Vous êtes sur la page 1sur 2

Pada percobaan ini yaitu pembuatan garam rangkap yang bertujuan mempelajari reaksi pembuatan

garam rangkap kupri ammonium sulfat hidrat CuSO4(NH4)2SO4.XH2O. garam rangkap yang
digunakan dalam percobaan ini adalah CuSO4(NH4)2SO4. 6H2O yang dihasilkan dari mereaksikan
antara garam CuSO4.5H2O dan (NH4)2SO4. Garam CuSO4.5H2O berwarna biru muda sedangkan
garam (NH4)2SO4 putih. Mula-mula 1,2588 CuSO4.5H2O dilarutkan dalam air mendidih dan
menghasilkan warna biru muda dan 0,6641 (NH4)2SO4 dilarutkan dalam air dan menghasilkan
larutan yang tidak bewarna. Air mempunyai momen dipol yang besar dan ditarik balik ke kation
maupun anion membentuk ion terhidrasi dan dari sifatnya tersebut maka digunakan pelarut air karena
baik CuSO4.5H2O maupun (NH4)2SO4 yang bereaksi larut dalam air dan tetap berupa satu spesies
ion. Pelarutan CuSO4.5H2O dilakukan agar garam yang larut menjadi ion-ion yang tidak stabil
sehingga ketika larutan garan CuSO4.5H2O ditambahkan amonia pekat mudah sekali untuk bereaksi.
Reaksi yang terjadi adalah:
CuSO4.5H2O(s) + H2O(l) → Cu2+ + SO42- + 6H+ + 6OH-
Garam amonium sulfat merupakan garam yang berupa kristal stabil dari ion NH4+ tetrahedral yang
kebanyakan larut dalam air. Garam dari asam kuatnya terionisasi sebelumnya dan larutannya sedikit
bersifat asam, reaksi yang terjadi :
NH4+ + H2O → NH3 + H3O+Kedua larutan tersebut kemudian dicampurkan sambil dipanaskan
sampai larutan jenuh yang ditandai dengan adanya hablur-hablur. Pemanasan ini dilakukan agar
mempercepat larutan garam rangkap proses ionisasi menjadi ion-ion komponennya. Pemanasan
dilakukan secara perlahan-lahan agar kita memperoleh garam yang murni sebab pemanasan hanya
bertujuan untuk melarutkan garam dan menghilangkan H2O yang terdapat di dalam larutan. Jika
pemanasan yang dilakukan berlebihan maka dapat menyebabkan kegagalan terbentuknya garam
rangkap. Selain itu, dapat menyebabkanamonia menguap. Warna larutan setelah pencampuran masih
tetap bewarna biru muda dan pada percobaan ini hablur yang terbentuk sangat sedikit sehingga
pemanasan dilakukan sampai larutan yang dipanasi berkurang hingga setengahnya.
Setelah larutan jenuh, campuran garam-garam tersebut didinginkan sampai membentuk endapan.
Endapan yang terbentuk merupakan garam kupri amonium sulfat. Larutan amonia jika ditambahkan
pada larutan tembaga (II) sulfat dalam jumlah yang sedikit akan menghasilkan endapan biru suatu
garam basa (tembaga sulfat basa). Kemudian kristal disaring untuk memisahkan kristal dari
larutannya. Kristal yang diperoleh dikeringkan agar air yang masih ada pada kristal menguap
sehingga diperoleh kristal yang benar-benar kering. Setelah itu ditimbang untuk mendapatkan kristal
yang diinginkan.
Reaksi yang terjadi:
CuSO4.5H2O(aq) + (NH4)2 SO4(aq) + H2O(l) CuSO4 (NH4)2 SO4.6H2O(s) Kristal yang dihasilkan berwarna
biru muda. Warna biru yang terjadi disebabkan oleh terbentuknya ion kompleks tetraamin tembaga
(II) [Cu(NH)4]2+. Sebenarnya ada dua molekul H2O dalam kompleks tersebut, namun jaraknya
terhadap ion pusat sangat jauh dibandingkan dengan tempat NH3 yang ada. Pada garam rangkap
CuSO4(NH4)2SO4.6H2O yang menjadi ion pusat adalah Cu2+ sedangkan yang menjadi ligannya adalah
SO42- dan NH4+. Ion Cu2+ ini memiliki bilangan koordinasi 4 yang berarti terdapat empat buah
ruangan yang tersedia di sekitar atom 2Cu2+ yang dapat diisi oleh sebuah ligan pada masing-masing
ruangan. Jadi, pada garam rangkap CuSO4(NH4)2SO4.6H2O, dua buah ruangan diisi oleh SO42-
sedangkan sisanya diisi oleh NH4+. Ion yang memiliki bilangan koordinasi 4 seperti Cu2+ ini umumnya
molekulnya berbentuk tetrahedron, tetapi kadang-kadang ditemukan juga molekul yang memiliki
susunan datar (atau hampir datar), di mana ion pusat berada di pusat suatu bujur sangkar dan
keempat ion menempati keempat sudut bujur sangkar. Perbandingan massa CuSO4.5H2O dengan
(NH4)2SO4 adalah 1,255 gram : 0,6641 gram, agar perbandingan jumlah molnya sama, sehingga
dapat bereaksi setimbang dan sama-sama tepat habis bereaksi sehingga menghasilkan garam
rangkap. Pada percobaan ini dihasilkan % randemen 34,5%, hal ini menunjukkan belum seluruhnya
terbentuk garam rangkap. Hal ini dikarenakan pada saat perlakuan pembuatan garam rangkap
masih terdapat kesalahan atau kurang maksimal.