Vous êtes sur la page 1sur 9

TUGAS INDIVIDU

KASUS ILEUS

Nama : Annissa Putri Pratiwi


NIM : 1601470030
Kelas : D-IV Keperawatan Lawang

I. Definisi.
Ileus adalah gangguan aliran normal isi usus sepanjang saluran usus. Obstruksi
usus bisa akut dengan kronik , partial atau total. Obstruksi usus biasanya mengenai
kolon sebagai akibat karsinoma dan perkembangannya lambat. Sebagian dasar dari
obstruksi justru mengenai usus halus. Obstruksi total usus halus merupakan keadaan
gawat yang memerlukan diagnosis dini dan tindakan pembedahan darurat bila pasien
ingin tetap hidup. Ada 2 tipe obstruksi yaitu :
A. Mekanis ( ileus obstruktif )
Suatu penyebab fisik menyumbat usus halus dan tidak dapat diatasi oleh peristaltik.
Ileus obstruktif ini bisa akut seperti pada hernia stragulata atau kronis akibat
karsinoma yang melingkari. Misalnya intusepsi, tumor polipoid, dan neoplasma
stenosis, obstruksi batu empedu, striktura, perlengketan, hernia, dan abses.
B. Neorogenik/partial ( ileus paralitik)
Obstruksi yang terjadi karena suplai saraf otonom mengalami paralisis dan peristaltik
usus terhenti sehingga tidak mampu mendorong isi sepanjang usus. Contohnya :
amiloidosis, distropi otot, gangguan endokrin seperti diabetes mellitus, atau gangguan
neurologis seperti Parkinson.

II. Penyebab.
Adapun penyebab dari obstruksi usus dibagi menjadi dua bagian menurut jenis
obstruksi usus, yaitu:
1. Mekanis : Terjadi obstruksi intramunal atau obstruksi munal dari tekanan
pada usus, contohnya adalah intrasusepsi, tumor dan neoplasma, stenosis, striktur,
perlekatan, hernia dan abses.
2. Fungsional : Muskulator usus tidak mampu mendorong isi sepanjang usus (Brunner
and Suddarth).
III. Tanda dan gejala.
A. Obstruksi usus halus
Gejala awal biasanya berupa nyeri abdomen bagian tengah seperti kram yang
cenderung bertambah berat sejalan dengan jalannya obstruksi dan bersifat hilang
tumpul. Pasien dapat mengeluarkan darah dan mukus.
B. Obstruksi usus besar
Nyeri perut yang bersifat kolik dalam kualitas yang sama dengan obstruksi pada usus
halus tetapi intensitasnya jauh lebih rendah. Muntah muncul bila katup ileosekal
kompeten. Pada pasien dengan obstruksi disigmoid dan rektum, konstipasi dapat
menjadi gejala satu-satunya selama beberapa hari. Akhirnya abdomen menjadi sangat
distensi, loop dari usus besar menjadi dapat dilihat dari luar melalui dinding
abdomen, dan pasien menderita kram akibat nyeri abdomen bawah.

IV. Skema patofisiologi.


Ileus non mekanis dapat disebabkan oleh manipulasi organ abdomen, peritonitis,
sepsis dll, sedang ileus mekanis disebabkan oleh perlengketan neoplasma, benda
asing, striktur dll. Adanya penyebab tersebut dapat mengakibatkan passage usus
terganggu sehingga terjadi akumulasi gas dan cairan dlm lumen usus. Adanya
akumulasi isi usus dapat menyebabkan gangguan absorbsi H20 dan elektrolit pada
lumen usus yang mengakibatkan kehilangan H20 dan natrium, selanjutnya akan
terjadi penurunan volume cairan ekstraseluler sehingga terjadi syok hipovolemik,
penurunan curah jantung, penurunan perfusi jaringan, hipotensi dan asidosis
metabolik.
Akumulasi cairan juga mengakibatkan distensi dinding usus sehingga timbul
nyeri, kram dan kolik. Distensi dinding usus juga dapat menekan kandung kemih
sehingga terjadi retensi urine. Distensi juga dapat menekan diafragma sehingga
ventilasi paru terganggu dan menyebabkan sulit bernafas. Selain itu juga distensi
dapat menyebabkan peningkatan tekanan intralumen. Selanjutnya terjadi iskemik
dinding usus, kemudian terjadi nekrosis, ruptur dan perforasi sehingga terjadi
pelepasan bakteri dan toksin dari usus yang nekrotik ke dalam peritoneum dan
sirkulasi sistem. Pelepasan bakteri dan toksin ke peritoneum akan menyebabkan
peritonitis septikemia.
Akumulasi gas dan cairan dalam lumen usus juga dapat menyebabkan terjadinya
obstruksi komplet sehingga gelombang peristaltik dapat berbalik arah dan
menyebabkan isi usus terdorong ke mulut, keadaan ini akan menimbulkan muntah-
muntah yang akan mengakibatkan dehidrasi. Muntah-muntah yang berlebihan dapat
menyebabkan kehilangan ion hidrogen & kalium dari lambung serta penurunan
klorida dan kalium dalam darah, hal ini merupakan tanda dan gejala alkalosis
metabolik.
Dari penjelasan diatas masalah yang muncul yaitu : PK : asidosis metabolik, nyeri
akut, retensi urinarius, pola nafas tak efektif, perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh, risiko kekurangan volume cairan, PK : alkalosis metabolik.
V. Konsep askep (pengkajian, diagnosa keperawatan, rencana keperawatan, standart
evaluasi).
A. Pengkajian
Merupakan tahap awal dari pendekatan proses keperawatan dan dilakukan secara
sistemik mencakup aspek bio, psiko, sosio dan spiritual. Langkah awal dari
pengkajian ini adalah pengumpulan data yang diperoleh dari hasil wawancara dari
klien atau keluarga, observasi pemeriksaan fisik, konsultasi dengan anggota tim
kesehatan lainnya dan meninjau kembali catatan medis ataupun catatan keperawatan.
Pengkajian fisik dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi.
Adapun lingkup pengkajian yang dilakukan pada pasien ileus paralitik adalah sebagai
berikut:
1. Identitas pasien meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, agama, alamat,
status perkawinan, suku bangsa.
2. Riwayat Keperawatan
a. Riwayat kesehatan sekarang meliputiapa yang dirasakan kliensaat pengkajian
b. Riwayat kesehatan masa lalu meliputi penyakit yang diderita, apakah sebelumnya
pernah sakit yang sama
c. Riwayat kesehatn keluarga meliputi apakah dari keluarga ada yang menderita
penyakit yang sama
3. Riwayat Psikososial dan Spritual meliputi pola interaksi, pola pertahanan diri, pola
kognitif, pola emosi dan hasil kepercayan klien.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual, muntah, demam, dan atau
diforesis.
2. Nyeri berhubungan dengan distensi, kekakuan
3. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan distensi abdomen dan atau
kekakuan
4. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi dan perubahan status kesehatan

C. Rencana Keperawatan
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual, muntah, demam, dan atau
diforesis.
Tujuan: Kebutuhan cairan terpenuhi
Kriteria Hasil: Tanda-tanda vital normal, masukan dan keluaran seimbang.
Intervensi:
a. Pantau tanda-tanda vital dan observasi tingkat kesadaran dan gejala syok
b. Pantau cairan parentral dengan elektrolit, antibiotik, dan vitamin
c. Pantau selang terhadap masuknya cairan setiap jam
d. Ukur masukan dan haluaran sampai adekuat
e. Observasi feses pertama terhadap warna, konsistensi, jumlah: hindari konstipasi
2. Nyeri berhubungan dengan distensi, kekakuan
Tujuan: Rasa nyeri teratasi atau terkontrol
Kriteria Hasil: Menyatakan nyeri pada tingkat dapat ditoleransi, menunjukkan relaks
Intervensi:
a. Pertahankan tirah baring pada posisi yang nyaman
b. Kaji lokasi, berat dan tipe nyeri
c. Kaji keefektifan dan pantau terhadap efek samping analgesic
d. Berikan periode istirahat terencana
e. Berikan dan anjurkan tindakan alternative penghilang nyeri
f. Kaji dan anjurkan melakukan latihan tentang gerak pasif atau pasif setiap 4 jam
3. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan distensi abdomen dan atau
kekakuan
Tujuan: Pola napas menjadi efektif
Kriteria Hasil: Pasien menunjukkan kemampuan melakukan latihan pernapasan,
pernapasan yang dalam dan perlahan.
Intervensi:
a. Kaji statusn pernapasan, observasi terhadap menelan, “pernapasan cepat”
b. Tinggikan kepala tempat tidur 40-60 derajat
c. Pantau terapi oksigen atau spirometer insentif
d. Kaji dan anjurkan pasien untuk membalik dan batuk setiap 4 jam dan napas dalam
setiap jam
e. Auskultasi dada terhadap bunyi napas setiap 4 jam
4. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi dan perubahan status kesehatan
Tujuan: Ansietas teratasi
Kriteria Hasil: Pasien mengungkapkan pemahaman tentang penyakit saat ini
Intervensi:
a. Kaji prilaku koping baru dan anjurkan penggunaan penampilan yang berhasil
b. Pertahankan lingkungan yang tenang dan tanpa stress
c. Dorong dukungan keluarga dan orang terdekat
d. Jelaskan prosedur dan tindakan dan beri penguatan penjelasan mengenai penyakit,
tindakan dan prognosis.
e. dorong dan sediakan waktu untuk mengungkapkan ansietas dan rasa takut:
berikanpenanganan

D. Penatalaksanan
1. Koreksi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
2. Terapi Nat, kt, komponen darah
3. Ringer laktat untuk mengoreksi kekurangan cairan interstisial
4. Dekstrosa dan air untuk mem[erbaiki kekurangan cairan intraseluler
5. Implementasikan pengobatan untuk syok dan peritonitis
6. Hiperalimentasi untuk mengoreksi difisiensi protein karena obstruksi kronik, ileus
paralitik atau infeksi
7. Reaksi usus dengan anastomosis dari ujung ke ujung
8. Ostomi - barrel – ganda jika anastomosis dari ujung ke ujung terlalu beresiko
9. Kolostomi lingkaran untuk mengalihkan aliran feses dan mendekomprei usus
dengan reseksi usus yang dilakukan sebagai prosedur kedua.

E. Evaluasi
Hasil yang diharpkan
1. Sedikit mengalami nyeri
2. Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit
3. Memperoleh pemahaman dan pengetahuan tentang proses penyakitnya
4. Mendapatkan nutrisi yang optimal
5. Tidak mengalami komplikasi
DAFTAR PUSTAKA

http://novitasari-2154.blogspot.co.id/2016/09/makalahkmb-i-ileusparalitikobstruksi.html
http://askepterkini.blogspot.co.id/2014/05/laporan-pendahuluan-asuhan-keperawatan_18.html
http://ratnabudi97.blogspot.co.id/2016/02/asuhan-keperawatan-pada-tnd-dengan.html