Vous êtes sur la page 1sur 26

ASUHAN KEBIDANAN KEGAWATDARURATAN MATERNAL DAN NEONATAL

PADA KALA I DAN II DENGAN PREEKLAMPSIA DAN EKLAMPSIA

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Asuhan Kebidanan Kegawatdaruratan


Maternal dan Neonatal

Disusun Oleh:
Aliya Zachra Chairunissa
Eli Yuliani
Teti Mulyati

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES TASIKMALAYA


PROGRAM STUDI ALIH JENJANG D IV KEBIDANAN
TAHUN 2018

i
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr Wb.
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah S.W.T karena atas rahmat dan karunia-Nya lah
penyusun dapat menyelesaikan makalah yang membahas tentang “Asuhan Kebidanan
Kegawatdaruratan Maternal Dan Neonatal Pada Kala I Dan II Dengan Preeklampsia Dan
Eklampsia”. Makalah ini disusun selain untuk menambah wawasan juga untuk memenuhi tugas
dalam mata kuliah Asuhan Kebidanan Kegawatdaruratan Maternal Dan Neonatal.
Dalam proses penyusunan ini, peneliti banyak mendapatkan bantuan dan dukungan dari
berbagai pihak baik berupa bimbingan dan nasihat. Dalam kesempatan ini penyusun
menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Hj. Entin Jubaedah, SST., M. Keb dan tim selaku Dosen Pengajar mata kuliah Asuhan
Neonatus, Bayi, Dan Anak Balita Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya.
2. Teman-teman yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini penyusun menyadari masih banyak kekurangan, maka kritik
dan saran yang membangun dari berbagai pihak sangat diharapkan demi menambah wawasan
dan pengetahuan serta kemajuan dimasa yang akan datang. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat khususnya bagi penyusun, umumnya bagi pembaca dan mudah-mudahan upaya
penyusun makalah ini senantiasa berada dalam ridho-Nya.

Cirebon, 22 Agustus 2018

Penyusun,

ii
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ........................................................................................................... ii
DAFTAR ISI.......................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .............................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah .......................................................................................... 2
C. Tujuan Penelitian ........................................................................................... 2
D. Manfaat Penelitian ......................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Persalinan ....................................................................................................... 3
B. Preeklampsia .................................................................................................. 8
C. Eklampsia ....................................................................................................... 14
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan .................................................................................................... 22
B. Saran .............................................................................................................. 22
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator mutu pelayanan kesehatan
ibu di suatu negara. Menurut World Health Organization (WHO) pada Tahun 2010,
sebanyak 536.000 ibu meninggal akibat persalinan di seluruh dunia setiap Tahunnya.
Sebanyak 99 % kematian ibu akibat masalah persalinan atau kelahiran terjadi di negara-
negara berkembang. Rasio kematian ibu di negara-negara berkembang merupakan tertinggi
dengan 750 - 1000 kematian per 100.000 KH. Sedangkan di negara-negara maju kematian
ibu akibat masalah persalinan berkisar antara 5 – 10 kematian per 100.000 KH.
AKI di Indonesia sampai saat ini masih cukup tinggi, berdasarkan perhitungan oleh
Badan Pusat Statistik (BPS) diperoleh AKI Tahun 2007 sebesar 228 per 100.000 KH dan
mengalami penurunan menjadi 125 per 100.000 KH pada tahun 2010. Berdasarkan SDKI
2012, rata-rata AKI tercatat mencapai 359 per 100.000 KH. Sedangkan target Milenium
Development Golds (MDG’s) Tahun 2015 yaitu AKI sebesar 102 per 100.000 KH, namun
pada kenyataannya AKI pada tahun 2015 AKI sebesar 305 per 100.000 KH. Sehingga masih
memerlukan kerja keras dari semua komponen untuk mencapai target tersebut.
Menurut Depkes Tahun 2010, penyebab langsung kematian maternal di Indonesia
terkait kehamilan dan persalinan terbanyak disebabkan oleh komplikasi obstetri yaitu
perdarahan 28%, sebab lain yaitu eklampsia 24%, infeksi 11%, partus lama 5 %, dan abortus
5%.
Penyebab Angka Kematian Ibu (AKI) diantaranya karena perdarahan sebesar 28%,
hal tersebut erat kaitannya dengan masalah perdarahan postpartum primer yaitu perdarahan
yang melebihi 500 ml yang terjadi dalam 24 jam pertama setelah bayi lahir. Penyebab lain
yang memungkinkan terjadinya kematian ibu yaitu 3T yang terdiri dari terlambat merujuk,
terlambat pengambilan keputusan, dan terlambat penanganannya. Perdarahan postpartum
primer (early postpartum hemorrhage) merupakan penyebab kematian nomor satu (40%-
60%) kematian ibu melahirkan di Indonesia. Maka semua ibu pasca persalinan harus
dipantau dengan ketat untuk mendiagnosis perdarahan pasca persalinan. Penilaian resiko
pada saat antenatal tidak dapat memperkirakan akan terjadinya perdarahan pascapersalinan.

1
Penanganan aktif kala tiga sebaiknya dilakukan pada semua wanita yang bersalin karena hal
ini dapat menurunkan kejadian perdarahan pascapersalinan (Wiknjosastro: 2002).

B. Rumusan Masalah
Adapun beberapa rumusan masalah yang dapat dibuat mengenai pembuatan makalah
ini, di antaranya:
1. Apa yang dimaksud dengan preeclampsia dalam persalinan?
2. Apa yang dimaksud dengan eklampsia dalam persalinan?
3. Bagaimana asuhan kegawatdaruratan pada persalinan dengan pasien preeclampsia dan
eklampsia?

C. Tujuan Penulisan
Adapun beberapa tujuan yang ingin dicapai berdasarkan rumusan masalah mengenai
pembuatan makalah ini, di antaranya:
1. Agar dapat mengetahui dan mengerti mengenai preeklampsia dalam persalinan.
2. Agar dapat mengetahui dan mengerti mengenai eklampsia dalam persalinan.
3. Agar dapat mengetahui dan mengerti asuhan kegawatdaruratan pada persalinan dengan
preeclampsia dan eklampsia.

D. Manfaat Penulisan
1. Manfaat Teoritis
Diharapkan hasil penulisan ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan dalam
pengetahuan ilmu kebidanan tentang asuhan kegawatdaruratan pada persalinan degan
preeclampsia dan eklampsia.
2. Manfaat Praktis
Diharapkan hasil penulisan ini dapat menjadi bahan pertimbangan untuk
meningkatkan mutu pelayanan kebidanan dalam upaya menurunkan AKI dan AKB
dengan penangan asuhan kegawatdaruratan pada persalinan dengan preeclampsia dan
eklampsia yang tepat.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Persalinan
a. Pengertian Persalinan
Persalinan dan kelahiran merupakan kejadian fisiologis yang normal.
Kelahiran seorang bayi juga merupakan peristiwa sosial yang ibu dan keluarga
menantikannya selama 9 bulan. Ketika persalinan di mulai, peran ibu adalah
melahirkan bayinya, peran petugas kesehatan adalah memantau persalinan untuk
mendeteksi dini adanya komplikasi, di samping itu bersama keluarga memberikan
bantuan dan dukungan pada ibu bersalin (Saifuddin, 2007).
Persalinan normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada
kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang
kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun
pada janin (Yongki dkk, 2012).
Persalinan adalah rangkaian proses yang berakhir dengan pengeluaran hasil
konsepsi oleh ibu. Proses ini dimulai dengan dengan kontraksi persalinan sejati,
yang ditandai oleh perubahan progresif pada serviks dan diakhiri dengan pelahiran
plasenta (Helen Varney, 2007).
Asuhan persalinan adalah asuhan yang bersih dan aman selama persalinan
dan setelah bayi lahir, serta upaya pencegahan komplikasi terutama perdarahan
pasca persalinan, hipotermia, asfiksia pada bayi baru lahir. Sementara itu fokus
utamanya adalah mencegah terjadinya komplikasi.
Pencegahan komplikasi selama persalinan dan setelah bayi lahir akan
mengurangi kesakitan dan kematian ibu serta bayi baru lahir. Penyesuaian ini
sangat penting dalam upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir.
b. Jenis Persalinan
1) Jenis persalinan berdasarkan bentuk terjadinya
a) Persalinan spontan
Persalinan spontan adalah persalinan yang berlangsung dengan
kekuatan ibunya sendiri dan melalui jalan lahir (Sarwono, 2008).

3
b) Persalinan buatan
Persalinan buatan adalah proses persalinan yang berlangsung
dengan bantuan tenaga dari luar, misalnya ekstraksi dengan forceps
atau dilakukan oprasi seksio caesarea (Sarwono, 2008).
c) Persalinan anjuran
Persalinan anjuran adalah bila kekuatan yang di perlukan untuk
persalinan di timbulkan dari luar dengan jalan rangsangan misalnya
pemberian pitocin dan prostaglandin (Sarwono, 2008).
2) Jenis persalinan menurut lama kehamilan dan berat janin menurut Marmi
(2011) yaitu :
a) Abortus
Abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat
hidup di luar kandungan, berat janin <500 gram dan umur kehamilan
<20 minggu.
b) Partus immaturus
Pengeluaran buah kehamilan antara 22 minggu sampai 28 minggu
atau bayi dengan berat badan antara 500-900 gram.
c) Partus Prematurus
Persalinan yang terjadi dalam kurun waktu antara 2836 minggu
dengan berat janin kurang dari 1000-2499 gram.
d) Persalinan Aterm
Persalinan yang terjadi antara umur kehamilan 37 minggu sampai
42 minggu dengan berat janin di atas 2500 gram.
e) Partus Serotinus atau postmaturus
Persalinan postterm (serotinus) adalah persalinan yang melampaui
umur kehamilan 42 minggu dan pada janin terdapat post maturities.
f) Partus Presipitatus
Persalinan yang berlangsung cepat kurang dari 3 jam.
c. Klasifikasi Persalinan
Partus matur atau aterm adalah partus dengan kehamilan 3740 minggu,
janin matur, berat janin diatas 2500 gram, partus prematur adalah dari hasil

4
konsepsi yang dapat hidup tetapi belum aterm/ cukup bulan, berat janin 1000-
2500 gram atau umur kehamilan 28-36 minggu. Partus post matur/ serotinus
adalah partus terjadi dua minggu atau lebih dari waktu yang telah di perkirakan
atau taksiran partus. Abortus adalah penghentian kehamilan sebelum janin
viabel, berat janin kurang dari 1000 gram, umur kehamilan kurang dari 1000
gram , umur kehamilan kurang dari 28 minggu ( Rukiyah, 2009)
d. Sebab-sebab mulainya persalinan
Sebab yang mendasari terjadinya partus secara teoritis masih merupakan
kumpulan teoritis yang kompleks yang turut memberikan andil dalam proses
terjadinya persalinan antara lain: teori hormonal, prostaglandin, struktur uterus,
sirkulasi uterus, pengaruh sarap dan nutrisi hal inilah yang diduga memberikan
pengaruh sehingga partus dimulai (Rukiyah, 2009).
e. Tahapan persalinan
1) Kala I
Pada kala I persalinan dimulainya proses persalinan yang di tandai
dengan adanya kontraksi yang teratur, adekuat dan menyebabkan perubahan
pada serviks sehingga mencapai lengkap, fase kala I persalinan terdiri dari
fase laten yaitu dimulai dari awal kontraksi hingga pembukan mendekati 4
cm, kontraksi mulai teratur tetapi lamanya masih di antara 20-30 detik, tidak
terlalu mules. Fase aktif dengan tanda-tanda kontraksi diatas 3 kali dalam 10
menit, lamanya 40 detik atau lebih dan mules, pembukaan 4 cm hingga
lengkap, penurunan bagian terbawah janin, waktu pembukaan serviks
sampai pembukaan lengkap 10 cm.
Fase pembukaan dibagi menjadi 2 fase, yaitu fase laten : berlangsung
selama 8 jam, pembukaan terjadi sangat lambat sampai mencapai
pembukaan 3 cm dan fase aktif : dibagi dalam 3 fase yaitu fase akselerasi
dalam waktu 2 jam pembukaan 3 menjadi 9 cm, fase deselerasi pembukaan
menjadi lambat kembali dalam 2 jam pembukaan dari 9 cm menjadi
lengkap. Lama kala I untuk primigravida berlangsung 2 jam dengan
pembukaaan 1 cm per jam dalam pada multigravida 8 jam dengan

5
pembukaan 2 jam per jam. Konflikasi yang timbul pada kala 1 yaitu :
Ketuban pecah dini, tali pusat menumbung, gawaat janin, inersia uteri.
2) Kala II
Gejala dan tanda kala II, telah terjadi pembukaan lengkap, tampak
bagian kepala janin melalaui bukaan introitus vagina, ada rasa ingin
meneran saat kontraksi ada dorongan pada rektum atau vagina, perineum
tampak menonjol, vulva dan spingterani memebuka, peningkatan
pengeluaran lendir dan darah.
Dimulai dari pembukaan lengkap (10cm) sampai bayi lahir. Proses ini
biasanya berlangsung 2 jam pada primi dan 1 jam pada multi. Pada kala
pengeluaran janin telah turun masuk ruang panggul sehingga terjadi
penekanan pada otot-otot dasar panggul yang secara reflektoris
menimbulakan rasa mengedan, karna tekanan pada rektum ibu merasa
seperti ingin buang air besar dengan tanda anus membuka. Pada waktu his
kepala janin mulai terlilhat, vulva membuka, perineum membuka, perineum
meregang. Dengan adanya his untuk mengedan, maka lahir kepala diikuti
oleh seluruh badan janin.
Konflikasi yang dapat ditimbulkan pada kala II yaitu : eklamsia,
kegawatdarutan janin, tali pusat menumbung, kepala terhenti, kelelahan ibu,
persalinan lama, ruptur uteri, distosia karena kelainan letak, infeksi
intrapartum, inersia uteri, tandatanda lilitan tali pusat.
3) Kala III
Batasan kala lll, masa setelah lahirnya bayi dan berlangsungnya proses
pengeluaran plasenta, tanda-tanda pengeluaran plasenta yaitu terjadi
prubahan uterus dan tinggi fundus uteri, tali pusat memanjang atau terjulur
keluar melalui vagina atau vulva, adanya semburan darah tiba-tiba. Kala lll
berlangsung tidak lebih dari 30 menit. Setelah bayi lahir uterus teraba keras
dengan fundus uteri agak diatas pusat beberapa menit kemudian uterus
berkontraksi lagi untuk melepaskan plasenta dari dindingnya. Biasanya
plasenta lepas dalam 6 menit sampai 15 menit setelah bayi lahir dan keluar
spontan atau tekanan pada fundus uteri. Pengeluaran palasenta, disertai

6
dengan pengeluaran darah. Komflikasi yang ada pada kala lll adalah
perdarahan akibat atonia uteri, retensio plasenta, perlukaan jalan lahir, tanda
gejala tali pusat.
4) Kala IV
Dimulainya dari saat lahiranya plasenta sampai 2 jam pertama post
partum. Komplikasi yang dapat timbul pada kala IV adalah sub involusi
dikarenakan oleh uterus tidak berkontraksi, perdarahan yang disebabkan
oleh atonia uteri, laserasi jalan lahir, sisa plasenta (Rukiyah, 2009).
f. Tanda-Tanda Persalinan
1) Tanda Persalinan Sudah Dekat
a) Terjadi lightening, kepala turun memasuki PAP terutama primigravida
menjelang minggu ke–36. Lihgtening menyebabkan yaitu terasa ringan
dibagian atas dan rasa sesaknya berkurang, dibagian bawah sesak,
terjadi kesulitan ketika berjalan.
b) Terjadi his permulaan, sifat his permulaaan atau palsu yaitu rasa nyeri
ringan dibagian bawah, datangnya tidak teratur dan durasinya pendek,
tidak ada perubahan pada serviks dan tidak bertambah jika beraktivitas.
2) Tanda Pasti Persalinan, terjadi his persalinan yang sifatnya teratur, interval
makin pendek, kekuatan makin bertambah jika beraktfitas dan mempunyai
pengaruh pada perubahan serviks, pinggang terasa sakit dan menjalar ke
depan, keluar lendir darah serta cairan ketuban (Baety, 2011).
g. Tanda-tanda bahaya persalinan
Ada beberapa tanda-tanda bahaya pada persalinan yang akan mengancam
jiwa di antaranya yaitu syok pada saat persalinan, perdarahan pada saat
persalinan, nyeri kepala, gangguan penglihatan, kejang atau koma, tekanan
darah tinggi, persalinan yang lama, gawat janin dalam persalinan, nyeri perut
hebat, sukar bernafas.
Pada saat memberikan asuhan bagi ibu bersalin, penolong harus selalu
waspada terhadap kemungkinan timbulnya masalah atau penyulit. Menunda
pemberian asuhan kegawatdaruratan akan meningkatkan resiko kematian dan
kesakitan ibu dan bayi baru lahir. Langkah atau tindakan yang akan di pilih

7
sebaiknya dapat memberikan manfaat dan memastikan bahwa proses persalinan
akan berlangsung aman dan lancar sehingga akan berdampak baik terhadap
keselamatan ibu dan bayi yang akan di lahirkan ( JNPKKR,2007).
2. Pre-Eklamsi
a. Pengertian Pre-eklamsi
Pre-Eklamsi dan Eklamsi merupakan kumpulan gejala yang timbul pada
ibu hamil, bersalin, dan selama masa nifas, yang terdiri atas trias gejala, yaitu
hipertensi, proteinuria, dan edema, kadang-kadang disertai konvulsi sampai
koma. Ibu tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda kelainan vaskulear atau
hipertensi sebelumnya (Yulaikhah, 2008:95).
Pre-Eklamsi adalah penyakit yang disebabkan langsung oleh kehamilan
yang ditandai adanya hipertensi, proteinuria, dan edema yang terjadi pada
kehamilan lebih dari 20 minggu yang timbul pada ibu hamil, bersalin, ataupun
ibu nifas.
b. Tanda dan Gejala Pre-Eklamsi
Menurut Sastrawinata (2004:69) tanda Pre-Eklamsi ada tiga, yang biasa
disebut dengan trias Pre-Eklamsi yaitu meliputi :
1) Hipertensi
Tekanan darah sistolik dan diastolik ≥140/90 mmHg. Diukur 2 kali
selang 4 jam setelah penderita istirahat.
2) Edema pada muka, tangan, dan kaki (edema anasarka)
Timbulnya edema didahului oleh penambahan berat badan yang
berlebihan. Penambahan berat badan ini disebabkan oleh retensi air dalam
jaringan dan kemudian baru edema tampak. Edema ini tidak hilang dengan
istirahat.
3) Protein urin positif
Adanya 300 mg protein dalam urin selama 24 jam atau sama dengan
≥1+ dipstic.
Diagnosis Pre-Eklamsi dapat dinyatakan apabila terdapat 2 atau lebih
tanda dari trias Pre-Eklamsia tersebut. Pre-Eklamsi dapat menimbulkan
gejala-gejala subjektif yang dapat dirasakan oleh penderitanya. Menurut

8
Sastrawinata (2004:69) gejala-gejala subjektif yang umum ditemukan pada
Pre-Eklamsi yaitu:
1) Sakit kepala yang hebat karena vasospasme atau edema otak.
2) Sakit di ulu hati karena regangan selaput hati oleh perdarahan atau
edema atau sakit karena perubahan pada lambung.
3) Gangguan penglihatan, gangguan ini disebabkan vasospasme, edema,
atau ablatio retinae.
c. Etiologi
Etiologi penyakit ini belum diketahui secara pasti. Teori yang terkenal
sebagai penyebab Pre-Eklamsi adalah teori iskemia plasenta. Akan tetapi, teori
ini belum dapat menerangkan semua hal yang berkaitan dengan Pre-Eklamsi
(Yulaikhah, 2008:96). Menurut Yulaikhah (2008:96) faktor-faktor yang
memengaruhi terjadinya Pre-Eklamsia adalah :
1) Jumlah primigravida, terutama primigravida muda.
2) Distensi rahim yang berlebihan, seperti hidramnion, hamil ganda, mola
hidatidosa.
3) Penyakit yang menyertai kehamilan, seperti diabetes mellitus (DM),
kegemukan.
4) Jumlah umur ibu kurang dari 20 tahun atau diatas 35 tahun.
5) Pre-Eklamsi berkisar antara 3%-5% dari kehamilan yang dirawat.
d. Patofisiologi
Patofisiologi Pre-Eklamsi-Eklamsi setidaknya berkaitan dengan perubahan
fisiologis kehamilan. Adaptasi fisiologis normal pada kehamilan meliputi
peningkatan volume plasma darah, vasodilatasi, penurunan resistensi vaskular
sistemik (systemic vascular resistance [SVR]), peningkatan curah jantung, dan
penurunan tekanan osmotik koloid. Pada Pre-Eklamsi, volume plasma yang
beredar menurun, sehingga terjadi hemokonsentrasi dan peningkatan hematokrit
maternal. Perubahan ini membuat perfusi organ maternal menurun, termasuk
perfusi ke unit janin-uteroplasenta. Vasospasme siklik lebih lanjut menurunkan
perfusi organ dengan menghancurkan sel-sel darah merah, sehingga kapasitas
oksigen maternal menurun (Bobak, 2004:630).

9
e. Klasifikasi Pre-Eklamsi berdasarkan tanda Pre-Eklamsi
Menurut Achadiat (2004:4) Pre-Eklamsi digolongkan menjadi 2 golongan :
1) Pre-Eklamsi ringan :
a) Tekanan darah ≥140/90 mmHg sampai < 160/110 mmHg
b) Proteinuria kuantitatif ≥ 0,3 gr perliter dalam 24 jam atau kualitatif 1+
atau 2 +.
c) Edema kaki, jari tangan dan muka.
d) Kenaikan BB > 1 kg/minggu.
e) Pre-Eklamsi berat
f) Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih.
g) Proteinuria 5 gr atau lebih perliter dalam 24 jam atau kualitatif 3+ atau
4+.
h) Oliguria yaitu jumlah urine kurang dari 500 cc per 24 jam.
i) Adanya gangguan serebral, gangguan penglihatan, dan rasa nyeri di
epigastrum.
j) Terdapat edema paru dan sianosis.
k) Trombositopenia (gangguan fungsi hati)
l) Pertumbuhan janin terhambat.
2) Komplikasi Pre-Eklamsi Berat
Dalam buku Penuntun kepaniteraan klinik obstetri dan ginekologi
yang ditulis oleh Manuaba (2003:105) Pre-Eklamsi berat dapat
menimbulkan komplikasi-komplikasi pada pasien, yaitu sebagai berikut:
a) Solusio plasenta
b) Payah ginjal
c) Payah jantung
d) Payah paru yang disebabkan edema
e) Lever karena nekosis
f) Perdarahan otak
g) Help sindroma
h) Hemolisis
i) Eleved lever enzyms

10
j) Low platelet
f. Pencegahan Pre-Eklamsi
Beberapa pencegahan Pre-Eklamsi menurut Yulaikhah (2008:100) meliputi:
1) Lakukan pemeriksaan kehamilan yang teratur dan bermutu serta teliti.
2) Waspadai kemungkinan Pre-Eklamsi jika ada faktor predisposisi.
3) Beri penyuluhan tentang manfaat istirahat dan tidur, ketenangan, diet rendah
garam, lemak serta karbohidrat, diet tinggi protein, menjaga kenaikan berat
badan.
g. Penanganan Pre-Eklamsi
Tujuan utamanya adalah mencegah terjadinya Eklamsi, mempertahankan
janin tetap lahir hidup, dan menciptakan seminimal mungkin trauma pada janin.
Penanganan Pre-Eklamsi berdasarkan tingkatannya menurut Yulaikhah
(2008:101) yaitu:
1) Pre-Eklamsi ringan
a) Beri diet rendah garam
b) Beri obat penenang (valium, fenobarbital)
c) Hindari pemberian diuretik dan antihipertensi
d) Pantau keadaan janin
e) Persalinan dapat dilakukan spontan bila perlu memperpendek kala II
dengan vakum atau forceps.
f) Jika ada indikasi, lakukan seksio cesarea (SC).
2) Pre-Eklamsia berat
a) Beri diet rendah garam dan tinggi protein.
b) Pasang infus RL atau asering.
c) Pemantauan tanda-tanda vital.
d) Beri antikonvulsan : obat pilihan MgSO4 (magnesium sulfat), alternatif
diazepam.
e) Beri obat antihipertensi: obat pilihan hidralazin; alternatif labetolo,
nifedipin, metildopa.
f) Hindari pemberian diuretik, kecuali pada edema umum, edema paru,
gagal jantung kongestif.

11
g) Persingkat kala II dengan vakum atau forceps.
h) Jika partus pervaginam, dalam 24 jam bayi harus lahir.
i) Hindari pemberian metergin pascapartum, kecuali ada perdarahan
hebat.
j) Jika ada indikasi, lakukan seksio cesarea (SC).
h. Pengobatan medisinal
1) Obat anti kejang
a) MgSO4 (magnesium sulfat)
Pada kasus Pre-Eklamsi yang berat, magnesium sulfat yang
diberikan secara parenteral adalah obat antikejang yang efektif tanpa
menimbulkan depresi susunan saraf pusat baik pada ibu maupun
janinnya. Obat ini dapat diberikan secara intravena melalui
infus kontinu atau intramuskular dengan injeksi intermiten. Persalinan
dan pelahiran merupakan saat kemungkinan besar terjadinya kejang,
wanita dengan Pre-Eklamsi berat biasanya diberi magnesium sulfat
selama persalinan dan selama 24 jam post partum (Cunningham,
2005:660).
Cara pemberian magnesium sulfat pada pasien Pre-Eklamsi berat
menurut Cunningham (2005:660) yaitu:
2) Infus intravena Kontinyu
a) Berikan dosis bolus 4 sampai 6 gram magnesium sulfat yang diencerkan
dalam 100 ml cairan intravena dan diberikan dalam 15-20 menit.
b) Mulai infus rumatan dengan dosis 2 gram/jam dalam 100 ml cairan
intravena.
c) Magnesium sulfat dihentikan 24 jam setelah bayi lahir.
3) Injeksi intramuscular intermiten
a) Berikan 4 gram magnesium sulfat sebagai larutan 20% secara intravena
dengan kecepatan tidak melebihi 1 gram/menit.
b) Lanjutkan segera dengan 10 gram larutan magnesium sulfat 50%,
separuhnya (5 gram) disuntikkan dalam-dalam di kuadran lateral atas
bokong (penambahan 1 ml lidokain 2 % dapat mengurangi nyeri).

12
c) Setiap 4 jam sesudahnya berikan 5 gram larutan magnesium sulfat 50%
yang disuntikkan dalam-dalam ke kuadran lateral atas bokong
bergantian kiri-kanan, tetapi hanya setelah dipastikan bahwa reflek
patela masih baik, tidak terdapat depresi pernapasan, pengeluaran urin
selama 4 jam sebelumnya melebihi 100 ml.
d) Magnesium sulfat dihentikan 24 jam setelah pelahiran.
Cara pemberian Magnesium sulfat (MgSO4) menurut Achadiat dalam
bukunya yang berjudul Prosedur Tetap Obstetri dan Ginekologi
(2004:13) yaitu:
(1) Dosis awal (loading dose) 4-6 gram intravena dengan kecepatan
pemberian tidak lebih dari 1 gram/menit.
(2) Diikuti dengan pemberian secara infus (drip) dengan dosis 1,5-2
gram/jam, agar dicapai kadar serum 4,8-8,4 mg/dL (4-7 mEq/L).
(3) Bila masih terjadi kejang dengan pemberian di atas, dapat diberikan
diazepam 5-10 mg intravena atau amobarbital 250 mg intravena.
(4) Penggunaan MgSO4biasanya sampai 24 jam setelah bayi lahir, atau
setelah produksi urine normal kembali.
Syarat-syarat pemberian MgSO4 menurut Sastrawinata (2004 :75) yaitu:
(1) Harus tersedia antidotum, yaitu kalsium glukonas 10% (1 graam
dalam 10 cc).
(2) Frekuensi pernapasan ≥16 kali per menit.
(3) Produksi urin ≥30 cc per jam (≥0,5 cc/kg BB/jam).
(4) Reflek patela positif
MgSO4 dihentikan pemberiannya apabila:
(1) Ada tanda-tanda intoksikasi.
(2) Setelah 24 jam pasca persalinan.
(3) Dalam 6 jam pasca persalinan, sudah terjadi perbaikan (normo
tensif).
e) Diazepam
Diazepam hanya dipakai jika MgSO4 tidak tersedia. Cara pemberian
diazepam menurut Sastrawinata (2004:75) yaitu:

13
Pemberian melalui intravena
(1) Dosis awal
Diazepam 10 mg intravena pelan-pelan selama 2 menit
(2) Dosis pemeliharaan
(a) Diazepam 40 mg dalam 500 ml larutan ringer laktat per infus.
(b) Depresi pernapasan ibu mungkin akan terjadi jika dosis >30
mg/jam
(c) Jangan berikan >100 mg/24 jam.
f) Obat antihipertensi
Obat hipertensi yang diberikan pada pasien Pre-Eklamsi menurut
Sastrawinata (2004:75) yaitu:
a) Obat pilihan hidralazin: 5 mg intravena pelan-pelan tiap 5 menit,
jika perlu diulang tiap jam atau 12,5 mg/2 jam.
b) Alternatif: labetolol, nifedipin, metildopa.
(1) Labetolol 10 mg intravena, jika tidak ada respon 20 mg
intravena, dosis dapat dinaikkan sampai 40 hingga 80 mg.
(2) Nifedipin 30 mg/hari per oral.
(3) Metildopa 3x250-500 mg/hari.
3. Eklampsia
Eklampsia adalah kelainan akut pada wanita hamil, dalam persalinan atau masa
nifas yang ditandai dengan timbulnya kejang (bukan timbul akibat kelianan
neurologik) dan atau koma dimana sebeblumnya sudah menunjukkan gejala – gejala
pre eklampsia (asuhan patologi kebidanan, 2009).
Eklampsia merupakan kasus akut pada penderita preeclampsia, yang disertai
dengan kejang menyeluruh dan koma. (ilmu kebidanan, 2010).
Eklampsia lebih sering terjadi pada primagravidae dari pada multiparae.
Eklampsia juga sering terjadi pada : kehamilan kembar, hydramnion, mola
hidatidosa. Eklampsia post partum umumnya hanya terjadi dalam waktu 24 jam
pertama setelah persalinan.
a. Jenis-jenis eklampsi
Menurut saat terjadinya eklampsia kita mengenal istilah :

14
1) Eklampsia antepartum ialah eklampsia yang terjadi sebelum persalinan
2) Eklampsia intrapartum ialah eklampsia sewaktu persalinan
3) Eklampsia postpartum ialah eklampsia setalah persalinan
b. Gejala eklampsia
Eklampsia selalu didahului oleh gejala – gejala preeklampsia yang berat seperti :
1) Sakit kepala yang keras
2) Penglihatan kabur
3) Nyeri diulu hati
4) Kegelisahan dan hyperrefleksi sering mendahuli serangan kejang.
c. Serangan dapat dibagi dalam 4 tingkat :
1) Tingkat invasi (tingkat permulaan)
Mata terpaku, kepala dipalingkan kesatu pihak, kejang –kejang hals terlihat
pada muka. Tingkat ini berlangsung beberapa detik.
2) Tingkat kontraksi (tingkat kejang tonis)
Seluruh badan menjadi kaku, kadang- kadang terjadi ephistholonus, lamanya
15 sampai 20 detik.
3) Tingkat konvulsi (tingkat kejang clonis)
Terjadilah kejang yang timbul hilang, rahang membuka dan menutup begitu
pla mata, otot –otot muka dan otot badan berkontraksi dan berelaksasi
berulang. Kejang ini sangat kuat hingga pasien dapat terlempar dari temapt
tidur atau lidahnya tergigit. Ludah yang berbuih bercampur darah keluar dari
mulutnya, mata merah, muka biru, berangsur kejang berkurang dan akhirnya
berhenti. Lamanya ± 1 menit.
4) Tingkat coma
Setelah kejang clonis ini pasien jatuh dalam coma. Lamanya coma ini dari
beberapa menit sampai berjam –jam. Kalau pasien sadar kembali maka ia
tidak ingat sama sekali apa yang telah terjadi.
d. Gejala klinis :
1) Kehamilan lebih 20 minggu atau persalinan atau masa nifas
2) Tanda – tanda pre eklampsia (hipertensi, edema dan proteinuria)
3) Kejang dan atau koma

15
4) Kadang – kadang disertai gangguan fungsi organ.
Setelah beberapa waktu, terjadi serangan baru dan kejadian yang dilukiskan
diatas berulang lagi kadang –kadang 10 – 20 kali.
Sebab kematian eklampsia adalah odema paru –paru, apoplexy dan
acidosis. Atau pasien mati setelah beberapa hari karena pneumoni aspirasi,
kerusakan hati atau gangguan faal ginjal. Kadang–kadang terjadi eklampsia
tanpa kejang ;gejala yang menonjol ialah coma. Eklampsia se,acam ini disebut
eklampsia sine eklampsia dan terjadi pada kerusakan hati yang berat. Karena
kejang merupakan gejala yang khas dari eklampsia maka eklampsia sine
eklampsia sering dimasukkan preeklampsia yang berat. Pada eklampsia tekanan
darah biasanya tinggi sekitar 180/110 mmHg.
Nadi kat dan berisi tetapi kalau keadaan sudah memburuk menjadi kecil
dan cepat. Demam yang tinggi memburuk prognosa. Demam ini rupa–rupanya
cerebral. Pernafasan biasanya cepat dan berbunyi, pada eklampsia yang berat ada
cyanosis.
Proteinuria hamper selalu ada malahan kadang – kadang sangat banyak juga
odema biasanya ada. Pada eklampsia antepartum biasanya persalianan mulai
setelah beberapa waktu. Tapi kadang –kadang pasien berangsr baik tidak kejang
lagi dan sadar sedangkan kehamilan ters berlangsung.
Eklampsia yang tidak segera disusul dengan persalinan disebut eklampsia
intercurrent. Dianggap bahwa pasien yang sedemikian bukan sembuh tapi jatuh
ke tingkat yang lebih ringan ialah dari eklampsia ke dalam keadaan
preeklampsia. Jadi kemngkinan eklampsia tetap mengancam pasien semacam ini
sebelum persalianan terjadi.
Setelah persalianan keadaan pasien berangsr baik, kira – kira dalam 12 – 24
jam. Juga kalau anak mati didalam kandungan sering kita lihat bahwa beratnya
penyakit berkurang. Proteinria hilang dalam 4 – 5 hari sedangkan tekanan darah
normal kembali dalam kira –kira 2 minggu. Ada kalanya pasien yang telah
menderita eklampsia menjadi psychotis, biasanya pada hari ke 2 atau ke 3
postpartum dan berlangsung 2 – 3 mingg. Prognosa pada munya baik, penyulit
laiannya ialah hemiplegic dan ganguuan penglihatan karena odema retina.

16
e. Patologi Eklampsia
Pada wanita yang mati karena eklampsia terdapat kelainan pada hati, ginjal,
otak, dan paru – paru dan jantung. Pada umumnya dapat ditemukan necrose,
haemorrhagia, odema, hyperaemia atau ischaemia dan thrombosis. Pada placenta
terdapat infakt – infarct karena degenarasi syncytium. Perubahan lain yang
terdapat ialah retensi air dan natrium, haemokonsentrasi dan kadang – kadang
acidosis.
f. Etiologi eklampsia
Sebab eklampsia belum diketahui benar, salah satu teori yang dikemukakan
ialah bahwa eklampsia disebabakan ischaemia rahim dan plasenta (ischaemia
uteroplacenta). Selama kehamilan uterus memerlukan darah lebih banyak. Pada
molahydatidosa, hidramnion, kehamilan ganda, multipara, pada akhir kehamilan,
pada persalinan, juga pada penyakit pembuluh darah ibu, diabetes, perdarahan
darah dalam dinding rahim kurang, maka keluarlah zat- zat dari plasenta atau
decidua yang menyebabkan vasospasmus dan hypertensi.
g. Diagnose Eklampsia
Untuk diagnose eklampsia harus dikesampingkan keadaan –keadaan lain
dengan kejang dan coma seperti ureami, keracunan, epilepsy, hysteri,
ebcephalitis, meningitis, tumor otak,dan atrofi kuning akut dari hati. Diagnose
eklampsia lebih 24 jam postpartum harus dicurigai.
h. Prognosis Eklampsia
Eklampsia adalah suatu keadaan yang sangat berbahaya maka prognosa
kurang baik untuk ibu maupun anak. Prognosa juga dipengaruhi oleh paritas
artinya prognosa bagi multiparae lebih buruk, dipengaruhi juga oleh umur
terutama kalau umur melebihi 35 tahun dan juga oleh keadaan pada waktu
pasien masuk rumah sakit. Juga diurese dapat dipegang untuk prognosa jika
diurese lebih dari 800 cc dalam 24 jam atau 200 cc tiap 6 jam maka prognosa
agak baik. Sebaiknya oliguri dan anuri merupakan gejala yang buruk.
Gejala –gejala lain memberikan prognosa dikemukakan oleh Eden ialah :
1) Coma yang lama
2) Nadi di atas 120

17
3) Suhu di atas 390 C
4) Tensi di atas 200 mmHg
5) Lebih dari 10 serangan
6) Proteinuria 10 gram sehari sehari atau lebih
7) Tidak adanya odema.
Odema paru –paru dan apoplexy merupakan keadaan yang biasanya
mendahului kematian.
i. Perawatan eklampsia
Perawatan dasar eklampsia ialah terapi suportif untuk stabilisasi fungsi
vital, yang harus selalu diingat airway, breathing, circulation (ABC), mengatasi
dan mencegah kejang, mengatasi hipoksemia dan asidemia, mencegah trauma
pada pasien pada waktu kejang, mengendalikan tekanan darah, khususnya pada
waktu krisis hipertensi, melahirkan janin pada waktu yang tepat dan dengan cara
yang tepat.
Perawatan medikamentosa dan perawatan suportif eklampsia merupakan
peraatan yang sangat penting. Tujuan utama pengobatan medikamentosa
eklampsia ialah mencegah dan menghentikan kejang, mencegah dan mengatasi
penyulit, khususnya hiprtensi krisis, mencapai stabilisasi ibu seoptimal mungkin
sehingga dapat melahirkan janin pada saat dan dengan cara yang tepat.
j. Pengobatan medikamentosa
1) Obat anti kejang
Obat anti kejang yang menjadi pilihan utama ialah magnesium sulfat.
Bila dengan jenis obat ini kejang masih sukar diatasi, dapat dipakai obat
jenis lain, misalnya thiopental. Diazepam dapat dipakai sebagai alternative
pilihan, namun mengingat dosis yang diperlukan sangat tinggi, pemberian
diazepam hanya dilakukan oleh mereka yang telah berpengalaman.
Pemberian diuretikum hendaknya selalu disertai dengan memonitor plasma
elektrolit. Obat kardiotinika ataupun obat-obat anti hipertensi hendaknya
selalu disiapkan dan diberikan benar-benar atas indikasi.
2) Magnesium sulfat (MgSO4)

18
Pemberian magnesium sulfat pada dasarnya sama seperti pemberian
magnesium sulfat pada preeclampsia berat. Pengobatan suportif terutama
ditujukan untuk gangguan fungsi organ-organ penting, misalnya tindakan-
tindakan untuk memperbaiki asidosis, mempertahankan pentilasi paru-paru,
mengatur tekanan darah, mencegah dekompensasi kordis.
Pada penderita yang mengalami kejang dan koma, nursing care sanga
penting, misalnya meliputi cara-cara perawatan penderita dalam suatu
kamar isolasi, mencegah aspirasi, mengatur infuse penderita, dan
monitoring produksi urin.
3) Perawatan pada waktu kejang
Pada penderita yang mengalami kejang, tujuan pertama pertologan
ialah mencegah penderita mengalami trauma akibat kejang-kejang tersebut.
Dirawat di kamar isolasi cukup terang, tidak di kamar gelap, agar bila
terjadi sianosis segera dapat diketahui. Penderita dibaringkan di tempat tidur
yang lebar, dengan rail tempat tidur harus dipasang dan dikunci dengan
kuat. Selanjutnya masukkan sudap lidah ke dalam mulut penderita dan
jangan mencoba melepas sudap lidah yang sedang tergigit karena dapat
mematahkan gigi. Kepala direndahkan dan daerah orofarim diisap.
Hendaknya dijaga agar kepala dan ekstremitas penderita yang kejang tidak
terlalu kuat menghentak-hentak benda keras disekitarnya. Fiksasi badan
pada tempat tidur harus cukup kendor, guna menghindari fraktur. Bila
penderita selesai kejang-kejang, segera beri oksigen45.
4) Perawatan koma
Perlu diingat bahwa penderita koma tidak dapat beraksi atau
mempertahankan diri terhadap suhu yang ekstrim, posisi tubuh yang
menimbulkan nyeri dan aspirasi, karena hilangnya reflex muntah. Ahaya
terbesar yang mengancam penderita koma, ialah terbuntunya jalan napas
atas. Setiap penderita EKLAMPSIA yang jatuh dalm koma harus dianggap
bahwa jalan napas atas terbuntu, kecuali dibuktikan lain.
Oleh karena itu, tindakan pertama-tama pada penderita yang jatuh,
(tidak sadar), ialah menjaga dan mengusahakan agar jalan napas atas tetap

19
terbuka. Untuk menghindari terbuntunya jalan napas atas oleh pangkal lidah
dan epiglottis dilakukan tindakan sebagai berikut. Cara yang sederhana dan
cukup efektif dalam menjaga terbukanya jalan napas atas, ialah dengan
maneuver head tilt-neck lift, yaitu kepala direndahkan dan leher dalam
posisi ekstensi ke belakang atau head tilt- chain lift, dengan kepala
direndahkan dan dagu ditarik ke atas, atau jaw-thrust, yaitu mandibula kiri-
kanan di ekstensikan ke atas sambil mengangkat kepala ke belakang.
Tindakan ini kemudian dapat dilanjutkan dengan pemasangan orophary
haringeal airway46 . hal penting ke dua yang perlu diperhatikan ialah bahwa
penderita, akan kehilangan reflex muntah sehingga kemungkinan terjadinya
aspirasi bahan lambung sangat besar. Lambung ibu hamil harus selalu
dianggap sebagai lambung penuh. Oleh karena itu, semua benda yang ada
dalam rongga mulut dan tenggorokan, baik berupa lender maupun sisa
makanan, hars segera diiasap secara intermiten. Penderita ditidurkan dalam
posisi stabil untuk drainase lendir.
Monitoring kesadaran dan dalamnya, memakai Glasgow, coma
escale.pada perawatan koma perlu diperhatikan pencehgahan dekubitus dan
makanan penderita. Pada koma yang lama, bila nutrisi tidak mungkin; dapat
diberikan melalui nasograstrik tube (NGT).
5) Perawatan edema paru
Bila terjadi edema paru sebaiknya penderita di rawat di ICU karena
membutuhkan perawatan animasi dengan respirator.
k. Pengobata obstetric
Sikap terhadap kehamilan ialah semua kehamilan dengan eklampsia harus
diakhiri, tanpa memandang kehamilan dan keadaan janin. Persalinan diakhiri
bila sudah mencapai stabilisasi (pemulihan). Hemodinamika dan metabolism
ibu.
Pada perawatan pasca persalinan, bila persalinan terjadi pervaginam,
monitoring tanda-tanda vital dilakukan sebagaimana lazimnya.
4. Penanganan kejang
1) Selalu ingat ABC (airway, breathing, circulation)

20
2) Beri obat anti kejang
3) Beri oksigen 4-6 liter per menit
4) Lindungi pasien dari kemungkinan trauma, tetapi jangan diikat terlalu keras
5) Baringkan pasien pada sisi kiri untuk mengurangi resiko aspirasi
6) Setelah kejang, aspirasi mulut dan tenggorokan jika perlu

21
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Asuhan persalinan adalah asuhan yang bersih dan aman selama persalinan dan
setelah bayi lahir, serta upaya pencegahan komplikasi terutama perdarahan pasca
persalinan, hipotermia, asfiksia pada bayi baru lahir. Sementara itu fokus utamanya
adalah mencegah terjadinya komplikasi.
Pre-Eklamsi dan Eklamsi merupakan kumpulan gejala yang timbul pada ibu
hamil, bersalin, dan selama masa nifas, yang terdiri atas trias gejala, yaitu hipertensi,
proteinuria, dan edema, kadang-kadang disertai konvulsi sampai koma. Ibu tersebut tidak
menunjukkan tanda-tanda kelainan vaskulear atau hipertensi sebelumnya (Yulaikhah,
2008:95).

B. Saran
Sebagian besar petugas kesehatan sudah memiliki pengetahuan dan kemampuan
yang cukup tentang asuhan kegawatdaruratan pada preeklampsia dan eklampsia, maka
diharapkan baik para petugas kesehatan dapat mempertahankan bahkan meningkatkan
kondisi tersebut. Salah satunya dengan melaksanakan deteksi dini pada saat pemeriksaan
secara rutin pada saat pemeriksaan kehamilan dan pemantauan pada saat persalinan
secara ketat dan sesuai standar, pembinaan dan konseling dalam upaya peningkatan
pengetahuan dan kemampuan petugas kesehatan tentang preeclampsia dan eklampsia
agar dapat melakukan penanganan asuhan kegawatdaruratan yang tepat.

22
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.Edisi Revisi,


Jakarta: Rineka Cipta.

Brinkman, Charles. (2001). Esensial Obstetri dan Ginekologi. Jakarta. Hipokrates

Dorlan, W.A.Newma. (2002). Kamus Kedokteran Dorlan. Jakarta: Penerbit buku Kedokteran
EGC

Hayashi, Robert. (2001). Esensial Obstetri dan Ginekologi. Jakarta. Hipokrates

Laporan Tahunan Ruang Bersalin RSUD Gunung Jati Cirebon, 2013-2014

Manuaba, dkk. (2007). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk
Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC

(2009). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan
Bidan. Jakarta: EGC

Notoatmodjo, Soekidjo. (Edisi Revisi 2005). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka
Cipta.

Prawirohardjo, S. (2010) Ilmu Kebidanan. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

(2006) Ilmu Kebidanan. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

(2002) Ilmu Kebidanan. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Rukiyah AY, dkk (2011). Asuhan Kebidanan IV. Jakarta: Trans Info Media

Saifuddin AB. (2006). Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Depkes RI AKI tahun 2010 di Indonesia. Diambil tanggal 19 Desember 2013.

23