Vous êtes sur la page 1sur 7

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 DEFINISI TERAPI KOMPLEMENTER

Terapi Komplementer adalah cara Penanggulangan Penyakit yang dilakukan sebagai


pendukung kepada pengobatan medis konvensional atau sebagai pengobatan pilihan lain
diluar pengobatan medis yang Konvensional.

Terapi non-konvensional merupakan salah satu dari terapi medis alternatif atau
komplementer. Terapi komplementer (complementary therapies) adalah semua terapi yang
digunakan sebagai tambahan untuk terapi konvensional yang direkomendasikan oleh
penyelenggaraan pelayanan kesehatan individu (Perry, Potter, 2009). Definisi terapi
komplementer yang disepakati adalah suatu bentuk penyembuhan yang bersumber pada
berbagai sistim, modalitas dan praktek kesehatan, yang didukung oleh teori dan kepercayaan.
Termasuk didalamnya latihan atau usaha untuk menyembuhkan diri sendiri. Terapi
komplementer digunakan untuk mencegah dan menyembuhkan penyakit atau juga untuk
meningkatkan taraf kesehatan.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan definisi pengobatan Komplementer


tradisional-alternatif adalah pengobatan non konvensional yang di tunjukan untuk
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, meliputi upaya promotiv, preventive, kuratif,
dan rehabilitatif yang diperoleh melalui pendidikan terstruktur dengan kualitas, keamanan,
dan evektivitas yang tinggi berandaskan ilmu pengetahuan biomedik tapi belum diterima
dalam kedokteran konvensional. Dalam penyelenggaraannya harus sinergis dan terintregrasi
dengan pelayanan pengobatan konvensional dengan tenaga pelaksanaanya dokter,dokter gigi,
dan tenaga kesehatan lainnya yang memiliki pendidikan dalam bidang pengobatan
komplementer tradisional-alternatif. Jenis pengobatan komplementer tradisional-alternatif
yang daoat diselenggarakan secara sinergis dan terintergrasi harus di tetapkan oleh menteri
kesehatan setelah memalui pengkajian.

2.2 TUJUAN TERAPI KOMPLEMENTER

Terapi komplementer bertujuan untuk memperbaiki fungsi dari sistem – sistem tubuh,
terutama sistem kekebalan dan pertahanan tubuh agar tubuh dapat menyembuhkan dirinya
sendiri yang sedang sakit, karena tubuh kita sebenarnya mempunyai kemampuan untuk
menyembuhkan dirinya sendiri, asalkan kita mau mendengarkannya dan memberikan respon
dengan asupan nutrisi yang baik lengkap serta perawatan yang tepat.

1
2.3 JENIS TERAPI KOMPLEMENTER

Di Indonesia ada 3 jenis teknik pengobatan komplementer yang telah ditetapkan oleh
Departemen Kesehatan untuk dapat diintegrasikan ke dalam pelayanan konvensional, yaitu
sebagai berikut :

1. Akupunktur medic yaitu metode yang berasal dari Cina ini diperkirakan sangat
bermanfaat dalam mengatasi berbagai kondisi kesehatan tertentu dan juga sebagai
analgesi (pereda nyeri). Cara kerjanya adalah dengan mengaktivasi berbagai molekul
signal yang berperan sebagai komunikasi antar sel. Salah satu pelepasan molekul tersebut
adalah pelepasan endorphin yang banyak berperan pada sistem tubuh.
2. Terapi hiperbarik, yaitu suatu metode terapi dimana pasien dimasukkan ke dalam sebuah
ruangan yang memiliki tekanan udara 2 – 3 kali lebih besar daripada tekanan udara
atmosfer normal (1 atmosfer), lalu diberi pernapasan oksigen murni (100%). Selama
terapi, pasien boleh membaca, minum, atau makan untuk menghindari trauma pada
telinga akibat tingginya tekanan udara.
3. Terapi herbal medik, yaitu terapi dengan menggunakan obat bahan alam, baik berupa
herbal terstandar dalam kegiatan pelayanan penelitian maupun berupa fitofarmaka.
Herbal terstandar yaitu herbal yang telah melalui uji preklinik pada cell line atau hewan
coba, baik terhadap keamanan maupun efektivitasnya. Terapi dengan menggunakan
herbal ini akan diatur lebih lanjut oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Ada
beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, yaitu:
 Sumber daya manusia harus tenaga dokter dan atau dokter gigi yang sudah
memiliki kompetensi.
 Bahan yang digunakan harus yang sudah terstandar dan dalam bentuk sediaan
farmasi.
 Rumah sakit yang dapat melakukan pelayanan penelitian harus telah mendapat
izin dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia dan akan dilakukan
pemantauan terus – menerus.

Dari 3 jenis teknik pengobatan komplementer yang ada, daya efektivitasnya untuk
mengatasi berbagai jenis gangguan penyakit tidak bisa dibandingkan satu dengan lainnya
karena masing – masing mempunyai teknik serta fungsinya sendiri – sendiri. Terapi
hiperbarik misalnya, umumnya digunakan untuk pasien – pasien dengan gangren supaya
tidak perlu dilakukan pengamputasian bagian tubuh. Terapi herbal, berfungsi dalam
meningkatkan daya tahan tubuh. Sementara, terapi akupunktur berfungsi memperbaiki
keadaan umum, meningkatkan sistem imun tubuh, mengatasi konstipasi atau diare,
meningkatkan nafsu makan serta menghilangkan atau mengurangi efek samping yang
timbul akibat dari pengobatan kanker itu sendiri, seperti mual dan muntah, fatigue

2
(kelelahan) dan neuropati. Jenis pelayanan pengobatan komplementer – alternatif
berdasarkan Permenkes RI Nomor : 1109/Menkes/Per/2007 adalah :

1. Intervensi tubuh dan pikiran (mind and body interventions) : Hipnoterapi, mediasi,
penyembuhan spiritual, doa dan yoga
2. Sistem pelayanan pengobatan alternatif : akupuntur, akupresur, naturopati,
homeopati, aromaterapi, ayurveda
3. Cara penyembuhan manual : chiropractice, healing touch, tuina, shiatsu, osteopati,
pijat urut
4. Pengobatan farmakologi dan biologi : jamu, herbal, gurah
5. Diet dan nutrisi untuk pencegahan dan pengobatan : diet makro nutrient, mikro
nutrient
6. Cara lain dalam diagnosa dan pengobatan : terapi ozon, hiperbarik, EEC

2.4 ASPEK LEGAL TERAPI KOMPLEMENTER

Aspek legal meliputi Kewenangan berkaitan dengan izin melaksanakan praktik


profesi. Kewenangan itu, hanya diberikan kepada mereka yang memiliki kemampuan.
Namun, memiliki kemampuan tidak berarti memiliki kewenangan. Seperti juga kemampuan
yang didapat secara berjenjang, kewenangan yang diberikan juga berjenjang. Dalam profesi
kesehatan hanya kewenangan yang bersifat umum saja yang diatur oleh Departemen
Kesehatan sebagai penguasa segala keprofesian di bidang kesehatan dan kedokteran.
Sementara itu, kewenangan yang bersifat khusus dalam arti tindakan kedokteran atau
kesehatan tertentu diserahkan kepada profesi masing-masing. Adapun aspek legal dari terapi
komplementer dan terapi konvensional adalah sebagai berikut :
1.Undang – Undang RI No. 36 tahun 2009 tentangkesehatan
a) Pasal 1 butir 16, pelayanan kesehatan tradisional adalah pengobatan dan atau
perawatan dengan cara dan obat yang mengacu pada pengalaman dan
keterampilan turun – temurun secara empiris yang dapat dipertanggung jawabkan
dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat;
b) Pasal 48 tentang pelayanan kesehatan tradisional;
c) Bab III Pasal 59 s/d 61 tentang pelayanankesehatan tradisonal.
2.Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1076/Menkes/SK/2003 tentang pengobatan
tradisional;
3.Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 120/Menkes/SK/II/2008 tentang standar
pelayanan hiperbarik;
4.Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1109/Menkes/Per/IX/2007 tentang
penyelenggaraan pengobatan komplementer – alternatif di fasilitas pelayanan
kesehatan;

3
5.Keputusan Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik, No. HK.03.05/I/199/2010 tentang
pedoman kriteria penetepan metode pengobatan komplementer – alternatif yang dapat
diintegrasikan di fasilitas pelayanan kesehatan.

2.5 TREND DAN ISSUE TERAPI KOMPLEMENTER

Masyarakat luas saat ini mulai beralih dari pengobatan modern (Medis) ke
pengobatan komplementer, meskipun pemgobatan modern juga sangat popular di
perbincangkan di kalangan masyarakat, sebagai contoh banyak masyarakat yang memilih
mengobatkan keluarga mereka yang patah tulang ke pelayanan non medis (sangkal putung)
dari pada mengobatkan ke Rumah Sakit ahli tulang. Sakit adalah suatu alasan yang paling
umum untuk mencari pengobatan demi memperoleh kesembuhan. Hal ini dibuktikan di salah
satu Negara modern (Israel), dimana dalam subuah penelitian tentang penggunaan klinik
pengobatan komplementer untuk pengobatan nyeri. Di negara tersebut ada 395% terlihat
warga yang mengunjungi klinik pengobatan komplementer, 69 pasien (46,6%) dengan nyeri
punggung, nyeri lutut 65 (43,9%), dan 28 (32,4%) lainnya nyeri tungkai (Peleg, 2011).

Menurut World Health Organization (WHO, 2016) dalam Lusiana (2006), Negara-
negara di Afrika, Asia, dan Amerika Latin menggunakan obat herbal sebagai pelengkap
pengobatan primer yang mereka terima. Bahkan di Afrika sebanyak 80% dari populasi
menggunakan obat herbal untuk pengobatan primer (WHO, 2016). Bahkan (WHO)
merekomendasikan penggunaan obat tradisional termasuk herbal dalam pemeliharaan
kesehatan masyarakat, pencegahan, dan pengobatan penyakit, terutama untuk penyakit
kronis, penyakit degenerative, dan kanker. WHO juga mendukung upayaupaya dalam
peningkatan keamanan dan khasiat dari obat tradisional.

Berdasarkan data dari Badan Kesehatan Dunia pada tahun 2005, terdapat 75 – 80%
dari seluruh penduduk dunia pernah menjalani pengobatan non-konvensional. Beberapa
rumah sakit di Indonesia, pengobatan komplementer ini sudah mulai diterapkan sebagai
terapi penunjang atau sebagai terapi pengganti bagi pasien yang menolak pengobatan
konvensional. Terapi komplementer dapat dilakukan atas permintaan pasien sendiri ataupun
atas rujukan dokter. Diharapkan dengan penggabungan pengobatan konvensional
komplementer bisa didapatkan hasil terapi yang lebih baik. Di Indonesia, Rumah Sakit
Kanker “Dharmais “Jakarta merupakan salah satu dari 12 rumah sakit yang telah ditunjuk
oleh Departemen Kesehatan untuk melaksanakan dan mengembangkan pengobatan
komplementer ini dan 12 rumah sakit lainnya adalah Rumah Sakit Persahabatan Jakarta,
Rumah Sakit Dokter Soetomo Surabaya, Rumah Sakit Kandou Manado, RSUP Sanglah
Denpasar, RSUP Dr. Wahidin Sudiro Husodo Makassar, RS TNI AL Mintoharjo 3 Jakarta,
RSUD Dr. Pringadi Medan, RSUD Saiful Anwar Malang, RS Orthopedi Prof. Dr. R.
Soeharso Solo, RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, RSUP Dr. Suraji Tirtonegoro Klaten
(Kemenkes, 2011).

4
Di Indonesia Penduduk yang menggunakan obat (82,7%) cenderung menurun, tetapi
penggunaan obat tradisional (31,7%) dan cara tradisional (9,8%) cenderung meningkat
dibandingkan dengan hasil Susenas tahun-tahun sebelumnya. Penggunaan obat menurun
mungkin berkaitan dengan peningkatan kesadaran masyarakat untuk menggunakan
pengobatan alternatif, seperti obat tradisional dan cara tradisional. Peningkatan penggunaan
cara tradisional, seperti pijat, kerokan, akupresur, dan senam olah pernapasan mungkin
disebabkan meningkatnya pelatihan ketrampilan teknik pengobatan tersebut sebagai
pengobatan alternatif untuk kemandirian hidup sehat . Persentase terbesar (51%) penduduk
Indonesia yang menggunakan obat dalam pengobatan sendiri adalah kelompok usia sekolah
dan usia kerja 15-55 tahun . Hal ini mungkin menunjukkan bahwa penduduk pada kelompok
usia sekolah dan usia kerja lebih menyukai pengobatan sendiri untuk menanggulangi keluhan
sakit karena dapat menghemat waktu dan biaya.

5
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Terapi komplementer (complementary therapies) adalah semua terapi yang digunakan


sebagai tambahan untuk terapi konvensional yang direkomendasikan oleh penyelenggaraan
pelayanan kesehatan individu (Perry, Potter, 2009). Definisi terapi komplementer yang
disepakati adalah suatu bentuk penyembuhan yang bersumber pada berbagai sistim,
modalitas dan praktek kesehatan, yang didukung oleh teori dan kepercayaan. Termasuk
didalamnya latihan atau usaha untuk menyembuhkan diri sendiri. Terapi komplementer
digunakan untuk mencegah dan menyembuhkan penyakit atau juga untuk meningkatkan taraf
kesehatan.

Di Indonesia ada 3 jenis teknik pengobatan komplementer yang telah ditetapkan oleh
Departemen Kesehatan untuk dapat diintegrasikan ke dalam pelayanan konvensional, yaitu
akupuntur medic, terapi hyperbaric, Terapi herbal medic.

Di Indonesia Penduduk yang menggunakan obat (82,7%) cenderung menurun, tetapi


penggunaan obat tradisional (31,7%) dan cara tradisional (9,8%) cenderung meningkat
dibandingkan dengan hasil Susenas tahun-tahun sebelumnya. Penggunaan obat menurun
mungkin berkaitan dengan peningkatan kesadaran masyarakat untuk menggunakan
pengobatan alternatif, seperti obat tradisional dan cara tradisional. Peningkatan penggunaan
cara tradisional, seperti pijat, kerokan, akupresur, dan senam olah pernapasan mungkin
disebabkan meningkatnya pelatihan ketrampilan teknik pengobatan tersebut sebagai
pengobatan alternatif untuk kemandirian hidup sehat .

3.2 SARAN

Setelah membaca makalah ini diharapkan pembaca bisa lebih bijak dalam memillih
antara terapi konvensional dan terapi komplementer, yang didasarkan pada kelebihan
maupun kekurangan dari kedua jenis terapi tersebut. Bagaimanapun juga terapi
komplementer merupakan suatu jenis terapi pengobatan yang berasal dari nenek moyang
kita, dan sudah sepatutnya kita berusaha untuk menjaga agar keberadaan terapi komplenter
tidak akan punah dimakan oleh jaman.

6
DAFTAR PUSTAKA

Rakel DP, Faass N. 2006. Complementary medicinen in clinical practice, Sudbury, Mass, 2006,
Jones & Battlett.

Perry, Potter. 2009. Fundamentals of Nursing Buku 2 Edisi 7. Jakarta : Salemba Medika.

Brooker, Chris. Ensiklopedia Keperawatan. 2008. Jakarta : EGC