Vous êtes sur la page 1sur 3

Water Related Insect Vector

Water Related Insect Vector adalah Jenis penyakit yang ditularkan melalui gigitan
serangga yang berkembang biak di dalam air. Contoh: Deman Berdarah Dengue
DEMAN BERDARAH DENGUE
1. Data Penyakit Deman Berdarah Dengue
Kementerian kesehatan Republik Indonesia mencatat jumlah penderita Deman Berdarah
Dengue (DBD) bulan januari-februari 2016 sebanyak 13.219 orang penderita DBD dengan jumlah
kematian 137 orang. Proporsi penderita terbanyak yang mengalami DBD di indonesia ada pada
golongan anak-anak usia 5-14 tahun, mencapai 42,72% dan yang kedua pada rentang usia 15-44
tahun, mencapai 34,49%.
Laporan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat di tahun 2015 pada bulan Oktober ada
3.219 kasus DBD dengan kematian mencapai 32 jiwa, sementara November ada 2.921 kasus
dengan 37 angka kematian, dan Desember 1.104 kasus dengan 31 kematian. Dibandingkan dengan
tahun 2014 pada Oktober tercatat 8.149 kasus dengan 81 kematian, November 7.877 kasus dengan
66 kematian, dan Desember 7.856 kasus dengan 50 kematian.
Tahun 2013 dengan jumlah penderita sebanyak 112.511 orang dan jumlah kasus meninggal
sebanyak 871 penderita.

2. Cara Penularan Deman Berdarah Dengue


Virus Dengue penyebab DBD tidak dapat menular melalui udara, cairan tubuh, makanan
maupun minuman. Hal ini karena virus Dengue tidak mampu bertahan hidup jika berada di luar sel
atau jaringan yang hidup.
“ Virus Dengue hidup dan menular dengan bantuan nyamuk Aedes aegpty, Aedes albopictus,
Aedes polynesiensis. Dan ketiga jenis nyamuk ini merupakan host (tempat hidup) dan vektor
uatam virus Dengue. Nyamuk ini berasal dari Brazill dan Ethiophia”
Cara penularan deman berdarah dengue yaitu sebagai berikut :
a. Penularan DBD terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti betina yang telah membawa
virus Dengue dari penderita lainnya. Nyamuk ini biasanya aktif menyerang manusia pada pagi
dan siang hari. Virus Dengue masuk ketubuh nyamuk melalui darah yang diisap oleh nyamuk
dari seorang penderita DBD.
b. Didalam tubuh nyamuk virus Dengue akan masuk ke usus halus (intestinum) dan berkembang
biak disana. Setelah itu, virus akan berpindah tempat menuju kelenjar air liur dan siap di
tularkanlagi. Fase ini disebut masa inkubasi yang memakan waktu 7-14 hari.
c. Terkadang, nyamuk juga tertular Dengue dari manusia. Jika nyamuk betina yang mengiggit
orang yang terinfeksi nyamuk tersebut akan tertular virus. Mulanya virus hidup di sel yang
menuju saluran pencernaan nyamuk.
d. Sekira 8-10 hari berikutnya, virus menyebar ke kelenjar saliva nyamuk, yang memproduksi
saliva (ludah). Ini berarti bahwasaliva yang diproduksi oleh nyamuk tersebut terinfeksi virus
dengue. Oleh karena itu, ketika nyamuk mengiggit manusia, saliva yang terinfeksi tersebut
masuk kedalam tubuh manusia dan menginfeksi orang sepanjang hidupnya.

3. Pengendalian Nyamuk Aedes aegypti


Pengendalian nyamuk Aedes aegypti bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan
kematian penyakit demam berdarah dengue hingga ke tingkat yang bukan merupakan
masalah kesehatan masyarakat lagi.
Pengendalian vektor nyamuk Aedes aegypti dapat dilakukan dengan menggunakan
beberapa metode yang tepat baik secara lingkungan, biologis, maupun secara kimiawi,
seperti :
a. Lingkungan
Pemberantasan sarang nyamuk (PSN) merupakan tindakan untuk memutus mata
rantai perkembangan nyamuk. Tindakan PSN terdiri atas beberapa kegiatan antaranya
dengan 3M yaitu : Menguras, Menutup, dan Mengubur tempat-tempat yang sering
dijadikan perkembangbiakan nyamuk. Pada dasarnya PSN ini dapat dilakukan dengan:
1) Menguras bak mandi dan tempat penampungan air sekurang-kurangnya seminggu
sekali. Dikarenakan perkembangan telur nyamuk menetas sekitar 7-10 hari.
2) Menutup rapat tempat penampungan air.
3) Mengganti air pada vas bunga dan tempat minum burung setidaknya semunggu
sekali.
4) Membersihkan perkarangan atau halaman rumah dari barang-barang yang dapat
menampung air hujan.
5) Menutup lubang-lubang pada pohon, terutama pohon bambu ditutup dengan
menggunakan tanah.
6) Membersihkan air yang tergenang diatap rumah juga dapat mencegah
berkembangnya nyamuk tersebut.
7) Pembersihan selokan disekitar rumah supaya air tidak tergenang.
b. Biologis
Pengendalian secara bioligis merupakan pengendalian perkembangan nyamuk dan
jentiknya dengan menggunakan hewan atau tumbuhan. Seperti pemeliharaan ikan
cupang pada kolam/ sumur yang sudah tidak terpakai.
c. Kimiawi
Pengendalian secara kimiawi adalah cara pengendalian serta pembasmian nyamuk
dan jentik dengan menggunakan bahan-bahan kimia. Diantaranya adalah :
1. Pengasapan (Fogging)
Pengasapan/togging dengan menggunakan malathion dan fenthion yang
berguna untuk mengurangi kemungkinan penularan aedes aegypti dengan batas
tertentu. Pengasapan dilakukan pada pagi antara jam 07.00-10.00 dan sore antara
jam 15.00-17.00 secara serempak (Depkes RI,2004). Penyemprotan dilakukan dua
siklus dengan interval 1 minggu. Pada penyemprotan pertama, semua nyamuk yang
mengandung virus dengue (nyamuk infentif) dan nyamuk lainnya akan mati.
Penyemprotan kedua bertujuan agar nyamuk baru yang infektif akan terbasmi
sebelum sempat menularkan kepada orang lain. Dalam waktu singkat, tindakan
penyemprotan dapat membatasi penularan, akan tetapi tindakan ini harus diikuti
dengan pemberantasan terhadap jentiknya agar populasi nyamuk penular dapat
tetap ditekan serendah – rendahnya (Chahaya,2005).
Pemberantasan nyamuk dewasa tidak dengan menggunakan cara penyemprotan
pada dinding (residual spraying) karena nyamuk Ae.aegypti tidak suka hinggap
pada dinding, melainkan pada benda-benda yang tergantung seperti kelambu dan
pakaian yang tergantung (Supartha,2008).
2. Larvaciding
Pemberantasan larva dengan memberikan bubuk abate (temephos) pada
tempat-tempat yang sering menjadi tempat penampungan air.pemberian abate
hanya disarankan pada tempat penampungan air yang sulit di kuras. Pemberian
abate dilakukan 4 x /tahun.
Dosis abate > 1gr untuk penggunaann 10 liter air.
3. Repelen
Repelen yaitu bahan kimia atau non-kimia yang berkhasiat mengganggu
kemampuan insekta untuk mengenal bahan atraktan dari hewan atau manusia.
Dengan kata lain, bahan itu berkhasiat mencegah nyamuk hinggap dan menggigit.
Bahan tersebut memblokir fungsi sensori pada nyamuk. Jika digunakan dengan
benar, repelen nyamuk bermanfaat untuk memberikan perlindungan pada individu
pemakainya dari gigitan nyamuk selama jangka waktu tertentu (Kardinan,2007).
Nyamuk dalam mengincar mangsanya lebih mengandalkan daya cium dan
panas tubuh calon calon korbannya. Daya penciuman itulah yang menjadi target
dalam menghalau nyamuk (Rahayu ,2008).
Salah satu cara yang lebih ramah lingkungan adalah memanfaatkan tanaman
antinyamuk (insektisida hidup pengusir nyamuk). Tanaman hidup pengusir nyamuk
adalah jenis tanaman yang dalam kondisi hidup mampu menghalau nyamuk. Cara
penempatan tanaman ini bisa diletakkan di sudut-sudut ruangan dalam rumah,
sebagai media untuk mengusir nyamuk. Jumlah tanaman dalam ruangan tergantung
luas ruangan.