Vous êtes sur la page 1sur 10

OUTLINE : BAB II

KEKUASAAN ATAS PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA

PASAL 6
(1) Presiden selaku Kepala Pemerintahan memegang kekuasaan pengelolaan keuangan
negara sebagai bagian dari kekuasaan pemerintah.
(2) Kekuasaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) :
a. Dikuasakan kepada Menteri Keuangan, selaku pengelola fiskal dan Wakil
Pemerintah dalam kepemilikan kekayaan negara yang dipisahkan;
b. Dikuasakan kepada menteri/pimpinan lembaga selaku Pengguna
Anggaran/Pengguna Barang kementerian negara/lembaga yang dipimpinnya;
c. Diserahkan kepada gubernur/bupati/walikota selaku kepala pemerintahan daerah
untuk mengelola keuangan daerah dan mewakili pemerintah daerah dalam
kepemilikan kekayaan daerah yang dipisahkan.
d. Tidak termasuk kewenangan dibidang moneter, yang meliputi antara lain
mengeluarkan dan mengedarkan uang, yang diatur dengan undang-undang.

Catatan:
Kajian Umum
Kajian utama tentang Ilmu Keuangan Negara dapat dibedakan dalam dua sisi. Pertama,
sisi politis yang mengkaji hubungan hukum antara dua lembaga politik dalam penetapan
Undang-undang APBN, yaitu antara Lembaga Legislatif dan lembaga Eksekutif; dan kedua,
sisi administratif yang mengkaji hubungan hukum antara berbagai instansi didalam lembaga
Eksekutif dalam pelaksanaan Undang-undang APBN. Bila pembagian kewenangan antara dua
lembaga tinggi negara tersebut dengan mudah dapat dilihat dalam undang-undang dasar,
karena sisi politis Ilmu Keuangan Negara merupakan sisi yang menyentuh ranah hukum dasar
(Hukum Tata Negara), pertanyaan yang timbul adalah dari mana asal berbagai kewenangan
yang timbul dan dimiliki oleh para pejabat pengelola anggaran maupun pejabat pengelola
perbendaharaan dalam melaksanakan undang-undang APBN tersebut.
Dapat ditarik suatu simpulan bahwa lingkup pelaksanaan anggaran pendapatan dan
belanja negara pada prinsipnya adalah berada dalam ranah kajian bidang hukum administratif.
Tepatnya, dalam ranah Hukum Administrasi Negara. Hal ini dengan jelas dapat dilihat dalam
konteks pemikiran yang dituangkan dalam pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Republik
Indonesia Tahun 1945, yang menyatakan bahwa “Presiden Republik Indonesia memegang
kekuasaan Pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar”. Sedangkan, kekuasaan
pemerintahan dimaksud adalah kekuasaan eksekutif yang antara lain berupa kekuasaan
penyelenggaraan pemerintahan yang bersifat umum, yaitu berupa kekuasaan
menyelenggarakan administrasi negara.
Atas dasar alur pikir tersebut kemudian dapat dirumuskan bahwa Presiden selaku
Kepala Pemerintahan memegang kekuasaan pengelolaan keuangan negara sebagai bagian dari
kekuasaan pemerintahan. Pemikiran inilah yang kemudian dituangkan dalam rumusan pasal 6
ayat (1) Undang-undang No. 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara, yang kemudian
menyatakan bahwa ‘kekuasaan pengelolaan keuangan negara berada di tangan Presiden’.
Selanjutnya, dalam operasionalisasi kewenangan dimaksud, Presiden mendelegasikan
sebagian kewenangan pengelolaan keuangan negara tersebut kepada para Menteri sebagai
pembantunya sesuai dengan peran masing-masing dalam pengelolaan keuangan negara. Peran
tersebut adalah sebagai Chief Financial Officer (CFO) dan sebagai Chief Operation Officer
(COO).
Peran sebagai CFO secara eksklusif hanya didelegasikan kepada Menteri Keuangan.
Hal ini sesuai dengan tugasnya sebagai pembantu Presiden di bidang keuangan, yaitu sebagai
pengelola keuangan negara atau lebih tepatnya sebagai Bendahara Umum Negara dan sebagai
wakil pemerintah sebagai pemegang saham berbagai perusahaan milik negara. Sementara itu,
peran sebagai COO didelegasikan kepada semua menteri sebagai kepala kementrian, termasuk
kepada menteri keuangan. Sebagai COO, pada hakekatnya, setiap menteri adalah
penanggungjawab terhadap keberhasilan program yang telah disusun dan ditetapkan dalam
kementrian masing-masing.
Dengan mengacu pada pemikiran di atas, Undang-undang No.17 Tahun 2003 tentang
Keuangan Negara pasal 6 ayat (2.a dan b) menyatakan bahwa kewenangan tersebut pada ayat
(1) dikuasakan kepada Menteri Keuangan selaku BUN, di satu pihak, dan kepada Menteri
Teknis selaku Pengguna Anggaran (PA), di lain pihak.

Prinsip Pembagian Kewenangan


Bila diamati, pembagian kewenangan sebagaimana tersebut di atas ternyata didasarkan
pada kaidah umum yang dapat diketemukan dalam teori kebijakan publik. Adapun tujuan
pembagian kewenangan dimaksud terutama adalah menghindarkan terpusatnya kewenangan
di satu tangan agar dapat menjamin terciptanya mekanisme check and balance (saling uji) di
antara para pihak, yaitu para pejabat pengelola keuangan negara.
Lebih lanjut, bila diperhatikan, pembagian kewenangan ini merupakan sistem yang
mampu mendorong agar berbagai keputusan yang diambil oleh para pejabat pengelola
keuangan, yaitu para Menteri selaku Pengguna Anggaran, selalu didasarkan pada kaidah-
kaidah pengelolaan keuangan negara yang telah ditetapkan sebagai acuan, karena keputusan
yang telah diambil akan diuji oleh pihak lain, yaitu Menteri Keuangan , selaku Bendahara
Umum Negara.
Dari gagasan pemisahan kewenangan sebagaimana diuraikan di atas, dapat kiranya
diperhatikan bahwa agar tetap terjamin terselenggaranya mekanisme saling uji antara para
pihak, pembagian kewenangan dalam pengelolaan keuangan negara harus didasarkan pada
prinsip kesetaraan di antara para pengelolanya. Artinya, baik pemegang peran Bendahara
Umum Negara (BUN) maupun peran Pengguna Anggaran (PA) harus memiliki kedudukan
yang setara, yang dalam hal ini adalah para menteri.
Implementasi
Konstruksi bangunan pembagian kewenangan sebagaimana dinyatakan dalam Undang-
undang No.17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara pasal 6 ayat (1) dan ayat (2a dan b)
sebagaimana dikemukakan di atas selanjutnya diacu dalam Undang-undang No.1 Tahun 2004
Tentang Perbendaharaan Negara.
Prinsip pembagian kewenangan dalam pengelolaan keuangan negara dengan titik
puncak pemegang kewenangan adalah Presiden dengan melibatkan dua kelompok menteri,
yaitu menteri keuangan, di satu pihak, dan menteri teknis, di pihak lain, selanjutnya diterapkan
dalam lingkup kementrian lembaga dalam pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara (APBN).
Dengan tetap mengacu pada Undang-undang No.17 Tahun 2003 Tentang Keuangan
Negara pasal 6 ayat (1) dan ayat (2a dan b), dalam lingkup yang lebih kecil, para menteri
kemudian mendelegasikan sebagian kewenangan pengelolaan keuangan negara di masing-
masing kementrian/ lembaga kepada para pembantunya sebagai pimpinan satuan kerja
(Satker).
Perlu diingat bahwa dalam pelaksanaan APBN, dalam kementrian masing-masing, para
menteri memiliki kewenangan layaknya Presiden dalam pengelolaan keuangan negara. Dengan
demikian, dalam kementriannya seorang menteri selaku Pengguna Anggaran, memiliki peran
BUN dan juga peran Menteri Teknis. Dua peran inilah yang selanjutnya dikuasakan kepada
setiap Kepala Satker sebagai pembantunya. Oleh karena itu, setiap Kepala Satker, sebagai
penerima kuasa dari menteri selaku Penggunan Anggaran, yang untuk selanjutnya disebut
sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), harus mendelegasikan kewenangan di bidang
pengelolaan keuangan negara yang diperolehnya dari menteri kepada masing-masing pejabat
di bawahnya sesuai kaidah yang dianut dalam undang-undang bidang keuangan negara.
Oleh sebab itu, sejalan dengan pola di atas, di dalam setiap satker akan terdapat
pemegang peran layaknya BUN yang diperankan oleh Pejabat Penanda tangan SPM (PPSPM)
yang akan melakukan tugas-tugas pengujian (verifikasi), dan juga peran Menteri Teknis, yang
melakukan pengambilan keputusan, yang diperankan oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).
Dengan pola pembagian kewenangan sebagaimana tersebut di atas, KPA sebagai
Kepala Satker, pada hakekatnya hanya memiliki tanggungjawab dan kewenangan yang bersifat
manajerial, yaitu agar berbagai program ataupun kegiatan yang berada dalam
tanggungjawabnya dan harus dilaksanakan oleh Satkernya dapat dilaksanakan sesuai rencana
yang telah ditetapkan. Hal ini terkait dengan peran strukturalnya (formalnya) sebagai kepala
satuan kerja yang secara hirarki membawahi pejabat struktural lainnya yang tingkatannya lebih
rendah.
Sementara itu, PPK adalah pejabat yang bertanggungjawab terhadap terjadinya
pengeluaran negara, karena berbagai keputusan yang diambilnya akan dapat mengakibatkan
terjadinya pengeluaran negara. Dalam konsep pengelolaan keuangan negara versi lama
(sebelum diberlakukannya undang-undang bidang keuangan negara), kewenangan PPK dapat
disetarakan dengan kewenangan otorisasi, kendati lingkupnya lebih sempit yaitu pada
umumnya terkait dengan tindakan dalam rangka pengadaan barang dan jasa.
Untuk menjaga obyektifitas yang memadai dalam pengambilan keputusan, PPK
dibantu oleh pejabat pengadaan, panitia pengadaan barang dan jasa yang dibentuk sesuai
kebutuhan, dan juga oleh pejabat penerima barang/ jasa. Untuk menjaga terselenggaranya tata
kelola yang baik (good governance) dalam pengelolaan keuangan negara, keputusan PPK
tersebut kemudian diuji secara substantif oleh PPSPM.
Pengujian yang dilakukan oleh PPSPM pada prinsipnya lebih bersifat administratif
yang meliputi pengujian wetmatigheid, rechtmatigheid, dan doelmatigheid. Memang pengujian
dimaksud akan meliputi hal-hal terkait dengan substansi yang menyebabkan terjadinya
pengeluaran negara, akan tetapi pejabat PPSPM tidak pernah memiliki kewajiban untuk
melakukan pengecekan apakah kontrak yang asli tersebut tidak dipalsukan, atau apakah berita
acara penyerahan barang yang dijadikan dasar penagihan kepada negara tersebut memang
didasarkan pada bukti penyerahan barang sesuai dengan perikatan yang telah dilakukan oleh
PPSPM. Ujung dari seluruh pengujian yang dilakukan oleh PPSPM tersebut adalah terbitnya
Surat Perintah Membayar (SPM). Hal ini dilakukan bilamana PPSPM meyakini bahwa
pembayaran tersebut memang dapat dilakukan. Keyakinan ini perlu dimiliki oleh PPSPM,
karena benteng terakhir terjadinya pengeluaran negara di tingkat kementrian/ lembaga adalah
PPSPM. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan dalam kepustakaan lama tentang pengelolaan
keuangan negara, peran ini, yang dulu dikenal sebagai pemegang kewenangan ordonnan sering,
merupakan peran yang sangat strategis.

PASAL 7
(1) Kekuasaan atas pengelolaan keuangan negara digunakan untuk mencapai tujuan
bernegara.
(2) Dalam rangka penyelenggaraan fungsi pemerintahan untuk mencapai tujuan bernegara
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) setiap tahun disusun APBN dan APBD.

Catatan:
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), adalah rencana keuangan
tahunan pemerintahan negara Indonesia yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat. APBN
berisi daftar sistematis dan terperinci yang memuat rencana penerimaan dan pengeluaran
negara selama satu tahun anggaran (1 Januari – 31 Desember). APBN, perubahan APBN, dan
pertanggungjawaban APBN setiap tahun ditetapkan dengan Undang-Undang.
APBN memiliki 4 (empat) siklus yaitu :
1. Tahap penyusunan dan penetapan.
2. Tahap pelaksanaan.
3. Tahap pengawasan pelaksanaan.
4. Tahap pertanggungjawaban.
Adapun penjelasan dari keempat siklus tersebut adalah,
1. Tahap penyusunan dan penetapan.
a. Pemerintah menyampaikan pokok-pokok kebijakan fiskal dan kerangka ekonomi
makro kepada Dewan Perwakilan Rakyat (bulan Mei)
b. Pemerintah pusat dan DPR membahas kebijaksanaan umum dan prioritas anggaran
sebagai acuan bagi Kementrian Lembaga dalam penyusunan anggaran.
c. Menteri/pimpinan lembaga menyusun Rencana Kerja dan Anggaran Kementrian
Lembaga (RKA-KL) dan dibahas dengan DPR, hasilnya disampaikan ke MEnteri
Keuangan sebagai bahan rancangan Undang-Undang APBN tahun berikutnya.
d. Pemerintah pusat menyampaikan RUU APBN dan Nota Keuangan kepada DPR untuk
dibahas (bulan Agustus)
e. DPR menyetujui RUU APBN selambat-lambatnya 2 bulan sebelum Tahun Anggaran
yang bersangkutan berakhir.

2. Tahap pelaksanaan
a. Setelah UU APBN ditetapkan, rincian pelaksanaannya dituangkan dalam peraturan
presiden tentang rincian APBN.
b. Menkeu memberitahu K/L agar menyampaikan dokumen pelaksanaan anggaran
berdasarkan alokasi dalam peraturan presiden tentang rincian APBN.
c. Menkeu mengesahkan dokumen pelaksanaan anggaran dan disampaikan kepada
menteri/pimpinan lembaga, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Gubernur, Direktur
Jendral Anggaran, Direktur Jenderal Perbendaharaan, Kepala kantor wilayah Ditjen
Perbendaharaan terkait, Kuasa Bendahara Umum Negara (KPPN) terkait, dan Kuasa
Pengguna Anggaran
d. Penanggung jawab kegiatan mengajukan dana dengan menerbitkan Surat Pemerintah
Membayar (SPM) kepada kuasa BUN
e. Pemerintah menyusun laporan realisasi semester I APBN dan prognosis dan
disampaikan ke DPR selambat-lambatnya akhir juli tahun anggaran yang bersangkutan.
f. Jika ada penyesuaian pemerintah pusat mengajukan RUU perubahan APBN

3. Tahap pengawasan pelaksanaan.

a. Pengawasan dilakukan atasan kepala kantor/satker K/L


b. Inspektorat Jenderal melakukan pengawasan atas pelaksanaan APBN
c. Pengawasan oleh DPR
4. Tahap pertanggungjawaban
a. Menteri/pimpinan lembaga membuat laporan keuangan: Laporan Realisasi Anggaran,
laporan Operosional, Neraca, Laporan Perubahan Ekuitas, dan Catatan atas Laporan
Keuangan.
b. Laporan keuangan disampaikan ke Menkeu paling lambat 2 bulan setelah TA berjalan
berakhir.
c. Menkeu meyusun rekapitulasi LK dan disampaikan ke presiden.
d. Presiden menyampaikan LK ke BPK untuk diaudit.
e. LK yang diaudit disampaikan presiden ke DPR sebagai RUU pertanggungjawaban
pelaksanaan APBN.

Siklus APBN digambarkan sbb:

PASAL 8
Dalam rangka pelaksanaan kekuasaan atas pengelolaan fiskal, Menteri Keuangan mempunyai
tugas sebagai berikut :
a) menyusun kebijakan fiskal dan kerangka ekonomi makro;
b) menyusun rancangan APBN dan rancangan Perubahan APBN;
c) mengesahkan dokumen pelaksanaan anggaran;
d) melakukan perjanjian internasional di bidang keuangan;
e) melaksanakan pemungutan pendapatan negara yang telah ditetapkan dengan undang-
undang;
f) melaksanakan fungsi bendahara umum negara;
g) menyusun laporan keuangan yang merupakan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN;
h) melaksanakan tugas-tugas lain di bidang pengelolaan fiskal berdasarkan ketentuan undang-
undang.

Catatan:
Dalam pengertian umum disebutkan bahwa kebijakan fiskal adalah kebijakan yang
dilaksanakan lewat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Pengaruh kebijaksanaan fiskal
terhadap perekonomian dapat dianalisis dalam dua tahap yang berurutan yaitu bagaimana suatu
kebijaksanaan fiskal diterjemahkan ke dalam APBN serta bagaimana APBN tersebut dapat
mempengaruhi perekonomian.
Menerjemahkan kebijakan fiskal ke dalam APBN artinya dalam mengelola sumber
pendapatan, terutama pajak dan bea. Pemerintah menyatakan kemampuan mengumpulkan
pendapatan untuk digunakan mengelola pemerintahan dalam anggaran pendapatan serta
janji/komitmen pemerintah menjalankan pemerintahan dan pembangunan dalam anggaran
belanja. APBN mempunyai dua sisi, sisi yang mencatat pengeluaran dan sisi yang mencatat
penerimaan. Sisi pengeluaran mencatat semua kegiatan pemerintah yang memerlukan uang
untuk pelaksanaannya.
Dalam prakteknya, pos-pos yang tercantum sangat beraneka ragam dan mencerminkan
apa yang ingin dilaksanakan pemerintah dalam programnya. Sebagai contoh program
pemerintah dapat berupa kegiatan yang mengakibatkan adanya pengeluaran untuk belanja
pegawai, belanja barang/jasa, belanja modal maupun transfer serta berbagai pengeluaran
lainnya. Semua pos pada sisi pengeluaran tersebut memerlukan dana untuk melaksanakannya.
Sehingga diperlukan suatu objek untuk memperoleh penerimaan negara guna melakukan
pembayaran pengeluaran tersebut. Sisi penerimaan menunjukkan dari mana dana yang
diperlukan tersebut diperoleh. Ada empat sumber utama untuk memperoleh dana yaitu dari
pajak, pinjaman bank sentral, pinjaman dalam negeri serta pinjaman luar negeri.
Kebijakan fiskal bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara optimal.
Kebijakan fiskal sangat berhubungan dengan pemasukan atau pendapatan negara, diantara
pendapatan negara antara lain misalnya: bea dan cukai, devisa negara, pariwisata, pajak
penghasilan, pajak bumi dan bangunan, impor, dan lain-lain.
Untuk pengeluaran negara contohnya belanja persenjataan, pesawat, proyek
pemerintah, pembangunan sarana dan prasarana umum, atau program lain yang berkaitan
dengan kesejahteraan masyarakat. Perubahan-perubahan pada belanja atau penerimaan pajak
pemerintahan pusat yang dimaksudkan untuk mencapai penggunaan tenaga kerja, stabilitas
harga, dan laju pertumbuhan ekonomi yang pantas.
PASAL 9
Menteri/pimpinan lembaga sebagai Pengguna Anggaran/ Pengguna Barang kementerian
negara/lembaga yang dipimpinnya mempunyai tugas sebagai berikut :
a) menyusun rancangan anggaran kementerian negara/lembaga yang dipimpinnya;
b) menyusun dokumen pelaksanaan anggaran;
c) melaksanakan anggaran kementerian negara /lembaga yang dipimpinnya;
d) melaksanakan pemungutan penerimaan negara bukan pajak dan menyetorkannya ke Kas
Negara;
e) mengelola piutang dan utang negara yang menjadi tanggung jawab kementerian negara
/lembaga yang dipimpinnya;
f) mengelola barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab kementerian
negara /lembaga yang dipimpinnya;
g) menyusun dan menyampaikan laporan keuangan kementerian negara /lembaga yang
dipimpinnya;
h) melaksanakan tugas-tugas lain yang menjadi tanggung jawabnya berdasarkan ketentuan
undang-undang.

Catatan:
Setelah APBN ditetapkan secara rinci dengan undang-undang, pelaksanaanya
dituangkan lebih lanjut dengan keputusan Presiden sebagai pedoman bagi kementrian
negara/lembaga dalam pelaksanaan anggaran. Ketentuan mengenai pengelolaan keuangan
negara dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD ditetapkan tersendiri dalam undang-undang
yang mengatur perbendaharaan negara mengingat lebih banyak menyangkut hubungan
administratif antar kementrian negara/lembaga di lingkungan pemerintah.
Pelaksanaan anggaran diawali dengan disahkannya dokumen pelaksanaan anggaran
oleh Menteri Keuangan (DIPA). Dokumen anggaran yang telah disahkan oleh Menteri
Keuangan disampaikan kepada menteri/pimpinan lembaga, Badan Pemeriksa Keuangan
(BPK), Gubernur, Direktur Jenderal Anggaran, Direktur Jenderal Perbendaharaan, Kepala
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan terkait, Kuasa Bendahara Umum Negara
(KPPN) terkait, dan Kuasa Pengguna Anggaran. Dokumen tersebut merupakan acuan dan dasar
hukum pelaksanaan APBN yang dilakukan oleh Kementerian/Lembaga dan Bendahara Umum
Negara.
Dokumen-dokumen penting dalam pelaksanaan anggaran adalah Daftar Isian
Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dan dokumen lain yang dipersamakan dengan DIPA.
Sedangkan dokumen pembayaran antara lain terdiri dari Surat Permintaan Pembayaran (SPP),
Surat Perintah Membayar (SPM), dan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D).
Pasal 17 Undang-Undang Perbendaharaan Negara menyatakan bahwa Pengguna
Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran melaksanakan kegiatan yang tercantum dalam dokumen
pelaksanaan anggaran yang telah disahkan dan berwenang mengadakan ikatan/perjanjian
dengan pihak lain dalam batas anggaran yang telah ditetapkan. Lebih lanjut, pedoman dalam
rangka pelaksanaan anggaran diatur dalam Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang
Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, sebagaimana telah diubah
dengan Keputusan Presiden Nomor 72 Tahun 2004.

PASAL 10
1) Kekuasaan pengelolaan keuangan daerah sebagaimana tersebut dalam Pasal 6 ayat (2)
huruf c :
a. dilaksanakan oleh kepala satuan kerja pengelola keuangan daerah selaku pejabat
pengelola APBD;
b. dilaksanakan oleh kepala satuan kerja perangkat daerah selaku pejabat pengguna
anggaran/barang daerah.
(2) Dalam rangka pengelolaan Keuangan Daerah, Pejabat Pengelola Keuangan Daerah
mempunyai tugas sebagai berikut :
a. menyusun dan melaksanakan kebijakan pengelolaan APBD;
b. menyusun rancangan APBD dan rancangan Perubahan APBD;
c. melaksanakan pemungutan pendapatan daerah yang telah ditetapkan dengan Peraturan
Daerah;
d. melaksanakan fungsi bendahara umum daerah;
e. menyusun laporan keuangan yang merupakan per-tanggungjawaban pelaksanaan
APBD.
(3) Kepala satuan kerja perangkat daerah selaku pejabat pengguna anggaran/barang daerah
mempunyai tugas sebagai berikut:
a. menyusun anggaran satuan kerja perangkat daerah yang dipimpinnya;
b. menyusun dokumen pelaksanaan anggaran;
c. melaksanakan anggaran satuan kerja perangkat daerah yang dipimpinnya;
d. melaksanakan pemungutan penerimaan bukan pajak;
e. mengelola utang piutang daerah yang menjadi tanggung jawab satuan kerja perangkat
daerah yang dipimpinnya;
f. mengelola barang milik/kekayaan daerah yang menjadi tanggung jawab satuan kerja
perangkat daerah yang dipimpinnya;
g. menyusun dan menyampaikan laporan keuangan satuan kerja perangkat daerah yang
dipimpinnya.
Catatan:
Pertanggungjawaban Pengelolaan Keuangan Negara merupakan salah satu upaya
konkrit untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara adalah
penyampaian laporan pertanggungjawaban keuangan pemerintah yang memenuhi prinsip-
prinsip tepat waktu dan disusun dengan mengikuti standar akuntansi pemerintah yang telah
diterima secara umum. Dalam undang-undang ini ditetapkan bahwa laporan pertanggung-
jawaban pelaksanaan APBN/APBD disampaikan berupa laporan keuangan yang setidak-
tidaknya terdiri dari laporan realisasi anggaran, neraca, laporan arus kas dan catatan atas
laporan keuangan yang disusun sesuai dengan standar akuntansi pemerintah.
Laporan keuangan pemerintah pusat yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa
Keuangan harus disampaikan kepada DPR selambat-lambatnya 6 (enam) bulan setelah
berakhirnya tahun anggaran yang bersangkutan, demikian pula laporan keuangan pemerintah
daerah yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan harus disampaikan kepada DPRD
selambat-lambatnya 6 (enam) bulan setelah berakhirnya tahun anggaran yang bersangkutan.
Dalam rangka akuntabilitas pengelolaan keuangan negara menteri/pimpinan
lembaga/gubernur/bupati/walikota selaku pengguna anggaran/pengguna barang bertanggung
jawab atas pelaksanaan kebijakan yang ditetapkan dalam Undang-undang tentang
APBN/Peraturan Daerah tentang APBD, dari segi manfaat/hasil (outcome). Sedangkan
Pimpinan unit organisasi kementerian negara/lembaga bertanggung jawab atas pelaksanaan
kegiatan yang ditetapkan dalam Undang-undang tentang APBN, demikian pula Kepala Satuan
Kerja Perangkat Daerah bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan yang ditetapkan dalam
Peraturan Daerah tentang APBD, dari segi barang dan/atau jasa yang disediakan (output).
Sebagai konsekuensinya, dalam undang-undang ini diatur sanksi yang berlaku bagi
menteri/pimpinan lembaga/gubernur/bupati/walikota, serta Pimpinan unit organisasi
kementerian negara/lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah yang terbukti melakukan
penyimpangan kebijakan/kegiatan yang telah ditetapkan dalam Undang-undang tentang APBN
/Peraturan Daerah tentang APBD. Ketentuan sanksi tersebut dimaksudkan sebagai upaya
preventif dan represif, serta berfungsi sebagai jaminan atas ditaatinya Undang-undang tentang
APBN/Peraturan Daerah tentang APBD yang bersangkutan.
Selain itu perlu ditegaskan prinsip yang berlaku universal bahwa barang siapa yang
diberi wewenang untuk menerima, menyimpan dan membayar atau menyerahkan uang, surat
berharga atau barang milik negara bertanggungjawab secara pribadi atas semua kekurangan
yang terjadi dalam pengurusannya. Kewajiban untuk mengganti kerugian keuangan negara
oleh para pengelola keuangan negara dimaksud merupakan unsur pengendalian intern yang
andal.