Vous êtes sur la page 1sur 8

Chapter 3 - Development of The Institutional

Structure of Financial Accounting


Di US sebelum tahun 1930, akuntansi tidak diatur. Praktik dan prosedur akuntansi yang digunakan oleh
perusahaan pada umumnya bersifat rahasia. Sehingga, suatu perusahaan hanya sedikit yang mengetahui
tentang prosedur yang diikuti oleh perusahaan lain. Hal ini mengakibatkan kurangnya keseragaman dalam
praktik akuntansi diantara perusahaan-perusahaan, baik dari tahun ketahun maupun dalam industri yang sama.

Berawal dari stock market crash yang terjadi pada tahun 1929, muncul ide untuk mengatur standar akuntansi,
jangan dibebaskan dong. Dulu sebelum pakai IFRS, metode persediaan boleh memilih salah 1 antara FIFO,
LIFO, atau weighted average. Sebelum diatur dengan standar itu, jaman dulu terserah mau pakai metode
persediaan seperti apa, ada yang pakai latest purchase (harga beli terakhir). Jadi kalau beli dengan harga $10,
$11, $12, $13, $14 itu, sisa persediaan berapapun dikalikan dengan $14, yaitu harga beli yang paling akhir
yang dalam standar akuntansi cara seperti ini tidak dibolehkan. Harusnya pilih antara FIFO, LIFO, atau
weighted average. Dulunya seperti itu, mau depresiasi boleh, mau tidak pakai depresiasi boleh karena tidak
ada aturan.

Krisis di US yang berdampak ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Kenapa Indonesia kena? Karena ekspor
kita jadi tidak ada yang beli. Eropa juga terkena dampaknya. Indonesia pada tahun 1930an ekspornya bukan
barang pabrik, kayu juga tidak banyak yang di ekspor, yang di ekspor saat itu adalah rotan dan rempah-rempah
dari Maluku yang paling banyak. Tidak ada yang membeli karena di US sedang krisis. Karena tidak ada yang
beli, di Indonesia tidak bisa menjual, tidak bisa menggaji pegawai, pegawainya tidak bisa beli makanan dan
pakaian, industri makanan dan pakaian juga terhenti. Indonesia terkena krisis besar.

Di Amerika yang disalahkan profesi akuntansinya. Oleh karena itu dikeluarkanlah undang-undang (Securities
Act) yang membentuk SEC (Securities and Exchange Commisssion) untuk mengawal surat berharga
dan exchange (bursa). Jadi mulailah dibuat aturan. Sekarang surat berharga sudah diatur dan bursa juga diatur.
Siapa yang mengaturnya? SEC. Di Indonesia namanya BAPEPAM (Badan Pengawas Pasar Modal).
Undang-undang memberi kewanangan kepada SEC untuk mengatur sekuritas dan pasar modal, termasuk
didalamnya kewenangan untuk menyusun standar akuntansi dan standar audit yang terkait dengan laporan
keuangan yang akan dilaporkan ke pasar modal. Mulailah timbul ide regulasi.

Dulunya unregulated, sekarang regulated. Dulunya bebas, sekarang diatur. Cuma pada awalnya SEC tidak
mau menggunakan wewenangnya mengatur praktik akuntansi, membuat standard dan audit, tapi
menyerahkannya kepada profesi akuntansi. Standar akuntansi dan standar audit diserahkan kepada profesi
akuntansi untuk membuatnya. Tapi, respon organisasi profesi lambat hingga SEC marah dan
mengeluarkan Accounting Series Release (ASR) No. 4, yang berisi: Kalau akuntan itu memberi pendapat
terhadap laporan keuangan yang laporannya itu disusun pakai standar akuntansi yang standar akuntansi
tidak didukung oleh lembaga yang berwewenang mendukungnya, maka akuntan tersebut dituduh misleading
(menyesatkan) dan akan diproses.

Akhirnya dibentuklah CAP (Committee on Accounting Prosedure) yang tugasnya cuma 1 yaitu membuat
standar akuntansi sebanyak-banyaknya supaya akuntannya tidak dituduh misleading. Jadi kalau di neraca itu
ada inventorypakai FIFO, sudah ada standar yang mendukung FIFO. Kalau di neraca itu ada depresiasi aktiva
tetap, sudah ada standar akuntansi yang membolehkan depresiasi aktiva tetap, dan begitu seterusnya. Jadi,
CAP bekerja keras. Produknya CAP itu adalah standar akuntansi yang bernama ARB (Accounting Research
Bulletin). Itu adalah standar akuntansinya dan diberi nomor.

CAP bekerja dengan baik. hanya saja terkadang timbul konflik, antara accounting profession, dalam hal ini
CAP, dengan SEC. Misalnya, ARB No. 32, CAP mengatakan bahwa laporan keuangan untuk laba rugi nya
memakai current operating performance, SEC mengatakan jangan dan menyuruh menggunakan all inclusive.
Kalau CAP tidak mau menerima permintaan SEC, SEC akan menerbitkan standar yang lebih berkuasa
daripada standar akuntansinya CAP. Konflik-konflik ini selalu dimenangkan oleh SEC.

Masalah-masalah lainnya timbul, namun akhirnya teratasi. ARB tetap dibuat sampai 51. ARB nomor 43 itu
adalah kumpulan dari ARB no 1 sampai 42 dan revisi, karena waktu sudah berubah dan ide sudah berubah
jadi ada yang perlu diperbaiki. Semua ARB yang sudah dibuat dari ARB 1-42 disatukan menjadi ARB No. 43.
Didalamnya termasuk ada revisi-revisi dan terus dilanjutkan sampai nomor 51.

Pada masa itu, mulailah timbul kritik lagi terhadap prosedur penyusunan standar akuntansi yang disusun oleh
CAP ini. Salah satu diantara masalah-masalah yang timbul adalah standar sudah banyak dibuat tapi teori
standarnya tidak jelas. Conceptual framework nya mana? Orang-orang mulai mengkritik proses penyusunan
standar akuntansi ini dan meminta teorinya. Hal ini di respon oleh organisasi profesi.

CAP itu dibentuk oleh organisasi profesi yang sekarang namanya AICPA (American Institute of Certified
Public Accountants). Maka CAP kemudian diganti dengan APB (Accounting Principles Board). CAP
dibubarkan dan dibentuklah APB. APB diberi tambahan tugas selain membuat standar akuntansi seperti CAP,
tambahan tugasnya adalah membuat conceptual framework yaitu kembangkan teori akuntansi seperti kritikan
tadi itu. Untuk mengembangkan teorinya, gunakanlah riset. Berarti ada 3 tugasnya APB:

1. Membuat standar, yang diberi nama APB Opinion


2. Membuat conceptual framework (teori), yang diberi nama APB Statement
3. Melakukan Riset, yang diberi nama Accounting Research Study (ARS)
Kalau CAP tadi nama standarnya ARB, kalau APB namanya APB opinion dan diberi nomor. Conceptual
frameworknya diberi nama APB Statement dan diberi nomor juga. Risetnya bernama Accounting Research
Studies (ARSs) dan dinomori juga.

Lalu muncul masalah lagi, ARS 1 mengenai postulat dan ARS 3 mengenai prinsip ini ditunggu-tunggu
kehadirannya. Sewaktu ARS 1 tentang postulat keluar, mereka belum mempermasalahkan. Pada waktu ARS 3
nya terbit dan isinya tidak memakai historical cost tetapi mengusulkan current cost atau replacement cost,
marahlah profesi akuntansi disana. ARS 1 dan ARS 3 dikritik dan ditolak oleh para praktisi. Jadi bukan berarti
semua kerja APB diterima, ada juga yang tidak diterima. Jangan mencoba mengganti historical
costberdasarkan ARS, ARS nya akan ditolak. Akibatnya APB tidak mengganti historical cost. Itulah kejadian-
kejadian selama masa APB.

Bagaimana dengan perkembangan akuntansi di Indonesia?

Sebelum tahun 1930-1942, pada tahun 1942 Belanda dikalahkan Jepang, lalu tahun 1945 merdeka dari Jepang
dan memasuki awal kemerdekaan. Yang mengajari akuntansi kepada orang Indonesia awalnya adalah Belanda.
Berarti akuntansi Indonesia memakai akuntansi Belanda yang pada waktu itu akuntansi Belanda berbeda
dengan akuntansi Amerika. Jadi awalnya yang dipelajari adalah akuntansi Belanda yang
menggunakan Continental Approach, sedangkan akuntansi Amerika namanya Anglo American
Approach. Continental itu benua (daratan). Jadi akuntansi Indonesia dulunya adalah akuntansi dari benua
Eropa.

Dulu ada yang namanya tata buku dan administrasi perusahaan modern. Pengakuan profesinya kalau tata buku
itu ada ujian sertifikasi profesinya yang bernama Bond A dan Bond B. Ujian Bond A untuk perusahaan jasa
tanpa persediaan barang, dan jika ingin diakui juga untuk perusahaan dagang maka harus menempuh ujian
Bond B. Kalau ingin mengetahui cost accounting harus mempelajari APM (administrasi perusahaan
modern). Semua itu ada ujiannya dan itulah yang dipakai di Indonesia. Teorinya tidak berkembang karena
continental itu lebih mementingkan keseragaman teknik dan prosedur.

Lalu Jepang masuk dan Belanda pergi, semua perusahaan berhenti bekerja karena Jepang menggunakan
pendekatan perang jangka pendeknya itu sehingga bisnis hancur semua. Akuntansi berhenti. Lalu perang
kemerdekaan sehingga tidak sempat mengurusi perusahaan. Setelah Jepang pergi, baru mulai mengelola
kembali perusahaan-perusahaan yang ada. Perusahaan yang ada adalah perusahaan Belanda dulu. Dan ternyata
perusahaan belanda dulu itu sahamnya sudah diperjualbelikan di bursa. Di Indonesia ada bursa saham di
Jakarta, Semarang, dan Surabaya yang memperdagangkan saham perusahaan-perusahaan Belanda. Jadi
Indonesia sudah punya bursa saat dijajah belanda, kemudian dihidupkan lagi bursanya.
Tahun 1959, perusahaan-perusahaan Belanda yang ada di Indonesia itu dinasionalisasi, diambil alih oleh
pemerintah dan menjadi milik pemerintah namanya berubah menjadi PN (Perusahaan Negara). Akhirnya
bursa saham yang jual beli saham menjadi mati karena sahamnya seratus persen jadi milik pemerintah dan
yang diluar tidak diakui. Kalau tidak ada bursa berarti tidak ada laporan keuangan untuk bursa. Kalau tidak ada
laporan keuangan untuk bursa berarti tidak ada auditor yang mengaudit untuk laporan keuangan. Berarti
standar akuntansi dan standar auditing macet semua.

Tahun 1959-1970 pergantian orde lama ke orde baru. Awal tahun 1970an, orde baru mulai berpikir untuk
menghidupkan kembali bursa saham. Dibentuklah panitia persiapan pembukaan bursa. Diantaranya dalam
panitia itu ada panitia penyusun standar akuntansi namanya adalah Prinsip Akuntansi Indonesia.

Jadi ada komite penyusun prinsip akuntansi Indonesia karena kalau tidak ada standar akuntansi maka laporan
keuangan tidak bisa diaudit dan perusahaan tidak bisa go public. Jadilah laporan itu menjadi Prinsip Akuntansi
Indonesia yang diberi nama Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI) 1974. Isinya adalah ARS 7 yang diambil dari
APB. ARS 7 adalah Inventory of Generally Accepted Accounting Principles (GAAP) for Business Enterprises.
ARS 7 adalah kumpulan standar akuntansi berterima umum untuk perusahaan bisnis. Jadi isinya adalah standar
akuntansi yang berlaku di Amerika. PAI 74 itu disarikan dari ARS 7. Indonesia mendapatkan bantuan buku
yang berisi ARS 7 yang dipelajari oleh mahasiswa akuntansi FEB UGM pada saat itu yang langsung dari buku
aslinya.

Untuk membentuk bursa saham tersebut, pendidikan akuntansi mulai dikembangkan. Mulailah berubah
menuju akuntansi Amerika dengan datangnya dosen dari Amerika yang mengajar akuntansi di UGM dan UI,
dan dosen-dosen UGM dan UI dikirim ke Amerika untuk belajar dan mahasiswa UGM dan UI diberi buku dari
Amerika. UNAIR, UNPAD, UNSRI, UB, USU itu belakangan. Mereka masih menggunakan akuntansi
Belanda. UGM dan UI yang sudah lebih dulu mempelajarinya, membantu pengembangan akuntansi di
universitas lain dan akhirnya pendidikan akuntansi di Indonesia mulai berkembang dengan menggunakan
sistem Amerika.

Lalu bangkit kembali bursa di Indonesia, dulu namanya BAPPEPAM (Badan Pelaksana dan Pengawas
Pasar Modal) karena bursa yang pertama kali itu dijalankan oleh pemerintah dan yang mengawasi juga
pemerintah. Setelah bursanya membesar banyak perusahaan publik mulai menjual saham, bursanya dilepas ke
swasta. BAPPEPAM kemudian berubah nama menjadi BAPEPAM (Badan Pengawas Pasar Modal). Jadi
yang merintis bursa pertama kali adalah pemerintah, sekarang sudah dilepas ke swasta.

Bursa berjalan, akuntansi juga berjalan, lalu prinsip akuntansi Indonesia tahun 1974 diubah. Dibentuk tim lagi
untuk membentuk prinsip baru dan masih menggunakan standar Amerika lagi yaitu APB Statement No 4.
APB Statement no 4 diambil, diterjemahkan, diringkas, lalu dijadikan Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI)
Tahun 84. Mahasiswa akuntansi FEB UGM menggunakan APB Statement No 4 untuk dipelajari di kelas.

Mulailah muncul uneven playing field, dimana mulai muncul Internasional Accounting Standard
Committee yang terus berkembang menjadi International Accounting Standard Board (IASB). Dulu
produknya bernama IAS, sekarang namanya IFRS. BAPEPAM sedunia mempunyai organisasi internasional
yang bernama IOSCO (International Organisation of Securities Commission). Organisasi ini menyadari
bahwa kalau standar akuntansi di dunia itu hanya satu. Mulailah timbul harmonisasi yang belakangan berubah
menjadi konvergensi. Jadi, BAPEPAM di setiap negara berdasarkan hasil rapat IOSCO mendesak profesi
akuntansi di negaranya masing-masing untuk mengadopsi IAS (International Accounting Standard). Hampir
semua negara berubah termasuk Indonesia, sedangkan Amerika paling sulit untuk berubah karena
akuntansinya yang paling maju. Tapi negara lainnya lebih mudah menerima harmonisasi ini karena ditekan
oleh BAPEPAMnya masing-masing. Indonesia menyiapkan tim untuk mengambil IAS yang berjumlah 39 dan
kemudian diterjemahkan.

Lalu terbitlah Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK). Kalau pernyataan tersebut diambil dan
digabungkan semua namanya SAK (Standar Akuntansi Keuangan). PAI berubah menjadi SAK dan disetujui
oleh IAI dalam kongres tahun 1994 di Bandung. Jadi:

 PAI 1974 menggunakan ARS 7


 PAI 1984 menggunakan APB Statement No. 4
 PSAK yang diterbitkan tahun 1994 menggunakan IAS

Sejak tahun 1994, Indonesia mulai melepaskan diri dari standar Amerika dan beralih ke standar internasional.
PSAK terus dikembangkan sampai akhirnya menggunakan IFRS seperti sekarang ini.

Selain standar akuntansi, Indonesia juga memiliki standar audit. Standar audit di Indonesia awalnya diambil
dari AICPA. Dulu diberi nama NPA (Norma Pemeriksaan Akuntan). Lalu diperbaiki lagi dengan
menggunakan auditing standard dari AICPA dan diberi nama SPAP (Standar Profesional Akuntan Publik).
Diperbaiki lagi dan sekarang namanya Standar Audit, itu juga diambil dari AICPA, tapi sekarang sudah
berubah diambil dari IFAC (International Federation of Accountants). Jadi sama-sama dimulai dari Amerika
dulu dan berubah ke standar internasional.

Kembali ke Standar Amerika

Jadi APB punya APB opinion, APB Statement, dan ARS. APB ini juga tidak lepas dari kritik. Terutama
kritiknya adalah CAP dan APB itu anggotanya semuanya CPA (Certified Public Accountants). Kritiknya
mengatakan enak sekali standar dibuat sendiri, laporan dibuat sendiri, diaudit sendiri dan diberi pendapat
sendiri.

Akhirnya dibentuklah tim oleh AICPA dengan 2 komite yaitu Wheat dan TrueBlood. Tugas wheat
committee adalah menyusun format organisasi standar akuntansi untuk mengatasi kritik tadi. Jadi hasilnya
diawali dengan Konstituen yang berbentuk sponsoring organization. Ada yang mensponsori
penyusunan FASB ini, organisasinya ada 8 yaitu AAA, AICPA, CFA Institute, Financial Executives
International (FEI), Government Finance Officers Association, Institute of Management Accountant (IMA),
Securities Industry Association, and National Association od State Auditors, Comptroller and Treasurers.
FASB tidak dibawah AICPA, berbeda dengan CAP dan APB karena organisasi yang mensponsori ada 8,
sponsor yang 8 tadi membentuk yayasan akuntansi keuangan (FAF – Financial Accounting Foundation).
Yayasan ini bertugas mengusulkan dan memilih Board of Trustees (Majelis Wali Amanat) yang berjumlah 16,
yang 11 orangnya diusulkan oleh 8 organisasi tersebut.

Tugas Board of Trustees adalah mencari uang, memilih anggota FASB, dan mengawasi pekerjaan FASB.
FASB diawasi oleh Board of Trustees dari FAF, FAF itu salah satunya dipilih oleh AICPA. Jadi kecil sekali
pengaruh AICPA ke FASB. Beda dengan CAP dan APB yang semua anggotanya dipilih oleh AICPA dan
isinya akuntan publik semua. Ini dilakukan untuk mengatasi kritik.

Tapi ternyata tidak semuanya puas, termasuk AICPA. AICPA kemudian membentuk Accounting Standard
Executive Committee (AcSEC). Dulu yang membuat standar adalah AICPA melalui CAP dan APB, sekarang
hilang powernya karena pembuatan standar telah diberikan ke FASB. AICPA tidak senang dan membuat
badan sendiri tetapi tidak punya power. Punya tulisan tetapi tidak punya power untuk memberlakukan itu.
Pemerintah juga tidak suka karena FASB mau mengatur standar pemerintahan. Pemerintah
membentuk Government Accounting Standard Board (GASB). Persis seperti di Indonesia, ada DSAK
(Dewan Standar Akuntansi Keuangan) dan ada DSAP (Dewan Standar Akuntansi Pemerintahan).

Permasalahannya di Amerika itu apa? Setiap kali ada krisis, setiap kali ada kecurangan, jika krisis dan
kecurangannya bisa dikaitkan ke akuntansi, maka regulasinya ditambah. Dulu saat krisis tahun 1929, tanpa
regulasi berubah menjadi regulasi. Yang melakukan regulasi adalah profesi akuntansi yang diberi kewenangan
oleh SEC sampai muncul FASB. Lalu muncul kasus Enron, kasus besar yang menyebabkan bursa saham
amerika terganggu, ternyata kesalahannya disebabkan oleh akuntan publiknya yang bernama Arthur Anderson
yang bekerjasama dengan manajemen. Dibentuklah tim oleh kongres yang diketuai oleh 2 orang yaitu Mr
Sarbanes dan Mr Oxley. Nama undang-undang di Amerika tergantung ketua timnya. Maka
muncullah Sarbanes-Oxley Act (SOX). Undang-undang tersebut berisi pencabutan wewenang AICPA dalam
audit. Dibentuklah PCAOB (Public Company Accounting Oversight Board)yaitu badan yang mengawasi
akuntan publik, mendaftar akuntan publik, dan membuat standar audit. Jadi kewenangan audit AICPA
diambil.

Habislah AICPA. Dulu bisa membuat standar akuntansi kemudian diambil alih oleh FASB. Kemudian tugas
membuat standar audit diambil alih oleh PCAOB. Jadi profesi sudah tidak punya kewenangan. Regulasinya
sekarang dilakukan oleh pemerintah.

Dulu FASB itu milik swasta, namun dengan adanya SOX maka FASB tidak boleh menerima uang dari orang
lain kecuali dari pemerintah melalui SEC. Jadi yang mendanai FASB adalah SEC dari APBNnya Amerika.
Peran SEC menjadi kuat dan peran AICPA menjadi turun.

DSAK Indonesia tidak didanai oleh APBN. Standar audit dibuat oleh IAPI (Institut Akuntan Publik
Indonesia) bukan dibuat oleh badan yang dibentuk oleh pemerintah. Jadi Indonesia lebih swasta daripada
Amerika karena Amerika kena kasus Enron habis-habisan.

KESIMPULAN

 Sejarah perkembangan akuntansi di Indonesia ada hubungannya dengan perkembangan akuntansi di


Amerika.
 Perkembangan yang mengarah ke internasional juga berpengaruh ke Indonesia. Indonesia jadi tidak lagi
terkait dengan amerika tapi lebih terkait ke internasional.
 Standar akuntansinya saat ini pakai IFRS
 Standar auditnya pakai IFAC