Vous êtes sur la page 1sur 14

PENDAHULUAN

Berdasarkan teori fototermolisis selektif, pada akhir tahun 1980 mulai dikembangkan flashlamp-
pumped pulsed dye laser (FPDL), yaitu laser dengan medium aktif cairan pewarna rhodamine. Awalnya
laser ini dikembangkan untuk terapi lesi kulit vaskular karena panjang gelombang yang dihasilkan dapat
diabsorbsi dengan baik oleh oksihemoglobin dibandingkan kromofor di sekitarnya. 1 Flashlamp-pumped
pulsed dye laser komersial yang pertama kali tersedia mempunyai panjang gelombang 577 nm (LPDL-
1). Selain diabsorpsi dengan baik oleh oksihemoglobin, panjang gelombang ini juga diabsorpsi oleh
melanin, sehingga efek samping yang ditimbulkan menjadi kurang baik secara kosmetik. Flashlamp-
pumped pulsed dye laser dengan panjang gelombang 585 nm (SPTL-1) mulai diperkenalkan setelah
Tan dkk. (1989) melakukan penelitian pada kulit babi albino dan memperlihatkan bahwa kedalaman
penetrasi laser dapat ditingkatkan tanpa mempengaruhi selektivitas vaskular. *) Panjang gelombang ini
lebih sedikit diabsorpsi oleh melanin jika dibandingkan dengan panjang gelombang 577 nm. 2
Teknologi ini terus berkembang sampai akhirnya diperkenalkan laser v beam, yang merupakan
salah satu FPDL. Laser ini menghasilkan gelombang yang lebih panjang (595 nm), mempunyai waktu
pajanan/pulse duration yang lebih lama (0,45-40 milidetik) dan dilengkapi dengan alat pendingin
dynamic cooling device (DCD).3 Hasil terapi dengan laser v beam ini baik dan efek samping purpura,
yang sering ditemukan pada penggunaan FPDL dengan panjang gelombang lebih pendek, menjadi
lebih minimal. Oleh karena itu, laser v beam dianggap sebagai baku emas untuk lesi kulit vaskular. 4
Sampai saat ini di Amerika Serikat, selain untuk lesi vaskular, yaitu port wine stains (PWS),
hemangioma, telangiektasia, granuloma piogenikum, dan poikiloderma Civatte, laser v beam juga telah
digunakan untuk terapi lesi non vaskular, yaitu striae, jaringan parut, psoriasis, dan veruka vulgaris.5
Divisi Dermatologi Kosmetik Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FKUI/RSCM telah memiliki laser v beam
sejak bulan Februari tahun 2004. Dalam kurun waktu Februari 2004 – Januari 2005, sebanyak 249
pasien telah diterapi menggunakan modalitas tersebut dengan hasil yang baik. Berdasarkan urutan
terbanyak, berbagai kasus yang telah diterapi dengan laser v beam di divisi Dermatologi Kosmetik
adalah sebagai berikut : jaringan parut hipertrofik, jaringan parut hipotrofik, PWS, hemangioma,
telangiektasia, striae, adenoma sebasea, veruka vulgaris, cherry angioma, granuloma piogenikum,
angioma, psoriasis, rosasea, dan venous lake.6 Dalam makalah ini akan DIbahas laser v beam dan
penggunaannya dalam bidang dermatologi.

LASER V BEAM

Panjang gelombang
Laser v beam mempunyai gelombang yang lebih panjang dari FPDL sebelumnya, yaitu 595 nm.
Pada gelombang lebih panjang, sinar yang dihamburkan lebih sedikit. Sinar dengan panjang
gelombang 595 nm diabsorbsi dengan baik oleh oksihemoglobin, namun lebih sedikit jika dibandingkan
dengan absorbsi sinar dengan panjang gelombang 577 nm dan 585 nm. 7 Selain itu panjang gelombang
laser ini juga diabsorbsi lebih sedikit oleh melanin. Hal ini menyebabkan penetrasi sinar menjadi lebih
dalam, sehingga pembuluh darah yang letaknya lebih dalam atau berdiameter lebih besar dapat dicapai
oleh sinar laser dengan panjang gelombang ini.8,9

Waktu pajanan (pulse duration / pulse width)


Laser v beam memiliki waktu pajanan 0,45-40 milidetik. Hal ini jelas lebih menguntungkan jika
dibandingkan FPDL 585 nm yang hanya mempunyai waktu pajanan 0,45 milidetik, karena waktu
pajanan yang lebih lama mempunyai puncak energi (peak pulse energy) yang lebih rendah sehingga
dapat memanaskan pembuluh darah dengan lebih rata dan lembut (gentle).3,10,11

Energi (fluence)
Karena absorbsi oleh oksihemoglobin yang lebih rendah (koefisien absorbsi oksihemoglobin
laser 585 nm adalah 4-5 kali lebih tinggi)2 dan waktu pajanan yang lebih lama (puncak energi yang lebih

*)
dikutip dari kepustakaan 2

1
rendah), sinar dengan panjang gelombang 595 nm memerlukan energi yang lebih tinggi untuk dapat
merusak target.8,9 Laser v beam yang dikembangkan oleh perusahaan Candela ini memiliki energi 3-25
J/cm2 yang dapat diatur oleh operator sesuai dengan lesi yang akan diterapi. 8,12,13

Spot size
Diameter spot size menunjukkan diameter jaringan yang terkena sinar laser. 14 Selain itu,
kedalaman penetrasi sinar laser juga ditentukan oleh diameter spot size. Pada spot size dengan
diameter lebih kecil, penetrasi sinar laser menjadi lebih dangkal, sedangkan pada spot size dengan
diameter lebih besar, penetrasinya menjadi lebih dalam. 15 Terdapat beberapa diameter spot size yaitu 5
mm, 7 mm, 10 mm dan 3x10 mm yang berbentuk lonjong.14,16 Diameter spot size yang lebih besar
biasanya dipilih untuk kelainan dengan letak pembuluh darah yang lebih dalam dan diameter pembuluh
darah yang lebih besar. Spot size berbentuk lonjong biasanya dipilih untuk kelainan pembuluh darah
yang berbentuk garis/linear.16

Dynamic cooling device (DCD)


Thermal relaxation time epidermis lebih singkat dari TRT pembuluh darah dermis. 10 Waktu
pajanan laser v beam yang lebih lama dan energi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan FPDL
sebelumnya, dapat menyebabkan terjadinya kerusakan epidermis. 2,10
Untuk mencegah terjadinya hal ini dikembangkanlah DCD, yaitu suatu alat yang terintegrasi
dengan mesin laser v beam, untuk mendinginkan epidermis selama sinar terapi laser. 17 Alat ini
mengandung gas kriogen yaitu 1,1,1,2- tetrafluorothane yang bersifat tidak mudah terbakar dan tidak
beracun.13 Dynamic cooling device menyemprotkan gas ini 10 milidetik sampai 1 detik sebelum sinar
laser ditembakkan (delay) selama 20-100 milidetik, yang dapat diatur oleh operator.5 Alat ini mempunyai
kemampuan untuk mendinginkan epidermis dan membiarkan suhu target tidak berubah. 4 Mekanisme
DCD adalah dengan menurunkan suhu epidermis sebanyak 400C, sehingga sesaat sebelum dilakukan
terapi laser, suhu epidermis menjadi -100C. Sedangkan pada terapi laser yang tidak menggunakan
DCD suhu epidermis sebelum terapi laser adalah 300C. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya,
energi laser akan diubah menjadi energi panas dan akan menyebabkan peningkatan suhu kulit.
Misalnya pada port wine stains, terapi laser 585 nm akan menyebabkan peningkatan suhu sebanyak
800C. Dengan menggunakan DCD, suhu epidermis menjadi 700C. Jika dibandingkan dengan terapi
yang tidak menggunakan DCD, maka terapi laser akan menyebabkan suhu epidermis menjadi 110 0C.18
Dynamic cooling device melindungi epidermis dari kerusakan yang ditimbulkan oleh panas
sehingga operator dapat menggunakan energi yang lebih tinggi dan dapat melakukan terapi pada orang
yang berkulit lebih gelap. Selain itu rasa nyeri yang timbulpun berkurang karena tidak terjadi kerusakan
epidermis. 4,9,17-21

Mekanisme

Laser bekerja secara fototermolisis selektif, yaitu destruksi selektif target yang mengabsorpsi
sinar dengan panjang gelombang tertentu dalam waktu pajanan yang lebih singkat dari thermal
relaxation time /TRT (waktu yang diperlukan target untuk melepaskan 50% panas yang terjadi, segera
setelah laser ditembakkan, tanpa menghantarkan panas ke jaringan sekitar). Dengan begitu tidak ada
difusi energi panas ke jaringan sekitarnya.15
Energi sinar laser yang diabsorbsi oleh oksihemoglobin akan berubah menjadi panas yang
dihantarkan dari oksihemoglobin ke dinding pembuluh darah. Panjang gelombang, waktu pajanan dan
energi sinar laser memegang peranan penting dalam proses ini. 22 Thermal relaxation time pembuluh
darah berkisar antara 1-10 milidetik, makin besar diameter pembuluh darah makin lama TRT.10 Waktu
pajanan harus lebih singkat dari TRT, karena jika melebihi TRT maka akan terjadi penghantaran panas
ke jaringan sekitar.23
Laser dengan waktu pajanan singkat, misalnya 10-9 nanodetik pada laser Q-Switch,
menimbulkan kerusakan jaringan yang merupakan kombinasi antara reaksi fototermal dan reaksi
fotoakustik/fotomekanik.11 Reaksi fototermal adalah efek yang langsung ditimbulkan oleh panas.
Kerusakan termal yang reversibel terjadi pada suhu kurang dari 50 0C. Sedangkan pada suhu antara 50-
1000C, sebagian besar jaringan akan mengalami denaturasi atau koagulasi protein ireversibel.

2
Penguapan jaringan terjadi pada suhu di atas 1000C, pada proses ini cairan jaringan akan mendidih dan
kemudian menguap. Sedangkan reaksi fotomekanik/fotoakustik adalah reaksi yang disebabkan oleh
absorbsi cepat energi laser, sehingga terjadi penguapan jaringan yang tiba-tiba dan pembentukan
gelombang kejut (shock wave) atau pembentukan gelombang yang bersifat menekan. Terjadinya reaksi
fototermal dan fotoakustik pada penggunaan laser dengan panjang gelombang 585 nm disebabkan
oleh waktu pajanan yang sangat singkat yaitu 0,45 milidetik. 23 Dengan waktu pajanan laser yang
singkat, energi yang dihasilkan terbatas pada target (oksihemoglobin). Selain itu laser dengan waktu
pajanan yang singkat mempunyai puncak energi yang tinggi. Terjadinya gelombang yang bersifat
menekan dengan kecepatan melebihi kecepatan suara menyebabkan terjadinya mikrovaporisasi
eritrosit, kavitasi intravaskular, dan pecahnya dinding pembuluh darah sehingga selanjutnya terjadi
ekstravasasi eritrosit yang secara klinis tampak sebagai purpura. 10-12,24,25
Sebaliknya, kerusakan jaringan yang terjadi pada laser v beam lebih disebabkan oleh reaksi
fototermal. Laser v beam memiliki waktu pajanan yang lebih lama, yaitu 0,45-40 milidetik. Waktu
pajanan yang lebih lama memiliki puncak energi yang lebih rendah. Ekspansi panas terjadi dengan
lebih perlahan sehingga menyebabkan koagulasi eritrosit intravaskular serta pemanasan dinding
pembuluh darah yang lebih lembut (gentle) dan rata. Aplikasi energi panas yang perlahan ini,
meniadakan atau meminimalkan reaksi fotoakustik pada dinding pembuluh darah, sehingga
ekstravasasi eritrosit sangat minimal dan tidak tampak purpura. Namun demikian waktu pajanan laser v
beam harus diatur supaya tidak melebihi TRT, sehingga tidak terjadi kerusakan jaringan kolagen
perivaskular yang dapat menyebabkan terbentuknya jaringan parut. 10-12,25 Pemeriksaan histopatologis
setelah terapi dengan laser ini menunjukkan sel darah merah yang mengalami aglutinasi dengan fibrin
dan trombosit yang membentuk trombus, tanpa kerusakan epidermis, dermis dan struktur adneksa.
Dalam 24 jam terjadi destruksi pembuluh darah yang diikuti oleh resorbsi dan selanjutnya dalam 1
bulan digantikan oleh pembuluh darah baru yang tampak normal .25-28
Luasnya kisaran parameter laser v beam, menyebabkan parameter laser v beam dapat diatur
sedemikian rupa sehingga dapat menimbulkan purpura. Misalnya dengan memperpendek waktu
pajanan dan meningkatkan energi. Pengaturan seperti ini mungkin dibutuhkan pada kelainan-kelainan
dengan letak pembuluh darah yang lebih dalam dan diameter pembuluh darah yang lebih besar.
Keuntungan pilihan parameter ini adalah penyembuhan lesi menjadi lebih cepat dan jumlah terapi
menjadi lebih sedikit. Namun jika pasien tidak menginginkan timbulnya purpura dapat dipilih parameter
subpurpurik dengan konsekuensi kelainan lebih lama menyembuh dan jumlah terapi menjadi lebih
banyak.13

Indikasi

Seperti yang telah disebutkan, indikasi laser v beam adalah untuk lesi vaskular dan lesi non
vaskular, seperti yang tertera pada tabel 1.

Tabel 1. Indikasi laser v beam

Indikasi laser v beam


Lesi vaskular 5 port wine stains
hemangioma
angioma
telangiektasia
granuloma piogenikum
poikiloderma Civatte
Lesi non vaskular 5 veruka vulgaris
striae
jaringan parut
psoriasis vulgaris

Kontraindikasi

3
Dalam kepustakaan dikatakan tidak ada kontraindikasi untuk terapi dengan laser v beam, namun
beberapa keadaan pasien yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut : 11,13
1. Fotosensitivitas terhadap sinar laser dengan panjang gelombang 585-600 nm
2. Pasien yang menggunakan obat antikoagulan dan aspirin (meningkatkan kemungkinan purpura
setelah terapi)
3. Kelainan kejang yang dipicu oleh sinar
4. Penggunaan obat yang menyebabkan fotosensitivitas

Terapi laser untuk pasien yang sedang hamil sebaiknya ditunda, terutama terapi laser pada daerah
abdomen dan pelvis. Pasien harus dikonsulkan terlebih dahulu pada ahli obstetri dan ginekologi.
Evaluasi rasio risiko dan keuntungan untuk menunda prosedur juga harus ditentukan terlebih dahulu.
Faktor lain, misalnya perubahan hormonal, proliferasi pembuluh darah, retensi cairan, serta
pertumbuhan rambut yang berlebihan dapat mempengaruhi efektivitas terapi. 13

Prosedur
Sebelum terapi laser v beam
Tipe kulit pasien harus dinilai sebelumnya. Tipe kulit lebih gelap mengandung melanin yang
lebih banyak, sehingga interaksi antara sinar laser dan melanin lebih mungkin terjadi dan
mempengaruhi efektivitas terapi. Pasien diminta untuk tidak mengkonsumsi alkohol dan aspirin 3 hari
sebelum prosedur dilakukan. 13

Pelaksanaan terapi laser v beam


1. Test spots
Jika daerah yang akan diterapi cukup luas, maka sebaiknya dilakukan test spots untuk
menentukan parameter laser yang tepat. Lokasi sebaiknya dipilih yang tidak tampak secara kosmetik,
namun mewakili daerah yang terdapat lesi terluas. Test spots perlu dilakukan pada pasien dengan kulit
yang lebih gelap.13 Selain itu tes ini juga perlu dilakukan oleh operator yang belum mempunyai cukup
pengalaman dalam menggunakan laser v beam.26
Bergantung pada kelainan yang diterapi, evaluasi test spots biasanya dilakukan dalam 4-6
minggu untuk melihat derajat perbaikan dan efek samping, misalnya perubahan pigmentasi dan tekstur
kulit. Jika tampak perbaikan, maka terapi diteruskan dengan energi yang memberikan hasil terbaik. Jika
tidak ada perbaikan, maka hal tersebut mungkin merupakan indikasi diperlukannya energi yang lebih
tinggi, gelombang yang lebih panjang, atau waktu pajanan yang lebih lama.19

2. Protokol dan parameter terapi


Waktu pajanan, spot size dan energi yang akan digunakan harus ditentukan sebelumnya oleh
operator. Sebaiknya digunakan protokol yang disarankan oleh produsen alat laser. Protokol ini dibuat
berdasarkan pengalaman klinis dan mungkin mengalami perubahan. Karena itulah protokol ini
seringkali diperbarui dan versi yang terbaru harus selalu digunakan. 13,16
Terapi dihentikan jika lesi sembuh dengan sempurna, tidak ada perbaikan atau kurangnya
kepatuhan pasien terhadap instruksi setelah terapi. Biasanya penghentian terapi ditentukan oleh
penilaian dokter, namun bisa juga berdasarkan kesepakatan antara dokter dengan pasien.13
Energi yang digunakan bergantung pada tipe lesi atau ukuran pembuluh darah, usia pasien dan
tipe kulit pasien. Terdapat 2 teknik untuk menempatkan sinar laser yaitu single laser pulse tanpa
tumpang tindih dan pulse tumpang tindih (tidak lebih dari 10%).13 Untuk menghindari pola yang
menyerupai jaring digunakan teknik tumpang tindih (overlap) dengan spot size yang lebih besar.19

3. Analgetik / anestesia
Pada umumnya orang dewasa dapat memberikan toleransi terhadap rasa tidak nyaman tanpa
analgetik atau anestesia. Namun untuk anak dapat diberikan obat-obatan yang bersifat sedatif atau
anestesia umum. Jenis pengobatan yang diberikan bergantung pada fasilitas yang dimiliki oleh dokter
yang menangani.13,29

4
Efek samping
Efek samping yang terjadi sesaat segera setelah terapi laser v beam :13
1. Bila dilakukan pada wajah, edema mungkin terjadi di sekitar mata dan bibir jika daerah yang
diobati cukup luas.
2. Rasa tidak nyaman atau seperti tersengat.
Kedua kelainan ini berlangsung singkat dan akan menghilang dalam beberapa menit sampai beberapa
jam.
3. Diskolorasi kemerahan atau bruised/purpura. Kecuali pada penggunaan parameter yang
menimbulkan purpura, kelainan ini sangat jarang terjadi pada terapi laser v beam.

Efek samping jangka panjang : 13


Efek samping ini dapat terjadi pada penggunaan setiap jenis laser akibat energi yang tidak tepat.
1. Hiperpigmentasi/hipopigmentasi sementara.13 Kelainan ini biasanya timbul pada minggu ke-6
setelah terapi dan akan kembali normal dalam 6 bulan setelah terapi.17 Hiperpigmentasi ini
disebabkan oleh timbunan hemosiderin yang berasal dari ekstravasasi eritrosit. 30
2. Jaringan parut. Kelainan ini belum pernah dilaporkan pada penggunaan laser v beam. Namun
perawatan setelah terapi yang tidak sesuai dengan instruksi dapat meningkatkan kemungkinan
terjadinya kelainan ini.
3. Atrofi ringan permukaan kulit. Kelainan ini akan membaik dalam beberapa bulan.

Evaluasi setelah tindakan


Terapi dengan laser biasanya dilakukan beberapa kali bergantung pada jenis lesi. Jarak antara
terapi biasanya berkisar antara 4-12 minggu. Pada saat datang pasien di foto dan secara klinis
dibandingkan dengan foto pada kunjungan sebelumnya untuk melihat adanya perbaikan. Jika pada
tempat yang diterapi tampak agak hipopigmentasi dan atrofi dibandingkan kulit normal disekitarnya, ini
merupakan indikasi bahwa energi yang digunakan terlalu tinggi, maka energi harus dikurangi sebanyak
0,5 J/cm2. Selain itu jika terjadi hiperpigmentasi, tunggu sampai hiperpigmentasi menghilang karena
melanin yang ada dapat menjadi kompetitor oksihemoglobin.13

PENGGUNAAN LASER V BEAM DALAM BIDANG DERMATOLOGI


LESI VASKULAR
Neoplasma jinak
Yaitu kelainan yang menunjukan hiperplasia endotel dengan proliferasi selular yang terjadi dengan
cepat. 19,31

Hemangioma
Pemilihan modalitas terapi bergantung pada lokasi anatomi, tipe hemangioma (superfisial atau
dalam), ukuran dan perluasan lesi, fase lesi, adanya gangguan fungsi, dan harapan orang tua. 19
Indikasi mayor untuk melakukan terapi adalah :25
- Hemangioma yang mengganggu fungsi organ vital atau mengancam hidup seperti mengganggu
penglihatan dan obstruksi jalan napas
- Hemangioma yang cenderung meninggalkan jaringan parut atau deformitas yang mengganggu
secara kosmetik pada daerah hidung, glabela, bibir, telinga, dan payudara
- Hemangioma besar di wajah khususnya hemangioma dengan komponen dalam
- Hemangioma pada daerah yang terpapar seperti wajah dan tangan
- Hemangioma bertangkai atau hemangioma ulseratif.

Michel JL (2003) memberikan terapi laser 595 nm (energi 4-8 J/cm2; waktu pajanan 0,5-30 milidetik;
spot size 7 mm) pada 12 kasus hemangioma yang mengalami ulserasi. Ia mendapatkan 10 dari 12

5
kasus menyembuh dan rasa nyeri menghilang setelah 1-4 kali terapi tanpa efek samping. Dua kasus
mengalami kegagalan. Diduga penyebabnya adalah adanya komponen subkutan dan ulserasi dalam
dengan infeksi sekunder.32

Granuloma piogenikum
Dasar terapi granuloma piogenikum dengan laser v beam adalah penelitian sebelumnya yang
melaporkan hasil terapi dengan FPDL 585 nm. Gonzales dkk. (1996) memberikan terapi laser 585 nm
(6,5-9 J/cm2; 0,36 milidetik; 5 mm) terhadap 18 pasien dengan granuloma piogenik di berbagai lokasi.
Enam belas pasien diantaranya mengalami perbaikan klinis, simtomatik, dan kosmetik sempurna tanpa
komplikasi setelah 1-4 kali terapi.33
Tay dkk. (1999) meneliti efektivitas laser 585 nm (6-7J/cm2; 0,45 milidetik; 5 mm) pada 22 anak
dengan granuloma piogenikum yang berusia rata-rata 3,4 tahun. Ia mendapatkan 20 pasien (91%)
mengalami resolusi sempurna. Dua pasien gagal memberikan respons terhadap terapi. Hal ini
kemungkinan disebabkan oleh lesi yang bertangkai dan ketebalan lesi > 0,5 cm.34 Dengan laser v beam
yang mempunyai daya penetrasi lebih dalam, diharapkan hasil terapi yang baik.

Malformasi pembuluh darah


Yaitu kelainan yang menunjukan morfogenesis abnormal yang terdiri dari abnormalitas saluran
pembuluh darah. 19,31

Port wine stains (nevus flameus)


Port wine stains tidak mengalami regresi spontan, bahkan pembuluh darah akan menjadi
berkelok-kelok, semakin berdilatasi dan darah yang mengisinyapun semakin banyak seiring dengan
berjalannya waktu. Jika tidak diterapi maka 65% kasus PWS akan berkembang menjadi plak keunguan
dengan hipertrofi nodular dan blebs pada usia 50 tahun.35 Hipertrofi ini merupakan predisposisi
terjadinya perdarahan spontan.26 Karena itu disarankan untuk mengobati PWS sedini mungkin untuk
mencegah hipertrofi dan progresi lesi serta menghindari stres psikologis pada masa anak atau
remaja.25
Terapi yang dilakukan pada masa bayi tidak meningkatkan kemungkinan terjadinya efek
samping. Karena pada masa bayi dan anak tidak diperlukan penggunaan energi yang tinggi dan jumlah
terapi juga lebih sedikit.25 Tan dkk. (1989) yang menggunakan laser 577 nm, melaporkan anak yang
berusia kurang dari 7 tahun memerlukan 5,8 kali terapi untuk mencapai resolusi sempurna sedangkan
anak yang berusia lebih dari 7 tahun memerlukan 7,1 kali terapi.*) Hal ini disebabkan lesi PWS pada
bayi atau anak berukuran lebih kecil, lebih superfisial dan diameter pembuluh darah lebih kecil. 26,36,37
Nguyen dkk. (1998) dengan laser 585 nm melaporkan bahwa usia pasien, ukuran dan lokasi lesi PWS
merupakan faktor yang berguna untuk memprediksi respons terapi. Ia mendapatkan hasil yang serupa
dengan laporan Tan dan menambahkan bahwa lesi dengan diameter kurang dari 20 cm akan
memberikan respons yang lebih baik.38 Selain itu dilaporkan pula bahwa lesi PWS yang masih berupa
makula merah muda memberikan respons yang lebih baik terhadap FPDL dibandingkan lesi yang lebih
gelap, nodular atau hipertrofik.19
Pada tahun 2003 Rohrer meneliti efektivitas laser v beam (14 J/cm2 ; 3 milidetik; 7 mm) pada
pasien PWS yang sebelumnya telah 8 kali mendapatkan terapi laser FPDL 585 nm. Dengan terapi
sebelumnya terjadi perbaikan lesi sebesar 70% dan setelah itu pasien mengalami efek plateau. Setelah
2 kali terapi dengan laser v beam didapatkan perbaikan sebesar 95% dan tidak terjadi efek samping
atau komplikasi.35 Hal serupa dilaporkan oleh Woo dkk. (2004), lebih jauh ia menjelaskan kemungkinan
penyebab efek plateau pada penggunaan laser dengan panjang gelombang 585 nm adalah penetrasi
dan energi laser yang kurang untuk mencapai efek fototermal pada pembuluh darah yang letaknya lebih
dalam dan berdiameter lebih besar.17
Greve dan Raulin (2004) membandingkan laser 585 nm (5,5 J/cm2; 0,5 milidetik ; 7 mm)
dengan laser 595 nm (13 J/cm 2; 0,5 milidetik; 7 mm) dan laser 595 nm (13 J/cm 2; 20 milidetik; 7 mm)

*)
dikutip dari kepustakaan 27

6
untuk 15 pasien PWS. Secara keseluruhan, hasil paling baik didapatkan dari laser 585 nm/0,5 milidetik,
diikuti laser 595 nm/ 20 milidetik dan selanjutnya laser 595 nm/0,5 milidetik. Namun untuk lesi PWS
yang berwarna merah atau merah muda, didapatkan hasil terapi laser 585 nm/0,5 milidetik dan laser
595 nm/20 milidetik yang serupa. Efek samping berupa purpura, krusta serta nyeri paling banyak
ditemukan setelah terapi dengan laser 585 nm.2
Lokasi lesi merupakan salah satu faktor yang penting untuk memperkirakan respons terhadap
terapi. Lesi PWS yang terletak di daerah sentrofasial seperti dagu, atas bibir, hidung, dan lesi yang
terletak di badan serta ekstremitas memberikan respons yang lebih lambat. Sementara lokasi lain
seperti wajah dan leher memberikan respons yang lebih cepat. 39 Renfro dan Geronemous (1993) juga
melaporkan bahwa lesi yang terletak di daerah sentrofasial dan dermatom V2 memberikan respons
yang kurang baik terhadap terapi laser 577 nm. Pada daerah sentrofasial diperlukan energi yang lebih
tinggi dan jumlah terapi yang lebih banyak. Faktor yang menyebabkan perbedaan respons ini belum
diketahui dengan pasti. Faktor ketebalan kulit, karakteristik lapisan dermis misalnya proksimitas dan
densitas saraf, pembuluh darah serta adneksa diduga mempengaruhi penetrasi dan absorbsi energi
laser. Daerah sentrofasial secara anatomis juga merupakan daerah fusi lempeng embrional dengan
folikel sebasea yang padat diantara stroma fibrosa.40 Eubanks dkk. (2001) dengan menggunakan
videomikroskopi dengan mikroskop Video Loupe7EX melaporkan bahwa kelainan pembuluh darah
PWS pada dermatom V2 dan ekstremitas terletak lebih dalam. Sedangkan kelainan pembuluh darah
pada dermatom V3 dan leher terletak lebih superfisial.41

Pelebaran pembuluh darah/ektasia


Kelainan ini menunjukkan endotel normal namun terjadi dilatasi vaskular yang permanen.
Kelainan ini bukanlah tumor tetapi anomali vaskular.31

Telangiektasia wajah dan telangiektasia tungkai bawah (leg veins)


Hsia dkk. (1997) meneliti efektivitas terapi telangiektasia tungkai bawah dengan diameter
0,635-1,067 mm menggunakan laser 595 nm (15 J/cm 2 dan 18 J/cm2; 1,5 milidetik; spot size berbentuk
lonjong dengan ukuran 2x7 mm). Tiap pasien diterapi pada 3 tempat telangiektasia; 2 tempat dengan
energi 15 J/cm2 dan 1 tempat dengan 18 J/cm 2. Mereka mendapatkan perbaikan >50% terjadi pada
42,3% pasien yang diterapi dengan energi 15J/cm 2 dan pada 45,2% pasien yang diterapi dengan 18
J/cm2 yang dilihat 6 minggu setelah terapi pertama.42
West dan Alster (1998) membandingkan efektivitas laser 590-595 nm dengan laser KTP 532
nm untuk 4 pasien telangiektasia wajah dan 7 pasien telangiektasia tungkai bawah berdiameter ≤ 1 mm.
Untuk wajah diberikan laser 590 nm (15 J/cm 2; 1,5 milidetik; 2x7 mm) dan telangiektasia tungkai diterapi
dengan laser 595 nm (20 J/cm 2; 1,5 milidetik; 2x7 mm). Laser KTP digunakan pada kedua jenis
telangiektasia (15 J/cm 2; 10 milidetik; 1 mm). Hasil yang didapatkan adalah perbaikan bermakna
telangiektasia wajah dan tungkai bawah dengan laser 590 nm dan 595 nm dibandingkan dengan laser
KTP 532 nm baik setelah terapi pertama maupun kedua.30
Penelitian serupa dilaporkan oleh Eubanks (2000) yang menggunakan laser 595 nm dengan
energi 18 J/cm2 dan laser 600 nm dengan energi 22 J/cm 2 untuk 110 pasien dengan telangiektasia
tungkai bawah berdiameter <1 mm. Mereka mendapatkan 82% pasien yang diterapi dengan laser 595
nm dan 64% pasien yang diterapi dengan laser 600 nm mengalami perbaikan paling sedikit 50%. 5
Buscher dkk. (2000) melaporkan efektivitas penggunaan laser 595 nm pada 18 pasien dengan
telangiektasia tungkai bawah. Ia mendapatkan 84,6% lesi mengalami perbaikan sebesar 50% dengan
energi 24 J/cm2.*)
Clinton (2002) meneliti 38 pasien telangiektasia tungkai bawah berdiameter 0,1-1,0 mm yang
diterapi dengan laser 595 nm (20 J/cm 2; 1,5 milidetik, 2x7 mm) , laser 532 nm (10 J/cm 2 ; 10 milidetik; 3
mm) dan laser 532 nm (13 J/cm 2; 10-15 milidetik; 2 mm). Dengan laser 595 nm didapatkan perbaikan

*)
dikutip dari kepustakaan 43

7
klinis lesi sebesar 74,2% dibandingkan laser 532 nm (10 J/cm 2) sebesar 17,7% dan laser 532 nm (13
J/cm2) sebesar 22,2% yang dilihat pada 12 minggu setelah terapi pertama.44
Selain itu, Ugent (2002) juga melakukan penelitian yang membandingkan efektivitas laser v
beam (3-25 J/cm2; fase 1 selama 20 milidetik dan fase 2 selama 10 milidetik; 5 mm) dengan laser 585
nm (3-10 J/cm2; 0,45 milidetik) untuk telangiektasia wajah pada 21 pasien. Ia mendapatkan efektivitas
yang sama untuk kedua laser, yang dilihat 2-3 bulan setelah terapi pertama. Namun efek samping
purpura yang lebih ringan didapatkan pada penggunaan laser v beam.45
Woo (2004) melaporkan hal serupa saat membandingkan efektivitas laser 595 nm (25 J/cm 2; 40
milidetik; 3x10 mm) dengan laser Nd:Yag 532 nm (20 J/cm 2; 50 milidetik; 5 mm) untuk terapi 10 pasien
telangiektasia tungkai bawah berdiameter ≤ 1,0 mm. Ia mendapatkan 60% pasien yang diterapi dengan
laser 595 nm dan 50% pasien yang diterapi dengan laser Nd:Yag mengalami perbaikan 4 bulan setelah
terapi pertama.10

Venous lake
Penggunaan laser v beam untuk venous lake adalah berdasarkan laporan sebelumnya yang
menggunakan FPDL lain. Di antaranya adalah yang di laporkan oleh perusahaan Candela yaitu terapi
venous lake dengan FPDL (7,5 J/cm 2; 4-5 mm) pada seorang wanita dengan hasil yang baik.31

Cherry angioma dan spider angioma


Aghassi dkk. (2000) meneliti gambaran histopatologi cherry angioma setelah diterapi dengan
FPDL 585 nm (5 J/cm 2; 5 mm). Sebelum terapi ditemukan pembuluh darah yang berdilatasi dengan
diameter 10-50 μm. Segera setelah terapi didapatkan materi refraktil amorf yang sesuai dengan bentuk
pembuluh darah dengan ruang nonrefraktil pada daerah dinding pembuluh darah. Kemudian terjadi
inflamasi dan nekrosis yang selanjutnya digantikan oleh pembuluh darah yang tampak normal setelah 3
minggu.46 Diharapkan terapi dengan laser v beam akan memberikan hasil yang lebih baik.
Untuk terapi spider angioma sebaiknya digunakan spot size yang cukup besar untuk menutupi
seluruh lesi. Bagian tengah atau central feeding vessel harus dikoagulasi terlebih dahulu sebelum lesi
yang menyerupai kaki laba-laba. Selanjutnya lesi yang menyerupai kaki laba-laba tersebut harus
diterapi walaupun tampaknya menghilang setelah bagian tengah diterapi. 19

Poikiloderma Civatte

Tan (1992) dan Wheeland (1990), melaporkan terapi poikiloderma dengan FPDL (6-7 J/cm2)
dengan hasil yang baik.*) Namun Goldman dan Fitzpatrick (1994) melaporkan hasil yang bervariasi
karena FPDL hanya ditujukan pada pembuluh darah yang berdilatasi, sedangkan lesi atrofi dan
hipermelanosis tidak memberikan respons terhadap terapi.31
Penelitian oleh Eubanks (2000) melaporkan hasil terapi 16 pasien poikiloderma dengan laser
585 nm (5,0 J/cm2; 7 mm) dan mendapatkan perbaikan klinis lesi sebesar 75% tanpa efek samping. 5
Eubanks juga mendapatkan perbaikan klinis sebesar 75% pada 15 pasien poikiloderma Civatte
menggunakan laser 595 nm (5 J/cm 2; 10 milidetik) setelah 2-3 kali terapi.47

Rosasea

Beberapa penelitian dilakukan untuk mengetahui penggunaan laser v beam untuk rosasea.
Laub (2002) memberikan terapi laser v beam (7-7,5 J/cm2; 10 milidetik; 10 mm) untuk rosasea. Setelah
3-4 kali terapi ia mendapatkan perbaikan > 60% tanpa efek samping purpura. 48
Penelitian lain menggunakan energi subpurpuragenik yaitu dengan waktu pajanan 6 milidetik
dan hasilnya hanya 33% pasien mengalami perbaikan >50%. Selanjutnya Tanghetti dan Sherr (2003)
menggunakan waktu pajanan 40 milidetik dan energi pada atau di bawah dosis ambang purpura.
Hasilnya adalah pembuluh darah tampak tidak memberikan respons terhadap dosis subpurpuragenik.*)

*) dikutip dari kepustakaan 31


*)
dikutip dari kepustakaan 49

8
Alam dkk. (2003) juga menemukan bahwa 81% kasus telangiektasia wajah memberikan respons lebih
baik dengan laser 595 nm selama 10 milidetik dengan energi 0,5 J/cm 2 diatas ambang purpura
daripada 1,0 J/cm2 dibawah ambang purpura (subpurpuragenik).*)
Berdasarkan penelitian tersebut, Tan dkk. (2004) mengobati 16 pasien rosasea dengan laser v
beam (9,5-11,5 J/cm2; 1,5 milidetik; 7 mm/dosis purpuragenik). Ia menggunakan spektrofotometri untuk
menilai hasil terapi dan mendapatkan perbaikan yang bermakna pada semua kasus setelah 2 kali terapi
kecuali lesi yang terletak pada cuping hidung kiri. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh labilitas tonus
vaskular dan kurangnya respons lesi rosasea yang terletak di bagian tengah wajah. Semua pasien
mengalami purpura segera setelah terapi.49
Sebaliknya Jasim dkk. (2004) melaporkan penggunaan laser v beam (7-9 J/cm2; 6 milidetik; 7
mm/dosis subpurpuragenik) pada rosasea yang cukup efektif. Hasilnya 2 dari 12 pasien rosasea
mangalami perbaikan >75 %, 2 pasien mengalami perbaikan 50-75% dan 5 pasien mengalami
perbaikan 25-50% yang dinilai dari jumlah telangiektasia. Tidak ada satupun yang melaporkan
terjadinya efek samping. Hasil dilihat pada 6-8 minggu setelah 1x terapi. Sehingga disimpulkan terapi
FPDL 595 nm efektif dan aman untuk rosasea.11

Angioma
Dasar terapi angioma dengan laser v beam adalah penelitian sebelumnya yang melaporkan
terapi angioma dengan FPDL. Pola dkk. (1987) memberikan terapi FPDL pada 3 kasus angioma
serpiginosa dan mendapatkan perbaikan > 75% pada 2 kasus dan 25-50% pada 1 kasus.*) Selanjutnya
Long dan Lanigan (1997) melaporkan 5 kasus angioma serpiginosa yang diterapi dengan FPDL 585 nm
(6-7,5 J/cm2; 0,45 milidetik; 5 mm). Pasien mendapat 2-8 kali terapi. Semua pasien mengalami
perbaikan lebih dari 90% bahkan pada 1 pasien mengalami penyembuhan total. 50

Limfangioma sirkumskripta
Limfangioma sirkumsripta adalah malformasi saluran getah bening yang terbatas pada kulit,
subkutan, dan kadang-kadang mengenai otot.51 Beberapa cara dilakukan untuk mengobati kelainan ini,
salah satunya dengan laser. Weingold dkk. (1990) melaporkan satu kasus limfangioma sirkumskripta di
dada kiri pada seorang wanita berusia 32 tahun. Diagnosis ditegakkan dengan ditemukannya gambaran
pembuluh pada dermis superfisial berdinding tipis yang berdilatasi dengan sejumlah sel darah merah di
dalamnya. Ia mengobati kelainan tersebut dengan FPDL 577 nm (6,25 J/cm 2; 0,45 milidetik). Kelainan
diterapi sebulan sekali selama 3 bulan dan didapatkan respons terapi yang baik. Laser v beam
mempunyai panjang gelombang dan waktu pajanan yang lebih panjang, sehingga dapat memberikan
hasil terapi yang lebih baik dengan efek samping yang minimal. 52

LESI NON VASKULAR


Jaringan parut hipertrofik, keloid dan striae

Terapi laser untuk keloid dan jaringan parut hipertrofik masih kontroversial. Hal ini diawali oleh
pengamatan berkurangnya eritema dan ukuran jaringan parut saat terapi lesi vaskular dengan FPDL.
Terdapat bukti yang menyatakan bahwa terapi jaringan parut imatur dengan laser pada bulan pertama
memberikan hasil yang baik secara kosmetik. Prosedur ini berperan sebagai profilaksis dengan
menghentikan proliferasi terutama pada daerah yang rentan timbul jaringan parut hipertrofik. 25,53
Mekanisme kerusakan jaringan oleh laser secara pasti belum diketahui. Diduga melalui
mekanisme fototermolisis selektif terhadap mikrovaskularisasi jaringan parut. Melalui mekanisme ini,
terjadi penurunan perfusi mikrovaskular dan hipoksia jaringan yang menyebabkan terjadinya
kolagenolisis. Selain itu juga terjadi disosiasi ikatan disulfida karena pemanasan kolagen, pelurusan
kembali serat kolagen serta adanya kerusakan sel mas yang mempengaruhi metabolisme kolagen. 53,54
Hal ini menyebabkan ukuran jaringan parut mengecil dan eritema berkurang. Hasil biopsi setelah terapi

*)
dikutip dari kepustakaan 50

9
laser menunjukan adanya pengurangan kepadatan serat kolagen, jumlah fibroblas dan pada akhirnya
sel mas.25
Efektivitas FPDL untuk terapi jaringan parut hipertrofik dan keloid telah banyak dilaporkan.
Manuskiatti dkk. (2002) membandingkan efektivitas laser 585 nm, kortikosteroid intralesi, 5-FU intra lesi
dan kombinasi kortikosteroid dengan 5-FU intralesi untuk jaringan parut hipertrofik dan keloid pasca
sternotomi pada 10 pasien. Didapatkan perbaikan yang sebanding, namun dikatakan bahwa efek
samping yang ditimbulkan oleh pemakaian kortikosteroid intralesi lebih banyak terjadi. 55 Jaringan parut
yang berusia kurang dari 1 tahun dan terdapat di wajah cenderung memberikan respons yang lebih baik
terhadap terapi laser dibandingkan dengan jaringan parut lebih dari 1 tahun dan terletak di ekstremitas
atau bokong.56
Striae baru secara klinis dan histopatologis tampak mirip dengan jaringan parut awal yaitu
menunjukkan fibrosis dan eritema. Striae lama mirip dengan jaringan parut lama yaitu hipopigmentasi
dan fibrosis. Kemiripan secara klinis dan histopatologis mungkin menyebabkan respons yang serupa
terhadap FPDL.57
Bailin (2005) menuliskan bahwa jaringan parut dan striae yang baru merupakan keadaan yang
akan memberikan hasil terapi laser yang paling efektif. Semakin cepat proses penyembuhan luka
diterapi dengan laser, maka semakin dramatik efeknya. Hal ini berhubungan dengan jumlah pembuluh
darah yang meningkat. Jaringan parut yang lebih lama dan tidak eritematosa lebih sulit diterapi karena
kromofor target lebih sedikit. Ia melaporkan penelitian terapi jaringan parut hipertrofik dengan laser v
beam (4-6 J/cm2; 6-10 milidetik; 10 mm). Untuk striae eritematosa diberikan 3 kali terapi laser v beam
(4-5 J/cm2; 10 milidetik; 10 mm) dilanjutkan 3 kali terapi dengan smoothbeam (sebagai dermal
remodelling). Hasilnya jaringan parut hipertrofik mengecil dan warnanya menjadi lebih muda. Walaupun
jaringan parut masih ada namun menjadi lebih samar. Seluruh striae mengalami perbaikan 60% secara
keseluruhan, yaitu dari derajat eritema dan permukaan kulit yang naik dan mendatar, sedangkan
penilaian derajat eritematosa saja mencapai perbaikan sebesar 90%.58
Veruka

Beberapa peneliti melaporkan efektivitas terapi laser 585 nm pada veruka. Mekanismenya
masih belum jelas namun diduga merupakan hasil pemanasan pembuluh darah dengan kerusakan
kolateral keratinosit yang diinfeksi oleh virus. Teori ini berdasarkan adanya pembuluh darah yang
berdilatasi dan mengalami kongesti pada dasar veruka. Pada pemeriksaan mikroskopik segera setelah
terapi laser ditemukan aglutinasi eritrosit dalam pembuluh darah papila dermis yang diikuti trombosis
dan nekrosis endotel. Kerusakan ini menyebabkan obliterasi penyampaian nutrisi dan menghancurkan
dengan cepat sel epidermis berisi virus yang sedang membelah. 59-61
Smadja (2002) melaporkan terapi 25 pasien veruka plantaris yang besar, nyeri, mosaic
likewart, dan veruka subungual dengan laser v beam (12-15 J/cm2;1,5-3 milidetik; yang meliputi 2 mm
kulit sehat disekitar lesi). Ia mendapatkan 60% pasien mengalami resolusi sempurna setelah 3 kali
terapi tanpa efek samping.61
Terapi laser meliputi 1 cm kulit sehat di sekitar lesi. Terapi topikal dapat diberikan untuk
meningkatkan efektivitas terapi.16

Psoriasis
Pada psoriasis, vaskularisasi dalam papila dermis merupakan komponen utama, sehingga
perbaikan dapat dicapai dengan merusak komponen ini secara selektif dengan laser. 62,63 Zelickson
dkk.(1996) melaporkan terapi laser 585 nm (7,5 J/cm 2; 0,45 milidetik dan 1,5 milidetik) untuk lesi
psoriasis. Hasilnya didapatkan respons yang baik, namun tidak ada perbedaan yang bermakna antara 2
waktu pajanan. Pasien yang diterapi mengalami remisi selama 13 bulan. Untuk memperkirakan respons
terapi perlu diketahui pola pembuluh darah melalui pemeriksaan histopatologis. Terdapat 2 pola
pembuluh darah pada lesi psoriasis yaitu pembuluh darah vertikal dengan sedikit pembuluh darah
horizontal dan pembuluh darah yang berkelok-kelok. Pembuluh darah yang berkelok-kelok memberikan
respons yang kurang baik.63
Hern (2005) melaporkan struktur pembuluh darah, pada suatu plak lesi psoriasis, sebelum dan
sesudah terapi dengan FPDL. Sepuluh pasien mengikuti penelitian ini yang diterapi dengan FPDL 585
nm (7,5 J/cm2; 0,45 milidetik; 5 mm). Skor PASI sebelum dan sesudah terapi relatif stabil, namun pada
plak yang diteliti menunjukkan reduksi yang bermakna yaitu sebesar 48%. Kepadatan, panjang, dan

10
lebar pembuluh darah plak psoriasis yang diterapi juga berkurang secara bermakna setelah terapi
laser.64 Untuk mendapatkan hasil terapi yang baik, dianjurkan untuk menghilangkan skuama sebelum
terapi laser.16 Dengan kelebihannya, diharapkan terapi dengan laser v beam dapat memberikan hasil
yang lebih baik.

Akne vulgaris yang mengalami inflamasi

Kolonisasi Propionibacterium acnes berhubungan dengan akne yang mengalami inflamasi.


Dasar terapi akne dengan laser v beam adalah penelitian terapi akne menggunakan FPDL yang
memberikan hasil baik. Seaton dkk.(2003) meneliti 26 pasien akne vulgaris dengan derajat ringan–
sedang yang mengalami inflamasi diterapi dengan FPDL 585 nm (1,5-3,0 J/cm2; 0,35 milidetik; 5 mm).
Dua belas minggu setelah terapi pertama didapatkan perbaikan sebesar 50% pada pasien yang diterapi
laser. Hal tersebut tidak ditemukan pada kontrol. Kecepatan ini sangat berbeda dibandingkan dengan
terapi konvensional menggunakan antibiotik oral yang harus digunakan selama 6-8 minggu untuk
melihat hasilnya. Diduga laser tidak hanya berperan terhadap P.acnes namun juga mempengaruhi
respons imunobiologis terhadap bakteri tersebut.65

Peremajaan kulit

Faktor intrinsik, lingkungan, dan gaya hidup adalah faktor yang berperan dalam proses
penuaan. Pada kulit yang menua ditemukan serat kolagen yang terputus-putus dan susunannya tidak
teratur. Awalnya penuaan kulit diterapi dengan resurfacing laser, namun karena komplikasi yang terjadi,
maka terapi beralih ke laser non ablatif yang dapat memberikan perbaikan berupa garis kulit yang lebih
halus dan kulit yang lebih kencang. Mekanismenya adalah pemanasan oleh energi laser yang
menyebabkan aktivasi fibroblas, peningkatan ekspresi prokolagen III, dan remodelling kolagen dan/atau
melalui absorbsi oksihemoglobin yang menyebabkan kerusakan endotel, aktivasi sitokin, serta
remodelling kolagen.66
Kilmer dkk. (2002) melaporkan adanya perbaikan pada penggunaan laser v beam (6 J/cm2; 6
milidetik; 10 mm) untuk rhytides periorbital tanpa efek samping.67 Miller dan Seltzer (2003) melaporkan
penggunaan laser v beam pada peremajaan kulit. Mereka mengkombinasi laser v beam dengan Intense
Pulse Light (IPL). Terdapat pengurangan garis-garis halus 50% lebih banyak dibandingkan dengan
pemakaian IPL saja.68
Goldberg dkk. (2004) mencoba memberikan terapi laser v beam pada 10 pasien dengan
rhytides derajat II sampai III. Laser v beam diberikan dalam parameter yang berbeda yaitu energi 5-6
J/cm2, waktu pajanan 1,5 milidetik pada satu sisi wajah dan energi 8-11J/cm2, waktu pajanan 40
milidetik pada sisi wajah lainnya. Keduanya menggunakan ukuran spot size yang sama yaitu 7 mm.
Kelompok pertama diterapi 1 kali dan kelompok kedua diterapi 2 kali. Hasilnya 70% pasien mengalami
perbaikan ringan sampai sedang. Enam pasien mendapatkan perbaikan yang sama antara kedua
waktu pajanan dan satu pasien mengalami perbaikan yang lebih dengan 40 milidetik. Pada
pemeriksaan histopatologi didapatkan peningkatan pembentukan kolagen tipe I pada seluruh pasien. 66

Jaringan parut akne dan eritema pasca akne


Alster dan McMeekin (1996) melaporkan terapi FPDL 585 nm pada 22 pasien jaringan parut
akne hipertrofik eritematosa (6,5 J/cm 2; 7 mm). Setelah 6 minggu didapatkan perbaikan klinis rata-rata
67,5%. Mekanismenya diduga serupa dengan efek FPDL pada jaringan parut dan keloid. 69
Berdasarkan ditemukannya peningkatan pembentukan kolagen pada penggunaan FPDL, Patel
dan Clement (2002) melaporkan terapi laser 585 nm (2,33 J/cm 2; 0,35 milidetik ) pada 10 pasien
jaringan parut akne atrofik. Jaringan parut akne dengan kedalaman ringan-sedang dan belum
mendapatkan terapi apapun sebelumnya dipilih dalam penelitian ini. Dengan menggunakan surface
profilometry, 60 hari setelah terapi mereka mendapatkan kedalaman skar akne yang berkurang
sebanyak 47,8%.70
Eritema pasca akne adalah suatu kondisi yang dapat terjadi pada banyak pasien. Kelainan ini
dapat bertahan lama setelah akne menghilang yaitu sampai 12 bulan atau lebih. Hongcaru dkk. (2002)
meneliti 200 pasien dengan eritema pasca akne yang diterapi dengan laser v beam (6,5 J/cm2; 1,5

11
milidetik; 10 mm), dan hasilnya didapatkan semua pasien mengalami perbaikan sebesar 30-50%
setelah terapi pertama dan sebesar 75-90% setelah 3-4 kali terapi. Terjadi efek samping berupa
purpura ringan yang menghilang dalam 3-4 hari. Terapi dapat dilakukan pada lesi yang sudah lama
sekalipun dan telah mendapat pengobatan apapun sebelumnya.71

PENUTUP

Laser v beam yang dikembangkan atas dasar teori fototermolisis selektif memiliki beberapa
kelebihan, misalnya gelombang yang lebih panjang, waktu pajanan yang lebih lama, energi yang lebih
tinggi dan dilengkapi dengan DCD. Dengan kelebihannya tersebut laser v beam memiliki daya penetrasi
yang lebih dalam dengan puncak energi yang lebih rendah dan pemanasan jaringan lebih rata serta
lembut. Kerusakan jaringan yang timbul disebabkan oleh reaksi fototermal, sehingga dengan laser ini
didapatkan hasil terapi yang lebih baik dan efek samping yang minimal. Hal ini menjadikan laser v beam
sebagai modalitas pilihan untuk kelainan kulit vaskular. Namun masih perlu dilakukan penelitian untuk
mengetahui lebih jauh efektivitas dan efek samping yang mungkin timbul serta meneliti kemungkinan
terapi laser v beam untuk kelainan kulit lain.

DAFTAR PUSTAKA

1. Munavalli G. Laser treatments of leg veins. emedicine. Terakhir diperbarui 2004 Nov 25; disitasi 2005 Februari 2.
Tersedia dari: http://www.emedicine.com
2. Greve B, Raulin C. Prospective study of port wine stains treatment with dye laser: Comparison of two wavelengths (585
nm vs. 595 nm) and two pulsed durations (0,5 miliseconds vs. 20 miliseconds). Lasers Surg Med. 2004; 34: 168-73.
3. Guttman C. Laser offers reduced postoperative purpura. Dermatology Times, 2000 Maret.
4. Moretri M. Candela’s v beam improves outcomes and economics. Candela corporation 2002.
5. Eubanks SW. Treatment of vascular abnormalities with long-pulsed flashlamp-pumped pulsed dye laser. Clinical
Update. 2000 Mei: 1-6.
6. Laporan morbiditas laser v beam Divisi Dermatologi Kosmetik Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUPN
Cipto Mangunkusumo Februari 2004 - Januari 2005.
7. Edstrom DW, Ros AM. The treatment of port wine stains with the pulsed dye laser at 600 nm. Br J Dermatol. 1997; 136:
360-3.
8. Tanzi EL, Lupton JR, Alster TS. Lasers in dermatology: Four decades of progress. J Am Acad Dermatol. 2003; 49:1-31.
9. Bernstein EF, Lee J, Lowery J, Brown DB, Geronemus R, Lask G, dkk. Treatment of spider veins with the 595 nm
pulsed –dye laser. J Am Acad Dermatol. 1998; 39: 746-50.
10. Woo WK, Jasim ZF, Handley JM. 532-nm Nd:YAG and 595-nm pulsed dye laser treatment of leg teleangiectasia using
ultralong pulse duration. Dermatol Surg. 2003; 29: 1176-80.
11. Jasim ZF, Woo WK, Handley JM. Long-pulsed (6-ms) pulsed dye laser treatment of rosacea-associated teleangiectasia
using subpurpuric clinical treshhold. Dermatol Surg. 2004; 30: 37-40.
12. Garden JM, Tan OT, Kerschmann R, Boll J, Furumoto H, Anderson R, dkk. Effect of dye laser pulse duration on
selection selective cutaneous vascular injury. J Invest Dermatol. 1986; 87: 653-7.
13. Candela physician’s companion vascular lesion treatment. Sect. 8501-00-1695 (2001).
14. Candela v beam operator’s manual. Sect. P/N 8501-00-1510 (2000).
15. Wheeland RG. Basic laser physics and visible light laser surgery. Dalam: Wheeland RG. Cutaneous surgery.
Philadelphia: WB Saunders company; 1994. h. 1008-36.
16. Candela v beam treatments guidelines. Sect. 8502-00-0821 (2004).
17. Woo WK, Jasim ZF, Handley JM. Evaluating the efficacy of treatment of resistant port-wine stains with variable-pulse
595-nm pulsed dye and 532-nm Nd:YAG lasers. Dermatol Surg. 2004; 30: 158-62.
18. Nelson JS, Milner TE, Anvari B, Tanenbaum S, Kimel S, Svaasand LO, dkk. Dynamic cooling during pulsed laser
treatment of port wine stains: A new methodology with preliminary clinical evaluation. Arch Dermatol. 1995; 131: 695-
700.
19. Ort RJ, Ardnt KA, Dover JS. Lasers in the treatment of vascular lesions. Dalam: Kaminer MS, Dover JS, Ardnt KA,
penyunting. Atlas of cosmetic surgery. Philadelphia: WB Saunders Company; 2002. h.139 – 59.
20. Scherer K, Lorenz S, Wimmershoff M, Landthaler M, Hohenleutner U. Both the flashlamp-pumped dye laser laser and
the long-pulsed tuneable dye laser can improve results in port-wine stains therapy. Br J Dermatol. 2001; 145: 79-84.

12
21. Reiman P. Skin cooling device improves laser efficacy. Dermatology Times, 1999 Juli.
22. Ardnt KA, Dover JS, Geronemus RG, Alora, penyunting. Pulsed dye lasers. Dalam: Illustrated cutaneous & aesthetic
laser surgery. Edisi ke-2. Connecticut: Appleton & Lange; 2000. h. 187-215.
23. Sawcer D, Lowe NJ. Laser physics for clinicians. Dalam: Lask GP, Lowe NJ, penyunting. Lasers in cuteneous and
cosmetic surgery. Philadelphia: Churchill Livingstone; 2000. h. 1-13.
24. Spicer MS, Goldberg DJ. Lasers in dermatology. J Am Acad Dermatol. 1996; 34: 1-25.
25. Lipper GM, Anderson RR. Lasers in dermatology. Dalam: Freedberg IM, Eisen AZ, Wolff K, Austen KF, Goldsmith LA,
Katz SI, penyunting. Fitzpatrick’s dermatology in general medicine. Edisi ke-6. New York: McGraw Hill; 2003. h. 2493-
512.
26. Geronemus R. Pulsed dye laser treatment of vascular lesions in children. J Dermatol Surg Oncol. 1993; 19: 303-10.
27. Reyes BA, Geronemus R. Treatment of port-wine stains during childhood with the flashlamp-pumped pulsed dye laser.
J Am Acad Dermatol. 1990; 23:1142-8.
28. Garden J. The flashlamp-pumped pulsed dye laser for cutaneous vascular lesions. Dalam: Ardnt KA, Dover JS, Olbright
SM, penyunting. Lasers in cutaneous and aesthetic surgery. Philadelphia: Lippincott- Raven; 1997. h.108-23.
29. Grevelink JM, White VR, Bonoan R, Denman WT. Pulsed laser treatment in children and the use of anesthesia. J Am
Acad Dermatol. 1997; 37: 75-81.
30. West TB, Alster TS. Comparison of the long pulse dye (590-595 nm) and KTP (532 nm) lasers in the treatment of facial
and leg teleangiectasias. Dermatol Surg. 1998; 24: 221-6.
31. Goldman MP, Fitzpatrick RE. Treatment of cutaneous vascular lesions. Dalam: Goldman MP, Fitzpatrick RE,
penyunting. Cutaneous laser surgery. ST.Louis: Mosby; 1994. h. 19-95.
32. Michel JL. Treatment of hemangiomas with 595 nm pulsed dye laser dermobeam. Eur J Dermatol. 2003; 13: 136-41.
33. Gonzalez S, Vibhagool C, Falo LD, Momtaz KT, Greevelink J, Gonzalez E. Treatment of pyogenic granulomas with the
585 nm pulsed dye laser. J Am Acad Dermatol. 1996; 35: 428-31.
34. Tay YK, Weston WL, Morelli JG. Treatment of pyogenic granuloma in children with the flashlamp-pumped pulsed dye
laser. Pediatrics. 1997; 99: 368-70.
35. Rohrer TE. Vbeam treatment of port wine stains. Candela v beam clinical bulletin no.11, 2003 Januari. No. laporan:
0920-23-0182.
36. Tan OT, Sherwood K, Gilchrest BA. Treatment of children with port-wine stains using the flashlamp-pulsed tuneable dye
laser. N Engl J Med. 1989; 320: 416-21.
37. Ashinoff R, Geronemus RG. Flashlamp-pumped pulsed dye laser for port wine stains in infancy: Earlier versus later
treatment. J Am Acad Dermatol. 1991; 24: 467-72.
38. Nguyen CM, Yohn JJ, Huff C, Weston WL, Morelli JG. Facial port wine stains in childhood : Prediction of the rate of
improvement as a function of the age of the patient, size and location of the port-wine stain and the number of
treatments with the pulsed dye (585 nm) laser. Br J Dermatol. 1998; 138: 821-5.
39. Ackermann G, Hartmann M, Scherer K, Lang EW, Hohenleutner U, Landthaler M, dkk. Correlations between light
penetration into skin and the therapeutic outcome following laser therapy of port-wine stains. Lasers Med Sci. 2002; 17:
70-8.
40. Renfro L, Geronemus RG. Anatomical differences of port-wine stains in respons to treatment with the pulsed dye laser.
Arch Dermatol. 1993; 129: 182-8.
41. Eubanks LE, McBurney EI. Videomicroscopy of port-wine stains: Correlation of location and depth of lesion. J Am Acad
Dermatol. 2001; 44: 948-51.
42. Hsia J, Lowery JA, Zelickson B. Treatment of leg teleangiectasia using a long-pulse dye laser at 595 nm. Lasers Surg
Med. 1997; 20: 1-5.
43. Loo WJ, Lanigan SW. Recent advances in laser therapy for the treatment of cutaneous vascular disorders. Lasers Med
Sci. 2002; 17: 9-12.
44. Clinton MS. Laser treatment of leg teleangiectasia: a comparative study of three devices. Candela v beam clinical paper
no.2, 2002 Februari. No. laporan: 0920-15-0018.
45. Ugent SJ. The effect of pulse duration on facial teleangiectasia : A comparison of the SPTL-1b and the v beam.
Candela v beam clinical paper no.1, 2002 Februari. No. laporan: 0920-15-0014.
46. Aghassi D, Anderson RR, Gonzalez S. Time-sequence histologic imaging of laser-treated with in vivo confocal
microscopy. J Am Acad Dermatol. 2000; 43: 37-41.
47. Eubanks SW. Vbeam pulsed dye laser treatment of poikiloderma Civatte. Candela v beam clinical bulletin no. 1
48. Laub DA. V beam pulse dye laser treatment of rosacea. Candela v beam clinical bulletin no.6, 2002 Maret. No. laporan:
0920-23-0071.
49. Tan SR, Tope WD, Mphill. Pulsed dye laser treatment of rosacea improves erythema, symptomatology, and quality of
life. J Am Acad Dermatol. 2004; 51: 592-9.
50. Long CC, Lanigan SW. Treatment of angioma serpiginosum using a pulsed tuneable dye laser. Br J Dermatol. 1997;
136: 631-2.
51. Mortimer PS. Disorders of lymphatics vessels. Dalam: Champion RH, Burton JL, Burns DA, Breathnach SM, editor.
Rook/Wilkinson/Ebling Textbook of dermatology. edisi ke-6. Oxford: Blackwell science; 1998. h. 2292-3.
52. Weingold DH, White PF, Burton CS. Treatment of lymphangioma circumscriptum with tuneable dye laser. Cutis. 1990;
45: 365-6.
53. Alster TS. Laser treatment of hypertrophic scars. Cosmetic dermatology. 1999 Januari: 41-4.
54. Alster TS, West TB. Treatment of scar: a review. Annals of plastic surg. 1997; 39: 418-32.
55. Manuskiatti W, Fitzpatrick RE. Treatment response of keloidal and hypertrophic sternotomy scars. Arch Dermatol. 2002;
138: 1149-55.
56. Goldman MP, Fitzpatrick RE. Laser treatment of scars. Dermatol Surg. 1995; 21: 685-7.

13
57. Alster TS, penyunting. Laser treatment of scars and striae. Dalam: Manual of cutaneous laser techniques. Philadelphia:
Lippincott-Raven; 1997. h. 81-103.
58. Bailin PL. Optimizing treatment result for scars and striae: A review of smoothbeam and v beam. Candela v beam
clinical paper no.4, 2005 Januari. No. laporan: 0920-23-0199.
59. Vargas H, Hove CR, Dupree ML, Williams EF. The treatment of facial verrucae with the pulsed dye laser.
Laryngoscope. 2002; 1573-6.
60. Robson KJ, Cunningham NM, Kruzan KL, Patel DS, Kreiter CD, O’donnel MJ, dkk. Pulsed dye-laser versus
conventional therapy in the treatment of warts: A prospective randomized trial. J Am Acad Dermatol. 2000; 43: 275-80
61. Smadja C. V beam treatment of warts. Candela v beam clinical bulletin no.9, 2002 Februari. No. laporan: 0920-23-0130.
62. Zellickson BD. A preliminary overview: Treatment of psoriasis with candela vascular lesion laser. Candela laser
corporation, 1995 Januari.
63. Zelickson BD, Mehregan DA, Crabb GW, Rupmann D, Cook A, O’Connel P, dkk. Clinical and histologic evaluation of
psoriatic plaques treated with a flashlamp pulsed dye laser. J Am Acad Dermatol. 1996; 35: 64-8.
64. Hern S, Stanton AWB, Mellor RH, Harland CC, Levick JR, Mortimer PS. In vivo quantification of the structural
abnormalities in psoriatic microvessels before and after pyulsed dye laser treatment. Br J Dermatol. 2005; 152: 505-11.
65. Seaton ED, Charakida A, Mouser PE, Grace I, Clement RM, Chu AC. Pulse-dye laser treatment for inflammatory acne
vulgaris: randomized controlled trial. Lancet. 2003; 362: 1347-52.
66. Goldberg DJ, Sarradet D, Hussain M, Krishtul A, Phelps R. Clinical, histologic and ultrasutructural changes after
nonablatif treatment with a 595-nm flashlamp-pumped pulsed dye laser: Comparison of varying settings. Dermatol Surg.
2004; 30: 979-82.
67. Kilmer SL. V beam pulsed dye laser treatment of periorbital rhytids. Candela v beam clinical bulletin no.10, 2002
Agustus. No. laporan: 0920-21-0076.
68. Miller HM, Seltzer RB. The expanding role of v beam in our skin rejuvenation practice. Candela clinical bulletin v beam
no. 12, 2003 Februari. No. laporan: 0920-23-0185.
69. Alster TS, McMeekin TO. Improvement of facial acne scars by the 585 nm flashlamp-pumped pulsed dye laser. J Am
Acad Dermatol. 1996; 35: 79-81.
70. Patel N, Clement M. Selective nonablative treatment of acne scarring with 585 nm flashlamp pulsed dye laser. Dermatol
Surg. 2002; 28: 942-5.
71. Hongcharu W. V beam treatment of post-acne redness. Candela v beam clinical bulletin no.8, 2002 Februari. No.
laporan: 0920-23-0117.

14