Vous êtes sur la page 1sur 30

BAB I

LANDASAN TEORITIS

1. Pengertian Typhoid
Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman
salmonella thypi dan salmonella para thypi A,B,C. sinonim dari penyakit ini
adalah Typhoid dan paratyphoid abdominalis, ( Syaifullah Noer, 1998 ).
Typus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai
saluran pencernaan dengan gejala demam lebih dari 7 hari, gangguan pada saluran
cerna, gangguan kesadaran, dan lebih banyak menyerang pada anak usia 12 – 13
tahun ( 70% - 80% ), pada usia 30 - 40 tahun ( 10%-20% ) dan diatas usia pada
anak 12-13 tahun sebanyak ( 5%-10% ). (Mansjoer, Arif 1999).
Typus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai
saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari 1 minggu, gangguan
pencernaan dan gangguan kesadaran (FKUI. 1999).

2. Etiologi
1. Salmonella thyposa, basil gram negative yang bergerak dengan bulu getar,
tidak bersepora mempunyai sekurang-kurangnya tiga macam antigen yaitu
 antigen O (somatic, terdiri darizat komplekliopolisakarida)
 antigen H(flagella)
 antigen V1 dan protein membrane hialin.
2. Salmonella parathypi A
3. salmonella parathypi B
4. Salmonella parathypi C
5. Faces dan Urin dari penderita thypus (Rahmad Juwono, 1996).

3. Anatomi Fisiologi
1. Usus halus (usus kecil)
Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan yang terletak di
antara lambung dan usus besar. Dinding usus kaya akan pembuluh darah yang
mengangkut zat-zat yang diserap ke hati melalui vena porta. Dinding usus
melepaskan lendir (yang melumasi isi usus) dan air (yang membantu melarutkan
pecahan-pecahan makanan yang dicerna).
2. usus dua belas jari (Duodenum)
Usus dua belas jari atau duodenum adalah bagian dari usus halus yang terletak
setelah lambung dan menghubungkannya ke usus kosong (jejunum). Bagian usus
dua belas jari merupakan bagian terpendek dari usus halus, dimulai dari bulbo
duodenale dan berakhir di ligamentum Treitz. Usus dua belas jari merupakan
organ retroperitoneal, yang tidak terbungkus seluruhnya oleh selaput peritoneum.
pH usus dua belas jari yang normal berkisar pada derajat sembilan. Pada usus dua
belas jari terdapat dua muara saluran yaitu dari pankreas dan kantung empedu.
3. Usus Kosong (jejenum)
Usus kosong atau jejunum (terkadang sering ditulis yeyunum) adalah bagian
kedua dari usus halus, di antara usus dua belas jari (duodenum) dan usus
penyerapan (ileum). Pada manusia dewasa, panjang seluruh usus halus antara 2-8
meter, 1-2 meter adalah bagian usus kosong. Usus kosong dan usus penyerapan
digantungkan dalam tubuh dengan mesenterium.
4. Usus Penyerapan (illeum)
Usus penyerapan atau ileum adalah bagian terakhir dari usus halus. Pada sistem
pencernaan manusia, ) ini memiliki panjang sekitar 2-4 m dan terletak setelah
duodenum dan jejunum, dan dilanjutkan oleh usus buntu. Ileum memiliki pH
antara 7 dan 8 (netral atau sedikit basa) dan berfungsi menyerap vitamin B12 dan
garam-garam empedu. Diagram ileum dan organ-organ yang berhubungan.
5. Usus Besar (Kolon)
Usus besar atau kolon dalam anatomi adalah bagian usus antara usus buntu dan
rektum. Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari feses.
6. Usus Buntu (sekum)
Usus buntu atau sekum (Bahasa Latin: caecus, “buta”) dalam istilah anatomi
adalah suatu kantung yang terhubung pada usus penyerapan serta bagian kolon
menanjak dari usus besar. Organ ini ditemukan pada mamalia, burung, dan
beberapa jenis reptil. Sebagian besar herbivora memiliki sekum yang besar,
sedangkan karnivora eksklusif memiliki sekum yang kecil, yang sebagian atau
seluruhnya digantikan oleh umbai cacing.
7. Umbai Cacing (Appendix)
Umbai cacing atau apendiks adalah organ tambahan pada usus buntu. Infeksi pada
organ ini disebut apendisitis atau radang umbai cacing. Apendisitis yang parah
dapat menyebabkan apendiks pecah dan membentuk nanah di dalam rongga
abdomen atau peritonitis (infeksi rongga abdomen).
8. Rektum dan anus
Rektum (Bahasa Latin: regere, “meluruskan, mengatur”) adalah sebuah ruangan
yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus.
Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara feses. Biasanya
rektum ini kosong karena tinja disimpan di tempat yang lebih tinggi, yaitu pada
kolon desendens. Jika kolon desendens penuh dan tinja masuk ke dalam rektum,
maka timbul keinginan untuk buang air besar (BAB).
Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan, dimana bahan
limbah keluar dari tubuh. Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit)
dan sebagian lannya dari usus. Pembukaan dan penutupan anus diatur oleh otot
sphinkter. Feses dibuang dari tubuh melalui proses defekasi (buang air besar –
BAB), yang merupakan fungsi utama anus.

4. Patofisiologi
Menurut (Suriadi, 2001) :
a) Kuman masuk melalui mulut, sebagian kuman akan dimusnahkan dalam
lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus (terutama di ileum bagian distal),
ke jaringan limfoid dan berkembang biak menyerang vili usus halus kemudian
kuman masuk ke peredaran darah (bakterimia primer), dan mencapai sel-sel
retikula endotelial, hati, limpa dan organ-organ lainnnya.
b) Proses ini terjadi dalam masa tunas dan akan berakhir saat sel-sel retikula
endotelial melepaskan kuman ke dalam peredaran darah dan menimbulkan
bakterimia untuk kedua kalinya. Selanjutnya kuman masuk ke beberapa jaringan
organ tubuh, terutama limpa, usus dan kandung empedu.
c) Pada minggu pertama sakit, terjadi hyperplasia plaks player. Ini terjadi pada
kelenjar limfoid usus halus. Minggu kedua terjadi nekrosis dan pada minggu
ketiga terjadi ulserasi plaks peyer. Pada minggu keempat terjadi penyembuhan
ulkus yang dapat menimbulkan sikatrik. Ulkus dapat menyebabkan perdarahan,
bahkan sampai perforasi usus. Selain itu hepar, kelenjar-kelenjar mesentrial dan
limpa membesar.
d) Gejala demam disebabkan oleh endotoksin sedangkan gejala pada saluran
pencernaan disebabkan oleh kelainan pada usus halus.

5. Pengkajian Keperawatan
1. Identitas
Didalam identitas meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, pendidikan,
no. Registerasi, status perkawinan, agama, pekerjaan, tinggi badan, berat badan,
tanggal MR.
2. Keluhan Utama
pada pasien Thypoid biasanya mengeluh perut merasa mual dan kembung,
nafsu makan menurun, panas dan demam.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Apakah sebelumnya pasien pernah mengalami sakit Thypoid, apakah tidak
pernah, apakah menderita penyakit lainnya.
4. Riwayat Penyakit Sekarang
Pada umumnya penyakit pada pasien Thypoid adalah demam, anorexia,
mual, muntah, diare, perasaan tidak enak di perut, pucat (anemi), nyeri kepala
pusing, nyeri otot, lidah tifoid (kotor), gangguan kesadaran berupa somnolen
sampai koma.
5. Riwayat Kesehatan Keluarga
Apakah dalam kesehatan keluarga ada yang pernah menderita Thypoid atau sakit
yang lainnya
6. Riwayat Psikososial
Psiko sosial sangat berpengaruh sekali terhadap psikologis pasien,
dengan timbul gejala-gejala yang dalami, apakah pasien dapat menerima pada apa
yang dideritanya
7. Pola-Pola Fungsi Kesehatan
a) Pola pesepsi dan tatalaksana kesehatan
Perubahan penatalaksanaan kesehatan yang dapat menimbulkan masalah dalam
kesehatannya.
b) Pola nutrisi dan metabolism
Adanya mual dan muntah, penurunan nafsu makan selama sakit, lidah kotor, dan
rasa pahit waktu makan sehingga dapat mempengaruhi status nutrisi berubah.
c) Pola aktifitas dan latihan
Pasien akan terganggu aktifitasnya akibat adanya kelemahan fisik serta pasien
akan mengalami keterbatasan gerak akibat penyakitnya.
d) Pola tidur dan aktifitas
Kebiasaan tidur pasien akan terganggu dikarenakan suhu badan yang meningkat,
sehingga pasien merasa gelisah pada waktu tidur.
e) Pola eliminasi
Kebiasaan dalam buang BAK akan terjadi refensi bila dehidrasi karena panas
yang meninggi, konsumsi cairan yang tidak sesuai dengan kebutuhan.
f) Pola reproduksi dan sexual
Pada pola reproduksi dan sexual pada pasien yang telah atau sudah menikah akan
terjadi perubahan.
g) Pola persepsi dan pengetahuan
Perubahan kondisi kesehatan dan gaya hidup akan mempengaruhi pengetahuan
dan kemampuan dalam merawat diri.
h) Pola persepsi dan konsep diri
Didalam perubahan apabila pasien tidak efektif dalam mengatasi masalah
penyakitnya.
i) Pola penanggulangan stress
Stres timbul apabila seorang pasien tidak efektif dalam mengatasi masalah
penyakitnya.
j) Pola hubungan interpersonal
Adanya kondisi kesehatan mempengaruhi terhadap hubungan interpersonal dan
peran serta mengalami tambahan dalam menjalankan perannya selama sakit.
k) Pola tata nilai dan kepercayaan
Timbulnya distres dalam spiritual pada pasien, maka pasien akan menjadi cemas
dan takut akan kematian, serta kebiasaan ibadahnya akan terganggu.
8. Pemeriksaan Fisik
a) Keadaan umum
Biasanya pada pasien typhoid mengalami badan lemah, panas, puccat, mual, perut
tidak enak, anorexia.
b) Kepala dan leher
Kepala tidak ada bernjolan, rambut normal, kelopak mata normal, konjungtiva
anemia, mata cowong, muka tidak odema, pucat/bibir kering, lidah kotor, ditepi
dan ditengah merah, fungsi pendengran normal leher simetris, tidak ada
pembesaran kelenjar tiroid.
c) Dada dan abdomen
Dada normal, bentuk simetris, pola nafas teratur, didaerah abdomen ditemukan
nyeri tekan.
d) Sistem respirasi
Apa ada pernafasan normal, tidak ada suara tambahan, dan tidak terdapat cuping
hidung.
e) Sistem kardiovaskuler
Biasanya pada pasien dengan typoid yang ditemukan tekanan darah yang
meningkat akan tetapi bisa didapatkan tachiardi saat pasien mengalami
peningkatan suhu tubuh.
f) Sistem integument
Kulit bersih, turgor kulit menurun, pucat, berkeringat banyak, akral hangat.
g) Sistem eliminasi
Pada pasien typoid kadang-kadang diare atau konstipasi, produk kemih pasien
bisa mengalami penurunan (kurang dari normal). N ½ -1 cc/kg BB/jam.
h) Sistem muskuloskolesal
Apakah ada gangguan pada extrimitas atas dan bawah atau tidak ada gangguan.
i) Sistem endokrin
Apakah di dalam penderita thyphoid ada pembesaran kelenjar toroid dan tonsil.
j) Sistem persyarafan
Apakah kesadarn itu penuh atau apatis, somnolen dan koma, dalam penderita
penyakit thypoid.

6. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul


1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan infeksi Salmonella Typhii
2. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan
dengan anoreksia
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan/bedrest.
4. Gangguan keseimbangan cairan (kurang dari kebutuhan) berhubungan dengan
pengeluaran cairan yang berlebihan (diare/muntah).

7. Perencanaan Tindakan Keperawatan


1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan infeksi salmonella typhsi
Tujuan : suhu tubuh normal/terkontrol.
Kriteria hasil :
a. Pasien melaporkan peningkatan suhu tubuh Mencari pertolongan untuk
pencegahan peningkatan suhu tubuh.
b. Turgor kulit membaik
Intervensi Rasionalisasi
a. Berikan penjelasan kepada kliena. agar klien dan keluarga mengetahui sebab
dan keluarga tentang dari peningkatan suhu dan membantu
peningkatan suhu tubuh mengurangi kecemasan yang timbul.
b. Anjurkan klien menggunakan b. untuk menjaga agar klien merasa nyaman,
pakaian tipis dan menyerap pakaian tipis akan membantu mengurangi
keringat penguapan tubuh.
c. Batasi pengunjung c. agar klien merasa tenang dan udara di dalam
d. Observasi TTV tiap 4 jam sekali ruangan tidak terasa panas.
e. 2,5 liter / 24 jam Anjurkan d. tanda-tanda vital merupakan acuan untuk
pasien untuk banyak minum, mengetahui keadaan umum pasien
minum e. peningkatan suhu tubuh mengakibatkan
f. Memberikan kompres dingin penguapan tubuh meningkat sehingga perlu
g. kolaborasi dengan dokter dalam diimbangi dengan asupan cairan yang banyak
pemberian tx antibiotik dan f. untuk membantu menurunkan suhu tubuh
antipiretik g. antibiotik untuk mengurangi infeksi dan
antipiretik untuk menurangi panas.

2. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan


dengan anoreksia
Tujuan : Pasien mampu mempertahankan kebutuhan nutrisi adekuat
Kriteria hasil :
 Nafsu makan meningkat
 Pasien mampu menghabiskan makanan sesuai dengan porsi yang diberikan
Intervensi Rasionalisasi
a. Jelaskan pada klien dana. untuk meningkatkan pengetahuan klien
keluarga tentang manfaat tentang nutrisi sehingga motivasi untuk
makanan/nutrisi. makan meningkat.
b. Timbang berat badan klienb. untuk mengetahui peningkatan dan
setiap 2 hari. penurunan berat badan.
c. Beri makanan dalam porsi kecilc. untuk meningkatkan asupan makanan karena
dan frekuensi sering. mudah ditelan.
d. Beri nutrisi dengan diet lembek,d. untuk menghindari mual dan muntah.
tidak mengandung banyak serat, Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian
tidak merangsang, maupun antasida dan nutrisi parenteral.
menimbulkan banyak gas dan
dihidangkan saat masih hangat e. mengurangi rasa mual dan muntah.
e. Nutrisi parenteral dibutuhkan terutama jika
kebutuhan nutrisi per oral sangat kurang.

3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan/bed rest


Tujuan : pasien bisa melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari
(AKS) optimal.
Kriteria hasil :
 Kebutuhan personal terpenuhi
 Dapat melakukan gerakkan yang bermanfaat bagi tubuh.
 memenuhi AKS dengan teknik penghematan energi.
Intervensi Rasionalisasi
a. Beri motivasi pada pasien dan kelurgaa. agar pasien dan keluarga mengetahui
untuk melakukan mobilisasi sebatas pentingnya mobilisasi bagi pasien yang
kemampuan (missal. Miring kanan, bedrest
miring kiri). b. untuk mengetahui sejauh mana
b. Kaji kemampuan pasien dalam kelemahan yang terjadi.
beraktivitas (makan, minum). c. untuk mempermudah pasien dalam
c. Dekatkan keperluan pasien dalam melakukan aktivitas.
jangkauannya. d. menghindari kekakuan sendi dan
d. Berikan latihan mobilisasi secara mencegah adanya dekubitus
bertahap sesudah demam hilang.

4. Gangguan keseimbangan cairan (kurang dari kebutuhan) berhubungan


dengan cairan yang berlebihan (diare/muntah)
Tujuan : tidak terjadi gangguan keseimbangan cairan
Kriteria hasil :
 Turgor kulit meningkat
 Wajah tidak nampak pucat
Intervensi Rasionalisasi
a. Berikan penjelasan tentang pentingnya
a. untuk mempermudah pemberian cairan
kebutuhan cairan pada pasien dan (minum) pada pasien.
keluarga. b. untuk mengetahui keseimbangan
b. Observasi pemasukan dan pengeluaran cairan.
cairan. c. untuk pemenuhan kebutuhan cairan.
c. d. untuk pemenuhan kebutuhan cairan dan
2,5 liter / 24 jam. Anjurkan pasien
untuk banyak minum mencegah adanya odem.
d. Observasi kelancaran tetesan infuse. e. untuk pemenuhan kebutuhan cairan
e. Kolaborasi dengan dokter untuk terapi yang tidak terpenuhi (secara parenteral).
cairan (oral / parenteral).
BAB II
TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian
1. Biodata
a. Biodata Klien
Nama : Ny.L
Umur : 37 tahun
Jenis Kelamin :Perempuan
Alamat : Ds. Pasuruhan kidul RT. 03/03 Jati Kudus
Agama : Islam
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : BURUH
Status : Menikah
Tanggal masuk : 20 November 2016
Tanggal Pengkajian : 20 November 2016
b. Biodata penanggung jawab
Nama : Tn. A
Umur : 40 Tahun
Jenis Kelamin : Laki- Laki
Alamat : Ds. Pasuruhan kidul RT. 03/03 Jati Kudus
Agama : Islam
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Buruh
Hubungan dengan klien : Suami

2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan Utama
Klien mengeluh nyeri pada abdomen bagian kiri bawah
b. Riwayat Kesehatan sekarang
Menurut penututran klien sudah satu minggu mengeluh demam disertai
mual, pusing, lesu, susah BAB dan nyeri pada abdomen bagian bawah. Selain itu
klien mengeluh menggigil pada malam hari yang disertai keringat dingin,
sehingga klien dibawa ke dokter terdekat, lalu dirujuk ke Puskesmas Purwosari.
Pada tanggal 13 November 2016, dilakukan pengkajian, klien mengeluh
nyeri pada bagian abdomen, nyeri dirasakan seperti ditusuk-tusuk dengan skala
nyeri 3 dari rentang 0-5. Nyeri dirasakan pada daerah abdomen sebelah kiri
bawah, rasa nyeri tidak terjadi penyebaran. Nyeri dirasakan saat klien bergerak
dan pada saat ditekan.
c. Riwayat kesehatan dahulu
Menurut penuturan kien, klien sebelumnya tidak perah mengalami
penyakit seperti di derita saat ini, namun klien mempunyai penyakit gastritis yang
telah lama dideritanya dan biasanya klien hanya mengeluh pusing dan demam
yang biasanya di obati dengan obat dari warung.
d. Riwayat kesehatan keluarga
Menurut penuturan klien dan keluarga klien diantara anggota keluarganya
belum pernah mengalami penyakit yang seperti diderita klien, dan juga tidak
pernah mengalami penyakit yang berat, seperti Diabete mellitus, Hepatitis TBC
dan lain sebagainya.

3. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
Kesadaran : compos mentis
Penampilan umum : Klien tampak lemah
b. Tanda-tanda vital
Tekanan darah : 130/60 mmHg
Nadi : 80 kali/menit
Respirasi : 21 kali/menit
Suhu : 36.3’c
c. Inteugumen
1) Inteugumen dan kulit kepala
Warna rambut : Hitam
Kebersihan : Bersih, tidak tampak adanya kotoran
Lesi : Tidak ada lesi
2) Kulit
Warna : Kuning langsat
Kebersihan : Bersih, tidak tampak adanya kotoran
3) Kuku
Kebersihan : Bersih, tidak tapak adanya kotoran
d. Kepala
Kebersihan : Bersih tidak tampak adanya kotoran
e. Mata
Kesimetrisan : simetris antara alis kiri dan alis kanan
Warna : Hitam
f. Telinga
Kebersihan : Bersih, tidak tampak adanya serumen
g. Hidung
Kebersihan : Bersih, tidak tampak adanya kotoran
h. Mulut
1) Bibir
Kebersihan : Bersih tidak tampak adanya kotoran
2) Gigi
Kebersihan : tidak tampak adanya kotoran
Keadaan : tidak tampak adanya carries gigi
3) Lidah
Kebersihan : tidak tampak adanya kotoran
Fungsi pengecapan : Baik, klien dapat membedakan rasa asin, manis
dan pahit
i. Leher
Kesimetrisan : simetris antara kedua bahu
Kelenjar tyroid : saat menelan tidak ada pembesaran tyroid
Kebersihan : Bersih
j. Dada
Posisi : simetris antara dada kiri dan kanan
Bunyi jantung : Reguler
Bunyi paru-paru : Vasikuler
Kebersihan : Bersih
k. Abdomen
Warna : Sama dengan kulit tubuh
Tekstur : Halus
: Klien mengeluh nyeri pada abdomen bagian kiri bawah dan nyeri tekan
Skala : skala nyeri 3 dari rentang 0 - 5
Kebersihan : Bersih
l. Genetalia tidak terkaji
m. Ekstremitas
:Pergerakan tangan kanan klien terbatas karena terpasang infuse, dan tangan kiri
dapat digerakan ke segala arah
: Baik, kaki kanan dan kaki kiri klien dapat digerakan ke segala arah

4. Pola aktivitas
No Jenis Aktivitas Sebelum Sakit Saat Sakit
1. Pola nutrisi
a. Makan
Frekwansi 3 kali / hari 2kali / hari
Jenis
Porsi Nasi, lauk pauk, sayur- Bubur nasi, lauk pauk,
Cara
b. Muinum sayuran sayuran
Frekwensi
1 porsi ½ porsi
Jenis
cara
Mandiri Dibantu
Kurag lebih 1400 ml/hari Kurang lebih 800 ml/hari

Air putih, teh, susu Air putih

mandiri Dibantu

2. Pola eliminasi
a. BAB
Frekwensi 1 kali/ hari Belum BAB 6 hari
Konsistensi
Padat Padat
Warna
Bau Kuning khas feses Kuning khas feses
Cara
Khas fese Khas feses
b. BAK
mandiri Dibantu
Frekwensi
Warna
Bau
cara
kurang lebih 1000 mlhari Kurang lebih 700 ml/hari
Kuning jernih Kuning jernih
Khas amoniak Khas amoniak
Mandiri dibantu
3. Pola istirahat tidur
a. Tidur siang
Frekwensi Kurang lebih 2 jam/hari
Kurang lebih 1 jam/ hari
Kualitas
Nyenyak Kurang nyenyak
b. Tidur malam
Frekwensi
Kurang lebih 4 jam / hari
Kualitas Kurang lebih 6-7 jam/hari
Kurang nyenyak
nyenyak

4. Personal hygine
a. Mandi 2 kali/hari 1kali/hari
b. Gosok gigi 2 kali/hari 1kali/hari
c. Ganti pakaian 2 kali/hari 1kali/hari
d. cara Mandiri Dibantu
5. Data Psikologis, Social dan Spiritual
a. Data Psikologis
Klien tampak murung, terlihat sedikit cemas dan selalu bertanya tentang keadaan
penyakit yang dideritanya, sesekali klien tampak sedih karena memikirkan
keadaannya, namun klien juga yakin bahwa penyakitnya dapat segera
disembuhkan.
b. Data Social
Hubungan klien dengan keluarga baik, terbukti para tetangga-tetangganya banyak
yang datang menjenguk klien, klien juga berkomunikasi dengan baik kepada
pasien lain. Klien juga dapat bekerjasama dengan tim kesehatan terutama dalam
melakukan tindakan dan sangat kooperatif.
c. Data Spiritual
Klien beragama islam, terbukti klien selalu berdo’a unutk kesembuhannya
sehingga klien ingin cepat-cepat pulang kerumah dengan sehat. Dan klien
menyadari bahwa kondisi atau penyakitnya sekarang ini merupakan titipan dari
allah SWT yang diberikan kepadanya.

6. Data penunjang
a. Data penunjang
1. Darah rutin
Jenis
No Hasil Nilai Normal Interpretasi
Pemeriksaan
1. Hemoglobin 14.3 g/dL 13.0 – 18.0 /dL Normal
2 Hematokrit 39 % 40 – 52 % Menurun
3 Leukosit 21.170 /mm3 3.800 – 10.600 /mm3 Meningkat
4 Trombosit 222.000 150.000 – 440. 000 Normal
5 eritrasit /mm3 /mm3 Normal
4.49 juta / 3.5 – 6.5 juta /mm3
mm3

2. Kimia Klinik
No Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Normal Interpretasi
1. Ureum 33 mg/dL 15 – 50 mg/dL Normal
2. Kreatinin 0.7 mg/dL 0.7 – 1.2 mg/dL Normal

b. Diagnose medis
thypoid abdominalis

c. Therapy
1) Infuse RL 20 tetes/menit
2) chloramphenicol inj 3x1
3) Ranitidine 2.1 amp
4) Ondancetron 2.1 amp
5) PCT 3.500 mg
6) Antasid 3.1 tab

B. Analisa data
No Symptom Etiologi Problem
1. Ds : Inflamasi pada hati dan limpa Gangguan rasa
Klien mengeluh nyaman Nyeri
nyeri pada abdomen
bagian kiri bawah
Do :
 Klien tampak
kesakitan pada
abdomen bagian kiri
bawah
 Keadaan umum
lemah
T : 130/60 mmHg
N: 80 kali/menit
R : 21 kali/menit
S : 36.3’c
2. Ds : Peristaltic usus menurun Gangguan
klien mengeluh susah eliminasi fekal
BAB
Do :
 Klien tampak lemah
 Bising usus kliien
5x/menit
 Abdomen klien
teraba keras

3. Ds : Kompensasi usus mnurun Gangguan


 Klien mengeuh mual pemenuhan
 Klien mengeluh kebutuhan nutrisi
tidak nafsu m akan
Do :
 Klien tampak lemah
 Porsi makan klien ½
porsi
 Berat badan kien
menurun menjadi 45
Kg dari sebelumnya
52 Kg
4. Ds : Asupan nutrisi kurang Gangguan pola
Klien mengeluh aktivitas
lemas
Do :
 Klien tampak lemah
 Aktivitas klien
dibantu, BAB, BAK,
makan dan lain-lain

C. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman nyeri sehubungan dengan nyeri pada abdomen kiri
bawah, yang ditandai dengan :
Ds : klien mengeluh nyeri pada abdomen bagian kiri bawah
Do : Klien tampak meringis kesakitan
  Skala nyeri 3 dari rentang 0 - 5
  Keadaan umum tampak lemah
T : 130/60 mmHg
N : 80 kali/menit
R : 21 kali/menit
S : 36,3’c
2. Gangguan pola eliminasi fekal sehubungan dengan konstipasi, yang ditandai
dengan :
Ds : klien mengeluh susah BAB
Do :
  Klien tampak lemah
  Bising usus klien 5x/ menit
  Abdomen klien teraba keras
3. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi sehubungan dengan adanya mual
muntah yang ditandai dengan :
Ds :
  klien mengeuh mual
  klien mengeluh tidak napsu makan
Do :
  Klien tampak lemah
  Posi makan klien ½ porsi
  Berat badan klien turun 7 Kg, dari 52 Kg menjadi 45 Kg
4. gangguan pola aktivitas segubungan dengan kelemahan fisik, yang ditandai
dengan :
Ds : klien mengeluh lemas
Do :
  Klien tampak lemah
  Aktivitas klien dibantu, BAB, BAK, berjalan dan lain-lain.
PROSES KEPERAWATAN
Nama :Ny.L
Ruangan : KANA
Umur : 37 Tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Dx : Thypoid abdominalis

N Diagnosa Perencanaan
Tujuan Pelaksanaan Evaluasi
o keperawatan Intervensi Rasonalisasi
1. Gangguan rasa Setelah dilakukan Kaji secara Perubahan dalam Tanggal 2 Desember 2016 Tanggal 25 november 2014
nyaman nyeri tindakan komprehensip tentang lokasi/atau tetapi Pukul 09.00 WIB Pukul 11.00 WIB
sehubungan keperawatan selama nyeri meliputi : lokasi, dalam  Mengkaji sklana nyeri, lokasi dan S : Klien masih mengeluh
dengan adanya 2 x 24 jam gagguan karakteristik, durasi, menunjukan karakteristiknya, hasil skala nyeri 3 dari rentang 0 nyeri pada abdomen bagian
nyeri pada rasa nyaman nyeri frekwensi, terjadinya – 5 yang dirasakan seperti ditusuk-tusuk di kiri bawah
badomen kiri teratasi dengan kualitas/beratnya nyeri komplikasi. Nyeri abdomen bagian kiri bawah. O:
bawah, yang kriteria hasil : skala ( 0-5 ) dan factor- cenderung  klien tampak sedikit meringis
ditandai dengan :  Laporan nyeri faktor presipitasi menjadi konstan Memberikan kompres hangat, hasil klien  skala nyeri klien 2 dari
Ds : hilang atau Berikan kompres lebih hebat, akan tampak nyaman dan rasa nyeri berkurang. rentang 0 – 5
klien mengeluh terkontrol hangat pada daerah nyeri menyebar ke atas, Memberikan penjelasan tentang teknik distraksi  keadaan umum klien masih
nyeri pada Klien dapat nyeri dalam local dan relaksasi, hasil klien dapat melakukan teknih lemah
abdomen bagian menunjukan  Berikan penjelasan bila terjadi abses. relaksasi dank lien tampak nyaman dan tenang. T : 130/60 mmHg
kiri bawah keterampilan tentang strategi P : 65 kali/menit
Do : relaksasi, metode menurunkan rasa neyeri R : 21 kali/menit
 Klien tampak lain untuk yaitu dengan teknik  Mengatur posisi tidur klien yaitu dengan posisi S : 36,3’c
meringis meningkatkan distraksi dan relaksasi. teknik kompres semi fowler, hasi klien tampak nyaman dan A : Gangguan rasa nyaman
kesakitan kenyamanan  Atur posisi klin, hangat yang tenang nyeri teratasi sebagian
 Skala nyeri 3 dari pertahankan posisi semi diberikan, akan P : lanjutkan intervensi
rentang 0 - 5 fowler membantu
 Keadaan umum mengurangi rasa
klien lemah nyeri.
T : 130/60 mmHg
N : 80kali/menit dengan
R : 21 kali/menit melakukan teknik
S : 36,3’c distraksi
diharapkan klien
akanupa/teralihka
n dan reaksasi
akan menguragi
komsusi oksigen.
Ketegangan otot
dan diharapkan
rasa nyeri akan
berkurang.
memudahkan
darinase
cairan/luka karena
garvitasi dan
membantu
meminimalkan
rasa nyeri karena
gerakan

2. Gangguan Gangguan eliminasi Kaji frekwensi BAB, Dapat mengetahui Tanggal 2Desember 2016 Tanggal 25 november 2014
eliminasi fekal fekal teratasi konsistensi, warna dan perkembangan Pukul 8.30 WIB Pukul 10.30 WIB
sehubungan dengan criteria hasil bau tindakan  Mengkaji frekwensi BAB, konsistensi, warna S : Klin masih mengeluh
dengan adanya : pengobatan dan bau, hasil klien belum BAB selama 6 hari susah BAB
konsipasi, yang di Klien lancer BAB terhadap keluhan sejak klien masuk rumah sakit O:
tandai dengan :  Bising usus pasien dan dapat Menganjurkan klien untuk latihan mobilisasi,  Klien masih tampak lemah
Ds : normal yaitu 8 Anjurkan klien untuk digunakan untuk hasil klien mampu melakukan mobilisasi yaitu  Bising usus klien 5x/menit
Klien mengeluh x/menit melakukan mobilisasi merencanakan berjalan, makan, dan lain-lain  Abdomen klien masih teraba
susah BAB sesuai dengan keadaan tindakan keras
Do : keadaan pasien selanjutnya. A : gangguan eliminasi fekal
 Klien tampak  Menganjurkan klien untuk banyak minum air belum teratasi
lemah  Anjurkan klien untuk Aktivitas fisik putih, hasil klien dapat minum sehari kurang P : lanjutkan intervensi
 Bising usus banyak minum sesuai membeantu lebih 800 ml.
klien 5x/menit kebutuhannya eliminasi dengan Memberikan penjelasan tentang penyebab
 Abdomen klien memperbaiki konstipasi yaitu dapat disebabkan oleh penurunan
teraba keras  Berikan penjelasan tonus otot peristaltic usus dan penyerapan air yang terlalu

kepada klien dan abdomen dan berlebuh


keluarga tentang merangsang nafsu Memberikan obat rectal yaitu glukolak 1 butir
penyebab konstipasi. makan serat per hari

 Kolabiorasi untuk peristaltik usus.

pemberian obat pencahar Masukan cairan

atau pelancar BAB adekuat


membantu
mempertahankan
konsistensi feses
yang susuai
dengan usus dan
membantu
eliminasi regular.

Konsistensi feses
dapat diakibatkan
oleh penurunan
peristaltic usus
Obat
pencahar/pelancar
BAB dapat
mempelancar
eliminasi fekal
untuk memenuhi
kebutuhan
eliminasi

3. Gangguan Gangguan  Kaji riwayat nutrisi Mengidentifikasi Tanggal 2 Desember2016 Pukul 8.30 WIB Tanggal 25 november 2014
pemenuhan nutrisi kebutuhan nutrisi klien termasuk makanan defisiensi, dan Mengakji riwayat nutrisi klien, hasil klien Pukul 10.00 WIB
sehubungan teratasi dengan yang disukai. menduga makan 3 kali/ hari sebelum sakit S :
dengan adanya Kriteria hasil: kemungkinan  klien sudah tidak mengeluh
mual, yang  Nutrisi klien Observasi dan catat intervensi  Mengobservasi intake makanan, hasil klien mual
ditandai dengan : terpenuhi masukan (intake) selanjutnya makan hanya ½ porsi dan minum kurang lebih  klien sudah mulai nafsu
Ds :  Nafsu makan klien makanan 700 ml/hari makan
 Klien mengeluh meningkat  Berikan makanan O:
mual  Pasien dapat dalam porsi sedikit tetapi  Memberikan mkana dalam posri sedikit tetapi  klien masih tampak lemah
 Klien mengeluh menghabiskan dengan frekwensi sering Mengawasi sering, hasil klien dapat makan ¾ porsi dalam  porsi makan klin sudah
tidak nafsu makan makan dalam 1 masukan beberapa kali makan meningkat menjadi ¾ porsi
kalori/kualitas
Do : porsi  berat badan klien mulai
 Klien tampak  kekurangan  Menganjurkan klien untuk personal hygine
Berat badan klien meningkat menjadi 48.4 Kg
lemah konsumsi sebelum makan, hasil klien tampak senang dan
meningkat dari 47 Kg
makanan nyaman saat makan
 Porsi makan  Berikan dan bantu oral A : gangguan pemenuhan
klien ½ porsi hygine  Memberikan obat anti mual yaitu ranitidin2 x 1
nutrisi teratasi sebagian
amp dengan IV
 Berat badan P : tingkatkan intervensi
Mengawasi
klien turun 7 Kg  Kolaborasi untuk
penurunan berat
dari sebelumnya pemberian obat anti mual
badan atau
52 Kg menjadi 45
Kg dari mengawasi
efektivitas
intervensi.
Makan sedikit
tetapi sering dapat
menurunkan
kelemahan dan
meninkatkan
masukan juga
mencegah distensi
gaster.
Dapat
meningkatkan
nafsu makan dan
masukan peroral

Dengan
memberikan obat
anti mual, dapat
meningkatkan
asupan nutrisi
tanpa terjadi rasa
mual muntah
4. Gangguan pola Gangguan pola Berikan lingkungan Memberikan Tanggal 2 Desember r 2016 Tanggal 25 november 2014
aktivitas aktivitas teratasi tenang dengan ruang gerak untuk Pukul 11.00 WIB Pukul 13.30 WIB
sehubungan dengan Kriteria membatasi pengunjung pasien, sehingga Memberikan lingkungan yang tenang, hasil S : Klien masih engeluh lemas
dengan hasil : paien tidak klien tampak nyaman dan tampak tenang. O:
kelemahan fisik, Klien tidak lemas, Anjurkan klien untuk merasa gerah dan Menganjurkan klien untuk latihan mobilisasi, Klien masih tampak lemah
yang ditandai dan bisa bergerak mobilisasi secara terganggu untuk hasil klien belum mampu mobilisasi seperti Aktivitas klien masih
dengan : Mampu melakukan bertahap sesuai dengan bergerak. berjalan, dan lain-lain dibantu; BAB, BAK, berjalan
aktivitas, bergerak
Ds : dan menunjukan indikasi  Mendekatkann barang-barang klien, hasil klien dan lain-lain
kekuatan otot
Klien mengeluh Memberikan dapat meraih barag-barangnya tanpa ada A : gangguan pola aktivitas
lemas  Dekatkan barang- suatu latihan agar kesulitan belum teratasi
Ds : barang yang dibutuhkan terjadi penigkatan P : lanjitkan intervensi
 Klien tampak klien kekuatan otot dan Menganjurkan keluarga untuk membantu
lemah mencegah memenuhi kebutuhan klien, hasil
 Aktivitas klien kekakuan otot
 Anjurkan keluarga
dibantu, BAK,
klien untuk memenuhi Membatasi gerak
BAB, makan dan
kebutuhan sehari-hari pasien secara
lain-lain
klien berlebihan dan
memberikan
pacuan untuk
pasien berusaha
dengan mudah
menggapainya
Dengan keluarga
membantu semua
aktivitas klien
dapat secara tidak
langsung klien
diikut sertakan
untuk bergerak
CATATAN PERKEMBANGAN
Nama : Ny. L
Umur : 37 th
Diagnosa : Thypoid abdominalis

No Tanggal DS Catatan Pelaksana


1. I S : Klien mengeluh mengeluh nyeri pada
abdomen kiri bawah
O : - klien tampak meringis
- skala nyeri 3 dari rentang 0 -5
- klien tampak lemah
T : 130/60 mmHg R : 21 kali/menit
N : 80 kali/menit S : 36,3’c
A : Gangguan rasa nyaman nyeri
P : - kaji karakteristik, lokasi, durasi,
frekwensi dan intensitas nyeri
- Berikan kompres hangat
- Atur posisi tidur klien, perrahankan osisi
semi fowler
I : - mengkaji karakteristik, lokasi, durasi,
frekwensi dan intensitas nyeri
- Memberikan kompres hangat
- Mengatur posisi tidur klien yaitu semi
fowler
E : m E : Masalah teratasi sebagian
R : Lanjutkan intervensi

2. II S : klien mengeluh susah BAB


O : - klien tampak lemah
- Bising usus klien 5 kali/menit
- Abdmen klien teraba keras
A : Gangguan eliminasi fekal
P : - kaji frekwensi BAB, konsistensi,
warna dan bau
- Anjurkan untuk mobilisasi
- Anjurkan klien untuk banyak minum
- Berikan penjelasan tentang penyebab
kontipaasi
- Kolaborasi untuk pemberian obat
pencahar
I Mengkaji frekwensi BAB, konsistensi,
warna dan bau
- Menganjurkan untuk mobilisasi
- Menganjurkan klien untuk banyak minum
- Memberikan penjelasan tentang penyebab
kontipasi
- Membeikan obat pencahar yaitu glukolak
1 butir perhari
E : masalah belum teratasi
R : Lanjutkan intervensi

3. III S : - klien mengeluh mual


- Klien mengeluh tidak nafsu makan
O : - klien tampak lemah
- Porsi makan klien ½ porsi
- Berat badan klien menurun 7 kg
menjadi 45 Kg
A : gangguan pemenuhan nutrisi
P : - kaji riwayat nutrisi klien
- Observasi masukan intake makan
- Timbang berat badan tiap hari
- Anjurkan klien untuk makan sedikit tetapi
sering
- Berikan oral hygine
- Kolaborasi pemberian obat anti mual
I : - mengkaji riwayat nutrisi klien
- Mengobservasi masukan intake
- Menimbang berat badan tiap hari
- Memberikan oral hygine
- Memberikan obat anti mul yaitu
ranitidine 2 x 1 amp/hari
E : masalah teratasi sebagian
R : lanjutkan intervensi

4. IV S : klien mengeuh lemas Suliati


O : - klien tampak lemah
- Aktivitas klien dibantu BAB, BAK,
makan, berjalan dan lain-lain
A : gangguan pola aktivitas
P : - berikan lingkungan yang tenang
- Anjurkan untuk mobilisasi secara bertahap
- Dekatkan barang-barang klien
- Anjurkan keluarga untuk memenuhi
kebutuhan klien
I : - memberikan lingkungan yang tenang
- Menganjurkan untuk mobilisasi secara
bertahap
- Mendekatkan barang-barang klien
- Menganjurkan keluarga untuk memenuhi
kebutuhan klien
E : masalah belum teratasi
R : Lanjutkan intervensi
DAFTAR PUSTAKA

Marylin E Doengoes. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3 . EGC. Jakarta.


1999.

Barbara Engram, 1998, Keperawatan Medikal Bedah , EGC Jakarta

Marjory Gordon, dkk, 2001, Nursing Diagnoses: Definition & Classification


2001-2002, NANDA

Kuncara, H.Y, dkk, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner &
Suddarth, EGC, Jakarta