Vous êtes sur la page 1sur 12

Jurnal Teknik Sipil ISSN 2088-9321

Universitas Syiah Kuala ISSN e-2502-5295


pp. 559 - 570

UJI MARSHALL PADA CAMPURAN ASPHALT CONCRETE


BINDER COURSE (AC-BC) DENGAN TAMBAHAN PARUTAN
BAN BEKAS
Cut Khairani DE1, Sofyan M. Saleh2, Sugiarto 3
1)
Mahasiswa Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala
Jl. Tgk. Syeh Abdul Rauf No. 7, Darussalam Banda Aceh 23111,
email: cutkhairani.de@gmail.com
2,3)
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala
Jl. Tgk. Syeh Abdul Rauf No. 7, Darussalam Banda Aceh 23111,
email sofyan.saleh@unsyiah.ac.id 2, sugiarto@unsyiah.ac.id 3

Abstract : Endurance of asphalt concrete pavement on traffic load and temperature depends
on the type and composition of aggregates, asphalt and filler used. Many attempts have been
made to improve the quality of the mixture, such as using modified asphalt. Modified asphalt
made by mixing asphalt pen. 60/70 with addition material. In this research, we used crumb
rubber as an aggregate substitute material on AC-BC mixture. This study aims to determine
the influence of additional substitution of used crumb rubber. The first step of the research is
to find the optimum asphalt content (OAC), then add the crumb rubber as an aggregate
substitute material from 0%, 1%, 2%, 3%, 4% and 5% to the weight of the mixture. The results
showed that the percentage of crumb rubber influenced Marshall parameters value, especially
the value of stability, VIM and VMA at 5.285% asphalt content. The highest stability value was
found in the mixture of 2% crumb rubber is 1128.48 Kg. The highest VIM value is in the 5%
mixture of the used crumb rubber is 16.94%. The highest VMA value is in the 5% mixture of
the used crumb rubber is 27.88% and the highest flow value is in the 5% crumb rubber
mixture of 4.97 mm. However, in MQ value increase and decrease that happened very big. No
big changes in the density and VFA values for all substitutions of crumb rubber. For the
durability value of AC-BC mixture with crumb rubber variation > 90% requirement only on
crumb rubber 1%.
Keywords : Asphalt Concrete Bearing Course (AC-BC), Crumb Rubber, Marshall Parameters

Abstrak: Ketahanan perkerasan beton aspal terhadap beban lalulintas dan temperatur sangat
tergantung pada jenis dan komposisi agregat, aspal serta filler yang digunakan. Banyak usaha telah
dilakukan untuk meningkatkan kualitas campuran, salah satunya dengan menggunakan aspal
modifikasi. Aspal modifikasi dibuat dengan mencampur aspal pen. 60/70 dengan bahan tambah.
Pada penelitian ini bahan tambah yang digunakan adalah parutan ban karet bekas sebagai bahan
pengganti agregat pada campuran AC-BC. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
substitusi tambahan ban karet bekas sebagai bahan pengganti agregat. Tahapan awal penelitian
adalah mencari Kadar Aspal Optimum (KAO), kemudian dilakukan penambahan parutan ban karet
bekas sebagai bahan pengganti agregat mulai dari 0%, 1%, 2%, 3%, 4% dan 5% terhadap berat
campuran. Dari hasil penelitian menunjukkan penambahan persentase parutan ban bekas
mempengaruhi nilai parameter Marshall, terutama nilai stabilitas, VIM dan VMA pada kadar aspal
5,285%. Nilai stabilitas tertinggi didapat pada campuran 2% parutan ban bekas yaitu 1128,48 Kg.
Nilai VIM tertinggi ada pada campuran 5% parutan ban bekas yaitu 16,94%. Nilai VMA tertinggi
ada pada campuran 5% parutan ban bekas yaitu 27,88% dan nilai flow tertinggi ada pada campuran
5% parutan ban bekas yaitu 4,97 mm. Namun pada nilai MQ kenaikan dan penurunan yang terjadi
sangat besar. Nilai Density dan VFA tidak terjadi perubahan yang besar untuk semua substitusi
variasi parutan ban. Untuk nilai durabilitas campuran AC-BC dengan variasi parutan ban yang
memenuhi persyaratan > 90% hanya pada pemakaian parutan ban 1%.

Kata kunci : Campuran AC-BC, Parutan Ban Karet Bekas, Parameter Marshall

Konstruksi jalan di Indonesia sebagian besar lentur, di mana aspal berfungsi sebagai bahan
merupakan konstruksi lapisan perkerasan pengikat agregat berkisar antara 4-10%
Volume 1 Special Issue, Nomor 3, Januari, 2018
- 559
Perkerasan Jalan Dan Geoteknik
Jurnal Teknik Sipil
Universitas Syiah Kuala

berdasarkan berat dan 10-15% berdasarkan bersama batu kerikil, pasir dan diberi air dan
volume dari campuran antara agregat dan selanjutnya akan mengeras menjadi suatu
aspal, sehingga kualitas aspal sangat masa yang padat.
menentukan keawetan dari suatu perkerasan Berdasarkan hipotesa diatas, maka
lentur. Aspal yang berasal dari residu minyak perlu dilakukan penelitian terhadap pengaruh
bumi semakin hari semakin menipis penggunaan parutan karet bekas sebagai
persediaannya dengan harga yang cenderung bahan pengganti agregat terhadap
terus naik, sehingga dibutuhkan bahan lain karakteristik campuran AC-BC sebesar 0%,
yang dapat menaikkan kualitas aspal dan 1%, 2%, 3%, 4% dan 5% terhadap berat
perkerasan lentur. Salah satunya adalah campuran dengan menggunakan filler
penggunaan parutan karet bekas untuk semen Portland.
mengurangi penggunaan aspal untuk
KAJIAN KEPUSTAKAAN
menggantikan batu sebagai agregat pada
Aspal Modifikasi
campuran panas aspal beton.
Aspal modifikasi adalah aspal yang
Penggunaan ban bekas sebagai bahan
dibuat dengan mencampur aspal keras dengan
tambah (additive) aspal telah diteliti oleh US
suatu bahan tambah. Salah satu bahan yang
Department of Transportation Federal
dapat digunakan sebagai modifikasi aspal
Highway Administration di Amerika sejak
yaitu polimer (plastomer dan elastomer).
tahun 1986. Hasilnya penggunaan hasil
parutan ban bekas mampu mereduksi Rubberized Aspal
kerusakan pada perkerasan lentur yang Crumb rubber adalah istilah yang
diakibatkan oleh faktor cuaca dan lalulintas biasanya digunakan untuk ban kendaraan
(Sugiyanto, 2008 dikutip dari AASHTO, bekas yang melalui proses penggilingan
1982). Road Research Centre, Ministry of hingga berbentuk parutan. Crumb rubber
Public Work di Kuwait menyatakan biasanya diklasifikasikan menurut ukuran
penambahan 2% latek dan 5% parutan ban partikel. Cara mengukur besarnya butiran-
bekas terhadap aspal dapat mencegah butiran tersebut adalah dengan melewatkannya
terjadinya retak-retak, bleeding dan memper- melalui ayakan. Ukuran ayakan yang biasa
kecil terjadinya pelepasan butir pada permu- digunakan adalah mesh. Penambahan bahan
kaan perkerasan lentur. tambah seperti parutan karet dalam bekas

Sebagai filler, Semen Portland dalam kenderaan roda 4 ke dalam campuran aspal

campuran aspal akan mengisi daerah kosong dapat memberikan daya tahan yang lebih baik

(rongga-rongga) antara aspal dan agregat kasar. terhadap suhu tinggi maupun beban lalu lintas,

Semen adalah bahan yang mempunyai sifat dibandingkan dengan aspal tanpa bahan
tambahan. (Faisal (2013), dikutip dari Kurniati
adhesif dan kohesif digunakan sebagai bahan
(2004) dan Sugiyanto (2008)).
pengikat (Bonding material) yang dipakai
Volume 1 Special Issue, Nomor 3, Januari, 2018
560 -
Perkerasan Jalan Dan Geoteknik
Jurnal Teknik Sipil
Universitas Syiah Kuala

Lapisan Aspal Beton (Laston) beton. Agregat merupakan komponen utama


Laston adalah beton aspal bergradasi dari struktur perkerasan jalan, yaitu 9 – 95%
menerus yang umum digunakan untuk jalan- berdasarkan persentase berat, atau 75% - 85%
jalan dengan beban lalu lintas yang berat berdasarkan persentase volume (Sukirman,
(Sukirman, 2003). Berdasarkan fungsinya, 2003).
Laston terdiri dari tiga macam campuran, yaitu
Sement Portland
Laston lapis aus (AC-WC), Laston lapis
Semen Portland merupakan bahan utama
pengikat (AC-BC) dan Laston lapis pondasi
atau komponen beton terpenting yang
(AC-Base).
berfungsi sebagai bahan an-organik dengan
Lapis pengikat aspal beton atau Aspal
bantuan air dan mengeras secara hidrolik.
Concrete Binder Course (AC-BC) adalah
Sement Portland inilah yang dapat menyatu
merupakan lapisan penghubung antara aspal
antara agregat halus dan agregat kasar
beton lapisan aus atau AC-WC dengan lapisan
sehingga mengeras menjadi beton.
Aspal Base (AC-Base) atau dengan lapisan
Sement Portland harus memenuhi
pondasi atas atau Base
persyaratan yang diperlukan dalam PBI
Ketentuan mengenai sifat-sifat dari
(1971). Kardiyono (1996 : 6) menyebutkan
campuran Laston (AC) dan Laston (AC-Mod)
bahwa pada dasarnya dapat disebutkan 4
dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini:
(empat) unsur yang paling penting dari
Tabel 1. Ketentuan Sifat-sifat Laston (AC)
Sifat-sifat Campuran Mi Maks. Sement Portland adalah Trikalsium Silikat
(AC)
3 n.
Density (gr/cm ) 2 - atau 3CaO.SiO2, Dikalsium Silikat atau
VIM (%) 3,0 5,0
2CaO.SiO2, Trikalsium Aluminat atau
VMA (%) 15 -
VFA (%) 65 - 3Cao.AI2O3.
Stabilitas Marshall (kg) 800 -
Flow (mm) 2 4 Aspal
Marshall Quotient (kg/mm) 250 -
Stabilitas Marshall sisa (%) 90 - Aspal didefinisikan sebagai suatu cairan
Sumber: Bina Marga (2014) yang lekat atau berbentuk padat, yang terdiri
dari hydrocarbons atau turunannya, terlarut
Agregat
dalam trichloro-ethylene dan bersifat tidak
ASTM (American Society for Testing and
mudah menguap serta lunak secara bertahap
Material) mendefinisikan agregat sebagai
jika dipanaskan. Aspal berwarna hitam atau
suatu bahan yang terdiri dari mineral padat,
kecoklatan, memiliki sifat kedap air dan
berupa massa berukuran besar ataupun berupa
adhesive. ( British Standart, 1989 ).
fragmen-fragmen. Agregat digunakan sebagai
bahan campuran beraspal, membentuk suatu Gradasi agregat
kombinasi ikatan yang seimbang di antara Gradasi adalah distribusi partikel-partikel
pembentuk campuran beraspal, mortar atau berdasarkan ukuran agregat yang saling
Volume 1 Special Issue, Nomor 3, Januari, 2018
- 561
Perkerasan Jalan Dan Geoteknik
Jurnal Teknik Sipil
Universitas Syiah Kuala

mengisi sehingga terjadinya suatu ikatan yang kelekatan terhadap aspal.


saling mengunci (interlocking).
Pengujian material aspal
Rincian gradasi agregat untuk campuran
Aspal terlebih dahulu diperiksa sifat-sifat
AC-BC sesuai spesifikasi teknis Bina Marga
fisisnya sebelum digunakan. Aspal yang
(2014) adalah seperti pada Tabel 2 di bawah
dipakai dalam penelitian ini yaitu aspal keras
ini:
Tabel 2. Spesifikasi Gradasi Agregat Laston La-
penetrasi 60/70.
pis Antara (AC-BC)
Ukuran Ayakan % Berat yang Lolos Perencanaan Campuran Aspal Beton
ASTM (mm) AC-BC
Pemilihan gradasi agregat
1” 25 100
3/4” 19 90 – 100 Gradasi yang digunakan dalam penelitian
1/2" 12,5 75 – 90
ini adalah gradasi menerus berdasarkan nilai
3/8” 9,5 66 – 82
No. 4 4,75 46 – 64 tengah dari spesifikasi teknis Bina Marga
No.8 2,36 30 – 49 (2014) seperti yang diperlihatkan pada Tabel 2.
No. 16 1,18 18 – 38
No. 30 0,6 12 – 28 Kurva gradasi yang digunakan dalam
No. 50 0,3 7 - 20 penelitian ini adalah gradasi lapisan AC-BC,
No. 100 0,15 5 – 13
seperti yang diperlihatkan pada Gambar 1.
No. 200 0,075 4–8
Sumber: Bina Marga (2014)

METODE PENELITIAN
Langkah pertama dalam penelitian ini
adalah pemeriksaan sifat-sifat fisis agregat
dan aspal. Setelah semua hasil dari
pemeriksaan sifat-sifat fisis material dan
sesuai dengan spesifikasi, maka dilakukan
perencanaan pembuatan benda uji dan
pengujian Marshall.

Gambar 1. Grafik Gradasi


Pengujian Material Agregat
Agregat kasar dan agregat halus yang
Penentuan Variasi Kadar Aspal
digunakan adalah batu kali yang dipecah
Variasi kadar aspal ditentukan
dengan mesin pemecah batu (stone crusher)
berdasarkan pada kadar aspal awal perkiraan
yang berasal dari Indrapuri Kabupaten Aceh
yang merupakan kadar aspal tengah/ ideal.
Besar.
Kadar aspal optimum yang baik adalah kadar
Pemeriksaan sifat fisis agregat yang
aspal yang memenuhi semua sifat campuran
dilakukan meliputi : berat jenis dan
yang diinginkan dalam rentang kadar aspal
penyerapan, berat isi, kepipihan dan
optimum ± 0,5% (Sukirman (2003). Variasi
kelonjongan, kekerasan, keausan dan
Volume 1 Special Issue, Nomor 3, Januari, 2018
562 -
Perkerasan Jalan Dan Geoteknik
Jurnal Teknik Sipil
Universitas Syiah Kuala

yang digunakan sebanyak 5 variasi kadar aspal pengganti sebagian agregat. Parutan karet ban
yang masing-masing berbeda 0,5%. Variasi dalam bekas yang telah dicampur kedalam
kadar aspal benda uji adalah 4,5%, 5%, 5,5%, agregat ditambahkan dalam kadar aspal
6% dan 6,5% terhadap berat total campuran. optimum. Variasi parutan ban dalam bekas
kendaraan roda 4, dimulai dari 0%, 1%, 2%,
Pembuatan dan Pengujian Benda Uji
3%, 4% dan 5%.
Benda uji campuran AC-BC yang dibuat
Untuk jumlah benda uji dengan parutan
pada penelitian ini terdiri dari empat kelompok
ban dapat dilihat pada Tabel 4.
yaitu: Tabel 4. Benda Uji dengan Parutan Ban Dalam
1. Benda uji dengan variasi kadar aspal untuk Bekas Kendaraan dengan Rendaman
30 Menit
penentuan kadar aspal optimum (KAO). Kadar Kadar Aspal Kode Benda Juml
2. Benda uji dengan variasi substitusi parutan Ban (%) (%) Uji ah
KAO – 0,5 B11, B12, B13
ban karet pada KAO dan ± 0,5% KAO. 0% KAO B21, B22, B23
9
buah
3. Benda uji dengan karakteristik Marshall KAO + 0,5 B31, B32, B33
KAO – 0,5 B41, B42, B43
terbaik untuk menghitung nilai durabilitas. 9
1% KAO B51, B52, B53
buah
Setelah pembuatan benda uji selesai KAO + 0,5 B61, B62, B63
KAO – 0,5 B71, B72, B73
dilakukan, maka dilanjutkan dengan 9
2% KAO B81, B82, B83
buah
pengujian-pengujian Marshall sehingga KAO + 0,5 B91, B92, B93
B101, B102,
diperoleh data untuk mengetahui karakteristik KAO – 0,5
B103
campuran AC-BC menggunakan aspal pen. B111, B112, 9
3% KAO
B113 buah
60/70. KAO + 0,5
B121, B122,
B123
Banyaknya benda uji untuk mengetahui B131, B132,
KAO – 0,5
B133
sifat-sifat campuran dan penentuan KAO B141, B142, 9
4% KAO
B143 buah
dapat dilihat pada Tabel 3 di bawah ini: B151, B152,
KAO + 0,5
B153
Tabel 3. Benda Uji untuk Menentukan KAO B161, B162,
Rendaman 30 Menit KAO – 0,5
B163
Kadar Kode Benda B171, B172, 9
Jumlah 5% KAO
Aspal Uji B173 buah
4,5% A11, A12, A13 3 buah B181, B182,
KAO + 0,5
B183
5,0% A21, A22, A23 3 buah 54
Jumlah
5,5% A31, A32, A33 3 buah buah

6,0% A41, A42, A43 3 buah Setelah didapat hasil pengujian dengan
6,5% A51, A52, A53 3 buah
kadar % parutan ban pada benda uji, maka
Jumlah 15 Buah
dipilih dua dari substitusi variasi persentase
parutan ban yang terbaik untuk diuji kembali
Setelah didapat KAO, maka dibuat benda
pada rendaman 30 menit dan 24 jam untuk
uji pada KAO dan ± 0,5% KAO untuk variasi
mendapatkan nilai durabilitas seperti yang
persen parutan ban dalam bekas sebagai bahan
terlihat pada Tabel 5 di bawah ini:
Volume 1 Special Issue, Nomor 3, Januari, 2018
- 563
Perkerasan Jalan Dan Geoteknik
Jurnal Teknik Sipil
Universitas Syiah Kuala

Tabel 5. Benda Uji untuk Pengujian Durabilitas Dari hasil penelitian, sifat-sifat fisis
Jumlah Benda Uji
Benda Uji Rendaman Rendaman 24 agregat yang digunakan telah memenuhi
30 Menit Jam
syarat, kecuali nilai indeks kelonjongan yang
Dengan substitusi
3 buah 3 buah
parutan ban (%) berada diatas 10%, akan tetapi di dalam

Lanjutan Tabel. 5
spesifikasi terdapat ketentuan yang
menyatakan apabila terdapat ketidaksesuaian,
Dengan substitusi
3 buah 3 buah nilai tersebut dapat ditolerir, apabila agregat
parutan ban (%)
6 buah 6 buah memenuhi semua ketentuan lainnya, terutama
Jumlah
12 buah
hasil dari pengujian abrasi dengan mesin Los
Total benda uji keseluruhan dalam
Angeles dan hasil pengujian impact telah
penelitian ini adalah sebagaimana disajikan
memenuhi syarat.
pada Tabel 6 di bawah ini:

Tabel 6. Rekapitulasi Jumlah Benda Uji


Hasil pemeriksaan aspal penetrasi 60/70
Keseluruhan Data hasil pemeriksaan sifat-sifat fisis
Uraian Jumlah
aspal pen. 60/70 memperlihatkan bahwa aspal
Benda uji untuk penentuan KAO 15 buah
Benda Uji dengan parutan Ban Dalam tersebut dapat digunakan karena memenuhi
54 buah
Bekas Kendaraan pada KAO dan ± 0,5
KAO
persyaratan. Hasil pemeriksaan sifat-sifat fisis
Benda Uji dengan parutan Ban Dalam
Bekas Kendaraan dengan Rendaman 30 12 buah aspal tersebut disajikan pada Tabel 8 di bawah
menit dan 24 jam
ini:
Jumlah 81 buah
Tabel 8. Hasil Pemeriksaan Sifat-sifat Fisis
Aspal Pen. 60/70

HASIL DAN PEMBAHASAN Sifat-sifat Fisis


Satuan Hasil Syarat
Aspal
Hasil Pemeriksaan Sifat-Sifat Fisis Berat jenis - 1,020 Min. 1
Penetrasi
Agregat (0,1 mm) 64 60-79
Titik lembek °C 48 Min. 48
Hasil pemeriksaan sifat-sifat fisis agregat Daktilitas cm 132 Maks. 100
disajikan pada Tabel 7 di bawah ini:
Hasil Pengujian Marshall untuk
Tabel 7. Hasil Pemeriksaan Sifat-sifat Fisis
Agregat Penentuan Kadar Aspal Optimum
Sifat-sifat Fisis yang
Satuan Hasil Syarat (KAO)
diperiksa
Berat Jenis - 2,775 Min. 2,5
Penyerapan % 1,119 Maks. 3 Berdasarkan hasil pengujian, nilai kadar
3
Berat Isi kg/dm 1,656 Min. 1 aspal optimum (KAO) diperoleh adalah
Indeks Kepipihan % 9,245 Maks. 10
sebesar 5,285% yang memenuhi semua
Indeks Kelonjongan % 10,660 Maks. 10
Impact % 8,94 Maks. 30 persyaratan parameter Marshall. Nilai KAO
Keausan % 15,00 Maks. 40 tersebut selanjutnya digunakan untuk
Kelekatan Agregat
% 98 Min. 95 pengujian karakteristik campuran AC-BC
Terhadap Aspal
dengan substitusi variasi persentase parutan

Volume 1 Special Issue, Nomor 3, Januari, 2018


564 -
Perkerasan Jalan Dan Geoteknik
Jurnal Teknik Sipil
Universitas Syiah Kuala

ban sebagai bahan pengganti sebagian agregat. Marshall untuk variasi persentase aspal dan
Dari hasil pengujian akan dipilih persentase parutan ban dalam bekas kenderaan roda 4,
parutan ban tebaik untuk selanjutnya pada kadar aspal optimum (KAO) disajikan
dilakukan pengujian durabilitas. pada Tabel 9 s.d Tabel 11.
Rekapitulasi Hasil pengujian parameter
Tabel 9. Rekapitulasi Hasil Pengujian Marshall dengan Variasi Kadar Aspal Pen. 60/70

Karakteristik Kadar Aspal ( % ) Spesifikasi Dept.


Campuran 4,50 5,00 5,50 6,00 6,50 PU (2014)
Stabilitas (kg) 918,67 1017,6 1009,8 1003,1 1063,4 Min. 800
8 1 4 8
Flow (mm) 3,4 3,9 3,9 4,1 4,9 2-4
MQ (kg/mm) 298,32 268,69 284,67 247,15 229,77 Min. 250
Density (gr/cm3) 2,39 2,43 2,45 2,46 2,46 Min. 2
VIM (%) 7,40 4,80 3,26 2,25 1,32 3-5
VMA (%) 17,92 16,73 16,48 16,71 17,02 Min. 14
VFA (%) 59,00 71,35 80,29 86,55 92,26 Min. 65

Tabel 10. Rekapitulasi Hasil Pengujian Marshall untuk Variasi Parutan Ban Karet pada Kadar Aspal
5,285%
Kadar Aspal ( % ) Spesifikasi
Karakteristik
Dept. PU
Campuran 0% 1% 2% 3% 4% 5% (2014)
Stabilitas (kg) 958,49 881,27 1128,48 1034,18 502,51 442,96 Min. 800
Flow (mm) 4,1 4,0 3,6 4,6 4,3 5,0 2-4
MQ (kg/mm) 243,74 220,06 324,99 227,75 126,25 94,70 Min. 250

Density (gr/cm3) 2,41 2,37 2,37 2,33 2,19 2,11 Min. 2

VIM (%) 5,40 6,78 6,89 8,43 13,78 16,94 3-5


VMA (%) 17,86 19,07 19,16 20,50 25,14 27,88 Min. 14
VFA (%) 69,88 64,52 64,36 59,51 45,51 49,65 Min. 65

Tabel 11. Rekapitulasi Nilai Durabilitas untuk Variasi Parutan Ban Karet pada Kadar Aspal 5,285%
Variasi % Kombinasi Pa- Stabilitas Stabilitas Rendaman
Nilai Durabilitas (%)
rutan Ban Dalam Bekas Rendaman 30 Menit 24 Jam
a b c d = c / b x 100
1% 863,73 810,38 93,82
2% 1269,30 650,19 51,22

1400,00
1200,00
1000,00
Stabilitas (kg)

800,00
1128,48

1034,18
958,49

881,27

600,00
502,51

442,96

400,00
200,00
0,00
0% 1% 2% 3% 4% 5%

Variasi Persentase Parutan Ban Bekas (%)


Gambar 2. Grafik Stabilitas
Volume 1 Special Issue, Nomor 3, Januari, 2018
- 565
Perkerasan Jalan Dan Geoteknik
Jurnal Teknik Sipil
Universitas Syiah Kuala

Stabilitas tidak memenuhi persyaratan, yaitu 2 – 4 mm.


Berdasarkan hasil penelitian, nilai
Marshall Quotient
stabilitas untuk variasi persentase parutan ban
Nilai MQ meningkat pada pemakaian
bekas sebagai bahan pengganti sebagian
2% parutan ban. Besarnya nilai MQ yang
agregat tidak semuanya memenuhi
diperoleh memberikan indikasi bahwa
persyaratan, yaitu min. 800 kg.
campuran aspal semakin kaku dan kurang
Penggunaan 2% parutan ban bekas
lentur.
mempunyai stabilitas tertinggi yaitu 1128,48
Kg. Pada persentase parutan 4% dan 5% nilai Density
stabilitas rata-rata tidak memenuhi spesifikasi Berdasarkan hasil penelitian, nilai density
minimum. Hal ini dapat terjadi karena dari semua variasi parutan ban memenuhi
persentase parutan ban terlalu tinggi sehingga persyaratan, yaitu min. 2 gr/mm.
aspal tidak efektif lagi menyelimuti agregat. Nilai density dari berbagai variasi
persentase parutan ban bekas cenderung
Flow
mengalami penurunan dengan bertambahnya
Nilai flow mengalami peningkatan dan
persentase parutan ban bekas. Hal ini dise-
penurunan pada semua substitusi persentase
babkan karena bahan agregat yang disubstitusi
ban Nilai flow rata-rata yang tinggi disebabkan
parutan ban bekas tersebut cenderung menga-
oleh kadar parutan ban yang terlalu tinggi
lami peningkatan sehingga mengurangi kuan-
sehingga perkerasan akan mudah mengalami
titas aspal di dalam campuran.
perubahan bentuk. Hampir semua nilai flow

6,00

5,00

4,00
Flow (mm)

3,00
4,97
4,63

4,30
4,13

4,00

3,63

2,00

1,00

0,00
0% 1% 2% 3% 4% 5%
Variasi Persentase Parutan Ban Bekas(%)

Gambar 3. Grafik Flow

Volume 1 Special Issue, Nomor 3, Januari, 2018


566 -
Perkerasan Jalan Dan Geoteknik
Jurnal Teknik Sipil
Universitas Syiah Kuala

Marshall Quotient (kg/mm)


350,00
300,00
250,00

324,99
200,00

243,74

227,75
220,06
150,00

126,25
100,00

94,70
50,00
0% 1% 2% 3% 4% 5%
Variasi Persentase Parutan Ban Bekas (%)

Gambar 4. Grafik MQ

2,500
2,450
2,400
Density (gr/cm3)

2,350
2,300
2,250
2,41

2,37

2,37

2,200
2,33

2,150
2,100 2,19

2,11
2,050
2,000
0% 1% 2% 3% 4% 5%
Variasi Persentase Parutan Ban Bekas (%)

Gambar 5. Grafik Density


VIM tan untuk campuran beton aspal AC-BC yaitu
Nilai VIM merupakan persentase rongga 3% - 5%.
dalam campuran beton aspal. VIM dibutuhkan
VMA
untuk tempat bergesernya butir-butir agregat,
Nilai VMA terus meningkat seiring
akibat pemadatan tambahan yang terjadi oleh
dengan bertambahnya kadar parutan ban
repetisi beban lalulintas atau tempat aspal
dalam campuran. Besar kecilnya nilai VMA
menjadi lunak, akibat meningkatnya
dipengaruhi oleh kadar aspal yang
temperatur.
menyelimuti agregat, kadar aspal yang besar
Nilai VIM cenderung semakin besar
akan membentuk selimut butir agregat yang
seiring dengan peningkatan kadar parutan ban.
tebal, akibatnya rongga antar agregat semakin
Nilai VIM yang tinggi dapat menimbulkan
besar. Sebaliknya, kadar aspal yang sedikit
oksidasi/penuaan aspal dengan masuknya
akan menghasilkan selimut agregat yang tipis,
udara sehingga campuran bersifat porous.
sehingga rongga antar agregat semakin kecil.
Nilai VIM tidak ada yang memenuhi persyara-
Nilai VMA masih memenuhi persyaratan yaitu
Volume 1 Special Issue, Nomor 3, Januari, 2018
- 567
Perkerasan Jalan Dan Geoteknik
Jurnal Teknik Sipil
Universitas Syiah Kuala

lebih besar dari 14%. Hasil Perhitungan Nilai Durabilitas


Nilai durabilitas tertinggi yaitu 93,82%
VFA
pada campuran beton AC-BC dengan variasi
Nilai VFA semakin menurun seiring
parutan ban bekas sebagai bahan pengganti
dengan bertambahnya kadar parutan ban
agregat 1%. Nilai durabilitas yang besar pada
sebagai bahan pengganti sebagian agregat. Hal
campuran aspal ini disebabkan karena parutan
ini disebabkan pada saat pencampuran,
ban bekas yang digunakan hanya sedikit
parutan ban bekas tidak larut ke dalam aspal,
sehingga filler PC yang digunakan dapat
masih berbentuk butiran agregat yang juga
mengisi rongga-rongga yang terdapat di dalam
ikut diselimuti aspal dan mengurangi jumlah
campuran dengan baik.
aspal yang seharusnya mengisi rongga dalam
Durabilitas diperoleh dari perbandingan
campuran.
antara stabilitas rendaman 24 jam dengan
stabilitas rendaman 30 menit.

18,00
16,00
14,00
12,00
VIM (%)

16,94

10,00
13,78

8,00
8,43

6,00
6,89
6,78
5,40

4,00
2,00
0% 1% 2% 3% 4% 5%

Variasi Persentase Parutan Ban Bekas (%)


Gambar 6. Grafik VIM

28,00
26,00
24,00
VMA (%)

27,88

22,00
25,14

20,00
20,50
19,16
19,07

18,00
17,86

16,00
0% 1% 2% 3% 4% 5%
Variasi Persentase Parutan Ban Bekas (%)

Gambar 7. Grafik VMA

Volume 1 Special Issue, Nomor 3, Januari, 2018


568 -
Perkerasan Jalan Dan Geoteknik
Jurnal Teknik Sipil
Universitas Syiah Kuala

70,00
65,00
60,00
55,00

VFA (%)

69,88

64,52
50,00

64,36

59,51
45,00

45,51
40,00

39,65
35,00
30,00
0% 1% 2% 3% 4% 5%

Variasi Persentase Parutan Ban Bekas (%)

Gambar 8. Grafik VFA

100,00
90,00
80,00
70,00
Durabilitas %

60,00
93,82

50,00
40,00
51,22

30,00
20,00
10,00
0,00
0% 1% 2% 3% 4% 5%
Variasi Persentase Parutan Ban Bekas (%)

Gambar 9. Grafik Durabilitas


KESIMPULAN DAN SARAN substitusi dari agregat pada campuran
Kesimpulan aspal, maka nilai stabilitas campuran
1. Dari hasil penelitian menunjukkan
semakin meningkat.
penambahan persentase parutan ban bekas
2. Penggunaan 2% parutan ban bekas
sebagai bahan pengganti agregat dalam
mempunyai stabilitas tertinggi yaitu
campuran beton aspal AC-BC,
1128,48 Kg. Sedangkan nilai durabilitas
mempengaruhi nilai parameter Marshall,
tertinggi ada pada penggunaan 1% parutan
yaitu nilai stabilitas, flow, Marshall quo-
ban bekas dengan nilai 93,82%.
tient, VIM, VMA dan VFA. Sedangkan
3. Penggunaan parutan ban bekas sebagai
nilai Density tidak ada pengaruh akibat
pengganti bahan agregat belum dapat
bertambahnya persentase parutan ban
digunakan karena nilai flow, Marshall quo-
bekas. Secara keseluruhan dengan
tient, VIM dan VFA yang ditentukan
adanya bahan parutan ban bekas sebagai berdasarkan spesifikasi teknis Bina Marga
Volume 1 Special Issue, Nomor 3, Januari, 2018
- 569
Perkerasan Jalan Dan Geoteknik
Jurnal Teknik Sipil
Universitas Syiah Kuala

(2014) belum terpenuhi. Panas, Direktorat Jenderal Bina


Marga, Departemen PU, Jakarta
Saran
Faisal, 2013, Karakteristik Marshall
1. Diharapkan untuk penelitian selanjutnya
Campuran Aspal Beton AC-BC
dapat dilihat mengenai penggunaan
Menggunakan Material Agregat
parutan ban bekas sebagai substitusi aspal,
Basalt dan Aspal Pen. 60/70 dengan
sehingga diperoleh formula yang paling
Tambahan Parutan Band Dalam
optimum untuk menggantikan sebagian
Bekas Kendaraan Kendaraan Roda 4,
aspal dengan parutan karet ban bekas
Jurnal Teknik Sipil, Universitas
sehingga dapat diketahui kinerja dari
Syiah Kuala,Vol.3, No. 3, Agustus
campuran AC-BC yang masih memenuhi 2014
spesifikasi Bina Marga Tahun 2010. Fithra, H, 2011, Karakteristik Penggunaan
2. Perlu kiranya dilakukan penelitian tentang Serbuk Ban BekasPada Campuran
susunan kimia dari parutan ban bekas Panas Asphalt Concrete Binder
setelah dicampur dengan aspal dan agregat Course (AC-BC), Jurnal Teknik
batu pecah Sipil, Universitas Malikussaleh,
Vol.1, No. 2, Juni 2011
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Kardiyono, T, 1996, Teknologi Beton, Biro
AASTHO, 1990, Standard Specification
Penerbit Keluarga Mahasiswa
for Transportation Materials and
Teknik Sipil Universitas Gadjah
Methods of Sampling and Testing,
Mada, Yogyakarta
15thed, AASHTO, Washington, DC.
Kurniati, N, 2004, Karakteristik Campuran
Asphalt Institute, 1985, A Basic Asphalt
Beton Aspal dengan Substitusi Ban
Emulsion Manual, USA
Bekas Sebagai Agregat, Tesis
Bukhari, dkk, 2004, Rekayasa Bahan dan
Magister, Program Studi Teknik
Tebal Perkerasan Jalan Raya,
Sipil Bidang Rekayasa Transportasi,
Bidang Studi Teknik Transportasi
ITB, Bandung
Fakultas Teknik Universitas Syiah
Sugiyanto, G, 2008, Kajian Karakteristik
Kuala
Campuran Hot Rolled Asphalt
Direktorat Jenderal Bina Marga, 2007,
Akibat Penambahan Limbah Parutan
Spesifikasi Umum Divisi 6,
karet Bekas, Jurnal Teknik Sipil,
Direktorat Jenderal Bina Marga,
Universitas Atma Jaya, Vol. 8 No. 2,
Departemen PU, Jakarta.
91-104
Direktorat Jenderal Bina Marga, 2010,
Sukirman, S, 2003, Campuran Beraspal
Revisi 3 (2014), Seksi 6.3
Panas, Penerbit Granit, Bandung
Spesifikasi Campuran Beraspal

Volume 1 Special Issue, Nomor 3, Januari, 2018


570 -
Perkerasan Jalan Dan Geoteknik