Vous êtes sur la page 1sur 23

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Kesehatan jiwa adalah suatu kondisi sejahtera ketika seseorang
mampu merealisasikan potensi yang dimiliki, memiliki koping yang baik
terhadap stressor, produktif dan mampu memberikan kontribusi terhadap
masyarakat (WHO, 2007). Menurut Shives (2012) sehat jiwa adalah
kemampuan seseorang untuk merespon, mempunyai kesadaran diri, bebas
dari rasa ketakutan tanpa alasan yang jelas, dan dapat menggunakan
mekanisme koping untuk menghadapi tekanan sehari hari. Videbeck
(2008) mendefinisikan kesehatan jiwa sebagai suatu kondisi sehat
emosional, psikologis dan sosial yang terlihat dari hubungan interpersonal
yang memuaskan, perilaku dan koping yang efektif, konsep diri dan
kestabilan emosional.
Berdasarkan tiga pengertian diatas kesehatan jiwa merupakan
kemampuan seseorang untuk menghadapi stressor dengan menggunakan
mekanisme koping yang ada pada diri individu sehingga bebas dari rasa
ketakutan dan tercapai keseimbangan pada diri seseorang baik emosional,
psikologis dan sosial sehingga mampu berperan dalam lingkunganya.
Keseimbangan harus didapatkan dengan mencoba melakukan adaptasi
terhadap stressor yang ada. Bila kondisi keseimbangan tersebut tidak
didapatkan maka seseorang akan bisa mengalami gangguan jiwa.
Gangguan jiwa menurut Townsend (2009) merupakan respon
maladaptif terhadap stressor dari dalam dan luar lingkungan yang
berhubungan dengan pikiran, perasaan dan perilaku yang tidak sejalan
dengan budaya/kebiasaan/norma setempat dan mempengaruhi interaksi
sosial individu dan fungsi tubuh. Gangguan jiwa sebagai penyakit atau
kumpulan gejala perubahan psikologi atau ditunjukan dengan perubahan
perilaku atau gangguan fungi akibat dari social, psikologikal, genetik,
fisik/kimia dan gangguan biologi (American Psikhiatrik Asosiation (
APA), dalam Shives, 2012).

1
2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah yang


ditemukan adalah sebagai berikut :

1. Apa yang dimaksud dengan Definisi keperawatan kesehatan


Jiwa?
2. Bagaimana Proses Terjadinya Gangguan Jiwa dalam Perspektif
Keperawatan Jiwa?
3. Apa saja Kriteria Sehat Mental?
4. Apa saja Rentang Sehat Sakit Koping?
5. Bagaimana Peran dan fungsi perawat jiwa?
6. Apa saja Model konseptual peraktek?
7. Apa saja Model adaptasi setres pada asuhan keperawatan jiwa
menurut struat?
3. Tujuan
1. Untuk mengetahui Definisi keperawatan kesehatan Jiwa
2. Untuk mengetahui Terjadinya Gangguan Jiwa dalam Perspektif
Keperawatan Jiwa
3. Untuk mengetahui Kriteria Sehat Mental
4. Untuk mengetahui Rentang Sehat Sakit Koping
5. Untuk mengetahui Bagaimana Peran dan fungsi perawat jiwa
6. Untuk mengetahui Apa saja Model konseptual peraktek
7. Untuk mengetahui Apa saja Model adaptasi setres pada asuhan
keperawatan jiwa menurut struat
4. Manfaat
1. Bagi Mahasiswa
Untuk memahami dan mengetahui tentang konsep
Keperawatan jiwa
2. Bagi institusi
Makalah ini bagi institusi pendidikan kesehatan adalah sebagai
tambahan referensi untuk menguji mahasiswa atau
mahasiswiny tentang konsep Keperawatan jiwa

2
3. Bagi Mahasiswa
Makalah ini bagi masyarakat adalah sebagai penambah
wawasan tentang konsep Keperawatan jiwa

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi keperawatan kesehatan Jiwa


Keperawatan kesehatan jiwa adalah suatu bidang spesialisasi
praktik keperawatan yang menerepkan teori perilaku manusia sebagai
ilmunya dan penggunaan diri sendiri secara terapeutik sebagai kiatnya atau
instrumennya. Keperawatan jiwa merupakan sebagian dari penerapan ilmu
tentang perilaku manusia, psikososial, bio-psik dan teori-teori kepribadian,
dimana penggunaan diri perawat itu sendiri secara terapeutik sebagai alat
atau instrumen yang digunakan dalam memberikan asuhan keperawatan
(Erlinafsiah, 2010).
Keperawatan jiwa adalah pelayanan kesehatan profesional yang
didasarkan pada ilmu perilaku, ilmu keperawatan jiwa pada manusia
sepanjang siklus kehidupan dengan respon psiko-sosial yang maladaptif
yang disebabkan oleh gangguan bio-psiko-sosial, dengan menggunakan
diri sendiri dan terapi keperawatan jiwa melalui proses keperawatan untuk
meningkatkan, mencegah, mempertahankan dan memulihkan masalah
kesehatan jiwa individu, keluarga dan masyarakat (Sujono dan Teguh
2009).
Menurut American Nurses Associations (ANA) keperawatan jiwa
adalah area khusus dalam praktik keperawatan yang menggunakan ilmu
tingkah laku manusia sebagai dasar dan menggunakan diri sendiri secara
terapeutik dalam meningkatkan dan mempertahankan kesehatan mental
klien dan kesehatan mental masyarakat dimana klien berada sedangkan
menurut WHO. Keperawatan jiwa bukan hanya suatu keadaan gangguan
jiwa, melainkan mengandung berbagai kharakteristik yang adalah
perawatan langsung, komunikasi dan manejemen yang bersifat positif
menggambarkan keselarasan dan keseimbangan kejiwaan yang
mencermnkan kedewasaan kepibadian yang bersangkutan. (2011)

4
2. Proses Terjadinya Gangguan Jiwa dalam Perspektif Keperawatan
Jiwa
Pelaksanaan proses keperawatan jiwa bersifat unik, karena sering
kali pasien memperlihatkan gejala yang berbeda untuk kejadian yang
sama, masalah pasien tidak dapat dilihat secara langsung, dan
penyebabnya bervariasi. Pasien banyak yang mengalami kesulitan
menceritakan permasalah yang dihadapi, sehingga tidak jarang pasien
menceritakan hal yang sama sekali berbeda dengan yang dialaminya.
Perawat jiwa dituntut memiliki kejelian yang dalam saat melakukan
asuhan keperawatan.Manusia beraksi secara keseluruhan, secara holistik,
atau dapat dikatakan juga secara somato-psko-sosial. Dalam mencari –
penyebab ganggguan jiwa, maka ketiga unsur ini harus di perhatikan.
Gangguan jiwa artinya bahwa yang menonjol ialah gejala-gejala yan
patoloik dari usur pesiko hal ini tidak berarti bahwa unsur yang lain tidak
terganggu. Hal-hal yang dapat mempengaruhi perilaku manusia ialah
keturunan dan konstitusi, umu,unsur sex, keadaan badan,keadaan
psokologik,keluara,adat istiatad, kebudyaan dan kepercayaan, pekerjaan,
pernikahan dan kehamilan, kehilangan dan kematian orang yang di cintai,
aggresi, rasa permusushan, hubungan antara manusia dan sebagainya.
(adeherman,2011)
Biarpun gejala umum atau ejala yang menonjol itu terdapat pada
unsur kejiwaan tetapi penyebab utamanya mungkin di badan(
somatogenik), di lingkunan sosisal (sosiogeni) ataupun dipsike
(psikogenik). Sumber penyebab ganuan jiwa di pengaruhi oleh faktor-
faktor ada ketiga unsur itu yang terus menerus salin mempenaruhi yaitu
a. Faktor-faktor somatik (somatogenik)
1) Neurowanatomi atau susunan saraf pusat
2) Neurofisioloi atau ilmu fisiologi yang mempelajari
sistem saraf
3) Neurokimia molekul oranik yan terlibat dalam aktifitas
sistem saraf
4) Tingkat kematakan dan perkembnan organik

5
5) Faktor-faktor pre dan perinatal
b. Faktok-faktor pesikologik (pesikogenik)
1) Intraksi ibu-anak: normal( rasa percaya dan rasa aman )
atau abnormal berdasarkan kekuranfan , distorsi atau
ketidak sempurnaan dan keadaan yang terputus (
keadaan rasa percaya dan rasa kebimbangan)
2) Perananaya terhadap persaingan antara saudara
kandung
3) Hubungan dalam keluarga, pekerjaan, permainan dan
masyarakat
4) Kehilangan yang mengakibatkan cemas, depresi, rasa
malu atau rasa salah
5) Tingkat perkembangan emosi
c. Faktor-faktor sosial-budaya (sosiogeni)
1) Kesetabilan keluarga
2) Pola pengasuh anak
3) Tingkat ekonomi
4) Perumahan : perkotaan lawan pedasaan
5) Masalah kelompok minorita yang melipuri perasangka
dan fasilitas kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan
yang tidak memadai
6) Pengaruh rasial dan keagamaan
d. Faktor keturunan
Pada mongoloisme atau sindromadon (suatu macam
rekardasi mental dengan mata sipit, muka datar, telina kecil,
jari-jari pendek dan lain-lain).
Sindroma turner ( dengan ciri-ciri khas: tubuh pendek, leher
melebar, infatilisme seksual ) ternyata berhubungan dengan
jumlah kromosima sex yang abnormal.(Ade herman. 2011)

6
e. Deprivasi diri
Deprivasi maternal atau kehilangan asuhan ibu di rumah
sendiri, terpisah dengan ibu atau di asrama, dapat menimbulkan
perkembangan yang abnormal. Deprivasi rangsangan umum
dari lingkungan, bvila sangat berat, ternyata berhubungan
dengan retardasi mental. Kekurangan protein dalam makanan,
terutama dalam jangka waktu lama sebelum anak berumur 4
tahun, dapat menakibatkan retardasi metal.
Eprivasi atau frustasi dini dapat menimbulkan
tempat-tempat yang lemah pada jiwa, dapat mengakibatkan
perkembangan yang salah ataupun perkembangan yang
berhenti. Untuk perkembangan psikologik rupanya ada masa-
masa gawat. Dalam masa ini rangsangan dan penalaman
belajar yang berhubungan denannya serta pemuasan berbagai
kebutuhan sangat perlu bagi urut-urutan perkembangan
interlektual, emosional dan sosial normal.(Ade herman. 2011)

f. Pola keluarga yang petagonik


Dalam masa kanak-kanak keluarga memegang peranan
yang penting dalam pembentukan kepribadian. Hubungan
orang tua-anak yang salah atau interaksi yang patogenik dalam
keluarga sering merupakan sumber gangguan penyesuaian diri.
Kadang-kadang orang tua berbuat terlalu banyak untuk anak
dan tidak memberi kesempatan anak itu berkembang sendiri.
Ada kalanya orang tua berbuat terlalu sedikit dan tidak
merangsang anak itu atau tidak memberi bimbingan dan
anjuran yang di butuhkannya. Kadang-kadang mereka malahan
mengajarkan anak itu pola-pola yang tidak sesuai. Akan tetapi
pengaruh cara asuhan anak tergantung pada keadaan sosial
secara keseluruhan dimana hal itu dilakukan. (Ade herman.
2011)
g. Masa remaja

7
Masa remaja dikenal sebagai masa gawat dalam
perkembangan kepribadian, sebagai masa badai dan stres
dalam masa ini individu dihadapi dengan pertumbuhan yang
cepat, perubahan-perubahan badaniah dan pematangan seksual.
Pada waktu yang sama status sosialnya juga mengalami
perubahan, bila dahulu ia sangat tegantung pada orantuanya
atau orang lain, sekarang ia harus belajar sendiri dan
bertanggung jawab yang membawa dengan sendirinya masalah
pernikahan, pekerjaan dan status sosial umum, kebebasan yang
lebih besar membawa tanggung jawab yang lebih besar
pula.(Ade herman. 2011)
h. Stres
Stres psikososial dan stres perkembangan yang terjadi
secara terus menerus dengan koping yang tidak efektif akan
mendukung timbulnya gejala psikotik denan manefistasi
kemiskinan, kebodohan, penangguarn, isolasi sosial, dan
peranan sosial.(Ade herman. 2011)
Menurut singgih beberapa penyebab anguan mental dapat
di timbulkan sebagai berikut:
1) Perasanka orang tua yan menetap, penolokan atau
shock yan dialami pada masa anak
2) Ketidak sanggupan memuaskan keinginan dasar
dalam pengertian kelakuan yang dapat di terima
umum
3) Tekanan-tekanan yang timbul karna keadaan
ekonomi, politik dan sosial yan terangu
4) Shock emosional yang hebat misalnya ketakutan,
kematian tiba-tiba orang yang di cintai,

8
3. Kriteria Sehat Mental
Kriteria sehat mental menurut Jahoda (Depkes, 2000) dalam
kusuma wati dan hartono, 2010. Individu yan sehat jiwa di tandai denan
hal-hal sebagai berikut.
a. Sikap positif terhadap diri sendiri
Sikap ini merupakan sikap yang baik terhadap diri
sendiri, yaitu tidak merasakan harga diri yang rendah,
tidak memiliki pemikiran negatif tentang kondisi
kesehatan diri rendah, dan selalu optimis dengan
kemampuan diri. Berperasangka positif terhadap diri
sendiri membuat kita lebih percaya diri. Hal ini menjadi
penting bagi orang yang selalu memikirkan kekuranan
yang ada pada dirinya. Manusia di ciptakan sebagai
mahluk yang paling sempurna dari mahluk
lainnya.(kusuma wati dan hartono, 2010)
b. Tumbuh kembang dan aktualisasi diri
Aktualisasi diri adalah kebutuhan naluria pada
manusia untuk melakukan terbaik dari yang dia bisa.
Aktualisasi diri bukanlah sebutan baru dalam pesikologi,
semua orang yang mempelajari pesikologi ataupun
menegejem sumber daya manusia pasti menetahui arti dari
kalimat ini. Teori yang terkenal adalah Teori Abraham
Maslow tentang kebutuhn yang menganggap aktualisasi
sebagai tingkatan tertini bila semua kebutuhan dasar
terpenuhi.
Aktualisasi diri adalah cara mengembangkan
potensi diri dari hal yang bisa kita lakukan atau kerjakan.
Menjalankan aktualisasi diri sama dengan mengembangkan
kemampuan kita tanpa batas. Dengan aktualisasi diri ini,
keinginan dalam memenuhi kebutuhan hidup
manusia.(kusuma wati dan hartono, 2010)
c. Integrasi (keseimbangan atau kebutuhan)

9
Keseimbangan dalam pengendalian emosi dan
dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari sangat diperlukan
sehingga dapat menjalani kehidupan dengan seimbang dan
tidak mengalami stres dan walaupun menemui masalah jika
seseorang tidak bisa menyeimbangkan emosi dalam
kehidupan, maka kemungkinan untuk terjadinya stres akan
lebih tinggi.(kusuma wati dan hartono, 2010)
d. Otonomi
Seseorang dengan sehat jiwa adalah seseoran yang
mampu menyelesaikan setiap masalah kehidupan sehinga
tidak ada ketergantungan dengan sesuatu dalam menjalani
setiap masalah yang dihadapi (misalnya tidak tergantung
pada orang lain, obat, dan lain-lain). (kusuma wati dan
hartono, 2010)
e. Persepsi realitas
Dapat membedakan lamunan dan kenyataan
sehingga setiap perilaku dapat dimengerti dan dapat di
pahami. Dapat menekan dan mengorganisir emosi sehina
eosi konsisten dengan pengalaman. Selain itu juga
mempunyai pikiran yang logis dan persepsi akurat.
(kusuma wati dan hartono, 2010)
f. Kecakapan dalam beradaptasi dengan lingkungan
Adaptasi adalah proses dimana dimensi fisiologis
dan pesikososial berubah dalam berespon terhadap stres.
Oleh karena banyak stresor yang tidak dapat dihindari,
promosi kesehatan sering di fokuskan pada adaptasi
individu, keluarga, atau komunitas terhadap stres. Ada
banyak bentuk adaptasi. Adaptasi fisiologis memungkinkan
homeostasis fisiologis. Namun demikian, munkin terjadi
proses yang berupa dalam dimensi psikososial dan dimensi
lainnya.(kusuma wati dan hartono, 2010)

10
4. Rentang Sehat Sakit

Rentang respon kesehatan jiwa merupakan suatu kondisi dinamis yang


dimulai dari keadaan sehat optimal berupa respon adaptif sampai ati secara
bertahap berupa respon maladaptif. Secara garis besar rentang respon
kesehatan jiwa dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu se]hat jiwa masalah
psikososial dan gangguan jiwa.

a. Sehat jiwa
Orang yang dikatakan sehat jiwa bila terdapat indikator berikut yaitu
mempunyai pikiran yang logis perilaku yang sesuai presepsi akurat
emosi konsisten dan mampu melakukan hubungan sosial dengan
masyarakat. Respon ini disebut adaptif karena dapat berfungsi dengan
efektif dalam kehidupan sehari-hari dan puas dengan hubungan
interpersonal dan diri mereka sendir.
b. Masalah psikososial
Masalah psikososial merupakan setiap perubahan dalam kehidupan
individu abik yang bersifat psikologis ataupun soaial yang mempunyai
perubahan timbal balik dan dianggap berpotensi cukup besar sebagi
faktor penyebab terjadinya gangguan jiwa. Respon ini berada diantara
adaptif dan maladaptif. Bila seseorang tidak mampu mengatsi masalah
ini dengan baik maka akan menuju kerentang maladaptif yang bisa
mengarah kegangguan jiwa. Tetapi bila ditangani dengan baik akan
kembali menjadi adaptif dan sehat jiwa. Masalah psikososial yang
dapat menyebabkan gangguan jiwa menurut UUD no.23 tahun 1992
tentang kesehatan dan ilmu kedokteran jiwa. Secara garis besar ialah
psikotik gelandangan pemasungan penderi gangguan jiwa masalah
anak jalanan masalah kenakalan remaja penyalahgunaan narkotikan
dan psikotropika masalah penyimpangan dan pelecehan seksual
kemiskinan penelantaran stres paska trauma masalah usia lanjut yang
terisolasi dan masalah kesehatan tenaga kerja ditempat kerja.
c. Gangguan jiwa

11
Bila seseorang telah mengalami gangguan perasaan pemikiran dan
perilaku yang menimbulkan delusi dan alusinasi sehingga mengganggu
aktivitas kehidupannya sehari-hari maka disebut dengan gangguan
jiwa. Respon yang ditimbulkannya tentu maladaptif yang bertentangan
dengan perilaku normal pada umumnya. Mereka tidak bisa
membedakan mana yang hayal dan mana yang bukan. Karena sistem
saraf pada otaknya sudah terganggu. Pada keadaan ini terapi yang
digunakan harus menggunakan obat-obatan yang dapat menstabilkan
sistem saraf diotaknya. Selain itu juga dibutuhkan terapi lainnya untuk
menunjang pengobatan. Oleh karena itu sangat diperlukan untuk
mengetahui rentang respin kesehatan jiwa supaya kita sadar kita
berada di posisi mana.

5. Peran dan fungsi perawat jiwa


Keperawatan jiwa mulai terjadi profesi pada awal abad ke -19 dan
pada masa tersebut berkembang menjadi spesialis dengan peran dan
fungsi-fungsi yang unik.
Keperawatan jiwa adalah suatu proses interpersonal dengan tujuan
meningkatkan dan memelihara perilaku -perilaku yang mendukung
terwujutnya suatu kesatuan yang harmonis ( integrated.) kliennya dapat
berupa individu, keluarga, kelompok, organisasi, atau masyarakat. Tiga
wilayah praktek keperawatan jiwa meliputi keperawatan lansung,
komunikasi, dan manajemen.
Ada empat faktor yang dapat menentukan tingkat penampilan
perawat jiwa yaitu :
a. Aspek hukum
Hukum kesehatan di indonesia belum seluruhnya mmenuhi ruang lingkup
yang ideal sehingga yang di perlukan adalah melakukan inventarisasi dan
analisis terhadap perundang-undangan yang sudah ada untuk di kaji sudah
cukup atau belum, perlu di lakukan penyuluhan tidak hanya terbatas
kepada tenaga kesehatan saja tetapi juga kalangan penegak hukum dan
masyarakat, perlu di lakukan identifikasi yang tepat bagi pengaturan

12
masalah-masalah kesehatan guna pembentukan perundang-undangan yang
benar.
b. Kualifikasi perawat
Kualifikasi minimum yang harus di penuhi yaitu pendidikan, usia, jenis
kelamin, pengetahuan dan keahlian, pelatihan, pengalaman kerja, dan
kondisi fisik
6. Model konseptual peraktek
Model adalah suatu cara untuk mengorganisasikan pengetahuan
yang kompleks, membantu praktisi, serta memberi arah dan dasar
dalam menentukan bantuan yang diperlukan. Model praktik
keperawatan jiwa mencerminkan sudut pandang dalam mempelajari
penyimpangan perilaku dan proses terapeutik dikembangkan. Model
praktik dalam keperawatan kesehatan jiwa ini menggambarkan sebuah
psikodinamika terjadinya gangguan jiwa.
Beberapa model praktik yang dikembangkan dalam keperawatan
kesehatan jiwa antara lain model psikoanalisis, model interpersonal,
model sosial, eksistensial, suportif, komunikasi, perilaku, model
medik, dan yang paling sering digunakan dalam keperawatan jiwa
adalah model stres adaptasi.
7. Model adaptasi setres pada asuhan keperawatan jiwa menurut struat

Report Of the Surgeon General On Mental Health adalah laporan dokter


bedah umum yang pertama kali membicarakan topik kesehatan jiwa dan
gangguan jiwa. Laporan ini berdasarkan kajian literatur ilmiah yang cukup
banyak dan konsultasi dengan pemberi dan penerima layanan kesehatan jiwa.
Laporan tersebut menyimpulkan bahwa :

a. Kesehatan jiwa adalah dasar kesehatan


b. Gangguan jiwa adalah kondisi kesehatan yang nyata
c. Keefektifan terapikesehatan jiwa telah didokumentasikan dengan baik
d. Ada rentang terapi untuk semua gangguan jiwa

13
1) Definisi kesehatan jiwa dan gangguan jiwa
Sehat-sakit dan adaptasi-maladaptasi merupakan konsep yang
berbeda.tiap konsep berada pada rentang yang terpisah. Rentang sehat
sakit berasal dari sudat pandang medis. Rentang adaptasi-maladaptasi
berasal dari sudut pandang keperawatan. Jadi seseorang yang mengalami
sakit baik fidik maupun jiwa dapat beradaptasi terhadap keadaan sakitnya.
Sebaliknya seseorang yang tidak didiagnosis sakit mungkin memiliki
respon koping yang maladaptif. Kedua rentang ini menggambarkan model
praktik yang perawatan dan mediis yang saling melengkapi.(stuart. 2009)
2) Kesehatan jiwa
Hal-hal berikut ini telah diidentifikasikan sebagai kriteria kesehatan jiwa.
 Sikap positif terhadap diri sendiri
 Pertumbuhan perkembangan dan aktualisasi diri
 Integrasi dan ketanggapan emosional
 Otonomi dan kemamtapan diri
 Persepsi realitas yang akurat
 Penguasaan lingkungan dan kompetensi sosial
3) Gangguan jiwa
Pengertian seseorang tentang gangguan jiwa berasal dari apa yang
orang tersebut yakini sebagai faktor penyebabnya. Hipotesis berikut ini
telah diusulkan sebagai sebab gangguan jiwa. .(stuart. 2009)
 Hipofisis biologis mengusulkan disfungsi anatomi dan fisiologi
 Hifofisis pembelajaran mengusulkan pola perilaku maladaptif yang
dipelajari
 Hipofisis koknitif mengusulkan ketidak sesuaian atau defisis
pengetahuan dan kesadaran
 Hiposisi psikodinamis mengusulkan konflik intrapsikis dan defisis
perkembangan
 Hipofisis lingkungan mengusulkan resor dan respon terhadap
penolakan lingkungan
4) Model konseptual praktik

14
Banyak profesional kesehatan jiwa melakukan praktik dalam
kerangka model konseptual. Model adalah suatu cara mengorganisasi
kimpulan pengetahuan yang kompleks seperti konsep yang berhubunga
dengan perilaku manusia. Penggunaan model ini membantu krinisi
mengembangkan dasar untuk melakukan pengkajian dan intervensi.juga
memberikan cara untuk mengefaluasi keefektifan terapi. Beberapa
modelkonseptual dikembangkan dalam praktik pekiseatri.model dan ahli
teori yang terkait pandangan mereka tentang penyimpangan perilaku
proses terapiotik serta peran pasien dan ahli terapi. .(stuart. 2009)
5) Model adaptasi stres pada asuhan keperawatan jiwa menurut stuart
Perawat jiwa dapat bekerja lebih efektif jika tindakan mereka
didasarkan pada suatu model yang mengenali adanya sehat atau sakit
sebagai hasil dari berbagai hasil karakteristik individu yang berinteraksi
dengan faktor lingkungan. Model adaptasi stres pada asuhan keperawatan
jiwa menurut struart mengintekrasikan aspek biologis- psikologis-
sosiokultural-lingkungan dan legal etik keperawatan kedalam kerangka
praktik yang utuh . .(stuart. 2009)
model adaptasi stres pada asuhan keperawatan jiwa menurut struart
 Faktor predisposisi
faktor resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang
dapat digunakan individu untuk mengatasi stres
 Stresor presipitasi
stimulus yang dipersepsikan oleh individu sebagai tantangan
ancaman atau tuntunan dan membutuhkan energi ekstra untuk
koping.
 Penilaian terhadap stresor
Evaluasi tentang stresor bagi kesejahteraan individu yang
didalamnya stresor memiliki arti intensitas dan kepentingan
 Sumber koping
Evaluasi terhadap pilihan koping dan stategi individu
 Mekanisme koping

15
Tiap upaya yang ditujukan untuk penatalaksaaan stres termasuk
upaya penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan
ego yang digunakan untuk melindungi diri
 Rentang respon koping
Rentang respon manusia yang adaptif sampai maladaptif
 Aktivitas tahan pengobatan
Tentang fungsi keperawatan yang berhubungan dengan tujuan
pengobatan pengkajian keperawatan intervensi keperawatan dan
hasil yang diharapkan.

16
Faktor predisposisi
Biologis psikologis sosiokultural

Stresor presipitasi
Sifat asal waktu jumlah

Penilaian terhadap stresor


Koknitif afektif fisiologis perilaku sosial

Sumber koping
Kemampuan Dukungan Aset keyakinan
Personal sosial materi positif
Mekanisme koping

Konstruktif destruktif

Rentang respon koping

Respon adaptif respon maladaptif


Diagnosa keperawatan

17
Model (ilmuan Pandangan Proses terapiutik Peran pasien dan ahli
terkemuka) tentang terapi
penyimpangan
perilaku
Psikoanalitis Perilaku Psikoanalisis Pasien
(mannenger) berdasarkan menggunakan mengungkapkan
pada awal teknik anosiasi semua pikiran dan
perkembangan bebas dan mimpi serta
dan resolusi analisis mimpi. mempertimbangankan
konflik Hal ini interpretasi ahli
perkembangan menginter terapi.
yang tidak prestasi prilaku
adekuat. menggunakan
Pertahanan trasferens untuk
ego tidak dapat memperbaiki
mengontrol pengalaman
ansietas. traumatik
terdahulu dan
mengidentifikasi
area masalah
melalui
interprestasi
resisten pasien.
Interpersonal Ansietas Hubungan Pasien menceritakan
(sullivan) timbul dan di antara ahli terapi kecemasan dan
alami secara dan pasien perasaannya kepada
interpersonal. membangun ahli terapi. Ahli terapi
Rasa takut perasaan aman. menjalin hubungan
yang mendasar Ahli terapi akrab dengan pasien
adalah takut membantu menggunakan empati
terhadap pasien membina untuk merasakan
penolakan. hubungan saling perasaan pasien dan

18
Seseorang percaya dan menggunakan
membutuhkan mendapatkan hubungan sebagai
rasa aman dan kepuasan suatu pengalaman
kepuasan yang interpersonal. interpesonal korektif
di peroleh Kemudian
melalui pasien di bantu
hubungan untuk
interpersonal mengembangkan
yang positif. hubungan akrab
di luar situasi
terapi.
Sosial (caplan) Faktor sosial Pasien di bantu Pasien secara aktif
dan lingkuan untuk menyampaikan
menimbulkan menghadapi masalahnya kepada
stres yang sistem sosial. ahli terapi dan bekerja
menyebabkan Intervensi krisis sama dengan ahli
ansietas dan dapat digunakan. terapi untuk
mengakibatkan Menipulasi menyelesaikan
timbulnya lingkuan dan masalahnya.
gejala. menunjukkan Menggunakan sumber
dukungan yang ada di
khusus juga di masyarakat.
terapkan.
Dukungan
kelompok
sebaya di
anjurkan.
Eksistensial Hidup akan Individu di Pasien bertanggung
(peris) bermakna bila bantu untuk jawab terhadap
seseorang mengalami perilakunya dan
dapat kemurnian berperan serta dalam
mengalami hubungan. suatu pengalaman

19
dan menerima Terapi sering yang berarti untuk
diri dilakukan dalam mempelajari tentang
sepenuhnya. kelompok. diri yang sebenarnya.
Penyimpangan Pasien di Ahli terapi membantu
perilaku terjadi anjurkan untuk pasien mengenal nilai
jika individu mengkaji dan diri. Ahli terapi
gagal dalam menerima diri mengklarivikasi
upayanya serta dibantu realitas situasi dan
menemukan untuk mengenalkan pasien
dan menerima mengendalikan tentang perasaan tulus
diri. Menjadi perilakunya. dan kesadaran diri.
diri sendiri
dapat dialami
melalui
hubungan
murni dengan
orang lain.
Suportif Masalah Uji coba realitas Pasien terlibat secara
(werman) terjadi akibat dan tindakan aktif dalam
faktor peningkatan pengobatan. Ahli
biopsikososial. harga diri. terapi menjalin
Penekanan Dukungan sosial hubungan yang
pada respon didentifikasi dan sangat dan empati
koping respon koping sama pasien.
maladaptif saat yang adaptif di
ini. kuatkan.
Komunikasi Gangguan Pola komunikasi Pasien mepelajari
(berne) perilaku terjadi di analisis dan pola komunikasi
jika pesan umpan balik termasuk permainan
tidak di diberikan untuk dan bekerja untuk
sampaikan mengklarifikasi mengklarifikasi
dengan jelas. area masalah. komunikasinya serta

20
Bahasa dapat memfalidasi pesan
digunakan dari orang lain
untuk merusak
makna.
Perilaku Perilaku di Terapi adalah Pasien mempraktekan
(bendura) pelajar. proses teknik perilaku yang
Penyimpangan pendidikan. di gunakan
terjadi karena Penyimpangan melakukan pekerjaan
individu telah perilaku tidak di rumah dan latihan
di bentuk hargai perilaku penguatan .
kebiasa yang lebih
perilaku yang produktif di
tidak di kuatkan terapi
inginkan. relaksasi dan
Karena latian asertif
perilaku di adalah
pelajari pendekatan
perilaku juga perilaku.
dapat tidak di
pelajari.
Perilaku
menyimpang
dapat terus
terkjadi karena
dapat
mengurangi
ansietas. Jika
demikian
perilaku lain
mengurangi
ansietas dapat
menjadi

21
pengganti.

22
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Keperawatan kesehatan jiwa adalah suatu bidang spesialisasi
praktik keperawatan yang menerepkan teori perilaku manusia sebagai
ilmunya dan penggunaan diri sendiri secara terapeutik sebagai kiatnya atau
instrumennya.
Pelaksanaan proses keperawatan jiwa bersifat unik, karena sering
kali pasien memperlihatkan gejala yang berbeda untuk kejadian yang
sama, masalah pasien tidak dapat dilihat secara langsung, dan
penyebabnya bervariasi.

2. Saran
Agar terhindar dari gangguan keperawatan jiwa sebaiknya membiasakan
diri melakukan interaksi dengan masyarakat jangan hanya mengurung
dirumah saja dan melakukan liburan agar tidak stres dalam melaukan
aktivitas sehari-hari seperti bekerja dan sekolah. Dengan hal ini Sehingga
dapat terhindar dari gangguan keperawatan jiwa..

23