Vous êtes sur la page 1sur 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penanggulangan dan pencegahan

gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan atau perawatan.

Kesehatan merupakan keadaan bebas dari segala suatu penyakit, yang dilengkapi

dengan unsur Biopsikososial dan Spiritual yang memungkinkan setiap orang hidup

produktif secara sosial dan ekonomis.Setiap orang selalu berusaha untuk

mempertahankan keseimbangan hidupnya, keseimbangan yang diperoleh oleh setiap

individu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Keadaan ini disebut sehat,

yang setiap orang memiliiki kebutuhan yang secara terus menerus untuk dipenuhinya.

Salah satu Penyakityang menyebabkan masalah kesehatan masyarakat adalah

Tuberkulosis Paruyang merupakan penyakit yang di sebabkan oleh bakteri

Mycobacterium Tuberculosis. Tuberkolosis Paru telah dikenalhampir di seluruh

dunia, sebagai peyakit kronis yang dapatmenurunkan daya tahan fisik penderita

secara serius. Hal ini di sebabkan oleh terjadinya kerusakan jaringan paru yang

bersifat permanen. Di samping proses ditruksi destruksi terjadi pula secara simultan

proses restorasi atau penyembuhan jaringan paru sehingga terjadi perubahan

struktural yang bersifat menetap serta bervariasi yang menyebabkan berbagai macam

kelainan faal paru.


Tuberkulosis Paru merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi yang

menyerang jaringan paru-paru. Penyebab seseorang mengidap Tubercolosis

Paruadalah bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Sebagian besar orang memiliki

Microba Tuberculosis didalam tubuhnya, tapi microba ini hanya menyebabkan

penyakit di beberapa orang saja, biasanya jika imunitas atau kekebalan tubuh orang

itu menurun. Penyakit Tuberculosis merupakan masalah besar bagi Negara

berkembang termasuk Indonesia, karena diperkirakan 95% penderita Tuberculosis

berada di Negaraberkembang, dan 75% dari penderita Tuberculosis tersebut adalah

kelompok usia produktif (15-50 tahun).(1)

Menurut data WHO Tuberkulosis merupakan penyakit yang menjadi perhatian

global. Dengan berbagai upaya pengendalian yang dilakukan, insidens dan kematian

akibat Tuberkulosis telah menurun, namun Tuberkulosis diperkirakan masih

menyerang 9,6 juta orang dan menyebabkan 1,2 juta kematian pada tahun 2014.

India, Indonesia dan China merupakan negara dengan penderita tuberkulosis

terbanyak yaitu berturut-turut 23%, 10% dan 10% dari seluruh penderita di dunia

(WHO, Global Tuberculosis Report, 2015). Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit

menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Sumber

penularan yaitu pasien TB BTA (bakteri tahan asam) positif melalui percik renik

dahak yang dikeluarkannya. TB dengan BTA negatif juga masih memiliki

kemungkinan menularkan penyakit TB meskipun dengan tingkat penularan yang

kecil.(2)
Salah satu negara berkembang yang terinfeksi kasus TB adalah Indonesia.

Indonesia menempati peringkat ketiga jumlah penderita TB di dunia, setelah India

(1.762.000) dan China (1.459.000). Depkes RI memperkirakan bahwa setiap

tahunnya terdapat 528.000 kasus baru TB di Indonesia. Perkiraan Departemen

Kesehatan Republik Indonesia tersebut mengacu pada hasil survei dari seluruh rumah

sakit (RS) yang menyatakan bahwa 220.000 orang pasien penderita TB baru per

tahun atau 500 orang penderita per hari, inilah yang membuat Indonesia menduduki

peringkat 3 di dunia dalam jumlah penderita TB. Secara umum dapat disimpulkan

bahwa setiap hari 20.000 orang jatuh sakit TB, setiap jam 833 orang jatuh sakit TB,

setiap menit 13 orang jatuh sakit TB, setiap 5 detik satu orang jatuh sakit TB, setiap

hari 5.000 orang meninggal akibat TB, setiap jam 208 orang meninggal akibat TB,

setiap menit 3 orang meninggal akibat TB, setiap 20 detik 1 orang meninggal akibat

TB, dan setiap detik orang terinfeksi TB.(3)

Berdasarkan jumlah penduduk diperhitungkan sasaran penemuan kasus baru

TB Paru di provinsi sumatera utara adalah sebesar 22.026 jiwa, dan hasil cakupan

penemuan kasus baru Tb Paru yaitu 1818 kasus atau 76,35%. Angka ini mengalami

kenaikan bila dibandingkan dengan cakupan penemuan kasus baru tahun 2013

sebesar 72,29% namun lebih rendah bila dibandingkan dengan tahun 2012 sebesar

82,57% dan tahun 2011 sebesar 76,57%. Pada tahun 2014, CNR (kasus baru) TB

Paru di sumatera utara baru mencapai 122/100.000 penduduk. Bila dilihat pencapaian

per kabupaten/kota 3 tertinggi adalah sibolga (222/100.000), pematang siantar

(207/100.000), dan tapanuli tengah 186/100.000 penduduk. Sedangkan 3 terendah


adalah kabupaten dair (26/100.000), nias utara sebesar 65/100.000 dan kota tebing

tinggi sebesar 7/100.000 penduduk.(4)

Berdasarkan latar belakang di atas peneliti ingin mengetahui dan melakukan

pene litian tentang Hubungan Pengawas Menelan Obat Dengan Keberhasilan

Pengobatan TB Paru di Rumah Sakit Umum Mitra Medika Medan 2018.

1.2. Rumusan Masalah

Apakah ada “Hubungan Pengawas Menelan Obat Dengan Keberhasilan

Pengobatan TB Paru di Rumah Sakit Umum Mitra Medika Medan 2018.”.

1.3. Tujuan Penelitian

1.3.1. Untuk mengetahui distribusi frekuensi Pengawas Menelan Obat di Rumah Sakit

Umum Mitra Medika Medan 2018.

1.3.2. Untuk mengetahui distribusi frekuensi Keberhasilan Pengobatan TB Paru di

Rumah Sakit Umum Mitra Medika Medan 2018.

1.3.3. Untuk mengetahui distribusi frekuensi Hubungan Pengawas Menelan Obat

Dengan Keberhasilan Pengobatan TB Paru di Rumah Sakit Umum Mitra

Medika Medan 2018.

1.4. Manfaat Penelitian

1.4.1. Bagi Keluarga Pasien TB Paru

Hasil peneliti ini di harapkan sebagai tambahan informasi tentang TB Paru

dan untuk mengurangi Tingkat Kecemasan Keluarga.


1.4.2. Bagi Rumah Sakit Umum Mitra Medika

Sebagai data atau referensi tambahan bagi pihak puskesmas dan bahan kajian

untuk membuat kebijakan dalam meningkatkan pelayanan kesehatan kepada

penderita TB Paru.

1.4.3. Bagi Akademi Keperawatan Helvetia

Dapat digunakan sebagai bahan atau referensi baru yang dapat digunakan

untuk bahan ajar kepada mahasiswa khususnya tentang Hubungan Pengawas Menelan

Obat Dengan Keberhasilan Pengobatan TB Paru..

1.4.4. Bagi Penelitian Selanjutnya

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber bacaan bagi mahasiswa

Akademi Keperawatan Helvetia Medan dalam menerapkan ilmu dan dapat sebagai

masukkan bagi peneliti berikutnya.

1.4.5. Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan

bagi peneliti dan sebagai syarat untuk menyelesaikan pendidikan Diploma III

Khususnya dibidang kesehatan.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Penelitian Terdahulu

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Samsul Anas,

dengan judul Hubungan Tingkat Kecemasan Dengan Persetujuan Untuk

MenjalanPengobatan Pada Pasien Yang Di Diagnosis Menderita Multi Drug

Resistant Tuberculosis Di Rs Paru Jember dapat disimpulkan bahwa Pada pasien

yang didiagnosis menderita MDR-TB di RS Paru Jember sebagian besar mengalami

kecemasan sedang sebanyak 16 responden (53,3%) dan sisanya mengalami

kecemasan ringan sebanyak 14 responden (46,7%). Sehingga sebagai seorang

perawat hendaknya lebih peka terhadap pasien MDR-TB, khususnya pasien tersebut

mengalami kecemasan atau tidak. (5)

2.2. Telaah Teori

2.2.1. Pengertian TB Paru

Tuberculosis Paru merupakanpenyakit yang disebabkan Micobakterium

tuberculosis yang hampir seluruh organ tubuh dapat terserang olehnya, tapi yang

paling banyak adalah paru-paru.Etiologi Tuberculosisparu adalah Micobakterium

Tuberculosisyang berbentuk batang dan tahan asam dengan panjang 1-4 mili micron

dengan tebal 0.3-0.5 mili micron. Selain itu juga kuman lain yang memberi infeksi

yang sama yaitu M.Bovis, M.Kansasii, M.Intracellutare. (9)


Tuberculosis Paru merupakan penyakit infeksi yang menyerang parenkim

paru-paru dan disebabkan oleh Micobakterium tuberculosis.Tuberculosis merupakan

suatuinfeksi yang dapat menyerang berbagai organ, terutama paru-paru dengan gejala

yagn bervariasi. (10)

2.2.2. Patofisiologi

Kuman dibatukkan / bersin (droplet nudei inidinborne)

Terisap organ sehat

Menempel dijalan nafas / paru-paru

Menetap / berkembang biak


Sitoplasma makroflag

Membentuk sarang TB Pneumonia kecil


( Sarang primer / efek primer )

Radang saluran penafasan


( Limfangitis regional )

Komplek primer

Sembuh sembuh dengan bekas komplikasi TB Sekunder

Kuman dormat (TB Primer)

Infeksi endogen

TB DWS (TB. Post primer)

Sarang pneumonoia kecil

Tuberkel

ReSorpsi Meluas Meluas sembuh

Berkapuran Jaringan Keju


Sembuh kavitas

Meluas memadat/beaks bersih

Sarang pneumonia baru tuberkuloma (9)


Gambar 2.1

2.2.3. Klasifikasi

Di Indonesia klasifikasi yang dipakai berdasarkan DEPKES

1. KategoriI

Paduan obat 2HRZE / 4H3R3 atau 2HRZE / 4HR atau 2HRZE / 6HE, obat

tersebut diberikan pada penderita baru Y+TB Paru BTA Positif,penderita TB

Paru BTA Roentgen Positif yang sakit berat dan penderita TB ekstra paru

berat . (9)

2. Kategori II

Paduan obat 2HRZES / HRZE / 5H3R3E3, obat ini diberikan untuk penderita

kambuh (relaps), penderta gagal (failure) dan penderita dengan pengobatan

setelah lalai (after default). (9)

3. Kategori III

Paduan obat2HRZ / 4H3R3, obat ini diberikanuntuk penderita BTA negatif fa

roentgen positif penyakit ringan, penderita ekstra paru ringan yaitu TB

Kalenjar limfe (limfedanitis), pleuritis eksudativa uiteral, TB kulit, TB tulang

(kecuali tulang belakang), sendi dan kelenjar adrenal.


Adapun tambahan dari pengobatan pasien TB obat sisipan yaitu

diberikan bila pada akhir tahap intensif dari suatu pengobatan dengan kategori

1 atau 2, hasil pemeriksaan dahak masih BTA positif, diberiakn obat sisipan

(HRZE) setiap hari selama satu bulan. (9)

2.2.4. Gejala Klisnis TB Paru

Gejala umum TB Paru adalah batuk lebih dari 4 minggu dengan atau tanpa

sputum, malaise, gejala flu, demam ringan, nyeri dada, batuk darah. Gejala lain yaitu

kelelahan, anorexia, penurunan berat badan.

1. Demam →subfebril menyerupai influenza

2. Batuk→batukkering (non produktif), batuk produktif (sputum), hemaptoe

3. Sesak nafas →pada penyakit TB yang sudah lanjut dimana infiitrasinya sudah

1⁄ bagian paru-paru
2

4. Nyeri dada

5. Malaise →anoreksia, nafsu makan menurun sakit keala, nyeri otot, keringat

malam. (9)

2.2.5. Penanggulangan Khusus Pasien TB Paru

1. Terhadap penderita yang sudah berobat secara teratur


a. Menilai kembali apakah panduan obat sudah adekuat mengenai dosis dan

cara pemberian.

b. Pemerikasaan uji kepekaan / test resistensi kuman terhadap obat

2. Terhadap penderita yang riwayat pengobatan tidak teratur

a. Teruskan pengobatan lama ± 3 bulan dengan evaluasi bakteriologis tiap-

tiap bulan

b. Nilai ulang test resistensi kuman terhadap obat,ganti dengan paduan obat

yang masih sensitif.

3. Pada penderita kambuh (sudah menjalani pengobatan teratur dan adekuat

sesuai rencana tetapi dalam kontrol ulang BTA (+) secara mikroskopik atau

secara biakan)

a. Berikan pengobatan yang sama dengan pengobatan pertama

b. Lakukan pemeriksaan BTA mikroskopik 3 kali, biakan dan resistensi

c. Roentgen Paru sebagai evaluasi

d. Identifikasi adanya penyakit yang menyertai (demam, alkoholisme / steroid

jangka lama)

e. Sesuatu obat dengan tes kepekaan / resistensi

4. Evaluasi ulang setiap bulannya. (9)

2.2.6. Cara Penularan Dan Pencegahan TB Paru

Sumber penularan adalah penderita TB BTA positif. Pada waktu batuk atau

bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan


dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar

selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup kedalam

saluran pernapasan.(1)

Selama kuman TB masuk kedalam tubuh manusia melalui pernapasan, kuman

TB tersebut dapat menyebar dari paru kebagian tubuh lainny, melalui sistem

peredaran darah, sistem saluran limfe, saluran napas, atau penyebaran alangsung

kebagian-bagian tubuh lainnya. Daya penularan dari seseorang penderita ditentukan

oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif

hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan

dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak menular.

Kemungkinan seseorang terinfeksi TB ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam

udara dan lamanya menghirup udara tersebut.(1)

Pencegahan dan solusi : Bila ada teman, tetangga atau anggota keluarga yang

mengalami gejala tersebut, ada baiknya anda menyarankan untuk memeriksakan ke

dokter untuk mengetahui apakah batuknya merupakan penyakit TBC atau tidak.

Karena kadangkala penyakit batuk sering dianggap sepele, padahal penyakit ini dapat

membunuh seseorang bila tidak segera ditangani dan dapat menular kepada orang

lain.(1)

Penyakit ini juga sebenarnya sudah ditaklukkan, tetapi belakangan kembali

menyerang. Salah satunya adalah karena penderita tuberculosisini tidak

menghabiskan obat mereka. Obat harus dimunum secara teratur selama 6 sampai 9

bulanuntuk menyembuhkan penyakit ini. Tidak menghabiskan obat dapat


menyebabkan penderita tidak dapat sembuh dan dapat me nyababkan obat tidak

mampu lagi melawan kuman karena kuman menjadi kebal. Peng batan penyakit TBC

memerlukan waktu yang lama. Pemberian obat mungkin hingga 2 tahun untuk

mencegah terjadinya kekambuhan. Selama penyakit TBC paru-paru masih ada

didalam tubuh, penjalaran penyakit TBC akan terus berpotensi merajalela.(1)


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Desain Penelitian

Desain penelitian ini adalah survei analitik dengan pendekatan cross sectional

yaitu penelitian yang mencoba menggali bagaimana dan mengapa fenomena itu

terjadi. Kemudian melakukan analisis di dinamika kolerasi antara fenomena, baik

antara faktor resiko (independen) dan faktor efek (dependen). Dengan judul

Hubungan Pengawas Menelan Obat Dengan Keberhasilan Pengobatan TB Paru di

Rumah Sakit Umum Mitra Medika Medan 2018.

3.2. Lokasi dan waktu penelitian

3.2.1. Lokasi penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di di Rumah Sakit Umum Mitra Medika Medan

2018.

3.2.2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian yang diperlukan dilakukan dari bulan Mei sampai Agustus

Tahun 2018.

3.3. Populasi Dan Sampel

3.3.1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek/subjek yang

mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang di tetapkan oleh peneliti untuk

mempelajari dan kemudian di tarik kesimpulanya. Populasi yang di ambil dalam


penelitian ini adalah pasien TB Paru di Rumah Sakit Umum Mitra Medika, peneliti

mengambil pada bulan Mei sampai dengan Agustus sejumlah ……. orang.

3.3.2. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang di miliki oleh populasi

tersebut. Pengambilan sampel yang di gunakan adalah total sampling, yaitu

keseluruhah dari posulasi akan di tetapkan menjadi sampel. Sampel dalam penelitian

ini adalah pasien TB Paru sebanyak …… Responden.

3.4. Kerangka Konsep

Hubungan Pengawas Menelan Obat Dengan Keberhasilan Pengobatan TB Paru

di Rumah Sakit Umum Mitra Medika Medan 2018.

Variabel Independen Variabel Dependen

Pengawas Menelan Keberhasilan


Obat Pengobatan TB Paru

Gambar 3.1 :Kerangka Konsep


3.5. Defenisi OperasionalDan Aspek Pengukuran

Defenisi operasional dan Aspek pengukuran

Variabel Defenisi Hasil Skala


Alat Ukur Kategori
Bebas Operasional Pengukuran Ukur
Pengawas Kuisioner Cemas Ringan= 1 Ordinal
Menelan Terdiri dari 0-14
Obat 14
pertanyaan Cemas Sedang 2
Dengan = 15-28
menggunakan
alat ukur Cemas berat
HRS-A =29-42 3
dengan nilai
Maximum 42
Dan Nilai
Minimum 0
Variabel Defenisi Alat ukur Hasil Kategori SkalaU
Terikat Operasional Pengukuran kur
Keberhasilan Kuesioner Kurang 0-10 1 Ordinal
Pengobatan (30
TB Paru Pertanyaan) Cukup 11-20 2
Benar =1
Salah = 0 Baik 21-30 3
3.6. Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan data sekunder, data primer, dan data tertier dengan

menggunakan alat ukur berupa koesioner yang di susun sendiri oleh peneliti

berdasarkan konsep teoritisnya.(14)

3.6.1. Data Primer

Teknik pengumpulan data secara langsung oleh penelitian dengan responden

atau subjek dengan cara tanya jawab sepihak secara sistematik.

3.6.2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari hasil dokumentasi oleh pihak

lain, misalnya, rekam medik, rekapitulasi nilai, dan kunjungan pasien, dan lain-lain.

3.6.3. Data Tertier

Data tertier adalah data yang diperoleh dari naskah yang sudah di publikasikan,

misalnya WHO (World Health Organition), SDKI 2012 (Survei Demografi

Kesehatan Indonesia), Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar).(14)

3.7. Teknik Pengolahan Data

3.7.1. Secara Komputerisasi

Pada masa sekarang penggunaan aplikasi komputer dalam proses pengolahan

data sudah semakin mudah. Data yang terkumpul di olah dengan langkah-langkah

sebagai berikut:

1. Collecting

Mengumpulkan data yang berasal dari kuesioner. Angket maupun observasi.


2. Checking

Dilakukan dengan memeriksa kelengkapan jawaban kuesioner atau lembar

observasi dengan tujuan agar data diolah secara benar sehingga pengolahan data

meberikan hasil valid dan realiabel.

3. Coding

Pada langkah ini penulis melakukan pemberian kode variabel-variabel yang

diteliti, misalnya nama responden dirubah menjadi nomor

4. Data Entering

Data entry, yakni jawaban-jawaban dari masing-masing respondenyang masih

dalam bentuk “kode” (angka atau huruf) dimasukkan dalam program komputer

yang digunakan peneliti yaitu: SPSS

5. Data processing

Semua data yang telah di input ke dalam aplikasi komputer akan diolah sesuai

dengan kebutuhan dari penelitian.(14)

3.8. Teknik Analisa Data

Teknik analisa yang digunakan untuk pengolahan data adalah dengan

menggunakan perangkat lunak program SPSS.

3.8.1. Analisis Univariat

Analisa univariat digunakan untuk mendeskripsikan data yang dilakukan pada

tiap variabel dari hasil penelitian.(14)

3.8.2. Analisis Bivariat


Analisa bivariat digunakan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara

variabel bebas (Pengawas Menelan Obat) dan terikat (Keberhasilan Pengobatan TB

Paru). Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan uji chi square dengan nilai p

value (0,05).(14)