Vous êtes sur la page 1sur 8

PROSES STAFFING DALAM MANAJEMEN KEPERAWATAN

MANAJEMEN KEPERAWATAN

ANALISIS

Oleh:

Kelompok I

Desi Trisari NIM 152310101116

Ega Putri Nurwita NIM 152310101135

Novia Rizky Utami NIM 152310101138

Isa Rahayu NIM 152310101233

Nindy Adi Putri NIM 152310101333

KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS JEMBER

FAKULTAS KEPERAWATAN

JEMBER

2018
1. Latar Belakang
Pada tahun 1999 ANA menerbitkan prinsip untuk penetapan staf perawat, yang
menekankan pada lingkungn kerja perawat untuk memberikan perawatan pada
pasien yang aman. Kemudian ANA mengadvokasi lingkungan kerja yang
mendukung perawat dalam memberikan pelayanan sebaik mungkin pada pasien.
Penetapan staf dapat digunakan untuk mengetahui kebutuhan jumlah perawat,
dukungan administrasi, fleksibilitas kerja, penjadwalan, hubungan perawat dokter,
dan pilihan pengembangan karir.

2. Staffing
Penetapan staf merujuk pada tugas pekerjaan perawat. Tugas pekerjaan
termasuk volume pekerjaan yang diberikan pada individu, durasi bekerja,
pengkategorian tugas, dan jadwal kerja. Proses kepegawaian dimulai dengan
penilaian situasi stafsaat ini. Menilai kualifikasi dan kompetensi staf yang tersedia.
Langkah selanjutnya adalah merumuskan rencana untuk memenuhi kebutuhan
masa depan. Variabel penjadwalan didefinisikan sebagai:

1. Jumlah pasien, kompleksitas kondisi pasien, dan perawatan yang


dibutuhkan
2. Lingkungan fisik, tempat menyusui perawatan harus disediakan
3. Tingkat kompetensi anggota staf keperawatan, kualifikasi, berbagai
keterampilan, pengetahuan atau kemampuan, dan tingkat pengalaman
4. Tingkat pengawasan yang diperlukan
5. Ketersediaan anggota staf keperawatan untuk tanggungjawab penugasan

Alokasi staf perawat berfokus pada pasien. Perawatan pasien yang aman juga
berpusat pada pasien merupakan tujuan yang diinginkan staf keperawatan.

a. Proses Kepegawaian
Proses kepegawaian adalah gabungan dari rencana kepegawaian, penjadwalan
dan sistem kepegawaian serta hasil penjadwalan. Rencana kepegawaian terdiri dari
empat elemen yang berbeda yaitu setting pelayanan kesehatan, care delivery model,
kepentingan pasien dan staff perawat.
1) Setting Pelayanan Kesehatan
Setting pelayanan kesehatan merupakan tempat dimana layanan pasien
disediakan. Letak geografis dan desain arsitektur fasilitas layanan kesehatan aka
menentukan aksesbilitas staff perawat pada pasien. Contoh pengembangan rencana
kepegawaian pada setting pelayanan kesehatan yaitu pertimbangan lokasi layanan
perawatan pasien yang berkaitan dengan point of use di samping tempat tidur yang
digunakan untuk pasien gangguan berjalan di sisi tempat tidur pasien.

2) Care Delivery Models


Care delivery model berfokus pada pasien dan bagaimana layanan keperawatan
dikembangkan dan disediakan. Pembuatan keputusan klinis perawat, alokasi kerja
/ beban kerja, komunikasi dan manajemen merupakan bagian dari care delivery
model. Care delivery model perlu memenuhi empat komponen yaitu :

1. Kebutuhan pasien
2. Populasi demografi penduduk
3. Jumlah anggota staff keperawatan
4. Rasio perawat yag melayani berbagai peran dan level.

Care delivery model dibagi menjadi 3 tipe yaitu tradisional, nontradisional dan
emerging. Model keperawatan tradisional merupakan perawatan pasien secara total,
fungsional, tim dan primer. Model perawatan keperawatan non tradisional dibuat
dengan mengurangi staff profesional untuk mengurangi biaya . Model tradisional
dan non tradisional terdiri dari pembagian kerja, penggunaan waktu yang efisien
untuk melakukan tugas perawatan, biaya dan pelatihan.

Perencanaan kepegawaian (staffing) berdasarkan kebutuhan pasien


diklasifikasikan kedalam 3 tingkatan, sebagai berikut:

a) Klasifikasi pasien level 1 terdiri dari satu perawat untuk 4 sampai 5 pasien
b) Klasifikasi pasien level 2 terdiri dari satu perawat untuk 1 sampai 3 pasien
c) Klasifikasi pasien level 3 terdiri dari satu perawat untuk 1 pasien

Variasi baru dari model ruangan diadaptasi keparahan sudah dikembangkan.


Di dalam model ini, ruang adaptasi keparahan yang ditentukan dalam pengaturan
layanan kesehatan dirancang agar pasien secara fisik lebih dekat dengan staf
perawat. Model ini dirancang dengan baik untuk meningkatkan efisiensi,
meningkatkan kualitas perawatan pasien, dan meningkatkan kepuasan kerja
diantara staf perawat. Tujuan dari model ini adalah untuk meningkatkan
kewaspadaan staf perawat profesional, sehingga meningkatkan keselamatan pasien.
Pegaturan ini memungkinkan pasien dapat dimonitor tanpa gangguan yang tidak
semestinya. Setiap ruangan pasien dilengkapi dengan peralatan medis canggih dan
kamar mandi dan mengakomodasi anggota keluarga untuk bermalam.

Model – model kamar disesuaikan dengan menawarkan hal – hal berikut:

a) Kurangi kebutuhan untuk memindahkan pasien ke unit rumah sakit yang


berbeda akibat status pasien yang membaik atau memburuk,
b) Bantuan dengan kesinambungan perawatan,
c) Tingkatkan kepuasan pasien,
d) Berikan isolasi untuk penyakit menular,
e) Lindungi privasi pasien, dan
f) Berikan lingkungan kenyamanan pribadi pasien dan mengurangi
gangguan.

Model lainnya adalah model pengiriman perawatan kemitraan. AACN sudah


mengembangkan peran pemimpin perawat klinis yang mengharuskan pemimpin
perawat untuk dipersiapkan sebagai seorang perawat generalis di tingkat master.
Pemimpin perawat klinis diharapkan mampu memahami dan berinteraksi dengan
seluruh kontinum dan kemitraan semua disiplin ilmu.

Contoh model lain adalah transforming care at the bedside yang berfokus pada
pencapaian hasil terkait keandalan kerja, pusat perhatian pasien, peningkatan nilai,
dan vitalitas tenaga kerja. Model ini menarik tim interdisipliner untuk menilai
masalah, mengembangkan, dan mengevaluasi pendekatan kreatif pengamatan.
Interdisipliner ini kemudian membagikan solusi ke area lain yang masih dalam satu
fasilitas. Untuk model praktik pengiriman perawatan kritis di unit perawatan
intensif telah ada yang didasrkan pada praktik kelompok multidisiplin
menggunakan pendekatan tim. Tim ini akan diberikan pelatihan penuh dan
dipimpin oleh dokter selama 24 jam penuh. Model ini didasarkan pada kemampuan
untuk meminimalkan kematian dan mengoptimalkan efisiensi sambil
mempertahankan martabat dan kasih sayang untuk pasien. Beban kerja
keperawatan dalam model ini diklasifikasikan berdasarkan jam per hari dan rasio
jumlah perawat dengan pasien.

Hasil pengukuran yang berpusat pada sistem adalah keterampilan, jam


perawatan perhari, dan praktik tindakan lingkungan yang meliputi kepegawaian dan
kecukupan sumber daya. Kualitas dan keamanan layanan keperawatan yang
diberikan merupakan hal utama yang harus dimiliki oleh perawat profesional.

3) Patient Acuity
Kebutuhan pasien dalam sistem keparahan pasien. Kesabaran diperlukan
seorang tenaga keperawatan terhadap kondisi pasien yang dapat berubah dari jam
ke jam, shift ke shift, hari ke hari, dan seterusnya. Dengan demikian, rencana
kepegawaian perlu dimodifikasi secara konstan. Dibutuhkannya unit rencana
kepegawaian untuk mempertimbangkan peningkatan biaya dengan perawat yang
lebih tinggi untuk pasien dengan tingkat ketergantungan dengan penyakit tertentu
serta rasio resiko tinggi. Dalam sistem keparahan ini, pasien ditempatkan
berdasarkan hasil pengukuran dan penegakan diagnosa. Pasien sering dipindahkan
dari unit satu ke unit lainnya berdasarkan tingkat keterampilan keperawatan
dan/atau prosedur terapi dan diagnostik medik yang diperlukan. Memindahkan
pasin ini meningkatkan beban kerja keperawatan untuk penerimaan, timbang
terima, dan mengeluarkan selama 24 jam. Kegiatan ini biasanya tidak
didokumantasikan dalam rekam medik pasien sehari – hari. Sebuah penelitian yang
dilakukan oleh Benchmarking di unit keperawatan kritis Amerika Serikat,
disebutkan bahwa jumlah perawat yang diperlukan untuk rencana kepegawaian
dasar melibatkan perkiraan jumlah pasien, keterampilan khusus untuk teknologi
perawatan pasien, dan keterampilan staf perawat.
4) Nursing Staff
b. Sistem Penjadwalan dan Staffing
1) Sentralisasi
Sistem terpusat bekerja dengan baik di organisasi besar di mana manajemen
mengawasi strategi, anggaran, sumber daya, dan proses. Sistem terpusat
menawarkan manajemen gambaran umum yang lebih luas dan kontrol yang lebih
ketat terhadap seluruh sistem penjadwalan dan kepegawaian. Kerugian yang jelas
dari sistem terpusat adalah bahwa pertimbangan individu diminimalkan.

2) Desentralisasi
Manjer unit keperawatan individu memiliki kontrol lebih besar atas anggaran ,
sumber daya, dan prodrd. Keanggotaan terdiri dari manajer perawat dan anggota
staf untuk mengawasi pemanfaatan staf khusus unit, mmenyediakan perawatan
pasien yang aman pada basis yang tepat, efisien, dan hemat biaya.

3) Mixed or Preference Scheduling


Menggabungkan star terpusat dan desentralisasi dengan menawarkan
kemampuan setiap individu untuk mengelola jadwal rutin dengan bantuan dari staf
pusat kantor untuk cakupan shift atau sumber daya klinis lainnya untuk perubahan
aktifitas pasien. Staf campuran dapat mengakomodasi kebutuhan personel
keperawatan untuk penjadwalan fleksibel. Penjadwalan fleksibel adalah strategi
yang bertujuan untuk meningkatkan retensi dan menawarkan keseimbangan dan
ppeningkatan antara aktifitas profesional dan kehidupan pribadi.

c. Hasil Penjadwalan
1) Daily Staffing (Jadwal Aktif Kerja)

Hasil dari penjadwalan dan sistem kerja untuk tanggal dan waktu tertentu.
Penetapan staf harian dan penentuan dan penerapan staf yang digugaskan
dipengaruhi oleh beban keperawatan aktual yang ditugaskan kepada staf perawat
yang dijadwalkan. Sering kali penyesuaian staf diperlukan setiap jam tergantung
pada kegiatan keperawatan pasien dan beban kerja staf harian merupakan tantangan
utama bagi manajer perawat.
2) Overtime (Waktu Lembur)

Waktu lembur yaitu jam yang diperpanjang dengan kontrak jangka kolektif.
Untuk mengatasi masalah lembur dengan menetapkan persyaratan untuk nandating
atau membutuhkan kerja lembur. Tidak ada perawat yang diizinkan bekerja lebih
dari 16 jam lembur dalam jadwal 4 minggu.Seorang perawat memiliki minimal 8
jam di setiap giliran kerja.

3) Patient Outcomes (Hasil Pasien)

Variabel staf perawat yang digunakan untuk mengukur outcome pasien adalah
rata-rata jam perawatan harian, beban kerja, dan keterampilan campuran.

4) Nursing Workload (Beban Kerja)

Keperawatan staf harian dipengaruhi oleh beban kerja yang diberikan kepada
staf perawat yang dijadwalkan. Carayon dan Gurses (2005) mengidentifikasi beban
kerja yang ditetapkan sebagai pekerjaan tingkat situasi. Beban kerja tingkat situasi
adalah hambatan kinerja dan fasilitator kinerja nyata yang berkontribusi terhadap
beban kerja sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA

Nursalam. (2011). Aplikasi dalam Praktik Keperawatan Profesional Edisi 3.


Jakarta: Penerbit Salemba Medika.

Rebeca, A., Jones, P. (2007). Nursing Leadership and Management Theories,


Processes and Practice. United States of America: F.A. Davis Company.