Vous êtes sur la page 1sur 31

PRESENTASI KASUS REHABILITASI MEDIS

SEORANG WANITA 37 TAHUN DENGAN PNEUMONIA DAN


PARAPARESE INFERIOR
INFERIOR TIPE SPASTIK
SPASTIK DAN HIPESTESIA SETINGGI
SETINGGI
VERTEBRA THORAKAL X e/c SUSPECT SPONDILITIS TB

oleh:

 Nikmatus Sholihah

2061210013

Pembimbing

DR.Dr.Noer Rachma, Sp.RM

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN REHABILITASI MEDIK 

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

RSUD DR.MOEWARDI

2012
BAB I
PENDAHULUAN

Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan


oleh organisme patogen maupun saprofit, berbentuk batang aerobik dan tahan
asam. Organisme tersebut adalah Mycobacterium tuberculosis (MTB). Sebagian
 besar infeksi MTB menyebar lewat udara dalam bentuk droplet berisi organisme
 basil tuberkel dari seseorang yang terinfeksi yang terhirup individu lain. Selain
mela
melalu
luii salu
salura
ran
n pern
pernaf
afas
asan
an,, MTB
MTB ters
terseb
ebut
ut dapa
dapatt masu
masuk
k mela
melalu
luii salu
salura
ran
n
 pencernaan, dan luka terbuka pada kulit (Suyana,
(Suyana, 2005).
Laporan TB dunia oleh WHO yang terbaru (2006), masih menempatkan
Indonesia sebagai Negara dengan penderita TB terbesar nomor 3 di dunia setelah
India dan Cina dengan jumlah kasus baru sekitar 539.000 dan jumlah kematian
sekitar 101.000 pertahun.
Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995, TB paru merupakan
 penyebab kematian nomor satu untuk penyakit infeksi di Indonesia, dan
merupakan penyebab kematian ketiga terbesar setelah penyakit kardiovaskuler.
Penemuan penderita TB paru menurut Profil kesehatan JawaTengah tahun 2003
sebanyak
sebanyak 10.390.
10.390. Angka
Angka tersebut
tersebut meningkat
meningkat dibanding
dibandingkan
kan tahun sebelumnya
sebelumnya
sebesar 1.742 kasus (Nastiti, 2007).
Spondilitis tuberkulosa merupakan salah satu komplikasi TB paru ke tulang.
Terhit
Terhitung
ung kurang
kurang lebih
lebih 3 juta
juta kemati
kematian
an terjad
terjadii setiap
setiap tahunn
tahunnya
ya dikaren
dikarenaka
akan
n
 penyakit ini. Komplikasi berupa defisit neurologis muncul pada 10-47% kasus
 pasien dengan spondilitis tuberkulosis yang merupakan penyebab paling
seri
sering
ngun
untu
tuk
k kond
kondis
isii para
parapl
pleg
egia
ia non
non trau
trauma
mati
tik.
k. Fakt
Fakta-
a-fa
fakt
ktaa inil
inilah
ah yang
yang
meny
menyeb
ebab
abka
kan
n spon
spondi
dili
liti
tiss tube
tuberk
rkul
ulos
osis
is masih
masih menj
menjad
adii salah
salah satu
satu masa
masalah
lah
keseha
kesehatan
tan hingga
hingga saatini
saatini,, dan merupa
merupakan
kan salah
salah satu
satu sumber
sumber morbid
morbidita
itass dan
mortalitas utama padanegara yang belum dan sedang berkembang, terutama di
Asia, dimana malnutrisi dan kepadatan penduduk masih menjadi masalah utama.
Berikut ini adalah sebuah laporan kasus spondilitis tuberkulosis pada wanita
umur 37 tahun yang dirawat di bangsal pulmonologi RSUD Dr. Moewardi
BAB I
PENDAHULUAN

Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan


oleh organisme patogen maupun saprofit, berbentuk batang aerobik dan tahan
asam. Organisme tersebut adalah Mycobacterium tuberculosis (MTB). Sebagian
 besar infeksi MTB menyebar lewat udara dalam bentuk droplet berisi organisme
 basil tuberkel dari seseorang yang terinfeksi yang terhirup individu lain. Selain
mela
melalu
luii salu
salura
ran
n pern
pernaf
afas
asan
an,, MTB
MTB ters
terseb
ebut
ut dapa
dapatt masu
masuk
k mela
melalu
luii salu
salura
ran
n
 pencernaan, dan luka terbuka pada kulit (Suyana,
(Suyana, 2005).
Laporan TB dunia oleh WHO yang terbaru (2006), masih menempatkan
Indonesia sebagai Negara dengan penderita TB terbesar nomor 3 di dunia setelah
India dan Cina dengan jumlah kasus baru sekitar 539.000 dan jumlah kematian
sekitar 101.000 pertahun.
Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995, TB paru merupakan
 penyebab kematian nomor satu untuk penyakit infeksi di Indonesia, dan
merupakan penyebab kematian ketiga terbesar setelah penyakit kardiovaskuler.
Penemuan penderita TB paru menurut Profil kesehatan JawaTengah tahun 2003
sebanyak
sebanyak 10.390.
10.390. Angka
Angka tersebut
tersebut meningkat
meningkat dibanding
dibandingkan
kan tahun sebelumnya
sebelumnya
sebesar 1.742 kasus (Nastiti, 2007).
Spondilitis tuberkulosa merupakan salah satu komplikasi TB paru ke tulang.
Terhit
Terhitung
ung kurang
kurang lebih
lebih 3 juta
juta kemati
kematian
an terjad
terjadii setiap
setiap tahunn
tahunnya
ya dikaren
dikarenaka
akan
n
 penyakit ini. Komplikasi berupa defisit neurologis muncul pada 10-47% kasus
 pasien dengan spondilitis tuberkulosis yang merupakan penyebab paling
seri
sering
ngun
untu
tuk
k kond
kondis
isii para
parapl
pleg
egia
ia non
non trau
trauma
mati
tik.
k. Fakt
Fakta-
a-fa
fakt
ktaa inil
inilah
ah yang
yang
meny
menyeb
ebab
abka
kan
n spon
spondi
dili
liti
tiss tube
tuberk
rkul
ulos
osis
is masih
masih menj
menjad
adii salah
salah satu
satu masa
masalah
lah
keseha
kesehatan
tan hingga
hingga saatini
saatini,, dan merupa
merupakan
kan salah
salah satu
satu sumber
sumber morbid
morbidita
itass dan
mortalitas utama padanegara yang belum dan sedang berkembang, terutama di
Asia, dimana malnutrisi dan kepadatan penduduk masih menjadi masalah utama.
Berikut ini adalah sebuah laporan kasus spondilitis tuberkulosis pada wanita
umur 37 tahun yang dirawat di bangsal pulmonologi RSUD Dr. Moewardi
BAB II
STATUS PENDERITA

2.1 Anamne
Anamnesa
sa
2.1.
2.1.1
1 Iden
Identi
tita
tass Pen
Pende
deri
rita
ta
 Nama : Ny.T
Umur : 37 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Juwangi Boyolali
Tang
anggal
gal Mas
Masuk
uk : 06
06 Juli
Juli 2012
012
Tang
Tangga
gall Per
Perik
iksa
sa : 07
07 Jul
Julii 201
2012
2
 No. RM : 01094829
2.1.2 Keluhan Utama
Sesak nafas dan tungkai lemah
2.1.
2.1.3
3 Riwa
Riwaya
yatt Peny
Penyak
akit
it Seka
Sekara
rang
ng
 6 bulan
bulan yang
yang lalu
lalu pasien
pasien mulai
mulai sering
sering mengel
mengeluh
uh nyeri
nyeri punggu
punggung
ng
 belakang yang hilang timbul. Nyeri tersebut bertambah ketika pasien
membungkuk dan bergerak ke samping, dan berkurang bila pasien
 berbaring. Semakin hari nyeri tersebut semakin memberat dan pasien
mulai merasa kedua kakinya lemah dan terasa tebal sehingga pasien
tidak kuat berjalan. Selain itu pasien juga mengeluh kadang-kadang
 batuk disertai dahak berwarna putih, tidak berdarah. Pasien juga
mengaku nafsu makannya mulai menurun sehingga berat badannnya
 berkurang dan tampak semakin
s emakin kurus. Pasien kadang-kadang merasa
demam tetapi tidak sampai menggigil, tidak kejang, tidak sesak, tidak 
mual, tidak muntah, tidak mencret, buang air kecil dan buang air besar 
tidak ada keluhan.
keluhan. Pasien berobat
berobat ke RS Dr. Moewardi,
Moewardi, didiagno
didiagnosa
sa
TBC
TBC tula
tulang
ng,, kemu
kemudi
dian
an pasie
pasien
n dibe
diberi
ri obat
obat dan
dan disa
disaran
ranka
kan
n untu
untuk 

kontrol setiap bulan. Setelah 1 bulan minum obat, pasien merasa tidak 
ada perubahan sehingga pasien tidak kontrol lagi dan memutuskan
untuk berobat di pengobatan alternatif. Setelah beberapa bulan berobat
 pasien merasa kakinya sedikit lebih kuat tetapi tetap tidak kuat jalan.

 2 minggu terakhir pasien mengeluh sering sesak nafas yang hilang

timbul, dan 3 hari ini sesak semakin memberat dan terus menerus.
Pasien juga mengeluh sering demam dan berkeringat malam. Kadang-
kadang batuk berdahak, tidak berdarah dan nafsu makan semakin
menurun. BAK tidak ada keluhan, BAB tidak ada keluhan.
2.1.4 Riwayat Penyakit Dahulu
1. Riwayat TB tualng : (+)
2. Riwayat sakit jantung : disangkal
3. Riwayat hipertensi : disangkal
4. Riwayat asma : disangkal
5. Riwayat sakit gula : disangkal
6. Riwayat alergi : disangkal
7. Riwayat trauma sebelumnya : disangkal
2.1.5 Riwayat Penyakit Keluarga
1. Riwayat sakit jantung : disangkal
2. Riwayat hipertensi : disangkal
3. Riwayat sakit paru : (+) ayah
4. Riwayat sakit gula : disangkal
5. Riwayat alergi : disangkal
2.1.6 Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien adalah seorang ibu rumah tangga dari seorang suami dengan 2
orang anak. Pada saat ini pasien menggunakan pembayaran melalui
Jamkesmas.
2.1.7 Riwayat Kebiasaan
1. Riwayat merokok : disangkal
2. Riwayat minum jamu : disangkal
3. Riwayat minum obat-obatan : Pengobatan herbal selama 4 bulan
4. Riwayat minum minuman keras : disangkal
5. Riwayat olah raga teratur : disangkal
2.2 Pemeriksaan Fisik 
2.2.1 Status Generalis
1. Keadaan Umum : lemah, compos mentis GCS E4V5M6, gizi kesan
kurang
2. Tanda Vital :
a. Tensi : 110/70 mmHg
 b. Respirasi : 28x /menit
c. Nadi : 100 x/menit, reguler 
d. Suhu : 36,9 ° C (per axiller)
3. Kulit
Warna kuning, ikterik (-), turgor kurang (-), hiperpigmentasi (-).
4. Kepala
Bentuk mesocephal, rambut hitam, uban (-), lurus, mudah rontok (-),
mudah dicabut (-), moon face (-).
5. Mata
Conjungtiva palpebra pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), katarak (-/-),
 perdarahan palpebra (-/-), pupil isokor dengan diameter (3mm/3mm),
reflek cahaya (+/+), edema palpebra (-/-).
6. Telinga
Sekret (-), darah (-), nyeri tekan mastoideus (-).
7. Hidung
 Nafas cuping hidung (-), sekret (-), epistaksis (-),deformitas (-).
8. Mulut
Sianosis (-), gusi berdarah (-), kering (-), pucat (-), lidah kotor (-),
 papil lidah atrofi (-), stomatitis (-), luka pada sudut bibir (-).
9. Leher  
JVP tidak meningkat , trachea ditengah, simetris, pembesaran tiroid
(-), pembesaran limfonodi cervical (-).
10. Limfonodi
Kelenjar limfe retroaurikuler, submandibuler, servikalis,
supraklavikularis, aksilaris dan inguinalis tidak membesar 
11. Thorax
Bentuk simetris, retraksi intercostal (-), spider nevi (-), pernafasan
toracoabdominal, sela iga melebar (-), muskulus pektoralis atrofi (-),
 pembesaran KGB axilla (-/-).
12. Jantung
a. Inspeksi : ictus cordis tidak  
tampak 
 b. Palpasi : ictus cordis
tidak kuat angkat
c. Perkusi : batas jantung
kesan tidak melebar 
d. Auskultasi : Bunyi
 jantung I-II intensitas normal, reguler, bising (-), gallop (-).
13. Pulmo
a. Inspeksi : pengembangan dada kanan=kiri
 b. Palpasi : fremitus raba kanan=kiri
c. Perkusi : sonor/sonor  
d. Auskultasi : SDV(+/+), Suara tambahan Ronkhi (+/+)
14. Trunk 
a. Inspeksi : deformitas (-), skoliosis (-), kifosis (-), lordosis(-)
 b. Palpasi : massa (-), nyeri tekan (+), oedem (-)
c. Perkusi : nyeri ketok kostovertebra (-)
d. Tanda Patrick/Fabere: (-/-)
e. Tanda Anti Patrick: (-/-)
f. Tanda Laseque/SLR: (-/-)
15. Abdomen
a. Inspeksi : dinding perut sejajar dinding dada
 b. Auskultasi : bising usus (+) normal
c. Perkusi : timpani, pekak alih (-)
d. Palpasi : supel, nyeri tekan (-). Hepar dan lien tidak 
membesar.
16. Genitourinaria : terpasang kateter, ulkus (-), sekret (-), tanda-
tanda radang (-).
17. Ekstremitas

Extremitas superior Extremitas inferior  


Dextra Sinistra Dextra Sinistra
Edema - - - -
Sianosis - - - -
Pucat - - - -
Akral dingin - - - -

18. Range of Motion (ROM)


 Neck Aktif Pasif 

Flexi 0-70o 0-70o

Extensi 0-40o 0-40o

Rotasi ke kanan 0-90o 0-90o

Rotasi ke kiri 0-90o 0-90o

Extremitas Superiror Dextra Sinistra

Aktif Pasif Aktif Pasif  

Shoulder Flexi 0-180o 0-180o 0-180o 0-180o

Extensi 0-30o 0-30o 0-30o 0-30o

Abduksi 0-150o 0-150o 0-150o 0-150o

Adduksi 0-75o 0-75o 0-75o 0-75o

Internal rotasi 0-90o 0-90o 0-90o 0-90o

External rotasi 0-90o 0-90o 0-90o 0-90o

Elbow Flexi 0-1350 0-1350 0-1350 0-1350

Extensi 135-180) 135-180) 135-180) 135-180)

Supinasi 0-90o 0-90o 0-90o 0-90o

Pronasi 0-90o 0-90o 0-90o 0-90o

Wrist Flexi 0-90o 0-90o 0-90o 0-90o


Extensi 0-10o 0-10o 0-40o 0-40o

Ulnar deviasi 0-30o 0-30o 0-30o 0-30o

Radius deviasi 0-30o 0-30o 0-30o 0-30o

Finger  MCP I flexi 0-90o 0-90o 0-90o 0-90o

MCPII,III,IVflexi 0-90o 0-90o 0-90o 0-90o

DIP II,III,IV flexi 0-90o 0-90o 0-90o 0-90o

PIP II,III,IV flexi 0-100o 0-100o 0-100o 0-100o

MCP I extensi 0-30o 0-30o 0-30o 0-30o

Extremitas Inferior Dextra Sinistra

Aktif Pasif Aktif Pasif  

Hip Flexi 0-45o 0-140o 0-45o 0-140o

Extensi 0o 0-30o 0o 0-30o

Abduksi 0-20o 0-45o 0-20o 0-45o

Adduksi 0o 0-45o 0o 0-45o

Knee Flexi 0o 0-130o 0o 0-130o

Extensi 0o 0o 0o 0o

Ankle Dorsoflexi 0-10o 0-40o 0-10o 0-40o

Plantarflexi 0-10o 0-40o 0-10o 0-40o

19. Manual Muscle Testing (MMT)


Ekstremitas Superior Dextra Sinistra

Shoulder Flexor M.deltoideus antor 5 5

M.biceps brachii 5 5

Extensor M.deltoideus antor 5 5

M.teres major 5 5

Abduktor M.deltoideus 5 5
M.biceps brachii 5 5

Adduktor M.latissimus dorsi 5 5

M.pectoralis major 5 5

Rotasi internal M.latissimus dorsi 5 5

M.pectoralis major 5 5

Rotasi eksternal M.teres major 5 5

M.pronator teres 5 5

Elbow Flexor M.biceps brachii 5 5

M.brachialis 5 5

Extensor M.triceps brachii 5 5

Supinator M.supinator 5 5

Pronator M.pronator teres 5 5

Wrist Flexor M.flexor carpi radialis 5 5

Extensor M.extensor digitorum 5 5

Abduktor M.extensor carpi 5 5


radialis

Adduktor M.extensor carpi 5 5


ulnaris

Finger Flexor M.flexor digitorum 5 5

Extensor M.extensor digitorum 5 5

Extremitas Inferior Dextra Sinistra

Hip Flexor M.psoas major 2 2

Extensor M.gluteus maximus 2 2

Abduktor M.gluteus medius 2 2

Adduktor M.adductor longus 2 2

Knee Flexor Hamstring muscles 2 2

Extensor M.quadriceps femoris 2 2

Ankle Flexor M.tibialis 2 2

Extensor M.soleus 2 2
2.2.2 Status Ambulasi : Dependent
2.2.3 Status Psikiatri
1. Emosi : stabil
2. Afeksi : dalam batas normal
3. Proses berfikir : koheren
4. Kecerdasan : dalam batas normal
2.2.4 Status Neurologis
1. Kesadaran : GCS E4V5M6
2. Fungsi luhur : dalam batas normal
3. Fungsi vegetatif : IV line, DC
4. Fungsi sensorik :
 N N

Setinggi dermatom Vth X 


5. Fungsi motorik dan reflek 
a. Ke
5 5
2 2 kua
tan

 b. Tonu
 N N
s
 N N

c. Ref  
+2 +2
lek 
+3 +3
fisiologis

d. Reflek patologis
Babinsky +/+
6. Nervi craniales
a. N.VII : dalam batas normal
 b. N.XII : dalam batas normal
2.3 Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium Darah tanggal 06/07/2012
Hb : 11.2 g/dl
Hct : 33 %
AL : 28.000/ul
AT : 357.000/ul
AE : 4.5/ul
GDS : 124 mg/dl
Ureum : 25 mg/dl
Kreatinin: 0.6 mg/dl
 Natrium :127 mmol/L
Kalium :4.4 mmol/L
Clorida :97 mmol/ L
2. Pemeriksaan Sputum
BTA (-), Gram (+) Coccus
3. Pemeriksaan Radiologi
MRI tanggal 6 Desember 2011
- Alignment vertebra thoracal normal
- Fraktur kompresi korpus VTh 8 dengan posisi posterior margin
 bulging dan menekan pada spinal cord (ada canal stenosis)
- Tampak gambaran abses soft tissue pre-paravertebra yang meluas dan
mendesak neural canal VTh 7-8
- Diskus intervertebralis normal
- Lamina-pedikel tak tampak massa tumor 
- Facet joint-ligamentum flavum normal
Kesan : Stenosis spinal canal e.c fraktur kompresi korpus VTh 8 dengan
 posisi posterior margin bulging dengan gambaran abses soft tissue pre-
 paravertebra yang meluas dan mendesak neural canal VTh 7-8 sesuai
gambaran spondilitis TB
Foto Thorax AP/Lat (tanggal 06 Juli 2012)
- Cor : Besar dan bentuk kesan normal
- Pulmo : Tampak infiltrat tersebar di kedua lapang paru
- Sinus costophrenicus kanan kiri anterior posterior tajam
Kesan : Pneumonia
2.4 Assesment
Klinis : Pneumonia, Paraparese inferior tipe spastik, hipestesi setinggi
dermatom VTh X

Topis : Medula spinalis VTh 8

Etiologi : Suspect Spondilitis TB

2.5 Daftar Masalah


A. Problem Medis
Pneumonia
Paraparese
Hipestesi setinggi dermatom VTh X
B. Problem Rehabilitasi Medis
1. Fisioterapi : Gangguan pernafasan dan tidak bisa menggerakkan
kedua tungkai
2. Terapi wicara : -
3. Terapi okupasi : Gangguan dalam melakukan aktivitas fisik 
4. Sosiomedik : Memerlukan bantuan orang lain untuk melakukan
aktifitas sehari-hari.
5. Orthesa-protesa : Keterbatasan mobilisasi
6. Psikologis :Terapi psikosuportif dalam menghadapi kelemahan
 pada kedua anggota gerak, menurunkan
kecemasan pasien. Mengurangi beban pikiran
 pasien karena penyakit dan kesulitan dalam
melakukan aktifitas sehari-hari.
2.6 Penatalaksanaan
Terapi Medikamentosa
- Infus RL 20 tpm
- Inj Cefuroxime 2 g /24 jam
- Inj Gentamicin 80 mg
- RHZE : 400/300/100/1000
- OBH Syr 3x1C
Terapi Rehabilitasi Medis
1. Fisioterapi
 Breathing exercise  Deep breathing

Pasien latihan untuk inspirasi dan ekspirasi, dilakukan dengan


inspirasi selama 2 detik dan ekspirasi selama 4 detik. Hal ini
dilakukan selama 20 menit setiap hari.

 Stretching exercise sendi yang kaku untuk mencegah kontraktur.

 Strengthening exercise untuk melatih kekuatan otot dan mencegah

atropi otot-otot.

 Positioning dan turning (rubah posisi tiap 2 jam) untuk cegah ulkus

decubitus.

 ROM exercise aktif dan pasif 

2. Terapi okupasi
Latihan mobility (berjalan) secara bertahap, meningkatkan kemandirian
 pasien, melatih keterampilan dalam melakukan aktivitas sehari-hari
3. Sosiomedik 

 Motivasi dan edukasi keluarga tentang penyakit penderita

 Motivasi dan edukasi keluarga untuk membantu dan merawat


 penderita dengan selalu berusaha menjalankan program di RS dan
Home program
4. Ortesa-Protesa

 Pemakaian korset untuk menstabilisasi tulang belakang, misalnya

TLSO

 Memfasilitasi ambulasi dengan pembuatan kursi roda, crutch.

5. Psikologi
a. Memberikan dukungan mental dan konseling pada pasien untuk 
tidak menyerah dan putus asa dalam menghadapi penyakitnya.
 b. Memberi motivasi pasien untuk konsisten melaksanakan program
rehabilitasi.
c. Edukasi pada pasien dan keluarga tentang penyakitnya.
2.7 Impairment, Disability, dan Handicap
Impairment : Paraparese
Disability : Berkurangnya fungsi kedua tungkai
Handicap : Keterbatasan dalam aktifitas sehari-hari, keterbatasan
dalam menjalankan pekerjaan, kegiatan sosial terhambat
2.8 Tujuan

 Perbaikan keadaan umum untuk mempersingkat waktu perawatan

 Mencegah terjadinya komplikasi yang dapat memperburuk keadaan

 Meminimalkan impairment, disability dan handicap

 Membantu penderita sehingga mampu mandiri dalam menjalankan


aktivitas sehari-hari

 Edukasi perihal home program

2.9 Prognosis
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad sanam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi
Spondilitis tuberculosa adalah infeksi yang sifatnya kronis berupa infeksi
granulomatosis disebabkan oleh kuman spesifik yaitu  Mycobacterium
Tuberculosa yang mengenai tulang vertebra. Spondilitis TB disebut juga penyakit
Pott bila disertai paraplegi atau defisit neurologis. Spondilitis ini paling sering
ditemukan pada vertebra Th8-L3 dan paling jarang pada vertebra C2. Spondilitis
TB biasanya mengenai korpus vertebra, sehingga jarang menyerang arkus
vertebra.
Spondilitis tuberkulosa merupakan bentuk paling berbahaya dari
tuberculosis muskuloskeletal karena dapat menyebabkan destruksi tulang,
deformitas dan paraplegia. Kondisi umumnya melibatkan vertebra thorakal dan
lumbosakral. Vertebra thorakal bawah merupakan daerah paling banyak terlibat
(40-50%), dengan vertebra lumbal merupakan tempat kedua terbanyak (35-45%).
Sekitar 10% kasus melibatkan vertebra servikal (Rasjad, 2003).
3.2 Etiologi

Penyakit ini disebabkan oleh karena bakteri berbentuk basil (basilus).


Bakteri yang paling sering menjadi penyebabnya adalah Mycobacterium
tuberculosis, walaupun spesies Mycobacterium yang lainpun dapat juga
 bertanggung jawab sebagai penyebabnya, seperti Mycobacterium africanum
(penyebab paling sering tuberkulosa di Afrika Barat), bovine tubercle baccilus,
ataupun non-tuberculous mycobacteria (banyak ditemukan pada penderita HIV)
(Miller, 1997). Perbedaan jenis spesies ini menjadi penting karena sangat
mempengaruhi pola resistensi obat.
Mycobacterium tuberculosis merupakan bakteri berbentuk batang yang
 bersifat acid-fastnon-motile dan tidak dapat diwarnai dengan baik melalui cara
yang konvensional. Dipergunakan teknik Ziehl-Nielson untuk 
memvisualisasikannya. Bakteri tubuh secara lambat dalam media egg-enriched
dengan periode 6-8 minggu. Produksi niasin merupakan karakteristik 
Mycobacterium tuberculosis dan dapat membantu untuk membedakannnya
dengan spesies lain (Savant, 1997).
2.3 Epidemiologi
Insidensi spondilitis tuberkulosa bervariasi di seluruh dunia dan biasanya
 berhubungan dengan kualitas fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat yang
tersedia serta kondisi sosial di negara tersebut. Saat ini spondilitis tuberkulosa
merupakan sumber morbiditas dan mortalitas utama pada negara yang belum dan
sedang berkembang, terutama di Asia, dimana malnutrisi dan kepadatan penduduk 
masih menjadi merupakan masalah utama. Pada negara-negara yang sudah
 berkembang atau maju insidensi ini mengalami penurunan secara dramatis dalam
kurun waktu 30 tahun terakhir (Savant, 1997). Perlu dicermati bahwa di Amerika
dan Inggris insidensi penyakit ini mengalami peningkatan pada populasi imigran,
tunawisma lanjut usia dan pada orang dengan tahap lanjut infeksi HIV (Medical
Research Council TB and Chest Diseases Unit 1980). Selain itu dari penelitian
 juga diketahui bahwa peminum alkohol dan pengguna obat-obatan terlarang
adalah kelompok beresiko besar terkena penyakit ini (Ombregt, 1995). Di
Amerika Utara, Eropa dan Saudi Arabia, penyakit ini terutama mengenai dewasa,
dengan usia rata-rata 40-50 tahun sementara di Asia dan Afrika sebagian besar 
mengenai anak-anak (50% kasus terjadi antara usia 1-20 tahun).
Pada kasus-kasus pasien dengan tuberkulosa, keterlibatan tulang dan sendi
terjadi pada kurang lebih 10% kasus. Walaupun setiap tulang atau sendi dapat
terkena, akan tetapi tulang yang mempunyai fungsi untuk menahan beban (weight
 bearing) dan mempunyai pergerakan yang cukup besar (mobile) lebih sering
terkena dibandingkan dengan bagian yang lain. Dari seluruh kasus tersebut, tulang
 belakang merupakan tempat yang paling sering terkena tuberkulosa tulang
(kurang lebih 50% kasus)(Gorse et al. 1983), diikuti kemudian oleh tulang
 panggul, lutut dan tulang-tulang lain di kaki, sedangkan tulang di lengan dan
tangan jarang terkena. Area torako-lumbal terutama torakal bagian bawah
(umumnya T 10) dan lumbal bagian atas merupakan tempat yang paling sering
terlibat karena pada area ini pergerakan dan tekanan dari weight bearing mencapai
maksimum, lalu dikuti dengan area servikal dan sakral (Miller 1999).
Defisit neurologis muncul pada 10-47% kasus pasien dengan spondilitis
tuberkulosa. Di negara yang sedang berkembang penyakit ini merupakan
 penyebab paling sering untuk kondisi paraplegia non traumatik. Insidensi
 paraplegia, terjadi lebih tinggi pada orang dewasa dibandingkan dengan anak-
anak.
Hal ini berhubungan dengan insidensi usia terjadinya infeksi tuberkulosa
 pada tulang belakang, kecuali pada dekade pertama dimana sangat jarang
ditemukan keadaan ini(Savant, 1997).
2.4 Patogenesa
Penyakit ini pada umumnya mengenai lebih dari satu vertebra. Infeksi
 berawal dari bagian sentral, bagian depan atau daerah epifisial korpus vertebra.
Kemudian terjadi hiperemi dan eksudasi yang menyebabkan osteoporosis dan
 perlunakan korpus.Selanjutnya terjadi kerusakan pada korteks epifisis, diskus
intervertebralis dan vertebrasekitarnya: Kerusakan pada bagian depan korpus ini
akan menyebabkan terjadinya kifosis.
Kemudian eksudat (yang terdiri atas serum, leukosit, kaseosa, tulang yang
fibrosis serta basil tuberkolusa) menyebar ke depan, di bawah ligamentum
longitudinal anterior. Eksudat ini dapat menembus ligamentum dan berekspansi
ke berbagai arch disepanjang garis ligamen yang lemah. Pada daerah servikal,
eksudat terkumpul di belakang fasia paravertebralis dan menyebar kelateral
dibelakang muskulus sternokleidomastoideus. Eksudat dapat mengalami protrusi
kedepan dan menonjol kedalam faring yang dikenal sebagai abses faringeal.
Abses dapat berjalan kemediastinum mengisi tempat trakea, esofagus atau kavum
 pleura. Abses pada vertebra torakalis biasanya tetap tinggal pada daerah toraks
setempat menempati daerah paraveretebral, berbentuk massa yang menonjol dan
fusiform. Abses pada daerah ini dapat menekan medula spinalis sehingga timbul
 paraplegia. Abses pada daerah lumbal dapat menyebar masuk mengikuti muskulus
 psoas danmuncul di bawah lignamentum inguinal pada bagian medial paha.
Eksudat juga dapat menyebar ke daerah krista mungkin dapat mengikuti
 pembuluh darah femoralis pada trigonum skarpei atau legio glutea (Ayu, 2011).
Kumar membagi perjalanan penyakit ini dalam 5 stadium yaitu
1. Stadium implantasi.Setelah bakteri berada dalam tulang, maka bila daya tahan
tubuh penderita menurun, bakteri akan berduplikasi membentuk koloni yang
 berlangsung selama 6-8 minggu.Keadaan ini umumnya terjadi pada daerah
 paradiskus dan pada anak-anak umumnya pada daerah sentral vertebra
2. Stadium destruksi awal
Setelah stadium implantasi, selanjutnya terjadi destruksi korpus vertebra serta
 penyempitan yang ringan pada diskus. Proses ini berlangsung selama 3-6
minggu.
3. Stadium destruksi lanjut
Pada stadium ini terjadi destruksi yang masif, kolaps vertebra dan terbentuk 
massakaseosa serta pus yang berbentuk cold abses (abses dingin), yang terjadi
23 bulan setelah stadium destruksi awal. Selanjutnya dapat terbentuk 
sekuestrum serta kerusakandiskus intervertebralis. Pada saat ini terbentuk 
tulang baji terutama di sebelah depan (wedging anterior) akibat kerusakan
korpus vertebra, yang menyebabkan terjadinyakifosis atau gibus.
4. Stadium gangguan neurologis
Gangguan neurologis tidak berkaitan dengan beratnya kifosis yang terjadi.
tetapiterutamaI ditentukan oleh tekanan abses ke kanalis spinalis. Gangguan
ini ditemukan10% dari seluruh komplikasi spondilitis tuberkulosa. Vertebra
torakalis mempunyaikanalis spinalis yang lebih kecil sehingga gangguan
neurologis lebih mudah terjadi pada daerah ini
Bila terjadi gangguan neurologis, maka perlu dicatat derajat kerusakan
 paraplegia. yaitu:

 Derajat I

Kelemahan pada anggota gerak bawah terjadi setelah melakukan aktivitas


atau setelah jauh. Pada tahap ini belum terjadi gangguan saraf sensoris.
 Derajat II

Terdapat kelemahan pada anggota gerak bawah tapi penderita masih dapat
melakukan pekerjaannya

 Derajat III
Terdapat kelemahan pada anggota gerak bawah yang membatasi
gerak/aktivitasi penderita serta hipestesia/anestesia

 Derajat IV

Terjadi gangguan saraf sensoris dan motoris disertai gangguan defefekasi dan
miksi. Tuberkulosis paraplegia atau Pott paraplegia dapat terjadi secara dini
atau lambat tergantung dari keadaan penyakitnya. Pada penyakit yang masih
aktif, paraplegia terjadi oleh karena tekanan ekstradural dari abses
 paravertebral atau akibat kerusakan langsung sumsum tulang belakang oleh
adanya granulasi jaringan. Paraplegia pada penyakit yang sudah tidak 
aktif/sembuh terjadi oleh karena tekanan pada jembatan tulang kanalis
spinalis atau oleh pembentukan jaringan fibrosis yang progresif dari jaringan
granulasi tuberkulosa.Tuberkulosis paraplegia terjadi secara perlahan dan
dapat terjadi destruksi tulang disertai angulasi dan gangguan vaskuler 
vertebra. Derajat 1-111 disebut sebagai paraparesis dan derajat IV disebut
sebagai paraplegia.
5. Stadium deformitas residual
Stadium ini terjadi kurang lebih 35 tahun setelah timbulnya stadium
implantasi. Kifosis atau gibus bersifat permanen oleh karena kerusakan
vertebra yang masif di sebelah depan (Erlangga, 2011).
2.5 Penegakan Diagnosis
Gambaran klinis spondilitis tuberkulosa bervariasi dan tergantung pada
 banyak faktor. Biasanya onset Pott's disease berjalan secara mendadak dan
 berevolusi lambat. Durasi gejala-gejala sebelum dapat ditegakkannya suatu
diagnosa pasti bervariasi dari bulan hingga tahun; sebagian besar kasus didiagnosa
sekurangnya dua tahun setelah infeksi tuberkulosa.
Anamnesa dan inspeksi :
1. Gambaran adanya penyakit sistemik : kehilangan berat badan, keringat
malam, demam yang berlangsung secara intermitten terutama sore dan malam
hari serta cachexia. Pada pasien anak-anak, dapat juga terlihat berkurangnya
keinginan bermain di luar rumah. Sering tidak tampak jelas pada pasien yang
cukup gizi sementara pada pasien dengan kondisi kurang gizi, maka demam
(terkadang demam tinggi), hilangnya berat badan dan berkurangnya nafsu
makan akan terlihat dengan jelas.
2. Adanya riwayat batuk lama (lebih dari 3 minggu) berdahak atau berdarah
disertai nyeri dada. Pada beberapa kasus di Afrika terjadi pembesaran dari
nodus limfatikus, tuberkel di subkutan, dan pembesaran hati dan limpa.
3. Nyeri terlokalisir pada satu regio tulang belakang atau berupa nyeri yang
menjalar. Infeksi yang mengenai tulang servikal akan tampak sebagai nyeri di
daerah telingan atau nyeri yang menjalar ke tangan. Lesi di torakal atas akan
menampakkan nyeri yang terasa di dada dan intercostal. Pada lesi di bagian
torakal bawah maka nyeri dapat berupa nyeri menjalar ke bagian perut. Rasa
nyeri ini hanya menghilang dengan beristirahat. Untuk mengurangi nyeri
 pasien akan menahan punggungnya menjadi kaku.
4. Pola jalan merefleksikan rigiditas protektif dari tulang belakang. Langkah
kaki pendek, karena mencoba menghindari nyeri di punggung.
5. Bila infeksi melibatkan area servikal maka pasien tidak dapat menolehkan
kepalanya, mempertahankan kepala dalam posisi ekstensi dan duduk dalam
 posisi dagu disangga oleh satu tangannya, sementara tangan lainnya di
oksipital. Rigiditas pada leher dapat bersifat asimetris sehingga menyebabkan
timbulnya gejala klinis torticollis. Pasien juga mungkin mengeluhkan rasa
nyeri di leher atau bahunya. Jika terdapat abses, maka tampak pembengkakan
di kedua sisi leher. Abses yang besar, terutama pada anak, akan mendorong
trakhea ke sternal notch sehingga akan menyebabkan kesulitan menelan dan
adanya stridor respiratoar, sementara kompresi medulla spinalis pada orang
dewasa akan menyebabkan tetraparesis (Hsu dan Leong 1984). Dislokasi
atlantoaksial karena tuberkulosa jarang terjadi dan merupakan salah satu
 penyebab kompresi cervicomedullary di negara yang sedang berkembang.
Hal ini perlu diperhatikan karena gambaran klinisnya serupa dengan
tuberkulosa di regio servikal (Lal et al. 1992).
6. Infeksi di regio torakal akan menyebabkan punggung tampak menjadi kaku.
Bila berbalik ia menggerakkan kakinya, bukan mengayunkan dari sendi
 panggulnya. Saat mengambil sesuatu dari lantai ia menekuk lututnya
sementara tetap mempertahankan punggungnya tetap kaku (coin test). Jika
terdapat abses, maka abses dapat berjalan di bagian kiri atau kanan
mengelilingi rongga dada dan tampak sebagai pembengkakan lunak dinding
dada. Jika menekan abses ini berjalan ke bagian belakang maka dapat
menekan korda spinalis dan menyebabkan paralisis.
7. Di regio lumbar : abses akan tampak sebagai suatu pembengkakan lunak yang
terjadi di atas atau di bawah lipat paha. Jarang sekali pus dapat keluar melalui
fistel dalam pelvis dan mencapai permukaan di belakang sendi panggul.
Pasien tampak berjalan dengan lutut dan hip dalam posisi fleksi dan
menyokong tulang belakangnya dengan meletakkan tangannya diatas paha.
Adanya kontraktur otot psoas akan menimbulkan deformitas fleksi sendi
 panggul.
8. Tampak adanya deformitas, dapat berupa : kifosis (gibbus/angulasi tulang
 belakang), skoliosis, bayonet deformity, subluksasi, spondilolistesis, dan
dislokasi.
9. Adanya gejala dan tanda dari kompresi medula spinalis (defisit neurologis).
Terjadi pada kurang lebih 10-47% kasus. Insidensi paraplegia pada spondilitis
lebih banyak di temukan pada infeksi di area torakal dan servikal. Jika timbul
 paraplegia akan tampak spastisitas dari alat gerak bawah dengan refleks
tendon dalam yang hiperaktif, pola jalan yang spastik dengan kelemahan
motorik yang bervariasi. Dapat pula terjadi gangguan fungsi kandung kemih
dan anorektal.
10. Pembengkakan di sendi yang berjalan lambat tanpa disertai panas dan nyeri
akut seperti pada infeksi septik. Onset yang lambat dari pembengkakan tulang
ataupun sendi mendukung bahwa hal tersebut disebabkan karena tuberkulosa.
Palpasi
1. Bila terdapat abses maka akan teraba massa yang berfluktuasi dan kulit
diatasnya terasa sedikit hangat (disebut cold abcess, yang membedakan
dengan abses piogenik yang teraba panas). Dapat dipalpasi di daerah lipat
 paha, fossa iliaka, retropharynx, atau di sisi leher (di belakang otot
sternokleidomastoideus), tergantung dari level lesi. Dapat juga teraba di
sekitar dinding dada. Perlu diingat bahwa tidak ada hubungan antara ukuran
lesi destruktif dan kuantitas pus dalam cold abscess.
2. Spasme otot protektif disertai keterbatasan pergerakan di segmen yang
terkena.
Perkusi
Pada perkusi secara halus atau pemberian tekanan diatas prosesus spinosus
vertebrae yang terkena, sering tampak tenderness.
Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium :
- Laju endap darah meningkat (tidak spesifik), dari 20 sampai lebih dari
100mm/jam.
- Tuberculin skin test / Mantoux test / Tuberculine Purified Protein Derivative
(PPD) positif. Hasil yang positif dapat timbul pada kondisi pemaparan dahulu
maupun yang baru terjadi oleh mycobacterium. Tuberculin skin test ini
dikatakan positif jika tampak area berindurasi, kemerahan dengan diameter ³
10mm di sekitar tempat suntikan 48-72 jam setelah suntikan. Hasil yang
negatif tampak pada ± 20% kasus (Tandon and Pathak 1973; Kocen 1977)
dengan tuberkulosis berat (tuberkulosis milier) dan pada pasien yang
immunitas selulernya tertekan (seperti baru saja terinfeksi, malnutrisi atau
disertai penyakit lain)
- Kultur urin pagi (membantu bila terlihat adanya keterlibatan ginjal), sputum
dan bilas lambung (hasil positif bila terdapat keterlibatan paru-paru yang
aktif)
- Apus darah tepi menunjukkan leukositosis dengan limfositosis yang bersifat
relatif.
- Tes darah untuk titer anti-staphylococcal dan anti-streptolysin haemolysins,
typhoid, paratyphoid dan brucellosis (pada kasus-kasus yang sulit dan pada
 pusat kesehatan dengan peralatan yang cukup canggih) untuk menyingkirkan
diagnosa banding.
- Cairan serebrospinal dapat abnormal (pada kasus dengan meningitis
tuberkulosa). Normalnya cairan serebrospinal tidak mengeksklusikan
kemungkinan infeksi TBC. Pemeriksaan cairan serebrospinal secara serial
akan memberikan hasil yang lebih baik. Cairan serebrospinal akan tampak:
1. Xantokrom
2. Bila dibiarkan pada suhu ruangan akan menggumpal.
3. Pleositosis (dengan dominasi limfosit dan mononuklear). Pada tahap akut
responnya bisa berupa neutrofilik seperti pada meningitis piogenik (Kocen
and Parsons 1970; Traub et al 1984).
4. Kandungan protein meningkat.
5. Kandungan gula normal pada tahap awal tetapi jika gambaran klinis sangat
kuat mendukung diagnosis, ulangi pemeriksaan.
6. Pada keadaan arachnoiditis tuberkulosa (radiculomyelitis), punksi lumbal
akan menunjukkan genuine dry tap. Pada pasien ini adanya peningkatan
 bertahap kandungan protein menggambarkan suatu blok spinal yang
mengancam dan sering diikuti dengan kejadian paralisis. Pemberian
steroid akan mencegah timbulnya hal ini (Wadia 1973). Kandungan
 protein cairan serebrospinal dalam kondisi spinal terblok spinal dapat
mencapai 1-4g/100ml.
7. Kultur cairan serebrospinal. Adanya basil tuberkel merupakan tes
konfirmasi yang absolut tetapi hal ini tergantung dari pengalaman
 pemeriksa dan tahap infeksi.
2. Radiologis
Gambarannya bervariasi tergantung tipe patologi dan kronisitas infeksi.
- Foto rontgen dada dilakukan pada seluruh pasien untuk mencari bukti
adanya tuberkulosa di paru (2/3 kasus mempunyai foto rontgen yang
abnormal).
- Foto polos seluruh tulang belakang juga diperlukan untuk mencari bukti
adanya tuberkulosa di tulang belakang. Tanda radiologis baru dapat
terlihat setelah 3-8 minggu onset penyakit.
- Jika mungkin lakukan rontgen dari arah antero-posterior dan lateral.
- Tahap awal tampak lesi osteolitik di bagian anterior superior atau sudut
inferior corpus vertebrae, osteoporosis regional yang kemudian berlanjut
sehingga tampak penyempitan diskus intervertebralis yang berdekatan,
serta erosi corpus vertebrae anterior yang berbentuk scalloping karena
 penyebaran infeksi dari area subligamentous.
- Infeksi tuberkulosa jarang melibatkan pedikel, lamina, prosesus
transversus atau prosesus spinosus.
- Keterlibatan bagian lateral corpus vertebra akan menyebabkan timbulnya
deformita scoliosis (jarang)
- Pada pasien dengan deformitas gibbus karena infeksi sekunder tuberkulosa
yang sudah lama akan tampak tulang vertebra yang mempunyai rasio
tinggi lebih besar dari lebarnya (vertebra yang normal mempunyai rasio
lebar lebih besar terhadap tingginya). Bentuk ini dikenal dengan nama
long vertebra atau tall vertebra, terjadi karena adanya stress biomekanik 
yang lama di bagian kaudal gibbus sehingga vertebra menjadi lebih tinggi.
Kondisi ini banyak terlihat pada kasus tuberkulosa dengan pusat
 pertumbuhan korpus vertebra yang belum menutup saat terkena penyakit
tuberkulosa yang melibatkan vertebra torakal.
- Dapat terlihat keterlibatan jaringan lunak, seperti abses paravertebral dan
 psoas. Tampak bentuk fusiform atau pembengkakan berbentuk globular 
dengan kalsifikasi. Abses psoas akan tampak sebagai bayangan jaringan
lunak yang mengalami peningkatan densitas dengan atau tanpa kalsifikasi
 pada saat penyembuhan. Deteksi (evaluasi) adanya abses epidural
sangatlah penting, oleh karena merupakan salah satu indikasi tindakan
operasi (tergantung ukuran abses).
3. Computed Tomography – Scan (CT)
Terutama bermanfaat untuk memvisualisasi regio torakal dan keterlibatan
iga yang sulit dilihat pada foto polos. Keterlibatan lengkung syaraf 
 posterior seperti pedikel tampak lebih baik dengan CT Scan.
4. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
Mempunyai manfaat besar untuk membedakan komplikasi yang bersifat
kompresif dengan yang bersifat non kompresif pada tuberkulosa tulang
 belakang. Bermanfaat untuk :
 Membantu memutuskan pilihan manajemen apakah akan bersifat

konservatif atau operatif.

 Membantu menilai respon terapi.


Kerugiannya adalah dapat terlewatinya fragmen tulang kecil dan
kalsifikasi di abses.
5. Neddle biopsi / operasi eksplorasi (costotransversectomi) dari lesi spinal
mungkin diperlukan pada kasus yang sulit tetapi membutuhkan
 pengalaman dan pembacaan histologi yang baik (untuk menegakkan
diagnosa yang absolut) (berhasil pada 50% kasus).
6. Diagnosis juga dapat dikonfirmasi dengan melakukan aspirasi pus
 paravertebral yang diperiksa secara mikroskopis untuk mencari basil
tuberkulosa dan granuloma, lalu kemudian dapat diinokulasi di dalam
guinea babi.
2.6 Pengobatan
Pada prinsipnya pengobatan spondilitis tuberkulosa harus dilakukan segera
untuk menghentikan progresivitaspenyakit dan mencegah atau mengkoreksi
 paraplegia atau defisit neurologis. Prinsip pengobatan Pottds paraplegiayaitu:
1. Pemberian obat antituberkulosis.
2. Dekompresi medula spinalis.
3. Menghilangkan atau menyingkirkan produk infeksi.
4. Stabilisasi vertebra dengan graft tulang (bone graft) (Graham, 2007).
Pengobatan pada spondilitis tuberkulosa terdiri dari:
1. Terapi konservatifa.
a. Tirah baring (bed rest).
 b. Memberi korset yang mencegah atau membatasi gerak vertebra.
c. Memperbaiki keadaan umum penderita.
d. Pengobatan antituberkulosa.Standar pengobatan berdasarkan program
P2TB paru yaitu:
Kategori I untuk penderita baru BTA (+/-) atau rontgen (+).
a) Tahap 1 diberikan Rifampisin 450 mg, Etambutol 750 mg, INH 300
mg, dan Pirazinamid 1.500 mgsetiap hari selama 2 bulan pertama (60
kali).
 b) Tahap 2 diberikan Rifampisin 450 mg dan INH 600 mg 3 kali
seminggu selama 4 bulan (54 kali).
Kategori II untuk penderita BTA (+) yang sudah pernah minum obat
selama sebulan, termasuk penderitayang kambuh.
a) Tahap 1 diberikan Streptomisin 750 mg, INH 300 mg, Rifampisin 450
mg, Pirazinamid 1500 mg, danEtambutol 750 mg setiap hari.
Streptomisin injeksi hanya 2 bulan pertama (60 kali) dan obat lainnya
selama 3 bulan (90 kali).
 b) Tahap 2 diberikan INH 600 mg, Rifampisin 450 mg, dan Etambutol
1250 mg 3 kali seminggu selama 5bulan (66 kali). Kriteria
 penghentian pengobatan yaitu apabila keadaan umum penderita
 bertambah baik, LED menurun dan menetap, gejala-gejala klinis
 berupa nyeri dan spasme berkurang, serta gambaran radiologis
ditemukan adanya union pada vertebra.
2. Terapi operatif.
a. Apabila dengan terapi konservatif tidak terjadi perbaikan paraplegia atau
malah semakin berat. Biasanya 3 minggu sebelum operasi, penderita
diberikan obat tuberkulostatik.
 b. Adanya abses yang besar sehingga diperlukan drainase abses secara
terbuka, debrideman, dan bone graft.
c. Pada pemeriksaan radiologis baik foto polos, mielografi, CT, atau MRI
ditemukan adanya penekanan pada medula spinalis (Ombregt, 2005).
Walaupun pengobatan kemoterapi merupakan pengobatan utama bagi
 penderita spondilitis tuberkulosa tetapi operasi masih memegang peranan
 penting dalam beberapa hal seperti apabila terdapat cold absces (abses
dingin), lesi tuberkulosa, paraplegia, dan kifosis.
- Cold absces : Cold absces yang kecil tidak memerlukan operasi karena
dapat terjadi resorbsi spontan dengan pemberiantuberkulostatik. Pada
abses yang besar dilakukan drainase bedah.
- Lesi tuberkulosa
1) Debrideman fokal.
2) Kosto-transveresektomi.
3) Debrideman fokal radikal yang disertai bone graft di bagian depan.
- Kifosis
1) Pengobatan dengan kemoterapi.
2) Laminektomi.
3) Kosto-transveresektomi.
4) Operasi radikal.
5) Osteotomi pada tulang baji secara tertutup dari belakang.Operasi
kifosis dilakukan apabila terjadi deformitas hebat. Kifosis bertendensi
untuk bertambah berat,terutama pada anak. Tindakan operatif berupa
fusi posterior atau operasi radikal (Graham, 2007).

2.7 Komplikasi
1. Cedera corda spinalis (spinal cord injury). Dapat terjadi karena adanya
tekanan ekstradural sekunder karena pus tuberkulosa, sekuestra tulang,
sekuester dari diskus intervertebralis (contoh : Pott’s paraplegia–prognosa
 baik) atau dapat juga langsung karena keterlibatan korda spinalis oleh
 jaringan granulasi tuberkulosa (contoh : menigomyelitis – prognosa
 buruk). Jika cepat diterapi sering berespon baik (berbeda dengan kondisi
 paralisis pada tumor). MRI dan mielografi dapat membantu membedakan
 paraplegi karena tekanan atau karena invasi dura dan corda spinalis.
2. Empyema tuberkulosa karena rupturnya abses paravertebral di torakal ke
dalam pleura.
PNEUMONIA
Pneumonia adalah infeksi yang terjadi pada jaringan parenkim parudan
menyebabkan infiltrat pada paru yang tampak pada rontgen thoraks serta disertai
gejala klinis demam dan gejala gangguan pada respirasi.
Manifestasi klinis yang muncul bisa bervariasi, tidak serta mertamuncul
 bersamaan. Di setiap pasien bisa muncul manifestasi klinis yang berbeda – beda
tetapi gejala yang muncul tetap merupakan ciri – ciri dari pneumonia.Adapun
 beberapa gejala yang bisa muncul adalah
 Demam yang muncul tiba – tiba

 Takipnea (merupakan tanda yang paling sensitif dari pneumonia

 Batuk 

 Muntah

  Nyeri dada

  Nyeri perut

Pemeriksaan Fisik 
Beberapa tanda bisa muncul pada pemeriksaan fisik pada pneumonia.
Misalnya seperti:
• Takipnea (>50x/m jika < usia 1th, > 40 jika usia > 1th)
• Sianosis
• Retraksi
• Ronkhi Basah Kasar 
• Suara pernafasan Bronchial
• Egophony
• Bronchophony
• Whispered pectoriloquy
• Redup pada perkusi
• Tactile fremitus
Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan radiologis thoraks merupakan pemeriksaan yang penting untuk 
dilakukan pada pneumonia. Karena rongent thoraks sangat membantu dalam
mendiagnosis pneumonia. Pada pemeriksaan rongent thoraksakan ditemukan
alveolar atau lobar opasitas yang disertai dengan air bronchograms, unilobar atau
round infiltrat, pneumatoceles dengan necrotizing bacterial pneumonia serta efusi
 pleura. Hal tersebut merupakan ciri pneumoniayang disebabkan oleh bakteri. Jika
disebabkan oleh karena virus akan muncul hiperekspansi,opasitas interstisial yang
difus dan atelektasis.
Terapi
Terapi yang dapat diberikan bisa farmakologis dan non farmakologis.
Terapi farmakologis salah satunya adalah pemberian antibiotik, kortikosteroid
yang bertujuan untuk meringankan infeksi dan proses inflamasi. Sedangkan terapi
non farmakologis atau terapi tambahan ada beberapa, misalnya fisioterapi dada.
Fisioterapi dada pada pneumonia anak merupakan terapi yang masih
kontroversial, karena banyak literatur yang mengatakan fisioterapi dada tidak 
cocok untuk pneumonia (Windi, 2011).
DAFTAR PUSTAKA

1. Ayu. 2011. Spondilitis Tuberkulosis. Diakses tanggal 7 Juli 2012 dari


http://www.scribd.com/doc/85342585/Spondilitis-Tuberculosis
2. CN Za. 2012. Spondilitis Tuberkulosis. Diakses tanggal 7 Juli 2012 dari
http://zahstraces.blogspot.com/2012/06/v-behaviorurldefaultvmlo.html
3. Erlangga. 2011. Spondilitis Tuberkulosis. Diakses tanggal 7 Juli 2012 dari
http://www.scribd.com/doc/79351646/Case-Spondilitis-TB
4. Harsono, 2003. Spondilitis Tuberkulosa dalam Kapita Selekta Neurologi.
Ed. II. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. p. 195-197
5. Lumbantobing SM. 2008. Neurologi Klinik, Pemeriksaan Fisik dan
Mental. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
6. Mansjoer A, dkk. 2000. Spondilitis Tuberkulosis. Kapita Selekta
Kedokteran Jilid 2.
7. Miller F, Horne N, Crofton SJ. Tuberculosis in Bone and Joint. In :
Clinical Tuberculosis.2nd ed.: London : Macmillan Education Ltd, 1999 :
62-6.
8. Ombregt L, Bisschop P, ter Veer H.J, Van de Velde T. Non Mechanical
Disorders of The Lumbar Spine. In : A System of Orthopaedic
Medicine.Philadelphia : W.B. Saunders, 1995 : 615-32.
9. Rasjad C., 2003. Spondilitis Tuberkulosa dalam Pengantar Ilmu Bedah
Ortopedi. Ed.II. Makassar: Bintang Lamumpatue. p. 144-149