Vous êtes sur la page 1sur 20

BAB I

PENDAHULUAN

Dalam bidang penyakit kulit, laser berkembang menjadi bedah laser dan laser kosmetik.
Cahaya adalah sistem yang sangat kompleks dari energi radiasi yang terdiri dari gelombang dan
paket energi dikenal sebagai foton. Hal ini diatur ke dalam elektromagnetik spektrum (EMS)
sesuai dengan panjang gelombang mereka. Laser adalah Light Amplification by Stimulated
Emission of Radiation. Untuk alasan ini, laser adalah bukan hanya alat tetapi juga sebuah proses
fisik amplifikasi. Kata terakhir dalam akronim, "radiasi", adalah sumber yang biasanya
menimbulkan kecemasan pada pasien karena hal ini terkait dengan energi radiasi pengion tinggi
sering dikaitkan dengan radioterapi kanker. Pasien harus diyakinkan bahwa semua laser medis
saat ini tidak memiliki risiko yang terkait dengan radiasi yang digunakan pada kanker terapi.1
Laser biasanya dinamai sesuai dengan medium yang terkandung dalam rongga optik
mereka. Gas laser terdiri dari argon, excimers, tembaga uap, helium-neon, kripton, dan karbon
dioksida. Salah satu laser cairan yang paling umum berisi cairan rhodamine dan digunakan
dalam pulse-dye laser. Laser padat adalah ruby, neodymium: yttrium-aluminium-garnet (Nd:
YAG), alexandrite, erbium, dan laser dioda. Semua perangkat ini digunakan secara klinis
mengobati berbagai kondisi dan gangguan berdasarkan panjang gelombang, sifat pulse, dan
energi masing-masing laser.1
Mula-mula diintroduksi oleh Einstein pada tahun 1917 yang dikembangkan oleh Maiman
pada tahun 1960 menjadi laser pertama yaitu laser Ruby. Tahun 1963 Leon Goldman,seorang
spesialis penyakit kulit pertama kali mengaplikasi laser pada kulit manusia. Beliau dapat disebut
sebagai Bapak Laser Kedokteran di Amerika. 2
Sejak ditemukannya alat laser pada tahun 1960 oleh T.H. Maiman dari The Hughes
Research Laboratories California, USA alat ini telah berkembang dengan sangat pesat dan
meliputi berbagai disiplin ilmu kedokteran dan bidang-bidang di luar kedokteran. Di bidang
kedokteran, selain penyakit kulit juga dipakai dalam bidang penyakit mata, THT, urologi, gigi-
mulut, bedah, saraf, kebidanan, dan lain-lain. Di bidang lain, laser dipakai dalam industry,
fotografi, kemiliteran, komunikasi, dan hampir semua bidang teknologi.2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

MEKANISME TERBENTUKNYA SINAR LASER


Untuk memahami bagaimana sinar laser terbentuk, penting untuk mengingat struktur
atom. Semua atom terdiri dari inti pusat yang dikelilingi oleh elektron yang menempati level
energi yang berlainan atau orbit di sekitar inti dan memberikan konfigurasi atom yang stabil.
Ketika sebuah atom secara spontan menyerap foton cahaya, elektron orbital luar pindah ke energi
orbit tinggi, yang merupakan konfigurasi yang tidak stabil. Konfigurasi ini sangat cepat berlalu
dan atom cepat melepaskan foton cahaya secara spontan sehingga elektron dapat kembali ke
energi normal, yang lebih rendah, tapi stabil dalam orbital konfigurasi. Dalam kondisi normal,
penyerapan spontan ini dan pelepasan cahaya terjadi tidak teratur dan acak dan menghasilkan
produksi cahaya koheren.1
Ketika sebuah sumber energi dari luar diberikan ke rongga laser yang mengandung
medium laser, biasanya dalam bentuk listrik, cahaya, microwave, atau bahkan reaksi kimia, atom
yang istirahat dirangsang untuk menggerakkan elektron untuk stabil, energi yang lebih tinggi,
orbit luar. Ketika lebih banyak atom ada dalam konfigurasi energi tinggi yang tidak stabil
daripada konfigurasi istirahat, kondisi yang dikenal sebagai populasi inversi terbentuk, yang
diperlukan untuk selanjutnya langkah dalam amplifikasi cahaya.1
Amplifikasi cahaya terjadi pada optik rongga atau resonator laser. Resonator biasanya
terdiri dari rongga tertutup yang memungkinkan foton yang dipancarkan cahaya untuk
merefleksikan bolak-balik dari satu ujung cermin dari ruang sampai intensitas cukup telah
dikembangkan untuk amplifikasi lengkap terjadi. Melalui proses kompleks penyerapan dan emisi
energi foton, prasyarat untuk pengembangan sinar laser cahaya telah dipenuhi dan amplifikasi
terjadi. Foton kemudian dibiarkan keluar melalui perforasi kecil di sebagian reflektif cermin.
Sinar yang muncul dari cahaya memiliki tiga karakteristik unik yang memungkinkan itu akan
dikirimkan kepada sasaran yang tepat dengan serat optik.1
FISIKA LASER
Untuk mengetahui tentang dasar laser, terlebih dahulu perlu diketahui tentang fisika laser,
sinar laser merupakan sinar yang unik. Ada 3 sifat sinar laser yang menonjol yang membuktikan
keunikannya dan berbeda dari sinar biasa, yaitu:
 Monokromatik
 Koheren
 Kolimasi
Monokromatik, berarti cahaya dari sumber laser mempunyai satu panjang gelombang.
Sinar biasa bersifat polikromasi. Koheren, yaitu mempunyai gelombang energi yang berada
dalam 1 fase, baik dalam ruang maupun waktu. Kolimasi, yaitu berkas sinar laser selalu berjalan
parallel atau sejajar satu sama lain yang berarti tidak terjadi divergensi atau konvergensi. Sifat
intrinsik sinar laser ini dapat diaplikasikan kepada jaringan.2

SISTEM LASER
Sistem laser terdiri atas:
 Medium laser dapat berupa padat (Ruby), cair (zat warna organik) dan gas (Argon dan
CO2)
 Ruang gema optik
Sebagai usaha untuk memperoleh cahaya koheren, dibutuhkan satu ruang gema optik.
Ruang ini merupakan tempat amplifikasi cahaya serta tempat untuk menyeleksi foton,
agar berjalan pada arah yang dikehendaki. Ruang gema optik ini di bagian depan dibatasi
oleh cermin yang mempunyai daya pantul terbatas (partially reflecting mirror),
sedangkan di bagian belakang juga terdapat cermin dengan daya pantul total.
Letak cermin sedemikian rupa sehingga cahaya dapat berjalan sejajar dengan sumbu
ruang gema optik. Di dalam ruang ini terdapat medium laser yang biasanya berbentuk
tabung atau batang.
 Sumber energi, atau “pompa” dapat berupa listrik, mekanik, atau zat kimiawi.2

INTERAKSI SINAR LASER DENGAN JARINGAN


Untuk memahami bagaimana memilih laser yang ideal dari segudang perangkat yang
tersedia saat ini untuk pengobatan kondisi kulit penting untuk pertama memahami bagaimana
cahaya menghasilkan efek biologis dalam interaksi dengan kulit. Agar energi laser menghasilkan
efek apapun di kulit pertama kali harus diserap. Penyerapan adalah transformasi energi radiasi
(cahaya) ke bentuk energi yang berbeda (biasanya panas) oleh interaksi tertentu dengan jaringan.
Jika cahaya direfleksikan dari permukaan kulit atau ditransmisikan tanpa adanya penyerapan,
maka tidak akan ada efek biologis. Jika cahaya diserap secara tidak tepat oleh sasaran atau
kromofor di kulit maka efeknya juga akan tidak tepat. Hanya ketika cahaya diserap secara tepat
oleh komponen tertentu dari kulit yang akan ada efek. Sementara ini mungkin terlihat sulit untuk
secara akurat mengantisipasi, pada kenyataannya, hanya ada tiga komponen utama kulit yang
menyerap sinar laser: melanin, hemoglobin, dan cairan intraseluler atau ekstraseluler. Produsen
laser mengambil informasi ini dan merancang perangkat teknologi saat ini yang menghasilkan
cahaya yang mana warna atau panjang gelombang yang tepat untuk secara tepat diserap oleh
salah satu komponen kulit. Hal ini meminimalkan cedera atas kulit normal sekitarnya.1

MACAM-MACAM LASER
Laser sejak tahun 1960 merupakan alat yang selalu dan perlu dipakai pada berbagai
kelainan kulit. Terdapat sekian banyak sistem laser kedokteran pada saat ini, tetapi semuanya
berdasarkan pada selective photo-thermolysis (SPTL) yaitu fototermolisis selektif yang berarti
memakai energi laser yang tepat, untuk secara selektif mengobati atau merusak khusus jaringan
saja dan tidak merusak jaringan yang lain di sekelilingnya.
Sistem laser yang beredar pada saat ini antara lain:
 Laser Ruby (panjang gelombang 684 nm). Merupakan laser pertama yang dibuat pada
tahun 1960 oleh T.H. Maiman. Laser Ruby diabsorpsi oleh pigmen biru dan hitam oleh
melanin di kulit dan rambut.
 Laser argon (panjang gelombang 488 dan 514 nm). Sinar ini akan diabsorpsi bila
menyentuh kelainan kulit yang berpigmen dan mengeluarkan energi yang berupa panas
sehingga mengevaporasi pigmen tersebut. Laser argon berkemampuan secara selektif
menghilangkan pigmen yang berada dalam kulit. Indikasinya adalah untuk telangiektasis,
akne rosacea, granuloma piogenikum, keratosis senilis, nevus pigmentosus, xantoma,
lentigo, giant hairy nevus, tato dan lain-lain.
 Laser CO2 (panjang gelombang 10.600 nm). Diabsorpsi sempurna oleh cairan dan benda
padat. Laser CO2 berkhasiat selain menghancurkan sel dapat pula memotong kulit dan
jaringan disebut sebagai “pisau sinar”. Perdarahan umumnya sedikit oleh karena terjadi
koagulasi sel-sel darah merah dan penutupan kapiler-kapiler yang terpotong. Banyak
dipakai oleh bagian bedah, THT, bedah saraf, ginekologi, pediatri, dan bedah mulut. Di
bagian kulit dipakai untuk lesi kulit jinak seperti veruka, nevus, keratosis, laser kosmetik
untuk resurfacing kerutan-kerutan di kulit.
 Laser Nd Yag (panjang gelombang 1064 nm). Sebagai medium laser digunakan kristal
yttrium, alumunium-garnet. Di samping itu dipakai elemen Nd=neodymium atau erbium
yang disebut ErYaglaser. Dipakai untuk tato hitam dan menghilangkan rambut (hair
removal).
 Laser PDL = Pulse Dye Laser (panjang gelombang 577-585). Sebagai medium laser
dipakai zat warna rodamin. Dipakai terutama pada lesi vaskuler seperti spider vein, PWS
dan lain-lain.
Di samping jenis-jenis laser yang disebut di atas terdapat bermacam-macam jenis lain, misalnya
laser KTP = Potassium-Titanyl-Phosphate, laser Excumer, Ho yag laser untuk litotripsi dan
prostat, laser Alexandrite, laser Copper-Vapor (CVL) dan laser diode.2

KEAMANAN LASER
Laser pada umumnya mempunyai bahaya intrinsik. Yang paling sensitif terhadap sinar
laser adalah mata. Kita harus berhati-hati menggunakannya, terutama laser CO2, jangan sampai
langsung mengenai mata karena dapat langsung merusak retina dan kornea. Sinar laser bersifat
kolimasi, yaitu berjalan parallel, sehingga sinar mata akan memfokuskan sinar ini ke suatu
tempat di retina. Laser energy rendah sekalipun, bila berfokus dapat menyebabkan kerusakan.2
Jaringan lain yang sensitif terhadap laser adalah kulit, penyinaran laser voltase tinggi
dapat menyebabkan kombusio di kulit. Selain itu dapat menyebabkan kebakaran.
Mengingat hal-hal tersebut langkah pengamanan harus diambil, yakni:
 Cedera pada mata dihindari dengan memakai kacamata khusus pelindung mata untuk
dokter, petugas, dan pasien
 Alat-alat bedah yang dapat memantulkan sinar harus disingkirkan
 Pengamanan instalasi listrik
Selain itu pada pintu kamar laser perlu dipasang tanda peringatan bahaya laser.2
LASER ENERGI (INTENSITAS) RENDAH
Di samping laser energy tinggi, terdapat laser energi rendah. Pengobatan dengan laser
energi rendah. Pengobatan dengan laser energi rendah dikenal dengan nama:
Low Level Laser Therapy (LLLT)
Low Intensity Laser Irradiation (LILI)
Low Power Laser Radiation (LPLR)
Low Power Laser Therapy (LPLT)
Untuk pengobatan laser tenaga rendah digunakan berbagai macam laser dengan panjang
gelombang 660 nm – 880 nm, yakni laser Hene 632,8 nm, laser diode dengan medium Ga Al As
(Galium-Alumunium Arsenid) 830 nm. Dasar pengobatan laser tenaga rendah adalah
biostimulasi yaitu stimulasi untuk mempercepat respons fisiologis sel dan jaringan.2
Pada saat ini manfaatnya sangat nyata, dan perkembangannya sangat pesat. Pada
penyembuhan luka kronis di kulit misalnya, biasanya dipengaruhi oleh pembentukan jaringan
granulasi, epitelisasi, dan keadaan trofik kulit setempat. Biostimulasi dengan laser tenaga rendah
ternyata dapat mempercepat penyembuhan luka karena memiliki respons stimulasi berupa:
 Proliferasi fibroblast
 Angiogenesis, neovaskularisasi
 Pembentukan jaringan kolagen meningkat
 Daya fagositosis sel leukosit meningkat
 Epitelisasi
Energi yang dipakai pada laser tenaga rendah sangat sedikit, yaitu antara 10 m watt – 60 m watt,
power density yang diserap hanya berkisar antara 1-4 joule/m2.
Indikasi laser tenaga rendah:
 Ulkus yang sukar sembuh, misalnya ulkus varikosum, ulkus diabetikum terutama pada
kaki dengan angiopati, ulkus kusta, dan ulkus dekubitus
 Radionekrosis
 Alopesia areata
 Herpes zoster, herpes simpleks
 Neuralgia pasca-herpes2
INDIKASI LASER
 Lesi vaskular
 Lesi pigmentasi dan tato
 Rambut yang tidak diinginkan
 Ablative dan nonablative facial resurfacing1

RESPON PENYAKIT TERHADAP LASER


Respon lesi pigmentasi terhadap treatment dengan laser:3
 Lesi pigmentasi yang berespon baik:
o Simple lentigo dan freckles
o Labial lentigo
o Nevus Ota, nevus Ito, residual Mongolian spot, simple blue nevi
o Acquired bilateral nevus Ota-like macules
o Palmo-plantar congenital nevi
 Lesi pigmentasi yang terkadang berespon:
o Café au lait macule
o Nevus spilus
o Nevus congenital
o Nevus Becker
o Melasma
 Lesi pigmentasi yang tidak seharusnya dilakukan laser:
o Nevus displastik
o Lentigo maligna
o Melanoma
Respon lesi vascular terhadap treatment dengan laser:3
 Lesi vascular yang biasanya berespon baik:
o Telangiektasis
 Telangiektasis generalis
 Spider angioma
 Herediter hemoragik telangiektasis
 Radioterapi-induced telangiektasis
 Telangiektasis macularis eruptif perstans (TMEP)
 Angioma serpiginosum
o Rosacea dengan telangiektasis
o PWS pada anak-anak dan remaja
o Cherry angioma
o Angiokeratoma
o Blue rubber bleb nevus syndrome
o Angiokeratoma corporis difus
o Phacomatosis pigmentovaskularis
 Lesi vascular yang terkadang berespon:
o Rosacea dengan flushing, tanpa telangiektasis
o Hipertrofik PWS
o Hemangioma
o Poikiloderma Civatte
o Granuloma piogenik
 Lesi vascular yang berespon minimal:
o Venulektasis pada tungkai
o High-flow, hipertrofik PWS

KOMPLIKASI PADA EPIDERMIS


1. Hiperpigmentasi
Masalah ini lebih umum pada pasien dengan jenis kulit lebih gelap. Pasien dengan kulit
cokelat segar juga lebih beresiko. Hiperpigmentasi hampir selalu merupakan efek
sementara yang respon terhadap terapi topikal dan terapi pemutihan dan membaik dari
waktu ke waktu. Hiperpigmentasi relatif umum terjadi setelah ablative resurfacing
(terutama Laser CO2), yang berlangsung rata-rata 3-4 bulan. Resiko hiperpigmentasi pada
penggunaan laser untuk hair removal berkaitan dengan variasi musiman, kehadiran
cokelat, dan pigmen intrinsik mendefinisikan jenis kulit pasien. Menariknya, meskipun
kriogen spray pendingin sistem membatasi hiperpigmentasi akibat pemanasan epidermis,
aplikasi berlebihan pendinginan itu sendiri dapat menyebabkan kerusakan epidermal dan
hiperpigmentasi.4
2. Hipopigmentasi
Hipopigmentasi pasca operasi juga mungkin terjadi, terutama setelah penggunaan laser
dengan melanin sebagai target, atau pigmen khusus iradiasi laser. Dengan demikian,
sangat umum terjadi dalam tato, lesi berpigmen, atau hair removal yang diobati dengan
Q-switched ruby, Alexandrite, dan Nd: YAG laser. Dalam situasi ini, hipopigmentasi
lebih sering diamati setelah beberapa kali perawatan dan lebih sering terjadi pada pasien
dengan jenis kulit lebih gelap. Seperti hiperpigmentasi, komplikasi ini sering sementara,
meskipun hipopigmentasi permanen juga dapat terjadi. Delayed permanent
hypopigmentation telah diakui sebagai komplikasi khusus untuk laser resurfacing ablatif
terutama laser CO2 skin resurfacing.4
3. Melepuh (blister) pasca operasi
Terbentuknya blister adalah karena kerusakan termal epidermis dan, kadang-kadang,
dapat diproduksi oleh hampir semua sistem laser. Hal ini paling sering didapati pada Q-
switched iradiasi laser untuk menghilangkan tato. Penjelasan untuk pengembangan
termasuk penggunaan laser yang berlebihan atau penyerapan tidak sengaja energi laser
disebabkan adanya peningkatan dari kromofor epidermal (misalnya, melanin pada kulit
tan). Penggunaan seiring pendinginan jaringan (melalui kriogen semprot) berfungsi untuk
melindungi epidermis dari kerusakan termal berlebihan selama iradiasi laser, dan
penerapan tidak tepat atau penggunaan pendingin tidak tepat juga dapat menyebabkan
kerusakan epidermis.4
4. Krusta pasca operasi
Efek yang tidak diinginkan ini juga disebabkan oleh laser-mengakibat kerusakan
epidermis. Krusta adalah biasanya terjadi pada Q-switched laser yang digunakan untuk
menghilangkan tato tetapi dapat diamati setelah pengobatan dengan laser lain juga. Tanpa
perawatan pasca operasi yang sesuai, pengerasan kulit tidak bisa dihindari setelah
prosedur laser resurfacing kulit.4
5. Milia
Milia sering terjadi sebagai peristiwa normal dalam kegiatan pasca operasi pasien yang
telah menjalani karbon dioksida atau erbium laser resurfacing kulit. Perkembangan milia
dapat dikurangi dengan penerapan tretinoin topikal atau asam glikolat. Ketika hanya
sedikit lesi yang muncul, milia mudah diobati dengan cara ekstraksi manual.4
KOMPLIKASI PADA DERMIS
1. Purpura
Purpura sering didapatkan pada pasien setelah dilakukan pulsed-dye laser. Saat itu hampir
tak terelakkan dengan generasi pertama 585-nm pulsed-dye laser. Purpura adalah
fenomena sementara yang biasanya berlangsung 7-14 hari. Insiden telah dikurangi
dengan pengembangan pulsed-dye laser dengan memperpanjang pulse duration, yang
memungkinkan pemanasan dari pembuluh darah kulit lebih lambat. Pengguna sistem ini
dapat memilih pengaturan yang meminimalkan atau menghilangkan purpura.4
2. Scar
Komplikasi permanen ini mungkin yang paling ditakuti dari komplikasi laser. Akhir-
akhir ini resiko jaringan parut (scar) pada pulsed dan Q-switched laser yang
menggunakan prinsip-prinsip photothermolysis selektif jauh lebih sedikit, tetapi jaringan
parut masih mungkin didapatkan pada pemakaian perangkat apapun. Apakah atrofi atau
hipertrofi, jaringan parut selalu diakibatkan karena kerusakan berlebihan pada kolagen di
dermis.4
Secara umum, risiko jaringan parut lebih rendah dengan penggunaan pigmen khusus
laser, pulse vascular laser, sistem laser nonablative, dan pulse hair removal laser sistem.
Laser resurfacing kulit (baik karbon dioksida dan erbium) memiliki risiko tertinggi
menyebabkan jaringan parut karena akan merusak jaringan dermal seperti peningkatan
risiko infeksi pada deepitelisasi kulit. Faktor-faktor seperti jumlah energi yang lewat dan
energi yang digunakan dapat mempengaruhi risiko jaringan parut, sementara teknologi
yang menggunakan sistem pendinginan bekerja untuk meminimalkan risiko ini.4

KOMPLIKASI LAIN
1. Penyembuhan luka yang lambat
Meskipun jarang, penyembuhan luka yang lambat telah diidentifikasi sebagai komplikasi
khusus untuk karbon dioksida atau erbium laser resurfacing kulit. Setelah infeksi kulit
dan kondisi sistemik lain (misalnya, lupus eritematosa, ikat-jaringan penyakit) sudah
dihilangkan sebagai faktor penyebab potensial dari respon penyembuhan luka yang
buruk, paling baik dikelola dengan manajemen luka konservatif. Sayangnya, jaringan
fibrosis dan jaringan parut adalah gejala sisa yang umum dari respon penyembuhan luka
tertunda.4
2. Infeksi pada luka
Infeksi pada luka adalah yang paling sering terjadi setelah skin resurfacing laser. Infeksi
virus, bakteri, dan jamur superfisial mungkin terjadi. Herpes simplex virus dapat aktif
kembali pada pasien selama reepitelisasi setelah perawatan laser kulit, terutama hair
removal dan resurfacing. Profilaksis antiherpes dengan demikian direkomendasikan
untuk semua perioral atau prosedur laser resurfacing seluruh wajah. Infeksi bakteri
biasanya disebabkan oleh stafilokokus atau spesies pseudomonas dan telah terbukti
muncul lebih sering pada pasien yang telah menggunakan perban luka dalam waktu lama
setelah operasi. Demikian pula, infeksi kandida dapat terjadi. 4
3. Noda hitam
Pertama kali tercatat pada iradiasi kosmetik (eyeliner, lipliner, browliner) tato dengan Q-
switched ruby laser, fenomena ini juga telah dilaporkan pada pemakaian Q-switched Nd:
YAG, Q-switched Alexandrite, dan 510-nm pulsed dye laser. Noda hitam ini disebabkan
oleh konversi laser-induced ferri oksida ke ferro oksida dalam tinta tato kosmetik,
menghasilkan pigmentasi hitam tidak larut di dalam kulit.4
4. Reaksi alergi
Reaksi alergi (termasuk anafilaksis) telah dilaporkan pada penggunaan Q-switched laser
tato dan diduga disebabkan perubahan antigenisitas dari pigmen tato oleh laser.4
5. Eritema postoperatif
Beberapa derajat eritema berlangsung kurang dari 24 jam dan muncul pada hampir semua
prosedur laser. Eritema yang lebih lama dapat terjadi sebagai efek samping yang tidak
diinginkan tetapi juga sementara pada hampir semua pasien yang diobati dengan laser
nonablative. Eritema lebih lama didapatkan pada semua pasien setelah resurfacing kulit
laser ablatif. Durasi (dari hari sampai beberapa bulan) tergantung pada kedalaman dan
tingkat kedalaman melukai kulit. Erbium laser biasanya menghasilkan eritema pasca
operasi kurang dari laser karbon dioksida.4
6. Dermatitis kontak postoperatif karena obat-obatan topikal
Dermatitis kontak alergi atau dermatitis kontak iritan dapat terjadi setelah semua jenis
prosedur laser, umumnya pada antibiotik topikal. Karena kesulitan dalam membedakan
dermatitis kontak dari infeksi pada pasien yang telah melakukan laser resurfacing, banyak
praktisi menghindari penggunaan antibiotik topikal pada pasien tersebut.4

Q-SWITCH LASER
Rongga laser "Q" adalah ukuran dari optical loss per foton yang melintas di dalam
rongga optik. Dengan demikian, "Q" dari suatu sistem adalah cara untuk mencirikan kualitas
foton yang dirilis sehingga "Q" yang tinggi berarti kerugian yang rendah dan "Q" yang rendah
berarti kerugian yang tinggi. Q-switch adalah metode fisik untuk menciptakan extremely short
pulses (5-20 ns) dari sinar laser intensitas tinggi (5-10 MW) dengan daya puncak dari 4 joule.
Selain komponen normal dari laser yang sebelumnya dijelaskan, sistem ini memanfaatkan rana
yang dibangun dari sebuah polarizer dan sel pockels dalam rongga optik. Sel pockels adalah
kristal optik transparan yang berputar bidang polarisasi cahaya ketika tegangan diterapkan.
Bersama-sama, polarizer dan pockels sel bertindak sebagai "Q"-switch. Energi cahaya terbentuk
di dalam rongga optik bila tegangan diterapkan ke sel pockels. Setelah tegangan dimatikan,
energi cahaya dilepaskan dalam extremely powerful short pulse. Saat ini tersedia Q-switched
laser termasuk ruby, Nd: YAG dan Alexandrite laser.1
Q-switched laser dan foton cahaya dirilis dan memiliki karakteristik yang unik yang
memungkinkan untuk secara efektif digunakan untuk mengobati tato (Goldman et al. 1967) dan
lesi jinak berpigmen. Hal ini disebabkan mekanisme aksi dimana gelombang fotoakustik
dihasilkan dalam kulit dengan dirilisnya foton cahaya yang memanaskan partikel kecil pigmen
tato atau melanosom. Pemanasan ini menyebabkan kavitasi di dalam sel yang mengandung
partikel tinta atau pigmen, diikuti oleh pecahnya sel dan akhirnya difagositosis oleh makrofag
dan pembersihan debris dari tempat kejadian. Secara klinis, proses ini dilakukan secara bertahap
untuk memudarkan tato dengan serangkaian 4-8 kali perawatan pada interval 6-8 minggu dan
uuntuk menghapuskan lesi jinak berpigmen hanya dengan 1-2 kali perawatan dengan interval 6-8
minggu. Penargetan yang tepat pada organel subselular dan partikel pigmen oleh Q-switched
laser mengurangi kerusakan tambahan dan meminimalkan risiko jaringan parut atau perubahan
tekstur. Pengobatan tato dan lesi jinak berpigmen merupakan contoh-contoh tentang bagaimana
selektif photothermolysis dapat secara efektif diterapkan untuk lebih akurat mengobati kondisi
selain microvessels pada PWS yang mana pada awalnya konsep ini dikembangkan untuk
mengobati PWS.1
LASER ND YAG
Laser adalah singkatan dari Light Amplification by the Stimulated Emission of Radiation.
Nd:YAG adalah singkatan dari neodymium: yttrium-aluminum-garnet (Y3Al5 O12). Laser ini
dapat digunakan dalam bidang kedokteran kosmetik untuk laser hair removal dan pengobatan
untuk defek vascular minor seperti spider vein pada wajah dan lengan. Akhir-akhir ini juga
digunakan untuk diseksi selulitis, penyakit kulit yang jarang biasanya didapatkan pada kulit
kepala.5
Laser Q-Switch menciptakan pancaran mendadak yang singkat (short burst) dari cahaya
melalui pengatur cahaya (optical shuttering) terdiri atas polarizer, menyebabkan terbentuknya
photon energi tinggi dalam rongga optikal laser (‘optical cavity’), lalu melepaskan mereka dlm
pancaran nanosecond intensitas tinggi yang singkat. Laser Q-Switch Nd YAG menghasilkan
tembakan sinar laser teramat singkat yang dengan khas mengincar kromofor sasaran (yaitu
melanosom dalam kasus lesi pigmentasi atau hemoglobin dalam kasus lesi pembuluh darah).
Pulse duration dari laser ini khas dalam hitungan nanosecond, dan lebih pendek daripada thermal
relaxation time (TRT) dari sasaran (melanosom), mengikuti teori fototermolisis selektif dari
Anderson dan Parish dalam mengincar kromofor sasaran.6
Teori fototermolisis selektif dari Anderson dan Parish menyatakan bahwa:
1. sinar laser harus dari panjang gelombang yang diserap oleh kromofor sasaran dan bukan
oleh struktur sekitarnya
2. pulse duration harus sama atau kurang dari TRT kromofor sasaran sehingga panas
terbatas pada sasaran untuk menghindari terjadinya kerusakan termal pada sekitarnya
3. fluence yang cukup harus didigunakan untuk menghasilkan efek yang dikehendaki.
Penghancuran melanosom terjadi pada pulse duration antara 40 – 750 ns (nanosecond). Laser ini
juga menghasilkan efek fotoakoustik (energi tinggi diberikan dalam tempo sangat singkat, yang
mengarah pada mengembangnya target secara cepat akibat panas, sehingga menghasilkan
gelombang kejut dengan akibat meledaknya target).6
Agar treatment lesi vaskular efektif, laser harus menembus ke dalam pembuluh darah
sasaran, disamping itu paparan sinar harus cukup lama untuk menyebabkan koagulasi-lambat
pembuluh darah yang cukup. Makin besar pembuluh darah makin besar thermal relaxation time
(TRT).6
Panjang gelombang yang lebih panjang dari laser Q-switched Nd:YAG 1.064 nm paling
cocok untuk treatment kulit lebih gelap (Asia) sebab meminimalkan resiko luka epidermal dan
perubahan pigmentasi. Panjang gelombang 1.064 nm ini dengan lemah diserap oleh melanin
epidermal dan memunyai penetrasi lebih dalam ke dalam dermis dan ideal untuk treatment tipe
kulit Fitzpatrick 3 sampai 6. Treatment tipe kulit 4 sampai 6 merupakan tantangan karena resiko
terjadinya hiperpigmentasi dan hipopigmentasi. Resiko tersebut dapat diminimalkan dengan
menggeser dari pemakaian laser dengan panjang gelombang lebih pendek ke laser dengan
panjang gelombang lebih panjang, penggunaan fluence yang lebih rendah dan spot size besar,
dan penggunaan tabir surya dan bleaching dalam fase preoperatif dan postoperatif.6
Umumnya dibutuhkan 4 – 8 sesi untuk menghilangkan sebagian besar lesi, dengan
interval 2-6 bulan antara sesi. Lesi akan berlanjut menghilang selama waktu ini, mungkin karena
melanofag membersihkan melanin yang berasal dari melanosit sasaran. Kekambuhan dapat
terjadi pada 0,6-1,2 % pasien yang lesinya sudah hilang sempurna, mungkin karena sisa
melanosit yang awalnya tak mengandung cukup melanin untuk eradikasi. Antara panjang
gelombang 630 dan 1.100 nm absorpsi sinar laser oleh melanin lebih kuat dari pada oleh
hemoglobin,juga penetrasi laser ke dermis yang efektif. Laser lebih baru mempunyai spot size
lebih besar yang memungkinkan penetrasi lebih dalam, sehingga meminimalkan percikan
jaringan (tissue splatter) dan mencegah perubahan tekstur.6
Keuntungan Laser Q-Switch Nd YAG (1064 nm, 5-10 ns) :
 Pulse duration sangat pendek (= 5-10 ns), lebih kecil daripada TRT melanosome (> 1
msec.) sehingga kerusakan pada jaringan sekitar dikurangi.
 Spot size besar sehingga memungkinkan penetrasi dalam.
 Panjang gelombang lebih panjang (1064 nm) sehingga memungkinkan penetrasi dalam,
dan ideal dalam mengobati kulit lebih gelap (Asia) karena absorbsi dalam melanin
epidermal lemah, akibatnya mengurangi komplikasi dan skar.
 Tembakan laser secara langsung (tanpa fiber optic) sehingga menghasilkan titik panas
(hot spot) minimal dalam jaringan sehingga meminimalkan efek samping seperti
terbakar, percikan jaringan (tissue splatter), purpura.
 Pada λ 1064 nm absorbsi oleh air mendekati nol sehingga kita dapat membakar pigmen
dan hemoglobin tanpa memanaskan air dalam kulit sehingga kulit tak terbakar.6,7
Indikasi Laser Q-Switch Nd: YAG 1064 nm- menghilangkan/mengurangi:
 Pigmen yang gelap: tato hitam atau biru, tato profesional dan dalam, lentigo (lentigen),
speckles, age-spots, sun-burn spots.
 Tanda lahir spt nevus Ota, nevus Ito, nevus Becker, blue nevi, keratosis seboroik, nevi-
spilus, junctional nevi.
 Pigmen lebih dalam (dermis): lesi vaskular kulit seperti hemangioma, portwine stains,
vena retikular periorbital, telangiektasis, vena spider vein biru lebih dalam sampai dengan
3 mm.
 Non-ablative resurfacing (photorejuvenation) wajah dan pengencangan jaringan,
memperbaiki kerut, pori besar, menghaluskan kulit. Tapi tak dianjurkan bagi orang Asia
sebab terlalu banyak melanin sehingga menyebabkan hiperpigmentasi akibat terkenanya
melanosom nontarget.6,7
Frequency doubled Q-switched Nd:YAG laser (532 nm, 5–10 ns)
Frequency doubled Q-switched Nd:YAG adalah laser berpanjang gelombang terpendek
yang kini dipakai untuk lesi pigmentasi. Dengan menempatkan kristal di jalur sorotan laser
Nd:YAG 1064 nm, frekuensi menjadi 2 kali lipat sedangkan panjang gelombang menjadi ½ kali
1.064 = 532 nm. Laser jenis ini sangat baik untuk lesi pigmentasi epidermal seperti lentigo
(solar lentigines) dan ephelides, efektif thd freckles dan lentigo (lentigines) pada tipe kulit
Fitzpatrick IV. Tingkat kekambuhan freckles rendah, sedang lentigo tak kambuh.
Derajat respon terhadap laser pada λ 532 nm sebanding dengan jumlah pigmen chromophore
yang ada pada daerah treatment. Jika fluence tinggi diberikan melalui spot size kecil, nampak
hipopigmentasi, diikuti bintik perdarahan (pinpoint bleeding) mengarah pada terjadinya
keropeng hemoragik (hemorrhagic crust). Keropeng lepas dalam 7–10 hari.6
Indikasi Laser Q-Switch Nd: YAG 532 nm menghilangkan atau mengurangi:
 Tinta tato yang lebih terang: merah, coklat, orange. Tato alis atau garis mata atau garis
bibir. Yang sulit dihilangkan adalah warna hijau dan kuning.
 Pigmen yang dangkal (epidermis): freckles (ephelid), solar lentigo.
 Teleangiektasis.
 Melasma dan lingkaran hitam mata dapat /dihilangkan dikurangi sebagian.
 Nevus flammus6
LASER KARBONDIOKSIDA (CO2)
Laser karbondioksida awalnya tersedia pada tahun 1964 dan segera menjadi laser yang
paling banyak digunakan dalam praktek dermatologi. Laser karbondioksida memancarkan sinar
inframerah tidak terlihat pada panjang gelombang 10.600 nm, sebagai targetnya adalah cairan
intraseluler dan ekstraseluler. Ketika energi cahaya diserap oleh jaringan yang mengandung air,
penguapan kulit terjadi dengan produksi nekrosis coagulative dalam dermis yang tersisa.8
Konsep fractional photothermolysispada tahun 2004 oleh Manstein dan rekan dianggap
salah satu tonggak paling penting dalam laser resurfacing. Pada fractional photothermolysis,
sebuah pola kolom dengan ketebalan penuh dari koagulasi dibuat. Kolom koagulasi ini disebut
Micro Thermal Zone (MTZ). Selama beberapa tahun terakhir, fractional photothermolysis telah
terbukti efektif melawan banyak tanda-tanda kulit pada photoaging (dyschromia, kelainan
tekstur, bintik kulit, dan rhytides sedang sampai berat). Efek ini dianggap sebanding dengan
resurfacing ablatif tradisional tetapi dengan efek samping lebih minimal (jaringan parut,
dyspigmentation, eritema berat). Waktu pemulihan singkat dan penyembuhan cepat dianggap
berasal dari jaringan sehat yang mengelilingi MTZ.8,9,10,11,12
Karbon dioksida laser resurfacing sangat mungkin untuk memperbaiki atrofi bekas luka
akibat jerawat, trauma, atau operasi. Bekas jerawat yang lebih dalam sering memerlukan
prosedur tambahan untuk hasil yang optimal, seperti eksisi atau punch lifting. Prosedur ini dapat
dilakukan baik sebelum atau bersamaan dengan karbon dioksida laser resurfacing.13
Laser karbon dioksida fractional photothermolysis telah terbukti efektif terhadap
mengobati banyak kondisi kulit yang sama dengan laser karbon dioksida ablatif tradisional.
Beberapa studi telah menunjukkan karbon dioksida fractional photothermolysis efektif terhadap
rhytids, hiperpigmentasi post inflamasi, melasma, nevus Ota, bekas luka hypopigmentasi dan
hiperpigmentasi, dyschromia, laser-induced hipopigmentasi dan hiperpigmentasi, dan
poikiloderma Civatte. Laser karbon dioksida fractional ultrapulsed laser telah terbukti sangat
efektif terhadap bekas luka pasca trauma dan patologis. Selain itu, perangkat laser fractional
karbon dioksida telah terbukti memperbaiki rhytids periorbital dengan mengencangkan kulit dan
elevasi dari alis.12,14,15
PULSED DYE LASER
The Dye Pulsed Laser (PDL), bekerja di panjang gelombang 585 - 595nm, digunakan
untuk pengobatan lesi kulit berwarna merah seperti portwine stain (PWS) dan lesi vaskular
lainnya.16
Pulsed Dye Laser, atau PDL menggunakan sorotan sinar yang terkonsentrasi yang
menargetkan pembuluh darah di kulit. Cahaya diubah menjadi panas, menghancurkan pembuluh
darah sementara kulit di sekitarnya utuh. Laser menggunakan cahaya kuning, yang sangat aman
dan tidak mengakibatkan kerusakan kulit jangka panjang.17
DAFTAR PUSTAKA

1. Wheeland RG. Basic Laser Physics and Safety. In: Goldberg DJ. 2005. Laser
Dermatology. 1st edition. New York: Springer Berlin Heidelberg. Page 1-10.
2. Hamzah M. Laser dalam Dermatologi. In: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. 2007. Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin. 5th edition. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Page 357-359.
3. Sakamoto FH, Wall T, Avram MM, Anderson RR. Laser and Flashlamp in Dermatology.
In: Wolf K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffel DJ. 2008.
Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. 7th edition. New York: McGraw Hill.
Page 2263-2279.
4. Laser Dermatology. Available at http://emedicine.medscape.com/article/1120837-
overview#aw2aab6b7. Accessed on 27th June, 2012.
5. Laser Nd: YAG. Available at http://en.wikipedia.org/wiki/Nd:YAG_laser. Accessed on
27th June, 2012.
6. Laser Nd: YAG. Available at http://drubeta.8m.com/custom3.html. Accesed on 27th June,
2012.
7. Laser Nd: YAG. Available at www.skinandlasers.com/asp/UpLoad/publication/
jcd_252.pdf. Accessed on 27th June, 2012.
8. Carbon Dioxide Cutaneous Laser Resurfacing. Available at
http://emedicine.medscape.com/article/1120283-overview. Accessed on 28th June, 2012.
9. Manstein D, Herron GS, Sink RK, Tanner H, Anderson RR. Fractional photothermolysis:
a new concept for cutaneous remodeling using microscopic patterns of thermal injury.
Lasers Surg Med. 2004;34(5):426-38.
10. Laubach HJ, Tannous Z, Anderson RR, Manstein D. Skin responses to fractional
photothermolysis. Lasers Surg Med. Feb 2006;38(2):142-9.
11. Hantash BM, Bedi VP, Sudireddy V, Struck SK, Herron GS, Chan KF. Laser-induced
transepidermal elimination of dermal content by fractional photothermolysis. J Biomed
Opt. Jul-Aug 2006;11(4):041115.
12. Tierney EP, Hanke CW. Review of the literature: Treatment of dyspigmentation with
fractionated resurfacing. Dermatol Surg. Oct 2010;36(10):1499-508.
13. Alster TS, West TB. Resurfacing of atrophic facial acne scars with a high-energy, pulsed
carbon dioxide laser. Dermatol Surg. Feb 1996;22(2):151-4; discussion 154-5.
14. Cervelli V, Gentile P, Spallone D, Nicoli F, Verardi S, Petrocelli M, et al. Ultrapulsed
fractional CO2 laser for the treatment of post-traumatic and pathological scars. J Drugs
Dermatol. Nov 2010;9(11):1328-31.
15. Ancona D, Katz BE. A prospective study of the improvement in periorbital wrinkles and
eyebrow elevation with a novel fractional CO2 laser--the fractional eyelift. J Drugs
Dermatol. Jan 2010;9(1):16-21.
16. Use of the Pulsed Dye Laser. Available at http://www.icid.salisbury.nhs.uk/
ClinicalManagement/BurnsAndPlasticSurgery/Pages/UseofthePulsedDyeLaser.aspx.
Accessed on 29th June, 2012.
17. Laser Treatment - Pulsed Dye Laser. Available at http://www.bcm.edu/dermatology/
?PMID=1838. Accessed on 28th June, 2012.