Vous êtes sur la page 1sur 32

MAKALAH PRESENTASI KASUS

NEFROLITHIASIS

DISUSUN OLEH:

dr. MARLEEN

PROGRAM DOKTER INTERNSHIP RSUD KOTA


TANGERANG

PERIODE MEI 2017-MEI 2018

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Marleen
BORANG PORTOFOLIO V

Nama Peserta : dr. Marleen

Nama Wahana : RSUD Kota Tangerang

Topik : Nefrolithiasis

Tanggal (kasus) : 03 Februari 2018


Nama Pasien : Ny. I, 55 th RM : 001403xx
Tanggal Presentasi : 16 Mei 2018 Nama Pendamping :
Tempat Presentasi : Ruang Komite Medik dr. Tintin Supriatin
Obyektif Presentasi :
 Keilmuan  Keterampilan  Penyegaran  Tinjauan Pustaka
 Diagnostik  Manajemen  Masalah  Istimewa
 Neonatus  Bayi  Anak  Remaja  Dewasa  Lansia  Bumil
 Deskripsi
 Tujuan
Bahan  Tinjauan  Riset  Kasus  Audit
Bahasan Pustaka
Cara Membahas  Diskusi  Presentasi  Email  Pos
: dan
Diskusi

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Marleen
Data Pasien No. Registrasi :
Nama : Ny. I, 55 th 001403xx
Data Utama untuk Bahan Diskusi :
1. Diagnosis/Gambaran Klinis
Diagnosis : Batu saluran kemih
OS datang ke UGD dengan keluhan nyeri dirasakan hilang timbul pada pinggang kanan,
nyeri timbul sewaktu-waktu bisa pada saat tidur ataupun sedang duduk. Nyeri terasa dalam
dan tumpul. Nyeri dari 1 tahun sampai sekarang dirasakan pasien semakin bertambah,
sehingga menyulitkan pasien untuk melakukan pekerjaannya. Nyeri juga diperberat saat
pasien melakukan aktivitas seperti berjalan dan nyeri tersebut menjalar sampai ke daerah
pinggang kanan. Nyeri disertai perut kanan juga terasa keras dan kembung. Pasien juga
mengeluh sering kali terbangun pada saat malam hari untuk BAK. Pasien mengaku bisa
BAK dengan jumlah 20x perhari nya tetapi dengan urine yang sedikit saat berkemih dan
rasa tidak puas setelah berkemih. Pasien mengaku aliran urin pada saat berkemih lancar,
tidak terhambat ditengah-tengah, tidak ada nyeri saat berkemih, tidak ada urine menetes
saat berkemih, tidak pernah mengeluarkan batu kecil ataupun pasir saat BAK, warna urine
juga kekuningan tetapi pancaran urine lemah. Pasien tidak ada mengalami demam, keringat
dingin ataupun menggigil saat nyeri timbul, tidak ada mual muntah, pola BAB lancar
konsistensi lunak. Pasien mengaku tidak ada penurunan berat badan dan nafsu makan.
Pasien suka merasa lemas hilang timbul saat beraktivitas namun masih dapat menjalankan
aktifitas dengan baik dan tidak mengalami sesak, pasien tidak memiliki riwayat tidur
dengan beberapa bantal dan sesak pada malam hari.
2. Riwayat Pengobatan
Pasien belum pernah dirawat inap di rumah sakit
3. Riwayat Kesehatan/penyakit
Pasien tidak pernah mengalami hal yang sama sebelumnya. Tidak mempunyai
riwayat penyakit ginjal maupun infeksi saluran kemih. Pasien menyangkal adanya
riwayat penyakit sendi dan asam urat, riwayat operasi sebelumnya disangkal,

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Marleen
riwayat darah tinggi, kencing manis dan asma juga disangkal
4. Riwayat Keluarga
Dikeluarga tidak ada yang mengalami hal serupa. Riwayat hipertensi, diabetes
mellitus, asma, sakit magh, keganasan, pada keluarga disangkal.
5. Riwayat Kebiasaan
Pasien jarang berolahraga hanya melakukan aktivitas ringan rumah tangan sehari
hari seperti memasak dan merawat anak. Minum air putih dua gelas aqua berukuran
sedang perhari sebelum merasakan gejala seperti ini. Pasien tidak sering duduk
lama ataupun berdiri lama sehari-hari. Pasien bukan seorang perokok dan tidak
pernah minum alkohol atau pakai narkoba selama ini.
6. Riwayat Alergi dan obat
Riwayat alergi obat disangkal pasien.
7. Riwayat Pekerjaan dan Lingkungan
Pasien seorang asisten rumah tangga dan tinggal di lingkungan rumah padat
penduduk.

Daftar Pustaka
1. Purnomo B, Dasar-dasar Urologi. Edisi ke-3. Jakarta: Sagung Seto, 2011

2. European Association of Urology, Guidelines on Urolithiasis.2016

3. Margaret S Pearle MI.In : Urinary Lithiasis Etiology, Epidemiology, and


Pathogenesis : . Campbell’s urology.9th ed. Saunders. 2007.

Hasil Pembelajaran :
1. Diagnosis nephrolithiasis
2. Etiologi nephrolithiasis
3. Komplikasi nephrolithiasis
4. Tatalaksana pada pasien dengan nephrolithiasis
5. Informasi dan edukasi mengenai penyakit pasien dan perubahan gaya hidup

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Marleen
Subjektif OS datang ke UGD dengan keluhan nyeri dirasakan hilang timbul
pada punggung kanan menjalar sampai pinggang, nyeri timbul
sewaktu-waktu bisa pada saat tidur ataupun sedang duduk. Nyeri dari
1 tahun sampai sekarang dirasakan pasien semakin bertambah,
sehingga menyulitkan pasien untuk melakukan pekerjaannya. Nyeri
juga diperberat saat pasien melakukan aktivitas seperti berjalan.
Nyeri disertai perut kanan juga terasa tidak nyaman. Pasien juga
mengeluh sering kali terbangun pada saat malam hari untuk BAK.
Pasien mengaku bisa BAK dengan jumlah 20x perhari nya tetapi
dengan urine yang sedikit saat berkemih dan rasa tidak puas setelah
berkemih. Pasien mengaku aliran urine pada saat berkemih lancar,
tidak terhambat ditengah-tengah, tidak ada nyeri saat berkemih, tidak
ada urine menetes saat berkemih, tidak pernah mengeluarkan batu
kecil ataupun pasir saat BAK, warna urine juga keruh tetapi pancaran
urine lemah. Pasien tidak ada mengalami demam, keringat dingin
ataupun menggigil saat nyeri timbul, tidak ada mual muntah, pola
BAB lancar konsistensi lunak. Pasien mengaku tidak ada penurunan
berat badan dan nafsu makan. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit
sebelumnya dan tidak pernah mengkonsumsi obat apapun secara
rutin
1. Objektif Keadaan Umum
Kesan sakit : tampak sakit ringan
Kesadaran : compos mentis
Kesan gizi : gizi cukup
Cara berjalan : normal
Cara duduk dan berbaring : normal
Sianosis : Tidak ada
Mobilitas ( aktif / pasif ) : Aktif
Skala nyeri : 3-4

Tanda Vital
Tekanan darah : 120/80mmHg

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Marleen
Nadi : 80 x/menit, irama reguler, volume
cukup, ekualitas sama kanan dan kiri
Suhu : 36,60C
Frekuensi napas: 24 x /menit
Berat Badan : 70 kg
Tinggi badan :-
Status Generalis
a) Kepala : normocephali, bentuk bulat, deformitas (-), warna
rambut hitam tipis, distribusi merata, tak mudah dicabut.
b) Wajah : Ekspresi sakit ringan, pucat (-), kemerahan (-)
sianosis (+), wajah simetris.
c) Mata dan alis mata : Alis madarosis (-), alis hitam simetris.
Xantelasma (-), ptosis (-), lagophtalmos (-), udem palpebra (-
), Pupil bulat reguler isokor (+/+), Konjungtiva anemis (+/+),
Sklera Ikterik (-/-), RCL (+/+), R (+/+), gerak bola mata
normal, LP normal.
d) Hidung : Bentuk normal, liang hidung lapang sama besar,
Simetris, septum deviasi (-), deformitas (-), sekret (-/-),
hiperemis (-/-), darah (-/-).
e) Telinga : Telinga Normotia, liang telinga lapang, refleks
cahaya membran timpani tidak dilakukan,
sekret/serumen/darah (-/-), benjolan dan nyeri tekan sekitar
liang telinga (-/-).
f) Mulut :
- Bentuk normal, agak kering, kulit sekitar bibir normal,
bibir simetris, sianosis (-) Kering (-), sianosis (-), anemis
(-), tonsil dan faring dalam batas normal
- Gigi dan gusi : oral higiene cukup baik,
flek/bolong/karies gigi (-), gusi warna pink, tanda
inflamasi dan perdarahan gusi (-), lidah normoglossi
- Mukosa faring dan tonsil : warna pink tanpa bercak.
Ulkus palatum (-), bau napas (-), detritus dan kriptus

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Marleen
tonsil (-)
- Uvula : ditengah, warna pink, hiperemis (-), tonsil ukuran
T1/T1
g) Leher :
bentuk & ukuran normal, deviasi trakea (-), KGB &
kelenjar thyroid normal, nyeri tekan (-), kaku kuduk (-). A.
Carotis denyut teraba normal, JVP 5 +2 cmH2O,
h) Thoraks
 Paru
Inspeksi : bentuk normal, lordosis (-), kifosis (-),
skoliosis (-), gibus (-), warna kulit sawo
matang, ikterik (-), pucat (-), sinosis (-), spider
navy (-), dilatasi vena (-), sternum normal
datar, tulang iga & sela iga normal,
Hemithoraks simetris saat statis dan dinamis,
tipe abdominotorakal, retraksi sela iga(-).
Palpasi : Vokal fremitus kanan dan kiri simetris saat
inspirasi dan expirasi,
Perkusi : Sonor. Batas paru dengan hepar, jantung
kanan, lambung, jantung kiri normal.
Auskultasi: Suara nafas vesikuler, ronkhi (-/-), wheezing
(-/-)
 Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : Ictus cordis teraba di ICS V, 1 cm medial
linea midclavicularis sinistra, thrill (-)
Perkusi : sonor. batas jantung dengan paru kanan, paru
kiri, batas atas jantung normal.
Auskultasi : BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-), BJ III
(-). BJ IV (-)
i) Abdomen
Inspeksi : Normal, datar, simetris, buncit (-), skafoid (-),

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Marleen
warna kulit sawo matang, pucat (-), ikterik (-
), sianosis (-), kemerahan (-), spider navy(-),
keriput (-), dilatasi vena (-),gerak dinding
perut simetris, tipe pernapasan
abdominotorakal
Palpasi : Supel, massa (-), turgor normal, retraksi (-),
defans muskular (-), rigiditas (-), NT (+)
regio lumbar kanan , NL(-), hepar, lien,
vesica vellea normal, undulasi (-), ginjal
ballotement (-)
Perkusi : 4 kuadran abdomen timpani, batas atas dan
bawah hepar normal, shifting dullnes (-)
Auskultasi : Bising usus (+) normal
j) Ekstremitas
Atas dan Bawah
Inspeksi : Bentuk, Kulit, Bulu rambut, Jari, Kuku,
Telapak tangan, Punggung tangan Normal
Palpasi : Suhu, Kelembaban, nyeri, rigiditas & atrofi otot
(-), kekuatan otot baik, Flapping tremor (-),
tremor (-) hangat (+/+), oedem (-/-), CRT <2”
Status Lokalis
Ginjal pada region costovertebral
- Inspeksi : dalam batas normal
- Palpasi : ballotement (-); nyeri tekan (+)
- Perkusi : nyeri ketuk (+)
Ureter pada region suprapubik
- Palpasi : nyeri tekan (-)
Vesica urinaria pada region suprapubik
- Inspeksi : dalam batas normal
- Palpasi : tidak teraba buli, nyeri tekan (-)
- Perkusi : nyeri ketuk (-)

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Marleen
Pemeriksaan Rectal Toucher:
- Tonus sfingter ani baik
- Mukosa rektum licin
- Feses (-), lendir (-), darah (-), massa (-), nyeri (-)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
 Laboratorium :
Tanggal 03/02/2018
Hb 12,4 g/dL
HT 26 %
Leukosit 11.000/uL
Trombosit 216.000/uL
Eritrosit 2,91
Hitung jenis:
Basofil 0
Eosinophil 0
Neutrophil segmen 92
Limfosit 5
Monosit 3
Na 140 mmol/L
K 3,5 mmol/L
Cl 108 mmol/L
Ureum 48 mg/dl
Creatinin 2,4 mg/dl
GDS 198 mg/dl

Tanggal 05/02/2018
Hb 12,4 g/dL
HT 39 %
Leukosit 10,4/uL
Trombosit 324.000/uL
Eritrosit 4,42

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Marleen
Hitung jenis:
Basofil 0
Eosinophil 2
Neutrophil segmen75
Limfosit 15
Monosit 8
Ureum 49 mg/dl
Creatinin 2,3 mg/dl
GDS 198 mg/dl
FOTO POLOS ABDOMEN

KESAN:
Margin superior dari torakal 12, margin inferior bawah 2 jari
simpisis pubis, batas lateral kiri dan kanan krista iliaka
Skin: sulit dinilai
Soft tissue: sulit dinilai, psoas line tidak jelas
Skeletal: tidak ada fraktur, tidak ada dekompresi tulang
Stone: Terdapat gambaran bayangan radioopak multiple pada
paravertebral kanan setinggi L3-L4 dengan ukuran terbesar (3,29 x
3,52 x 2,33cm)
Kesan : gambaran bayangan radio opak
Usul : usg, bno ivp tidak bisa karena fungi ginjal tidak baik

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Marleen
MSCT UROGRAPHY TANPA KONTRAS

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Marleen
KESAN:
Ginjal kanan:
Tampak enlarged severe hydronephrosis kanan, dengan
nephrolithiasis pada pelvis renalis (uk 2,61 x 2,20 x 2,23cm),
dan multiple nephrolithiasis pada lower pole kanan, uk
terbesar (3,29 x 3,52 x 2,33cm). tampak perirenal fat
stranding kanan.
Ginjal kiri:
bentuk dan ukuran normal, densitas parenkim baik, tak
tampak penipisan korteks, PCS tidak melebar, tak tampak
batu.
Ureter kanan:
Melebar ringan
Ureter kiri
Tak melebar, tak tampak bendungan, tak tampak batu
Vesica urinaria:

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Marleen
Dinding tipis, tak tampak adanya batu
Uterus:
Bentuk dan ukuran normal, tak tampak kalsifikasi
Kesan:
 Enlarged severe hydronephrosis kanan et causa
nephrolithiasis pada pelvis renalis (uk 2,61 x 2,20 x
2,23 cm) disertai multiple nephrolithiasis pada lower
pole kanan, uk terbesar 3,29 x 3,52 x 2,33 cm)
 Perirenal fat stranding kanan, suspek proses inflamasi
 Mild hydrourether proximal-distal kanan,
DD/inflamasi, ureter stricture.
 Rontgen thorax
Tanggal 03/02/2017

Kesan: cardiomegaly
 EKG

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Marleen
Kesan:
Sinus ritme, HR 80, gelombang P normal, interval PR
normal, kompleks QRS normal, abnormalitas segmen ST dan
gelombang T tidak ada.
 Follow up tanggal 03/02/2018 (IGD)
S: nyeri pinggang kanan (+), rasa tidak nyaman pada perut
kanan (+), mual muntah (-), demam (-) sesak (-), bengkak (-)
O: CM
TD 130/70mmHg
HR 90x/menit
RR 24x/menit
T 36’5c
Saturasi O2 : 100%
Skala nyeri : 3-4
Mata : konjungtiva anemis -/- sklera ikterik -/-
Leher : JVP 5 +0 cm
Jantung : S1S2 reguler, murmur(-) gallop (-)
Paru : vesikuler (+/+), rhonki -/- wheezing -/-
Abdomen : supel, BU (+) normal, nyeri tekan region lumbalis
kanan, hepatomegali (-), nyeri ketok ginjal kanan (+)
Ekstremitas : akral hangat, tidak ditemukan oedem tungkai
Rectal toucher : dalam batas normal
A: nefrolithiasis + hidronefrosis
P:
konsultasi dokter spesialis urologi, advis :
 Vemplon
 Inj cefoperazone 2x1gr
 Rencana CT urography
Konsultasi dokter spesialis jantung
 Terapi sesuai DPJP
 Follow up tanggal 04/02/2017 di bangsal Jati
S: nyeri pinggang kanan (+), rasa tidak nyaman pada perut

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Marleen
kanan (+), mual muntah (-), demam (-) sesak (-), bengkak (-)
O: CM
TD 130/70mmHg
HR 78x/menit
RR 20x/menit
T 36’5c
Saturasi O2 : 100%
Skala nyeri : 3-4
Mata : konjungtiva anemis -/- sklera ikterik -/-
Leher : JVP 5 +0 cm
Jantung : S1S2 reguler, murmur(-) gallop (-)
Paru : vesikuler (+/+), rhonki -/- wheezing -/-
Abdomen : supel, BU (+) normal, nyeri tekan region lumbalis
kanan, hepatomegali (-), nyeri ketok ginjal kanan (+)
Ekstremitas : akral hangat, tidak ditemukan oedem tungkai
Rectal toucher : dalam batas normal
A: Nefrolithiasis + hidronefrosis
P:
Inj cefoperazone 2x1
Rencana CT urography

 Follow up tanggal 05/02/2017 di bangsal Jati


S: nyeri pinggang kanan (+), rasa tidak nyaman pada perut
kanan (+), mual muntah (-), demam (-) sesak (-), bengkak (-)
O: CM
TD 130/70mmHg
HR 80x/menit
RR 18x/menit
T 36’5c
Saturasi O2 : 100%
Skala nyeri : 3-4
Mata : konjungtiva anemis -/- sklera ikterik -/-

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Marleen
Leher : JVP 5 +0 cm
Jantung : S1S2 reguler, murmur(-) gallop (-)
Paru : vesikuler (+/+), rhonki -/- wheezing -/-
Abdomen : supel, BU (+) normal, nyeri tekan region lumbalis
kanan, hepatomegali (-), nyeri ketok ginjal kanan (+)
Ekstremitas : akral hangat, tidak ditemukan oedem tungkai
Rectal toucher : dalam batas normal
A: nefrolithiasis + hidronefrosis
P:
Inj cefoperazone 2x1
Rencana CT urography
Cek ulang darah rutin, ureum kreatinin, gula darah puasa
 Follow up tanggal 06/02/2017 di bangsal Jati
S: nyeri pinggang kanan (+), rasa tidak nyaman pada perut
kanan (+), mual muntah (-), demam (-) sesak (-), bengkak (-)
O: CM
TD 130/70mmHg
HR 80x/menit
RR 18x/menit
T 36’5c
Saturasi O2 : 100%
Skala nyeri : 2
Mata : konjungtiva anemis -/- sklera ikterik -/-
Leher : JVP 5 +0 cm
Jantung : S1S2 reguler, murmur(-) gallop (-)
Paru : vesikuler (+/+), rhonki -/- wheezing -/-
Abdomen : supel, BU (+) normal, nyeri tekan region lumbalis
kanan berkurang, hepatomegali (-), nyeri ketok ginjal kanan
(+) berkurang
Ekstremitas : akral hangat, tidak ditemukan oedem tungkai
Rectal toucher : dalam batas normal
A: Nefrolithiasis + hidronefrosis

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Marleen
P:
Inj cefoperazone 2x1
Dilakukan CT urography
Pasien rawat jalan kontrol poli urologi

2. Assessment Batu saluran kemih merupakan penyakit ketiga terbanyak


dari saluran kemih, setelah infeksi saluran kemih dan BPH.
Meskipun penyakit batu saluran kemih adalah salah satu penyakit
yang umum ditemukan pada masyarakat modern, namun penyakit ini
telah dijelaskan sejak jaman dahulu. Angka kejadian penyakit ini
tidak sama di berbagai belahan dunia. Di negara berkembang banyak
ditemukan batu pada kantung kencing sedangkan pada negara maju
banyak ditemukan penyakit batu pada saluran kemih bagian atas.
Dikatakan insiden batu saluran kemih tergantung pada faktor
geografis, iklim, etnis serta diet dan genetik. Prevalensi batusaluran
kemih bervariasi antara 1 sampai 20%.
Menurut etiologi seperti tercantum dalam tabel 1, batu
saluran kemih dapat dikelompokkan berdasarkan penyebabnya dalam
kelompok infeksi, non infeksi, defek genetik atau batu yang
disebabkan karena obat (drug stones).
Tabel.1

Etiologi
Terbentuknya batu saluran kemih diduga berhubungan
dengan gangguan aliran urin, gangguan metaboik, infeksi saluran
kemih dehidrasi dan proses idiopatik (tidak atau belum dapat
BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG
PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Marleen
diketahui penyebab pasti). Secara epidemiologis, terdapat faktor-
faktor yang dapat mempermudah terjadinya batu saluran kemih pada
seseorang. Faktor tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu
faktor intrinsik yaitu yang berasal dari dalam tubuh dan faktor
ekstrinsik, yaitu yang berasal dari luar atau dari lingkungan.
Faktor intrinsik meliputi
1. Herediter atau keturunan
2. Umur. Banyak terjadi pada rentang usia 30-50 tahun
3. Jenis kelamin. Perbandingan laki-laki dan perempuan 3:1
Faktor ekstrinsik meliputi
1. Geografis. Pada beberapa daerah didapati nagka kejadian
batu saluran kemih lebih tinggi dibandingkan dengan daerah
lain
2. Iklim dan temperatur
3. Asupan air. Kurangnya asupan air dan tingginya kadar
mineral kalsiumpada air yang dikonsumsi dapat
meningkatkan insiden batu saluran kemih
4. Diet. Diet tinggi purin, oksalat dan kalsium mempernudah
terjadinya penyakit batu saluran kemih
5. Pekerjaan. Batu saluran kemih banyak dijumpai pada orang
dengan pekerjaan yang melibatkan banyak duduk atau kurang
mobilitas.

Faktor Resiko
Secara epidemiologis terdapat 2 faktor yang dapat memepengaruhi
terjadinya pembentukan batu, yaitu4:
1. Faktor intrinsik: faktor yang berasal dari tubuh : umur,
jenis kelamin, keturunan
 Jenis kelamin : pasien laki-laki : perempuan = 4: 1
disebabkan oleh:
- anatomis saluran kemih pada laki-laki yang
lebih panjang
- secara alamiah didalam air kemih laki-laki
BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG
PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Marleen
kadar kalsium lebih tinggi dan pada air kemih
perempuan kadar sitrat (inhibitor) lebih tinggi
- laki-laki memiliki testosterone yang
meningkatkan produksi oksalat endogen di
hati
- estrogen pada perempuan yang mampu
mencegah agregasi garam kalsium.
 Umur: terbanyak penderita BSK di negara Barat
adalah 20-50 tahun, di Indonesia umur 30-60 tahun.
Penyebab pastinya belum diketahui, kemungkinan
disebabkan perbedaan faktor sosial ekonomi, budaya,
dan diet.9
 Herediter: belum diketahui pasti. Penyakit ini diduga
diturunkan oleh orang tuanya.

2. Faktor ekstrinsik: faktor yang berasal dari lingkungan


sekitar. geografi, iklim, gaya hidup.
 Geografi : banyak diderita masyarakat daerah
pegunungan. disebabkan sumber air bersih yang
dikonsumsi banyak mengandung mineral phospor,
kalsium, magnesium, dsb. Pada beberapa daerah
menunjukkan angka kejadian batu saluran kemih yang
lebih tinggi dari daerah lain sehingga dikenal dengan
daerah stone belt (sabuk batu). Contoh daerah stone
belt seperti india, Thailand, Indonesia. Di afrika
selatan jarang.
 Faktor Iklim dan Cuaca : Faktor iklim dan cuaca tidak
berpengaruh langsung, namun kejadiannya banyak
ditemukan di daerah bersuhu tinggi. Temperatur yang
tinggi meningkatkan jumlah keringat dan
meningkatkan konsentrasi air kemih. Konsentrasi air
kemih yang meningkat menyebabkan pembentukan
kristal air kemih.
BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG
PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Marleen
 Asupan air : Kurangnya asupan air dan tingginya
kadar mineral kalsium pada air yang dikonsumsi dapat
meningkatkan angka kejadian batu kemih.
 Diet/Pola makan: misal diet tinggi purine, oksalat,
kalsium
 Pekerjaan: lebih banyak terjadi pada orang yang
banyak duduk dalam pekerjaannya.
 Kebiasaan menahan BAK: akan menimbulkan statis
air kemih yang berakibat timbulnya ISK. ISK yang
disebabkan kuman pemecah urea menyebabkan
terbentuknya batu struvit.

Klasifikasi Batu Saluran Kemih


1) Batu kalsium
Kalsium adalah batu yang paling banyak menyebabkan BSK
(70%-80%). Dijumpai dalam bentuk batu kalsium oksalat, batu
kalsium fosfat atau campuran. Terbentuknya batu terkait kadar
kalsium yang tinggi di dalam urine atau darah dan akibat dari
dehidrasi, overdosis vit D, gangguan kelenjar paratiroid, kanker,
penyakit ginjal. Batu kalsium terdiri dari dua tipe5:
 Whewellite (monohidrat): batu padat, konsentrasi as. oksalat
tinggi pada air kemih.
 Kombinasi kalsium - magnesium menjadi weddllite
(dehidrat): kuning, mudah hancur
Faktor terjadinya batu oksalat adalah sebagi berikut:
 Hiperkalsiuri : kenaikan kadar kalsium urin > 250-
300mg/24jam, disebabkan oleh peningkatan absorbs kalsium
melalui usus, gangguan reabsorbsi kalsium oleh ginjal, dan
peningkatan reabsorbsi tulang karena hiperparatiroid atau
tumor paratiroid.
 Hiperoksaluri : peningkatan ekskresi oksalat > 45 gram/ hari,
banyak diderita oleh penderita yang mengalami kelainan usus
karena post operasi, diet kaya oksalat, (teh, kopi instant,
BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG
PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Marleen
minuman soft drinks, kokoa, jeruk, sitrun, dan sayuran hijau
terutama bayam.)
 Hiperurikosuri : kadar asam urat urin > 850mg/ 24 jam. Asam
urat urin yang berlebihan bertindak sebagai inti batu terhadap
pembentukan batu kalsium oksalat. Sumber asam urat urin
berasal dari makanan kaya purin maupun berasal dari
metabolisme endogen.
 Hipositraturia : sitrat berikatan dengan kalsium di dalam urin
sehingga calsium tidak lagi terikat dengan oksalat maupun
fosfat, karenanya merupakan penghambat terjadinya batu
tersebut. Kalsium sitrat mudah larut sehingga hancur dan
dikeluarkan melalui urin.
 Hipomagnesia, magnesium juga merupakan penghambat
seperti halnya sitrat. Penyebab tersering hipomagnesuria ialah
penyakit inflamasi usus diikuti gangguan malabsorbsi.

2) Batu asam urat


Terjadi pada 5-10% penderita dengan komposisi asam urat.
biasanya berusia > 60 tahun. Batu asam urat dibentuk hanya oleh
asam urat. Gout arthritis, mieloproliferative, penggunaan kemoterapi,
obat urikosurik sulfinpirazone, thiazide, salisilat.pasien obesitas,
alkoholik, diet tinggi protein, hiperurikosurik dan dehidrasi
berpeluang besar menderita BSK ini, karena meningkatkan ekskresi
asam urat sehingga pH air kemih menjadi rendah. Ukuran batu
bervariasi dari kecil, besar hingga membentuk staghorn (tanduk
rusa). Batu asam urat ini adalah batu yang dapat dipecah dengan
obat. 90% berhasil dengan kemolisis5.

3) Batu struvit (magnesium-amonium fosfat)


Batu struvit disebut juga batu infeksi, terbentuknya batu ini
disebabkan adanya ISK. Kuman penyebab infeksi ini adalah
golongan kuman pemecah urea atau urea splitter yang dapat
menghasilkan enzim urease dan merubah urine menjadi bersuasana
BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG
PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Marleen
basa melalui hidrolisis urea menjadi amoniak. Kuman yang termasuk
pemecah urea di antaranya adalah: Proteus spp, Klebsiella, Serratia,
Enterobakter, Pseudomonas, dan Staphiloccocus. Ditemukan sekitar
15-20% pada penderita BSK ditandai dengan kadar amoniak urin
tinggi, sering terjadi pada wanita daripada laki-laki. Pada batu struvit
volume air kemih yang banyak sangat penting untuk membilas
bakteri dan menurunkan supersaturasi dari fosfat.

4) Batu Sistin
Batu Sistin terjadi saat kehamilan, disebabkan gangguan
ginjal, kelainan metabolism sistin yaitu kelainan absorpsi sistin di
mukosa usus.. Merupakan batu yang jarang dijumpai dengan insiden
1-2%. Reabsorbsi asam amino, sistin, arginin, lysin dan ornithine
berkurang, pembentukan batu terjadi saat bayi. Disebabkan faktor
keturunan dan pH urine asam.4 Pembentukan batu dapat terjadi
karena urine sangat jenuh, individu yang memiliki riwayat batu
sebelumnya, individu yang statis karena imobilitas. Batu lainnya :
batu xantin (defisiensi enzim xantin oksidase), triamteren, silikat

Gejala Batu Saluran Kemih : tergantung letak, besar, morfologi


batu
1. Nyeri
Nyeri kolik ginjal dan nyeri ginjal non kolik merupakan nyeri
yang muncul dari ginjal. Nyeri kolik disebabkan oleh meregangnya
sistem koleksi atau ureter. Nyeri non kolik disebabkan oleh distensi
kapsul ginjal. Renal kolik disebabkan oleh obstruksi urin yang
menyebabkan penekanan intra lumen dan meregang ujung syaraf,
dapat juga disebabkan oleh mekanisme local seperti inflamasi,
edema, hiperperistalsis dan iritasi mukosa.
Pasien pada umumnya datang dengan nyeri akut tiba-tiba
disebabkan karena obstruksi dan distensi. Tingkat keparahan dan
lokasi nyeri dapat bervariasi berdasarkan ukuran batu, lokasi batu,
derajat obstruksi, dan variasi anatomi (pelvis intra renal vs ekstra
BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG
PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Marleen
renal). Beban batu tidak berkorelasi dengan keparahan gejala. Pasien
sering bergerak ke posisi yang tidak biasa untuk usaha
menghilangkan nyeri, hal ini berkebalikan dengan pasien dengan
tanda rangsang peritoneal yang berusaha untuk tidak bergerak.
Karakteristik nyeri berdasarkan lokasi:
 Renal kaliks. Batu yang tidak mengobstruksi total akan
menyebabkan nyeri periodik karena obstruksi intermiten.
Nyeri terasa dalam dan tumpul di bagian flank atau
pungung, diperparah dengan minum air yang banyak
 Renal pelvis. Batu pada ureteropelvic junction >1 cm dapat
menyebabkan obstruksi dan menyebabkan nyeri hebat pada
CVA, lateral dari otot sakrospinal dan di bawah iga ke 12.
Nyeri biasa bervariasi dari nyeri tumpul sampai nyeri tajam
yang sangat menyiksa. Sering beradiasi ke pinggang ke
bagian anterior kuadran atas abdomen ipsilateral sehingga
dapat meragukan dengan gastritis, pankreatitis akut, atau
ulkus peptikum. Batu staghorn komplit atau parsial tidak
selalu obstruktif sehingga gejala yang ditimbulkan minimal
seperti nyeri punggung atau pinggang saja.
 Ureter.
Nyeri dengan radiasi bergantung dari lokasi batu:
a. Batu ureteropelvic, nyeri berat pada CVA bermigrasi
sepanjang ureter dan ke dalam testis
b. Batu mid ureter: nyeri lebih pada kuadran perut bawah
c. Batu ureter letak rendah: nyeri menjalar ke buli, vulva
atau skrotum. Batu mendekati buli sering terjadi urgensi
dan frequensi karena inflamasi dinding buli disekitar
ureteral orificae

2. Hematuria
Urinalisis lengkap untuk konfirmasi diagnosis dengan menilai
hematuria, kristaluria dan pH urin. Pasien dengan riwayat hematuria
atau warna urin menjadi seperti teh.

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Marleen
- 3. Demam
Demam terjadi karena kuman yang beredar di dalam darah
sehingga menyebabkan suhu badan meningkat. Gejala ini
disertai jantung berdebar, hipotensi, dan vasodilatasi kulit.
- 4. Infeksi
Berhubungan dengan infeksi sekunder akibat obstruksi dan
statis di proksimal sumbatan.
- Hematuria dan kristaluria
- Keluhan lain: takikardia
- Batu kecil
Bisa tidak bergejala dan dapat keluar sendiri bersama air seni.
- Batu berukuran besar atau menyumbat ureter, pelvis renalis,
tubulus renalis
menimbulkan sumbatan aliran air seni, gejalanya antara lain:
► Rasa belum puas sehabis miksi (Sensation of
incomplete bladder emptying)
► Jika batu menyumbat aliran kemih, bakteri
akan terperangkap di dalam urin yang
terkumpul diatas penyumbatan, sehingga
terjadilah infeksi saluran kemih
► Jika penyumbatan berlangsung lama, urin akan
mengalir balik ke saluran di dalam ginjal,
menyebabkan penekanan yang membuat
hidronefrosis dan akhirnya kerusakan ginjal.
Hidronefrosis
Hidronefrosis adalah dilatasi dari pelvis ginjal dan kaliks yang
berhubungan dengan perubahan tekanan balik dari parenkim ginjal.
Terjadi dilatasi piala dan perifer ginjal pada satu atau kedua ginjal
akibat adanya obstruksi pada aliran normal urin menyebabkan urin
mengalir balik sehingga tekanan diginjal meningkat dan terjadi
penggembungan ginjal akibat tekanan balik. Dalam keadaan normal,
air kemih mengalir dari ginjal dengan tekanan yang sangat rendah.
Jika aliran air kemih tersumbat, air kemih akan mengalir kembali ke
BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG
PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Marleen
dalam tabung-tabung kecil di dalam ginjal (ubulus renalis) dan ke
dalam daerah pusat pengumpulan air kemih (pelvis renalis). Hal ini
akan menyebabkan ginjal menggembung dan menekan jaringan
ginjal yang rapuh. Pada akhinya, tekanan hidronefrosis yang menetap
dan berat akan merusak jaringan ginjal sehingga secara perlahan
ginjal akan kehilangan fungsinya.
Hidronefrosis biasanya terjadi akibat adanya sumbatan pada
sambungan ureteropelvik (sambungan antara ureter dan pelvis
renalis):
 Kelainan struktural, misalnya jika masuknya ureter ke
dalam pelvis renalis terlalu tinggi
 Lilitan pada sambungan ureteropelvik akibat ginjal
bergeser ke bawah
 Batu di dalam pelvis renalis
 Penekanan pada ureter oleh: jaringan fibrosa, arteri atau vena
yang letaknya abnormal, tumor
Hidronefrosis juga bisa terjadi akibat adanya penyumbatan dibawah
sambungan ureteropelvik atau karena arus balik air kemih dari kandung
kemih:
 Batu di dalam ureter
 Tumor di dalam atau di dekat ureter
 Penyempitan ureter akibat cacat bawaan, cedera, infeksi,
terapi penyinaran atau pembedahan
 Kelainan pada otot atau saraf di kandung kemih atau ureter
 Pembentukan jaringan fibrosa di dalam atau di sekeliling
ureter akibat pembedahan, rontgen atau obat-obatan(terutama
metisergid)
 Ureterokel (penonjolan ujung bawah ureter ke dalam kandung
kemih)
 Kanker kandung kemih, leher rahim, rahim, prostat atauorgan
panggul lainnya
 Sumbatan yang menghalangi aliran air kemih dari

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Marleen
kandungkemih ke Uretra akibat pembesaran prostat,
peradangan ataukanker
 Arus balik air kemih dari kandung kemih akibat cacat
bawaanatau cedera
 Infeksi saluran kemih yang berat, yang untuk sementarawaktu
menghalangi kontraksi ureter

► Retensi urine disebabkan obstruksi fungsional


dan mekanis.
► Gejala iritatif disebabkan oleh karena
pengosongan vesica urinaria yang tidak
sempurna pada saat miksi, sehingga vesica
sering berkontraksi meskipun belum penuh.
Gejalanya ialah Frequency, Nokturia (Volume
vesica urinaria tiba-tiba terisi penuh yaitu pada
cuaca dingin, mengkonsumsi minuman yang
mengandung diuretikum (alkohol, kopi),
Urgency, Disuria.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik pasien dengan batu saluran kemih dapat bervariasi
mulai tanpa kelainan fisik sampai tanda-tanda sakit berat tergantung
pada letak batu dan penyulit yang ditimbulkan.
Pemeriksaan fisik umum : hipertensi, febris, anemia, syok
Pemeriksan fisik khusus urologi
o Sudut kosto vertebra : nyeri tekan , nyeri ketok, pembesaran
ginjal

o Supra simfisis : nyeri tekan, teraba batu, buli-buli penuh

o Genitalia eksterna : teraba batu di uretra

o Colok dubur : teraba batu pada buli-buli (palpasi bimanual)

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Marleen
Diagnosis
Pencitraan
Alat pencitraan yang dapat digunakan :
1. USG

Usg dapat digunakan sebagai alat pencitraan diagnostik utama karena


karena tidak ada resiko radiasi, dapat diulang dan tidak mahal, USG
dapat mengindentifikasi batu pada kaliks, pelvic dan vesicoureter
junction, serta pelebaran pada saluran kemih. Untuk semua tipe batu
USG memiliki sensitivitas 19-93% dan spesifitas 84-100%
2. Foto BNO
Sensitivitas dan spesifitas BNO adalah 44-77% dan 80-87%.
3. NCCT
Dapat membedakan antra batu radiolusen dan radioopak. Menurut
EAU guideline NCCT merupakan gold standar untuk mendiagnosis
nyeri pinggang akut dan menggantikan intravenous pyelografi yang
telah menjadi standar selama beberapa lama NCCT dapat
menentukan diameter dan densitas batu, struktur bagian dalam batu
dan mengukur ukuran jarak antara kulit-batu (menentukan
keberhasilan ESWL) Apabila tidak ditemukan batu, penyebab nyeri
intra abdomen lain dapat diidentifikasi. Selain itu NNCT dapat
mengidentifikasi batu asam urat dan xantin yang radiolusen pada
foto polos.

Suatu studi dengan kontras direkomendasi apabila akan dilakukan


pembuangan batu serta anatomi dari sistem collecting ginjal harus
diases. CT diutamakan karena memungkinkan untuk dilakukan
rekonstruksi 3 dimensi.
Pemeriksaan Laboratorium
Pada setiap pasien dengan keluhan urolitiasis perlu dilkakukan
pemeriksaan urinalisis dan pemeriksaan darah selain pencitraan.
3. Plan Penatalaksanaan
Tujuan dasar penatalaksanaan BSK adalah menghilangkan
batu, menentukan jenis batu, mencegah kerusakan nefron,
BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG
PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Marleen
mengendalikan infeksi, dan mengurangi obstruksi yang terjadi. Batu
dapat dikeluarkan dengan medikamentosa, pemberian obat, tanpa
operasi, dan pembedahan terbuka6.
a. Medikamentosa
Indikasi: batu berdiameter < 5 mm, diharapkan batu dapat
keluar tanpa intervensi medis.
cara: mempertahankan keenceran urine dan diet makanan tertentu
yang merupakan bahan utama pembentuk batu (kalsium) yang efektif
mencegah pembentukan batu atau meningkatkan ukuran batu yang
ada. Beberapa cara yaitu6:
a. Minum paling sedikit 8 gelas air sehari. Minum
banyak cairan meningkatkan aliran kemih dan
menurunkan konsentrasi pembentuk batu dalam air
kemih
b. Diet rendah kalsium dan mengkonsumsi natrium
selulosa fosfat.
c. Hindari makanan yang kaya oksalat (bayam, coklat,
kacang-kacangan, merica dan teh).
d. Diet rendah purin seperti daging, ikan dan unggas
e. Batu kalsium  diet rendah kalsium mis : susu, keju,
sayur daun hijau
f. Kontrol berkala pembentukan batu baru
g. Hindari soft drink lebih dari 1 liter/minggu
h. Diet rendah natrium (80-100 mg/hari)  perbaiki
reabsorpsi kalsium proximal sehingga terjadi
pengurangan eksresi natrium dan kalsium.
i. Pembatasan masukan kalsium tak dianjurkan karena
penurunan kalsium intestinal bebas menimbulkan
peningkatan absorpsi oksalat oleh pencernaan,
peningkatan eksresi oksalat dan meningkatkan saluran
kalsium oksalat air kemih. Diet kalsium rendah
merugikan pasien dengan hiperkalsiuria idiopatik

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Marleen
karena keseimbangan kalsium negative akan memacu
pengambilan kalsium dari tulang dan ginjal

b. Pengobatan Medik Selektif dengan Pemberian


Obat-obatan
c. Managemen nyeri

Pada pasien yang datang dengan nyeri kolik, hal pertama


yang dilakukan adalah mengatasi nyeri. NSAID efektif untuk
mengatasi nyeri kolik dan dengan efikasi analgetik lebih baik
dibandingkan opioid. Opioid sering menhyebabkan muntah
dibandingkan dengan NSAID.
Pasien yang diharapkan dapat mengeluarkan batu secara
spontan, tablet NSAID atau supositoria dapat mengurangi inflamasi
dan mengurangi resiko nyeri berulang . Apabila nyeri tidak dapat
diatasi dengan medikasi maka drainase menggunakan stent atau
nefrostomi ataupun tindakan pengeluaran batu menjadi pilihan
intervnesi.
 MET

Obat yang digunakan untuk mengeluarkan batu


bekerja dengan merelaksasi otot polos melalui inhibisi
pompa calcium atau menghalangi reseptor alfa-1. MET
digunakan pada pasien yang nyaman pada pendekatan
ini dan tidak ada keuntungan dari pengeluaran batu secara
cepat.
Tamsulosine merupalan alfa blocker yang paling
banyak digunakan. Penggunaan tamsulosin dan nifedipin
dapat aman dan efektif untuk batu distal ureter dengan nyeri
kolik. Namun tamsulin lebih efektif dibandingkan dengan
nifedipin.
Bagi pasien yang akan diberikan alfa blocker harus
dikontrol nyeri dengan baik, tidak ada bukti klinis adanya
infeksi, dan fungsi ginjal yang baik. Pasien harus diikuti
BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG
PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Marleen
sekali diantara 1 sampai 14 hari untuk monitoring
posisi batu dan kemungkinan hidronefrosis
Hal yang mempengaruhi keberhasilan terapi MET
- Ukuran batu
- Lokasi batu

Shock Wave Lithotripsy ( SWL )


SWL banyak digunakan dalam penanganan batu saluran
kencing. Prinsip dari SWL adalah memecah batu saluran kencing
dengan menggunakan gelombang kejut yang dihasilkan oleh mesin
dari luar tubuh. Gelombang kejut yang dihasilkan oleh mesin di luar
tubuh dapat difokuskan ke arah batu dengan berbagai cara.
Sesampainya di batu, gelombang kejut tadi akan melepas energinya.
Diperlukan beberapa ribu kali gelombang kejut untuk memecah batu
hingga menjadi pecahan-pecahan kecil, agar supaya bisa keluar
bersama kencing tanpa menimbulkan sakit.
Ureteroskopi (URS)
Kombinasi ureteroskopi dengan pemecah batu ultrasound, EHL,
laser dan pneumatik telah sukses dalam memecah batu ureter. Juga
batu ureter dapat diekstraksi langsung dengan tuntunan URS.
Dikembangkannya semirigid URS dan fleksibel URS telah
menambah cakupan penggunaan URS untuk terapi batu ureter.
Keterbatasan URS adalah tidak bisa untuk ekstraksi langsung batu
ureter yang besar, sehingga perlu alat pemecah batu seperti yang
disebutkan di atas.
Percutaneous Nephrolitotomy (PNL)
secara teoritis dapat digunakan sebagai terapi semua batu ureter. Tapi
dalam prakteknya sebagian besar telah diambil alih oleh URS dan
SWL. Meskipun demikian untuk batu ureter proksimal yang besar
dan melekat masih ada tempat untuk PNL.
Prinsip dari PNL adalah membuat akses ke kalik atau pielum
secara perkutan. Kemudian melalui akses tersebut kita masukkan
nefroskop rigid atau fleksibel, atau ureteroskop, untuk selanjutnya

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Marleen
batu ureter diambil secara utuh atau dipecah dulu. Keuntungan dari
PNL, bila batu kelihatan, hampir pasti dapat diambil atau
dihancurkan; fragmen dapat diambil semua karena ureter bisa dilihat
dengan jelas. Prosesnya berlangsung cepat dan dengan segera dapat
diketahui berhasil atau tidak. Kelemahannya adalah PNL perlu
keterampilan khusus bagi ahli urologi. Sebagian besar pusat
pendidikan lebih banyak menekankan pada URS dan SWL dibanding
PNL.
Bedah Terbuka
1 -2 persen saja, terutama pada penderita-penderita dengan kelainan
anatomi atau ukuran batu ureter yang besar.

Pilihan tindakan untuk batu ginjal


1. Batu pada pelvis renal atas kaliks atas/tengah
Untuk batu ginjal pilihan terapi yang dapat diberikan adalah: ESWL
PNL dan RIRS. Efektivitas PNL tidak dipengaruhi dengan ukuran
sedangkan SFR setelah SWL atau URS berbanding terbalik dengan
ukuran batu. SWL mempunyai SFR yang baik pada batu berukuran
<20 mm kecuali pada pole bawah
Sehingga pada batu berukuran <20 mm pilihan utama adalah PNL,
BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG
PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Marleen
dikarena SWL membutuhkan pengobatan berulang dan resiko
obstruksi ureter (streinstrasse atau kolik) dan dibutuhkan terapi
tambahan.
2. Batu pada pole bawah
Stone clearance rate setelah SWL lebih rendah pada batu yang
terdapat pada kalik inferior. Pecahan batu pada ESWL sering
tertinggal dan menyebabkan pembentukan batu berulang. SFR dari
SWL untuk pole bawah adalah 25-85%. Hal yang mempengaruhi
kesuksesan ESWL:
- batu resisten terhadap gelombang (calcium oxalat
monohidrat, brushite, atau cystine)
- sudut infundibulum-pelvik yang tajam
- ukuran kalik panjang >10 mm
- infundibulum yang sempit <5 mm
Sehingga pilihan tindakan untuk pole bawah adalah PNL dan RIRS
direkomendasikan untuk batu berukuran > 15 mm dan ukuran yang
lebih kecil apabila ada faktor prediktor negatif untuk ESWL

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG


PERIODE Mei 2017 – Mei 2018
dr. Marleen