Vous êtes sur la page 1sur 5

1.

1 Latar Belakang

Indonesia sebagai negara berkembang menghadapi tantangan yang lebih


besar memasuki era globalisasi karena harus bersaing dengan negara- negara lain
dalam berbagai bidang, untuk menghadapi tantangan tersebut dibutuhkan sumber
daya manusia yang berkualitas. Banyak faktor yang harus diperhatikan dalam
menciptakan sumber daya berkualitas, salah satunya adalah aspek kesehatan.
Salah satu komponen dari aspek kesehatan yaitu gizi, gizi merupakan salah satu
indikator untuk menilai keberhasilan pembangunan kesehatan sebuah negara
dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas (Depkes RI 2009
dalam Rosary dkk 2013). Gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya
manusia yang berkualitas, sehat, cerdas, dan produktif (Dahlia, 2012).

Keberhasilan pembangunan suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan


sumber daya manusia yang berkualitas, yaitu sumber daya yang memiliki fisik
yang tangguh, mental yang kuat, kesehatan yang prima, serta cerdas. Kualitas
bangsa dimasa depan akan sangat dipengaruhi oleh status gizi pada saat ini,
terutama anak dibawah usia lima tahun. Upaya peningkatan kualitas sumber daya
manusia dimulai dengan perhatian utama pada proses tumbuh kembang anak sejak
pembuahan sampai mencapai usia dewasa muda (Rahim, 2011).

Gizi seimbang adalah gizi yang sesuai dengan kebutuhan tubuh melalui
makanan sehari-hari sehingga tubuh bisa aktif, sehat optimal, tidak terganggu
penyakit, dan tubuh tetap sehat (Ira Mafira, 2012). Pemenuhan kebutuhan gizi
merupakan indikator penting dalam proses tumbuh kembang balita, anak yang
berusia di bawah 5 tahun (balita) merupakan kelompok yang menunjukkan
pertumbuhan yang pesat, sehingga memerlukan zat-zat gizi yang maksimal setiap
kilogram berat badannya. Permasalahan gizi balita adalah kurangnya pemenuhan
gizi seimbang yang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan ibu mengenai gizi
yang harus dipenuhi balita pada masa pertumbuhan (Sibagariang, 2010: 98).

Gizi pada balita dipengaruhi oleh faktor sosioekonomi dan latar belakang
sosial budaya yang berhubungan dengan pola makan dan nutrisi. Nutrisi yang
tidak adekuat dalam lima tahun pertama kehidupan berakibat pada gangguan
pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental dan otak yang bersifat irreversible.
Ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi adalah status gizi. Status gizi balita
mencerminkan tingkat perkembangan dan kesejahteraan masyarakat dalam suatu
negara serta berhubungan dengan status kesehatan anak di masa depan (Bhandari,
et al., 2013).

Gangguan perkembangan dan pertumbuhan pada balita akan


mempengaruhi ketahanan fisik dan kecerdasan sehingga dapat memberi dampak
terhadap kehidupan pada masa yang akan datang. Digambarkan pula, ada
kekhawatiran jika permasalahan gizi pada balita tidak ditanggulangi akan
menyebabkan generasi yang hilang ( lost generation ), yaitu suatu keadaan yang
berbahaya bagi kelangsungan suatu bangsa (Novayeni dkk, 2011). Masalah
malnutrisi yang mendapat banyak perhatian akhir-akhir ini terdapat masalah
kurang gizi kronis dalam bentuk anak pendek atau stunting. Stunting adalah
masalah gizi utama dan makin mengkhawatirkan mengingat terdapatnya
hubungan antara stunting dan penyakit tidak menular di kemudian hari, yang saat
ini menjadi mayoritas beban penyakit di indonesia. Stunting ini merupakan
masalah kesehatan utama dinegara berpendapatan rendah dan menengah karena
hubungannya dengan peningkatan risiko kematian pada kanak-kanak (The lancet
2008 dalam Fitri 2012).

Kekurangan gizi kronis dalam bentuk anak pendek (stunting) masih umum
di beberapa negara. Data PBB 2008 dalam Rah et al 2010, Di seluruh dunia kerdil
dapat mempengaruhi hampir sepertiga dari anak dibawah lima tahun, dengan
prevalensi yang lebih tinggi di negara-negara sumber daya Sub-Sahara Afrika dan
Asia Selatan (Renyoet dkk 2013), sedangkan menurut data yang dikeluarkan
Unicef terdapat sekitar 195 juta anak yang hidup di negara miskin dan
berkembang mengalami stunting (Shashidar 2009 dalam Wiyogawati 2010). Data
dari World Health Statistic 2011 menunjukkan prevalensi stunting secara global
mencapai 26,7% dan gizi kurang mencapai 16,2% (WHO 2012 dalam Soemardi
dkk 2013). Para pemerediksi status gizi anak mengunjungi fasilitas kesehatan di
wilayah Jimma Zone, Etiopia Barat Selatan analisis menunjukkan bahwa 14,4%
kekurangan berat badan (underweight), 33,9% kerdil/pendek, dan 19,2% kurus
(Beyene 2012 dalam Renyoet dkk 2013). Prevalensi stunting pada tahun 2007 di
Asia adalah 30,6% (UNSCN 2008 dalam Fitri 2012). Penelitian Sengupta, Phillip
dan Benjamin (2010) dalam Fitri (2012) yang dilakukan di Ludhinia India,
prevalensi stunting pada anak usia 12-59 bulan adalah 74,55% , sedangkan di Asia
tenggara prevalensi stunting pada tahun 2007 sebesar 29,1% (UNSCN 2008,
Riskesdas 2010 dalam Susilo dan Widyastuti 2013). Indonesia telah berhasil
menurunkan angka kekurangan gizi pada anak usia dibawah lima tahun (balita)
dari 24,50% dari tahun 2005 menjadi 17,90% pada tahun 2010 (Riskesdas, 2010).
Dalam perjalanannya Indonesia telah berhasil menurunkan angka gizi kurang dan
gizi buruk, namun demikian Indonesia dihadapkan pada pembangunan pangan
dan gizi yang lain, yaitu masih tingginya prevalensi balita yang pendek (stunting).
(Bappenas, 2011).

Masalah kesehatan masyarakat dianggap berat bila prevalensi pendek


sebesar 30-39 %, dan serius bila prevalensi pendek ≥40% (WHO, 2010 dalam
Riskesdas 2013). Sulawesi Selatan merupakan urutan ketiga provinsi yang
mengalami masalah kesehatan serius setelah Maluku yang menempati urutan
kedua (Riskesdas, 2013). Upaya peningkatan status gizi masyarakat termasuk
penurunan prevalensi balita pendek menjadi salah satu prioritas pembangunan
nasional yang tercantum di dalam sasaran pokok rencana Pembangunan jangka
Menengah Tahun 2015-2019. Target penurunan prevalensi stunting (pendek dan
sangat pendek) pada anak baduta (dibawah 2 tahun) adalah menjadi 28%
(RPJMN, 2015 – 2019). Oleh karenanya Infodatin yang disusun dalam rangka
hari anak-ana balita tanggal 8 April ini mengangkat data yang terkait dengan
upaya penurunan prevalensi balita pendek.

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1995/MENKES/SK/XII/2010


tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak, pengertian pendek dan
sangat pendek adalah status gizi yang didasarkan pada indeks Panjang Badan
menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) yang merupakan
padanan istilah stunted (pendek) dan severely stunted (sangat pendek). Balita
pendek (stunting) dapat diketahui bila seorang balita sudah diukur panjang atau
tinggi badannya, lalu dibandingkan dengan standar, dan hasilnya berada di bawah
normal. Balita pendek adalah balita dengan status gizi yang berdasarkan panjang
atau tinggi badan menurut umurnya bila dibandingkan dengan standar baku
WHO-MGRS (Multicentre Growth Reference Study) tahun 2005, nilai z-scorenya
kurang dari -2SD dan dikategorikan sangat pendek jika nilai z-scorenya kurang
dari -3SD.

Masalah balita pendek menggambarkan adanya masalah gizi kronis,


dipengaruhi dari kondisi ibu/calon ibu, masa janin, dan masa bayi/balita, termasuk
penyakit yang diderita selama masa balita, seperti masalah gizi lainnya, tidak
hanya terkait masalah kesehatan, namun juga dipengaruhi berbagai kondisi lain
yang secara tidak langsung mempengaruhi kesehatan balita. Dampak buruk yang
dapat ditimbulkan oleh masalah gizi pada periode jangka pendek adalah
terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik, dan
gangguan metabolisme dalam tubuh. Periode jangka panjang akibat buruk yang
dapat ditimbulkan adalah menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar,
menurunnya kekebalan tubuh sehingga mudah sakit, dan risiko tinggi untuk
munculnya penyakit diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh darah,
kanker, stroke, dan disabilitas pada usia tua, serta kualitas kerja yang tidak
kompetitif yang berakibat pada rendahnya produktivitas ekonomi.

Diperkirakan terdapat 162 juta balita pendek pada tahun 2012, jika tren
berlanjut tanpa upaya penurunan, diproyeksikan akan menjadi 127 juta pada tahun
2025. Sebanyak 56% anak pendek hidup di Asia dan 36% di Afrika persentase
status gizi balita pendek (pendek dan sangat pendek) di Indonesia Tahun 2013
adalah 37,2%, jika dibandingkan tahun 2010 (35,6%) dan tahun 2007 (36,8%)
tidak menunjukkan penurunan/ perbaikan yang signifikan. Persentase tertinggi
pada tahun 2013 adalah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (51,7%), Sulawesi
Barat (48,0%) dan Nusa Tenggara Barat (45,3%) sedangkan persentase terendah
adalah Provinsi Kepulauan Riau (26,3%), DI Yogyakarta (27,2%) dan DKI
Jakarta (27,5%). Pada tahun 2015 Kementerian Kesehatan melaksanakan
Pemantauan Status Gizi (PSG) yang merupakan studi potong lintang dengan
sampel dari rumah tangga yang mempunyai balita di Indonesia. Menurut hasi PSG
2015, sebesar 29% balita Indonesia termasuk kategori pendek, dengan persentase
tertinggi juga di Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Barat.

Menurut WHO, prevalensi balita pendek menjadi masalah kesehatan


masyarakat jika prevalensinya 20% atau lebih. Karenanya persentase balita
pendek di Indonesia masih tinggi dan merupakan masalah kesehatan yang harus
ditanggulangi. Dibandingkan beberapa negara tetangga, prevalensi balita pendek
di Indonesia juga tertinggi dibandingkan Myanmar (35%), Vietnam (23%),
Malaysia (17%), Thailand (16%) dan Singapura (4%)(UNSD, 2014). Global
Nutrition Report tahun 2014 menunjukkan Indonesia termasuk dalam 17 negara,
di antara 117 negara, yang mempunyai tiga masalah gizi yaitu stunting, wasting
dan overweight pada balita. Penilaian pertumbuhan pada anak merupakan
indikator penting dalam menilai status kesehatan terutama status gizi anak, karena
dapat mempengaruhi kualitas hidup anak, oleh sebab itu pertumbuhan perlu
dipantau secara berkala.

Pada tahun 2014 terdapat 2-3 juta orang mengalami malnutrisi disetiap
negara, walaupun malnutrisi tidak secara langsung menyebabkan kematian pada
anak, namun malnutrisi dihubungkan dengan penyebab dari 54% kematian pada
anak-anak di Negara berkembang pada tahun 2001. Prevalensi gizi kurang di
dunia pada anak dengan umur dibawah lima tahun dari tahun 2010-2012 masih
terbilang tinggi yaitu 15%, namun sudah mengalami penurunan dari 25%.
Prevalensi malnutrisi tidak hanya meningkat di Negara maju tetapi juga di Negara
berkembang. Selain gizi kurang, diperkirakan 44 juta (6,7%) anak dibawah umur
lima tahun mengalami gizi lebih dan jumlah ini terus meningkat tiap tahunnya.
Anak gizi lebih didefinisikan dengan nilai berat badan untuk tinggi badan
melebihi dua standar deviasi atau lebih dari nilai median standar pertumbuhan
anak menurut WHO.3,5 Global National Report 2014, menyebutkan bahwa
Indonesia sendiri memiliki angka gizi kurang maupun gizi lebih yang tinggi. Hasil
pemantauan status gizi (PSG) yang merupakan program dari Direktorat Gizi
Kemenkes RI dengan menggandeng Dinas Kesehatan Bali tahun 2017, jumlah
kasus stunting atau balita dengan tinggi badan tidak sesuai dengan umur di
Kabupten Bangli di angka 28,4 % sementara secara umum untuk Bali mencapai
angka 19,1 persen. Kabid Kesmas dr I Nyoman Arsana. Dikatakan, angka 28,4
persen tersebut sepenuhnya hasil pemanantuan yang dilakukan Pusat dikoordinir
Diskes Bangli bekerjasama dengan Jurusan Gizi Poltekes Denpasar. Dalam
pemantauan menyasar rumah tangga yang memiliki balita dan ibu hamil. Pada
balita dilakukan pengukuran berat badan, tinggi dan panjang badan. Sedangkan
pada ibu hamil dilakukan pengukuran status gizi.

Pada tahun 2015 angka stunting di Bangli 28,6 persen dan ditahun 2016 diangka
25,7 persen. Menurut I Nyoman Arsana masalah utama stunting atau tinggi badan
anak tidak sesuai usia terjadi akibat kekurangan asupan gizi. Gizi menjadi salah
satu komponen yang harus dipenuhi dalam mewujudkan masyarakat yang sehat,
terutama pada periode seribu hari pertama kehidupan. Pada tahun 2018 prevalensi
stunting di Gianyar pun diklaim sudah menurun, Gianyar sebelumnya tercatat
sebagai wilayah dengan angka stunting tertinggi di Bali. Gianyar telah digantikan
dua kabupaten lainnya Buleleng dan Bangli keduanya memiliki prevalensi
stunting sekitar 20%-23%. Kondisi ini berbeda dengan kabupaten lainnya di Bali
yang prevalensi stunting di bawah 20%. Dua kabupaten ini masih menjadi
prioritas kami, memang harus ada intervensi gizi dari awal agar orang tua
terutama ibu memahami tentang gizi yang harus diberikan kepada anaknya.

Faktor utama terjadinya stunting adalah pola asupan gizi yang tidak tepat.
Ibu sering memberikan makanan kepada anaknya berdasarkan kesukaan dan
pilihan anaknya, bukan berdasarkan kandungan gizi, seperti memberikan makan
junk food atau pemberian gizi yang tidak seimbang seperti memberikan nasi
dengan lauk brekedel jagung yang dimana nasi dan brekedel jagung ini termasuk
karbohidrat berdasarkan permasalahan ini peneliti ingin meneliti tentang
“Pengetahuan ibu rumah tangga tentang pemberian gizi seimbang pada balita
dalam mewaspadai adanya stunting”. Diharapkan setelah penelitian ini ibu dan
calon ibu mengerti akan kebutuhan gizi pada anaknya untuk menghindari adanya
masalah gizi buruk dan stunting pada anaknya.