Vous êtes sur la page 1sur 28

BAB 1

PENDAHULUAN

Penyakit dengue terutama ditemukan di daerah tropis dan subtropis dengan


sekitar 2,5 milyar penduduk yang mempunyai risiko untuk terjangkit penyakit ini.
Diperkirakan setiap tahun sekitar 50 juta manusia terinfeksi virus dengue yang
500.000 di antaranya memerlukan rawat inap, dan hampir 90% dari pasien rawat inap
adalah anak-anak.1
Indonesia merupakan negara endemi Dengue dengan kasus tertinggi di Asia
Tenggara. Pada 2006 Indonesia melaporkan 57% dari kasus Dengue dan hampir 80%
kematian dengue dalam daerah Asia Tenggara.1 Infeksi virus dengue bermanifestasi
klinis yang bervariasi mulai dari tanpa gejala hingga dengue shock syndrome.2
Infeksi virus dengue ditularkan melalui gigitan vektor nyamuk Stegomiya
aegipty dan Stegomiya albopictus.1 Virus dengue termasuk ke dalam famili
Flaviridae dan genus Flavivirus, terdiri dari 4 serotipe yaitu DENV-1, DENV-2,
DENV-3 dan DENV-4, ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk yang
terinfeksi.3
Secara umum patogenesis infeksi virus dengue disebabkan oleh interaksi
berbagai komponen dari respon imun atau reaksi inflamasi yang terjadi secara
terintegrasi yaitu sel dendrit, monosit/makrofag, sel endotel dan trombosit.2
Dalam perjalanan penyakit infeksi dengue, terdapat tiga fase perjalanan
infeksi dengue, yaitu1,3 :
- Fase demam : viremia menyebabkan demam tinggi
- Fase kritis/perembesan plasma : terjadi perembesan plasma dengan derajat yang
bervariasi pada efusi pleura dan asites.
- Fase penyembuhan : perembesan plasma berhenti disertai reabsorpsi cairan dan
ekstravasasi plasma

1
Manifestasi klinis dari infeksi virus dengue menurut kriteria diagnosis WHO
2011, dapat bersifat asimtomatik dan simtomatik yang terbagi menjadi
undifferentiated fever (sindrom infeksi virus), demam dengue (DD), demam berdarah
dengue (DBD) dan expanded dengue syndrome.3
Demam dengue berbeda dengan demam berdarah dengue (DBD), perbedaan
yang paling utama adalah pada demam dengue tidak ditemukan perembesan plasma
(plasma leakage).3 Demam dengue tidak seberbahaya DBD, karena demam dengue
umumnya tidak mengakibatkan kematian.4
Keempat jenis serotipe virus dengue dapat ditemukan di berbagai daerah di
Indonesia. Pengamatan virus dengue yang dilakukan sejak tahun 1975 di beberapa
rumah sakit menunjukkan bahwa keempat serotipe ditemukan dan bersirkulasi
sepanjang tahun.5
Tatalaksana infeksi virus dengue sesuai dengan perjalanan penyakit yang
terbagi atas 3 fase yakni fase demam, fase kritis dan fase penyembuhan.6
Penderita dapat dipulangkan apabila paling tidak dalam 24 jam tidak
terdapat demam tanpa antipiretik, kondisi klinis membaik, nafsu makan baik, nilai
hematokrit stabil, tiga hari setelah syok teratasi jika terjadi syok, tidak ada sesak
napas atau takipnea, dan jumlah trombosit ≥50.000/mm3.7

2
BAB II
LAPORAN KASUS

Dokter jaga : dr. Irwansyah


Dokter ruangan : dr. Christina Kolondam, Sp.A
Dokter muda : Moh Faisal SY Intam, S.Ked

A. IDENTITAS PASIEN
 Nama : An. FN
 Jenis kelamin : Perempuan
 Lahir pada tanggal/umur : 27 Maret 2011/6 tahun 3 bulan
 Agama : Islam
 Kebangsaan : Indonesia
 Suku bangsa : Kaili
 Nama ibu : Ny. N Umur : 29 tahun
 Nama ayah : Tn. F Umur : 30 tahun
 Pekerjaan ayah : Buruh bangunan
 Pekerjaan ibu : Tukang cuci
 Alamat : Jln. Keramik Kel. Duyu
 No. Telp :-
 Dikirim oleh : IGD anutapura
 Masuk dengan diagnose : Viral Infection (DBD)
 Tanggal /jam masuk rumah sakit : 6 juni 2017/08.55 WITA
 Masuk ke ruangan : Nuri Atas Kelas 03 bed 08
 Diagnosis : Demam Dengue
 Anamnesis : Diberikan oleh Ibu pasien
 Anak : Tunggal
 Tanggal lahir : 27 Maret 2011
 Partus / oleh : Normal / Bidan

3
FAMILY TREE

Ayah Ibu
Tn. F / 30 tahun Ny. N / 29 tahun

= Laki- laki
An.FN / 6
tahun = Perempuan
(Penderita)

B. ANAMNESIS
 Keluhan Utama:
Demam
 Riwayat Penyakit Sekarang:
An. FN, perempuan usia 6 tahun MRS dengan keluhan demam (+)
sejak 4 hari yang lalu secara tiba-tiba dan dirasakan terus menerus, demam
hanya turun saat diberikan obat penurun panas kemudian demam kembali.
Saat demam pasien tidak kejang maupun menggigil. Keluhan disertai sakit
kepala, badan terasa lemas dan ngilu, serta nyeri sendi. Ibu pasien juga
mengatakan pasien muntah 2x sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit,
muntah isi makanan.
Pasien menyangkal adanya, batuk, flu, sesak, nyeri tenggorokan, sakit
perut, mimisan, perdarahan gusi, maupun kejang. Pasien tidak berkeringat

4
dingin. Keinginan minum, nafsu makan, dan tidur pasien baik, BAK lancar
dan BAB biasa.

 Riwayat Penyakit Sebelumnya:


Belum pernah sakit seperti ini sebelumnya ini baru pertama kali dirasakan
pasien, riwayat kejang (-) asma (-).

 Riwayat Penyakit Keluarga:


Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan yang sama.

 Riwayat Makan Sejak Lahir sampai sekarang:


Anak meminum ASI (air susu ibu) sejak lahir sampai berumur 8 bulan
selanjutnya anak minum susu formula sampai usia 2 tahun. Saat anak
memasuki usia 6 bulan diberikan makanan tambahan seperti bubur saring.
Saat usia menginjak 1 tahun diberikan juga makanan tambahan seperti
biskuit dan mulai makan makanan keluarga.

 Riwayat Kebiasaan dan Lingkungan:


Anak tinggal di Jln. Keramik. Pasien tinggal serumah dengan orangtua saja,
tetapi bertetangga dengan rumah nenek pasien yang jaraknya sangat
berdekatan. Lingkungan rumah merupakan lingkungan padat penduduk.
Menurut orang tuanya anaknya sering bermain atau bergaul diluar rumah.
Status sosial ekonomi anak masuk dalam kategori menengah. Pembiayaan
perawatan di rumah sakit menggunakan BPJS.

 Riwayat Kehamilan:
- Riwayat ANC lengkap
- Riwayat sakit saat awal kehamilan tidak ada
- Riwayat sakit dan hipertensi saat kehamilan tidak ada

5
 Riwayat Persalinan:
- Anak lahir normal di rumah sakit dengan BB lahir 2600 gr dan PB : 47
cm
- Saat lahir anak langsung menangis, kebiruan dan kuning patologis saat
lahir (-) dan aktivitas otot dan pergerakan baik.

 Kemampuan dan kepandaian bayi :


- Membalik : 3 bulan
- Tengkurap : 4 bulan
- Duduk : 6 bulan
- Merangkak : 8 bulan
- Berdiri : 1 tahun
- Berjalan : 1 tahun 2 bulan
- Tertawa : 1 tahun
- Berceloteh : 1 tahun 2 bulan
- Memanggil papa: 11 bulan

 Penyakit yang sudah pernah di alami:


- Morbili : (-)
- Varicella : (-)
- Pertussis : (-)
- Diare : (-)
- Cacing : (-)
- Batuk / pilek : (+) jarang
- Lain – lain : (-)

 Riwayat imunisasi :
- BCG : 1 kali pemberian (1 bulan)
- POLIO : 4 kali pemberian (lahir - 2 bulan – 4 bulan - 6 bulan)

6
- DTP : 3 kali pemberian (2 bulan - 4 bulan – 6 bulan)
- HEPATITIS B : 3 kali pemberian (lahir - 1 bulan – 6 bulan)
- CAMPAK : 1 kali pemberian (9 bulan)
Imunisasi dasar pada pasien lengkap.

 Ikhtisar Penyakit menurut status UGD


- Demam (+) sejak 3 hari
- Batuk (-)
- Muntah (+) 2x isi makanan
- sesak (-)
- BAB dan BAK Normal
- Rumple leed (+)

C. PEMERIKSAAN FISIK
 Keadaan umum : Sakit Sedang
 Kesadaran : Compos Mentis
 Keadaan mental : Baik
 Sianosis :-
 Anemia :-
 Ikterus :-
 Kejang :-
 Berat Badan : 18 kg
 Panjang Badan : 110 cm
 Status Gizi : Gizi Baik (CDC 97,2%)

7
 Tanda Vital
- Tekanan darah : 100/70 mmHg
- Denyut nadi : 98 Kali/menit
- Suhu : 37,8o C
- Respirasi : 24 kali/menit
 Kulit
Warna : Sawo matang
Efloresensi :-
Turgor : Segera kembali
Rumple leed : (+) > 20

 Kepala :
Bentuk : Normocephal
Rambut : Hitam lurus, sulit dicabut
Mata : Exophthalmus / Enophthalmus: -/-
Tekanan bola mata : Normal
Conjungtiva : Anemis -/-
Sclera : Ikterus -/-
Corneal reflex :+
Pupil : Isokor
Ubun-ubun besar : Menutup
Lensa : Tidak dilakukan pemeriksaan
Fundus : Tidak dilakukan pemeriksaan
Visus : Tidak dilakukan pemeriksaan
Gerakan : Kesegala arah
Hidung : Rhinorrhea (-), PCH (-)
Mulut : Bibir : Pucat (-), kering (-)
Lidah : Kotor (-), tremor (-)

8
Gigi : Karies (-)
Selaput mulut : Peradangan (-)
Gusi : Perdarahan (-)
Tenggorokan
Tonsil : T1/T1
Pharynx : Hiperemis (-)

Leher
Trachea : berada ditengah, tidak ada deviasi
Kelenjar : Limfadenopati (-), Struma (-), Tiroid (-)
Kaku kuduk : (-)

Thorax
Bentuk : Simetris bilateral Xiphosternum : (-)
Ruang intercostal : (-) Napas paradoxal : (-)
Precordial Bulgin : (-) Retraksi : (-)

 Paru-paru
- Inspeksi : Simetris bilateral, retraksi (-), massa (-)
- Palpasi : Vokal fremitus (+) ka=ki, massa (-), nyeri tekan (-)
- Perkusi : Sonor (+) diseluruh lapang paru
- Auskultasi : Bunyi vesikular (+), Ronkhi (-), Wheezing (-)

 Jantung
- Inspeksi : Ictus Cordis tidak tampak
- Palpasi : Ictus Cordis teraba pada SIC V linea midclavicula
sinistra
- Perkusi : Batas atas jantung SIC II, batas kanan SIC V linea

9
parasternal dextra, batas kiri jantung SIC V linea
axilla anterior
- Auskultasi : Bunyi jantung I/II murni regular, murmur (-), gallop(-)

 Abdomen
 Inspeksi : Kesan datar, massa (-), distensi (-), sikatriks (-)
 Auskultasi : Peristaltik (+) kesan normal
 Perkusi : Timpani (+), asites (-)
 Palpasi : Nyeri Tekan (-), organomegali (-)
 Genital : Tidak ditemukan kelainan
 Kelenjar : Tidak ditemukan kelainan
 Anggota gerak : Ekstremitas atas dan bawah akral hangat, edema (-),
Capillary Refill Time (CRT) < 2 detik, deformitas (-),
 Tulang belulang : Skoliosis (-), Lordosis (-), Kyphosis (-)
 Otot-otot : Atrofi (-)
 Refleks : Refleks fisiologis normal, patologis (-)

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Penunjang : Laboratotium Darah Rutin Dari IGD : 14-05-2017
PARAMETER HASIL NILAI RUJUKAN
WBC 2,9 4,0-10,0 103/ µl
RBC 4,61 3,80-6,50 106/µl
HGB 11,6 14-18 g/dl
HCT 36,4 37,0-54,0 %
PLT 81 150-500 103/µl

10
RESUME
An. FN, perempuan usia 6 tahun MRS dengan keluhan demam (+) sejak 4 hari
yang lalu secara tiba-tiba dan dirasakan terus menerus, demam hanya turun saat
diberikan obat penurun panas kemudian demam kembali. Keluhan disertai sakit
kepala, badan terasa lemas dan ngilu, serta nyeri sendi. Pasien muntah 2x sejak 1 hari
sebelum masuk rumah sakit, muntah isi makanan.
Pasien menyangkal adanya, batuk, flu, sesak, nyeri tenggorokan, sakit perut,
mimisan, perdarahan gusi, maupun kejang. Pasien tidak berkeringat dingin.
Keinginan minum, nafsu makan, dan tidur pasien baik, BAK lancar dan BAB biasa.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan tanda tanda vital tekanan darah 100/70
mmHg, Denyut nadi 98 Kali/menit, Suhu 37,8o C, Respirasi 24 kali/menit, status gizi:
gizi baik, pemeriksaan rumple leed (+) > 20. Pada pemeriksaan darah rutin
ditemukan WBC: 2,9 x103/uL, HGB: 11,6 g/dL, HCT: 36,4 %, PLT: 81 x103/uL
 Diagnosis kerja : Demam dengue dengan perdarahan
 Terapi : IVFD Asering 16 tpm
Inj. Santagesik 160 mg/6 jam iv
Inj. Ondansentron 2,5 mg/8 jam iv (bila muntah)
Inj. Dexamethasone 2,5 mg/8 jam iv
Elkana syr 1x1 cth

11
FOLLOW UP

Perawatan Hari ke 1
Tanggal : 15 Mei 2017
Subjek (S) : Demam hari ke-5, sakit kepala (+), badan lemas (+), nyeri
sendi (+), muntah (-), batuk (-), flu (-), BAB biasa, BAK lancar
Objek (O) :
a. Tanda Vital
o Denyut Nadi : 100 kali/menit
o Respirasi : 22 kali/menit
o Suhu : 37,40C
o Kesadaran : Compos mentis (GCS E4 M6 V5 = 15)
b. Kulit : Pucat (-), ikterik (-), ruam kemerahan (-)
c. Kepala : konjungtiva anemis (-/-), sklera Ikterik (-/-)
d. Leher : Pembesaran kelenjar limfe (-)
Pembesaran kelenjar tiroid (-)
e. Thorax
Paru-paru : Simetris bilateral, Vokal fremitus (+) kesan normal, Sonor (+)
Bunyi bronchovesikular (+).
Jantung : Bunyi jantung I/II murni regular
f. Abdomen : Bentuk datar, peristaltik (+) kesan normal, timpani (+),
Nyeri tekan (-)

Assesment (A) : Demam Dengue


Planning (P) : IVFD Asering 16 tpm
Inj. Santagesik 160 mg/6 jam iv
Inj. Ondancentron 2,5 mg/8 jam iv (bila muntah)
Inj. Dexamethasone 2,5 mg/8 jam iv

12
Elkana syr 1x1 cth
Anjurkan pemeriksaan :
Kontrol darah (16/05-2017)

Perawatan Hari ke 2
Tanggal : 16 Mei 2017
Subjek (S) : demam (-), BPH 1
Badan lemas (+), nyeri sendi (-), sakit kepala (-), muntah (-),
Sakit perut (-), batuk (-)
. BAB : biasa
BAK : lancar
Objek (O) :
a. Tanda Vital
 Denyut Nadi : 94 kali/menit
 Respirasi : 22 kali/menit
 Suhu : 36,90C
 Kesadaran : Compos mentis (GCS E4 M6 V5 = 15)
b. Kulit : Pucat (-), ikterik (-), ruam kemerahan (-)
c. Kepala : konjungtiva anemis (-/-), sklera Ikterik (-/-)
d. Leher : Pembesaran kelenjar limfe (-)
Pembesaran kelenjar tiroid (-)
e. Thorax
 Paru-paru : Simetris bilateral, Vokal fremitus (+) kesan normal, sonor
(+), bunyi bronchovesikular (+).
 Jantung : Bunyi jantung I/II murni regular
f. Abdomen : Bentuk datar, peristaltik (+) kesan normal,
timpani (+), nyeri tekan (-)

13
Pemeriksaan laboratorium
a. Hasil Darah Rutin:
WBC = 4,6 x 103/uL
HGB = 12,2 g/dl
HCT = 36,7 %
PLT = 129 x 103/uL

Assesment (A) : Demam Dengue


Planning (P) : IVFD Asering 16 tpm
Inj. Santagesik 160 mg/6 jam iv
Inj. Ondancentron 2,5 mg/8 jam iv (bila muntah)
Elkana syr 1x1 cth

Perawatan Hari ke 3
Tanggal : 17 Mei 2017
Subjek (S) : Bebas panas hari ke 2, badan lemas (-), nyeri sendi (-), sakit
kepala (-), muntah (-), sakit perut (-), batuk (-), BAB biasa,
BAK lancar
Objek (O) :
Tanda Vital
o Denyut Nadi : 90 kali/menit
o Respirasi : 22 kali/menit
o Suhu : 36,60C
o Kesadaran : Compos mentis (GCS E4 M6 V5 = 15)
Kulit : Pucat (-), ikterik (-), ruam kemerahan (-)
Kepala : konjungtiva anemis (-/-), sklera Ikterik (-/-)
Leher : Pembesaran kelenjar limfe (-)
Pembesaran kelenjar tiroid (-)

14
Thorax
Paru-paru : Simetris bilateral, Vokal fremitus (+) kesan normal, Sonor (+)
Bunyi bronchovesikular (+).
Jantung : Bunyi jantung I/II murni regular
Abdomen : Bentuk datar, peristaltik (+) kesan normal, timpani (+),
Nyeri tekan (-)

Assesment (A) : Demam Dengue


Planning (P) : aff infus
Observasi sampai sore, BLPL bila tidak demam
Paracetamol syr 3x1 cth (bila demam)
Elkana Cl syr 1x1 cth

15
BAB III
DISKUSI KASUS

Pada kasus, pasien masuk rumah sakit dengan keluhan demam sejak 4 hari
yang lalu secara tiba-tiba dan dirasakan terus menerus, demam hanya turun saat
diberikan obat penurun panas kemudian demam kembali. Keluhan disertai sakit
kepala, badan terasa lemas dan ngilu, serta nyeri sendi. Pasien muntah 2x sejak 1 hari
sebelum masuk rumah sakit, muntah isi makanan.
Pasien menyangkal adanya, batuk, flu, sesak, nyeri tenggorokan, sakit perut,
mimisan, perdarahan gusi, maupun kejang. Pasien tidak berkeringat dingin.
Keinginan minum, nafsu makan, dan tidur pasien baik, BAK lancar dan BAB biasa.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan tanda tanda vital tekanan darah 100/70
mmHg, Denyut nadi 98 Kali/menit, Suhu 37,8o C, Respirasi 24 kali/menit, status gizi:
gizi baik, pemeriksaan rumple leed (+) > 20.
Berdasarkan teori, untuk mendiagnosis demam dengue (DD), perlu dilakukan
anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Pada anamnesis didapatkan
pasien datang karena:4
1. Demam, yang terjadi mendadak tinggi 2-7 hari, dimana demam merupakan tanda
utama.
2. Disertai lesu, tidak mau makan, dan muntah
3. Pada anak besar dapat mengeluh nyeri kepala, nyeri otot, dan nyeri perut
4. Diare kadang-kadang dapat ditemukan
5. Perdarahan paling sering dijumpai adalah perdarahan kulit dan mimisan
Pemeriksaan fisik:4
1. Gejala klinis diawali demam mendadak tinggi, facial flush, muntah, nyeri kepala,
nyeri otot dan sendi, nyeri tenggorok dengan faring hiperemis, nyeri di bawah
lengkung iga kanan. Gejala penyerta tersebut lebih mencolok pada DD daripada DBD.
2. Hepatomegali dan kelainan fungsi hati lebih sering ditemukan pada DBD.

16
3. Perbedaan antara DD dan DBD adalah pada DBD terjadi peningkatan permeabilitas
kapiler sehingga menyebabkan perembesan plasma, hypovolemia, dan syok.
4. Perembesan plasma mengakibatkan ekstravasasi cairan ke dalam rongga pleura dan
rongga peritoneal selama 24-48 jam.
5. Fase kritis sekitar hari ke-3 hingga ke-5 perjalanan penyakit. Pada saat ini suhu turun,
yang dapat merupakan awal penyembuhan pada infeksi ringan namun pada DBD berat
merupakan tanda awal syok.
6. Perdarahan dapat berupa petekie, epistaksis, melena, ataupun hematuria.
Pada pasien didapatkan rumple leed atau uji tourniquet positif, dimana pada tes
tourniquet dilakukan penghitungan jumlah petekie dalam daerah seluas 1 inci (2,5 cm
x 2,5 cm) dibawah fossa cubiti. Positif jika terdapat > 10 petekie dalam 1 lingkaran
tersebut. Sementara pada pasien terdapat > 20 petekie, sehingga rumple leed pada
pasien positif.

Tabel 3.1 Derajat DBD berdasarkan klasifikasi WHO 2011[1]

Pada pemeriksaan darah rutin ditemukan WBC: 2,9 x103/uL, HGB: 11,6 g/dL,
HCT: 36,4 %, PLT: 81 x103/uL. Hasil ini sesuai dengan Derajat DBD Berdasarkan

17
Klasifikasi WHO 2011, apabila terdapat leukopenia (jumlah leukosit 4000 sel/mm3),
trombositopenia (jumlah trombosit <100.000 sel/mm3), peningkatan hematokrit (5%-
10%), dan tidak ada bukti perembesan plasma, maka dapat ditegakkan diagnosis
Demam Dengue.

Gambar 3.1 Skema kriteria diagnosis infeksi dengue menurut WHO 2011[1]

Manifestasi klinis menurut kriteria diagnosis WHO 2011, infeksi dengue dapat
terjadi asimtomatik dan simtomatik. Infeksi dengue simtomatik terbagi menjadi
undifferentiated fever (sindrom infeksi virus) dan demam dengue (DD) sebagai
infeksi dengue ringan; sedangkan infeksi dengue berat terdiri dari demam berdarah
dengue (DBD) dan expanded dengue syndrome atau isolated organopathy.
Perembesan plasma sebagai akibat plasma leakage merupakan tanda patognomonik
DBD, sedangkan kelainan organ lain serta manifestasi yang tidak lazim
dikelompokkan ke dalam expanded dengue syndrome atau isolated organopathy.
Secara klinis, DD dapat disertai dengan perdarahan atau tidak; sedangkan DBD dapat
disertai syok atau tidak.[1]

18
Gambar 3.2 Perjalanan penyakit infeksi dengue[1]
Dalam perjalanan penyakit infeksi dengue, terdapat tiga fase perjalanan infeksi
dengue, yaitu:[1]
1. Fase demam: viremia menyebabkan demam tinggi
2. Fase kritis/ perembesan plasma: onset mendadak adanya perembesan plasma
dengan derajat bervariasi pada efusi pleura dan asites.
3. Fase recovery/penyembuhan/convalescence: perembesan plasma mendadak
berhenti disertai reabsorpsi cairan dan ekstravasasi plasma.
Secara umum patogenesis infeksi virus dengue diakibatkan oleh interaksi
berbagai komponen dari respon imun atau reaksi inflamasi yang terjadi secara
terintegrasi. Sel imun yang paling penting dalam berinteraksi dengan virus dengue
yaitu sel dendrit, monosit/makrofag, sel endotel dan trombosit. Akibat interaksi
tersebut akan dikeluarkan berbagai mediator antara lain sitokin, peningkatan aktivasi
sistem komplemen, serta terjadi aktivasi limfosit T. Apabila aktivasi sel imun tersebut
berlebihan, akan diproduksi sitokin (terutama proinflamasi), kemokin dan mediator
inflamasi lain dalam jumlah banyak. Akibat produksi berlebih dari zat-zat tersebut
akan menimbulkan berbagai kelainan yang akhirnya menimbulkan berbagai bentuk
dan gejala infeksi virus dengue.[4]

19
Ada beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk lebih
memastikan DD atau DBD, namun pada pasien hanya dilakukan pemeriksaan darah
lengkap, dimana dari pemeriksaan tersebut sudah dapat menunjang untuk penegakkan
diagnosis demam dengue. Adapun pemeriksaan penunjang untuk membantu
penegakan diagnosis demam dengue:[1]
a. Laboratorium: pemeriksaan darah perifer, yaitu hemoglobin, leukosit, hitung
jenis, hematokrit, dan trombosit. Antigen NS1 dapat dideteksi pada hari ke-1
setelah demam dan akan menurun sehingga tidak terdeteksi setelah hari sakit
ke-5-6. Deteksi antigen virus ini dapat digunakan untuk diagnosis awal
menentukan adanya infeksi dengue, namun tidak dapat membedakan penyakit
DD/DBD.
b. Uji serologi IgM dan IgG anti dengue.
- Antibodi IgM anti dengue dapat dideteksi pada hari sakit ke-5 sakit,
mencapai puncaknya pada hari sakit ke 10-14, dan akan menurun/
menghilang pada akhir minggu keempat sakit.
- Antibodi IgG anti dengue pada infeksi primer dapat terdeteksi pada hari
sakit ke-14. dan menghilang setelah 6 bulan sampai 4 tahun. Sedangkan
pada infeksi sekunder IgG anti dengue akan terdeteksi pada hari sakit ke-
2.
- Rasio IgM/IgG digunakan untuk membedakan infeksi primer dari infeksi
sekunder. Apabila rasio IgM:IgG >1,2 menunjukkan infeksi primer
namun apabila IgM:IgG rasio<1,2 menunjukkan infeksi sekunder.

Tabel 3.2 Interpretasi uji serologi IgM dan IgG pada infeksi dengue[1]

20
Tatalaksana infeksi dengue berdasarkan fase perjalanan penyakit:[4]
Pasien masuk rumah sakit dengan demam tinggi mendadak yang dirasakan
sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit. Tidak terdapat tanda-tanda kedaruratan.
Kemudian dilakukan uji tourniquet pada pasien, didapatkan hasil positif yaitu
terdapat petekie > 20. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah lengkap, hasil yang
didapatkan WBC: 2,9 x103/uL atau leukopenia (jumlah leukosit 4000 sel/mm3),
HGB: 11,6 g/dL, HCT: 36,4 %, PLT: 81 x103/uL atau trombositopenia (jumlah
trombosit <100.000 sel/mm3). Hal ini menunjang pasien untuk dirawat inap, sesuai
dengan Tata Laksana Kasus Tersangka DBD/Infeksi Virus Dengue dan Tata Laksana
Tersangka DBD (Rawat Inap) atau Demam Dengue.
Sebagian besar anak dapat dirawat di rumah dengan memberikan nasihat
perawatan pada orang tua anak. Berikan anak banyak minum dengan air hangat atau
larutan oralit untuk mengganti cairan yang hilang akibat demam dan muntah. Berikan
parasetamol untuk demam. Jangan berikan asetosal atau ibuprofen karena obat-obatan
ini dapat merangsang perdarahan. Anak harus dibawa ke rumah sakit apabila demam
tinggi, kejang, tidak bisa minum, muntah terus-menerus.4
Pada saat dipulangkan, pasien telah bebas panas 2 hari, nafsu makan dan klinis
pasien mengalami perbaikan, pada pemeriksaan laboratorium didapatkan leukosit
kembali normal yaitu 4,6 x 103/uL, hematokrit normal 36,7%, dan trombosit telah
meningkat menjadi 129 x 103/uL. Hal ini sesuai dengan teori kriteria memulangkan
pasien:
- Tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik

21
- Nafsu makan membaik
- Secara klinis tampak perbaikan
- Hematokrit stabil
- Tiga hari setelah syok teratasi
- Jumlah trombosit > 50.000/ml
- Tidak dijumpai distress pernapasan

22
23
24
Infeksi primer pada demam dengue dan penyakit mirip dengue biasanya ringan
dan dapat sembuh sendirinya. Kehilangan cairan dan elektrolit, hiperpireksia, dan
kejang demam adalah komplikasi paling sering pada bayi dan anak-anak. Epistaksis,
petekie, dan lesi purpura tidak umum tetapi dapat terjadi pada derajat manapun.
Keluarnya darah dari epistaksis, muntah atau keluar dari rektum, dapat memberi
kesan keliru perdarahan gastrointestinal. Pada dewasa dan mungkin pada anak-anak,
keadaan yang mendasari dapat berakibat pada perdarahan signifikan. Kejang dapat
terjadi saat temperatur tinggi, khususnya pada demam chikungunya. Lebih jarang
lagi, setelah fase febril, astenia berkepanjangan, depresi mental, bradikardia, dan
ekstrasistol ventrikular dapat terjadi.4
Komplikasi akibat pelayanan yang tidak baik selama rawatan inap juga dapat
terjadi berupa kelebihan cairan (fluid overload), hiperglikemia dan hipoglikemia,
ketidak seimbangan elektrolit dan asam-basa, infeksi nosokomial, serta praktik klinis
yang buruk.7
Prognosis demam dengue dapat beragam, dipengaruhi oleh adanya antibodi
yang didapat secara pasif atau infeksi sebelumnya. Pada DBD, kematian telah terjadi
pada 40-50% pasien dengan syok, tetapi dengan penanganan intensif yang adekuat
kematian dapat ditekan <1% kasus. Keselamatan secara langsung berhubungan
dengan penatalaksanaan awal dan intensif. Pada kasus yang jarang, terdapat
kerusakan otak yang disebabkan syok berkepanjangan atau perdarahan intracranial.
Untuk mencegah penyakit DBD nyamuk penularnya harus diberantas (Aedes
aegypti) sebab vaksin untuk mencegahnya belum ada. Cara cepat memberantas
nyamuk Aedes aegypti memberantas jentik-jentiknya di tempat berkembang biaknya.
Cara ini dikenal dengan pemberantasan nyamuk DBD (PSN-DBD). Oleh karena
tempat berkembang biaknya dirumah-rumah dan di tempat-tempat umum maka setiap
keluarga harus melaksanakan PSN-DBD sekurang kurangnya seminggu sekali.6
PSN-DBD bisa melalui penggunaan insektisida untuk langsung membunuh
nyamuk Aedes aegypti dewasa. Malation adalah insektisida yang lazim dipakai saat
ini. Cara penggunaan malation adalah dengan pengasapan (thermal fogging), atau

25
pengabutan (cold fogging). Ada juga insektisida yang bertujuan membunuh jentik-
jentik nyamuk yakni abate. Cara penggunaan bubuk abate adalah dengan menaburkan
bubuk abate pada tempat yang menjadi sarang nyamuk. Sedangkan PSN-DBD tanpa
menggunakan insektisida adalah 3M, menguras bak mandi, tempayan minimal
seminggu sekali, karena saat ini, tidak tersedia vaksin untuk demam berdarah. Karena
itu, pencegahan terbaik adalah dengan menghilangkan genangan air yang dapat
menjadi sarang nyamuk, dan menghindari gigitan nyamuk.6

Langkah Umum untuk Mencegah Penyakit yang Disebarkan oleh Nyamuk6

1. Kenakan pakaian lengan panjang dan celana panjang, dan gunakan obat

penangkal nyamuk yang mengandung DEET pada bagian tubuh yang tidak

terlindungi.

2. Gunakan kawat nyamuk atau kelambu di ruangan tidak berAC.

3. Pasang obat nyamuk bakar ataupun obat nyamuk cair/listrik di tempat yang

dilalui nyamuk, seperti jendela, untuk menghindari gigitan nyamuk.

4. Cegah munculnya genangan air

- Buang kaleng dan botol bekas di tempat sampah yang tertutup.

- Ganti air di vas bunga paling sedikit seminggu sekali, dan jangan biarkan

ada air menggenang di pot tanaman.

- Tutup rapat semua wadah air, sumur dan tangki penampungan air.

- Jaga saluran air supaya tidak tersumbat.

- Ratakan permukaaan tanah untuk mencegah timbulnya genangan air.

26
DAFTAR PUSTAKA

1. Karyanti MR. Diagnosis Dan Tata Laksana Terkini Dengue. Divisi Infeksi dan
Pediatri Tropik, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, RSUPN Cipto
Mangunkusumo, FKUI. 1-14.
2. Yolanda. Waspada Demam Berdarah Dengue. IDAI Indonesian Pediatric
Society (Serial Online). 2016 (Citied 2016 August 01); (1 Screen). Available
from: <http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/waspada-demam-
berdarah-dengue>.
3. Mulya. Diagnosis dan Tata Laksana Terkini Dengue. Jakarta: Departemen Ilmu
Kesehatan Anak FKUI; 2013.
4. IDAI.Pedoman Diagnosis dan Tata Laksana Infeksi Virus Dengue Pada Anak.
Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia;2014.
5. Andrea, Linda, Lucia. 2013. Hubungan Trombositopenia dan Hematokrit
Dengan Manifestasi Perdarahan Padan Penderita Demam Dengue dan Demam
Berdarah Dengue. Manado : Bagian/SMF Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedoktran Unsrat.

6. Departemen Kesehatan. Pencegahan Demam Berdarah Dengue.

www.chp.gov.hk. Jakarta, Indonesia. 2012

7. WHO. Dengue: Guidelines for Diagnosis, Treatment, Prevention and Control.

2012

27
28