Vous êtes sur la page 1sur 6

ADMINISTRASI

Pengertian administrasi sangat beraneka ragam tergantung pada konteksnya, bahkan banyak
orang yang menggunakan kata administrasi dengan pengertian yang kurang tepat. Dalam hal ini
akan dijelaskan pengertian administrasi hubungannya dengan manajemen dan organisasi.

Dalam ilmu administrasi proses penyelenggaraan atau kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok
orang, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam mencapai tujuan disebut administrasi.
Jadi, administrasi adalah proses penyelenggaraan kerja sama yang dilakukan oleh sekelompok
orang untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Beberapa pendapat tentang administrasi dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Menurut Prof. Dr. Sondang P. Siagian, M.P.A. administrasi adalah keseluruhan proses
penyelenggaraan kegiatan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih yang terlibat dalam
suatu usaha kerja sama demi tercapainya suatu tujuan yang telah ditentukan. Berdasarkan
defenisi tersebut terdapat enam ide pokok sebagai berikut.
a. Adanya tujuan yang akan dicapai
b. Administrasi merupakan suatu proses
c. Adanya dua orang atau lebih
d. Pelaksanaan kegiatan-kegiatan tertentu
e. Kemampuan kerja sma dalam hierarki tertentu
f. Adanya pembagian tugas

 Menurut Drs. The Liang Gie, administrasi dirumuskan dalam pengertian yang sempit dan
pengertian yang luas. Dalam pengertian yang luas administrasi adalah segenap proses
penyelenggaraan dalam setiap kerja sama kelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu.
Rangkaian kegiatan ini dimulai dari saat ditentukannya tujuan yang ingin dicapai sampai
tercapainya tujuan tersebut. Administrasi merupakan proses penyelenggaraan dan bukan
perbuatan-perbuatan pengerjaan yang berlangsung berkaitan dengan tujuan yang ingin dicapai,
tetapi proses penyelenggaraan tersebut menunjang proses pengerjaan (operatif). Contohnya,
tujuan pendidikan SMK adalah menghasilkan lulusan yang siap bekerja. Yang termasuk
administrasi adalah kegiatan membagi tugas mengajar, merencanakan jadwal ujian, dan
penyampaian instruksi kepada sekolah kepada pengajar. Sedangkan yang dimaksud pengerjaan
(operatif) adalah kegiatan mengajar. Administrasi dalam pengertian sempit menurut Drs. The
Liang Gie, adalah setiap pekerjaan yang berhubungan dengan kegiatan tulis menulis.

Pengertian administrasi dalam arti sempit juga dikemukakan oleh Drs. D.S. Widodo dan J.
Wajong sebagai berikut.

a. Menurut Drs. D.S. Widodo, administrasi adalah segenap aktivitas yang bersangkut paut
dengan masalah-masalah menyiapkan, membuat, mengirimkan, mencatat, dan menyimpan
bahan-bahan keterangan.
b. Menurut J.Wajong, administrasi merupakan pekerjaan tatausaha yang bersifat mencatat
segala sesuatu yang terjadi dalam suatu usaha untuk menjadi bahan keterangan bagi pimpinan.
Administrasi dalam arti yang lebih sempit dikenal dengan istilah tata usaha. Sedangkan
administration dalam bahasa indonesia yang sering ditulis administrasi merupakan rangkaian
kerja sama sekelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu.

Berdasarkan uraian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa kata administrasi dalam arti luas
merupakan kseseluruhan proses penyelenggaraan mulai dari penetepan tujuan sampai pencapaian
tujuan. Sedangkan dalam arti sempit administrasi sama dengan tata usaha.

TENAGA KERJA
Tenaga kerja adalah seorang penduduk yang memiliki usia kerja. Berdasarkan UU No. 13 Tahun
2003 Bab I Pasal 1 Ayat 2 yang menyebutkan bahwa seorang tenaga kerja meruapakan seseorang
yang mampu melakukan suatu pekerjaan guna menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi
kebutuhannya sendiri ataupun untuk masyarakat sekitar. Secara keseluruhan penduduk dalam
suatu pemerintahan atau negara memiliki dua kelompok yaitu tenaga kerja dan bukan tenaga
kerja. Usia yang ditentukan oleh pemerintah Indonesia berumur 15 sampai 64 Tahun. Jadi setiap
orang yang mampu atau bisa bekerja disebut sebagai tenaga kerja.

Tenaga kerja juga memiliki klasifikasinya sendiri yang dibagi berdasarkan golongannya. Dengan
pembagian klasifikasi ini berguna untuk mengelompokkannya untuk memaksimalkan setiap
golongan tersebut.

Klasifikasi Tenaga Kerja

Klasifikasi yang dibagi adalah angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Angkatan kerja
merupakan seorang penduduk yang memiliki usia produktif 15-64 Tahun baik yang ingin
mencari kerja, belum bekerja ataupun yang sudah bekerja. Yang kedua adalah Bukan angkatan
kerja adalah seorang penduduk yang memiliki usia lebih dari 10 tahun yang berkegiatan seperti
sekolah, mengurus rumah tangga dan sebagainya. Contoh kategori ini adalah seperti mahasiswa,
anak sekolah, ibu rumah tangga atau pengangguran sukarela. Secara kualitas juga klasifikasi dari
tenaga kerja dibedakan menjadi tiga diantaranya.

1. Tenaga Kerja Terlatih, tenaga kerja jenis ini mempunyai suatu kelebihan dalam
pengalamannya seperti apoteker, mekanik dan ahli bedah.
2. Tenaga Kerja Terdidik, tenaga kerja yang memiliki suatu keahlian dari pendidikan yang
ia jalani baik itu formal atau non formal, pengacara, guru dan dokter.
3. Tenaga Kerja Tidak Terlatih dan Tidak Terdidik, jenis ini seperti pekerja kasar yang
mengandalkan tenaga yang dimiliki seperti buruh angkut, asisten rumah tangga dan kuli.
Berbicara Tenaga Kerja tentunya berbicara juga masalah ketenagakerjaan yang banyak dialami
orang-orang. Masalah dari ketenagakerjaan ini ada karena beberapa faktor diantaranya seperti
pendidikan yang rendah, pertumbuhan ekonomi yang lamban dan kesempatan mendapatkan
kerja yang minim. Untuk dapat mengatasi masalah seperti ini tentunya dilakukan berbagai cara
seperti meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kualitas pendidikan. Dengan
meningkatkan kedua poin tersebut secara beringingan masalah yang dialami oleh
ketenagakerjaan tersebut pun dapat teratasi. Tapi mengatasi masalah seperti ini tidak semudah
membalikan tangan karena masalah seperti ini selalu muncul di beberapa negara tidak hanya di
indonesia. Masalah yang sering muncul di negara ini biasanya seperti.

Kesempatan Kerja Yang Minim

kesempatan kerja yang minim ada karena beberapa hal salah satunya adalah produktivitas
masyarakat yang rendah sehingga lapangan kerja yang ada jumlahnya tidak sesuai dengan tenaga
kerja yang tersedia. Dengan banyaknya orang yang setiap tahunnya membutuhkan kerja tetapi
lapangan pekerjaan yang sedikit membuat masalah ini selalu timbul.

Kualitas Tenaga Kerja Yang Rendah

Untuk masalah ini sebenarnya ada karena tingkat pendidikan yang ada di indonesia masih
terbilang cukup rendah baik formal ataupun non formal. Masalah ini juga sebabnya berhubungan
dengan ekonomi masyarakat indonesia, karena banyak yang tidak dapat menempuh pendidikan
yang cukup akibatnya berimbas kepada penurunan kualitas dari setiap individunya.

Penyebaran Tenaga Kerja Yang Kurang Rata

Kembali lagi berawal dari permasalahan ekonomi yang membuat penyebaran tenaga kerja
kurang merata. Karena biasanya lapangan pekerjaan yang tersedia lebih banyak di pusat oleh
sebab itu tenaga kerja dari luar jawa datang ke jawa dengan harapan mendapatkan pekerjaan
yang baik membuat tenaga kerja hanya mengharapkan pekerjaan yang ada di pusat. Sehingga
tingkat kesejahteraannya pun tidak seimbang dari satu daerah ke daerah lain. Dengan itu juga
dapat menyebabkan penyebaran penduduk yang tidak rata.

Pengangguran Yang Menjamur

Pengangguran adalah suatu masalah paling besar dalam ketenagakerjaan indonesia. Hal ini
dikarenakan banyaknya populasi penduduk indonesia yang tidak disesuaikan dengan kesempatan
kerja yang baik. Disamping itu, rendahnya kualitas tenaga kerja dan ekonomi tetap menjadi
penyebab munculnya masalah ini.

Itulah beberapa informasi yang harus kamu ketahui mengenai pengertian tenaga kerja yang
sebenarnya, untuk kamu yang ingin menjadi tenaga kerja yang baik ataupun ingin membuat
tenaga kerja di indonesia lebih berkualitas.
Perbedaan Pegawai Tetap dengan Tidak Tetap
Berikan sebuah balasan

Penentuan pegawai tetap dan pegawai tidak tetap oleh pemberi kerja (perusahaan)
menentukan hak, kewajiban, dan fasilitas pajak yang akan diterima pegawai. Masing-
masing lembaga mempunyai cara tersendiri yang berbeda dalam mendefinisikan
pengertian pegawai tetap dan pegawai tidak tetap. Di antaranya UU nomor 13 tahun
2003 tentang ketenagakerjaan dan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
nomor 100 tahun 2004 serta Peraturan Dirjen Pajak nomor 31/PJ/2009 tentang
Pedoman Teknis Tata Cara Pemotongan, Penyetoran dan Pelaporan Pajak
Penghasilan Pasal 21 dan/atau Pajak Penghasilan Pasal 26 Sehubungan dengan
Pekerjaan, Jasa, dan Kegiatan Orang Pribadi.

Seperti tema-tema artikel yang lain, tema artikel ini berdasarkan kata kunci pencarian
dari Google yang datang ke blog dengan harapan Google akan mengindeks artikel ini
dan dikunjungi oleh pencari kata kunci berikutnya. Kualitas artikel tidak penting, asal
diindeks dulu dari kuantitas artikel. Dengan demikian saya tidak menganjurkan Anda
mereferensi artikel ini tanpa tambahan dari sumber lain.

Perbedaan Pegawai Tetap dengan Pegawai Tidak Tetap

Berdasarkan Peraturan Dirjen Pajak nomor 31/PJ/2009, pengertian:


“Pegawai tetap adalah pegawai yang menerima atau memperoleh penghasilan dalam
jumlah tertentu secara teratur, termasuk anggota dewan komisaris dan anggota dewan
pengawas yang secara teratur terus menerus ikut mengelola kegiatan perusahaan
secara langsung, serta pegawai yang bekerja berdasarkan kontrak untuk suatu jangka
waktu tertentu sepanjang pegawai yang bersangkutan bekerja penuh (full time) dalam
pekerjaan tersebut.”

“Pegawai tidak tetap/tenaga kerja lepas adalah pegawai yang hanya menerima
penghasilan apabila pegawai yang bersangkutan bekerja, berdasarkan jumlah hari
bekerja, jumlah unit hasil pekerjaan yang dihasilkan atau penyelesaian suatu jenis
pekerjaan yang diminta oleh pemberi kerja.”
Sedangkan, “Penerima Penghasilan Bukan Pegawai adalah orang pribadi selain
pegawai tetap dan pegawai tidak tetap/tenaga kerja lepas yang memperoleh
penghasilan dengan nama dan dalam bentuk apapun dari Pemotong PPh Pasal 21
dan/atau PPh Pasal 26 sebagai imbalan atas pekerjaan, jasa atau kegiatan tertentu yang
dilakukan berdasarkan perintah atau permintaan dari pemberi penghasilan.”

Dalam praktik pengisian SPT PPh Pasal 21 mungkin akan bimbang mengelompokkan
status pegawai termasuk pegawai tetap, tidak tetap, atau bukan pegawai karena
konsekuensi hukumnya lain. Selain status, frekuensi cara pembayaran
imbalan/upah/gaji pun akan mempengaruhi nilai pajak yang harus dipotong.
Contohnya, imbalan yang bersifat berkesinambungan, (dibayarkan lebih dari satu kali
dalam satu tahun kalender) sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan, maka
penerima imbalan berhak mendapat pengurang Penghasilan Tidak Kena Pajak
(PTKP). Selain pengurang PTKP, pegawai tetap berhak mendapat pengurang
tambahan yaitu biaya jabatan, sebesar 5% (lima persen) dari penghasilan bruto.
Penentuan status pegawai tetap, tidak tetap atau bukan pegawai akan mempengaruhi
cara menghitung pajak dan besarnya pajak yang harus dipotong. Selain itu tenaga ahli
juga mendapat perlakuan khusus dalam pemotongan pajak oleh pemberi kerja.

Konsep pengelompokan pegawai tetap mengacu pada pegawai yang rutin bekerja
secara penuh dan ikut mengelola kegiatan usaha. Pegawai tidak tetap (pegawai
musiman) mengacu kepada pegawai yang diberi imbalan berupa upah harian dan jenis
pekerjaan tidak menyaratkan memiliki keahlian tertentu, contohnya buruh tukang
pasang batu pembuatan rumah, pemetik buah yang dipekerjakan kala panen.
Sedangkan bukan pegawai diangkat oleh pemberi kerja untuk mengerjakan pekerjaan
penunjang kegiatan yang bersifat temporer pada unit usaha contohnya tenaga ahli,
pengacara, akuntan, arsitek, dokter, konsultan, notaris, penilai, dan aktuaris, pembawa
acara, pemain musik, dan lain-lain.

Pemberi kerja wajib memotong pajak atas upah, gaji, imbalan apa pun yang
dibayarkan pada pegawai. Akan tetapi jika pemberi kerja tidak memotong PPh
pasal 21, maka penerima penghasilan wajib menghitung, menyetor, dan
melaporkan sendiri dengan hak memperoleh pengurang PTKP dan biaya jabatan
meskipun menghitung sendiri. Dasarnya adalah Keputusan Dirjen Pajak KEP –
207/PJ./2001 pasal 2 ayat 2, yang masih berlaku sampai terbitnya peraturan
pelaksanaan PMK 183/PMK.03/2007.

Kutipan pasal 2 ayat 2, “Bagi Wajib Pajak orang pribadi yang mempunyai kewajiban
membayar angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 dalam tahun pajak berjalan karena
menerima/ memperoleh penghasilan teratur yang tidak terkena pemotongan/
pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 21, Pasal 22, Pasal 23, dan atau Pajak
Penghasilan Final, sekalipun bukan merupakan penghasilan dari usaha dan atau
pekerjaan bebas, maka atas kewajiban pembayaran angsuran Pajak Penghasilan Pasal
25 tersebut tetap harus dilaporkan pembayarannya dengan Surat Pemberitahuan
Masa Pajak Penghasilan Pasal 25”.