dengan rata-rata return sebesar 0,01176. Tentunya hal

ini dapat berdampak negatif terhadap bank, salah satunya dapat mengurangi

kepercayaan investor yang akan melakukan pembiayaan di bank syariah dan

menyebabkan para investor sangat berhati-hati dalam melakukan pembiayaannya.

Beranjak dari tahun 2011 menuju tahun 2012 juga masih mengalami

penurunan yang sedikit tajam. Total return JII di tahun 2012 adalah 0,07525

dengan rata-rata return sebesar 0,00941. Hal ini dimungkinkan karena pada tahun

2012 belum mencapai jangka waktu 12 bulan atau 1 tahun. Sehingga return pasar

yang diperoleh pun menjadi tidak optimal dalam pembiayaan murabahah ini.

Oleh sebab itu dalam rangka membangun kembali kepercayaan investor dan

mendorong pemulihan pasar syariah, otoritas pasar keuangan dalam hal ini

menetapkan berbagai kebijakan yang ditujukan untuk mendukung pengembangan

produk pembiayaan sehingga menjadi lebih aman bagi investor yang akan

melakukan pembiayaan.

8
4.2.4 Tingkat Risiko (Risk) Pasar

Tingkat risiko pasar sama dengan tingkat risiko pembiayaan murabahah dari

segi cara perhitungannya yang menggunakan konsep simpangan baku atau standar

deviasi (σ). Untuk mempermudah dalam menghitung standar deviasi, sebelumnya

harus diukur terlebih dahulu varians dari populasi tersebut. Tabel berikut ini akan

menjabarkan secara lebih rinci nilai varians dan standar deviasi dari return pasar

JII terhadap kedua jenis pembiayaan murabahah.

Tabel 4.4
Varians dan Standar Deviasi
JII Pembiayaan MI dan MK Periode Januari 2011 – Agustus 2012

Jakarta Islamic Index (JII)


Tahun
Varians Standar Deviasi
2011 0,00222 0,04715
2012 0,00209 0,04570
Sumber: Data diolah

Pada tabel di atas ditunjukkan risiko pasar yang dimiliki JII untuk kedua jenis

pembiayaan murabahah. Risiko pasar tersebut dinyatakan dalam standar deviasi.

Semakin kecil standar deviasi mengindikasikan semakin kecil risiko yang dimiliki

oleh pasar. Keadaan sebaliknya terjadi apabila nilai standar deviasi semakin besar

maka semakin besar pula risiko yang dimiliki oleh masing-masing pasar.

Di tahun 2010, risiko pasar mengalami penurunan. Kemudian di tahun 2011

kembali terjadi penurunan tingkat risiko pasar dari JII, yaitu nilai varians adalah

9
0,00222 dengan standar deviasi sebesar 0,04715. Begitu pula pada tahun 2012

penurunan terjadi kembali dimana varians sebesar 0,00209 dengan standar deviasi

0,04570. Dengan demikian, standar deviasi yang semakin kecil mengindikasikan

risiko yang semakin kecil pula yang dimiliki pasar. Akan tetapi kemungkinan

penurunan di tahun 2012 ini terjadi dikarenakan pula belum mencapai jangka

waktu 12 bulan atau 1 tahun. Sehingga risiko pasar yang diperoleh pun menjadi

tidak optimal dalam pembiayaan murabahah ini.

Dalam mengukur kinerja pembiayaan murabahah tidak hanya dibutuhkan data

mengenai return dan risk yang dimiliki oleh kedua jenis pembiayaan murabahah

dan kondisi pasar yang mempengaruhinya. Hal lain yang dibutuhkan adalah

mengenai risk free yang berguna dalam pengukuran kinerja yang menggunakan

metode Sharpe, Treynor, dan Jensen. Risk free yang dijadikan acuan bagi

pembiayaan murabahah adalah tingkat bagi hasil SBIS (Sertifikat Bank Indonesia

Syariah) dalam periode Januari 2011 hingga Agustus 2012. Data SBIS dapat

diperoleh dari penjumlahan rate SBIS yang tenornya berada dalam kisaran satu

bulan. Rate tersebut kemudian dijumlahkan. Hasil penjumlahan tersebut kemudian

dibagi sebanyak bulan yang ada pada tahun tersebut.

4.3 Perbandingan Kinerja Pembiayaan Murabahah

Evaluasi kinerja pembiayaan murabahah pada penelitian kali ini menggunakan

tiga cara perhitungan dengan menggunakan metode Sharpe, Treynor, dan Jensen.

Tiga metode tersebut mengukur kinerja pembiayaan murabahah dari segi return

10
dan risk yang dimiliki atau yang sering disebut juga sebagai Metode Risk

Adjusted.

Pengukuran dengan metode Sharpe didasarkan atas apa yang disebut premi

atas risiko atau risk premium. Risk premium adalah perbedaan (selisih) antara rata-

rata kinerja pembiayaan murabahah dengan kinerja investasi yang bebas risiko

(risk free asset) sedangkan pengukuran dengan metode Treynor juga didasarkan

pada risk premium, namun dalam metode Treynor digunakan beta (β) yang

merupakan risiko fluktuatif relatif terhadap risiko pasar. Metode Jensen mengukur

kinerja yang didasarkan pada besarnya return suatu pembiayaan murabahah

terhadap return pasar. Berikut ini akan ditampilkan perbandingan perhitungan

kinerja dari masing-masing pembiayaan murabahah dengan menggunakan

metode Sharpe, Treynor, dan Jensen.

Tabel 4.5
Metode Sharpe, Treynor dan Jensen
Pembiayaan Murabahah Investasi (MI) dan Pembiayaan Murabahah
Konsumtif (MK) Periode Januari 2011 – Agustus 2012

Murabahah Investasi Murabahah Konsumtif


Tahun
Sharpe Treynor Jensen Sharpe Treynor Jensen
2011 0,68374 -0,26474 0,24282 0,02002 -0,01042 -0,02948
2012 -0,73559 0,65752 -0,05780 -0,28020 0,04265 -0,01518
Sumber: Data diolah

Pada tabel 4.5 di atas dapat dilihat penilaian kinerja pembiayaan Murabahah

Investasi (MI) dan pembiayaan Murabahah Konsumtif (MK) dengan

11
menggunakan metode Sharpe, Treynor, dan Jensen. Hasil perhitungan dengan

metode Sharpe menunjukkan pada tahun 20011 kedua jenis pembiayaan

murabahah memiliki kinerja yang cukup baik yang ditandai dengan skor yang

positif.

Kinerja pembiayaan Murabahah Investasi (MI) di tahun 2011 sebesar 0,68374

sedangkan kinerja pembiayaan Murabahah Konsumtif (MK) adalah 0,02002.

Walaupun kedua kinerja pembiayaan murabahah dinilai cukup baik, namun

kinerja yang diperoleh oleh pembiayaan Murabahah Investasi (MI) masih lebih

baik jika dibandingkan dengan kinerja pembiayaan Murabahah Konsumtif (MK).

Di tahun 2012, kinerja pembiayaan murabahah mengalami penurunan yang

cukup signifikan dengan batas waktu hingga Agustus 2012. Hasil kinerja kedua

pembiayaan tersebut bernilai negatif dengan skor kinerja untuk pembiayaan

Murabahah Investasi (MI) sebesar -0,73559 dan kinerja pembiayaan Murabahah

Konsumtif (MK) sebesar -0,28020. Dengan mengalami penurunan dari tahun

sebelumnya, dapat dikatakan kinerja pembiayaan Murabahah Konsumtif (MK)

dinilai lebih baik dibandingkan dengan pembiayaan Murabahah Investasi (MI).

Beralih ke perhitungan kinerja dengan menggunakan metode Treynor. Untuk

tahun 2011, skor kinerja dari masing-masing pembiayaan murabahah bernilai

negatif. Kinerja untuk pembiayaan Murabahah Investasi (MI) sebesar -0,26474

sedangkan kinerja untuk pembiayaan Murabahah Konsumtif (MK) sebesar -

0,01042. Walaupun kinerja kedua pembiayaan murabahah kurang baik, tetapi

kinerja yang dihasilkan oleh pembiayaan Murabahah Konsumtif (MK) masih

12
cenderung lebih baik dibandingkan dengan kinerja pembiayaan Murabahah

Investasi (MI).

Selanjutnya terjadi perubahan skor kinerja untuk pembiayaan Murabahah

Investasi (MI) di tahun 2012 sebesar 0,65752 sementara skor kinerja pembiayaan

Murabahah Konsumtif (MK) sebesar 0,04265. Dengan perolehan skor yang

positif untuk kedua jenis pembiayaan murabahah ini dikatakan bahwa kinerja

yang diperoleh oleh pembiayaan Murabahah Investasi (MI) tentunya lebih baik

jika dibandingkan dengan kinerja pembiayaan Murabahah Konsumtif (MK).

Terakhir, perhitungan kinerja dengan menggunakan metode Jensen.

Perhitungan dengan metode Jensen untuk kinerja pembiayaan murabahah di

tahun 2011 terlihat bahwa pembiayaan Murabahah Investasi (MI) adalah sebesar

0,24282. Kinerja pembiayaan Murabahah Investasi (MI) di tahun 2011 terbilang

cukup baik karena bernilai positif sedangkan kinerja pembiayaan Murabahah

Konsumtif (MK) masih tergolong kurang baik karena bernilai negatif. Skor

kinerja untuk pembiayaan Murabahah Konsumtif (MK) pada tahun 2011 adalah

sebesar -0,02948. Sehingga dapat disimpulkan bahwa untuk tahun 2011 kinerja

pembiayaan Murabahah Investasi (MI) lebih baik dibandingkan dengan kinerja

pembiayaan Murabahah Konsumtif (MK).

Di tahun 2012, kinerja pembiayaan Murabahah Investasi (MI) yang semula

berada di nilai positif yaitu 0,24282 mengalami penurunan menjadi negatif

sebesar -0,05780. Kondisi sebaliknya terjadi pada pembiayaan Murabahah

Konsumtif (MK) walaupun skor tetap bernilai negatif namun kinerja pembiayaan

13
Murabahah Konsumtif (MK) terkoreksi lebih baik dari yang semula -0,02948

menjadi -0,01518. Sehingga di akhir Agustus 2012 kinerja pembiayaan

Murabahah Konsumtif (MK) dinilai lebih baik dibandingkan dengan pembiayaan

Murabahah Investasi (MI).

4.4 Uji Hipotesis

Pada penelitian kali ini hipotesis yang telah dibuat sebelumnya akan diuji

dengan menggunakan uji dua sampel independen (Independent Sample Test).

Pengujian hipotesis dilakukan dengan bantuan program SPSS. Berikut ini akan

dijelaskan hasil uji dari masing-masing sampel, yaitu kinerja pembiayaan

Murabahah Investasi (MI) dan kinerja pembiayaan Murabahah Konsumtif (MK)

dengan menggunakan metode Sharpe, Treynor, dan Jensen.

14
Tabel 4.6
Uji t Risk Adjusted Method Pembiayaan Murabahah Investasi (MI)
dengan Pembiayaan Murabahah Konsumtif (MK)

Independent Samples Test


Levene's Test for
Equality of
Variances t-test for Equality of Means
Sig. 95% Confidence Interval of
(2- Mean Std. Error the Difference
F Sig. t df tailed) Difference Difference Lower Upper
Sharpe Equal . . .144 2 .899 .10416500 .72536710 -3.01683772 3.22516772
variances
assumed
Equal .144 1.089 .908 .10416500 .72536710 -7.50538701 7.71371701
variances not
assumed

Independent Samples Test


Levene's Test for
Equality of
Variances t-test for Equality of Means
Sig. 95% Confidence Interval of
(2- Mean Std. Error the Difference
F Sig. t df tailed) Difference Difference Lower Upper
Treynor Equal 1.564E16 .000 .390 2 .734 .18027500 .46189283 -1.80708943 2.16763943
variances
assumed
Equal .390 1.007 .763 .18027500 .46189283 -5.59817050 5.95872050
variances not
assumed

Independent Samples Test


Levene's Test for
Equality of
Variances t-test for Equality of Means
Sig. 95% Confidence Interval of
(2- Mean Std. Error the Difference
F Sig. t df tailed) Difference Difference Lower Upper
Jensen Equal 1.282E16 .000 .763 2 .525 .11484000 .15047996 -.53262301 .76230301
variances
assumed
Equal .763 1.005 .585 .11484000 .15047996 -1.77695339 2.00663339
variances not
assumed

Sumber: Data diolah

15
Dari output di atas, terlihat bahwa t hitung untuk indeks Sharpe dengan equal

variances assumed adalah 0,144 dengan probabilitas 0,899. Karena probabilitas

0,899 > 0,05 maka H diterima, artinya tidak memiliki perbedaan pada indeks

Sharpe antara pembiayaan Murabahah Investasi (MI) dengan pembiayaan

Murabahah Konsumtif (MK). Dapat dikatakan indeks Sharpe kedua pembiayaan

murabahah ini tidak memiliki perbedaan.

Berikutnya untuk indeks Treynor dapat dilihat bahwa t hitung dengan equal

variances assumed adalah 0,390 dengan nilai probabilitas 0,734. Karena

probablititas 0,734 > 0,05 maka H diterima, artinya tidak memiliki perbedaan

pada indeks Treynor antara pembiayaan Murabahah Investasi (MI) dengan

pembiayaan Murabahah Konsumtif (MK). Dapat dikatakan indeks Treynor kedua

pembiayaan murabahah ini tidak memiliki perbedaan

Indeks terakhir adalah dengan menggunakan indeks Jensen. Pada tabel 4.6

terlihat bahwa t hitung dengan equal variances assumed adalah 0,763 dengan nilai

probabilitas 0,525. Karena probablititas 0,525 > 0,05 maka H diterima, artinya

tidak memiliki perbedaan pada indeks Jensen antara pembiayaan Murabahah

Investasi (MI) dengan pembiayaan Murabahah Konsumtif (MK). Dapat dikatakan

indeks Jensen kedua pembiayaan murabahah ini tidak memiliki perbedaan

4.4 Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasarkan pada data yang telah di analisis yakni kinerja pembiayaan

Murabahah Investasi (MI) dan pembiayaan Murabahah Konsumtif (MK) selama

periode Januari 2011 – Agustus 2012 dengan menggunakan perhitungan Excel

16
maupun perhitungan SPSS 19.0 menghasilkan bahwa kedua jenis pembiayaan

murabahah tidak memliki perbedaan. Hal ini telah dibuktikan dalam pengujian

hipotesis uji t melalui pendekatan risk adjusted method. Dari ketiga indeks

menghasilkan hal yang sama dimana nilai probabilitas yang dihasilkan lebih besar

dari nilai alpha (0,05). Dengan demikian, berarti secara jelas terlihat bahwa tidak

ada perbedaan kinerja antara pembiayaan Murabahah Investasi (MI) dengan

pembiayaan Murabahah Konsumtif (MK).

Hasil dari analisis trend dan kecenderungan dapat disimpulkan bahwa kinerja

pembiayaan Murabahah Investasi (MI) memiliki perkembangan yang lebih baik

dan mampu bersaing dengan kinerja pembiayaan Murabahah Konsumtif (MK)

untuk saat ini pada awal pembiayaan yang dilakukan oleh Bank Syariah Mandiri

Kantor Cabang Pondok Kelapa. Hasil penelitian ini pun dapat dikatakan hampir

sama dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Habibullah tahun 2005

studi kasus pada Bank Bukopin Syariah yang mengatakan bahwa kinerja

pembiayaan Murabahah Investasi (MI) menunjukkan kinerja yang lebih baik dari

pembiayaan murabahah lainnya sehingga tetap perlu dipertahankan porsinya,

serta meningkatkan porsi untuk pembiayaan murabahah lainnya, agar semakin

banyak investor yang menanamkan investasinya pada pembiayaan murabahah.

Hal lainnya dalam penelitian Hermawan (2009) tentang analisis kinerja

investasi reksa dana pada PT PNM Investment Management menunjukkan bahwa

antara Reksa dana PNM Sejahtera dan Reksa dana PNM Syariah tidak memiliki

kinerja yang baik sebab masih berada di bawah tolok ukurnya, sehingga bisa

dikatakan bahwa investasi pada kedua reksa dana tidak menguntungkan.

17
Dalam penelitian Sulistyorini tahun 2009) mengenai Analisa kinerja portofolio

saham dengan metode Sharpe, Treynor dan Jensen (Saham LQ 45 di Bursa Efek

Indonesia Tahun 2003 sampai 2007) hasilnya menunjukkan implikasi kebijakan

yang dapat diambil dari hasil yang diperoleh dari tidak adanya perbedaan yang

bermakna terhadap pengukuran kinerja portofolio, maka dalam hal ini pemilihan

pengukuran kinerja portofolio akan dikembalikan kembali kepada investor atau

pelaku pasar modal.

Pengukuran dengan analisis trend melalui pendekatan risk adjusted method

pembiayaan Murabahah Investasi (MI) pada tahun 2011 memberikan hasil yang

stabil outperformed dibandingkan dengan pembiayaan Murabahah Konsumtif

(MK). Hal ini juga diperlihatkan dari hasil yang diberikan return dari pembiayaan

Murabahah Investasi (MI).

18