Vous êtes sur la page 1sur 3

Pengembangan Program Pendidikan Inklusi Sekolah

1. Latar Belakang

Keberadaan anak-anak dengan kebutuhan khusus adalah realitas sosial yang tidak dapat
dipungkiri. Anak-anak Berkebutuhan Khusus (ABK) memiliki hak yang sama untuk
memperoleh pendidikan, sebagaimana anak-anak normal lainnya. Anak dengan
berkebutuhan khusus inilah yang dikategorikan ke dalam ”anak-anak yang lemah”, lemah
secara fisik maupun psikis.

Dalam Deklarasi Jomtien dan Konvensi PBB tentang Hak Anak menunjukkan bahwa
kelompok-kelompok anak tertentu, termasuk anak-anak penyandang cacat, memiliki hak
yang sama untuk memperoleh pendidikan. Namun, hak atas pendidikan tidak secara
otomatis mengimplikasikan perlunya pendidikan inklusif. Hak atas Pendidikan Inklusif
yang paling jelas dinyatakan dalam Pernyataan Salamanca dan Kerangka Aksi yang
menekankan bahwa sekolah membutuhkan perubahan dan penyesuaian.

Pendidikan inklusif adalah sebuah terobosan model pendidikan dalam rangka menjamin
hak-hak pendidikan setiap anak, termasuk anak penyandang cacat. Pendidikan Inklusif
adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua
peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat
istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam satu lingkungan
pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya.

Dalam konteks pendidikan, pendidikan inklusif adalah pendidikan yang tidak melihat
hambatan dari sisi anak/peserta didik yang memiliki kelainan, melainkan sistem
pendidikan yang harus mampu mengatasi hambatan tersebut. Karenanya diperlukan
modifikasi kurikulum, sarana prasarana, guru, dan komponen lain dalam proses pendidikan
sehingga dapat mengatasi hambatan yang dihadapi oleh ABK.

Di Indonesia, pemerintah telah lama memberikan perhatian terhadap keberadaan ABK.


Setidaknya terdapat 3 lembaga pendidikan khusus yang menangani masalah pendidikan
ABK, yaitu SLB (Sekolah Luar Biasa), SDLB (Sekolah Dasar Luar Biasa), dan pendidikan
terpadu. Yang menjadi masalah sebagian besar anak ABK belum tertampung dalam
pendidikan khusus, dan sebagian lagi, tanpa disadari mereka yang berkebutuhan khusus
ini berada di sekolah biasa bersama anak-anak normal. Anak berkebutuhan khusus yang
berada di sekolah biasa ini sebagian besar termasuk kategori lambat belajar (learning
disabled).

Melihat kondisi ini, kiranya penting melakukan perluasan dan pengembangan dalam
pelaksanaan Pendidikan Inklusif khususnya melakukan meningkatkan pemerataan dan
pemenuhan hak pendidikan bagi seluruh anak, baik yang normal maupun yang memiliki
kelainan. Diharapkan sekolah dapat menjadi wahana pendidikan yang dapat membangun
masa depan individu, masyarakat dan bangsa dalam kerangka pembangunan sumber daya
yang lebih baik.

2. Pendampingan dalam Pembelajaran

Setiap penyandang cacat memiliki hak yang sama untuk menumbuh kembangkan bakat,
kemampuan dan kehidupan sosialnya, terutama bagi penyandang cacat anak dalam
lingkungan keluarga dan masyarakat (Pasal 6 ayat 6 UU RI No. 4 tahun 1997 tentang
penyandang cacat).

Di samping pendidikan atau sekolah reguler, pemerintah dan badan-badan swasta


menyelenggarakan pendidikan atau sekolah khusus yang biasa disebut Sekolah Luar Biasa
(SLB) untuk melayani beberapa jenis kecacatan. Tidak seperti sekolah reguler yang
tersebar luas baik di perkotaan maupun perdesaan maka, SLB dan SDLB sebagian besar
berlokasi di perkotaan dan sebagian kecil sekali yang berlokasi di perdesaan. Untuk
menjangkau SLB atau SDLB bagi anak penyandang cacat anak ini relatif sangat jauh
hingga memakan biaya cukup tinggi yang tidak terjangkau. Sekolah inklusi merupakan
salah satu cara untuk mengatasi pemerataan pendidikan bagi anak-anak penyandang cacat
ini.

Idealnya, dalam sekolah inklusi terdapat tiga jenis tenaga pendidik seperti guru kelas, guru
mata pelajaran (agama, olah raga) dan guru pembimbing khusus. Kendala dalam
menyediaan tenaga guru adalah, sebagian besar mereka memang berprofesi sebagai guru,
namun latar belakang mereka bukan berasal dari pendidikan yang secara khusus
menangani anak-anak berkebutuhan khusus. Dalam kondisi seperti ini, sebaiknya dalam
mengajar guru kelas didampingi oleh guru yang mempunyai pendidikan khusus sehingga
proses pembelajaran menjadi lebih efektif.
Terbatasnya pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki oleh para guru sekolah inklusi
menjadi salah satu indikasi sistem pendidikan inklusi belum dipersiapkan dengan baik.
Kondisi ini jelas menambah beban tugas yang harus diemban para guru yang berhadapan
langsung dengan persoalan teknis di lapangan. Di satu sisi para guru harus berjuang keras
memenuhi tuntutan hati nuraninya untuk mencerdaskan seluruh siswanya, sementara di sisi
lain para guru tidak memiliki keterampilan yang cukup untuk menyampaikan materi
pelajaran kepada siswa yang membutuhkan penanganan khusus (difabel). Sebagai
konsekuensi situasi kelas yang seperti ini bukannya menciptakan sistem belajar yang
inklusif, tetapi justeru menciptakan kondisi eksklusifisme bagi siswa difabel dalam
lingkungan kelas regular. Jelas ini menjadi dilema tersendiri bagi para guru yang di dalam
kelasnya ada siswa difabel.

3. Penutup

Mengingat guru adalah ujung tombak dari penyelenggaraan pendidikan inklusi maka,
sebaiknya kapasitas dan latar belakang tenaga pendidik harus sesuai dengan peserta didik
yang akan diajarnya. Diperlukannya bantuan pemerintah dalam pengadaan tenaga
pengajar, selain upaya meningkatkan kapasitas guru dalam mengajar peserta didik
berkebutuhan khusus dapat dilakukan dengan memberi pelatihan gratis atau pendidikan
non gelar sehingga guru menjadi lebih percaya diri dan mampu mengelola kelas dengan
baik.

Komitmen yang kuat terhadap penyelenggaraan dan pengembangan pendidikan inklusif


dapat dicapai bila peran guru, pendamping, psikolog, terapis, orang tua, peserta didik
lainnya dan masyarakat dioptimalkan. Untuk itu diperlukan upaya sosialisasi atau
penyuluhan kepada orang tua, peserta didik lainnya dan masyarakat agar mereka dapat
menerima peserta didik berkebutuhan khusus sebagai bagian dari mereka. Orang tua yang
memiliki anak berkebutuhan khusus selalu dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan
yang berkaitan dengan pendidikan putera/peteri mereka.

TERIMAKASIH